Ada Apa Setelah TRAGEDI GHAZA…

Setelah 3 pekan melakukan agressi sangat brutal, akhirnya Israel laknatullah kecapekan juga. Mereka khawatir tidak akan mampu berperang lebih lama, maka buru-buru menyatakan “genjatan senjata sepihak”. Tanpa diminta berhenti oleh para pejuang Palestina, mereka sudah berhenti sendiri.

Enak betul menjadi bangsa Israel. Dia boleh menyerang Palestina atau negara-negara tetangganya kapan saja. Boleh juga memakai cara-cara paling brutal sekalipun, seperti mengguyurkan bom fosfor membakar. Ibarat seorang petinju, Yahudi boleh menyerang musuhnya secara brutal, tanpa ampun; bukan hanya memukul, tetapi juga menendang, menggebuk dengan kursi, menyemprot serbuk merica, memukul dengan sabuk bermata logam, sampai menusuk musuhnya dengan pisau. Tetapi, giliran musuh Yahudi mau menyerang, wasit seketika menghentikan pertarungan. “Stop, stop, pertarungan dihentikan! Mari kita sama-sama istirahat!”

Sebagai perbandingan, ketika terjadi kerusuhan di Timor Timur pasca jejak-pendapat yang memenangkan kubu pro kemerdekaan, perwira-perwira TNI dituduh ikut terlibat dalam kerusuhan itu. Kasus ini selalu menghantui TNI sampai saat ini. Padahal korban yang jatuh sedikit atau skala kerusuhannya tidak besar-besar amat. Bandingkan dengan Yahudi laknatullah itu! Puluhan kali mereka melakukan kebrutalan-kebrutalan, seluruh dunia teriak-teriak mengecamnya, tetapi sampai saat ini dia tetap anteng-anteng saja. Pasca Tragedi Ghaza ini, besar kemungkinan Yahudi Israel akan lolos untuk kesekian kalinya.

Damai Sementara Saja

Sekitar 22 hari sejak 27 Desember 2008 lalu, kita setiap hari disuguhi berita-berita horor seputar kajahatan Yahudi laknatullah ‘alaihim. Kini situasi tenang kembali. Jatuh korban jiwa di kalangan masyarakat Palestina sekitar 1300 jiwa, korban luka lebih dari 5000 orang. Kerusakan fisik diperkirakan mencapai US$ 2 miliar (sekitar 20 triliun rupiah). Israel sudah menyatakan berhenti menyerang secara sepihak.

Tapi apalah artinya genjatan senjata, perdamaian, perundingan ini? Apa artinya semua itu? Toh, nanti seluruh dunia akan melihat seri kebrutalan Yahudi untuk kesekian kalinya. Sekarang saja mereka berhenti, tetapi sebentar lagi penyakit brutalnya akan kambuh lagi. Betapa tidak, kebrutalan demi kebrutalan Yahudi sudah terjadi sejak lama dan terus terulang sampai saat ini.

Andai Hamas memiliki kekuatan yang tangguh, lebih baik bgi mereka untuk meneruskan perlawanan. Sebab Israel tidak memiliki mentalitas untuk berperang dalam durasi lama. Mereka adalah spesialis teror terhadap warga sipil, tidak memiliki kemampuan untuk berperang secara berkesinambungan.

Namun karena kekuatan Hamas memang minim, tidak mengapa menyambut genjatan senjata sepihak bangsa laknatullah itu. Apa boleh buat? Itulah kesempatan terbaik yang saat ini ada.

Soal Terowongan

Yahudi bukan hanya brutal, membabi-buta, dan tidak tahu malu. Bahkan saat ini mereka amat sangat bodoh. Berulang kali mereka menuduh terowongan-terowongan yang dibuat warga Ghaza ke wilayah Mesir sebagai pemicu agressinya selama ini. Mereka menuduh Hamas menyelundupkan senjata-senjata melalui terowongan yang kata mereka berjumlah ratusan itu.

Titik dungunya Yahudi ada disini:

Pertama, mereka memblokade Ghaza dari darat, laut, dan udara. Pasokan makanan, air, obat-obatan, energi listrik, komunikasi, dll. diputus masuk ke Ghaza. Wajar saja warga Ghaza membuat terowongan untuk menembus blokade itu. Anda terowongan-terowongan dilarang, mereka tetap akan mencari cara lain untuk menembus blokade. Bahkan, andai semua warga Ghaza dimasukkan sel semua, mereka tetap akan mencari celah-celah untuk lolos. Ini bukan patuh ke Yahudi atau tidak, tetapi ini adalah struggle for survive (berjuang untuk bertahan hidup).

Kedua, benarkah Hamas menyelundupkan senjata? Kalau benar, kita akan menyaksikan buktinya di lapangan. Ternyata, Hamas membuat senjata-senjata seadanya, dengan pipa besi, mesiu, dan sebagainya. Bisa saja tuduhan Israel dibenarkan, dengan catatan yang diselundupkan itu adalah pipa besi, pipa paralon, kabel listrik, lak ban, belerang, kaleng, dan sebagainya. Nah, itulah material “senjata” yang diselundupkan oleh Hamas. Sangat menggelikan.

Israel seharusnya tahu, andai terowongan itu benar-benar dipakai oleh Hamas untuk menyelundupkan senjata-senjata, hal itu sah-sah saja. Setiap negara berhak memikirkan keamanan negerinya. TNI pun kalau membutuhkan senjata, tentu akan melakukan berbagai cara yang memungkinkan.

Ketiga, Israel bermaksud membunuh warga Ghaza secara pelan-pelan, dengan blokade massif yang tidak terbayangkan. Ketika proyek “mencekik pelan-pelan” ini agak terganggu karena ada terowongan-terowongan, Yahudi Israel marah-marah. Mereka bayangkan warga Ghaza akan sukses dicekiki satu per satu sampai mampus. Namun saat skenarionya tidak berjalan mulus, mereka marah kepada terowongan-terowongan itu.

Bantuan Miliaran Dollar

Setelah Ghaza hancur, berbagai bangsa tersentuh untuk membantu. Saudi komitmen membantu US$ 1 miliar, negara-negara Arab kaya lain setuju membantu senilai US$ 2 miliar. Mungkin bantuan kemanusiaan masih berdatangan dari berbagai negara, baik yang dikoordinir oleh PBB, Pemerintah Palestina, negara masing-masing, bahkan bantuan swasta, organisasi, atau individu.

Kalau ditanya, “Untuk apa semua bantuan itu?” Jawabnya tentu jelas, “Ya untuk membangun kembali wilayah Ghaza setelah hancur oleh serbuan Israel. Ya untuk membangun rumah, rumah-sakit, jalan raya, gedung-gedung, berbagai fasilitas, dan lain-lain.” Itulah logika standarnya.

Namun kita merasa miris dengan semua bantuan itu. Bukan karena bangsa Palestina tidak boleh dibantu, tetapi apa artinya semua bantuan itu? Apakah ia adalah bantuan yang penuh kemunafikan? Bantuan yang menandakan bejatnya moral bangsa-bangsa di dunia saat ini, khususnya bangsa Arab?

Betapa kejinya pemikiran manusia-manusia ini. Mereka hanya diam saja ketika menyaksikan warga sipil Palestina menjadi bulan-bulanan serangan Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim. Setelah serangan berhenti, Israel berhasil memproduksi kesengsaraan sebesar-besarnya bagi warga Palestina, setelah itu barulah bangsa-bangsa di dunia turun tangan mengasihani Palestina, khususnya Ghaza. Apalah artinya semua belas kasih itu? Mengapa mereka baru membantu saat ini, ketika sudah terjadi kehancuran? Bukankah kehancuran ini bisa dicegah jika sejak awal mereka mau menahan kezhaliman anak-anak durhaka Bani Israel itu?

Palestina seperti petinju yang diikat tangannya di pojok ring. Israel bebas menghajarnya dengan pukulan apapun, bahkan dengan kursi, stick, sepatu, atau apa saja yang dia jumpai. Wasit hanya bisa menyaksikan, tanpa sedikit pun ikut campur. Jelas akibatnya, “petinju” Palestina hancur lebur diserbu Israel laknatullah ‘alaihim. Setelah Palestina hancur, baru berdatangan dokter, petugas polisi, tim pengamat, datang bantuan makanan, simpati, karangan bunga, dan sebagainya. Ini benar-benar drama yang sangat munafik. Siapa lagi tokoh-tokoh kemunafikannya, kalau bukan pemimpin-pemimpin Arab itu.

Mereka sudah tahu bahwa Israel sangat brutal dan akibatnya rakyat Palestina pasti hancur, tetapi mereka hanya menunggu sampai Israel berhenti sendiri. Dan kenyataan seperti ini telah terjadi sekian lama dengan tidak banyak terjadi perubahan. Seakan-akan, para pemimpin Arab itu hendak mengatakan, “Silakan saja Israel, kamu mau agressi seperti apapun! Silakan saja kamu serang warga Palestina sebrutal apapun! Silakan saja, kami tidak akan mencegah. Nanti, kalau Palestina hancur, tenang saja! Kami punya banyak uang, Palestina bisa kami bantu.”

Intinya, Israel menjadi sumber kehancuran, rakyat Muslim Palestina sebagai korban, negara-negara Arab lalu membantu rakyat Palestina. Berkali-kali tragedi terjadi, siklusnya tetap seperti itu. Jangan-jangan sudah ada kesepakatan antara pihak “pembuat sampah” dan pihak “tukang sapu”? Wallahu a’lam.

Barack Obama Ketakutan

Betapa hebatnya bangsa Yahudi ini. Jumlah mereka sedikit. Di Israel sekitar 6 juta orang, sementara di luar Israel sekitar 9 juta orang (total sekitar 15 juta di seluruh dunia sama dengan jumlah warga Palestina di dunia). Meskipun sedikit, tetapi mereka mampu menjajah Amerika yang besar. Bahkan mampu mengendalikan Eropa. Salah satu buktinya, dalam pidato pelantikan Barack Obama 20 Januari 2009 lalu, dia tidak berani sedikit pun menyinggung kebrutalan Israel di Ghaza. Setelah itu, dalam pidato resmi Obama, terang-terangan dia komitmen untuk melindungi Israel, mengecam Hamas, dan prihatin terhadap tragedi Ghaza. Satu kata pun tidak keluar dari Obama untuk mengutuk Israel laknatullah ‘alaihim.

Begitu hebat Israel ini, negaranya mungil, tetapi Presiden Amerika sampai harus gemetar ketakutan kepadanya. Mengerikan sekali. Betapa bodoh dan dungunya bangsa Amerika. Negara sebesar itu, dengan sejarah 500 tahunan, tidak berdaya menghadapi “Si Kecil” Israel.

Amerika selama ini dikenal sebagai negara adi daya, negara super power, bahkan the globo cop (polisi global). Tetapi mereka bersimpuh di ujung jari kaki Israel; sangat mengerikan. Negara ini seperti kerbau dungu, badannya besar, tenaga besar; tetapi dikendalikan oleh seekor monyet. Jadi, jika Amerika disebut super power, maka Yahudi Israel bisa disebut the real super power.

Seharusnya, dunia modern jangan disebut The New World Order (Tata Dunia Baru), tetapi lebih tepat disebut The Dark Age Under Jewish World Kingdom. Yahudi selain mampu menjajah Amerika, mereka juga mampu memperbudak pemimpin-pemimpin Arab. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ribuan Roket Hamas

Dalam pidato kenegaraan Obama yang pertama, dia menuduh Hamas telah menebarkan teror ke warga sipil Israel dengan menembakkan ribuan roket selama bertahun-tahun. Obama mengecam Hamas, tetapi tidak sedikit pun mengecam Israel, selain menyayangkan agressi mereka ke jalur Ghaza.

Kita sendiri tidak memandang Hamas sebagai organisasi suci yang bebas dari kesalahan. Kita pun juga bukan kaum fanatikus Hamas. Tetapi manakala harus memilih, antara mendukung orang-orang kafir atau Muslim, jelas kita akan berpihak ke sesama Muslim. Inilah konsekuensi al wala’ wal bara’ (sikap loyal kepada sesama Muslim dan berlepas diri dari orang kafir).

Obama berpidato dengan teks –tentu saja teks yang sudah disusun oleh sekretariat kepresidenan, Obama tinggal baca saja- menuduh Hamas melakukan ini itu dan sebagainya. Tetapi mata Obama seperti buta atas kebrutalan Israel yang sudah bisa didakwa melakukan kejahatan perang. Apa yang dilakukan Israel di Ghaza tidak berbeda jauh dengan apa yang pernah dilakukan Amerika di Vietnam dulu. Amerika disana juga melakukan kebrutalan yang tidak terperikan. Mereka menjatuhkan bom-bom Napalm untuk membakar wilayah-wilayah Vietkong. Belum juga tentang wanita-wanita Vietnam yang diperkosa atau dibunuh. Amerika di Vietnam dan Israel di Ghaza adalah sama-sama penjahat perang.

Kata Obama, Hamas menyerang dengan ribuan roket selama bertahun-tahun ke wilayah Israel. Benarkah tuduhan itu? Adakah bukti-buktinya? Jangan-jangan hanya omongan kosong tanpa bukti? Seperti Israel pernah merilis video serangan roket oleh Hamas. Video itu menjadi bukti yang disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Padahal itu hanya beberapa roket saja, bahkan mungkin hanya satu dua roket. Sementara mulut Obama ngoceh, katanya ada ribuan roket selama bertahun-tahun.

Andai ada serangan-serangan roket dai Hamas, apakah itu sebanding dengan ribuan kebrutalan Israel di Palestina, baik di Ghaza maupun Tepi Barat? Apakah warga Palestina hanya boleh menjadi korban saja, dengan larangan penuh untuk melawan? Ini sangat aneh dan amat aneh.

Hamas berdiri seiring munculnya Intifadhah tahun 1987 lalu. Itu adalah simbol perlawanan kembali bangsa Palestina yang terjajah oleh Israel. Jadi adalah wajar mereka melawan, untuk menuntut hak-haknya. Apalagi asal mula Hamas adalah gerakan perlawanan, sebelum mereka masuk ke politik. Arti Hamas sendiri adalah: Harakah Muqawwamah Islamiyyah (gerakan perlawanan Islam). Ia merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin yang bergerak di Palestina.

Beda Hamas dan Hizbullah

Sementara ini Israel menghadapi dua organisasi perlawanan. Di Selatan ada Hamas (wilayah Palestina), dan di Utara ada Hizbullah (wilayah Libanon). Hamas bermadzhab Sunni, seperti Ikhwanul Muslimin, sedangkan Hizbullah Syi’ah dengan pimpinannya Hasan Nashrullah. Israel menganggap dua organisasi ini sebagai musuh bebuyutan, sehingga berkomitmen menumpasnya.

Dalam perang di Libanon tahun-tahun lalu, Israel menderita kekalahan dari Hizbullah. Kekalahan itu dapat didefinisikan sebagai: Israel tidak mampu menembus wilayah Hizbullah dan banyak tank-tanknya hancur, sehingga mereka akhirnya mundur. Sejak saat itu pamor Hizbullah mencorong di dunia.

Namun dalam perang di Ghaza saat ini, terdapat perbedaan situasi yang sangat besar. Israel melakukan agressi secara massif, dan menyebabkan ribuan korban jiwa dan terluka, serta wilayah Ghaza hancur. Tidak adil jika membandingkan situasi yang dihadapi Hizbullah waktu itu dengan kondisi Perang Ghaza saat ini. Titik perbedaannya sebagai berikut:

[o] Dalam perang di Ghaza, Israel melakukan serangan sangat intensif dari darat, laut, dan terutama udara. Israel menyerang dengan rudal, bom, roket, peluru kaliber besar, tank-tank, sampai menaburkan bom fosfor yang dilarang dipakai. Serangan seperti ini tidak dilakukan terhadap Hizbullah di Libanon waktu itu. Wajar jika dari sisi kerugian, serangan Israel ini sangat dahsyat.

[o] Wilayah Libanon Selatan sebagai basis Hizbullah, ia bukanlah wilayah yang terisolasi. Ia wilayah biasa, terbuka dari berbagai macam penetrasi. Bahkan wilayah itu sebenarnya dipakai oleh Iran dan Syria untuk menahan laju Israel. Ia seperti “wilayah bumper” bagi Iran dan Syria dari keganasan Israel. Iran dan Syria tidak perlu menahan Israel dengan tangannya sendiri, tetapi cukup membantu Hizbullah dengan senjata-senjata mutakhir. Situasi seperti itu tidak dihadapi oleh Hamas. Wilayah Ghaza dan Palestina umumnya, diblokade oleh Israel. Sementara Mesir, Yordan, Saudi, dll. tidak satu pun simpati ke Hamas. Mereka membenci Hamas, karena dituduh sebagai kepanjangan tangan Ikhwanul Muslimin. (Disini kita mesti melihat mengapa Hamas akhirnya mencari bantuan ke Iran, sebab negara-negara Sunni di sekitarnya sudah kadung membenci Ikhwanul Muslimin. Sementara Hamas tidak mungkin menghadapi Israel seorang diri).

[o] Tidak ada satu pun negara yang membantu perjuangan Hamas. Mereka tidak mengirim senjata, uang, maupun tentara. Praktis Hamas berjuang sendiri, dengan mengandalkan bantuan kaum Muslimin di dunia (termasuk bantuan seribu atau dua ribu rupiah dari anak-anak SD Islam tertentu di Indonesia). Bahkan Pemerintah “Fir’aun” Mesir, mereka tidak mau membuka perbatasannya untuk mengalirkan bantuan-bantuan ke Ghaza. Ada puluhan aktivis Ikhwanul Muslimin Mesir malah ditangkap oleh Mesir saat mau menyeberang ke Ghaza.

Meskipun kondisi yang dihadapi Hamas dan Muslim di Ghaza sangat berat, tetapi dampak dari perjuangan mereka sangat hebat. Jauh lebih dahsyat pengaruhnya daripada perjuangan Hizbullah waktu itu. Saat ini, dunia internasional pun tahu dengan mata telanjang, baik mereka Muslim atau bukan, baik mereka orang baik-baik atau penjahat; semua telah sepakat akan kebrutalan Yahudi Israel. Nah, itulah kekalahan besar yang dialami Israel sejak berdiri tahun 1948. Belum pernah negara Yahudi teroris itu sedemikian terpojok di mata dunia, kecuali saat ini. Bahkan mereka dituduh melakukan kejahatan Holocaust di Palestina. Asosiasi para pengacara Arab sedang merumuskan cara-cara untuk menyeret Yahudi Israel ke Mahkamah Internasional, dengan tuduhan kejahatan perang. Kalau Saddam Husein bisa diadili karena kejahatannya kepada warga Kurdi, berarti Shimon Perez, Ehud Olmert, Ehud Barak, dan lainnya, mereka juga bisa diseret ke pengadilan internasional.

Selain itu, dunia juga tahu bahwa musuh Palestina bukan hanya Israel, tetapi juga elit-elit politik Arab yang haus kekuasaan dan materi itu. Mereka tahu, bahwa pemimpin-pemimpin Arab saat ini tidak lagi memiliki sifat-sifat keperwiraan bangsa Arab di masa lalu. Terlalu jauh jarak antara Arab masa lalu dan masa kini. Arab masa kini adalah Arab hedonis yang suka foya-foya dalam pesta hawa nafsu.

Gaya Perang Israel

Kalau melihat perang-perang artifisial dalam film-film Hollywood, betapa gagahnya menyaksikan prajurit-prajurit yang terjun dalam tembak-menembak jarak dekat. Pendek kata, ramai sekali. Tetapi dalam kenyataan, perang seperti itu sangat sulit didapatkan. Ia hanya ada dalam film.

Tetapi di jaman modern ini kondisinya jauh lebih buruk lagi. Kita bukan hanya menyaksikan peperangan yang saling berjauhan antara satu pihak dengan lawannnya, tetapi dalam perang masa kini, prajurit itu hampir tidak dibutuhkan lagi. Seluruhnya diganti oleh peranan mesin. Persis seperti serbuan Israel ke Ghaza itu, mayoritas ditukangi oleh mesin-mesin. Dalam Perang Irak tahun 1990-1991 lalu, pasukan Sekutu sangat mengandalkan serangan pesawat-pesawat tempur atau rudal-rudal yang ditembakkan dari kapal induk. Pasukan darat hanya melakukan serangan pamungkas yang notabene seperti “menerima kunci kota” saja. Mereka masuk menyerbu setelah sebuah kota dikendalikan sepenuhnya.

Dalam perang seperti ini otot prajurit tidak dibutuhkan, kemampuan dia menembak tidak dibutuhkan, sampai kekuatannya untuk lari juga tidak diperhitungkan. Semuanya penuh diserahkan ke mesin. Pesawat terbang jadi andalan, lalu serangan rudal, roket, atau mortir. Kemudian serangan berupa tank-tank tempur yang tentu saja anti peluru. Semuanya bermakna, meminimkan penggunaan tenaga dan korban dari manusia (prajurit).

Ini seperti perang kaum bencong. Suatu negara tidak berani menerjunkan pasukan infantri atau serangan darat. Semua mengandalkan mesin. Untuk menghancurkan negara lain cukup memakai serangan pesawat udara, rudal-rudal, roket, tank-tank, bom, granat, dan lain-lain. Tenaga manusia diupayakan seminimal mungkin. Resiko kerugian yang terjadi maksimum, sementara korban prajurit minimum. Ya, inilah perang gaya kaum bencong kaleng.

Kegagahan prajurit Amerika seperti dalam Rambo, Platoon, Bond of Brothers, Arnold Schwarzenegger, dll. semua itu hanya mimpi di siang bolong. Dalam kenyataan hanya ada perang ala bencong seperti yang kita sampaikan di atas. Ya alhamdulillah, di Indonesia TNI masih memiliki kekuatan dari sisi tenaga manusia ini. Perang kita masih bisa dibanggakan, sebab masih memiliki nyali tempur.

Bandingkan dengan pasukan Amerika atau Israel, peralatan-peralatan yang mereka pakai sangat lengkap. Pasukan darat Amerika itu kelihatan gemuk-gemuk bukan karena tubuhnya besar, tetapi karena terlalu banyak alat-alat yang mereka pakai. Semakin padat alatnya, semakin kelihatan bahwa mereka takut mati. Seharusnya, setiap pasukan Amerika atau Israel masing-masing membawa truk yang berisi semua peralatan tempur yang dibutuhkan.

Disini kita bisa melihat, ada sebagian orang yang berperang dengan heroisme. Tetapi ada juga yang berperang karena sebenarnya hati mereka sangat ketakutan. Bangsa Yahudi, dalam sejarahnya tidak dikenal sebagai bangsa tempur. Mereka takut berperang dan tidak pernah terlibat peperangan besar.

3 Kunci Ketahanan Muslim

Dalam situasi seperti saat ini, teramat banyak bahaya yang mengancam kehidupan Muslim. Kehidupan kita, keluarga, dan agama kita tengah berhadapan dengan cobaan demi cobaan. Tidak ada lagi yang menaungi semua ini, tidak ada negara Islam, kesultanan Islam, atau kerajaan Islam yang bisa diandalkan. Umumnya egois dengan ashabiyyah (kebangsaan) masing-masing. Jangankan antar bangsa Indonesia dengan Turki, Mesir, Bosnia, Chechnya, dan lain-lain. Antar sesama negara-negara Arab saja terus terjadi pertikaian politik. Sampai ada yang pesimis jika bangsa Arab bisa bersatu. Hanya Islam yang bisa memuliakan Arab; tetapi kini tidak satu pun negara Arab yang mau menegakkan Islam secara kaaffah.

Saat-saat seperti ini kita sangat membutuhkan pertolongan Allah, agar Dia menyelamatkan kita, kehidupan kita, agama kita, dan kaum Muslimin dari teror dan kehancuran. Ada 3 kunci ketahanan yang bisa kita jadikan pedoman. Jika hal ini diterapkan, insya Allah kita akan selalu dalam perlindungan Allah Ta’ala.

PERTAMA, komitmen mengibadahi Allah dengan segenap kehidupan yang kita jalani ini, lalu tidak menserikatkan Allah dengan sesembahan apapun selain-Nya. Inilah komitmen TAUHID. Kita mengibadahi Allah melalui shalat, zakat, puasa, haji, sedekah, infak, dzikir, membaca Al Qur’an, berdoa, dll. Tetapi kita juga mengibadahi-Nya ketika belajar, bekerja, mencari nafkah, berumah-tangga, mendidik keluarga, beramal, berdakwah, berjuang, dan sebagainya. Nah, di atas semua aktivitas ibadah itu, kita berusaha sejauh mungkin menjauhi perbuatan-perbuatan syirik.

Dalam Al Qur’an: “Dan siapa yang mengingkari thaghut dan semata mengibadahi Allah, maka sungguh dia telah berpegang ke tali agama Allah yang sangat kuat, yang tidak akan terputus.” (Al Baqarah: 257).

KEDUA, komitmen untuk menolong agama Allah, sekuat kemampuan dan kesanggupan. Kita bisa menolong agama Allah dengan apapun yang kita miliki beruba kebaikan dan kekuatan. Para ilmuwan menolong dengan ilmunya, para wartawan menolong dengan opini, para penguasaha menolong dengan dana, para ahli ibadah menolong dengan doa, para politisi menolong dengan manuver politik, para pekerja menolong dengan tenaganya, kaum wanita menolong dengan mendidik generasi, dan lain-lain. Semua pihak memiliki kesempatan dan peluang untuk menolong agama Allah, sesuai keadaan masing-masing. Dan Allah tidak membatasi bahwa amal-amal perjuangan itu hanya monopoli ustadz, pemuda mujahidin, atau laskar-laskar Islam saja. Tidak, semua pihak bisa menolong agama ini, sesuai kekuatan dan kesempatannya.

Jika kita memiliki komitmen untuk menolong agama Allah, tidak ada lagi yang perlu dirisaukan. Allah bersumpah akan menolong siapapun yang menolong agama-Nya. “Dan Allah benar-benar bersumpah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Hajj: 40).

Siapapun yang belum memiliki agenda untuk menolong agama Allah, harus segera mencari jalan untuk menolong agama ini. Menolong agama Allah seperti sebuah benteng perlindungan bagi setiap Muslim. Anda akan dilindungi oleh Allah dari berbagai ancaman. Andai Anda mendapat kesulitan disini, ia akan memuliakan martabat Anda; andai Anda meninggal disini, insya Allah syahid.

KETIGA, komitmen terhadap persaudaraan antar sesama Muslim (Ukhuwwah Islamiyyah). Kita adalah ikhwah (saudara), kita diikat oleh ikatan ukhuwwah antar sesama Muslim. Muslim-muslim yang lain adalah saudara kita, teman kita, kelompok kita, golongan kita. Memang mereka kadang memiliki kekeliruan, kesalahan, bid’ah, atau kesesatan tertentu. Tetapi selama kesalahannya tidak membuatnya kafir dari jalan Islam, mereka tetap saudara kita. Mereka tetap berhak diperlakukan sebagai Muslim dan menerima hak-hak sebagai Muslim.

Orang-orang yang masih merokok, jilbab isterinya kecil, suka musik, suka nonton film, bekerja di bank, menjadi PNS, sering ikut tahlilan, memperingati Maulud Nabi, memakai tasbih, dan lain-lain, mereka adalah saudara kita. Kecuali jika telah murtad, mereka jelas bukan saudara lagi. Kesalahan-kesalahan amaliyah jangan menjadi alasan bagi berpisahnya hati-hati kita.

Setiap Muslim kelak akan ditanya tentang komitmennya terhadap persaudaraan ini. Orang-orang yang merasa paling benar, merasa sok suci, selalu menyalah-nyalahkan, tidak mau mengasihi sesama Muslim, tidak toleran atas kesalahan-kesalahan saudaranya, tidak menasehati saudaranya dengan baik-baik; justru mereka menghalalkan cancian, hinaan, fitnah, memboikot, dan seterusnya kepada sesama Muslim. Mereka kelak akan menghadapi Mahkamah Allah dalam keadaan penuh ketakutan. Mereka telah mengambil hak-haknya atas kaum Muslimin, sementara mereka tidak mau menunaikan hak-hak kaum Muslimin. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dalam Al Qur’an: “Dia (Allah) telah mensyariatkan agama (Islam) ini sebagaimana apa yang diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu agar kalian menegakkan agama (Islam) ini dan tidak berpecah-belah di dalamnya.” (Asy Syura: 13).

Watak asli dari agama ini adalah Al Jamaah (kesatuan), bukan berpecah-belah. Jika ada suatu kaum yang senang dengan perpecahan, menjadikan konflik sebagai syiar agamanya, selalu semangat menyebarkan pertikaian di kalangan kaum Muslimin, tidak bisa tidur nyenyak sebelum menyaksikan antar sesama Muslim terlibat permusuhan, maka kaum seperti itu benar-benar telah tersesat. Mereka menjadikan “hadits 73 golongan” sebagai hakikat agama ini, lalu melemparkan Al Qur’an dan As Sunnah ke keranjang sampah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Demikianlah 3 kunci ketahanan Muslim. Hal ini dibahas secara praktis biar mudah mudah menjadi pelajaran. Sebenarnya masih ada poin-poin lain, namun insya Allah kuncinya ada di 3 persoalan tersebut. Jika seorang Muslim melakukannya dengan penuh komitmen, insya Allah Anda akan selalu dilindungi oleh Allah Ta’ala. Terutama di jaman penuh cobaan seperti saat ini. Allahumma amin.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 26 Januari 2009.

AM. Waskito.

About these ads

Satu Balasan ke Ada Apa Setelah TRAGEDI GHAZA…

  1. brutal death mengatakan:

    TNI pantas dibanggakan kita semua tahu ALUSISTA kita sangat memprihatinkan masih jauh dibawah SINGGAPURA tapi masalah nyali boleh DIADU….sanggup berpuasa dalam kondisi perang SEKALIPUN

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: