Sebagian Pengalamanku dalam Dakwah

Alhamdulillah laa haula wa laa quwwata illa billah. As shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam tulisan ini saya ingin menceritakan beberapa pengalaman yang pernah saya alami dalam dakwah Islam. Rata-rata adalah pengalaman bernuansa kerpihatinan. Namun semua ini hanya sebagian pengalaman saja, sekedar sebagai ibrah untuk dipahami. Dan misi utama dari penuturan ini adalah agar kita lebih mengerti kondisi sebenarnya saat berhadapan dengan kaum Muslimin di Indonesia.

Pihak-pihak yang saya hadapi dalam aktivitas dakwah itu sendiri beragam. Disini sengaja tidak disinggung nama-nama atau sebutan mereka secara verbal, karena tujuannya memang untuk mengambil pelajaran. Kalau dihitung secara waktu, bisa jadi semua pengalaman itu terjadi dalam rentang waktu lebih dari 10 tahunan. Dan jika dalam penuturan ini ada salah dan kekurangan, mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Kepada Allah juga kita memohon rahmat, hidayah, dan ampunan-Nya. Allahumma amin.

Berikut beberapa pengalaman dakwah yang pernah saya alami:

[ 1 ] Waktu itu saya masih remaja. Tapi alhamdulillah, sudah mulai memahami aspek-aspek ajaran Islam. Di masjid kami setiap bulan diadakan pengajian umum, diisi oleh seorang ustadz senior dari Kabupaten Malang. Masjid tempat kami shalat, adalah masjid warga Nahdhatul Ulama. Dalam tradisi NU, mereka sangat menghormati para alim-ulamanya. Termasuk bentuk-bentuk penghormatan secara fisik.

Suatu hari, setelah Shalat Isya’, jamaah masjid sedang menanti datangnya ustadz (Bapak Kyai Haji) pengisi pengajian. Jamaah yang menanti sudah banyak, tetapi ustadz-nya masih belum kunjung datang. Kami menanti dengan gelisah. Pihak Ta’mir Masjid (semacam DKM) kelihatan keluar-masuk masjid sambil gelisah. Saya sendiri hanya diam saja di dalam masjid sambil menanti.

Tidak lama kemudian tampak kegaduhan. Oh, rupanya ustadz yang dinanti sudah tiba. Para jamaah yang tadinya menanti di masjid, mereka segera bangkit dari duduknya, lalu menghambur keluar ruangan masjid, untuk menyambut ustadz tersebut. Mereka berdiri, bergerombol, berdesak-desak mendekati ustadz yang baru masuk ruangan. Sebagian mereka, mencium tangan ustadz tersebut sambil membungkuk-bungkukkan badannya.

Sari sekian banyak hadirin yang ada di dalam masjid, hanya saya sendiri yang tetap duduk. Saya tidak bereaksi, selain melihati tingkah orang-orang itu. Terus-terang saya tidak suka menyambut seseorang secara berlebihan seperti itu. Nabi Saw pernah datang ke suatu majlis, lalu para Shahabat Ra. berdiri menyambut kedatangannya. Ternyata, Nabi bukan senang, justru beliau mengecam perbuatan seperti itu. Kata beliau, cara penghormatan seperti itu telah membuat kaum-kaum di masa lalu binasa.

Akhirnya, pengajian pun dimulai. Saya duduk agak ke depan, meskipun tidak paling depan. Sepanjang acara pengajian itu, saya perhatikan ustadz penceramah tersebut. Beliau tidak mau mengarahkan wajahnya ke saya. Jangankan tersenyum, sekedar mata menatap ke arah saya pun tidak. Materi pengajian itu sendiri sudah tidak teringat di benak saya. Tetapi sikap ustadz tersebut selalu teringat.

[ 2 ] Ketika SMA, saya masuk sekolah favorit di Malang. Sebagian besar siswa di sekolah ini dari keluarga yang mapan ekonomi. Saya mungkin termasuk sebagian siswa yang kurang bisa bersaing karena lemah dari sisi fasilitas. Di sekolah ini saya jumpai seorang pelajar laki-laki yang istimewa. Dia dari kelas sebelah. Selain pintar secara akademik, dia aktif di OSIS dan berprestasi dalam kompetisi-kompetisi antar pelajar. Kalau tidak salah, dia sempat menjadi pelajar teladan se-Indonesia. Di sekolah kami, meraih gelar tingkat Indonesia itu bukan hal aneh, sudah sering terjadi.

Hanya saja, siswa itu dalam pergaulan sehari-hari bersikap sekuler. Ya, seperti umumnya teman-teman di sekolah kami waktu itu. Mayoritas bersikap sekuler, hanya sedikit yang peduli dengan nilai-nilai keislaman. Yang berani memakai jilbab pun bisa dihitung dengan jari. Itu pun masih bongkar-pasang, sebab belum diperbolehkan memakai jilbab secara penuh di kelas. Klub-klub kajian Islam pun sepi peminat. Jika ada anggota, suasananya terkesan formalistik.

Suatu saat, di sekolah ada peringatan hari besar Islam. Saya lupa tepatnya, apakah Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj. Di aula sekolah diadakan seremoni peringatan hari besar tersebut. Menariknya, siswa tadi didaulat untuk memberikan orasinya di depan hadirin. Padahal saya tahu, dia bukanlah pelajar yang komitmen dengan nilai-nilai Islam. Dia bersikap sekuler, atau hanya berorientasi akademik saja. Entahlah, atas dasar apa siswa itu dipilih untuk berorasi? Yang jelas, dia sama sekali tidak dianggap mewakili arus semangat Islam di sekolah.

Setelah orasi itu, suatu saat seorang teman sekelas berbicara kepada saya. Dia memuji siswa yang berprestasi itu. Kata teman saya, selain siswa itu pintar secara akademik, dia juga bisa menyampaikan orasi keislaman. Prestasi sekolah bagus, pengetahuan keislaman bagus. Begitulah kesimpulan sederhana dari teman saya.

Terus terang, saya tidak suka dengan pujian terhadap siswa itu. Bukan karena saya iri hati, atau saya menginginkan kesempatan berorasi. Saya sendiri kalau diminta mengisi orasi itu, belum tentu bisa melakukannya. Tetapi saya melihat, siswa itu bercorak sekuler, jauh dari nilai-nilai Islami. Dia sangat mendukung budaya “glamor klas menengah” di sekolah. Menurut saya, orang seperti itu tidak layak berbicara tentang Islam. Dia hanya bicara Islam dalam tataran teori, bukan sebagai tanggung-jawab. Namun, di mata guru-guru kami waktu itu, sosok seperti siswa itu sudah dianggap memadahi untuk berbicara tentang Islam. Maklum, segala sesuatu diukur dari sisi seremoni, bukan tanggung-jawab.

Saat ini, siswa itu menjadi seorang eksekutif di sebuah perusahaan telekomunikasi. Kalau melihat penampilan dan foto-fotonya, tampaknya sikap sekuler itu masih terus dipegang sampai saat ini. Semoga Allah Al Hadi memberikan hidayah kepada hamba-Nya agar sadar dari kekeliruan-kekeliruannya. Allahumma amin.

[ 3 ] Kami sekeluarga pernah tinggal di dekat sebuah kampus negeri di Bandung. Disana kami mengontrak sebuah rumah, di tengah-tengah pemukiman penduduk. Berkali-kali kami berpindah kontrakan dari satu rumah ke rumah lain. Saya, isteri, dan anak-anak yang waktu itu masih kecil-kecil; kami hidup berumah-tangga, sambil tetap menjalani aktivitas kuliah.

Di dekat rumah kami ada sebuah mushalla kecil. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi alhamdulillah setiap hari selalu diadakan shalat berjamaah di dalamnya. Kami berkenalan baik dengan tetangga, anak-anak, para remaja, serta ustadz pembimbing di masjid itu. Seperti umumnya masjid lain, warga disana juga orang-orang NU. Sementara kami sendiri waktu itu terlibat dalam sebuah jamaah dakwah modern.

Secara umum, warga masjid menyambut baik kedatangan kami. Anak-anak dan para remaja sangat senang dengan kehadiran kami di masjid. Mereka sering datang ke rumah untuk silaturahmi. Sebenarnya, yang banyak terlibat dengan anak-anak adalah isteri. Saya hanya mendukung saja. Istri bisa dikatakan aktif dengan kreasi-kreasi kegiatan untuk menyemarakkan kegiatan anak-anak.

Anak-anak itu tampak begitu haus dengan ilmu-ilmu dan kegiatan keislaman. Mereka sering datang ke rumah. Mereka juga begitu nurut ketika diarahkan. Karena begitu tulusnya mereka, suatu saat saya menawarkan untuk mengajar mereka di masjid, setiap habis Shalat Ashar. Disana saya mengajarkan hadits-hadits pendek, cara membacanya, arti terjemahnya, dan pemahamannya. Hal ini terjadi beberapa kali. Dan alhamdulillah anak-anak sangat antusias dengan pelajaran itu.

Namun setelah pelajaran itu berlangsung beberapa kali, ustadz pembimbing di masjid itu melakukan tindakan di luar dugaan. Dia mengambil porsi pelajaran yang biasa saya berikan, tanpa terlebih dulu bericara kepada saya. Sejak saat itu, saya tidak bisa lagi mengajar anak-anak. Pelajaran diambil-alih ustadz tersebut. Bahkan anak-anak pun mulai menjauhi kami. Mereka tidak tampak datang silaturahmi ke rumah kami. Bahkan yang kami dengar, mereka sibuk dengan berbagai acara di rumah ustadz itu.

Saya menduga, ustadz itu khawatir pengaruhnya tergeser oleh kami. Dia melakukan hal-hal yang tidak mengenakkan, untuk menjauhkan anak-anak dari kami. Padahal, awalnya kami hanya mau membantu mengisi kegiatan anak-anak. Itu pun atas permintaan anak-anak sendiri. Bahkan ustadz itu pun meminta dukungan kami untuk membantunya membimbing anak-anak.

[ 4 ] Saya pernah beberapa lama terlibat dalam kegiatan dakwah di Bandung. Kami ikut dalam kajian, daurah, tabligh, seminar, diskusi, bedah buku, dan sebagainya. Kadang kala kami ikut sebagai peserta, kadang kami menjadi panitia. Alhamdulillah, saya sering memberi masukan-masukan untuk kemajuan dakwah. Kadang masukan itu diterima, kadang tidak. Ya, lazimnya usulan-usulan.

Suatu hari saya konsultasi dengan pembimbing (Murabbi). Saya katakan kepada beliau, bahwa untuk kemajuan dakwah kita membutuhkan lembaga (yayasan) untuk menyelenggarakan program-program penting. Dari berbagai yayasan yang ada waktu itu, saya merasa kami membutuhkan yayasan baru untuk menjalankan program-program yang tidak tertangani selama ini. Secara terus-terang, saya sampaikan kepada Murabbi, bahwa kami perlu mendirikan yayasan baru.

Murabbi mendukung niat saya. Saat saya katakan, bahwa kalau lembaga itu berdiri, saya harus menjadi ketuanya. Hal ini bukan karena saya “gila jabatan”. Tetapi untuk menggulirkan program baru, memang para perintisnya sendiri yang harus memulainya. Secara emosi, konsep, dan semangat, para perintis lebih memiliki komitmen ketimbang orang-orang yang hanya membantu. Murabbi sepenuhnya setuju. Beliau menekankan alasan yang sama. Namun untuk memastikan, bahwa rencana itu disetujui atau tidak, Murabbi akan konsultasi dengan teman-temannya.

Saat saya bertemu Murabbi, hati saya cemas, apakah usulan itu diterima atau tidak? Dengan bijaksana, Murabbi menjelaskan, bahwa teman-temannya tidak setuju jika harus membuat lembaga baru. Alasan mereka sangat sederhana, di Bandung sudah banyak berdiri yayasan. Ternyata, sebagian besar yayasan itu tidak jelas kiprah dan kegiatannya. Akte yayasan banyak, tetapi kegiatannya sepi. Nah, usulan mendirikan lembaga baru kurang didukung. Tetapi saya dipersilakan memanfaatkan salah satu dari yayasan yang ada.

Sebenarnya, saya kecewa karena tidak bisa mendirikan lembaga baru. Tetapi saya juga memaklumi alasan yang dipakai untuk menolk usulan tersebut. Akhirnya, saya menerima usulan untuk memakai salah satu yayasan yang ada sebagai kendaraan untuk menggulirkan program-program dakwah. Saya menanti kepastian dari Murabbi tentang yayasan yang akan dipakai tersebut. Kata Murabbi, ada salah satu temannya yang siap menyerahkan legalitas yayasannya untuk saya pakai.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya saya bertemu lagi dengan Murabbi. Saya tanyakan kepada beliau tentang yayasan yang bisa digunakan tersebut. Apa nama yayasan itu dan kapan bisa mulai dipakai? Ternyata, jawaban Murabbi sangat di luar dugaan. Beliau mengatakan, bahwa temannya yang memiliki yayasan itu tidak rela untuk menyerahkan yayasannya untuk saya pakai.

Luar biasa, saya hanya tersenyum kecut saat mendengar jawaban itu. Ketika kami ajukan rencana mendirikan lembaga baru, usulan kami ditolak. Kami disuruh memakai legalitas yayasan yang ada. Namun saat ada satu yayasan yang katanya mau dipakai, ternyata pemiliknya menolak legalitas lembaganya kami gunakan. Singkat kata, tidak perlu lembaga baru, tidak perlu program baru.

Lihatlah dengan pandangan yang jujur! Begitu banyak akte yayasan menganggur, karena para pemiliknya tidak memanfaatkan lembaganya secara maksimal. Saat ada yang mau memanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan, sangat sulit mencari orang-orang yang legowo untuk memberikan fasilitas. Sepertinya, di mata orang kita, sebuah piring lebih baik menganggur, disimpan di rak sampai lapuk, asal tetap di rumah sendiri. Daripada piring itu dibawa keluar, dan pakai orang lain.

[ 5 ] Saya pernah terlibat dalam aktivitas politik. Waktu itu saya menjadi salah satu kader dalam sebuah partai bermissi dakwah. Sebenarnya, sejak masih kuliah, jika terlibat dalam lembaga, saya kurang suka menjadi pengurus. Saya lebih banyak terlibat sebagai pendukung. Jarang sekali masuk dalam jajaran pengurus. Begitu pula saat muncul partai dakwah itu, saya tidak berambisi meraih jabatan tertentu.

Pasca Pemilu 1999, partai kami menderita kekalahan. Kami gagal melewati batas electoral treshhold, sehingga tidak bisa ikut dalam Pemilu selanjutnya (dengan nama yang sama). Pasca kekalahan itu, mayoritas para kader, termasuk para mahasiswa, merasa sangat down. Kami mengira akan mampu meraih dukungan besar, ternyata hasil dukungan untuk partai kami hanya sekitar 1, 5 % saja. Teman-teman saya lihat sudah mulai berputus-asa. Saya berkali-kali menyampaikan taujih (arahan) agar mereka tetap tegar dan terus berjuang. Alhamdulillah, meskipun secara umum partai kami kalah, tetapi pelan-pelan teman-teman mulai pulih semangat. Mereka mulai biasa kembali dikumpulkan, lalu mengadakan rapat-rapat.

Dalam kondisi mulai pulih itu datang sebuah kabar. Ketua pengurus partai di kelurahan kami berniat mundur. Alasan dia, mau meneruskan kuliah S2, jadi tidak bisa concern dengan urusan partai. Tidak lama kemudian, dia menggelar Muker (musyawarah kerja). Ternyata, salah satu agenda Muker itu adalah memilih pemimpin yang baru. Entah bagaimana mulanya, ternyata saya ditunjuk untuk menggantikan ketua itu. Teman-teman yang lain punya alasan-alasan untuk menolak, termasuk para mahasiswa. Setelah acara itu selesai, saya benar-benar terpilih sebagai ketua yang baru. Antara percaya dan tidak, saya pulang sudah sebagai seorang ketua pengurus partai. Meskipun levelnya baru seukuran kelurahan.

Beberapa lama saya menjadi ketua, pihak pengurus di kecamatan protes. Mereka tidak mau mengakui kepemimpinan saya, sebab katanya Muker yang waktu itu diadakan tidak seijin ketua partai kecamatan. Saya terus-terang bingung, antara meneruskan program yang baru dibuat, atau memenuhi protes pengurus tingkat kecamatan. Hal ini sempat menjadi konflik tersendiri. Setidaknya konflik dalam diri saya. Saya tidak terobsesi dengan jabatan itu. Bukan saya yang menginginkan, tetapi akhirnya saya yang dipojokkan.

Karena memang sejak awal saya tidak memiliki ambisi macam-macam, ketika jabatan itu diminta dikembalikan kepada ketua yang lama. Saya tidak keberatan. Hanya saya merasa dipermainkan oleh birokrasi yang aneh itu. Dan yang menarik lagi, salah satu yang juga berambisi mencopot jabatan dari saya, justru mantan ketua partai yang semula menggelar Muker itu sendiri. Saya sempat bersitegang dengan dia, sebelum akhirnya jabatan itu saya kembalikan kepadanya.

Ini termasuk salah satu pengalaman aneh yang pernah saya alami. Saya tidak punya obsesi untuk menjadi ketua. Lalu saya dipaksa-paksa mengambil jabatan ketua, ketika yang lain tidak ada yang mau. Setelah jabatan dipikul, saya malah dipersalahkan. Bahkan yang gemas ingin mengambil jabatan itu, salah satunya adalah ketua yang semula menunjuk saya sebagai penggantinya.

[ 6 ] Dalam beberapa tahun lalu, saya menjadi salah satu pembina muallaf di sebuah yayasan di Bandung. Saya sering mengisi pengajian, sebulan sekali. Temanya macam-macam, seputar wawasan Islam. Ya alhamdulillah, disini ada kenangan-kenangan manis, tetapi juga ada kenangan-kenangan sedih.

Suatu hari, pengurus yayasan mengontak saya. Dia meminta saya mengisi sebuah acara pengajian di sebuah daerah di Bandung. Teman-teman yang lain tidak ada yang bisa. Mereka meminta saya mengambil amanah itu. Waktu persiapannya terbatas. Akhirnya saya sanggupi. Dalam benak saya, pengajian itu semacam majlis taklim para mahasiswa yang ingin tahu sepak-terjang pembinaan muallaf.

Saat malam itu saya sampai di lokasi, saya sangat kaget. Ternyata, acara diadakan di masjid masyarakat, dengan segala persiapan yang meriah. Ya Allah, saya tidak menyiapkan diri untuk acara seperti itu. Bayangkan, pakaian yang saya pakai biasa saja, sekedar layak untuk bertemu di majlis-majlis mahasiswa. Apalagi kemudian disana ada acara tarian dan musik yang dibawakan anak-anak. Benar-benar acara resmi, layaknya pengajian di tengah-tengah masyarakat. Dan yang lebih menarik lagi, teman-teman kami dari yayasan itu tidak ada satu pun yang datang. Saya merasa seperti “diumpankan ke kandang harimau”.

Alhamdulillah, dalam acara itu saya sampaikan saja materi seperti yang saya rencanakan. Dengan suara yang bersemangat saya sampaikan paparan demi paparan. Sebagian besar isi ceramah sifatnya serius. Betapa sulitnya saya mengangkat humor-humor tertentu dalam situasi seperti itu. Namun alhamdulillah, masyarakat mendengarkan dengan baik, perhatian, meskipun muka-muka mereka tampak serius. Acara menjadi lebih menarik ketika muncul sesi tanya-jawab.

Beberapa pertanyaan bisa dijawab dengan baik, alhamdulillah. Sampai kemudian datang berdiri seorang bapak-bapak. Dia berdiri tepat di pintu, lurus dengan kursi tempat saya duduk. Mula-mula dia berbicara sopan. Tetapi kemudian, dia benar-benar menyerang saya di depan para hadirin. Dia mengkritik saya dan mencela saya karena hadir dengan pakaian seadanya. Dia menyebut saya kurang bisa menghargai acara resmi yang diadakan masyarakat itu.

Tentu saja, para jamaah gaduh dengan pertanyaan itu. Saya sendiri merasa tersulut emosi. Betapa tidak, saya merasa dipermalukan di depan jamaah masjid. Maka kembali saya sampaikan kepada jamaah masjid, bahwa saya semula tidak menduga acara akan resmi seperti itu. Saya mempersiapkan diri untuk mengisi majlis taklim di kalangan mahasiswa. Ternyata kenyataannya berbeda jauh. Juga saya sampaikan kepada hadirin, dalam sebuah hadits, Nabi Saw mengatakan bahwa Allah itu tidak melihat rupa dan jasad manusia, tetapi melihat hati-hatinya.

Sayangnya, bapak yang bertanya tadi, dia tidak mendengarkan dengan tuntas jawaban tersebut. Kalau tidak salah, dia keluar begitu saja, setelah menyampaikan pertanyaan kritik secara terang-terangan itu. Saya sendiri menyesalkan teman-teman yang tidak memberi informasi lengkap seputar pengajian itu. Namun alhamdulillah, respon masyarakat disana sangat baik. Mereka bersimpati kepada saya, dan memohon maaf atas pertanyaan yang bersifat menyerang seperti itu.

Saya juga tidak mengerti. Isi ceramah saya memang tentang dunia muallaf. Tetapi disampaikan secara serius. Masya Allah, ternyata masyarakat tetap antusias dengan metode seperti itu. Ini sungguh tidak disangka.

[ 7 ] Masih seputar kegiatan di yayasan yang membina para muallaf itu. Di lembaga ini berbeda dengan situasi jamaah-jamaah dakwah. Apalagi kalau dibandingkan dengan suasana majlis-majlis taklim Salafiyyah. Disini suasananya cair, masih banyak Muslimah yang belum berjilbab. Malah kadang, mereka datang ke masjid dengan memakai pakaian seksi. Ada kesungguhan untuk belajar, beribadah, dan silaturahim, tetapi teman-teman itu ingin tetap bersikap “cair”.

Kalau Anda sepintas melihat saya, dijamin Anda akan menjaga jarak, kira-kira dalam radius 5 m. (He he he…becanda). Di mata banyak orang, saya itu dianggap sangat serius, dahinya selalu berkerut, kalau berbicara halal-haram melulu (he he he…apa benar?). Mereka tidak tahu kalau dalam pembinaan muallaf tadi, saya banyak bergaul dengan orang-orang yang “cair”. Ya cara berpakaian, cara bicara, maupun cara bergaulnya, masih banyak yang seperti anak-anak muda umum.

Sebenarnya, di lembaga ini saya kadang diberi kesempatan untuk mengisi acara kajian. Waktu itu sebulan sekali. Setelah saya mundur dari aktifitas, mungkin 6 bulan sekali saya berceramah disana. Waktu itu saya terpikir untuk mengisi acara-acara yang dihadiri oleh masyarakat umum (bukan muallaf). Misalnya, saat khutbah Jum’at dan ceramah Tarawih. Saat itu, ada masyarakat umum yang hadir, sehingga kajian-kajian kita diharapkan lebih luas lagi pendengarnya. Kalau hanya mengandalkan pengajian muallaf, yang hadir sedikit. Paling sekitar 10 orang atau kurang. Sayang, kalau kita sudah susun materi-materi yang baik, yang mendengarkan hanya sedikit. Alangkah baik kalau pendengarnya lebih banyak.

Saya pernah berbicara dengan ketua bagian ibadah masjid. Dia bapak-bapak yang bertanggung-jawab menyusun agenda khutbah, ceramah, dan lain-lain di masjid itu. Saya tanya, apa ada peluang bisa mengisi Khutbah Jum’at atau ceramah Tarawih? Jawabannya negatif, tidak ada. Kata dia, jadwal sudah disusun setahunan, jadi sulit memasukkan orang baru. Meskipun begitu, kalau ada jadwal baru, dia juga tidak mau mencantumkan nama saya. Yang dia cantumkan hanyalah orang-orang yang dia kenal, langganan lembaga, dan dirinya sendiri. Padahal tujuan saya, bukan soal “amplop” yang akan diterima. Tetapi tujuan menyebarkan ilmu itu sendiri. Andai saya tidak diberi amplop pun, tidak masalah.

Kesan yang saya tangkap, ketua bagian ibadah itu ingin memonopoli acara-acara ceramah di masjid itu. Atau dia takut, kalau saya bermaksud “memburu amplop”. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Suatu hari di bulan Ramadhan, saya sengaja singgah di masjid itu. Kebetulan sorenya ada acara buka bersama, jadi sekalian ikut Shalat Tarawih disana. Setelah Shalat Isya’ akan diadakan ceramah Tarawih, baru kemudian Shalat Tarawih-nya. Seorang teman membisiki saya, nanti ketua bagian ibadah itu akan melakukan perbuatan aneh. Kata teman itu, perbuatan itu hampir setiap hari dia lakukan.

Jadi, setiap selesai Shalat Isya’, akan ada beberapa pengumuman dari pengurus. Setelah pengumuman, baru acara ceramah Tarawih. Setelah ceramah selesai, baru dilakukan Shalat Tarawih. Demikian jadwal hariannya, setiap malam saat Ramadhan. Ketua bagian ibadah itu, selain dia punya jadwah menjadi penceramah Tarawih, dia juga selalu menyampaikan pengumuman. Pengumuman biasanya isinya tentang jadwal penceramah malam itu, penceramah besok, saldo infak, dan pengumuman-pengumuman lain. Hanya saja, saat membawakan pengumuman itu, ketua ibadah itu sering berceramah kesana-kemari tidak jelas. Setidaknya dia sendiri memakan waktu 15 menit untuk menyampaikan pengumuman semacam itu. Hal itu terjadi setiap hari, setelah lewat Shalat Isya’.

Ketua bagian ibadah itu sepertinya sangat menikmati bicara di depan orang banyak, sangat senang berceramah, dan ingin menguasai sebanyak jadwal ceramah. Masya Allah, saat saya tanya peluang ceramah, dia begitu pelit memberikan kesempatan. Hampir-hampir saya tidak pernah diberi kesempatan oleh dia, kecuali kalau saat terpaksa. Namun untuk dirinya sendiri, dia begitu menikmati.

Sampai teman saya mengatakan, “Nanti dia akan melakukan sesuatu yang aneh. Ya, nanti lihat saja sendiri.” Bayangkan, dia selalu menyisipkan ceramah di sela-sela pengumuman yang dia bawakan. Itu terjadi saban hari, setiap malam di bulan Ramadhan. Belum lagi kebiasaan dia untuk memonopoli posisi iman dalam shalat berjamaah. Orang ini seperti sangat ingin diakui eksistensinya.

[ 8 ] Pengalaman di masjid dekat rumah. Ini adalah masjid yang berlokasi di sebuah komplek. Penghuni komplek perumahan di kami bukan kalangan fakir-miskin, meskipun bukan pula kalangan jet set. Banyak orang berpendidikan, PNS, dosen, guru, karyawan BUMN, karyawan swasta, pensiunan, usaha mandiri, dll. Kalau melihat arsitektur masjidnya, kita menyangka orang-orang yang ada di dalamnya bersikap terbuka, fair, progressif. Tetapi kalau kita hadir di tengah-tengah mereka, baru akan tahu, bahwa situasinya tidak selalu mudah.

Waktu pertama kali saya masuk masjid itu, saya didaulat untuk menjadi imam oleh pengurus masjid tersebut. Itulah pertama kalinya saya didaulat menjadi imam, dan setelah itu tidak pernah didaulat menjadi imam lagi, meskipun bertahun-tahun saya menjadi jamaah masjid itu. Kecuali saat saya diminta mengisi Khutbah Jum’at atau ceramah Tarawih, itu sudah otomatis menjadi imam. Tetapi untuk shalat berjamaah sehari-hari tidak pernah disuruh menjadi imam.

Disana, ada seorang mantan Ketua DKM yang memiliki keyakinan aneh. Dia warga pribumi dan tidak suka dengan warga pendatang, seperti saya (dari Malang/Jawa). Banyak warga dari daerah lain juga merasakan sikap tidak bersahabat dari orang itu. Entahlah, saya tidak tahu bagaimana keyakinan dia. Pernah dia mengundang saya ikut rapat. Padahal hal itu semula hampir tidak pernah terjadi. Saat dalam rapat, saya bersikap kritis. Sejak kejadian itu, saya tidak pernah lagi diundang untuk rapat dalam kegiatan-kegiatan lain.

Saya pernah berceramah atau Khutbah Jum’at di masjid, saat lagi ramai-ramainya kasus terorisme. Isi ceramah saya mengecam perlakuan buruk yang sekian lama menimpa kaum Muslimin. Sebagian jamaah masjid mencurigai saya pro kegiatan terorisme. Orang seperti itu kadang menyindir saya, atau kadang berbicara berbisik-bisik kepada orang lain. Berbicara terus-terang dia tidak berani, tetapi berbisik-bisik atau membangun opini, itu yang dilakukan.

Disana juga ada seorang pensiunan. Kalau tidak salah pensiuan Depag. Nah, orang ini adalah jagoan monopoli kegiatan masjid. Waktu kepemimpinan di tangan Ketua DKM lama, dia kasak-kusuk terus menggalang dukungan. Dia mengusulkan supaya diadakan semacam musyawarah bersama untuk memilih Ketua DKM baru. Akhirnya acara itu benar-benar terlaksana. Ketua DKM lama turun, dan dia sendiri mau sebagai penggantinya. Padahal setahu saya, orang ini belum lama tinggal di komplek kami, tapi sudah begitu mendominasi.

Jadwal imam shalat jamaah, jadwal Khutbah Jum’at, jadwal ceramah Ramadhan, padat diisi oleh orang itu. Bahkan acara Khutbah dan ceramah Shalat Ied pun pernah dia isi sendiri. Benar-benar memonopoli keadaan. Padahal kalau sedang Khutbah Jum’at, dia selalu membaca teks yang isinya berlembar-lembar, dengan bahasa seperti kakek-kakek “jadul”, dengan intonasi yang efektif mendorong orang tertidur pulas. Hal itu terjadi bertahun-tahun lamanya.

Mula-mula, saya datang ke masjid itu dengan niat tulus untuk membaktikan tenaga untuk kegiatan Islam. Namun tujuan ini tidak bisa terlaksana, sebab pihak pengurus DKM ada yang membenci kaum pendatang (seperti saya, dari Jawa). Akhirnya, saya putusnya cukup menjadi jamaah masjid saja, tidak perlu memiliki obsesi apapun. Ternyata yang seperti itu pun tidak berjalan mulus. Di masjid kemudian berkembang monopoli yang amat kuat. Kecurigaan, blok-blokan, tarik-menarik, dan lain-lain. Sampai pernah terjadi, ada orang-orang baru di masjid. Entah bagaimana mulanya, padahal antara kami belum saling mengenal. Mereka menampakkan tatapan tidak suka terhadap saya. Luar biasa, kenal saja belum, tetapi saya sudah tidak disukai. Padahal, disini saya sudah komitmen hanya akan menjadi jamaah masjid saja. Tidak ada obsesi meraih apapun, selain itu.

Akhirnya, datang ke masjid itu seperti datang ke sebuah tempat yang penuh konflik batin. Sampai saat ini saya masih susah berdamai dengan orang-orang di masjid itu. Meskipun begitu, tidak semua kalangan disana menjengkelkan hati. Sebagian mereka bisa tercipat hubungan baik. Hanya sayangnya, mereka umumnya jamaah biasa. Tidak memiliki posisi yang kuat di masjid.

Pernah saya bertemu dengan seorang kakek-kakek, jamaah masjid itu. Alhamdulillah, kami berkenalan baik. Saya bertemu beliau di jalan. Beliau bertanya, kemana saja saya tidak pernah terlihat di masjid? Belum juga saya sampaikan jawaban, beliau mengatakan bahwa dirinya tidak berdaya. Beliau hanya seorang kakek-kakek, hanya jamaah masjid saja. Beliau tidak bisa menolong saya menghadapi situasi di masjid. Dan hampir bisa dikatakan, tidak ada satu pun jamaah yang mau membantu saya keluar dari hubungan buruk dengan elit-elit masjid. Padahal tujuan saya semula sederhana sekali, hanya ingin menjadi jamaah biasa. Itu saja.

Selama bertahun-tahun, tidak ada jamaah masjid yang mau silaturahim ke rumah saya. Kecuali ada beberapa orang pernah datang, karena ada keperluan. Justru menariknya, tetangga-tetangga kami yang Nashrani, mereka bersikap ramah, saling menyapa, dan berkunjung ke rumah. Tidak segan-segan, tetangga Nashrani itu memberi buah-buahan ke kami. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh satu pun dari jamaah masjid itu. Ini sungguh ironi. Kok malah tetangga-tetangga yang Nashrani malah bersikap baik.

[ 9 ] Saya pernah membina beberapa orang pemuda kampun dengan kajian-kajian Islam secara rutin, sepekan sekali. Materinya mula-mula kajian pemikiran ekonomi, lalu teknik menulis, lalu wawasan Islam, sampai akhirnya kajian ruhiyah. Pemuda-pemuda ini baik sikapnya, semangat menuntut ilmu, dan memiliki ghirah Islam. Hanya kekurangannya, mereka menderita ketergantungan kuat pada rokok.

Mula-mula saya tidak keberatan dengan kebiasaan mereka merokok. Bagi saya, para perokok tidak harus dijauhi, tetapi harus didekati. Tetapi lama-lama saya mulai keberatan, sebab ketergantungan mereka sepertinya sudah sedemikian kuat. Mereka sering merokok di luar masjid, saat menanti saya datang. Kalau saya tiba, mereka segera mematikan rokoknya. Nanti, setelah pengajian, meskipun saya masih di dalam masjid, mereka merokok lagi di luar. Bahkan di antara mereka ada yang seperti “lokomotif”, sangat aktif menghembuskan asap dari mulutnya. Padahal pemuda itu kurus-kurus dan kadang batuk-batuk.

Saya sengaja menawarkan kajian ruhiyah, sebenarnya untuk menerapi mereka agar mau meninggalkan rokoknya. Tetapi ketika kajian itu hampir selesai, mereka tetap saja merokok. Ada sebagian yang mengaku, sulit memutuskan untuk tidak merokok. Katanya, pusing kalau tidak merokok. Terus terang saya kasihan melihat mereka. Apalagi kalau melihat sedang batuk-batuk.

Semula saya memiliki harapan baik kepada para pemuda itu. Terserah mereka akan menjadi apapun, asalkan baik. Tetapi dengan kecanduan yang sangat berat ke rokok, kecil kemungkinan mereka akan berubah secara progressif, atau bisa memikul usaha-usaha perbaikan Ummat. Pembinaan-pembinaan yang diberikan pun, dengan materi seperti apapun, serasa “membentur tembok”. Ini karena pengaruh sangat berbahaya dari rokok itu sendiri.

Saya memahami, rokok adalah ranjau kehidupan para pemuda. Kalau mereka tenggelam dalam pelukan rokok, mereka akan mengalami degradasi kehidupan yang besar. Rokok bisa merusak kesehatan, intelijensia, memori, bahkan mentalitas mereka. Lebih dari itu, mereka akan terkurung dalam “penjara kemiskinan”. Menurut data, 70 % perokok itu adalah orang miskin. Dan rokok ini merupakan sebuah special design untuk melumpuhkan kekuatan Ummat.

[ 10 ] Saya pernah mengajak beberapa orang aktivis Islam untuk membangun jaringan ekonomi Muslim. Hal ini dilakukan karena problem kemiskinan di tubuh kaum Muslimin sangat parah. Meskipun organisasi pergerakan yang pertama muncul di kalangan Islam (bahkan di Indonesia) adalah SDI atau Sarikat Dagang Islam. Ternyata, spirit Haji Samanhudi dan kawan-kawan tidak mampu kita tangkap di hari ini. Bahkan belum juga SDI berkembang kuat, kaum Muslimin sibuk dengan Sarikat Islam (SI) yang lebih berorientasi politik. Sejak saat itu perhatian terhadap ekonomi Ummat diabaikan. Sayang sekali!

Agama tidak akan tegak, jika tidak memiliki fondasi maal (harta). Tidak berlebihan jika dalam konsep Jihad, dikenal istilah jahidu bil amwali wal anfusi (berjihad dengan harta dan jiwa). Sebagian kalangan menafsirkan, tidak kebetulan ketika harta diletakkan lebih dulu dari jiwa. Banyak Muslim siap berkorban jiwa, tetapi tidak banyak yang mampu berkorban secara materi (harta). Tanpa dukungan harta, Islam tidak akan tegak sampai di jaman kita ini.

Ada suatu harapan di hati untuk membangun usaha bisnis Muslim. Sebenarnya, hal seperti ini sudah banyak dibicarakan orang. Banyak aktivis Islam membicarakan masalah ini, bahkan banyak juga yang sudah terjun membuat usaha. Jika baru sekarang kita bicara tentang bisnis Muslim, seolah membicarakan ide yang sangat terlambat. Tetapi spirit yang saya rasakan berbeda. Tidak ada kata terlambat dalam membangun bisnis Muslim. Selama Islam membutuhkan dukungan dana, selama itu pula bisnis Muslim selalu relevan.

Secara pribadi saya sangat tertarik untuk mempelajari, sebab-sebab apa yang membuat bisnis Ummat Islam di Indonesia selama ini gagal. Mengapa terjadi kegagalan? Apa faktor-faktor penyebabnya? Meskipun ide bisnis Muslim bukan sesuatu yang baru lagi, namun ketika melihat kegagalan prestasi Ummat di bidang ekonomi, hal itu menandakan langkah-langkah kita selama ini salah.

Waktu itu, langkah yang mula-mula saya lakukan adalah membangun komunikasi. Saya melakukan pendekatan kepada kenalan-kenalan. Kadang saya diskusi, meyakinkan, berdebat, sampai berkata-kata dengan penuh tekanan. Beberapa orang menyambut diskusi saya. Mereka kelihatan tertarik dan ingin bekerjasama. Setiap pekan sekali saya bertemu mereka, kadang lebih dari sekali. Diskusi demi diskusi terus dikemukakan, begitu pula ide-ide kreatif. Saya merasa optimis, ketertarikan sebagian teman akan berlanjut pada usaha-usaha kongkrit. Dana kegembiraan saya semakin kuat, ketika sebagian teman secara nyata mulai membuka usaha. “Nah, ini dia. Tidak sekedar bicara, tetapi ada bukti nyata,” begitulah kesimpulan saya waktu itu.

Namun seiring waktu berjalan, kerjasama di antara kami semakin memudar. Pertemuan-pertemuan semakin jarang, informasi sedikit disampaikan, koordinasi semakin tidak efektif. Teman yang membuka usaha itu, dia terlalu cepat menutup usahanya, dan beralih ke bidang lain. Sementara teman yang lain, memilih pindah domisili ke tempat yang jauh. Saya merasa komitmen yang sempat teruji di masa-masa sebelumnya, tidak terbukti. Komitmen itu tampaknya hanya reaksi-reaksi yang sifatnya sesaat, yang dicampuri oleh prasangka-prasangka buruk. Hingga akhirnya, ikatan komitmen di antara kami tercerai-berai.

Disini ada kenyataan saya keluhkan. Ketika dalam diskusi, teman-teman itu menyatakan setuju, mengangguk-angguk, mendukung, atau bersemangat. Tetapi dukungan itu tidak tampak buktinya dalam kerjasama kongkrit. Hal seperti ini tidak positif. Lebih baik kita bicara apa adanya. Jika sudah setuju, ya kita bisa bekerja sepenuh hati. Andai tidak setuju, juga bisa disampaikan apa adanya, sehingga tidak menimbulkan harapan di hati. Jangan sampai di depan muka mengatakan setuju, tetapi dalam kenyataan memperlihatkan sikap tidak setuju.

Tetapi yang menarik. Seorang teman berkali-kali mengkritik program yang saya sampaikan. Dia bertanya, bukankah sudah banyak yang membuat usaha Muslim? Mengapa tidak bergabung saja dengan komunitas yang sudah ada? Kalau membuat lembaga baru, apa tidak akan menambah banyak bendera? Bukankah lebih penting praktik daripada teori? Dan semua pertanyaan itu sudah dijawab dengan baik. Tetapi tetap saja, ia belum bisa meyakinkan teman-teman saya.

Di kemudian hari saya mendapat informasi, bahwa teman-teman yang saya ajak diskusi itu, ternyata telah memiliki afiliasi dengan jamaah-jamaah tertentu. Mereka tertarik diskusi dengan saya, ternyata karena ingin menarik saya masuk jamaahnya. Pertanyaan seperti: “Mengapa kita tidak bergabung saja dengan komunitas yang sudah ada?” Hal ini ternyata ditujukan untuk menarik saya ke komunitas mereka. Ketika saya memiliki pendirian sendiri, mereka pun meninggalkan saya.

Padahal dalam konteks ini, saya sengaja masuk ke bidang-bidang teknis, dan tidak membentuk komunitas-komunitas ideologis, biar lebih banyak pihak yang bisa ikut bekerjasama. Tetapi di mata mereka, konsep seperti itu dianggap nonsense. Niat kita baik, malah diprasangkai yang bukan-bukan.

Sejujurnya, saya merasa sulit untuk mengembangkan program-program pemberdayaan Islam seorang diri. Sangat sulit. Kita butuh orang lain untuk membantu. Tetapi anehnya, dari pengalaman sekian lama, banyak kawan-kawan yang menaruh curiga saat diajak bekerjasama. Setidaknya, mereka menyimpan prasangka-prasangka buruk di hatinya. Saya sendiri bukan sekali dua kali diprasangkai sebagai orang ekstrem. Jangankan mereka mau diskusi, sekedar melihat penampilan saja sudah curiga. Entahlah, was-was seperti apa yang ada di hati mereka?

SEKILAS MAKNA

Dari berbagai pengalaman ini, saya menyimpulkan: “Sumber kelemahan kaum Muslimin di Indonesia lebih banyak dari dirinya sendiri.” Faktor kebodohan dan kemiskinan menjadi sebab yang sangat dominan.

Masyarakat Indonesia bisa diibaratkan seperti tanah tandus, berbatu cadas, kering, dan sangat keras. Berbagai tanaman sulit tumbuh di tempat ini. Bunga seindah apapun, apakah mawar, melati, lavender, anthurium, kaktus, dll. tidak bisa tumbuh indah disini. Rakyat Indonesia pada umumnya telah mentradisikan kebodohan dan kemiskinan. Mereka sulit sekali diajak hidup sehat, normal, rasional. Ibarat tubuh yang sudah terlalu pekat mengandung racun, ketika disodori ramuan jamu-jamu untuk terapi pengobatan. Tubuh itu akan menolak, sehingga muntah-muntah.

Masyarakat kita kalau disodori hal-hal yang positif, mereka cepat sekali menolak. Setidaknya mereka merespon dengan parasangka buruk, kecurigaan, iri hati, kedengkian, fitnah, dll. Tetapi kalau mereka disodori hiburan, pesta-pesta, senang-senang, gairahnya menyala-nyala. Di mata masyarakat kita, lebih baik hidup senang-senang, meskipun kehormatan hancur lebur.

Disini ada 2 nasehat yang ingin disampaikan, yaitu:

Pertama, jika Anda telah berdakwah di tengah-tengah masyarakat, telah mengerahkan segala daya-upaya, ternyata hasilnya tidak maksimal. Janganlah berkecil hati. Tidak selamanya kegagalan dakwah karena kesalahan-kesalahan para dai. Kita juga harus jujur mengakui, bahwa obyek dakwah juga menyumbang kesalahan. Malah, dalam dakwah Nabi-nabi di masa lalu, umumnya pembangkangan dilakukan oleh kaum Nabi-nabi itu sendiri.

Kedua, jika Anda mendapati berbagai kesulitan dalam dakwah, tidak berarti harus putus asa, lalu berhenti berdakwah. Tidak demikian. Teruslah kita berusaha dan berusaha, lalu tawakkal kepada Allah. Cukuplah Anda menanam benih sebanyak-banyaknya; sebarkan benih seluas-luasnya. Soal berapa banyak benih yang kemudian tumbuh, serahkan kepada Allah. Biarlah Dia yang memutuskan. Kita hanya berusaha, sementara Allah yang menentukan hasilnya.

Demikian, sekelumit catatan dakwah dari pengalaman-pengalaman pribadi. Semoga bermanfaat. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

About these ads

3 Balasan ke Sebagian Pengalamanku dalam Dakwah

  1. elang mengatakan:

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    Sungguh tulisan yang menarik dan menggugah. Bagi orang seperti saya tulisan ustadz bisa memberikan inspirasi, pandangan sekaligus pelajaran yang banyak. Bahwa orang yang kita lihat atau pandang tidak selalu sebaik yang kita pikirkan. Sesuatu apakah itu person, institusi, lembaga, atau organisai yang berlabel syar’i tidak serta merta mampu menunjukkan sikap yang bisa dijadikan tuntunan, walaupun tidak semua seperti itu.

    Saya adalah orang biasa, tidak punya banyak pengalaman, pengalaman hidup saja masih sedikit, apalagi pengalaman dakwah. Melihat realita yang ustadz paparkan saya menemukan banyak hal pada diri saya yang harus saya perbaiki. Kemampuan ustadz dalam menulis memang pilih tanding. Membaca tulisan ustadz seolah-olah seperti diajak berbicara tatap muka dan seperti berada di kondisi yang nyata. Sungguh kemampuan yang mengagumkan.

    Semoga bisa memberi manfaat lebih kepada saudara-saudari kita yang lain.

    Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

  2. abisyakir mengatakan:

    @ Elang.

    Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.

    Ya, jangan terlalu memuji. Alhamdulillah atas segala kebaikan yang Allah berikan untuk kita semua, dan astaghfirullah untuk segala kesalahan diri-diri kita. Syukran jazakumullah khair untuk doanya. Amin.

    AMW.

  3. ummu nuha mengatakan:

    ingin tau pengalaman pak abisyakir lalu klik ‘cari’ dgn kata kunci pengalaman, dptny tulisan ini

    pengalaman yg menarik..walopun tak begitu manis
    tp sepertinya bapak prnh begitu kecewa..

    yg namanya masjid umum, memang rawan konflik krn banyak pihak yg merasa memiliki masjid tsb
    klo tak mau konflik lbh baik bikin masjid sendiri
    masjid ditempat kami, ditempat rekan2 kami, selalu sy dengar pasti prnh berkonflik….maklumlah kebanyakan laki2 ingin jd no 1, pd rebutan tahta jabatan, jd ketua dkm pun pd berebut……mungkin sdh fitrahnya lelaki…”lelaki adlh pemimpin wanita”

    pengalaman suamiku sprtny tdk prnh sampe berkonflik panas, walopun kadang ada yg menuduh wahabi & membanding-bandingkan dgn ust2 kondang……
    tp lucunya bbrp tokoh warga dsini kadang suka mendesak agar suami sy deket dgn ust kondang A (misalnya), ikut ngisi ceramah dimana ust kondang tsb manggung… ktny biar nanti bisa ketularan beken atau ust yg kondang itu membantu mengorbitkan biar beken, laku, bnyk yg ngondang…..ekonomi pun bs lbh baik….ktnya

    dan menurutku beken itu boleh jd amat mengerikan, terutama godaan wanitanya itu…..tp mungkin bg laki2nya asik2 aja kali ya !

    Tp AlhamdulilLah dia tak mau sprt itu, aplg membisniskan ceramah……
    walopun yg namanya godaan mestilah ada,
    prnh ketika kami lg sangat butuh uang krn suatu hal mendesak..
    lalu disaat bersamaan suami sy dpt undangan ceramah tabligh akbar di luar kota yg lumayan jauh tepatnya di garut,
    yg namanya lg sangat butuh uang sdh gitu tak membawa uang disaku melainkan sedikit sekali…….dia cerita klo dia begitu mengharapkan amplop ceramah, tp krn dia dianggapnya bkn ust populer / cuma ust kampung biasa, hasilnya..tak dpt apa2….tangan hampa belaka…, rasa kecewa tentulah ada
    tp ktny justu ini jd pelajaran yg sangat berharga(seakan-akan merasa ditegur Alloh)……
    krn itu dia tak mau lg berharap dr manusia, krn yg tdk prnh mengecewakan hnylah Alloh. (mdh2an tekadny selalu istiqomah)
    krnny setiap ada yg ngondang…selalu inisiatif menyiapkan uang disaku utk transport dan lainny…..dimana tak dikasih apa2 tak akan merasa kesulitan apalagi kecewa, tp tdk munafik jg klo dikasih ya ktnya diterima…asalkan jangan prnh meminta sj.

    sy prnh baca di blog fakta klo bapak prnh tinggal di pondokmutiara
    apa mungkin bapak prnh kenal ust nanang fauzi yg skrg jd ketua dpc pkb cimahi ? bbrp thn lalu ust tsb prnh ngontrak di pondokmutiara, dulu ust nanang pemimpin msjd daerah sy, dia jg guru sy wkt remaja
    dan prnh jg baca di suatu blog(lupa nama blognya) klo ust abu abdilrahman al thalibi yg suka nulis buku adlh seorang da’i kondang asal bandung !!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: