Siapa Berpikir Logis?

Di jaman Pemerintahan SBY, bangsa Indonesia mengalami banyak musibah berupa bencana-bencana alam besar. Hal ini mengherankan, sebab di jaman sebelumnya tidak pernah terjadi bencana-bencana besar yang berturut-turut seperti itu. Lalu sebagian orang menyimpulkan, bahwa kepemimpinan SBY mengundang datangnya bencana-bencana. Sebagian lain memandang bencana itu sebagai kejadian alam biasa, tidak ada hubungannya dengan pemimpin politik.

Pihak yang menuduh SBY sebagai pengundang musibah, antara lain berdalih dengan nama Yudhoyono. Katanya, istilah Yudhoyono itu memiliki arti orang yang suka dengan peperangan. Pihak lawannya membantah dengan perkataan, “Bencana alam itu fenomena alam biasa. Jangan berpikir mistik!”

Saya sendiri tidak ingin berdiri di salah satu dari 2 bentuk alasan di atas. Sebagai Muslim, kita bersikap moderat. Satu sisi kita bersikap rasional sesuai fakta-fakta kehidupan yang ada. Di sisi lain, kita mempercayai bahwa baik-buruknya kehidupan masyarakat erat hubungannya dengan baik-buruknya amal manusia. Keshalihan dan ketakwaan akan membawa barakah; sedangkan kekafiran, kemusyrikan, dan kedurhakaan akan membawa bencana-bencana.

DALIL SURAT AL A’RAAF

Disini masih sangat relevan kita membahas Surat Al A’raaf. Sebagian ayat dalam Surat ini seolah bisa menafsirkan keadaan-keadaan yang kita alami selama ini dengan begitu jelas. Hanya orang-orang yang “terkunci hatinya” yang akan menyombongkan diri di hadapan ayat-ayat Allah. Kita mulai dari Al A’raaf ayat 96:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf: 96).

Namun bagi sebagian orang, ayat ini dianggap belum cukup. Mereka membutuhkan penjelasan-penjelasan yang lebih banyak. Andai manusia mau menyempatkan diri membaca Al Qur’an, tentu tidak akan merasa ragu. Surat Al A’raaf ayat 96 itu mendapatkan penjelasan-penjelasan yang sangat gamblang pada 4 ayat setelahnya. Silakan diperhatikan dengan baik:

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka, di malam hari ketika mereka sedang tidur?” (Al A’raaf: 97).

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka, di waktu matahari naik setinggi penggalah (saat Dhuha), ketika mereka sedang bermain?” (Al A’raaf: 98).

Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al A’raaf: 99).

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” (Al A’raaf: 100).

Contoh bencana yang datang saat malam hari ketika manusia sedang tertidur lelap adalah gempa bumi di Yogya. Ketika itu banyak korban tewas karena belum bangun untuk Shalat Shubuh. Bagi yang sudah terbiasa bangun saat fajar untuk menunaikan Shalat Shubuh, alhamdulillah mereka selamat. Contoh bencana yang datang saat waktu Dhuha, ketika manusia sedang bermain-main, adalah Tsunami di Aceh. Itu terjadi pagi hari sekitar jam 8 pagi (waktu Dhuha), 26 Desember 2004. Waktu itu hari Minggu, ketika banyak orang sedang bermain di pantai.

Dan kedua bencana itu datang secara tiba-tiba, tidak memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mempersiapkan diri. Dalam ayat di atas Allah juga menjelaskan, bahwa sebagian manusia dikunci mati hatinya, sehingga tidak bisa menarik pelajaran. Meskipun sudah diingatkan dengan bencana, mereka tetap mungkir dengan alasan “fenomena alam”, “jangan berpikir mistik”, “rasionalitas”, dan lainnya. Sebagian yang lain merasa aman dari ancaman bencana, dan merasa kedurhakaannya dibiarkan oleh Allah. “Yang terkena bencana cuma orang lain, yang bodoh-bodoh. Kalau kita-kita ini dijamin selalu selamat kok,” begitu katanya.

Terus terang, sejak lama saya malu membahas kelanjutan Surat Al A’raaf ayat 96 itu. Khawatir, apa yang selama ini terjadi di Indonesia menjadi tafsiran praktik terbaik atas ayat-ayat tersebut. Maha Benar Allah dengan Firman-Nya.

HARGAI HAK BERPENDAPAT

Ketika seseorang berpendapat, “Pemimpin Fulan bermasalah. Itu buktinya, di jaman dia banyak terjadi bencana-bencana alam.” Maka harus dipahami, pernyataan seperti ini pada hakikatnya adalah hak setiap warga negara untuk berpendapat sesuai pengetahuan dan pemahamannya. Hak berpendapat ini dijamin oleh Konstitusi (UUD 1945 pasal 28). Sebagai warga negara, kita berhak melakukan intepretasi atas suatu kenyataan dalam kepemimpinan negara. Bagaimana lagi, wong UU mengakui hak berpendapat tersebut.

Jika ada yang berpendapat sebaliknya, “Pemimpin Fulan itu adil, arif, dan mulia. Bencana-bencana alam tidak ada kaitannya dengan dia.” Hal ini pun juga merupakan pendapat. Pihak yang meyakini pendapat ini harus dihargai, dihormati, tidak boleh dilecehkan. Kedua bentuk pendapat tersebut merupakan hak warga yang dijamin Konstitusi yang berlaku.

Dalam Islam pun, perbedaan pendapat selama tidak keluar dari prinsip-prinsip fundamental akidah Islam, hal itu diperkenankan. Sejarah perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan Islam sudah diakui oleh berbagai kalangan, baik kawan maupun lawan. Singkat kata, soal perbedaan pendapat ini biasa.

Misalnya, di depan kita terjadi suatu kecelakaan, seorang pengendara sepeda ditabrak sebuah mobil. Lalu orang-orang yang melihat kecelakaan itu memiliki pendapat sesuai sudut pandang masing-masing. Si A berpendapat, “Ini kesalahan mobilnya, dia ngebut di jalan ramai.” Si B berpendapat, “Ini salah pengendara sepeda. Dia ceroboh di jalan raya.” Si C berpendapat, “Ini salah Dinas PU, mereka membuat jalan buruk, sehingga orang mengalami kecelakaan.” Si D berpendapat, “Ini salah polisi. Mereka tidak ada di jalan.” Malah ada Si E yang berpendapat, “Ini salah Luna Maya yang foto seksinya terpampang di pinggir jalan. Pengendara sepeda dan mobil itu melototi foto dia terus, lalu tabrakan pun terjadi.”

Disini setiap orang berhak memberi intepretasi sesuai ilmu dan wawasannya. Yang jelas, secara faktual kecelakaan itu terjadi. Masing-masing pendapat dihargai, selama relevan. Namun untuk memutuskan siapa yang bersalah secara hukum, perlu pembuktian di pengadilan. Mekanisme demikian sudah dimaklumi.

Andai sebagian orang mengatakan, “SBY membawa sial bagi bangsa!” Selagi hal itu adalah pendapat, maka ia tetap dihormati. Sama seperti mereka yang berpendapat, “SBY idolaku, ganteng, gagah, ramah, santun, dan mendebarkan hati.” Pendapat seperti ini pun juga dihormati.

Hanya masalahnya, ketika mengaitkan SBY dengan bencana, kalangan tertentu kerap kali bersikap “tiranik”. Dalam arti, mereka tidak suka mengaitkan SBY dengan datangnya bencana-bencana. Lalu mereka memastikan bahwa bencana sepenuhnya hanya masalah fenomena alam biasa. Kemudian orang yang berpendapat mengaitkan SBY dengan bencana, dituduh tidak rasional, tapi mistis.

BENCANA SEBAGAI FAKTA

Banyak pihak tidak suka kalau SBY dianggap pemimpin “pengundang musibah”. Tetapi faktanya, di jaman SBY memang sering terjadi bencana-bencana alam. Bukan bencana sembarangan, tetapi rata-rata bencana besar dan datang susul-menyusul. Bahkan awal 2009 ini ada “Tsunami kecil” di Situ Gintung Tangerang.

Mungkin orang-orang yang memandang SBY sebagai “pengundang bencana”, mereka berpikir sangat rasional. Dimana mereka, istilah “pengundang bencana” itu sangat tidak ilmiah, subyektif, dan bernada memvonis. Mereka berdalih: “Istilah seperti itu tidak bisa dibuktikan secara hukum positif. Tidak bisa dibuktikan dengan kepastian dari Tuhan. Juga tidak bisa dibuktikan dengan sains modern.”

Tetapi sebagai FAKTA tidak ada yang bisa menolak. Siapa bisa menolak fakta? Hanya orang bodoh akal dan mati hatinya yang akan mengingkari fakta-fakta di depan matanya sendiri. Bahkan fakta lain yang menarik, di jaman Presiden-presiden sebelum SBY, belum pernah terjadi bencana susul-menyusul itu.

Jika fakta bencana ini telah diakui, maka selanjutnya tinggal OPINI kita atas fakta itu. Nah, disini akan muncul banyak opini. Beragamnya opini yang muncul, hal itu diakui oleh Konsitusi yang berlaku di Indonesia.

MELIHAT PELUANG “SBY”

Pilpres akan dilaksanakan 8 Juli 2009. Hanya sekitar seminggu lagi. Pertanyaannya, bagaimana peluang SBY dalam Pilpres kali ini?

Ya, SBY bisa menang dan bisa juga kalah. Namanya kompetisi, pasti akan mendapatkan satu dari dua kemungkinan tersebut. Seperti Manchester United ketika maju ke Final Piala Champions melawan FC Barcelona. Saat maju ke final, MU telah mempersiapkan dua kemungkinan sekaligus: menang atau kalah! Kalau menang akan bagaimana, kalau kalah akan bagaimana? Ini sudah lumrah.

SBY bisa menjadi Presiden RI kembali untuk ke-2 kalinya. Atau dia akan gagal menjadi RI-1 untuk kedua kalinya, karena dikalahkan kandidat lain. Ya kemungkinannya hanya dua itu; kalau tidak menang, ya kalah.

Sekarang yang perlu dipikirkan kaum Muslimin Indonesia, bagaimana kalau SBY menjadi Presiden RI kembali? Dan bagaimana kalau dia gagal menjadi Presiden RI kembali? Apa yang akan kita lakukan atas satu dari dua kemungkinan ini?

Terus terang, saya khawatir kalau SBY menjadi Presiden lagi, Indonesia akan diguncang oleh rentetan-rentetan bencana alam lagi. Secara jujur, saya berharap orang lain yang lebih baik dari SBY menjadi Presiden, dengan harapan kaum Muslimin di Indonesia tidak akan diguncang oleh bencana-bencana lagi.

Sungguh, hati kami terlalu sedih melihat derita kaum Muslimin karena dihempas bencana dimana-mana itu. Salahkah bila kemudian ada seseorang membenci kepemimpinan SBY karena bencana-bencana mengerikan itu? Toh, tujuan kita disini adalah demi kemaslahatan hidup kaum Muslimin. Kita tidak memiliki tujuan politik, nafsu kekuasaan, atau cari ketenaran; tetapi berpikir bagaimana caranya menyelamatkan kehidupan Ummat dari kehancuran.

Mungkin, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, sulit untuk memastikan bahwa kepemimpinan SBY memicu datangnya banyak bencana. Namun fakta berbicara, bencana-bencana itu jelas-jelas terjadi. Bahkan kalau dibandingkan pemimpin-pemimpin sebelumnya, era SBY terkenal dengan “panen bencana”. Para fanatikus SBY bisa berdalih macam-macam, tetapi faktanya bencana-bencana mengerikan memang sering terjadi di jaman SBY.

MENIMBANG PELUANG KITA

Sebuah peristiwa memilukan dari gempa bumi di Yogya. Diceritakan oleh seorang santri tentang ibu rumah-tangga yang berlari menyelamatkan diri dari bencana. Dia memiliki anak bayi. Saat terjadi bencana, dia langsung meraih anaknya yang masih bayi, menggendongnya, lalu lari sekencang-kencangnya ke tempat yang aman. Setelah sekian jauh berlari menyelamatkan diri, dia berhenti di suatu tempat yang dianggap telah aman. Disana dia mendekati sebuah warung untuk membeli makanan bagi bayinya. Pemilik toko merasa heran, “Mana bayi ibu?” Ibu itu menunjuk ke gendongannya. “Itu bukan bayi tapi guling,” kata pemilik warung. Setelah dilihat ternyata benar, yang dibawa ibu itu berlari-lari adalah sebuah guling. Dia pun akhirnya kembali ke kampungnya dengan kepedihan mendalam, karena telah meninggalkan anaknya tertimbun bencana.

Kisah-kisah derita seperti ini bukan satu dua di sekitar kita. Betapa pedihnya wahai manusia saat melihat saudara-saudaramu tertimpa bencana. Mungkin kita disini dalam kondisi selamat, aman, tenteram, tidak tersentuh bencana. Namun bisakah mata, telinga, dan hati kita berdiam diri atas semua air mata dan jeritan menyayat hati dari saudara-saudara kita? Bisakah kita berdiam diri atas berbagai derita yang menimpa kaum Muslimin ini? Ya Rabbi, andai aku sanggup, tentu akan aku cegah bencana-bencana itu menimpa saudara-saudaraku.

Ya, kini kita hanya mampu berusaha agar bencana-bencana itu tidak datang lagi. Salah satunya, dengan cara: Jangan memilih lagi SBY menjadi Presiden RI !!! Fakta berbicara, di jaman SBY bangsa Indonesia “panen bencana”. Kalau dia terus memimpin, khawatir Ummat ini akan dihujani bencana-bencana lagi.

KALKULASI MATEMATIK

Mengaitkan SBY dengan bencana dianggap tidak logis, tidak ada sandaran ilmiah, atau referensi saintifiknya. Kalau ada yang berpendapat begitu, ya silakan sajalah. Tapi tidak memilih SBY lagi adalah pilihan yang sangat logis.

Coba perhatikan skema logika berikut…

Pertama ==> SBY memimpin Indonesia tahun 2004-2009, selama itu banyak terjadi bencana-bencana alam besar di Indonesia.

Kedua ==> SBY mencalonkan lagi menjadi Capres pada Pilpres 8 Juli 2009.

Ketiga ==> Dalam Pilpres Juli 2009, SBY bisa menang, bisa juga kalah.

Keeempat ==> Kalau SBY menang, bencana-bencana bisa datang lagi. Tetapi bisa juga bencana-bencana itu tidak datang lagi.

Kelima ==> Kalau SBY diganti Presiden yang lain, bencana-bencana alam bisa lenyap atau setidaknya berkurang. Tetapi bisa juga, bencana tetap ada atau malah bertambah banyak.

Lalu bagaimana menghitung skema logika di atas? Menurut versi saya, kalkulasinya sebagai berikut:

[A] Dua fakta pasti akan muncul dalam kehidupan rakyat Indonesia, yaitu: (1) SBY menang atau kalah; (2) Terjadi bencana lagi atau tidak. Ke depan kita pasti akan melihat, apakah SBY akan jadi Presiden lagi atau tidak. Begitu pula, kita akan menyaksikan, apakah bencana-bencana itu muncul lagi atau tidak.

[B] Kalau SBY sukses menjadi Presiden RI lagi, bisa saja kehidupan rakyat Indonesia menjadi semakin baik, bencana-bencana alam tidak datang lagi. Hal ini bisa saja terjadi sebagai satu kemungkinan. Jika terjadi hal demikian, maka konsekuensinya: (1) Tuduhan SBY sebagai pembawa musibah otomatis runtuh, terbukti di periode ke-2 kepemimpinannya tidak terjadi bencana-bencana yang dikhawatirkan; (2) Kekhawatiran saya tentang nasib buruk yang menimpa Ummat di bawah SBY, tidak terbukti alias bernilai salah.

[C] Kalau SBY sukses menjadi Presiden RI lagi, bisa saja yang dikhawatirkan selama ini benar-benar terjadi. Bencana-bencana alam terjadi lagi, bahkan mungkin ada yang lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya. Ribuan kaum Muslimin, harta-benda, rumah, asset, bisnis, dan lain-lain hancur luluh. Jika terjadi hal demikian, maka konsekuensinya: (1) Apa yang kita khawatirkan selama ini terjadi; (2) Ummat Islam hidupnya semakin menderita sengsara; (3) Bangsa ini akan semakin fasik, karena para pendukung SBY semakin arogan, lalu masyarakat yang menjadi korban bencana semakin putus-asa dan tidak terkendali.

[D] Kalau kandidat lain berhasil mengalahkan SBY, kehidupan rakyat Indonesia menjadi semakin baik, bencana-bencana berkurang. Konsekuensinya: (1) Tuduhan selama ini bahwa SBY membawa bencana memang benar; (2) Berarti ada yang salah dengan manajemen kekuasaan yang dijalankan regim SBY; (3) Masyarakat bisa hidup lebih baik dan sentosa.

[E] Kalau kandidat lain berhasil mengalahkan SBY, kehidupan rakyat Indonesia ternyata sama saja, bencana-bencana terus berdatangan, bahkan lebih buruk lagi. Konsekuensinya: (1) Tuduhan bahwa SBY membawa bencana tidak terlalu tepat. Setidaknya, bukan hanya dia yang “membawa bencana”; (2) Berarti ada sisi kesalahan lain yang bisa dianggap memicu datangnya bencana; (3) Kehidupan masyarakat tidak banyak berubah, siapapun pemimpinnya.

Dari otak-atik logika ini, kita mendapatkan kesimpulan…

Lihat poin [B] dan [C]. Andai kenyataan baik di poin [B] yang terjadi, maka semua pihak (termasuk saya sendiri) sangat bersyukur atas kebaikan-kebaikan itu. Dan itulah yang sama-sama kita harapkan, masyarakat Indonesia hidupnya lebih baik, bukan semakin menderita. Jika demikian yang terjadi, saya tidak akan malu untuk mengakui, bahwa: “Saya salah. Prediksi saya keliru.” Kalau perlu saya akan mencabut tulisan-tulisan yang bernada prasangka buruk kepada SBY. Jadi, konsekuensi terburuk yang kita rasakan itu, ada dalam tataran wacana, intelektualisme, atau opini-opini. Secara pribadi, mungkin saya merasa malu.

Tetapi bagaimana kalau poin [C] yang benar? Apakah masalahnya hanya sebatas wacana, intelektualisme, atau opini? Bagaimana kalau Ummat Islam untuk kesekian kalinya diguncang dengan aneka bencana? Siapa mau bertanggung-jawab? Siapa mau memikul dosa-dosa kaum Muslimin akibat semua bencana itu?

Coba perhatikan, kalau poin [B] yang benar, konsekuensinya lebih ke masalah wacana, pemikiran, atau opini. Bahkan cenderung ke masalah pribadi para pengamat seperti diri saya ini. Tetapi kalau poin [C] yang terjadi, seluruh kaum Muslimin menanggung getah dan perihnya. Kalau dihitung-hitung matematik, lebih berat mana akibat dari poin [B] dan [C]? Jelas lebih berat poin [C].

Lalu perhatikan poin [D] dan [E]. Kalau poin [D] terjadi, itulah yang sama-sama kita harapkan. Kita tidak peduli deh, siapapun pemimpinnya, apapun nama dan programnya; asal kehidupan Ummat Islam menjadi lebih baik, lebih sejahtera, lebih aman, dan adil. Kalau ada yang bisa mengganti SBY dan ternyata hasilnya lebih baik, jelas-jelas itulah yang kita harapkan. Soal nama SBY, JK, Mega, atau siapa saja, yang penting bukan orangnya, tetapi kebijakannya yang benar, istiqamah, berpihak ke rakyat, dan membawa maslahat. Itu intinya!

Andai terjadi poin [E], SBY sudah diganti, tetapi kenyataan masih sama saja. Kehidupan tetap terpuruk dan masih banyak bencana. Andai kenyataan ini yang terjadi, jelas kita menyesali diri. Politik ditujukan untuk meraih kemaslahatan, tetapi hasilnya ternyata sama saja. Selain menyesali diri, kita merasa lebih tertekan, sebab para politisi ternyata hanya pintar jualan omongan saja, bukan pintar memimpin dan membangun kehidupan masyarakat.

Jika terjadi poin [E], mungkin sebagian masyarakat akan berkata, “Tuh, apa saya bilang? Benar kan, hasilnya sama saja kan. Maka itu, dulu jangan terlalu membenci SBY. Toh, hasilnya sama saja kan?” Atas pernyataan seperti ini jawabnya sebagai berikut: “Kalau memang hasilnya sama saja, ya bagaimana lagi? SBY begitu, pemimpin baru juga begitu. Berarti, kita krisis kepemimpinan. Stok-nya jelek-jelek. Tapi secara material, sama saja akibatnya. Di jaman SBY banyak bencana, di jaman sekarang juga sama. Hanya berbeda orangnya saja.”

Andai terjadi kondisi seperti poin [E], kita tidak merasa aneh. Wong di jaman sebelumnya sudah ada yang seperti itu (jaman SBY). Hanya mungkin bedanya, bencana-bencana itu terjadi di bawah pemimpin lain. Ada variasi kepemimpinan, meskipun hasilnya sama saja.

Dapat disimpulkan, setelah menghitung berbagai kemungkinan di atas: Lebih menguntungkan tidak memilih SBY lagi, untuk menghindari resiko madharat terburuk. Kalaupun kemudian SBY diganti, ternyata hasilnya sama saja, berarti kita tidak merasa aneh, sebab di jaman SBY hal itu sudah pernah terjadi.

Sekali lagi, TIDAK MEMILIH “SBY” adalah PILIHAN PALING LOGIS untuk saat ini. Itu pun kalau Anda semua menghargai pilihan logis.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

About these ads

4 Balasan ke Siapa Berpikir Logis?

  1. berarti 50:50.

    cara membuktikan sby benar adalah sby terpilih lagi dan tidak ada bencana yang menyertainya, atau sby tidak terpilih tapi bencana masih tetap ada.

    lalu, cara membuktikan sby salah adalah sby terpilih lagi dan bencana tetap berkelanjutan, atau sby tidak terpilih dan tidak ada bencana selama kepemimpinan pengganti sby itu.

    hmmm… artinya bisa ya, bisa tidak. jadinya hal yang keakuratannya tidak lebih dari 50%, menurut saya, tetaplah tidak bisa dijadikan pedoman untuk memutuskan suatu hal.

    maka, poin pertama tulisan anda sebelum ini, lagi-lagi menurut saya, tidak pantas ditaruh sebagai poin pertama. saya sendiri lebih tertarik untuk mencermati poin-poin anda berikutnya untuk dijadikan sebuah alasan bagi kita untuk tidak memilih sby. poin pertama anda lebih cocok jika posisinya ditempatkan cuma sebagai catatan tambahan sajal; tidak sebagai poin utama, apalagi ditaruh di tempat paling awal. karena apa? karena fakta bencana tersebut dapat diartikan sebagai hal yang positif atau negatif tentang pemerintahan sby pun masih samar untuk saat ini.

    bobotnya beda, soale.

  2. abisyakir mengatakan:

    @ Joesatch yang baik:

    Oke, kita mulai diskusi lagi. Tapi dengan suasana yang lebih baik, insya Allah. Tapi maaf juga, aku gak selalu bisa online. Cuma bisa sewaktu-waktu saja. Maafin ya.

    “Probalilitas 50 : 50.”

    Secara riil seperti itu memang kalau kita melihat ke depan: Bisa ya, bisa tidak?

    Namun ada catatannya:

    [1] Komparasi dengan kepemimpinan sebelumnya.

    [2] Faktanya, bencana-bencana itu sudah terjadi. Pertanyaannya, “Apa mau dilanjutkan?”

    [3] Soal yang kita hadapi masalah nasib masyarakat, ratusan juta orang. Salah logika atau pendapat tak masalah. Tapi kalau salah dukungan, lalu yang ditakutkan terjadi. Itu dia. Bandingan “salah logika” dan “akibat yang diderita masyarakat” sangat tidak sebanding.

    Ya, sementara ini dulu. Silakan dikomentari. Makasih atas kunjungan Sampeyan. Setiap masukan yang baik, insya Allah diapresiasi dengan baik pula.

    AMW.

  3. oke, ini komentar saya:

    dibanding dengan poin-poin anda yang lain di tulisan sebelumnya, poin pertama anda tidak cocok dijadikan poin pertama.

    1. karena poin-poin selanjutnya bersifat fakta (kalau itu benar), sedangkan poin pertama anda lebih cenderung ke arah opini di atas fakta.

    2. selain poin pertama anda, siapa saja bisa melihatnya sendiri, karena memang itulah yang terjadi. sri mulyani, kelemahan kasus ahmadiyah, amrik minded, harga bbm, dan kejaiman sby, semuanya bisa dilihat. tetapi yang pertama, menurut saya, masih masuk perkara ghaib, masih belum bisa dipastikan iya atau enggaknya karena menyangkut perkara amal-ibadah.

    3. fakta bencana memang ada, tapi opini yang menyertainya bukanlah sebuah perkara yang kasat mata.

    4. poin selain yang pertama bisa dirasakan dengan cara melihat ke belakang, sedangkan yang pertama, well, pembuktiannya masih di masa depan karena benar-tidaknya semua bencana ini gara-gara ulah sby pun masih rancu.

    makanya saya bilang, lebih enak kalo poin pertama anda dialihkan sifatnya; menjadi catatan tambahan dan bukan poin utama. karena ya beberapa perkara yang saya sebutkan di atas itu tadi.

  4. Stop Dreaming mengatakan:

    ulasan yang menarik
    salam hangat

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 160 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: