Belajar dari Episode Hidup Ustadzah Yoyoh

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti sudah menjadi berita di berbagai media. Hari Sabtu, 21 Mei 2011 lalu, Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal dunia. Beliau meninggal dalam kecelakaan di tol Palikanci Cirebon, sekitar dini hari 02.30. Beliau meninggal setelah menghadiri wisuda putra pertamanya, Umar Al Faruq, yang diwisuda di UGM Yogyakarta.

Sebagai seorang Muslim, apalagi tahu kebaikan sosok yang meninggal, sangat layak kita mengucap: “Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu anha.” Amin. Adapun bagi kawan-kawan yang anti kepada orang parlemen, ya mereka memiliki hak untuk bersikap. Saya pribadi menilai Ustadzah Yoyoh lebih dari posisi beliau di parlemen. Kita melihatnya sebagai sosok da’iyah yang komitmen mendakwahkan nilai-nilai Islam. Khususnya, di kalangan akhwat muslimat.

Daun Pun Berguguran di Jalan Ini...

Bagi generasi muda Muslim saat ini mungkin mereka kurang tahu siapa sosok Ustadzah Yoyoh Yusrah -semoga Allah merahmatinya-. Beliau adalah perintis dakwah Islam dari kalangan Tarbiyah (yang kini menjelma menjadi PKS). Beliau wanita yang memiliki dedikasi tinggi dalam dakwah di kalangan Muslimah.

Kebaikan Bunda Yoyoh yang banyak disebut-sebut kalangan dakwah, ialah beliau memiliki anak banyak. Kalau tidak salah sampai 13 orang (mohon koreksi kalau salah). Di jaman kiwari, memiliki anak sebanyak itu merupakan PRESTASI luar biasa. Hebatnya, Ustadzah Yoyoh tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita atau ibu rumah-tangga. Sambil dakwah, sambil terus mendidik anak-anaknya dengan ajaran Syakhsyiyah Islamiyyah.

Kalau dulu kalangan Tarbiyah memiliki seorang Syaikh, yaitu Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah. Maka bisa dikatakan, Bu Yoyoh adalah seorang Syaikhah (syaikh wanita) di kalangan Tarbiyah.

Namun, wafatnya Bu Yoyoh dalam kecelakaan di ruas tol Palikanci Cirebon menjadi ending yang bisa dikatakan tragis. Beliau meninggal justru setelah menghadiri wisuda anak pertamanya di UGM. Ibaratnya, beliau wafat ketika hendak memetik buah dari proses didikannya terhadap putranya. Baru juga buah itu dipetik, dan hendak dihidangkan; Malakat Maut sudah menjemputnya. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Dan menariknya, dari sekian banyak penumpang kendaraan, hanya Bu Yoyoh Yusroh sendiri yang mengalami kecelakaan berat sampai meninggal. Sopir kendaraan sendiri dan orang lain, tidak mengalami luka-luka yang sedemikian serius. Itu artinya, ajal Bunda Yoyoh sudah sampai di titik itu. Laa yasta’khiruhu sa’atan wa laa yastaqdimuhu (tidak bisa diakhirkan sedikit pun, dan tidak pula bisa dimajukan sedikit pun).

Dari kejadian seperti ini bisa saja disimpulkan: Betapa sensitif-nya lingkungan tempat Bunda Yoyoh beraktivitas selama ini. Sosok sebaik beliau, dengan segala reputasi dan kontribusinya dalam dakwah Islam, sampai harus meninggal sedemikian rupa. Tidakkah ada dampak keberkahan itu, sehingga seseorang yang telah banyak berjasa, diberi proses wafat yang lebih baik? Wafat saat hendak memetik buah didikannya, selama puluhan tahun, dengan cara yang begitu memilukan.

Jadi teringat sebuah riwayat dari Nabi Saw, bahwa Allah tidak akan mencabut ilmu secara tiba-tiba dengan sekali cabut. Tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama-ulama. Jika ulama sudah tidak ada, manusia akan bertanya kepada orang-orang bodoh, lalu mereka pun memberi fatwa yang isinya: sesat dan menyesatkan.

Keadaan suatu komunitas, kelompok, jamaah, atau apa saja; juga berlaku prinsip seperti itu. Alangkah malang, kalau suatu kelompok semakin DISUCIKAN dari orang-orang yang baik, lurus, shalih, dan istiqamah. Semakin suci dari kebaikan-kebaikan, artinya semakin makmur dengan sebaliknya.

Semoga mushibah yang menimpa Ustadzah Yoyoh Yusroh menjadi nasehat bagi siapapun (termasuk diriku sendiri), yang masih berhajat kepada kebaikan. Semoga DISANA segera ada perbaikan dan reformasi komitmen keimanan, agar tersebar kemaslahatan umum di tengah-tengah Ummat ini. Allahumma amin. Ya, mau apalagi kita, selain mengisi sisa kehidupan dengan kebajikan? Bila tidak, ya entah apalagi yang bisa diharapkan? Wallahul Musta’an wa ilahi Mustaka.

“Turut Berduka Atas Wafatnya Seorang Da’iyyah”

AM. Waskito.

About these ads

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 151 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: