Pemilu dan Sifat MATERIALIS Wanita

Ada sebuah pertanyaan menarik: “Apa rahasia kemenangan Partai Demokrat (SBY) dalam Pemilu April 2009?

Dari berbagai diskusi, obrolan, tulisan, pendapat, dll. kita akan menemukan banyak alasan di balik sukses Partai Demokrat. Berbagai kalangan memandang dengan sudut pandang berbeda-beda. Misalnya sebagai berikut:

[o] SBY berhasil membuat pencitraan yang bagus melalui iklan-iklan TV secara massif selama 6 bulan terakhir. Terutama melalui PNPM Mandiri, BOS, Pertamina, “Swasembada Beras”, BLT, dll.

[o] Partai Demokrat berhasil membuat jaringan yang kuat di masyarakat, sehingga anggotanya sekarang puluhan juta.

[o] Partai Golkar dan Jusuf Kalla telat melakukan penetrasi melalui iklan-iklan, sehingga pasar Golkar berhasil direbut Demokrat.

[o] PDIP melakukan kampanye negatif dengan “menyerang” kebijakan-kebijakan SBY, sehingga masyarakat semakin tidak simpatik.

Dan banyak alasan-alasan itu. Hampir setiap pengamat memiliki alasan masing-masing. Tetapi sebenarnya RAHASIA INTI kemenangan Partai Demokrat (SBY) sebenarnya sederhana saja, yaitu: DUKUNGAN PARA PEMILIH KAUM WANITA, IBU RUMAH TANGGA MAUPUN GADIS-GADIS.

Mungkin Anda akan marah atau tidak setuju ketika dikatakan bahwa pendukung utama SBY sebenarnya adalah kaum wanita. Tetapi saya bisa memastikan bahwa dukungan kaum wanita itu alasan utamanya. Bahkan termasuk kunci kemenangan SBY dalam Pilpres 2004.

Lalu bagaimana memahaminya?

Pertama, Anda perlu ingat bahwa ketentuan dalam demokrasi, suara laki-laki setara dengan suara wanita. Prinsip ini harus Anda pahami dulu sebelum lainnya.

Kedua, lebih dari 50 % suara pemilih dalam Pemilu adalah suara kaum wanita. Oleh karena itu banyak aktivis wanita menuntut pemberian kursi yang lebih banyak bagi wanita, sebab mereka penyumbang suara terbanyak dalam Pemilu.

Ketiga, Pemilu di Indonesia sangat dipengaruhi oleh media TV. Hal itu sudah tampak sejak tahun 1999 lalu. Sedangkan komunitas yang lebih banyak nonton TV di Indonesia adalah ibu-ibu rumah-tangga dan kaum wanita. Kaum laki-laki secara alamiah lebih banyak bekerja di luar. Bahkan anak laki-laki lebih suka permainan fisik di luar rumah daripada terus-menerus manteng di depan TV. Alasan lain, sasaran iklan produk-produk barang di TV sebagian besar didominasi kebutuhan kaum wanita.

Keempat, kaum wanita sangat senang dengan kegiatan-kegiatan sosial seperti Pemilu, Posyandu, arisan, pengajian, dll. Bahkan sangat senangnya dengan pengajian, sampai setiap majlis taklim memiliki seragam sendiri-sendiri.

Kelima, kaum wanita mudah kesengsem dengan penampilan wajah yang ganteng dan gagal. Ya, sosok seperti SBY itu di mata kaum wanita “aduh gimana gitu“. Dan kaum wanita juga suka selebritis laki-laki yang tampan-tampan, seperti dalam sinetron-sinetron. Seringkali mereka lebih peduli dengan “foto selebritis” tampan daripada urusan suaminya sendiri. Lihat, bagaimana histerisnya gadis-gadis kalau melihat penampilan Afghan, Gigi, DeMassiv, Radja, dan lain-lain.

Keenam, kaum wanita juga suka mendengar informasi-informasi menyenangkan, seperti iklan BBM turun, Swasembada beras, sekolah gratis, obat murah, kredit UKM, dan lain-lain. Mereka “menikmati” informasi-informasi itu, meskipun pada kenyataannya tidak seindah iklan yang mereka dengar. Karena itu kaum wanita dianggap sebagai komunitas yang paling mudah “tertipu iklan”.

Ketujuh, prinsip lain yang harus diingat, kaum wanita lebih banyak menggunakan perasaan daripada rasionya.

Dengan semua alasan di atas, sangat wajar kalau kaum wanita di Indonesia memilih Partai Demokrat (SBY). Sangat sangat wajar. Bahkan sangat mudah bagi mereka melupakan Tsunami di Aceh, gempa Yogya, lumpur Lapindo, Situ Gintung, dll. hanya karena dinina-bobokan oleh iklan-iklan yang membuai perasaan.

Saya kadang tertawa mendengar analisis para politisi yang terlalu rumit, njelimet, dengan variable bermacam-macam. Seolah kompetisi politik itu sedemikian rumitnya. Padahal intinya sederhana saja: “Bagaimana caranya merebut hati kaum wanita Indonesia!” Hanya itu intinya. Siapa yang berhasil memegang kendali simpati kaum wanita, mereka akan menguasai pesta demokrasi.

Orang-orang seperti saya, Anda, dan umumnya kaum laki-laki, kalau memandang sesuatu seringkali berdasarkan rasionalitas, mengingat jejak sejarah, menggabungkan berbagai sudut analisis, dan semua itu diikat dengan komitmen keislaman kita (acuan Syariat Islam). Tetapi kaum wanita tidak demikian. Mereka diciptakan dengan fithrah berbeda. Mereka lebih menonjol sisi perasaannya, sebab mereka memikul amanah-amanah kehidupan yang memang sangat membutuhkan kekuatan intuisi (perasaan). Sedangkan kaum laki-laki lebih dinamis, biasa berbenturan dengan konflik, memiliki sifat menjelajah, menyukai tantangan, dan sebagainya.

Kesalahan mendasar konsep demokrasi ketika menyamakan posisi laki-laki dan wanita, padahal secara kodrat mereka berbeda. Di mata umumnya pemuda Islam, kepemimpinan SBY atau Partai Demokrat dianggap tidak ada apa-apanya. SBY bukanlah yang terbaik yang kita miliki. Banyak pemuda Muslim golput dalam Pemilu 2009, dengan berbagai alasannya yang bersifat rasional-historis.

Tetapi di mata kaum wanita, yang lebih menonjol sifat-sifat MATERIALIS-nya (memandang sesuatu berdasarkan tampak zhahir, bukan hasil analisis rasional secara menyeluruh), penampilan SBY dengan strategi medianya sangat memukau. Maka tidak heran jika dalam Pemilu April 2009 ini, Partai Demokrat bisa meraih lonjakan suara nyaris 3 kali lipat (dari 7 % menjadi 20 %).

Ketika banyak pemuda malas ikut Pemilu, maka ibu-ibu berduyun-duyun datang ke TPS. Malah mereka sudah menyeterika baju, kerudung, menyiapkan sandal, make up, dll. sebelum hari “H”. Ketika aktivis-aktivis Muslim malas datang ke TPS, ibu-ibu justru sudah janjian akan datang bareng-bareng. Ketika di TPS mereka sudah mempersiapkan sasaran yang akan dipilihnya. “Ya, pilihlah yang soleh, ganteng, gagah, dan berhasil dalam pembangunan.” Anda tahulah, siapa kira-kira yang dimaksud oleh para ibu-ibu itu?

Hajat Pemilu Legislatif April sudah selesai. Sebentar lagi akan muncul Pilpres Agustus 2009. Mau tahu siapa pemenangnya? Ya, pemenangnya adalah siapapun yang bisa memanfaatkan waktu 3 atau 4 bulan ke depan ini, untuk merebut simpati kaum wanita. Sebab mereka adalah pemilih terbesar dalam Pemilu di Indonesia, bahkan mereka resisten dengan ide-ide golput. Di mata mereka golput tidak menarik, tetapi memilih “tokoh gagah” adalah pilihan yang nikmat, membawa fantasi membubung, hingga terbawa sampai mimpi. Saat mimpi, yang diingat bukan suami di samping, tetapi “tokoh gagah” yang ada nun jauh disana.

Cobalah ingat sabda Sayyidul Mursalin, “Innallah Ta’ala laa yanzhuru li aj-saa-mikum wa suwarikum, walakin yanzhuru li qulubikum.” (Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat ke tubuh dan wajah-wajah kalian, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian). Kalau soal keindahan, Allah Maha Indah, tidak ada yang lebih dari-Nya. Namun Dia sangat menghargai keikhlasan hati hamba-hamba-Nya. (Prinsip demikian jelas tidak connect dengan praktik demokrasi).

Kompetisi Pemilu demokratis di jaman kontemporer tidak ubahnya seperti “kontes kecantikan”, perlombaan menampilkan performa zhahir yang paling baik. Dalam Pemilu seperti ini, ide besar, gagasan luhur, pemikiran brilian, solusi kreatif, dll. kurang dihargai. Yang lebih disukai adalah kegagahan dan penampilan. Oleh karena itu, jangan pernah bermimpi akan muncul barakah dalam kehidupan sosial, sebab memang standar yang kita gunakan bukan KEBENARAN dan KEBAJIKAN. Tetapi standar fisik.

Demikian sekilas pandangan. Semoga bermanfaat! Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 12 April 2009.

AMW.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 151 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: