Hukum Melakukan Tawasul

Secara bahasa tawasul artinya taqarrub, yaitu mendekatkan diri. Adapun secara Syar’i, tawasul artinya: Menjadikan sesuatu sebagai perantara dalam permohonan kepada Allah agar permohonan itu lebih dikabulkan. (Lihat Mu’jam Lughah Fuqaha’, bagian entri “tawasul”).

Tawasul dilakukan ketika seseorang merasa dirinya tidak bisa berdoa dengan baik, atau merasa doanya tidak didengar oleh Allah (padahal Allah itu Maha Mengdengar doa-doa), atau merasa dirinya kotor sehingga membutuhkan orang-orng yang dianggap bersih untuk menyampaikan permohonan kepada Allah. Intinya, rasa tidak percaya diri dengan keadaan diri sendiri, sehingga membutuhkan pihak tertentu untuk memanjatkan doa. Atau bisa jadi karena kondisi yang sedemikian pelik, sehingga membutuhkan cara-cara khusus untuk mendatangkan pertolongan Allah.

Tawasul biasanya dilakukan dengan memanjatkan doa dengan menyebut nama-nama wali tertentu (misalnya Syaikh Abdul Qadir Jailani), atau tawasul dengan nama dan kedudukan Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam, atau tawasul dengan kedudukan orang-orang shalih, dan sebagainya. Tawasul juga ada yang melakukannya dengan perantara kuburan wali-wali, dengan tempat-tempat keramat, benda tertentu, dan lainnya. Juga ada tawasul dengan meminta doa dari orang lain, membaca Al Fatihah, membaca shalawat, dengan menyebut amal shalih, dan sebagainya.

Secara umum, ada tawasul yang halal dan ada yang haram. Tawasul yang halal, misalnya dengan: Meminta doa dari kaum Muslimin, atau meminta doa dari orang shalih; menyebut amal shalih yang telah dilakukan dengan ikhlas, lalu memohon pertolongan Allah dengan kebaikan amal itu; membaca Asmaul Husna dalam berdoa; membaca Al Qur’an sekian banyak, lalu berdoa setelahnya; berdzikir dengan kalimat-kalimat thaiyibah sekian banyak, lalu memohon kepada Allah sesudah itu; membaca shalawat Nabi sekian banyak, lalu berdoa setelah itu; beramal shalih sebaik-baiknya, ikhlas karena Allah, lalu berdoa setelah itu. Pendek kata, tawasul ini dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam.

Seperti disebut dalam hadits Bukhari-Muslim, dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ada tiga orang yang terperangkap di sebuah gua, sedangkan mulut gua tertutup oleh batu besar. Mereka tidak bisa keluar dari gua tersebut. Lalu mereka memohon pertolongan kepada Allah dengan tawasul sambil menyebut amal-amal shalih yang telah mereka lakukan masing-masing. Atas ijin Allah, batu itu sedikit-sedikit bergeser sampai mereka bisa keluar dari gua dengan selamat. Sedangkan tawasul dengan meminta didoakan oleh seseorang, adalah sesuatu yang dikenal sejak jaman Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam.

Adapun tawasul dengan benda-benda keramat, dengan arwah kaum Muslimin yang telah meninggal, dengan kedudukan para Malaikat, kedudukan para Nabi dan Rasul, tawasul dengan peristiwa-peristiwa sejarah, dengan kuburan, masjid, dan sebagainya, semua itu dilarang. Semua itu tidak diperbolehkan!

Apa alasannya melarang tawasul seperti itu?

PERTAMA, Nabi dan para Shahabat tidak pernah mencontohkan cara tawasul seperti itu. Nabi tidak pernah bertawasul, misalnya dengan mengatakan, “Dengan karamah Syaikh Abdul Qadir Jailani, ya Allah kabulkanlah doaku ini!”

Sebagian orang mungkin akan mendebat, “Ya Nabi kan hidupnya lebih dulu dari Syaikh Abdul Qadir. Coba, kalau Nabi hidupnya belakangan dari Syaikh Abdul Qadir, mungkin beliau akan tawasul dengan namanya!”

Ya Ilahi ya Rahmaan, kalau begitu seolah kedudukan Syaikh Abdul Qadir lebih mulia dari Nabi. Mengapa bukan Syaikh Abdul Qadir saja yang menjadi Nabi? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Sebelum Nabi pun sudah ada orang-orang shalih, seperti para Nabi dan Rasul As., tetapi Nabi tidak pernah bertawasul dengan kedudukan mereka di sisi Allah.

KEDUA, tawasul seperti itu bisa menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan syirik, yaitu berdoa kepada makhluk atau mengagungkan makhluk melebihi kedudukannya. Perbuatan syirik harus sangat dijauhi. Jangan karena sangat ingin doa dikabulkan, lalu jatuh dalam kesyirikan. Na’udzubillah min dzalik.

Sebuah contoh faktual. Ketika seseorang sering bertawasul dengan ucapan, “Aku memohon kepada Allah dengan kemuliaan dan karamah Syaikh Abdul Qadir Jailani.” Ucapan seperti ini lambat atau cepat akan membuat hati seseorang mengagungkan Syaikh Abdul Qadir Jailani. Mereka akan merasa takut kepada arwah Syaikh Jailani, sangat berharap kepadanya, takut sial karenanya, memuja dirinya, senang mendengar cerita-cerita fantastik tentangnya, dan lain-lain. Hal itu banyak terjadi di kalangan masyarakat awam. Fakta di lapangan, mereka sering menempelkan gambar yang diklaim sebagai Syaikh Abdul Qadur Jailani di dinding.

KETIGA, Allah Ta’ala memperingatkan orang-orang yang berdoa kepada Nabi, orang shalih, Malaikat, ulama, dan lainnya. Atau menjadikan mereka sebagai wasilah (perantara) pengabulan doa. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Orang-orang yang mereka berdoa kepadanya (kepada Nabi, orang shalih, Malaikat, dan lainnya), mereka sendiri mencari wasilah kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang paling dekat (kepada-Nya); mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan mereka takut kepada adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (Al Israa’: 57).

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang shalih, termasuk Malaikat di dalamnya, mereka sendiri mencari wasilah untuk mendekat kepada Allah. Wasilah yang dimaksud adalah amal-amal kebajikan yang mereka lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti Shalat, puasa, menyembelih qurban, sedekah, jihad, dan lainnya. Sebab mereka tidak dikenal pernah mencari wasilah dengan hal-hal yang dilarang, seperti arwah orang shalih, kuburan, benda-benda keramat, dan lainnya. Coba datangkan satu bukti saja, adakah orang-orang shalih di masa lalu melakukan tawasul dengan perkara-perkara yang dilarang?

Perhatikan ayat di atas! Nabi dan Rasul, orang-orang shalih, Malaikat, dan lainnya justru bersungguh-sungguh mencari jalan untuk mendekat kepada Allah. Lalu bagaimana kita akan menjadikan mereka sebagai wasilah yang akan mendekatkan kita kepada Allah? Orang-orang shalih itu mengharap rahmat Allah dan takut adzab-Nya; mereka tidak bisa dimintai pengabulan doa kepadanya.

==> Bukankah tawasul dengan arwah orang mati sama saja dengan tawasul dengan orang yang masih hidup?

Tawasul dengan orang yang masih hidup, caranya dengan meminta doanya, atau mengingat-ingat amal shalih yang telah dilakukan, lalu berdoa dengan kebaikan dari amal shalih itu. Tetapi kalau tawasulnya dengan mengatakan misalnya, “Ya Allah aku memohon kepadamu dengan kemuliaan, keshalihan, karamah dari hamba-Mu yang shalih ini, yang bernama Fulan bin Fulan.” Ya, tawasul seperti ini juga tidak boleh, sebab di dalamnya ada pengagungan terhadap manusia secara berlebihan.

Salah satu contoh yang baik adalah ketika Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam menyarankan agar para Shahabatnya kalau bertemu Uwais Al Qarani radhiyallahu ‘anhu, mereka meminta kepadanya agar didoakan agar diampuni oleh Allah. (HR. Muslim dari Umar bin Khattab Ra.). Hingga ketika Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu bertemu dengannya, beliau mendapati ciri-cirinya sama seperti yang disebutkan oleh Nabi. Maka Khalifah yang mulia itu –semoga Allah Ta’ala meridhainya- meminta agar Uwais memohonkan ampunan baginya kepada Allah, dan Uwais pun melakukannya. Ketika memuji Uwais radhiyallahu ‘anhu, Nabi mengatakan, “Sesungguhnya sebaik-baik pengikutku adalah seseorang yang dipanggil Uwais, dia mempunyai seorang ibu, dan pada kulitnya terdapat belang (bekas penyakit) berwarna putih. Maka temuilah dia, dan mintalah dia agar memohonkan ampunan bagi kalian.” (HR. Muslim).

Nah, inilah contoh tawasul yang benar, yaitu meminta didoakan oleh orang shalih yang diakui kebaikan-kebaikannya. Kita tidak pernah mendapati para Shahabat berdoa kepada Allah dengan ucapan seperti, “Ya Allah, dengan karamah dan kedudukan mulia Fulan bin Fulan di sisi-Mu, maka kabulkanlah doaku ini.” Tidak ada contoh seperti itu. Ia hanyalah tipuan amal yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam penyimpangan tauhid.

==> Bukankah kalau orang shalih meninggal, karamahnya tidak ikut lenyap? Bukankah jika orang shalih itu sudah wafat, karamahnya masih bisa dimintai bantuan untuk memudahkan pengabulan doa?

Keyakinan seperti ini tidak ada dasarnya. Ia hanya lamunan, ilusi, atau akal-akalan saja. Tidak ada dalil Al Qur’an dan Sunnah yang mendukung hal itu.

Lagi pula, kita harus kembali ke pangkal masalahnya. Karamah itu diberikan oleh Allah kepada seseorang karena keimanan, keshalihan, dan ketaqwaannya. Lha, kalau dia sudah meninggal, otomatis terputus amal-amalnya. Seperti kata Nabi, “Jika anak Adam meninggal, terputus amalnya, kecuali sedekah jariyah, ilmu yang bisa diambil manfaatnya, dan anak shalih yang mendoakannya.” Jadi karamah itu lenyap bersama wafatnya seseorang. Persis seperti mu’jizat Kenabian yang lenyap bersama wafatnya Nabi yang bersangkutan. (Kecuali mu’jizat Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam berupa Al Qur’an). Karamah atau mu’jizat arwah yang telah meninggal tidak bisa dimintai bantuan, sebagaimana Nabi dan orang-orang shalih itu juga tidak bisa mengabulkan doa. Maka tidak ada alasan meminta bantuan kepada arwah kaum Muslimin yang telah wafat, hatta seshalih apapun dirinya.

Demikian kajian ringkas tentang tawasul. Semoga bermanfaat. Mohon dimaafkan atas kesalahan dan kekurangan yang ada. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 16 Februari 2009.

AM. Waskito.

About these ads

129 Balasan ke Hukum Melakukan Tawasul

  1. Suwarno mengatakan:

    Asalamualakikum…sebelum dan sesudahnya saya mohon ma’af dan mohon ijinnya untuk dapat nimbrung kirim kata dan fikiran saya mengenai tawasulan. setahu saya ketika seseorang bertawasul, maka tidak menjadikan mahkluk apapun sebagai perantaranya tetapi yang dimaksudkan ialah dengan memberi atau mengirim do’a surat Al-Fatihah kepada para nabi, malaikat, para waliyullah, kedua orang tua ,para muslimin wal muslimat dst-nya. yang pada akhirnya kita berdoa dan memohon kepada Allah SWT akan hajat kita yang diinginkan. walahualam bisawab. (contoh)seperti kegiatan tahlilan banyak versi yang menyebutkan itu bid’ah dan di haramkan, namun apa bedanya tahlil dan tahmid apa itu juga di haramkan ??

  2. Suwarno mengatakan:

    Mengagungkan Allah dengan bertakbir, bertakhmid bahkan melakukan tahlil dan apa itu sebutannya… apakah selalu dianggap salah bahkan diharamkan…jadi saya fikir jangan terlalu di dramatisir dan selalu dibuat pandangan yang salah bahkan sesat, namun selama tidak berbuat dosa bahkan syirik kepada Allah, kenapa selalu dipermasalahkan dan seolah-olah mencari kelemahan dan menjadi efek rasa was-was terhadap orang lain.tetapi yang lebih baik mungkin memberi pandangan, arahan, petunjuk agar masyarakat dapat terhindar dari perbuatan syirik kepada Allah. Aminn.

  3. abisyakir mengatakan:

    @ Mas Suwarno.

    Iya, sebenarnya membaca tahmid, tahlil, takbir, shalawat, dll itu semua boleh, boleh, boleh saja. Mau membaca sebanyak-banyaknya setiap hari, itu LEBIH UTAMA. Ia dianggap banyak berdzikir setiap waktu, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sekali lagi, bacaan dzikir itu boleh, boleh, dan sangat utama.

    Hanya masalahnya, ketika membaca dzikir jangan membuat aturan-aturan baru yang sifatnya mengikat. Misalnya, dzikir dilakukan bersama-sama, di rumah salah satu warga masyarakat, setiap hari Kamis malam, dipimpin seorang imam. Lalu dalam dzikir itu dibuat aturan baku, misalnya: Mula-mula membaca Al Fatihah 7 kali, lalu istighfar 40 kali, lalu bacaan tahlil 100 kali, lalu baca shalawat 10 kali, lalu berdoa Rabbana…Rabbana…, lalu membaca Surat Yasin, dan sebagainya. Urutan-urutannya dibuat tegas, baku, tidak boleh dilanggar. Nah, aturan yang dibuat-buat seperti itulah yang tidak boleh.

    Boleh saja memang kita merutinkan bacaan dzikir dengan urutan-urutan tertentu, asalkan memang ada keterangannya dari Nabi Saw. Contoh, dzikir ba’da shalat, atau dzikir pagi dan petang. Boleh membaca dzikir seperti itu, rutin, dan berurutan, selama memang ada keterangannya dari Nabi Saw. Hanya saja catatannya: (1) Kita tidak boleh meyakini bahwa urutan dzikir itu persis seperti yang dilakukan Nabi Saw, sebab selama ini memang tidak ada dalil yang tegas yang menyebutkan urutan-urutan dzikir itu. Tidak ada. Yang ada hanya keterangan Nabi membaca ini, itu, tanpa penjelasan urutan dzikir yang tegas, saklek, baku. Jadi urutan-urutan itu sifatnya ijtihad ulama; (2) Dzikir itu sebaiknya dibaca sendiri, secara pelan-pelan, tidak perlu dibaca keras-keras secara berjamaah. Kecuali, dalam rangka memberi pelajaran ke anak-anak atau siapapun yang belajar, boleh dibaca secara berjamaah dengan suara yang layak, bukan keras-keras dan disertai gerakan-gerakan tubuh seperti orang kesurupan.

    Singkat kata, yang dilarang itu bukan bacaan dzikirnya, tetapi caranya yang DIPAKSAKAN atau DIBAKUKAN.

    Syukran jazakumullah khair. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan di hati.

    AMW.

  4. abisyakir mengatakan:

    @ Mas Suwarno:

    “Setahu saya ketika seseorang bertawasul, maka tidak menjadikan mahkluk apapun sebagai perantaranya tetapi yang dimaksudkan ialah dengan memberi atau mengirim do’a surat Al-Fatihah kepada para nabi, malaikat, para waliyullah, kedua orang tua ,para muslimin wal muslimat dst-nya. yang pada akhirnya kita berdoa dan memohon kepada Allah SWT akan hajat kita yang diinginkan. walahualam bisawab.”

    Komentar saya sebagai berikut:

    => Bertawasul dengan arwah manusia yang sudah meninggal, dengan jin, dengan karomah Wali, dengan kesucian Malaikat, dll. meskipun hal ini semata hanya sebagai SARANA saja, hal itu dikhawatirkan akan menjerumuskan manusia ke dalam syirik. Syirik itu sangat halus, melintas dalam hati kita dengan sangat halus, tidak terdeteksi oleh detektor sepeka apapun. Halus, halus sekali. Nah, inilah yang dikhawatirkan menjatuhkan ke perbuatan syirik. Dalam Islam ada kaidah “saddud dharai‘” (menutup jalan ke arah kemadharatan).

    => Mengirim bacaan Al Fatihah, ada ulama yang membolehkan, dan banyak pula yang mencelanya. Katanya, Ibnul Qayyim termasuk yang membolehkan menghadiahkan bacaan Al Fatihah kepada arwah yang telah wafat. Wallahu A’lam.

    => Sebenarnya, ada amalan yang lebih baik daripada “kirim bacaan Al Fatihah”, yaitu dengan: Berdoa, memohonkan ampunan arwah yang sudah wafat, melaksanakan wasiat-wasiat mereka di atas kebaikan, menghajikan/mengumrahkan mereka yang belum pernah menjalankan ibadah itu padahal mereka selama hidupnya sangat ingin berhaji/umrah, membelanjakan harta yang ditinggalkan almarhum untuk waqaf kebajikan, menjaga ilmu yang ditinggalkannya dan menyebarkan ilmu itu (selama ilmunya benar lho ya), melanjutkan kebaikan-kebaikan yang pernah mereka lakukan, mencintai yang mereka cintai membenci yang mereka benci, selama sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan banyak yang bisa dilakukan.

    => Seseorang boleh membaca Al Qur’an, baik surat Al Fatihah atau surat-surat lain, lalu hal itu dimintakan kebaikannya kepada Allah untuk diberikan kepada orangtuanya yang sudah meninggal. Misalnya, Anda membaca Al Fatihah, Surat Yaasin, Surat Al Baqarah, atau surat apapun. Boleh dibaca sekali, boleh juga dibaca berkali-kali. Sebab lebih banyak membaca Al Qur’an itu lebih baik. Tetapi niatnya bukan seperti ini: “Ya Allah aku kirimkan bacaan doa ini untuk orangtuaku yang sudah meninggal.” Tidak bisa, sebab yang beramal itu dia, bukan orangtuanya. Namun amal itu bisa dilakukan seperti ini, setelah selesai membaca Al Qur’an, lalu dia berdoa: “Ya Allah dengan bacaan Al Qur’anku ini, anugerahkan ampunan, rahmat, keselamatan untuk orangtuaku yang sudah meninggal. Lapangkan kubur mereka, jauhkan mereka dari siksa, terima amal-amal baiknya, maafkan kesalahan-kesalahannya, dekatkan mereka ke syurga-Mu dan jauhkan dari neraka-MU.” Amal seperti ini boleh. Ia dianggap sebagai TAWASUL dengan AMAL SHALIH, yaitu dengan bacaan Al Qur’an tersebut. Ingat batasannya: Doa untuk orangtua, dengan bacaan Surat Al Qur’an apapun, dilakukan sendiri atau bersama saudara kandung yang sama-sama menginginkan kebaikan untuk orangtuanya yang sudah meninggal.

    => Kita boleh mendoakan kebaikan apapun bagi orangtua kita sendiri, selama kebaikan itu relevan. Misalnya, kita memintakan ampunan, rahmat, keselamatan, perlindungan, dilapangkan kubur, dimudahkan hisab, diterima amal-amalnya, dimudahkan jalan ke syurga, dihindarkan dari siksa neraka; bagi orangtua kita yang sudah wafat. Sedangkan kebaikan seperti, agar mereka diberi tambahan ilmu, agar mereka diberi nikmat dunia, agar mereka diberi hidayah, agar mereka diajarkan ilmu laduni, agar mereka ditambah rizkinya, dan sebagainya, yang biasa didoakan untuk manusia hidup; semua itu tidak layak dimintakan untuk hamba-hamba Allah yang sudah wafat.

    => Adapun doa memohon ampunan, hal ini terbuka kepada semua kaum Muslimin, bukan hanya untuk orangtua kita sendiri. Doa ampunan itu untuk siapa saja dari kalangan kaum Muslimin, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup. Tetapi dikecualikan doa ampunan untuk orang munafik, orang yang telah terkenal kejahatan dan kezhalimannya (sangat fasiq), orang-orang kafir, serta orang-orang musyrik. Mereka tidak boleh didoakan ampunan. Mendoakan ampunan untuk mereka sama saja dengan menantang murka Allah Ta’ala.

    => Singkat kata, lebih baik seseorang berdoa sendiri, beramal shalih sendiri, lalu meminta kepada Allah memberikan kebaikan-kebaikan untuk orangtuanya yang sudah meninggal. Kalau memintakan doa ampunan, itu terbuka luas untuk seluruh kaum Muslimin, yang masih hidup maupun sudah wafat.

    Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat. Amin. Wallahu A’lam bisshawaab.

    AMW.

  5. joko widodo mengatakan:

    saya jd bingung mana yang benar n mana yang salah. karna rosullulloh saw pernah berkata, bahwa umatku akan terbagi menjadi 73 golongan dan yang benar hanya satu. satunya ini yang mana ????? karna yang jelas para keturunan nabi MUHAMMAD SAW adalah yang akan memimpin umat islam sampai akhir jaman….ALLAHUALAM BISAWAB

  6. dian th mengatakan:

    aturan-aturan itu tidaklah baku atau mengikat….tapi hanya kebiasaan saja. Tidak pernah harus seperti ini atau seperti itu. tidak perlu dilarang apalagi dikatakan bid’ah.
    tawasul juga merupakan masalah khilafiah, ulama ada yang menmakruhkannya dan ada yang membolehkannya. Jadi tergantung keyakinan kita. Yang penting kita berkeyakinan semua perantara itu hanya mahluk. Segalanya Tuhan yang menentukan.
    Kalau kita berkeyakinan berdoa’a dengan perantara orang yang sudah mati akan diperkenankan tuhan ya tidak apa2. Lebih bahaya kita minta tolong kepada orang yang hidup tapi kita malah meyakini bahwa dia yang telah menolong kita secara mutlak tanpa ingat kepada kehendak Allah.

    Tidak ada dalil yang menyatakan bahwa minta tolong sama orang mati itu musryik sedangkan minta tolong sama orang hidup itu tidak musryik. Musyrik itu keyakinan kalau ada yang bisa menyamai Allah atau ada tempat bergantung selain Allah, Kalau semua kita serahkan kepada Allah dan kita berkeyakinan bahwa semua itu tergantung kepada Allah, tidak ada yang musyrik.

    Salam.

  7. Moh Syakir mengatakan:

    Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani, pernah berujar,
    “Bila aku mati kelak, ruhku akan terus hadir di sela orang-orang yang setiap malamnya mengistiqomahkan, bertawassul kepadaku dengan keikhlasannya, sambil tak pernah henti-hentinya membaca surat Al-fatihah sebanyak 20.000 x setiap malamnya.
    Menurut pendapat para walijawa (walisongo),
    “Gunakanlah waktumu untuk kebajikan di jalan-Nya. Sesungguhnya sifat manusia terbagi dalam kelebihan dan kekurangan. Sebagai seorang mahluk yang serba kekurangan akan ilmu dan pengetahuan, dekatkanlah dirimu kepada-Nya lewat jalan para kekasih-Nya (bertawassul) sesungguhnya hanya lewat jalan inilah kamu sekalian akan mendapat derajat mulia di sisi-Nya”.
    Semoga dengan pembedaran ini, kami semua bisa melaksanakannya dengan tulus ikhlas serta mendapatkan syafaat-Nya. Amin.

  8. Moh Syakir mengatakan:

    Begitu aja kok repot.
    Kerjakanlah bila engkau meyakini hal yang benar, dan tinggalkan jika lu tidak mengerti.
    Tidak perlu diperdebatkan.

  9. Moh Syakir mengatakan:

    Menurut imam Asy-Sya’roni,
    “Jangan kau sesekali meninggalkan istiqomah bertawassul kepada para nabi, malaikat dan wali lainnya. Sesungguhnya bertawassul adalah suatu kebajikan hati dalam mencari syafa’at dan rahmat para Ahlillah yang menjadi kekasih-Nya”. Tambahnya lagi, “sesungguhnya derajat yang paling mudah didapat adalah, kedekatan hati kita dengan para Ahlillah yang menjadi kekasih-Nya, maka tiada lain dan tiada bukan, istiqomahkan bertawassul kepadanya!”.

  10. Moh Syakir mengatakan:

    Menurut imam Ibnu Athoillah,
    “Keluasan dan penghayatan ilmu sangat diperlukan oleh setiap ummat di dunia. Namun, sebagai rasa takdzim akan penghormatan kepada para kekasih Alloh SWT. Lebih sangat diutamakan. Karena sesungguhnya batu loncatan kita sebagai manusia hidup tak lain adalah bantuan rahmat dari para Ahlillah yang sudah mendahului kita, kuncinya perbanyaklah bertawassul untuknya”.

  11. Moh Syakir mengatakan:

    Jangan mudah mengatakan syirik kepada orang lain saudara muslim sebelum tahu benar apa itu syirik.

  12. Moh Syakir mengatakan:

    Menurut Syarifah Robiatul Adawiyah,
    ”sesungguhnya aku diciptakan antara hidup dan setelah mati hanya punya satu tujuan, mengabdi kepada Alloh SWT. Dan barang siapa yang bertawassul kepadaku secara istiqomah setiap malamnya dengan membaca surat Al-Fatihah 3333x dan membaca istighfar sebanyak 30.000x niscaya aku akan terus hadir menjumpaimu sampai dirimu tanpa sadar menjadi seorang derajat waliyulloh kamil”.

  13. Moh Syakir mengatakan:

    Menurut imam Abu Hasan Asy-Syadili r.a.,
    “aku kan bertanggung jawab demi keselamatanmua di dunia dan akherat, dan aku akan terus memohonkan kepada-Nya atas segala permohonanmu, dan aku akan menyambangimu / menjumpai di setiap malammu dan aku akan membawamu hidup-hidup di antara kenikmatanku (surga) apabila kamu terus beristiqomah bertawassul kepadaku di setiap malamnya, dengan memudawamkan 5000x surat Al-Fatihah dan 4500x asma Hasbunalloh wa ni’mal wakil”.
    Menurut imam Abu Sufyan Atssaury,
    “Berbahagialah wahai ummatku, sesungguhnya aku diberikan keluasan ilmu sebagai hamba yang mempunyai derajat syafa’at di kemudian hari. Istiqomahkan bertawassul kepadaku di setiap malamnya dengan terus membaca surat Al-Fatihah 7700 x dan solawat nabi (Allohumma Sholli ala sayidina Muhammad) 7000x niscaya ruhku akan selalu hadir setiap kau membutuhkanku, dan percayalah kepadaku, karena sesungguhnya aku takkan tinggal diam untuk selalu mendoakanmu sampai mencapai derajat mulia (surga)”.

  14. Moh Syakir mengatakan:

    Semoga bermanfaat.

  15. Moh Syakir mengatakan:

    Kok belumada tanggapan ????????????

  16. abisyakir mengatakan:

    @ Moh Syakir…

    Pendapat yang Anda ambil dari Syaikh Abdul Qadir Jaelani itu belum tentu benar. Tidak ada bukti yang menjelaskan, bahwa itu benar2 perkataan Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Hal seperti ini sering hanya akal-akalan syaikh-mursyid tertentu saja, untuk melariskan ajarannya.

    Andai itu pun benar-benar perkataan Syaikh Abdul Qadir Jaelani, maka perkataan beliau tidak boleh dianggap SEPERTI ayat-ayat Al Qur’an atau Sunnah yang shahih. Kita berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah, bukan kepada perkataan manusia (ulama). Perkataan ulama sifatnya membantu memahami, menjelaskan, menjernihkan, serta memberi koridor pemahaman. Jadi, perkataan ulama bukan Syariat itu sendiri.

    AMW.

  17. abisyakir mengatakan:

    @ Moh Syakir…

    Biarpun Anda meyakini, atau guru Anda memaksa Anda meyakini sesuatu, misalnya, “Setiap pagi selepas Shubuh bacalah Al Fatihah 1000 kali. Kamu dijamin kaya harta, dan masuk syurga.” Hal begini ini tidak boleh diyakini, kalau tidak ada sumbernya dari Kitabullah dan Sunnah. Hukum kita adalah hukum Allah dan Rasul-Nya, bukan hukum selain keduanya.

    Jadi meyakini itu penting, tetapi tidak boleh asal meyakini. Harus meyakini ilmu yang benar, bukan bid’ah yang diada-adakan.

    AMW.

  18. abisyakir mengatakan:

    @ Moh Syakir…

    Akibat paling berat dari tawassul yang Anda katakan itu, adalah sikap mengagung-agungkan manusia melebihi maqamnya. Biarpun dia adalah Nabi, wali Allah, ulama, dan sebagainya. Karena pada dasarnya, Syariat Islam adalah Syariat Tauhid, mengajarkan Tauhid, yaitu penghambaan murni kepada Allah.

    Bukan berarti kita tidak mencintai Nabi, Ahlul Bait, wali Allah, para ulama, dst. Tidak, sebagai orang beriman kita mencintai mereka, menghormati kemuliaan mereka. Tetapi tidak menjadikan mereka sebagai sasaran ibadah kita.

    Saya sebutkan sebuah ayat dalam Surat Ali Imran, “Wa laa ya’murakum an tattakhidhul malaikata wan nabiyyina arbaba. Aya’murukum bil kufri ba’da idz Antum Muslimun” (dan tidaklah kalian diperintahkan untuk menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai sesembahan (selain Allah). Apakah kalian diperintahkan berbuat kekufuran, setelah kalian menjadi seorang Muslim?).

    Setiap Muslim harus bertauhid. Maka untuk menuju tauhid yang murni itu, semua jalan yang akan mengarahkan kepada kemusyrikan ditutup rapat-rapat. Tawassul kepada Nabi, wali Allah, Ahlillah, dst. mungkin pada awalnya tampak baik, mulia, dan penting. Tapi lama-lama, hati kita akan tergelincir untuk memuja-muja Nabi/shalihin yang kita bertawassul kepadanya itu. Nah, inilah kemusyrikan yang tidak disadari oleh pelakunya.

    Semoga Anda memahami!

    AMW.

  19. abisyakir mengatakan:

    @ Moh Syakir…

    Perkataan Anda dari Ibnu Athaillah: “…Karena sesungguhnya batu loncatan kita sebagai manusia hidup tak lain adalah bantuan rahmat dari para Ahlillah yang sudah mendahului kita, kuncinya perbanyaklah bertawassul untuknya.”

    Ucapan ini tidak sesuai dengan Syariat Islam. Pertama, dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang diulang-ulang. “Laa taziru waziratu wizra ukhra” (tidaklah seseorang memikul dosa orang lain). Juga ayat yang lain, “Wa man jahada fa innama yujahidu li nafsih” (siapa yang sungguh-sungguh, maka sebenarnya dia bersungguh-sungguh untuk dirinya sendiri). Jadi pada hakikatnya, setiap orang bertanggung-jawab terhadap amal-amalnya sendiri. Satu orang tidak bisa mengalihkan pahala/siksa ke punggung orang lain.

    Kedua, dalam hadits yang sudah terkenal, “Jika anak Adam mati, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya.”

    Perkataan Ibnu Athaillah itu harus ditolak, karena tidak sesuai dengan ajaran Syariat Islam. Sebagai Muslim, kita mengikuti Allah dan Rasul-Nya, bukan memeluk “agama” Ibnu Athaillah.

    AMW.

  20. abisyakir mengatakan:

    @ Moh Syakir…

    Ya, tapi jangan juga mudah-mudah beramal, jika di dalamnya terkandung makna-makna yang membahayakan keimanan. Oke, kita tak mudah-mudah mengatakan orang syirik, tapi jangan juga mudah-mudah mengajarkan ajaran keliru kepada Ummat ini.

    AMW.

  21. abisyakir mengatakan:

    @ Moh Syakir…

    Rabi’ah Adawiyyah: ”Sesungguhnya aku diciptakan antara hidup dan setelah mati hanya punya satu tujuan, mengabdi kepada Alloh SWT. Dan barang siapa yang bertawassul kepadaku secara istiqomah setiap malamnya dengan membaca surat Al-Fatihah 3333x dan membaca istighfar sebanyak 30.000x niscaya aku akan terus hadir menjumpaimu sampai dirimu tanpa sadar menjadi seorang derajat waliyulloh kamil”.

    Catatan kritis:

    => Rabi’ah itu lebih mulia dari Nabi Muhammad Saw atau tidak? Kalau dia tidak lebih mulia dari Nabi, mengapa dia mengajarkan tawassul seperti itu? Nabi saja yang lebih mulia dari dia tidak mengajarkan tawassul. Nabi mengajarkan kita memperbanyak membaca shalawat. Itu pun shalawat dibaca kepada Allah, bukan kepada Nabi Saw sendiri.

    => Kalau Rabi’ah benar-benar seorang mukminah sejati, seorang wali Allah. Dia pasti tidak akan mengajarkan tawassul seperti itu. Itu adalah AJARAN PALSU, ajaran penuh kebohongan dalam Islam. Coba Anda baca akhir Surat Al Maa’idah, tentang percakapan antara Allah Ta’ala dengan Isa As. Allah bertanya kepada Isa, apakah dia mengajarkan kepada manusia agar menyembah dirinya (Isa) dan ibunya. Isa mengatakan tidak. Nah, ini bukti nyata. Seorang Nabi yang shalih, dia tidak akan mengajarkan orang untuk menyembah dirinya. Lalu lihatlah Rabi’ah, mengapa dia mengajarkan manusia menyembah dirinya, dengan pura-pura melalui perkataan “tawassul”. Padahal intinya, menyembah Rabi’ah itu sendiri.

    => Saya pernah membaca, banyak kisah seputar Rabi’ah hanyalah rekayasa guru-guru Shufi saja, untuk melariskan ajaran mereka. Biar mereka diagung-agungkan manusia, ditaati tanpa penolakan, diberi uang, dikirimi makanan, dibuatkan rumah, diberi bisnis, bahkan diberikan anak-anak gadis tercantik untuk dinikahi. Jadi, intinya, ini “penjajahan manusia atas manusia yang lainnya”. Hanya sayangnya, “yang dijajah” tidak ngerti-ngerti. Guru-guru shufi itu tidak mampu bekerja yang baik, maka caranya “menipu murid-muridnya” dengan ajaran-ajaran yang salah, lalu “menjajah kehidupan” murid-muridnya itu.

    => Lihatlah perkataan di atas, Rabi’ah, “Niscaya aku akan terus hadir menjumpaimu, sampai dirimu tanpa sadar menjadi derajat waliyullah kamil.” Ini omong kosong, ini hanya bualan kosong, tanpa arti. Kalau Rabi’ah sudah meninggal, bagaimana dia bisa hadir di sisi manusia? Bukankah kalau seseorang sudah meninggal, urusannya ada di alam barzakh. Bagaimana bisa menyertai manusia yang masih hidup? Masya Allah, ini hanyalah bualan kosong guru-guru shufi yang suka “menjajah” kehidupan murid-muridnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Sayangnya, banyak manusia “suka dijajah”, malah kalau tidak “mendapat penjajahan”, mereka pusing 7 keliling. Katanya, “Kami jadi nganggur, kalau sehari saja tidak diperintah-perintah seperti kerbau.”

    Maaf, maaf beribu maaf, saya menggunakan kata-kata yang agak kasar. Sebab saya ingin mengingatkan Anda dengan hakikat persoalan sebenarnya. Ajaran-ajaran seperti yang Anda katakan itu amat sangat disukai orang2 orientalis, sebab akibatnya bisa melumpuhkan Ummat.

    AMW.

  22. abisyakir mengatakan:

    @ Moh Syakir…

    Tidak bermanfaat komentar Anda. Kecuali, hal ini menjadi pencerahan bagi para pembaca yang lain. Tapi alhamdulillah, nama Anda seperti nama anak saya. Moga-moga kita menjadi hamba yang pandai bersyukur. Amin.

    AMW.

  23. abisyakir mengatakan:

    @ Moh Syakir…

    Ini sama saja, sama ngawurnya. Ini salah, ini salah. Jangan percaya dengan tawassul model begini, akan membahayakan akidah, amalan, dan kehidupan Anda. Nanti Anda akan disukai oleh para jin-jin sesat, lalu mereka semakin menambahkan kesesatan ke atas ubun-ubun Anda dan keluarga. Menghindarlah dari semua kedustaan-kedustaan seperti ini. Ini hanya kerjaan guru-guru shufi yang “suka menjajah” murid-muridnya. Itu saja.

    AMW.

  24. abu naura mengatakan:

    ehhmm…ehmmm….ehmm….

    suatu pencerahan sekali lagi pencerahan buat kami di blog ini, kok masih ada juga ya yang berpemahaman seperti ini ..?
    wahai MUI, barangkali inilah tugas ulama untuk meluruskan jalan yang sangat bengkok ini, ingat ulama adalah pewaris para nabi dan ini bukan sekedar masalah kecil, urusan aqidah umat,sungguh memelas umat islam ini , adakah yang peduli??

    ya, Moh Syakir bertaubatlah saudaraku ?
    ana sarankan untuk sering bertemu dengan bukan hanya seorang ustaz saja, berpetuanglah,perbanyaklah memburu al’ilmu yang tentu berdasarkan qur’an dan sunnah hingga kebenaran menghampirimu….. jangan terlalu lama berkubang di lubang hitam pemahaman agama seperti ini dan semoga hidayah dari allah segera antum dapatkan aamiin.
    wassalamualaikum…

  25. amier mengatakan:

    assalamualaikum…maaf ssaya mencampuri…ada ayat di Al Quran yang menjelaskan bahwa yang meninggal baik dia para nabi, rasul, suhada, orang alim, wali Allah mereka itu tidak mati.tetapi mereka berada di sisiku.tetapi mereka tidak mendengar apa yang kau ucapkan dan sekalipun mendengar mereka tidak dapat berbuat apa2… sesungguhnya nabi itu diutus sebagai pembawa kebenaran dan peringatan jadi nabi tidak bisa mengabulkan apapun…safaat itu hanya milik Allah jd mintalah kepada Allah…

  26. AMIRAHMAD mengatakan:

    BUAT SEDOLOR SEDOLOR SEIMAN MASALAH TAWASUL INI SUDAH DI PERDEBATKAN DARI PARA ULAMA TERDAHULU DARI KE 4 IMAM SYAFEI MALIKI HANBALI HANAFI INI CUMAN MASALAH ILAFIYAH JADI IDAK USAH DI PERDEBATKAN LAGI YG MAU MAKAI TAWASUL SILAKAN DAN YG TIDAK MAU MAKAI TAWASUL JUGA SILAKAN SAMPAI KAPAN JUGA TIDAK AKAN SELESAI PERDEBATAN INI YANG PENTING SEKARANG KITA MENJAGA UKUWAH ISLAMINYA JANGAN SAMPAI TERPECAH BELAH BARANGKALI ITU YANG SAYA KETAHUI SEDIKIT MOHON MAAF KALAU SALAH

  27. Khoirul Anisa mengatakan:

    tidak ada yang bisa memberi pertolongan kepada kita semua,kecuali ALLAH swt.buanglah keyakinan yg bertentangan dengan tauhid.

  28. manahrasa mengatakan:

    ….Allah maha tau apa yang dilakukan umatnya…niat didalam hatinya…doa’doa yang di ucapkannya baik dalam hati maupun lisan…apapun ibadah kita … semata2 hanya untuk Allah…Tawasul bagus….tidak pun silahkan…karena kita semua belum tau apa2…belajar….dan terus belajar….janganlah menyombongkan diri….istiqfar….karena kitapun blm tau apakah pendapat kita benar apa salah….istiqfar….

  29. abi syam mengatakan:

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Alhamdulillah saya mendapat pencerahan lagi dari blog ini, syukron Ustadz Abi S :D

    sedikit yang masih mengganjal di hati saya soal tawassul. saya biasa bertawassul seperti ini : membaca surah Alfatihah 100x kemudian berdoa seperti ini : Ya Allah aku sedekahkan pahala AlFatihah-Mu sebanyak 100x untuk si “fulan”, semoga dengan karomah dan keberkahan alfatihahmu, si fulan menjadi lebih baik ibadahnya kepadamu”. atau doa lain seperti ini ” Ya Allah aku sedekhakan pahala bacaan alfatihah-Mu sebanyak 100x untuk orang tuaku. semoga dengan karomah dan keberkahan alfatihahmu, bla…bla…bla…”

    bagaimana menurut pak ustadz kalau tawassul seperti itu??
    mohon pencerahan dan bimbingannya

    syukron

  30. abisyakir mengatakan:

    @ Abi Syam….

    Maafkan Pak, komentar Bapak baru saya rspon sekarang. Sebenarnya mau merespon kemarin-kemarin, tetapi Allah Ta’ala baru memudahkan saat sekarang ini. Alhamdulillah ‘ala kulli ni’matih.

    Secara ringkas saya jawab pertanyaan Bapak:

    1. Pertama, tawasul dengan beramal shalih itu termasuk tawasul yang benar. Kita bisa beramal shalih apapun yang baik, misalnya shalat sunnah, membaca Al Qur’an, dzikir menyebut Asma Allah, memperbanyak istighfar, shalawat, dll. Apa saja amal shalih yang benar.

    2. Tawasul dengan membaca Surat Al Fatihah 100 kali, atau berapapun banyaknya, itu termasuk tawasul dengan amal shalih, yakni dengan berdzikir membaca Surat Al Fatihah berulang-ulang. Ayat-ayat Al Qur’an sejauh dibaca dengan benar, dibaca berulang-ulang, itu dianggap DZIKIR, yaitu dzikir dengan membaca Surat Al Qur’an. Membaca 100 kali, 50 kali, 20 kali, atau berapapun sanggupnya, ini termasuk amal shalih.

    3. Kita boleh beramal shalih, misalnya membaca Al Fatihah 100 kali, istighfar 1000 kali, dan lainnya. Semua itu dianggap sebagai amal shalih, yaitu dzikir menyebut Asma-asma Allah. Kita diperintahkan oleh Allah untuk berdzikir sebanyak-banyaknya. Tetapi jumlah bilangan 100, 1000, dll. itu hendaklah diamalkan untuk diri kita sendiri, atau paling di keluarga kita sendiri. Amal dengan jumlah tertentu jangan disebarkan ke masyarakat luas, misalnya dengan mengatakan, “Bapak, Ibu, mri kita dzikir sekian kali sekian kali. Dijamin nanti kita akan dapat ini itu. Saya sudah membuktikan, maka ikuti ajakan ini.” Nah, dzikir yang diucapkan dengan jumlah tertentu cukuplah untuk diri kita sendiri, atau paling keluarga sendiri. Jangan disebar-sebarkan ke masyarakat. Mengapa demikian? Sebab, jumlah dzikir tertentu yang disebarkan ke tengah masyarakat, harus jelas dasarnya dari Rasulullah Saw. Kalau untuk amal sendiri, dalam rangka tawasul dengan amal shalih, atau dalam rangka istighatsah (memohon pertolongan Allah), tidak mengapa. Amal untuk masyarakat luas jika menyangkut jumlah-jumlah tertentu, haruslah jelas dalil-dalilnya.

    4. Bagaimana dengan ucapan seperti, “Semoga dengan karomah dan keberkahan Al Fatihah-Mu, Si fulan menjadi lebih baik ibadahnya kepadamu.” Amalan sesuai Syariat yang benar dalam hal ini ialah mengucapkan misalnya, “Ya Allah, dengan amal shalih dan dzikir yang aku lakukan ini, berikan hidayah kepada Si Fulan agar dia sadar, agar dia lebih baik ibadahnya kepada-Mu, agar dia suka menuntut ilmu, agar dia kasih-sayang kepada orangtua dan saudara-saudaranya.” Doa demikian lebih benar dan insya Allah lebih baik. Jadi, yang kita ajukan kepada Allah adalah amal shalih kita, lalu berdoa meminta apa saja yang baik, termasuk meminta supaya Si Fulan diberi hidayah agar ibadahnya lebih baik lagi. Kita tidak perlu menyebut karomah dan keberkahan Al Fatihah, sebab Surat tersebut tanpa amal kita pun sudah memiliki kemuliaan dan keberkahan. Amal baik kita tak menambah kebaikan Surat Al Fatihah, sebagaimana amal buruk kita tak akan mengurangi kebaikannya.

    5. Lalu dengan ucapan, “Ya Allah aku sedekhakan pahala bacaan al Fatihah-Mu sebanyak 100x untuk orang tuaku. Semoga dengan karomah dan keberkahan alfatihahmu, bla…bla…bla…” Akan lebih baik kalau Bapak mengucapkan, “Ya Allah, dengan amalku ini (membaca Surat Al Fatihah 100 kali), ampunilah orangtuaku, sayangi mereka, bahagiakan hatinya, mudahkan urusannya, berkahi hidupnya (jika masih hidup), lapangkan kuburnya (kalau sudah meninggal), jauhkan dari kesulitan kubur, terima amal-amalnya, mudahkan jalannya menuju syurga, jauhkan mereka dari siksa neraka.” Doa demikian boleh, termasuk tawasul dengan amal shalih. Tentang pahala amal yang Anda lakukan untuk orangtua. Sebenarnya saudaraku, ketika Anda shalih, banyak berbuat baik, banyak beramal di jalan Islam, banyak berdzikir, dll. sebenarnya orangtua Anda ikut menikmati pahala amal Anda. Mengapa demikian? Siapapun yang berjasa bagi kita, lalu dengan jasanya itu kita bisa beramal shalih, maka orang yang berjasa tersebut, misalnya orangtua yang sangat banyak jasanya, mereka ikut berpahala, tanpa sedikit pun mengurangi pahala kita. Inilah kemurahan Allah atas ummat ini. Dengan Anda dzikir membaca Al Fatihah 100 kali misalnya demikian, insya Allah orangtua Anda sudah otomatis mendapat bagian pahala, sesuai saham jasa mereka.

    6. Seorang anak boleh beramal tertentu untuk orangtuanya. Misalnya, orangtuanya ingin naik Haji, tetapi sampai wafat belum terlaksana. Atau mereka sudah tua, tidak mampu lagi menjalankan Haji. Seorang anak boleh melakukan amal itu, untuk orangtuanya. Atau misalnya, orangtua telah menjalankan shaum Ramadhan, namun saat belum membayar zakat fitrah, beliau meninggal. Kita bisa membayarkan zakat tersebut. Atau orangtua pernah punya angan-angan, nadzar, janji, wasiat, dll yang belum terlaksana. Kita silakan memikul amanah tersebut. Insya Allah pahalanya akan sampai ke orangtua, juga sampai ke kita sendiri. Atau misalnya, orangtua meninggalkan sejumlah harta tertentu yang tidak dibagikan dalam warisan. Para ahli waris sepakat untuk mewaqafkan harta itu di jalan kebaikan, misalnya membelikan Mushaf Al Qur’an, lalu diletakkan di masjid sebagai waqaf. Atau memakai uang itu untuk membantu madrasah, pembangunan masjid, beasiswa anak muslim, dll. Hal ini diperbolehkan. Insya Allah, pahalanya akan sampai ke orangtua, sekaligus ke anak-anaknya yang ridha dengan amal kebaikan itu.

    7. Adapun kalau kita beramal, misalnya membaca Al Fatihah 100 kali, lalu kita berkata, “Ya Allah, berikan pahala amal ini untuk orangtuaku. Aku hanya beramal saja, biarlah orangtuaku yang terima pahalanya.” Perkataan seperti ini tidak perlu. Kalau Anda beramal shalih dengan ikhlas, semata karena Allah, dengan dzikir sebanyak-banyaknya, insya Allah orangtua Anda akan mendapat pahala, sebab mereka telah menanam jasa bagi kebaikan Anda. Jadi, mereka mendapat pahala karena saham-nya dalam mendidik, membesarkan, membela, mengajari, menyekolahkan, dll.

    Singkat kata, wahai Saudaraku, sebenarnya banyak amal-amal shalih yang bisa kita lakukan, dan hal itu insya Allah benar dalam tinjauan Syariat Islam. Hanya saja, karena salah sedikit dalam mengamalkan, akhirnya amal-amal itu tidak maksimal seperti yang diharapkan. Diperlukan perbaikan sedikit, agar amal-amal itu menjadi optimal di sisi Allah, amin Allahumma amin.

    AMW.

  31. ibrohimnaw mengatakan:

    Kita memang perlu mengkaji konesep “mir’ah” nya Al-Ghazali dengan aplikasi konprehensif….kita kadang hanya tahu satu hal sedangkan hal-hal banyak yang lain masih belum banyak kita ketahui…

  32. ali razaly mengatakan:

    Assalamualikum…
    saya Ali.. saya baru membaca tulisan dan perdebatan diatas… dan alhamdulillah saya mendapatkan sedikit pencerahan. Namun saya masih amat penasaran karena masih banyak pertanyaan. Saya sedang mengikuti jamaah yang suka tawasul, yang niat saya tiada lain adalah karena penasaran dan ingin tahu kenapa mereka begitu yakin dengan tata cara ibadah yang mereka lakukan selama ini.

    di satu kesempatan, setelah ritual tawasul dilakukan, sang imam berceramah… samapai pada pernyataannya bahwa dia menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril… bla-bla.. saya hanya diam dan membiarkan samapai kapan dia akan terus meyakini kegilaan ini… namun saya tidak punya cukup hujjah untuk melawan mereka.
    sementara itu dulu, mohon ditanggapi pak Ustad.. juga teman2 yang lain..
    wasalam

  33. ali razaly mengatakan:

    saya juga mohon ditanggapi mengenai hadist ini.. :

    Tawassul kepada nabi Muhammad SAW sebelum lahir

    Sebagaimana nabi Adam AS pernah melakukan tawassul kepada nabi Muhammad SAW. Imam Hakim Annisabur meriwayatkan dari Umar berkata, bahwa Nabi bersabda :

    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما اقترف آدم الخطيئة قال : يا ربى ! إنى أسألك بحق محمد لما غفرتنى فقال الله : يا آدم كيف عرفت محمدا ولم أخلقه قال : يا ربى لأنك لما خلقتنى بيدك ونفخت فيّ من روحك رفعت رأسى فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لاإله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى إسمك إلا أحب الخلق إليك فقال الله : صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إلي، ادعنى بحقه فقد غفرت لك، ولولا محمد ما خلقتك (أخرجه الحاكم فى المستدرك وصححه ج : 2 ص: 615)
    “Rasulullah s.a.w. bersabda:”Ketika Adam melakukan kesalahan, lalu ia berkata Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memintaMu melalui Muhammad agar Kau ampuni diriku”. Lalu Allah berfirman:”Wahai Adam, darimana engkau tahu Muhammad padahal belum aku jadikan?” Adam menjawab:”Ya Tuhanku ketika Engkau ciptakan diriku dengan tanganMu dan Engkau hembuskan ke dalamku sebagian dari ruhMu, maka aku angkat kepalaku dan aku melihat di atas tiang-tiang Arash tertulis “Laailaaha illallaah muhamadun rasulullah” maka aku mengerti bahwa Engkau tidak akan mencantumkan sesuatu kepada namaMu kecuali nama mahluk yang paling Engkau cintai”. Allah menjawab:”Benar Adam, sesungguhnya ia adalah mahluk yang paling Aku cintai, bredoalah dengan melaluinya maka Aku telah mengampunimu, dan andaikan tidak ada Muhammad maka tidaklah Aku menciptakanmu

  34. abisyakir mengatakan:

    @ Ali Razaly…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Terimakasih Akhi atas apresisianya. Walhamdulillah wa jazakumullah khair.

    Ya, kalau sudah mengaku mendapat wahyu dari Allah melalui Jibril, itu jelas sesat. Itu seperti mengaku sebagai Nabi palsu. Dalam riwayat dijelaskan, nanti akan ada sekian orang yang mengaku sebagai Nabi. Mereka itu adalah dajjal-dajjal yang menyesatkan.

    Anda harus hati-hati atas kondisi seperti itu. Imam seperti itu sudah seperti “dajjal kecil”. Kalau dia populer dan punya massa besar, kualitas “kedajjalannya” akan meningkat, sehingga suatu kelak layak disebut sebagai Nabi Palsu, sang pendusta. Tinggalkan saja ritual-ritual seperti itu.

    Apa sih yang dicari para imam seperti itu?

    Mudah saja, dia ingin menipu manusia yang hatinya lembek, mentalnya mudah ikut-ikutan, akalnya terbatas, gampang dikelabui dengan cerita2 fantastik. Kalau sudah tertipu, mereka akan diminta untuk berkorban ini itu buat sang imam. Bahkan pernah ada kenalan, isterinya sampai pernah diminta “pelayanan cinta” oleh imam-imam sesat seperti itu. Rata-rata imam sesat ini tak akan jauh dari 3 hal: duit/kekayaan, wanita, kekuasaan. Persis: Harta, tahta, wanita. Persis sekali!

    Cobalah menghindar dari hal-hal demikian. Semoga Allah Ta’ala memberi Anda dan kawan2 Anda bimbingan ilmu, iman, hikmah, dan kehidupan yang kokoh di muka bumi. Allahumma amin.

    AMW.

  35. abisyakir mengatakan:

    @ Ali Razaly…

    Hadits dinyatakan shahih bisa dilihat dari 2 sisi: sanad dan matan.

    Sanad itu, silsilah periwayatan dari Rasulullah Saw sampai imam-imam ahli hadits seperti Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll. Para imam hadits itu rata-rata hidup sekitar 300 tahun setelah Nabi Saw wafat. Kalau dihitung, dalam sebuah hadits rata-rata ata 5 atau 6 tokoh periwayat hadits. Ini sesuai dengan ukuran generasi di masa itu sampai ke Rasulullah. Tentang kajian sanad atas hadits tersebut, saya kurang tahu. Mungkin ikhwan-akhwat lain bisa membantu. Pernah saya dengar itu, tetapi tidak yakin.

    Adapun matan adalah substansi atau isi hadits. Hadits shahih isinya tidak bertentangan dengan Al Qur’an, tidak bertentangan dengan hadits yang lebih shahih, tidak bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat. Kalau bertentangan, tidak dianggap shahih.

    Apakah isi hadits itu bertentangan dengan Al Qur’an?

    Ya benar. Isi hadits itu bertentangan dengan Al Qur’an. Kalau Anda membaca Surat Al A’raaf, kisah tentang Adam As. Disana ada doa taubat Nabi Adam As yang sudah sangat terkenal, “Rabbana zhalamna anfusana, wa illam taghfirlaha wa tarhamna, lana kunanna minal khasirin” (Wahai Rabb kami, kami sudah menzhalimi diri kami sendiri, bila Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, tentulah kami akan menjadi orang-orang yang merugi).

    Inilah doa Nabi Adam yang valid. Bukan doa tersebut. Lagi pula, andaikan cara tawasul seperti itu benar, tentu akan sangat banyak ayat Al Qur’an atau hadits-hadits Nabi Saw yang menjelaskan cara berdoa yang maqbul seperti itu. Tetapi ayat/hadits shahih semacam itu tak ada. Yang ada adalah: kita disunnahkan banyak2 membaca shalawat untuk Nabi Saw dan keluarga beliau.

    Imam Al Hakim termasuk Imam yang dikenal tasahul, bermudah-mudah menshahihkan hadits. Beliau dinilai berlebihan dalam hadits2 seputar Ahlul Bait. Di usia tuanya, beliau disebut memiliki “gangguan” dari sisi hafalan. Wallahu A’lam bisshawaab.

    AMW.

  36. a fauzan rofiq mengatakan:

    Yang terpenting adalah menjaga ukhuwah. Jadi, yang tidak punya dasar pengetahuan jangan asal ngomong agar permasalahannya tidak makin amburadul. Yang tidak ngerti fiqih, ushul fiqih, qur’an-hadits, dan tidak bisa baca kitab kuning, jangan sok tahu tentang masalah-masalah dalam agama Islam. Jangan ikut2an ngasi solusi karena bukan ahlinya. Ingat hadits: “Idza wusidal amru ila ghairi ahlihi fantadhiris sa’ah!”

  37. Abu Nidal mengatakan:

    Good Comment akhi Fauzan, mereka cuma bisa komentar karena cuma copy paste dari internet. Coba mereka tanya kepada ahli fiqih langsung yang mempunyai sanad keilmuan yang mutasil.

  38. erwan mengatakan:

    ilmu yang sangat bermanfaat..terima kasih.

  39. Kamil Asgar mengatakan:

    Assalamualaikum…
    Saya baru membaca tulisan ini, alhamdulillah saya mendapatkan pemahaman yang bertambah untuk masalah ini. ada hal yang saya ingin tanyakan : Apa yang membuat mereka sebegitu yakinnya sehingga sulit diberi penjelasan tentang haramnya mendatangi kuburan orang sholeh untuk mohon berkahnya, padahal nota benenya mereka disebut ustadz dan mampu membaca kitab kuning ?. sekaligus saya izin untuk menyebarkan tulisan ini. Jajakumulloh

  40. abisyakir mengatakan:

    @ Kamil Asgar…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah Akhi…

    Apa yang membuat mereka sebegitu yakinnya sehingga sulit diberi penjelasan tentang haramnya mendatangi kuburan orang sholeh untuk mohon berkahnya, padahal nota benenya mereka disebut ustadz dan mampu membaca kitab kuning?”

    Itu karena fanatisme, mengikuti sesuatu karena sesuai dengan paham kelompok. Fanatisme seringkali didoktrinkan oleh ustadz/kyai/syaikh tertentu. Tujuannya, biar tidak kehilangan pengaruh atas orang-orang itu.

    Kadang, mereka sudah memiliki jamaah dalam jumlah banyak. Dari jamaah itu ada sumbangan2. Mereka mengikat jamaah dengan acara-acara tawasulan seperti itu. Kalau acara itu ditiadakan, mereka khawatir akan kehilangan jamaah, lalu kehilangan penghasilan ekonomi.

    Ya, masalah demikian sering terjadi di kalangan ummat ini. Semoga kita semua diberi rahmat untuk menempuh jalan yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

    AMW.

  41. yadi mengatakan:

    ass.wr.wb.
    saya juga seorang muslim cuma terkadang heran aliran2 islam sendiri mengklaim bahwa aliran merekalah yg paling benar dan yang paling sesuai menurut Al-Quran dan Hadist yg mengatakan ini itu adalah bid`ah, tapi siapakah yg sebenarnya yg menghakimi semua itu? saya yakin semua ajaran islam yg ada bersumber pada al-Quran dan hadist yang pada akhirnya semua disandarkan kepada Sang Pencipta Allah,SWT

  42. angdidi mengatakan:

    Assalamualaikum…
    buat semuanya monggo pada ngaji lagi.
    dan apa sih yang diinginkan orang islam, berdebat ?
    nih ane yg paling benar lu salah !
    wudlu,wudlu, biar adem….dan buat kita yang bodo dan awam, orang biasa,tak punya pangkat apa – apa,istikhorah aza kabeh biar lebih jelas,bener kata manusia belum tentu bener kata Allah, salah kata manusia belum tentu salah dimata Allah,ane ini ada dalilnya, kata ane satunya saya juga ada dalilnya,sama -sama punya dalil,punya dasar hukum yang sama Al-Quran dan Sunnah,monggo pada ngaji lagi,yang tersirat dan tersurat cari – dan cari kalo ngak ketemu nanya sama yang ngerti pada ulama bukan pada orang pinter.

  43. angdidi mengatakan:

    salam..buat sedulur kabeeh.
    jangan cepat menyalahkan seseorang soalnya yang disalahkan belum tentu salah, dan jangan membenarkan seseorang soalnya yg dibenarkan belum tentu benar !
    balik lagi ngaji, ngaji, ngaji.jaga lisan kita masing = masing ada etika yg harus dijaga yaitu persaudaraan,jangan sebatas yakin tapi harus ainul yakin,dan haqqul yakin,hal itu perlu proses yang panjang
    banyak ilmu Allah yang tersembunyi tapi tidak disembunyikan,namanya juga tersembunyi tidak semua orang bisa mencari apalagi menemukannya,siapa yang dapat mencari dan menemukannya ? yaitu ulama awas bukan orang pinter, kyai, ustadz,dan lain – lain soalnya kyai dan ustadz itu belum tentu ulama.cari mudah- mudahan ketemu.

  44. Sumantri mengatakan:

    abisyakir: kalo gitu anda nulis di internetpun tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh dan tak ada hadisnya tp ternyata anda pake internet juga, ngaji lagi ada deh

  45. Sumantri mengatakan:

    kan masih mendingan tahlilan,saya lebih percaya pada ulama, ulama besar yang jelas2 ilmunya,jelas kajian ilmunya daripada kamu

  46. abisyakir mengatakan:

    @ Sumantri…

    Bapak, bapak… Anda ini terlalu bernafsu amarah sehingga tidak mampu membaca tulisan yang sejelas itu. Cobalah tenang sedikit, biar mendapat hikmah. Disana sudah saya katakan, tawasul itu ada yang boleh dan ada yang tidak. Beberapa cara tawasul tidak diperbolehkan, menurut pendapat yang kami anut. Tapi ada juga yang membolehkan, bagi yang mengambil pendapat itu.

    Lalu apa hubungannya dengan intenet, TV, radio, HP, laptop, mobil, pesawat, biskuit, pizza, burger, gethuk, wingko, soto ayam, dadar gulung, weci, cireng, dan sebagainya…. yang tidak ada di jaman Nabi ?????

    Yo wis lah, coba pikirkan sendiri… Matur nuwun.

    AMW.

  47. toto mengatakan:

    ass.wr.wb.
    @abisyakir
    kalau menurut saya yang awam ini…. kegiatan tawasul,tahlil adalah perbuatan yang baik
    karena mengharap ridho ALLOH.
    jadi jangan mengatakan kalau bertawasul itu syirik,biarkan saja Alloh yang memutuskan,itu syirik atau bukan.kalau bpk abisyakir mengatakan kalau itu syirik,sudah begitu tinggikah ilmu penglihatan hati anda….?.kalau memang kelompok bpk tidak melakukan tawasul ga masalah,kami kan tidak akan mempermasalahkan itu.silahkan lakukan yang menurut bpk baik.tapi jangan sekali2 anda mengklaim sesuatu yang anda sendiri tidak pernah tahu.karena anda bukan yang maha tahu,hanya ALLOH lah yang maha mengetahui.jadi tolong kalau mau posting (koment)pikirkanlah hasil baik buruknya.pasti anda tidak pernah berpikir akibat koment anda yang ga jelas bagi kami yang senang bertawasul.jangan membuat hati seseorang yang telah meyakini sesuata yang baik karena ALLOH jadi ragu karena koment2 anda.
    sekarang saya mau tanya sama anda,apakah anda bisa menjamin bahwa kelompok anda yang tidak pernah bertawasul itu tidak pernah melakukan perbuatan yang syirik……….?.jangankan untuk menjamin kelompok anda….untuk menjamin diri anda sendiri saja saya yakin anda ga bisa .bahkan resiko dari koment anda saja anda tidak tahu.sekarang begini saja, mari kita yakini apa yang kita anggap baik bagi kita tanpa harus mempersoalkan saya begini anda begitu.kita satu akidah yaitu islam.dimana islam yang di perjuangkan oleh nabi besar yang kita cintai MUHAMMAD SAW.apakah begini caranya kita membalas kebaikan Beliau yang talah dengan susah payah memperjuangkan islam satu2nya agama yang di ridhoi oleh ALLOH.jadi marilah kita saling bergandeng tangan
    untuk memperkukuh islam yang dengan nyata2 sedang mempunyai berbagai polemik.mari kita saling mengisi satu sama lainnya.mari kita tunjukan bahwa kita umat islam adalah umat yang penuh dengan kerukunan,kebiakan ahklak yang di wariskan oleh nabi besar kita MUHAMMAD SAW.mari kita tunjukan pada dunia bahwa kita umat yang selalu perpegang teguh dengan akidah kita dan selalu menyembah kepada ALLOH SWT.dengan begitu kita tidak akan di remehkan.
    terimakasih,jika ada kata yang salah saya mohon maaf yang sebesar2nya .

  48. dadang mengatakan:

    Telah menceritakan kepada kami Thahir bin Isa bin Qibarsi Al Mishri At Tamimi yang berkata menceritakan kepada kami Asbagh bin Faraj yang berkata menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makkiy dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami Al Madini dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif dari pamannya Utsman bin Hunaif bahwa seorang laki-laki berkali-kali datang kepada Utsman bin ‘Affan radiallahu ‘anhu untuk suatu keperluan [hajat] tetapi Utsman tidak menanggapinya dan tidak memperhatikan keperluannya. Kemudian orang tersebut menemui Utsman bin Hunaif dan mengeluhkan hal itu. Maka Utsman bin Hunaif berkata “pergilah ke tempat berwudhu’ dan berwudhu’lah kemudian masuklah ke dalam masjid kerjakan shalat dua raka’at kemudian berdoalah “Ya Allah aku memohon kepadamu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku menghadap denganmu kepada TuhanMu Tuhanku agar memenuhi keperluanku” kemudian sebutkanlah hajat atau keperluanmu, berangkatlah dan aku dapat pergi bersamamu. Maka orang tersebut melakukannya kemudian datang menghadap Utsman, ketika sampai di pintu Utsman penjaga pintu Utsman memegang tangannya dan membawanya masuk kepada Utsman bin ‘Affan maka ia dipersilakan duduk disamping Utsman. Utsman berkata “apa keperluanmu” maka ia menyebutkan keperluannya dan Utsman segera memenuhinya. Utsman berkata “aku tidak ingat engkau menyebutkan keperluanmu sampai saat ini” kemudian Utsman berkata “kapan saja engkau memiliki keperluan maka segeralah sampaikan”. Kemudian orang tersebut pergi meninggalkan tempat itu dan menemui Utsman bin Hunaif, ia berkata “Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu, ia awalnya tidak memperhatikan keperluanku dan tidak mempedulikan kedatanganku sampai engkau berbicara kepadanya tentangku”. Utsman bin Hunaif berkata “Demi Allah, aku tidak berbicara kepadanya, hanya saja aku pernah menyaksikan seorang buta menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluhkan kehilangan penglihatannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “bersabarlah”. Ia berkata “wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penuntun yang dapat membantuku dan itu sungguh sangat menyulitkanku”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “pergilah ke tempat wudhu’, berwudhu’lah kemudian shalatlah dua rakaat kemudian berdoalah” yaitu doa ini. Utsman bin Hunaif berkata “demi Allah kami tidaklah berpisah dan berbicara lama sampai ia datang kepada kami dalam keadaan seolah-olah ia tidak pernah kehilangan penglihatan sebelumnya” [Mu’jam As Shaghir Ath Thabrani 1/306 no 508]

    .

    Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam As Shaghir 1/306 no 508 dan Mu’jam Al Kabir 9/30 no 8311 dengan jalan dari Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl dari Utsman bin Hunaif. Dan diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/167 dengan jalan dari Ismail bin Syabib dari ayahnya Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif. Kemudian diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/168 dan Abdul Ghani Al Maqdisi dalam At Targhib fi Du’a no 61 dengan jalan dari Ahmad bin Syabib bin Sa’id dari ayahnya Syabib bin Sa’id Al Makki dari Rawh bin Qasim dari Abu Ja’far Al Khatami dari Abu Umamah bin Sahl dari Utsman bin Hunaif.

    Kedudukan hadis ini adalah shahih. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya dimana Syabib bin Sa’id seorang yang tsiqat dan telah meriwayatkan hadis ini darinya Abdullah bin Wahb seorang yang tsiqat dan kedua anaknya Ahmad bin Syabib yang tsiqat dan Ismail bin Syabib yang tidak dikenal kredibilitasnya. Berikut para perawi Thabrani
    Thahir bin Isa At Tamimi adalah syaikh Thabrani yang tsiqat dimana Ath Thabrani sendiri telah menshahihkan hadisnya dalam Mu’jam As Shaghir. Ibnu Makula menyatakan ia tsiqat [Al Ikmal 1/296]
    *
    Asbagh bin Faraj adalah seorang yang tsiqat. Ia adalah perawi Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Al Ijli berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu ‘Ali bin Sakan berkata “tsiqat tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 657]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat” [At Taqrib 1/107]
    *
    Abdullah bin Wahb bin Muslim adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shalih al hadits, shaduq lebih saya sukai daripada Walid bin Muslim”. Abu Zur’ah menyatakan tsiqat. Al Ijli berkata “tsiqat”. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “disepakati tsiqat”. [At Tahdzib juz 6 no 141]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah dan hafizh [At Taqrib 1/545]
    *
    Syabib bin Sa’id At Tamimi adalah perawi Bukhari dan Abu Dawud yang tsiqat. Ali bin Madini menyatakan ia tsiqat. Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata “tidak ada masalah padanya”. Daruquthni menyatakan tsiqat. Adz Dzuhli menyatakan tsiqat. Ath Thabrani menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 534]. Al Hakim berkata “tsiqat ma’mun” [Al Mustadrak no 1929]. Ibnu Hajar berkata “tidak ada masalah pada hadisnya jika yang meriwayatkan darinya adalah anaknya Ahmad tetapi tidak untuk riwayatnya dari Ibnu Wahb” [At Taqrib 1/411]. Dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat kecuali riwayatnya dari Ibnu Wahb [Tahrir At Taqrib no 2739].
    *
    Rawh bin Qasim At Tamimi adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim dan Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 3 no 557]. Ibnu Hajar menyatakan “tsiqat hafizh” [At Taqrib 1/305]
    *
    Abu Ja’far Al Khatami adalah Umair bin Yazid Al Anshari perawi Ashabus Sunan yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Numair, Al Ijli dan Ath Thabrani menyatakan “tsiqat” [At Tahdzib juz 8 no 628]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/756] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 5190]
    *
    Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Diperselisihkan apakah ia sahabat atau bukan. Ia dinyatakan hidup di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak mendengar hadis darinya. Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat dan Abu Hatim berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 1 no 497]

  49. Nasrudin mengatakan:

    membaca solawat, apakah termasuk tawasul dgn Nabi ?

  50. Angga mengatakan:

    ass wr wb….
    saya yang minim pengetahuan ini ingin bertanya…
    misalnya ada orang ingin mengamalkan suatu amalan,dan tata cara amalan tersebut salah satunya harus bertawasul kepada nabi,wali,orang tua,dll..melalui mengirimkan surat al fatihah, apakah tawasul seperti ini dilarang atau diperbolehkan???

  51. abisyakir mengatakan:

    @ Angga…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    ==> Anda boleh mengamalkan suatu amalan, setelah terlebih dulu melakukan amal-amal shalih. Tetapi amal-amal shalih itu juga yang pasti-pasti saja, tidak usah dicampur dengan amal shalih yang aneh-aneh. Contoh amal yang bisa dilakukan, shalat sunnah, membaca Al Qur’an, banyak membaca shalawat, banyak membaca istighfar, mendoakan orangtua, mendoakan ampunan untuk kaum Muslimin yang masih hidup atau sudah wafat, dll. Jadi amal yang pasti-pasti saja, tidak usah tawassul semacam itu.

    ==> Anda boleh juga mengamalkan suatu amal, misalnya berdoa kepada Allah, setelah sebelumnya membaca Al Fatihah berkali-kali, sekuat kesanggupan Anda. Bacaan itu dianggap sebagai DZIKIR dengan membaca Al Qur’an, khususnya Surat Al Fatihah. Ini termasuk tawassul juga, yaitu tawassul dengan membaca Surat dalam Al Qur’an. Tetapi jumlah bacaan Surat itu disesuaikan kemampuan Anda saja, tidak harus dipatok sejumlah ini itu.

    ==> Kalau seorang Muslim melakukan tawassul, dengan mengucap doa misalnya, “Ya Allah, melalui perantara ruh Nabi-Mu, melalui perantara kemuliaan dan kedudukannya di sisi-Mu, terimalah doa-doaku.” Tawassul semacam ini bisa atas nama wali, ulama, guru ngaji, kyai, dan sebagainya. Seorang Muslim yang biasa melakukan perbuatan seperti ini, nanti hatinya akan terpaut dengan hamba-hamba Allah yang dia jadikan sarana tawassul itu, apakah ia adalah Nabi, wali, orang shalih, dll. Nanti hatinya akan mengkultuskan hamba-hamba Allah itu. Cara demikian akan membawa ke arah perbuatan syirik yang sangat halus.

    Semoga bermanfaat. Amin.

    AMW.

  52. Royhan Abuhasan Asy'arie mengatakan:

    Teruskan saudaraku,,Serukan Tauhid yang Murni d muka bumi ini..smga mereka dberi pemahaman mengenai TAUHID YG MURNI..smga mereka djauhkan dri HAL-HAL yg dpt menjerumuskan kpd perbuatan syirik..

  53. yanzhie mengatakan:

    Lakum Diinukum Waliyadiin aja lah..

  54. Mukhlis mengatakan:

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, ” (Al-Maidah:35).

    “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna dan shalat yang didirikan. Karuniakanlah kepada junjungan kami Nabi Muhammad wasilah, keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi. Dan angkatlah ia ke tempat yang terpuji sebagaimana telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau ya Allah, Dzat yang tidak akan mengubah janji.”

    Adakalanya qt tdk slalu hrs mendengarkan perkataan orang lain yg slalu mnyalahkan tindakan qt. Jika qt sdh mngambil kputusan yg drasa tepat & t”baik maka lakukanlah & jgn hiraukan perkataan orang lain yg pd akhirnya akan melemahkan smangat qt. Meski begitu kritik dan saran orang lain perlu menjadi pertimbangan kita, tetapi tdk mnjadi pengendali tindakan kita

  55. Anonymous mengatakan:

    sesungguhnya orang yang hanya mengukuti hawa nafsu dan akal fikirannya akan beribadah tanpa didasai dengan al qur’an dan hadits sesuai pemahaman sahabat… banyak ibadah tapi ibadahnya ga pernah di lakukan nabi n para sahabat….hm hm udah merasa lebih mulia apa ya!!!!

  56. yuswono mengatakan:

    maaf kpd abisyakir, anda itu sebenarnya maksudnya baik ingin memurnikan tauhid dan beramar ma’ruf nahi mungkar tapi sayang wawasan anda sangat sempit atau mencoba menyempitkan diri? ilmu Allah itu sangat luas tidak habis ditulis dgn tinta 7 samudera tapi anda mempersempitnya seolah menjadi 30 juz saja dan beberapa ribu hadits.dan pertanyaannya apakah anda seorang muhadits? atau hafizh qur’an? belajar qur’an dan hadits kalau lewat jalur literratur ya seperti itu, memahaminya secara textual(mata) saja.tanyakan hati anda berapa ribu hadits yg anda hafal atau tahu? kok sedikit-sedikit murah untuk mengatakan tidak ada…bertentangan dengan Al-Quran tidak ada…padahal banyak riwayat tentang Rasulullah SAW. mengajari bagaimana cara bertawasul. Tidak usah panjang lebar, untuk bisa disebut muhadits para ulama sepakat minimal harus mampu menghafal 100 ribu hadits beserta sanadnya.setingkat lebih rendah untuk bisa disebut musnits minimal harus menghafal 30 ribu hadits beserta sanadnya. Imam Al Ghozali sendiri mampu menghafal 600 ribu hadits beserta sanadnya masih makmum kepada Imam hadits (yg 6)yang rata-rata menguasai 700 ribu hafalan hadits beserta sanadnya serta maksudnya. posisi anda dimana?
    kalau melihat dengan mata mungkin bintang dilangit kelihatan kecil tapi kalau melihatnya dgn akal/pikiran(pengetahuan) maka bintang itu jauh lebih besar dari pada yg kita sangka lebih besar dari bulan, bumi dan matahari…tapi coba kalau melihatnya dengan hati, maka tidak ada yang besar kecuali Allah SWT. posisi anda melihatnya pakai apa? dalam tradisi sufi sendiri langkah untuk memahami suatu hadits harus tidak terlepas dari tujuh langkah kevalidannya lebih terjamin. Jadi tidak hanya 1 atau 2 langkah yg seperti anda lakukan membaca di toko buku atau dengar dari ustadnya atau temannya tok. coba tunjukan padaku bunyi ayat Al Quran atau hadits yang melarang orang untuk berziarah ke makam orang sholeh/waliy atau nabi? jangan mengatakan orang lain bid’ah tapi pd hakikatnya anda sendiri yg bid’ah, jgn pernah mengatakan orang lain syirik tp anda sendiri berlaku syirik!
    Pernahkah anda mendengar hadits yg mengatakan tidak dianggap bersyukur seseorang apaabila tidak berterima kasih kepada yang memberi sebab turunnya anugerah? salahkah kita berterima kasih dan menyebut nama-nama guru kita yang telah mengajari kami dan memahami sehingga mengenal Allah?

    merasakah anda bahwa belajar dan membaca Al Quran dan Hadits itu tidak pernah Rasulullah contohkan, tp kenapa anda melakukan? bagaimana mau mencontohkan, Quran dan Haditsnya belum ditulis?

    bagaimana mungkin Rasulullah SAW. mengajarkan kpd umatnya untuk berbicara kepada batu nisan yang tidak bisa mendengar, padahal doa menyalami dan mendoakan ketika lewat kuburan sangat banyak???

    rukun sholat sendiri kita dituntut untuk menyalami para orang sholeh yang telah meninggal(dalam tahiyat).Baahkan dalam rukum Islam sendiri kita dituntut untuk berziarah ke makam nabi Ibrahim dan Rasulullah…apakah anda melakukan? kenapa? padahal Rasulullah tidak mencontohkan. Bagaimana mau mencontohkan orang beliaunya masih hidup. Kalau tidak melakukan kenapa anda setuju berhaji?

    Kenapa???

  57. abisyakir mengatakan:

    @ Yuswono…

    Matur nuwun Pak, sudah berkunjung ke blog ini. Semoga rihlah-nya bermanfaat. Amin.

    Maaf kpd abisyakir, anda itu sebenarnya maksudnya baik ingin memurnikan tauhid dan beramar ma’ruf nahi mungkar, tapi sayang wawasan anda sangat sempit atau mencoba menyempitkan diri? ilmu Allah itu sangat luas tidak habis ditulis dgn tinta 7 samudera tapi anda mempersempitnya seolah menjadi 30 juz saja dan beberapa ribu hadits.dan pertanyaannya apakah anda seorang muhadits? atau hafizh qur’an?

    Komentar: Terimakasih atas koreksinya. Iya benar Ilmu Allah itu luas, sangat luas. Sebutir -maaf- kotoran di sudut mata kita, kalau dikaji secara saintific, bisa menghasilkan laporan riset yang panjang dan tebal. Padahal itu, baru kotoran di sudut mata. Itu bukti bahwa Ilmu Allah sangat luas.

    Tapi bukan karena itu, lalu kita berpaham bahwa ilmu dalam Al Qur’an yang 30 juz dan hadits-hadits shahih yang jumlahnya sekitar 5000-6000 (hadits Bukhari Muslim, ditambah hadits dari imam-imam lain) tidak mencukupi kebutuhan manusia. Tidak benar cara berpikir demikian.

    Begini Saudaraku, luasnya Ilmu Allah, itu sebagai bukti Kemahakuasaan, Kemahaagungan, Kemahabesan Dia atas semua makhluk-Nya; maka dengan itu, sudah wajar kalau manusia tunduk, patuh, ibadah kepada-Nya. Ini satu sisi.

    Di sisi lain, ilmu Syariat Islam (yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah) itu sudah sempurna, sudah lengkap. Tidak boleh lagi ada inovasi, karangan, atau kreasi yang bertentangan dengan manhaj Al Qur’an dan As Sunnah itu sendiri. Kalau inovasi keagamaan dibuka luas, nanti agama kita akan rusak, karena banyak keyakinan2 baru bermunculan.

    Jadi, luasnya Ilmu Allah bukan dalil bagi manusia untuk mencipta Syariat baru. Oh ya, saya bukan Hafizh Qur’an, bukan pula ahli hadits. Hafalan hadits saya tidak banyak. Begitu juga hafalan Al Qur’an saya. Saya ini hanya thalabul ilmi, penuntut ilmu.

    Belajar qur’an dan hadits kalau lewat jalur literratur ya seperti itu, memahaminya secara textual(mata) saja.tanyakan hati anda berapa ribu hadits yg anda hafal atau tahu? kok sedikit-sedikit murah untuk mengatakan tidak ada…bertentangan dengan Al-Quran tidak ada…padahal banyak riwayat tentang Rasulullah SAW. mengajari bagaimana cara bertawasul.

    Komentar: Maafkan, mohon dimaafkan. Mohon mintakan ampunan Allah untuk ku ini. Masalah tawasul sudah kita bahas, bahkan saya pernah berdiskusi panjang lebar dengan seorang ustadz alim yang tinggal di Makkah. Intinya, dalam keyakinan saya, tawassul itu ada yang Syar’i, ada yang tidak. Saya meyakini, meminta pertolongan arwah yang sudah wafat, seshalih apapaun dirinya, itu tidak boleh. Nanti bisa terjerumus dalam syirik, yaitu menjadikan arwah itu sekutu selain Allah.

    Ini keyakinan kami, ini kami tulis dalam blog ini (blog kami). Itu pun ditulis karena ada yang bertanya. Meskipun, saya bukan Hufazh, tetapi saya menghormati orang yang berpendapat berbeda, selagi didsari dalil yang kuat. Itulah gunanya ilmu, memunculkan sikap tasamuh. Mohon Anda jangan marah2 soal pendapat ini.

    Tidak usah panjang lebar, untuk bisa disebut muhadits para ulama sepakat minimal harus mampu menghafal 100 ribu hadits beserta sanadnya.setingkat lebih rendah untuk bisa disebut musnits minimal harus menghafal 30 ribu hadits beserta sanadnya. Imam Al Ghozali sendiri mampu menghafal 600 ribu hadits beserta sanadnya masih makmum kepada Imam hadits (yg 6)yang rata-rata menguasai 700 ribu hafalan hadits beserta sanadnya serta maksudnya. posisi anda dimana?

    Komentar: Katanya, Imam Bukhari rahimahullah hafal 100 ribu hadits. Lalu beliau sarikan dalam Kitab Shahih Bukhari, tinggal sekitar 4000 lebih hadits saja yang shahih, tanpa diulang-ulang. Syarat menjadi seorang Al Hafizh memang seperti itu, hafal 100 ribu hadits. Contoh ulama Al Hafizh, seperti Khatib Al Baghdadi, Al Iraqi, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar Al Asqalani, dll.

    Imam Ghazali tidak dikenal sebagai seorang Al Hafizh, penghimpun hadits2 sampai 100 ribu hadits. Kalau demikian, beliau pasti akan dikenal sebagai Al Hafizh. Bahkan Ihya Ulumuddin karya beliau banyak mendapat kritik dari para ahli hadits. Al Iraqi menulis takhrij atas hadits2 dalam Ihya Ulumuddin tersebut.

    Lalu posisi saya dimana? Ya tadi itu, saya seorang penuntut ilmu. Tak lebih, tak kurang. Itu pun masih banyak diselimuti kekurangan, alfa, dan kesalahan.

    Wah, jangankan dibandingkan para imam hadits, dibandingkan Anda sendiri, wahai Pak @ Yuswono, mungkin saya kalah jauh. Tapi masalahnya, saya tidak marah2 kalau ada orang yang memiliki pendapat berbeda, yang dia tulis di blognya sendiri. Sementara orang lain, malah “marah-marah di rumah orang”. Ini bukan adab seorang penuntut ilmu. Iya kan…

    Kalau melihat dengan mata mungkin bintang dilangit kelihatan kecil tapi kalau melihatnya dgn akal/pikiran(pengetahuan) maka bintang itu jauh lebih besar dari pada yg kita sangka lebih besar dari bulan, bumi dan matahari…tapi coba kalau melihatnya dengan hati, maka tidak ada yang besar kecuali Allah SWT. posisi anda melihatnya pakai apa?

    Komentar: Bisa jadi begitu, bisa jadi juga tidak. Di antara bintang ada yang lebih besar dari matahari, ada yang lebih kecil. Tetapi itu sebatas menurut sains modern ya, yang sifatnya zhanni, duga-duga. Hanya Allah yang Tahu besarnya benda2 itu secara hakiki. Walhamdulillah.

    Iya sepakat, tidak ada yang lebih besar selain Allah. Apa dalilnya? Mudah saja, itu lafadz dzikir “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar dari sekalian makhluk-Nya). Melihatnya dengan apa? Ya dengan ilmu yang dipahami dengan akal; lalu dengan hati yang meyakini; lalu dengan amal jawarih dalam tindakan.

    Dalam tradisi sufi sendiri langkah untuk memahami suatu hadits harus tidak terlepas dari tujuh langkah kevalidannya lebih terjamin. Jadi tidak hanya 1 atau 2 langkah yg seperti anda lakukan membaca di toko buku atau dengar dari ustadnya atau temannya tok. coba tunjukan padaku bunyi ayat Al Quran atau hadits yang melarang orang untuk berziarah ke makam orang sholeh/waliy atau nabi?

    Komentar: Ada sebagian ulama yang menasehatkan, “Belajarlah ilmu hadits dulu, baru ilmu lainnya. Sebab kalau belajar ilmu tasawuf/kalam, atau apa saja yang lain; lalu baru belajar ilmu hadits; nanti dia akan mencari-cari hadits yang mendukung keyakinannya.” Ini sungguh nasehat yang bijak sekali.

    Demi Allah, saya tidak pernah menyebutkan larangan seorang Muslim ziarah ke makam kaum Muslimin, siapapun dirinya. Ziarah kubur itu boleh, sesuai Sunnah Nabi. Tujuannya untuk mengingati maut, memberi salam, atau mendoakan ahli kubur dengan kebaikan. Nabi Saw pernah malam-malam datang ke Baqi’, lalu beliau menyampaikan salam kepada ahli kubur yang ada disana. Walhamdulillah.

    Jangan mengatakan orang lain bid’ah tapi pd hakikatnya anda sendiri yg bid’ah, jgn pernah mengatakan orang lain syirik tp anda sendiri berlaku syirik!
    Pernahkah anda mendengar hadits yg mengatakan tidak dianggap bersyukur seseorang apaabila tidak berterima kasih kepada yang memberi sebab turunnya anugerah? salahkah kita berterima kasih dan menyebut nama-nama guru kita yang telah mengajari kami dan memahami sehingga mengenal Allah?

    Komentar: Kalau saya melakukan bid’ah atau syirik, mohon diberi tahu. Insya Allah akan segera diperbaiki, dengan nikmat Allah Ta’ala.

    Cara bersyukur kepada guru yang sudah wafat, ialah memohon ampunan baginya, memuji-muji kebaikannya, menutupi aib-aibnya; dan yang paling utama, meneruskan ilmu-ilmunya yang bermanfaat dan lurus sesuai Syariat Islam. Itu tanda terimakasih yang murni, bukan dengan memuja-muja kuburnya.

    Merasakah anda bahwa belajar dan membaca Al Quran dan Hadits itu tidak pernah Rasulullah contohkan, tp kenapa anda melakukan? bagaimana mau mencontohkan, Quran dan Haditsnya belum ditulis? bagaimana mungkin Rasulullah SAW. mengajarkan kpd umatnya untuk berbicara kepada batu nisan yang tidak bisa mendengar, padahal doa menyalami dan mendoakan ketika lewat kuburan sangat banyak???

    Komentar: Lho, Anda salah paham. Belajar Al Qur’an dan As Sunnah itu sudah ada sejak jaman Nabi Saw. Malah sejak beliau dakwah di Makkah. Itu sudah ada. Hanya ketika itu, Al Qur’an ditulis dalam lembaran kulit, kayu, tulang, dll. Jadi beluam dibukukan seperti sekarang. Hanya medianya yang belum ada, tetapi substansinya sudah dipelajari dan dihafalkan. Jangan salah memahami, tolonglah!

    Rukun sholat sendiri kita dituntut untuk menyalami para orang sholeh yang telah meninggal(dalam tahiyat).Baahkan dalam rukum Islam sendiri kita dituntut untuk berziarah ke makam nabi Ibrahim dan Rasulullah…apakah anda melakukan? kenapa? padahal Rasulullah tidak mencontohkan. Bagaimana mau mencontohkan orang beliaunya masih hidup. Kalau tidak melakukan kenapa anda setuju berhaji? Kenapa???

    Komentar: Sepakat, setuju. Iya kita harus mendoakan sesama Muslim, baik yang hidup maupun sudah wafat. Tapi tidak boleh memuja-muja kubur, menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya, dan semisal itu. Jazakumullah khairan katsira.

    AMW.

  58. zahra mengatakan:

    syukron ala kitabatukum ya ustad…ana uwafiq bi kum..

  59. yuswono mengatakan:

    terima kasih atas tanggapannya,
    semoga anda semakin bijak dan memandang sesuatu dari banyak sudut yg lain, sehingga tidak gampang menyalahkan atau menghakimi dengan “pengetahuan anda”.lebih santun kiranya jika anda mengatakan paham kita berbeda.maafkan juga seandainya saya dianggap mengganggu ketenangan di blog anda karena dianggap marah2, walaupun itu cuma dzon(sangkaan) anda, yg jika itu salah…takutkah itu dianggap sebuah tuduhan atau fitnah? (hal kecil yg kadang jarang disadari).ingatkah anda entah telah konfirmasi atau belum, anda mengatakan, dunia sufi itu adalah membuat kebohongan kepada murid2nya dan menjajah, dan anehnya muridnya menyenangi untuk dijajah…(anda melihatnya dari luar tetapi terlalu lancang untuk menyimpulkan).dunia sufi itu setahu saya akrab dengan ilham, lintasan hati(hadrah) yang datang dari tuhannya.ini mungkin yang selamanya tidak akan pernah bertemu paham, menurut saya yg paling baik saling menghormati kepahaman masing2.terus terang, dulu saya juga berpaham seperti anda.
    Adakalanya Rasulullah SAW. bersabda mengeluarkan hadits itu konsumsinya umum adakalanya konsumsi khusus.Bukankah beliau paling bijak dalam memilih kata dan timing kepada siapa beliau berkata? hadits qudsi itu hakikatnya firman tuhan, tapi redaksinya menurut RasulullahSAW. bisa lewat malaikat Jibril, Ilham, Mimpi atau yang lain, dan itu tidak termasuk ayat Al quran,dan bukan mukjizat karena memang begitu kata beliau.pernah anda mendengar hadits Qudsi yg mengatakan, sesungguhnya kalian semua tersesat kecuali Allah telah memberi petunjuk…kalian semua lapar, kecuali Allah yang memberi makan…kalian semua telanjang kecuali Allah yangmemberi pakaian…dst…(bagaimana anda mengurainya?)
    Ada lagi yang berbunyi, LangkitKu tak mampu menampung ZatKu, begitu juga BumiKu, tapi yang mampu menampung adalah hati hamba-hambaKu yang tenang, yang paling jernih,dst…
    ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berfirman Aku mencintai si fulan, dan seluruh malaikat mengikuti dan mengumumkannya…(itulah waliyullah/kekasih Allah).pada titik ini memang sulit untuk dijelaskan, teori hanyalah teori.sekalipun manusia ilmunya seluas samudera, setinggi langit.sedalam-dalamnya tahu hanyalah tahu, tapi beda dengan yang merasakan…misal: bisakah anda mendefinikan manisnya gula?
    yang saya lakukan sebenarnya adalah sebuah refleksi ketika antum menjawab/menanggapi berbagai perbedaan pendapat tulisan sebelum saya.yang kedua, biasanya yg saya tahu seorang tholabul ilmi itu akan menerima dan bersabar atas segala sesuatu yg datang kepadanya, bukan hanya memilih yg setuju dan memuji anda saja.mestinya seorang tholabul ilmi menterimakasihi sebuah kritik, masukan bahkan makian sekalipun.karena ada pepatah arab yg mengatakan, karena musuhku aku mengerti cela dan kekuranganku sehingga aku berkesempatan memperbaikinya. maka jangan jauhkan aku dengan musuhku.karena para pencari kebenaran banyak berpendapat, aku berjalan diantara cacian dan pujian,dipuji tidaklah bangga dan dicaci tidaklah sakit.

  60. yuswono mengatakan:

    Komentar: Sepakat, setuju. Iya kita harus mendoakan sesama Muslim, baik yang hidup maupun sudah wafat. Tapi tidak boleh memuja-muja kubur, menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya, dan semisal itu. Jazakumullah khairan katsira.

    apa batasan menurut anda dgn kata , memuja, menyembah,meminta pertolongan?

  61. abisyakir mengatakan:

    @ Yuswono…

    Terima kasih atas tanggapannya. semoga anda semakin bijak dan memandang sesuatu dari banyak sudut yg lain, sehingga tidak gampang menyalahkan atau menghakimi dengan “pengetahuan anda”.lebih santun kiranya jika anda mengatakan paham kita berbeda.maafkan juga seandainya saya dianggap mengganggu ketenangan di blog anda karena dianggap marah2, walaupun itu cuma dzon(sangkaan) anda, yg jika itu salah…takutkah itu dianggap sebuah tuduhan atau fitnah? (hal kecil yg kadang jarang disadari).ingatkah anda entah telah konfirmasi atau belum, anda mengatakan, dunia sufi itu adalah membuat kebohongan kepada murid2nya dan menjajah, dan anehnya muridnya menyenangi untuk dijajah…(anda melihatnya dari luar tetapi terlalu lancang untuk menyimpulkan).dunia sufi itu setahu saya akrab dengan ilham, lintasan hati(hadrah) yang datang dari tuhannya.ini mungkin yang selamanya tidak akan pernah bertemu paham, menurut saya yg paling baik saling menghormati kepahaman masing2.terus terang, dulu saya juga berpaham seperti anda.

    Komentar:

    Sama-sama terimakasih, semoga saya, Anda, dan kita semua selalu semakin bijak, fi Sabilil Islam. Allahumma amin.

    Soal saya menganggap Anda “marah-marah”, ya itu memang prasangka saya, atau semacam penilaian saya terhadap kata-kata yang Anda tuliskan. Hal seperti ini sering terjadi. Misalnya, kita bicara dengan kawan dari Sumatera Utara yang suaranya cenderung keras. Di mata mereka, bicara keras biasa-biasa saja; di mata orang lain, itu sudah dianggap marah2. Jadi ini memang soal PENILAIAN saja, sesuai standar masing2. Jadi, tidak usah dibawa ke arah yang berat, seperti TUDUHAN dan FITNAH. Itu terlalu jauh. Ya, jujur untuk standar saya, komentar Anda itu sudah bernilai emosi, dan ini hak saya untuk menilai, sesuai standar etika saya selama ini. Mohon dimaklumi.

    Pada kalimat, “dunia sufi itu adalah membuat kebohongan kepada murid2nya dan menjajah, dan anehnya muridnya menyenangi untuk dijajah“. Tentu maksudnya bukan dunia Shufi secara umum, tetapi pada sebagian mereka. Hal ini secara ada faktanya, juga karena ada prinsip pengajaran dalam dunia Shufi itu, yang bunyinya kurang lebih sebagai berikut: “Sikap seorang murid di hadapan gurunya ialah seperti mayat yang sedang dimandikan.” Prinsip ini sama dengan telah merampas hak-hak seorang manusia yang semuanya dilahirkan dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka. Seorang murid Shufi harus tunduk patuh sepenuhnya ke gurunya, kalau perlu menatap wajah guru pun tidak diperbolehkan. Praktik “penjajahan” seperti ini sangat banyak. Maka Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebut ada segolongan Shufi kelompok “pencari rizki”. Maksudnya, dengan menetapkan aturan kepatuhan 100 % itu seorang guru Shufi bisa mengambil harta-benda murid-muridnya, dengan mudah. Ini kelompok Shufi “pengum rizki”.

    Adakalanya Rasulullah SAW. bersabda mengeluarkan hadits itu konsumsinya umum adakalanya konsumsi khusus.Bukankah beliau paling bijak dalam memilih kata dan timing kepada siapa beliau berkata? hadits qudsi itu hakikatnya firman tuhan, tapi redaksinya menurut RasulullahSAW. bisa lewat malaikat Jibril, Ilham, Mimpi atau yang lain, dan itu tidak termasuk ayat Al quran,dan bukan mukjizat karena memang begitu kata beliau.pernah anda mendengar hadits Qudsi yg mengatakan, sesungguhnya kalian semua tersesat kecuali Allah telah memberi petunjuk…kalian semua lapar, kecuali Allah yang memberi makan…kalian semua telanjang kecuali Allah yangmemberi pakaian…dst…(bagaimana anda mengurainya?)

    Komentar: Biasanya hadits/ayat yang berlaku secara khusus itu disebutkan redaksi kekhususannya. Misalnya saat Rasulullah Saw menyebutkan keutamaan Shahabat2 tertentu, seperti keutamaan Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra, Ali Ra, Ibnu Mas’ud Ra, Ubay bin Kaab Ra, Abu Ubaidah Ra, Abu Hurairah Ra, dll. Itu disebutkan redaksi kekhususannya. Maka itu, dalam hadits tentang keutamaan kalimat “laa ilaha illa Allah” ada seorang Shahabat yang bertanya, “Apakah keutamaan ini berlaku hanya untukku ya Rasulullah?” Lalu beliau mengatakan, “Tidak, untuk semuanya.” Kurang lebih seperti itu. Wallahu A’lam bisshawab. Jadi, hadits/ayat yang berlaku khusus, selalu diikuti PENJELASAN TENTANG KEKHUSUSAN-nya. Jika ayat/hadits tidak ada tanda-tanda kekhususan maka berlaku prinsip dalam Tafsir: “Al ibrah bi umumi lafzhi, laa bi khususi sabab” (pelajaran itu atas dasar lafazh umumnya, bukan atas dasar sebab khususnya).

    Kalau di dunia Shufi, prinsip2 Syariat tersebut tidak akan berlaku, karena mereka membiasakan diri dengan ilmu2 yang sulit diukur akurasi, ketepatan, dan amalannya. Ya, seperti kata Anda itu, “Dunia sufi itu setahu saya akrab dengan ilham, lintasan hati (hadrah) yang datang dari tuhannya.” Mengukur hal2 demikian tentu sangat sulit sekali.

    Kalau tentang hadits Qudsi tersebut, ia memang ada, tetapi saya tidak ingat lafazhnya dengan baik. Saya beberapa kali membaca hadits itu, memang agak panjang teks-nya. Kalau tidak salah itu riwayat Imam Bukhari. Iya, hadits itu benar dan valid, insya Allah.

    Maksud dari hadits itu, secara global sebagai berikut:

    Pertama, Allah Ta’ala ingin menunjukkan kepada manusia bahwa Diri-Nya Maha Kuat, Maha Memenuhi hajat manusia, Maha Sempurna, Maha Pemurah, dan sebagainya. Di sisi lain, Dia ingin menunjukkan bahwa manusia itu lemah belaka, miskin, tak memiliki daya dan kekuatan berarti. Kedua, manusia diminta untuk berdoa kepada Allah, agar Dia memenuhi hajat-hajat manusia itu, baik dari sisi hidayah, makanan, pakaian, dll. Ketiga, amalan-amalan manusia bukan ditujukan untuk Allah, sebab Dia sudah Maha Kaya, tetapi ditujukan untuk kebaikan manusia itu sendiri.

    Ya, penafsiran umumnya tidak akan jauh dari itu. Entah lagi kalau ada yang ingin memalingkan ke arah lain. Wallahu A’lam bisshawaab.

    Ada lagi yang berbunyi, LangkitKu tak mampu menampung ZatKu, begitu juga BumiKu, tapi yang mampu menampung adalah hati hamba-hambaKu yang tenang, yang paling jernih,dst…

    Komentar: Kalau hadits yang ini saya kurang tahu. Dan secara sekilas hadits ini sepertinya berbicara tentang Shifat Allah Ta’ala. Harus hati-hati kalau memahami, harus merujuk pemahaman ulama ulama yang kredibel dan mapan ilmunya. Sebab banyak orang tersesat karena salah memahami hadits2 seperti itu.

    Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berfirman Aku mencintai si fulan, dan seluruh malaikat mengikuti dan mengumumkannya…(itulah waliyullah/kekasih Allah).pada titik ini memang sulit untuk dijelaskan, teori hanyalah teori.sekalipun manusia ilmunya seluas samudera, setinggi langit.sedalam-dalamnya tahu hanyalah tahu, tapi beda dengan yang merasakan…misal: bisakah anda mendefinikan manisnya gula?

    Komentar: Ya, hadits ini pernah saya baca beberapa kali. Tentang cinta Allah kepada hamba-Nya, atau benci-Nya ke hamba-Nya. Kalau Dia mencintai seorang hamba, maka makhluk di langit dan bumi akan diserukan agar mencintai hamba itu; sebaliknya, kalau Dia benci, maka makhluk di langit dan bumi akan dihasung untuk membenci hamba itu. Hadits ini mendorong kita untuk mencari cinta Allah dan menjauhi murka-Nya. Karena kalau dicintai-Nya, akan dicintai makhluk di alam semesta; tetapi kalau dimurkai-Nya, akan dimurkai makhluk di alam semesta.

    Adapun soal manisnya gula, pedasnya cabe, pahitnya buah pare, dll. Secara kualitatif, ya tergantung lidah masing-masing orang. Ada yang peka dengan manis, ada yang tidak; begitu pun dengan rasa-rasa lain. Tetapi kalau tidak salah, persoalan rasa (taste) itu di dunia sains modern ada skala-skalanya. Saya pernah membaca skala rasa pedas dari cabe. Tetapi lebih jauhnya, saya kurang tahu. Silakan cari informasinya di internet dan lainnya. Mohon dimaafkan.

    yang saya lakukan sebenarnya adalah sebuah refleksi ketika antum menjawab/menanggapi berbagai perbedaan pendapat tulisan sebelum saya.yang kedua, biasanya yg saya tahu seorang tholabul ilmi itu akan menerima dan bersabar atas segala sesuatu yg datang kepadanya, bukan hanya memilih yg setuju dan memuji anda saja.mestinya seorang tholabul ilmi menterimakasihi sebuah kritik, masukan bahkan makian sekalipun.karena ada pepatah arab yg mengatakan, karena musuhku aku mengerti cela dan kekuranganku sehingga aku berkesempatan memperbaikinya. maka jangan jauhkan aku dengan musuhku.karena para pencari kebenaran banyak berpendapat, aku berjalan diantara cacian dan pujian,dipuji tidaklah bangga dan dicaci tidaklah sakit.

    Komentar: Alhamdulillah, rata-rata komen yang masuk akan ditampilkan, meskipun orang yang sangat berbeda. Kalau ada yang dihapus biasanya karena memiliki ciri: Mengandung kata-kata makian tidak pantas, mengandung link negatif (merugikan), komentar sama tapi diulang-ulang, dan semisal itu. Alhamdulillah, saya menerima kok kritikan, masukan, bahkan serangan; selagi masih pantas. Tetapi kalau sudah kelewatan, dari sisi etika, ya dihapus.

    Satu hal yang kurang saya sukai dari komentar Anda ialah, Anda belum mengenal blog ini secara baik, tetapi langsung OFENSIF. Itu yang tidak saya sukai. Ada rasa jengkel di hati semisal ini, “Orang ini belum tahu apa-apa, langsung menyerang sesuka hati.” Tetapi di sisi lain, juga dimaklumi; bisa jadi itulah sindrom orang-orang yang baru tahu. Andaikan komentar Anda pendek dan tidak ada substansinya, mungkin tidak akan ditanggapi. Tapi karena disana ada substansinya, maka ada dialog seperti ini.

    ‘Ala kulli haal, mohon maaf atas segala salah dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  62. yuswono mengatakan:

    terima kasih atas kesediaannya menanggapi…

    sebelumnya saya ingin berucap, mohon maaf jika tulisan atau ucapan saya menyinggung dan menjadikan kurang senang di kalangan tertentu, baik sadar atau tidak…maaf kalau selama ini saya memakai standar berpikir seperti saya, walaupun masih batasan teori tapi setidaknya itu adalah cita-cita atau target yg ingin saya capai.saya ingin dan bertekad memaafkan manusia siapapun ia (tanpa syarat)jauh sebelum terjadi kesalahan, sedang maupun yang akan terjadi…karena saya tahu persis bukanlah seorang pemaaf(bukan berarti tidak boleh marah/tersinggung/membalas dan menghukum) itu kelemahan saya.
    saya hanya ingin, mulut, hati dan tindakan saya menyatu dalam satu kesatuan yang utuh.

    “Sikap seorang murid di hadapan gurunya ialah seperti mayat yang sedang dimandikan.” Prinsip ini sama dengan telah merampas hak-hak seorang manusia yang semuanya dilahirkan dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka. Seorang murid Shufi harus tunduk patuh sepenuhnya ke gurunya, kalau perlu menatap wajah guru pun tidak diperbolehkan. Praktik “penjajahan” seperti ini sangat banyak. Maka Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebut ada segolongan Shufi kelompok “pencari rizki”. Maksudnya, dengan menetapkan aturan kepatuhan 100 % itu seorang guru Shufi bisa mengambil harta-benda murid-muridnya, dengan mudah. Ini kelompok Shufi “pengum rizki”.

    itulah adab-adabnya, disitulah letak paham yang berbeda, mestinya anda lebih bertoleran bukan malah menghukumi dgn paham pengetahuan anda.
    terus terang itu memang benar adanya, tapi tolong jangan memandang dgn pandangan yg sempit.itu berlaku untuk seorang guru yang Mursyid (muthabaroq) yg silsilahnya ajarannya sampai kepada Rasulullah SAW.

    “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang mursyidpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”(Q.S. kahfi 17)

    Bukankah “ulama” warisatul anbiya? ulama seperti apa? kami memahami ulama yang diberi wewenang/ otoritas melanjutkan tradisi dan tugas Rasulullah SAW. misalnya, sepeninggal beliau dihadapan murid-muridnya kepemimpinan dilanjutkan oleh Ali KW.(keponakannya, muridnya, menantunya) dan dihadapan murid2nya juga diumumkan yang akan meneruskan adalah Husein R.A(anaknya) begitu juga Beliau memilih yang meneruskan Zaenal Abidin RA. (anaknya) kemudian Muhammad Al baqir RA. kemudian Ja’far Shodiq RA. kemudian Musa Al khadim RA. kemudian Abil Hasan Ali bin Musa Aridho RA. kemudian Ma’ruf Alkarkhi RA. kemudian Sarisaqothi RA. kemudian Abil Qosim Junaidi Al bahgdadi RA. kemudian …beberapa penerusnya…kemudian Abdul Qodir Al jiilani RA. kemudian beberapa penerusnya…kemudian KH.Abdul ghofur…kemudian KH. Abdullah sawaaniy kemudian KH. Taufiqurrahman Abil danwa, kepada beliaulah saya takdim menjadi muridnya…
    Ada beberapa dari awal kepenerusannya diklaim sebagai Imam Syiah, ada yang mengklaim sebagai keturunannya (secara gent) Habaib Dll….apapun alasanya dan apapun klaimnya pokoknya kami memberikan kepercaan penuh kepada guru-guru mursyid yang ditunjuk.
    Bahkan dalam kitab-kitab sufi sering dilukiskan keadaan Rasulullah SAW. dalam bersikap misalnya pas posisi beliau sedang senyum, sedang menunjuk hidung, sedang menangis, atau mengepalkan tangan dsb…bahkan sikap sahabat khilifaturrosidin ketika sedang mendengarkan pengajian Rasulullah SAW. para sahabat sangat hormat dan sami’na wa atho’na diam seperti patung, andaikan burung hinggap di kepalanya niscaya tidak akan terbang.dan salahkah jika seorang murid mencoba mengikuti perilakunya? karena guru Mursyid juga mengikuti Rasulullah SAW.
    karena Rasulullah SAW. adalah ayah ruhani yang akan membimbing dan mengenalkan kita kepada Allah SWT.
    Hal itu kalau mau diteliti dgn seksama sebenarnya tidak melanggar hadits dan ayat Alquran.dalam firman-Nya sendiri disebutkan, tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.Kalau kita berpandangan sempit, masak sih hanya beribadah saja tidak boleh yang lain2?tapi maknanya kan tidak seperti itu, anda lebih paham tafsirnya…(apakah berarti Allah menjajah manusia?) Allah menghendaki kebebasan yang bertanggung jawab dan berdisiplin tinggi…
    Bukankah ada ayat, ikutilah Allah dan Rasulnya…berarti mengikuti Rasulnya hakikatnya mengikuti Allah, begitu juga mengikuti penerusnya hakikatnya mengikuti Rasulnya…begitulah ajaran sufi saling mempertautkan hati dan ajarannya.
    Jika diibaratkan syairat itu sebuah tangga, dan jika tangganya itu benar maka setiap naik anak tangga mempunyai pandangan yg lebih luas, begitu juga semakin tinggi ia memanjat akan semakin jauh daya lihatnya…dan ketika apa yg dilihatnya disampaikan kpd yg belum melihat, kemungkinannya ada dua, percaya dan tidak percaya. terserah…mendingnya anda itu masih memakai barometer Alquran dan Asunah,(tapi yg membedakan hanyalah interpretasi/perspektif atau sudut pandang) Demi Allah bukan berarti ini meremehkan anda atau menganggap saya lebih benar dan lebih tahu,alim, sholeh atau lain-lainnya…sama sekali tidak, dan ini pun semoga bukan basa-basi atau rendah hati, sungguh kami belum bisa.
    tapi bukankah selamanya kita tidak bisa melogikan mu’jizat/karomah? mestinya jgn pula mengkaromahkan logika dong!(fair)

  63. benks mengatakan:

    Asw Wr Wb…..hmmm ko ni pada berdebat ya, padahal ROSULALLAH SAW tidak menyukai perdebatan, apalgi sesama muslim..maav saya bukan ahli kitab seperti kalian mengeluarkan dalil ini itu tapi saya sangat meyakini bahwa ALLAH SWT MAHA MENGETAHUI, jadi koment saya :
    1. segala sesuatu nya berasal dari niat !!!!!!!!!!!!
    2. kerjakanlah yang kalian yakini masing2 dari pada saling menghujat
    3. kita juga tidak boleh menyebutkan ini itu musyrik, karna yang berhak hanya ALLAH SWT.
    4. kiriman fatihah untuk orng meninggal, daripada diperdebatkan…coba silahkan yang mau meninggal dunia duluan !!!!!! nanti gimana rasa nya apabila ada yang kirimin kita doa n fatihah,,,,mudah2n berasa dikuburnya.
    ingat lho yang mati itu jasad kita tapi ruh kita masih hidup.

    jadi maksut saya klo mau share apa2 jangan sampai mengundang perdebatan, bahkan dibeberapa blog ada yang bilang pake celana jeans ga boleh, tahlil ga boleh, ziarah ga boleh, kudunya kalian juga ga boleh maen internet, pake handphone, naik mobil ( karna rosulallah SAW hijrah menggunakan unta), makan pake garpu n sendok !!!! kenapa ??? apa itu ada sejak jaman ROSULALLAH dan apa itu dianjurkan??
    justru yang salah itu kaya gini debat sana sini, lupa waktu untuk beribadah, bikin hati dengki terhadap sesama muslim…..

    wassalam……..

  64. Felicia Wahdan mengatakan:

    Assalamualaikum,

    Pak Abisyakir, terimakasih telah membangun blog ini. Semoga ini menjadi ajang memperoleh ridha Allah.

    Kalo mencermati fenomena di sekitar kita, lama2 sy kok melihat bw yg pro-tawasul itu krn ybs memperoleh kepentingan tertentu dari kegiatan itu! Kepentingan itu yg terutama adl ekonomi, dan baru disusul alasan utk memenuhi kekeringan spiritulitas scr instan.

    Ini kesimpulan tdk mengenakkan (mungkin), tp pemeriksaan thd latar belakang penganjur tawasul kayaknya kian membenarkan kesimpulan ini….

    Mengutip yg disinggung Sdr Yuswono yg mengutip sinyalemen Ibn Taimiyah: mmg ada orang2 “pencari rizki” yg memperoleh untung dr praktik tawasul ini. Artinya, mrk tdk peduli kalo dg menyebarkan praktik itu mrk menggerogoti akidah orang lain! Naudzubillah!

    Krn itu, Pak Abisyakir, sy sangat mengapresiasi blog ini. Insya Allah sy akan mampir lagi kelak….

  65. wyaghta mengatakan:

    Tanggapan :
    Dari sekian banyak uraian ini (tidak semua saya baca) namun saya berkesimpulan bahwa tawasul diperbolehkan dengan catatan :
    1. Tetap berpegang teguh pada TAUHID (meng-Esakan Allah) dan jangan sekali-kali ada terbersit didalam hati pengagungan selain Allah.
    2. Kita hanyalah mencintai dan mengagumi kemualiaan para Rasul Allah, Nabi Allah serta para Wali Allah karena betapa hebatnya kedekatan mereka kepada Allah SWT dengan berharap agar kita bisa meneladaninya untuk menjadi dekat kepadaNya dan juga berharap bisa bersama-sama mereka di akhirat kelak yaitu bersama orang-orang yang mulia disisi Allah SWT.
    3. Bahwa kemuliaan-kemualian Rasul, Nabi dan Wali adalah diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan yang tidak kalah hebatnya dan diluar nalar kita sama sekali sebagai bukti kecintaan dan pengabdian mereka kepada Allah SWT. Kenapa ini mereka lakukan ? Karena mereka mengenal dan mencintai Allah melebihi dari apa yang kita kenal dan pahami. Kita lebih banyak berharap dari pada berupaya. Lebih banyak mencari dan mengumpulkan do’a-do’a mustajab dari pada berbuat dan melakukan perintah-perintah Allah (lebih besar pasak dari pada tiang).
    4. Pesan tawasul yang ada diatas seperti dari Syarifah Robiatul Adawiyah, Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani, Imam Abu Hasan Asy-Syadili r.a., Imam Abu Hasan Asy-Syadili r.a. (semoga Allah selalu merahmati mereka semua); menurut saya sangatlah meragukan bahwa ini datang langsung dari mereka, apalagi dipandang dari Ilmu Tauhid sendiri sungguh sangat bertentangan. Takutnya ini informasi yang disampaikan oleh penggoda (baca ‘SETAN’) lewat mimpi, isyarat dsb-nya dari para pengikutnya. Karena kalau kita mau berfikir jernih (berfikir Tauhid) ini akan sangat membahayakan akidah, yang kita tidak melakukan ibadah kecuali hanya dan untuk Allah SWT dan Rasulullah sendiri tidak pernah memerintahkan melakukan ini kecuali hanya menyampaikan Sholawat untuk Nabi sebagaimana juga diperintahkan Allah karena ketinggian derajat beliau.
    5. Tauhid adalah meng-Esakan Allah SWT, tidak menyekutukanNya dengan selain Dia. Pilih do’a yang “redaksinya” bersih dari kalimat syirik, dan bersihkanlah do’a-do’a kita dari kalimat-kalimat yang mengandung unsur kesyirikan. Untuk ini mari kita perdalam ilmu agama kita, mencari dan memahami makna (bahasa arab) suatu do’a, meningkatkan ilmuTauhid kita sebelum kita mengamalkan suatu do’a atau wasilah serta selalu berdo’a kepada Allah untuk diluruskan tauhid kita dan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan syirik, ini jauh lebih penting.
    6. Kalimat do’a “Ya Allah dengan bacaan Al Qur’anku ini, anugerahkan ampunan, rahmat, keselamatan untuk orangtuaku yang sudah meninggal. Lapangkan kubur mereka, jauhkan mereka dari siksa, terima amal-amal baiknya, maafkan kesalahan-kesalahannya, dekatkan mereka ke syurga-Mu dan jauhkan dari neraka-MU.” Mudah-mudahan kalimat do’a ini bersih daripada perilaku syirik. Wallahu ‘a’lamu bisshowaab.
    7. Bahwa setan selalu berupaya menggelincirkan ummat manusia dan telah menjadi sumpahnya hingga hari kiamat. Semakin dekat atau semakin berupaya kita mendekatkan diri kepada Allah maka akan semakin gencar godaannya. Maka berlindungkan kepada Allah dari hancurnya akidah (tersesat) dari jalanNya, “Ihdinasshirootol mustaqiim – shirootolladziina an’amta ‘alaihim – ghoiril maghduubi ‘alaihim waladdoolliin, amin”.

  66. hardjoko mengatakan:

    Diskusinya menarik sekali ada persamaan dan ada juga perbedaanya buat saya tidak ada masalah dan semua tulisan tersebut akan membuat saya untuk meningkatkan ibadah.
    saya ada pertanyaan yang mungkin bisa ditanggapi untuk bahan diskusi. Ada majelis taklim memberikan 3 tingkatan masalah keyakinan yaitu :
    1. ilmi yakin
    2. Ainul yakin dan
    3.Hahkul yakin.
    Jadi untuk diskusi memang perlu harus tahu ilmunya dan ilmu Allah sangat maha luas. Sebagai contoh yang sederhana saja : api kita tahu ilmunya kalau api itu sifatnya panas sesuai dengan sunat Allah dan bisa membakar. Dengan ainul yakin kalau kita pegang ujung puntung rokok yang masih menyala kita akan merasakan panasnya. Tapi kenapa nabi Ibrahim tidak terbakar oleh api apakah apinya dingin atau nabi Ibrahim jadi kebal terhadap panasnya api.Dari sisi agama nabi Ibrahim mendapat mukjijat dari Allah. Tapi orang yang punya ilmu dan jauh dari agama bermain-main api tidak terbakar. Apakah kalau kita sudah sampai kepada hahkul yakin bisa merubah sunat Allah seperti api yang sifatnya panas jadi tidak panas. Mohon pencerahannya.

    salam
    harjoko

  67. Al fakir mengatakan:

    INI ADALAH TANGGAPAN OLEH HABIB MUNZIR AL MUSAWA MENGENAI TAWASUL

    http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=19959&catid=11

    TAWASSUL

    Saudara saudaraku masih banyak yg memohon penjelasan mengenai tawassul, waha saudaraku, Allah swt sudah memerintah kita melakukan tawassul, tawassul adalah mengambil perantara makhluk untuk doa kita pd Allah swt, Allah swt mengenalkan kita pada Iman dan Islam dengan perantara makhluk Nya, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai perantara pertama kita kepada Allah swt, lalu perantara kedua adalah para sahabat, lalu perantara ketiga adalah para tabi’in, demikian berpuluh puluh perantara sampai pada guru kita, yg mengajarkan kita islam, shalat, puasa, zakat dll, barangkali perantara kita adalah ayah ibu kita, namun diatas mereka ada perantara, demikian bersambung hingga Nabi saw, sampailah kepada Allah swt.

    Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).

    Ayat ini jelas menganjurkan kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah, dan Rasul saw adalah sebaik baik perantara, dan beliau saw sendiri bersabda : “Barangsiapa yg mendengar adzan lalu menjawab dg doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yg sempurna ini, dan shalat yg dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yg terpuji sebagaimana yg telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)
    Hadits ini jelas bahwa Rasul saw menunjukkan bahwa beliau saw tak melarang tawassul pd beliau saw, bahkan orang yg mendoakan hak tawassul untuk beliau saw sudah dijanjikan syafaat beliau saw.

    Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yg saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yg panjang menceritakan tiga orang yg terperangkap di goad an masing masing bertawassul pada amal shalihnya.

    Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yg diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dg doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yg melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

    Riwayat diatas menunjukkan bahwa :
    • Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
    • Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
    • Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra?, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.
    • Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yg melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yg melihatnya” (dengan paman nabi saw yg melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yg ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.

    Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yg sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yg sakit pada kami, dg izin tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau saw : “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yg dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dg izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dg izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul pada tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt, seluruh alam ini menyimpan kekuatan Allah dan seluruh alam ini berasal dari cahaya Allah swt.

    Riwayat lain ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

    Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

    Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.

    Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yg hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut : “telah datang kepada utsman bin hanif ra seorang yg mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dg doa : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yg sama dg riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dg ku kesuatu tempat.

    Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada utsman bin affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin hanif ra : “aku tak bicara apa2 pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majmu’ zawaid Juz 2 hal 279).

    Tentunya doa ini dibaca setela wafatnya Rasul saw, dan itu diajarkan oleh Utsman bin hanif dan dikabulkan Allah.
    Ucapan : Wahai Muhammad.. dalam doa tawassul itu banyak dipungkiri oleh sebagian saudara saudara kita, mereka berkata kenapa memanggil orang yg sudah mati?, kita menjawabnya : sungguh kita setiap shalat mengucapkan salam pada Nabi saw yg telah wafat : Assalamu alaika ayyuhannabiyyu… (Salam sejahtera atasmu wahai nabi……), dan nabi saw menjawabnya, sebagaimana sabda beliau saw : “tiadalah seseorang bersalam kepadaku, kecuali Allah mengembalikan ruh ku hingga aku menjawab salamnya” (HR Sunan Imam Baihaqiy Alkubra hadits no.10.050)

    Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.
    Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

    Tak ada pula yg membedakan antara tawassul pada yg hidup dan mati, karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yg tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dg kematian, justru mereka yg membedakan bolehnya tawassul pada yg hidup saja dan mengharamkan pada yg mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yg hidup dan yg mati tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya,
    bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dg Allah??, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah??,

    tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah swt. Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt.

    Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.

    Sebagai contoh dari bertawassul, seorang pengemis datang pada seorang saudagar kaya dan dermawan, kebetulan almarhumah istri saudagar itu adalah tetangganya, lalu saat ia mengemis pada saudagar itu ia berkata “Berilah hajat saya tuan …saya adalah tetangga dekat amarhumah istri tuan…” maka tentunya si saudagar akan memberi lebih pada si pengemis karena ia tetangga mendiang istrinya, Nah… bukankah hal ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat?, Jelas-jelas saudagar itu akan sangat menghormati atau mengabulkan hajat si pengemis, atau memberinya uang lebih, karena ia menyebut nama orang yang ia cintai walau sudah wafat.

    Walaupun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahman Arrahiim, yang maha pemurah dan maha penyantun?, istri saudagar yang telah wafat itu tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang urusan hajat sipengemis pada si saudagar, NAMUN TENTUNYA SI PENGEMIS MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT, entah apa yang membuat pemikiran saudara saudara kita menyempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini.

    Saudara saudaraku, boleh berdoa dengan tanpa perantara, boleh berdoa dg perantara, boleh berdoa dg perantara orang shalih, boleh berdoa dg perantara amal kita yg shalih, boleh berdoa dg perantara nabi saw, boleh pada shalihin, boleh pada benda, misalnya “Wahai Allah Demi kemuliaan Ka’bah”, atau “Wahai Allah Demi kemuliaan Arafat”, dlsb, tak ada larangan mengenai ini dari Allah, tidak pula dari Rasul saw, tidak pula dari sahabat, tidak pula dari Tabi’in, tidak pula dari Imam Imam dan muhadditsin, bahkan sebaliknya Allah menganjurkannya, Rasul saw mengajarkannya, Sahabat mengamalkannya, demikian hingga kini.

    Walillahittaufiq

  68. abisyakir mengatakan:

    @ Al Fakir…

    Thaiyib, syukran jazakumullah atas komentar dan tulisannya. Saya akan coba kaji tulisan yang disampaikan, insya Allah. Sekali lagi, jazakumullah khair.

    AMW.

  69. Anonymous mengatakan:

    Ikut nimbrung ah:

    Assalamu’alaikum Wr Wb.
    Kalau masalah peribadatan ikuti saja seperti yang dilaksanakan oleh Rasululloh SAW (Ibadah-Syari’ah);
    Kalau masalah aqidah lihat saja Akhlaq Rasululloh SAW (Aqidah – Akhlaq);

    Kalo kita ikut ulama/ustadz/kyiai ‘kan hanya manusia biasa seperti kita, yang mesti diikutin itu “ilmu”nya, karena yang menjadi warisan Nabi (Muhammad SAW) itu bukan ulama dalam arti orangnya, tapi “ilmu”nya.

    Contoh analogi :
    “si A punya sawah (ilmu) 100 hektar, diwariskanlah ke si B yang 100 hektar itu. si B membeli lagi sawah dari orang lain seluas 10 hektar, maka sawah si B menjadi 110 hektar. Yg 110 hektar diwariskan ke si C. Si C membeli lagi sawah dari orang lain seluas 15 hektar, maka sawah si C menjadi 125 hektar. Dari sini dapat dilihat bahwa warisan dari si A tetaplah yang 100 hektar”.

    Permasalahannya adalah
    “Bagaimana cara mengetahui, yang mana yang 100 hektar yang diwariskan oleh si A?”

    Saya yakin bapak/abi/abu/ yang ada disini sudah tau caranya, sehingga mampu saling menerima serta mencerahkan dan tersimpul dalam ukhuwah. Semoga….

    Wassalam Wr Wb…

  70. benk mengatakan:

    tuh kan makin lama ni makin saling bersikukuh…huuffftttt, sudahlah kita yakini aja selama itu sesuai dengan syareat islam.
    seperti salah satu pernyataan iblis ketika berdialog dengan BAginda Rosulallah SAW , bahwa iblis sangat takut kepada orng2 yang ikhlas dalam beribadah ” intinya segala sesuatunya niat ikhlas karna allah ta’ala, dan tetap hajat kita kepada ALLAH SWT bukan pada ciptaanya.

    boleh saya tanya mungkin bapa2 ada pintar:
    kenapa bacaan alif lam mim pada alqur’an tidak memiliki arti ?

    daripada ribut masalah gini lebih baik perbaiki salat kita apa udah bener ?udah bisa khusuk, cara berwudhu kita apa udah bener ? karna saya sendiri belum merasa bener sampai sekarang.

  71. didi mengatakan:

    Memang ada sebagian kecil dari ulama dan muslimin yang mengatakan bahwa tawassul itu Bid’ah. Itu tidak berarti Tawassul itu tidak punya dasar dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah . Itu hanya karena berbeda dalam memahami teks-teks Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi saw.
    Tapi persoalannya lebih banyak mana ulama yang menganjurkan Tawassul, dan yang mengatakan Bid’ah? Jawabannya: Mayoritas ulama Ahlussunnah dan ulama Ahlul Bait (sa) menyatakan bahwa Tawassul itu dianjurkan dalam berdoa. Bahkan Al-Qur’an menyuruh kita bertawassul.

  72. Si Fulan mengatakan:

    MEMBACA SURAT AL FATIHAH UNTUK RASULULLAH MUHAMMAD SAW??? ASTAGFIRULLAH……… AMPUNKANLAH DOSA-DOSANYA DAN BERTOBATLAH BAGI YANG PERNAH MENGAMALKANNYA. ALLAH SWT TELAH MENJAGA DAN MELINDUNGI RASULULLAH MUHAMMAD SAW DARI NIAT, PIKIRAN DAN PERBUATAN DOSA, DOSA-DOSANYA DIAMPUNKAN OLEH ALLAH SWT DI MASA SEBELUM DAN SESUDAHNYA, ALLAH MENJAMIN RASUL SAW MASUK SURGA DAN DIMULIAKAN LEBIH DARI PARA NABI DAN RASUL LAINNYA. JADI HARAMKAN MEMBACA SURAT AL FATIHAH YANG DIPERUNTUKKAN KEPADA RASUL SAW, BID’AH BESAR…….. MENGINGKARI FIRMAN ALLAH SWT, APAPUN ALASAN DAN TUJUANNYA. HATI HATI DENGAN PROPAGANDA KAUM MUSRIKIN, JIKA INGIN BISA DAN CEPAT MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT HARUS TAHU TATA CARA NYA MAKA BERGABUNGLAH DENGAN GOLONGANNYA, INGAT TATA CARA YANG BENAR ADALAH DENGAN MENGAMALKAN AJARAN RASUL SAW YAITU AL QUR’AN DAN HADIST SHAHIH, BUKAN TATA CARA YANG DIBUAT OLEH ORANG SEMASA SETELAH JMAN KHOLIFAH BERAKHIR. SESAT-SESAT BAGI MENDO’AKAN ATAU MEMBACA DO’A ATAU SURAT AL FATIHAH DIPERUNTUKKAN BAGI RASULULLAH MUHAMMAD SAW. INGAT YANG DISUNNAHKAN DAN YANG BISA MEMBERIKAN SYAFAAT DI DUNIA DAN AKHERAT BAGI YANG MENGAMALKANNYA ADALAH DENGAN MEMBACA SHOLAWAT, YAITU ALLAHUMMA SHOLLI ALA MUHAMMAD, WA’ALA ALI ALA MUHAMMAD, TIDAK ADA TAMBAHAN KATA SYAIYYIDINA. ITULAH SHOLAWAT RASULULLAH MUHAMMAD SAW YANG DIAJARKAN MALAIKAT JIBRIL KEPADA RASULULLAH MUHAMMAD SAW,.

  73. Kilewung... mengatakan:

    Bismillahi Tawakaltu…..
    Apapun Hujjahnya… khilafiyahnya tetap ada…
    Perbedaan Adalah Rahmat…yach nimati aj bro..
    Gitu aj koq Repoot….!!!

  74. Luthfi Baihaqi mengatakan:

    Tinggalkanlah perkara yg tidak diajarkan oleh Rasulullah

  75. cipta anugrah mengatakan:

    asslamualaikum..sodara2ku..
    setelah membaca panjang lebar uraian2, dan Perdebatan di Atas,,
    saya mw ikut Berbagi Pendapat nich mengenai Tawasul…

    mohon koreksi bila ada ksalahan..
    nawaitu lilahi ta’ala

    1.Tawasul dgn Arti “Perantara Doa..”
    saya kira Islam sangat bertentangan dengan Hal ini..
    justru Keistimewaan Islam adalah Konsep yg mmbedakanya dr ajaran sesat adalah Ajaranya mngenai Hub langsung nya Setiap Hamba dengan Tuhannya..

    karna saya jg suka bertawasul…
    saya lebih memaknai Tawasul dengan
    “mengerjakan suatu amal yg dapat mendekatkan diri kpd Allah Swt”
    mndoakan dengan Fatihah Nabi2.para ulama shalih ,,mnurut saya jg gpp,,,

    dngn syarat itu td bkn “memperantarai” Doa qta,,

    tetapi Lebih dngn Arti Mendoakan dan salah satu cara qta Brterimakasih atas apa yg sudah mereka lakukan untuk Islam..

  76. at tarbaniy mengatakan:

    ada sebuah syair :
    “Cintaku kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailaniy sudah mendarah daging,aku tak perduli orang berkata apa terhadapnya”

    setiap hari sedikitnya 5x aku bertawasul kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailaniy rodhiyalloh ‘anhu dan guru-guruku yang mursyid,yang sisilahnya sampai kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa ‘alaa aliihi wa salim.
    demikian yang aku sampaikan,wallohu a’lamu bishowab.

  77. bambang mengatakan:

    assalamu ‘alaikum semua sahabatku.
    dari atas sampai bawah saya membaca sampai pusing.semuanya ceritanya , aqidahlah,ahlaklah,ulama sampai ke al-quran
    seolah semua takut akan dosa dan neraka.saya masih manusia yg diciptakan oleh allah dan masih berpijak dibumi ciptaan allah.nabi adalah panutan,quran adalah tuntunan.masing-masing manusia sudah diberi sama oleh allah yaitu ruh,otak(berpikir),mata (melihat),dll.
    masalah tawasulan salah bener aja binggung. yang jelas allah maha pengampun,jalani aja hidup ini masalah dosa allah yg tahu bukan para ahli agama,terkadang yg tahu aja masih ngelangar dari ajaran,kesimpulan saya dan mengingat pada jamannya.mengingat pada kenyataan terserah sahabatku menilai orang yg berpendirian seperti saya .
    note:
    hidup selalu bersujut kepada allah
    tidak ingin memasalahkan sesuatu hal agama,intinya ALLAH MAHA TAHU,MAHA PENGAMPUN……….MAHA SEGALANYA.manusia yg berkomen nulis( ASS ) maksudnya asalamu’alaikum padahal ass itu artinya pantat.
    terimakasih semua sahabatku sedikit banyak aku bisa tau tentang tawasul .ma,af saya tidak bisa memberi pendapat ( PUSING )
    AKU MAU SHOLAT AJA YG BENER DULU….AAMIIN
    terimakasih . wasalam

  78. TERJEMAHAN SURAT AL-MAIDAH AYAT 35
    sumber: http://www.alquran-indonesia.com/web/quran/listings/details/5/30

    surah / surat : Al-Maidah Ayat : 35

    yaa ayyuhaa alladziina aamanuu ittaquu allaaha waibtaghuu ilayhi alwasiilata wajaahiduu fii sabiilihi la’allakum tuflihuuna

    35. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

  79. JM Trail mengatakan:

    Assalamualaikum wr wb .Hai sobat semuanya kita ambil hikma dari tulisan ,saran dan pendapat diatas sebagai bahan kajian untuk menambah wawasan , tidak perlu panas atau emosi . Yang terpenting kita semua berada dalam jalan Allah .
    – Agama dan Ilmu .
    – Ilmu dan Agama
    keduaduanya harus berjalan seirama supaya mantab !.

  80. rozyaulia mengatakan:

    Apa yang ditulis oleh Abisyakir benar adanya untuk insan yang ingin menerapkan ajaran Islam yang murni sesuai Al-Quran dan As-sunah.

  81. bayu mengatakan:

    Yg Jelas,,Wahai orang2 Muslim yang beriman kepada DIA,,janganlah Kalian kalah sama orang Hindu yg Percaya Diri,dengan cara Berdo’a sendiri,,dengan cara yang dipahaminya,,
    Masa Do’a aja nebeng aplg minta di Do’ain sama orang Lain,, Masya Allah,, Klo mau berdo’a ya Do’a sendiri2,,ƍäª perlu pake Bahasa Arab,, Krn sebaik2nya Do’a adalah Do’a yg Tulus dari Lubuk Hati yang paling Dalam.
    Tp Ingat segala sesuatu ada tata cara,Pembukaan(Al-Fatihah) dan ada juga penutupnya,,
    Intinya,,jgn Percaya sama Dukuk,KyaiNapapun bentuknya cuma agar kita berhasil dalam urusan Dunia,,
    Yang Lebih Hebat Lg bila ada Muslimin dan Muslimat yg Sholat,Dzikir tp tidak mengharapkan apapun(selamet,panjang umur,sehat,bahagia, Surga dan tetek bengek yg lainnya),,melainkan Ridho, Krn semua keinginan itu tiada lain dan tiada bukan merupakan Nafsu(Musuh yg nyata Bagimu

  82. Fulan lain mengatakan:

    Saya setuju dengan tulisan ini…kita harus kembali kepada tauhid

  83. black mengatakan:

    apakah qur an melarang mengirimkan bacaan al fatihah pada sesuatu… apakah nabi melarangnya… anda dengan tegas berani melarang ? istigfar bung… bersihkan hati… kita tahu maksud anda baik… benar salah itu urusan gusti allah, coba anda istiqarah dulu minta petunjuk dengan sebersih bersihnya hati… apakh tulisan anda perlu diperbaiki….

  84. ahmad mengatakan:

    100 persen setuju dengan tulisan di blog ini

  85. ALVIN mengatakan:

    Asslamualaikum.. kalau salah mohon dikoreksi.
    saya juga mengoreksi tanggapan saudara Bayu.
    ada kisah di jaman rasul yang mungkin semua dari saudara-saudara tau. ada seseorang(saya lupa namanya) yang miskin yang selalu taat ibadah, datang kemesjid, sholat tepat waktu, selalu berdoa, dan tentu saja berpuasa dsb. tetapi karna dia resah dan tak tahan lagi dengan keadaan dia yang miskin,dia datang kepada rasul memohon kepada kepada rasul untuk didoakan supaya menjadi kaya raya. tetapi Rasul tidak mengabulkan permintaannya begitu saja karna Rasul bilang lebih baik tidak punya dari pada meninggalkan Allah SWT. Rasul juga tau kalau orang miskin tersebut hamba yang taat ibadah. makanya rasul takut, kalau siorang miskin ini akan lalai dan sibuk dengan hartanya dan meninggalkan Allah dan Perintahnya.
    setelah berkali-kali si orang miskin ini datang kepada rasul dan menyakinkan rasul. Rasul pun mengiyakan permintaan siorang miskin itu. Memohonlah rasul kepada Allah SWT akan hajat siorang miskin itu, dan terkabullah. tetapi siorang miskin ini mengingkari janjinya kepada rasul, dan dia sibuk dengan harta benda yang dimilikinya. zakat tidak dibayar, sholat tidak pernah tepat waktu dan tidak pernah kemesjid dll.
    nah pendek cerita di jaman Rasul dulu ada orang yang meminta didoakan. karna jaman dulu orang tau kalau doa Baginda Rasul itu sesalu dikabulkan oleh Allah SWT.
    dan juga meminta restu kedua orangtua juga sama dengan meminta didoakan agar kita selamat, perlindungan, sehat, dan lain-lain. dengan cara orangtua kita memohon akan hajat kita kepada Allah SWT. sebaik-baiknya doa adalah doa ibu bapak kita.
    betul tidak…(mohon dimaafkan kalo salah).
    dengan kata lain minta didoakan kepada orang lain itu boleh2 aja tetapi dengan berbagai kriteria orang tersebut seperti Islam, dan dengan cara tidak menyekutukan Allah SWT. dan juga tidak menghambakan diri kepada orang tersebut. betul tidak…(mohon dimaafkan kalau salah).

    selanjutnya. yang msalah tahlilan, membaca yasin bersama itu saya setuju.
    1. ada larangan dan ibadah yang diwajibkan oleh Baginda Rasul kepada kita untuk diikuti atas perintah Allah SWT. ini hukumnya dosa tidak dikerjakan/dilakukan larangannya. seperti ibadah sholat lima waktu, puasa dibulan ramadhan, membayar zakat.
    2. ada yang ibadah yang rasul anjurkan dan tidak dilarang dikerjakan, tetapi jika tidak kita lakukan tidak membuat dosa. dengan kata lain dilakukan menambah ketakwaan kepada Allah, menambah kecintaan kepada Rasul dan Pahala. tidak dikerjakan tidak apa2. seperti sholat sunat, puasa sunat, dan sunah-sunah lainnya. tapi ingan kalau ingin selamat dunia akhirat ikutlah apa yang dikerjakan Baginda Rasul. jangn yang wajib-wajib aja. ingat juga nih Allah SWT akan mencintai hambanya yang memcintai kekasihnya (Muhammad) dgan cara mengerjakan apa yang dikerjakan oleh Rasul.
    3. ada ibadah yang Rasul tidak kerjakan tetapi tidak dilarang oleh rasul jika dikerjakan. ini sama seperti yasinan bersama, tahlil bersama, mengunjungi kuburan dll seperti sekarang ini. yang penting kita berniat untuk mengingat Allah. bukan untuk menyekutukan Allah. apa salahnya. betul tidak……(mohon dimaafkan jika salah).

  86. ALVIN mengatakan:

    Asslamualaikum.. kalau salah mohon dikoreksi.
    saya juga mengoreksi tanggapan saudara Bayu.
    ada kisah di jaman rasul yang mungkin semua dari saudara-saudara tau. ada seseorang(saya lupa namanya) yang miskin yang selalu taat ibadah, datang kemesjid, sholat tepat waktu, selalu berdoa, dan tentu saja berpuasa dsb. tetapi karna dia resah dan tak tahan lagi dengan keadaan dia yang miskin,dia datang kepada rasul memohon kepada kepada rasul untuk didoakan supaya menjadi kaya raya. tetapi Rasul tidak mengabulkan permintaannya begitu saja karna Rasul bilang lebih baik tidak punya dari pada meninggalkan Allah SWT. Rasul juga tau kalau orang miskin tersebut hamba yang taat ibadah. makanya rasul takut, kalau siorang miskin ini akan lalai dan sibuk dengan hartanya dan meninggalkan Allah dan Perintahnya.
    setelah berkali-kali si orang miskin ini datang kepada rasul dan menyakinkan rasul. Rasul pun mengiyakan permintaan siorang miskin itu. Memohonlah rasul kepada Allah SWT akan hajat siorang miskin itu, dan terkabullah. tetapi siorang miskin ini mengingkari janjinya kepada rasul, dan dia sibuk dengan harta benda yang dimilikinya. zakat tidak dibayar, sholat tidak pernah tepat waktu dan tidak pernah kemesjid dll.
    nah pendek cerita di jaman Rasul dulu ada orang yang meminta didoakan. karna jaman dulu orang tau kalau doa Baginda Rasul itu sesalu dikabulkan oleh Allah SWT.
    dan juga meminta restu kedua orangtua juga sama dengan meminta didoakan agar kita selamat, perlindungan, sehat, dan lain-lain. dengan cara orangtua kita memohon akan hajat kita kepada Allah SWT. sebaik-baiknya doa adalah doa ibu bapak kita.
    betul tidak…(mohon dimaafkan kalo salah).
    dengan kata lain minta didoakan kepada orang lain itu boleh2 aja tetapi dengan berbagai kriteria orang tersebut seperti Islam, dan dengan cara tidak menyekutukan Allah SWT. dan juga tidak menghambakan diri kepada orang tersebut. betul tidak…(mohon dimaafkan kalau salah).

    selanjutnya. yang msalah tahlilan, membaca yasin bersama itu saya setuju.

    1.) ada larangan dan ibadah yang diwajibkan oleh Baginda Rasul kepada kita untuk diikuti atas perintah Allah SWT. ini hukumnya dosa tidak dikerjakan/dilakukan larangannya. seperti ibadah sholat lima waktu, puasa dibulan ramadhan, membayar zakat.

    2.) ada yang ibadah yang rasul anjurkan dan tidak dilarang dikerjakan, tetapi jika tidak kita lakukan tidak membuat dosa. dengan kata lain dilakukan menambah ketakwaan kepada Allah, menambah kecintaan kepada Rasul dan Pahala. tidak dikerjakan tidak apa2. seperti sholat sunat, puasa sunat, dan sunah-sunah lainnya. tapi ingan kalau ingin selamat dunia akhirat ikutlah apa yang dikerjakan Baginda Rasul. jangn yang wajib-wajib aja. ingat juga nih Allah SWT akan mencintai hambanya yang memcintai kekasihnya (Muhammad) dgan cara mengerjakan apa yang dikerjakan oleh Rasul. ini yang dilakukan oleh para sahabat2 rasul.

    3). ada ibadah yang Rasul tidak kerjakan tetapi tidak dilarang oleh rasul jika dikerjakan. ini sama seperti skarang ini, yasinan bersama, tahlil bersama, mengunjungi kuburan asal jngn memohon/meminta/berdoa kepada kuburan itu (termasuk kuburan Nabi, sahabat2 nabi, ulama, kiai, dll), yang penting ibadah itu kita berniat untuk mengingat Allah SWT yang setiap Ruh kita ada di Tangan-NYa. bukan untuk menyekutukan Allah. betul tidak……(mohon dimaafkan jika salah).

    ini sama dengan suatu kejadian Rasul mendapati sahabatnya Abu bakar dan Umar Bin Khatab berzikir dengan cara yang berbeda.

    pada saat itu Rasul berkunjung ke rumah Abu bakar, dan Beliau mendapati Abu Bakar sedang berzikir dengan suara yang pelan yang cuma bisa didengar oleh telinganya sendiri. sehingga
    Rasul bertanya ” apa yang engkau lakukan wahai abu Bakar?”

    sahabat Rosul yang santun itu menjawab ” aku mengingat Tuhanku ya Rasulullah”

    ” kenapa dengan suara yang pelan?” Rasul bertanya

    “Bukankan Tuhanku Maha Mendengar ya Rasululah, Dia Yang Maha Tahu apa yang dikerjakan oleh hamba-NYa” jawab Abu Bakar.

    selanjutnya Rasul pergi berkunjung ke rumah Umar bin Khatab beliau juga mendapati Sahabatnya yang bijaksana itu sedang berzikir dengan suara yang keras sampai terdengan keluar rumahnya.
    sehinga membuat Rasul bertanya kepada Umar. “Wahai Umar, apa yang engkau kerjakan?”

    jawab Umar. “Aku mengingat Tuhanku ya Rasulllah.”
    “kenapa Kamu dengan suara yang keras?” tanya Rasul.

    “supaya Setan-setan yang ada disekelilingku dengar dan takut ya Rasul.” jawab Umar.

    maka apa kata Rasul terhadap kedua sahabatnya ini. Beliau menyuruh Umar untuk memelankan sedikit suaranya dan menyuruh Abu Bakar mengeraskan suaranya sedikit.

    ini dapat disimpulkan bahwa Rasul tidak melarang bagaimana Umatnya mengingat Sang Penciptanya. Mendekatkan diri kepada Allah SWT.
    Betul Tidak…(mohon dimaafkan jika salah).

    bukankan setiap ibadah itu adalah sarana untuk mengingat Allah SWT. ibadah kita diterima atau tidak itu terserah Allah SWT. asalkan ibadah kita itu benar. benar untuk mengingat Allah SWT. bukan untuk pamer kepada makhluk ciptaan-Nya.

    itulah pemikiran sedikit dari orang awam seperti saya.
    mohon maaf kalau saya salah.
    sempurna itu hanya milik Allah SWT.

  87. wawan mengatakan:

    mantap..seruu..blog ini.. ternyata masih banyak juga orang2 yg pinter dan merasa paling benar..

  88. gaza-alghazali mengatakan:

    ente2 smua .. masih sempet ngobrol kayak ngalor ngidul ,nyari2 dalil dari toko buku loak…
    sementara para iblis esrael tertawa membantai saudara2 kita di gaza…
    teruslah ngobrol cari pembenaran diri sendiri dan salahkanlah orang lain, mata anda baru terbuka setelah musuh islam telah berada dihadapan anda….

  89. zamrad mengatakan:

    Assalaamu ‘alaiqum…
    Mohon maaf sebelumnya kpd yg punya blog,sy numpang lewat sklian ikutan nimbrung,biar rame,heheee.
    Dari sekian banyak tulisan,baik yg pro maupun yg kontra ttg “Tawassulan”,sy punya pendapat pribadi,begini :
    yg PRO Tawassul dan KONTRA Tawassul bg sy pribadi,dua-duanya BETUL karna menurut PEMAHAMAN dan KEYAKINAN masing2 dan tidak ada yg SALAH dlm hal ini.yg SALAH iaitu MEMAKSAKAN orang lain utk MENGAKUI dan MENGIKUTI apa yg dia Yakini.INGAT baik2 saudara2ku ;
    1. Islam tdk bisa dihancurkan dgn kkuatan senjata,islam hnya bisa di hancurkan dr dalam.prbedaan keyakinan ttg hal2 kecil spt Tawassulan adlh celah yg bisa memecah belah ukhuwah kita, bila sdh dmkian,tggulah kehancuran / prpecahan ukhuwah kita.
    2. Ilmu Allah itu meliputi langit dan bumi dan apa yg ada diantara keduanya.dan Ilmu-NYA tidak hanya utk yg PRO atau yg KONTRA sj,ttp utk sma makhluk yg DIA Kehendaki.jd janganlah BERSELISIH ttg Ilmu-NYA.
    3. Ilmu Allah itu ada yg tersurat (quran,injil,taurat,zabur dan shuhuf2) ttpi ada pula yg tersirat (laduni-hakikat),[berkacalah kpd pengalaman Nabiyullah Musa dgn Ilmu syariat-taurat (tersurat) bersama Nabiyullah Khidir dgn ilmu hakikat-laduni(tersirat).
    4. Berpegang teguhlah kpd Al-Quran dan Sunnah Rasulullah,ttp jgnlah kita mencela swtu pengetahuan/ilmu yg tdk kita jumpai didalam keduanya,kenapa?…
    Karna ada ilmu Allah yg TERSIRAT yg tdk bisa dimiliki dan difahami sma org sbgmna yg TERSURAT.
    5. Islam dibangun atas 4 fondasi ilmu, syariat,thareqat,hakikat dan makrifat.
    Ssorg kalau hanya mendalami ilmu syariat (tersurat) kemudian berdiskusi dgn org yg mendalami ilmu hakikat (tersirat) ttg swtu perkara sprti Tawassul maka smp qiamatpun tak akan ada habisnya prdebatan tsb.maka jadikanlah pengetahuan kita masing2 baik yg menguasai ilmu syariat maupun ilmu hakikat sbg ibadah utk mendekatkan diri kpd Sang Empu-NYA Ilmu tsb,ukan utk dijadikan bahan debat kusir.
    6. Sesama muslim jgnlah mudah mengatakan “SESAT” aplgi smp mengKAFIRkan yg lain.ingat dan ingat baik2 saudara2ku;klmat yg kita keluarkan utk ssorg atau swtu golongan sprti “SESAT dan KAFIR” swtu saat klmat tsb akan berpulang kpd empunya klmat tsb,jadi jagalah lisan,jagalah lisan dan jagalah lisan.
    6. Sekali lagi mohon maaf kpd yg pnya blog,krn sy sdh lancang menulis diblog anda.

  90. LingLung mengatakan:

    gaza-alghazali
    Setuju bgt komentar anda msh aja pada rebutan ceker ayam

  91. abisyakir mengatakan:

    @ Ghaza-alghazali….

    “ente2 smua .. masih sempet ngobrol kayak ngalor ngidul ,nyari2 dalil dari toko buku loak… sementara para iblis esrael tertawa membantai saudara2 kita di gaza… teruslah ngobrol cari pembenaran diri sendiri dan salahkanlah orang lain, mata anda baru terbuka setelah musuh islam telah berada dihadapan anda….”

    Respon:

    Wah omonganmu sengak juga ya… Kalo gak salah, kamu yang anaknya Aa Gym yang sekolah di Jerman itu ya. Maaf kalau keliru nebak, sebab nggak tahu sih.

    1. Awal mula tulisan itu karena ada yang minta supaya dibahas tentang hukum tawasul, jadi dibahas deh. Eee…hasilnya mengundang perdebatan panjang. Tapi asalnya ya menjawab permintaan pembaca.

    2. Kalau orang bicara ilmu, apa dalam pikiranmu orang macam begitu gak peduli dengan masalah Palestina/Al Quds atau penjajahan Israel? Apa begitu kesimpulanmu? Kalau begitu, wah kasihan dong.

    3. Emang kalau kamu bicara Israil dan seterusnya, kamu sudah pernah berjuang ke Ghaza? Kamu pernah menyerang pasukan Israel? Kamu pernah menolong satu saja bocah Palestina langsung dengan tanganmu sendiri?

    4. Memang kalau kita bicara soal tawasul, atau kita tak bicara soal tawasul, lalu ada pengaruhnya secara nyata dalam masalah penjajahan Israel di Palestina?

    Ya begitulah…di antara ummat Islam ini ada manusia-manusia “sakit” yang sok moralis, dalam arti moral itu cuma di omongan atau tulisan saja. Dia sok prihatin dengan adanya perdebatan ilmu atau upaya mencari kebenaran lewat dialog; tidak ada yang bisa dia perbuat, selain “prihatin”. Sementara dirinya sendiri hidup dalam “kehedonannya” tanpa mau mengakui.

    admin.

  92. Prabu Hanjuang mengatakan:

    • nuhdiihaa ilaa hadroti Sayyidina wa habibina Rasulullah Muhammad ‘bni Abdullah wa ajwazihi wa dzurriyaatihi wa ahli baytihi wa saa-iril anbiyaa-i wal mursaliin wa ali kulli minhum wa shohhabati ajma’iin.
    • Tsumma nuhdi tsawabahaa ilaa khoodimil yauumi, tsumma ila arwahil malaikatil muqorrobiin, tsumma ilaa arwahi rijalil ghoib ainamaa kaanuu hallat arwaahahum min masyaariqil ardhi ilaa maghooribihaa barrihaa wa bahrihaa.
    • Tsumma ilaa ruuhi Sayyidina Muhajjir ilallah Ahmad bin Isaa, wa Sayyidina Al-Faqihul Muqoddam Muhammad bin Ali Ba’alawi, wal Habib Abdurrahman bin Muhammad As-seqaf, wal Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad shohibur rotib, wal Habib Alwi bin Ahmad Bahsin,tsumma ilaa ruuhi Al-Habib Ahmad bin Alwi Bahsin, tsumma ilaa ruuhi Al-Habib Ali bin Hasan Al-Atthas,tsumma ilaa ruuhi shohibul wirid Sayyidina Ummaroh bin Zaid. Ra.
    • Tsumma ilaa arwaahi amwaatanaa khosh-shoh wa amwaatil muslimiina wal muslimaati ‘ammah.Bi-annallaha yataghosy-syaahum birrohmaati wal maghfirooti wayusak-kinuhumul jannah birohmaatihi.
    • Asta’iinu min barokatihaa bi-annallaha yubal-lighu maqooshidanaa wa yaqdhii hajaatinaa wa yaktubus-salamata ‘alaina min syarril jinni wal insii waman aroodanaa bisuu-in, wa ilaa hadrotin nabiyyi Muhammadin Sholallahu ‘alaihi wa alihi wassallama.
    Al-Fatihah…

  93. ma,rifat mengatakan:

    anda benar dalam mguraikan kan a,tp itu hnya menurut hukum syar,ie..

    tp menurut hakikat dan sufi pndapat anda lucu,spt pndapat anak TK

  94. abisyakir mengatakan:

    @ Ma’rifat…

    Anda bilang pendapat saya seperti anak TK? Apaaaaaa? Anda tidak salah bicara kah?
    Hhmmm…sejujurnya, kami memang seperti anak TK, lucu-lucu. He he he.

    Admin.

  95. rizki mengatakan:

    tawasul ituu,,mendoakan,,,dan ketahuilah,jika kita mendoakan,hamba hamba allah yang dia cintai,maka,,maka allah akan mencintai kita dan akan membalas nya,,pula dngan kebaikan……….
    karna allah berfirman,,aku takan menyia nyiakan,,sekecil apapun amal kebaikan itu,meskipun sekecil mahlukku yang terkecil………..
    jngan salah menafsirkan,,cari tau dulu……………….
    bkan kah allah tlah berfirman,,carilah wasilah,,sebagai jalan menuju keridhoankuuuu……….

  96. irham mengatakan:

    maaf sebelumnya sy hanya ingin berbagi tulisan
    jangan suka menyalahkan orang dan menyesatkan org sikit sikit bid ah
    emangnya diri nya itu uda benar betul
    ibdh bukan manusia yg menilainya tapi alloh la yang menilai nya
    untuk majlis rosullulloh salam sejahtrah semoga dakwah wabib sampai k seluruh alam amin

  97. Dede sulaiman mengatakan:

    Prinsip tawasul tdk ada pertntangan,sringkali yg mjadi ptntngan tawasul dg Arwah orang shalih.Penting untuk dikompromikan apa ssungguhnya yg mjadi pselisihannya? Knapa dipselisihkan? Dan bgaimana jln keluar dari pselisihannya.Saya mmandang lbih baik keluar dari pselisihan dri pd terlibat didlmnya. Syarat utk mngkompromikan msalah tersebut: 1. Fokus pd soal, tdk melebar pd soal lain. 2.Hrs sesuai Sunnah dan ijma 3.Dalil hrs shahih bkn dalil yg lemah.Maka tdk mnjadikan dalil yg lmah sbg hujjah ibadah

  98. Arnan Jaya mengatakan:

    Ya Allah… semoga apa yang kubaca dari awal dan semua tanggapan di forum ini dapat menjadi Ilmu yang bermanfaat… fiddini waddunya wal akhirah……

  99. abisyakir mengatakan:

    @ Arnan Jaya…

    Amin Allahumma amin, laka wa lana wa lil Muslimin.

    Admin.

  100. Polan mengatakan:

    ya memang lucu2 dan bikin geli membaca perdebatan tingkat syariat, ho ho ho abisyakir merasa paling benar ? Cobalah tingkatkan ilmu anda ke tarekat & ma’rifat, pasti anda merasa dangkal sekali pengetahuan anda itu, Wassalam !

  101. Fulan-d mengatakan:

    Assalamu’alaikum,
    Alangkah eloknya jika para komentator menggunakan bahasa yang santun, tidak saling melecehkan dan emosional. Penulisan dengan diksi yang arif serta dalil yang relevan dapat mencerminkan derajat keilmuan yang lebih mumpuni. Terima kasih kepada seluruh kolumnis yang telah memberi pencerahan kapada saya. Hanya Allah jualah yang dapat membalas kebaikan Anda.

  102. abisyakir mengatakan:

    @ Fulan-d…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Sama-sama terimakasih, semoga bermanfaat. Jazakallah khair atas doanya.

    Admin.

  103. Ahmad Syamsudin mengatakan:

    Assalamualaikum…………….Wahai semua saudara kaum muslimin…. Tolong kita jaga kebersamaan, dan persaudaraan, jangan mudah mengatakan kepada yang lain bid’ah, syirik, kafir dan lain sebagainya. ketika Ustman menambah azan Jum’at menjadi 2 kali, tidak ada sahabat yang mengatakan dia bid’ah.. padahal jelas dimasa Nabi azan hanya 1 kali. Tidak semua yang tidak dilakukan Nabi saw, bila kita lakukan maka itu jelek, contoh Nabi saw tak pernah pakai peci hitam kalau sholat, lalu kita ? apa ada dalil yang memerintahkan, membolehkan atau melarang sholat pakai peci hitam ? pakai celana panjang ? atau bahkan sholatnya sang imam yang menggunakan pengeras suara ? semua itu tak pernah dilakukan Nabi saw dan para sahabat…… OKI ( oleh karena itu ) kita pahami dulu dengan seksama….. begitu kan ?………….

  104. emprit gepeng mengatakan:

    @ ma,rifat
    komentar anda tentang hakikat dan ma’rifat , saya pernah belajar ilmu ma’rifat dan hakikat sampai mencapai tingkat 7 yang artinya sudah mencapai 99% ilmu tersebut saya kuasai perlu anda ketahui kalau saya hari jum’at sholatnya bukan di indonesia tapi di Mekah dan sampai sekarang saya bingung kok saya bisa sholat jum’at di Mekah ? anda ingin mempelajari ilmunya? silahkan baca bukunya judulnya BAJAWALA BAJALAGENYE disana diajarkan doa-doa agar mencapai Ma’rifat dan Hakekat dan sangat mudah nggak perlu sholat setiap hari karena kita sudah jadi wali….

  105. emprit gepeng mengatakan:

    @ Polan
    komentar anda tentang hakikat dan ma’rifat , saya pernah belajar ilmu ma’rifat dan hakikat sampai mencapai tingkat 7 yang artinya sudah mencapai 99% ilmu tersebut saya kuasai perlu anda ketahui kalau saya hari jum’at sholatnya bukan di indonesia tapi di Mekah dan sampai sekarang saya bingung kok saya bisa sholat jum’at di Mekah ? anda ingin mempelajari ilmunya? silahkan baca bukunya judulnya BAJAWALA BAJALAGENYE disana diajarkan doa-doa agar mencapai Ma’rifat dan Hakekat dan sangat mudah nggak perlu sholat setiap hari karena kita sudah jadi wali….

  106. emprit gepeng mengatakan:

    @ Polan
    komentar anda tentang hakikat dan ma’rifat , saya pernah belajar ilmu ma’rifat dan hakikat sampai mencapai tingkat 7 yang artinya sudah mencapai 99% ilmu tersebut saya kuasai perlu anda ketahui kalau saya hari jum’at sholatnya bukan di indonesia tapi di Mekah dan sampai sekarang saya bingung kok saya bisa sholat jum’at di Mekah ? anda ingin mempelajari ilmunya? silahkan baca kitabnya judulnya BAJAWALA BAJALAGENYE disana diajarkan ritual dan doa-doa agar mencapai Ma’rifat dan Hakekat dan sangat mudah nggak perlu sholat setiap hari karena kita sudah jadi wali….

  107. Eddi mengatakan:

    Utsman bin Hunaif Mengajarkan Tawassul
    Dalam riwayat Imam At Thobaroni, sahabat
    ‘Utsman bin Hunaif menuturkan sebuah kisah
    yang berkaitan dengan hadits tawassulnya
    orang buta yang mengadu kepada Rosululloh :
    َّﻥَﺃ ًﻼُﺟَﺭ َﻥﺎَﻛ ُﻒِﻠَﺘْﺨَﻳ ﻰَﻟِﺇ َﻥﺎَﻤْﺜُﻋ ِﻦْﺑ َﻥﺎَّﻔَﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ
    ُﻪْﻨَﻋ ﻲِﻓ ٍﺔَﺟﺎَﺣ ُﻪَﻟ ، َﻥﺎَﻛَﻭ ُﻥﺎَﻤْﺜُﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ ُﻪْﻨَﻋ ﺎَﻟ
    ُﺖِﻔَﺘْﻠَﻳ ِﻪْﻴَﻟِﺇ ﺎَﻟَﻭ ُﺮُﻈْﻨَﻳ ﻲِﻓ ِﻪِﺘَﺟﺎَﺣ ، َﻲِﻘَﻠَﻓ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ
    َﻦْﺑ َﻥﺎَﻤْﺜُﻋ ٍﻒْﻴَﻨُﺣ ﺎَﻜَﺸَﻓ َﻚِﻟَﺫ ِﻪْﻴَﻟِﺇ ، َﻝﺎَﻘَﻓ ُﻪَﻟ ُﻥﺎَﻤْﺜُﻋ ُﻦْﺑ
    ٍﻒْﻴَﻨُﺣ : ِﺖْﺋِﺍ َﺓﺄﻀْﻴِﻤْﻟﺍ ْﺄَّﺿَﻮَﺘَﻓ َّﻢُﺛ ِﺖْﺋﺍ َﺪِﺠْﺴَﻤْﻟﺍ ِّﻞَﺼَﻓ
    ﻪﻴﻓ ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭ َّﻢُﺛ ْﻞُﻗ َّﻢُﻬَّﻠﻟﺍ : ﻲِّﻧِﺇ َﻚُﻟَﺄْﺳَﺃ ُﻪَّﺟَﻮَﺗَﺃَﻭ َﻚْﻴَﻟِﺇ
    ﺎَﻨِّﻴِﺒَﻨِﺑ ِّﻲِﺒَﻧ ِﺔَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ ﺎَﻳ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻲِّﻧِﺇ ُﻪَّﺟَﻮَﺗَﺃ َﻚِﺑ ﻰَﻟِﺇ َﻚِّﺑَﺭ
    ﻲِﻀْﻘَﻴَﻓ ﻲِﺘَﺟﺎَﺣ . ُﺮُﻛْﺬَﺗَﻭ .َﻚَﺘَﺟﺎَﺣ َﻖَﻠَﻄْﻧﺎَﻓ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ َﻊَﻨَﺼَﻓ
    ﺎَﻣ َﻝﺎَﻗ ُﻪَﻟ ، َّﻢُﺛ ﻰَﺗَﺃ َﺏﺎَﺑ َﻥﺎَﻤْﺜُﻋ َﺀﺎَﺠَﻓ ُﺏﺍَّﻮَﺒْﻟﺍ َﺬَﺧَﺃ ﻰَّﺘَﺣ
    ِﻩِﺪَﻴِﺑ ُﻪَﻠَﺧْﺩَﺄَﻓ ﻰَﻠَﻋ ُﻪَﺴَﻠْﺟَﺄَﻓ َﻥﺎَﻤْﺜُﻋ ُﻪَﻌَﻣ ﻰَﻠَﻋ
    ِﺔَﺴَﻔْﻨَّﻄﻟﺍ َﻝﺎَﻗَﻭ : ﺎَﻣ َﻚُﺘَﺟﺎَﺣ َﺮَﻛَﺬَﻓ ؟ ُﻪَﺘَﺟﺎَﺣ ﺎَﻫﺎَﻀَﻘَﻓ
    ُﻪَﻟ ، َّﻢُﺛ :َﻝﺎَﻗ ﺎَﻣ َﺕْﺮَﻛَﺫ َﻚَﺘَﺟﺎَﺣ ﻰَّﺘَﺣ ْﺖَﻧﺎَﻛ ِﻩِﺬَﻫ ُﺔَﻋﺎَّﺴﻟﺍ
    َّﻢُﺛ :َﻝﺎَﻗ ﺎَﻣ ْﺖَﻧﺎَﻛ َﻚَﻟ ٌﺔَﺟﺎَﺣ ﺎَﻨِﺘْﺋﺎَﻓ ، َّﻢُﺛ َّﻥِﺇ َﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ﺎَّﻤَﻟ
    َﺝَﺮَﺧ ْﻦِﻣ ﻩِﺪْﻨِﻋ َﻲِﻘَﻟ َﻦْﺑ َﻥﺎَﻤْﺜُﻋ ٍﻒْﻴَﻨُﺣ َﻝﺎَﻗَﻭ ُﻪَﻟ : َﻙﺍَﺰَﺟ
    ُﻪﻠﻟﺍ ًﺍﺮْﻴَﺧ ﺎَﻣ َﻥﺎَﻛ ُﺮُﻈْﻨَﻳ ﻲِﻓ ﻲِﺘَﺟﺎَﺣ ﺎَﻟَﻭ ُﺖِﻔَﺘْﻠَﻳ
    ﻰَّﺘَﺣ َّﻲَﻟِﺇ ُﻪَﺘْﻤَّﻠَﻛ َّﻲِﻓ ، َﻝﺎَﻘَﻓ ُﻦْﺑ ُﻥﺎَﻤْﺜُﻋ :ٍﻒْﻴَﻨُﺣ ِﻪﻠﻟﺍَﻭ
    ﺎَﻣ ُﻪُﺘْﻤَّﻠَﻛ ، ْﻦِﻜَﻟَﻭ ُﺕْﺪِﻬَﺷ ِﻪﻠﻟﺍ َﻝْﻮُﺳَﺭ ُﻩﺎَﺗَﺃَﻭ ٌﻞُﺟَﺭ ٌﺮْﻳِﺮَﺿ
    ﺎَﻜَﺸَﻓ ِﻪْﻴَﻟِﺇ َﺏﺎَﻫِﺫ ِﻩِﺮَﺼَﺑ ، َﻝﺎَﻘَﻓ ُﻪَﻟ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َﻭَﺃ: ُﺮِﺒْﺼَﺗ ؟
    َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻳ ُﻪَّﻧِﺇ ِﻪﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ َﺲْﻴَﻟ ﻲِﻟ ٌﺪِﺋﺎَﻗ َّﻖَﺷ ْﺪَﻗَﻭ
    َّﻲﻠﻋ ، َﻝﺎَﻘَﻓ ُﻪَﻟ ﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ِﺖْﺋِﺍ: َﺓﺄﻀْﻴِﻤْﻟﺍ ْﺄَّﺿَﻮَﺘَﻓ َّﻢُﺛ ِّﻞَﺻ
    ِﻦْﻴَﺘَﻌْﻛَﺭ َّﻢُﺛ ُﻉْﺩﺍ ِﻩِﺬَﻬِﺑ ِﺕﺍَﻮَﻋَّﺪﻟﺍ َﻝﺎَﻘَﻓ، ُﻦْﺑ ُﻥﺎَﻤْﺜُﻋ
    :ٍﻒْﻴَﻨُﺣ ِﻪﻠﻟﺍَﻮَﻓ ﺎَﻣ ﺎَﻟَﻭ ﺎَﻨْﻗَّﺮَﻔَﺗ َﻝﺎَﻃ ﺎَﻨِﺑ َﺚْﻳِﺪَﺤْﻟﺍ ﻰَّﺘَﺣ
    َﻞَﺧَﺩ ُﻞُﺟَّﺮﻟﺍ ُﻪَّﻧَﺄَﻛَﻭ ْﻢَﻟ ْﻦُﻜَﻳ ِﻪِﺑ ٌﺭَﺮَﺿ ُّﻂَﻗ
    bahwasannya pada masa pemerintahan
    Kholifah ‘Utsman bin ‘Affan, Seorang lelaki
    berulang-ulang datang kepada ‘Utsman ibn
    ‘Affan untuk keperluannya. ‘Utsman sendiri
    tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak
    mempedulikan keperluannya. Lalu lelaki itu
    bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif. Kepada
    Utsman ibn Hunaif ia mengadukan sikap
    Utsman ibn ‘Affan kepadanya.
    ‘Utsman bin Hunaif menyuruh laki-laki
    tersebut : “Pergilah ke tempat wudlu, lalu
    masuklah ke masjid untuk sholat dua raka’at.
    Kemudian bacalah doa’ : Ya Alloh sungguh
    saya memohon kepada-Mu bertawassul
    kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad,
    Nabi rahmat. Wahai Muhammad, saya
    menghadap kepada Tuhanmu denganmu.
    Maka kabulkanlah keperluanku. ” Dan
    sebutkanlah keperluanmu. (kata Utsman Ibn
    Hunaif )
    Lelaki itu pun pergi melaksanakan saran dari
    Utsman ibn Hunaif . Kemudian ia datang
    menuju pintu gerbang Utsman ibn Affan yang
    langsung disambut oleh penjaga pintu. Dengan
    memegang tangannya, sang penjaga langsung
    memasukkannya menemui Utsman ibn Affan .
    Kholifah (Utsman Ibn Affan ) kemudian
    mempersilahkan keduanya duduk di
    atas permadani bersama dirinya. “Apa
    keperluanmu?” tanya Kholifah. Lelaki itu pun
    menyebutkan keperluannya, kemudian
    Kholifah memenuhinya. “Engkau tidak pernah
    menyebutkan keperluanmu hingga tiba saat
    ini.” kata Utsman, “Jika kapan-kapan ada
    keperluan datanglah kepada saya,” lanjut
    Utsman Ibn Affan.
    Setelah keluar, lelaki itu berjumpa dengan
    Utsman ibn Hunaif dan menyapanya, ia
    mengira sebelum dirinya bertemu Kholifah,
    terlebih dahulu ‘Utsman bin Hunaif telah
    menemui sang Kholifah guna menyampaikan
    hajatnya, akan tetapi ‘Utsman bin Hunaif
    menolak prasangka leleki tersebut, dan
    berkata : “Demi Alloh, saya tidak pernah
    berbicara dengan Utsman ibn Affan. Namun
    aku menyaksikan Rosululloh didatangi seorang
    lelaki buta yang mengadukan matanya yang
    buta. “Adakah kamu mau bersabar?” kata
    Nabi. “Wahai Rosululloh, saya tidak memiliki
    penuntun dan saya merasa
    kerepotan,”katanya. Maka Nabi berkata
    padanya : “Datanglah ke tempat wudlu’ lalu
    berwudlu’lah kemudian sholatlah dua roka’at.
    Sesudahnya bacalah do’a ini.” Utsman ibn
    Hunaif berkata: “Maka demi Alloh, kami belum
    bubar dan belum lama obrolan selesai,
    akhirnya lelaki buta itu masuk seolah ia belum
    pernah mengalami kebutaan.” (HR. At
    Thobaroni.) Setelah menyebut hadits ini At
    Thobaroni berkomentar, “Status hadits ini
    shohih.”
    Perhatikan redaksi yang kami cetak tebal di
    atas ( Wahai Muhammad, saya menghadap
    kepada Tuhanmu denganmu. Maka
    kabulkanlah keperluanku. )… betapa do’a
    tersebut diucapkan pada masa pemerintahan
    Kholifah Utsman Ibn Affan yang otomatis
    berarti Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam
    telah berpulang ke pangkuan Ar Rofiiqil
    A’laa….
    Sekali lagi ingin kami sarankan… Fahamilah
    agama ini dengan benar melalui pemahaman
    para Ulama yang Mu’tabar dan Mu’tamad
    serta bersanad jelas… agar agama kita tidak
    mengalami distorsi yang justru berakibat
    fitnah yang merugikan bagi Ummat Islam dan
    Islam sendiri….
    Wallohu A’lam…

  108. Eddi mengatakan:

    @ abisyakir:

    Saya sebutkan sebuah ayat dalam
    Surat Ali Imran, “ Wa laa
    ya’murakum an tattakhidhul
    malaikata wan nabiyyina arbaba.
    Aya’murukum bil kufri ba’da idz
    Antum Muslimun ” (dan tidaklah
    kalian diperintahkan untuk
    menjadikan malaikat dan para Nabi
    sebagai sesembahan (selain Allah).
    Apakah kalian diperintahkan
    berbuat kekufuran, setelah kalian
    menjadi seorang Muslim?).

    Setiap Muslim harus bertauhid.
    Maka untuk menuju tauhid yang
    murni itu, semua jalan yang akan
    mengarahkan kepada kemusyrikan
    ditutup rapat-rapat. Tawassul
    kepada Nabi, wali Allah, Ahlillah,
    dst. mungkin pada awalnya tampak
    baik, mulia, dan penting. Tapi lama-
    lama, hati kita akan tergelincir
    untuk memuja-muja Nabi/shalihin
    yang kita bertawassul kepadanya
    itu. Nah, inilah kemusyrikan yang
    tidak disadari oleh pelakunya.

    Jawab :

    Pernyataan abisyakir di atas sgt jls itu pendapat berdasarkan logikanya sendiri. Ayat di atas tertulis ” dan tidaklah kalian diperintahkan untuk menjadikan malaikat dan para nabi sebagai sesembahan (selain Allah)”. Kata kuncinya adl SESEMBAHAN, sdgkan dalam tawassul kita menjadikan nabi sbg PERANTARA.
    Jls keduanya adl hal yg berbeda. Namun sdr abisyakir memaksakan pendptnya bahwa lama-lama hati kita akan tergelincir untuk memuja-muja nabi/ sholihin yg kita bertawassul kpdnya. Sgt gamblang bahwa itu adl pendapat sdr abisyakir.
    Ayat yg dikutip benar, namun dikutip dan diposisikan secara tdk benar. Jadinya malah dzalim.

    Saran

    Jgn sembarangan mengutip ayat maupun hadist tanpa ilmu.(ngalbanisme bgt). Apalagi berani menafsirkan sendiri secara shahafi/ otodidak.(lagi2 ngalbani bgt).

  109. abisyakir mengatakan:

    @ Eddi…

    Anda ini mengada-ada. Hanya melihat di situ tidak ditampilkan pendapat ulama, langsung saja Anda vonis, saya memakai pendapat sendiri.

    Saya baca tulisan Dr. Yusuf Al Qaradhawi, tentang Akidah Salaf dan Khalaf. Salah satunya beliau bicara tentang TAWASUL. Mula-mula beliau setuju dengan pendapat gurunya, Syaikh Hasan Al Bana, bahwa tawasul itu perkara khilafiah sejak lama.

    Lalu beliau berpendapat: lebih selamat tidak melakukan tawasul dengan orang yang sudah wafat, karena dikhawatirkan akan menjurus ke perbuatan syirik. Kemudian beliau tambahkan, konsep tawasul ini juga menyalahi kaidah, bahwa setiap hamba bisa berdoa langsung kepada Rabb-nya, tanpa melalui perantara siapapun, termasuk perantara orang-orang suci.

    Sebaiknya Anda baca buku itu. Tampaknya baik bagi Anda, biar tidak terburu-buru berkomentar.

    Admin.

  110. Eddi mengatakan:

    Saudara abisyakir (admin) menyarankan agar sy membaca buku-buku dr yusuf al qardhawi sblm komentar.

    jawab:

    Judul topik di atas adlah “hukum melakukan tawassul”. Tp rujukan yg disarankan admin adalah fatwa atau pendapat pribadi Ulama kontroversial Yusuf al Qardhawi. Contoh fatwa2nya yg kontroversial sbb:
    1. membolehkan muslimin meminum alkohol berkadar 0,5 persen.

    2. seorang wanita diperbolehkan menjadi pemimpin. ia menyangkal hadist riwayat Bukhari, yaitu “Tidak akan beruntung suatu kaum(bangsa) yg menguasakan urusan (pemerintah) mereka kepada wanita”.

    3. fatwa takfirinya yg mengadu domba sesama muslim.

    dan msh byk lg fatwa2 kontroversial lainnya.

    Jd pendapat yusuf qardhawi lwt admin ttg “hukum melakukan tawassul” yg dinilainya syirik adalah pendapat pribadi [Bukan dalil hukum].
    Terserah jika admin meyakininya, namun jgn terburu-buru menghukumi pelaku tawassul lama2 akan berbuat syirik.
    Jelas kita mmg berbeda pemahaman, namun jgn mudah mengkafirkan/ mensyirikan saudaranya yg berbeda pemahaman.

  111. Eddi mengatakan:

    (Legalitas Tawassul dan tabaruk dengan
    Makam nabi Muhammad)

    Awas Wahabi berusaha mendhaifkan semua
    hadis0hadis yang tidak sesauai dengan nafsu
    mereka, terutama hadis hadis tawasul dan
    tabaruk. Wahabi mengerahkan muhadis palsu
    (seperti albani) untuk mendaifkan hadis hadis
    yang shahih!
    ﺎﻨﺛﺪﺣ ﻮﺑﺃ ﺔﻳﻭﺎﻌﻣ ﻦﻋ ﺶﻤﻋﻷﺍ ﻦﻋ ﻲﺑﺃ ﺢﻟﺎﺻ ﻦﻋ ﻚﻟﺎﻣ
    ﺭﺍﺪﻟﺍ ﻝﺎﻗ ﻥﺎﻛﻭ ﻥﺯﺎﺧ ﺮﻤﻋ ﻰﻠﻋ ﻡﺎﻌﻄﻟﺍ ﻝﺎﻗ ﺏﺎﺻﺃ
    ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻂﺤﻗ ﻲﻓ ﻦﻣﺯ ﺮﻤﻋ ﺀﺎﺠﻓ ﻞﺟﺭ ﻰﻟﺇ ﺮﺒﻗ ﻲﺒﻨﻟﺍ
    ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ﻝﺎﻘﻓ ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻖﺴﺘﺳﺍ
    ﻚﺘﻣﻷ ﻢﻬﻧﺈﻓ ﺪﻗ ﺍﻮﻜﻠﻫ ﻲﺗﺄﻓ ﻞﺟﺮﻟﺍ ﻲﻓ ﻡﺎﻨﻤﻟﺍ ﻞﻴﻘﻓ
    ﻪﻟ ﺖﺋﺇ ﺮﻤﻋ ﻪﺋﺮﻗﺄﻓ ﻡﻼﺴﻟﺍ ﻩﺮﺒﺧﺃﻭ ﻢﻜﻧﺃ ﻥﻮﻴﻘﺴﻣ ﻞﻗﻭ
    ﻪﻟ ﻚﻴﻠﻋ ﺲﻴﻜﻟﺍ ﻚﻴﻠﻋ ﺲﻴﻜﻟﺍ ﻰﺗﺄﻓ ﺮﻤﻋ ﻩﺮﺒﺧﺄﻓ ﻰﻜﺒﻓ
    ﺮﻤﻋ ﻢﺛ ﻝﺎﻗ ﺎﻳ ﺏﺭ ﻻ ﻮﻟﺁ ﻻﺇ ﺎﻣ ﺕﺰﺠﻋ ﻪﻨﻋ

    Telah mengabarkan kami Abu Mu’awiyah dari Al
    A’masy dari Abu Shalih dari Malik Ad Dar ia
    berkata –ia dahulu adalah bendahara Umar
    untuk urusan logistik, ia berkata:
    Manusia ditimpa kekeringan pada masa Umar
    bin Khattab, lalu datanglan seorang lelaki ke
    kuburan Nabi SAW lalu berdoa: “Wahai
    Rasulullah, mintalah hujan kepada Allah untuk
    umatmu, sesungguhnya mereka telah binasa.”
    Lalu lelaki itu didatangi oleh Rasulullah SAW
    dalam mimpinya. Beliau bersabda, “Datanglah
    kepada Umar lalu sampaikan salamku untuknya,
    dan beritahukan kepadanya bahwa kalian akan
    diberi hujan. Katakan juga: hendaknya kalian
    bersikap bijaksana, hendaknya kalian bersikap
    bijaksana.” Lalu lelaki itu mendatangi Umar dan
    menceritakan apa yang dialaminya tersebut.
    Umar pun menangis kemudian berkata, “Ya
    Rabb, aku tidak akan berpaling kecuali dari apa
    yang aku tidak mampu melakukannya.”

    Studi Sanad
    Hadis di atas diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah
    dalam Al Mushannaf (Hadits 31.993]), Al Baihaqi
    dalam Dalailun Nubuwwah (8/91 no. 2974) dan
    Al Khaliliy dalam Al Irsyad (1/313-314). Tentang
    riwayat Al Baihaqi, Ibnu Katsir dalam Al Bidayah
    wan Nihayah (7/105) berkata, “Sanad hadis ini
    shahih.” Sedangkan tentang riwayat Ibnu Abi
    Syaibah, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2/495)
    berkata, “Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan
    dengan sanad shahih dari riwayat Abu Shalih
    dari Malik Ad Dar.” Imam Bukhari dalam At
    Tarikh Al Kabir (7/204 no. 1295) meriwayatkan
    dari Malik bin ‘Iyadh bagian akhir hadis ini,
    yaitu perkataan Umar, “Ya Rabb, aku tidak akan
    berpaling kecuali dari apa yang aku tidak
    mampu melakukannya.” Imam Qastallani setuju
    kepadanya dalam kitab al-Mawahib.
    Scan Kitab ( Ibnu Abi Syaibah)Mus hannaf (Vol 6,
    Hadits 31.993])

    Siapakah Malik addar??
    Dalam kitab : Ibnu Sa’ad, at-Tabaqat-ul-kubra,
    Publish: Maqtabah al-Khanje, al-Qahira
    Imam Ibnu Sa’ad mengatakan: “Malik ad-Dar
    adalah budak yang dimerdekakan oleh ‘Umar
    bin al-Khattab. Dia melaporkan riwayat dari Abu
    Bakar as-Siddiq dan ‘Umar, dan Abu Salih
    Samman melaporkan riwayat darinya. “Dia
    perawi yang dikenal ” [Ibnu Sa'ad, at-Tabaqat-
    ul-kubra Volume 006, No 12 Halaman, Nomor
    Narrator.. 1.423]

    Dalam kitab : Tajrid Asma ‘al-Shahabah, oleh
    Imam Dhahabi, Publish: Dar al-Marifah, Beirut
    Lebanon
    Imam Malik berkata tentang Dhahabi ad-Dar,
    Dia (Malik ad-Dar) adalah budak yang
    dimerdekakan oleh ‘Umar bin al-Khattab, Ia
    telah mengambil tradisi dari Abu Bakar as-
    Siddiq. [Tajrid Asma 'al-Shahabah, oleh Imam
    Dhahabi, Volume 002, No 44 Halaman] ——–
    Fakta bahwa ulama terkenal seperti Imam al-
    Dhahabi menganggap Malik addar adalah
    Sahabat Nabi yang mulia dengan bukti
    terhadap orang-orang sezaman dengannya
    yang mengetahui Malik al-Dar t! Imam Adzahabi
    mempunyai banyak bukti dan memasukan Malik
    al-Dar dalam daftar Sahababat Nabi.
    Dalam Kitab : al-Isabah fi tamyiz-adalah-
    sahabat – Ibnu hajr Asqalani, Publish: Dar al-
    Kutub al-Azhar, Misr
    Sketsa biografis yang disediakan oleh Ibnu Hajar
    ‘Asqalani: “Malik bin’ Iyad, seorang budak
    dibebaskan oleh ‘Umar, dikenal sebagai Malik
    ad-Dar. Dia telah melihat Nabi Suci (Peace Be
    Uopn Nya) dan tradisi mendengar dari Abu Bakr.
    Dia telah mengambil tradisi dari Abu Bakar as-
    Siddiq ‘Umar Faruq, Mu’adz dan Abu’ Ubaidah,
    dan Abu Samman dan kedua anak ini (Malik ad-
    Dar) ‘AWN dan’ Abdullah telah mengambil tradisi
    darinya. “Dan Imam Bukhari dalam at-Tarikh-ul-
    kabir, (7:304-5), melalui acuan ke Abu Salih,
    telah mengakui tradisi dari dia bahwa ‘Umar
    dilaporkan telah mengatakan selama periode
    kelaparan: Saya tidak syirik tanggung jawab tapi
    aku dapat dibuat lebih rendah hati.
    Ibnu Abu Khaythamah telah direproduksi tradisi
    panjang bersama dengan kata-kata (yang kita
    bicarakan), … dan saya telah menyalin sebuah
    tradisi yang diriwayatkan oleh ‘Abd-ur-Rahman
    bin Sa’id bin Yarbu’ Makhzumi dengan mengacu
    Malik ad-Dar, di Fawa’id Dawud bin ‘Umar dan
    ad-Dabi disusun oleh Baghawi. Dia mengatakan
    bahwa suatu hari Umar memanggil saya. Dia
    memiliki sebuah dompet emas di tangannya,
    yang memiliki empat ratus dinar di dalamnya.
    Dia memerintahkan saya untuk membawanya
    ke Ubaidah Abu ‘, dan kemudian ia
    menceritakan bagian yang tersisa dari kejadian
    itu. Ibnu Sa’ad telah menempatkan ad-Dar pada
    kelompok pertama Penerus antara penduduk
    asli Madinah Malik dan telah menegaskan bahwa
    ia telah mengambil tradisi dari Abu Bakar as-
    Siddiq dan ‘Umar, dan dia dikenal. Abu ‘Ubaidah
    telah menegaskan bahwa’ Umar telah
    menunjuknya sebagai wali dari keluarganya.
    Ketika Utsman diangkat ke kantor khalifah, ia
    mengangkat dia sebagai menteri keuangan, dan
    itu adalah bagaimana ia kemudian dikenal
    sebagai ad-Dar (tuan rumah) Malik.
    Dalam Kitab uth-Thiqat Imam Ibnu Hibban,
    Publish By al-Kutub al-Thamafiyah,
    Haydarabad Deccan, India
    Ibnu Hibban telah membuktikan kepercayaan
    dan kredibilitas Malik ad-Dar: Imam Ibnu
    Hibban Said: Malik bin ‘Iyad ad-Dar Dia telah
    mengambil riwayat dari Umar Faroq, dan Abu
    Saleh al-Samman, dan Dia adalah budak yang
    dimerdekakan oleh’ Umar bin al-Khattab. [Kitab
    uth-Thiqat Volume 005, No 384 Halaman]
    Kesimpulan Hukum
    Para ulama bersepakat mengenai bolehnya
    bertawassul dengan Nabi SAW, baik ketika beliau
    masih hidup maupun setelah wafat berdasarkan
    atsar di atas dan hadis-hadis lainnya.
    Imam Nawawi berkata mengenai adab ziarah
    kubur Nabi SAW, “Kemudian orang yang
    berkunjung itu menghadapkan wajahnya ke arah
    Nabi SAW lalu bertawassul dengannya dan
    memohon syafaat dengannya kepada Allah.” ( Al
    Majmu’ 8/274)

    Izzuddin bin Abdissalam membatasi kebolehan
    tawassul ini hanya dengan Nabi SAW saja. Beliau
    berkata, “Sebaiknya hal ini hanya berlaku untuk
    Rasulullah SAW saja karena beliau adalah
    pemimpin Bani Adam (manusia).” ( Faidhul
    Qadir 2/134/135)

    As Subki berkata, “Disunnahkan bertawassul
    dengan Nabi SAW dan meminta syafaat
    dengannya kepada Allah SWT.” (ibid)
    Dalam I’anat at Thalibin (2/315) disebutkan,
    “Aku telah datang kepadamu dengan
    beristighfar dari dosaku dan memohon syafaat
    denganmu kepada Tuhanku.”
    Ibnu Qudamah berkata dalam Al Mughni ,
    “Disunnahkan bagi yang memasuki masjid untuk
    mendahulukan kaki kanan… kemudian anda
    masuk ke kubur lalu berkata… “Aku telah
    mendatangimu dengan beristighfar dari dosa-
    dosaku dan memohon syafaat denganmu
    kepada Allah.”
    Demikian pula dalam Asy Syarhul
    Kabir.
    Al Kamal bin Al Humam berkata dalam Fathul
    Qadir tentang ziarah kubur Rasulullah SAW, “…
    kemudian dia berkata pada
    posisinya: Assalamu’alaika ya rasulallah (salam
    bagimu wahai Rasulullah)… dan memohon
    kepada Allah hajatnya dengan bertawassul
    kepada Allah dengan Hadrat NabiNya SAW.”
    Pengarang kitab Al Ikhtiyar menulis, “Kami
    datang dari negeri yang jauh… dan memohon
    syafaat denganmu kepada Rabb kami… kemudia
    berkata: dengan memohon syafaat dengan
    NabiMu kepadamu.”

    Hal yang senada juga disebutkan dalam
    kitab Maraqi Al Falah dan Ath Thahawi
    terhadap Ad Durrul Mukhtar dan Fatawa
    Hindiyah , “Kami telah datang mendengar
    firmanMu, menaati perintahMu, memohon
    syafaat dengan NabiMu kepadaMu.”

    Imam Syaukani berkata, “Dan bertawassul
    kepada Allah dengan para nabiNya dan orang-
    orang shalih.” (Tuhfatu Adz Dzakirin karangan
    Syaukani 37)

  112. aa edoy mengatakan:

    Assalamu’alaikum… @yuwono & Abi Syakir: Sampai kpnpun anda berdua tdk akan menemui kesudahan, percayalah… dan utk para pembaca atw komentator, ambillah yg bisa anda yakini dan lakukanlah karena tdk ada dimuka bumi ini KEBENARAN MUTLAK… BUKANKAH PERBEDAAN PENDAPAT ‘katanya’ AKAN MENJADI RAHMAT???

  113. abisyakir mengatakan:

    @ Eddi…

    Sebenarnya ada kajian-kajian seputar tawasul ini dari ulama yang “anti”. Tapi saya sebutkan yang MODERAT seperti Al Qaradhawi supaya tidak terkesan berpihak ke kalangan “anti” tadi. Itu hanya untuk menjelaskan sangkaan Anda semula, bahwa saya “berpendapat dengan akal sendiri”.

    Tapi beginilah…

    Saya setuju pendapat Syaikh Hasan Al Bana, bahwa masalah tawasul itu masalah khilafiyah, sudah diperselisihkan sejak lama. Syaikh Ibnu Abdul Wahhab juga mengkonfirmasi adanya perselisihan itu.

    Secara pribadi, saya tidak mengamalkan yang seperti itu, tapi tidak juga MENGKAFIRKAN/MEMUSYRIKKAN orang yang melakukannya. Kalau saya menyebut ayat dalam Surat Ali Imran, itu adalah untuk penegasan atas KEHATI-HATIAN kami dalam beramal, agar tidak jatuh kesana.

    Mohon maaf ya kalau tulisan/diskusinya kurang berkenan di hati. Selamat menunaikan ibadah shaum, semoga mendapatkan sebaik-baik manfaat dan hasanah. Amin ya Mujib.

    Admin.

  114. Nugroho mengatakan:

    Assalamu’Alaikum Wr. Wb.
    Subhanallah, Jazakallahu atas tausiyahnya Ustadz AM. Waskito benar2 mencerahkan permasalahan yg sering diperdebatkan seputar tawasul. Barakallahu.
    Waslm. Wr. Wb.

  115. abisyakir mengatakan:

    @ Nugroho…

    Wa’alaikumsalam wr wb. Ya sama-sama Akhi, wa iyyaka jaza’an hasana wa barakah minallah. amin.

    Admin.

  116. Irawan Zxw mengatakan:

    kalao gak tahu ilmunya jangan nulis yg aneh aneh ya… sono cari tahu dulu ilmunya …

  117. Romadlon Roma mengatakan:

    Assalamu’alaikum wr. wb. dari artikel dan obrolan-obrolan di atas, saya banyak sedikit tambah pengetahuan. matur nuwun.
    ngapunten sak derenge, saya boleh tahu asma pak Ustadz (abisyakir) mboten?

  118. abisyakir mengatakan:

    @ Irawan…

    Kalo Anda merasa tahu, sampaikan dong! Kita diskusi disini!

    Admin.

  119. reza mengatakan:

    TS Ny媪⌣ªª wahabi ηȋ̝̊̅̄ċЂ pasti maulid di bilang bid’ah jg

  120. macan putih mengatakan:

    astagfrllah aladzm sy sering jarah ke keramat..saya tdk tau bahwa prbuatan syirk

  121. Polan mengatakan:

    ass saudara2 ku semua bentilah berdebat, intinyana qta harus saling menghargai kepercayaan qta masing2, baik itu perbedaan pandangan atau yg lainnya,selama tdak menyalahi aturan agama yg bersumber dari al – qur’an dan hadist boleh2 saja qta laksanakan yg penting tidak membuat qta syirik dan musyrik….!!
    allahu akbar…allahu akbar….allahu akbar…

  122. abisyakir mengatakan:

    @ Polan…

    Mohon maaf ya sebelumnya. Karena tulisan itu awalnya kan pertanyaan/permintaan pembaca. Terimakasih.

    Admin.

  123. sule mengatakan:

    kenapa anda tidak mempersalahkan orang-orang non Muslim yang memporakporandakan Islam baik di Indonesia maupaun di luar negeri,penyebab kehancuran Islam adalah yang slalu mencari-cari kesalahan sesama Islam sehingga Islam menjadi rapuh, dan mudah diadu domba, biarlah orang Islam mengerjakan amal iobadah sesuai yang diyakininya, marilah kita bersatu agar Islam menjadi kuat dan musuh akan gentar, tidak seperti anda mudah diadu domba, mudah menyerang sesama Islam, toh seandainya anda yang benar kan malah lebih enak hidup anda di akhirat, surga menjadi kosong hanya anda sendiri yang mengisi karena semuanya masuk neraka karena bit’ah, karena yang orang islam selain aliran anda itu haram, gimana kan lebih enak anda! padahalorang yang mencari-cari kesalahan sesama muslim itu adalah termasuk kepanjangan dari tangan dzajal,

  124. abisyakir mengatakan:

    @ Sule…

    Anda ini aneh, kami jelaskan pandangan kami tentang sesuatu, kok dianggap mengadu domba? Itu pun karena ada yang bertanya tentang hal itu. Orang begini asal komen saja, tidak dipahami apa maksud komennya.

    Admin.

  125. Septian Andriyanto mengatakan:

    @suwarno : saya tidak setuju dengan pendapat anda @abisyakir : saya sangan setuju dengan pendapat anda…….

  126. Septian Andriyanto mengatakan:

    apapun yang namanya tawashul kepada yang mati..hukumnya haram :)

  127. Abdurrahman, Lc mengatakan:

    1. Allah SWT berfirman dalam surat Almaidah, 35 :
    ياأيها الذين آمنوااتقواالله وابتغوا إليه الوسيلة
    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
    Suat Al-Isra’, 57:

    أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

    17.

    57. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka [857] siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [857] Maksudnya: Nabi Isa a.s., para malaikat dan ‘Uzair yang mereka sembah itu menyeru dan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah.
    Lafadl Alwasilah dalam ayat ini adalah umum, yang berarti mencakup tawassul terhadap dzat para nabi dan orang-orang sholeh baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, ataupun tawassul terhadap amal perbuatan yang baik.

    2. Wasilah dalam berdoa sebetulnya sudah diperintahkan sejak jaman sebelum Nabi Muhammad SAW. QS 12:97 mengkisahkan saudara-saudara Nabi Yusuf AS yang memohon ampunan kepada Allah SWT melalui perantara ayahandanya yang juga Nabi dan Rasul, yakni N. Ya’qub AS. Dan beliau sebagai Nabi sekaligus ayah ternyata tidak menolak permintaan ini, bahkan menyanggupi untuk memintakan ampunan untuk putera-puteranya (QS 12:98).

    قَالُواْ يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ. قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    97. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”.
    98. N. Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

    Di sini nampak jelas bahwa sudah sangat lumrah memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan menggunakan perantara orang yang mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Bahkan QS 17:57 dengan jelas mengistilahkan “ayyuhum aqrabu”, yakni memilih orang yang lebih dekat (kepada Allah SWT) ketika berwasilah.

    3. Ummat Nabi Musa AS berdoa menginginkan selamat dari adzab Allah SWT dengan meminta bantuan Nabi Musa AS agar berdoa kepada Allah SWT untuk mereka. Bahkan secara eksplisit menyebutkan kedudukan N. Musa AS (sebagai Nabi dan Utusan Allah SWT) sebagai wasilah terkabulnya doa mereka. Hal ini ditegaskan QS 7:134 dengan istilahبِمَا عَهِدَ عِندَكَDengan (perantaraan) sesuatu yang diketahui Allah ada pada sisimu (kenabian).
    Demikian pula hal yang dialami oleh Nabi Adam AS, sebagaimana QS 2:37

    فَتَلَقَّى آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    “Kemudian Nabi Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”Kalimat yang dimaksud di atas, sebagaimana diterangkan oleh ahli tafsir berdasarkan sejumlah hadits adalah tawassul kepada Nabi Muhammad SAW, yang sekalipun belum lahir namun sudah dikenalkan namanya oleh Allah SWT, sebagai nabi akhir zaman.

    4. Bertawassul ini juga diajarkan oleh Allah SWT di QS 4:64 bahkan dengan janji taubat mereka pasti akan diterima. Syaratnya, yakni mereka harus datang ke hadapan Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT di hadapan Rasulullah SAW yang juga mendoakannya.

    وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

    “Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

  128. pujangga kesiangan mengatakan:

    saya setuju suwarno ama eddie… pintar dan bijak….. pertanyaannya selalu di jawabnya pas-pasan sma abysyakir….. maturnuwun sadulur….

  129. pujangga kesiangan mengatakan:

    septian :orang bodoh sok komentar..sok tau haram….. jangan nonton tv nti bid”ah haram loh… heheheheheheh… tawashul ko haram… emang kamu tuhan memvonis haram …. heheheh.. kenali lah dirimu nduk baru kamu kenali tuhanmu nduk….. hehehehheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 150 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: