Anda Tahu Shalawat Badar?

Kemarin dari Cirebon ke Bandung sempat dengar pengamen menyanyikan lagu “Shalawat Badar”. Nah, sekalian saja kita bahas disini secara ringkas. Anda pasti akan takjub kalau menyadari isi dari Shalawat Badar itu. Sungguh, isinya tidak sesederhana alunan nada orang-orang yang menyanyikannya.

Saya tidak ingat secara lengkap bait-bait Shawalat Badar. Hanya tahu dua bait pertama saja. Kalau ada yang tahu lengkapnya, boleh diisampaikan. Berikut sebagian isi Shalawat Badar:

Bait pertama:

Shalatullah salamullah… ‘Ala Thaha Rasulillah.

Shalatullah salamullah… ‘Ala Yasin Habibillah.

Bait kedua:

Tawassalna bi bismillah… Wa bil hadi Rasulillah.

Wa kulli mujahidil lilla… Bi Ahli Badri ya Allah.

Disebut Shalawat Badar, karena di ujung bait itu ada kalimat Bi Ahli Badri ya Allah.

Selanjutnya, mari kita pahami maknanya:

Shalatullah salamullah… (semoga sentausa dan selamat dari Allah).

‘Ala Taha Rasulillah… (kepada “Taha” yaitu Rasulullah. Anda tahu darimana kata “Taha”? Taha adalah dari awal Surat Taha. Jadi huruf Taha disana diterjemahkan sebagai Rasulullah).

‘Ala Yasin Habibillah… (kepada “Yasin” yaitu kekasih Allah, yaitu Rasulullah. Yasin juga diambil dari awal Surat Yasin, dan ia diterjemahkan sebagai Rasulullah).

Tawassalna bi bismillah… (kami bertawasul dengan kalimat bismillah)

Wa bil hadi Rasulillah… (dan kami bertawasul dengan “sang hadi” [sang petunjuk] yaitu Rasulullah)

Wa kulli mujahidil lillah… (dan kami bertawasul dengan setiap Mujahidin di jalan Allah)

Bi Ahli Badri ya Allah… (Mujahidin di jalan Allah, dari kalangan peserta perang Badar ya Allah).

Jadi isi “Shalawat Badar” ini tidak sesuai dengan akidah tauhid. Tidak ada yang mengatakan bahwa “Taha” atau “Yasin” itu adalah Rasulullah Saw. Meskipun di kalangan kaum Muslimin, ada yang memberi anaknya nama Taha atau Yasin.

Kemudian tawasul dengan Nabi, tawasul dengan Mujahidin di jalan Allah, dengan peserta perang Badar, semua itu juga tidak boleh. Jangan mengadakan perantara di antara hamba dengan Allah. Hal itu termasuk kemusyrikan yang dilarang.

Tawasul boleh dengan cara meminta doa dari orang shalih, meminta didoakan oleh Ummat Islam, atau tawasul dengan amal-amal shalih yang pernah dilakukan. Untuk hal terakhir itu pernah dilakukan oleh 3 orang musafir yang terjebak dalam gua, lalu bisa keluar setelah tawasul dengan amal-amal mereka.

Saya sarankan, jangan lagi dikembangkan Shalawat Badar itu. Ia keliru dan tidak akan membawa berkah. Malah khawatir, kita akan mengalami banyak kesulitan dengan menyebarkan hal-hal yang keliru itu. Wallahu a’lam bisshawaab.

About these ads

89 Balasan ke Anda Tahu Shalawat Badar?

  1. Dawud mengatakan:

    Jazakallah khairan, Thank you, Terima kasih atas informasinya.

  2. abisyakir mengatakan:

    @ Dawud.

    Wa iyyakum, sama-sama Akhi. Semoga bermanfaat. Amin.

    [AMW].

  3. Budi mulia mengatakan:

    Tolong para ahlinya untuk ikut menjelaskan agar dapat diklarifikasi
    Terima kasih

  4. abisyakir mengatakan:

    @ Budi mulia.

    Terimakasih sudah berkunjung. Moga bermanfaat.

    Intinya, saya ikut pendapat yang melarang TAWASSUL dengan orang-orang yang sudah meninggal, biarpun ia ulama, orang shalih, atau Nabi. Tawassul boleh dengan meminta doa dari orang shalih, sesama Muslim, tawassul dengan amal-amal shalih. Atau misalnya berharap berkah dari Allah dengan sedekah, dengan shalat hajat, dengan qiyamul lail, dengan shaum sunnah, dengan menolong orang fakir dan berbagai amal shalih lainnya.

    Kalau bagi yang percaya dengan tawassul seperti masyarakat Nahdhiyin, rata-rata setuju dengan tawasul dalam shalawat badar itu.

    Itu saja sih. Perdebatan tidak akan jauh dari itu. Terimakasih.

    [AMW].

  5. ARIFA mengatakan:

    KEPADA ANDA YANG MELARANG TAWASUL KEPADA YANG SUDAH MATI ITU APA DALILNYA.
    KALAU BERTAWASUL KEPADA YANG MATI HUKUMNYA ADALAH SYIRIK MAKA BERTAWASUL KEPADA YANG HIDUP JUGA SAMA-SAMA SYIRIK, SEBAB SYIRIK ADALAH MENYEKUTUKAN ALLAH BAIK DENGAN YANG MASIH HIDUP ATAU DENGAN YANG SUDAH MATI.
    SESEORANG BISA SAJA MATI TETAPI KEISTIMEWAAN YANG ADA PADA SESEORANG ITU TAK AKAN MATI, BAIK ITU MU’JIZAT ATAU KARAMAT.
    MOHON YA.. JANGAN UKUR AGAMA DENGAN AKAL, SEBAB AGAMA ADALAH PRODUK ALLAH KEPADA MANUSIA UNTUK DIJALANKAN BUKAN UNTUK DIAKAL-AKALIN.

  6. abisyakir mengatakan:

    Ukhti Arifa (benar Ukhti kan…).

    Kalau tidak salah di eramuslim.com, sempat dibahas tentang tawasul, di tanya-jawab dengan ustadz. Coba Anti cari kesana. Tetapi insya Allah pertanyaan Anti nanti saya jawab kembali. Maaf, saat ini lagi kurang concern, karena didesak masalah-masalah lain. Jazakillah khair. AMW.

  7. imum mengatakan:

    Muhammad bin abdul wahab itu sesat, maka seluruh pengikutnya juga sesat seperti yang punya blog ini, enak saja mengatakan bertawassul kesini boleh kesana tak boleh, alasan gak da, dalil juga gak da, asal ngomong berkeyok saja seperti anak ayam yang hilng induknya, ini yang ngomong apa makna tawassul gak tahu,

  8. abisyakir mengatakan:

    @ Imun.

    Mas Imun, jangan marah-marah gitu dong. Ya, kita baik-baik lah. Namanya juga berpendapat.

    Misal, saya berpendapat A, dengan alasan-alasan tertentu. Lalu pendapat A itu Anda katakan salah atau sesat.
    Sedangkan pendapat Anda yang menyesatkan pendapat saya, itu kan sebenarnya merupakan pendapat B (pendapat lain selain pendapat A).
    Saya berpendapat A, tidak Anda terima. Sementara Anda berpendapat B (isinya kontra pendapat A milik saya). Nah, bagaimana saya bisa
    memahami pendapat Anda? Dari saya Anda tolak, sementara Anda punya pendapat B. Apakah pendapat B juga harus disesatkan juga?

    Kalau A sesat, B juga sesat. Yang benar yang mana? Jangan-jangan tidak ada yang benar.

    Ya, kita bijaklah. Boleh berpendapat asal ada argumentasinya. Anda juga boleh lihat tulisan saya yang lain tentang “Hukum Tawasul”. Mohon diperiksa ya. Terimakasih. Wassalam.

    AMW.

  9. khairul mengatakan:

    mas maaf sebelumnya, mas ahlusunah wal jamaah bukan?saya memang setuju ma pendapat mas.tolong di jawab.

  10. Runcing Sadewa mengatakan:

    pembahasan yang bagus. hanya saja mungkin perlu dicantumkan sumber rujukan atau maraji’ yang lebih jelas. kalau ana sangat setuju dengan pak AMW. kan masalah-masalah itu memang harus di pilah-pilah untuk bisa diketahui hukumnya secara adil. salam

  11. fadel mengatakan:

    masalah khilafiyah kok masih di ungkit2, kayak ga ada ya lebih penting aja ! wassalam.

  12. dani mengatakan:

    @abisyakir
    orang yang mengamalkan shalawat badar tidak pernah menyesatkan org yang yang melarangnya, namun sayang orang yang melarang shalawat badar menyesatkan orang yang mengamalkannya. Padahal shalawat adalah lantunan doa kepada Allah swt. yang tujuannya untuk memuliakan rasulullah SAW.

    Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”.

    Diceritakan bahawa karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960, tatkala kegawatan umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, juga menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang bercelaru saat itu dan kebejatan PKI yang bermaharajalela membunuh massa, bahkan ramai kiyai yang menjadi mangsa mereka, menyebabkan terlintas di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri lagi, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah s.w.t.

    Dalam keadaan sedemikian, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahawa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar”.

    Apa yang menghairankan ialah keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan lain-lain bahan makanan. Mereka menceritakan bahawa awal-awal pagi lagi mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai ‘Ali untuk membantunya kerana satu kenduri akan diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barangan tersebut menurut kemampuan masing-masing. Tambah pelik lagi apabila malamnya, hadir bersama untuk bekerja membuat persiapan kenduri orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

    Menjelang keesokan pagi, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi @ Habib ‘Ali Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai ‘Ali. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima tetamu istimewanya tersebut. Setelah memulakan perbicaraan bertanyakan khabar, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu sahaja Kiyai ‘Ali terkejut kerana hasil karyanya itu hanya diketahuinya dirinya seorang dan belum dimaklumkan kepada sesiapa pun.

    Tapi beliau mengetahui, ini adalah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa lengah, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil helaian kertas karangannya tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata kerana terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyeru agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI.

    Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut. Selanjutnya, Habib ‘Ali Kwitang telah menjemput ramai ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, antara yang dijemput ialah Kiyai ‘Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luas Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan popular dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan. Moga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib tersebut….. al-Fatihah.

    Allahu … Allah, inilah kisah bagaimana terhasilnya penulisan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali Manshur. Cerita ini telah ambo dengar daripada beberapa kerabat Kiyai Haji Ahmad Qusyairi di Kota Pasuruan. Juga ianya dimuatkan dalam buku “Antologi NU : Sejarah – Istilah – Amaliah – Uswah ” karangan H. Soeleiman Fadeli & Mohammad Subhan dengan kata pengantar Kiyai Haji ‘Abdul Muchith Muzadi.

    Benar atau tidak, percaya atau tidak, itu tidak penting, apa yang nyata ialah Sholawat Badriyyah ini adalah karyanya Kiyai ‘Ali Manshur dan telah diterima serta diamalkan oleh para ulama dan habaib yang menjadi pegangan dan panutan kita. Maka sempena memperingati peristiwa Perang Badar al-Kubra, marilah kita bermunajat memohon keselamatan dunia akhirat dengan bertawassulkan Junjungan Nabi s.a.w. dan para pejuang Badar radhiyAllahu ‘anhum ajma’in.

    Sumber http://bahrusshofa.blogspot.com/2008/09/sholawat-badar-kiyai-ali.html

    Mudah2an kita tidak termasuk orang yg mudah menyesat-nyesatkan orang lain hanya karena pikiran sempit kita.

    Wallahu a’lam bish showab

  13. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Dani:

    Setahu saya, saya tidak menyesatkan orang-orang yang mengamalkan shalawat Badar itu. Saya hanya menyalahkan shalawat yang sebagian isinya tawasul dengan arwah para ahli Badar itu. Maaf, saya tidak menyesatkan mereka, hanya menyalahkan cara seperti itu.

    Kalau mau tawasul dengan shalawat, kita baca shalawat yang biasa Nabi Saw ajarkan saja. Baca saja sebanyak-banyaknya, semampunya. Shalawat dari Nabi sendiri insya Allah lebih baik dari shalawat buatan manusia lainnya, hatta dia adalah seorang ulama.

    Insya Allah saya tidak menyesatkan mereka, namun menyalahkan perbuatan seperti itu. Sudahlah untuk berdoa, berdoa sendiri saja, dengan bahasa apapun yang kita sanggupi. Kalau hafal doa-doa dalam Al Qur’an dan Sunnah, itu lebih baik. Kalau tidak, sudah pakai bahasa sendiri saja. Asalkan yang kita minta yang baik-baik, bukan untuk memutus silaturahim, bukan untuk mencelakai sesama Muslim, bukan mendoakan kesesatan bagi orang yang baik-baik, dan sebagainya.

    Terimakasih atas tanggapannya.

    AMW.

  14. Ana Jiddan mengatakan:

    @ Bang Dani

    Walaupun seorang ulama, tapi beliau tidak ma’shum seperti Nabi SAW,artinya Kiyai Ali pastinya pernah melakukan kesalahan. kalau kesalahannya sudah nampak jelas (tawassul kepada selain Allah)ya tidak usah diikuti,namun kita tetap menghormatinya sebagai seorang ulama. Wallahua’lam

  15. abisyakir mengatakan:

    @ Pak Ana Jiddan:

    Gimana dengan acara hari ini? Jadi tidak? Info belum tuntas. Mohon segera konfirmasi! Syukran.
    Maaf, sekalian coba gravatar baru.

    AMW.

  16. Haniifah mengatakan:

    Tafsir QS. Al-Ahzab 56:
    Sahabat pernah bertanya bgmanakah bacaan shalawat, Rasul Allah mengajarkan “ucapkanlah …”, bukan “nyanyikanlah …”
    Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum itu. (al-hadits)
    Barang siapa yg beribadah dgn nyanyian & merayakan kelahiran menyerupai di gereja maka ia …

    Tafsir QS An-Nisaa 115.
    Barangsiapa menentang Rasul, yakni laki-laki yg mencukur jenggot, celananya isbal, menyanyikan shalawatan, atau merayakan kelahiran, maka …
    Barangsiapa yg tidak suka petunjukku (sunnahku) maka ia bukan umatku (al-hadits)
    Tafsir QS 42. Asy Syuraa 21.
    Barangsiapa mensyariatkan melafadzkan niat nawaitu & usholi, shalawatan dinyanyikan, merayakan kelahiran, mencukur jenggot, dll, maka …

  17. Kurnia mengatakan:

    Perdebatan boleh2 saja, membaca shalawat mana saja yang penting tidak ada makna syirik namun semata-mata mendoakan kepada Rasullallah, Ini pengalaman pribadi saya pada saat saya kuliah di negara paman sam, tanpa disengaja saya mendapatkan musibah kecelakaan dan orang menabrak menuntut saya dan membuat saya saya stress, suatu malam tak sengaja saya membaca risalah doa dimana ada bacaan Shalawat Badar, kemudian saya baca tiap malam dengan niat meminta bantuan Allah SWT dan mengenang perjuangan Nabi Muhammad dengan pejuang badarnya, Alhamdullilah pertolongan Allah datang yang tak terduga dimana banyak orang2 yang terduga membantu saya dan kemudian kesuksesan saya capai. Alhamdullilah

  18. Maulana Mufti mengatakan:

    Assalamu’alaikum,

    Kita sebagai umat islam disuruh bershalawat kepada Rasulullah,

    Rasulullah juga sudah mengajarkan bagaimana cara kita bershalawat,

    Semua shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah bisa dibaca ketika kita shalat, ketika membaca doa sewaktu tahiyat.

    Dan shalawat selain yang diajarkan oleh Rasulullah adalah hanya membawa kita kepada murka Allah, dan penyebab kita tidak bisa minum dari telaga rasulullah, karena itu adalah termasuk amalan yang tidak ada contohnya, terlepas siapapun yang membuat shalawat tersebut….

    bagaimana sih shalawat yang diajarkan Rasulullah?? bisa dibaca disini: http://aslibumiayu.wordpress.com/2010/06/11/bagaimanakah-lafadz-cara-dan%c2%a0waktu%c2%a0untuk%c2%a0bershalawat/

    Dan janganlah kita menyampaikan suatu amalan ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah, sebab ancamannya sangat besar, karena sama aja dengan berdusta atas nama Rasulullah, bisa dibaca disini:

    http://aslibumiayu.wordpress.com/category/dusta/

    Sudah selayaknya sebagai sesama muslim saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran,

    Mohon maaf sekiranya nasehat saya ini kurang berkenan dihati anda,…..

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  19. abisyakir mengatakan:

    @ Maulana…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Mohon Anda baca lagi bagian komentar Anda ini:

    Dan shalawat selain yang diajarkan oleh Rasulullah adalah hanya membawa kita kepada murka Allah, dan penyebab kita tidak bisa minum dari telaga rasulullah, karena itu adalah termasuk amalan yang tidak ada contohnya, terlepas siapapun yang membuat shalawat tersebut….

    Dari mana Anda mengatakan hal di atas? Apa dalilnya Anda mengatakan, bahwa kalau bacaan Shalawat tidak seperti yang dicontohkan oleh Nabi, akan berakibat: SEORANG MUSLIM DIMURKAI dan TIDAK BISA MINUM DARI TELAGA RASULULLAH? Apa dalilnya Anda mengatakan pendapat seperti itu?

    Akhi, Anda perlu tahu, bacaan shalawat yang sering kita dengar “shallallah ‘alaihi wa sallam” ini juga bukan bacaan yang dicontohkan Nabi. Setahu saya, bacaan shalawat yang dicontohkan oleh Nabi yang SHALAWAT IBRAHIMIYAH.

    Bacaan shalawat “allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in“, ini juga tidak dicontohkan oleh Nabi. Begitu pula bacaan shalawat “shollu ‘ala Muhammad wa ali Muhammad” ini juga bukan shalawat yang dicontohkan oleh Nabi. Bacaan “shalawatullah wa salamuhu ‘ala Muhammad” juga tidak dicontohkan.

    Jadi banyak bacaan shalawat yang tidak dicontohkan oleh Nabi, tetapi tidak mengapa dibaca, selama isinya berupa doa kebaikan untuk Nabi, tidak mengandung unsur kesyirikan dan penyimpangan. Shalawat seperti itu masuk ke dalam kategori ungkapan Al Qur’an, “Ya aiyuhalladzina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima” (wahai orang beriman ucapkan shalawat untuknya dan doa keselamatan baginya).

    Kalau membaca doa SHALAWAT IBRAHIMIYYAH, kita mendapat dua pahala: pertama, pahala membaca shalawat dan pahala mengikuti Sunnah. Tapi tidak lantas tidak boleh membaca versi shalawat lain yang lurus dan tidak mengandung penyimpangan. Shalawat demikian dibolehkan dengan alasan ia masuk kategori keumuman doa kebaikan untuk Nabi Saw.

    Syukran jazakumullah khair.

    AMW.

  20. syaifudin mengatakan:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Makna Hadits jangan puji aku secara berlebihan.

    Sering kita mendengar propaganda yang melarang umat Islam memuji Nabi Muhammad saw. Di antara ucapan mereka yang tidak suka dengan amalan kita adalah, “Kita umat Islam tidak boleh mengkultuskan Rasulullah, tidak boleh memuji dan menyanjungnya secara berlebihan. Karena perbuatan itu merupakan bentuk kemusyrikan.

    Mereka berpendapat seperti itu karena melihat hadist hanya sekilas teks sehingga terjadi pemahaman yang salah tentang itu. Rasulullah bersabda:“Jangan memujiku secara berlebihan SEPERTI KAUM NAHSRANI MEMUJI ISA PUTERA MARYAM. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka ucapkanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

    Dari ucapan itu kita memahami, kalau memuji Rasul itu menurut mereka adalah mengkultuskan atau mendewakan Rasulullah saw. Sehingga mereka menganggap memuji-muji beliau (yang menurut mereka berlebihan) adalah termasuk musyrik.Ini adalah tuduhan keji dan fitnah yang berat bagi para pecinta Nabi Muhammad saw. Orang-orang itu tidak mengetahui makna dan tujuan hadist, sehingga pemahamannya salah.

    Para ulama di dalam berbagai kitabnya telah menjelaskan makna hadist itu dengan gamblang. Dalam hadist tersebut Rasulullah saw tidak pernah melarang umatnya untuk memujinya dalam bentuk apapun.Yang dilarang adalah pujian yg seperti dilakukan oleh Umat Nasrani kepada Nabi Isa bin Maryam, yaitu menjadikan beliau sebagai anak Tuhan.Inilah yang dimaksud dengan pujian berlebihan yang menjadikan musyrik, bukan pujian-pujian yang seperti biasa kita dengarkan dalam acara maulid Nabi Muhammad saw.

    Dan hadist di atas, juga tidak boleh dipotong seenaknya sehingga membuat maksud dan tujuan hadist itu salah. Karena jika kita memotong hadist itu dengan hanya berkata “Nabi bersabda: “Jangan puji aku secara berlebihan”, maka makna dan tujuan dari hadist itu menjadi kacau.Karena dari hadist itu sebenarnya yang dilarang oleh Rasulullah saw itu bukan pujiannya terhadap beliau, tetapi adalah menjadikan beliau sebagai “anak Tuhan”, seperti yang dilakukan oleh orang nasrani terhadap Nabi Isa as.Dan sejak larangan Nabi itu disampaikan hingga saat ini, tidak pernah ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang memuji Rasulullah saw melebihi batasannya sebagai manusia.

    Sehingga benarlah apa yang disampaikan Imam Bushiri di dalam syair Burdahnya:

    “Tinggalkan pengakuan orang Nasrani atas Nabi mereka… Pujilah beliau (saw) sesukamu dengan sempurna… Sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya… Dan nisbahkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliaannya…

    Karena sesungguhnya kemuliaan Rasulullah tidak ada batasnya… Sehingga takkan ada lisan yang mampu mengungkapkan kemuliaannya itu…

    Juga sebagaimana sabda Nabi صلّى الله عليه وسلّم

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ حَسَّانَ بْنَ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيَّيَسْتَشْهِدُ أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْشُدُكَ اللَّهَ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَا حَسَّانُ أَجِبْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَعَمْ

    Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin 'Abdur Rahman Ad Darimi]; Telah mengabarkan kepada kami [Abu Al Yaman]; Telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri]; Telah mengabarkan kepadaku [Abu Salamah bin 'Abdur Rahman] bahwa dia mendengar [Hassan bin Tsabit Al Anshari] meminta persaksian [Abu Hurairah] seraya berkata; “Saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah hai Abu Hurairah, pernahkah kamu mendengar Rasulullah berkata kepada saya: ‘Hai Hassan, BALASLAH SYA’IR ORANG-ORANG KAFIR UNTUK MEMBELAKU ! Ya Allah ya Tuhanku, dukunglah Hassan dengan Jibril ! ‘ Abu Hurairah menjawab; ‘Ya, Saya pernah mendengarnya.” (Sahih Muslim)

    maka berfikirlah , fahamilah .. JANGAN MENELAN MENTAH-MENTAH FAHAM YANG DATANG DARI USTADZ USTADZ JAHIL ..

    Allohumma sholli ‘alaa Sayyidinaa wa Habiibanaa wa Mawlanaa Muhammad,,,

    (al-Bayan)

  21. abisyakir mengatakan:

    @ Syaifudin….

    Dari Anda: “Dari ucapan itu kita memahami, kalau memuji Rasul itu menurut mereka adalah mengkultuskan atau mendewakan Rasulullah saw. Sehingga mereka menganggap memuji-muji beliau (yang menurut mereka berlebihan) adalah termasuk musyrik. Ini adalah tuduhan keji dan fitnah yang berat bagi para pecinta Nabi Muhammad saw. Orang-orang itu tidak mengetahui makna dan tujuan hadist, sehingga pemahamannya salah.”

    Yang dimaksud disini ialah MEMUJI BERLEBIHAN, misalnya dengan mengklaim, bahwa dulu sebelum Allah menciptakan dunia dan seisinya, Allah terlebih dulu menciptakan “Nur Muhammad”. Nanti disimpulkan, penciptaan Muhammad Saw lebih utama dari penciptaan dunia dan seisinya.

    Memuji Rasulullah Saw sebagai seorang Nabi/Rasul yang ‘alim, shalih, tawadhu’, pemberanil, cerdas, bersih hati, pengasih kepada manusia, pengasih kepada kaum wanita, dll. yang semisal itu ya jelas BOLEH. Itulah makanya beliau disebut USWATUN HASANAH. Ini boleh dan syar’i.

    Tetapi kalau menempatkan Nabi Saw pada posisi uluhiyyah (ketuhanan), sehingga beliau dipuji seperti manusia memuji Allah, beliau disifati dengan sifat2 ketuhanan, beliau diminta pengabulan doanya, beliau diharapkan berkahnya, beliau diharapkan pertolongannya untuk urusan dunia (setelah beliau wafat), dll. jelas semua itu tidak benar. Itulah yang disebut kemusyrikan, atau pintu2 ke arah kemusyrikan.

    Dari Anda: “Para ulama di dalam berbagai kitabnya telah menjelaskan makna hadist itu dengan gamblang. Dalam hadist tersebut Rasulullah saw tidak pernah melarang umatnya untuk memujinya dalam bentuk apapun.Yang dilarang adalah pujian yg seperti dilakukan oleh Umat Nasrani kepada Nabi Isa bin Maryam, yaitu menjadikan beliau sebagai anak Tuhan.Inilah yang dimaksud dengan pujian berlebihan yang menjadikan musyrik, bukan pujian-pujian yang seperti biasa kita dengarkan dalam acara maulid Nabi Muhammad saw.”

    Hadits itu bisa dipahami secara KHUSUS, yaitu: jangan memposisikan Rasulullah Saw sebagai “anak Tuhan”, seperti orang Nashrani menganggap Isa As sebagai “anak Tuhan”. Tetapi penafsiran ini lemah. Mengapa? Sebab ayat-ayat Al Qur’an sudah banyak membahas posisi Isa yang dianggap sebagai “anak Tuhan” oleh kaum Nashrani. Artinya, kalau tafsiran seperti itu yang diinginkan oleh hadits Nabi tersebut, itu tidak relevan. Sebab Al Qur’an sudah lebih dulu mengingatkan tentang pengkultusan Isa sebagai “anak Tuhan”. Tanpa Nabi mengatakan hal itu pun, kaum Muslimin sudah tahu, kalau kita dilarang menuhankan Nabi sebagai “anak Tuhan”.

    Hadits itu bisa dipahami secara umum, yaitu: larangan memuji Nabi Saw secara berlebihan, sehingga bisa menjerumuskan manusia kepada MUSYRIK. Maka pintu2 yang mengarahkan ke arah sana, harus ditutup rapat-rapat. Termasuk pujian dengan syair, qasidah, nasyid, atau apapun yang berlebihan. Penafsiran seperti ini LEBIH TEPAT. Mengapa? Karena sesuai dengan ayat Al Qur’an, yang bunyinya, “Anaa basyarun mitslukum yuha ilaiya” (aku ini -Nabi Saw- hanyalah seorang manusia seperti kalian, hanya saja diberikan wahyu kepadaku). Dalam hadits juga disebutkan, “Ana ashumu wa ufthir, ana aqumu wa arqud, wa atazauwadun nisaa‘” (aku ini puasa tetapi juga berbuka; aku ini shalat malam, tetapi juga istirahat; aku ini menikahi wanita).

    Boleh kita memuji Nabi, membanggakan beliau, memuliakan dirinya, bahkan mencintainya sepenuh hati. Boleh, bahkan ini merupakan amanah Syariat. Tetapi tidak boleh berlebihan seperti orang NU, orang shufi, dll yang memposisikan Nabi Saw dalam maqam uluhiyyah (ketuhanan).

    Dari Anda: “Sehingga benarlah apa yang disampaikan Imam Bushiri di dalam syair Burdahnya: “Tinggalkan pengakuan orang Nasrani atas Nabi mereka… Pujilah beliau (saw) sesukamu dengan sempurna… Sandarkanlah segala kemuliaan untuk dirinya… Dan nisbahkanlah sesukamu segala keagungan untuk kemuliaannya… Karena sesungguhnya kemuliaan Rasulullah tidak ada batasnya… Sehingga takkan ada lisan yang mampu mengungkapkan kemuliaannya itu…

    Nah, ini salah satu contoh perbuatan kemusyrikan (meskipun pelakunya tidak otomatis disebut musyrikin). Tidak boleh memuji Nabi secara berlebihan, melebihan batas-batas Syariat. Tidak boleh memuji …sesukamu dengan sempurna. Yang berhak mendapatkan pujian secara sempurna, penuh keagungan, penuh kemuliaan tanpa batas, hanyalah Allah Ta’ala. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang Indah). Kita disyariatkan berdoa, memuji, dan berdzikir dengan Asmaul Husna.

    Sementara orang2 NU, orang shufi banyak yang terjerumus kemusyrikan (meskipun tidak otomatis mereka disebut sebagai musyrikin). Mereka berdalih, “Kami mencintai dan memuji Nabi.” Tetapi kenyataannya, mereka menempatkan Nabi di posisi Ketuhanan. Ini sangat dilarang.

    Lihat ucapan bodoh ini: “Karena sesungguhnya kemuliaan Rasulullah tidak ada batasnya… Sehingga takkan ada lisan yang mampu mengungkapkan kemuliaannya itu…

    Kalau Anda memperlakukan Nabi Saw seperti itu, lalu dimana Anda letakkan Kemuliaan Allah Ta’ala, wahai manusia? Apakah seluruh hati, akal, dan hidupmu kalian isi dengan berdzikir memuji Nabi (sehingga kalian layak disebut “Hamba Nabi” atau Abdun Nabi, bukan Abdullah), sementara Allah Ta’ala kalian lupakan sama sekali? Demi Allah…ini adalah jebakan2 syaitan yang sangat mematikan. Ini sangat berbahaya.

    Syaitan sangat halus dalam menyesatkan manusia. Kalau manusia tidak bisa disesatkan dengan amal2 maksiyat, mereka akan disesatkan dengan amal-amal kemusyrikan yang tampaknya “baik”, padahal mencelakakan.

    Dari Anda: “….hadits shahih Muslim, dari Abu Hurairah Ra, tentang syair Hasan bin Tsabit Ra.” Itu maksudnya jelas. Orang kafir musyrik menghina Nabi dan merendahkan beliau dengan syair2. Lalu Nabi saw memerintahkan Hasan bin Tsabit untuk membalas celaan orang kafir itu dengan syair pula. Tujuannya, untuk membela kehormatan Rasulullah Saw.

    Jadi, itu perintah membela kehormatan Nabi dari penghinaan orang kuffar. Bukan untuk memuji-muji Nabi Saw dengan syair-syair pengagungan seolah Nabi Saw itu “Tuhan” seperti yang banyak dilakukan oleh orang2 shufi itu. Contoh di dunia modern. Ketika ada yang membuat kartun menghina Nabi, kaum Muslimin bergerak meninggikan kehormatan Nabi Saw. Konteksnya seperti itu.

    Dari Anda: “….jangan menelan mentah2 faham yang datang dari ustadz2 jahil.”

    Semoga Allah menjauhkan saya, Anda, dan kita semua dari kejahilan. Semoga Allah memaafkan saya dan Anda atas segala kesalahan dan dosa. Allahumma amin.

    Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

    AMW.

  22. syaifudin mengatakan:

    yo wis g usah pake dalil2 lan..tuh saudara2 kita anak2 kita yg bikin puisi ttng kecintaanya kpd Nabi gmn hayooo..?
    pst di bilang bid’ah lagi lha whong Ustadz nggak tau sebenarnya bid’ah itu apa…lha wong mslh khilafiyah spt ini sbnrnya udah selesai dr dulu melalui kesepakatan para ulama..ya jelas pndptnya macem2 lha wong ulamanya beda2 mahzabnya jg beda2 pndptnya ya pst beda2 doonk…
    Apa Anda mau bilang kl Ustadz nggak bermahzab…yg menganggap bs melaksanakan ajaran Islam tanpa perantara para ulama …ini lbh konyol lagi lha wong Anda sendiri jg make dalil2 yg diriwayatkan para ulama ya tho…
    wis ra sah dalil2an..
    Apakah Anda tkt kl kecintaan kami kpd kanjeng Nabi melebihi kecintaan serta ketauhidan kami terhdp Allah ..?
    na’udzubillah min dzallik…smg kami bukanlah termasuk golongan orng2 yg spt itu..
    cb di di koreksi lg tentang Bid’ah itu sendiri apa…
    jangan menelan mentah2 arti hadist..ada kiasan ada majas hadist maukuf hadist mursal hadist soheh,hasan ,dhoif…dll..
    toh Anda jg perlu tw yg nmnya hadist dhoif kan bukan berarti hadist itu nggak ada khan..?
    dan ttp aja bs di pake…kecuali hadis palsu…
    sekian wassalamu’alaikum….

  23. Bang Aziem mengatakan:

    Assalamu alaykum

    Ustadz mengatakan:
    “Kemudian tawasul dengan Nabi, tawasul dengan Mujahidin di jalan Allah, dengan peserta perang Badar, semua itu juga tidak boleh. Jangan mengadakan perantara di antara hamba dengan Allah. Hal itu termasuk kemusyrikan yang dilarang”.

    Benarkah begitu?

    Apakah antum sdh membaca kitab Mafahim, yg ditulis Syaikh Muhammad Alawi al-Maliki ttg persoalan tawassul? Sudahkah antum juga membaca kitab Qa’idah Jalilah fit Tawassuli wal washilah Ibn Taymiyyah?

    Mudah2an Ustadz tdk keberatan membaca kitab2 itu dan memasukkan komentar saya ini. Saya hanya ingat pesan Allah, ‘Bersikaplah fair, sesugguhnya sikap fair itu lebih dekat dengan ketakwaan’.

    Wassalamualaykum

  24. Ana Jiddan mengatakan:

    hemat saya, selama puisi itu tidak ada redaksi yang menjurus kepada kesyirikan ya gak masalah. kalo dalam shalawat badar itu kan jelas ada redaksi yang menjurus kepada kesyirikan, nah itu masalahnya. Wallahua’lam…

  25. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Aziem….

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Saya belum pernah membaca kedua buku itu. Tetapi saya paham posisi Syaikh Alwi Al Maliki yang memang concern dengan ajaran-ajaran seperti itu. Beliau banyak membela amalan-amalan yang kalau di Indonesia kerap diamalkan masyarakat Nahdhiyin.

    Mohon dimaafkan kalau ada sikap yang tidak fair. Kalau ada kesalahan-kesalahan, mohon ditunjukkan agar bisa menjadi koreksi bagi saya -khususnya-.

    Beginilah Akhi dalam soal tawasul ini, konsep mudahnya begini:

    ==> Dalam surat Al Fatihah ayat 5 yang setiap hari kita baca, ada kalimat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nas’tain” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Ayat ini menjadi dalil yang kuat, bahwa kalau ada masalah-masalah dalam hidup ini, setelah kita bekerja sekuat tenaga dan memohon bantuan sesama manusia, ialah: BERDOA langsung kepada Allah.

    ==> Untuk berdoa kepada Allah, baik Al Qur’an maupun As Sunnah mengajarkan banyak sekali bacaan-bacaan doa. Bacaan-bacaan itu sampai oleh Imam Nawawi dikumpulkan dalam kitab tersendiri, Al Adzkar (dzikir-dzikir). Syaikh Said Wafd Al Qahthan menulis Hisnul Muslim. Al Ustadz Hasan Al Banna menulis Al Ma’tsurat (minus doa Rabithah yang beliau susun sendiri). Doa-doa itu Syar’i, sangat banyak, dan mudah diamalkan. Bisa kita amalkan, kita baca, kita doakan, langsung kepada Allah, tanpa BIROKRASI (perantaraan) apapun yang lain.

    ==> Sebenarnya tawasul itu tidak mutlak dilarang. Ada tawasul-tawasul yang diperbolehkan. Misalnya, tawasul dengan amal-amal shalih yang telah kita lakukan. Kita tawasul dengan shalat sunnah, dengan puasa sunnah, dengan thawaf di Ka’bah, dengan sedekah. Kita juga bisa tawasul dengan meminta doa orang shalih, meminta didoakan orangtua, meminta didoakan ustadz/syaikh/guru, meminta didoakan anak yatim, meminta didoakan para mujahidin, meminta didoakan jamaah Haji/Umrah, dll. Pendek kata meminta didoakan orang-orang Muslim yang masih hidup.

    ==> Misalnya ada orang bertawasul dengan Rasulullah, dengan para Nabi, dengan para mujahidin Ahlul Badar. Kita merasa tak yakin doa kita akan diterima oleh Allah, lalu meminta perantara kepada arwah hamba-hamba Allah yang sudah meninggal itu. …justru cara demikian akan membuat doa kita tidak akan diterima. Mengapa? Sebab belum apa-apa kita sudah merasa kalau doa kita tak bakalan diterima. Kan dalam hadits qudsiy ada firman Allah berikut: “Ana ‘inda zhanni ‘abdi biy” (Aku mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku). Kalau Anda sebelum berdoa sudah tak yakin akan diterima, doa Anda meskipun sudah bertawasul dengan siapapun, pasti tidak akan diterima. Wong, Anda sendiri saja sudah tak yakin kok, bagaimana akan berharap arwah-arwah itu bisa membantu? Dalam berdoa kita disyariatkan khaufan wa thama’an, dengan hati harap-harap cemas. Kita takut tidak diterima sehingga sungguh2 benar dalam berdoa; tetapi pada saat yang sama kita yakin Allah mendengar doa kita, Dia akan menerima doa kita, Dia akan mengabulkan doa kita. Rasa takut membuat kita sungguh2 sekali dalam berdoa, kalau perlu nangis-nangis; tetapi saat yang sama kita yakin bahwa Allah Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyantun, sehingga Dia tak akan menyia-nyiakan doa kita.

    Dapat disimpulkan, tawasul kepada arwah manusia yang sudah wafat, TIDAK DIBUTUHKAN sama sekali. Lagi pula Nabi Saw tidak pernah mengajarkan cara-cara seperti itu. Semoga jawaban ini cukup fair bagi Anda, saya, dan kita semua. Amin.

    AMW.

  26. abisyakir mengatakan:

    @ Syaifudin…

    “…yo wis g usah pake dalil2 lan..tuh saudara2 kita anak2 kita yg bikin puisi ttng kecintaanya kpd Nabi gmn hayooo..?”

    Komentar: Puisi yang sifatnya pujian, kekaguman, atau kecintaan kepada Nabi, secara wajar, tidak dilebih-lebihkan sehingga seolah Nabi memiliki sifat Ketuhanan, itu boleh. Kita pun boleh membuat puisi untuk mengagumi dan mencintai al Uswatun Hasanah itu. Di jaman Nabi, masyarakat Madinah menyambut beliau saat baru datang dari Makkah dengan bait-bait syair Thala al Badru.

    Mudahnya begini, bid’ah itu asal bahasanya: sesuatu yang baru, sesuatu yang diada-adakan. Tetapi dalam pemahaman syar’inya cukup rumit, karena kerap terjadi tumpang-tindih dalam memahami.

    Bid’ah itu kalau didefinisikan kira-kira sebagai berikut: suatu amalan ibadah yang tidak diperintahkan dalam Syariat, tidak ada manfaatnya bagi Ummat (untuk urusan dunia dan Akhirat), serta kalau amalan itu dikerjakan akan membuat amalan sunnah tersingkir.

    Jadi ciri dasar bid’ah ada 3:

    1. Amal itu tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk diamalkan.
    2. Amal itu tidak ada manfaatnya bagi kehidupan Ummat (baik dunia dan Akhirat).
    3. Amal itu kalau dilakukan akan menyingkirkan amalan sunnah atau amalan syar’i yang sudah jelas-jelas diperintahkan/disunnahkan.

    Semoga Allah memberi kefahaman dan keberkahan ilmu kepada kita dan kaum Muslimin. Allahumma amin.

    AMW.

  27. syaifudin mengatakan:

    * Anda tidak suka ziarah kubur? Itu maklum, karena anda tidak senang kepada Nabi SAW yang memerintahkan : Kuntu nahaitukum `an ziyaaratil qubuuri, alaa fazuuruuha (dulu aku melarang kalian berziarah kubur, tetapi kini berziarah kuburlah. HR. Muslim)

    Berziarah kubur bukan amalan yang baru dilaksanakan oleh umat Islam dewasa ini. Tetapi ziarah kubur sudah diperintahkan oleh Nabi SAW, tentunya di saat beliau SAW masih hidup berdampingan dengan para shahabat.

    Karena itu banyak riwayat hadits yang menerangkan betapa dianjurkannya ummat Islam untuk menziarahi kuburan sesama muslim. Baik itu kuburan para kerabat, handai taulan, tetangga dan teman, apalagi berziarah ke makam Nabi SAW dan para shalihin, tentu lebih sangat dianjurkan oleh syariat. Karena berziarah kubur dengan mendoakan mayyit yang berada di dalam kuburan itu, dapat mengingatkan seseorang agar selalu ingat kehidupan akheratnya kelak.

    * Anda tidak senang membaca shalawat dan pujian kepada Nabi SAW? Ya sangat dimaklumi, karena anda tidak senang kepada Nabi SAW dan anda tidak pernah tahu sejarah bagaimana para penyair di kalangan shahabat semisal Hassan bin Tsabit saat mengubah syair-syair pujian kepada Nabi SAW dengan bahasa-bahasa yang indah sebagai makna shalawat kepada Nabi SAW.

    Sejarah juga mencatat, bahwa Nabi SAW menyenangi apa yang dipersembahkan oleh Shahabat Hassan bin Tsabit itu, dan beliau SAW bahkan menugaskan Hassan bin Tsabit untuk menggubah syair-syair perjuangan, demi memotivasi para pejuang Islam dari kalangan para Shahabat.

    * Anda tidak senang meng-haul-i (berdoa setiap tahun) untuk keluarga muslim? Ya sangat dimaklumi, karena anda sangat sulit memahami bahwa Nabi SAW dalam banyak riwayat yang dinukil dalam kitab-Kitab hadits : ternyata `alaa raksi haulin (setiap tahun=haul) beliau SAW berziarah kepada makam para syuhada dan membacakan doa untuk para syuhada Baqi` dan Uhud itu (HR. Baihaqi).

    Jadi Nabi SAW berkenan untuk menghauli para shahabat yang telah mendahului beliau mengadap Allah, dengan cara mendoakan mereka pada setiap tahunnya. Inilah salah satu landasan ummat Islam dalam kegiatan menghauli sanak familinya yang terlebih dahulu dipanggil oleh Allah

    Bahkan Nabi SAW setiap kali berziarah ke makam Uhud, beliau SAW mengucapkan salam khusus kepada pamanda beliau SAW, yaitu Sayyidina Hamzah : .Salaamun `alaikum bimaa shabartum fini`ma uqbad daar.

    * Anda tidak senang ikut dzikir berjamaah, sangatlah maklum karena ada tidak pernah memahami Hadits Qudsi, Allah berfirman yang artinya: Barang siapa yang menyebut (berdzikir) kepada-Ku dalam kelompok yang besar (berjamaah), maka Aku (Allah) akan menyebut (membanggakan) nya dalam kelompok (malaikat) yang lebih besar (banyak) pula (HR. Bukhari-Muslim)

    Jika telah apriori terhadap hadits riwayat Bukhari-Muslim, lantas riwayat hadits mana lagi yang akan anda pergunakan untuk menolak amalan warga Ahlus sunnah wal jamaah ini ?

    Ayo, kembalilah kepada pemahaman Ulama Salaf Ahlussunnah wal Jamaah dalam menjalani kehidupan beragama, agar mendapatkan keberkahan hidup dari Allah, dan selamat dalam menjalani hidup di dunia hingga akherat nanti.

  28. abisyakir mengatakan:

    @ Syaifudin…

    Dari Anda: [[[ * Anda tidak suka ziarah kubur? Itu maklum, karena anda tidak senang kepada Nabi SAW yang memerintahkan : Kuntu nahaitukum `an ziyaaratil qubuuri, alaa fazuuruuha (dulu aku melarang kalian berziarah kubur, tetapi kini berziarah kuburlah. HR. Muslim)

    Berziarah kubur bukan amalan yang baru dilaksanakan oleh umat Islam dewasa ini. Tetapi ziarah kubur sudah diperintahkan oleh Nabi SAW, tentunya di saat beliau SAW masih hidup berdampingan dengan para shahabat.

    Karena itu banyak riwayat hadits yang menerangkan betapa dianjurkannya ummat Islam untuk menziarahi kuburan sesama muslim. Baik itu kuburan para kerabat, handai taulan, tetangga dan teman, apalagi berziarah ke makam Nabi SAW dan para shalihin, tentu lebih sangat dianjurkan oleh syariat. Karena berziarah kubur dengan mendoakan mayyit yang berada di dalam kuburan itu, dapat mengingatkan seseorang agar selalu ingat kehidupan akheratnya kelak.]]]

    Komentar: Tidak boleh begitu Akhi. Dalam tulisan2 disini tidak ada yang melarang ziarah kubur, baik untuk mendoakan orangtua, isteri, suami, anak yang sudah wafat. Maupun untuk memberi salam kepada ahli kubur dari kalangan Muslim, juga untuk mengingati maut. Tidak ada yang melarang hal itu. Insya Allah ziarah kubur seperti itu termasuk disyariatkan. Setidaknya diperbolehkan.

    Jangan membuat judgement Akhi yang Antum sendiri tidak tahu kenyataan yang sebenarnya.

    Dari Anda: [[[ * Anda tidak senang membaca shalawat dan pujian kepada Nabi SAW? Ya sangat dimaklumi, karena anda tidak senang kepada Nabi SAW dan anda tidak pernah tahu sejarah bagaimana para penyair di kalangan shahabat semisal Hassan bin Tsabit saat mengubah syair-syair pujian kepada Nabi SAW dengan bahasa-bahasa yang indah sebagai makna shalawat kepada Nabi SAW.

    Sejarah juga mencatat, bahwa Nabi SAW menyenangi apa yang dipersembahkan oleh Shahabat Hassan bin Tsabit itu, dan beliau SAW bahkan menugaskan Hassan bin Tsabit untuk menggubah syair-syair perjuangan, demi memotivasi para pejuang Islam dari kalangan para Shahabat. ]]]

    Komentar: Shalawat itu disyariatkan dalam Al Qur’an, juga dalam Sunnah. Mengapa dibilang “Anda tidak suka shalawat”? Ini tuduhan tidak benar. Itu tidak benar, saudaraku.

    Dari Anda: [[[ * Anda tidak senang meng-haul-i (berdoa setiap tahun) untuk keluarga muslim? Ya sangat dimaklumi, karena anda sangat sulit memahami bahwa Nabi SAW dalam banyak riwayat yang dinukil dalam kitab-Kitab hadits : ternyata `alaa raksi haulin (setiap tahun=haul) beliau SAW berziarah kepada makam para syuhada dan membacakan doa untuk para syuhada Baqi` dan Uhud itu (HR. Baihaqi).

    Jadi Nabi SAW berkenan untuk menghauli para shahabat yang telah mendahului beliau mengadap Allah, dengan cara mendoakan mereka pada setiap tahunnya. Inilah salah satu landasan ummat Islam dalam kegiatan menghauli sanak familinya yang terlebih dahulu dipanggil oleh Allah

    Bahkan Nabi SAW setiap kali berziarah ke makam Uhud, beliau SAW mengucapkan salam khusus kepada pamanda beliau SAW, yaitu Sayyidina Hamzah : .Salaamun `alaikum bimaa shabartum fini`ma uqbad daar. ]]]

    Komentar: Syariat berdoa itu tidak mengenal batasan waktu, dan tempat. Kecuali di kamar mandi/WC. Kita tidak boleh berdoa disana. Berdoa tidak dibatasi waktu setiap tahun, setiap tengah tahun, setiap 40 hari. Kapan saja, semampunya, sekuatnya, kita disyariatkan berdoa. Termasuk mendoakan kebaikan kepada keluarga, kerabat, ikhwah, sesama Muslim; juga memohonkan ampunan bagi kaum Muslimin semuanya, baik yang masih hidup atau sudah wafat. Andaikan tradisi haul (tahunan) itu diperintahkan, tentu Nabi akan memerintahkan setiap tahun kita melakukannya. Misalnya dengan perkataan, “Ingat-ingatilah aku setahun sekali, setiap Maulid Nabi.” Tetapi perintah demikian tidak ada.

    Dari Anda: [[[ * Anda tidak senang ikut dzikir berjamaah, sangatlah maklum karena ada tidak pernah memahami Hadits Qudsi, Allah berfirman yang artinya: Barang siapa yang menyebut (berdzikir) kepada-Ku dalam kelompok yang besar (berjamaah), maka Aku (Allah) akan menyebut (membanggakan) nya dalam kelompok (malaikat) yang lebih besar (banyak) pula (HR. Bukhari-Muslim)

    Jika telah apriori terhadap hadits riwayat Bukhari-Muslim, lantas riwayat hadits mana lagi yang akan anda pergunakan untuk menolak amalan warga Ahlus sunnah wal jamaah ini ?

    Ayo, kembalilah kepada pemahaman Ulama Salaf Ahlussunnah wal Jamaah dalam menjalani kehidupan beragama, agar mendapatkan keberkahan hidup dari Allah, dan selamat dalam menjalani hidup di dunia hingga akherat nanti. ]]]

    Komentar: Tentang dzikir berjamaah ini, tidak ada komentar yang bisa saya berikan. Saya belum paham untuk mendudukkan masalah itu. Mungkin orang lain bisa membantu memberikan kejelasan. Yang jelas, hadits Bukhari-Muslim itu benar adanya, dan SAH, bahkan kuat untuk dijadikan dalil. Hanya saya belum paham mendudukkan antara yang mendukung dzikir berjamaah dan yang melarangnya. Mohon dimaafkan, tak ada komentar yang bisa diberikan.

    Kalau dibilang saya tidak menerima hadits Bukhari-Muslim…ya jangan begitulah. Itu tidak baik. Bersikaplah adil, kepada siapa saja, termasuk kepada orang yang berbeda pendapat denganmu.

    Jazakallah khairan katsira.

    AMW.

  29. syaifudin mengatakan:

    Anda mengatakan barangsiapa yang membaca selawat yang tidak diajar oleh RasuluLlah maka ia tergolong sebagai ahlu bid’ah (sesat dan masuk neraka). Beranikah Anda menghukum para salafussoleh sebagai ahlu bid’ah sesat dan masuk neraka ?

    Contoh shalawat yang di tulis para sahabat dan ulamak salafussoleh :

    Pertama :

    حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ بَيَانٍ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي فَاخِتَةَ عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَإِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ قَالَ فَقَالُوا لَهُ فَعَلِّمْنَا قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌTerjemahan: Abdullah bin Mas’ud berkata: Apabila kamu semua solawat kepada Rasulullah SAW, maka buatlah sesuatu yang bagus terhadap beliau, siapa tahu mungkin solawat kamu itu diberitahukan (disampaikan) kepada beliau. Lalu mereka bertanya: Ajarkanlah kami cara bersolawat yang bagus kepada beliau! Lalu beliau (Abdullah bin Mas’ud) menjawab: katakan, Ya Allah jadikanlah segala solawat, rahmat, berkahmu, kepada Sayyid para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, penutup para nabi, yaitu Muhammad Hamba dan Rasul-MU, pemimpin dan pengarah kebaikan dan rasul yang membawa rahmat. Ya Allah anugerahilah beliau maqam terpuji yang menjadi harapan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian. TERUSKAN HADIS TERSEBUT.

    Ini adalah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, yang menarik disebutkan oleh Ibn Qayyim dalam kitab Jala’ al-Afham; Cairo Dar al-Hadis (p. 36 dan 72), Abdurrazaq dalam kitab al-Mushannaf (3109), Abu Ya’la di dalam musnadnya (5267), al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (9/115), Ismail al-Qadli di dalam kitab Fadl al-Shalat ala Nabi SAW (p. 59).

    Kedua :

    عن ابن عباس رضي الله عنه أنه كان إذا صلى على النبي صلى الله عليه وسلم قال اللهم تقبل شفاعة محمد الكبرى وارفع درجته العليا وأعطه سؤله في الآخرة والأولى كما آتيت إبرهيم وموسى .

    Hadis ini diriwayatkan oleh Abd bin Humaid dalam al-Musnadnya dan Abd al-Razzaq di dalam al-Mushannaf, Ismail al-Qadli di dalam Fadl al-Solat ala al-Nabi (p. 52). Yang menarik Ibn Qayyim juga menceritakannya di dalam kitab Jala’ al-Afham (page 76). Imam al-Hafiz al-Sakhawi berkata di dalam kitab al-Qaul al-Badi’ bahwa sanadnya baik, kuat dan sahih (46).

    Ketiga :

    Sedangkan ulama salaf adalah seperti yang diceritakan dalam kitab Jala’ al-Afham page 230, dan al-Hafiz al-Sakhawi dalam kitabnya al-Qaul al-Badi’ page 254:

    وقال عبد الله بن عبد الحكم: “رأيت الشافعي في النوم، فقلت. ما فعل الله بك؟ قال: رحمني وغفر لي وزفني إلى الجنة كما تزف العروس, ونثر علي كما ينثر على العروس، فقلت: بم بلغت هذه الحال؟ فقال لي قائل: يقول لك بما في كتاب الرسالة من الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم”. قلت: فكيف ذلك؟ قال: وصلى الله على محمد عدد ما ذكره الذاكرون، وعدد ما غفل عن ذكره الغافلون. قال: فلما أصبحت نظرت في الرسالة فوجدت الأمر كما رأيت: النبي صلى الله عليه وسلم”

    Abdullah bin al-Hakam berkata: Aku bermimpi bertemu al-Imam al-Syafi’I setelah beliau meninggal. Aku bertanya: Apa yang Allah lakukan padamu? Beliau menjawab: Allah mengasihiku dan mengampuniku – sampai dengan- Lalu aku (Imam Syafi’i) bertanya kepada Allah: dengan apa aku memperoleh derajat ini? Lalu ada orang yang menjawab: dengan solawat yang kau tulis di dalam kitab al-Risalah:

    صلى الله على محمد عدد ما ذكره الذاكرون وعدد ما غفل عن ذكره الغافلون

    Abdullah bin al-Hakam berkata: Pagi harinya aku tenggok kitab al-Risalah, ternyata solawat di dalamnya sama dengan yang aku tenggok di dalam mimpiku.

    Lafaz selawat Imam al-Syafi’i yang masyhur adalah seperti berikut;

    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كلما ذكره الذاكرون وغفل عن ذكره الغافلون

    Dicatatkan lafaz ini diambil daripada kitab beliau al-Risalah. Namun lafaz selawat Imam al-Syafi’i yang asal yang terdapat di dalam kitab al-Risalah (hlm. 16) tersebut agak berbeda sedikit dengan tambahan yang agak panjang yaitu sbg berikut;

    فصلَّى الله على نبيِّنا كلَّما ذكره الذاكرون، وغَفَل عن ذكره الغافلون. وصلى عليه في الأوَّلين والآخرين. أفضلَ وأكثرَ وأزكى ما صلَّى على أحدٍ من خلقِهِ. وزكَّانا وإياكم بالصلاة عليه، أفضلَ ما زكَّى أحدًا من أمته بصلاتِهِ عليه، والسلام عليه ورحمة الله وبركاته

    وجزاه الله عنا أفضلَ ما جزى مرسلاً عن من أُرسلَ إليه، فإنه أنقذنا من الهَلَكَة، وجعلنا في خير أمةٍ أخرجت للناس دائنين بدينه الذي ارتضى، واصطفى به ملائكتَهُ ومن أنعم عليه من خلقه، فلم تُمْسِ بنا نعمةٌ ظهرت ولا بطنت، نِلْنا بها حظًّا في دين ودنيا، أو دُفِعَ بها عنا مكروهٌ فيهما وفي واحد منهما إلاَّ ومحمد صلى الله عليه سببُها القائد إلى خيرها والهادي إلى رشدها الذائد عن الهَلَكَة وموارِدِ السوء في خلاف الرشد المنبِّهُ للأسباب التي تُورِدُ الهَلَكَة القائم بالنصيحة في الإرشاد والإنذار فيها

    فصلى الله على محمد وعلى آل محمد كما صلى على إبراهيم وآل إبراهيم إنه حميد مجيد

    Ini juga merupakan bukti bahawa Imam al-Syafi’i membolehkan bershalawat dengan lafaz yang disusun sendiri.Anda dan golongan Anda mendakwa tidak boleh bershalawat dengan shalawat yang digubah sendiri dan ktnya merupakan bidaah. Di antara mereka juga ada yang berpendapat, ini akan membawa kepada penyanjungan dan pemujaan melampau.

    Anda dan Golongan Anda tersebut sebenarnya jahil atau pura-pura jahil dengan keagungan maqam baginda SAW. yang ditunjuk dan diisyaratkan oleh banyak ayat al-Quran dan hadith. Mereka juga pura-pura tidak nampak bahawa ianya adalah dengan lafaz (اللهم صل ..) atau (صلى الله). Andaa juga pura-pura tidak melihat nama Muhammad yang sentiasa digandingkan dengan nama Allah, (لا إله إلا الله، محمد رسول الله). Lalu bagi memenangkan pandangan Anda digunakan istilah ‘puja’, ‘taqdis’, ‘ta’lih’ dan lain-lain yang sebenarnya hanya sekadar melontar tuduhan dan tidak wujud pada hakikatnya. Ya Rabb..

  30. syaifudin mengatakan:

    Apakah Anda pengikut Nasirudin Al-Albani..?

  31. syaifudin mengatakan:

    Dalam ilmu Nahwu, kull ada 2 makna:
    1. Kull min kull (semua dari semua)
    2. Ba’dh min kull (sebagian dari semua)
    pendapat para ulama muktabar:
    **. Al-Imam ‘Izzudin bin Abdissalam 9577-660 H/1181-1262 M)
    …“Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah di kenal (terjadi) pada masa Rasulullah SAW”(Qowa’id al Ahkam fi Mashalih al Anam, 2/172)
    **. Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (631-676 H/1234-1277M)
    “Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang baru, yang belum ada pada masa Rasulullah SAW (Tahdzib al Asma’ wa al-Lughat,3/22)
    **Hadist Tentang Semua Bid’ah Adalah Sesat
    “Dari Abdillah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,” Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal yang baru(yang bertentangan dengan syara’). Karena perkara yang paling jelek adalah membuat-buat hal yang baru dalam masalah agama. Dan setiap perbuatan yang baru dibuat itu adalah bid’ah. Dan sesunguhnya semua bid’ah itu adalah sesat”.(Sunan Ibnu Majah, 45)
    Dalam hadist ini, Nabi SAW menggunakan kata “kullu” yang secara tekstual diartikan seluruh atau semua. Sebenarnya, kata “kullu” tidak selamanya berarti keseluruhan atau semua, tetapi adakalanya berarti sebagian, seperti Firman Allah:
    “Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air”(QS.al-Anbiya:30)
    Walaupun ayat ini menggunakan kata “kullu”,namun tidak berarti yang ada didunia ini semuanya diciptakan dari air,. Buktinya Firman Allah:
    “Dan Allah SWT menciptakan jin dari percikan api yang menyala” (QS.al-Rahman:15)
    **Contoh lain:
    “Karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu”(QS.al-Kahfi:79)
    Ayat ini menjelaskan bahwa dihadapan Nabi Musa dan Nabi Khidir ada seorang raja yang lalim yang suka merampas perahu yang bagus. Sedangkan perahu yang jelek tidak diambil. Buktinya perahu yang ditumpangi kedua hamba pilihan itu dirusak oleh Nabi Khidir agar tidak dirampas oleh raja lalim. Kalau semua perahu dirampas, tentu Nabi khidir tidak akan merusak bagian tertentu dari perahu yang mereka tumpangi. Hal ini juga menjadi bukti bahwa tidak semua perahu dirampas oleh raja tersebut. Juga menjadi petunjuk bahwa kata “kullu” pada ayat itu tidak dapat diartikan keseluruhan, melainkan sebagian saja, yakni perahu-perahu yang bagus saja yang dirampas. Maka demikian pula dengan hadist tentang bid’ah itu. Walaupun mengunakan kata “kullu”, bukan berarti seluruh bid’ah terlarang. Karena yang terlarang adalah sebagian bid’ah saja.
    **. Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i
    “Bid’ah ada dua macam, pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi Al Quran atau sunnah atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah dhalalah(tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi Al Quran, sunnah, dan Ijma, dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”(Al-Baihaqi, Manqib al-Syafi’i,1/469)
    Bahkan Imam Syafi’I menafikan nama bid’ah terhadap sesuatu yang mempunyai landasan dalam syara’ meskipun belum pernah diamalkan oleh salaf.
    “Setiap sesuatu yang mempunyai dasar dalil-dalil syara’, maka bukan termasuk bid’ah meskipun belum pernah dilakukan oleh salaf. Karena sikap mereka yang meninggalkan hal tersebut terkadang karena ada uzur yang terjadi pada saat itu, atau karena ada amaliah lain yang lebih utama dan atau barangkali hal itu belum diketahui oleh mereka”.
    **. Al-Imam Abu Umar Yusuf bin Abdilbarr al-Namiri al-Andalusi
    “Adapun perkataan Umar, “ sebaik-baik bid’ah”, maka bid’ah dalam bahasa arab adalah menciptakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada. Maka apabila bid’ah tersebut dalam agama menyalahi sunnah yang berlakm, maka itu bid’ah yang tidak baik, wajib mencela dan melarangnya, menyuruh menjauhinya dan meninggalkan pelakunya apabila jelas keburukan alirannnya. Sedangkan bid’ah yang tidak menyalahi dasar syariat dan sunnah, maka itu sebaik-baik bid’ah”(Al-Iastidzkar,5/152)Lihat Selengkapnya

  32. syaifudin mengatakan:

    Dan mungkin selepas ini Anda akan bilang ..sungguh bathil dan jahil orang2 yg membagi” kan bid’ah ke dlm beberapa bagian…Lalu bgmna pndpt Anda kpd para ulama muktabar dan salafussoleh yg mengartikan bid’ah sbb:

    1. Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi’i“Bid’ah ada dua macam, pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi Al Quran atau sunnah atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah dhalalah(tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi Al Quran, sunnah, dan Ijma, dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”(Al-Baihaqi, Manqib al-Syafi’i,1/469)Bahkan Imam Syafi’I menafikan nama bid’ah terhadap sesuatu yang mempunyai landasan dalam syara’ meskipun belum pernah diamalkan oleh salaf.

    “Setiap sesuatu yang mempunyai dasar dalil-dalil syara’, maka bukan termasuk bid’ah meskipun belum pernah dilakukan oleh salaf. Karena sikap mereka yang meninggalkan hal tersebut terkadang karena ada uzur yang terjadi pada saat itu, atau karena ada amaliah lain yang lebih utama dan atau barangkali hal itu belum diketahui oleh mereka”.

    2. Al-Imam Abu Umar Yusuf bin Abdilbarr al-Namiri al-Andalusi“Adapun perkataan Umar, “ sebaik-baik bid’ah”, maka bid’ah dalam bahasa arab adalah menciptakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada. Maka apabila bid’ah tersebut dalam agama menyalahi sunnah yang berlakm, maka itu bid’ah yang tidak baik, wajib mencela dan melarangnya, menyuruh menjauhinya dan meninggalkan pelakunya apabila jelas keburukan alirannnya. Sedangkan bid’ah yang tidak menyalahi dasar syariat dan sunnah, maka itu sebaik-baik bid’ah”(Al-Iastidzkar,5/152)

    3. Al-Imam al-Nawawi“Bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah(baik) dan bid’ah qobihah(buruk)”( Tahdzib al-Asma’ wa Lughat,3/22)Dalam syarh Shahih Muslim dan Raudlatut Thalibin, Imam Nawawi membagi bid’ah tidak hanya menjadi dua bagian saja, tetapi menjadi lima hukum sesuai dengan alur yang diikuti mayoritas ulama.

    4. Al-Imam al-Hafizh Ibn al Atsir al-Jazari“Bid’ah ada dua macam, bid’ah huda(sesuai dengan petunjuk agama) dan bid’ah dhalal(sesat). Maka bid’ah yang menyalahi perintah Allah dan Rasulullah SAW, tergolong bid’ah tercela dan ditolak. Bid’ah yang berada dibawah naungan keumuman perintah Allah dan dorongan Allah dan Rasul-Nya, maka tergolong bid’ah terpuji. Sedangkan bid’ah yang belum pernah memiliki kesamaan seperti semacam kedermawanan dan berbuat kebajikan, maka tergolong perbuatan yang terpuji dan tidak mungkin hal tersebut menyalahi syara’.”(al-Nihayah fi Gharib al Hadist wa al-Atsar, 1/762).

    5. Al-Imam al-Qadhi Abu Bakar Ibn al-Arabi al-Maliki“Umar berkata: “Ini sebaik-baik bid’ah”.bid’ah yang di cela hanyalah bid’ah yang menyalahi sunnah. Perkara baru(muhdats) yang dicela adalah yang mengajak pada kesesatan”. (‘Aridhat al-Ahuadzi Syarh Jami’al Tirmidzi,1/741)

    6. Al-Imam Izzuddin bi Abdissalam“Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal(terjadi) peda masa Rasulullah SAW. Bid’ah terbagi menjadi lima: bid’ah wajibah, bid’ah muharramah, bid’ah mandubah, bid’ah makrurah, dan bid’ah mubahah. Jalan untuk mengetahui hal itu adalah dengan membandingkan bid’ah pada kaidah-kaidah syariat. Apabila bid’ah itu masuk pada kaidah wajib, maka menjadi bid’ah wajibah, apabila masuk pada kaidah haram, maka bid’ah muharramah, apabila masuk kaidah sunnah, maka bid’ah mandubah, dan apabila masuk pada kaidah mubah , maka bid’ah mubahah.Bid’ah wajib memiliki banyak contoh, salah satunya adalah menekuni ilmu nahwu sebagai sarana memahami al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Hal ini hukumnya wajib, karena menjaga syariat itu wajib dan tidak mungkin dapat menjaganya tanpa ilmu nahwu. Sedangkan suatu yang menjadi sebab terlaksananya perkara wajib, maka hukumnya wajib. Kedua, berbicara dalam jarh dan ta’dil untuk membedakan hadist yang shahih dan lemah. Bid’ah muharramah memiliki banyak contoh, daiantaranya bid’ah ajaran Qadariyah, Jabariyah,Murji’ah, Mujassimah. Sedangkan menolak terhadap bid’ah-bid’ah tersebut termasuk bid’ah yang wajib. Bid’ah mandubah memiliki banyak contoh, diantaranya mendirikan sekolah-sekolah, jembatan-jembatan dan setiap kebaikan yang belum pernah dikenal pada generasi pertama diantaranya adalah shalat tarawaih. Bid’ah makruhah memiliki banyak contoh, diantaranya memperindah bangunan masjid, dan menghiasi mushaf-mushaf Al Quran. Bid’ah mubahah memiliki banyak contoh, diantaranya menjamah makanan dan minuman yang lezat-lezat, pakaian yang indah, tempat tinggal yang mewah, memakai baju kebesaran dll” (Qawa’id al Ahkam fi Mashalih al Anam, 2/133)

    7. Al Imam Ibn hajar al-Asqalani“Seacara bahasa, bid’ah adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Dalam syara’, bid’ah diucapkan sebagai lawan sunnah, sehingga bid’ah itu pasti tercela. Sebenarnya, apabila bid’ah itu masuk dalam naungan suatu yang dianggap baik menurut syara’ maka disebut bid’ah hasanah. Bila masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap buruk menurut syara’, maka disebut bid’ah mustaqbahah(tercela). Bila masuk dalam naungan keduanya, maka menjadi bagian mubah(boleh). Dan bid’ah itu dapat dibagi menjadi lima hokum”(Fath al-Bari,4/253)

    8. Al-Imam Badruddin Mahmud bin Ahmad al-‘Aini (762-855H)“Bid’ah pada mulanya adalah mengerjakan sesuatu yang belum pernah ada pada masa Rasulullah SAW, kemudian bid’ah itu ada dua macam. Apabila masuk dalam naungan sesuatu yang dianggap baik oleh syara’, maka disebut bid’ah hasanah. Apabila masuk dibawah naungan sesuatu yang dianggap buruk oleh syara’ maka disebut bid’ah tercela” (‘Umdat al-Qari,11/126)

    9. Al Imam Muhammad bin Ismail al-Shan’ani“Bid’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Yang dimaksud bid’ah disini adalah sesuatu yang dikerjakan tanpa didahului pengakuan syara’ melalui Al Quran dan Sunnah. Ulama telah membagi bid’ah menjadi lima bagian: 1. Bid’ah wajib, seperti memelihara ilmu-ilmu agama dengan membukukannya dan menolak terhadap kelompok-kelompok sesat dengan menegakkan dalil-dalil. 2, bid’ah mandubah, seperti membangun madrasah-madrasah. 3, bid’ah mubahah, seperti menjamah makanan yang bermacam-macam dan baju yang indah.4,bid’ah muharramah. 5, bid’ah makruhah, dan keduanya sudah jelas contoh-contohnya. Jadi hadist “semua bid’ah itu sesat” adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkaunnya”(Subul al-Salam, 2/48)

    10. Al Imam Muhammad bin Ali al-SyaukaniDalam kitab Nail al-Authar(3/25) beliau juga membagi bid’ah menjadi dua, bahkan lima bagian.

    11. Muhammad bin Shalih al ‘UtsaiminDalam risalah kecil tentang bid’ah berjudul al-Ibda’ fi Kamal al Syar’I wa Khathar al-Ibtida’ hal 3 beliau mengatakan:“Hadist “semua bid’ah adalah sesat” bersifat global. Umum, menyeluruh(tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti menyeluruh dan umum yang palig kuat yaitu kata-kata “kull(seluruh)”. Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini, kita benarkan membagi bid’ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian? Selamanya, ini tidak akan pernah benar.”

    Namun pernyataan al-Utsaimin ini sulit dipertahankan secara ilmiah oleh al-Utsaimin sendiri. Disamping pernyataan tersebut menyalahi metodologi berfikir para sahabat, ulama salaf dan ahli hadist, pernyataan tersebut juga justru bertentangan dengan pernyataan al Utsaimin sendiri di bagian lain dalam bukunya, yang membagi bid’ah menjadi beberapa bagian sesuai dengan pendapat mayoritas ulama:

    “Hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan dunia adalah halal. Jadi, bid’ah dalam urusan-urusan dunia adalah halal, kecuali ada dalil menunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan agama adalah dilarang. Jadi, berbuat bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al-Kitab dan Sunnah yang menunjukkan keberlakuannya.”(Al ‘Utsaimin, Syarh al-‘Aqidah al Wasithiyyah, hal 639-640).

    Tentu saja pernyataan al Utsaimin ini membatalkan pernyataan sebelumnya, bahwa semua bid’ah secara keseluruhan adalah sesat, dan sesat itu tempatnya di neraka. Namun kemudian, disini al-Utsaimin membatalkannya dengan mengatakan bahwa “bid’ah dalam urusan dunia, halal semua, kecuali ada dalil yang melarangnya. Bid’ah dalam urusan agama, haram dan bid’ah semua, kecuali ada dalil yang membenarkannya”.Dengan klasifikasi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah dalam hal dunia, dan bid’ah dalam hal agama, serta memberi pengecualian dalam masing-masing bagian, menjadi ketidakkonsisten-an dengan pernyataan awal.

    Dalam bagian lain, al Utsaimin mengatakan:“Diantara kaidah yang ditetapkan adalah bahwa perantara itu mengikuti hukum tujuannya. Jadi perantara tujuan yang disyariatkan, juga disyariatkan. Perantara tujuan yang tidak disyariatkan, tidak juga disyariatkan. Bahkan perantara tujuan yang diharamkan juga diharamkan. Karena itu, pembangunan madrasah-madrasah, penyusunan ilmu pengetahuan dan kitab-kitab, meskipun bid’ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah SAW dalam bentuk seperti ini, namun ia bukan tujuan, melainkan hanya perantara, sedangkan hokum perantara mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu, bila seorang membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan, maka membangunnya dihukumi haram. Bila ia membangun madrasah untuk mengajarkan syariat, maka membangunnya disyariatkan”(Al-Utsaimin Al Ibda’ fi Kamal al-Syar’I wa Khathar al-Ibtida’, hal 18-19)

    Jadi pernyataan al Utsaimin bahwa semua(seluruh_tanpa terkecuali) bid’ah adalah sesat terbantahkan sendiri olehnya.

  33. syaifudin mengatakan:

    Orang2 yang sering mengatakan hal ini bid’ah hal itu bid’ah (suka membid’ahkan) kebanyakan dg alasan karena tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikandalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.

    Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sahabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:

    1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.

    2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu beliau lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.

    3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: “Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka’bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka’bah menjadi pendek.” (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka’bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.

    4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: “itu biawak!”, maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliau ditanya: “apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: “Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!” (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.

    5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhul) adalah haram,dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lihat karya Syekh Abdullah al Ghomariy. Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark)

  34. syaifudin mengatakan:

    Dan Nabi bersabda:” Apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi berkataa:” dan tidaklah Tuhanmu lupa”.(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya”.(HR.Daruqutnhi)

    Dan Allah berfirman:”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS.Al Hasr:7)
    di ayat ini Allah tidak berfirman dan apa yang ditinggalknya(oleh rasululullah) maka tinggalkanlah.

    Maka dapat disimpulkan bahwa “at-Tark” tidak memberi faidah hukum haram ataupun bid’ah dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil!!

    Mohon koreksinya Ustadz..sbnrnya sya sm sekali tdk suka debat kurir, hanya disini Anda terlihat sangat mengkritisi dan saya melihat Anda tdk memahami ttng Qiyasataupun majas Anda memahami kata hanya secara dzahirnya saja mengartikanya secara mentah2…Mungkin Anda lupa bahwa Khalifah Umar adalah Singa Padang Pasir apakah itu berarti Khalifah Umar adalah Singa…..???

    Demikian kritikan saya ..dan apabila Anda tdk mau di kritisi jangan sekali2 Anda mengkritisi….

    Semoga Allah melembutkan Hati2 kita….

    Wassalamu’alaikum…

  35. abisyakir mengatakan:

    @ Al Akh Karim Syaifudin….

    Anda berkata: “Anda mengatakan barangsiapa yang membaca selawat yang tidak diajar oleh RasuluLlah maka ia tergolong sebagai ahlu bid’ah (sesat dan masuk neraka). Beranikah Anda menghukum para salafussoleh sebagai ahlu bid’ah sesat dan masuk neraka?

    Komentar: Coba Anda sebutkan bukti perkataan Anda itu dari tulisan2 yang saya susun disini! Apakah saya mengatakan demikian? Anda tidak boleh mengklaim sesuatu yang tidak ada dasarnya. Itu tidak benar.

    AMW.

  36. abisyakir mengatakan:

    @ Syaifudin…

    Ya, kita berusaha sekuat tenaga mengikuti Nabi Saw. Beliaulah insan yang ma’shum, sehingga layak diikuti. Bila ada pendapat Syaikh Al Albani rahimahullah yang sesuai Syariat Nabi, kita terima; kalau tidak sesuai, ya ditinggalkan. Tanpa kemudian harus menghujat ulama-ulama yang shalih dan banyak berjasa bagi kehidupan Ummat. Rahimahullah wa rahimakallah wa iyyana. Amin.

    AMW.

  37. abisyakir mengatakan:

    @ Syaifudin…

    Maka itu wahai Akhunal karim, pembahasan bid’ah ini kadang terseret dalam perselisihan yang tak berujung. Soal bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah saja, sampai saat ini perdebatannya belum selesai. Maka disini disampaikan definisi bid’ah yang lebih memudahkan.

    Bid’ah itu:

    1. Amal perbuatan yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Persis seperti perbuatan kaum Nashrani yang melakukan “rahbaniyyah”, membuat-buat ibadah yang tidak disyariatkan.

    2. Bid’ah itu tak ada manfaatnya bagi Ummat, baik untuk urusan dunia atau Akhirat. Kalau ada manfaatnya, pasti akan diserukan ummat untuk melakukannya.

    3. Bid’ah itu kalau dilakukan akan mematikan amalan Sunnah yang sudah nyata-nyata ada. Dan ini menurut para ulama sebagai salah satu keburukan bid’ah.

    Kalau saya mengikuti alur diskusi yang Antum bawa dengan hujjah2 yang biasa Antum pakai untuk “tembak-tembakan” dengan para Salafi, pasti nanti akan terseret ke perdebatan tak berujung seperti sebelum2nya. Ya saya paham, Antum termasuk anti Wahhabi, anti Salafi, dan lainnya. Paham lah, wong sering menjumpai yang seperti ini. Saya kenyang menyaksikan semua itu di forum MyQuran atau forum Hidayatullah.com.

    Semoga Antum mau memahami ya… Amin.

    AMW.

  38. abisyakir mengatakan:

    @ Akhil karim Syaifudin…

    Dari Anda: “Jadi pernyataan al Utsaimin bahwa semua (seluruh_tanpa terkecuali) bid’ah adalah sesat terbantahkan sendiri olehnya.”

    Komentar: Lafadz nya dari hadits Nabi Saw ialah “kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin fin naar” (ada riwayat yang hanya sampai perkataan “kullu bid’atin dhalalah”). Mungkin karena hadits ini lalu ulama mengatakan, semua bid’ah itu sesat.

    Ya ada perbedaan antara bid’ah dalam arti umum (segi bahasa) yang artinya “sesuatu yang baru”. Dan ada bid’ah dalam pengertian syara’. Mungkin yang dimaksud perkataan ulama, “Semua bid’ah itu sesat,” adalah: semua bid’ah dalam pengertian syara’, bukan bid’ah dalam pengertian bahasa, adalah sesat. Saya yakin yang mereka maksud kesana, bukan bid’ah dalam pengertian bahasa.

    Misalnya, di jaman Nabi Saw tidak pernah ditulis Mushaf Al Qur’an lengkap seperti kita selama ini. Lalu di jaman Abu Bakar As Shiddiq Ra dimulai upaya menyusun Mushaf, atas saran Umar bin Khattab Ra. Semula Khalifah Abu Bakar juga menyangka, penyusunan Mushaf itu bid’ah karena tidak dilakukan di masa Nabi. Namun karena kebutuhan mendesak, dengan wafatnya banyak huffazh dalam peperangan, sehingga khawatir Kitab Al Qur’an akan tercerai-berai, maka penyusunan Mushaf itu disetujui. Di masa Khalifah Utsman bin ‘Affan penyusunan Mushaf disatukan dalam satu qiraat, dan ditulis 4 salinan Mushaf Al Qur’an, lalu dibagi ke beberapa daerah Islam. Inilah yang kita kenal sebagai Mushaf Utsmani.

    Dari sisi bahasa, menyusun Mushaf Al Qur’an atau menyatukan Al Qur’an dalam satu qiraah, itu bid’ah (sesuatu yang baru), karena tidak ada di masa Nabi Saw. Tetapi secara syar’i perbuatan itu sangat dibutuhkan oleh Ummat, demi menjaga kemurnian Syariat Islam itu sendiri. Disini para ulama menyebut istilah lain, bukan bid’ah, tetapi maslahah mursalah. Ia adalah perbuatan atau amal yang tidak dicontohkan oleh Nabi Saw, tetapi sangat dibutuhkan oleh Ummat, sehingga diijinkan untuk diamalkan/dikembangkan.

    Menurut saya, yang disebut “setiap bid’ah itu sesat” ialah bid’ah dalam pengertian membuat ibadah yang tidak diperintahkan, tidak ada manfaatnya, dan apabila dilakukan, akan menutup amalan Sunnah. Kalau tidak terkena syarat-syarat itu, insya Allah bukan bid’ah.

    AMW.

  39. abisyakir mengatakan:

    @ Akhil karim Syaifudin….

    At Tark…sesuatu yang ditinggalkan oleh Nabi Saw.

    Sebenarnya, ditinggalkan itu karena perkara apa? Karena urusan dunia, karena urusan nikmat, karena adat, atau karena ada makruhat disana (sesuatu yang tidak disukai)? Terus terang, Nabi Saw meninggalkan urusan-urusan dengan alasan tertentu.

    ==> Nabi Saw bersikap zuhud, meninggalkan dunia dan kenikmatannya; karena beliau lebih mengutamakan Akhirat dan memberi contoh agar Ummatnya tidak terjerumus godaan dunia.

    ==> Nabi Saw memperbanyak ibadah di malam hari, sehingga kakinya bengkak; otomatis saat ibadah itu beliau meninggalkan urusan bermesraan dengan isterinya. Hal ini karena beliau ingin menjadi “an akuna ‘abdan syakura” (agar aku menjadi hamba yang banyak bersyukur).

    ==> Nabi Saw meninggalkan urusan mencari nafkah seperti orang lain yang sehar-hari sibuk kerja untuk nafkah anak-isterinya. Beliau tawakal dengan pembagian Syariat bagi beliau dari harta ghanimah, fai, atau hadiah. Hal demikian karena tanggung-jawab beliau yang besar dalam memikul amanah risalah.

    ==> Beliau tidak makan daging dhabb (biawak gurun), karena dalam adat masyarakat beliau, tidak biasa makan dhabb, meskipun dhabb itu sendiri tidak haram.

    ==> Beliau meninggalkan makan bawang sebelum shalat, karena khawatir mengganggu orang2 yang shalat jamaah.

    Banyak kenyataan yang Antum sebut “At Tark” itu dan alasannya tidak satu, tetapi berbeda-beda. Adapun posisi hukumnya ya disesuaikan dengan konteks at tark itu sendiri. Jadi, tidak dihukumi secara mutlak, “Hadza halal, hadza mubah.” Tidak demikian.

    Sebab sebagian orang akan memanfaatkan pintu “at tark” ini untuk membenarkan amalan2 yang sebenarnya tidak diperintahkan oleh Syariat. Sama seperti sebagian oleh memanfaatkan celah pada kisah Nabi Khidr untuk membenarkan keyakinan2nya yang tidak berdasar. Itu sikap yang tidak adil!

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

  40. syaifudin mengatakan:

    ku anggap perbedaan ini sbg rahmat aq hargai keyakinan Anda..makasih atas tambahan ilmunya…mohon maaf sgl khilaf…Smg Lindungan,hidayah,taufiq,rahmat Allah senantiasa mengiringi langkah2 kita…wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh..

  41. NU gawan bayi mengatakan:

    Menjurus ke syirik yg mn…? lha wong tawassul kok di bilang syirik,ini kan sebuah bentuk pujian kpd rasulullah jg para pahlawan (mujahid,jg pahlawan perang badar) kok aneh ya letak syiriknya di mn….?biarpun mereka telh mati apa kita nggak blh menghormati mereka para mujahidin apalagi Rasulullah…tanpa rasulullah Anda semua tuh masih kafir nyadar nggak sih..? Ap krn Rasulullah sudah meninggal mk kita nggak boleh Bertawasul melalui beliau lg …keblinger kyknya Anda…? aq sbg orang Nahdkliyin kok merasa di dzolimi ya di sini…buat Admin jg apa nggak nyadar ya kl orang 2 nahdliyin baca nih note pasti ada jutaan yg merasa tersakiti karena Anda menganggp mereka tlh melakukan syirik…Nih ya walaupun Anda pinter trs amalan Anda banyak ,apa Anda yakin nih bs masuk syurga tanpa mf dr orng2 Nahdliyin yg tersakiti nih…Ingat!! Hablumminallah Habluminannas…Aq minta pertanggung jawaban Admin nih tolong jelasin konsep tawassul mnrt Anda….hingga berani2nya Anda menghukum syirik kpd orang yg bertawassul….

  42. abisyakir mengatakan:

    @ Mas Andrie (NU gawan bayi)….

    ==> Menjurus ke syirik yg mn…? lha wong tawassul kok di bilang syirik, ini kan sebuah bentuk pujian kpd rasulullah jg para pahlawan (mujahid,jg pahlawan perang badar) kok aneh ya letak syiriknya di mn….?

    Iya, memuji Rasulullah dan para pejuang Badar itu boleh. Mengagumi, mencintai, mencontoh mereka boleh…boleh…bahkan sudah semestinya seorang Muslim begitu.

    Yang menjurus syirik itu kalau ada yang mengatakan, “Melalui ruh Rasulullah dan arwah para pejuang Badar, aku memohon ini dan itu, kepada Allah.” Nah, ini yang tidak diperbolehkan. Seharusnya, cukup kita katakan saja, “Dengan Keagungan Allah, dengan Kesucian Dzat-Nya, dengan Kemurahan-Nya, dengan segala ampunan dan rizki-Nya, aku memohon kepada-Nya urusan ini dan itu.” Itu namanya tawasul dengan Asma-Shifat Allah. Itu boleh, bahkan kita diperintahkan berdoa dengan membaca Asmaul Husna.

    Menjurus syirik, kalau ada krentek di hati (rasa yakin) bahwa dengan tawasul melalui ruh Nabi dan arwah ahli Badar itu, kita merasa doa kita akan dikabulkan; kalau tidak demikian, kita yakin doa kita akan ditolak. Nah, hal seperti itu menjurus mensyirikkan ruh Nabi dan ahli Badar dengan Allah Ta’ala. Kita merasa ruh-ruh itu bisa menjamin pengabulan doa, kalau tanpa tawasul seperti itu doa dianggap akan gagal.

    ==> biarpun mereka telh mati apa kita nggak blh menghormati mereka para mujahidin apalagi Rasulullah

    Boleh saudaraku. Itu sudah seharusnya, bahkan kita harus mencontoh perilaku mereka. alhamdulillah.

    ==> …tanpa rasulullah Anda semua tuh masih kafir nyadar nggak sih..? Ap krn Rasulullah sudah meninggal mk kita nggak boleh Bertawasul melalui beliau lg …keblinger kyknya Anda…?

    Tentu saja, mana ada seorang Muslim yang jasanya lebih besar dari Nabi Saw. Tidak ada itu. Sampai Al Qur’an menyebut tentang Nabi, “Innaka la ‘ala khuluqin ‘azhim” (engkau itu Muhammad berada di atas akhlak yang agung). Kita mensyukuri diri sebagai Muslim, juga mensyukuri Kenabian Rasulullah Saw, sekaligus mensyukuri diri kita sebagai bagian dari ummat beliau. Alhamdulillahil ‘Azhim.

    Tetapi untuk mencintai Nabi itu kan ada caranya. Dalam Surat Ali Imran disebutkan caranya, “Fattabi’uni” (ikutilah sunnah-sunnah-ku). Ini cara terbaik mengikuti beliau. Nah, apakah Rasulullah memerintahkan kita bertawasul dengan ruh beliau, agar doa kita dikabulkan oleh Allah? Itu lho yang saya maksud dengan mencintai Nabi Saw.

    ==> “aq sbg orang Nahdkliyin kok merasa di dzolimi ya di sini…buat Admin jg apa nggak nyadar ya kl orang 2 nahdliyin baca nih note pasti ada jutaan yg merasa tersakiti karena Anda menganggp mereka tlh melakukan syirik…Nih ya walaupun Anda pinter trs amalan Anda banyak ,apa Anda yakin nih bs masuk syurga tanpa mf dr orng2 Nahdliyin yg tersakiti nih…Ingat!! Hablumminallah Habluminannas…Aq minta pertanggung jawaban Admin nih tolong jelasin konsep tawassul mnrt Anda….hingga berani2nya Anda menghukum syirik kpd orang yg bertawassul….

    Ya, jangan begitu, Akhi. Jangan merasa terzhalimi. Ini kan pandangan ilmiah, atau pandangan kritis dari saya. Pandangan seperti ini boleh diterima, boleh juga tidak, sesuai keselarasannya dengan Syariat Islam. Anda kan tidak dipaksa-paksa untuk menerima pandangan-pandangan ini. Bahkan, Anda masuk ke blog ini pun atas kesadaran sendiri. Kecuali kalau saya memaksakan pandangan ke seluruh warga NU, Anda boleh mengatakan saya zhalim.

    Untuk hukum tawasul, coba cari di kategori “Al Islami”. Insya Allah disana ada.

    Syukran jazakumullah khair atas kritik, masukan, tanggapan Anda. Semoga Allah memberkahi hidupmu, memberikan anugerah ilmu dan pandangan bijaksana. Allahumma amin.

    AMW.

  43. NU gawan bayi mengatakan:

    Anda…
    Yang menjurus syirik itu kalau ada yang mengatakan, “Melalui ruh Rasulullah dan arwah para pejuang Badar, aku memohon ini dan itu, kepada Allah.” Nah, ini yang tidak diperbolehkan.

    tanggapan :

    Sebagai gambaran awal untuk memetakan tentang konsep tawasul, dapat dijelaskan sebagai berikut :Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tawasul adalah menjadikan mutawasal bih sebagai wasilah (perantara) dalam rangka berdoa kepada Allah. Berdoa dapat langsung kepada Allah (tanpa tawasul) dan juga dapat menggunakan perantara mutawassal bih. Menggunakan mutawassal bih sebagai perantara bukanlah merupakan sebuah keharusan dalam berdoa.Mutawassal bih secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

    * Mutawassal bih yang berupa al-a’mal al-shalihah.

    * Mutawassal bih yang berupa al-dzawat al-fadlilah. Mutawassal bih yang berupa al-dzawat al-fadlilah dibagi menjadi dua, yaitu :

    * Dengan nabi Muhammad SAW. Kategori ini diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :

    - Sebelum lahirnya nabi (قبل وجوده )- Pada saat nabi hidup ( فى حياته )- Setelah nabi wafat (بعد وفاته)

    * Dengan awliya dan shalihin. Kategori ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :- Pada saat mereka masih hidup (في حياتهم)- Setelah mereka wafat (بعد وفاتهم).

    Tidak terjadi perbedaan pendapat mengenai diperbolehkannya menggunakan al-a’mal al-shalihah sebagai mutawassal bih. Hal ini didasarkan pada hadits nabi yang bercerita tentang tiga orang pemuda yang terjebak di sebuah goa. Hadits tersebut berbunyi :

    حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ حَدَّثَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً ، فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَىْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ » . قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ، فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا . قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى . فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ » .

    Sedangkan tawassul dengan menggunakan dzawat fadlilah (orang-orang yang keistimewaan di hadapan Allah, dari kalangan para nabi, awliya dan shalihin) terjadi perbedaan pendapat yang cukup ekstrim tentang masalah ini. Ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya dan bahkan menganggapnya sebagai sebuah bentuk kesyirikan. Semua pandangan, baik yang pro maupun yang kontra harus diapresiasi selama menggunakan dalil, analisa dan argumentasi yang ilmiyah. Sebaliknya, pandangan yang subyektif, sectarian dan tidak disertai argumentasi yang ilmiyah harus ditolak dan diluruskan.

    Dalil-dalil yang menguatkan kebolehan tawasul dengan menggunakan dzawat fadlilah adalah :

    • Bi al-nabi :

    * Qabla wujudihi. Hadits nabi yang menguatkan hal ini adalah :

    (قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : لما اقترف آدم الخطيئة قال : يارب ! أسألك بحق محمد لما غفرت لي ، فقال الله: ياآدم ! وكيف عرفت محمداً ولم أخلقه ؟ قال : يارب ! لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت فيَّ من روحك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوباً لا إله إلا الله محمد رسول الله ، فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك ، فقال الله : صدقت يا آدم ، إنه لأحب الخلق إليَّ ، أدعني بحقه فقد غفرت لك ، ولولا محمد ما خلقتك)) .أخرجه الحاكم في المستدرك وصححه [ج2 ص615] (1) ، ورواه الحافظ السيوطي في الخصائص النبوية وصححه (2) ، ورواه البيهقي في دلائل النبوة وهو لا يروي الموضوعات ، كما صرح بذلك في مقدمة كتابه (3) ، وصححه أيضاً القسطلاني والزرقاني في المواهب اللدنية [ج1 ص62](4) ، والسبكي في شفاء السقام ، قال الحافظ الهيثمي : رواه الطبراني في الأوسط وفيه من لم أعرفهم (مجمع الزوائد ج8 ص253)

    * Fi hayatihi. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :

    ائت الميضأة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قال اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد – صلى الله عليه وسلم – نبي الرحمة يامحمد إني أتوجه بك إلى ربك فيجلي لي عن بصري ، اللهم شفعه فيَّ وشفعني في نفسي ، قال عثمان : فوالله ما تفرقنا ولا طال بنا الحديث حتى دخل الرجل وكأنه لم يكن به ضر)) ..قال الحاكم : هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه .وقال الذهبي عن الحديث : أنه صحيح (ج1 ص519) .

    * Ba’da wafatihi. Penjelasan yang menguatkan tentang hal ini adalah :

    وليس هذا خاصاً بحياته – صلى الله عليه وسلم – بل قد استعمل بعض الصحابة هذه الصيغة من التوسل بعد وفاته – صلى الله عليه وسلم – فقد روى الطبراني هذا الحديث وذكر في أوله قصة وهي أن رجلاً كان يختلف إلى عثمان بن عفان رضي الله عنه في حاجة له ، وكان عثمان رضي الله عنه لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته ، فلقى الرجل عثمان بن حنيف فشكا ذلك إليه ، فقال له عثمان بن حنيف : ائت الميضأة فتوضأ ثم ائت المسجد فصل فيه ركعتين ثم قل :اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد – صلى الله عليه وسلم – نبي الرحمة ، يامحمد ! إني أتوجه بك إلى ربك فيقضي حاجتي . وتذكر حاجتك ..

    • Bi al-anbiya wa al-shalihin

    o Fi hayatihim. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :

    أخرج البخاري في صحيحه عن أنس أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه – كانوا إذا قحطوا – استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : [ اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا نتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا ] .

    * Ba’da wafatihim. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :

    عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : من خرج من بيته إلى الصلاة ، فقال : اللهم إني أسألك بحق السائلين عليك وبحق ممشاي هذا فإني لم أخرج أشراً ولا بطراً ولا رياء ولا سمعة ، خرجت اتقاء سخطك وابتغاء مرضاتك ، فأسألك أن تعيذني من النار ، وأن تغفر لي ذنوبي ، إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت ، أقبل الله بوجهه واستغفر له سبعون ألف ملك .

    Uraian di atas menegaskan bahwa tradisi tahlilan yang dilakukan oleh warga nahdliyin memiliki dasar, dalil dan argumentasi yang kuat, sehingga tidak patut untuk disesatkan, disyirikkan atau dibid’ahkan. Menganggap tradisi tahlilan adalah bid’ah, sesat dan syirik berarti yang bersangkutan kurang memahami konsep dan dalil agama.

    Ziarah Kubur dan Analisis Argumentasi

    Tak seorangpun dapat menyangkal dan menentang bahwa ziarah kubur merupakan hal yang disyariatkan di dalam Islam. Namun demikian, masih saja terdapat kelompok orang yang menentang ziarah kubur dengan berbagai dalih dan alasan yang tentunya kurang ilmiyah dan sangat emosional.

    Ada nasihat yang sangat menarik yang ditawarkan oleh Imam al-qurthubi di dalam kitab tafsirnya yang berbunyi :

    قال العلماء : ينبغي لمن أراد علاج قلبه وانقياده بسلاسل القهر إلى طاعة ربه ان يكثر من ذكر هاذم اللذات ومفرق الجماعات وموتم البنين والبنات ويواظب على مشاهدة المحتضرين وزيادرة قبور أموات المسلمين فهذه ثلاثة أمور ينبغي لمن قسا قلبه ولزمه ذنبه أن يستعين بها على دواء دائه ويستصرخ بها على فتن الشيطان وأعوانه فإن انتفع بالإكثار من ذكر الموت وانجلت به قساوة قلبه فذاك وإن عظم عليه ران قلبه واستحكمت فيه دواعي الذنب فإن مشاهدة المحتضرين وزيارة قبور أموات المسلمين تبلغ في دفع ذلك ما لا يبلغه الأول لأن ذكر الموت إخبار للقلب بما إليه المصير وقائم له مقام التخويف والتحذير وفي مشاهدة من احتضر وزيادة قبر من مات من المسلمين معاينة ومشاهدة فلذلك كان أبلغ من الأول

    Dari pandangan dan uraian Imam al-Qurtubi di atas, kita akan menganggap wajar dan bahkan menganggap benar tradisi ziarah kubur yang dilakukan dan digandrungi oleh kalangan nahdliyin dengan berjamaah ziarah ke makam wali songo dan lain sebagainya. Karena ziarah kubur merupakan salah satu dari tiga hal yang mujarab untuk mengobati dan menundukkan kerasnya hati; tiga hal dimaksud adalah : mengingat mati, menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut dan ziarah kubur.

    Dari pandangan ini, maka sebenarnya orang yang berziarah ke makam para wali tidak hanya berkesempatan untuk bertawasul kepada para awliya dan shalihin, akan tetapi juga berkesempatan untuk mengobati hatinya sehingga pada akhirnya akan lebih taat kepada Allah.Disamping pertimbangan di atas hadits nabi yang menjelaskan tentang dianjurkannya ziarah kubur sangat banyak dan dikeluarkan oleh banyak perawi, sehingga tingkat kemakbulannya tidak dapat diragukan lagi. Hadits-hadits dimaksud diantaranya adalah :

    • حدثنا زبيد بن الحارث عن محارب بن دثار عن بن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إني كنت نهيتكم عن ثلاث عن زيارة القبور فزوروها ولتزدكم زيارتها خيرا …. (رواه النسائى )• و حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أنبأ ابن وهب أخبرني ابن جريج عن أيوب بن هانىء عن مسروق بن الأجدع عن عبد الله بن مسعود : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور و أكل لحوم الأضاحي فوق ثلاث و عن نبيذ الأوعية ألا فزوروا القبور فإنها تزهد في الدنيا و تذكر الآخرة …. (رواه الحاكم )• حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ هَانِئٍ عَنْ مَسْرُوقِ بْنِ الأَجْدَعِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ ». (رواه ابن ماجه )• حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ زُبَيْدٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلاً وَنَحْنُ مَعَهُ قَرِيبًا مِنْ أَلْفِ رَاكِبٍ فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ فَقَامَ إِلَيْهِ عُمَرُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فَفَدَاهُ بِالأَبِ وَالأُمِّ وَقَالَ لَهُ : مَا لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ :« إِنِّى اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى اسْتِغْفَارِى لأُمِّى فَلَمْ يَأْذَنْ لِى فَبَكَيْتُ لَهَا رَحْمَةً مِنَ النَّارِ ، وَإِنِّى كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا ، وَكُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِىِّ أَنْ تُمْسِكُوهَا فَوْقَ ثَلاَثٍ فَكُلُوا وَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ ، وَكُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنِ الشُّرْبِ فِى الأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا فِى أَىِّ وِعَاءٍ شِئْتُمْ وَلاَ تَشْرَبُوا مُسْكِرًا ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى عَنْ زُهَيْرٍ دُونَ قِصَّةِ أُمِّهِ. (رواه البيهقي )

    Meskipun manfaat ziarah kubur sangat besar dan dalil yang menguatkannya juga sangat banyak, namun masih saja banyak kelompok yang menentang ziarah kubur. Dari literature yang kita baca yang ditulis oleh para penentang ziarah kubur dapat disimpulkan bahwa penentangan mereka bermuara pada beberapa alasan diantaranya adalah :

    • Berbagai kemaksiatan banyak terjadi pada saat ziarah kubur.

    • Kesyirikan banyak dilakukan oleh para peziarah.

    Dua alasan di atas merupakan alasan yang bersifat ‘aridly (insidentil) dan bukan sesuatu yang pasti terjadi. Karena demikian, sebuah pembahasan akan menjadi bias dan tidak ilmiyah karena meninggalkan substansi permasalahan yang sebenarnya. Marilah kita mencoba untuk mengkritisi alasan yang mereka kemukakan.

  44. NU gawan bayi mengatakan:

    Wahai saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul. Tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pada Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in. Demikian berpuluh – puluh perantara sampai pada guru kita, yang mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

    Allah swt berfirman : “Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah atau patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).
    Berkata Imam Ibn katsir menafsirkan ayat ini :
    والوسيلة: هي التي يتوصل بها إلى تحصيل المقصود، والوسيلة أيضًا: علم على أعلى منزلة في الجنة، وهي منزلة رسول الله صلى الله عليه وسلم وداره في الجنة، وهي أقرب أمكنة الجنة إلى العرش، وقد ثبت في صحيح البخاري، من طريق محمد بن المُنكَدِر، عن جابر بن عبد الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قال حين يسمع النداء: اللهم رب هذه الدعوة التامة، والصلاة القائمة، آت محمدًا الوسيلة والفضيلة، وابعثه مقامًا محمودا الذي وعدته، إلا حَلَّتْ له الشفاعة يوم القيامة”.
    حديث آخر في صحيح مسلم: من حديث كعب عن علقمة، عن عبد الرحمن بن جُبير، عن عبد الله بن عمرو بن العاص أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول: “إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول، ثم صلُّوا عَليّ، فإنه من صلى عَليّ صلاة صلى الله عليه بها عشرًا، ثم سلوا الله لي الوسيلة، فإنها منزلة في الجنة، لا تنبغي إلا لعبد من عباد الله، وأرجو أن أكون أنا هو، فمن سأل لي الوسيلة حَلًّتْ عليه الشفاعة.” (1)
    حديث آخر: قال الإمام أحمد: حدثنا عبد الرزاق، أخبرنا سفيان، عن لَيْث، عن كعب، عن أبي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “إذا صليتم عَليّ فَسَلُوا لي الوسيلة”. قيل: يا رسول الله، وما الوسيلة؟ قال: “أعْلَى درجة في الجنة، لا ينالها إلا رَجُلٌ واحد (2) وأرجو أن أكون أنا هو”.

    Wasilah adalah sesuatu yg menjadi perantara untuk mendapatkan tujuan, dan merupakan perantara pula ilmu tentang setinggi tinggi derajat, ia adalah derajat mulia Rasulullah saw di Istana beliau saw di sorga. Dan itu adalah tempat terdekat di sorga ke Arsy, dan telah dikuatkan pd shahih Bukhari dari jalan riwayat Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir bin Abdillah ra, sabda Rasulullah saw : Barangsiapa yg berdoa ketika mendengar seruan (adzan) :Wahai Alla Tuhan Pemilik Dakwah ini Yang Maha Sempurna, dan Shalat Yang didirikan, berilah Muhammad perantara dan anugerah, dan bangkitkanlah untuk beliau saw derajat yg terpuji yg telah Kau Janjikan pada beliau saw, maka telah halal syafaat dihari kiamat”.

    Hadits lainnya pada Shahih Muslim, dari hadits Ka;ab dari Alqamah, dari Abdurrahman bin Jubair, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, sungguh ia mendengar Nabi saw bersabda : Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkan seperti ucapan mereka, lalu bershalawatlah padaku, maka sungguh barangsiapa yg bershalawat padaku sekali maka Allah melimpahkan shalawat padanya 10x, lalu mohonlah untukku wasiilah (perantara), maka sungguh ia merupakan tempat di sorga, tiada diberikan pada siapapun kecuali satu dari hamba Allah, dan aku berharap agar akulah yg menjadi orang itu, maka barangsiapa yg memohonkan untukku perantara, halal untuknya syafaat.

    Dan hadits lainnya berkata Imam Ahmad, diucapkan pada kami oleh Abdurrazzak, dikabarkan pada kami dari sofyan, dari laits, dari Ka;ab, dari Abu Hurairah ra : Sungguh Rasulullah saw bersabda : Jika kalian shalat maka mohonkan untukku wasiilah, mereka bertanya : Wahai Rasulullah, (saw), wasiilah itu apakah?, Rasul saw bersabda : Derajat tertinggi di sorga, tiada yg mendapatkannya kecuali satu orang, dan aku berharap akulah orang itu
    Selesai ucapan Imam ibn Katsir. (Tafsir Imam Ibn Katsir pd Al Maidah 35)

    Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan Hadits hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.
    Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yang saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yang panjang menceritakan tiga orang yang terperangkap di goa dan masing – masing bertawassul pada amal shalihnya, Allah swt membuka sepertiga celah goa tempat mereka terperangkap berkat tawassul orang pertama pada amal shalihnya, namun mereka belum bisa keluar dg celah itu, maka orang kedua bertawassul pada amal shalih yg pernah diperbuatnya, maka celah terbuka 2/3 dan belum bisa membuat mereka keluar dari goa, maka orang ketiga bertawassul pula pada amal baiknya, maka terbukalah celah goa keseluruhannya.

    Namun dari riwayat ini bisa difahami bahwa tawassul pada amal shalih sendiri tidak bisa menyelamatkan dirinya, namun justru sebab dua orang lainnya maka mereka semua bisa selamat..
    Jelas sudah bertawassul pada orang lain lebih bisa menyelamatkan daripada tawassul pada amal sendiri yg belum tentu diterima, namun tawassul pada orang shalihh yg sudah masyhur kebaikan dan banyaknya amal ibadahnya, akan lebih mudah dikabulkan Allah swt, lebih lagi tawassul pada Rasulullah saw.
    Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yang diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra pada riwayat shahih Bukhari :

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
    كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

    Dari Anas bin Malik ra sungguh Umar bin Khattab ra ketika sedang musim kering ia memohon turunnya hujan dengan perantara Abbas bin Abdulmuttalib ra, seraya berdoa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami (Muhammad saw) agar kau turunkan hujan lalu Kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.954)
    Berkata Hujjatul Islam Al imam Ibn Hajar Al Asqalaniy mensyarahkan hadits ini :

    وَيُسْتَفَاد مِنْ قِصَّة الْعَبَّاس اِسْتِحْبَاب الِاسْتِشْفَاع بِأَهْلِ الْخَيْر وَالصَّلَاح وَأَهْل بَيْت النُّبُوَّة ، وَفِيهِ فَضْل الْعَبَّاس وَفَضْل عُمَر لِتَوَاضُعِهِ لِلْعَبَّاسِ وَمَعْرِفَته بِحَقِّهِ .

    .maka diambil faidah dari kejadian Abbas ra ini menjadi hal yg baik memohon syafaat pada orang orang yg baik dan shalih, dan keluarga Nabi saw, dan pada hadits ini pula menyebutkan keutamaan Abbas ra dan keutamaan Umar ra karena rendah dirinya, dan kefahamannya akan kemuliaan Abbas ra. (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Bab Al Jum;ah no.954)
    Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
    1 Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
    2 Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
    3 Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “demi Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra?, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.

    Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yang sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin Tuhan kami” (shahih Bukhari hadits No.5413, dan Shahih Muslim hadits No.2194), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yang dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya Allah swt.

    Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits No.1219, Mustadrak ala shahihain hadits No.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dengan syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas – jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yang mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yang membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yang mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

    Lalu muncullah pendapat saudara – saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.

    Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yang hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yang mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dengan doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada-Mu, dan Menghadap kepada-Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yang sama dengan riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dengan ku kesuatu tempat.
    Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa – apa pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).
    Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.
    Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yang sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw :
    “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits No.10.050)

    Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta Imam – imam besar Muhadditsin, bahkan Allahmemerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
    Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

    Tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yang tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dengan kematian, justru mereka yang membedakan bolehnya tawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang mati tak bisa memberi manfaat apa – apa kecuali karena Allah memuliakannya,

    Bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah??, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah??,
    Tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah swt. Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt.

    Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.

    Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas – jelas saudagar itu akan sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.

    Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan hajat si pengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT, entah apa yang membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.

    Saudara – saudaraku, boleh berdoa dengan tanpa perantara, boleh berdoa dengan perantara, boleh berdoa dengan perantara orang shalih, boleh berdoa dengan perantara amal kita yang shalih, boleh berdoa dengan perantara Nabi saw, boleh pada shalihin, boleh pada benda, misalnya “Wahai Allah Demi kemuliaan Ka’bah”, atau “Wahai Allah Demi kemuliaan Arafat”, dlsb, tak ada larangan mengenai ini dari Allah, tidak pula dari Rasul saw, tidak pula dari sahabat, tidak pula dari Tabi’in, tidak pula dari Imam Imam dan muhadditsin, bahkan sebaliknya Allah menganjurkannya, Rasul saw mengajarkannya, Sahabat mengamalkannya, demikian hingga kini.

  45. NU gawan bayi mengatakan:

    Anda tw ttng istighosah..?

    Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yg diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt,

    tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat, karena bila seseorang mengatakan ada perbedaan dalam kehidupan dan kematian atas manfaat dan mudharrat maka justru dirisaukan ia dalam kemusyrikan yang nyata,

    karena seluruh manfaat dan mudharrat berasal dari Allah swt, maka kehidupan dan kematian tak bisa membuat batas dari manfaat dan mudharrat kecuali dengan izin Allah swt, ketika seseorang berkata bahwa orang mati tak bisa memberi manfaat, dan orang hidup bisa memberi manfaat, maka ia dirisaukan telah jatuh dalam kekufuran karena menganggap kehidupan adalah sumber manfaat dan kematian adalah mustahilnya manfaat, padahal manfaat dan mudharrat itu dari Allah, dan kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi dengan kehidupan atau kematian.

    Sama saja ketika seorang berkata bahwa hanya dokter lah yang bisa menyembuhkan dan tak mungkin kesembuhan datang dari selain dokter, maka ia telah membatasi Kodrat Allah swt untuk memberikan kesembuhan, yang bisa saja lewat dokter, namun tak mustahil dari petani, atau bahkan sembuh dengan sendirinya.

    Terkadang kita tak menyadari bahwa kita lebih banyak mengambil manfaat dalam kehidupan ini dari mereka yang telah mati daripada yang masih hidup, sungguh peradaban manusia, tuntunan ibadah, tuntunan kehidupan, modernisasi dan lain sebagainya. Kesemua para pelopornya telah wafat, dan kita masih terus mengambil manfaat dari mereka, muslim dan non muslim, seperti teori Einstein dan teori – teori lainnya, kita masih mengambil manfaat dari yang mati hingga kini, dari ilmu mereka, dari kekuatan mereka, dari jabatan mereka, dari perjuangan mereka, Cuma bedanya kalau mereka ini kita ambil manfaatnya berupa ilmunya, namun para shalihin, para wali dan muqarrabin kita mengambil manfaat dari imannya dan amal shalihnya, dan ketaatannya kepada Allah.

    Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber-istighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405),

    juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits No.194, Shahih Bukhari hadits No.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yang Rasul saw menunjukkan ummat manusia ber istighatsah pada para Nabi dan Rasul, bahkan Riwayat Shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil – manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yang menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

    Maka hadits ini jelas – jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang – orang ber-istighatsah kepada manusia, dan Rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah diperbolehkan bahkan hingga dihari kiamat kepada para hamba yg dekat pada Allah di hari kiamat, dan ternyata dihari kiamat Istighatsah diizinikan Allah swt hanya untuk Sayyidina Muhammad saw.

    Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : “Sebut nama orang yg paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

    Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra yang mengajari hal ini.

    Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yang lari ke makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam – makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu,

    yang itu sebagai isyarat Illahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada-Nya swt, tubuh – tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan-Nya swt kepada mereka mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.

    mereka yang lari berlindung pada hamba – hamba Allah yang shalih mereka selamat, mereka yang lari ke masjid – masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang – orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat..

    Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan-Nya swt?, kenapa bukan orang yang hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

    Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin. Walillahittaufiq

    lalu pula didukung oleh hadits shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan lainnya dan dijelaskan oleh Imam ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa Rasul saw mengajarkan kita bersalam pada ahlulkubur.
    berkata Imam Ibn Katsir, ini menunjukkan ahlulkubur menjawab salam orang yg bersalam padanya, karena jika mereka tak mendengar maka tak dibenarkan bersalam pada benda mati, dan didukun riwayat shahih bahwa ahlilkubur senang dengan kedatangan para peziarah padanya.

    kesimpulannya saudaraku, meminta pada para wali Allah swt tidak syirik, apakah ia masih hidup atau telah wafat, karena kita tak meminta pada diri orang itu, kita meminta padanya karena keshalihannya, karena ia ulama, karena ia orang yg dicintai Allah

    maka hal ini tidak terlarang dalam syariah dg dalil yg jelas.

    namun kalau pribadi saya, saya lebih senang berdoa pada Allah, dengan mengambil perantara pada Rasulullah saw, karena beliau saw sudah jelas diterima oleh Allah swt perantaraannya bahkan hingga hari kiamat.

    saya sering berziarah pada shalihin dan para wali, tapi berdoa pada Allah, bukan meminta pada ahlilkubur, namun berdoa didepan jasad shalih mereka, disaksikan ruh mereka, insya Allah lebih cepat diijabah oleh Allah.

  46. NU gawan bayi mengatakan:

    so…aku ingin komentar Anda tentang shlawat badar sekarang,apakah syirik ..?Apakah Anda kira orang Nahdliyin tak berilmu,tak berdalil atau mungkin tak berakal.Anda harus ingat seblm ada wahyu akal itu nomer 1 kemudian wahyu Allah turunkan kpd para nabi dan Rasulnya,maka Wahyupun jadi no 1 akal nomer 2 untuk itu Anda perlu tahu bahwasanya Islam tak pernah mengesampingkan dalil akal,itulah knp Nahdliyyin bgt luwes di masyarakat krn km bisa berbaur dg masyarakat itu sendiri .Anda mungkin di lahirkan di kalangan Nahdliyin tp besar di salafy memahami Islam dari ulama2 Salafy wahabi toh selama Ada di lisan Anda kalimat syahadat kita ttp bersaudara.Salafy oh salafy knp kalian bgt keras kpd kami seolah2 kami tak berilmu seolah2 kami bukan saudara Anda semua..Mungkin Anda g prcy bahwa aq prnh melantunkan shalwat badar di luar negri di depan ulama 2 wahabi dari berbagai negara dan mereka begtu welcome dg shalawat badar,dari Pakistan,Afganistan,Mesir Kamerun Bangladesh dan yg lainnya ..Apakah Anda kira mereka tak berilmu tak tw bhs Arab…?? Knp aq merasakan bgt berbeda wahabi di luar negeri dg di Indonesia yg mengaku Salafy.Heran sungguh heran Aq berangan2 Khilafah Islam akan sgr bangkit di dunia dg bersatunya Islam dr semua golongan tanpa perbedaan Mahdzab ataupun manhaj dg mengesampingkan masalah khilafiyah Islam pasti kuat , tp knp ttp aja spt ini tak prnh bersatu,Anda mungkin tak sadar di kemudian hari ada seorang sahabt bershalawat badar trs di hampiri sahabat yg lain sembari berkata”Jangan bershalawat badar itu bid’ah ,bid’ah itu sesat dan yg sesat masuk neraka tanpa melihat atau memikirkan isi hati tmn yg sedang bershalawat ”karena bgt rendah ilmunya..dan Anda ttp enjoy ttp santai tanpa merasa bertanggung jawab atas perpecahan umat ini…Berfikirlah saudaraku ..?sungguh kami orang2 Nahdliyin rindu khilafah…

    kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda..

    wassalamu’alaykum…

  47. Bang Aziem mengatakan:

    A’udzu billahi an akuna minal jahilin…

    Ashlahallahu qalbaka, ya akhi… Semoga Allah membereskan hatimu, wahai saudaraku…

    Sy tdk akan mengomentari jawaban antum yg menggampangkan persoalan tawassul. Tawassul bkn masalah akidah ya akhi. Tawassul masuk ranah fiqih yg khilafiah.

    Yg saya maksud dgn bersikap fair adl spt kalimat hikmah ‘khudz al-amra bi qawabiliha – lihatlah persoalan dr segala sisinya’.

    Kalo antum memang blm baca kitab Ibnu Taymiyyah itu, maka antum memang blm fair. Dan sy kira, antum perlu membaca kitab Ibnu Taymiyyah dan kitab Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki yg judul Mafahim Yajibu an Tusshahhah (Pemahaman2 yg perlu Diluruskan). Buku itu mendapat apresiasi yg tinggi di kalangan para ulama dan pencari ilmu. Jadi, bacalah buku itu, jika antum pencari ilmu.

    Kemudian, bandingkan diri antum dgn ulama2 kelas dunia spt Imam as-Syaukani, Ibn Taymiyyah, Syaikh Abdul Wahhab (pendiri firqah Wahhabi), Hasan al-Bana, soal tawassul ini. Hebatnya, antum berseberangan dgn mereka.

    Sy ingin menuliskan pendapat2 mereka di sini, tentunya dgn bahasa arab asli, namun sy urungkan niat itu, krn sy msh percaya bahwa antum adl pencari ilmu, dan antum akan mencari rujukan2 lain, sehingga antum akan lebih fair dan antum akan lapang dada dgn segala perbedaan pendapat.

    Terakhir, sy bukan seorang Nahdiyyin, bukan seorang Salafi gadungan, bukan juga seorang wahhabi, juga bukan Syi’i, juga bukan orang yg ‘masuk angin’ (kena pengaruh) dr kelompok2 yg mudah mengkafirkan sesama Muslim.

    Maafkan tamu yg lancang ini, ya akhi…

    Ashlahallahu qalbak ya akhi…
    Wa a’udzu billahi an akuna minal jahilin…

  48. TheSalt Asin mengatakan:

    Nanti saya akan membahas yang berkaitan dengan Bid’ah, di Blog saya sendiri, biar suka-suka, tapi rencana ini nanti… bukan buat waktu dekat, soalnya butuh buku rujukan/penunjang. Dana buat beli bukunyapun mesti cari dulu……Eu …eu…h , kaburu kiamat atuh aki..wassalam

    thesaltasin’s Blog..(pokoke KLIK bae thesaltasin).

  49. TheSalt Asin mengatakan:

    EEEEhhh… lupa , kalo nggak salah baca = PUSTAKA LANGIT BIRU = itu kan, akan segera reses…. apa reset….atau ….resert… re…start…

  50. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Aziem…

    Sy tdk akan mengomentari jawaban antum yg menggampangkan persoalan tawassul. Tawassul bkn masalah akidah ya akhi. Tawassul masuk ranah fiqih yg khilafiah.”

    Saya ingat perkataan seperti ini disampaikan dalam salah satu prinsip Ushulul ‘Isyrin Syaikh Hasan al Banna. Tetapi yang dimaksud tawassul bukan ranah akidah itu ialah tata-cara tawassul yang benar. Tawassul tidak hanya dengan satu jalan saja, tetapi ada berbagai jalan. Misalnya, meminta doa orang shalih, tawassul dengan mengingati amalan shalih, dengan banyak-banyak menyebut Asmaul Husna, dengan melakukan shalat nawafil, dengan sedekah, dengan memberikan hewan qurban, dll. Semua itu bisa menjadi sarana tawassul yang syar’i.

    Nah, disana yang dimaksud tawassul bukan ranah akidah. Tetapi kalau tawassul dengan ruh para Nabi, dengan ruh arwah ahlul badar, dan yang semisal itu; hal tersebut sudah masuk ranah akidah. Buktinya sangat sederhana sekali: Mengapa kita harus berdoa seperti itu padahal kita bisa berdoa langsung ‘bypass’ kepada Allah? Pasti kita meyakini di hati, bahwa dengan cara seperti itu doa kita akan lebih makbul. Iya kan… Lalu apakah ada petunjuk syariat yang mengatakan bahwa doa lebih makbul dengan perantara ruh hamba-hamba Allah yang sudah wafat?

    Lagi pula Akhi… Jangankan tawassul, dalam urusan-urusan seperti makan-minum, menikah, menyembelih hewan, bersedekah, dll. juga bisa masuk ranah akidah, kalau NIAT-nya didedikasikan untuk para thaghut (sesembahan selain Allah). Para ulama pasti tahu bahwa niat itu menentukan diterimanya amal seseorang.

    Insya Allah ana tidak berseberangan dengan ulama-ulama itu. Tawassul yang antum sebut masuk arena fikih, bukan akidah itu, ialah dalam KAIFIYAH-nya. Jadi disana ada banyak jalan yang sesuai syar’i. Setiap orang boleh menempuh jalan yang lebih disukainya, asalkan sesuai syar’i. Kalau bertentangan dengan akidah, pasti para ulama akan mengharamkannya. Itu pasti.

    Mohon Antum jangan “menjudgement” bahwa seolah ana berseberangan dengan ulama2 tersebut. Ini tidak fair ya Akhi. Antum tunjukkan lah sisi mana ana berseberangannya. Kalau dengan Syaikh Alawi al Maliki, ya kemungkinan ada perbedaan itu. Sebab beliau sangat giat dalam membela amal-amal seperti itu.

    Wa ashlahallahu qalbaka aidhan ya Akhi. Amin Allahumma amin.

    AMW.

  51. NU gawan bayi mengatakan:

    Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat

  52. Bang Aziem mengatakan:

    Assalamu alaykum,

    Ana tdk men-judge antum bhw antum berseberangan dgn Ibnu Taymiyyah, Imam as-Syaukani, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dll. Antum sendiri yg memposisikan diri antum spt itu. Beberapa pernyataan antum justru menunjukkan hal itu. Coba perhatikan pernyataan antum:

    “Dapat disimpulkan, tawasul kepada arwah manusia yang sudah wafat, TIDAK DIBUTUHKAN sama sekali”.

    Baiklah, karena antum blm membaca buku Mafahim Yajibu an Tushahhah (Pemahaman-pemahaman yang Harus Diluruskan) karya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dan sepertinya antum kurang simpatik dgn beliau (karena ketidaktahuan antum, padahal buku ini bisa menjadi pembanding dan menambah wawasan keilmuan), maka ana akan menjawab pernyataan antum dgn pernyataan Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah rahimahullah, yg dikutip oleh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dlm buku itu. Dgn begitu, antum mendapatkan dua sumber rujukan. Sbb:

    مشروعية التوسل على طريقة الشيخ ابن تيمية
    يقول الشيخ ابن تيمية فى كتابه قاعدة جليلة فى التوسل والوسيلة عند الكلام على قوله تعالى: يا أيها الذين آمنوا اتقوا لله وابتغوا إليه الوسيلة/المائدة 35): فابتغاء الوسيلة إلى الله بالإيمان بمحمد واتباعه، وهذا التوسل بالإيمان به وبطاعته فرض على كل أحد فى كل حال باطنا وظاهرا، فى حياة رسول الله وبعد موته، فى مشهده ومغيبه.

    Spy tambah jelas lagi, ana tambahkan pernyataan Imam as-Syaukani rahimahullah:
    أن التوسل به صلى الله عليه وسلم يكون فى حياته وبعد موته، وفى خضرته ومغيبه، ولا يخفى عليك أنه قد ثبت التوسل به صلى الله عليه وسلم فى حياته، وثبت التوسل بغيره بعد موته بإجماع الصحابة إجماعا سكوتيا؛ لعدم إنكار أحد منهم على عمر رضي الله عنه فى توسله بالعباس رضي الله عنه.

    Sekarang, bandingkan 2 pernyatan yg ditulis dlm bahasa Arab di atas dgn pernyataan antum. Berseberangan atau tidak? hehehe…

    Dalam pernyataan lain, antum juga berkata:

    –>> Misalnya ada orang bertawasul dengan Rasulullah, dengan para Nabi, dengan para mujahidin Ahlul Badar. Kita merasa tak yakin doa kita akan diterima oleh Allah, lalu meminta perantara kepada arwah hamba-hamba Allah yang sudah meninggal itu. …justru cara demikian akan membuat doa kita tidak akan diterima. Mengapa? Sebab belum apa-apa kita sudah merasa kalau doa kita tak bakalan diterima. Kan dalam hadits qudsiy ada firman Allah berikut: “Ana ‘inda zhanni ‘abdi biy” (Aku mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku). Kalau Anda sebelum berdoa sudah tak yakin akan diterima, doa Anda meskipun sudah bertawasul dengan siapapun, pasti tidak akan diterima. Wong, Anda sendiri saja sudah tak yakin kok, bagaimana akan berharap arwah-arwah itu bisa membantu?

    Baiklah, karena ana masih ingin bagi-bagi wawasan dgn antum, maka ana tambahkan lagi sebuah ibarat dalam kitab Bughyat al-Musytarsyidin yg menjawab pernyataan antum di atas. Perhatikan baik-baik ibarat-nya, sbb:
    التوسل بالأنبياء والأولياء فى حياتهم وبعد وفاتهم مباح شرعا، كما وردت السنة الصحيحة، كحديث آدم عليه السلام حين عصى، وحديث من اشتكى عينيه، وأحاديث الشفاعة، والذى تلقيناه عن مشايخنا وهم عن مشايخم وهلم جرا، أن ذلك جائز ثابت فى أقطار البلاد وكفى بهم أسوة، وهم الناقلون لنا الشريعة، وما عرفنا إلا بتعليمهم لنا، فلو قدّرنا أن المتقدمين كفروا كما يزعمه هؤلاء الأغبياء لبطلت الشريعة المحمدية، وقول الشخص المؤمن يا فلان عند وقوعه فى شدة داخل فى التوسل بالمدعو إلى الله تعالى وصرف النداء إليه مجاز لا حقيقة، فالمسؤول فى الحقيقة هو الله تعالى.

    Setelah antum baca 3 kutipan asli di atas, bagaimana pendapat antum? Di mana posisi antum sebenarnya? Berseberangan atau tidak dengan mereka yg lebih alim, ikhlas, dan bermanfaat ilmunya?

    Silakan antum simpulkan sendiri.

    O ya, alhamdulillah, antum masih ingat salah satu kaidah Ushulul Isyrin Hasan al-Banna. Syukurlah antum masih ingat. Oleh karena itu, ana akan tuliskan lagi kaidah itu dalam bahasa aslinya, supaya ana tambah yakin bahwa yg antum maksudkan sama dgn apa yang dikatakan Hasan al-Banna, yaitu:

    الأصل الخامس عشر: والدعاء إذا قرن بالتوسل إلى لله تعالى بإحد من خلقه خلاف فرعي فى كيفية الدعاء وليس من مسائل العقيدة.

    Karena Ushulul Isyrin banyak yg men-syarah, maka terhadap kaidah ini, syarah siapa yang antum jadikan landasan?

    Akhi Abi Syakir alias AMW,
    Cukuplah apa yg saya tulis sebagai pembanding dan pembuka wawasan kita bersama. Ana maklum jika antum masih belum sreg dengan kutipan-kutipan pembanding di atas. Bisa jadi, selama ini antum lebih sering membaca (dan terkontaminasi) tulisan-tulisan dari Saudi Arabia, dan antum menganggap bahwa yg namanya ulama adalah yg berasal dari Saudi, dan tulisan-tulisan itu banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit2 yg didanai dari sana.

    Jika ana boleh menyarankan, bacalah tulisan-tulisan ulama dari Mesir, Syiria, Maroko, Qatar, dsb. Antum akan menemukan perspektif keilmuan yang lebih dinamis jika antum mau memperkaya wawasan antum dgn tulisan-tulisan mereka.

    Ashlahallahu qulubana wa quluba jami’a qari’in fi hadzal amri…
    Wa a’udzu billahi an akuna minal jahilin…

    Wassalam,
    Saudaramu,
    Al-Haqir al-Ajhal Bang Aziem

  53. NU gawan bayi mengatakan:

    Se iman…sip kang Aziem

  54. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Aziem…

    Dikutip oleh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dlm buku itu, isi teks pernyataan dari Ibnu Taimiyyah sbb.:

    مشروعية التوسل على طريقة الشيخ ابن تيمية
    يقول الشيخ ابن تيمية فى كتابه قاعدة جليلة فى التوسل والوسيلة عند الكلام على قوله تعالى: يا أيها الذين آمنوا اتقوا لله وابتغوا إليه الوسيلة/المائدة 35): فابتغاء الوسيلة إلى الله بالإيمان بمحمد واتباعه، وهذا التوسل بالإيمان به وبطاعته فرض على كل أحد فى كل حال باطنا وظاهرا، فى حياة رسول الله وبعد موته، فى مشهده ومغيبه.

    Komentar:

    Terjemahan teks di atas kurang lebih sebagai berikut: “Tawasul disyariatkan menurut jalan Syaikh Ibnu Taimiyyah. Berkata Syaikh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Qa’idah Jaliyyah fit Tawassul wal Wasilah ketika mengomentari Kalam Allah Ta’ala, ‘Wahai orang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan kepada-Nya’, Surat Al Maa’idah ayat 35′. Mencari jalan kepada Allah adalah dengan IMAN kepada Muhammad Saw dan mengikutinya. Dan ini adalah tawassul dengan iman kepadanya (kepada Nabi Saw) dan mentaatinya, diwajibkan atas setiap orang, dalam setiap kesempatan, secara lahir dan bathin, selama Rasulullah hidup maupun sesudah wafatnya, dalam kehadiran beliau maupun saat ghaibnya (tidak ada di hadapan).”

    Dalam teks ini sangat jelas, bahwa Tawassul dengan Nabi Saw ialah dengan MENGIMANI BELIAU, MENTAATINYA, dalam segala keadaan dan tempat. Atau dengan kata lain, MENGIKUTI SUNNAH BELIAU dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun. Hal ini sama sekali tidak berbeda dengan kewajiban mengikuti Sunnah Nabi Saw yang banyak dibahas di berbagai tempat lain (di luar pembahasan tawassul).

    Lalu dimana bukti bahwa, Syariat Islam mengajarkan kita agar tawassul dengan ruh Nabi Saw agar doa kita lebih diijabah oleh Allah Ta’ala? Tidak ada ajaran seperti itu. Tidak ada dalam Kitabullah maupun As Sunnah shahihah. Kalau ada, tunjukkan wahai Akhi?

    Ayat Al Maa’idah 35 itu sering jadi dalil diperbolehkannya melakukan tawasul. Lalu Ibnu Taimiyyah memberikan penjelasan yang jelas dalam teks yang Antum sebutkan itu. Bahwa tawassul disana ialah: Iman kepada Nabi dan mengikuti jalan beliau, kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun.

    AMW.

  55. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Aziem…

    Spy tambah jelas lagi, ana tambahkan pernyataan Imam as-Syaukani rahimahullah:
    أن التوسل به صلى الله عليه وسلم يكون فى حياته وبعد موته، وفى خضرته ومغيبه، ولا يخفى عليك أنه قد ثبت التوسل به صلى الله عليه وسلم فى حياته، وثبت التوسل بغيره بعد موته بإجماع الصحابة إجماعا سكوتيا؛ لعدم إنكار أحد منهم على عمر رضي الله عنه فى توسله بالعباس رضي الله عنه. Sekarang, bandingkan 2 pernyatan yg ditulis dlm bahasa Arab di atas dgn pernyataan antum. Berseberangan atau tidak? hehehe…

    Komentar:

    Terjemahan teks yang disebutkan di atas: “Bahwa tawassul dengan Nabi Saw yaitu ketika beliau hidup dan setelah wafatnya, dalam kehadiran beliau maupun saat ghaibnya (tidak hadir), dan tidak tersembunyi bagimu bahwa telah teguh at tawassul dengan Nabi Saw saat beliau hidup, dan telah teguh at tawasul dengan selainnya (selain Nabi Saw) sesudah beliau wafat, hal ini disepakati dengan ijma’ para Shahabat dengan ijma’ yang kuat, dengan meniadakan pengingkaran dari mereka, ketika Umar Ra melakukan tawassul dengan Al Abbas Ra.”

    Akhil karim….
    Teks di atas tidak memberi dalil bahwa seorang Muslim boleh tawasul dengan ruh Nabi Saw atau ruh yang lain, setelah mereka wafat, agar doanya lebih dikabulkan Allah Ta’ala. Tidak ada hujjah demikian dari teks tersebut, dan tidak ada sisi pendalilannya.

    Menurut As Syaukani rahimahullah, tawassul dengan Nabi Saw disyariatkan, baik saat beliau masih hidup maupun sesudah meninggal. Lalu apakah caranya, dengan tawassul dengan ruh beliau agar doa kita dikabulkan? Apakah As Syaukani menyebutkan hal itu? Mana buktinya?

    Tawassul dengan Nabi saat beliau masih hidup antara lain dengan: meminta doa beliau, meminta doa keberkahan dari beliau, mentaati beliau, membuat hati beliau ridha kepadanya, meminta beliau memohonkan ampunan untuknya, meminta beliau hal-hal yang diridhainya, dll.

    Tawassul dengan Nabi setelah beliau wafat: mengikuti sunnah-nya, mentaati perintahnya, menjauhi larangannya, membaca shalawat untuknya, mencintainya, merindukan bertemu dengannya, dan yang semisal itu. Hal-hal demikian masih serupa dengan pandangan Ibnu Taimiyyah pada teks sebelumnya.

    Lalu sebelah mana dalil pembolehan tawassul dengan berdoa dan menjadikan ruh beliau sebagai perantara agar doa kita lebih dikabulkan? Coba Antum sebutkan dalilnya, buktinya, dari pandangan As Syaukani tersebut!

    Syukran jazakallah khair.

    AMW.

  56. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Aziem….

    O ya, alhamdulillah, antum masih ingat salah satu kaidah Ushulul Isyrin Hasan al-Banna. Syukurlah antum masih ingat. Oleh karena itu, ana akan tuliskan lagi kaidah itu dalam bahasa aslinya, supaya ana tambah yakin bahwa yg antum maksudkan sama dgn apa yang dikatakan Hasan al-Banna, yaitu:

    الأصل الخامس عشر: والدعاء إذا قرن بالتوسل إلى لله تعالى بإحد من خلقه خلاف فرعي فى كيفية الدعاء وليس من مسائل العقيدة.

    Karena Ushulul Isyrin banyak yg men-syarah, maka terhadap kaidah ini, syarah siapa yang antum jadikan landasan?

    Komentar: Terjemahan dari teks Ushul ‘Isyrin Syaikh Hasan al Bana ke-15: “Dan doa jika diucapkan dengan tawassul kepada Allah Ta’ala dengan perantara makhluk-Nya merupakan khilaf cabang dalam masalah kaifiyah (tata-cara) berdoa, bukan merupakan masalah akidah.”

    Wah…gimana ya, saya merasa repot juga menghadapi Antum. Sebab Antum sudah kadung apriori ingin mementahkan argumen2 yang saya sampaikan.

    Baik saya komentari lagi teks dari Ushul ‘Isyrin pada prinsip ke-15 tersebut…

    Menurut Syaikh Hasan al Bana, berdoa kepada Allah dengan perantara makhluk-Nya, termasuk persoalan tata-cara berdoa, bukan soal akidah. Hal ini juga sudah saya sampaikan dalam jawaban yang lalu. Tetapi Antum selalu membawa ke arah perselisihan seperti ini.

    Akhi, yang dimaksud dengan “dengan perantara makhluk-Nya” itu tidak disebutkan dengan perantara ruh-ruh orang yang sudah wafat. Bisa saja, hal itu dilakukan dengan: memohon doa kepada yang masih hidup, tawassul dengan amal shalih, tawassul setelah membaca shalawat, tawassul setelah membaca Al Qur’an, tawassul setelah Qiyamul Lail, dll. Dengan amal-amal yang bisa kita lakukan, dan dilakukan orang lain. Tetapi tidak disebutkan, bahwa tawassul itu dengan ruh orang yang sudah wafat, agar doa kita lebih maqbul.

    Misalnya ada orang beramal shalih, lalu kita memohon kepada Allah, agar dengan keridhaan Allah terhadap orang yang beramal shalih itu, Dia berkenan menerima doa-doa kita. Ini boleh saja. Maka itu Khalifah Umar bin Khattab Ra. menyarankan kepada para Shahabat agar meminta doa kepada Uwais Al Qarni Ra, karena laki-laki itu sangat baik kepada ibunya.

    SINGKAT KATA: tawassul itu boleh dilakukan, bahkan ada landasan syar’inya. Tetapi bukan asal tawassul, namun tawassul yang syar’i, yang lurus dan berkah. Bukan tawassul yang bisa menjerumuskan manusia kepada syirik.

    Lalu sisi mana yang Antum anggap menyimpang dari pemahaman ini?

    AMW.

  57. Bang Aziem mengatakan:

    Sabarrrrr ya akhi… :)

    Sekarang saya makin tau bhw saya sedang berhadapan dengan orang yang jahil. Apa yg saya sampaikan barulah sebagian pendapat Ibnu Taymiyyah, as-Syaukani, dll.

    Membaca terjemahan terjemahan antum yg kaku, sepertinya antum minta bantun Mbah Google untuk menerjemahkannya, hehehehe… Gak apa2.. itu artinya antum sudah tawassul kecil2an, hehehe… Maafkan kalo saya underestimate… :)

    Bagaimana dgn pernyataan dlm Kitab Bughyatul Mustarsyidin? Kok blm antum terjemahkan? Pernyataan dalam kitab itu sangat penting utk antum ketahui.

    Sy yakin antum memang belum membaca Kitab Ibn Taymiyyah secara keseluruhan dan kitab2 yg saya sebutkan di atas.

    Apa yg antum sampaikan dlm forum ini adl PENDAPAT ANTUM PRIBADI, bukan mewakili pendapat para ulama ttg tawassul, termasuk komentar antum thd Ushul Isyrin al-Banna. Kan saya tanya, syarah siapa yg antum pakai thd ushul itu? Ternyata antum yg men-syarah sendiri, hehehe…

    Sebagai tuan rumah, tentu saja antum berhak bicara apapun. Sebagai tamu, saya perlu menunjukkan adab yg baik dan tdk boleh berlaku kurang ajar di rumah antum. Jika antum kurang berkenan dgn silaturrahim saya, mohon dimaafkan. Insya Allah, silaturrahim saya bukan untuk menghakimi saudara saya yg berbeda penafsiran dgn saya.

    Ya akhi Abi Syakir aw AMW, ya man huwa afdholu minni fil ilmi wal amal… aslahallahu qalbahu…

    Saya hanya bisa berkata: Idza qara’ta qawla Ibn Tayymiyyah fi ba’dhil mawadhi’i fi kutubihi, lawajadta anna qod atsbata jawazu at-tawassuli bin nabiyyi, duna tafriqin aw tafshilin bayna hayatihi wa mawtihi, wa khudhurihi wa ghayabihi, wa naqala an al-Imam Ahmad wa al-Izz ibni Abdissalam an jawazi dzalika.

    Wa amma tawassulu bi ruhin nabbiy, faqra’ an tawassuli Adam binnabiy qobla wujuduhi. Wa dzakara Syaikhul Islam Ibnu Tayymiyyah fi hadzal mawdhu’i haditsayni wa awradahuma mustasyhidan bihima. Fa hal yajhalu Syaikhul Islam, wa huwa al-muhadditsul arifu bi ushulil hadits?

    Fal an, anshahtuka ya akhi, an taqra’a kitab ad-durr an-nadhid fi ikhlashi kalimatit tawhid lil Imam as-Syawkani kamilan, wa kitab Syaikhil Islam, thab’an, wa qawla Syaikh Muhammad ibni Abdil Wahhab hina su’ila fi hukmi qowli al-Buhshiri hina qola: ya akromal kholqi, wa buhutsal lati hiya a’dalu wa ahkamu wa aslamu.

    Wa akhiran, la qod shodaqallahu ta’ala haytsu qola: wa idza khothobahum al-jahiluna qolu: salaman…

    Wassalamu alaykum…

    Akhukum al-Haqir al-Ajhal,
    Bang Aziem

  58. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Aziem…

    Sekarang saya makin tau bhw saya sedang berhadapan dengan orang yang jahil. Apa yg saya sampaikan barulah sebagian pendapat Ibnu Taymiyyah, as-Syaukani, dll.

    Membaca terjemahan terjemahan antum yg kaku, sepertinya antum minta bantun Mbah Google untuk menerjemahkannya, hehehehe… Gak apa2.. itu artinya antum sudah tawassul kecil2an, hehehe… Maafkan kalo saya underestimate… :)

    Kalau antum seorang alim, tidak pantas mengucap kata-kata kotor seperti itu. Bejidal-lah secara ihsan, seperti yang disyariatkan Al Qur’an. Saya tidak memakai google. Tetapi tidak ada gunanya saya sampaikan soal teknis menerjemahkan itu kepada orang yang sudah dibakar amarah.

    Bagaimana dgn pernyataan dlm Kitab Bughyatul Mustarsyidin? Kok blm antum terjemahkan? Pernyataan dalam kitab itu sangat penting utk antum ketahui. Sy yakin antum memang belum membaca Kitab Ibn Taymiyyah secara keseluruhan dan kitab2 yg saya sebutkan di atas.

    Saya tidak tahu kitab apa itu dan siapa penulisnya. As Syaukani saya tahu, begitu juga Ibnu Taimiyyah. Lalu buat apa saya komentar kepada ulama yang tidak saya kenali? Antum paham…

    Sudah saya katakan, saya belum pernah membaca Kitab Qaidah Jaliyyah Ibnu Taimiyyah itu… Lalu saya harus berbuat apa? Kalau Anda mau, boleh kirimkan e-book nya. Mudah-mudahan bermanfaat. Amin.

    Apa yg antum sampaikan dlm forum ini adl PENDAPAT ANTUM PRIBADI, bukan mewakili pendapat para ulama ttg tawassul, termasuk komentar antum thd Ushul Isyrin al-Banna. Kan saya tanya, syarah siapa yg antum pakai thd ushul itu? Ternyata antum yg men-syarah sendiri, hehehe…

    Saya sudah katakan, saya tahu kalimat itu dari Ushul Isyrin. Tetapi belum tentu saya setuju dengan pandangan Syaikh Hasan al Banna. Itu harus Antum catat dengan baik. Saya termasuk menolak tawassul dengan arwah manusia yang sudah meninggal. Tidak peduli siapapun yang punya pendapat seperti itu.

    Kalau syarah saya tidak seperti syaikh Al Banna tidak masalah. Toh, sejak awal saya katakan, saya mendengar ungkapan itu dari ushulul isyrin. Bukan dalam arti saya membenarkan apapun dalam kaidah itu. Apalagi kalau tafsirnya tidak seperti konsep tawassul yang saya yakini.

    Sebagai tuan rumah, tentu saja antum berhak bicara apapun. Sebagai tamu, saya perlu menunjukkan adab yg baik dan tdk boleh berlaku kurang ajar di rumah antum. Jika antum kurang berkenan dgn silaturrahim saya, mohon dimaafkan. Insya Allah, silaturrahim saya bukan untuk menghakimi saudara saya yg berbeda penafsiran dgn saya.

    Masya Allah, ternyata Antum masih ingat ya kalau saya “tuan rumah”. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Saya sudah berusaha bersikap adab, tetapi antum malah menuduh saya menerjemahkan dengan google dan lain-lain. Itukah yang namanya adab Akhi di kalangan Antum? Allahu Akbar…

    Saya hanya bisa berkata: Idza qara’ta qawla Ibn Tayymiyyah fi ba’dhil mawadhi’i fi kutubihi, lawajadta anna qod atsbata jawazu at-tawassuli bin nabiyyi, duna tafriqin aw tafshilin bayna hayatihi wa mawtihi, wa khudhurihi wa ghayabihi, wa naqala an al-Imam Ahmad wa al-Izz ibni Abdissalam an jawazi dzalika.

    Iya dalam teks ibnu taimiyyah itu sudah disebut, BOLEH. Tapi dengan mengimani dan mentaati beliau. Apa dalam kitab Qaidah Jaliyyah itu disebut, boleh tawassul dengan ruh Nabi Saw, agar doa kita lebih makbul? Tolong dong antum jawab itu, jangan berputar2 terus.

    Mengapa saya keukeuh dengan pendapat ini? Sebab dalam salah satu pembatal keislaman disebutkan, bahwa salah satu faktor yang bisa membuat batal iman seorang Muslim, ialah membuat perantara antara dirinya dengan Allah Ta’ala dalam ibadah kepada-Nya.

    Wa amma tawassulu bi ruhin nabbiy, faqra’ an tawassuli Adam binnabiy qobla wujuduhi. Wa dzakara Syaikhul Islam Ibnu Tayymiyyah fi hadzal mawdhu’i haditsayni wa awradahuma mustasyhidan bihima. Fa hal yajhalu Syaikhul Islam, wa huwa al-muhadditsul arifu bi ushulil hadits?

    Saya pernah membaca pembahasan riwayat ini. Ada yang menolaknya. Tetapi saya lupa sumbernya darimana. Yang jelas, keshahihan hadits tawassul dengan Nabi Saw itu tidak bisa diterima. Itu sementara yang saya yakini.

    Lagi pula, saat itu kan Nabi Saw belum hidup. Karena belum juga diciptakan ke dunia. Sedangkan pembahasan kita adalah tawassul dengan ruh yang sudah wafat.

    Fal an, anshahtuka ya akhi, an taqra’a kitab ad-durr an-nadhid fi ikhlashi kalimatit tawhid lil Imam as-Syawkani kamilan, wa kitab Syaikhil Islam, thab’an, wa qawla Syaikh Muhammad ibni Abdil Wahhab hina su’ila fi hukmi qowli al-Buhshiri hina qola: ya akromal kholqi, wa buhutsal lati hiya a’dalu wa ahkamu wa aslamu.

    Begini sajalah, sebagai bagian dari amanah ilmiah, agar tidak terkesan forum ini hanya dari satu arah, ana sendiri. Silakan Antum ana berikan hak khusus untuk membahas tawassul menurut Imam Ibnu Taimiyyah, Imam As Syaukani, dan Imam Ibnu Abdul Wahhab. Silakan antum tulis baik-baik. Tulisan sedang saja, jangan terlalu panjang, jangan pula terlalu pendek. Sudah antum kirim ke langitbiru1000@gmail.com. Ini saya anggap sebagai hak jawab Antum. Begitu saja.

    Wa akhiran, la qod shodaqallahu ta’ala haytsu qola: wa idza khothobahum al-jahiluna qolu: salaman…

    Ya saya terima perkataan Antum. Semoga menjadi nasehat bagi saya. Dan disini tak mengapa saya anggap antum sebagai Ibadurrahman, dan saya sebagai orang jahil.

    Semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahanku. Amin ya Ghafuur.

    AMW.

  59. Bang Aziem mengatakan:

    Alhamdulillah…
    Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan yang KITA KETAHUI MAUPUN YANG TIDAK KETAHUI…

    Akhi al-Fadhil,
    Saya tdk akan meneruskan diskusi ini, apalagi mengirimkan antum jawaban lewat email pribadi. Ini kan diskusi umum.

    Dari awal saya hanya ingin agar ada keseimbangan pandangan. Bukan hanya itu, demi amanah ilmiah untuk jidal yg hasan (berdebat yg baik), saya menyertakan beberapa referensi pembanding. Antum malah tdk menyertakan referensi, kitab apa dan penulisnya siapa? Ayyul ahsanu, ya akhi? Mana yg lebih baik, wahai saudaraku, antum atau saya? Jika antum terbiasa membaca kitab2 berbahasa Arab, pasti antum tdk akan kesulitan menemukan referensi pembanding.

    Soal hadits yg dikutip Ibnu Taymiyyah yg antum katakan tidak bisa diterima, maka jawabannya ada dalam kitab itu. Yg mengutip hadits itu Ibnu Taymiyyah lho. Kalo hadits itu batil, mungkinkan orang sekelas Ibnu Taymiyyah menjadikan landasan tawassul dengan ruh Nabi?

    Saudaraku AMW yg dirahmati Allah,
    Kalo saya terus menjawabnya, saya kuatir terjerumus mengikuti hawa nafsu saya demi mengalahkan antum. Padahal, tujuan saya bukan itu. Bukankah pada akhir komentar selalu saya katakan bhw saya adl saudara antum? Juga saya katakan bhw saya adl al-Haqir al-Ajhal (yang hina dan paling bodoh)? Bukankah sdh saya katakan bahwa bahwa antum lebih utama dari saya dlm soal ilmu dan amal (afdholu minni fil ilmi wal amal?) Cukuplah itu menjadi tanda bhw yg saya tulis bukan untuk merendahkan antum selaku tuan rumah.

    Saya hanya ingin antum lebih membuka wawasan, wahai saudaraku. Hal ini karena kecintaan saya kpd orang spt antum yang sedang haus mencari ilmu,atau bisa jadi antum sedang berada di persimpangan jalan. Sy tdk ingin antum mengalami gegar-wawasan.
    Soal kekuatiran antum ttg syirik yg terjadi dgn tawassul di negeri kita, tdk perlu antum risaukan, ya akhi. Justru yg perlu kita kuatirkan adl yg terjadi di negara Saudi Arabia. Jika antum pernah tinggal dan belajar di Saudi, antum akan temukan bahaya yg lebih besar dari syirik. Wal iyadzu billah…

    Saudaraku,
    Bukankah salah satu kaidah bagi penuntut ilmu adalah rihabatus shadri fi masailil khilafi? Lagi pula, soal khilaf spt ini sdh terjadi di antara orang2 yg lebih baik dari kita, wahai saudaraku. Apalah artinya kita, ya akhi…

    Soal buku Bughyatul Mustarsyidin, sayang sekali antum tdk mengenal penulisnya. Sayang sekali, dgn alasan antum tdk mengenalnya, antum tdk memperhitungkan pendapatnya. Mungkin selama ini antum lebih akrab dgn terjemahan tulisan2 Utsaymin, Salih Fauzan, Abdullah bin Baz, dan ulama2 Saudi lainnya, atau Taqiyyuddin an-Nabhani, pengusung Khilafah.

    Buku Bughyatul Mustarsyidin ditulis seorang alim besar bernama Sayyid Abdurrahman Ba Alawi. Buku ini dicetak di dunia Islam dan Timur Tengah. Penerbit Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, jg ikut mencetaknya.

    Oya, masih ada kaitannya dg tawassul, kalo boleh sy beri info, bacalah juga buku La Zara’ia li Hadmi Atsarin Nabawiyyah, yg ditulis oleh Dr Umar Kamil, warga asli Saudi. Buku itu adl debat beliau sendiri dng ulama2 besar Saudi. Buku itu diterbitkan di Kairo, krn di Saudi di-bredel. Antum akan temukan dlm kitab itu, orang2 yg mengeroyok Umar Kamil, pendapatnya terpatahkan. Padahal, Dr Umar Kamil adl sarjana ekonomi Islam. Nampaknya, sebagian ulama Saudi tdk terima dgn buku ilmiah itu.

    Ala kulli hal, semoga Allah swt. memberi ganjaran pahala bg orang2 yg ingin mencari ilmu atas dasar ridha-Nya, bukan atas dasar untuk mendebat para ulama, atau menggiring opini publik dgn opini kelompoknya, sebagaimana yg disabdakan Rasulullah saw.

    Hadanallah wa iyyakum…

    Wassalam,
    Akhukum fil birri wat taqwa,
    al-Haqir al-Ajhal Bang Aziem

  60. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Aziem…

    [Alhamdulillah… Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan yang KITA KETAHUI MAUPUN YANG TIDAK KETAHUI…]

    Amin Allahumma amin.

    [Akhi al-Fadhil, Saya tdk akan meneruskan diskusi ini, apalagi mengirimkan antum jawaban lewat email pribadi. Ini kan diskusi umum].

    Lho, kan Antum menyalahkan saya karena itu. Maka ya silakan Antum sampaikan disini, kalau Antum bersikap adil. Oke, saya akui tidak mengkaji kitab2 yang Antum sampaikan itu. Maka karena Antum sudah membahas, silakan ditulis, nanti akan ana muat tanpa editing, agar Ummat melihat sendiri apa yang Antum tulis itu. Ibaratnya, Antum dipersilakan menanam tanaman yang Antum sukai di kebun orang. Itu sebuah kehormatan Akhi, idza fahimta.

    [Dari awal saya hanya ingin agar ada keseimbangan pandangan. Bukan hanya itu, demi amanah ilmiah untuk jidal yg hasan (berdebat yg baik), saya menyertakan beberapa referensi pembanding. Antum malah tdk menyertakan referensi, kitab apa dan penulisnya siapa? Ayyul ahsanu, ya akhi? Mana yg lebih baik, wahai saudaraku, antum atau saya? Jika antum terbiasa membaca kitab2 berbahasa Arab, pasti antum tdk akan kesulitan menemukan referensi pembanding].

    Tidak mengapa Akhi antum memberikan pembanding. Itu boleh sekali. Wong ini media diskusi kita kok… Maka di blog ini ana tidak menghapus komentar/hujjah orang yang berlainan pendapat dengan ana. Selama masih sopan dan tidak menjurus kasar (sarkastik).

    Sebenarnya, pandangan ana juga didasari referensi. Sebab hal itu tercermin dari bahan2 yang ana baca juga. Hanya saja, ana tidak selalu ingat secara persis bahan mana saja yang dipakai disini. Karena kesempatan membaca itu kadang dimana-mana, tidak mengenal waktu dan tempat (kecuali di kamar mandi). Jadi mohon maaf bila tidak selalu tepat menyebut referensinya. Minimal saya membaca Kitabullah, kitab hadits, dan tafsir Ibnu Katsir.

    Untuk topik diskusi kita ini, tadi saya googling, dan mendapat beberapa referensi yang cukup baik, yaitu sebagai berikut:

    1. Hukum Berdoa dengan Tawassul (menurut para asatidz pesantrenvirtual.com yang pandangannya mirip Antum).

    Link: http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/mozaik-fiqih/1085-hukum-berdoa-dengan-tawassul

    2. Tinjauan Hadits Nabi Adam Bertawasul (karya Ustadz Muhammad Abidun Zuhri, Lc).

    Link: http://slimsalabim.net/tinjauan-hadits-nabi-adam-bertawasul/#_ftn4

    3. Tawasul dengan Orang Mati (bagian I)

    Link: http://www.almanhaj.or.id/content/2757/slash/0

    4. Tawasul dengan Orang Mati (bagian II)

    Link: http://www.almanhaj.or.id/content/2758/slash/0

    Beberapa artikel ini cukup merangkum sebagian pandangan yang terkait dengan diskusi ini. Meskipun tentu tidak merangkum seluruhnya. Setidaknya bisa ada pembanding, seperti yang Antum katakan.

    [ Saudaraku AMW yg dirahmati Allah, kalo saya terus menjawabnya, saya kuatir terjerumus mengikuti hawa nafsu saya demi mengalahkan antum. Padahal, tujuan saya bukan itu. Bukankah pada akhir komentar selalu saya katakan bhw saya adl saudara antum? Juga saya katakan bhw saya adl al-Haqir al-Ajhal (yang hina dan paling bodoh)? Bukankah sdh saya katakan bahwa bahwa antum lebih utama dari saya dlm soal ilmu dan amal (afdholu minni fil ilmi wal amal?) Cukuplah itu menjadi tanda bhw yg saya tulis bukan untuk merendahkan antum selaku tuan rumah.

    Saya hanya ingin antum lebih membuka wawasan, wahai saudaraku. Hal ini karena kecintaan saya kpd orang spt antum yang sedang haus mencari ilmu,atau bisa jadi antum sedang berada di persimpangan jalan. Sy tdk ingin antum mengalami gegar-wawasan. Soal kekuatiran antum ttg syirik yg terjadi dgn tawassul di negeri kita, tdk perlu antum risaukan, ya akhi. Justru yg perlu kita kuatirkan adl yg terjadi di negara Saudi Arabia. Jika antum pernah tinggal dan belajar di Saudi, antum akan temukan bahaya yg lebih besar dari syirik. Wal iyadzu billah…]

    Syukran jazakumullah atas ihtiram antum. Tapi sejujurnya, antum lebih berhak didengar nasehatnya, daripada ana. Dalam hati yang ikhlas dan jiwa yang lapang, silakan Akhi sampaikan taujih2 Antum demi perbaikan diri ana maupun para pembaca disini. Tafaddhal…

    Ana sendiri tidak mengagung-agungkan Saudi. Dalam beberapa sisi kritik ana juga tak kalah pedas. Andai ada kemungkaran tertentu yang Antum ketahui, di luar yang berkembang selama ini, sampaikan saja, agar menjadi nasehat bagi kaum Muslimin. Ad dinu nashihah…

    [Saudaraku, Bukankah salah satu kaidah bagi penuntut ilmu adalah rihabatus shadri fi masailil khilafi? Lagi pula, soal khilaf spt ini sdh terjadi di antara orang2 yg lebih baik dari kita, wahai saudaraku. Apalah artinya kita, ya akhi… Soal buku Bughyatul Mustarsyidin, sayang sekali antum tdk mengenal penulisnya. Sayang sekali, dgn alasan antum tdk mengenalnya, antum tdk memperhitungkan pendapatnya. Mungkin selama ini antum lebih akrab dgn terjemahan tulisan2 Utsaymin, Salih Fauzan, Abdullah bin Baz, dan ulama2 Saudi lainnya, atau Taqiyyuddin an-Nabhani, pengusung Khilafah. Buku Bughyatul Mustarsyidin ditulis seorang alim besar bernama Sayyid Abdurrahman Ba Alawi. Buku ini dicetak di dunia Islam dan Timur Tengah. Penerbit Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, jg ikut mencetaknya].

    Ya, afwan kalau ana tidak tahu. Saya tidak selalu memegang kitab terjemahan. Ada yang asli dalam bentuk kitab asli, tetapi lebih banyak dalam bentuk e-book. Sebenarnya sering disarankan ana memiliki Maktabah Syamilah. Tapi ana tidak mengambil itu, karena khawatir akan tanggung-jawabnya. Ya e-book sekian banyak saja baru dibaca sedikit, apalagi Maktabah Syamilah. Afwan atas kelemahan ini…

    [Oya, masih ada kaitannya dg tawassul, kalo boleh sy beri info, bacalah juga buku La Zara’ia li Hadmi Atsarin Nabawiyyah, yg ditulis oleh Dr Umar Kamil, warga asli Saudi. Buku itu adl debat beliau sendiri dng ulama2 besar Saudi. Buku itu diterbitkan di Kairo, krn di Saudi di-bredel. Antum akan temukan dlm kitab itu, orang2 yg mengeroyok Umar Kamil, pendapatnya terpatahkan. Padahal, Dr Umar Kamil adl sarjana ekonomi Islam. Nampaknya, sebagian ulama Saudi tdk terima dgn buku ilmiah itu. Ala kulli hal, semoga Allah swt. memberi ganjaran pahala bg orang2 yg ingin mencari ilmu atas dasar ridha-Nya, bukan atas dasar untuk mendebat para ulama, atau menggiring opini publik dgn opini kelompoknya, sebagaimana yg disabdakan Rasulullah saw].

    — REVISI KOMENTAR —

    Syaikh Hasan al Bana rahimahullah menyebut persoalan tawasul ini adalah khilaf fiqih, bukan persoalan akidah. Lalu syaikh Al Qaradhawi hafizhahullah menjelaskan pandangan Syaikh Al Bana tersebut. Al Qaradhawi berhujjah bahwa dalam kitab2 perbandingan madzhab Ahlus Sunnah, masalah tawasul itu sudah mengemuka sejak lama. Imam Ahmad kata Al Qaradhawi membolehkan tawasul dengan Nabi Saw, Imam Asy Syaukani membolehkan dengan Nabi maupun orang lain yang shalih, Al ‘Izz bin Abdissalam memakruhkan tawasul dengan Nabi. Syaikh Ibnu Abdil Wahhab tidak mengkafirkan pelaku tawasul, dalam kalimat “ya akramal khalqi”. Dalam kompilasi Masu’ah Fiqih Kuwait, topik tawasul masuk kesana, sehingga menurut Al Qaradhawi dipahami, itu masalah khilafiyah fiqih belaka. Sama seperti pandangan Syaikh Al Bana rahimahullah. Selain itu, Al Qaradhawi juga menyebut pandangan Ibnu Taimiyyah dan Al Albani yang melarang tawasul dengan manusia yang sudah waafat.

    Secara umum, ana memandang kajian Al Qaradhawi lebih luas dari kajian Antum, wahai Akhi. Ya, mohon kiranya Antum tidak keberatan bila saya memandang Al Qaradhawi lebih a’lam, ahkam, wa aslam dalam topik ini, dibandingkan studi yang antum lakukan.

    Namun di akhir bukunya, Aqidah Salaf dan Khalaf (terbitan Pustaka Al Kautsar tahun 2005), Al Qaradhawi berpendapat, bahwa beliau memilih pendapat: (1) Mengutamakan berdoa langsung kepada Allah, sebab pintu2 pengabulan doa Allah Ta’ala selalu terbuka, tidak dijaga oleh para penjaga. (2) Menghindari tawasul dengan ruh yang sudah wafat, untuk menutup pintu2 ke arah kemusyrikan. (3) Kalau ada sarana-sarana doa yang lain yang lebih jelas dan tegas, dan disyariatkan, mengapa harus mengambil cara yang masih diperselisihkan? Maka itu Al Qaradhawi tidak melakukan shalat tasbih, karena masih banyak shalat-shalat nawafil lain yang lebih kuat. Namun, seperti mana pendapat Ibnu Taimiyyah, Al Qaradhawi tidak mengkafirkan pelaku tawasul seperti itu.

    Kalau boleh bersikap. Ana termasuk yang memilih pandangan mengharamkan tawasul dengan ruh manusia yang telah meninggal. Pandangan ini bukan tanpa alasan, tetapi ada alasannya. Hujjahnya sangat jelas, yaitu Surat Ali Imran ayat 80: “Wa laa ya’murakum an tattakhidhul malaikata wan nabiyyina arbaba. Aya’murukum bil kufri ba’da idz Antum Muslimin” (dan kalian tidak diperintahkan untuk menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai sesembahan2 (selain Allah). Apakah kalian disuruh untuk kufur setelah mereka menjadi Muslim).

    Ayat-ayat ini berkaitan dengan perjanjian Allah dengan para Nabi, terhadap Kenabian Rasulullah. Dalam ayat sebelumnya, dijelaskan bahwa seorang Nabi tidak boleh menyuruh ummatnya menyembah dirinya, akan tetapi memerintahkan ummatnya agar menjadi kaum Rabbani, yaitu kaum yang selalu mengajarkan Al Kitab dan selalu mempelajarinya.

    Pertanyaannya, saat kapan Nabi itu diibadahi oleh kaumnya? Apakah saat mereka masih hidup? Jelas tidak mungkin. Lalu apa gunanya disana ada Nabi kalau mereka memerintahkan ummatnya menyembah dirinya? Para Nabi/Rasul pasti akan melarang ummatnya menyembah dirinya. Itu pasti, dan itu adalah amanah Kenabian yang harus mereka tunaikan.

    Jelas, praktik menyembah Nabi itu terjadi setelah dirinya wafat. Contoh, kaum Nashrani yang menyembah Isa; kaum Bani Israil mempertuhankan Uzair; kaum Nabi Nuh menyembah patung orang2 shalih dari jaman sebelumnya. Praktik kemusyrikan itu pasti terjadi setelah para Nabi/Rasul itu wafat.

    Sejujurnya, saya termasuk yang memilih pandangan ini. Saya tidak menerima praktik tawasul dengan ruh manusia yang sudah wafat. Bahkan saat saya membaca tafsir Ibnu Katsir terkait Surat Al Maa’idah ayat 35. Maksud al wasilah disana adalah al qurbah (sarana mendekatkan diri kepada Allah). Lalu Al Hafizh menyebut sekitar 7 hadits tentang Al Wasilah, suatu kedudukan tertinggi di Jannah, yang ditempati oleh seorang hamba saja. Nabi Saw memerintahkan agar kita berdoa kepada Allah agar Al Wasilah itu diberikan kepada beliau Saw. Amin Allahumma ya Mujibas sa’ilin.

    Demikian jawaban yang bisa ana berikan. Kalau masih acak, nanti akan diberikan yang lebih runut, insya Allah. Wallahu A’lam bisshawaab.

    AMW.

  61. Bang Aziem mengatakan:

    Alhamdulillah… saya sdh bisa merasakan kesejukan antum sebagai pencari ilmu.

    Kalo saja dari awal antum menyebutkan rujukan, persoalan ini sdh clear. Dengan begitu, antum terhindar dari sikap tendensius thd org yg mempraktikkan tawassul. Jam’ul kutub (mengoleksi rujukan) adl salah satu adab pencari ilmu, agar ia lebih adil dlm menimbang persoalan.

    Soal Syaikh al-Qardhawi, tentu saja beliau lebih a’lam dari saya. Dgn antum saja, saya gak ada apa2nya. Soal bukunya itu, lagi2 hrs dipahami sbg SALAH SATU referensi yg perlu dibaca. Al-Qardhawi adl SALAH SATU ulama yg banyak saya baca karyanya, termasuk kitab sanggahannya thd Syaikh al-Bani (dan ulama Wahhabi) ttg masalah musik dan lagu. Buku ini juga patut dibaca oleh para pencari ilmu, agar bisa menemukan keseimbangan ilmiah.

    Soal kajian rujukan, jgn kuatir ya akhi, insya Allah koleksi rujukan saya memadai, bukan dari googling, e-book, atau copas. Namun, berupa kitab2 tercetak yg saya beli ketika saya berada di Timur Tengah dan talaqqi saya dgn para guru dan masyayikh.

    Jadi, dlm soal2 yg khilaf, maka kita perlu pakai kaidah: Qaddim al-akhlaq minal khilaf, li annal khilafa syarrun (dahulukan akhlak dibanding bertengkar, krn yg namanya bertengkar itu jelek).

    Jadi, sy tdk akan bertengkar dgn antum soal ini. Apalagi ikhtilaf itu sdh terjadi di antara org2 yg lebih baik dan alim dr kita.

    Ada baiknya, pada akhir tulisan antum, antum katakan: MESKIPUN ADA PERBEDAAN TENTANG MASALAH INI, NAMUN SAYA LEBIH MEMILIH PENDAPAT YANG MENGATAKAN BAHWA HUKUM TAWASSUL ADALAH BEGINI BEGINI’. Dgn begitu, pembaca tau bhw antum sdh taqlid dgn salah satu pendapat. Hal itu pula yg dilakukan oleh al-Qardhawi dlm membahas soal ini.

    Ikhtilaf saya dgn antum soal ini tdk akan membuat saya membenci antum dan orang2 yg spt antum. Sy sdh praktikkan itu dalam majlis-majlis saya yg dihadiri oleh orng2 yg semisal antum. Kecintaan saya kpd mereka lebih saya dahulukan dibanding menghujat mereka. Buat saya, soal khilaf ilmiah tdk boleh merusak ukhuwwah.

    Wassalam,
    Akhukum fil birri wat taqwa
    Bang Aziem

  62. abisyakir mengatakan:

    @ Bang Aziem…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Syukran jazakumullah khair USTADZ atas masukan, kritik, dan informasi-informasi dari Antum. Alhamdulillah. Itu melengkapi kekurangan-kekurangan pada bagian sebelumnya. Mudah-mudahan nanti saya bisa mengakses rujukan2 resmi itu, sebab kebetulan dalam referensi yang saya miliki tak ada yang spesial membahas soal hukum tawasul secara rinci. Syukran jazakumullah atas masukan dan kritik Antum. Alhamdulillah.

    AMW.

  63. Bang Aziem mengatakan:

    Nad’u ba’duna ba’dhan… Sama2 mendoakan, akhi…

  64. hafiz mengatakan:

    aslm’lkm., sebelumnya terima kasih atas info yg di berikan. maaf sebelumnya. saya hanyalah seorang siswa MAN yang alhmdllh selalu di ajarkan membaca shalawat badriah. setelah membaca smua yang abang katakan saya minta abang untuk menjelaskan dengan lebih terperinci lagi tujuan dan semua ketidakpastian yang abang sampaikan, bukan menyalahkan. tapi saya mau kita semua tau akan kebenaran,biar kita bisa saling mengingatkan dalam kebenaran bang. untuk lebih baiknya saya sarankan untuk abang mengahpus halaman d blog abang ini, karena saya khawatirkan mereka yang membaca dan lansung menyerap semua yang abang katakan sebelumnya menjadi terpengaruh dan menyebar-luaskan hal yang tidak seharusnya ini. dan di takutkan menjadi bahan yang dapat merusak ukhwah sesama kita nanti.
    maaf abng kalo saya banyak cakap, tapi saya mw yang tebaik buat kita semua. namun semua kebenaran tetaplah kembali kepada Allah dan ilmu maha luas yang dimilikinya.

    Aslm’lkmu.

  65. abisyakir mengatakan:

    @ Hafiz…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Ya, intinya sederhana dik. Saya termasuk yang tidak setuju terhadap tawasul dengan arwah yang sudah meninggal. Khawatir, jatuh dalam kemusyrikan. Tetapi memang ada juga yang membolehkan hal itu. Singkat kata, disini ada perselisihan pandangan. Saya menolak cara tawasul dengan arwah yang sdh wafat, tapi ada yang membolehkan.

    Karena blog ini saya kelola, jadi isinya sesuai apa yang saya yakini dik. Kalau di blog kamu, ada keyakinan seperti yang kamu yakini, ya itu hak kamu. Semoga kamu memahami ya. Terimakasih.

    AMW.

  66. Arie mengatakan:

    Jgn mngatakan sesuatu itu sesat pdhal dri sendiri msh sesat….

  67. Awam Banget mengatakan:

    Diatas langit biru ternyata masih ada langit yang tak terhingga……

  68. mustofa mengatakan:

    yang punya blog ini orang munafik,wajahnya islami,sok ustad,tapi hatinya yahudi,

  69. Liong mengatakan:

    hai mustofa, hati2 kau mengatakan orang munafik (bkn hanya pada pemilik blog). Rasulullah saja tidak terang2an mengatakan antek2 munafik di Madinah sebagai orang munafik, beliau hanya memberitahukan pada juru tulis beliau utk dicatatkan org2nya.
    lebih baik kau baca saja diskusi ilmiah di blog ini dan ambil ilmu2nya yang bermanfaat. tak usah kau meninggalkan balasan komentar kalau apa yg kau makan lebih banyak dari apa yg kau baca. tapi kalau ternyata apa yg kau baca lbh bnyk dr apa yg kau makan, tinggalkan balasan komentar sebagaimana balasan komentar abang2 diatas yg bermanfaat. cobalah bersikap adil

  70. abisyakir mengatakan:

    @ Liong…

    Syukran jazakallah khair saudara @ Liong atas apresiasinya. Saudara Mustofa ini dulu kenalan baik saya. Beliau itu salah satu pemuda Jihadis, sangat mendukung Usamah dan Al Qa’idah. Beliau marah ketika saya banyak mengkritik Usamah-Al Qa’idah. Mungkin beliau juga marah juga ke ulama-ulama Saudi yang berkali-kali mengingatkan bahaya gerakan Al Qa’idah, termasuk juga ulama-ulama Indonesia dan lainnya.

    Intinya begini…

    Usamah bin Ladin, ada yang mengatakan beliau sudah wafat sejak tahun 2001. Usamah yang sering muncul itu, katanya Usamah palsu, atau Usamah bikin-bikinan. Ini masalah intelijen tingkat tinggi, hanya Allah yang Mahatahu hakikat sebenarnya. Sedangkan yang saya kritisi itu ialah Usamah sebagai “ikon” isu-isu terorisme dunia, yang katanya baru meninggal beberapa waktu lalu. Aku memohon ampunan Allah Ta’ala kalau menciderai hak-hak Usamah bin Ladin, andaikan dia secara hakiki sudah wafat sejak lama (2001). Adapun sikapku terhadap Usamah sebagai “ikon isu terorisme dunia” tidak berubah, insya Allah.

    Sekali lagi, syukran jazakallah khair wahai Akhi @ Liong.

    AMW.

  71. Anonymous mengatakan:

    jangan cuba2!!! pertikaikan kan selawat badar kalau xada ilmu!!!

  72. Sulistyarto mengatakan:

    subhannalloh…
    berangkat dari pingin dapat lyric sholawat badar yg bener (bolak balik dikritik istri lyric-nya ngacau, ngk bener.. maklum masih pada level penikmat keindahan semata, tenang hati menyenandungkannya, walaupun artinya masih menebak2 ^_^) membawa saya pada lautan ilmu dua kutub pandangan tentang tawasul…
    adalah fakta, sholawat badar telah mengantarkan saya ke ketinggian ilmu antum2 semua (terimakasih..)

    Jika boleh ikut beropini (saya sendiri berpemahaman “bahwasanya tidak ada hijab antara sang khaliq dengan hambanya”, jadi pada posisi ini, menurut saya tawasul bukanlah menjadi kebutuhan primer/syarat dikabulkannya sebuah doa. walaupun tidak bisa dipungkiri “tawasul yang haq” bisa menjadi katalisator yg mempercepat atau mempermudah terkabulkannya doa)

    namun, terkait dengan sholawat badar, yang notabenenya adalah product syair, dimana penerjemahannya akan sangat bergantung pada pemenggalan kata/baris/kalimat/paragraphnya…

    saya coba penggal ulang seperti berikut…

    Shalatullah salamullah… ‘Ala Thaha Rasulillah… Shalatullah salamullah… ‘Ala Yasin Habibillah

    Tawassalna bi bismillah… (Bertawasul dengan asma Allah, Asmaul Husna)

    Wa bil hadi Rasulillah, Wa kulli mujahidil lilla… Bi Ahli Badri ya Allah
    (Dengan petunjuk Rasul Allah, dan semua -tauladan kegigihan dari – pejuang di perang badar)

    @abisyakir
    mohon direview ulang dengan pemenggalan seperti diatas…
    (tawasul dengan asma Allah, petunjuk melalui rasul Allah, contoh kgigihan perjuangan dari para mujahid yg berjuang di perang badar… >> sepertinya sesuai dengan konteks history penciptaan syair seperti yg sudah dishare oleh @Dhani)

    masihkah sholawat badar diatas bermasalah?
    tidak ada disitu termuat bertawasul dgn ruh muhammad, apalagi para pejuang badar yg (insyaallah) sedang damai dialam barzah ditemani amal solehnya… bertawasul hanya dengan asma Allah (insyaallah tidak ada khilafitah atasnya…)

    jujur saya sangat awam atas bahasa arab, saya hanya bisa menafsir dari terjemah ^_^

    mohon pencerahannya,

    Terimakasih.

  73. cinta nabi mengatakan:

    Alhadulillaah..syukran jazilan utk ustadz SYAIFUDDIN atas semua penjelasanya.bnr2 mencerahkan!!!subhannalloh..semoga ALLOH memberkahi anda&keluarga.lanjut,ana dukung!ketahuan siapa yg alim bnrn dgn Alim imitasi.

  74. sandi mengatakan:

    namanya org bid’ah itu ga pernah merasa salah dg amalan kebid’ahannya… jd diberikan penjelasan apapun ga akan merubah apapun… mending ditulis aja seperti postingan di atas, trus kita doakan agar yg membaca mendapat hidayah Allah SWT, jgn diteruskan lg krn ga akan selesai sampai kiamat….

  75. sadik alhabsyi mengatakan:

    Sepeti kita ketahui Mahluk yang disayang dan dicintai ALLAH adalah Nabi Muhammad, diantaranya :
    1. Azan ada nama Nabi Muhammad
    2. Qomat ada nama Nabi Muhammad
    3. Sholat, pada duduk tahiyat kita diantaranya membaca ada nama Nabi Muhammad

    . Dan Saya berfaham Ahlu Sunnah percaya bahwa Di Akhirat Nabi Muhammad akan memberikan Syafaat (pertolongan) tentunya atas izin ALLAH S.W.T. (Khalik)
    dan di Sunah wal jamaah juga tidak pernah menuhankan mahluk (Rasulullah) hanya mencintai yang ALLAH cintai , mengikuti ibadahnya adalah Sunah.

    Dan juga di faham Sunah wal Jamaah berpendapat, beda manusia dengan binatang jika mati, binatang mati nanti jadi debu, sedangkan manusia mati, pada dasarnya beliau ruh nya hidup.
    Jadi bukan minta sama yang telah meninggal, namun tawasul pada oarang ibadah, setidak – tidaknya, mendapat pahala, menengok orang yang telah meninggal untuk mengingatkan kita akan kembali juga, selain itu mendapat keberkahan orang yang ibadahnya dekat kepada ALLAh, dan juga INSYA ALLAH sedikit demi sedikit kita dapat mengikuti cara ibadah nya oarng yang disayang sama ALLAH.

  76. abu_darwisy@ymail.com mengatakan:

    assalamualaikum…
    maaf andai ada terkasar…tawassul bukanlah satu kesalahan.andai pemuda yang terjerat di dalam gua bisa menggunakan amalannya sendiri sebagai tawassul…mengapa kita ini manusia yang lemah di sisi NYA tidak bisa menggunakan wasilah atau tawassul atau sebagai penyambung dua dengan MUHAMMAD SOLLALLAHU ALAIHI WA ALAA AALIHI WASAALLAM…??maafkan saya…ini hanya sebagai sebuah pendapat….

  77. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Darwisy…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Tidak apa-apa Pak, silakan berpendapat. Alhamdulillah, kita suka dengan kesantunan Bapak. Kalau semua komentator sopan, alhamdulillah kita sangat mengapresiasi. Jazakumullah khair.

    AMW.

  78. Whois... mengatakan:

    Biasa pendapat orang WAHABI -(Neo Salafy) dan mereka bukan ahlussunnah wal jama’ah …

  79. naim mengatakan:

    utk apa kita bersolawat yg tdk jls hukum ny?? sedangkan solawat yg benar sdh diajarkan yaitu salawat Nabi.

  80. Ade Malsasa Akbar mengatakan:

    Masya Allah, indah. Maju terus, Abu Syakir. Maju terus. Dakwah terus. Sampaikan yang haq. Semoga Allah menunjuki Anda jalan yang lurus.

    Untuk saudara-saudaraku yang lain, semoga kita terhindar dari perbuatan berbicara dalam agam tanpa ilmu. Mengenai Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, tentulah beliau orang yang patut dimuliakan bukan dicaci. Silakan merujuk ke http://almanhaj.or.id untuk kejelasan siapa beliau. Wikipedia saja benar menjelaskan siapa beliau (http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Abdul_Wahhab | 28 Juli 2012 jam 4 sore).

    Semoga Allah menyayangi kita semua.

  81. Pendi pratama mengatakan:

    Setuju untuk menjaga aqidah yg benar

  82. ahyazy mengatakan:

    Shalawat apapun itu semuanya baik selama tidak mengganti nabi SAW dengan nabi yang lain, semua perbuatan baik ada pahalanya. tidak perlu diperdebatkan dan saling menyalahkan, yg ditakutkan adalah kita menyalahkan yang benar, bagaimana kita mempertanggungjawabkan di hadapan-Nya, dan ternyata Allah mengganggap yang disalah-salahkan itu benar, masing-masing pasti punya alasan untuk melakukannya. Kita sering lupa masih banyak hal-hal lain yang jelas-jelas salah tapi terus dilakukan seperti; korupsi, narkoba, mengambil hak orang lain, zina, dan masih banyak lagi, tentulah itu seharusnya diperangi, bukan yang baik. al-haqqu bayyinun wal-bathilu bayyinun. man kaffaro ghoirohu fahuwa kafirun…….terima kasih

  83. jahidin mengatakan:

    mengapa kita harus tawasul? karna kita ini adalah orang berdosa
    dengan tawasul maka doa-doa kita cepat dikabulkan oleh allah, sekarang gini aja kita umpamakan kita ingin mengaju profosal kepada gebernur kan harus meminta tanda tangan kecik camat dan sebagainya,
    begitulah makna dari tawasul,bukan kita meminta kepada kaum mujahidin ataupu kepada nabi,kita minta kepada allah juga. tidak ada istilah syirik dengan bertawasul

  84. Fulan-1 mengatakan:

    Terimakasih atas infonya berarti anda bertanggung jawab dunia dan akhirat atas appa yang anda tulis…

  85. abisyakir mengatakan:

    @ Fulan-1

    Ya tentu kita bertanggung-jawab atas apa yang kita tulis, dengan rahmat dan pertolongan-Nya.

    Admin.

  86. abuyasminjawawi mengatakan:

    Reblogged this on Myblog's Blog and commented:
    syarat diterima ibadah ada 2
    iklas krn allah taala.. dan ittiba.. mengikuti apa yg di ajarkan oleh rasulullah..

    dan barang siapa membuat perkara baru dlm urusan agama tanpa ada tuntunan nya dr sunnah ku.. maka amalan tersebut tertolah..

    bersholawat ya sesuai dngn apa yg rasulullah ajarkan..

  87. emha fuad mengatakan:

    Yang nulis blog ini kayanya sudah dapat menandingi karya ulama jawa, kebanyakan asupan firanda atau bin bass atau albani yang tidak jelas keilmuan dalam karyanya yang terlalu banyak tanaqud sampai berani menyalahkan hadis shahih dari imam bukhari, wah….. keren juga ni….. Gerakan salaf itu ada yang sholeh dan salah, yang shaleh mereka yang menghormati para ulama, emangnya….. gerakan wahabi punya andil dalam dakwah di indonesia dan kemerdekaannnyaa…… coba mas…. anda renungkan….. JANGAN MENGAKU SALAF SHALEH kalau belum dapat menghormati para Ulama, kayaknya surga itu milik anda saja bung…..

  88. Diar mengatakan:

    Akhi Abu Syakir, saya dukung dakwah akhi di jalan Allah. Sabar dan ikhlas dalam berdakwah, pada hakekatnya kita hanya menyampaikan yang HAQ. Fokus pada topik yang akan disampaikan. Jangan terpancing pada pengembangan yg kecenderungannya ajakan berdebat. Karena Al Quran dan as Sunnah(hadist shahih) bukan untuk di perdebatkan tapi dipelajari, dipahami dan diamalkan dengan keyakinan penuh karena Allah. Tidak perlu tersinggung dg orang yg merendahkan ilmu anda, Allah maha mengetahui (banyak ayat Al Quran yang memperingatkan manusia untuk tidak merendahkan, tdk sombong, tdk dzolim, tidak riya, dll. Bahkan Allah menyeru kepada manusia untuk menggunakan akal dan banyak berpikir). Dan kita tidak boleh mencari nilai dihadapan manusia. Semoga akhi dan penulis komen serta pembaca… selalu dalam lindungan Allah, limpahan hidayah, serta selalu ditunjukkan jalan yang lurus.

  89. abisyakir mengatakan:

    @ Diar…

    Amin Allahumma amin. Jazakallah khair, terimkasih atas nasehat, masukan, apresiasinya. Alhamdulillah.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 131 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: