Wahai Departemen Agama RI: Mengapa Anda Menolak Kesaksian Seseorang yang Sudah Melihat Hilal?

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Tadi malam, Sidang Itsbat Departemen Agama RI sudah menyatakan, bahwa hari raya Idul Fithri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, atau bertepatan dengan hari Rabu. Penetapan Depag RI ini didukung nasehat MUI (KH. Ma’ruf Amin), pernyataan mayoritas ormas Islam, hasil perhitungan falaqiyyah para ahli hisab, hasil pantauan astronomi oleh beberapa pakar astronomi. Dengan demikian, tampaklah bahwa ketetapan Depag RI itu sangat kuat.

Ibadah Islami Berdasarkan Rukyatul Hilal (Melihat Bulan Sabit).

Tetapi kami justru menghimbau kaum Muslimin agar: “Segera membatalkan puasanya pada tanggal 30 September 2011, atau pada hari Selasa; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Selasa, silakan; kalau mau ikut Shalat Id pada hari Rabu (seperti yang kami lakukan), silakan juga; pendek kata, batalkan puasa pada hari Selasa, tanggal 30 Agustus 2011.

Bagaimana bisa kami berani menentang penetapan Depag RI soal kepastian Idul Fithri pada tanggal 31 Agustus 2011 itu, padahal kami ini bukan siapa-siapa dibandingkan mereka? Ilmu falaq ya segitu-gitunya, pengalaman melihat hilal tak pernah, pengalaman astronomi minim, ilmu fiqih juga minim. Kok berani-beraninya menentang ketetapan Depag RI yang sudah mapan itu? Onde mak oey… (meminjam istilah masyarakat Padang).

Berikut alasan-alasan yang bisa kami kemukakan:

[1]. Perlu sama-sama dipahami, bahwa urusan ibadah memiliki aturan berbeda dengan muamalah. Ibadah memiliki khashaish (kekhususan-kekhususan) yang merupakan hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya. Dalam soal ibadah shaum, Haji, dan hari raya, Nabi Saw memerintahkan metode RUKYATUL HILAL (melihat awal bulan). Tidak masalah kita menjalankan ibadah berbeda dengan kalender, asalkan syarat-syarat ketentuan ibadah itu terpenuhi. Dalam urusan ibadah memakai Rukyatul Hilal, sedangkan dalam urusan muamalah memakai kalender (hasil hisab). Tidak mengapa semua ini.

[2]. Sudah ada pernyataan yang datang SEBELUM pengumuman Sidang Itsbat Depag RI, bahwa ada di antara kaum Muslimin di Jepara dan Cakung Jakarta sudah melihat hilal. Maka pengumuman ini harus diterima, selama yang bersangkutan mau bersumpah. Demikian kaidah aslinya. Apapun teori ilmu falaq, nasehat MUI, perhitungan ahli hisab ormas Islam, pantauan astronomi, dll. semua itu menjadi tidak berlaku, jika sudah ada kaum Muslimin yang mengaku telah melihat hilal. Inilah dasar aplikasi Syariat Islam aslinya, sebelum kaum ahli hisab/pakar astronomi menguasai wilayah ibadah ini. Hal itu sesuai sabda Nabi Saw.: “Shumuu li ru’yatihi wa ufthiruu li ru’yatihi” (shaumlah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah -saat awal Syawal- dengan melhatnya juga). [HR. Bukhari Muslim]. Untuk memastikan baca artikel voa-islam.com ini: Hilal Sudah Telrihat Senin Sore, Tapi Pemerintah Tetapkan 1 Syawal Hari Rabu.

[3]. Depag RI dan ormas-ormas Islam tertentu jelas TELAH MENOLAK KESAKSIAN beberapa Muslim yang telah melihat hilal. Padahal dalam riwayat diceritakan, ada seorang Shahabat datang kepada Nabi Saw dan mengaku telah melihat hilal. Lalu Nabi Saw meminta dia bersumpah, dia pun bersumpah. Maka kemudian Nabi Saw memerintahkan Bilal Ra mengumumkan, bahwa besok kaum Muslimin berpuasa. Lihatlah, cara ini sangat mudah, sangat mudah, sangat simple; sebelum akhirnya DIBUAT KERUH oleh para ahli hisab, para ahli falaqiyyah, para pakar astronomi, dan sebagainya. Padahal Nabi Saw bersabda: “Yassiruu wa laa tu’assiruu” (permudahlah, jangan dibuat susah).

[4]. Perlu diketahui bahwa metode penetapan melalui Sidang Itsbat Depag RI itu ternyata merupakan bentuk dari memaksakan metode hisab/falaqiyyah secara EKSTREM. Ini adalah bentuk kesesatan baru yang tidak sesuai Sunnah Nabi Saw. Mengapa dikatakan demikian? Sebab mereka jelas-jelas MENOLAK kesaksian beberapa orang Muslim di Cakung dan Jepara yang telah mengaku melihat hilal. Kata mereka, “Tidak mungkin hilal sudah terlihat! Menurut perhitungan kami dan pengamatan astronomi, seharusnya hilal belum terlihat.” Nah itu dia, mereka menolak kesaksian melihat hilal karena alasan perhitungan ilmu falaq dan pantauan astronomi. Padahal Nabi Saw tidak mempersyaratkan hal itu. Cukuplah kesaksian seorang Muslim yang mau disumpah, itu sudah cukup.

[5]. Kita harus memahami, bahwa Allah Ta’ala berkuasa atas segala kejadian di alam ini. Bisa jadi, sesuatu yang tidak mungkin secara ilmu falaq/astronomi, bisa menjadi mungkin menurut Allah Ta’ala. Apakah kita meragukan Kekuasaan Allah? Percayakah Anda, bahwa bisa saja Allah menampakkan hilal kepada sebagian hamba-Nya dan menutup hilal bagi sebagian yang lain? Hal itu sangat bisa terjadi dan sering terjadi. Tampaknya hilal adalah karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dan prediksi sains tidak selalu sesuai kenyataan. Banyak bukti-bukti di lapangan bahwa prediksi sains berbeda dengan kenyataan, misalnya prediksi cuaca, prediksi badai, prediksi gunung meletus, prediksi tsunami, prediksi janin dalam kandungan, prediksi usia harapan hidup pasien, prediksi penyakit dalam tubuh, prediksi hasil panen, prediksi pertumbuhan tanaman, prediksi kecepatan kendaraan, dll. Apakah di semua keadaan itu sains bisa memberikan hasil prediksi sempurna? Contoh kekeliruan informasi sains. BMKG pernah memprediksi ancaman tsunami di Sumatera telah berlalu, tetapi kemudian tsunami melanda Mentawai dan sekitarnya, ratusan orang meninggal disana. Sebaiknya Ummat Islam jangan memutlakkan hasil analisis sains, meskipun jangan pula menolaknya mentah-mentah.

[6]. Para ahli falaqiyyah/ahli hisab/pakar astronomi sering marah kalau mendengar ada seorang Muslim mengaku sudah melihat hilal. Mereka beralasan, “Tidak mungkin terlihat. Itu bohong semata! Berdasarkan perhitungan kami, hilal belum terlihat!” Orang-orang ini bersikap IRONIS, seolah hak dalam penentuan urusan din ini ada di tangan mereka sepenuhnya. Seolah, mereka berada dalam maqam ma’shum, yang tak tersentuh kesalahan. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Disini kita bisa buktikan, bahwa orang-orang itu bersikap TIDAK KONSISTEN dengan sikapnya. Pertama, kita bertanya ke mereka, “Mengapa Anda menolak kesaksian Muslim yang sudah melihat hilal?” Mereka jawab, “Berdasarkan perhitungan kami, dan diperkuat hasil pantauan astronomi, hilal tak mungkin terlihat. Bohong besar kalau ada yang mengaku sudah melihat.” Kedua, kita bertanya lagi, “Kalau hilal tak mungkin terlihat, lalu bagaimana solusinya?” Mereka jawab, “Ya, bulan Ramadhan kita istikmal-kan menjadi 30 hari. Mudah bukan!” Nah, disana itu bukti sikap TIDAK KONSISTEN mereka. Kalau mereka konsisten dengan metode Rukyatul Hilal dengan syarat-syarat seperti yang mereka tetapkan, belum tentu bisa melihat hilal pada tanggal 30 Ramadhan, tanggal 31, dan sebagainya. Bagaimana kalau langit tertutup mendung terus, darimana mereka akan bisa melihat hilal? Perlu diketahui, Observatorium Boscha itu berkali-kali gagal mengamati gerhana, komet, atau meteor gara-gara langit terhalang oleh mendung/awan. Metode istikmal (menggenapkan bulan menjadi 30 hari) adalah metode Sunnah, bukan berdasarkan teori-teori falaqiyyah/astronomi. Kalau mereka mau mengambil Sunnah dalam soal ISTIKMAL, mengapa mereka menolak Sunnah dalam kesaksian seorang Muslim bahwa dia sudah melihat hilal? Dimana sikap konsisten mereka?

[7]. Para pakar falaqiyyah/ahli hisab/astronomi menuduh bahwa kesaksian beberapa Muslim yang telah melihat hilal pada saat senja hari, 29 Agustus 2011, sebagai bentuk kebohongan. Masya Allah, padahal Nabi Saw hanya mempersyaratkan SUMPAH saja untuk memverifikasi kesaksian itu. Hal tersebut adalah bentuk kemudahan dalam Syariat. Lalu pertanyaannya, “Bagaimana kalau kesaksian beberapa orang yang mengaku melihat hilal itu benar-benar bohong?” Jawabnya sebagai berikut: (a). Kalau mereka dusta, dosanya ditanggung mereka sendiri di hadapan Allah; (b). Selama kita sudah berpuasa 29 hari, itu sudah mencukupi ketentuan puasa Ramadhan. Kecuali kalau puasa kita baru 28 hari, jelas harus disempurnakan. Jadi, hal semacam ini dibuat ringan saja: sejauh kita sudah puasa 29 hari dan ada kesaksian Muslim bahwa dirinya telah melihat hilal dan mau disumpah, itu sudah mencukupi.  Anda tidak akan disebut maksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya karena telah puasa 29 hari. Bahkan menurut riwayat Ibnu Mas’ud Ra, puasa Nabi Saw lebih banyak 29 hari, bukan 30 hari.

[8]. Sangat berbahaya kita berpuasa saat 1 Syawal atau saat jatuh hari raya Idul Fithri. Ini berbahaya, haram menurut Syariat Islam. Siapapun puasa di hari Idul Fithri, hal itu merupakan maksiyat serius kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam kaidah Sunnah, kalau ada dua pilihan yang sama-sama halalnya, kita dianjurkan memilih yang paling ringan. Misalnya, saat dalam safar, kita boleh Shalat secara sempurna, tapi boleh juga Shalat Qashar. Maka memilih yang lebih ringan (shalat qashar) itu lebih utama dan lebih sesuai Sunnah. Dalam hal ini, memilih shaum 29 hari lebih mudah dan lebih sesuai Sunnah Nabi Saw, daripada berpuasa 30 hari.

[9]. Andaikan perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi dalam soal Rukyatul Hilal harus diterima sebagai KEPASTIAN, maka itu sama saja dengan membuang Sunnah Rukyatul Hilal itu sendiri. Kalau begitu caranya, ya sudah Anda tetapkan saja jadwal Ramadhan/Syawal secara abadi seperti “jadwal shalat abadi”. Jadi, tidak usah bertele-tele bicara Rukyatul Hilal. Karena percuma juga kaum Muslimin melakukan Rukyatul Hilal, kalau nanti tidak sesuai perhitungan ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi, maka Rukyatul Hilal itu tetap akan ditolak juga (seperti Sidang Itsbat Depag RI tanggal 29 Agustus 2011 itu). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa AROGANSI para pakar ilmu falaq/ilmu hisab/astronomi berhasil membuang Sunnah Rukyatul Hilal dari kehidupan kaum Muslimin. Nah, inilah yang saya sebut sebagai sikap EKSTREM orang-orang itu.

[10]. Lalu bagaimana dengan nasehat agar kaum Muslimin lebih mengutamakan PERSATUAN daripada kesaksian Rukyatul Hilal? Bantahannya sebagai berikut: (a). Dalam Surat Ali Imran dikatakan, “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an, wa laa tafarraquu.” Dalam ayat ini berpegang teguh kepada kebenaran DIDAHULUKAN dari persatuan. Hikmahnya, apa artinya bersatu kalau ingkar terhadap Syariat Islam?; (b). Ibnu Mas’ud menjelaskan pengertian Al Jamaah, “Ittifaqu bil haqqi walau kunta wahid” (sepakat dengan kebenaran walau engkau hanya seorang diri). Kita harus berpegang dengan kebenaran, meskipun seorang diri; (c). Dalam Sunnah disebutkan sabda Nabi Saw, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf saja). Mengingkari kesaksian melihat hilal adalah maksiyat serius, harus ditolak, kita tak boleh mematuhinya; (d). Persatuan yang dikehendaki oleh Islam adalah persatuan yang Syar’i, bukan persatuan yang membuang kaidah Sunnah Rasululullah Saw; (e). Bersatu di atas kebathilan justru sangat dilarang dalam Islam, seperti disebut dalam Surat Al Maa’idah, “Wa laa ta’awanuu ‘alal itsmi wal ‘udwan” (jangan kalian bekerjasama di atas dosa dan permusuhan); (f). Para ulama, salah satunya Ibnu Utsaimin rahimahullah, mengatakan bahwa kalau ada Muslim yang melihat hilal, sementara Ulil Amri sudah menyatakan bahwa hari itu hari berpuasa, maka dia dipersilakan berbuka untuk dirinya sendiri dan tak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Mengapa orang itu tidak dilarang berbuka, malah disuruh berbuka di hari itu? Sebab HARAM berpuasa saat hilal sudah terlihat.

Demikian alasan-alasan yang bisa kami sebutkan. Sekali lagi, kami anjurkan kaum Muslimin untuk membatalkan puasa pada tanggal 30 Agustus 2011 (hari Selasa) ini, dengan keyakinan bahwa sudah masuk tanggal 1 Syawal. Tidak boleh kita puasa di hari 1 Syawal. Dalilnya, sudah ada kesaksian sebagian Muslim bahwa mereka sudah melihat hilal yang diperkuat dengan sumpah. Hasil Sidang Itsbat Depag RI tidak bisa menganulir hasil kesaksian tersebut, sebagaimana Nabi Saw tidak menolak kesaksian seperti itu. Kecuali, kalau Depag RI menempuh jalan selain Sunnah Rasulullah Saw. Dan tidak mengapa kita ikut Shalat Id pada hari Rabu besok, 31 Agustus 2011 sesuai keputusan Sidang Itsbat Depag RI.

Semoga pernyataan ini bisa bermanfaat dan ikut disebarkan di kalangan kaum Muslimin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab. Wastaghfirullaha li wa lakum.

Depok, 30 Agustus 2011.

Abu Muhammad Waskito.

About these ads

182 Balasan ke Wahai Departemen Agama RI: Mengapa Anda Menolak Kesaksian Seseorang yang Sudah Melihat Hilal?

  1. Hartono Jay mengatakan:

    Terimakasih atas pencerahannya yg sangat bermanfaat.

  2. Rian Pattinson mengatakan:

    Maaf, Tidak setuju..

  3. Anonymous mengatakan:

    mau sholat kapan terserah….gag sholat juga gag masalh…karena sunnah…
    da yang mudah kok dibuat susaah….
    semua kembali pada…
    la kum di nukum wa liyadin…agama u agama u dan agama ku agamaku…
    mana yang anda yakini itulah pilihan anda…
    saya setuju tidak berpuasa karena sudah terdengar takbir…
    oleh karenanya pertanda berakhirnya romadhan……

  4. sigit harmoko mengatakan:

    saya senang sekali dengan artikel ini terutama tentang “hal yang mudah kenapa dibuat susah”, saya bukan orang muhammadiyah tp juga bukan orang NU atau yang lainya, saya hanya muslim biasa, tp saya merasa pencerahan ini sungguh meyakinkan saya (yang tadinya ragu2) untuk tidak berpuasa pada hari selasa ini. Namun saya mohon kejelasan apakah di jepara dan cakung memang ada seorang muslim yang benar2 melihat hilal? kalau ya berarti sungguh menyesatkan para pakar, alim ulama, bahkan pemerintah yang telah menolak kesaksian orang muslim yang melihat hilal tersebut…

  5. Anonymous mengatakan:

    Mohon di baca sekali lagi tulisan anda. Sangat tidak konsisten.

    Anda se akan akan menulis Dep. Agama arogan tapi dengan gaya yang sangat arogan mengatakan ratusan orang berbuat salah(yang munkin benar). Seakan akan anda lah yang paling benar dan taat kepada sunah.

    Jika ingin mengajak orang lain, mengikuti anda. Tidak perlu dengan menjelekan orang lain. Cukup tulis apa yang menjadi pertimbangan anda. Dengan seperti itu anda terlihat lebih percaya diri dan indah (se indah ajaran Islam)

  6. Anonymous mengatakan:

    Saya copy dari atas. (f). Para ulama, salah satunya Ibnu Utsaimin rahimahullah, mengatakan bahwa kalau ada Muslim yang melihat hilal, sementara Ulil Amri sudah menyatakan bahwa hari itu hari berpuasa, maka dia dipersilakan berbuka untuk dirinya sendiri dan tak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Mengapa orang itu tidak dilarang berbuka, malah disuruh berbuka di hari itu? Sebab HARAM berpuasa saat hilal sudah terlihat.

    Mohon dilihat konteks nya secara keseluruhan
    Di persilahkan untuk ber Buka, karena menurut pndapat nya dia sudah melihat Hilal, mengapa orang itu di minta tidak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Karena itu pendapat pribadi nya, sehingga dapat di gunakan untuk pribadinya, sedangkan yang lain tetap pada Ulil Amri. Lihat betapa indah nya Islam.

    Saya yakin Ibnu Utsaimin rahimahullah, sangat lah bijak sana. Ulama seperti ini yang dapat menentramkan Indonesia

  7. Anonymous mengatakan:

    maaf menurut saya tulisan ini justru sangatlah bijak, tanpa menghimbau untuk mengikuti hari apa jatuhnya hari raya idul fitri, ini bukan menjelekan orang lain, namun sebatas meluruskan bahwa hal yang mudah dan simpel kenapa hrs dibuat susah..
    maaf sekali lagi, mana yang dimaksud dengan “tidak konsisten”?, dan mana yang dimaksud dengan “gaya yang sangat arogan” dalam tulisan ini?, bukankah perbedaan itu indah (seindah ajaran islam).

  8. Anonymous mengatakan:

    Mohon maaf jika saya salah menafsirkan tulisan ini (hanya meluruskan, yang tidak lurus). Saya setuju Perbedaan itu indah karena semua memiliki dasar yang kuat. :).

  9. Anonymous mengatakan:

    apapun perbedaan kita, kapanpun lebaran kita, sekarang atau esok, untuk semua kaum muslim yang berbahagia, selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir bathin……

  10. Abu Aisyah mengatakan:

    Ustadz. sedikit catatan mengenai pengamatan hilal di cakung di Jakarta.
    daerah itu banyak Pabrik/ Kawasan Industri penuh dengan polusi ditambah lagi banyak gedung-gedung tinggi di Jakarta.

    Banyak sekali Tim Ru’yah Hisab (BERKOMPETEN) yang melakukan pengamatan hilal di berbagai tempat di indonesia,
    LOGIKANYA lebih mudah melihat hilal di tempat yang jauh lebih IDEAL dari pada jakarta.
    Laporan dari berbagai Tim menyebutkan hasilnya NIHIL.

    Pertanyaannya
    1. logiskah cakung yang kondisinya seperti yang disebutkan di atas sering terlihat hilal*) sementara di tempat lain tidak
    2. Siapa yang melakukan Ru’yah Hilal di cakung apakah benar-benar lembaga yang berkompeten.
    3. Benarkah yang dilihat adalah HILAL? dengan kondisi Jakarta yang berpolusi dan banyak gedung-gedung tinggi seperti itu agaknya meragukan
    4. Sidang Itsbat itu mempertemukan tokoh-tokoh Ormas Islam dan didukung para pakar/ ilmuwan terkait. Mereka-mereka adalah Tim yang punya ilmu pengalaman dalam bidangnya dan terjun lansung mengamati di lapangan dengan penyebaran tim ke berbagai daerah,. Mereka bukan kumpulan orang-orang bodoh.
    Apakah Ustadz Abusyakir mengamati langsung ke lapangan? sehingga punya dasar dalam bersikap

    *)Perlu dicatat DARI DULU Cakung sering terlihat hilal seperti dalam penentuan idul fitriseperti terjadi dalam penentuan idul fitri 1418/1998. PB NU menolak kesaksian hilal dari Cakung dan Bawean karena ketinggian hilal menurut ahli hisab hanya sekitar 1 derajat.
    Menurut pengalaman, ketinggian serendah itu tidak mungkin diru’yat. Laporan dari Bawean yang menyatakan melihat hilal setinggi 1 derajat selama 3 menit, dapat diduga tidak murni hasil ru’yat. Angka ketinggian 1 derajat tampaknya bukan diukur, tetapi dihisab: 360 derajat x 3 menit/(24×60 menit) = 0,75 derajat, dibulatkan menjadi 1 derajat. Bisa jadi yang dilihat adalah sekadar objek terang bukan hilal yang tampak selama 3 menit..
    (http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/22/aspek-astronomis-dalam-kesatuan-ummat/)

  11. Munawir mengatakan:

    Maaf Abu Muhammad Warsito. Orang Yang melihat Bulan Kemarin dan Laporannya tidak disertai Sumpah itu yang saya Tau. dan tidak datang ke dalam majlis/sidang yang digelar di ruang pertemuan kementerian Agama RI, jika datang Mungkin Juga Akan disumpahkan. Saya Rasa Jika Penulis Memiliki Kekuasaan yang sama dengan Menteri Agama saya yakin Penulis artikel ini pasti akan mengambil Langkah yang sama untuk menentukan 1 Syawal 1432 H. Anda Berani Menulis Seperti Ini Karena anda Tidak Berada diposisi Menteri Agama. Dan perlu dipertimbangkan Bahwa Menyempurnakan Hari dalam 1 Bulan Itu adalah 30 Hari Penuh.

  12. Rian mengatakan:

    bukannya meremehkan kesaksian 3 orang d cakung itu, tapi memang SEBAGIAN BESAR saksi tidak melihat hilal pada hari itu.

    صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ
    Artinya: “Bershaumlah berdasarkan ru’yatul hilal dan berharirayalah berdasarkan ru’yatul hilal. Jika terhalangi oleh mendung (atau semisalnya) maka genapkanlah bilangannya menjadi 30 hari.” (HR. Al-Bukhari).

    Memang haram berpuasa pada 1 syawal, namun pemerintah dan kesepakatan ulama memutuskan 30 agustus masih termasuk bulan ramadhan. sekarang bagaimana hukumnya orang yg berpuasa 29 hari sedangkan hasil kesepakatan pemerintah dan ulama memutuskan ramadhan 30 hari..? berdosakah meninggalkan 1 hari itu? dari hadistnya juga digenapkan 30 hari kalau memang terhalangi.

    Tidak setuju, Dilihat dari judulnya aja malah menyarankan dibatalkan. aq sangat bersyukur masih tersisa 1 ramadhan lagi.. bulan penuh berkah..

    Mohon maaf lahir bathin..
    Taqoballahu minna wa minkum..
    Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1432 H

  13. aditya mengatakan:

    membaca postingan anda terbesit di pikiran saya “kok seenake dewe”. skrg ada teknologi, tentu kesaksian itu hrus dibuktikan lebih lanjut oleh astronom dan ahli agama dan terbukti palsu. Mungkin pada jaman nabi sesuai cerita andanorang yang bersumpah itu mempunyai ilmu yg sdh diakui. Anda banyak nuduh orang lho di artikel anda, hati” mempertanggungjawabkannya

  14. [...] tulisan dari sini semoga bermanfaat/sbg pencerah/ataupun sekedar tambah wawasan. Assalamu’alaikum warahmatullah [...]

  15. Anonymous mengatakan:

    mas aditya, kok jadi emosi begitu si..kalau emang anda masih melakukan puasa hari ini berarti batal dong kalo emosi ky gitu..bukankah perbedaan itu wajar dan sangat indah…ambil hikmahnya saja deh,..anda pun masih menggunakan kata “mungkin” kan pada cerita jaman nabi, trus yg pasti mana….???

  16. edr mengatakan:

    “shaumlah kalian dengan melihat hilal, dan berbukalah –
    saat awal Syawal- dengan melhatnya
    juga dan apabila terhalang oleh awan atau belum terlihat jg,maka genapkanlah 30 hari”, yang bner bgtu masbro, jangan dpotong

  17. icado yes mengatakan:

    “BERBUKALAH”… Masya Allah…

  18. Nova Respulta mengatakan:

    Matur Nuwun. Jazakumulloh….

  19. DEDIE KURNIAWAN mengatakan:

    TERLALU BERANI… Pdahal nggak dtrima itu hak dri MUI… Klo masing2 klompok mrasa pnya andil n nntuin lebaran tambah kacau… Besok2 lbaran bisa lbih dri 4 hari…

    Pdahal fatwah2 ulama yg pling kuat supaya mngikuti pnguasa ditempat dmana ia brada…

    “…Maka jika terjadi perselisihan di antara mereka (kaum muslimin), kewajiban mereka adalah mengikuti keputusan penguasa di negaranya apabila dia seorang muslim, karena keputusan penguasa dengan menetapkan salah satu dari dua perbedaan akan menghilangkan perselisihan tersebut….”
    (Fatawa Al-Lajnah, jilid 8 no. 388).

  20. Anonymous mengatakan:

    lebaran hari selasa atau rabu..Idul fitri tetaplah 1 Syawal

  21. Anonymous mengatakan:

    http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3526-manut-pemerintah-dalam-hari-raya.html

    Pak Ustad,

    Apakah tulisan di link tersebut salah, beliau menjelaskan pendapat imam imam besar? Mohon pencerahan

  22. rio mengatakan:

    perbedaan adalah anugerah
    tapi sebelumnya perlu di ingat bahwa ada bintang kejora(planet venus) yg menyerupai bulan tapi tak sama
    sebaiknya masyarakat jangan menyalahkan bahwa si”A” telah melakukan metode hisab/falaqiyyah yg ekstrem atau kesesatan baru (seperti point 4 wacana diatas) karena hal itu berpotensi terjadinya “FITNAH”
    masyarakat harusnya mengetahui cara perhitungan rukhyatul hilal jangan hanya ikut2an saja
    YAKIN boleh tapi jangan FANATIK
    tapi yang WAJIB diketahui seluruh umat muslim di dunia “KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH S.W.T bukan milik manusia”

    BY: RIO GUNAWAN WIBISONO

  23. mvznto mengatakan:

    ada yang tau ga kenapa depag tidak pernah mempertimbangkan rukyat yang dilakukan negara lain?

  24. Anonymous mengatakan:

    lakum dinukum waliadin aja udah, gk pyah brantem-brantem kyk gini

  25. fen mengatakan:

    Sya’ban itu 30 hari dan Ramadhan 29 hari, Rasulullah semasa hidupnya shaum Ramadhan 30 hanya sekali karena tak melihat hilal.

    Rasulullah bila genap 29 hari (syarat jumlah hari dalam bulan) shaum Ramadhan kemudian tinggal menerima kesaksian seorang muslim yang mau bersumpah telah melihat hilal maka paginya shalat eid dan haram berpuasa.

    Zaman Nabi tanpa tegnologi sangat simple….hari ini tegnologi maju tapi kesannya “lebih pintar” dari Rasulullah malah cenderung keluar dari kebiasaan Rasul bahkan berani menolak kebiasaan Rasul.

    Di Makah walau waktunya belakangan dari Indonesia, menetapkan 1 syawal pada tanggal 30 Agustus 2011. Malaysia yang waktunya beda tipis sama Indonesia pun sudah melihat hilal sama seperti Makkah.

    Yang pasti hilalnya sama dimanapun kita berada…cuma kepentingannya saja yang berbeda. Indonesia memang aneh cenderung ingkar sunnah.

  26. Boby Chii Limtakh mengatakan:

    aduh saya udh puasa lagi jdi gmna yah…….
    haram gk yah

  27. Hyosunyoon_sulli mengatakan:

    Sebagai orang awam saya mengikuti keputusan orang-orang yang tahu dan berilmu dalam hal penentuan 1 Syawal, Insya Allah mereka tidak akan sembarangan dalam memutuskan tetapi didukung oleh ilmu dan fakta. Saya yakin mereka tidak akan menyesatkan umat. Insya Allah. Untuk seluruh umat muslim di dunia Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1432 H. Taqobbalallohu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin.

  28. abu hufaz mengatakan:

    ini kalo orang kafir yang baca pasti seneng..muslim pada ribut.hargailah perbedaan,jangan bercerai berai,jalin ukhuwah yang mantap.berkatalah yang baik,kalou nggak bisa diam aja.

  29. Barkah Oka Sumandradi mengatakan:

    tergantung keyakinan kita masing-masing….

  30. Faisal Noer W mengatakan:

    Selamat Idul Fitri 1432 H

  31. Robbie Cruz mengatakan:

    Selamat Hari Raya Idul Fitri

  32. Mr x mengatakan:

    Mau jadi pahlawan kesiangan? huy setan tolong jangan hasut kami dengan kata2mu itu, ada-ada aja akal setan untuk merusak umat muslim di hari akhir, mengajak untuk berbuka, hahaha, kau hari ini berhasil setan, banyak umat muslim yang tertipu oleh mu, banyak kaum muslim yang lemah imamnya kehilangan 1 hari puasanya, .. ..hay setan tolong jangan racuni kami, .. ..

  33. mdede mengatakan:

    bagaimana dengan kesaksian dari saudara kita yang ada di luar yang magribnya lebih lambat , tentu hilal akan lebih mudah terlihat. bukankah bumi kita satu , bulan kita satu , agam kita satu dan nabu kita satu, bukan kah mereka yang ada di luar negeri juga sauadar kita >

  34. SHELLAYART PREDICTION mengatakan:

    Tanpa mengurangi
    rasa hrmt kpd
    sesama Islam.
    hari selasa tgl 30
    agustus pd pukul
    18.30 WITA Bulan sdh kelihatan jelas di
    daerah sulawesi.
    Terbenam pd pukul
    19.30. Berarti tgl 30
    agustus kita telah
    memasuki bulan Syawal.

  35. shoechardhiyehc mengatakan:

    mantaf sodara. Tdi jam 06.00 aq sudah melihat hilal.

  36. shoechardhiyehc mengatakan:

    Perbedaan penentuan
    jatuhnya 1 syawal sdh kerap
    terjadi di negara ini. Heranx
    koq di negara lain kejadian ini
    tdk prnh terjadi. Apakah krn
    di negara ini terlalu banyak orang pintar2 bodoh ?
    Sy salut sama nelayan2 yg
    hampir tiap malam melaut,
    mereka tdk perlu
    menggunakan alat maupun
    hitungan klau cuma untk menentukan munculx hilal.
    Mereka cukup menggunakan
    kode alam yg akurasix 100%
    tepat. Perubahan pasang
    surutx air laut sangat
    akuratif untk menentukan munculx hilal, bahkan ada
    sejenis tumbuhan laut yg
    setiap kuncupx mekar adalah
    pertanda hilal sdh muncul.
    Andai pertanda2 ini digunakan
    sy ykn tdk akan prnh ada perbedaan di negara ini. Tp
    syng ini hanyalah penemuan
    nelayan2 yg tdk
    berpendidikan jd tdk
    diperhatikan oleh pemerintah.

  37. odinx mengatakan:

    anehnya negara ini negara pancasila kok ikut2n netapin 1 syawal sih? apaan coba?
    Indonesia kan juga luas dari papua smpe aceh knapa dipaksain idul fitri tgl 1 pdhl malaysia yang segaris bujur ud idul fitri skrg? Tanya kenapa?
    Orang2 depag harusnya diisi orang yang bener2 netral tanpa tendensi apapun. Soalnya kalo gini yang jadi dosa ya pemimpinnya. Insyaallah rakyat yang lakum dinukum waliyadin aman dr dosa. :)

  38. ali santri shinethink mengatakan:

    yang NU diharapkan besok menjaga
    ketertiban shalat ied
    Muhammadiyah dan besoknya lagi
    yang Muhammadiah menjaga
    ketertiban shalat NU. Dan kafir
    diharapkan menghormati perbedaan ibadah umat muslim.
    Tertanda :muslim garis lembut.

  39. Anonymous mengatakan:

    Saudaraku, yang saya tahu kenapa kesaksian melihat hilal di Cakung ditolak adalah karena saksi tersebut tidak disumpah. Kemudian dari beberapa orang yang menunggu hilal di Cakung, hanya satu orang yg mengaku menyaksikan sedangkan orang-orang yang lain tidak melihat. Wallahu a’lam ….

  40. info mengatakan:

    katanya di dwitter menag minta maaf karena 1 syawal trnyta suda jtuh hari ini?

  41. Anonymous mengatakan:

    To Shellayart : kalau hilal terihat pada tanggal 30 Agustus jam 18 wita, berarti sholat Ied nya tanggal 31 Agustus.

  42. bagol mengatakan:

    Assalamu’alaikum w w
    Saya heran dg ummat Islam,knapa hal yg mudah ini justru dibikin sulit dan ruwet.Tengoklah negara lain,bagaimana amerika,Inggris dll yg ilmu astronominya sudah unggul dapat menghitug dengan cermat tidak hanya tgl 1 januari th depan tapi bahkan gerhana matahari 50 th yang akan datang saja bisa di tentukan sekarang dg tepat.Knapa kita menentukan 1 syawal yg setiap th pasti terjadi kok selalu ribut.menurut saya tidak mungkin ada tgl 1 syawal itu dua.pasti hrs satu, Harus ada standar penghitungan kalender Hijriyah secara Internasional yg kemudian jadi acuan seluruh ummat islam dunia.Sekarang zaman sudah begitu majunya.Kumpulkan ahli2 astronomi islam seduana,yg bukan ahlinya minggir,jangan ikut nambah ruwet.Nah beres kan?
    Malu donk,tiap th ribut itu2 aja,….rukyat,hisab…rukyat hisab…….Udah jaman canggih kayak gini kok ! keliatan gobloknya !!!

  43. Jeje archy mengatakan:

    Saya juga tidak setuju !! Kenapa ?? Karena dahulu semua umat nabi muhammad SAW, hanya memeluk satu keyakinan yakni “ahlusunnah waljama’ah” tapi coba sekarang kita lihat keyakinan islam itu berbeda2 walau satu tujuan !! Ada muhamadiyah,persis,dll, jadi zaman nabi pantas,kalau seseorang yang bersaksi bahwa dia telah melihat hilal..Karna dulu tidak ada muhamadiyah,persis dll.Jadi masih bisa di percaya !! Pokok dri komentar saya adalah “dulu dan sekarang berbeda” dan maaf jika komentar saya salah,karna ini yang saya tahu !! Terimakasih

  44. Anonymous mengatakan:

    Patokannya bukan negara tetangga atau arab tapi sunnah apakah di indonesia sudah melihat hilal ternyata nihil padahal di ulama-ulama indonesia sudah menggunakan hisab dan di padukan dengan imkanul ruk’yat, klu di malasyia dan arab sdh melihat hilal silahkan jangan ikut-ikutan tanpa ilmu tapi kita di indonesia juga harus menentukan sendiri tentang hilal sesuai dengan keilmuan.sukron, akhmad k

  45. akmad mengatakan:

    Patokannya bukan negara tetangga atau arab tapi sunnah apakah di indonesia sudah melihat hilal ternyata nihil padahal di ulama-ulama indonesia sudah menggunakan hisab dan di padukan dengan imkanul ruk’yat, klu di malasyia dan arab sdh melihat hilal silahkan jangan ikut-ikutan tanpa ilmu tapi kita di indonesia juga harus menentukan sendiri tentang hilal sesuai dengan keilmuan.sukron, akhmad k

  46. Abdullah mengatakan:

    Walau negara kita ber-ideologi “pancasila” tapi menteri agama tentu muslim yang berilmu juga. Pengambil keputusan ini tidak menguasai dasar syar’i yg cukup. Shg menjadi tidak independent. Dalam menetapkan 1 syawal aja pake cara2 “DEMOKRASI’.. dia bilang.. tgl 1 syawal jatuh hari rabu 31 Agustus.. SETUJU………??? karena di dominasi suara terbanyaka setuju.. akhirnya menag menetapkan 1 syawal jatuh pada tgl 31 Agts. Sungguh pengambilan keputusan yang menjauh dari kaidah2 syar’iyah.. Buat Mr.X.. mendingan dikau belajar dulu untuk berakhlak yg baik. kemudian bicara/koment baik atau mulut/koment anda Bungkam saja.. !
    Yg ga berilmu dan cuma punya ajian”taqlid buta”.. mohon maaf ane saranin mending kalian buka mata, buka telinga… dan ane yakin masalah hidayah urusan Allah,. walaupun kebenaran telah sejuta kali di sampaikan padanya..
    Taqobalallahumma mina waminkum

  47. gombloh mengatakan:

    Gua emang goblok,tapi suruh ngikutin pemerintah yang korup ntar dulu donk!!!

  48. jaiz mengatakan:

    di indonesia udah ada yang melihat bulan kok. ttpi dari dept agama ga mw mengambil sumpahnya org yg melihat. Jadi kesannya benar2 sm skali ga ada yang melihat. Sampe di web republika diberitakan seorang kiai di jakarta mengambil sumpah org tsb dan merayakan id hari ini.

  49. ramadhian mengatakan:

    Kalender Hijriah itu dari awal jg yg nentuin kan Negeri Arab, terhitung dari Hijrah nya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah

    Ini artinya Mekkah yg jadi acuan.

    Kalo di Mekkah sudah tanggal 1 Syawal, berarti di negara lain juga tanggal 1 Syawal .. mudah aja kan ?

  50. Sugeng Widarko mengatakan:

    sangat menarik dan berbobot…. tks sobat sy juga sudah lebaran hari ini.

  51. Sugeng Widarko mengatakan:

    kalo pake rukyat… seharusnya semua bulan juga dirukyat …. bukan cuma bulan2 tertentu saja… Dan jika pake rukyat kalender hijriah pun tidak boleh ditulis dulu sebelum ada hasil penentuan dari rukyat… Apa seharusnya begitu ?

  52. wong edan mengatakan:

    wbok ga usah pd ribut, marmut enak iwak’e manut penak awak’e kalo aku tetep lebaran hr selasa, cuma indonesia j yg ngumumkan hr rabu sementara negara islam laenya hr selasa

  53. Siti Zulaiha mengatakan:

    Nggak perlu repot2, ikut lebaran seperti di Mekkah saja sebab ka’bah adalah qiblat org islam dan Rasulullah berasal dari sana. Selisih waktu Indonesia dg arab kan cuma 4 jam, jadi nggak ada satu hari (24 jam), jadi kalau hari selasa, 30 agt di mekkah lebaran, kita tinggal ngikuti aja. Di malaysia yg lebaran hari selasa spt di mekkah aja nggak kisruh spt di Indonesia.

  54. Anonymous mengatakan:

    Aku tnggal diindonesia jd aku ikut aturan yg brlaku di negara ini begitupun klo aku tnggal dinegara lain…

  55. Anonymous mengatakan:

    ada 2 hadist sebenarnya yg hampir mirip tetapi belakngnya berbeda utk itu dalam mengutarakan hadist ini jgn di potong krn kalimat dibelakang itu penting.

    “Sesungguhnya beliau SAW pernah memberitahukan tentang Ramadhan : Jangan memulai shoum hingga kalian melihat hilal, dan jangan iftar (mengakhiri ibadah shiyam) hingga kalian melihat hilal. Dan jika berkabut langit (hingga kalian tidak bisa melihatnya) maka hitunglah.” (H.R. Muslim)

    “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tigapuluh hari.” (HR Al Bukhari dan Muslim)

    Hadis yg pertama jelas bila tidak terlihat lakukan dgn perhitungan (hisab). adapun hadis yg ke dua bila di negeri tsb tdk ada ahli hisab.

    Perhitungan hisab inilah yg digunakan Malaysia. Jadi malaysia pun sama kondisinya seperti di Indonesia. Hanya saja kyai2 Indonesia masih memaksakan diri dgn ketentuan 2 derajat. Alasannya 2 derajat adalah hal yg mungkin hilal dapat dilihat dgn teropong.

  56. fiktif mengatakan:

    maaf saya ingin berpendapat saja.
    Jika ada yang mengatakan kita ikut negara arab karna kiblat kita disana sepatutnya kita lebaran tanggal 31, karena jika kakbah sebagai titik nol, jadi penanggalan hari dimulai dari sana. Ingat bumi itu bulat, jika kakbah sebagai titik nol, maka jarak waktu indonesia dengan arab bukan 4,5jam, tetapi jarak waktu mekah dan indonesia menjadi 18 jam.
    Sudah pasti duluan arab daripada kita.
    Jangan tertipu dengan gambar datar peta yang meletakan jepang didaerah timur. Sekali lagi, BUMI ITU BULAT.

    saya prihatin dengan perbedaan yang terjadi di indonesia, hanya karna satu ormas yang sombong dan merasa punya perhitungan yang hebat.

    Fatwa MUI jelas mewajibkan kita mengikuti keputusan pemerintah, dalam hal ini pemerintah hanya sebagai pengambil keputusan, yang mana keputusannya berdasarkan sidang dari kesepakatan banyak pihak. Dan juga menggunakan teknologi.

    30 vs 1

  57. Anonymous mengatakan:

    Para ulama, salah satunya Ibnu Utsaimin rahimahullah, mengatakan bahwa kalau ada Muslim yang melihat hilal, sementara Ulil Amri sudah menyatakan bahwa hari itu hari berpuasa, maka dia dipersilakan berbuka untuk dirinya sendiri dan tak mengumumkan hasil pantauan hilalnya. Dan sudah seharusnya lah saudara berbuka sendiri tanpa mengajak orang lain, dan mohon sekali lagi bila tahun depan terjadi lagi berbukalah sendiri dan jangan mangajak orang lain ikut dengan anda karna kami orang awan buta dan tetap patuh, turut kepada ulil amri yang kami percayai……….JELAS>>>>>>>>> (Lebih naik megikut Ulil amri yang Khilaf dari pada saudara yang kami tidak tau menau asal usulnya)

  58. awwam mengatakan:

    Giliran arab lebaran duluan pada pengen kaya arab, giliran hukum pancung gak ada yg pegen kaya arab

  59. Cuma Umat mengatakan:

    Lo kan bukan siapa2…. susah2 amat pake tulis panjang lebar… umat itu hukumnya cuma ikut ulil amri… QS: An-Nisaa 59 di baca lagi lagi bro gitu aja repot…. kalo gw salah jelas yg tanggung jawab itu pemimpin gw… kalo gw ngikutin elu… elu mau tanggung jawab???? wkwkwkw…. makmum itu enak bro… imam nungging tinggal nungging… imam salam tinggal salam… (inget semua yg hadir itu ormas islam bukan imam… yg jelas2 di tunjuk jadi imam adalah menteri agama RI, bukan MUHI bukan NU bukan PERSIS dll)

  60. Sugeng Widarko mengatakan:

    sudah saatnya para tokoh n ulama kita duduk bersama guna mencari kesepakatan dalam menggunakan metode penentuan kalender hijriah, semua pemimpin, ulama n para tokoh buanglah ego kalian…. agar umat ini nyaman dalam beribadah.

  61. abu azkiya M 16 mengatakan:

    Antum benar, pendapat abu aisyah juga bisa jadi pertimbangan. Mungkin saya ini orang bodoh, tapi bisa lebih bodoh lagi kalau mengikuti pemerintah yang tidak bersandar pada sunnah yang benar. perlu dikaji siap itu ulil amri yang betul-betul ulil amri. apakah pemerintah kita ulil amri? Ulil amri tentu tidak memakai KUHP, pasal-pasal, dlsb.

  62. Emir S mengatakan:

    Semua pengamatan harus dengan ilmu. Kalau bicara tentang konselasi benda2 langit adalah para astronom lah yg kompeten. Itu sebabnya ilmuwan Islam jaman kejayaan peradaban Islam Dan ulama nya jago matematik Dan astronomi sehingga perdebatan seperti ini jarang muncul. Ironisnya dijaman sekarang yg justru teknologi sdh jauh lebih maju kok pada konflik ya……

    Melihat hilal dengan kondisi polutan tinggi seperti Jakarta amat meragukan apalagi hilal diperhitungkan <2 derajat ??. Jangan2 ilusi……seperti kebanyakan terjadi. Menurut saya, kaidah astronomi lah yg paling sesuai ( Yasiin ayat 40 ).

    Selain itu, posisi bumi saat ini adalah terdekat dengan matahari sehingga kita banyak melihat cuaca yg ekstreem Dan juga perlu diingat bahwa bayangan bumi Akan jauh lebih besar dari biasanya sehingga menambah kesulitan penampakan bulan muda.

    Saya berpegang pada 4 hal sbg org awam : Rukyat Hilal, Hadist, ulil amri dan kenyataan posisi bumi terhadap matahari saat ini. Dengan ke 4 dalil ini saya memilih Iedul Fitri jatuh pada tanggal 31 Aug 2011.

    Pada tanggal 30 Agustus kemarin jam 18:30, Alhamdulillah Hilal terlihat jelas dari posisi selat makasar berupa bulan sabit yg amat tipis Dan disaksikan banyak orang, bukan satu orang saja.

  63. orang awam mengatakan:

    Pada tanggal 30 Agustus kemarin lepas maghrib bulan sabit telah tinggi semua orang awam bisa melihat. orang-orang tua bilang itu bulan sudah tanggal 2. sukron.

  64. Emir S mengatakan:

    2 hadist yg disampaikan saudara kami juga bagus disampaikan disini. Apabila Ada sekelompok orang ditengah belantara Dan tidak melihat hilal Dan tidak terdapat ahli hisyab diantara mereka maka mereka harus menggenapkan menjadi 30 hari. Tapi kalau Ada diantara mereka ahli hisyab maka konsep Rukyah hilal lebih afdol krn jelas2 bisa diperskasikan oleh semua orang. Saat ini teknologi komunikasi amat mendukung sehingga titik2 pengamatan bisa di ambil sebanyak mungkin ( di Indonesia bisa mencapai 35 titik pengamatan dare sabang sampai merauke sedangkan Malaysia hanya 40% nya saja dari rentang area pengamatan Indonesia ) sehingga area pengamatan kita jauh lebih banyak Dan akurat.

    Selain itu bumi itu bulat sehingga tdk mungkin titik yg satu dengan yg lain terlihat lurus datar. Bentuk curvature inilah yg mengharuskan persyaratan > 2 derajat ini, kalau datar ya….tidak perlu persyaratan ini. < dari 2 derajat di anggap matahari,bumi Dan bulan pada titik sejajar Dan itu belum menghasilkan hilal. Nah….pada saat bergeser sedikit saja…..nampak garis tipis bulan….nah itulah hilal Dan itulah dimulai perhitungan 1 syawal……Kalau masih sejajar…ya masih nol lah….kalau pompa bensin…..maukah kita bayar nol = 1 liter pertama ?……kalau saya mah nggak mau……..

  65. Emir S mengatakan:

    Tidak mungkin tiba2 dari nol ke bulan hari ke 2 pada posisi 4 derajat ?….jauh sekali lompat nya ya…….kalau dare tanggal 29 itu sudah bulan hari ke 3…..wah makin meleset nih….Bisa2 gerakan benda langit yg extreme melompat seperti ini bisa mengganggu iklim di bumi….kalau lompat seperti ini air laut pasti bergolak hebat……..

  66. Emir S mengatakan:

    Negara Republik Indonesia kalau pemerintahannya tdk disebut ulil amri apalagi kelompok organisasi ? Wah ulil amri nya siapa di Indonesia ya ? Tolong nih teman2 yg bisa memberikan pencerahan …….

  67. shoechardhiyehc mengatakan:

    tanggal 30 agustus sudah banyak orang kalangan masyarakat di sulawesi melihat hilal 6 derajat dngan mata telanjang. Berarti 1 sywal jatuh pada tggal 30 agustus.
    Masaalah perbedaan sholat id tidak jdi masaalah, yg jadi masaalah adalah puasa karna bagi orang yg masih berpuasa 1 sywal haram hukumx. Lebih baik puasa tidak cukup karna masi di beri kesempatan oleh allah membayarnya piddiah dari pada berpuasa 1 sywal itu haram.
    Waktu pak harto memimpin indo tidak pernah terjadi perbedaan begini karna pemerintah dan muhammadiah masing2 mengunakan pedoman kalender hijriah jdi pendapat cuma 1. Tpi sekarang kalender hijriah ter pecah belah krna pemerintah lebih percaya sama teleskop teropon. Dan akan mustahil melihat hilal kalau cuaca buruk meskipun lensa pembesar teleskop 1jt mill tebalanya kalau cuaca buruk mustahil akan melihatnya.
    mUHAMMADIAH YESSSS.

  68. SHELLAYART PREDICTION mengatakan:

    To Anonymous:
    yg sy lihat bukan hilal lg tp bulan yg cahayax sdh jelas kelihatan walau mata rabun sekalipun. Kurang lebih 1 jam terbenamx matahari br bulan jg terbenam. Dgn selisih waktu yg begitu lama sdh jelas bahwa jarak hilal diatas ufuk sdh melampau batas derajat hilal.

  69. CahPamulang Live mengatakan:

    Trimakasih abang. ini tulisan mencerahkan sekali

  70. Renny wijaya mengatakan:

    BUKAN KOK DI PERCAYA . KALIAN TAU NGAK KALAU BULAN BIASA DI PAKAI DUKUN DUKUN UNTUK MELIHAT SESUATU YANG TERJADI. MISAL BULAN PURNAMA

  71. necel mengatakan:

    Saya lebaran hari Rabu

  72. mama mengatakan:

    Menurut sy tulisan anda sangat saya setujui, kalau memang hilal sdh ada yg melihat ya sdh, tinggal disumpah saja orgnya beres kan. Blm apa2 sdh menolak kesaksian. mau jd apa umat islam d negeri ini kalau semua pake logika n sains? Memang sains itu penting, tapi tdk semua hrs dibuktikan dg sains. Krn jelas teori manusia itu g ada apa2nya dg teori ALLAH. emang sains bisa membuktikan klo siksa kubur itu ada?? Kalau nabi saja ngikut 1 org yg melihat hilal ya udah kita ikuti saja. Klo msh ada yg mempersulit brarti dia bkn umat Nabi Muhammad SAW. Apa yg dilakukan nabi Muhammad itu pasti sesuai dengan kondisi manusia jaman skrg. Bahkan sampai kiamat sekalipun. Semoga mereka2 yg membuat kesesatan diampuni ALLAH SWT. Amien…

  73. Anonymous mengatakan:

    Terlepas dari masalah klaim antar kelompok mengenai terlihat-tidaknya hilal (baik melalui hisab maupun rukyat), saya hanya ingin menyampaikan uneg-uneg (ganjalan hati) mengenai:

    1. Kita ini masyarakat bernegara yang punya pemimpin yang dalam hal ini adalah Presiden RI melalui Menteri Agama – tlg koreksi ya – dan kalau tidak salah ada hadist yg menganjurkan kita untuk ma’mum pada pemimpin kita – tolong koreksi juga (maklum pengetahuan agama saya cetek). Yg jadi ganjalan bagi saya dalam “musyawarah / sidang isbath” tgl 29 Agt 11 lalu, mengapa kok pemimpin kita terkesan “mengikuti suara terbanyak”? Tugas tim adalah memberikan masukan – dan itu sudah dilakukan – tugas pemimpin adalah memutuskan – ga pakai nanya setuju atau tidak ke tim – bukankah begitu seharusnya?

    2. Dengan sudah demikian majunya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, kenapa masih ada saja masalah seperti ini? Emang ga bisa diperhitungkan melalui ilmu-ilmu yang ada – astronomi misalnya? siapakah yang berhak menentukan bahwa sahnya Hilal itu harus > 2 derajat dan apa dasarnya? Cobalah yang jadi imam di negara ini secara serius membuat ketentuan atas hal tersebut, dan masyarakat (termasuk ormas) tentunya wajib mengkuti ketentuan tersebut – gitu kan harusnya? Kalau semua ingin pendapatnya yg paling benar ya gimana dong?

    3. Saya, dan mungkin orang-orang yang tidak masuk kategori anggota ormas, jadi bingung karena pemerintah sudah menetapkan ketentuan 1 syawal, tapi ada ormas yg berbeda pendapat dan secara terbuka “menentang” keputusan tersebut. Lalu yang jadi “imam” di negara ini siapa? Pemerintah apa Ormas? Ataukah kaidah ibadah ini tidak termasuk dalam kaidah kenegaraan? trus mau sampai kapan seperti ini? Apa ini yang disebut sekulerisme?

    4. Bukankah pembagian “time zone” yang kita anut sekarang ini (GMT, PST) berdasarkan pada peredaran matahari – yang membuat waktu di indonesia lebih awal 4 jam daripada waktu di Mekah. Kenapa kaum muslimin tidak membuat time zone sendiri utk penanggalan Komariyah (Hijriah) yang didasarkan pada siklus peredaran bulan? Mungkin dengan adanya standarisasi tersebut segala macem “kekisruhan” soal penetapan 1 Syawal ataupun awal bulan Hijriah lainnya – tidak lagi jadi masalah? Btw kok yg sering ribut hanya 1 Syawal dan 10 Dzulhijah ya?

    Maaf kalau ada perkataan saya yang kurang berkenan karena cetek-nya pengetahuan yang saya miliki. Saya hanya memaparkan kebingungan saya dan bertanya kepada forum ini yang mungkin bisa memberi pencerahan.

  74. Sugeng Widarko mengatakan:

    selesai sholat Magrib setengah kemudian saya melihat bulan sudah tinggi sekali…. kira2 tanggal berapakah bulan tsb yang benar ????

  75. dina mengatakan:

    Yang terpenting Tanggal 30 agustus 2011 yang sholat ied itu benar sekali ..
    kalau ada yang sholat tanggal 31 agustus 2011 silakan tapi itu tidak benar

    -_-

  76. Bunyamin mengatakan:

    Bagi masyarakat yang selalu membandingkan dengan Indonesia dan Arab Saudi dalam hal penentuan 1 Syawal, harap diingat bahwa penentuan awal bulan hijriah bukan berdasarkan terbit matahari tetapi adalah bulan baru. Bulan baru mulai dihitung ketika terjadi ijtimak atau konjungsi yaitu posisi bulan dan matahari berimpit. Anggaplah di daerah kita terjadi konjungsi pada jam 6 pagi. Bulan dan matahari sama-sama terbit di timur, tapi bulan tak mungkin kelihatan karena ada dekat matahari. Mereka sama-sama bergerak semu ke arah barat. Anggaplah matahari terbenam tepat jam 18.00 (12 jam sejak terbit), bulan ada di belakangnya, lebih lambat 25 menit, maka bulan baru (hilal) yang terbit bersama matahari tadi akan terlihat setelah matahari terbenam. Besok baru dihitung tanggal 1 bulan berikutnya. Bulan terbit selalu terlambat 50 menit dari hari sebelumnya atau setelah 24 jam), inilah kebesaran Allah sehingga kita dapat melihat bulan baru.
    Posisi terjadinya konjungsi bisa berbeda-beda. Kapan terjadi konjungsi, ditentukan melalui astronomi atau dihisab seperti yang dilakukan oleh Pemerintah, NU, Persis dan Muhammadiyah.
    Menurut data dari BMG, konjungsi terjadi pada jam 10.04 WIB. Dengan demikian umur bulan sampai dengan terbenamnya sekitar 8 jam dengan ketinggian kurang dari 2 derajat sehingga belum memungkinkan hilal dapat terlihat.
    Berbeda dengan Arab Saudi, jika konjungsi terjadi jam 10.04 WIB, berarti sama dengan jam 06.04 waktu Arab Saudi (beda 4 jam) dan memiliki umur 12 jam sebelum terbenam. Akibatnya di langit Arab Saudi pada tanggal 29 Agustus jam 6 sore, hilal dapat terlihat dengan jelas, sementara di Indonesia 4 jam sebelumnya belum terlihat, makin ke barat makin terlihat karena gerak semu bulan lebih lambat dari matahari.
    Artinya perhitungan dimulai dari Arab untuk kali ini. Arab Saudi akan shalat ID sekitar jam 11 siang WIB tanggal 30 Agustus, sementara kita akan sholat ID 19 jam kemudian pada jam 7 pagi hari Rabu tanggal 31 Agustus, jadi masih dalam posisi tanggal yang sama, 1 Syawal sama dengan Arab Saudi. Jika suatu saat konjungsi terjadi jam 6 pagi WIB pasti Indonesia dan Arab Saudi akan sama. Untuk Malaysia, bisa saja hilal terlihat di ujung barat Malaysia atau kriterianya sama dengan Muhammadiyah.
    Akibat konjungsi ini, bisa terjadi kemungkinan Arab Saudi lebih dulu melihat hilal dari kita yang di sebelah timur.

    Kriteria Muhammadiyah adalah yang penting sudah terjadi konjungsi sebelum magrib, berarti bulan baru sudah ada sekalipun tak mungkin bisa dilihat karena masih sangat dekat dengan matahari. Pemerintah, NU dan ormas lain melakukan hisab juga untuk mengetahui kapan terjadi konjungsi sehingga dapat dilakukan pengamatan hilal. Ada kriteria menurut penelitian bahwa hilal hanya dapat dilihat jika ketinggiannya lebih dari 2 derajat atau umur sejak konjungsi sampai terbenam tidak kurang dari 8 jam. Kenapa harus dilihat, karena memang sunahnya adalah melihat hilal.
    Kalau menurut penelitian ilmiah sekarang menunjukkan bahwa mata kita hanya dapat melihat hilal pada ketinggian tertentu, pastilah mata orang-orang pada zaman nabi pun begitu.
    Jadi kalau hasil rukyat hilal masih nihil, mari kita ikuti. Jika Arab Saudi dan seluruh Arab apalagi Eropa dan Amerika yang lebih barat sudah melihat hilal, jangan dimundurkan ke kita karena memang belum terlihat, berarti bulan Ramadhan belum selesai di wilayah kita. Satu hari matahari setelah Arab Saudi (tanggal 31 Agustus) sebenarnya masih 1 hari dalam bulan Hijriyah (1 Syawal).
    Adapun yang sholat id pada tanggal 30 Agustus karena keyakinan bahwa bulan baru harus sudah dihitung apabila sudah terjadi konjungsi (sudah berwujud) sekalipun bulan baru tersebut belum terlihat.
    Kita yakin dengan yang mana? Mari saling menghormati, dan jangan melarang untuk berpuasa pada tanggal 30 Agustus karena menurut kalangan ini, belum masuk 1 Syawal untuk wilayah Indonesia.

  77. *agung mengatakan:

    Sungguh artikel yang dibuat dari Sudut Pandang yang sangat amat teramat Bodoh…
    Semoga dibukakan pintu hidayah oleh Allah SWT..

  78. Abu abyan mengatakan:

    Tulisan antum

    Para pakar falaqiyyah /ahli hisab /
    astronomi menuduh bahwa kesaksian
    beberapa Muslim yang telah melihat
    hilal pada saat senja hari, 29 Agustus
    2011 , sebagai bentuk kebohongan .

    Masya Allah, padahal Nabi Saw hanya
    mempersyaratkan SUMPAH saja untuk
    memverifikasi kesaksian itu . Hal
    tersebut adalah bentuk kemudahan
    dalam Syariat. Lalu pertanyaannya,

    “ Bagaimana kalau kesaksian beberapa
    orang yang mengaku melihat hilal itu
    benar- benar bohong?”
    Jawabnya
    sebagai berikut :
    (a ). Kalau mereka dusta, dosanya ditanggung mereka sendiri di hadapan Allah;

    Sebenarnya logikanya hampir sama dengan :

    Apabila ada seorang muslim yg mengaku melihat hilal, akan tetapi pemerintah tidak menerima kesaksiannya, kemudian kita mengikuti pemerintah berdasarkan Sabda
    Rosulullah : ” ..Hari raya kalian adalah
    ketika seluruh manusia berhari
    raya” (HR . Abu Daud dan dishahihkan
    oleh Syaikh Al- albani).

    maka kalau keputusan pemerintah itu salah, maka pemerintahlah yg akan menanggung dosanya dihadapan Allah Subhanahu Wa Taala, sama dengan orang yg berbohong mengaku melihat hilal tsb.

  79. jmustaf mengatakan:

    Tulisan yang sangat kritis….cukup menyengat sebagian telinga orang …..
    Insyaalah yang berhari raya hari selasa dan juga hari rabu diterima amal ibadahnya.
    Tinggal yang membuat keputusan bertobatlah ………jangan karena nafsu …..membuat kebohongan kebohongan
    Ingat segala sesuatu akan diminta pertanggung jawaban kelak.
    Jadi pemimpin / ulil amri sangat sangat berat tanggung jawabnya dihadapan Allah SWT…
    Oleh karena itu berhati hatilah ……….Untuk kita semua tutntulah ilmu agar tidak terpedaya oleh ulil amri / ulama ulama yang tidak amanah ……….

    Mohon maaf lahir bathin..
    Taqoballahu minna wa minkum..
    Wassalam

  80. Abu abyan mengatakan:

    1. Mungkin yang kurang dalam diri kita adalah berbaik sangka kepada pemerintah, kita sudah terlanjur menstigma buruk pemerintah, kita sering beranggapan seolah olah setiap yang datang dari pemerintah itu salah.

    2. Kurangnya ilmu kita, karena setelah dipelajari ternyata kedua pendapat yg menyebutkan berbuka/berhari raya dengan melihat hilal dengan pendapat berhari raya mengikuti pemerintah guna menjaga persatuan, dua2nya memiliki dalil yg kuat, disini membutuhkan toleransi dari kita semua, dengan tidak saling mencela, saling menyalahkan, saling arogan.

  81. mengatakan mengatakan:

    sy dkung ceramahan saudra.

    Dan ahamdulillah sy jg berlebran pd hri selasa karn sy mengikuti sabda Nabi Muhammad SAW.
    yaitu: apa bila ad seorang kaum muslim yg mngaku mliht BULAN dan kaum muslim itow mw bersmpah. Mka sabd rasulullah berbukalah engkau dan berlebaran lah krn sesungguhny hri kemenang sudah tiba bgi kaum muslimin.

  82. khotib. D.H mengatakan:

    sy dkung ceramahan saudra.

    Dan ahamdulillah sy jg berlebran pd hri selasa karn sy mengikuti sabda Nabi Muhammad SAW.
    yaitu: apa bila ad seorang kaum muslim yg mngaku mliht BULAN dan kaum muslim itow mw bersmpah. Mka sabd rasulullah berbukalah engkau dan berlebaran lah krn sesungguhny hri kemenang sudah tiba bgi kaum muslimin.

  83. Satria mengatakan:

    Tulisan ikhwan. Abu Muhammad Waskito. teralu provokatif dan kebanyakan copas sana sini tapi tidak punya argumentasi yg kuat
    Sbg contoh mencopas “hal yang mudah kenapa dibuat susah” ==> sejarah hadits nya bukan soal HILAL, jangan dicampur adukan

    Meski perbedaan hari lebaran bukanlah penghalang dalam ukhuwah islamiyah, namun alangkah lebih indah dan nyaman bila perbedaan itu dicarikan titik temu sehingga bisa berlebaran bersama.

    Mohon maaf lahir bathin..
    Taqoballahu minna wa minkum..
    Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1432 H

  84. hamba Allah mengatakan:

    mohon maaf, bagaimana dengan berita ini:

    http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/09/01/saudi-arabia-1-syawal-adalah-rabu-31-agustus-2011/

    saya juga bukan seseorang yang faham, maka dari itu mungkin bisa diberi sedikit pemahaman…
    =)

  85. sabreena mengatakan:

    kita tunggu aja bulan purnama sdh pasti itu tgl 15 syawal…..jd tinggal kita hitung mundur tgl 1 syawalnya tgl 30/31 agustus……

  86. Encep mengatakan:

    Makasih atas ilmunya, ini sangat berarti buat ku.

  87. Abi mengatakan:

    Wah!,ane lebran hari rabu,ane kurang informasi nich! ternyata ada dua saksi yg telah melihat hilal dan katanya sudah di sumpah,tau begitu mah ane hari selasa aja dah! pemamaparan yg sangat bermamfaat untk ke dpannya agar ane lebih jeli lagi.

  88. Bunyamin mengatakan:

    Saya kutip lagi satu paragraf dari tulisan di atas:
    Kedua, kita bertanya lagi, “Kalau hilal tak mungkin terlihat, lalu bagaimana solusinya?” Mereka jawab, “Ya, bulan Ramadhan kita istikmal-kan menjadi 30 hari. Mudah bukan!” Nah, disana itu bukti sikap TIDAK KONSISTEN mereka. Kalau mereka konsisten dengan metode Rukyatul Hilal dengan syarat-syarat seperti yang mereka tetapkan, belum tentu bisa melihat hilal pada tanggal 30 Ramadhan, tanggal 31, dan sebagainya. Bagaimana kalau langit tertutup mendung terus, darimana mereka akan bisa melihat hilal? Perlu diketahui, Observatorium Boscha itu berkali-kali gagal mengamati gerhana, komet, atau meteor gara-gara langit terhalang oleh mendung/awan.

    Apakah penulis menganggap semua orang bodoh dan puasa terus-menerus sampai hilal terlihat. Perintah nabi, genapkan menjadi 30 hari bukan sampai hilal terlihat. Jika tanggal 29 belum terlihat hilal dan puasa sudah 29 hari, maka besoknya tak perlu lagi buang-buang waktu untuk cari hilal, pasti hilalnya sudah ada. Puasa maksimal 30 hari saja. Jangankan besok, wilayah-wilayah sebelah barat pasti hilal terlihat.
    Harap juga diingat, jaman keemasan Islam terjadi ketika agama dan ilmu pengetahuan menyatu. Bila Islam tak lagi menghargai ilmu pengetahuan dan sains, maka Islam sulit untuk menguasai dunia seperti zaman sebelum eropa maju seperti sekarang.
    Menteri agama tidak memiliki kemampuan seperti yang dimiliki nabi, tanggungjawabnya sangat besar, jadi perlu kesaksian yang benar-benar dapat diterima.

  89. Abu Aisyah mengatakan:

    Apakah Memulai Puasa Dan Mengakhiri Puasa Adalah Urusan Pribadi, Ataukah Urusan Yang Harus Dijalankan Bersama Ulil Amri??
    ini bukan persoalan sepele dimana bisa seenaknya orang bebas berpendapat. Saya menasihatkan diri saya dan kaum Muslimin untuk mengembalikan segala sesuatu kepada ahlinya..Mari kita menahan diri berkomentar tanpa dasar ilmu. Kalau menuruti yang namanya kebebasan berpendapat, orang yang gak sholat dan tidak bisa ngaji alif bata sekalipun berani berkoar-koar tentang masalah agama.
    Mari kita kembalikan kepada para ulama. Mohon Baca HADITS NABI,perbuatan sahabat, penjelasan & PERKATAAN ULAMA.
    Ustadz Abu Syakir
    1. Persaksian terhadap hilal itu bukan klaim pribadi, namun dilaporkan ke ulil amri dan mereka yang memutuskan, demikianlah yang dipraktekan di zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sahabat Ibnu Umar berkata:
    “Orang-orang melihat hilal, lalu aku KABARKAN kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa aku melihatnya. Beliau pun lalu berpuasa dan MEMERINTAHKAN orang-orang untuk berpuasa” (HR. Abu Daud 2342, dishahihkan Al Albani dalam Al Irwa, 908). Perhatikan Ibnu Umar tidak langsung memutuskan sendiri, tapi dilaporkan dulu ke Rasulullah, lalu Rasulullah yang Memerintahkan. ini menunjukkan, hal ini bukan hak individu/organisasi, ini hak pemerintah
    2. Sekali lagi, Masalah memulai puasa dan mengakhiri puasa bukan urusan pribadi, namun urusan yang harus dijalankan bersama ulil amri, sehingga tidak bisa Anda merasa yakin sendiri lalu menjalankan sesuai keinginan sendiri
    “Awal puasa adalah hari yang kamu semua memulai puasa. Idul fitri adalah hari yang kamu semua berbuka. Idul Adha adalah hari yang kamu semua berkurban”” (HR Tirmizi). Hadits inimenunjukkan bahwa penentuan awal puasa dan idul fitri itu AMAL JAMA’I bukan PRIBADI

    3. fatwa Ulama : ‘jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat, maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya (Fatawa no. 388 Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’)
    5. Tentang Penolakan persaksian melihat Hilal oleh segelintir orang, ada baiknya baca MAJMU FATAWA jilid 25.

  90. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Aisyah…

    1. Persaksian terhadap hilal itu bukan klaim pribadi, namun dilaporkan ke ulil amri dan mereka yang memutuskan, demikianlah yang dipraktekan di zaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sahabat Ibnu Umar berkata: “Orang-orang melihat hilal, lalu aku KABARKAN kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa aku melihatnya. Beliau pun lalu berpuasa dan MEMERINTAHKAN orang-orang untuk berpuasa” (HR. Abu Daud 2342, dishahihkan Al Albani dalam Al Irwa, 908). Perhatikan Ibnu Umar tidak langsung memutuskan sendiri, tapi dilaporkan dulu ke Rasulullah, lalu Rasulullah yang Memerintahkan. ini menunjukkan, hal ini bukan hak individu/organisasi, ini hak pemerintah.

    Jawab: Lho, itu sudah diketahui Departemen Agama wahai Akhi. Dalam sidang Itsbat itu di bagian awal sudah diketahui bahwa ada Muslim tersumpah yang telah mengetahui hilal. Hanya pengakuan ini ditolak, karena tidak sesuai kaidah ahli hisab. Kalau antum mengikuti kronologi Sidang Itsbat dari awal, antum akan tahu itu. Ini sudah dilaporkan dan sudah diketahui.

    2. Sekali lagi, Masalah memulai puasa dan mengakhiri puasa bukan urusan pribadi, namun urusan yang harus dijalankan bersama ulil amri, sehingga tidak bisa Anda merasa yakin sendiri lalu menjalankan sesuai keinginan sendiri “Awal puasa adalah hari yang kamu semua memulai puasa. Idul fitri adalah hari yang kamu semua berbuka. Idul Adha adalah hari yang kamu semua berkurban”” (HR Tirmizi). Hadits inimenunjukkan bahwa penentuan awal puasa dan idul fitri itu AMAL JAMA’I bukan PRIBADI

    Jawab: Ya, idealnya begitu, selama tidak menabrak kaidah-kaidah Syariat. Antum perlu tahu, Pemerintah Kerajaan Saudi sering dikritik oleh para ahli hisab/astronomi, karena mereka mengklaim hilal sudah terlihat, sementara menurut -lagi-lagi- kalkulasi hisab/astronomi harusnya hilal belum terlihat. Ini ada dan nyata. Tapi faktanya, Pemerintah Saudi lebih menerima pengakuan melihat hilal itu daripada perhitungan hisab/astronomi.

    3. fatwa Ulama : ‘jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat, maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya (Fatawa no. 388 Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’).

    Jawab: Dalam kondisi negeri yang Islam, Syariat Islam tegak dengan baik, ilmu para ulama dihargai, keadilan ditegakkan, memang cara demikian adalah cara terbaik. Tetapi pendapat ulama seperti ini bisa dipakai oleh para politisi oportunis untuk melegalkan keburukan-keburukan dengan dalih “keluar dari perselisihan”. Misalnya, mereka legalkan ribawi, pornografi, demokrasi, hukum sekuler, nasionalisme buta, praktik kapitalisme, dll. yang sebenarnya tidak halal.

    Kalau terkait Lajnah Daimah di Saudi, dan persoalan perselisihan penentuan awal Ramadhan/Syawal, faktanya mereka mendukung pengakuan melihat hilal, meskipun berbeda dengan perhitungan hisab/astronomi. Saya yakin, kalau Lajnah Daimah memiliki pengaruh kuat ke politik Indonesia, mereka akan hargai fakta “melihat hilal” itu, seperti terjadi di Saudi.

    Wallahu A’lam bisshawaab.

    AMW.

  91. abisyakir mengatakan:

    @ Bunyamin…

    Apakah penulis menganggap semua orang bodoh dan puasa terus-menerus sampai hilal terlihat. Perintah nabi, genapkan menjadi 30 hari bukan sampai hilal terlihat. Jika tanggal 29 belum terlihat hilal dan puasa sudah 29 hari, maka besoknya tak perlu lagi buang-buang waktu untuk cari hilal, pasti hilalnya sudah ada. Puasa maksimal 30 hari saja. Jangankan besok, wilayah-wilayah sebelah barat pasti hilal terlihat.
    Harap juga diingat, jaman keemasan Islam terjadi ketika agama dan ilmu pengetahuan menyatu. Bila Islam tak lagi menghargai ilmu pengetahuan dan sains, maka Islam sulit untuk menguasai dunia seperti zaman sebelum eropa maju seperti sekarang.
    Menteri agama tidak memiliki kemampuan seperti yang dimiliki nabi, tanggungjawabnya sangat besar, jadi perlu kesaksian yang benar-benar dapat diterima.

    Jawab:

    Maksudnya bukan begitu. Kaidah ISTIKMAL itu kan kaidah dari Sunnah, bukan kaidah hasil perhitungan hisab atau teropong astronomis. Artinya, orang-orang penganut hisab ekstrem itu tetap membutuhkan Sunnah juga untuk keluar dari masalah. Nah, kalau memang masih butuh Sunnah, harusnya mereka terima juga pengakuan seseorang yang telah melihat hilal, selama dia Muslim, benar-benar telah melihat, dan mau disumpah di hadapan qadhi Syariah (kalau ada qadhi Syariah).

    Itu yang saya sebut tidak konsisten. Maunya menerapkan konsep hisab secara ekstrem, tapi nyatanya butuh Sunnah juga. Kalau butuh Sunnah, seharusnya pengakuan melihat hilal itu diterima. Apa sih susahnya mengalahkan pendapat manusia dengan Sunnah?

    AMW.

  92. abisyakir mengatakan:

    @ Hamba Allah…

    Saudi, Mesir, dan beberapa negara Timur Tengah, Malaysia, Singapura, menjalankan Iedul Fitri pada hari Selasa 30 Agustus 2011. Bukan hari Rabu 31 Agustus 2011. Di Malaysia bahkan hilal bisa diketahui di 30 titik pengamatan. Hebat sekali. Padahal potensi kita di Indonesia, jauh lebih besar ketimbang Malaysia, sebab kita memiliki 3 wilayah waktu.

    AMW.

  93. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Abyan…

    1. Mungkin yang kurang dalam diri kita adalah berbaik sangka kepada pemerintah, kita sudah terlanjur menstigma buruk pemerintah, kita sering beranggapan seolah olah setiap yang datang dari pemerintah itu salah.

    Jawab: Ini juga bukan tanpa alasan Akhi. Antum bayangkan saja, di jaman Rasulullah Saw, beliau lebih sering shaum selama 29 hari. Itu artinya, beliau dan Shahabat lebih sering sukses melihat hilal daripada tidak. Tetapi di Indonesia itu aneh. Dari dulu kok ISTIKMAL melulu, 30 hari terus. Bukan karena apa, tetapi masak sih di antara ratusan juta rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, selalu tidak sukses melihat hilal dari waktu ke waktu? Ini jadi pertanyaan serius. Seakan, kualitas ilmu/keimanan kita semakin jauh dari harapan.

    2. Kurangnya ilmu kita, karena setelah dipelajari ternyata kedua pendapat yg menyebutkan berbuka/berhari raya dengan melihat hilal dengan pendapat berhari raya mengikuti pemerintah guna menjaga persatuan, dua2nya memiliki dalil yg kuat, disini membutuhkan toleransi dari kita semua, dengan tidak saling mencela, saling menyalahkan, saling arogan.

    Jawab: Ya benar, apa yang antum sampaikan. Dalam sidang itsbat itu sendiri bisa kita lihat betapa kuatnya dominasi pendukung paham ISTIKMAL. Sampai Prof. T. Djamaluddin berbicara “kasar” tentang sikap ormas Muhammadiyyah. Ini kan sebuah bukti bahwa pihak yang mendukung ISTIKMAL bisa terjebak dalam sikap “menindas” tanpa sadar.

    AMW.

  94. abisyakir mengatakan:

    @ Agung…

    Sungguh artikel yang dibuat dari Sudut Pandang yang sangat amat teramat Bodoh…
    Semoga dibukakan pintu hidayah oleh Allah SWT..

    Jawab: Ya, terimakasih saudaraku atas komentar Anda. Tidak apa-apa. Saya ikhlaskan. Andai saya dianggap bodoh, maka konsekuensinya:

    == Ormas Muhammadiyyah juga bodoh.
    == Ormas JAT, MMI, FPI, HTI, dll. juga dianggap bodoh.
    == Pemerintah Malaysia dan Singapura, juga bodoh.
    == Pemerintah Saudi, Mesir, Yordania, dll. yang juga sama-sama berbuka pada tanggal 30 Agustus 2011, juga bodoh.

    Semoga Allah menambahkan ilmu kepada kami dan kaum Muslimin semua, sehingga tidak menjadi orang-orang bodoh. Allahumma amin.

    (Dan ‘kali nyang paling bodoh orang Naqsyabandiyyah di Padang ye… Mereka 2 hari lebih cepat dari keputusan Pemerintah. Kasihan dianye…).

    AMW.

  95. abisyakir mengatakan:

    @ Bunyamin…

    Berbeda dengan Arab Saudi, jika konjungsi terjadi jam 10.04 WIB, berarti sama dengan jam 06.04 waktu Arab Saudi (beda 4 jam) dan memiliki umur 12 jam sebelum terbenam. Akibatnya di langit Arab Saudi pada tanggal 29 Agustus jam 6 sore, hilal dapat terlihat dengan jelas, sementara di Indonesia 4 jam sebelumnya belum terlihat, makin ke barat makin terlihat karena gerak semu bulan lebih lambat dari matahari.

    Jawab: Logikanya tidak berbeda Akhi. Usia bulan itu kan dihitung sejak ia terlihat dari lokasi tempat melihat (Indonesia atau Saudi). Jadi patokannya bukan Indonesia. Ketika di Indonesia sudah ada ijtima’, di Saudi sana secara teori yang belum terjadi ijtima’, karena matahari masih jauh dari momen terbenam. Iya kan… Matahari bergerak dari Timur ke Barat, kita dulu dapat momen terbenam. Di Saudi baru terjadi 4 jam kemudian. Jadi, ijtima’ di kita dan di Saudi momennya jelas tidak sama. Kalau kita pada pukul 10 pagi, di Saudi bisa ijtima’ pada pukul 2 siang (menurut waktu kita lho).

    Kalau menurut penelitian ilmiah sekarang menunjukkan bahwa mata kita hanya dapat melihat hilal pada ketinggian tertentu, pastilah mata orang-orang pada zaman nabi pun begitu.

    Jawab: Kondisi kesehatan manusia semakin modern semakin menurun, karena terlalu banyaknya konsumsi hal-hal kimiawi. Dari sisi polusi udara, pencemaran cahaya, penggundulan hutan, dll. kondisi modern lebih menyulitkan melihat hilal ketimbang kondisi masa lalu. Apalagi dari sisi dosa-dosa dan kualitas spiritual. Sangat berbeda…

    Jadi kalau hasil rukyat hilal masih nihil, mari kita ikuti. Jika Arab Saudi dan seluruh Arab apalagi Eropa dan Amerika yang lebih barat sudah melihat hilal, jangan dimundurkan ke kita karena memang belum terlihat, berarti bulan Ramadhan belum selesai di wilayah kita. Satu hari matahari setelah Arab Saudi (tanggal 31 Agustus) sebenarnya masih 1 hari dalam bulan Hijriyah (1 Syawal).

    Jawab; Seharusnya kita lebih dulu dari dunia Barat, termasuk Timur Tengah. Karena kita di Timur, matahari bergerak dari Timur ke Barat. Seharusnya, kita lebih dulu. Kecuali, kalau ada kesepakatan di kalangan kaum Muslimin sedunia, untuk menjadikan Kota Makkah sebagai patokan waktu dunia Islam. Kalau begitu caranya, maka matahari awal dihitung dari Makkah, lalu Eropa, lalu Amerika, lalu Pasifik, lalu Asia Tenggara termasuk Indonesia.

    Kita yakin dengan yang mana? Mari saling menghormati, dan jangan melarang untuk berpuasa pada tanggal 30 Agustus karena menurut kalangan ini, belum masuk 1 Syawal untuk wilayah Indonesia.

    Jawab: Na’am ya Akhi. Saya tidak melarang, namun hanya menganjurkan. Berpuasa di hari yang meragukan (yaumus syubhat) itu lebih baik dihindari. Coba cari peringatan Nabi tentang puasa di hari syubhat. Jazakumullah khairan katsira.

    AMW.

  96. abisyakir mengatakan:

    @ Dina…

    He he he….dalam kondisi begini Anda masih juga bisa bercanda. Masya Allah, cukup lucu.

    AMW.

  97. abisyakir mengatakan:

    @ Anonymous…

    1. Kita ini masyarakat bernegara yang punya pemimpin yang dalam hal ini adalah Presiden RI melalui Menteri Agama – tlg koreksi ya – dan kalau tidak salah ada hadist yg menganjurkan kita untuk ma’mum pada pemimpin kita – tolong koreksi juga (maklum pengetahuan agama saya cetek). Yg jadi ganjalan bagi saya dalam “musyawarah / sidang isbath” tgl 29 Agt 11 lalu, mengapa kok pemimpin kita terkesan “mengikuti suara terbanyak”? Tugas tim adalah memberikan masukan – dan itu sudah dilakukan – tugas pemimpin adalah memutuskan – ga pakai nanya setuju atau tidak ke tim – bukankah begitu seharusnya?

    Jawab: Masya Allah, Anda membidik sesuatu yang sangat sesuai dengan harapan saya, yaitu soal METODE PENENTUAN PENDAPAT oleh Menteri Agama itu sendiri. Menurut saya, metode dalam Islam tidak seperti itu. Masak beliau simpulkan, lalu ditanya: “Setuju apa tidak?” Lalu dijawab: “Setujuuuuuuuuuuuuuu….” (boleh u-nya diteruskan sendiri, sesuai selera). Ini jelas-jelas bukan metode Islami. Kita tidak tahu siapa yang hadir di ruangan itu. Kalau yang hadir umumnya warga Muhammadiyyah, pasti jawabnya: “Tidak setujuuuuuuuuuuiiiiii…”

    Nah, untuk hal seperti ini masyarakat luas disuruh mentaati tanpa koreksi sama sekali. Masya Allah. Bagaimana bisa dengan METODE seperti itu akan didapat keputusan Syar’i yang benar? Kalau sudah begitu, bagaimana akan berkah?

    2. Dengan sudah demikian majunya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, kenapa masih ada saja masalah seperti ini? Emang ga bisa diperhitungkan melalui ilmu-ilmu yang ada – astronomi misalnya? siapakah yang berhak menentukan bahwa sahnya Hilal itu harus > 2 derajat dan apa dasarnya? Cobalah yang jadi imam di negara ini secara serius membuat ketentuan atas hal tersebut, dan masyarakat (termasuk ormas) tentunya wajib mengkuti ketentuan tersebut – gitu kan harusnya? Kalau semua ingin pendapatnya yg paling benar ya gimana dong?

    Jawab: Sebenarnya begini Akhi. Metode hisab/ilmu falaq/astronomi itu PADA AWALNYA hanya sebagai PENGUAT saja, bukan penentu. Tetapi seiring proses keblingeran pikiran, akhirnya metode hisab/ilmu falaq/astronomi itu menjadi “penguasa tunggal” penentuan awal ramadhan/awal Syawal/awal Dzulqa’dah. Sebenarnya, secara Syariat Islam, caranya sangat mudah. Kaum Muslimin lihat tuh hilal saat senja setiap tanggal 29 ramadhan. Lihat saja. Siapapun boleh, asal mau bersumpah. Kalau sudah ada yang melihat, berarti besok hari raya. Kalau seluruh negeri tak ada yang melihat, baru ISTIKMAL. Syaratnya kan mudah, tidak rumit. Tetapi seiring masuknya intervensi kaum hisab/astronomi, urusan ini jadi rumit.

    Kerumitan ini terjadi karena dominasi tim Depag dalam soal Rukyatul Hilal, karena dominasi ahli hisab/falaqiyyah ormas Islam, dan karena arogansi para ahli astronomi yang sok mengetahui segala-galanya. Itu saja sih akarnya. Sunnah Nabi Saw yang mudah akhirnya jadi sesak, sempit, susah.

    3. Saya, dan mungkin orang-orang yang tidak masuk kategori anggota ormas, jadi bingung karena pemerintah sudah menetapkan ketentuan 1 syawal, tapi ada ormas yg berbeda pendapat dan secara terbuka “menentang” keputusan tersebut. Lalu yang jadi “imam” di negara ini siapa? Pemerintah apa Ormas? Ataukah kaidah ibadah ini tidak termasuk dalam kaidah kenegaraan? trus mau sampai kapan seperti ini? Apa ini yang disebut sekulerisme?

    Jawab: Inti keruwetan ini ya karena Pemerintah kita demokarasi, jadi mengikuti akal manusianya, bukan berpegang pada metode tertentu. Kalau Pemerintah konsisten dengan rukyatul hilal, benar-benar konsisten, itu sudah menyelesaikan masalah. Sayangnya, banyak dirusuhi ahli hisab/rukyat/astronomi, sehingga tidak konsisten.

    Btw kok yg sering ribut hanya 1 Syawal dan 10 Dzulhijah ya?

    Jawab: Justru Akhi, masalahnya memang disana. 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah itu menyangkut momen ibadah yang sangat sensitif dalam Islam. Bayangkan, dua hari raya Ummat ada disana. Padahal dalam hari raya, kita tak boleh puasa, alias haram. Dan penentuan awal Ramadhan/Syawal/Dzulhijjah memang dengan melihat hilal. Mohon dimaklumi saja ya…

    AMW.

  98. Anonymous mengatakan:

    Buat komentator siapapun, saya bertanya

    4 IMAM MADZAB DULU KALAU BERPENDAPAT APAKAH MEMAKSA ATAU TAK MEMAKSA ?

    BAGAIMANA DENGAN MADZAB (ORMAS) SEKARANG

    HISAB = HILAL TAK TAMPAK + 1 (MAKS 30)
    masalahnya
    HILALTAMPAK (sesuai sunnah — batasannya ada nggak ya?)

    sulhan

  99. Anonymous mengatakan:

    Buat komentator siapapun, saya bertanya (0209011)

    4 IMAM MADZAB DULU KALAU BERPENDAPAT APAKAH MEMAKSA ATAU TAK MEMAKSA ?

    BAGAIMANA DENGAN MADZAB (ORMAS) SEKARANG

    HISAB = HILAL TAK TAMPAK + 1 (MAKS 30)
    masalahnya
    HILALTAMPAK (sesuai sunnah — batasannya ada nggak ya?)

    sulhan

  100. Abu Aisyah mengatakan:

    Ustadz Abu syakir, bagaimana pendapat Ibnu Taimiyah terhadap persaksian hilal yang ditolak oleh Qodi?
    yang terjadi sekarang KEBANYAKAN menjadikan ormasnya sebagai ulil AMRI, maka terpecah-pecahlah satu negara ini.

    Nampaknya antum ada masalah dengan masalah pepolitikan di indonesia
    Terlepas dari berbagai masalah di negeri ini yang dipertontonkan oleh politikus oportiunis. Ketauhilah tidak semuanya buruk.
    Alhamdulillah kita bisa menjalankan ibadah (sholat, naik haii, mendirikan masjid, membangun sekolah islami, dan banyak lagi) dengan baik
    di negeri yang mayoritas Muslim, dengan segala kekurangannya, kita mesti banyak bersyukur.kadang-kadang kita harus obyektif menilai, bukannya terjebak sendiri seperti politikus yang hobinya saling menjatuhkan dan membai buta dalam menilai sesuatu
    Bagaimana nasihat ulama menghadapai pemimpin yang masih membolehkan kita sholat?

    Ana sering membaca tulisan-tulisan antum yang menurut ana bagus dan mudah dipahami
    Ana sebenarnya menunggu tulisan antum yang menyoal metode hisab Ormas Muhammadiyah. Mereka ingin menyatukan menyatukan sistem penanggalan umat Islam agar tidak lagi terjadi perbedaan-perbedaan dengan metode hisab dan menganggap ru’yah gak jaman lagi.
    Justru mereka memecah belah umat di satu negara

    http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-392-detail-penjelasan-majelis-tarjih-dan-tajdid-pp-muhammadiyah-soal-penetapan-idul-fitri-besok.html

  101. Abu Aisyah mengatakan:

    Hadis2 nabi sudah terang menderang menjawab persoalan, perkataan ulama juga jelas dan mudah dipahami terkait perselisihan yang ada.
    Tapi tidak dibaca dengan baik.
    Tidak mau memahami dengan baik
    Apa yang bisa diharapkan lagi?
    Musibah.

  102. Abu Aisyah mengatakan:

    Subhanallah..Hadis tentang Puasa/idul fitri bukan cuma shumu liru’yah,tapi ternyata ada hadis-hadis lain seperti yang disebutkan di atas.

    1.Dari Sahabat ibnu umar radiyallahu Anhu ( HR. Abu Daud 2342, dishahihkan Al Albani)
    2. HR Tirmizi

    Antum kelihatanya hanya memakai hadis ru’yah saja dan cenderung mengabaikan hadis-hadis nabi dan bimbingan ulama dengan logika antum, padahal masih tekait dan itu menjawab perselisihan yang ada di jaman kita sekarang.
    ana mengajak diri ana dan kaum muslimin sekalian untuk bertakwa kepada Allah, kembali kepada Al Quran dan sunnah.

  103. Randy mengatakan:

    Terima kasih atas dakwahnya Akhi, semoga Islam bisa tegak dengan Haqnya. Karena ga gampang saat ini untuk menegakkan kebenaran saat ini.
    Apalagi banyak sekali orang yang tidak mengerti sunnah, yang mana sebelum saya mengetahui apa itu sunnah saya merasa banyak yang saya lakukan sudah benar, ternyata itu semua salah dan ilmu tidak berhenti sampai disitu (masih banyak yang perlu digali) salah satunya artikel diatas ini.
    Dengan tidak mengurangi keadaan, memang negara ini tidak mengajarkan sunnah yang diajarkan Rosulullah Salallahu Alaihi Wassalam, justru malah menyelisihinya. Sehingga bagi kita yg sedikit yang mengetahui sunnah punya tanggung jawab yang sangat berat untuk paling tidak menyampaikan. Memang Islam banyak perbedaan, tapi tatkala kembali kepada sunnah barulah mereka memahami yang sebenarnya. Karena pada saat saya mengikuti sidang isbat pun saya lihat mereka mengambil atau mengutip hadits secara setengah2, atau dilihat dari kepentingannya saja (bukan berdasarkan anjuran sunnah yang menyeluruh).
    Semoga kita selalu tegak dalam dien yang benar.
    Jazakallahu Khairan Katsira.
    Taqabalallahu Mina Wa Minkum.
    Kullu Aamin Wa Antum Bi Khoir.
    Wassalamu ‘Alaykum.

  104. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Aisyah…

    Ustadz Abu syakir, bagaimana pendapat Ibnu Taimiyah terhadap persaksian hilal yang ditolak oleh Qodi?

    Jawab: Afwan, saya tak tahu pendapat itu dan tak bisa mengakses ke sumbernya. Jadi mohon maaf, tak bisa berkomentar banyak. Sekali lagi mohon maaf.

    Yang terjadi sekarang KEBANYAKAN menjadikan ormasnya sebagai ulil AMRI, maka terpecah-pecahlah satu negara ini.

    Jawab: Sebenarnya INTI MASALAH yang saya singgung dalam artikel itu bukan masalah ormas Islam ini. Tapi soal penetapan awal Syawwal yang memakai metode hisab/astronomi secara kaku, lalu meniadakan kemudahan Sunnah dalam soal rukyatul hilal. Jadi, inti masalahnya disana. Kalau Anda baca secara teliti, saya cenderung mempertanyakan, mengapa Sidang Itsbat Depag tidak mengakomodir kesaksian Muslim yang telah mengaku melihat hilal dan mau disumpah? Hal itu kan sangat menyalahi Sunnah Nabi Saw dalam penetapan awal Syawwal dan semisalnya.

    Anda juga bertanya soal “berpuasa bersama masyarakat umum”. Itu yang Anda sebut dalam hadits At Tirmidzi dan Abu Dawud. Mungkin yang perlu ditanyakan lagi, “Seberapa besar kadar yang disebut sebagai mujtama’/an naas itu? Apakah untuk sebanyak ormas Muhammadiyyah, HTI, JAT, MMI, dll. mereka tak layak disebut masyarakat?” Nah, itu perlu Anda jawab juga dengan baik. Juga apakah negara seperti Malaysia, Muslim Singapura, Saudi, Mesir, Yordan, Muslim Rusia, dll. tidak layak juga disebut sebagai masyarakat seperti yang diisyaratkan dalam hadits tersebut?

    Andaikan tidak layak disebut masyarakat, apakah keberadaan madzhab2 fiqih Islam, misalnya satu madzhab berbeda sikapnya dengan madzhab lain dalam satu negara; dan tentu kejadian seperti itu di sejarah Islam, terkait masalah perbedaan Ramadhan, Syawwal, Dzulhijjah, pastilah pernah terjadi; nah, apakah para pengikut satu madzhab tertentu dengan para pendukungnya itu, mereka tak layak juga disebut sebagai masyarakat/an naas?

    Sebagai catatan: dalam kaidah bahasa Arab, manusia lebih dari 2 orang sudah disebut sebagai jamak dan berlaku hukum2 jamak.

    Nampaknya antum ada masalah dengan masalah pepolitikan di indonesia. Terlepas dari berbagai masalah di negeri ini yang dipertontonkan oleh politikus oportiunis. Ketauhilah tidak semuanya buruk. Alhamdulillah kita bisa menjalankan ibadah (sholat, naik haii, mendirikan masjid, membangun sekolah islami, dan banyak lagi) dengan baik di negeri yang mayoritas Muslim, dengan segala kekurangannya, kita mesti banyak bersyukur.

    Jawab: Ya Akhi, selama sebuah negeri belum futuh menegakkan sistem Islam, ya kita semua harus merasa bermasalah dong! Masak saya saja sih. Ini tidak betul. Coba Antum bayangkan, Nabi Saw pernah mengatakan, “Man ra’a munkaran fal yughaiyiru bi yadihi…bi lisani…bi qalbi.” Antum pasti hafal lah hadits ini. Dalam satu hal kemunkaran saja, kita sudah diperintahkan mengingkarinya, minimal dengan hati. Masak terhadap kemungkaran SISTEMIK, KONSITUSIONAL, LEGAL, NASIONAL; kita akan tenang-tenang saja. Ini tidak betul saudaraku.

    Oke oke…kita tetap mengakui adanya kebaikan itu. Tapi Antum harus ingat, jangan karena “uang muka” sedikit, kita lalu lupa dengan pangkal masalahnya yang dalam, yaitu eksistensi sistem jahiliyyah. Waduh, kalau antum tidak risau dalam hal seperti ini, masya Allah bentuk keimanan seperti apa yang antum yakini selama ini? Masya Allah.

    Berapa kali Rasulullah Saw ditawari berbagai tawaran indah oleh puak-puak musyrikin Quraisy. Tawarannya sangat menggiurkan. Namun Rasulullah Saw mengingkari semua itu. Beliau lebih rela hijrah daripada kompromi. Apakah ketika itu Rasulullah bisa dicela dengan ungkapan seperti ini: “Ya Rasulullah, orang musyrik Quraisy kan sudah berbaik-baik menawarkan aneka tawaran lunak, kenapa sih mesti ditolak juga? Cobalah, Rasulullah sedikit punya rasa syukur kepada Allah.” Laa haula wa laa quwwata andai ada pemikiran (prasangka) seperti itu di benak kita terhadap sikap konsisten Rasulullah Saw dalam memegang kebenaran.

    Kalau Antum menyuruh saya ngaji lagi, ya saya akan terus mengaji untuk memperbaiki diri, dengan ijin dan pertolongan Allah. Tapi pada saat yang sama, saya menasehati antum juga untuk lebih mengaji lagi. Jangan-jangan keyakinan itu sudah campur-baur aneka syubhat yang membahayakan i’tiqad di hati. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Semoga tidak sampai sejauh itu. Amin ya Rahiim.

    Kadang-kadang kita harus obyektif menilai, bukannya terjebak sendiri seperti politikus yang hobinya saling menjatuhkan dan membai buta dalam menilai sesuatu. Bagaimana nasihat ulama menghadapai pemimpin yang masih membolehkan kita sholat?

    Jawab: Ya, kesulitan utama kita, biasanya kita memakai kacamata berbeda. Kita memandang kondisi Indonesia dengan kacamata ulama-ulama Saudi. Nah, ini tidak tepat. Demi Allah ya Akhi…kalau saya ditanya, “Apakah Anda mengakui bahwa pemerintah Saudi merupakan ulil amri bagi rakyat Saudi?” Dengan jelas saya katakan: “Ya!” Tanpa penafsiran macam-macam. Meskipun di mata para ikhwan Jihadis, posisi pemerintah Saudi dianggap sudah ma’zul. Di mata saya, mereka masih layak disebut ulil amri.

    Nah, perbedaan inilah yang membuat kita rancu dalam menilai masalah-masalah di Indonesia. Padahal cara menilainya mudah saja. Tinggal Anda buat perbandingan komparatif antara sistem politik yang berlaku di Saudi dan Indonesia. Sudah begitu saja. Lihat sisi pemimpin, UU, konstitusi, hak warga negara, madzhab keagamaan, dan selainnya. Saya berusaha fair Saudaraku, semampuku, dengan menunjukkan parameter-parameter yang mudah, tidak berbelit. Walhamdulillah.

    Kalau saat ini kita masih diperbolehkan shalat, pernahkah Anda bayangkan bahwa suatu saat sistem NEOLIB-KAPITALISTIK bisa berakibat shalat ditinggalkan manusia, shalat menjadi asing, generasi muda Muslim meninggalkan shalat, dll.? Anda dalam menilai sesuatu terlalu sederhana, hanya dilihat dari sisi-sisi penampilan semata. Celakanya, pemimpin tertentu sangat dikenal hobi melakukan pencitraan. Bahkan bukan hanya dia yang doyan pencitraan. Rata-rata pemimpin Indonesia begitu, sejak dulu.

    Kalau memang shalat itu bermanfaat bagi pemimpin, pasti akan mencegah dia berbuat keji dan munkar. Iya kan? Kalau dia tak mau berbuat keji dan munkar, pasti akan membabat habis sistem ekonomi NEOLIB-KAPITALISTIK itu, sebab ia merupakan sumber kehancuran, kemiskinan, penindasan, “perbudakan” manusia, kemurtadan, kesyirikan, amoralitas, dll.

    Ana sering membaca tulisan-tulisan antum yang menurut ana bagus dan mudah dipahami. Ana sebenarnya menunggu tulisan antum yang menyoal metode hisab Ormas Muhammadiyah. Mereka ingin menyatukan menyatukan sistem penanggalan umat Islam agar tidak lagi terjadi perbedaan-perbedaan dengan metode hisab dan menganggap ru’yah gak jaman lagi.

    Jawab: Alhamdulillah ‘ala kulli ni’matillah lana wa lakum. Ya, sebenarnya di poin pertama tulisan itu sudah tercermin sikap saya inti saya. Ru’yat kita perlukan untuk urusan-urusan ibadah, seperti yang disabdakan oleh Nabi Saw. Adapun hisab JUGA KITA BUTUHKAN untuk membangun kalender, almanak, jadwal-jadwal muamalah. Keduanya kita butuhkan secara proporsional, sesuai hajat masing-masing. Ru’yat untuk ibadah, hisab untuk muamalah. Kalau nanti ada perbedaan hari dalam ibadah dan kalender, ya kita terima saja, tidak usah diperselisihkan; sebab peluang ke arah itu pasti ada.

    Bagaimana dengan pendapat Muhammadiyyah bahwa metode Ru’yat sudah kuno? Ya, jangan begitu. Itu sama saja dengan mengatakan: Sunnah Nabi sudah tak relevan lagi. Jangan demikian lah. Ru’yat tetap kita butuhkan, selama masih tegak agama Allah di muka bumi. Maka itu, dalam hidup ini hargai upaya Ru’yat, jangan dikalahin melulu dengan ISTIKMAL. Nanti lama-lama masyarakat akan meninggalkan Ru’yat karena merasa hasilnya pasti akan ISTIMAL lagi.

    Janganlah demikian wahai Akhunal karim rahimakallah wa lana wa lil Muslimin, amin.

    Justru mereka memecah belah umat di satu negara.

    Jawab: Ini komentar Anda lho ya…saya tidak ikut masuk kesana. Saya hanya mengkritik, mengapa dalam Sidang Itsbat Depag tidak mengakomodir pengakuan sebagian Muslim yang telah mengklaim melihat hilal, di bawah sumpah? Itu topik utamanya.

    Syukran jazakumullah khairan katsira.

    AMW.

  105. Anonymous mengatakan:

    Wah, rame juga ya pembahasannya. Dan, perlu diingat, ini bukan yang pertama (dan, mengingat kondisi umat sekarang, bukan yang terakhir) kita ber-adu argumentasi mengenai penentuan 1 Syawal, 1 Romadhon dan 10 Dzulhijjah. Banyak yang menyebut teori2 astronomi, tapi saya belum banyak mendengar yang menyebut bahwa akar permasalahannya adalah nggak adanya kepemimpinan Islam (khalifah) yang mengurusi semua keperluan ummat, termasuk tentang ibadah. Saya rasa, dilema ini akan terus ada sepanjang kita masih mementingkan garis imajiner yang membatasi teritori kekuasaan yang bernama negara daripada persaudaraan sesama muslim. Kalo kita bisa membebaskan diri kita dari toghut nasionalisme ini, niscaya akan mudah kita memerima kesaksian saudara-saudara kita seaqidah yang berada dimana saja, tanpa memandang negara. Insya Allah, kesatuan penetapan 1 Syawal (1 Romadhon atau 10 Dzulhijjah) akan mudah dicapai.

  106. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Aisyah…

    Antum kelihatanya hanya memakai hadis ru’yah saja dan cenderung mengabaikan hadis-hadis nabi dan bimbingan ulama dengan logika antum, padahal masih tekait dan itu menjawab perselisihan yang ada di jaman kita sekarang.

    Jawab: Masya Allah Akhi, antum harus jujur dan mau bersikap adil. Antum beranggapan bahwa saya bersikap membabi-buta. Ya, itu sesuai penilaian Antum sendiri. Benar atau salah, biarlah Allah Ta’ala yang menilainya. Astaghfirullah ‘al azhim, astaghfirullah al ‘azhim…rasanya kelu membaca komentar seperti ini.

    Jumhur ulama kaum Muslimin sudah sepakat, bahwa metode menentukan awal Ramadhan, awal Syawwal, awal Dzulhijjah, adalah dengan Ru’yatul Hilal. Ini adalah nyata, ini adalah Sunnah, ini adalah hukum asalnya. Kalau Ru’yah tak bisa, baru dilakukan ISTIKMAL, menggenapkan bilangan bulan menjadi 30 hari. Dan Departemen Agama RI sejak lama menganut sistem Ru’yatul Hilal ini. Makanya, setiap menjelang Ramadhan/Syawwal/Dzulhijjah mereka selalu melakukan penetapan (Sidang Istbat). Jadi, hukum asalnya adalah Ru’yatul Hilal ini, wahai Saudaraku. Kalau Ru’yah tak bisa, baru masuk ke ISTIKMAL. Adapun hisab dan astronomi, hakikatnya hanya PENGUAT saja.

    Allahu Akbar, bagaimana Anda begitu tega menyebut kata-kata seperti itu?

    Perlu antum ketahui. Apa yang antum sebut berpuasa bersama ulil amri/bersama masyarakat/bersama manusia; hal itu diputuskan setelah ada kejelasan soal Ru’yah Hilal itu sendiri. Kalau hilal terlihat diputuskan sesuatu, kalau tak terlihat ISTIKMAL. Kaidah dasarnya masih seputar Ru’yatul Hilal ini, wahai saudaraku. Baru setelah diputuskan Pemerintah/negara, barulah kemudian masyarakat berbuka atau meneruskan puasa satu hari lagi. Jadi “berhari raya bersama masyarakat” itu setelah persoalan Ru’yah Hilal clear.

    Tolong jangan Anda benturkan antara Ru’yah Hilal dengan “berpuasa/berbuka dengan masyarakat”! Tolong jangan dibenturkan! Sebab, masyarakat tak akan berbuka/berpuasa, menurut hukum ibadah yang berlaku di Indonesia, sebelum clear masalahnya terkait Ru’yah Hilal. Sebelum clear, Depag RI tak akan berani membuat keputusan semata-mata hanya berdasar hisab/astronomi belaka. Itu yang berlaku di negeri kita, wahai saudaraku.

    Ana mengajak diri ana dan kaum muslimin sekalian untuk bertakwa kepada Allah, kembali kepada Al Quran dan sunnah.

    Jawab: Allahumma zidna taqwa wal istiqamah, amin ya Rahiim. Mohon ampunkan diriku ya Rahmaan bila ada hal-hal yang Engkau tak berkenan atasku. Allahumma amin ya Sallam.

    AMW.

  107. Merindukan Persatuan mengatakan:

    lucu sekali penulis ini, berargumen dengan membawa-bawa “ormas Muhammadiyah & negara-negara lain”

    -Muhammadiyah pake Hisab, kontaradiksi dengan argumen awal anda yang cenderung hilal. Lucu sekali Anda, Kok Anda mendadak Muhammadiyah dan membela ahli hisab itu.

    -ini perbincangan tentang perpecahan penentuan syawal dalam satu negara Indonesia. antar satu negara dengan negara lain sangat mungkin berbeda, secara geografis sangat mungkin, kalo gak salah ada riwayat sahabat terkait hal ini. tapi ini satu negara bahkan sampai satu ranjang berbeda dalam hari raya.Aneh nian negerinya Prof Din Syamsuddin, KH Zainuddin, Nurdin Halid,Nazaruddin, serta negerinya para ahli hisap ini (SAMSOEdin)

    -yang jadi ikutan apakah MMI/FPI/ Hizbuttahrir/ Muhammadiyah? apakah dalilnya jadi berbunyi: taatilah pemimpin organisasi2mu, jangan taati pemimpin negara politikus oprtunis2 itu. Wahai kaum muslimin Indonesia yang ratusan juta Jangan taati pemerintah, tapi taatilah organisasi2 di atas????? itu konsekuensi secara tidak langsung dari kata-kata Anda, Mengaku atawa tidak?
    perpecahan dimana-mana. kemarin, khotib jumat di masjid saya dengan bangga membawakan khotbah bahwa perselisihan itu rahmat, konon ini hadis palsu?,mohon diluruskan.
    Bukankah ada perintah Alloh” berpegang teguhlah kepada agama Allah, jangan berpecaha belah.

    -konon(ada komentator menyebutkan). Ulama besar Saudi Yang benar-benar ahli ilmu (beneran) menganjurkan kita mengikuti pemerintah negara masing2; jangankan dalam penentuan syawal, bahkan sampai masalah JIHAD??benarkah? mohon diluruskan.

    -Bersihkan niat, hati-hati dengan godaan syaithon yang ingin menggelincirkan manusia, siapapun bisa salah, kita tidak ma’sum seperti Nabi. Kadang merasa benar, tapi ternyata tidak sesuai dengan petunjuk para salafussalih

    – ada kisah teladan Sahabat Ibnu Mas’ud radiyallahu anhu yang meninggalkan pendapatnya tentang sholat Qosar di mina mengikut ijtihad Utsman bin Affan Radiyallahu Anhu yang menyempurnakan sholat menjadi 4 rakaat..
    – kisah teladan Imam Ahmad ikut qunut ketika bermakmun kepada imam syafii, apakah ini sahih?

    Alangkah menakjubkan akhlaq para Salaful Ummah ini, satu pendapat ternyata bisa berubah sesuai tempat dan keadaan atawa ada maslahatnya dan menghindari mafsadat yang lebih besar.
    Duhai, andaikan kita meneladani mereka secara utuh, mudah-mudahan tidak terjadi perselisihan berkepanjangan seperti ini. Ingat, ini negeri yang mayoritas muslim dari segi kuantitas, tapi tunggu dulu kalau mau bicara kualitasnya.

  108. Merindukan Persatuan mengatakan:

    Ingat, ini negeri yang mayoritas muslim dari segi kuantitas, tapi tunggu dulu kalau mau bicara kualitasnya.

    harusnya digencarkan lagi dakwah-dakwah, betapa banyak anak istri kita belum berjilbab dengan benar, betapa banyak pemuda kita belum bisa baca Al Quran. Betapa banyak kaum muslimin di indonesia yang sehari-harinya bergelut bid’ah, sebagaian besar belum tersentuh dakwah, ada beberapa kota sangat agresif terjadi pemurtadan, kristenisasi merajalela..tapi, ironisnya, pernah kejadian ada pimpinan ormas ahli hisab menawarkan gedung-gedung ormasnya untuk dijadikan tempat perayaan natal? dulu anti TBC,(tanpa mengurangi penghargaan terhadap amaliah mereka dalam kebaikan, melayani umat puluhan tahun) tapi sekarang apa yang menjadi slogan mereka secara tidak langsung. Sok Beda dengan Penguasa dalam 1 Ramadhon/ 1 Syawal..

    Ya, ini membikin perpecahan baru, bahkan menambah perpecahan, ini negeri yang penuh aliran sesat,penyimpangan akidah yang begitu marak,
    Eh, ditambah lagi polemik yang tidak sehat seperti ini. Kata siapa, perbedaan pendapat ini wajar dan masyarakat sudah bisa memahami, faktanya di berbagai tempat ada gesekan-gesekan tidak sehat

    kami butuh tuntunan yang baik, bukan tontonan yang tidak sehat
    Ormas2 islam ini hanya sarana wahdah, jangan jadikan sebagai agama baru.Pemimpin organisasi bukan penguasa, seperti yang disebut ulil amri, perlakukanlah sebagai pemimpin organisasi semata bukan ulil amri, jangan Taklid buta.
    Surah Annisa ayat 59″ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

    maaf kalo ada yang tidak berkenan.

  109. Merindukan Persatuan mengatakan:

    oh ya, nambah lagi.
    ada Stasiun TV yang hobi mengail di air keruh, suka menayangkan keunikan umat islam nusantara tanpa ada penjelasan/pembanding dari pihak yang berwenang seperti alim ulama, diberitakanlah aliran-aliran yang berlebaran pada hari yang berbeda-beda.
    kejadian-kejadian seperti itu dibesar-besarkan, aliran sesat dan kecil jadi dibesarkan oleh TV tersebut. Mereka hobi mengiklankan semut-semut hitam itu menjadi gajah. Satu lagi, stasiun TV hobi membunuh ormas islam yang mereka anggap radikal dari kacamata buram mereka dalam berita-berita mereka.
    ada wartawan muslim di stasiun TV, tapi Pimpinan Redaksinya kemungkinan non islam ? Pemiliknya juga ga jelas akidahnya..
    Media – media seperti inilah yang harus disikapi serius..
    Harus dilawan
    perlu ada jurnalis-jurnalis muslim yang handal yang mampu mencounter mereka, kita perlu media yang kuat dan berpengaruh.
    dan langkah-langkah lain yang mungkin kita lakukan.
    maka bersatulah, hindari perpecahan.

  110. abisyakir mengatakan:

    @ Merindukan Persatuan…

    Lucu sekali penulis ini, berargumen dengan membawa-bawa “ormas Muhammadiyah & negara-negara lain”. Muhammadiyah pake Hisab, kontaradiksi dengan argumen awal anda yang cenderung hilal. Lucu sekali Anda, Kok Anda mendadak Muhammadiyah dan membela ahli hisab itu.

    Jawab: Ya, sebenarnya tidak lucu, kalau Anda merunut diskusinya. Kan saya ditanya, bagaimana sikap Anda terhadap Muhammadiyyah yang lebih mengutamakan hisab? Ya, saya jawab, pada intinya dalam soal ibadah kita menerima sistem Rukyatul Hilal, karena itu sesuai Sunnah. Maka dalam tulisan itu saya tidak banyak memakai argumen hisab Muhammadiyyah, kecuali pada pendapat wakil Muhammadiyyah dalam Sidang Itsbat Departemen Agama, dimana beliau meminta supaya pengakuan hisab sebagian Muslim itu diakomodir. Nah, disitu saya setuju sekali dengan pendapat tersebut. Bukan setuju ke konsep hisab-nya. Soal negara-negara lain, mereka banyak memakai Rukyatul Hilal, seperti Malaysia, Singapura, Saudi, dll.

    Ya cobalah bersikap agak bijak sedikit… Jangan cepat-cepat memvonis “lucu”, “pakai logika”, “tidak ikut ulama”, dan lainnya. Cabalah lebih bijak sedikit wahai @ Merindukan Persatuan…

    -ini perbincangan tentang perpecahan penentuan syawal dalam satu negara Indonesia. antar satu negara dengan negara lain sangat mungkin berbeda, secara geografis sangat mungkin, kalo gak salah ada riwayat sahabat terkait hal ini. tapi ini satu negara bahkan sampai satu ranjang berbeda dalam hari raya.Aneh nian negerinya Prof Din Syamsuddin, KH Zainuddin, Nurdin Halid,Nazaruddin, serta negerinya para ahli hisap ini (SAMSOEdin)

    Jawab: Ya, Malaysia dengan kita itu apa sih bedanya? Wong sama-sama di Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia mengklaim, hilal disana terlihat di 30 titik pantau. Hebat sekali, luar biasa. Di Indonesia, 30 petugas Depag RI di berbagai daerah -dan kebetulan memang sudah jamak diketahui mereka jarang sekali sukses melihat hilal- gagal melihat hilal.

    Kalau Anda memakai riwayat hadits yang bunyinya kira-kira “apakah tidak cukup dengan Ru’yah Muawiyyah Ra saja?” Kalau Anda memakai riwayat ini, maka setiap provinsi di Indonesia bisa punya keputusan sendiri-sendiri, sebab di masa itu antara negeri Syam dan Madinah saja berbeda ketetapannya, padahal masih sama-sama satu negeri Islam. Kalau Anda memakai riwayat itu, malah perpecahan yang terjadi akan jauh lebih dahsyat lagi. Tidak sesuai dengan nama Anda @ Merindukan Persatuan.

    -yang jadi ikutan apakah MMI/FPI/ Hizbuttahrir/ Muhammadiyah? apakah dalilnya jadi berbunyi: taatilah pemimpin organisasi2mu, jangan taati pemimpin negara politikus oprtunis2 itu. Wahai kaum muslimin Indonesia yang ratusan juta Jangan taati pemerintah, tapi taatilah organisasi2 di atas????? itu konsekuensi secara tidak langsung dari kata-kata Anda, Mengaku atawa tidak?

    Jawab: Sebenarnya, yang ingin ditekankan bukan kesana. Gimana ya, sudah berkali-kali dikatakan. Intinya, dalam penetapan Sidang Itsbat oleh Depag RI, mohon jangan abaikan pengakuan seorang Muslim yang dikenal baik (apalagi ustadz), sudah dewasa, dan mau disumpah, yang dia itu mengaku sudah melihat hilal. Itu saja kok. Tidak usah dibuat rumit-rumit… Hanya disana saja.

    Sebab, saya amat sangat keberatan dengan pendapat KH. Ma’ruf Amin (dari MUI Pusat) yang dia mengutip pandangan ulama, kalau pengakuan seseorang telah melihat hilal tidak sesuai pandangan ulama ahli hisab, pengakuannya harus ditolak. Wah, itu sesat dan menyesatkan namanya. Itu bukan Rukyatul Hilal namanya… Itu artinya, ilmu hisab “sudah menindas” Sunnah Rukyatul Hilal. Bahkan itu mengingkari Kuasa Allah Ta’ala untuk menjadikan sesuatu yang menurut akal manusia tak mungkin, menjadi mungkin, dengan ijin dan kasih sayang-Nya.

    Anda paham tidak sih arah pemikiran ini? Kalau tak paham, mohon berwudhu-lah dulu, dan luaskan dada Anda terhadap hak-hak saudara Anda, sesama Muslim. Mudah-mudahan dengan kelapangan hati, Anda bisa memahami inti artikel itu, bahwa kaidah Syariat yang sudah tsabit (teguh) tidak boleh dikalahkan oleh hawa nafsu manusia.

    Perpecahan dimana-mana. kemarin, khotib jumat di masjid saya dengan bangga membawakan khotbah bahwa perselisihan itu rahmat, konon ini hadis palsu?,mohon diluruskan. Bukankah ada perintah Alloh” berpegang teguhlah kepada agama Allah, jangan berpecaha belah.

    Jawab: Komentar seperti ini harusnya tidak muncul. Di bagian poin akhir artikel sudah dijelaskan hal itu. Tapi kalau tidak diberi jawaban, khawatir tidak melegakan hati sesama Muslim. Mohon Anda baca ulang lagi poin akhir dari artikel tersebut. Jazakumullah khair atas kesediaan Anda mau membaca ulang poin akhir artikel itu. Sekali lagi, syukran jazakumullah khair.

    -konon(ada komentator menyebutkan). Ulama besar Saudi Yang benar-benar ahli ilmu (beneran) menganjurkan kita mengikuti pemerintah negara masing2; jangankan dalam penentuan syawal, bahkan sampai masalah JIHAD??benarkah? mohon diluruskan.

    Jawab: Saya tidak tahu apa yang Anda tanyakan itu; tak tahu substansinya dan siapa ulama yang Anda maksudkan itu. Mohon dimaafkan. Yang jelas, Dr. Abdullah Azzam pernah meyakinkan Syaikh Bin Baz rahimahullah agar memberikan fatwa hukum fardhu ‘ain berjihad membela kaum Muslimin di Afghanistan yang di invasi Uni Soviet. Waktu itu Afghanistan dipimpin pemerintah boneka dukungan Uni Soviet, Najibullah. Kalau benar fatwa ikut pemerintah itu, berarti Muslim Afghan harus membela Najibullah, sebab dia pemimpin Afghan yang sah ketika itu. Tetapi beliau malah mendukung Jihad untuk melawan Najibullah dan Uni Soviet di Afghan. Syaikh Abdurrahman Al Jibrin dll. mendukung Jihad di Iraq, Afghanistan, Chechnya, Palestina, dalam rangka membela kaum Muslimin menghadapi musuh-musuhnya. Kalau fatwa yang Anda maksudkan itu ada, berarti kita harus membela Hamid Karzai, membela Nuri Al Maliki, membela Rusia, membela Mahmud Abbas dan Israel di Palestina, dll yang sedang berkuasa di negeri-negeri itu. Rasanya mustahil ya bisa begitu… Wallahu a’lam bisshawaab.

    -Bersihkan niat, hati-hati dengan godaan syaithon yang ingin menggelincirkan manusia, siapapun bisa salah, kita tidak ma’sum seperti Nabi. Kadang merasa benar, tapi ternyata tidak sesuai dengan petunjuk para salafussalih.

    Jawab: Ha ha ha… Anda harus teguh ketika mengaku iltizam dengan manhaj Salafus Shalih. Bukan sekedar ucapan tanpa makna. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq kepada kita semua, khususnya Anda dan diri saya.

    Wahai Akhil karim…metode Rukyat Hilal itu metode Salafus Shalih ya Akhi… Mengakui kesaksian seorang Muslim yang baik, dewasa, berakal, dan mau disumpah, atas kesaksiannya melihat hilal; itu metode Salaf ya Akhi. Rasulullah Saw sendiri yang mencontohkan perbuatan itu, diikuti jumhur kaum Muslimin, sampai hari ini. Alhamdulillah.

    Demi Allah, saya pribadi tidak keberatan dengan ketetapan Depag RI dalam penetapan 1 Syawwal, 1 Ramadhan, 1 Dzulhijjah; asalkan jangan melulu memakai metode ISTIKMAL, tetapi juga menghargai kesaksian Muslim yang mengaku telah melihat hilal. Itu intinya wahai Akhil karim… Kalau penetapan Sidang Itsbat selalu ISTIKMAL lagi, ISTIKMAL lagi; lama-lama Sunnah Rukyatul Hilal hanya akan jadi formalitas belaka.

    Menurut antum, mana yang lebih ringan hukumnya di sisi Allah: Sebagian Muslim tidak ikut berhari-raya bersama Pemerintah, atau hilangnya Sunnah Rukyatul Hilal dari kehidupan kaum Muslimin? Tolong Antum jawab dengan jujur!

    - ada kisah teladan Sahabat Ibnu Mas’ud radiyallahu anhu yang meninggalkan pendapatnya tentang sholat Qosar di mina mengikut ijtihad Utsman bin Affan Radiyallahu Anhu yang menyempurnakan sholat menjadi 4 rakaat.. – kisah teladan Imam Ahmad ikut qunut ketika bermakmun kepada imam syafii, apakah ini sahih?

    Jawab: Alhamdulillah, saya paham maksud komentar Antum itu. Intinya, pentingnya menjaga persatuan Ummat. Bahkan saya perlu sebutkan dalil lain yang lebih meyakinkan lagi, yaitu ketika tersebar paham “Al Qur’an adalah makhluk” di jaman Imam Ahmad rahimahullah. Waktu itu beliau melarang memberontak kepada pemimpin Islam yang meyakini akidah itu, dengan alasan: “Apakah kalian akan mematahkan tongkat persatuan Ummat?” Dalil ini sering saya dengar dalam topik persatuan Ummat.

    Tapi yang saya maksud adalah: Pelihara sunnah Rukyatul Hilal dalam penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawwal, 1 Dzulhijjah. Jangan melulu terpaku oleh metode hisab/astronomi, lalu mengabaikan kesaksian Muslim yang mengaku telah melihat hilal (tentu saja dengan syarat-syarat tertentu yang bisa diterima sesuai Syariat Islam). Sunnah ini harus dijaga, dilindungi, dan jangan ditinggalkan, atas alasan apapun.

    Kalau Depag RI telah bersungguh-sungguh menerapkan Sunnah ini, lalu hasil akhirnya tetap ISTIKMAL, tak mengapa. Sebab sudah ada upaya sangat serius untuk “mengejar” kesaksian seputar hilal itu. Tidak seperti dalam Sidang Itsbat kemarin. Situasinya sangat dikendalikan oleh ahli hisab/astronomi. Kalau kita mengingkari Sunnah yang jelas ini; akibatnya pasti terjadi perpecahan! Mana ada sih jalan kebenaran yang akan berbuah memecah-belah Ummat? Justru karena metodenya salah, akibatnya perpecahan.

    Kalau Antum jujur, sebenarnya artikel itu telah mencoba mengarahkan ke jalan persatuan sebenarnya, yaitu konsisten dengan Sunnah Rukyatul Hilal. Mungkin yang Antum maksud ialah: Sudahlah yang penting kita bersatu saja, tidak peduli di atas Sunnah atau di atas bid’ah dan sesat. Sudahlah yang penting bersatu saja, apapun caranya! Kalau Antum berada di atas jalan seperti ini, jelas kita tak akan pernah bersatu selamanya. Bukanlah Sunnah itu selalu dekat dengan Jamaah? Mau bukti? Sangat mudah! Coba ingat istilah ini: Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

    Alangkah menakjubkan akhlaq para Salaful Ummah ini, satu pendapat ternyata bisa berubah sesuai tempat dan keadaan atawa ada maslahatnya dan menghindari mafsadat yang lebih besar. Duhai, andaikan kita meneladani mereka secara utuh, mudah-mudahan tidak terjadi perselisihan berkepanjangan seperti ini. Ingat, ini negeri yang mayoritas muslim dari segi kuantitas, tapi tunggu dulu kalau mau bicara kualitasnya.

    Jawab: Semoga Allah mengampuniku, terutama atas dosa-dosa yang tak kusadari. Syukran jazakumullah atas segala nasehat dan masukan dari Antum. Semoga Allah memberikan kita hidayah dan taufiq selalu. Allahumma amin.

    AMW.

  111. abisyakir mengatakan:

    @ Merindukan Persatuan…

    Jazakumullah khair atas masukan-masukan Antum dan nasehatnya.

    dulu anti TBC,(tanpa mengurangi penghargaan terhadap amaliah mereka dalam kebaikan, melayani umat puluhan tahun) tapi sekarang apa yang menjadi slogan mereka secara tidak langsung. Sok Beda dengan Penguasa dalam 1 Ramadhon/ 1 Syawal..

    Jawab: Insya Allah, saya tidak berdiri di atas kepentingan seperti itu, dengan pertolongan Allah. Kecuali dalam dakwah untuk membangun peradaban Islami di muka bumi, termasuk di negeri Nusantara ini. Insya Allah.

    Ya, ini membikin perpecahan baru, bahkan menambah perpecahan, ini negeri yang penuh aliran sesat,penyimpangan akidah yang begitu marak, Eh, ditambah lagi polemik yang tidak sehat seperti ini. Kata siapa, perbedaan pendapat ini wajar dan masyarakat sudah bisa memahami, faktanya di berbagai tempat ada gesekan-gesekan tidak sehat.

    Jawab: Andaikan Depag RI sangat mensyukuri metode Sunnah Rukyatul Hilal yang diajarkan Nabi Saw, tentu akan sangat banyak maslahat yang mampu diraih dan sedikit madharat yang muncul. Dengan Ru’yah itu sebenarnya mudah, tetapi kemudian menjadi rumit karena kuatnya dominasi kaum ahli hisab/astronomi.

    Kami butuh tuntunan yang baik, bukan tontonan yang tidak sehat. Ormas2 islam ini hanya sarana wahdah, jangan jadikan sebagai agama baru.Pemimpin organisasi bukan penguasa, seperti yang disebut ulil amri, perlakukanlah sebagai pemimpin organisasi semata bukan ulil amri, jangan Taklid buta.

    Jawab: Kita bicara atas nama kepentingan pembangunan Syariat Islam, bukan atas kepentingan ormas-ormas tertentu. Dan menariknya, keputusan Depag RI juga diputuskan berdasarkan pendapat ormas-ormas Muslim tertentu, hanya jumlahnya lebih banyak. Jadi, sebenarnya mana domain Pemerintah dan mana domain ormas? Wallahu a’lam bisshawaab.

    Surah Annisa ayat 59″ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

    Jawab: Kalau ada perselisihan soal penentuan 1 Syawal, kembalikanlah pada Sunnah Rasul Saw, yaitu Rukyatul Hilal. Kalau ada Muslim yang sudah mengaku melihat, verifikasi pengakuannya; tanyakan akurasinya; kalau pengakuannya tampak jujur, ambil sumpah atasnya; lalu umumkan penentuan 1 Syawwal berdasarkan pengakuan melihat hilal itu. Setelah itu, baru kita akan berhari-raya bersama-sama secara damai dan berkah. Tetapi kalau, tidak serius dengan Rukyat Hilal; dalam otak sudah dikendalikan oleh persepsi “hilal tak mungkin terlihat” berdasarkan perhitungan hisab/astronomi; lalu mencari dalil-dalil untuk meremehkan kesaksian Muslim atas hilal; kalau begini caranya, sama saja kita dengan membunuh pelan-pelan Sunnah Rukyat Hilal. Cara begitu sangat bertentangan dengan Surat An Nisaa ayat 59.

    maaf kalo ada yang tidak berkenan.

    Jawab: Sama-sama ya Akhi. Mohon ampunkan saya juga, kalau menurutmu berlebihan dalam urusan ini. Astaghfirullaha li walakum.

    AMW.

  112. Brl0mba dlm kbækn.. mengatakan:

    Bhsa artkelx jgn trllu ekstrim (ksar) dunk..

    Dr alasn (artkel) diats, gue(org awam) amat sngat ngrti knp kq ad yg puasa 29 hr. Sngat simple g muluk2.
    Emag kduax bner tp scra nurani n logika gue lbh nrima alsn muhammdyah.. Lanjutkn

  113. Hamba Allah mengatakan:

    Saudi, Mesir, dan beberapa negara Timur Tengah, Malaysia, Singapura, menjalankan Iedul Fitri pada hari Selasa 30 Agustus 2011. Bukan hari Rabu 31 Agustus 2011. Di Malaysia bahkan hilal bisa diketahui di 30 titik pengamatan. Hebat sekali. Padahal potensi kita di Indonesia, jauh lebih besar ketimbang Malaysia, sebab kita memiliki 3 wilayah waktu..

    Negara2 itu pernah salah juga lho dalam penentuan 1 syawal… tapi gak heboh and lebay kaya indonesia… masyarakatnya juga adem2 aja dengan itu… Cuma Indonesia aja yang kayanya kebanyakan orang pinternya… gak percaya pimpinananya… padahal jelas Qur’an dan hadistnya untuk mengikuti pimpinan yang secara sah di pilih…
    SO JADI GAK ADA HAK ENTE UNTUK NGELARANG ORANG BERPUASA TGL 30 ATAU TIDAK karena ente sendiri gak bisa bertanggung jawab atas FATWA ente di atas… kalo orang2 mengikuti apa yang sudah ente katakan… biarkan semua mengalir sesuai dengan keimanan masing2… mo pilih gak berpuasa tgl 30 silahkan… mo milih berpuasa tgl 30 silahkan… Masalah berpuasa di hari syubhat masing2 mempunyai dalilnya sendiri2… GAK BISA MAKSAIN ORANG JUGA KHAN???? SAMA JUGA PEMERINTAH GAK BISA MEMAKSAKAN ORANG HARUS LEBARAN TGL 31… RASULLULAH sangat membenci debat apalagi debat kusir kaya tulisan di atas cuma bikin sensasi dan kalo menurut gw sih GAK MUTU…Di ISLAM cuma ada 1 cara yaitu Musyawarah kalo gak percaya baca lagi hadistnya biar jelas…

    Mohon Maaf Lahir Batin Kalo ada yg Tidak berkenan….

  114. uta88 mengatakan:

    melihat besarnya penampakan bulan pada malam ini (04 september 2011), ane makin yakin dengan keputusan ane mengikuti lebaran pada tanggal 30 agustus (selasa). malam ini bulan hampir-hampir kelihatan separuhnya…

  115. TENANG...TENANG.... mengatakan:

    semua komentar benar tapi sblm lewat 1 syawal . Kejadian setelah 1 syawal hari selasa…….Arab Saudi melaui media berita (alarabiya tv,) mengakui kesalahan astronom mrk dalam menentukan hilal, pemerintah arab saudi menyatakn bahwa 1 syawal bukan hari selasa, tapi hari rabu. hal ini terjadi karena kesalahan bagian astronom mereka yang salah melihat h.i.l.a.l dengan perlalatan canggih mereka, ternyata setelah di kaji ulang, bagian pengamat tsb bahwa garis hilal yg muncul tsb adalah garis cahaya planit SATURNUS sehinga pemerintah arab saudi mengumumkan agar rakyatnya menambah puasa 1 hari. artinya mereka salah menentukan 1 syawal yg udah di ikuti beberapa negara di dunia. Ini artinya Indonesia 99% benar sama dng arab Saudi. SIDANG ISBAT INDONESIA “CANGGIH..!”…………. memang sebenarnya 1 syawal itu jatuh pd tgl 31, bukan 30.

    jadi yg dilihat oleh beberapa negara yg menyatakan hari selasa adalah 1 syawal itu adalah sinar lintasan planit SATURNUS, bukan hilal. mereka terlalu yakin tanpa pengulangan hasil rekaman untuk dikaji ulang. Mungkin hal ini telah di rasa oleh banyak para ulama saat sidang itsbat berjalan tapi mereka tidak komentar. Apakah berani para ulama yg pengetahuan hukum2 agamanya yang dalam, mengambil keputusan senekat itu kalau tidak yakin? Apakah mereka berani menanggung dosa2 dari rakyat muslim Indonesia yg berjumlah ratus juta (90%) berpuasa di 1 syawal yg hukumnya “haram”? Coba deh anda renungkan kembali…..terima kasih

  116. TENANG...TENANG.... mengatakan:

    setelah membuka situs tsb, klik Lebih….disinilah anda bisa mencari tentang perdebatan “hilal”

  117. BetterMan70 mengatakan:

    kisah arab saudi meralat keputusannya itu HOAX.

  118. Tobone mengatakan:

    MASALAH
    1. MUI/ Pemerintah harus konsisten, sebenarnya mereka mengklaim menggunakan metode Ru’yatul Hilal, tapi kenapa tidak mempertimbangkan kesaksian pihak yang mengklaim telah melihat hilal di Cakung?
    2. Ormas Muhammadiyah sebaiknya diajak dialog lebih intensif untuk menyamakan persepsi, mendahulukan sunnah,mendahulukan persatuan di atas kepentingan pribadi/golongan. Kritik ilmuwan tentang kriteria wujud hilal patut dicermati dan perlu didengarkan oleh Ormas MUHAMMADIYAH.

    SARAN
    Sebaiknya difikirkan cara mengantisipasi terjadinya masalah baru pada masa-masa yang akan datang, daripada berdebat di forum terbuka seperti ini dan dibaca oleh semua kalangan, ada baiknya dilakukan langkah-langkah kongkrit seperti :
    1. Menyalurkan aspirasi ke MUI/Pemerintah, menggugat konsistensi mereka terhadap kesepakatan awal-menggunakan metode ru’yah yang didukung oleh mayoritas ormas islam, mengingatkan pentingnya menjaga sunnah Nabi (dalam hal ini ru’yah Hilal), dan menghilangkan keraguan-keraguan di tengah masyarakat yang berpotensi memecah belah umat. Mereka punya tanggung jawab dan amanah yang besar selaku penguasa
    2.Mempertemukan ormas-ormas islam, perlu ada dialog ilmiah untuk mencari titik temu. dalam hal ini bisa difasiliasi oleh satu ormas islam yang mau pro aktif menyelesaikan masalah ini. Lebih idealnya Pemerintah terlibat langsung.

  119. Tobone mengatakan:

    Terlepas dari Muhammadiyah yang memang beda dari awalnya,tanpa sidang istbat pun mereka sudah menyebarkan ke masyarakat pendapat-pendapat mereka.

    Salah satu aktor Masalah adalah Ahli Astronomi/Falak/lain-lain
    Mereka sifatnya hanya membantu, bukan jadi Penentu utama.
    MUI/Pemerintah harus bijak, tidak menelan mentah-mentah teori Ahli Astronomi tersebut, dan mengabaikan fakta di lapangan.
    di sidang itsbat , teori/ pendapat (TIDAK MUNGKIN terlihat) bisa mengalahkan Fakta (MELIHAT + didukung oleh NEGARA2 Asia tenggara).

    di Saudi Arabia, kasusnya hampir sama, ahli astronomi mengklaim bahwa hilal tidak mungkin terlihat, tapi fakta berbicara, bahwa bisa terlihat dan pemerintah KSA konsisten
    Dalam khutbah Jum’atnya (02/9) di Masjid Imam Turki di Riyadh, Mufti Besar Arab Saudi Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Al Asyeikh mengatakan bahwa prosedur melihat hilal yang dilakukan senantiasa mengikuti sunnah. Syariah telah menerangkan prosedur itu dengan jelas. Umat Islam tidak akan pernah meninggalkan sunnah dan mengikuti pendapat-pendapat yang keliru (http://hidayatullah.com/read/18706/05/09/2011/perdebatan-1-syawal-berlanjut-di-arab.html)

  120. Tobone mengatakan:

    Hari Raya tanggal 2 Syawwal

    Dari abu Umair ibn Anas Radhiallahu ‘Anhuma, dari paman-pamannya yang dari kaum Anshar, mereka berkata: “Pernah terjadi awal Syawwal tertutup mendung, sehingga hilal tidak terlihat, maka kami puasa pada pagi harinya. Di sore hari ada rombongan yang datang dan bersaksi di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa mereka telah melihat hilal kemarin sore, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan orang-orang agar membatalkan puasanya dan pergi ke lapangan sholat ‘ied pada keesokan harinya.” (Shahih. HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad, Shahih al-Irwa’ (654), Mukhtasharnya (634))

    dikutip dari Majalah Qiblati

  121. abisyakir mengatakan:

    @ Hamba Allah…

    Negara2 itu pernah salah juga lho dalam penentuan 1 syawal… tapi gak heboh and lebay kaya indonesia… masyarakatnya juga adem2 aja dengan itu… Cuma Indonesia aja yang kayanya kebanyakan orang pinternya… gak percaya pimpinananya… padahal jelas Qur’an dan hadistnya untuk mengikuti pimpinan yang secara sah di pilih…

    Respon: Salah tidak mengapa, asalkan memakai metode yang benar. Dalam riset-riset teknologi sering juga ada kesalahan. Tapi selama berpegang pada METODE yang tepat, mereka terus optimis melakukan riset. Di kita kan, metode penentuan 1 Syawwal dikuasai ahli hisab/astronomi. Padahal metode yang benar adalah Rukyatul Hilal. Tak masalah, akurasinya tidak tepat atau tidak sesuai fakta astronomis, asalkan dilakukan Rukyatul Hilal. Karena itu metode dasar yang diajarkan Nabi Saw.

    SO JADI GAK ADA HAK ENTE UNTUK NGELARANG ORANG BERPUASA TGL 30 ATAU TIDAK karena ente sendiri gak bisa bertanggung jawab atas FATWA ente di atas… kalo orang2 mengikuti apa yang sudah ente katakan… biarkan semua mengalir sesuai dengan keimanan masing2… mo pilih gak berpuasa tgl 30 silahkan… mo milih berpuasa tgl 30 silahkan… Masalah berpuasa di hari syubhat masing2 mempunyai dalilnya sendiri2… GAK BISA MAKSAIN ORANG JUGA KHAN???? SAMA JUGA PEMERINTAH GAK BISA MEMAKSAKAN ORANG HARUS LEBARAN TGL 31…

    Respon: Wah, Anda ini orangnya emosian. Kalau Anda baca artikel itu, apa Anda temukan saya melarang kaum Muslimin di negeri ini berpuasa tanggal 30 Agustus 2011? Coba Anda cari mana bukti bahwa saya melarang berpuasa tanggal 30 Agustus 2011? Saya hanya menghimbau Ummat Islam agar berbuka tanggal 30 Agustus 2011. Saya tahu diri…apa artinya saya kok melarang masyarakat begini dan begitu? Saya tahu diri Mas. Saya hanya menghimbau kepada suatu perbuatan, dengan tetap memberi kebebasan siapapun yang membaca artikel itu untuk memilih pendapat sesuai yang mereka yakini. Tidak ada urusan “melarang-larang” itu, tak ada! Memang saya MUI sehingga bisa melarang-larang…

    RASULLULAH sangat membenci debat apalagi debat kusir kaya tulisan di atas cuma bikin sensasi dan kalo menurut gw sih GAK MUTU…Di ISLAM cuma ada 1 cara yaitu Musyawarah kalo gak percaya baca lagi hadistnya biar jelas…

    Respon: Anda ini aneh…katanya tak mau debat kusir, katanya jangan cari sensasi, katanya mengutamakan musyawarah…tapi menyebut tulisan orang lain “kalo menurut gw sih GAK MUTU”… Mana konsistensi dari perkataan Anda ini? Saya rasa tak perlu lebih jauh menanggapi tulisan Anda… Semoga Allah Ta’ala memberi kita hidayah dan taufiq. Amin.

    AMW.

  122. abisyakir mengatakan:

    @ Tenang…Tenang…

    …sinar lintasan planet Saturnus…

    Ya entahlah… Selama mengikuti pemberitaan seputar Rukyatul Hilal, sejak dulu sampai kini, baru sekarang saya dengar ada istilah “sinar lintasan planet Saturnus”…

    Alhamdulillah, agama kita ini MUDAH dan DIMUDAHKAN oleh Allah Ta’ala. Para ulama-ulama Islam sejak dulu tak pernah sulit menerapkan metode Rukyatul Hilal. Mereka tak dipusingkan oleh sinar planet ini dan itu…sebab yang namanya BENTUK Hilal itu sudah tertentu. Bentuknya ya bulan sabit itulah… Hanya kalau hilal masih muda/awal, memang tipis, sehingga bisa tampak di mata orang-orang yang terlatih melihatnya. Orang-orang yang tak terlatih, tak mudah menjangkaunya.

    Berikut ini link yang diberikan sebagian saudara kita -jazahullahu Ta’ala bi rahmatih-, boleh dibaca dan direnungkan: http://hidayatullah.com/read/18706/05/09/2011/perdebatan-1-syawal-berlanjut-di-arab.html

    Terimakasih.

    AMW.

  123. abisyakir mengatakan:

    @ Tenang…Tenang…

    Saya sudah cari tapi belum ketemu. Sudah, Anda cari berita itu lagi, lalu beri link khususnya, jangan al arabiyah nya sekaligus. Silakan beri link khususnya!

    Pendek kata, alasan “sinar lintasan planet Saturnus” menurut saya mengada-ada, atau diada-adain. Masak sih para pengamat Hilal sebodoh itu? Padahal mereka berpengalaman melihat posisi Hilal. Mereka tahu BENTUK Hilal, dimana posisinya, serta kebiasaan-kebiasaan penampakan Hilal itu sendiri. Kalau menuruti logika Anda: jangan-jangan selama ini para pengamat Hilal sering “ketipu” oleh sinar lintasan planet Saturnus. Sebegitunyakah….

    AMW.

  124. abisyakir mengatakan:

    @ Betterman…

    Nah, ini ada tambahan komentar dari salah satu pembaca. Jazakallah kepada penulis komentar.

    AMW.

  125. abisyakir mengatakan:

    @ Tabone…

    Syukran jazakumullah khair Akhi atas komentarnya. Sangat menunjang apa yang dijelaskan disini. Alhamdulillah.

    AMW.

  126. abisyakir mengatakan:

    @ Tabone….

    Syukran jazakumullah khair atas kutipan haditsnya. Tampak jelas kesungguhan Nabi Saw dalam mengakui kesaksian Muslim yang melihat Hilal. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  127. Hamba Allah mengatakan:

    Terlepas dari benar salah dengan perdebatan sengit mengenai 1 syawal 1432 H, kita mungkin bisa melihat dengan jelas pada tanggal 30 Agustus 2011 dimana posisi bulan sudah sangat tinggi dan tidak mungkin itu tanggal 1 syawal (atau tepatnya tanggal 2 syawal) jadi sebenarnya itu sudah menjadi bukti bahwa tanggal 1 syawal jatuh pada tanggal 30 agustus bukan tanggal 31 agustus….

  128. TENANG....TENANG.... mengatakan:

    @ Abiyaskir :
    buka dulu situ tsb diatas…., lalu cari berita di kolom berita “badai talas daun 25 tewas dan……” baris paling bawanya ada tulisan “lebih” anda klik, dia akan link. kemudian di link situs itu cari judul berita : “Mufti Arab Saudi dan Mesir mengkorfirmasi keabsahan bulan baru Syawal dan panggilan untuk membiarkan rumor”…..itulah beritanya. perlu anda ketahui, berita ini dalah yang di tayangkan di TV ALARABIYA saudi arabia dengan bhs arab, yg telah diterjemahkan ke bhs Indonesia.

  129. TENANG....TENANG.... mengatakan:

    anda juga bisa masuk ke page 2 dst….anda akan temui berita2 sputar topik ini yg telah di tayangkan di tv Alarabiya Saudi Arabia..
    Mereka juga meragukan 1 syawal itu jatuh tgl 30, tapi mereka telah menjalannya, hingga sang pemerintah mengumumkan agar puasa di qodho 1 hari. hal ini juga membuat rakyat marah ribut….cek aja kalo engga percaya. Oleh karena itu, sidang Itsbat kita tempo hari sebenarnya boleh dikatakan “CANGGIH”, bisa tepat menentukan hari tersebut hingga meski sudah ada orang yg melihat “hilal” Tapi kita tidak menyalahkan orang tsb, karena dia hanya melihat dengan mata telanjang, tanpa dibarengi peralatan yg canggih seperti Saudi arabia melakukannya. Tapi yg saya salut kepada para ulama yg hadir di sidang itu, mereka bisa menetapkan dengan penuh keyakinan bahwa tanggal 31 adalah 1 syawal….. Mohon jangan marah kalau kita tidak sejalan, tapi kita kan mempunyai keyakinan sendiri

  130. TENANG....TENANG.... mengatakan:

    @Abiyaskir..
    silakan anda buka uang situs ini.

    http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=ar&u=http%3A%2F%2Fwww.alarabiya.net/&ei=4ONgTvGkG8X5rAeDoIj7Dw&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=1&ved=0CDAQ7gEwAA&prev=/search%3Fq%3Dalarabiya%2Btv%26hl%3Did%26biw%3D986%26bih%3D522%26prmd%3Divns

    tapi sebaiknya anda range saja, terus anda copas ke kolom “address” agar lebih cepat prosesnya…….slakan bukan ya, saya tidak ngada ngada kok….memang berita dari sana

  131. Hamba Allah mengatakan:

    Ana setuju dengan AMW dan tertarik dengan pendapat Tobone
    kalau boleh ana menambahkan apa yang diuraikan Tobone :

    1. Penentuan 1 ramadhan/syawal/ harus dengan Ru’yah Hilal, ini mutlak tidak bisa ditawar lagi, karena ini perintah nabi yang mulia. Metode lain sifatnya membantu saja

    2.Sumber masalah adalah ketidakkonsistenan Pemerintah,
    ikuti sunnah secara konsisten, pendapat ahli astronomi/falak/hisab sifatnya membantu saja, bukan penentu.
    Ingatkan mereka untuk konsisten

    3. Perlu dialog ilmiah dengan ormas yang selalu berbeda. Dialog ilmiah wajib mengacu ke butir pertama di atas
    Dialog ilmiah melibatkan ormas-ormas islam yang ada secara intensif melibatkan para pakar dari masing-masing pihak (misal : Majlis Tarjih Muhammadiyah, NU, dll) yang difasilitasi oleh MUI/Pemerintah(Menteri Agama)
    Dialog sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari, jangan hanya pada waktu sidang itsbat saja, perdebatan metode, kriteria atau apapun namanya sebaiknya dilakukan pada waktu dialog ilmiah tersebut.
    sidang istbat sifatnya hanya mengetuk palu, dan jangan kemalaman. Kasihan kami yang di Timur, harus nunggu sampai malam untuk menentukan apakah Takbiran atau Tarawih.
    Oh ya, sidang itsbat kemarin membuat sepi tarawih malam terakhir, kalau lailatul Qadr jatuh pada malam 30, alangkah ruginya.

    4. Pendekatan/pembinaan kepada aliran-aliran/ tarikat sesat yang banyak bergentayangan di negeri ini dan selalu terekspos oleh media liberal dan selalu/sengaja ditampilkan pada waktu Hari Raya sebagai “warna warni idulfitri”.

    Jaman orde baru, kayaknya jarang/gak pernah berbeda lebaran, supaya tidak berbeda lagi, lakukan 4 langkah di atas.

    Pertanyaan : Bagaimana caranya supaya aspirasi-aspirasi itu sampai ke pemerintah/MUI/Ormas islam yang ada/ DPR(perlu ga?). harus ada ACTION, harus ada Tindakan ketimbang berdebat kusir gak jelas ujung pangkalnya.
    Umat Islam adalah mayoritas, seyogyanya kenyamanan beribadah bisa didukung dengan baik oleh pemerintah dari berbagai sisi.

  132. TENANG....TENANG... mengatakan:

    Sekarang kalau mau buka, silakan ambil kolom kedua dari bawah. klik “lebih”, carilah judul seperti di atas

  133. Muhammad mengatakan:

    bginilah keadaan umat yg ngaku beriman kpd Allah,mereka justru lbih percaya kpd ilmu pengetahuan yg mereka punya dgn akal yg sngat terbatas,padahal Allah Maha Kuasa utk melakukan sgala sesuatu,mereka lbih yakin dgn ilmu astronomi mereka dgn mengatakan “menurut perhitungan kmi tdk mungkin hilal terlihat” yg anehnya dijadikan patokan tunggal utk memutuskan inilah salah satu tanda bhwa umat kita pada saat ini sedang berusaha utk dijauhkan dari Islam

  134. TENANG....TENANG.... mengatakan:

    Makanya saudaraku se muslim, kita kembali ke Al Quran dan Sunnah Rasul (hadist), Di dalam rukun Iman tertera “percaya kepada Rasul Rasul”, jadi sebagai Muslim kita harus percaya kepada Sabda nabi Muhammad SAW, dimana beliau selalu membahas dan menjabarkan pertanyaan2 para sahabat baik dari wahyu2 yg diterima Rasul atau kehidupan sehari hari manusia atau tentang alam sekitar. Apakah para saudaraku semuslim belum paham benar ya, bahwa Rasullullah hidupnya selalu dalam bimbingan Allah SWT sampai akhir hayatnya. Semua perkataan, gerakan, perilaku dan hal2 yg di luar kemampuan biasa, semuanya Allah yg mengatur, …..Allah maha benar. Makanya kalau Rasullullah sudah mengatakan, kalau bulan ramadhan itu bisa 29 atau 30 hari, dan sabda Rasul : “…kalau tertutup maka perhikirakanlah…./ genapkanlah / hitunglah…… jadi, bulan ramadhan itu tidak selalu harus 29 hari, sepeti ketentuan hisab …..artinya yg berpatokan dengan hisab, tidak mau lagi mengikuti “Sunnah Rasul”….artinya…….”berhenti beriman kepada Rasullullah…..???” ….lebih beriman kepada ilmu pengetahuan (falak) ketimbang Rasulnya? Artinya Rukun Iman Anda berkurang satu dong…..?????????

  135. abisyakir mengatakan:

    @ Tenang…Tenang…

    Pak, saya sdh cari2, tapi belum ketemu juga. Kalau ada, bisa disebutkan link langsungnya. Link bahasa Inggris atau Arab tak apa. Mudah-mudahan bisa diakses.

    TV Al Arabiya memang milik keluarga Kerajaan Saudi, tapi ia domisili di Dubai. Dan tak mewakili Dewan Ulama Saudi. Ya, semodel misalnya MetroTV angkat topik “Lebaran 2 Versi”. Hal itu jelas tak mewakili suara pro Pemerintah atau non Pemerintah dalam melihat momen 1 Syawal. Ia mewakili media itu sendiri. Terimakasih.

    AMW.

  136. abisyakir mengatakan:

    @ Tenang…Tenang…

    Pak, berikut ini ada link arabic yang membuktikan, bahwa Ketua Dewan Ulama Saudi membenarkan penetapan 1 Syawwal 1432 H seperti yang ditetapkan kemarin, Selasa 30 Agustus 2011 (kalau menurut kelender kita). Ini link beritanya: http://alkramawe67.blogspot.com/2011/09/blog-post_8803.html

    Dalam berita itu beliau juga menolak pemberitaan koran pada hari Kamis yang menyebarkan keragu-raguan tentang keabsahan 1 Syawwal 1432 H tersebut. Silakan dibaca. Jazakumullah khairan katsira.

    AMW.

  137. TENANG.....TENANG.... mengatakan:

    @ Abiyaskir…………….
    ini kan berita TV, jadi setiap hari bertambah…sekarang telah menjadi page 2, mungkin besok akan menjadi page 3. anda klik aja link yg saya berikan di atas 5 sept -5:29 pm. dia akan otomatis link ke situs tsb. trus kolom kedua dari bawah..ada tulisan “LEBIH”. klik tulisan tsb, lalu anda masuk ke page 2…..yakin anda akan menemui judulnya ….. “Astronomical Scociety Jeddah berjanjdi, untuk tidak akan mengungkapkan pendapat Mufti Arab dan Mesin mengkonfirmasikan keabsahan bulan baru syawal dan panggilan untuk membiarkan rumor”…… disitu anda akan menemui berita yg saya maksud….mereka pun memperdebatkan masalah ini, bukan kita saja.. coba deh

  138. TENANG.....TENANG.... mengatakan:

    @abiyaskir
    Tv Alarabya ini memang bukan mewakili atau apapun, dia hanya memberitakan kepada dunia. karena TV tsb memang dipancarkan ke seluruh belahan dunia, mereka juga punya TV online. saya memberikan link tersebut sudah diterjemahkan oleh google, hingga bhs Indonesiannya agak aneh, tapi kita sebagai orang indonesia pasti bisa mengerti apa yang dimaksud. saya juga sudah melihat link yg anda berikan, tapi kenapa tidak langsung dengan terjemahan ke Indonesia, trus terang, saya tidak bisa bahasa Arab. Link yg saya berikan itu (judul di atas), setelah judul yg terdahulu (ada di page tsb), bahwa mereka mengesahkan 1 syawal tgl 30, tapi keluar kembali berita yg menesahkan 1 syawal tgl 31, yg diumumkan oleh pemerintah mereka ke rakyatnya dan membuat para rakyatnya sedikit marah karena kerja yg tidak pro dari sang pemerintah. tapi mereka tidak ribut seperti kita sebagai bangsa Indonesia. saya disini hanya mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia tidak main2 dengan keputusannya, karena kalau salah merekapun harus bertanggung jawab atas puasa yg dilakukan pada 1 syawal yg hukumnya “haram”. Jumlahnya cukup besar, RATUS JUTA umat muslim….!??

  139. TENANG.....TENANG.... mengatakan:

    di pemberitaan itu, pemerintah arab telah mengumumkan bahwa puasa di qodho 1 hari, jadi ga mungkin di tarik lagi.. coba anda lihat tanggal pemberitaannya.

  140. TENANG.....TENANG.... mengatakan:

    @Abisyakir
    karena udah baca beritanya, ngga kasih komentar lagi kan…makanya jangan terlalu cepat memvonis.

  141. guest mengatakan:

    Lain kali, kalau ada yang lihat hilal, tolong diambil gambar bulannya, terus sertakan keterangan waktu dan tempatnya. Kalau begini ini orang yang awam & nggak bisa lihat hilal jadi tidak tahu & ragu kapan puasa berakhir. Disesatkan pemerintah yang sama-sama bingung jadi tidak tahu.

  142. aa mengatakan:

    aku sangat yakin kalo orang pembuat tilusan ini bohong. yang dia tulis hanya mendasar pada kira-kira. dia sendiri ga ngerti.

  143. abisyakir mengatakan:

    @ aa…

    aku sangat yakin kalo orang pembuat tilusan ini bohong. yang dia tulis hanya mendasar pada kira-kira. dia sendiri ga ngerti.

    Respon: Masya Allah, inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahu Akbar…bagaimana Anda bisa membuat komentar seperti ini wahai @ aa… Tapi sudahlah, semoga Allah memaafkan saya, memaafkan Anda, dan memaafkan kaum Muslimin. Saya memohon kepada Rabbul ‘Izzati amaa yashifuun, agar Dia memberi Anda ilmu yang bermanfaat, keteguhan hati di jalan Islam, sikap istiqamah, dan hidup yang mulia. Amin amin Allahumma amin.

    Sekedar sharing, boleh Anda baca tulisan di bawah ini:

    http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/09/09/16055/di-balik-permainan-penentuan-idul-fitri-1432-h/

    Terimakasih.

    AMW.

  144. abisyakir mengatakan:

    @ Tenang…Tenang…

    Di pemberitaan itu, pemerintah arab telah mengumumkan bahwa puasa di qodho 1 hari, jadi ga mungkin di tarik lagi.. coba anda lihat tanggal pemberitaannya.

    Respon: Berita Anda ini tidak benar wahai Akhi. Tidak benar. Dalam berita itu Mufti Arab Saudi jelas membantah berita-berita di koran tersebut. Mereka membantah isu soal “sinar planet saturnus”. Ini tidak benar. Pemerintah Saudi tak mungkin memerintahkan rakyatnya meng-qodha shaum, itu tidak benar. Bahkan secara Syariat Islam pun, berpuasa sebanyak 29 hari itu sudah terhitung puasa satu bulan penuh. Sudahlah, Anda tak usah keukeuh menyebarkan isu-isu tidak benar. Wong isu semacam itu sudah dibantah oleh Mufti Dewan Ulama Saudi. Mufti Dewan Ulama Mesir juga sudah membantahnya. Sudahlah, isu-isu yang disebarkan Zionis Yahudi itu tak perlu ditanggapi.

    AMW.

  145. abisyakir mengatakan:

    @ Tenang…Tenang…

    Justru kalau Anda baca link berita itu, malah Mufti Dewan Ulama Saudi MEMBANTAH beredarnya isu-isu yang berusaha mematahkan penetapan Idul Fithri oleh Pemerintah Saudi pada tanggal 30 Agustus 2011. Berita itu justru semakin memperkuat hasil kesaksian Hilal pada tanggal 29 Agustus 2011. Berita ini juga di muat di hidayatullah.com, voa-islam.com, bahkan Media Indonesia. Saya sempat baca di Media Indonesia pada hari Kamis 8 September 2011 lalu.

    Sudahlah, Anda tak usah membuat opini yang aneh-aneh. Kita tahulah, dengan ijin Allah, bahwa kaum kufar tidak pernah senang jika kaum Muslimin konsisten dengan Syariat Islam. Coba baca artikel ini:

    http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/09/09/16055/di-balik-permainan-penentuan-idul-fitri-1432-h/

    AMW.

  146. okrisnaldi putra mengatakan:

    laporan pandangan mata… :

    tempat ane di riau (indragiri hilir) sekarang – 11 september 2011 – sudah benar2 full moon. bulat sempurna dan kemerah-merahan.

  147. TENANG....TENANG.... mengatakan:

    @abisyakir……….
    saya tidak menyebarkan isu, tapi mungkin andalah yg menyebarkan berita yg berlawanan tapi benar untuk anda dan memaksakan orang untuk ikut. Kalau anda bilang bahwa bulan islam hanya 29 hari? anda mungkin tak pernah baca hadist Nabi Muhammad Rasullulalh, bahwa bulan ramadhan bisa 29 atau 30 hari. Yang anda tahu, rukun iman ada berapa sih? atau anda mengurangi satu jumlah rujkun iman, bahwa anda tidak lagi mempercayai “rasul rasul”…? mengenai situs yg saya berikan itu, anda salah tafsir…. diikuti juga dimana rasa angkuh menguasai anda…..menganggap semua orang salah hanya anda yg benar meski terbukti anda yg salah, tapi “syaitan” punya “sejuta satu” cara untuk berbuat itu, makanya anda harus lebih EXTRA hati2, karena ini tentang agama, yg dibenci oleh “syaitan”. Memang rasa angkuh itu bisa menutupi segalanya dimana menurut orang benar menjadi salah (menurut anda), ulasan saya ini terbukti di diri anda sendiri. Maaf ya, mungkin saya salah.

    link yg anda berikan itu hanya VOA, kata tv arab, katanya……katanya……. tapi link yg berikan adalah berita tv langsung, artinya TV tsb yg menayangkan, kita hanya mendengar atau membaca dan dalam bhs arab yg diterjemahkan oleh google hingga hasil bhs indonesiannya kurang baik. tapi kita kan orang indonesia, tentu mengerti arti dan tujuannya. ini yg saya kuatir kan ke anda, mungkin bhs indonesia anda kurang baik, jadi tidak bisa mengambil arti dari bhs yg di terjemahkan oleh google

    Sudahlah, Anda tak usah keukeuh menyebarkan isu-isu tidak benar. Sudahlah, Anda tak usah membuat opini yang aneh-aneh (kata2 anda sendiri).

  148. TENANG....TENANG.... mengatakan:

    @abisyakir
    saran saya sih, ga usah dibahas lagi deh, kita pnya keyakinan masing2, dan hal itu sudah terjadi, karena kebenaran hanya milik Allah SWT. Toh, kita kan sesama muslim, boleh debat keras, tapi 1 detik kemudian damai lagi, Menurut anda gimana ?

  149. Anonymous mengatakan:

    wes g usah terlalu banyak omong..bukti udah terlihat..saya ada di kecamatan sidayu kabupaten gresik melihat bulan sabit di ketinggian sekitar 40 derajat dari permukaan laut pada tanggal 30 Agustus..lha klo udah ketinggian segitu masa 1 syawal 31 Agustus??

  150. Kalau Bulan Bisa Ngomong mengatakan:

    Sekarang 12 September 2011, Senin malam SELASA, malam PURNAMA, yang berarti 1 Syawal 1432 H juga SELASA. Oleh karena itu, apa akibat hukum bagi yang menolak kesaksian (dibawah sumpah) melihat hilal? Apa hukumnya berpuasa pada 1 Syawal? Siapa yang harus bertangung jawab?

  151. Kalau Bulan Bisa Ngomong mengatakan:

    @TENANG…TENANG…..
    – Ane rasa masih perlu dibahas dalam koridor ilmiah, agar hal ini selalu terulang tiap tahun, pasti ada hikmah yang besar dari masalah ini (tentu saja di bidang kepastian hukum)
    – Ane setuju bahwa kebenaran mutlak hanya milik ALLOH SWT
    – Ya…berdebat (membahas) sesuatu itu boleh, dengan cara santun, dengan damai dan bukan merendahkan…..

  152. Kalau Bulan Bisa Ngomong mengatakan:

    @TENANG…TENANG…..
    – Ane rasa masih perlu dibahas dalam koridor ilmiah, agar hal ini TIDAK selalu terulang tiap tahun, pasti ada hikmah yang besar dari masalah ini (tentu saja di bidang kepastian hukum)
    – Ane setuju bahwa kebenaran mutlak hanya milik ALLOH SWT
    – Ya…berdebat (membahas) sesuatu itu boleh, dengan cara santun, dengan damai dan bukan merendahkan…..

  153. abisyakir mengatakan:

    @ Tenang…Tenang…

    Ya ya, berdamai itu lebih baik. Ya, bagaimana lagi wong amalan sudah dilakukan, masing-masing sudah Idul Fithri sesuai keyakinan; tetapi disini saya masih “diserang”… He he he, membela diri nih ye? Ya kita berdamai saja, dan berharap semoga di masa nanti kondisi yang ada lebih baik dan Islami. Allahumma amin.

    Pro Pak @ Okrisnaldi Putra, betul di Malang kemarin (12 September 2011) saya juga sudah menyaksikan bulan bulat Pak alias purnama. Terimakasih atas atensinya, jazakumullah khair. Salam untuk keluarga dan kawan-kawan. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

  154. abisyakir mengatakan:

    @ Anony….

    Nah, ini dia pengakuan lain. Mestinya Mas memproses pengakuan itu ke instansi/ormas Islam, biar bisa memperkuat kesaksian tentang Hilal. Jazakumullah khairan jaza’.

    AMW.

  155. Kalau Bulan Bisa Ngomong mengatakan:

    @TENANG…TENANG……
    Ente mengatakan begini , “karena udah baca beritanya, ngga kasih komentar lagi kan…makanya jangan terlalu cepat memvonis”

    Tuh liat “KALAU BULAN SUDAH NGOMONG….”
    Ayo, ente sekarang yang ngomong…..

  156. abuabyan mengatakan:

    Syaikhul Islam
    menyebutkan: “ Jika dikatakan : ‘Bisa
    saja pemerintah diserahi untuk
    menetapkan hilal lalai, karena
    menolak persaksian orang- orang
    yang terpercaya. Bisa saja karena
    kelalaian dalam meneliti amanah
    mereka. Bisa saja persaksian mereka
    ditolak , karena adanya permusuhan
    antara pemerintah dengan mereka.
    Atau sebab-sebab lain yang tidak
    disyari’ atkan. Atau karena
    pemerintah bersandarkan dengan
    perkataan ahli nujum yang
    menyatakan melihat hilal .’
    Maka dikatakan (kepada mereka) :
    Hukum yang telah ditetapkan oleh
    pemerintah ( dengan cara apapun,
    pen) tidak akan berbeda dengan
    orang yang mengikuti pemerintah
    dengan melihat ru’yah hilal; baik
    sebagai mujtahid yang benar atau
    (mujtahid) yang salah atau lalai .
    Sebagaimana telah disebutkan
    dalam Shahih , bahwa Nabi bersabda
    tentang para penguasa : “ Shalatlah
    bersama mereka. Jika mereka
    benar, maka (pahalanya ) untuk
    kalian dan mereka. Jika mereka
    salah, maka pahalanya untuk
    kalian (dan) dosanya untuk
    mereka. ” Jadi, kesalahan dan
    kelalaian pemerintah , tidak
    ditanggung kaum muslimin yang
    tidak melakukan kelalaian atau
    kesalahan. ” (majmu fatawa 25/260)

    Mudah2an Pendapat ibnu taimiyah tersebut bisa meredakan perbedaan pendapat diantara kita.

    kl memang pemerintah telah melakukan kesalahan dalam masalah penentuan 1 syawal kemarin, dengan menolak persaksian orang yg mengaku telah melihat hilal, maka hal tsb tidak secara otomatis menjadikan semua kaum muslimin yg mengikuti keputusan pemerintah juga melakukan kesalahan, biarlah hal tsb menjadi kesalahan/dosa pemerintah saja sesuai keterangan dari ibnu taimiyah diatas.

    Dan seharusnya tulisan antum itu bukanlah seruan kepada kaum muslimin untuk berbuka, akan tetapi seruan kepada pemerintah dalam hal depag RI agar menetapkan 1 syawal sesuai sunnah rosulullah.
    dan Ana kira judul yg cocok tulisan antum diatas adalah “WAHAI DEPARTEMEN AGAMA RI, KENAPA KALIAN MENOLAK KESAKSIAN SESEORANG YG TELAH MENGAKU MELIHAT HILAL, TAKUTLAH KALIAN KEPADA ALLAH”

  157. Kalau Bulan Bisa Ngomong mengatakan:

    @abuabyan……..

    – Perlu Ane tegaskan, bahwa ane bukan penulis artikel ini
    – Komentar penjenengan sbb:

    1. Nabi bersabda
    tentang para penguasa : “ Shalatlah
    bersama mereka. Jika mereka
    benar, maka (pahalanya ) untuk
    kalian dan mereka. Jika mereka
    salah, maka pahalanya untuk
    kalian (dan) dosanya untuk
    mereka. ” Jadi, kesalahan dan
    kelalaian pemerintah , tidak
    ditanggung kaum muslimin yang
    tidak melakukan kelalaian atau
    kesalahan. ” (majmu fatawa 25/260)

    – Hadits nabi ini berbicara tentang SOLAT atau tentang 1 Syawal. atau tentang umum? Hadits ini bisa dipakai secara general, atau lex specialis?

    – Kalau berpuasanya kurang, kata teman-teman yang memberitahu saya, kan harus diqodlo’ ustad… Nah, kalau lebih (berpuasa pada saat hari raya) apakah harus dikembalikan???? maapp pak. ustad…

  158. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Abyan…

    Syaikhul Islam menyebutkan: “ Jika dikatakan : ‘Bisa saja pemerintah diserahi untuk menetapkan hilal lalai, karena menolak persaksian orang- orang yang terpercaya. Bisa saja karena kelalaian dalam meneliti amanah mereka. Bisa saja persaksian mereka ditolak , karena adanya permusuhan antara pemerintah dengan mereka. Atau sebab-sebab lain yang tidak disyari’ atkan. Atau karena pemerintah bersandarkan dengan
    perkataan ahli nujum yang menyatakan melihat hilal.’ Maka dikatakan (kepada mereka): Hukum yang telah ditetapkan oleh pemerintah ( dengan cara apapun, pen) tidak akan berbeda dengan orang yang mengikuti pemerintah dengan melihat ru’yah hilal; baik sebagai mujtahid yang benar atau (mujtahid) yang salah atau lalai. Sebagaimana telah disebutkan dalam Shahih , bahwa Nabi bersabda tentang para penguasa : “ Shalatlah
    bersama mereka. Jika mereka benar, maka (pahalanya ) untuk kalian dan mereka. Jika mereka salah, maka pahalanya untuk kalian (dan) dosanya untuk mereka. ” Jadi, kesalahan dan kelalaian pemerintah , tidak ditanggung kaum muslimin yang tidak melakukan kelalaian atau
    kesalahan. ” (majmu fatawa 25/260).

    Respon:

    = Rasanya berat mau berselisih pendapat dengan Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Kita ini siapa, mau berselisih dengan beliau? Sebaiknya saya menghindari benturan ini.
    = Kalau membaca pandangan Ibnu Taimiyyah di atas, ya sikap yang tepat adalah MENGIKUTI KETETAPAN Pemerintah, meskipun mereka menyalahi kesaksian melihat hilal dari orang-orang yang bisa dipercaya. Ya, begitu intinya.
    = Kalau kami sendiri sebenarnya selama ini bertahun-tahun lebih banyak mengikuti hasil sidang itsbat Pemerintah RI. Meskipun dalam hati dongkol juga, mengapa susah sekali melihat hilal, dan mengapa keputusan selalu cenderung ISTIKMAL?
    = Ada 2 titik celah yang saya dapati untuk menyikapi kondisi aktual di Indonesia selama ini dikaitkan dengan perkataan Ibnu Taimiyyah di atas:

    Pertama, sistem negara kita bukan sistem Islami, berdasarkan Syariat Islam, dan ditujukan untuk kemaslahatan kaum Muslimin. Dalam sistem seperti ini lebih tepat berlaku sistem TARJIH. Mau taat penuh Pemerintah, jangan! Mau membangkang penuh, juga jangan. Mana yang sesuai Syariat, ambillah! Mana yang tak sesuai, tinggalkan! Kalau sistemnya Islami, minimal seperti kondisi di Saudi, okelah kita bisa lebih kuat mendukung keputusan-keputusan Pemerintah. Konteks fatwa Ibnu Taimiyyah di atas pastilah dalam koridor kepemimpinan Islam seperti beliau bahas dalam Siyasah Syar’iyyah.

    Coba baca komentar berikut: “Syaikhul Islam berkata: Orang yang memberontak kepada pemimpin pasti menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kebaikan akibat perbuatannya.” (Minhajus Sunnah, dinukil dari catatan kaki al-Wajiz: 194). Kemudian beliau mengatakan, “Adapun pemimpin yang tidak mengindahkan syariat Allah Ta’ala dan tidak berhukum dengannya, bahkan berhukum dengan selainnya, maka dia telah keluar dari cakupan ketaatan kaum muslimin. Yakni tidak ada lagi kewajiban untuk taat kepadanya.” (Minhajus Sunnah: I/146, dinukil dari Al-Wajiz: 194). Artikel lengkap: Siapakah Amirul Mukminin Itu?

    Kedua, sebenarnya sikap Pemerintah yang mengambil pendapat ISTIKMAL bukan saat ini saja, tetapi sudah sangat sering. Jarang sekali Pemerintah mengambil pendapat murni berdasarkan Rukyatul Hilal. Jangan berpikir bahwa saya bersikap agak sinis hanya karena problem saat ini saja. Tidak wahai Akhi. Sudah bertahun-tahun lamanya. Sampai saya sering mengucapkan kata-kata sinis: “Ketetapan 1 Syawal di Indonesia sudah bisa ditentukan 100 tahun sebelumnya. Mengapa? Karena selalu mengacu ke kalender.”

    Jadi, di balik ini semua, ada keprihatinan dalam hati. Mengapa Pemerintah cenderung meremehkan Rukyatul Hilal itu sendiri? Katanya menganut Rukyatul Hilal, tetapi akhirnya sistem hisab lagi sistem hisab lagi jadi patokan. Dan herannya, tim Rukyat Hilal Departemen Agama cenderung “sudah Istikmal duluan” sebelum hari H Rukyatul Hilal dilakukan. Jangan-jangan tim yang dikirim ada gangguan medis tertentu dari sisi penglihatannya? Wallahu A’lam bisshawaab.

    Semua ini kan bisa disebut sebagai sikap ISTIHZA (bersenda gurau) dalam urusan agama. Tampak sikap tak serius, hanya formalitas, atau sekedar membelanjakan anggaran saja untuk “prosesi” Sidang Itsbat. Hal itu jelas kemungkaran, ya Akhi. Bisa jadi, fatwa yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyyah itu berlaku secara ijmali (global). Perlu di-takhshis lagi, yaitu kalau Pemerintah sudah “membiasakan” berlaku curang dalam penetapan hasil Sidang Itsbat, sehingga dikhawatirkan mempermainkan agama; ya jangan diikuti yang begitu2.

    Begitu deh. Jazakumullah khair atas informasinya.

    AMW.

  159. abuabyan mengatakan:

    Sebenarnya ana sendiri pun sedikit tidak mengerti dengan sikap pemerintah dalam sidang itsbat kemarin.

    Menurut ana, kalau memang sejak awal pemerintah sudah menetapkan bahwa secara perhitungan hisab/astronomi hilal tidak mungkin dirukyat dan pendapat ini akan dijadikan landasan utama, maka buat apa pemerintah mengerahkan banyak orang untuk melakukan rukyatul hilal,
    langsung aja diputuskan bahwa bulan ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari, dan 1 syawal jatuh pada hari rabu.

    Tapi walaupun demikian ana tetap mengikuti keputusan pemerintah, demi menjaga persatuan dan kesatuan umat islam, seperti yg dikatakan oleh ustad zaitun rasmin perwakilan dari wahdah islamiyah, beliau berpendapat bahwa terkadang meninggalkan sesuatu yg sunnah itu diperbolehkan demi persatuan dan kesatuan kaum muslimin.

  160. abuabyan mengatakan:

    Karena secara teori keagamaan, cara pemerintah dalam menentukan 1 syawal itu sudah tepat yaitu dengan metode rukyatul hilal, walaupun dalam pelaksanaannya, memang sering menimbulkan tanda tanya besar.

    Kita doakan saja mudah2an para pemimpin yang ada di negara kita mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Taala, dan bisa berubah menuju ke arah yg lebih islami.

  161. abuabyan mengatakan:

    Dalam masalah ulil amri, kita memang sedikit berbeda pendapat.

    Ana lebih condong kepada pendapat orang2 salafy karena menurut ana pendapat mereka itu lebih hati2, berikut adalah beberapa alasannya

    1. Secara bahasa dan istilah, pengertian ulil amri itu lebih dekat kepada pengertian seseorang yg memiliki kewenangan, kekuasaan, hak memerintah, yang apabila kewenangan dan kekuasaannya tsb tidak kita taati, maka ini bisa menimbulkan mudhorot.

    2. Secara realita pemerintah kita saat ini memiliki kewenangan, kekuasaan terhadap diri kaum muslimin.

    3. Bagaimana dengan status mereka yg jauh dari hukum Allah?

    Kepemimpinan seperti itu memang sudah dikabarkan oleh Rosulullah akan terjadi dan kita diperintahkan untuk tetap mentaati mereka, selama mereka masih shalat bersama kita.

    orang2 salafy memisahkan antara bagaimana seharusnya seorang pemimpin dengan bagaimana seharusnya seorang yg terpimpin, kalau seorang pemimpin melakukan kesalahan dengan bersikap tidak sebagaimana mestinya (misalkan tidak amanah, tidak berhukum dengan hukum Allah, dll) maka kita jangan membalasnya dengan melakukan kesalahan juga (mencela, mencaci, membuka aib, memberontak, dll). biarlah itu menjadi dosa mereka yg harus mereka pertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu Wa Taala kelak, kita fokus pada pertanggung jawaban kita saja sebagai orang yg terpimpin.

    Kalau antum lebih mensyaratkan ketaatan seorang terpimpin itu, apabila pemimpinnya benar.

    4. Ketaatan terhadap pemerintah pun, dibatasi pada hal2 yg haq, bukan dalam hal bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Taala (hampir sama dengan pendapat antum) karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada kholiq.

    5. Apakah kita diam saja dengan kesalahan2 pemerintah??

    Tentu tidak, kita sebagai seorang muslim diwajibkan untuk berusaha merubah setiap kemungkaran yg kita lihat, akan tetapi kita harus memperhatikan adab2 dalam memberukan nasehat, kalau menasehati orang biasa saja harus dengan cara yg baik2, apalagi kalau menasehati pemerintah harus dengan cara2 yg lebih baik lagi,karena kalau pemerintah salah pengertian terhadap nasehat yg kita berikan ini bisa menimbulkan mudhorot.

    Demikian mudah2an bisa saling menghargai pendapat masing2, kalau antum ingin pendapat antum dihargai sebagai suatu kebenaran, karena antum merasa memiliki hujjah yg kuat, maka hargailah pendapat ana, karena ana pun merasa memiliki hujjah yg kuat.

    jangan sampai, hanya karena antum merasa memiliki hujjah yg kuat, maka pendapat yg lain secara otomatis menjadi salah (itulah yg sering ana temukan dari tulisan2 antum)

    Wallahu a’lam.

  162. abisyakir mengatakan:

    @ Abuabyan…

    Seperti yg dikatakan oleh ustad zaitun rasmin perwakilan dari wahdah islamiyah, beliau berpendapat bahwa terkadang meninggalkan sesuatu yg sunnah itu diperbolehkan demi persatuan dan kesatuan kaum muslimin.

    Respon:

    Iya, betul pandangan itu. Kita kadang diutamakan meninggalkan AMALAN SUNNAH demi kebajikan yang lebih besar. Contoh, tanggal 2 Syawwal kita sudah boleh memulai puasa Syawwal. Tapi hal ini kurang bagus, sebab akan mengganggu sanak-saudara yang sedang bergembira puasa. Begitu juga, kalau ada tamu datang saat hari Senin, sedang kita sedang puasa, lebih baik kita batalkan demi menghormati tamu itu. Begitu juga, kita sebaiknya melayani saudara-saudara kita yang berkepentingan saat pagi hari, meskipun harus meninggalkan shalat Dhuha. Jadi, meninggalkan AMALAN Sunnah pada saat-saat tertentu, demi melakukan amalan yang lebih besar; itu diutamakan. Ada yang menyebutnya dengan istilah Fiqhul Aulawiyat.

    Tetapi meninggalkan KONSEP, KAIDAH, METODE, atau HUKUM Sunnah, hal itu berbeda dengan meninggalkan AMALAN Sunnah. Dalam hal kita persoalkan itu, Depag RI jelas-jelas bukan meninggalkan amalan Sunnah. Mereka tetap melakukan Rukyatul Hilal, meskipun hasilnya nihil. Tetapi mereka telah meninggalkan Syariat Sunnah yang sangat serius. Kalau sekali dua kali, masih bisa ditolensi. Tetapi kalau sering terjadi seperti itu, ia sama saja dengan mendawamkan kedurhakaan terhadap Sunnah.

    Bedakan antara meninggalkan AMAL Sunnah dengan meninggalkjan SYARIAT Sunnah. Itu berbeda. Yang satu bersifat temporer dan kondisional, yang satu lagi bersifat tetap dan konsepsional.

    AMW.

  163. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Abyan…

    Demikian mudah2an bisa saling menghargai pendapat masing2, kalau antum ingin pendapat antum dihargai sebagai suatu kebenaran, karena antum merasa memiliki hujjah yg kuat, maka hargailah pendapat ana, karena ana pun merasa memiliki hujjah yg kuat. Jangan sampai, hanya karena antum merasa memiliki hujjah yg kuat, maka pendapat yg lain secara otomatis menjadi salah (itulah yg sering ana temukan dari tulisan2 antum). Wallahu a’lam.

    Respon: Alhamdulillah, nasehat ini saya terima. Semoga ke depan saya bisa bersikap lebih baik. Allahumma amin. Secara umum, dalam ruang ini saya tidak memaksakan pendapat, tetapi memberi pilihan dari persepsi lain yang saya yakini benar. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan-kekurangan, sehingga terkesan “ingin memaksakan pendapat”. Sekali lagi mohon dimaafkan. Salam hormat dan rahmat untuk keluarga Antum dan kawan-kawan Antum. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

  164. Anonymous mengatakan:

    Mohon ijin,
    Testimoni Ustadz Suwito, Lc pakar hisab rukyat Dewan Dakwah Islam Indonesia, yang telah makan asam dan garam selama bertahun-tahun dalam masalah hisab dan rukyat menuturkan :
    ….Dalam pengalaman rukyat tahun ini, ada yang mengaku melihat hilal, namun kesaksiannya ditolak. Hal ini mengandung kontroversi, karena menurut contoh Rasulullah saw dahulu, jika ada yang mengaku melihat hilal, maka ia seharusnya disumpah, dan kesaksiannya pun diterima. Namun ada beberapa kasus yang dipaparkan oleh ust. Suwito untuk menggambarkan bahwa masalahnya tidak sesederhana itu.

    Kesaksian di Cakung, misalnya, adalah kesaksian yang langsung ditolak. Alasan paling utama adalah karena menurut perhitungan astronomis – yang telah dapat dilakukan dengan sangat akurat kini – pada hari itu Bulan baru mencapai posisi kurang dari dua derajat. Tambahan lagi, posisi Bulan pada saat itu adalah ke arah Selatan. Artinya, dari titik pengamatan di Cakung, pengamat tidak melihat ke arah laut, melainkan ke arah Jakarta. Ust. Suwito mengingatkan bahwa pengamatan ke arah Laut Jawa di sekitar Jakarta pun sudah cukup menyulitkan, karena ada begitu banyak kapal laut yang hilir mudik, sedangkan lampu sorot dari kapal yang diarahkan ke awan kadang-kadang bisa salah dipahami sebagai hilal. Jika pengamatannya ke arah kota Jakarta, maka masalahnya akan semakin runyam, karena di Jakarta ada begitu banyak gedung tinggi dan sumber cahaya. Maka, tanpa mempertanyakan kejujuran para pengamat di Cakung, kesaksiannya tetap ditolak.

    Bertahun-tahun yang lalu, ada sebuah kejadian yang mendapat catatan khusus dari ust. Suwito, yaitu ketika Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim memutuskan hari lebaran yang berbeda dengan pemerintah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sendiri. Ketika itu, ada yang melapor telah melihat hilal di salah satu kota di Jawa Timur. Saksi tersebut kemudian disumpah, dan kesaksiannya diterima. Maka keesokan harinya, berlebaranlah warga NU Jatim, sementara warga NU di daerah-daerah lainnya tetap mengikuti PBNU yang menetapkan Hari Raya sama dengan pemerintah.

    Sehari sesudahnya, MUI mengundang pihak PWNU, terutama saksi pelapor hilal tersebut, untuk melakukan rekonstruksi proses rukyat yang sudah dilakukannya. Sebelum matahari terbenam, alat-alat yang dibutuhkan telah dipasang mengikuti arah yang ditunjuk oleh saksi. Sebenarnya, ketika saksi menunjuk arahnya pun, para ahli rukyat telah menyadari kesalahannya. Alhasil, ketika Bulan benar-benar muncul terlihat jelas bahwa arahnya sangat berbeda dengan yang ditunjuk oleh saksi. Artinya, yang dilihatnya kemarin pastilah bukan hilal, karena Bulan takkan berpindah tempat secara drastis dari Utara ke Selatan atau sebaliknya dalam semalam saja.

    Melihat hilal memang membutuhkan suatu keahlian tertentu. Sebab, ketika hilal baru muncul, bisa jadi tidak dalam bentuk sabit sempurna, melainkan hanya seberkas garis saja. Adakalanya cahaya dari planet-planet lain pun disangka hilal, jika kita tidak berhati-hati. Ust. Suwito juga menjelaskan bahwa para ahli astronomi sudah memiliki semacam peta yang dapat digunakan untuk memprediksi di arah mana Bulan akan muncul. Jika posisinya agak ke Selatan, maka semua teleskop sejak awal sudah diarahkan ke sana, sehingga pengamat hilal tak perlu mencari-cari terlalu jauh. Di sisi lain, sampai sekarang masih ada saja yang mencari hilal tanpa tahu di mana Bulan akan muncul. Hal-hal semacam itulah yang menciptakan kekeliruan sebagaimana pernah terjadi dalam kasus PWNU Jatim tersebut. Hal yang sama pun masih terjadi di masa kini, bahkan bahayanya semakin besar karena pertukaran informasi di jaman sekarang telah sedemikian cepat. Jika ada yang mengatakan bahwa hilal telah terlihat di suatu tempat, banyak orang yang akan dengan mudah percaya saja tanpa mengecek sumber informasinya, apalagi mengecek pengetahuan dan teknologi yang digunakan oleh mereka yang mengaku telah melihat hilal tersebut.

    dikutip dari http://akmal.multiply.com/journal/item/839/Beberapa_Catatan_dari_Silaturrahim_INSISTS

  165. Anonymous mengatakan:

    Saudaraku Bukan Cuma Hadis Ru’yah, tapi ada hadis lain.

    Ingat
    Pemerintah+ MUI+ Badan Hisab Rukyat Depag+Tim Ahli Hisab Rukyat ormas-ormas islam-lembaga yang berkompeten, bertebaran di lapangan TIDAK MELIHAT HILAL,
    tapi
    ada satu atawa dua pihak yang melihat hilal di daerah yang terkenal sulit seperti cakung-Jakarta-gedung tinggi-banyak sumber cahaya-kapal laut hilir mudik-ada polusi pabrik- lihat ulasan Ust Suwito.
    yang mana lebih layak dipercaya?
    Seingat saya, Cakung itu selalu mengklaim melihat dari tahun ke tahun.
    yang dikritisi bukan Ru’yahnya tapi bagaimana metode dia meru’yah, dengan alat apa, benarkah yang dilihat adalah hilal?
    disinilah peran ilmuwan terkait diperlukan seperti astronom dsb

    Kalau ada yang melihat hilal lalu Ditolak Qodi, ada fatwa Syaikhul Islam Ibnu taimiyah.

    Di samping hadis ru’yah, lihat juga HADIS-HADIS NABI YANG LAIN.
    – HR. Abu Daud 2342, dishahihkan Al Albani dalam Al Irwa, 908).
    – HR Tirmidzi dishahikan oleh Albani.
    Syeikh Albani mempertegas makna yang terkandung dalam hadits di atas, beliau mengatakan : “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang diantara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Id, dan shalat berjamaah.

    (Fatawa no. 388 Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’)

    Tidak usah terlau jauh bahwa ada teori politik ini itu terkait penentuan idul fitri.

    Sudah ada Hadis-hadis terkait, ada bimbingan ulama, kenapa dibikin rumit.

    Persoalan yang lebih wajib dibahas adalah Metode yang bernama Hisab mau mengganti Ru’yah sunnah nabi.

  166. Hillal mengatakan:

    membaca pernyataan Majlis Tarjih Muhammadiyah yang sok pintar dari nabi dengan meninggalkan sunnah Rukyah Hilal dalam penentuan awal bulan Puasa/hari Raya. Jelas-jelas mendakwahkan/menyebarluaskan usaha untuk meninggalkan sunnah rasulullah.

    http://hidayatullah.com/read/19060/28/09/2011/metode-hisab-dapat-satukan-kalender-hijriyah-internasional.html

  167. abisyakir mengatakan:

    @ Hillal…

    Mana suaramu penulis? membaca pernyataan Majlis Tarjih Muhammadiyah yang sok pintar dari nabi dengan meninggalkan sunnah Rukyah Hilal dalam penentuan awal bulan Puasa/hari Raya. Jelas-jelas mendakwahkan/menyebarluaskan usaha untuk meninggalkan sunnah rasulullah.

    Respon: Maaf, kita ini diskusi “tanpa suara”. Paling suara ketak-ketik di keyboard…

    Ya, tulisan itu kan jelas, kita berpegang kepada metode Sunnah Rukyatul Hilal, bukan itsbat dengan hisab. Coba anda baca, apa dalam tulisan itu saya membela-bela konsep hisab Muhammadiyyah? Saya setuju dengan pandangan wakil Muhammadiyyah yang meminta pemerintah mengapresiasi rukyatul hilal di Cakung dan Jepara.

    Mana pembelaanmu terhadap masalah ini? Jangan diam saja melihat kemungkaran ini, bukankaha Anda menyerang Peserta sidang Itsbat yang menolak kesaksian hilal (kadang-kadang meninggalkan sunnah-tidak permanen).

    Response: Ya, tulisan itu sudah menjadi hujjah bagi pembelaan saya terhadap Rukyatul Hilal ini Pak. Bukti apa lagi yang Anda minta? Bukankah sudah gamblang, saya pro Rukyatul Hilal, bukan pro metode hisab dalam masalah itu (siapapun yang ingin mengekalkannya)?

    Mengapa dari kata-kata Anda seperti tergambar “kebencian besar” di hati Anda? Sedemikian marahkah Anda kepada sikap seperti ini? Mengapa sebagian orang memilih kata-kata “emosi” seperti itu? Apakah sepanjang hari mereka diajari ajaran “dendam kesumat” ya? Alangkah sayangnya. Padahal kalau mau dialog secara wajar, ahlan wa sahlan.

    Mana suaramu terhadap ormas yang jelas-jelas mau membunuh sunnah ini ( meninggalkan sunnah-secara permanen) karena selalu didakwahkan oleh mereka dengan serius dan diikuti oleh Jamaahnya. http://hidayatullah.com/read/19060/28/09/2011/metode-hisab-dapat-satukan-kalender-hijriyah-internasional.html

    Respons: Saya menyangka, Anda ini dari kalangan “Salafi” yang suka bahasa-bahasa demikian. Setiap kaum akhirnya menunjukkan cirinya masing-masing. Berkali-kali saya katakan, dalam penentuan 1 Syawwal, 1 Dzulhijjah, dengan Rukyatul Hilal. Sedang untuk muamalah biasa bisa memakai kalender. Kalender berbeda dengan pengamalan ibadah ritual, tak apa; sebab kedunya memiliki dimensi kepentingan yang berbeda. Malah itu sudah disebut sejak awal-awal.

    Mau ormas apapun, dan siapapun, menurut saya harus mengikuti metode Rukyatul Hilal itu, untuk penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawwal, 1 Dzulhijjah. Ini sunnah dari Nabi Saw. Sunnah ini jangan dimatikan oleh metode hisab.

    Lalu apa lagi yang Anda minta? Apakah saya harus mengkritik keras PP Muhammadiyyah dalam hal ini agar hati Anda merasa lega?

    …terlepas soal perbedaan metode hisab dan rukyat, setidaknya PP Muhammadiyyah masih berdasarkan nilai-nilai Islam; sedangkan negara Indonesia ini berdasarkan sistem sekularisme. Satu pihak berpijak pada Al Qur’an dan As Sunnah; pihak lain di atas Pancasila dan UUD 1945 (yang sudah diamandemen). Kepada ormas-ormas Islam yang masih istiqamah di atas al haq, kita harus lebih santun.

    AMW.

  168. Hillal mengatakan:

    Pak Abisyakir
    Jika berkenan, mohon didelet saja komen an Hillal (29 September) tersebut (saya tidak tau cara mendeletenya).
    Tulisan itu memang tidak pantas ditampilkan, hanya dilatari oleh emosi sesaat dan kedangkanalan ilmu
    Mohon Maaf atas ketidaknyamanan yang timbul akibat tulisan bodoh itu
    Trimakasih atas pengertiannya.

  169. [...] Saya ‘tertarik’ karena – Pertama – judulnya yang cukup ‘provokatif’ : Wahai Departemen Agama RI: Mengapa Anda Menolak Kesaksian Seseorang yang Sudah Melihat Hilal?. Apalagi diikuti himbauan agar kaum muslimin membatalkan puasanya lebih awal dari ketetapan [...]

  170. YoYo mengatakan:

    Perhitungan posisi bulan menggunakan rumus empiris dan tabel yang harus selalu di koreksi karena tidak ada kepsatian dalam lintasan benda angkasa, sehingga secara logika menyandarkan kepada sesuatu yang tidak pasti dan menolak yang sudah pasti (dalam hal ini hadits sahih) adalah sesuatu yang tidak benar. Yang benar ya yang pasti (dalam hal ini hadits sahih) Rukyatul Hilal.

  171. vics2609 mengatakan:

    Kenapa selalu Cakung yg melihat email pdhal di timur jakarta? Sdgkan yg meletakkan alat astronomi dgn ahli bersertifikat dan sebelum melaksanakan tugas juga shalat dan meminta petunjuk Allah, ada di lantai 36 di barat jakarta, tidak melihat hilal. Bulan 1, Matahari 1, tp kenapa orangnya yg berbeda-beda. Komparasi 70 lokasi versus 1 lokasi di timur jakarta, kok bisa terlihat ? Apakah khilaf ? Masalah disumpah – lain persoalannya, masalahnya yg disumpah itu patut dipercaya atau tidak dan sebandingkah dia dgn moral “sahabat Nabi” yg dipercaya Rasulullah bahwa telah melihat Hilal ?

  172. hilal mengatakan:

    andaikata yg melihat hilal itu ente, dan ente baca postingan atas ane, gimana komen ente gan….

  173. Fulan mengatakan:

    massyallah sudah jelas postingan di atas yang menjelaskan sunnah jika ada yang melihat dan d sumpah it sudah benar dan rasulullahpun kebanyakan puasa 29 hari yang salah jika pada saat hari raya anda masih puasa itu baru haram

  174. [...] Saya ‘tertarik’ karena – Pertama – judulnya yang cukup ‘provokatif’ : Wahai Departemen Agama RI: Mengapa Anda Menolak Kesaksian Seseorang yang Sudah Melihat Hilal?. Apalagi diikuti himbauan agar kaum muslimin membatalkan puasanya lebih awal dari ketetapan [...]

  175. […] Saya ‘tertarik’ karena – Pertama – judulnya yang cukup ‘provokatif’ : Wahai Departemen Agama RI: Mengapa Anda Menolak Kesaksian Seseorang yang Sudah Melihat Hilal?. Apalagi diikuti himbauan agar kaum muslimin membatalkan puasanya lebih awal dari ketetapan […]

  176. ammar mengatakan:

    dibagian bumi mana saja…perhitungan tanpa pembuktian tidak bisa dikatakan benar atau salah…..perhitungan itu metode yang tidak akan lepas dari ap yang disebut akurasi….dan kondisi nyata adalah pembuktian….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 151 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: