Solusi Kenaikan Harga Minyak Dunia

Maaf, meskipun saya banyak membahas topik-topik dakwah Salafiyah, tidak berarti saya tidak paham persoalan seperti BBM. Meskipun di detail tertentu saya tidak memiliki data-data yang dibutuhkan.

Mari kita mulai dari tiga asumsi:

1. Kenaikan harga BBM lokal sangat terkait dengan kenaikan harga minyak dunia.
2. Kenaikan harga BBM lokal hanyalah salah satu alternatif dari sekian alternatif lain.
3. Indonesia bukan hanya pengimpor minyak mentah, tetapi juga penghasil minyak, meskipun konon produksinya hanya sekitar 1 juta barrel. (Di tingkat OPEC, kapasitas produksi seperti ini sudah “memalukan”).

Sebenarnya, kenaikan harga BBM sampai menembus angka US$ 130 per barel adalah kejadian yang sangat ajaib. Dalam waktu kurang dari 6 bulan, kenaikan mencapai US$ 50 per barel (dengan patokan semula, sesuai angka APBN US$ 80 per barel).

Ini bukan kejadian riil, tetapi kejadian luar biasa, yang tentu diakibatkan oleh variabel-variabel yang luar biasa juga. Tahun lalu, minyak mentah dunia juga naik tajam mendekati angka US$ 100 per barel. Mengapa? Sebab minyak sedang diborong Amerika, ditimbun di Texas, untuk cadangan energi Amerika. Itu terjadi setelah terjadi badai Katherina dan Rita di California.

Menariknya, setelah itu harga minyak turun kembali, atau stabil. Tetapi dalam kondisi sekarang, sungguh sangat ajaib. Minyak naik sedemikian hebat. Pertanyaannya, apakah ini pertanda bahwa minyak akan secara pasti akan lenyap dari perdaban manusia? Wah, mungkin belum sejauh itu. Tapi menurut Sekjen OPEC, kenaikan harga minyak mentah dunia (jenis sweet lights dan barret), lebih karena mata uang dolar Amerika yang terus turun. Dolar turun, otomatis standar minyak naik.

Jadi kejadian demikian, termasuk kondisi luar biasa. Bisa jadi, suatu saat nanti harga minyak itu akan turun seperti semula (standar 80 dolar) atau di bawah angka 100 dolar per barel.

Solusinya?

Solusi menghadapi semua ini adalah memperkuat lobi politik ke Timur Tengah, khususnya Saudi, negara asal minyak mentah yang kita beli.

Secara teknis, ongkos produksi minyak itu tetap. Jika ada kenaikan, pasti tidak besar. Sebab, ini adalah industri pertambangan. Tinggal ngambil aja dari bumi, tidak butuh bahan baku macam-macam. Di sisi lain, mata uang Saudi itu sangat stabil, sebab sistem yang dia pakai fixed rate (mata uang tetap, bukan mengikuti kondisi pasar).

Dapat disimpulkan, negara produsen minyak seperti Saudi, mereka terima keuntungan sangat-sangat besar dengan kenaikan harga minyak dunia itu. Sementara ongkos produksi mereka relatif tetap, atau naik sedikit. Jadi, mereka saat ini sedang mendapat “rizki durian runtuh” (tapi ingat di Saudi tidak ada durian, jadi disebutnya “rizki korma jatuhan”).

Nah, selisih keuntungan yang besar itu bisa menjadi peluang negosiasi antara pejabat-pejabat Indonesia dengan pemerintah saudi. Istilahnya, minta kedermawanan hati mereka. Apa itu mungkin? Sangat mungkin, kalau negeri ini tidak terlalu keracunan American minded. Dulu pun almarhum Buya M. Natsir, memberi tanda tangan kepada Ali Moertopo untuk mengakses dana bantuan ke pemerintah Arab, dan diterima.

Karakter orang Arab itu dermawan dan tidak tega melihat derita orang lain, apalagi sesama saudaranya. Jujur saja, meskipun mereka sering diteriaki “Wahhabi wahhabi wahhabi”, tetap saja, penyumbang terbesar bencana alam Tsunami dan gempa Yogya, tetap mereka.

Tapi gimana dong? Malu dong kita “ngemis” ke Saudi?

Iya sih, kalau ke Saudi merasa malu, atau banyak alasan, tetapi kalau menjadi jongos IMF, Bank Dunia, menjadi makelar The Fed, menjadi agen Berkeley tidak merasa malu. Inilah ketika Syahadatain tidak tegak, jadi serba kacau balau cara berpikir dan berperilakunya.

Kesimpulan, solusi kongkret: Lakukan lobi politik ke Saudi untuk memperoleh dispensasi dalam pembelian minyak mentah. Insya Allah, jika pemerintah Saudi paham betapa besar nilai kerugian akibat kenaikan harga BBM, saya yakin mereka akan bermurah hati, sebagaimana mereka murah hati ketika kita terkena bencana alam.

Ini usulan kongkret dari seorang santri. Tidak usah dianggap namanya!
Sumber: Obrolan Ummat, MyQuran.org, 24 Mei 2008.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 151 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: