Tsunami 1: Kenangan Seputar Tsunami di Aceh Darussalam

Bencana Alam Terbesar

Tanggal, 26 Desember 2004, sekitar pukul 8.00 WIB terjadi gempa bumi besar dengan kekuatan 8,9 skala Richter di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pusat gempa diperkirakan terletak di posisi 2,9 Lintang Utara (LU) dan 96,6 Bujur Timur (BT), kurang-lebih 149 km arah selatan Kota Meulaboh, NAD.

Gempa bumi ini tidak akan berdampak sangat serius, seandainya tidak diikuti bencana lain. Justru guncangan gempa itu memicu gelombang Tsunami yang kemudian menerjang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai Banda Aceh, Pulau Nias, bahkan menyapu Sri Lanka, India, Thailand, Maladewa, Malaysia, hingga beberapa negara di pantai Timur Afrika..

Gempa bumi dan gelombang Tsunami ini telah memakan ratusan ribu korban jiwa. Sampai buku ini disusun tercatat korban meninggal di provinsi NAD dan Sumatera Utara sekitar 95.000 jiwa (belum termasuk korban hilang). Di negara-negara lain, menurut data Reuters pada pertengahan Januari 2005, tercatat korban tewas masing-masing: Sri Lanka (31.000 jiwa), India (16.400 jiwa), Thailand (5.300 jiwa), Malaysia (74 jiwa), Maladewa (74 jiwa), Myanmar (59 jiwa). Begitu kuatnya gelombang Tsunami hingga ia terasa di pantai-pantai Afrika dalam jarak sekitar 6000 km. Bahkan di seluruh Afrika Timur (Kenya, Somalia, Tanzania, Madagaskar, Seychelles), korban tewas tercatat 137 jiwa.

Kerugian-kerugian lain di luar korban jiwa, antara lain: Rumah-rumah hancur, instalasi listrik, air bersih, dan komunikasi putus, pangkalan-pangkalan BBM rusak berat, jalan-jalan raya rusak, saluran air, gedung-gedung, pasar, pertokoan, kantor pemerintah, kantor kepolisian, barak militer, fasilitas sosial, semua hancur. Termasuk di dalamnya trauma psikologis yang menghantui korban-korban selamat, bau busuk dari mayat-mayat korban banjir, ancaman wabah penyakit, problem pengungsian, anak yatim-piatu, dan lain-lain.

Inilah bencana alam terbesar dalam sejarah Indonesia, dan sekaligus terbesar di dunia sepanjang abab ke-20. Menurut menteri luar negeri Amerika Serikat, Collin Powell, kerusakan yang timbul akibat Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam melebihi kerusakan akibat badai Tornado, bahkan akibat perang sekalipun.

Tentu saja, peristiwa ini merupakan mushibah besar yang sangat mengerikan. Ia bukan saja dahsyat, menimbulkan kerusakan hebat, namun situasi mencekam yang ditimbulkannya telah memicu trauma besar bagi orang-orang yang mengalaminya. Tidak sedikit korban yang selamat, baik orang dewasa atau anak-anak, merasa trauma ketika melihat air. Bahkan sebagian warga Aceh bertekad meninggalkan daerah itu, tidak ingin lagi kembali kesana.

Tidak berlebihan jika pasca bencana ini dibutuhkan pembinaan khusus bagi masyarakat Aceh korban bencana untuk memulihkan rasa percaya diri mereka dan menepiskan trauma akibat bencana. Memang, sangat sulit menghilangkan kenangan akan ombak besar yang datang tiba-tiba, lalu melenyapkan kota-kota dan kehidupan itu. Bagi para “pengamat” di luar memang mudah mengatakan: “Sabarlah saudara! Sebentar lagi badai akan berlalu.” Namun bagi orang-orang yang melihat peristiwa itu terjadi persis di depan matanya, mereka merasakan apa-apa yang tidak dirasakan oleh orang-orang di luar. Jika Kali Ciliwung di Jakarta meluap, ia sudah cukup memicu isak-tangis luar biasa, lalu bagaimana jika Samudera Hindia yang meluap?

Tapi bagaimanapun, kehidupan harus terus dilanjutkan, amanah-amanah ditunaikan, obsesi dan harapan tetap dipancangkan, seperti umumnya kehidupan manusia di muka bumi. Jika masyarakat Aceh terus berlarut-larut dalam duka, atau sebagian mereka bertekad meninggalkan wilayah itu, sudah tentu hal tersebut akan memperparah keadaan. Mushibah besar telah terjadi, kemudian disusul mushibah berikutnya yang tidak kalah serius, yaitu hilangnya semangat hidup. Jika hal itu terus berlanjut, Aceh bisa menjadi kota “puing-puing”, dimana setiap orang yang memandangnya timbul rasa trauma di hati. Na’udzubillah min dzalik.

Tidak ada pilihan lain, kita harus kembali ke bumi Serambi Mekah Aceh Darussalam. Hanya itu pilihan yang bisa diambil. Meninggalkan Aceh akan meninggalkan kedukaan tidak berkesudahan, sedang menetap di tempat lain, belum tentu akan membuahkan rasa nyaman di hati. Kata pepatah: “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang.” Baik ada atau tiada bencana, kita harus kembali ke Bumi Aceh Darussalam.

Ini Serasa Mimpi

Hari Senin, 27 Desember 2004, sebagian besar masyarakat merasa tenang-tenang saja, seolah tidak ada sesuatu yang istimewa terjadi di hari itu. Pagi itu harian Pikiran Rakyat Bandung menurunkan headline yang sangat mengejutkan, “Gelombang Tsunami Tewaskan Tujuh Ribu Orang: Kawasan Asia Selatan dan Tenggara Hancur.” Disana disebutkan perincian korban jiwa di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) hingga sekitar 4000 jiwa.

Antara percaya dan tidak, mata kami terus membaca, namun hati serasa menolak: “Benarkah telah terjadi bencana sedahsyat itu? Mungkin, ini hanya sensasi yang dibuat koran-koran.” Kami punya alasan untuk bersikap demikian, sebab belum lama sebelum itu telah terjadi gempa bumi di Nabire Papua. Kami mengira gempa bumi di Aceh serupa belaka dengan gempa bumi di Nabire. Toh, sebelum itu telah terjadi berkali-kali kasus gempa bumi di Tanah Air.

Pada malam harinya, kami ingin memastikan berita harian Pikiran Rakyat tersebut dengan mengikuti liputan khusus “Bencana Nasional” di RCTI tentang gempa bumi dan Tsunami di Aceh. Dengan melihat judul acaranya saja, tanda-tanda kebenaran informasi itu semakin nyata. Ketika RCTI menayangkan sebagian kecil gambar-gambar korban yang berjatuhan, air mata kami tidak kuasa ditahan lagi. Masya Allah, laa quwwata illa billah. Tiada daya dan kekuatan selain milik-Nya. Ternyata, Pikiran Rakyat tidak membuat sensasi, bahkan apa yang disebutkan media itu terlalu kecil dibanding kenyataan sebenarnya.

Gempa bumi dan Tsunami yang melanda Aceh ini benar-benar mengerikan. Bandingkan kejadian ini dengan peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air di Bandara Adi Sumarno Solo, pada 30 November 2004 lalu. Dalam kecelakaan itu jatuh korban meninggal sebanyak 23 orang (ada yang menyebut 26 orang). Kerugian materiil yang menonjol, yaitu: Hancurnya sebuah pesawat, barang-barang berharga milik penumpang yang hilang, landasan lapangan terbang yang rusak sebagian, serta beberapa kuburan penduduk yang tersapu badan pesawat. Namun histeria di balik kecelakaan ini begitu memilukan.

Dalam Tragedi Tsunami di Aceh 26 Desember 2004 ini, jatuh korban hingga ratusan ribu jiwa. Menurut Departemen Kesehatan (mengutip berita MetroTV pada akhir Januari 2005), korban meninggal dalam bencana ini di seluruh provinsi Aceh dan Sumatera Utara diperkirakan mencapai 96.000 jiwa. Itu pun besar kemungkinan akan bertambah, sebab ada sekitar 132.000 jiwa lagi yang dinyatakan hilang, belum diketahui nasibnya. Melihat besarnya angka korban jiwa, tidak berlebihan jika Tragedi Tsunami di Aceh ini disebut sebagai bencana alam terbesar, sejak kita mengenal istilah Indonesia.

Duhai Rabbi, dosa dan salah apa yang telah kami tanggung sehingga kini Engkau menurunkan peringatan besar melalui bencana yang sangat mengerikan ini? Ampuni kami Yaa Ghafur, maafkanlah kami, hanya Engkau Dzat yang mengampuni dosa-dosa dan memaafkan kesalahan. Amin.

Fenomena Tsunami

Bencana alam yang menimpa provinsi Aceh sebenarnya tidak akan menelan korban begitu dahsyat, seandainya hanya berupa gempa bumi. Gempa bumi dengan kekuatan 8,9 skala Richter tentu merupakan gempa bumi dahsyat dengan resiko kerugian besar. Sebagai catatan, gempa bumi yang melanda Nabire akhir November 2004 lalu berkekuatan 6,4 skala Richter (menelan korban jiwa 6 orang, luka-luka 30 orang). Namun gelombang pasang Tsunami yang terjadi tidak lama sesudah gempa di Nabire itu, membuka pintu-pintu kehancuran yang sangat mengerikan. Akibat gelombang Tsunami ini, ada sebuah kapal laut dengan berat ribuan ton terseret air ke darat hingga jarak sekitar 5 km. Diperkirakan ribuan orang meninggal akibat terlindas kapal besar yang berjalan di daratan itu.

Dampak buruk bencana ini bukan hanya dirasakan oleh Ummat Islam di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, namun juga menerjang kawasan-kawasan pantai di Asia Tenggara, Asia Selatan, bahkan hingga Afrika Timur. Kerugian terburuk di luar negeri dialami oleh Sri Lanka, India dan Thailand. Sri Lanka perlu mengumumkan negaranya dalam situasi darurat dan mengundang dunia internasional turun membantu meringankan beban mereka.

Gelombang Tsunami kurang popular di mata masyarakat Indonesia. Ia justru terkenal di Jepang. Bahkan penamaan bencana itu pun menggunakan istilah Jepang, yang berarti gelombang pasang. Namun, begitu Tsunami terjadi di Indonesia, ia menerjang pantai-pantai di kawasan “tapal kuda” Asia Selatan, menyebabkan puluhan ribu manusia meninggal, kota-kota hancur. Konon, Tsunami yang terjadi di Aceh ini bukan yang paling besar, tapi resiko korban yang berjatuhan, paling besar di dunia. Tidak bisa dielakkan lagi, nama Aceh pun disebut-sebut di berbagai belahan bumi.

Ada beberapa catatan menarik di balik fenomena gelombang Tsunami, yaitu:

[o] Bencana Tsunami bisa disebut sebagai banjir banding dari arah laut. Biasanya, kita hanya mengenal banjir sungai. Jarang orang yang berpikir bahwa laut yang tenang itu bisa memicu bencana banjir yang 1000 kali lebih mengerikan dari banjir sungai.

[o] Gelombang pasang Tsunami rata-rata besar, bahkan bisa mencapai ketinggian 30 meter di atas permukaan laut. Ia datang tiba-tiba ketika masyarakat sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tsunami timbul oleh gempa bumi di laut dan hal itu sulit diperkirakan. Manusia sulit menduga kapan terjadi gempa bumi di laut, lalu gempa itu memicu Tsunami. Wajar jika setiap terjadi Tsunami, rata-rata jatuh korban besar, baik korban manusia maupun materi.

[o] Tsunami hadir tiba-tiba dengan kekuatan dahsyat, namun ia juga akan surut secara tiba-tiba. Air laut yang semula masuk ke darat, ia akan segera kembali ke laut. Besarnya gelombang air dan kekuatan gerakannya yang luar biasa tentu saja akan menerjang manusia, rumah-rumah, gedung-gedung, benda-benda, pepohonan, instalasi-instalasi, lalu mengaduk semua itu menjadi gambaran baru yang sangat memilukan hati. Bandingkan hal itu dengan “rutinitas” banjir Kali Ciliwung yang melanda Jakarta.

Siapapun yang memperhatikan perilaku air laut, ia kelihatan sangat dinamis hanya di permukaannya saja, itu pun terjadi karena tiupan angin. Adapun di lapisan setelah permukaan sampai ke dasar laut, air laut sebenarnya sangat tenang. Melihat tenangnya laut, banyak orang memilih tinggal di pantai-pantai, sebaliknya jarang orang mau tinggal di pinggir-pingir sungai, kecuali karena terpaksa.

Namun di balik sesuatu yang tenang itu tersembunyi kekuatan yang sangat dahsyat. Jika banjir sungai bisa membuat bulu kuduk berdiri, maka terbayang betapa mengerikan jika air laut meluap. Bagaimana air laut akan meluap padahal permukaan laut lebih rendah dari daratan? Yaa, Allah mempunyai banyak cara untuk menegur kesombongan manusia. Melalui guncangan gempa bumi di dasar laut, air laut terdorong kuat, lalu menimbulkan gelombang di permukaan. Gelombang itulah yang kemudian meluluh-lantakkan pantai-pantai. Setelah air laut “menyelesaikan tugasnya”, ia segera kembali ke tempat semula. Inilah karakter khas Tsunami.

Seolah Kiamat Menghampiri

Hari selasa dini hari, 28 Desember 2004, di MetroTV, dalam acara Midnight Live. Dalam acara itu diutarakan sebuah kesaksian dari seorang dokter spesialis yang ditugaskan di Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam. Beliau adalah dokter Doddy. Dokter Doddy biasa bertugas di Meulaboh, namun di hari Minggu pagi ketika terjadi gempa bumi dan Tsunami, beliau dan teman-teman sedang berada di tengah Kota Banda Aceh. Dokter Doddy adalah salah satu saksi mata bencana dahsyat itu.

Beliau dan teman-teman sengaja datang ke Banda Aceh untuk berjalan-jalan karena ada kesempatan libur nasional. Di Banda Aceh beliau menginap di sebuah hotel tertentu. Sebagian teman-temannya, sesama dokter, masih tertinggal di Meulaboh, mereka tidak ikut jalan-jalan.

Di pagi hari dokter Doddy dan lainnya merasakan guncangan gempa, maka buru-buru mereka keluar dari hotel. Ketika keluar ruang front office sudah kosong ditinggalkan para petugasnya untuk menyelamatkan diri dari resiko gempa bumi. Di luar hotel beliau melihat banyak orang keluar di jalan-jalan. Melihat gelagat yang kurang baik, beliau segera menyiagakan mobil bersama teman-temannya.

Di jalanan dokter Doddy dan teman-teman menyaksikan ratusan orang berlarian kebingungan menuju ke suatu arah. Beliau tidak tahu kejadian apa yang sedang terjadi, dia hanya mengikuti ke arah mana orang-orang itu lari. Di suatu titik beliau dan orang-orang itu melihat ke arah pantai. Allahu Akbar, gelombang tinggi bergulung-gulung sedang menuju ke arah mereka. Orang-orang bertakbir merasakan tekanan ketakutan luar biasa. Ketika itu dokter Doddy merasa Kiamat telah terjadi, seolah dunia sedang dihancurkan oleh Allah Ta’ala.

Duh, betapa pilu hati kita membayangkan seandainya ketika itu kita berada di tengah-tengah manusia yang tengah bertakbir, dilanda ketakutan luar biasa, pasrah nasib seraya menyongsong ombak laut yang bergulung-gulung. Allahu Akbar, tiada daya dan kekuatan selain milik-Nya belaka.

Kehancuran Sebuah Wilayah

Pasca gelombang Tsunami, ratusan ribu jiwa manusia jatuh sebagai korban. Mereka meninggal, mayatnya bergelimpangan dimana-mana, di jalan-jalan, di reruntuhan bangunan, di sungai, di pohon-pohon, dan lain-lain. Mayat-mayat itu cepat membusuk, sebagaimana layaknya mayat manusia pada umumnya. Tentu saja, ia menebarkan bau busuk, orang-orang terpaksa memakai masker atau apa saja untuk menutupi hidung dari bau menyengat.

Mayat-mayat itu tidak begitu saja bisa dikuburkan dengan alasan belum diketahui keluarganya, menunggu fatwa MUI, serta berbagai alasan lain. Banyak diantaranya digeletakkan di trotoar-trotoar, di lantai bekas puing-puing bangunan, atau dibawa ke tempat-tempat tertentu. Di sisi lain, banyak pihak bersuara lantang menuntut agar mayat-mayat itu segera dikuburkan, sebab ia akan menimbulkan masalah baru jika tidak cepat-cepat dikuburkan. Banyak orang merasa sangat gemas melihat lambatnya penanganan mayat-mayat warga itu.

Hampir setiap hari media-media TV menayangkan berita-berita seputar bencana Tsunami di Aceh. Sebagian liputan itu berupa ratap-tangis para korban bencana yang sangat menyayat hati. Hanya manusia-manusia rusak hati yang tidak akan tersentuh oleh penderitaan Muslim Aceh Darussalam. Setiap hari berganti, ratap-tangis itu masih nyaring terdengar. Mungkin dibutuhkan waktu tidak sebentar untuk benar-benar menghapus air-mata kesedihan masyarakat Aceh. Namun anehnya, upaya pertolongan terhadap para korban nampak sangat lambat, padahal berbagai bentuk bantuan mengalir besar dari masyarakat Indonesia maupun dunia. Lagi-lagi kita kesal dan sangat gemas.

Pertanyaannya, mengapa banyak orang berteriak nyaring agar mayat-mayat korban segera dikuburkan? Mengapa kita gemas sekali mendengar ratap-tangis korban bencana, sedang upaya-upaya pertolongan berjalan sangat lambat? Jawabannya sederhana: Ini bukan bencana alam biasa yang menimpa sebuah sudut kota tertentu, tetapi ia bencana yang menghancurkan kota itu sendiri.

Salah satu contoh penting, yaitu kehancuran fasilitas jalan-jalan raya. Semua jalan-jalan masuk ke wilayah bencana putus total. Jembatan-jembatan putus, jalan-jalan beraspal longsor, jalan-jalan kecil rusak total. Dermaga hancur, terminal-terminal menjadi puing-puing, fasilitas BBM, toko-toko spare part, bengkel, warung-warung dan berbagai fasilitas transportasi hancur. Kantor polisi hancur, para polisinya hanyut terbawa air, kantor DLLAJR, kantor Pemda dan lain-lain juga senasib. Kesimpulannya, segala sesuatu menyangkut fasilitas transportasi darat hancur-luluh. Transportasi yang bisa ditempuh hanya melalui udara, padahal ia sangat mahal, penuh birokrasi dan terhambat oleh keterbatasan jumlah pesawat.

Dengan keadaan seperti ini, apa yang bisa dilakukan untuk menjawab semua kekesalan, rasa gemas, dan berbagai tuntutan masyarakat itu? Bisakah semua tuntutan dipenuhi tanpa fasilitas jalan dan kendaraan?

Sungguh, kehancuran sistem transportasi seperti yang terjadi di Aceh membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya kembali. Belum lagi kehancuran fasilitas perumahan, pasar, ibadah, pertokoan, kesehatan, listrik, air bersih, telekomunikasi, pendidikan, sistem birokrasi, instalasi militer, dan lain-lain. Bahkan fasilitas penjara pun ikut hancur dilanda gelombang Tsunami.

Bukan bermaksud membela pihak tertentu, namun cobalah berpikir logis, sebab hal itu lebih adil untuk memahami situasi ini. Setiap manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan, mereka bukan “Superman”. Seandainya posisi di balik, pihak yang menuntut bertukar kursi dengan pihak yang dituntut, mampukah mereka bertahan duduk satu hari saja di atas kursi itu?

Saudaraku, yang kita bicarakan bukanlah kerusakan kecil, atau bencana kecil-kecil yang kerap terjadi. Ini adalah bencana monumental yang menghancurkan kota, menghancurkan wilayah regional, bahkan membelokkan arah sejarah. Bencana ini tak berbeda dengan tragedi yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 lalu. Hanya bedanya, ketika itu guncangan timbul karena Bom Hidrogen yang sangat dahsyat. Jika dibandingkan dengan peristiwa WTC pada 11 September 2001 lalu, bencana Tsunami bisa dikatakan 100 kali lebih dahsyat.

Kita bicara tentang kehancuran kota-kota, jatuhnya puluhan hingga ratusan ribu korban jiwa, hancurnya infrastruktur, lenyapnya sebuah generasi, putusnya ribuan sistem kekerabatan, trauma psikologis, lenyapnya aset-aset, meratanya kemiskinan, ancaman wabah penyakit dan lain-lain. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Hanya kepada Allah belaka kita memohon perlindungan dari kedahsyatan bencana alam yang meluluh-lantakan kehidupan.

Sekelumit Doa

Rabbi, bukan kami menyesali atas semua kejadian ini. Bukan kami tiada ridha atas takdir-Mu. Bukan kami akan membantah-Mu dengan datangnya cobaan ini. Bukan kami menolak memperbaiki diri atas peringatan yang Engkau datangkan. Namun Rabbi, mengapa begitu memilukan derita yang menimpa saudara-saudara kami? Mereka bertakbir mengagungkan-Mu ketika Engkau datangkan atas mereka sebagian dari peringatan-Mu. Mereka melihat, seolah telah Engkau tegakkan Hari Kiamat di depan mata mereka.

Yaa Rabbana, maafkan kami, ampuni kami, kasihi kami, lembutlah kepada kami. Kami ini hamba-Mu, kami lemah, Engkau Yang Kuat, kami hina, Engkau Yang Mulia, kami berlumuran dosa, Engkau Maha Mengampuni. Yaa Rabbana, kami ini hamba-Mu, kami beribadah sekuat kemampuan kami kepada-Mu, bakti kami untuk-Mu, hidup kami untuk mencari ridha-Mu.

Yaa Rabbana, apakah telah layak kami menerima semua ini? Jika demikian adanya, ampunilah diri-diri kami semuanya. Ampuni saudara-saudara kami yang telah pergi mendahului kami di Bumi Serambi Mekkah Aceh Darussalam. Ampuni mereka, jadikan bencana ini penggugur seluruh dosa-dosanya, luaskan rahmat-Mu ke atas mereka, sambutlah mereka dengan ridha dan jannah-Mu. Amin.

Rabbana, tabahkan hati saudara-saudara kami yang masih Engkau berikan kesempatan hidup setelah bencana ini. Tabahkan mereka, kuatkan hatinya, teguhkan keimanannya, mudahkan urusan-urusannya, sehatkan mereka, santuni kaum wanita dan anak-anak mereka, luaskan rizki, curahkan rahmat, beri mereka keamanan, bimbing mereka, perbaiki kehidupan mereka, hapuslah air-mata kesedihan mereka, tunaikanlah janji-Mu Yaa rahmaan bahwa di balik kesulitan ada kemudahan. Amin.

Yaa Rabbana, perbaiki bangsa Aceh, hapuskan kedukaan mereka, suburkan tanah mereka, lindungi mereka dari tipu-daya dan kezhaliman, lahirkan dari rahim wanita-wanita mereka generasi baru yang taat, shalih, dan penuh bakti kepada-Mu. Tolaklah seluruh tangan-tangan jahat yang bermaksud menganiaya mereka, meneteskan air mata dan darah mereka, dan menjarah kekayaan mereka. Yaa Allah Yaa Karim, jadikanlah seluruh kesulitan ini cepat berlalu, bentangkanlah hari-hari baru yang penuh kemudahan, kemuliaan, dan bahagia di bumi Aceh Darussalam, sebagaimana ia dinamakan sebagai rumah yang penuh keselamatan dan sentausa. Amin.

Rabbana, maafkanlah kami atas semua kesalahan dan dosa kami selama ini. Terlalu lama kami membiarkan saudara-saudara kami hidup dalam derita. Telah menipis di hati-hati kami sifat-sifat persaudaraan, kepedulian, pembelaan, kemurahan hati. Tiada terkira banyaknya air mata dan darah yang menetes, namun kami tetap setia dengan kesenangan dan permainan-permainan. Rabbana, kami tidak lebih mulia dari saudara-saudara kami. Sejarah mereka harum, keberanian mereka diakui dunia, pembelaan mereka kepada Islam hanya membuat hati kami semakin berkecil hati. Rabbana, bencana itu sebenarnya lebih layak menimpa kami atas dosa-dosa dan kegelapan hati kami. Namun, untuk kesekian kalinya, saudara-saudara kami harus menanggung semua penderitaan demi menyelamatkan kami.

Rabbi, jadikanlah bencana besar ini sebagai babak kehidupan baru, untuk saudara-saudara kami di Aceh Darussalam, juga bagi kami di tempat-tempat lain. Perbaikilah kehidupan kami seluruhnya, lahirnya dan bathinnya. Eratkan persaudaraan di antara kami, sadarkan hamba-hamba yang lalai, anugerahkan untuk kami kehidupan baru yang lebih baik.

Amin Allahumma amin. Wa shalallahu wa salamuhu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alih wa ashabih ajma’in.

_____________________________________________________________________

Peringatan 4 Tahun Bencana Tsunami

di Aceh Darussalam

_____________________________________________________________________

Bandung, 2 Muharram 1430 H

AM. Waskito.

Catatan: Naskah ini diambil dari naskah buku penulis, Hikmah Tragedi Tsunami di Bumi Aceh Darussalam (have not published).

About these ads

Satu Balasan ke Tsunami 1: Kenangan Seputar Tsunami di Aceh Darussalam

  1. abisyakir mengatakan:

    Ya, jangan sekecil hati itu. Memang kalau memikirkan konspirasi Yahudi dkk. kita serasa sangat ngeri. Tetapi perhatikan beberapa hal ini:

    – Sekuat-kuatnya Yahudi, masih ada Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana.

    – Ajaran Islam sebenarnya bukan tidak mampu hadapi Yahudi, tetapi kemerosotan kaum Muslimin terlalu amat sangat buruk sekali sekali sekali (sampai ‘sekali’ tiga kali). Jadi ini memberi pelajaran, bahwa bukan ISLAM YG TDK MAMPU HADAPI YAHUDI, Tapi kaum Muslimin sebagai OPERATOR ISLAM sangat buruk.

    – Kekalahan kaum Muslimin ini, minimal bisa dilihat dari kondisi diri kita masing-masing. Iya kan… Ngaku saja, kita lemah kan. Sejujurnya, saya juga lemah.

    Sekali lagi jangan putus asa ya… Jazakallah khair.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 152 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: