Tsunami 2: Ayat-ayat Allah di Tengah Bencana

Bencana gempa bumi dan Tsunami di Aceh, telah menorehkan kepedihan mendalam di hati Ummat Islam Indonesia, khususnya kaum Muslimin di Aceh Darussalam. Namun Allah juga berkehendak menghibur kita dengan ayat-ayat Kekuasaan-Nya yang bertebaran di sekitar bencana ini.

Sebagian ulama membedakan ayat-ayat Allah dalam dua bentuk, yaitu ayat-ayat tersurat (tertulis dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi) dan ayat-ayat tersirat yang bertebaran di seluruh penjuru alam semesta. Ayat-ayat tersirat itu bisa berupa kesempurnaan arsitektur ciptaan Allah di alam, atau berupa Sunnatullah yang bergerak tetap tanpa ada perubahan, atau berupa kejadian-kejadian luar-biasa yang menurut akal sehat mustahil terjadi, atau berupa tanda-tanda peringatan Allah agar manusia sadar diri, bahkan bisa berupa bukti-bukti pertolongan Allah terhadap hamba-hamba yang dikasihi-Nya. Sebagian kalangan menyebut ayat-ayat tersirat ini dengan istilah al ayatul kauniyyah.

Di sekitar kejadian bencana alam di Bumi Aceh Darussalam, muncul begitu banyak tanda-tanda Keagungan Allah yang sulit diingkari oleh setiap mata, telinga, dan hati manusia yang masih berfungsi. Hanya hati-hati yang buta saja yang akan mengingkari ayat-ayat Allah itu. Bahkan seandainya terjadi bencana yang 10 kali lebih memilukan dari gelombang Tsunami di Aceh ini, hati-hati mereka tetap keras, lebih keras dari batu. Na’udzubillah min dzalik.

Karena sesungguhnya, bukanlah pandangan mata itu yang buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dada.” (Surat Al Hajj: 46).

Kemudian setelah itu hati-hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras dari itu. Padahal di antara batu itu ada yang mengalir sungai-sungai darinya, dan di antaranya ada yang terbelah lalu keluar air darinya.” (Surat Al Baqarah: 74).

Ayat-ayat Kauniyyah

Dengan mengikuti berita-berita media massa seputar bencana alam di Aceh, terutama liputan MetroTV, ia akan membuat hati-hati manusia Indonesia melembut dan segera insyaf dari segala kekeliruan yang selama ini digeluti. Bahkan dengan menyimak sebagian kecil berita saja, kita seharusnya sudah menyungkurkan wajah, bertaubat kepada Allah dengan sebaik-baik taubat.

Di antara kejadian-kejadian luar biasa yang kita saksikan melalui media-media massa, antara lain sebagai berikut:

[1] Wajah sejuk jenazah anak-anak balita

Kematian anak-anak balita dalam ketenangan luar biasa, layaknya anak-anak yang tertidur pulas. Meninggal akibat tenggelam akan menyisakan tanda-tanda, terutama di urat leher jenazah. Namun bayi-bayi itu meninggal dalam keadaan penuh tenang. Bukan hanya satu bayi, namun, puluhan, ratusan, bahkan ribuan bocah-bocah kecil di Nanggroe Aceh Darussalam.

Gambar sebagian bayi-bayi itu diperlihatkan dengan jelas dalam tayangan spot live event Metro TV bertajuk Indonesia Menangis. Saya menduga, anak-anak itu telah diwafatkan terlebih dulu, sebelum air bah menggulung badan mereka. Tidak ada yang mustahil jika Allah telah menghendakinya.

[2] Masjid-masjid tetap berdiri kokoh

Selama bencana, hampir seluruh kawasan yang dilanda banjir rata dengan tanah. Dari pantauan foto satelit, terlihat daerah-daerah yang tersapu Tsunami berubah total 90 % dibandingkan kondisi semula. Ia seperti lapisan pasir kering di atas lantai licin, lalu diguyur oleh air dalam jumlah besar, maka lantai pun mengkilat seperti sediakala. Uniknya, banyak masjid-masjid yang tetap berdiri kokoh meskipun lingkungan di sekitarnya telah rata oleh banjir.

Masjid-masjid itu sempat diabadikan oleh kamera, lalu foto-fotonya beredar luas di internet. Dalam hal ini Masjid Raya Banda Aceh Baiturrahman menjadi induk dari semua masjid-masjid yang tetap kokoh berdiri. Selama bencana terjadi masjid menjadi tempat berlindung Ummat Islam dari amukan bencana. Menutut Hasyim, seorang juru kamera amatir yang mengabadikan peristiwa monumental banjir di tengah Banda Aceh, arus air di luar Masjid Raya Baiturrahman sangat deras, namun di sekitar masjid arus itu justru tenang. Bahkan di dalam masjid sendiri air bergerak pelan, tidak membahayakan.

Sebagian orang membantah, masjid-masjid itu dibangun dengan fondasi yang kokoh sehingga tidak roboh. Satu sisi, darimana mereka tahu apakah fondasi masjid itu dibuat sangat kokoh? Apakah mereka ikut bekerja ketika masjid itu dibangun? Lagi pula, apakah fondasi masjid di Aceh dibuat melebihi kekokohan fondasi bangunan-bangunan lain seperti rumah-rumah mewah, hotel-hotel, gedung bertingkat, kantor-kantor BUMN, kantor pemerintahan, markas militer, PLN, Pertamina dan lain-lain? Apakah dana masyarakat untuk membangun masjid melimpah-ruah melebihi dana perusahaan-perusahaan besar ketika mereka membangun gedung?

Atau mungkin mereka berkata, semua ini hanya kebetulan terjadi. Allahu Akbar, bagaimana disebut kebetulan jika ia terjadi di banyak masjid, lebih dari satu atau dua masjid? Apakah masjid-masjid itu satu sama lain saling kompak untuk melawan terjangan banjir Tsunami? Jika kekompakan itu ada, mungkin manusia-manusia berhati batu itu yang menjadi saksi ikrar kekompakan mereka.

Uni Zulfiani Lubis, seorang wartawan TV7, menulis di surat pembaca Kompas, menanggapi kritik seorang pakar komunikasi dari USU Medan terkait tulisannya di Kompas. Uni menulis antara lain: “Saya bukan ahli gempa, Pak. …Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dengan berbagai cara. Tsunami memporak-porandakan lapangan Blang Padang, tetapi replika Seulawah berdiri tegak, bersih. Sekeliling Masjid Baiturrahman luluh lantak, tetapi masjid kebanggaan itu tegak berdiri.” (Kompas, 5 Januari 2005).

Luar biasa jika melihat masjid-masjid yang selamat. Ia memberikan semangat tersendiri di hati orang-orang beriman. Seakan, masyarakat Aceh diajak untuk melupakan masa lalu, kemudian membangun kembali tanah mereka dengan menjadikan masjid sebagai titik-tolaknya.

[3] Korban selamat di tengah bencana

MetroTV sangat aktif memberitakan perkembangan bencana di Aceh, terutama di awal-awal bencana. Selain berita seputar korban-korban berjatuhan, MetroTV juga menayangkan kejadian-kejadian luar biasa yang dialami beberapa korban selamat. Menurut hitungan akal sehat, mereka sudah masuk dalam daftar korban meninggal atau hilang, namun ternyata mereka masih hidup.

Ada seorang ibu-ibu yang digulung ombak, berkali-kali tubuhnya dihantam balok-balok kayu, namun dia tetap selamat. Setelah selamat, dia masih kerap merasa sesak nafas akibat menelan air atau lumpur. Ada pula seorang remaja yang tetap selamat dengan cara memanjat kelapa. Selama beberapa hari dia berada di atas kelapa, bertahan dengan cara apapun yang bisa dilakukan.

Seorang pemuda, dosen sebuah universitas di Aceh, dia digulung-gulung di tengah ombak, banyak keluarganya tersapu banjir, namun dia tetap selamat. Dia merasa seolah ada kekuatan yang menariknya keluar dari kepungan air. Sebelum bencana, dia akan memberangkat ibundanya Naik Haji, namun bencana Tsunami mengubah segala rencana. Mungkin, niat suci itu yang membuat dia selamat dari bencana. Berulangkali pemuda itu berucap syukur kepada Allah atas karunia kehidupan yang masih diberikan kepadanya.

Seorang bocah balita perempuan, ketika banjir terjadi dia terlepas dari tangan ayahnya, lalu jatuh ke tengah-tengah air. Hampir-hampir keluarganya dilanda kepedihan hebat, sebelum akhirnya bocah itu bisa ditemukan lagi. Luar biasanya, bocah kecil itu tidak mengalami luka-luka serius, hanya lecet-lecet kecil. Padahal bocah lain yang jatuh ke air ada yang meninggal di rumah sakit akibat saluran pernafasannya kotor kemasukan lumpur. Di TV bocah balita itu diperlihatkan tetap segar-bugar seolah belum pernah terjadi apa-apa.

Seorang wanita muda ditemukan terapung-apung selama 5 hari di tengah laut lepas. Dia ditemukan oleh sebuah kapal nelayan Malaysia. Dia termasuk di antara korban yang terbawa arus hingga ke laut. Dia selamat dengan berpegang pada batang palem yang dia temukan di tengah laut. Untuk bertahan dia memakan buah yang ada di pohon palem itu. Wanita itu sedang hamil dan kandungannya selamat. Setelah dievakuasi, wanita itu menderita luka-luka di kakinya akibat gigitan ikan.

Kisah serupa juga dialami oleh seorang pemuda yang lebih lama lagi terapung-apung di tengah laut lepas. Untungnya dia menemukan rakit di tengah laut. Selama terapung-apung itu dia terus berdoa kepada Allah, jika diberi keselamatan dia berjanji akan berbuat penuh kebaikan kepada ibunya. Ketika melintas sebuah kapal di dekat pemuda itu, dia melambai-lambai. Hampir-hampir lambaian tangannya tidak terlihat dari kapal, namun Allah berkehendak menyelamatkan pemuda itu. Kapal itu lalu mendekat kepadanya dan menyelamatkan nyawanya.

Lain lagi cerita sebagian remaja yang terjebak di bawah puing-puing reruntuhan. Selama berhari-hari mereka tidak makan dan minum, namun tetap selamat. Salah seorang dari mereka bertahan hingga 8 hari di bawah reruntuhan, tanpa makan, tanpa minum. Manusia biasa, tidak makan-minum selama tiga hari bisa mengancam kehidupannya. Dan tentu saja, masih banyak kisah-kisah kehidupan yang tidak mungkin bisa diceritakan satu per satu.

[4] Rekaman video peristiwa dramatis

Bencana Tsunami membawa banyak hikmah. Salah satunya, yaitu keberadaan juru kamera amatir diakui secara luas, dalam lingkup nasional maupun internasional. Mereka bukan wartawan atau kru studio film, mereka orang kebanyakan, atau pelaku profesi dengan alat bantu kamera shooting. Juru kamera amatir ini telah mengabadikan dahsyatnya bencana benar-benar dari tengah gemuruh bencana itu sendiri. Sulit membayangkan film dokumenter seperti itu akan didapat dari wartawan-wartawan biasa yang selalu menanti gaji setiap bulan.

Rata-rata di setiap negara-negara korban Tsunami muncul rekaman-rekaman peristiwa bencana yang diabadikan oleh juru kamera amatir. Biasanya, video diambil dengan handycam, telepon seluler, atau dengan kamera standar. Dari seluruh video amatir yang beredar, yang paling mengesankan adalah dokumentasi di Aceh Darussalam. Dari seluruh dokumenter di Aceh, yang paling mengesankan adalah rekaman oleh Cut Putri dan Hasyim. Cut Putri mengabadikan peristiwa Tsunami di pantai Banda Aceh, sedang Hasyim mengabadikan di tengah-tengah kota Banda Aceh. Hasil rekaman keduanya memberikan informasi mengagumkan seputar peristiwa bencana bersejarah itu.

Dokumentasi peristiwa yang diabadikan oleh Cut Putri dan Hasyim merupakan hadiah kemanusiaan yang benar-benar harus kita syukuri. Dilihat dari berbagai sisi, video-video itu sangat bernilai. Cut Putri maupun Hasyim merekam peristiwa sejak awal bencana, sebelum Tsunami datang, hingga ketika banjir sudah surut. Peristiwa benar-benar diabadikan dari arena bencana. Mereka mengabadikan bencana secara spontan. Bahkan, Cut Putri atau Hasyim, sejatinya mereka adalah “kandidat” korban, jika tidak diselamatkan oleh Allah.

Dalam film dokumenter Cut Putri, kita saksikan betapa dramatis suasana yang terjadi di rumah pejabat Humas Polda NAD Sayyid Husaini, tempat Cut Putri mengambil gambar. Kepanikan, ketakutan, kepasrahan, harapan kepada Allah, campur-aduk jadi satu. Bahkan dalam rekaman itu terus terdengar suara Cut Putri berdzikir menyebut asma Allah. Berkali-kali dia berkata “Mohon maaf lahir bathin” kepada keluarganya. Selain itu dia juga berdoa: Rabbighfirliy wa liwalidaiya warhamhuma kama rabbayaniy shaghira (Artinya, Yaa Rabbi, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, serta kasihilah mereka sebagaimana mereka telah mengasihiku di waktu kecil). Apa yang terbayang di benak Anda?

Yaa benar, seutuhnya benar! Cut Putri ketika merekam peristiwa itu, dia telah siap menjadi salah satu di antara beribu korban yang hanyut diterjang banjir itu. Dia terus merekam peristiwa, sambil hatinya disiapkan untuk menjemput ajal yang sewaktu-waktu datang.

Peristiwa yang sama juga dialami oleh Hasyim. Dia sebenarnya adalah juru kamera untuk acara-acara perkawinan. Namun setelah peristiwa bencana dahsyat ini, dia lebih nampak sebagai ustadz daripada sebagai juru kamera perkawinan. Dari lisannya tiada putus-putus terucap kalimat-kalimat pujian kepada Allah Azza Wa Jalla. Hasyim, sebuah nama yang mengingatkan kita kepada Bani Hasyim, nenek-moyang Rasulullah Saw.

Hasyim mengabadikan terjangan banjir Tsunami yang benar-benar dahsyat. Arus banjir itu begitu mengerikan, menghanyutkan ribuan ton material berupa kayu, besi, plastik, pohon-pohon, kendaraan, batu-batu, pasir dan lain-lain. Hasyim merekam gambar tepat di sisi arus dahsyat itu. Dia sendiri telah siap mati seandainya datang gelombang susulan yang akan menyapu tempat dia berdiri.

Di balik dua rekaman monumental di atas, nampak jelas bukti pertolongan Allah Ta’ala. Allah menyelamatkan kedua juru kamera itu sejak awal bencana sampai ia benar-benar mereda. Cut Putri sendiri sejak awal sudah hobi mengambil gambar. Kebetulan waktu bencana terjadi, keluarganya sedang bersiap-siap menghadiri pesta walimah. Jika walimah tidak dilaksanakan hari itu besar kemungkinan Cut Putri tidak menyiapkan kameranya dalam kondisi ready to use (siap pakai). Hasyim sendiri mengakui bahwa posisi pengambilan gambarnya sangat baik. Dia bisa mengambil gambar secara maksimal tidak terhalang rintangan-rintangan berarti. Biasanya, dalam situasi bencana, orang hanya berpikir tentang diri masing-masing, namun disini justru muncul keberanian untuk mengabadikan bencana mengerikan itu.

Selain kejadian-kejadian di atas tentu masih banyak peristiwa-peristiwa luar biasa yang belum terungkap. Apa yang tertera disini, saya yakin, hanya sepotong kecil di antara tanda-tanda Keagungan Allah Ta’ala.

Ketegaran Muslim Aceh

Di luar segala duka derita yang menimpa, ada satu hal yang sangat disyukuri, yaitu sifat-sifat keislaman masyarakat Aceh. Sepedih apapun penderitaan, mereka tetap memperlihatkan diri sebagai komunitas Muslim yang menjunjung-tinggi nilai-nilai keimanan. Ketika terjadi gempa, mereka telah sadar bahwa Allah sedang menjalankan urusan-Nya. Mereka beristighfar, berdzikir, berdoa memohon pertolongan Allah. Hal itu mereka lakukan hatta di tengah-tengah jalan raya. Ketika bencana sedang merobek-robek kehidupan, mereka tetap mampu berucap Alhamdulillah. Bagi yang selamat, mereka terus-menerus memuji Allah atas karunia-Nya. Mereka sangat tegar menghadapi terjangan bencana ini.

Satu sisi masyarakat Aceh menjadi semakin dikenal di dunia internasional setelah bencana dahsyat ini. Bahkan, peristiwa itu akan diabadikan oleh buku-buku sejarah manusia di berbagai belahan bumi. Di sisi lain, masyarakat dunia menyaksikan sifat-sifat keimanan masyarakat Aceh yang sangat tegar di tengah bencana. Mudah-mudahan, di balik bencana ini semakin banyak manusia yang mau kembali ke pangkuan fithrah Islam. Allahumma amin.

Dalam Al Qur’an: “Sungguh telah datang kepada kalian bukti-bukti dari Rabb kalian. Maka siapa yang melihat, (kebaikannya) untuk dirinya sendiri. Dan siapa yang buta, (keburukannya) untuk dirinya juga. Dan aku (Muhammad Rasulullah) bukanlah pemelihara atas kalian.” (Surat Al An’aam: 104).

Wallahu a’lam bisshawaab.

_____________________________________________________________________

Peringatan 4 Tahun Bencana Tsunami

di Aceh Darussalam

_____________________________________________________________________

Bandung, 2 Muharram 1430 H

AM. Waskito.

Catatan: Naskah ini diambil dari naskah buku penulis, Hikmah Tragedi Tsunami di Bumi Aceh Darussalam.

About these ads

4 Balasan ke Tsunami 2: Ayat-ayat Allah di Tengah Bencana

  1. Khairiyannor mengatakan:

    Cut putri anti pemberani dn sholehah

  2. Muhammad Iqbal mengatakan:

    Assalamu’alaikum….
    Saya sangat mengharapkan bantuan kawan2 semua, saya sangat berharap kpd siapapun yg tahu alamat email Cut Putri (Video Streaming of Tsunami), saya pernah bekerja sama dengan Cut Putri sekitar tahun 2005 dalam pembuatan sinetron “Dalam Dekapan-Mu” yg pernah ditayangkan di TPI tentang orang2 yg selamat dari Tsunami. Tetapi karena 1 dan lain hal saya kehilangan kontak dengan Cut Putri. Help me…, please….

  3. Muhammad Iqbal mengatakan:

    Alamat email saya :
    ibal_aceh@yahoo.co.id
    Thanks atas semua kawan2 yg kiranya mau membantu saya.

  4. laskar_berani_mati mengatakan:

    masih mengena di hati akan bencana tsunami soalnya saya ada di sana tahun 1999 (waktu masi banyak demo-demo referendum)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 160 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: