Baru-baru ini dunia internasional digemparkan oleh berita peresmian sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah di Dubai, Uni Emirat Arab. Berikut ini rangkuman berita dari www.kompas.com, edisi 22 November 2008:
Sebuah pesta mewah digelar untuk menandai launching hotel mewah Atlantis, Kamis (20/11). Tak kurang dari 20 juta dollar AS (sekitar Rp 235 miliar) dihamburkan dalam semalam. Sekitar 1,5 juta dollar AS (Rp 18 miliar) di antaranya hanya untuk membayar penyanyi Australia Kyle Minoque.
Pesta pembukaan hotel yang berlokasi di pucuk pulau buatan Palm Jumeirah itu dihadiri lebih dari 2.000 selebriti dunia. Di antara tamu, tampak Oprah Winfrey, aktor Robert De Niro dan Denzel Washington, aktris Charlize Theron, Lindsay Lohan, mantan pebasket NBA Michael Jordan, pebisnis papan atas Sir Richard Branson, dan para elite di keemiran Dubai.
Para undangan dilayani oleh 1.000 orang dan 500 koki, sebagian besar dari India. Hidangan untuk para tamu menghabiskan 4.000 ekor kalkun, 300 kg ikan salmon, 5.000 potong sushi, dan yang paling mengejutkan adalah 1,7 ton lobster. Ada juga sampanye premium Veuve Clicquot yang jumlahnya disebut-sebut cukup untuk menenggelamkan pulau buatan Palm Jumeirah.
Puncak pesta adalah diluncurkannya kembang api raksasa yang besarnya lebih besar daripada kembang api yang digunakan dalam pembukaan Olimpiade 2008 Beijing lalu. Panita mengklaim kembang api itu bisa dilihat dari luar angkasa. Bintang terbesar dalam pesta itu adalah Hotel Atlantis sendiri yang biaya pembangunannya menelan 1,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 19 triliun). Hotel itu dirampungkan dalam waktu 2,5 tahun.
Hotel ini berkapasitas 1.539 kamar. Salah kamar dibangun di jembatan yang menghubungkan dua menara. Kamar bertarif 35.000 dolar AS (Rp 422 juta) semalam. Kamar paling eksklusif ini disewa pertama oleh bintang Bollywood Shah Rukh Khan.
Sol Kerzner, pemilik hotel, pengusaha hotel dan kasino asal Afrika Selatan, (berkomentar), “Saat ini kami menghadapi tantangan. Perekonomian dalam resesi dan kami harus menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah ini. Kami juga harus berhati-hati dengan tingkat pengeluaran.” (www.kompas.com, 22 November 2008).
Untuk peresmian hotel Atlantis ini, dirayakan dengan pesta kembang api yang sangat fantastik. Kota Dubai di malam itu seakan bermandi cahaya karena kemegahan bunga-bunga kembang api kolosal. Pesta kembang api itu bahkan lebih megah dari pesta kembang api penutupan Olimpiade China belum lama lalu. Biaya yang dibutuhkan sekitar US$ 20 juta (dengan kurs rupiah Rp. 10.000,-/dolar, setara dengan 200 miliar rupiah; sementara kasus aliran dana BI yang melibatkan Aulia Pohan dkk. senilai 100 miliar rupiah).
Sensasi Padang Pasir
Para pengamat dunia merasa takjub dengan perkembangan kota Dubai. Ia dianggap sebagai syurga dunia properti. Gedung-gedung megah sangat banyak berdiri disana. Hingga untuk gaya arsitektur terbaru yang sangat revolusioner dan berciri kontemporer. Hingga ada sebuah gedung megah disana yang dibangun dengan sistem mobile. Setiap lapisan lantai di gedung itu bisa berputar pada poros vertikal, sehingga setiap hari gedung itu bisa berubah-ubah bentuknya, mengikuti pengaruh angin meniupnya. Ia adalah Dynamic Tower, sebuah gedung tinggi “menara putar”, terdiri dari 80 lantai, tingginya hampir menyamai menara Petronas Malaysia.
Di Dubai ada sekitar 40 gedung pencakar langit. Gedung yang paling tinggi adalah Menara Almas dengan 74 lantai, ketinggian mencapai 360 m. Gedung yang paling rendah adalah Jumeirah Beach, “hanya” berlantai 49. Itu pun masih ada puluhan gedung-gedung lain yang sedang dibangun.
Sebagai contoh bangunan yang dikenal dengan nama Burj El Dubai memiliki kemegahan luar biasa. Selain tinggi, pencakar langit, dihias ornamen Arab, dibangun sangat kokoh, fondasi berbentuk daun-daun korma. Kemudian dipadukan dengan permainan air luar biasa. Hal yang membuat dunia terkagum-kagum pada Dubai adalah rentetan pembangunan proyek properti secara beruntun. Ada misalnya pusat perbelanjaan, hiburan, dan hunian Dubailand yang menelan investasi 5 miliar dollar AS. Lalu, Arabian Canal, sungai buatan sepanjang 75 kilometer yang dipenuhi hotel, perkantoran, kawasan hiburan di sepanjang tepian sungai. Ada pula lima proyek reklamasi laut (menutup laut dengan tanah sehingga daratan lebih luas –pen.) lepas pantai seluas 170 juta meter persegi dengan nilai proyek 10 miliar dollar AS. Lima proyek ini adalah Dubai Waterfront, Palm Jebel Ali, Palm Jumaeirah, The World, dan Palm Daira. (KCM, 9 Juni 2005).
Beberapa bulan lalu, publik sepakbola dunia digemparkan oleh pembelian klub Manchester City Inggris oleh investor Abu Dhabi, ADUG. Dr. Al Fahimi seorang penguasa muda tiba-tiba mencorong namanya setelah Manchester City membeli pemain mahal dunia dari Real Madrid, Robinho. Al Fahimi memiliki ambisi berjarak 3 tahunan untuk menjadikan Manchester City masuk dalam barisan “4 besar” Liga Primer Inggris. Bahkan Al Fahimi sesumbar mau memboyong semua pemaian-pemain top di Eropa, seperti Christiano Ronaldo, Lionel Messi, Cesc Fabregas, dll. Dia bahkan meremehkan Roman Abramovic, pemilik Chelsea. Dia mengaku punya dana lebih banyak daripada Abramovic.
Sebelum itu, Abu Dhabi sangat giat mempromosikan sirkuit F1 yang dibangun di kota itu. Abu Dhabi sangat berambisi menjadi mata rantai penting kompetisi F1 yang populer di dunia itu. Dan even balap mobil paling bergengsi itu pun telah dilaksanakan disana dengan sukses.
Strategi Menjaring Duit
Pemerintah UEA berbentuk ke-emir-an. Disana ada 7 wilayah yang masing-masing dipimpin oleh seorang Emir. Mereka bersifat otonom dan menyatu dalam sebuah ikatan “United”. Penghasilan utama negeri ini semula adalah minyak bumi. Tetapi saat ini mereka sangat maju pesat di bidang perdagangan dan pariwisata. UEA bisa dikatakan telah menjadi pusat transit internasional di wilayah Timur Tengah. Orang-orang asing dari arah Barat dan Timur menjadikan tempat ini sebagai persinggahan, sekaligus tempat mediasi transaksi-transaksi bisnis.
Negara-negara itu semula hanya merupakan “penjual minyak”, tetapi mereka memiliki kecerdikan tinggi. Dengan kelebihan dana hasil penjualan minyak, mereka bangun kota-kotanya dengan sangat mewah, nyaman, dan lengkap dengan segala jenis hiburan (sejak yang halal sampai yang paling haram). Strategi ini rupanya sukses, ribuan manusia setiap hari transit di negara itu. Wajar jika bisnis perhotelan benar-benar mencapai taraf “syurgawi” (he he he…).
Wilayah UEA sebenarnya kering, layaknya padang pasir. Hanya mereka memiliki garis pantai, sehingga bisa mengakses air laut. Dulu masalah air merupakan problem utama gurun pasir. Tapi saat ini, ia sudah bukan problem lagi. Dengan uang banyak, mereka bisa mendirikan instalasi-instalasi destilasi (penyulingan) air laut menjadi air tawar yang nikmat. Luar biasa, laa haula wa laa quwwata illa billah. Air yang dihasilkan sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat disana. Dari air itu pula mereka mulai menanam tanaman, menghijaukan gurun dengan berbagai macam tanaman. Di Indonesia sempat marak bisnis bunga-bunga unik seperti Anthurium. Nah, bunga semacam ini banyak dipasarkan di negara-negara itu, menjadi kebanggaan sosial mereka dengan merawat bunga istimewa.
Dalam riwayat Nabi Saw disebutkan, kelak menjelang Hari Kiamat, para penggembala domba akan mendirikan gedung-gedung tinggi. Hal ini menjadi realitas yang terbukti saat ini. Negara-negara Arab seperti UEA, Bahrain, Qatar, Oman, Yaman, Saudi, dll. semula adalah negara padang pasir yang salah satu kesibukan utama rakyatnya menggembala ternak, seperti domba dan onta. Tetapi saat ini mereka mendirikan gedung-gedung tinggi sangat prestisius.
Begitu pula, kata Nabi Saw, kelak Jazirah Arab akan kembali menjadi hijau seperti semula. Dan proyek-proyek penyulingan air laut itu menjadi buktinya. Dengan air suling dari laut, rumput-rumput mulai ditanam, pohon-pohon, bunga, dan lainnya. Apalagi, kata para ahli tanah, kesuburan wilayah-wilayah padang pasir itu sebenarnya tinggi, kalau saja ia terkena air.
Realitas Jahiliyah Modern
Ambisi bisnis yang menggelegak ini otomatis berpengaruh terhadap budaya masyarakat setempat. Kehidupan liberal sudah otomatis tercipta di tengah masyarakat yang memuja materi dan hawa nafsu. Prostitusi, perjudian, minuman keras, penyimpangan seksual, kriminalitas, dll. sudah tentu marak disana. Seperti pepatah, “Dimana ada gula, disana ada semut.” Dimana ada pusat kemewahan hawa nafsu, disana akan muncul beragam penyimpangan perilaku. Keadaan pantai-pantai dsiana tak ubahnya seperti keadaan pantai di Bali, Hawai, Sao Paulo, Phukhet, dll. wanita-wanita telanjang dengan pakaian minimalis mudah dijumpai.
Prostitusi sendiri menjadi icon penting di balik kemegahan kota-kota ini. Menurut para karyawan hotel di Saudi, kalau mau hidup senang-senang, pergilah ke Dubai. Disana ada “syurga dunia” katanya. Disana seseorang bisa pesan wanita dari jenis apa saja, Eropa, Amerika, Rusia, China, India, dan seterusnya. “Harga cuman 50 real,” katanya. Ya Ilahi ya Rabbi, kejahilan ini sudah memporak-porandakan keimanan seseorang. Dunia telah terhampar luas, kemewahan, kesenangan, pesta pora, mengganti komitmen seseorang kepada agamanya.
Dunia saat ini menyaksikan, bahwa pusat kemaksiyatan bukan hanya di New York, Las Vegas, Hollywood, Los Angeles, Hongkong, Tokyo, dll. tetapi ia telah menjelma di kota-kota seperti Dubai, Abu Dhabi, dan lainnya. Fitnah harta, tahta, wanita, menjadi hiasan sehari-hari. Jiwa telah gersang dari keimanan, tuntunan agama ditinggalkan, justru agama jahiliyah modern dipeluk erat.
Siapa lagi yang punya kerjaan atas semua ini, kalau bukan Yahudi internasional? Kata orang Betawi, 4L (Lu lagi, Lu lagi). Yahudi sangat pintar memanfaatkan titik lemah bangsa Arab, dengan memanjakan mereka dengan kesenangan unlimited. ‘Iyadzan billah. Pokoknya, kalau di suatu tempat ada pusat keramaian yang menggabungkan ribawi, wanita liar, miras, judi, dan hiburan melalaikan, pasti Yahudi biang keroknya. Whose again? Mereka biangnya, semua orang tahu itu.
Nasib Dunia Islam
Sangat ironi kalau melihat kenyataan ini. Saat negara-negara teluk itu hidup bermewah-mewah, maka kaum Muslimin di berbagai Negara justru sedang mengerang dalam kesulitan dan derita. Kaum Muslimin di Irak, Afghanistan, Palestina, Chechnya, Somalia, Sudan, Kashmir, Pattani, Morro, dll. Sedang kesusahan. Sementara saudara-saudara mereka di negara petrodollar justru sedang bermegah-megah dengan jahiliyah.
Hal ini merupakan pengkhiatan yang sangat menyakitkan. Bahkan kehidupan kaum Muslimin di Indonesia sendiri masih jauh dari sejahtera, adil, dan tenteram. Lihatlah disana perbandingan yang sangat menyolok. Dana 200 miliar dolar habis dalam semalam, hanya untuk pesta kembang api. Sementara di negeri ini dana sejumlah itu menyeret pejabat-pejabat BI menjadi “pasien” KPK. Di Dubai dana besar habis semalam, di Indonesia mengguncang birokrasi Bank Sentral.
Semua ini muncul dari jiwa-jiwa yang sakit, lalu tidak mendapat penawarnya. Jiwa itu ketika sudah payah, ia akan memayahkan semua urusan lainnya. Sehingga amal-amal manusia tidak terarah, lebih banyak berbuat keliru, ketimbang benarnya. Tidak di Dubai atau Indonesia, jika jiwa manusia sakit, ia akan menyakitkan alam sekitarnya. Setidaknya menyakitkan diri sendiri.
Allah Ta’ala telah memberi bimbingan dengan agama yang agung ini. Andai Wahyu dari langit bisa diperoleh dengan perlombaan, maka manusia akan bertempur untuk mendapatkannya, sampai tidak tersisa lagi yang hidup. Tetapi saat Wahyu itu telah terhampar di depan mata, ia diabaikan. Bahkan banyak manusia menyombongkan diri di hadapan Wahyu Allah. Wal ‘Iyadzubillah. Mereka merasa kuasa dan menggenggam kekuatan, padahal apa yang dimilikinya semata dari pemberian Allah. Andai bukan karena belas-kasih Allah, orang-orang kafir tidak akan pernah diberi makan, sampai mereka binasa karenanya.
Sangat ngeri kalau membayangkan betapa buruknya kenyataan ini. Sebagian Muslim diberi limpahan kekayaan luar biasa berupa minyak bumi. Minyak itu rizki Allah, dari bumi-Nya, dipancarkan untuk biaya hidup hamba-Nya. Tetapi setelah mereka mendapatkan semua kekayaan, mereka lupa dengan kewajiban memanfaatkan harta itu untuk kebajikan Dunia Islam. Harta di-kerem sendiri, dibuat bermegah-megah, bahkan membuat sejenis “Las Vegas” di Timur Tengah. Pusat penghambaan hawa nafsu itu letaknya tidak jauh dari Dua Tanah Suci, Makkah-Madinah. Ribuan pemuda-pemuda Arab membinasakan dirinya dating ke tempat-tempat itu, lalu pulang dalam keadaan hancur moral dan menyesal.
Seharusnya, harta yang digali dari bumi Allah itu digunakan untuk menolong hamba-hamba Allah yang menderita di muka bumi. Banyak yang butuh bantuan dana untuk menyelamatkan jiwa, agama, akal, dan masa depan mereka. Namun entahlah, sifat jahiliyah muncul kembali. Mempurukkan hamba-hamba Allah ke dalam kebinasaan batin, perilaku, dan moralitas.
Semoga Allah Ta’ala memberi hidayah, menunjukkan terang-jalan, dan mengembalikan hamba-hamba-Nya kepada agama-Nya. Allahumma amin ya Karim. Wa shallallah ‘ala Muhammad wa alihi wa ashabih ajma’in.
AM. Waskito.
Desember 4, 2008 pukul 7:22 pm |
Ya, seperti yg saya lihat jg, negara2 Arab yg kaya sekarang cenderung ke Liberalisasi dan lebih mementingkan pembangunan fisik tanpa melihat penderitaan saudaranya. Justru ghiroh akan muncul di mana orang2 terindas / terintimidasi. Karena, teknologi penyedot minyak jg dari orang kafir, jd mereka mudah saja di liberalkan. Ibarat kerbau yg manut kalau di cucuk hidungnya. Kebetulan saya juga pernah transit di Dubai (UEA), dan juga seperti di negara yg saya tinggali sekarang bersebelahan jg dg UEA , hampir2 sama lah seperti itu. Astaghfirullah..