Salafus Shalih Adalah Para Pendahulu Kita

Salaf, Salafus Shalih, Salafiyah, Salafi

Salaf kadang dikaitkan dengan masa/waktu/jaman. Kadang dikaitkan dengan generasi. Kadang dikaitkan dengan keadaan. Semua itu merujuk ke masa lalu.

Masa jahiliyah sebelum Islam di Makkah juga disebut jaman ‘Salaf’. Para Nabi sebelum Rasulullah (Saw) juga Salaf. Bahkan Fir’aun pun sebenarnya Salaf, dengan arti orang yang hidup di masa lalu. Itu pemaknaan secara general (umum).

Adapun Salaf yang dimaksud dalam Islam, dalam kajian dakwah, akidah, maupun fikih, merujuk kepada hadits Nabi (Saw): “Khairun naasi qarni tsummal ladzi yalunahum tsummal ladzi yalunahum” (sebaik-baik manusia adalah jamanku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya). Ada yang menyebutkan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim.

Para ulama menjelaskan bahwa “qarniy” (jamanku) adalah era kehidupan Nabi dan para Shahabat (Ra). Kadang disebut, “Jaman Shahabat.” Adapun jaman sesudah itu adalah para Pengikut (Tabi’in) dari para Shahabat, kemudian jaman sesudahnya adalah para pengikut Tabi’in (Tabi’ut Tabi’in).

Itulah 3 generasi awal perintis ajaran Islam. Itulah jaman SALAF yang dikehendaki. Ada yang menyebut istilah, 3 abad pertama hijriah. Atau abad 1, 2, dan 3 setelah hijrah Nabi (Saw) ke Madinah.

Namun tidak semua orang di 3 jaman terbaik itu yang boleh diikuti, sebab disana masih ada orang musyrik, Yahudi, Nashrani, Majusi, munafik, fasiq, aliran sesat, dst. Musailamah Al Kadzdzab muncul di masa Nabi, orang-orang munafik seperti Abdullah bin Ubay dan kawan-kawan juga ada. Khalifah Abu Bakar As Shiddiq (Ra) memerangi orang-orang murtad karena tidak mau membayar zakat, Khalifah Umar (Ra) dibunuh oleh orang fasik, para perintis Khawarij muncul di jaman Khalifah Utsman (Ra), dan seterusnya. Panjang jika disebut satu per satu.

Intinya, Salaf yang dimaksud yang baik-baik saja, yang mukmin, yang shalih, yang muttaqin, yang bisa diambil faidah ilmu, akhlak, dan uswah amal-amalnya. Oleh karena itu istilah SALAF dibatasi dengan istilah lain yaitu SHALIH. Sehingga artinya, “Para pendahulu kita, generasi Nabi dan Shahabat, generasi Tabi’in, dan generasi Tabi’ut Tabi’in, yang shalih.”

Mungkin pertanyaan, apa yang ditinggalkan oleh para Salafus Shalih?

Sebenarnya, yang ditinggalkan oleh mereka banyak, baik yang sampai kepada kita maupun tidak sampai. Sebagai generasi terbaik tentu di segala sisinya banyak kebaikan.

Peninggalan Salafus Shalih antara lain: Mushaf Al Qur’an yang ditulis dan dihafalkan secara turun-temurun; hadits-hadits Nabi yang ditulis, dihafal, dan diajarkan; Ilmu-ilmu Syar’i dengan berbagai cabangnya; Ilmu Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah, dst; Warisan sejarah, peradaban, sistem pemerintahan, kehormatan diri (al ‘Izzah), kebudayaan, wilayah teritorial, risalah dakwah, spirit jihad Fi Sabilillah, hingga sampai kekayaan berupa bangunan-bangunan properti. Contoh, Masjid Amru bin Al ‘Ash di Mesir saat ini, adalah peninggalan beliau ketika menjadi Gubernur di Mesir. Begitu pula Masjid Nabawi dan Masjid Al Haram, juga peninggalan masa lalu, meskipun telah mengalami berbagai renovasi. Minimal, dari sisi posisi tempat dan nama, masih sama seperti dulu.

Adapun yang sering dibicarakan oleh para ulama, dai, muballigh, dst. di forum-forum ilmiah maupun dakwah, adalah hal-hal yang baik saja dari peninggalan Salafus Shalih. Adapun hal-hal buruknya, tidak perlu ditiru, kecuali hanya sekedar untuk pelajaran. Seperti perbedaan pendapat di berbagai bidang ilmu yang berakhir dengan pecahnya ukhuwwah antar sesama Muslim, hal itu tidak perlu dilestarikan. Begitu juga konflik politik hingga berakhir dengan pertumpahan darah antar sesama Muslim, itu juga tidak perlu diambil. Termasuk penyimpangan pendapat dalam masalah tauhid, fiqih, ijtihad, akhlak, dll. yang berbeda dari garis ajaran pokok (Ushuluddin) Salafus Shalih, juga tidak perlu diikuti. Cukup diikuti pendapat yang rajih (kuat) saja.

Intinya, yang paling pokok harus diikuti dari generasi Salafus Shalih adalah: (1) Al Qur’anul Karim; (2) Hadits-hadits Shahih; (3) Dan manhaj memahami keduanya sebagaimana yang diajarkan Salafus Shalih.

Bagaimana aplikasi mengikuti manhaj Salafus Shalih dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah?

Contoh sebagai berikut:

- Kita mengimani ayat-ayat Al Qur’an, baik yang muhkam maupun mutasyabihat.
- Kita tidak menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an secara sembrono, misalnya ada yang mengatakan, “Menurut pendapatku, tafsir ayat ini menurut ilmu Geologi adalah begini-begini.”
- Mengimani Sunnah Nabi (Saw), dan meyakini bahwa Sunnah adalah penjelas bagi Al Qur’an, Sunnah adalah dasar hukum Syar’i, Sunnah menjelaskan akidah Islam, sejarah awal Islam, serta menilai shahih/tidaknya Sunnah menurut penilaian ahlinya (para ahli hadits).
- Bertanya kepada ulama atas perkara-perkara din yang tidak diketahui. Belajar di majlis ilmu, membaca buku, mendengar kajian, dst.
- Komitmen mengikuti kebenaran ajaran Syar’i dari arah manapun datangnya. Tidak bersikap fanatik, ta’ashub, atau membatasi sumber kebenaran hanya dari satu sisi saja.
- Dll.

Ketika seseorang memahami Islam dengan kaidah Bahasa Arab, membaca ilmu Tafsir, memahami Ushul Tafsir, memahami Ushul Fiqih, membaca pendapat-pendapat fiqih ulama, membaca Sunnah, memahami Musthalah Hadits, dan lain-lain. Singkat kata: Sumber ilmunya ilmu-ilmu Syar’i dan metodenya memakai kaidah-kaidah Ushul dari ulama-ulama Salaf, sebenarnya dia adalah seorang Ahlus Salafiyah, pengikut Salafus Shalih.

Untuk membedakan seseorang Ahlus Salafiyah atau bukan, bisa dilihat pada dua hal di atas: (1) Kedekatan dengan sumber-sumber ilmu Syar’i. (2) Penerapan kaidah-kaidah Ushul dalam memahami ilmu-ilmu Syar’i. Harus diingat, sumber-sumber ilmu itu diturunkan dari Salafus Shalih, begitu pula kaidah-kaidahnya. Seperti hukum wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram (5 jenis status hukum), itu juga dari Salafus Shalih.

Oh ya, satu lagi, ini yang penting. Baik ilmu Syar’i maupun kaidahnya, harus diamalkan sekuat kemampuan. Jadi ia tidak hanya teori belaka, tetapi diamalkan juga.

Adapun soal mau disebut Salafi atau tidak, ya itu terserah orang mau menyebutnya. Istilah ini dan itu tidaklah terlalu penting, sebab tujuan ibadah kita memang hanya untuk Allah Al A’la.

Singkat kata, para Salafus Shalih adalah para pendahulu (nenek moyang) Ummat Islam seluruhnya, baik yang di belahan Timur maupun Barat, baik laki-laki maupun perempuan, yang awwam dan shalih, yang tua maupun muda, generasi kini maupun nanti.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

=== AMW ===
Sumber:

Diskusi Dakwah Islam, MyQuran.org, 13 Mei 2008.

7 Tanggapan ke “Salafus Shalih Adalah Para Pendahulu Kita”

  1. Kang yudi Berkata:

    Ana lihat Designnya pakai yang “Dusk’ aja pak lebih bagus

  2. Abu Ammar Berkata:

    Sumber ilmunya ilmu-ilmu Syar’i dan metodenya memakai kaidah-kaidah Ushul dari ulama-ulama Salaf, sebenarnya dia adalah seorang “Ahlus Salafiyah”, pengikut Salafus Shalih.

    Ahlus Salafiyyah ini istilah dari mana pak??
    adakah ulama pendahulu ustadz yang memakai istilah ini..

    Malah istilah salafiyyin atau salafiyyun, mungkin lebih tepat dan pas..

    Karena telah banyak ulama yang memakai istilah ini…bahkan seorang Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari rahimahullah memakai istilah Salafiyyun, yang beliau sebut salafiyyun itu adalah salah satu nama ahlul haq dalam kitab beliau rahimahullah “Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah” bab bagaimana orang jawa bermazhab….

    Saya belum cek kitab aslinya tapi ini saya dengar langsung di Kajian kitab tersebut di salah satu Pesantren Nadhliyyin di Gresik..

    • abisyakir Berkata:

      @ Abu Ammar.

      Syukran atas komentarnya.

      Ya istilah “Ahlus Salafiyyah” itu kan maksudnya, seseorang atau suatu kaum yang menggeluti ajaran Salafiyah. Sama seperti Ahlus Sunnah, artinya orang-orang yang menggeluti Sunnah. Atau seperti Ahlul Ilmi, yaitu orang-orang yang menggeluti ilmu. Atau seperti Ahlul Atsar, yaitu orang-orang yang menggeluti Atsar. Apa sih anehnya istilah “Ahlus Salafiyah” itu? Istilah ini maksudnya umum sekali, seseorang atau kaum yang ahli atau menggeluti hal-hal tertentu.

      Justru karena memang istilah “Ahlus Salafiyah” itu tidak populer, maka disana saya beri TANDA KUTIP. Tetapi maksudnya ya sama, yaitu orang-orang yang ahli, berkiprah, atau menggeluti ajaran Salafus Shalih. Hal demikian ini bukan sesuatu yang serius. Seperti halnya istilah Ahlus Sunnah sendiri. Itu kan istilah yang kemudian muncul, bukan istilah baku di jaman Nabi Saw dan Shahabat Ra. Nabi hanya mengatakan, “Ma ana ‘alaihi wa ashabih” (apa yang aku dan para Shahabatku ada di atasnya). Lalu para ulama menafsirkan perkataan Nabi itu dengan: SUNNAH. Lalu para ulama menambahkan kata lain, AHLU, yaitu bagi orang-orang yang komitmen dengan Sunnah Nabi. Sampai akhirnya populer menjadi AHLUS SUNNAH.

      Kesimpulan, jadi pemakaian kata “Ahlus Salafiyyah” itu tidak ada masalah, hanya saja memang tidak populer. Sebab yang dituju disana memang maksudnya, orang-orang yang berpihak, berjalan, bergelut, berkiprah, berpaham, dan sebagainya di atas manhaj Salaf. Kurang lebih seperti itu. Syukran jazakumullah khair atas masukannya. Wallahu A’lam bisshawaab.

      AMW.

  3. Abu Ammar Berkata:

    Ustadz alergi ya dengan istilah Salafiyyin, karena itu anda buat istilah “ahlu salafiyyah”…

    jadi kalo kita menisbatkan diri sebagai salafiyyin nggak masalah kan?

    selama kita memang berjuang keras untuk menjadi apa yang disabdakan nabi shallallahu alaihi wa sallam ““Ma ana ‘alaihi wa ashabih” (apa yang aku dan para Shahabatku ada di atasnya)”

    Wallahu A’lam bisshawaab

    • abisyakir Berkata:

      @ Abu Ammar.

      Tidak alergi Akhi, hanya istilah Salafi, Salafiyin, Salafiyun itu sudah sedemikian rupa rusak oleh perilaku kaum Muslimin sendiri. Secara substansi itu benar, yaitu ikut manhaj Salafus Shalih. Tetapi secara peristilahan sudah rusak oleh sikap ghuluw. Contoh, Ahmadiyyah itu adalah istilah yang baik, yaitu tentang ajaran Kenabian (Sunnah). Tetapi ia dipakai oleh kalangan sesat untuk menjual akidah sesatnya.

      Substansi masalahnya benar, tapi penggunaannya yang salah kaprah. Sudah rahasia umum, ketika seseorang mengklaim diri sebagai “Salafi”, kerap kali dia bermudah-mudah mengeluarkan saudaranya dari manhaj Salafus Shalih. Sampai ada rebutan klaim “paling Salafi” di Indonesia ini dan Timur Tengah.

      Istilah sebaik apapun, kalau sudah dipakai untuk melayani hawa nafsu fanatik golongan, pasti hasilnya berupa fitnah demi fitnah. Seperti kaum Syi’ah yang mengklaim sebagai pewaris madzhab Ahlul Bait itu. Padahal Ahlul Bait Nabi Saw tidak bersikap seperti mereka.

      Sebaiknya kita concern dengan manhaj Salaf itu sendiri, terserah orang akan mengatakan apapun tentang kita. Mau disebut Salafi atau “Salafi palsu” silakan saja, asalkan kita komitmen dengan al Haq. Sebab pada hakikatnya, kita tidak beribadah kepada orang-orang itu, melainkan beribadah kepada Allah Al Wahid As Shamad.

      Syukran jazakallah. Bagaimana kabar Gresik? Moga baik-baik selalu ya.

      AMW.

  4. Ardisyam Berkata:

    Alhamdulillah, saya menemukan juga sebuah blog yang berusaha menjelaskan Salafi Ekstrim. Kebetulan saya juga berusaha untuk menjelaskan hal tersebut di blog saya, walaupun tidak sebagus Abusyakir. Ini contoh artikel saya:

    http://blog.wiemasen.com/2009/02/05/pengertian-salaf-dan-salafi/

    • abisyakir Berkata:

      @ Ardisyam.

      Alhamdulillah Akhi, ya kita saling bantu-membantu dalam kebajikan. Insya Allah tulisan Antum juga bagus. Terus berjuang untuk kemashlahatan Ummat. Amin.

      AMW.

Tinggalkan Balasan