Politik Praktis dan Etika Tabayun

Tema tentang “tabayun” ini sebenarnya sudah beberapa kali disinggung. Dalam sebagian diskusi-diskusi internet pun, ada yang membahasnya. Intinya, sebagian pengikut parpol tertentu, sering menjadikan kaidah tabayun (klarifikasi atau recheck) sebagai alasan untuk membela diri, ketika partainya mendapat kritik. Seolah, setiap kritik masyarakat baru dinyatakan sah, kalau sudah tabayun ke partai itu. Sebelum tabayun, kritik tersebut tidak dianggap.

Tabayun atau klarifikasi adalah salah satu etika penting dalam Islam. Dalilnya, “Wahai orang-orang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik dengan membawa suatu berita, maka lakukanlah klarifikasi (mengecek kebenaran berita itu), agar kalian tidak menimpakan hukuman kepada suatu kaum, tanpa didasari informasi yang benar. Maka kalau kalian lakukan hal itu, kalian akan menjadi menyesal.” (Surat Al Hujuraat: 6). Inilah dalil utama tentang tabayun.

Harus Komitmen & Integritas !!!

Sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan Al Harits bin Dharar Al Khuza’i Ra. Al Harits diajak oleh Rasulullah Saw masuk Islam, dan bersedia. Setelah itu dia diajak membayar Zakat, juga bersedia. Lalu Al Harits menyampaikan tekadnya untuk mengajak kaumnya masuk Islam dan mau membayar Zakat. Rasulullah Saw memberi persetujuan kepada Al Harits untuk melaksanakan tekadnya. Setelah waktu berlalu cukup lama, tidak ada khabar berita dari Al Harits. Rasulullah cemas memikirkan apa yang terjadi dengan Al Harits di tengah kaumnya. Maka Nabi pun mengutus Al Walid bin Uqbah untuk mendatangi Al Harits dan memeriksa apa yang terjadi disana. Ketika Al Walid sampai di tengah jalan menuju perkampungan Al Harits, dia merasa takut, lalu seketika itu pulang ke Madinah. Tugas belum dilaksanakan, Al Walid sudah pulang ke Madinah. Di Madinah, Al Walid segera menemui Rasulullah Saw dan menceritakan, bahwa Al Harits menolak memberikan Zakat dan ingin membunuh dirinya. Tentu saja Rasulullah tidak terima dengan perlakuan Al Harits. Beliau segera mengirim sebuah tim ekspedisi untuk menghadapi kemungkaran Al Harits. Saat tim itu bertemu Al Harits, terjadi dialog. Al Harits bertanya, untuk apa tim ekspedisi itu datang? Kata pimpinan tim, untuk menhadapi Al Harits. Tentu saja Al Harits sangat terkejut. Lebih terkejut lagi ketika dia mendengar khabar bahwa Al Harits dikhabarkan menolak membayar Zakat dan hendak membunuh utusan Nabi, Al Walid. Di hadapan tim ekspedisi itu Al Harits bersumpah, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihat Al Walid, dia tidak pernah datang kepadaku.” Sumpah serupa disampaikan lagi oleh Al Harits di hadapan Rasulullah Saw di Madinah. Demikian setting kisahnya. Menurut Ibnu Katsir, para mufassirin sepakat dengan kebenaran peristiwa tersebut.

Singkat kata, Al Walid bin Uqbah telah memfitnah Al Harits dengan perkataan dusta. Hampir saja Rasulullah Saw menghukum Al Harits karena cerita dusta yang disampaikan Al Walid. Disini kaum Muslimin diajari untuk berhati-hati kalau menghadapi khabar orang fasik. [Termasuk bagi kita di jaman modern ini, hendaknya hati-hati saat menerima berita dari media-media sekuler anti Islam (media fasik). Sekalipun slogan mereka, “Untuk meninggikan ilmu pengetahuan.”].

Kembali ke topik parpol di atas. Ayat seputar tabayun ini kerap dipakai untuk membela diri, atau menolak kritik-kritik yang dialamatkan ke partai tertentu. Kalau suatu kritik ingin diakui kebenarannya, harus ditabayunkan dulu kepada mereka. Meskipun ada 100 kritik, jika semua itu belum diklarifikasikan ke partai tersebut, kritik-kritik itu tidak dianggap kebenaran. Di mata mereka, kebenaran adalah apa saja yang secara resmi mereka akui dan setujui. Kalau di luar pandangan mereka, dianggap nothing. Allahu Akbar, sampai segitunya sikap fanatik mereka.

Nabi Saw mengatakan, “Tidak masuk syurga, seseorang yang di hatinya ada sebutir debu rasa kesombongan.” Kesombongan yang dimaksud ialah, batharal haq (menolak kebenaran) dan ghamtun naas (merendahkan manusia yang lain). Kalau ada parpol yang ingin menciptakan kebenaran sendiri, tidak mengakui kebenaran dari orang lain, memenuhi 2 kriteria kesombongan itu.

Seputar masalah tabayun ini, ada beberapa kritik mendasar yang ingin disampaikan disini:

[1] Dalam politik, dalam UU politik, dalam dunia demokrasi terbuka, tidak ada satu pun aturan yang mewajibkan masyarakat tabayun ke suatu partai ketika menghadapi isu-isu politik tertentu. Kalau tidak percaya, coba cari UU/aturannya, apakah ada ketentuan tabayun itu?

[2] Dunia politik praktis berbeda dengan dunia dakwah, dunia ormas, dunia fatwa, dunia amal sosial, dunia pendidikan, dunia keilmuwan, dunia informasi, dll. Dalam dunia politik, faktor etika biasanya kurang diperhatikan. Semua orang pasti tahu ungkapan semacam ini, “Dalam politik tidak ada kawan abadi atau lawan abadi, yang ada ialah kepentingan abadi.” Ungkapan ini menjelaskan sisi pragmatis kehidupan dunia politik. Kaidah tabayun itu umumnya berlaku di forum-forum yang terkenal menjunjung tinggi prinsip etika, seperti dalam dakwah, ormas, fatwa ulama, kegiatan sosial, pendidikan, dll. Sebagai contoh, kalau ada tokoh agama diisukan melakukan selingkuh, padahal dia tidak melakukan hal itu, maka tabayun sangat dibutuhkan untuk memastikan informasi yang valid dari yang bersangkutan. Berbeda ketika seorang politisi berkata di media, “Saya mencalonkan Mbah Marijan untuk maju dalam Pilpres tahun 2014.” Pernyataan seperti ini, andaikan tidak dilakukan tabayun, tidak masalah. Sebab ucapan politisi itu berubah-ubah, kadang A, kadang B, kadang C, dan sebagainya, tergantung target politik yang ingin dia capai.

[3] Dalam sistem politik terbuka, di alam demokrasi seperti di Indonesia saat ini, berbicara tentang kaidah etika seperti ghibah, fitnah, tabayun, hasad, dll. itu tidak relevan. Sebuah partai politik sudah menjadi institusi terbuka, ia sudah face to face dengan dunia publik. Terserah masyarakat akan bersikap apapun kepada partai itu. Wong, memang UU menjamin hak warga negara untuk memilih sikap politik tertentu. Andai ada orang yang meyakini suatu prinsip seperti ini, “Andaikan Partai X berhasil memimpin bangsa Indonesia, sehingga setiap orang di negeri ini berhasil mereka beri emas masing-masing 5 kg. Saya tetap membenci Partai X, saya tetap anti Partai X.” Secara etika, sikap demikian tidak adil. Tetapi dalam format politik terbuka, itu boleh. Itu hak politik rakyat yang dijamin UU. Dalam konsitusi disebutkan, setiap warga negara memiliki hak menyatakan sikap politiknya.

[4] Adalah sangat tidak adil, ketika suatu partai politik meminta orang-orang yang mengkritiknya untuk tabayun terlebih dulu. Sementara partai itu, sebelum menetapkan kebijakan-kebijakan politik, tidak pernah tabayun kepada segmen politik atau pendukungnya. Ini adalah suatu ketidak-adilan, atau mencerminkan sikap tidak fair. Misalnya, ada partai yang memilih koalisi dengan SBY, mengklaim koalisi dengan SBY sebagai “iman kami”, dia mencalonkan pemimpin pemerintahan wanita, dia koalisi dengan partai sekuler, dia acuh dengan kasus-kasus terorisme, dia tak peduli dengan maraknya aliran sesat, dia tak peduli dengan maraknya Kristenisasi, dia mengadakan Munas di hotel Amerika, dia mengundang secara khusus Dubes Amerika dan stafnya, dll. Pernahkah mereka tabayun dulu kepada Ummat Islam, sebelum melakukan semua itu? Kalau orang lain mengkritik, disuruh tabayun dulu; sementara diri sendiri, bebas-bebas saja menempuh apa yang diinginkan. Tidak fair.

[5] Semakin profesional sebuah partai, dia cenderung semakin sedikit menuntut. Justru dia akan banyak melayani masyarakat. Slogan yang kerap dipakai oleh bisnis-bisnis professional sebagai berikut, “Kalau Anda kecewa, silakan datang kepada kami. Kalau Anda puas, silakan kabarkan kepada teman.” Ini slogan kaum professional sejati, yaitu selalu mengacu kepada pelayanan maksimal. Contoh actual yang bisa disebut. Ketika Ary Ginanjar dan ESQ mendapat kritik dari berbagai cendekiawan Muslim, tim ESQ tidak menanti datangnya klarifikasi dari orang-orang yang mengkritiknya. Tetapi mereka mendatangi pihak-pihak yang mengkritik itu untuk melakukan klarifikasi aktif. Itu contoh sikap professional. Beda lagi dengan partai norak. Kalau membuat kebijakan, kontroversial melulu. Giliran dikritik, kita yang disalahkan, karena belum tabayun. Bagaimana cara tabayun-nya? Kita harus mendatangi markaz-markaz mereka untuk mendapat kejelasan. Allahu Akbar, sebegitu noraknya mereka.

[6] Prinsip tabayun itu sebenarnya tidak dipakai untuk semua kondisi. Ada syarat-syarat yang membatasi penggunaan etika tabayun. Dalam Surat Al Hujuraat ayat 6 di atas disebutkan pembatasnya, yaitu: In jaa-akum faasiqun bi naba’in (apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita). Kalimat ini menjadi pembatas etika tabayun. Apabila datang orang fasik membawa berita, maka periksa dulu berita itu. Artinya, kalau yang membawa berita itu orang Mukmin yang sudah dikenal kejujuran dan keadilannya, tak perlu tabayun lagi. Begitu pula, tabayun itu berlaku untuk urusan-urusan yang samar, yang tidak diketahui secara pasti kebenarannya. Kalau untuk suatu fakta, suatu kenyataan, yang semua orang sedunia sudah pada tahu, tidak berlaku lagi etika tabayun. Misalnya, sebuah partai politik selama 10 tahun terakhir mengkampanyekan boikot produk Amerika/Yahudi. Tetapi kemudian dia mengadakan Munas II di hotel Amerika/Yahudi. Ini kenyataan, ini fakta, semua orang sedunia sudah tahu. Jadi tidak perlu tabayun lagi. Hanya saja, orang-orang tertentu, mereka kerap memakai dalil-dalil Islami untuk membentengi pemikiran dan amal perbuatan yang keliru.

[7] Dalam politik praktis, tidak ada ketentuan tabayun. Andaikan ada yang senang menghujat suatu partai, tanpa mau memakai etika tabayun, itu sah-sah saja. Itu konsekuensi kebebasan politik. Tetapi kalau ada yang mau tabayun, bahkan mau datang ke kantor suatu partai untuk tabayun, itu juga silakan. Meskipun sifatnya tidak ada kewajiban demikian. Harusnya, kalau sudah masuk gelanggang politik terbuka, harus dibedakan dengan saat masih menjadi gerakan dakwah murni. Ya, tahu sendirilah, beda tempat, tentu beda pula aturannya.

[8] Apa yang terjadi kalau kita benar-benar tabayun kepada mereka? Apakah tabayun itu akan menyelesaikan masalah? Belum tentu. Ini harus dicatat tebal-tebal, BELUM TENTU. Mengapa? Ketika suatu organisasi sudah masuk pusaran politik terbuka, mereka lebih peduli dengan urusan kekuasaan, bukan lagi urusan etika. Itu alasan fundamentalnya. Kalau kita datang tabayun kepada mereka, kemungkinan hasilnya ada tiga: Pertama, kritik kita diterima, lalu mereka mengakui kesalahannya. Tetapi kecil kemungkinan, setelah itu mereka akan menyatakan bersalah di depan umum, dan menganulir kebijakannya yang salah. Sangat kecil peluang kesana. Kedua, kritik kita ditolak, lalu mereka buktikan kalau kritik kita salah. Konsekuensinya, kita diminta meminta maaf kepada mereka, dan menyatakan hal itu secara terbuka di media-media. Bahkan mereka akan menjadikan kekalahan kita itu sebagai bahan untuk membanggakan diri. Ketiga, antara pengkritik dan yang dikritik sama-sama kokoh dengan pendiriannya. Tidak ada yang mau secara gentle mengakui kesalahannya. Jika demikian yang terjadi, maka tabayun itu menjadi percuma saja. Tidak ada nilainya. Kalau disimpulkan, tabayun dalam konteks politik praktis ini, lebih banyak merugikan pihak konsumen politik (bukan parpol).

[9] Ada kalanya suatu partai bersikap hipokrit (standar ganda). Sangat disayangkan. Saat berbicara tentang hak-hak dirinya, partai itu menetapkan standar etika yang sangat tinggi. Mereka tidak boleh digunjing, tidak boleh dikritik, tidak boleh dikejam, tidak boleh dicurigai, tidak boleh diprasangkai buruk, dll. Demi memenuhi hak-haknya, mereka menetapkan standar etika yang tinggi. Tetapi ketika giliran kewajiban mereka memenuhi hak-hak Ummat Islam, mereka tidak bertanggung-jawab. Ada gerakan ekonomi Neolib, diam saja; ada terorisasi aktivis-aktivis Islam, diam saja; ormas Islam menjadi bulan-bulanan media TV, diam saja; merebak paham SEPILIS, masih diam; mencuat kasus Ahmadiyyah, diam juga; ada tuntutan kasus Bank Century dituntaskan, tidak terdengar suaranya; kuatnya dominasi bisnis asing, tak bereaksi; merebak video mesum, malah pelakunya akan diterima sebagai anggota; dan lain-lain. Kok bisa begitu ya? Katanya partai ustadz-ustadz, tetapi moralitas begitu? Untuk hak-hak mereka, menuntut pelayanan istimewa. Sementara untuk hak-hak Ummat, diabaikan. Ini jelas sangat aneh.

[10] Sebenarnya, ada satu alasan kuat yang memberi peluang kepada kita untuk melakukan etika tabayun ke partai tertentu. Alasannya, jika ia adalah partai Islam yang komitmen memperjuangkan nilai-nilai Islam. Dari sisi aturan politik, kalau sudah masuk pergolakan politik, etika tabayun tidak menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Setiap orang bebas mengutarakan pendapat politik. Tetapi jika ada elemen-elemen Islam yang komitmen memperjuangkan Islam, boleh kita tabayun, dengan niatan mendukung perjuangan politik Islami itu. Asalkan, ia memang benar-benar politik Islami, bukan politik oportunis. Tandanya, partai semacam itu intensif menyuarakan Syariat Islam, ia bekerja keras menyatukan barisan politik Ummat, ia aktif menasehati penguasa agar tunduk kepada Hukum Allah, ia melaksanakan nahyul munkar, bahkan mengajak kaum non Muslim masuk Islam. Terhadap partai yang Islami, konsep tabayun penting dikembangkan. Masalahnya, apakah partai yang kita bicarakan ini masuk kategori partai Islami? Nah, itu dia. Hak-hak yang baik tentu diberikan kepada kerja politik orang-orang Mukmin yang komitmen dengan Islam. Kalau tidak komitmen, atau oportunis, jelas tidak perlu diberikan hak-hak etika seperti tabayun itu. Jangankan ke partai politik, ke penguasa politik saja kalau mereka zhalim dan tidak berakhlak, tidak layak dihormati.

Terus terang, ada kegemasan tersendiri saat menghadapi parpol tertentu. Katanya, ia parpol anak-anak muda, jebolan kampus, kaum intelektual, track record bersih, anti korupsi, agamis, bersikap moderat, dll. Tetapi jujur saja, parpol ini lain dari yang lain. Sepertinya, dalam sejarah politik praktis di Indonesia, baru ada satu yang seperti ini. Tetapi ya itu tadi, sikap pragmatis dan oputunis-nya, ampun deh. Kan dalam politik itu ada fatsoen (kesopanan politik). Ya mbok dipakai konsep fatsoen itu. Adab politik yang tinggi kan sebenarnya demi kebaikan mereka juga. Kalau suatu partai sudah diidentifikasi sebagai partai busuk, sampai kapanpun akan susah memenangi kompetisi. Kecuali kalau mereka memakai cara-cara tangan besi untuk berkuasa. Itu lain. Seharusnya, kelompok anak-anak muda ini, jika boleh dikatakan demikian, mereka bisa menunjukkan dirinya sebagai elemen masyarakat yang energik, produktif, idealis, komitmen tinggi, penuh inovasi, jujur, moralis, dan lain-lain. Seharusnya begitu, bukan lebay, bukan norak, bukan membabi-buta, bukan hipokrit.

Ya, setidaknya Anda semua bisa memahami cara meletakkan konsep TABAYUN secara benar. Tabayun adalah bagian penting dari etika Islami. Semoga bermanfaat, dan selamat menyambut datangnya hari nan mulia: Idul Fithri 1431 H. Semoga menjadi hamba yang kembali suci dan mendapat kemenangan. Minal ’a-idzina wal fa’izin, kullu aamin wa antum bi khair. Allahumma amin.

AMW.

About these ads

14 Balasan ke Politik Praktis dan Etika Tabayun

  1. Abu Nayli mengatakan:

    Quote :
    ” In jaa-akum faasiqun bi naba’in (apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita). Kalimat ini menjadi pembatas etika tabayun. Apabila datang orang fasik membawa berita, maka periksa dulu berita itu. Artinya, kalau yang membawa berita itu orang Mukmin yang sudah dikenal kejujuran dan keadilannya, tak perlu tabayun lagi.”

    dari kisah diatas, pastilah Al Walid bin Uqbah merupakan sosok orang yang terbaik dan tidak diragukan lagi keimanannya dan mungkin berada di ring 1 bersama Rasulullah SAW, sehingga Al Walid terpilih untuk menjalankan misi yang amat penting tersebut dan sebelumnya sejarah tidak mencatat bahwa beliau adalah orang yang fasik.
    Proses Tabayun/Klarifikasi sudah semestinya dilakukan oleh siapapun untuk memastikan kebenaran sebuah berita, dari manapun/siapapun sumbernya.

    Pesan :
    Allah SWT memberikan kelebihan bagi antum untuk menulis dengan rangkaian kata yang indah, mungkin akan sangat bermanfaat bila digunakan untuk hal-hal yang baik dan positif, ada baiknya bila ingin memberikan kritik, saran, bisa langsung kepada sumbernya.

  2. Abu Hanif mengatakan:

    @Akh Abi Syakir
    Akhi, antum mengatakan bahwa tabayyun itu tidak perlu langsung kepada sumbernya, sedangkan di artikel lain antum mengatakan bahwa silaturrahim itu harus langsung bertatap muka, di mana ke-inshafan antum ?

  3. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Hanif…

    Syukran jazakumullah khair Akhi atas masukan Antum.

    Maksudnya begini, TABAYUN tersebut dalam lingkup politik praktis, sangat berbeda dengan Tabayun dalam hubungan muamalah antar sesama kaum Muslimin. Dalam politik praktis yang ada adalah kompetisi siasat/kecerdikan manuver. Jadi, tabayun seperti yang kita pahami dalam pergaulan Muslim, tidak diperlukan disini. Tanpa tabayun pun, suatu tindakan politik sudah dihitung untung-ruginya oleh pelaku-pelaku politik.

    Adapun Shilaturahim yang dimaksud dalam Islam memang perlu muwajahah/tatap muka. Seperti diceritakan dalam hadits, ada seseorang pergi menjumpai saudaranya di suatu tempat. Di tengah jalan ada laki-laki bertanya kepadanya, “Mau pergi kemana?” Dijawab, “Mau ke saudaraku seiman.” Ditanya lagi, “Apakah kamu ada keperluan sehingga datang kepadanya?” Dijawab, tidak ada keperluan, selain hanya ingin bertemu saudaranya, karena rasa cinta sebagai sesama Mukmin. Maka laki-laki itu menyebutkan dirinya sebagai Malaikat yang diutus oleh Allah untuk bertanya kepada orang itu. Malaikat itu menyampaikan bahwa Allah menyampaikan salam kepada orang itu, karena ketulusan hatinya bertemu saudaranya karena iman.

    Ya rata-rata hadits yang menceritakan seputar shilaturahim, selalu berkaitan dengan pertemuan. Para Shahabat dulu, kalau tak bisa bertemu saudaranya, rata-rata hanya menyampaikan salam atau mendoakan. Jadi, shilaturahim yang dihendaki Syariat memang demikian. Dan shilaturahim ini ada dalam konteks hubungan sosial antar sesama Muslim, hal ini tak ada kaitannya dengan politik praktis. Antara tabayun yang Antum tanyakan dengan shilaturahim ini berbeda konteksnya. Satu di wilayah politik praktis, yang biasanya kering adab; yang satu lagi, justru di wilayah ukhuwwah yang penuh adab.

    Mohon dimaklumi. Syukran jazakumullah khair.

    AMW.

  4. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Nayli…

    Afwan jiddan, komentar Antum terlewat direspon. Jawaban yang bisa saya sampaikan:

    => Bentuk kalimat “in ja’akum fasiqun bi naba’in, fa tabayyanu…” Ini kalimat bersyarat. Ada yang menjadi Syarith (syaratnya) dan ada yang menjadi Masyruth (yang dipersyaratkan). Kalimat demikian ditafsirkan sesuai konteks kalimatnya. Contoh serupa ialah kalimat, “La in syakartum, la azidannakum…” Ini juga kalimat bersyarat. Bila seseorang memenuhi suatu syarat, dia akan mendapat balasan tertentu.

    => Rasulullah Saw tidak selalu mengutus seseorang karena kedalaman ilmu, keimanan, atau istilah Antum “ring 1″. Tidak selalu begitu. Contohnya siapa? Ya, itu tadi, Al Haritz Al Khuza’i Ra. Beliau ini kan baru masuk Islam, baru membayar zakat, tetapi sudah diberi amanah mengajak kaumnya masuk Islam dan membayar zakat. Rasulullah setuju. Contoh lain, Abu Dzar Al Ghifari Ra. diperintahkan Rasul pulang kampung, berdakwah di kampungnya, tak lama setelah Abu Dzar masuk Islam. Begitu pula Thufail Ad Dausi Ra, juga mirip itu.

    Intinya, tak selalu, seseorang ditugasi Rasulullah hanya karena dia kualitas “ring 1″.

    => Tentang kritik ke sumbernya. Sekali lagi saya tekankan, kalau sudah masuk pusaran politik praktis, tidak ada kewajiban seperti itu. Gak percaya? Coba deh baca UU Politik yang berlaku selama ini. Apakah setiap tindakan politik selalu diselesaikan dengan tabayun?

    Di sisi lain, ya tentu enak PKS dong. Dia buat manuver apapun “tanpa permisi”, ke Ummat Islam, sementara kalau kita mau keritik dia, kita harus lapor dulu mereka. Ini tidak fair, sangat tidak fair. Katanya “partai keadilan…”?

    Kalau kita berikan masukan ke sumbernya, belum tentu digubris. Paling akan masuk “tong sampah”. Ada buktinya. Ini pernah disampaikan oleh DOS di PKSWatch. Waktu itu ada rombongan ustadz-ustadz berpengaruh gerakan Tarbiyah. Disana ada profesor juga yang ikut. Mereka mengirim semacam petisi ke Hilmi Aminuddin, langsung ke rumahnya di Lembang.
    Tim itu jelas jauh lebih kredibel dari saya. Ternyata hasilnya, petisi mereka tak dihiraukan. Ya, Hilmi Aminuddin terus saja dengan agendanya sendiri.

    Hal-hal begini sudah pernah dilakukan. Tetapi kader-kader PKS yang masih baru tidak pernah tahu. Mereka tahunya, “Taat, taat, taat…taat mutlak.” Sekalipun dibawa terjun ke jurang yang dalam. Na’udzubillah min dzalik.

    Syukran atas masukannya.

    AMW.

  5. Grandong mengatakan:

    Kalau parpol yang Anda kritik itu masih hanya menyeru Anda untuk tabayyun saya rasa masih lumayan. Mereka tidak pernah melarang Anda untuk mengkritiknya.

    Sementara Anda hanya karena 2 orang komentator (Aban dan Rudi) sering memberikan komentar yang kritis, Anda lalu serta merta melarang mereka mengkritik Anda.

    Kalau sudah demikian lalu siapa sebenarnya yang lebih gentle dan kesatria ?

  6. A Wild mengatakan:

    Menurut saya semua yang ditulis itu benar dan nggak ada salahnya kok. Jadi yang harus klarifikasi siapa? Lha yang pinter itu pimpinan sariyah yang langsung mencekricek ketika face to face mau head to head, nt jual ane beli gan. Lha trus si al harits ya pinter karena dia klarifikasi dengan kalimat efektif. Dan yang lebih cerdas Rasulullah saw yang dengan adil menilai proses tabayyun dan bayan yang terjadi. Lha kalau yang mencekricek harus dateng, pak pks yang harus dateng. Lha kalau yang klarifikasi harus ngomong amw diem aja, tv koran radio blog smua sudah mengklarifikasi. Intinya, pak pks minta smua rakyat indonesia dikebiri haknya untuk berbicara dan mengemukakan pendapat. Pks lah yang manghajnya benar sendiri. Pks lah jundullah. Masyarakatlah yang berpenyakitan. Ter…la…lu… !!!

  7. abisyakir mengatakan:

    @ Grandong…

    Lha, ini kan politik terbuka, jadi boleh dong mengkritik? Selama memang ada fakta dan analisisnya. Kecuali kalau kami mengkritik asal-asalan, hanya karena dengki, ya jelas itu tak jujur. Alhamdulillah, kritik kami selalu berdasarkan azas Islami, yaitu amar makruf nahi munkar.

    Harusnya, PKS juga minta media-media massa yang demen mengkritik mereka untuk TABAYUN juga. Dibandingkan MetroTV, Rakyat Merdeka, dan lain-lain, kritik disini mungkin belum seberapa. Tapi gak pernah tuh ada seruan agar pimpinan2 media itu tabayun. Mengapa? Karena, kalau PKS meminta tabayun, mereka akan DITERTAWAKAN publik politik se-Indonesia. Sebab dalam UU politik memang tak ada aturan tabayun itu.

    Soal @ Aban atau @ Rudi, halah Anda jangan pura-pura tak tahu. Orang ini tak ada isinya. Omongannya caci-maki melulu, menjelek-jelekkan blog ini tanpa alasan Islami atau alasan yang masuk akal. Yang tidak disukai dari dia bukan soal jawaban2 kritis dia -andai dianggap kritis ya-, bukan sama sekali. Yang tidak kita sukai, dia menyebut blog ini sebagai “tong sampah”, tetapi dia sendiri RUTIN masuk ke blog ini. Aneh sekali kan… Dia itu telah terfitnah…akhirnya menjadi seperti itu.

    Demi Allah, kalau dia tidak mengumbar caci-maki seenaknya, insya Allah kita hargai jawaban2 dia. Ya, kita masih manusia normal, buat apa nuruti karakter “aladdul khishom” seperti itu. Jadi mohon @ Grandong jangan memutar-balikkan fakta. Anda harus tahu runutan masalahnya.

    AMW.

  8. Grandong mengatakan:

    @AMW
    Tidak sedikitpun saya memutarbalikkan fakta. Fakta partai itu menyeru tabayun saya sampaikan demikian. Fakta Anda mem’ban’ Aban dan Rudi, saya sampaikan demikian. FaKta mana yang saya putar balikkan ?

    Ok. Semoga tidak sampai suatu masa dimana yang Anda kritik -siapapun itu, partai atau perorangan- mempersepsi Anda sebagai tidak ada isinya seperti persepsi Anda terhadap Aban dan Rudi sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk melarang Anda mengkritiknya memakai alasan yang sama dengan yang anda gunakan untuk melarang dua orang itu.

    BTW, yang menjadi keheranan saya saat membaca isi blog ini, sepertinya bagi penulis blog ini, PKS adalah sesuatu amat sangat penting. Yang karenanya perlu ‘dipelototi’ dari detik ke detik atas segenap aspeknya : personalnya, kegiatannya, agendanya dan sebagainya, jangan sampai terlewat sedikitpun. Dan jika ada yang Anda dirasa janggal Anda segera menuliskannya di blog ini dan mewartakannya ke seluruh penjuru dunia. Yang saya tangkap Anda begitu banyak mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran demi partai yang satu ini.

    Pertanyaannya :
    1.Meski ada banyak partai, kenapa PKS menempati posisi istimewa di blog ini ?
    2.Apakah waktu, tenaga dan pikiran Anda tidak lebih baik digunakan untuk hal yang lebih penting dari sekadar memelototi partai ini ? Atau memang sudah sedemikian pentingnya partai ini bagi Anda sehingga Anda rela dengan semua yang Anda lakukan itu ?
    3.Atau jangan-jangan Anda eks kader partai ini yang kecewa, sehingga menumpahkan segala kekecewaan Anda yang mendalam dengan cara ini ?
    4.Ataukah Anda bagian dari suatu gerakan/jamaah/organisasi yang merasa pencapaian partai ini melampau pencapaian gerakan/jamaah/organisasi Anda sehingga Anda berusaha mengecilkan makna pencapaian partai ini dengan cara seperti ini. Atau kurang lebih meminjam istilah ABG ‘sirik tanda tak mampu’.

    Bagi saya sendiri PKS is NOTHING. Sama sekali tidak penting ! Juga untuk partai-partai yang lain. Dengan sering-sering menyebut atau membicarakannya justru akan berlaku hukum besi jurnalistik : membicarakan/ memberitakan sesuatu baik sisi baik maupun sisi buruknya akan sama efektifnya dalam mempopulerkan sesuatu tersebut.

    Demikian.

  9. Kasan Sutikno mengatakan:

    Ah saudara grandong or siapa, komen anda seperti merpati menabrak gagak. Coba anda baca ulang komen anda. Alih-alih dengan komen Aban dengan citra komen sopan. PKS anda mempunyai pola marketing dan demarketing. Adapula belah bambu. Mengapa pula anda pertanyakan yang hanya mengkritik satu pihak yakni terhadap PK n S tapi anda tak menyalahkan mereka yang telah merenggut banyak korban ormas dan parpol. Bahkan penulis blog ini mungkin sudah dikadali hingga kecewa dan mentahdzir. Kalau anda, mungkin anda semakin gendut karena ikut membela mereka yang memploroti uang negara dan rakyat. Duh… . Tanya tuh wali siswa yang nyangoni anaknya tapi duitnya lari ikut demo pilkadal gak karuan

  10. abisyakir mengatakan:

    @ Grandong…

    Terimakasih atas masukan Anda. Yang saya maksud itu, Anda menganggap saya mem-banned @ Aban hanya karena dia mengkritik saya. Salah besar. Tidak seperti itu. Kalau setiap kritik ke saya ditutup, komentar-komentar Anda tidak akan diterima disini. Tidak. Kebenaran itu bukan dari satu sumber, tetapi bisa dari berbagai arah. Seperti kata Imam Syafi’i rahimahullah, “Bisa saja ijtihad saya salah, orang lain benar. Bisa juga ijtihad saya benar, orang lain salah.” Jadi, bagian itu yang saya sebut “memutar-balikkan fakta”, bukan seluruh kontribusi Anda disini. Kan kita mengomentari sesuai konteksnya.

    Adapun soal pertanyaan Anda, jawabnya sbb.:

    1. PKS itu semula syiar-syiarnya sangat dekat dengan gerakan2 Islam yang lain. Jadi, di mata masyarakat, PKS itu dianggap mewakili komunitas dakwah Islam yang concern dengan Islam. Beda dengan PPP, PKB, PAN, bahkan PBB. PKS juga memiliki metode komunikasi publik yang paling dinamis di antara elemen2 parpol tersebut. Jika partai seperti ini melakukan kesalahan serius, akibatnya bisa sangat fatal bagi kaum Muslimin. Oleh itu, perlu opini pembanding, agar masyarakat tidak terbuai oleh kampanye politik yang melanggar batas-batas Syariat Islam.

    2. Akhi rahimakallah… Anda lihat sendiri, PKS bukan satu-satunya yang dibahas di blog ini. Coba deh bersikap sedikit jujur! Saya tidak akan membuat kategori khusus “PKS Area” andaikan DPP PKS tidak membuat Munas II di Ritz Carlton kemarin. Demi Allah, kategori khusus itu muncul sebagai “sanksi sosial” atas pelaksanaan Munas II yang sangat jauh dari kampanye politik PKS selama ini yang mengklaim: Partai Islam, Partai Dakwah, anti Zionis, kepanjangan tangan gerakan Islam tertentu, dll. Kategori itu ada buah dari apa yang mereka lakukan sendiri. Sedangkan Allah Ta’ala tentu telah membuat perhitungan sendiri yang sesuai dengan Ilmu, Keadilan, dan Hikmah-Nya.

    3. Ya, ada kekecewaan itu. Ini juga sudah saya katakan berkali-kali di berbagai komentar/jawaban. Hanya mungkin Anda saja yang tidak membaca itu. Dulu saya pernah jadi Ketua DPRa Partai Keadilan di kawasan sekitar kampus UPI Bandung. Sampai sekarang sebagian surat bukti itu masih ada. …tetapi saat mengkritisi PKS tidak selalu karena kecewa pribadi, tetapi lebih memikirkan DAMPAK NEGATIF dari kebijakan2 politik PKS di tengah kaum Muslimin. Sungguh, andaikan kebijakan2 PKS pro kepentingan rakyat Indonesia. Insya Allah akan diapresiasi itu. Kita ini coba bersikap obyektif, terlepas orang lain mau bersikap bagaimanapun.

    4. Apakah saya syirik atau dengki? Insya Allah tidak. Saya bukan bagian dari parpol manapun yang bersaing dengan PKS. Andai saya bagian parpol tertentu, Anda layak menuduh saya iri atau dengki. Insya Allah, kami ini bagian dari dakwah Islam di Indonesia. Karena PKS selalu “mengklaim” sebagai partai dakwah, maka kami punya kepentingan untuk melihat, apakah dakwah versi PKS itu lurus atau tidak. Kalau lurus, didukung; kalau tidak, dikoreksi. Itu kan amanah amar makruf nahi munkar.

    Tidak apa-apa PKS tambah populer. Tidak masalah. Wong, ini tujuannya membuat OPINI PEMBANDING, biar masyarakat kaum Muslimin bisa melihat opini lain, selain kampanye politik yang intens disebarkan oleh mesin politik PKS. Semoga bermanfaat dan menjelaskan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  11. Grandong mengatakan:

    1. PKS Anda ? Saya bukan orang PKS Bro ! Baca paragrap terakhir komen saya : Bagi saya sendiri PKS is NOTHING. Sama sekali tidak penting ! Juga untuk partai-partai yang lain.

  12. lebah madu mengatakan:

    Assalamu’alaikum wrwb.
    Mas AMW…
    Seperti yg telah diungkap akh DOS di pkswatch
    Kita telah tahu sumber masalah di PKS
    maka kita doakan aja semoga si bos
    dibukakan pintu hatinya untuk menerima kebenaran …
    jika tidak berubah-berubah ya semoga Allah melengserkannya…bi idznillah..
    Dan selama masa itu kita harus bisa bersabar menerima kepemimpinannya…
    seperti dalam sebuah hadits yg menyatakan bahwa lebih baik dipimpin oleh penguasa yg zhalim daripada tidak ada yg memimpin dan selama itu kita harus bersabar..
    ya tentunya dg tetap berusaha untuk
    mengingatkannya, menasehatinya..dsb.
    Memang kita merasa tidak puas dengan kepemimpinannya tetapi seberapa panjangkan usia manusia, insya Allah nanti akan digantikan oleh generasi yang semoga berpihak kepada kebenaran.
    Demikian masukan dari saya semoga bermanfaat.

  13. heru mengatakan:

    intinya tulisan ini mau menyerang pks,wkwkwk ada2 saja? tulisan artikel yang tidak mencerdaskan, hanya memecah belah umat,seharusnya sikap kita adalah tidak seperti ini, tulisan panjang2 hanya untuk mendeskredikan saudara islam sendiri

    Admin: saat berpolitik lupa Islam, saat disudutkan memakai “tameng” Islam. Sayang juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 145 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: