Pilih Tulisan “Allah” atau “Alloh”…

Menurut Anda mana yang benar, tulisan “Allah” atau “Alloh”…?

Sebagian Muslim tidak mau menulis “Allah”, sebab katanya seperti tulisan yang dipakai oleh orang Nahrani. Maka mereka menulis “Alloh” (dengan memakai huruf “o”) untuk membedakan dari Nashrani.

Tapi disini ada sedikit catatan kritis:

- Orang Nashrani membaca kata “Allah” dengan ucapan: A – l – a – h. (Disini tidak terdengar bunyi “o” dan huruf “l” tidak dibaca double).

- Dalam ejaan Arab, tidak dikenal huruf vokal “o”. Yang ada ialah bunyi “a” atau fat-hah. Asma Allah disana ditulis “Allah”, meskipun membacanya: Alloh.

- Dalam Injil berbahasa Arab pun, Allah ditulis dengan huruf yang sama persis dengan kita, yaitu: “Allah”. Kaum Nashrani Arab membacanya juga: Alloh (seperti kita).

- Menurut EYD di Indonesia, tulisan yang disepakati memang “Allah”.

- Bahkan, dalam literasi internasional, seperti bahasa Inggris, juga tertulis “Allah”, bukan “Alloh”.

Singkat kata, penulisan “Allah” itu sudah tepat, tidak perlu diubah. Tetapi pengucapannya tetap “Alloh”, bukan “Al-lah”, apalagi “A-lah”.

Kalau kita ganti menjadi tertulis “Alloh”, seakan kita mengalah terhadap cara penulisan orang Nashrani. Padahal kenyataannya, mereka meniru kita, bukan kita meniru mereka. Kalau kita mengalah, lalu menulis “Alloh”, nanti orang Nashrani akan merasa menang dan mampu mendesak kita ke pinggir. Padahal, Ummat Islam adalah pemegang “hak legal” atas segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah Ta’ala.

Islam adalah agama yang diridhai Allah Ta’ala. “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah Al Islam.” (Ali Imran: 19). Konsekuensinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan syiar Asma Allah, Ummat Islam yang berhak memangkunya. Bukan ummat lain.

Di Indonesia sendiri, ada kenyataan negatif yang kita dapati sejak jaman dahulu. Kaum Nashrani sejak lama memakai istilah-istilah yang berbau Islam, misalnya: Jemaat, kalam kudus, roh kudus, al kitab, kotbah, Isa al masih, dsb. Padahal, dalam kitab Bible (baca: terjemahan Injil ke dalam bahasa Inggris dengan berbagai perubahan di dalamnya) tidak ada istilah-istilah itu.

Mengapa orang Nashrani di Indonesia memakai istilah-istilah Al Qur’an?

Alasannya sebagai berikut:

(1) Mereka ingin lebih mudah diterima oleh Ummat Islam Indonesia. Dengan memakai istilah-istilah yang tidak jauh berbeda, mereka berharap bisa lebih mudah masuk dalam kultur Ummat Islam di Indonesia.

(2) Mereka ingin meyakinkan kepada orang-orang Muslim yang kemudian masuk ke Nashrani, bahwa antara Islam dan Nashrani tidak terlalu banyak perbedaan. Buktinya –kata mereka- istilah yang dipakai mirip.

(3) Ketika kaum Nashrani gencar memakai istilah-istilah itu di berbagai kesempatan, mereka berharap istilah tersebut menjadi ciri khas mereka. Jika Ummat Islam kemudian memakainya, kaum Nashrani berharap Ummat Islam merasa asing dengan istilah itu.

Contoh paling nyata adalah tulisan “Allah”. Karena begitu gencarnya Nashrani memakai tulisan tersebut, meskipun mereka membacanya “A-lah”, Ummat Islam merasa tidak nyaman memakainya. Padahal sejatinya, kita yang awalnya memiliki istilah itu dan berhak sepenuhnya menggunakannya. Jika diumpamakan sebuah produk, kita yang memegang copy rights-nya. Orang lain kalau ingin memakai, dia harus permisi dulu, atau membayar royalty-nya.

Dalam Bible sendiri, istilah-istilah yang dipakai sangat berbeda, misalnya God, Father, Son, Angel, Marie, Jesus, dan sebagainya. Kalau kita meniru istilah-istilah itu, jelas keliru. Tetapi nyatanya, kita memakai istilah yang berasal dari Al Qur’an, sehingga tidak bisa disebut “meniru Nashrani”.

Masalah ini kelihatan sederhana, tetapi disini ada semantic war. Pemakaian istilah-istilah Qur’ani dalam agama Nashrani itu bukan perkara sepele. Biasanya hal ini dirumuskan oleh kaum orientalis yang tingkat keseriusan berpikirnya tinggi. Untuk rata-rata orang Nashrani Indonesia, mereka tidak memiliki kejelian setinggi itu. Saya mencurigai Snouck Hurgronje sebagai pelopor pemakaian kata-kata Qur’ani dalam peristilahan agama Nashrani di Indonesia.

Satu saran praktis yang bisa saya sampaikan. Kalau Anda menulis kata “Allah” sebaiknya ditambah dengan kata-kata lain yang diambil dari Asma’ul Husna. Hal itu akan menjadi pembeda tegas antara tulisan “Allah” menurut versi Islam, dan tulisan serupa menurut versi Nashrani. Istilah-istilah yang bisa dipakai, antara lain: Subhanahu Wa Ta’ala, Tabaraka Wa Ta’ala, Jalla Jalla Luhu, Jalla Sya’nuhu, ‘Azza Wa Jalla, Jalla Wa ‘Ala, dan sebagainya. Atau berupa Asma’ul Husna tunggal seperti: Al ‘Azhim, Al ‘Aziz, Al Ghafur, Ar Rahmaan, Al Karim, dan sebagainya. Orang Nashrani tidak akan memakai kata-kata Asma’ul Husna di atas, sebab ia sangat berlawanan dengan akidah mereka.

Semoga menjadi wawasan yang bermanfaat! Amin.

About these ads

44 Balasan ke Pilih Tulisan “Allah” atau “Alloh”…

  1. wahidan mengatakan:

    barang siapa menyerupai suatu kaum dia termasuk golongannya.kalo bisa beda dalam batas syar’i dg org kafir,kenapa tidak?mana wala’wal baro’nya

  2. vbx mengatakan:

    @wahidan
    siapa menyerupai siapa?

  3. romphi mengatakan:

    kekuatan negeri ini pada keragamannya, bukan keseragamannya. Berikan hak kepada umat nashrani untuk menulis sesembahannya dengan “Allah” juga berikan hak kepada umat islam menulis tuhannya dengan “Alloh” jangan paksa dengan “Allah” atas nama EYD, karena memang berbeda antara “Allah” dengan “Alloh” dalam persepsi masyarakat indonesia.

    Anak usia 5 tahun yang baru belajar membaca, saat membaca tulisan “Tuhanku Allah” maka tetap akan membacanya dengan “Tuhanku Allah”. Ketika diajari supaya membacanya “Tuhanku Alloh” maka dalam benaknya akan berpikir “orang Islam itu aneh, wong tulisannya “Allah” kok dibaca “Alloh”, yag betul orang nasrani itu ya pa…. membacanya tetap “Allah”.

  4. abisyakir mengatakan:

    @ romphi….

    Anak usia 5 tahun yang baru belajar membaca, saat membaca tulisan “Tuhanku Allah” maka tetap akan membacanya dengan “Tuhanku Allah”. Ketika diajari supaya membacanya “Tuhanku Alloh” maka dalam benaknya akan berpikir “orang Islam itu aneh, wong tulisannya “Allah” kok dibaca “Alloh”, yag betul orang nasrani itu ya pa…. membacanya tetap “Allah”.

    Komentar: Anak usia 5 tahun ya… Masalahnya istilah yang kita bahas ini tentang kata Allah. Apa anak kecil seusia itu sudah bisa diajak berpikir tentang terminologi kata Allah. Justru yang aneh itu Anda. Anda berdalil dengan anak kecil yang tentu belum bisa bicara tentang terminologi.

    Begini ya, wahai orang nashrani, kata Allah atau Alloh, itu menurut Anda dari bahasa apa? Apa ia asli bahasa kita, bahasa Indonesia? Ia dari bahasa Arab. Maka merujuknya juga harus ke bahasa aslinya, bukan bahasa kita.

    Dalam bahasa Arab, tulisan Allah itu ditulis alif-lam-lam-ha’, menurut bacaan aslinya Allah. Tetapi sudah mafhum di telinga Nabi Saw dan bangsa Arab bahwa membacanya, Alloh (dengan bunyi o). Tetapi tulisan literalnya sendiri tetap Allah. Ini asli bahasa aarabnya begitu. Tulisan Allah adalah salah satu dari keistimewaan ucapan dalam Al Qur’an, antara tulisan dan bunyinya dibaca berbeda.

    Justru karena orang nashrani di Indonesia tidak belajar bahasa Al Qur’an (bahasa Arab), maka mereka mengucapkannya Allah (dengan bunyi a). Kalau nashrani di Arab sana, mereka tetap mengucapkan dengan bunyi Alloh.

    = Me =

  5. mrspreader mengatakan:

    to all:

    setelah saya pikir, bahasa indonesia itu berbeda dengan bahasa arab dan bahasa inggris atau dengan bahasa lainnya, contohnya dalam pengucapan atau menurut ilmu fonetiknya (ilmu pengucapan), misalnya:

    dalam bahasa inggris untuk buku adalah book tapi bacanya buk (dobel o dibaca u)

    dalam bahasa inggris untuk dobel adalah double tapi dibaca doubel (le dibalik menjadi el)

    dalam bahasa arab pun juga begitu الله tulisannya memang alif fathah-lam fathah di tasydid dan ha di dhommah, tetapi bacanya Alloh

    kata رمضان dibaca romadhon bukan ramadhan karena walaupun terdiri dari huruf ro fathah-mim fathah sambung dho fathah-nun mati tetapi bacanya tetap romadhon

    sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada cara pembacaan seperti itu, bagaimana tulisannya begitu pula cara bacanya…

    dalam bahasa Indonesia book bukan dibaca buk tapi tetap book, double tetap double dan bukan doubel, maka kata الله pun harus ditulis dengan kata Alloh agar sesuai dengan sifat bahasa Indonesia yang “bagaimana ditulisnya begitu pula cara bacanya…” agar dapat dibaca Alloh juga…

    mungkin tidak sesuai dengan EYD tetapi masuk akal dan benar, kalau EYD nya yang salah ngapain di ikuti toh kita semua punya akal dan dapat berpikir yang benar?

  6. steven mengatakan:

    to:mrspreader

    Dimana letak kebenaran cara berpikir anda sendiri ? bahasa Inggris dan bahasa Arab sama-sama BAHASA ASING bagi Indonesia….

    quote :
    “dalam bahasa inggris untuk buku adalah book tapi bacanya buk…
    dalam bahasa arab pun juga begitu الله tulisannya memang alif fathah-lam fathah di tasydid dan ha di dhommah, tetapi bacanya Alloh….
    sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada cara pembacaan seperti itu, bagaimana tulisannya begitu pula cara bacanya…”

    “dalam bahasa Indonesia book bukan -dibaca- (ralat -ditulis-) buk tapi tetap book, double tetap double dan bukan doubel, MAKA kata الله pun harus ditulis dengan kata Alloh agar sesuai dengan sifat bahasa Indonesia yang “bagaimana ditulisnya begitu pula cara bacanya…” agar dapat dibaca Alloh juga…”

    > Mengapa kalau Book tetap ditulis Book (meski dibaca Buk)
    > lalu kalau Double tetap ditulis Double (meski dibaca Doubel)
    > anda anggap benar…?
    > sedangkan alif fathah – LAM FATHAH di tasydid – dan ha di dhommah yang ditulis latin Allah (meski dibaca Alloh), anda anggap harus ditulis Alloh atas dasar agar sesuai dengan sifat bahasa Indonesia yang “bagaimana ditulisnya begitu pula cara bacanya…”???
    > kalau konsisten dengan alur logika anda, berarti seharusnya dalam literasi di Indonesia, Book ditulis BUK, Double ditulis DOUBEL… makin kacau deh dunia persilatan….

    > Sudah dijelaskan sebelumnya…. Dalam ejaan Arab, tidak dikenal huruf vokal “o”. Yang ada ialah bunyi “a” atau fat-hah. Asma Allah disana ditulis “Allah”, meskipun membacanya: Alloh. (ilmu fonetik).
    > Penulisan tetap mengikuti bahasa asing, begitu juga PENGUCAPANNYA mengikuti bagaimana orang asing menggunakan bahasa ibunya,,, jangan dirubah-ubah,, nanti penulisan “Manual Book” di Indonesia menjadi “Manual Buk”……

    >>>> semantic war ‘buk’…..

  7. kurdaman mengatakan:

    untuk steven dan semuanya :

    setahu saya kalau ada literatur atau catatan dalam bahasa indonesia tertulis bahasa asing , maka bahasa asing itu di tulis dengan tanda kutip atau di cetak tulis miring.

    demikian semoga membantu, dan saya sependapat dengan tulisan , ..dalam bahasa Indonesia tidak ada cara pembacaan seperti itu, bagaimana tulisannya begitu pula cara bacanya…”

  8. Si Fulan mengatakan:

    assalamu alaikum sohib, cm mau nambain yang aq tau aja nih. langsung aja ya, setahu saya kalau sebutan nama dimanapun di ucap nama tetep sesuai abjad nama dari ibunya, contoh jaco underson di sebutnya jeko anderson, meskipun d negara manapun dia akan di panggil sebutanya meski tulisanya jaco underson, new york akan di baca nyu yok, ALLAH penyebutanya ALLOH. moga bisa untk bahan perenungan, salam kenal dari ahli fakir di dalam kefakiran. ALLAH MAHA KAYA

  9. Aldri mengatakan:

    @Si Fulan: Setuju banget.
    @Komentator lain: Jika Anda sekalian mengakui bahwa “ALLAH” adalah nama diri, sebagamaina “Muhammad” dan “George Bush” adalah nama-nama diri, maka Anda tak perlu mengotak-atik lagi penulisannya. Anda harus belajar lebih banyak tentang transliterasi. Apakah Anda tidak pernah membaca transliterasi latin yang ada di Al Qur’an?

  10. cahya mengatakan:

    Mnurutku memang lbh baik ditulis ALLOH dan dibaca ALLOH.
    Jgn kalah sama EYD yg jg buatan manusia.
    Agama lain mo gmn itu urusan mereka, utk mereka agama mrk, utk qta agama qta.

  11. cahya mengatakan:

    TAPI tentang penulisan sesuatu sesuai dg bahasa ibu sich masuk akal jg.
    Qta gak mungkin nulis BOOK jd BUK. Walo bacanya BUK.
    Klo ORANG ARAB mntranslate HURUF ARAB ke HURUF LATIN adalah ALLAH, memang pnulisan ALLAH lbh benar.
    Tp utk kalangan sendiri aku lbh mmilih penulisan ALLOH krn utk ngajarin orang agar bs mmbaca dengan benar.

  12. ummu ibrohim aisyah mengatakan:

    sudahlah,kita jgn sampai berjidal,apalagi mengurusi hal2 smacam ni.mungkin penting,tapi msh ada hal yg jauh lbh pnting utk diurusin.lihatlah,kesyirikan di negri kita merajalela,kebid’ahan berkuasa.apakah kita tega meninggalkan urusan yg lbh besar itu?AYO BANGKIT
    *afwan jiddan,ini hnya sekedar saran saja

  13. mau kritik….
    – Dalam ejaan Arab, tidak dikenal huruf vokal “o”. Yang ada ialah bunyi “a” atau fat-hah. Asma Allah disana ditulis “Allah”, meskipun membacanya: Aulah atau Auloh

  14. paijo mengatakan:

    agak setuju dg yg berpendapat perlunya menulis Alloh alih-alih Allah. Terutama yg bertujuan utk mengajarkan pengucapan yang benar. Kadang sy juga menulis kata-kata yg semacam itu, misal lafadz Alloh, rohmat, sholat, shohih, barokah, mahrom, sholallohu, rosul, isro’ mi’roj, dsb.
    Sebab sy ckup prihatin dg sodara kita (terutama dari luar Jawa), yang kadang sy dengar mengucapkan: insya A-lah (atau malah: insya Aulah). Ada juga: waramatu-lahi wabarakatuh (pdahal pengucapan sharusnya warohmatullohi wabarokatuh). Bisa jd itu karena mereka kurang mengakrabi bahasa Arab (perlukah ditulis Arob?, hehehe…). Dengan cara penulisan sesuai ucapan, utk kata2 tertentu, mudah2an sedikit-banyak dpt menyadarkan sodara2 kita td. EYD? Dalam kasus ini, nanti dulu lah.. :)

  15. abisyakir mengatakan:

    @ Mas paijo…

    Terimakasih atas komentar dan sharing pendapatnya, sangat berarti. jazakumullah khair.

    Admin.

  16. Dendeng mengatakan:

    terima kasih mas atas penjelasannya sangat bermanfaat bagiq

  17. dien rosyadi mengatakan:

    setuju dengan cahya…Alloh SWT…beres…

  18. Palagan mengatakan:

    ALLAH (arabic). ELOH/ELOHIM (hebrew/aramaic) .. jadi Alloh di Indonesia .. yo wis sak karepmu. aku tetep ikut yg ALLAH dan aku menulisnya dengan huruf kapital …

  19. ronyy mengatakan:

    tulisan berdeda…. tapi maksud dan tujuan sama…. (ngono po piye)

  20. Ahmad Zaenal Mahfudz mengatakan:

    Terserah yang penting bagimu agamamu bagiku agamaku…..agama adalah keyakinan masing2 manusia….tidak usah saling mengejek prinsip masing2 yg penting jangan maksiat kepada Tuhanmu…

  21. Muis Alim mengatakan:

    Jika Penulisanya ” Allaah ” ?
    itu salah ataukah Benar?
    Karena di Penulisan Alqur’an di Atas Tajwid ada tandabaca Alif Khanjarariah dan itu dibaca Panjang 2 Harkat..

    Mohon Pencerahannya.
    Terimakasih.

  22. abisyakir mengatakan:

    @ Muis Alim…

    Mungkin bagusnya begitu, ada sifat panjang-pendek; tetapi dalam literasi bahasa Indonesia, hal tsb tidak terakomodasi. Bahasa kita tak mengenal panjang-pendek lafadz. Terimakasih.

    Admin.

  23. herinasti mengatakan:

    memang telinga kalian xxxx semua dah jelas orng arab baca tulisan Allah dgn sbtn Allah malah diubah jadi Alloh,huruf lam syaddah kalau dah dibaca tebal memang A terdengar sperti O namun sebutannya tetap Allah.

    Note: jangan kasar kalo buat komen, oke?

  24. Tolong sebarkan ilmu ini

  25. Polan mengatakan:

    Ini negara pancasila, jangan bikin artikel yang merusak persatuan atas nama agama. Buat apa ngaku ngaku pengikut Tuhan kalau bisanya hanya menghakimi sesama. Itu bukan ajaran Tuhan, tetapi ajaran Iblis. Hormati sesama, jangan mau di dokterin sifat fanatik yang akhirnya saling melukai dan membunuh. Ujung ujungnya jadi alat untuk menteror.
    Pernah Tuhan menyuruh kita untuk menghakimi sesama? Menjekel jelekan? Ataupun menterror?

    Sekian

  26. qa mengatakan:

    gini Aja kalau kalian tetap ngarep baca nya ALLOH kenapa sewaktu membaca Alhamdulillah gak Alhamdulilloh aja?

  27. Polan mengatakan:

    bahasa adalah alat komonikasi antar manusia dalam satu wilayah tertentu …dan Yang Maha Kuasa boleh di panggil dengan nama apapun selama itu merupakan satu bentuk nama pujian dan pujaan .. dalam bahasa arap ada brapa banyak nama NYA… dalam bahasa indonesia ada banyak juga.. dan setiapn suku bangsa panggilan yg berbeda beda atas namaNYA, jadi kl Yang Maha Kuasa tidak mengetahui atau mengerti akan puja dan puji yang kita panjatkan ke hadiratnya hanya karena bahasa manusia…. tidak pantas DIA di sebut sebagai Yang Maha mengerti , kuasa, kasih ,ampun dan yg lainnya,,, dia bukan zat yang maha tinggi.. gak lebih seperti zat cair atao gas… jangan mengecilkan tuhan atas kuasanya,,, atas bahasa,,, jangan juga engkau memuji dan sekaligus menghujatnya… jangan engkau menyebut namanya tapi engkau menyakiti orang lain.. karena tuhan itu kasih…jangan engkau bersaksi dusta atas namanya dengan dalih kebaikan ,, karena apa yang kelihatan baik di matamu belum tentu baik di hadapanNYA>>> sekian wasalam

  28. rita mengatakan:

    Simpelnya, kamu penganut Islam atau penganut Arab?

  29. rita mengatakan:

    Hari gini masih sibuk membahas hal ga penting, lebih penting semua ajaran bukan untuk menghakimi tp utk diri sendiri. Disitu sdh jelas suatu keterbelakangan dan apakah tingkah laku yg baik dgn menghujat agama lain. Agama nasrani punya keyakinan sendiri, tdk akan meniru. Yg meniru itu pasti posisi di belakang, sementara nasrani menyempurnakan kitab yg sdh pernah diikutinya.
    Intinya apa yg dilakukan kaummu itu sdh pernah dilakukan org nasrani (perjanjian lama)

  30. abisyakir mengatakan:

    @ Rita…

    Ya jangan sinis gitu Mbak Rita. Membahas apa saja, asalkan secara terbuka, terstruktur, jelas materinya, jelas alasannya, kan ngak apa-apa. Itu kan sikap ilmiah yang mesti dijaga. Lagi pula artikel itu sudah dibahas lama, dan di tengah Ummat Islam ada perdebatan soal itu. Terimakasih.

    Admin.

  31. Andi Aslan Jufri mengatakan:

    Thanks buat penjelasannya..

    Bermanfaat BANGETT

  32. Fulan mengatakan:

    Maaf saya orang muslim indonesia, perkataan saya yg akan saya tulis . Alloh ucapan dr mulut saya Alloh yg tertulis dlm tulisan saya , Allohu robbi lbh tau, suku kata yg dlm arti esa . Lillah , billahu tertuju , no EYD NO orang s1 s3. ! Yg tulisan dngan huruf arab tetap Allah,

  33. mas'arifat dian illah mengatakan:

    Maaf saya orang muslim indonesia, perkataan saya yg akan saya tulis . Alloh ucapan dr mulut saya Alloh yg tertulis dlm tulisan saya , Allohu robbi lbh tau, suku kata yg dlm arti esa . Lillah , billahu tertuju , no EYD NO orang s1 s3. ! Yg tulisan dngan huruf arab tetap Allah,

  34. abisyakir mengatakan:

    @ Andi…

    Sama-sama terimakasih. Alhamdulillah.

    Admin.

  35. sarippudin mengatakan:

    kalau menurut saya Alloh lah yg tepat karna dalam pengejaan bahasa indonesia. bukan ejaan english atau. yg lainnya itu menurut guru b.indonesia saya

  36. ari mengatakan:

    di tulisan huruf arab ga ada huruf O, makanya lafadz nya Allah, coba kalo ada pasti tuh huruf di pake. nah di indonesiakan huruf o ada, mubadzir kalo ga di pake. kalo kita mksain sm dgn al-quran yg jelas2 beda hurufnya, yah ilangin aja huruf O huruf E..dll yg ga ada di quran…indonesia dh lkap eyd dan plafalan hurufnya…

  37. ari mengatakan:

    yang saya mau tanyain, tapi ujungnya nyasar ksini bukan tulisan O atau A dalam lafal Allah atau Alloh.. tapi panjang pendeknya di sabagian quran tertulis Allah dgn tasdid dan fathah normal = Allah, namun ada juga yang fathah berdiri= Allaah …sdang smua d baca panjang atau Allaah, tapi lbh byk d tulis dgn Allah, tapi d baca panjang…mohon koreksi yg bnar apa?

  38. abisyakir mengatakan:

    @ Ari…

    Kalau dalam tilawah (baca Al Qur’an) memang dibaca panjang dua huruf “Allooh”. Dalam penulisan Arabic juga ada tanda panjangnya. Tapi kalau diucapkan sehari-hari, atau ditulis dalam kata latin (seperti bahasa kita) yang lazim hanya ditulis “ALLAH” saja. Terimakasih.

    Admin.

  39. Linda Niswatin mengatakan:

    Terimakasih,teksnya sangat membantu..hati saya lebih mantep ke Allah daripada Alloh…

  40. abisyakir mengatakan:

    @ Linda…

    Sama-sama Mbak. Kita berbagi kebaikan, insya Allah.

    Admin.

  41. Anonymous mengatakan:

    Bisa – bisa 100 Tahun dari sekarang bangsa Indonesia menyebut sang penciptanya ALLAH. Bukan ALLOH
    Ini jelas kristenisasi yang sudah di agendakan, wallo hu a’lam bissowab
    Ya… Nabiyyalloh, Yaaa Rosulalloh
    Isa alaihissalam, Tuntunlah domba domba mu ke arah yang benar

  42. bagas mengatakan:

    hey gk baca sejarah lo . kristen sama islam duluan mana lahir agamanya ! assl ngmng aja lo pada

  43. Yaya7 mengatakan:

    Klo masalah tulisan kita rata rata mengambili dari tajwid
    Klo kalian mengerti tajwid maka kalian akan faham

  44. Habel Ndoen mengatakan:

    @Anonymus : Bisa – bisa 100 Tahun dari sekarang bangsa Indonesia menyebut sang penciptanya ALLAH. Bukan ALLOH
    Ini jelas kristenisasi yang sudah di agendakan, wallo hu a’lam bissowab
    Ya… Nabiyyalloh, Yaaa Rosulalloh
    Isa alaihissalam, Tuntunlah domba domba mu ke arah yang benar
    +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    Habel Ndoen : Topiknya tentang kata ALLAH atau ALLOH, kok merembet ke tuduhan Kristenisasi yang sudah diagendakan? Yang penting kita tidak hanya tahu sebut ALLOH saja tetapi kenal dan bergaul karib dengan ALLOH. Kalau hanya bisa sebut ALLOH saja tanpa kenal dan bergaul karib dengan DIA, maka tuduhan kristenisasi akan selalu dilontarkan ke mana2, baik dalam media online, maupun media offline.
    Padahal ALLOH sendiri yang setiap hari telah mendengar seruan umatNYA: Tunjukkan Jalan yang lurus, maka ALLOH telah menyuruh FirmanNya keluar dari mulutNYa untuk melaksanakan kehendakNya kepada mereka yang berkenan kepadaNya, yaitu, memberikan Jalan yang lurus, yaitu: Almasih Putera Maryam, yang terkemuka di dunia dan di akhirat, yang paling dekat pada ALLOH.
    Ini Islamisasi yang sesuai Alquran, bukan Kristenisasi karena tidak dikaitkan dengan ayat Alkitab dan ajaran Kristen. Murni ajaran Islam tentang Jalan yang lurus dalam Alquran. Makanya jangan seenaknya tuding Kristenisasi. Bila ingin jelas dengan Islamisasi tersebut, silahkan hubungi : Sdr. Prayit via HP 085748447657 agar ia bisa jelaskan kepada anda lebih lengkap lagi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 151 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: