Beda Salafus Shalih dengan Khawarij Modern

Antara pemikiran Liberal dan Khawarij, saya tidak membedakannya. Mereka sama buasnya terhadap Islam dan kaum Muslimin. Jika para Liberaliyun menyerang Islam dari luar, maka Khawarij modern ini menyerang Islam dari dalam. Lihatlah mereka, Khawarij Rabi’iyun itu, agenda hidupnya adalah melawan misi gerakan-gerakan Islam yang komitmen dengan Syariat Islam.

Pada dasarnya mereka tidak mengikuti manhaj Salafus Shalih, selain klaim yang penuh kepalsuan. Berikut sekian bukti-bukti bahwa Khawarij Rabi’iyun itu tidak serupa dengan Salafus Shalih:

1. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) ketika di Makkah, beliau menyerang sesembahan orang-orang musyrikin, beliau menghancurkan konsepsi ibadah jahiliyah ala orang-orang musyrikin Quraisy. Orang-orang Makkah sangat kewalahan, sampai berkali-kali mengirim utusan dan menawarkan fasilitas-fasilitas untuk melunakkan hati Nabi. Saking marahnya, mereka membuat makar untuk membunuh Rasulullah (Saw). Jadi, dakwah tauhid saat itu benar-benar hebat; konfrontasi antara tauhid dan kemusyrikan sangat hitam-putih. Meskipun disana sifatnya baru konfrontasi dakwah, belum konfrontasi kekuatan fisik. Baru setelah di Madinah, Rasulullah (Saw) diijinkan konfrontasi fisik.

Lalu lihatlah para Khawarij ini! Mana dakwah tauhid mereka? Mana konfrontasi mereka terhadap kemusyrikan? Tidak ada, atau sangat sedikit sekali. Kalau hati mereka peka dengan tauhid, hidupnya tidak akan tenang melihat kemusyrikan merebak dimana-mana. Omong kosong mereka mendakwahkan tauhid. Jauh, jauh, jauh sekali. Dengan mengajarkan Kitabut Tauhid mereka merasa telah “segala-galanya” dalam dakwah tauhid. Kalian itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Haji Piobang, Imam Bonjol, dll. rahimahumullah.

2. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) di Makkah, mereka rela mengalami berbagai intimidasi, perlakuan keras, bahkan diboikot sampai tiga tahun, demi membela kalimat Laa Ilaha Illallah. Bahkan Khadijah Al Kubra (Ra), isteri tercinta Nabi, wafat dalam perjuangan penuh kesabaran, hingga harta benda beliau habis untuk membela Islam.

Adapun para Khawarij ini justru bermesraan, memuji-muji, bahkan mendoakan regim sekuler yang sebenarnya tidak Islami. Alasannya, taat kepada ulil amri. Mungkin, para Khawarij di Amerika sana juga menyerukan ketaatan murni kepada regim George Bush.

3. Rasulullah (Saw) mengutus Mush’ab bin Umair (Ra) untuk berdakwah ke kaum Aus dan Khajraj di Madinah. Beliau berdakwah penuh bijaksana, hingga ketika Saad bin Mu’adz (kalau tidak salah) hendak menghalangi dakwahnya, beliau berkata dengan lembut, “Tidakkah sebaiknya Anda duduk dulu, dengarkan apa yang saya sampaikan. Kalau yang saya sampaikan baik, terimalah. Tetapi kalau yang saya sampaikan buruk, saya akan berhenti.” Begitu pula ketika Rasulullah (Saw) mengutus Mu’adz bin Jabal (Ra) ke Yaman, beliau berpesan agar Mu’adz berdakwah secara bertahap. Mula-mula disuruh mengajarkan kalimat Laa ilaha illallah, lalu menyuruh shalat, lalu menyuruh membayar zakat.

Adapun Khawarij ini sama sekali tidak bijaksana. Dalam dakwahnya, manhaj mereka adalah mengajarkan kebencian, permusuhan, dan pertikaian antar satu Muslim dengan lainnya. Boro-boro mau bijaksana seperti kaum Salaf, mereka malah merusak citra Salafus Shalih itu sendiri.

4. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) mereka membela Islam bukan hanya dengan ilmu, akidah, ibadah, dan akhlak. Mereka juga membela Islam dengan pedang (al jihad). Ada sejarawan yang mengatakan selama hidupnya Rasulullah (Saw) terlibat 80 kali peperangan. Mungkin maksudnya, termasuk ekspedisi-ekspedisi perang kecil yang beliau perintahkan. Hadits-hadits tentang jihad Nabi ini sangat banyak. Para Imam hadits rata-rata membuat bab tersendiri disana.

Lalu bagaimana dengan para Khawarij ini? Na’udzubillah wa na’udzubillah. Mereka benar-benar telah sesat dari jalan lurus. Seluruh amal-amal jihad yang dilakukan kaum Muslimin di jaman ini, meskipun sifatnya jihad defensif, mereka kecam habis-habisan. Dalam buku MAT itu Luqman Ba’abduh mencela habis-habisan jihad Ummat Islam. Perjuangan almarhum Kartosoewiryo, Relawan Kompak Dewan Dakwah di Ambon, Komandan Ibnul Khattab di Chechnya, mujahidin Afghanistan, sampai-sampai Hamas, Syaikh Yasin, dst. tidak selamat dari lidah api mereka.

5. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) menegakkan Syariat Islam, menegakkan negara Islami, melindungi Islam dan Ummat dengan Pemerintahan Islami. Hingga ketika Rasulullah (Saw) wafat, para Shahabat lebih mendahulukan mengurus kepastian kepemimpian setelah Nabi, dari mengurus jenazah beliau. Artinya, urusan kepemimpinan Islami itu sangat-sangat penting dan prioritas. Dari jaman ke jaman Ummat Islam melindungi agama dan Ummatnya dengan penegakan Syariat Islam, bahkan dalam konteks Daulah Islam maupun Khilafah Islamiyyah.

Namun sangat aneh dengan para Khawarij ini. Mereka justru sangat memusuhi gerakan-gerakan dakwah yang berjuang menegakkan Syariat Islam. Gerakan-gerakan Islam mereka tuduh sebagai Hizbiyun yang wajib untuk dicela, dimusuhi, disesatkan, diahli-bid’ahkan, ditahdzir, bahkan diboikot. Saya tidak mengerti, atas dasar apa kita menyebut mereka Salafi atau Salafiyun? Justru kalau kebencian mereka kepada gerakan dakwah Islam sudah sedemikian mengkristal di hati dan mengendap di dasar otak, jangan-jangan mereka telah murtad tanpa disadari. Seperti kata Nabi, “Yamruquna minad dini kama yamruqu as sahmu minr ramiyyah” (mereka melesat dari agama ini seperti anak panah melesat dari busurnya).

6. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) membangun peradaban Islam secara menyeluruh. Beliau melibatkan Para Shahabat dengan kemampuan dan spesialis apapun untuk mendukung peradaban Islam. Ada yang terlibat di bidang ilmiyah, ada yang terjun di dunia bisnis, ada yang mengerjakan administrasi, ada yang memelihara hadits-hadits Nabi, ada yang terjun di kemiliteran, ada yang menangani urusan intelijen, ada ahli bahasa, ada pendakwah, ada penyair, ada petani, dst. Nabi (Saw) benar-benar membangun Islam secara kaaffah, seperti yang diminta oleh Pembuat Syariat Islam (Allah Ta’ala).

Namun di tangan Khawarij jaman modern, segalanya jadi berubah. Mereka membenci urusan dunia, mendoktrin pengikut-pengikutnya untuk “belajar din saja”, tidak mau tahu urusan masyarakat, membenci masalah politik, tidak tahu perkembangan ekonomi, informasi, budaya, dst. Bahkan di Ma’had Daarul Hadits Syaikh Muqbil di Yaman, disana tidak ada listrik, rumah-rumah dari tembok tanah, tidak tersentuh teknologi. Padahal Islam hancur justru ketika urusan-urusan dunia diserahkan kepada orang-orang fasik, zhalim, kafir, bahkan musyrik.

7. Rasulullah (Saw) menjaga keutuhan Ukhuwwah Islamiyyah di antara Para Shahabat (Ra) dan Ummat Islam. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar; beliau menjalin ikatan kekeluargaan dengan Shahabat-shahabat utama seperti Abu Bakar As Shiddiq (Ra), Umar bin Khattab (Ra), Utsman bin ‘Affan (Ra), Ali bin Abi Thalib (Ra), dan lainnya; Nabi mendamaikan pertikaian antara kaum Aus dan Khajraj; Beliau mendamaikan perselisihan antara Bilal bin Rabbah (Ra) dan Abu Dzar Al Ghifari (Ra); Beliau tidak bersikap keras kepada Abdullah bin Ubay, pemimpin kaum munafik, untuk menjaga perasaan orang-orang Madinah pengikutnya; Beliau bersikap lembut kepada pembesar-pembesar Makkah yang mengikuti Perang Hunain, untuk melunakkan hatinya; Beliau memaafkan Ahlul Makkah, khususnya Abu Sufyan dan Hindun, meskipun mereka dulu sangat banyak menyakiti hati beliau; dan seterusnya. Lihatlah Nabi sangat-sangat menjaga keutuhan Ummat, persaudaraan Islam, hingga beliau tidak mau membongkar fondasi Ka’bah, karena khawatir Ummat Islam saat itu belum siap.

Tetapi kaum Khawarij Rabi’iyun ini amal “jihad akbar” mereka justru mematahkan Ukhuwwah Islamiyyah, menyuburkan pertikaian antara sesama Muslim, mengobral penghinaan, pelecehanan, membongkar aib-aib Muslim, merusak kehormatan para dai, menghancurkan nama baik lembaga-lembaga Islam. Kalau ditanya, siapakah mereka? Aku tak ragu untuk mengatakan, bahwa mereka adalah musuh-musuh Islam. Mereka bukan pengikut Salaf, tetapi penghina Salaf.

8. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) menegakkan akhlakul karimah dalam segala lapangan hidup mereka. Oleh karena itu Islam disebut sebagai agama Rahmatan lil ‘alamin. Bahkan akhlak Nabi disebut oleh Aishyah (Ra), “Khalquhul Qur’an” (akhlak beliau ya Al Qur’an itu sendiri). Ketika Abdullah bin Rawahah (Ra) diutus Nabi untuk mengatur pembagian jatah hasil kebun di Khaibar dengan kaum Yahudi, beliau hendak disuap orang Yahudi agar mengubah proporsi pembagiannya. Namun beliau menolak tegas dan menyebut orang-orang Yahudi sebagai makhluk yang paling beliau benci. Orang-orang Yahudi justru kagum dan mengatakan, “Dengan inilah (keadilan seperti ini) ditegakkan langit dan bumi.”

Entahlah, apa lagi yang harus dikatakan tentang Khawarij ini. Mereka tidak bisa berakhlak mahmudah, selain hanya dengan kaumnya sendiri. Ya bagaimana akan berakhlak mahmudah, mereka sudah menghalalkan hak-hak Muslim yang telah dijamin oleh Syariat Islam? Sikap keras, mahal senyum, keji mulut, memfitnah, berdusta, menghina, membongkar aib-aib, mengkhianati amanah, bahkan memboikot sesama Muslim.

Saya masih ingat, Irfan Bastian itu dulu telah berjanji akan menyimpan data-data tentang saya. Tetapi kemudian dia khianati, hingga data-data privacy kami tersebar di dunia maya. Tetapi orang itu juga pernah bercerita tentang aib-aib Abu Hamzah Al Atsari (ustadz begituan di Bandung), yaitu berkaitan dengan sumber penghasilan dia, lalu Irfan meminta saya tidak menceritakan hal ini kepada orang lain. Ya, saya tetap menjaga amanah dia, insya Allah dan tidak akan memberitahukan kepada yang lain.

9. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) adalah manusia-manusia yang lembut hati. Mereka mudah rujuk kepada kebenaran yang telah tampak di depan matanya. Nabi (Saw) pernah masam ketika dating Abdullah bin Ummi Maktum (Ra), lalu beliau bertaubat atas hal itu. Beliau juga pernah berusaha mengajak Abu Thalib masuk ke dalam Islam, lalu beliau ditegur oleh Allah. Beliau pernah hendak mengharamkan madu, namun mencabutnya lagi. Abu Dzar (Ra) pernah berguling-guling dalam tanah, sebagai upaya meminta maaf kepada Bilal (Ra). Ka’ab bin Malik (Ra) dan kedua Shahabat (Ra) yang tertinggal dari perang Tabuk bertaubat dari kesalahannya, setelah bumi yang luas terasa sesak bagi mereka. Umar bin Khattab (Ra) jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu, ketika menyadari bahwa Rasulullah (Saw) benar-benar wafat. Umar (Ra) ketika menjadi Khalifah tidak menolak diluruskan dengan pedang, diluruskan oleh Ummu Aiman (Ra), diluruskan oleh seorang ibu, bahkan diluruskan oleh seorang gembala yang mengatakan, “Fa’ainallah” (kalau begitu, dimana Allah?). Meskipun dalam kasus terakhir itu, Khalifah Umar (Ra) hanya ingin menguji rakyatnya. Inilah kelembutan hati manusia-manusia yang tunduk kepada kebenaran.

Adapun di hadapan kaum Kharijiyun ini, apa lagi yang hendak dikatakan? Susah, susah sekali mengajak mereka kepada kebenaran. Kita memberikan nasehat, masukan, pandangan, atau bantahan, seperti apapun, mereka tidak akan terima. Biarpun kita datangnya ayat-ayat Al Qur’an, Sunnah, Sirah, atau perkataan ulama, sulit sekali mengajak mereka rujuk kepada kebenaran. Mereka tidak akan rela tunduk kepada siapapun, sebab IZZAH-nya melarang tunduk kepada al haq. Tetapi, kalau datang wejangan dari Syaikh Rabi’, Syaikh Ubaid Al Jabiri, atau Syaikh Muqbil, tidak usah menunggu lama, mereka akan berhimpun di sekitar wejangan itu dengan penuh semangat dan rasa kehausan. Jangankan kita-kita, lembaga sebesar Rabithah ‘Alam Islamipun dituduh Ikhwani dan tidak ditengok mereka. Bahkan, bukan sekali dua kali saya mendengar, mereka melecehkan Jami’ah Islamiyyah di Madinah (Universitas Madinah). Sesumbar mereka, “Ilmu kan tidak hanya di Madinah, di Yaman juga banyak ilmu.” Apalagi Al Azhar, mungkin sudah tidak ada bentuknya di mata mereka.

10. Rasulullah (Saw) dan Para Shahabat (Ra) adalah ahlut tauhid, manusia terbaik komitmennya terhadap Tauhidullah. Mereka disebut “Khairu Ummah ukhrijat lin naas”. Komitmen Salafus Shalih dalam tauhid ini tidak diragukan lagi. Umar bin Khattab (Ra) pernah mencium Hajar Aswad sambil mengatakan, bahwa batu itu tidak bisa memberi manfaat atau madharat. Jika bukan karena Umar (Ra) pernah melihat Nabi mencium Hajar Aswad, maka beliau tidak akan melakukannya. Khalid bin Walid (Ra) juga demikian. Beliau telah terlibat dengan banyak peperangan, hingga suatu ketika ketika masih berkecamuk Perang Yarmuk melawan Romawi, tiba-tiba datang surat dari Madinah (Khalifah Umar) agar beliau diganti Shahabat lain. Khalid (Ra) tidak marah atas tindakan itu, sebab kata beliau, dirinya beribadah kepada Allah, bukan kepada Umar. Sama halnya ketika Saad bin Abi Waqash (Ra) memimpin pasukan mujahidin untuk meruntuhkan Kisra Persi, beliau tertahan oleh Sungai Tigris yang dalam dan lebar. Saad (Ra) tidak peduli, beliau memerintahkan pasukannya menerjuni Sungai itu dengan kalimat “Hasbunallah wa nikmal Wakiil”. Dan mereka mampu menyeberangi Sungai Tigris tanpa ada kerugian sedikit pun. Orang-orang Persia sendiri takjub melihat penampilan para mujahidin. Mereka tampak sederhana, kurus-kurus, perlengkapan senjata seadanya, tetapi keberanian dan rasa percaya diri mereka siap melumat Kisra Persia.

Khawarij jaman modern, kemana-mana lidahnya tidak lepas mengatakan, “Salafi, dakwah Salaf, manhaj Salaf, ittiba’ Salafus Shalih, dst.” Seolah merekalah pewaris sah Dakwah Salafiyah. Tetapi nyatanya, mereka beragama karena “takut ustadz”, karena “takut syaikh”, karena “takut teman-teman”. Nasehat-nasehat tidak mereka acuhkan, meskipun dari Al Qur’an dan Sunnah. Demi Allah, jika para pemuda Islam beragama karena “takut ustadz” seperti itu, bukan tauhid murni, seperti yang diajarkan Salafus Shalih, kalian akan hina di dunia dan Akhirat nanti. Bukankah Al Qur’an sudah mengatakan bahwa tauhid itu laksana al ‘urwatul wutsqa (tali ikatan yang sangat kuat), sedangkan sesembahan selain Allah adalah laksana baitul ankabut (rumah laba-laba).

Nah, demikian tentang sebagian bukti-bukti bahwa kaum KBS (Khawarij Berbaju Salafi) itu telah menyimpang dari jalan Salafus Shalih. Mereka adalah kaum yang menodai dan melecehkan kehormatan Salafus Shalih, serta menyimpang dari jalan yang lurus. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 3 Mei 2008.

Al Faqir Ila Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.

Sumber: Dunia Dakwah Islam, MyQuran.org, 3 Mei 2008.

10 Tanggapan ke “Beda Salafus Shalih dengan Khawarij Modern”

  1. joyo Berkata:

    jangan-jangan mereka antek yahudi kaya snough hurgronje dari belanda itu…

  2. abisyakir Berkata:

    Ya, saya belum menyimpulkan sampai sejauh itu. Tetapi di media internet dan majalah, isu itu sudah sangat sering muncul. Kalangan yang dituduh juga berusaha membela diri dengan sekian banyak argumentasi. Wallahu a’lam bisshawaab.

    Selamat Idul Fithri 1429 H ya…

  3. afakar Berkata:

    Apalah gunanya memperdebatkan mengenai istilah2 liberal, fundamentalis atau yg lain2….. toh akan menjadi debat kusir.
    Janganlah mempersalahkan Jahudi atau kristen. Sudah jelas dalam ajaran Islam dan Alquran musuh kita yg utama adalah Iblis dan Syetan baik yg berada dalam diri kita maupun luar diri kita.
    Islam adalah agama ALLAH SWT, tidak ada satupun manusia maupun iblis yang dapat menghancurkannya. Tidak ada satupun mahluk yang dapat mengalahkan Al Islam Mulia Raya. Al Islam akan hidup sampai ALLAH SWT menghendakinya.
    Yang akan pasti hancur dan binasa adalah manusia beserta alam sekitar ini (kiamat) baik itu dia yang mengaku Islam, Jahudi, Kristen, Atheis, Budha dan lain2nya…..

  4. abisyakir Berkata:

    @ Afakar.

    Ya sederhana saja sih…

    Setiap sesuatu pasti sudah ada “use guide”-nya (aturan pakai sesuatu itu). Manusia juga punya use guide-nya. Ia adalah agama yang haq, yaitu Kitabullah dan Sunnah. Inilah dua perkara “direction” hidup manusia. Kalau tidak memakai direction ini, kita akan seperti motor buatan Honda yang dirawat dengan guide keluaran Jialing atau Beijing. Hasilnya pasti hancur berantakan, atau tidak harmoni.

    Kita bisa seketika suka Yahudi-Nashrani, mencintai mereka, memuja mereka, kalau Al Qur’an dan Sunnah menyuruh hal itu. Tetapi kalau tidak, ya tidak perlu neko-neko. Tinggal ikuti saja Kitabullah dan Sunnah, selesai sudah. Kita ini tinggal ikuti aturan yang sudah jadi, tidak usah dibuat bingung dengan filsafat-filsafat rumit.

    Anda mungkin gak puas dengan penjelasan ini dan menginginkan suatu “pengalaman eksplorasi” untuk menemukan sesuatu yang baru, yang dianggap lebih keren daripada asal ikut guide yang ada. Begitu kan? Nah, kalau begitu saya mau beri Anda tantangan jujur, moga Anda mau menjelaninya.

    - Cobalah lihat nasi yang Anda makan! Tidakkah Anda berkeinginan menanam padi sendiri, memanen sendiri, daripada tinggal makan begitu saja?

    - Cobalah lihat air yang Anda minum! Tidakkah Anda merasa tertantang untuk mengambil air itu sendiri dari perut bumi. Atau membuat hujan sendiri di langit?

    - Cobalah lihat sepatu, baju, jam tangan, kasur, bantal, kacamata, dan semua aksesoris yang Anda pakai! Tidakkah Anda ingin membuat sendiri barang-barang itu, tidak perlu merepotkan orang lain?

    - Cobalah lihat komputer, ponsel, motor, mobile, ATM, kulkas, televisi, dll di sekitar Anda! Mengapa Anda tidak membuat sendiri semua itu? Toh, Anda memiliki kebebasan untuk membuat sendiri apapun yang Anda mau?

    Atas pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda pasti akan mengatakan, “Ya, buat apa capek-capek membuat sendiri? Kita bisa beli sendiri. Mudah kan? Tidak perlu mempersulit diri membuat semua itu.”

    Nah, mengapa terhadap agama ini Anda tidak mengatakan, “Daripada capek-capek membuat panduan kebenaran, ya tinggal ikuti saja Al Qur’an dan Al Hadits. Mudah kan, tidak mempersulit diri.” Seharusnya, Anda akan mengatakan demikian.

    Saya terus terang tidak suka dengan arogansi. Akal kita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan semua kenyataan yang belum kita pahami. Kalau Anda bisa membuat yang lebih canggih dari motor Honda, lebih canggih dari Laptop, Nokia seri terbaru, dst. oke-lah Anda berhak melakukan eksplorasi sendiri, hatta dalam masalah agama. Meskipun kita sudah tahu jawaban akhirnya, bahwa Anda tidak akan pernah berhasil membuat tandingan kebenaran terhadap Al Islam. Mengapa? Sebab, sejak Iblis mulai “beraksi”, upaya penyesatan seperti itu sudah dilakukan, dan alhamdulillah, siapapun yang berusaha memalsukan kebenaran, mereka selalu gagal; dengan segala nikmat dan rahmat Allah atas agama-Nya. Alhamdulillah.

    Wis ojo macem-macem, ora usah neko-neko, tinggal mengikuti GUIDE dari Allah Ta’ala, kemudian istiqamah di atasnya. Alhamdulillah.

    - AMW -

  5. Insan Berkata:

    Salafi itu lisannya lancang dan suka merendahkan ormas2 Islam yang sudah banyak berkontribusi bagi umat Islam di Indonesia. Sampai2 ada salafi yang berani menmvonis ahlu bid’ah hanya karena mendirikan organisasi Islam. Padahal kontribusi salafi bagi umat muslim di Indonesia apa? Salafi bisanya hanya duduk2 di majelis ta’lim, sibuk berbicara teori2, sibuk menerjemahkan dan menulis buku2, mengkritisi bahkan memvonis sesat harakah2 yang sedang berusaha memperjuangkan penegakan syariat Islam, dan salafi miskin dalam pengamalan yang real bagi umat.

    Ormas Islam besar NU dan Muhammadiyah saja dibuat resah, karena orang2 salafi selalu merasa benar sendiri dan seolah2 kebenaran hanya milik salafi saja. Bagaimana kalau seandainya orang2 Nahdliyin marah dan menyerang jamaah salafi yang ada di Indonesia? Lihatlah banser Nahdliyin yang selalu siap berani mati membela apa yang diyakininya. FPI saja sempat dibuat ketar – ketir oleh banser nahdliyin. Apa salafi mau dihantam habis oleh banser Nahdliyin?

    Dan sejatinya salafi harus MENGAKUI adanya PERPECAHAN di kalangan mereka. Lihat saja situs salafy.or.id, di dalamnya ada pembunuhan karakter. Masa ada Firqatun Najiyah, tapi kerjaannya mencela sesama muslim, merendahkan martabat muslim, merasa kebenaran selalu bersamanya? Mana ada Thaifatul Manshurah tapi kerjaannya menghujat, kalau anthum lihat buku SURURY TERIAK SURURY karya Abul Abbas Khadir Al – Limbory, substansi buku tersebut menyebarkan konfrontasi, dan PEMBUNUHAN KARAKTER terhadap Ustad Yazid Abdul Qadir Jawas, Abdul Hakim Amir Abdat, Abu Qatadah, sampai2 nama LIPIA tercoreng, gara2 lidah api mereka. Tapi anehnya para ustadz yang dihujat, malah menutup-nutupi seolah tidak ada perpecahan di kalangan salafiyin.

    Mereka suka memvonis hizbiyyun2 terhadap Ormas Islam, contoh Al – Irsyad, ormas yang didirikan Syaikh Ahmad Surkati ini tidak lepas dari hujatan juga, bahkan hampir semua ormas Islam divonis hizbiyyun. Padahal secara fakta realita Al – Irsyad banyak berkontribusi bagi umat Islam, contoh Syaikh Ahmad Surkati banyak berdebat dengan orang2 komunis, dan aktif memurnikan ajaran2 Islam di Indonesia. PERSIS terkenal dengan Mohamad Natsir, A. Hassan, Isa Anshari yang banyak berkontribusi memperjuangkan Islam lewat pemerintahan. Muhammadiyah aktif di bidang kemanusiaan dan pendidikan. Bahkan DDII (Dewan Da’wah Islam Indonesia), lihatlah Adian Husaini, siapa tak kenal tokoh yang satu ini, intelek yang selalu aktif membantah virus SEPILIS (sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme) yang sedang berupaya menghancurkan aqidah umat Islam, menyebarkan paham Relativisme dalam keagamaan.

    Apakah mereka semua itu hizbiyyun wahai salafi?? Apa kaum muslimin yang mendirikan ormas Islam itu ahlu bid’ah?

    Jangan pernah mengundang kemarahan ormas2 Islam, kalian tidak ada apa2nya di Indonesia ini. Kalian hanya macan ompong yang bengong melihat kemungkaran2.

    • abisyakir Berkata:

      @ Insan.

      Ya jangan merasa aneh. Itulah cara mereka mnunjukkaan kehebatan kelompoknya. Kata orang Sunda, “Eweuh gawe, loba omong.” Dulu orang Khawarij ada yang berani mnegur Nabi, “Adillah kamu Muhmmad!” Nabi saja ditegur, apalagi kita-kita?

      AMW.

  6. abdulloh Berkata:

    baca buku membongkar kedok salafyun sempalan, ditulis oleh HASMI gamblang dan jelas . namun agaknya ” kelompok”ini denagn membabi buta malah membelanya dan mengingkari kenyataan yg ada .

  7. Abu Nabila As Sundawy Berkata:

    Adapun tuduhan-tuduhan mereka, sebenarnya tuduhan yang telah basi namun direpro ulang. Walau mereka bungkus dengan kata-kata indah nan lembut, namun sesungguhnya apa yang ada di dalam hati mereka lebih dahsyat lagi kebencian dan permusuhannya.
    وَلَوْ لاَ احْتِقَارُ الأُسَدِ شَبَّهْتُهُمْ بِهَا وَلَكِنَّهَا مَعْدُودَةٌ فِيْ البَهَائِمِ

    Seandainya bukan penghinaan terhadap singa maka saya serupakan mereka dengannya
    Akan tetapi singa jarang didapat diantara binatang ternak
    http://abusalma.wordpress.com/2006/10/11/menjawab-tuduhan-1/
    penyair berkata…
    و كم من عائب قولا صحيحا
    و آفته من الفهم السقيم

    Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar ????
    Sebabnya karena pemahaman yang salah/buruk
    sebagaimana perkataan seorang penyair :
    وإذا الدعاوى لم تقم بدليلها بالنص فهي على السفاه دليل
    Jika para pendakwa tidak menopang dalilnya dengan teks dalil Maka dia berada di atas selemah-lemahnya dalil
    و من جعل الغراب له دليلا يمر به على جيف الكلاب
    “Barangsiapa yang menjadikan burung gagak sebagai dalil Maka ia akan membawanya melewati bangkai-bangkai anjing”
    http://abusalma.wordpress.com/2007/01/03/pembelaan-terhadap-syaikh-imam-muhammad-bin-abdul-wahhab/
    Al-Imam al-Baihaqi meriwayatkan di dalam al-Madkhol ila Sunanil Kubro (hal. 35) dengan sanad yang shahih dari Imam Syafi’i, beliau berkata,
    ما كان الكتاب أو السنة موجودين فالعذر على من سمعها مقطوع إلا باتباعهما, فإذا لم يكن ذلك صرنا إلى أقاويل أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم أو واحدهم
    “Jika masih ada hujjah dari al-Qur’an atau as-Sunnah, maka setiap orang yang mendengarnya harus mengikutinya. Bila tidak ada (di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah) maka kita beralih kepada perkataan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam atau salah seorang dari mereka.(1)Lihat al-Manhajus Salafi ‘indal Albani karya Syaikh ‘Amru Abdul Mun’im Salim (hal. 36), lihat pula terjemahannya “Albani dan Manhaj Salaf”, cet. I, 2003, Najla Press, hal. 39.
    Imam Syafi’i juga berkata : “Apabila telah datang dari Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam perkataan-perkataan yang berbeda, maka lihatlah kepada yang mencocoki al-Qur’an dan as-Sunnah kemudian ambillah.”(2)Lihat Al-Adab asy-Syafi’iy karya Ibnu Abi Hatim, hal. 235, sebagaimana di dalam Hujajul Aslaaf fi Bayaanial-Farqi baina Masa`ilil Ijtihad wa Masa`ilil Khilaaf karya Syaikh Fauzi al-Bahraini (download dari http://www.sahab.org/
    http://abusalma.wordpress.com/2007/03/07/hizbut-tahrir-dari-mereka-dan-untuk-mereka-2/

    Pahamilah nasehat ana dengan mata terbuka dan lapang dada.
    57:16. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

    jika tidak paham juga, maka ana hanya bisa mengatakan seperti apa yang dikatakan seorang penyair :

    علي نحت القفافي من معادنها و ما علي إن لم تفهم البقر

    Tugasku adalah mengukir bait-bait syair dari sumbernya

    Dan bukanlah tugasku jika sapi itu tidak paham

    http://abusalma.wordpress.com/2006/11/13/menepis-tuduhan-membela-kebenaran/
    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.
    “Artinya : Sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hambaKu, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” [Az-Zumar : 17-18]
    Metode Salaf Dalam Menerima Ilmu
    [Disalin dari Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. 1/No. 04/ 2003 - 1424H, Diterbitkan : Ma'had Ali Al-Irsyad surabaya. Alamat Redaksi Perpustakaan Bahasa Arab Ma'had Ali Al-Irsyad, Jl Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]
    http://www.almanhaj.or.id/content/781/slash/0
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun telah bersabda,
    “Demi Allah, bahwa Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui dakwahmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (H.R. Imam Bukhari dan Muslim)
    http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/11/10/rahasia-kesuksesan-dalam-berdakwah-renungan-untukku-dan-untukmu/
    28:56. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
    3:200. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan KUATKANLAH KESABARANMU dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.

    wallahu’alam bishshawwab

    وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

    وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

    أخوكم في الله

    Al akh Abu Nabila Kosasih Djuman As sundawy
    Al faqir ila maghfirati Rabbihi
    ( Hamba Allah yang senantiasa merindukan keridhaan dan pengampunan
    Allah swt )

    Nb. perjalanan perubahan pemikiran islam antum sebenarnya tidak terlalu jahu berbeda dengan ana. Namun Allah berkehendak lain ” diakhir ” perjalanannnya yaitu terkait perbedaan penyikapan ana dan antum tentang beberapa sikap ” kontraversial ” ikhwah salaf dalam berdakwah dan lebih jauh sampai membuahkan istilah khawariz modern atau istilah beragama takut syaikh.

  8. pengamat debat Berkata:

    makanya kalian jangan sering2 mendebat ihwan salafi, riyeut lah, walau mulut kalian sampe berbuih juga percuma! buang2 energi aja.

    mending kita jitakin para misionaris2 tengik, yg pura2 kampanye masuk kampung2 ngasih dana bantuan..

  9. abu naura assolowy Berkata:

    Sungguh “hebat” abu nabila assundawi ini dengan variasi syair syair arabnya, hujjah yang ia gunakan semuanya benar berdasarkan qur’andan sunnah, namun dilekatkan begitu saja kepada hal yang tak tepat/ syakara , penempatanya…ironi sekali

    Maka benarlah ucapan shahabat ‘ali saat itu , kalimat benar tapi di tujukan tidak pas pada sasaranya….

    ……HAIHATA…..HAIHATA….

Tinggalkan Balasan