Mendukung Fatwa Golput MUI

“Wajib bagi bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin. Kalau yang dipilih ada namun tidak dipilih, menjadi haram”. Demikian bunyi Fatwa yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Ali Mustafa Ya’qub menjelaskan hasil Ijtima’ Ulama Fatwa III MUI di kabupaten Padang Panjang Sumatra Barat, ahad 25 Januari 2009.



Alhamdulillah baru-baru ini MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan banyak fatwa diantaranya soal rokok dan soal Golput (golongan putih, alias tidak mencoblos di Pemilu). Banyak yang tidak setuju dengan Fatwa MUI ini, ada yang mengatakan fatwa bancilah, prinsipnya sih tidak setuju. Kalau saya sih setuju dengan Fatwa larangan golput ini, walaupun begitu kita harus menghargai pendapat yang tidak setuju dengan fatwa ini. Bagaimana pun juga fatwa adalah pandangan hukum menurut kacamata para ulama yang duduk di MUI, bagi yang tidak mematuhinya tidak akan dipaksa karena tidak ada Undang-undang yang memaksa masyarakat harus mengikuti seruan MUI. Namun demikian menurut KH Ali Mustafa Ya’qub, ada kewajiban moral untuk mengikuti seruan fatwa ini, “Orang yang tidak ikut Pemilu itu berdosa menurut hukum Islam”.


“Tidak berpartisipasi dalam proses Pemilu alias golput bagi saya merupakan sikap tidak bertanggungjawab dalam bidang politik. Walaupun itu juga merupakan hak politik warga negara. Namun untuk orang-orang golput alias masa bodoh ini harus konsisten untuk tidak teriak-teriak kalau penyelenggara negara maupun wakil rakyatnya bekerja tidak sebagaimana yang diharapkannya. Toh dia tidak merasa ikut memilih, sehingga otomatis tidak bertanggungjawab terhadap output maupun produk hukum yang dihasilkan oleh Lembaga Legislatif (DPR/DPRD) maupun Eksekutif (Presiden, Gubernur maupun Bupati/Walikota).


Yang sering dikemukakan oleh orang yang golput diantaranya Pemilu adalah bid’ah dan demokrasi merupakan sistem yang haram/batil, jadi produknya pun ikut batil. Buat saya, demokrasi adalah alat untuk memilih pemimpin. Namanya juga alat, selain sistem demokrasi, ada juga sistem kerajaan, dimana rakyat tidak berhak memilih pemimpinnya, namun itu merupakan warisan raja kepada anaknya/keluarganya. Ada pula yang melalui musyawarah terbatas (hanya melalui kalangan elite negara, rakyat tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan memilih pimpinannya), atau adapula yang nampaknya demokratis padahal itu sesungguhnya lebih mirip sistem monarki/otoriter sebagaimana banyak dialami negara-negara dengan sistim diktator. Bagi saya, demokrasi adalah sistem/alat yang terbaik untuk memilih pemimpin. Bagi yang mengatakan bahwa demokrasi adalah haram harap membawa hujjah yang mantap sekaligus mohon memberi alternatif yang lebih baik.

Karena hanya sebagai alat, demokrasi harap dipandang sebagai sesuatu yang mubah namun diperlukan untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Output yang dihasilkan dari sistim demokrasi adalah terpilihnya pemimpin yang disukai rakyatnya (walaupun rakyat juga macam-macam, ada yang bodoh, kriminal, musyrik, pelaku maksiat, anti syariat Islam namun adapula yang soleh, cerdas, akidahnya lurus, bersih dari perbuatan tercela dan pro syariat Islam). Untuk menghasilkan pemimpin yang baik, sholeh, cerdas, mengemban amanat rakyat dan ummat, anti terhadap tekanan asing memang bukan perkara mudah. Kalau rakyatnya sudah baik, pasti akan menghasilkan pemimpin yang baik, rakyat yang bodoh dan rusak akhlaknya memang akan menghasilkan pemimpin yang tidak jauh berbeda dengan kualitas rakyatnya. Namun apa jadinya kalau rakyat yang sholeh-sholeh, yang mendambakan pemimpin yang baik malah tidak ikut mencoblos/golput, maka yang tersisa adalah bagian masyarakat yang tidak sholeh, maka akan muncul pemimpin yang buruk akhlaknya, besar nafsu kekuasaannya, tidak peduli dengan halal dan haram, dsb. Kalau ini yang terjadi, harap jangan menangisi keadaan, toh dia telah bersikap masa bodoh terhadap mekanisme politik yang ada..”

Tidak berpartisipasi dalam proses Pemilu alias golput bagi saya merupakan sikap tidak bertanggungjawab dalam bidang politik. Walaupun itu juga merupakan hak politik warga negara. Namun untuk orang-orang golput alias masa bodoh ini harus konsisten untuk tidak teriak-teriak kalau penyelenggara negara maupun wakil rakyatnya bekerja tidak sebagaimana yang diharapkannya. Toh dia tidak merasa ikut memilih, sehingga otomatis tidak bertanggungjawab terhadap output maupun produk hukum yang dihasilkan oleh Lembaga Legislatif (DPR & DPRD) maupun Eksekutif (Presiden, Gubernur maupun Bupati/Walikota).

Yang sering dikemukakan oleh orang yang golput diantaranya Pemilu adalah bid’ah dan demokrasi merupakan sistem yang haram/batil, jadi produknya pun ikut batil. Buat saya, demokrasi adalah alat untuk memilih pemimpin. Namanya juga alat, selain sistem demokrasi, ada juga sistem kerajaan, dimana rakyat tidak berhak memilih pemimpinnya, namun itu merupakan warisan raja kepada anaknya/keluarganya. Ada pula yang melalui musyawarah terbatas (hanya melalui kalangan elite negara, rakyat tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan memilih pimpinannya), atau adapula yang nampaknya demokratis padahal itu sesungguhnya lebih mirip sistem monarki/otoriter sebagaimana banyak dialami negara-negara dengan sistim diktator. Bagi saya, demokrasi adalah sistem/alat yang terbaik untuk memilih pemimpin. Bagi yang mengatakan bahwa demokrasi adalah haram harap membawa hujjah yang mantap sekaligus mohon memberi alternatif yang lebih baik.



Karena hanya sebagai alat, demokrasi harap dipandang sebagai sesuatu yang mubah namun diperlukan untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Output yang dihasilkan dari sistim demokrasi adalah terpilihnya pemimpin yang disukai rakyatnya (walaupun rakyat juga macam-macam, ada yang bodoh, kriminal, musyrik, pelaku maksiat, anti syariat Islam namun adapula yang soleh, cerdas, akidahnya lurus, bersih dari perbuatan tercela dan pro syariat Islam). Untuk menghasilkan pemimpin yang baik, sholeh, cerdas, mengemban amanat rakyat dan ummat, anti terhadap tekanan asing memang bukan perkara mudah. Kalau rakyatnya sudah baik, pasti akan menghasilkan pemimpin yang baik, rakyat yang bodoh dan rusak akhlaknya memang akan menghasilkan pemimpin yang tidak jauh berbeda dengan kualitas rakyatnya. Namun apa jadinya kalau rakyat yang sholeh-sholeh, yang mendambakan pemimpin yang baik malah tidak ikut mencoblos/golput, maka yang tersisa adalah bagian masyarakat yang tidak sholeh, maka akan muncul pemimpin yang buruk akhlaknya, besar nafsu kekuasaannya, tidak peduli dengan halal dan haram, dsb. Kalau ini yang terjadi, harap jangan menangisi keadaan, toh dia telah bersikap masa bodoh terhadap mekanisme politik yang ada.


Perkara kalau demokrasi di Indonesia amat ribet, bertele-tele, memboroskan banyak dana, banyak money politics dsb. itu memang tidak bisa dipungkiri. Sistem demokrasi kita amat melelahkan, sebentar-bentar Pemilu dan Pilkada, spanduk-spanduk dan pamlet merajalela, caleg pada obral janji dsb. Itu memang iya. Namanya juga alat politik, kadang berlebihan dan melelahkan, namun jangan karena adanya kekurangan dari sistem demokrasi maka dipukul rata lebih baik golput saja daripada pusing-pusing mikir politik. Mudah-mudahan ke depannya sistem demokrasi kita bisa lebih baik, lebih jujur, lebih simple, tanpa adanya politik bagi-bagi uang, kesadaran masyarakat untuk memilih pemimpinnya semakin meningkat dsb. sehingga demokrasi kita jadi lebih berkualitas dibanding saat ini. Tapi jangan ngambek alias golput.


Bagaimanapun dengan demokrasi yang kita anut sekarang, ada beberapa kemajuan yang diperoleh ummat Islam sekarang, diantaranya banyak pejabat baik di Eksekutif maupun Legislatif yang berasal dari tokoh-tokoh Islam maupun Partai-partai Islam, adanya Undang-undang yang dihasilkan yang membela kepentingan ummat Islam seperti UU Pendidikan, UU Pornografi dll. Kalau pemimpinnya baik-baik insya Allah akan menghasilkan kebijakan yang menolong rakyat dan ummat.


Jadi untuk menghasilkan pemimpin yang baik, kita harus hati-hati untuk memilih pemimpin, semakin banyak rakyat yang sadar politik, insya Allah juga dihasilkan pemipin yang lebih baik. Ada peringatan dari Allah terkait dengan Pemilu.”

Perkara kalau demokrasi di Indonesia amat ribet, bertele-tele, memboroskan banyak dana, banyak money politics dsb. itu memang tidak bisa dipungkiri. Sistem demokrasi kita amat melelahkan, sebentar-bentar Pemilu dan Pilkada, spanduk-spanduk dan pamlet merajalela, caleg pada obral janji dsb. Itu memang iya. Namanya juga alat politik, kadang berlebihan dan melelahkan, namun jangan karena adanya kekurangan dari sistem demokrasi maka dipukul rata lebih baik golput saja daripada pusing-pusing mikir politik. Mudah-mudahan ke depannya sistem demokrasi kita bisa lebih baik, lebih jujur, lebih simple, tanpa adanya politik bagi-bagi uang, kesadaran masyarakat untuk memilih pemimpinnya semakin meningkat dsb. sehingga demokrasi kita jadi lebih berkualitas dibanding saat ini. Tapi jangan ngambek alias golput.



Bagaimanapun dengan demokrasi yang kita anut sekarang, ada beberapa kemajuan yang diperoleh ummat Islam sekarang, diantaranya banyak pejabat baik di Eksekutif maupun Legislatif yang berasal dari tokoh-tokoh Islam maupun Partai-partai Islam, adanya Undang-undang yang dihasilkan yang membela kepentingan ummat Islam seperti UU Pendidikan, UU Pornografi dll. Kalau pemimpinnya baik-baik insya Allah akan menghasilkan kebijakan yang menolong rakyat dan ummat.


Jadi untuk menghasilkan pemimpin yang baik, kita harus hati-hati untuk memilih pemimpin, semakin banyak rakyat yang sadar politik, insya Allah juga dihasilkan pemipin yang lebih baik. Ada peringatan dari Allah terkait dengan Pemilu. “Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil.” (QS Al-Baqarah 282). Jadilah kita hamba-hamba Allah yang mau memberi kesaksian ketika dipanggil untuk memberi kesaksian, diantaranya dengan mencoblos pemimpin yang terbaik dari yang ada (minimal yang paling kecil mudharatnya buat ummat Islam), dibanding kita hanya berpangku tangan saja, sehingga terhindar munculnya pemimpin yang buruk. Bahkan dalam ayat lainnya Allah berfirman, “Dan janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksiannya, dan barangsiapa menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” (Al-Baqarah 283).

Untuk itu kita sangat memahami keluarnya Fatwa MUI tentang haramnya golput ini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba yang mau memberi kesaksian jika diminta. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil.” (QS Al-Baqarah 282). Jadilah kita hamba-hamba Allah yang mau memberi kesaksian ketika dipanggil untuk memberi kesaksian, diantaranya dengan mencoblos pemimpin yang terbaik dari yang ada (minimal yang paling kecil mudharatnya buat ummat Islam), dibanding kita hanya berpangku tangan saja, sehingga terhindar munculnya pemimpin yang buruk. Bahkan dalam ayat lainnya Allah berfirman, “Dan janganlah kalian (para saksi) menyembunyikan persaksiannya, dan barangsiapa menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya.” (Al-Baqarah 283)

Untuk itu kita sangat memahami keluarnya Fatwa MUI tentang haramnya golput ini. Mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba yang mau memberi kesaksian jika diminta.


(Tohir Bawazir).


Catatan: Penulis adalah pemerhati Dakwah Islam, tinggal di Jakarta. Tulisan ini dimuat sebagai bentuk perimbangan opini dalam blog ini. Terimakasih.

About these ads

2 Balasan ke Mendukung Fatwa Golput MUI

  1. omiyan mengatakan:

    saya tinggal menunggu fatwa haram atas caleg koruptor mas

  2. [...] Mendukung Fatwa Golput MUI 29 January 2009 by abisyakir on LANGIT BIRU Articles …  ada namun tidak dipilih, menjadi haram”. Demikian bunyi Fatwa yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Ali Mustafa Ya’qub …  mengeluarkan banyak fatwa diantaranya soal rokok dan soal Golput (golongan putih, alias tidak mencoblos di Pemilu). Banyak yang tidak … Tags: AKTUALITAS, Mendukung Fatwa MUI, Orang Soleh Peduli Politik, Khawatir Terpilih Pemimpin Jahat [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 145 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: