INFO BUKU BARU: “Bersikap Adil Kepada Wahabi”

PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Akhirnya, buku yang kami proses sekian lama ini terbit juga, dengan segala pertolongan Allah. Judul besarnya, “Bersikap Adil Kepada Wahabi” (BAKW). Judul penjelas: “Bantahan Kritis dan Fundamental Terhadap Buku Propaganda Karya Syaikh Idahram“. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

Cover Buku BAKW.

Kaum Wahabi adalah Gerakan Dakwah yang Banyak Berjasa bagi Ummat. Mereka Bukan Kelompok Malaikat. Nasehat bagi Mereka Sangat Terbuka, tetapi Bukan Fitnah.

DATA BUKU

Tebal buku, xxviii + 416 halaman. Menggunakan softcover dan bagian isi buku art paper. Ukuran buku standar, 13,5 cm x 20,5 cm. ISBN: 978-979-592-578-1. Dan terakhir, harga eceran buku Rp. 69.000,- (belum diskon).

SINOPSIS (teks cover belakang).

Belakangan ini beredar buku berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW) yang dikarang oleh seseorang yang mengaku bernama Syaikh Idahram. Buku tersebut berisi gugatan dan caci maki terhadap apa yang disebut dengan “Gerakan Salafi Wahabi”.

Kalau sekadar kritik yang obyektif, tentu tak masalah. Karena setiap orang dan kelompok bisa saja mempunyai kecenderungan keliru, berlebihan, mau benar sendiri dan menyalahkan orang lain. Namun jika kritik dan celaan tersebut berlebihan dan berbohong, bahkan mengandung manipulasi fakta, tentu saja hal ini menimbulkan masalah serius dan fitnah.

Bayangkan saja, akibat beredarnya buku Syaikh Idahram itu, sebuah kegiatan pengajian ditutup karena dituduh Wahabi. Padahal, apa yang dimaksud dengan Wahabi itu tidak jelas definisinya. Jangan sampai masyarakat awam diadu domba oleh buku fitnah semacam itu.

Belum reda kontroversi buku pertama sudah muncul buku kedua,“Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik” (MMKKUK); kemudian muncul lagi, “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” (USMSW). Maka situasi fitnah pun kian merebak.

Sebagai manusia, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tentu tak lepas dari dosa dan khilaf. Sebagai gerakan dakwah,Wahabi bukanlah tempat berkumpulnya para malaikat yang terjaga dari dosa. Karenanya, kami memberi judul buku ini “Bersikap Adil Kepada Wahabi”, karena keadilan dan obyektivitas itu seruan Islam. Adapun sikap tidak jujur, mengadu domba, fanatik buta, itu ajaran setan.

Buku ini juga mengupas dugaan adanya “penumpang gelap” di balik kampanye anti Wahabi. Mereka tak lain adalah kelompok Syiah, dan kelompok yang menjajakan paham Sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme). Akibatnya, kritik terhadap Wahabi tak lagi jernih, tapi sudah keruh oleh bermacam kepentingan, khususnya dalam menghalangi implementasi nilai-nilai syariat Islam di bumi Nusantara.

Buku ini terlalu sayang Jika Anda lewatkan!

CATATAN

Konflik pemahaman atau perbedaan pendapat antara kaum Wahabi dan Anti Wahabi, sudah terjadi sejak lama. Berdirinya NU di Indonesia pada tahun 1926 di masa lalu, juga masih berkaitan dengan perselisihan paham ini. Bahkan sejatinya, pembagian Muslim Indonesia dalam dikotomi “Modernis” dan “Tradisionalis”, sebenarnya bertumpu dari perselisihan ini.

Kalau selama ini perselisihan Wahabi Vs Anti Wahabi berjalan dalam lingkup ilmiah, santun, atau kasar (namun bersifat tertutup); maka ketika Syaikh Idahram memasuki area konflik ini, dengan menulis buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW); ia benar-benar menampakkan modus perselisihan yang sangat KASAR, ZHALIM, MANIPULASI, dan BANYAK BERDUSTA. Kalangan yang dia sebut “Sekte Salafi Wahabi” diperlakukan tak ubahnya seperti orang kafir yang tidak memiliki kebaikan sedikit pun.

Dengan menulis buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi” (BAKW) ini sasaran yang dituju ada dua. Pertama, membuktikan bahwa buku-buku Syaikh Idahram bukan buku ilmiah Islami, tetapi buku propaganda permusuhan, adu-domba, dan fitnah di tengah Ummat. Kedua, mengajak kaum Muslimin untuk bersikap obyektif, menimbang secara adil, dan selalu komitmen dengan Syariat Islam, ketika menilai komunitas Muslim yang kerap disebut Wahabi itu.

SIAPA YANG DIBANTAH?

Buku ini memuat banyak bantahan, terhadap berbagai sasaran. Di antaranya sebagai berikut:

= Kepada Syaikh Idahram (atas segala keberaniannya menulis buku-buku propaganda penuh fitnah, penodaan, dan kebohongan).

= Kepada Prof. Dr. Said Aqil Siradj. Seorang tokoh yang selama 14 tahun diberi aneka rupa kebaikan, beasiswa, dan fasilitas oleh kaum Wahabi; kemudian dia membalas kebaikan itu dengan serangan kebencian membabi-buta. “Tidak akan selamat Said Aqil, sampai dia bisa mengeluarkan seluruh jasa-jasa kaum Wahabi dari tubuh dan kehidupannya.”

= Syaikh Zaini Dahlan.

= Memoar Mr. Hempher.

= Lembaga publikasi Turki, Ikhlas Waqfi.

= Hizbut Tahrir (terkait tuduhan Wahabi menghancurkan Khilafah Utsmani).

= Muhammad Arifin Ilham (terkait kalimat endorsement yang membuatnya dibelit oleh dosa-dosa berkepanjangan, yang tak mudah tuntas meskipun dia bisa mengisi hidupnya dengan hanya menangis sepanjang hari dalam dzikir).

= Luthfi At Tamimi (terkait kebenciannya yang mendarah daging kepada kaum Wahabi dan dukungan mutlaknya kepada Muammar Qaddafi).

= Isu seputar “Lawrence Arabiya“.

= KH. Siradjuddin Abbas (terkait pembohongannya atas hakikat akidah Ibnu Taimiyyah).

= KH. Mutawakkil Alallah, tokoh PWNU Jawa Timur (terkait isu Khilafah).

= Ansyad Mbai, BNPT, Densus 88, Densus 99 (terkait tuduhan Wahabi “biang terorisme”).

= Dan aneka kaum “Anti Wahabi” lainnya.

Dalam buku ini akan dijelaskan, bahwa tuduhan-tuduhan terhadap Wahabi itu umumnya hanyalah tuduhan yang terus diulang-ulang; semata atas dasar kebencian subyektif, merasa senang memusuhi sesama Muslim dan menyenangkan hati kaum non Muslim; serta atas dasar ketidak-beranian berbicara dan berdebat dalam konteks ilmiah secara obyektif. Seperti ungkapan populer, “Lempar batu, sembunyi tangan.”

Besar harapan, buku ini bermanfaat di sisi Ummat Islam, bermanfaat dalam konteks pembangunan Islam di Indonesia, serta berpahala di sisi Allah Ar Rahman Al Jalil. Amin Allahumma amin.

AMW (penulis).

About these ads

184 Balasan ke INFO BUKU BARU: “Bersikap Adil Kepada Wahabi”

  1. Muchlis Nasrul mengatakan:

    Alhamdulillah telah terbit buku yang ana nantikan sebagai jawaban kepadakan kepada kami yang selama ini diam bila dituduh Wahabbi,Afwan… ana akan cari bukunya di Malang

  2. Noname mengatakan:

    Bukannya kebalik tuh….Justru kaum wahabilah yang sukanya mencela, mencaci maki, mengkafirkan orang2 islam yang tidak sepaham dengan mereka. Ini tidak boleh, itu tidak boleh….ini bid’ah, itu bid’ah. Tanpa disadari kata2 “Tidak akan selamat Said Aqil, sampai dia bisa mengeluarkan seluruh jasa-jasa kaum Wahabi dari tubuh dan kehidupannya.” Yang menentukan selamat atau tidaknya adalah hak prerogatif Allah, bukanlah manusia. dan kata2 “yang membuatnya dibelit oleh dosa-dosa berkepanjangan, yang tak mudah tuntas meskipun dia bisa mengisi hidupnya dengan hanya menangis sepanjang hari dalam dzikir)”. Itu juga yang tahu hanya Allah

  3. abisyakir mengatakan:

    @ Pak Muchlis…

    Silakan Pak, semoga bermanfaat. Amin Allahumma amin.

    AMW.

  4. abisyakir mengatakan:

    @ Noname…

    Justru kaum wahabilah yang sukanya mencela, mencaci maki, mengkafirkan orang2 islam yang tidak sepaham dengan mereka. Ini tidak boleh, itu tidak boleh….ini bid’ah, itu bid’ah.

    Respon: Memang ada yang begitu. Tetapi tidak boleh generalisir, bahwa semua Wahabi seperti itu. Nah, sikap generalisir ini berbahaya.

    Tanpa disadari kata2 “Tidak akan selamat Said Aqil, sampai dia bisa mengeluarkan seluruh jasa-jasa kaum Wahabi dari tubuh dan kehidupannya.” Yang menentukan selamat atau tidaknya adalah hak prerogatif Allah, bukanlah manusia.

    Respon: Benar sekali, bahwa yang menentukan selamat/tidaknya seseorang adalah Allah. Tetapi perbuatan zhalim, khianat, kufur nikmat, dan dusta; bisa mengundang kebinasaan manusia. Dalam tubuh Said Aqil ada sekian banyak jasa-jasa kaum Wahabi, lalu kini dia melakukan permusuhan sangat zhalim kepada kaum Wahabi. Ini adalah kezhaliman/kedustaan besar. Bagaimana manusia bisa selamat dari perbuatan seperti ini?

    Dan kata2 “yang membuatnya dibelit oleh dosa-dosa berkepanjangan, yang tak mudah tuntas meskipun dia bisa mengisi hidupnya dengan hanya menangis sepanjang hari dalam dzikir)”. Itu juga yang tahu hanya Allah.

    Respon: Anda baca saja buku itu biar Anda tahu, bahwa kezhaliman Arifin Ilham kepada kaum Wahabi, dengan memberikan endorsement fitnah itu, bisa menghancurkan amal-amal baiknya. Baca saja disana.

    Terimakasih.

    AMW.

  5. lukman mubarok mengatakan:

    buku yang perlu dibaca

  6. Satria mengatakan:

    na’am akhi, buku yang membahas dengan adil, silakan juga lihat bantahannya pada buku yang lain:

    http://toko-muslim.com/buku-salafi-antara-tuduhan-dan-kenyataan/

    ***
    barakallahu fikum

  7. Rainbow mengatakan:

    pertama-tama, mari kita tinjau apa itu wahabi? apakah wahabi jihadi, wahabi yamani, wahabi haraki, atau wahabi murji’ah–apa saya sedang mengada-ada tentang wahabi murji’ah? nah di sini lah letak bobroknya wahabi–maaf, katanya terdengar kasar, tapi begitulah kenyataan. para wahabi ini selalu menggembar-gemborkan sebagai kelompok yang selamat, satu-satunya jama’ah yang tidak berpecah belah, mengutamakan persatuan dan kesatuan islamiyah. ternyata itu omong kosong semua, bullshit. sesama wahabi saling mencela, makanya ada julukan wahabi murji’ah. ini aja udah jelas nunjukin mereka semua ini gak benar, karena tidak sesuai sunnah Nabi yang melarang adanya perpecahan. mereka mengklaim tidak seperti golongan islam lain yang berpecah-belah, lha wahabi2 itu berfirqoh2 kok. mau apa lagi? intinya, mereka hanya mendompleng Nabi, mengaku-aku sebagai pengikut aslinya Nabi, ternyata kenyataannya betul2 berbeda…..

  8. Assajjad mengatakan:

    ass…wr..wb..kpd ust waskito
    biar jelas duduk persoalannya apakah antum siap dialog terbuka dengan ulama2 NU?

    syukron

  9. Liong mengatakan:

    pertama-tama, mari kita tinjau apa itu wahabi? wahabi itu istilah dari sebagian bajing** barat yg tidak menyukai dakwah Muhammad bin Abdul Wahab. so jgn pake istilah wahabi nanti tabaruj sama sebagian bajing** barat. Lagian yg berdakwah kan Muhammad bin Abdul Wahab a.k.a. Muhammad anaknya Abdul Wahab, ko bro Rainbow malah marah2 ke Abdul Wahabnya?? @_@
    (mf ya bro Rainbow, sy hanya meninjau dari definisi kata wahabi yg setau sy dimunculkan oleh antek2 Inggris dulu)

    perpecahan itu sudah sunatulloh, makanya belajar terus Qur’an & Hadits biar tau mana pengikut Nabi yg asli, ya bro ya?

    sp yg tau, kita menjelek-jelekan ‘wahabi’ (kebetulan sy belum terlalu mengenal Muhammad bin Abdul Wahab, jd sy bersikap netral) eh ternyata dakwah wahabi yg benar, gmn coba?

    jadi, apapun keyakinan bro klo bro merasa itu benar dan setelah disinkronkan dgn Qur’an & Hadits hasilny klop,cocok,matching! ya jalani keyakinan itu dgn sungguh2. tidak harus menjelek2an dakwah org lain..klo ad yg salah ya dinasehatin

  10. Rainbow mengatakan:

    wooooiiii bro Liong….. wahabi atau salafi tuh yang ngasih contoh duluan…… menjelek-jelekkan dakwah golongan lain hanya karena beda metode, beda manhaj,,,,, jadi siapa yang ngasih contoh buruk duluan? mo wahabi, mo salafi, sama aja. bobrok semuanya….

  11. abu2an mengatakan:

    Yang jelas berdirinya wahabi dan dinasti saud penyokong besar faham sesat wahabi adalah atas dukungan Inggris. dan terbukti sekarang ini dinasti saud tidak pernah sedikitpun membela Palestina yg ditindas Zionis Israel tapi lebih pro Amerika, Israel dan barat apapun kebijakan dan tindakan Amerika dan sekutunya di timur tengah pasti didukung dinasti saud, pangkalan militer amerika juga ada di Saudi Arabia. maklum saja dinasti saud jongos amerika dan sekutunya.

  12. Liong mengatakan:

    lho, yg bro Rain maksud itu wahabi atau salafi sih?? yang jelas dong, wahabi atau salafi??? setau saya org2 akan diolok-olok wahabi klo tidak mw tahlilan,tdk haulan,tdk mengkhususkan dtg ziarah ke makam wali. Dan mrk memang keras soal ini. Klo salafi sih memang banyak macam2nya. kita ini salafi semua, kan salafi itu dari kata salafus sholeh. iya kan?? klo ada yg mengkhususkan diri dng nama salafi berarti dia belum mengerti. apalagi klo sampai ngasih contoh buruk,benar2 belum mengerti itu. Kecuali yg dijelek-jelekan itu memang bener2 keterlaluan macam syiah, khawarij, ahmadiyah. Jenis ini memang harus dijelek-jelekan. Udah deh, bro Rain langsung saja sebut bro itu sakit hati sama siapa?

    @abu2an
    sekarang ini sp sih yg ga jadi jongos US & sekutu.. Indonesia jg terkenal sbgai jongos sejak beheula, diambil kekayaannya, diacak-acak pemerintahannya, yo manut aja, nurut aja. yg kaya gini mah ga usah dibangun pangkalan militer gpp, udah jd jongos beneran. Org Indonesia katanya ramah tamah apalagi klo sama bule, wuiiiih ramahnya. ya ga salah sih, Korsel yg maju aja msh jd jongos US & sekutu.

  13. bambang mengatakan:

    @abu2an

    antum orang SYIAH bukan ? karena biasanya penumpang gelap yg jelek2 in saudi dan wahabi adalah orang SYIAH…..kalo bukan syiah, berarti terpengaruh propaganda syiah
    hehehhe muter2 aja………

  14. baihaqi mengatakan:

    Buku trilogi Syekh Idahram adalah buku yg full fakta, bantahlah fakta-fakta itu kalau mampu membantahnya. Dan Wahabi tidak akan mampu membantahnya, kecualo hanya sekedar apologis yg full fitnah ini. Kasihan deh Wahabi….?

  15. abu2an mengatakan:

    Jangan bawa2 Syiah untuk menutupi aib, kecurangan dan kesesatan wahabi.
    walaupun kalian para wahabiyun selalu mengkambing hitamkan Syiah, setau saya Syiah gak pernah mengkafirkan, membid,ahkan dan mensyirikkan ke fihak2 yang gak sefaham dengan mereka, beda dengan wahabi kata2 kafir, bid’ah, syirik adalah zikirnya se-hari2 dan rutin dilakukan kefihak yg gak sefaham dengan faham sesat wahabi, serta halal darahnya untuk dtumpahkan dan akhirnya…….BOM bunuh diri, oleh teroris yang berfaham sesat Wahabi.

  16. bambang mengatakan:

    @baihaqi,

    antum gak baca artikel ini ya ? asal komen doang, ini kan artikel bantahan IDAHRAM (malu2 in), namanya aja nama samaran, bukan nama asli, emang ada orang indonesia yg namanya SYAIKH IDAHRAM ?
    melek oiiiiii, jgn asal komen, ini nih artikel yg bantah buku IDAHRAM…….dan kalo mau beli bukunya, ato kalo gak mau rugi juga, kolekan uang sama teman2 mu, lalu dibahas di majelis kamu ? lalu biikin buku bantahannya lagi ? gimana baihaqi ? mau gak ?

  17. Liong mengatakan:

    @abu2an
    cieee pak abu, gayamu okelah dlm mendukung syiah. two tumb d^^b
    bener itu, Syiah gak pernah mengkafirkan, membid,ahkan dan mensyirikkan ke fihak2 yang gak sefaham dengan mereka. Yang ada mereka langsung sikat, langsung bunuh! liat aja ni yg lagi terjadi di Suriah. Melek informasi dikit ya pak abu (gak punya waktu atau gak punya dana buat update berita, pak??).
    Menjelek-jelekan sesuatu yg menurut anda jelek(wahabi), jgn dgn membagus-baguskan pembanding yg ternyata sama jeleknya(syiah), harus digunakan pembanding yg bener2 baik

  18. Rainbow mengatakan:

    jiah, tiap kritikan atau orang yang mengkritik salafi/wahabi, langsung dicap syi’ah……. bro Liong, ente jangan kayak kura-kura dalam perahu lah….. kalo mo jujur, pengikut Nabi Muhammad itu Muhammadiyah….. ya tho??? mo bilang apa ente :mrgreen:

    kedua, salafi dan wahabi, julukan atau olok-olok, sama aja seperti ikhwanul muslimin, hizbut tahrir. singkatnya, mereka ini, para salafi/wahabi, berfirqoh2 juga.

    ane sakit hati? well, bisa dibilang begitu. karena apa? dakwah salafi selalu digembar-gemborkan mengikuti idealitas kehidupan Nabi dan tiga generasi sesudahnya. ternyata, setelah tau makin dalam, ah, mereka berpecah belah. padahal orang-orang itu, salafi/wahabi, selalu gembar gembor tentang anti perpecahan… ikuti satu jalan, jalan Nabi, eh ternyata mereka ngasih contoh yang buruk. nyuruh orang brenti merokok, ternyata mereka isap ganja. :lol: menyedihkan…….

  19. Daans mengatakan:

    sudah bukan menjadi rahasia umum kalau wahabi itu pemalsu kitab. terjemahan buku2 dari penerbit2 wahabi thdp karya ulama ahlusunnah banyak direduksi seusai ajaran mereka.

    Fakta ini coba dibantah secara ilmiah. Teman Saya punya data dengan membandingkan karya terjemahan penerbit wahabi dengan kitab aslinya. Mau mengelak lagi?

  20. saifuddin mengatakan:

    mending pada belajar aja dech tentang nahwu saraf, dan sejenisnya dari pada saling debat,…tapi pertanyaannya 1 apakah nahwu dan sorof itu juga bid’ah? kan ga ada di jaman Nabi,…….wkwkwkwkw aku bingung

  21. Daans mengatakan:

    Kalau sama terjemahan saja sudah tidak jujur, lantas masih mau bilang dan mengaku muslim yang paling benar?

    sanad keilmuannya aja terputus jauh, masa dari abdul wahab ke ibn qayyim-ibn taymiyyah-“ahmad bin Hanbal”. bagaimana bisa mengaku islamnya orisinil????? ckckckckck

  22. syuaibbinsholeh mengatakan:

    Kenapa ya, ummat Islam ini maunya bermusuhan terus?

    Just info, ane pernah merantau di sebuah Pulau yang namanya Batam.
    Menurut pengalaman ane, perusahaan ditempat ane bekerja emang ada kelompok2 aliran, ada salafi(dikenali dengan gaya pakaian gamis dan jenggot lebatnya), ada orang NU(dikenali karena memakai Qunut waktu mengimami shalat shubuh), ada orang Muhammadiyyah atau yang sealiran(dikenali karena tidak menggunakan qunut Shubuh dan mensyir-kan basmallah, tapi model pakaiannya biasa saja/tidak seperti pakaian ala salafi), dan mungkin masih banyak aliran2 lainnya.

    Dan hebatnya, budaya shalat berjamaah di PT ane sangat2 mengagumkan, meskipun musholanya kecil(sampai2 harus “berkloter2″ hehe,)tapi semangat mereka berjamaah di sini sangat besar. Tiap satu kloter selesai, langsung dikumandangkan iqamah untuk mendirikan kloter berikutnya. Jarang sekali orang2 shalat sendiri2, kecuali memang orangnya malas, atau tidak ada yang diajak berjamaah(Emang sih, ada juga karyawan yang menunda2 shalatnya).

    Tapi yang jelas, ane mendapatkan pengalaman yang luar biasa mengenai kekuatan sebuah ukuwah Islamiyyah. Karyawan2 di PT ane tersebut sangat kompak saat berjamaah, dan tiap2 kloter tentu saja imamnya mempunyai karakter sendiri2, ada orang NU, salafi, Muhammadiyyah, tapi para makmum sangat2 tidak mempedulikan latar belakang aliran sang imam. Imam2 dipilih memang karena faktor kemampuannya, bukan atas alirannya. Begitu juga di dormitory(mess karyawan/diisi karyawan yang masih lajang), disitu juga terdapat sebuah mushola, tapi jamaahnya tidak seramai di PT,hehe. Tapi berlaku pula seperti halnya di PT tadi, imam dipilih tidak membeda2kan aliran tertentu, bahkan imam di mushola ini cenderung bergantian(karena karyawan shift). Semuanya tidak masalah, tidak ada permusuhan apapun. Aula dormitory juga kadang2 dipakai pengajian salafy orang2 diluar dormitory. Tapi majelis ta’lim dormitory yang umumnya didominasi orang2 NU tidak pernah mempermasalahkannya. Subhanallah, indahnya persatuan. Inilah persaudaraan tulus yang berdasar atas aqidah Islamiyyah.

  23. Daans mengatakan:

    Idealnya seperti itu mas…

    tapi, masalahnya mayoritas wahabiyin tidak mau menghargai perbedaan. bukti kongkretnya, kalau mereka jujur, penerbitan buku terjemahan juga harus sesuai isinya. Di al-Adzkar karya al-Nawawi ada bab berjudul ziaroh ke makam nabi, kemudian di terjemahan, saya lupa penerbitnya diganti judul ziaroh masjid nabawi.

    dan masih banyak lagi kasus serupa seperti di atas. Fakta lain adalah MTA (MAJLIS TAFSIR AL-QURAN) di Solo, dengan tegas membid’ah-syirik-kan pelaku ziaroh kubur. Kalau emang menghargai perbedaan, ya tidak begitu caranya.

  24. bambang mengatakan:

    @abu2an

    mendingan kamu beli buku ini, karena kesalahan abusalafy, tentang sejarah saudi wahabi sudah dibahas di buku ini, lagian abu salafy sudah dibantah argumenya oleh ust. firanda
    daripada banyak komentar, mendingan kamu semua yg kontra beli buku ini, dan kalo bisa membuat buku bantahannya balik, biar ilmiyyah kan.

    http://firanda.com/index.php/daftar-isi (kolom bantahan)

    http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs

  25. Liong mengatakan:

    @syuaibbinsholeh
    jgn khawatir pak, dunia itukan luas. ummat Islam ini tidak maunya bermusuhan terus ko. buktinya kan bapak ngasih contoh. Tempat sy jg gt ko pak, tenang saja :)
    ga usah dinilan dari sini ya pak :)

    @Rainbow
    salaf = pendahulu
    salafus sholeh = pendahulu yg sholeh
    Salaf secara terminologi bahasa arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan.
    artinya mulai dari Nabi Adam smpai ayah saya dan ayahnya bro adalah salaf. Ketik aja (kl ga percaya) di google translate ‘pendahulu’, ntar terjemahan arabnya salaf
    Yup benar, pengikut Nabi Muhammad disebut Muhammadiyah secara bahasa.

    @Daans
    silahkan baca kitabnya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki (tau kan sp beliau?) ‘Mafahim Yajib an-Tushahhah’, apa kata beliau tentang Muhammad bin Abdul Wahab

    utk menunjukkan bahwa umat Islam tidak maunya bermusuhan terus, sy tdk akan menuliskan balasan lg. mf klo ada yg tersinggung krn blsan komentar sy
    semoga kita semua selalu diberi hidayah oleh Allah Ta’ala. Allahuma amin

  26. Gemblung mengatakan:

    belum merasakan…. pasti membela Wahabi

  27. Si Fulan mengatakan:

    Muhammad bin Shalih al-Utsaimin merupakan Syaikhul Wahhabiyah yang fatwa-fatwanya juga banyak menjadi rujukan pengikut sekte Wahhabiyah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wahib at-Tamimi atau lebih dikenal dengan Syaikh al-Utsaimin. Dalam beberapa fatwanya, terdapat pernyataan menarik yang mungkin jarang di publikasikan oleh pengikut Wahhabiyah tentang bacaaan al-Qur’an untuk orang mati. Berikut diantara pernyataan beliau :

    PENDAPAT YANG SHAHIH TENTANG MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK ORANG MATI
    “Pembacaan al-Qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al-Qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? atas hal ini terdapat dua qaul yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah bahwa membaca al-Qur’an untuk orang mati memberikan manfaat, akan tetapi do’a adalah yang lebih utama (afdlal)” *)
    Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin pernah ditanya tentang hukum membaca al-Qur’an untuk roh orang mati. Menariknya adalah bahwa menurut pandangan beliau ; yang rajih adalah bahwa bacaan al-Qur’an sampai kepada orang mati apabila ditujukan untuk orang mati tersebut.

    *) Majmu’ Fatawa wa Rasaail [17/220-221] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

    PENDAPAT YANG RAJIH TENTANG MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK ORANG MATI
    Fadlilatusy Syaikh ditanya tentang hukum tilawah (membaca al-Qur’an) untuk orang mati ?
    Jawaban : Tilawah untuk roh orang mati yakni membaca al-Qur’an karena ingin memberikan pahalanya untuk mayyit (orang mati) yang muslim, masala h ini terdapat perselisihan diantara ahlul ilmi atas dua pendapat : Pertama, sungguh itu bukan perkara yang masyru’ (tidak disyariatkan) dan sungguh mayyit tidak mendapat manfaat dengan hal itu yakni tidak mendapatkan manfaat dengan pembacaan al-Qur’an pada perkara ini. Kedua, sesungguhnya mayyit mendapatkan manfaat dengan hal itu, dan sesungguhnya boleh bagi umat Islam untuk membaca al-Qur’an dengan meniatkan pahalanya untuk fulan atau fulanah yang beragama Islam, sama saja baik dekat atau tidak dekat (alias jauh).

    Dan yang rajih (yang kuat) : adalah qaul (pendapat) yang kedua, karena sesungguhnya telah warid sebagai sebuah jenis ibadah yang boleh memindahkan pahalanya untuk mayyit (orang mati) karena sesungguhnya telah warid sebagai , sebagaimana pada hadits Sa’ad bin ‘Ubadah radliyallahu ‘anh ketika ia menshadaqahkan kebunnya untuk ibunya, dan sebagaimana kisah seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam : sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan aku menduga seandainya ia sempat berbicara ia akan meminta untuk bershadaqah, maka bolehkah bershadaqah untuknya ? Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab : iya”, ini sebuah peristiwa yang menunjukkan bahwa memindahkan pahala jenis ibadah untuk salah seorang kaum Muslimin adalah boleh, dan demikian juga terkait membaca al-Qur’an. Akan tetapi yang lebih utama dari perkara ini agar mereka berdo’a untuk mayyit, serta menjadikan amal-amal shalih untuk dirimu sendiri, karena Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Apabila bani Adam mati maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selali mendo’akannya”. Tidak dikatakan, “atau anak shalih yang melakukan tilawah untuknya, atau shalat untuknya, atau puasa untuknya, atau shadaqah untuknya, akan tetapi Nabi bersabda : “atau anak shalih yang berdo’a untuknya”,
    Maka ini menunjukkan bahwa seorang manusia berdo’a untuk mayyit itu lebih utama (afdlal) dari pada menjadikan amal-amal shalihnya lainnya untuk mayyit, dan manusia membutuhkan amal shalih agar pahalanya menjadi simpanan disisi Allah ‘Azza wa Jalla.” **)

    **) Majmu’ Fatawa wa Rasaail [2/305] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

    Tidak hanya itu, Syaikh al-Utsaimin al-Wahhabi juga pernah ditanya tentang surah an-Najm ayat 39. Ulama sendiri memiliki berbagai jawaban dalam menjelaskan ayat ini namun ulama tidak menafikan bahwa seseorang memang bisa memperoleh manfaat dari orang lain, sebab nas untuk hal ini telah mutawatir baik didalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Seperti itu juga Syaikh al-Utsaimin yang tidak menafikan bahwa seseorang bisa memperoleh manfaat dari amal orang lain.

  28. heru lelono mengatakan:

    Wah seru juga … perdebatannnya…

    Jangan khawatir… di islam ada kebebasan tidak ada paksaan..

    Mau kafir silahkan ….mau beriman silahkan.
    Mau nge bid’ah ..silahkan … mau tidak melakukan bid’ah silahkan.
    Mau dapat petunjuk atau mau deggel / keras kepala …silahkan.
    Mau nafsuan .. mau sabar silahkan.
    Mau cuman ngikut ngikut … silahkan … mau berilmu monggo …
    mau asal ngebacot atau mau santun silahkan .

    TENTUKAN SENDIRI … DIMANA POSISI ANDA !!!!!! TOH KITA SEMUA AKAN DIMINTA PERTANGGUNG JAWABAN…..

  29. eka mengatakan:

    kalau anda semua mau di katakan seorg mukmin maka kembalilah kepada firman ALLAH yg artinya : sesungguhnya org org mukmin adalah bersaudara. QS. AL HUJURAT :10 Rasulullah bersabda:Tidaklah sempurna iman seseorg di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. HR. BUKHARI 13 MUSLIM 45.

  30. codesaber@gmail.com mengatakan:

    Afwan Ustadz, ahsan komentar ditutup saja untuk menghindari adanya kata-kata yang kurang sopan. Cuma masukan saja

  31. abisyakir mengatakan:

    @ Rainbow…

    para wahabi ini selalu menggembar-gemborkan sebagai kelompok yang selamat, satu-satunya jama’ah yang tidak berpecah belah, mengutamakan persatuan dan kesatuan islamiyah. ternyata itu omong kosong semua, bullshit. sesama wahabi saling mencela, makanya ada julukan wahabi murji’ah. ini aja udah jelas nunjukin mereka semua ini gak benar, karena tidak sesuai sunnah Nabi yang melarang adanya perpecahan. mereka mengklaim tidak seperti golongan islam lain yang berpecah-belah, lha wahabi2 itu berfirqoh2 kok. mau apa lagi?

    Respons:

    Bukan hanya di kalangan Wahabi. Di kalangan NU juga banyak pecah-belah. Ini fakta di depan mata kita. Setiap ada Pemilu, warga NU terpecah-belah dalam partai-partai. Pernah, demi menolong PKB, Gusdur sampai menyebut partai lain selain PKB, seperti “kotoran ayam”. Itu pada kampanye pemilu 1999.

    Bahkan di PKB sendiri juga ruwet gak karuan. Ada PKB Muhaimin, ada PKB Yeni Wahid, ada PKB Lily Wahid, dan sebagainya. Juga ulama-ulama NU tidak selalu menyatu. Banyak di antara mereka yang berbeda pandangan, dalam banyak persoalan. Contoh, Mustofa Bisri cenderung pluralis dan liberalis; KH. Abdullah Faqih cenderung mempertahankan pola NU tradisional; KH. Hasyim Muzadi cenderung moderat dan modern; dll.

    Hanya bedanya, kalau di NU tidak biasa berkonflik terbuka. Kalau di kalangan Wahabi, mereka ekspresif. Tidak sungkan-sungkan bersikap, kalau ada perbedaan pendapat. Wa lakin ‘alal haqiqah, secara ushuliyyah banyak persamaan di antara mereka.

    AMW.

  32. abisyakir mengatakan:

    @ Assajjad…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Demi kebenaran dan membela keadilan, saya siap berdialog dengan orang-orang yang berbeda paham; selagi disana ada majelis yang adil dan proporsional. Kalau modelnya, kayak mengadili secara semena-mena, saya juga tak mau. Untuk apa forum seperti itu? Wal ‘izzatu lillahi wa li Rasulih wa lil mu’minin.

    AMW.

  33. abisyakir mengatakan:

    @ Rainbow…

    Kan sudah banyak buku-buku kalangan Wahabi yang mengkritisi sikap keras seperti yang Anda tuduhkan itu? Disana ada nasehat yang adil, obyektif, dan didasarkan atas hajat Syariat Islam. Bukan serangan membabi-buta seperti Idahram dkk. itu. Itu sih bukan menasehati, tetapi merusak Ummat.

    Kita sudah berkali-kali sampaikan, bahkan ini sering, bahwa dakwah Salafiyyah itu tidak satu wajah, satu nafas, satu penampilan. Ada memang yang ghuluw, tetapi ada yang bersikap adil. Maka perkataan Anda, “mo wahabi, mo salafi, sama aja. bobrok semuanya….” Ini sangat berat konsekuensinya di sisi Allah, kalau Anda paham Islam. Kalau tak paham, ya silakan saja mau ngomong apapun. Orang bodoh tidak dihargai suaranya, meskipun ia bisa berteriak dari New York, lalu terdengar di Nabire.

    AMW.

  34. abisyakir mengatakan:

    @ Abu2an…

    Yang jelas berdirinya wahabi dan dinasti saud penyokong besar faham sesat wahabi adalah atas dukungan Inggris. dan terbukti sekarang ini dinasti saud tidak pernah sedikitpun membela Palestina yg ditindas Zionis Israel tapi lebih pro Amerika, Israel dan barat apapun kebijakan dan tindakan Amerika dan sekutunya di timur tengah pasti didukung dinasti saud, pangkalan militer amerika juga ada di Saudi Arabia. maklum saja dinasti saud jongos amerika dan sekutunya.

    Respons:

    [1]. Omongan Anda ini sudah saya bantah secara telak dalam buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi”. Bacalah, nanti Anda akan menjumpai maknanya, insya Allah.

    [2]. Omongan Anda ini juga mengandung TAKFIR kepada kaum Wahabi. Anda menuduh mereka sesat, diciptakan oleh Inggris (orang kafir). Wal ‘iyadzubillah.

    [3]. Tanda orang bodoh, biasanya kalau ngomong “asal njeplak”.

    AMW.

  35. abisyakir mengatakan:

    @ Baihaqi…

    Sudah, sudah kami buktikan, bahwa buku itu penuh fitnah, penuh kebohongan, penuh kecurangan, juga penuh ajaran-ajaran menyimpang (khususnya paham Syiah). Sudah kami buktikan, dengan pertolongan Allah. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  36. abisyakir mengatakan:

    @ Abu2an…

    Setau saya Syiah gak pernah mengkafirkan, membid,ahkan dan mensyirikkan ke fihak2 yang gak sefaham dengan mereka..

    Respons: Ya, itu tandanya Anda tidak tahu. Sudah kalau tidak tahu, tak usah bicara. Anda perlu menghemat omongan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Mending nikmati saja “kemenangan semu” di balik terbitnya buku2 Idahram itu.

    AMW.

  37. abisyakir mengatakan:

    @ Daans…

    Anda jangan termakan oleh omongan Si Idahram. Dia bilang Wahabi “tukang memalsu kitab-kitab”… Padahal yang diubah itu sedikit kalimat-kalimat di antara beribu-ribu kalimat dalam sebuah buku. Itu hanya perbuatan mengubah sedikit kalimat ulama, bukan memalsukan kitab. Lagi-lagi si ahli fitnah, Idahram, sudah membuat fitnah besar yang dengannya gunung-gunung bisa hancur berantakan.

    Idahram dan kawan-kawan, demi Allah, tidak mengerti kata MEMALSUKAN KITAB. Mereka bayangkan, mengubah satu dua kalimat ucapan ulama, atau membuang kalimat semacam itu, dianggap MEMALSUKAN KITAB. Masya Allah. Baca buku kami “Bersikap Adil Kepada Wahabi”. Nanti Anda akan bisa membedakan antara memalsukan kitab dan mengubah beberapa ucapan/tulisan ulama.

    Bacalah…jangan dendam melulu. Nanti umurmu pendek, dimakan dendam di hati!

    AMW.

  38. abisyakir mengatakan:

    @ Daans…

    Justru saya mencatat banyak contoh sikap curang, si ahli fitnah, Idahram, dalam buku SBSSW itu. Disana saya jelaskan cara-cara curang dia dalam menerjemahkan dan membuat intepretasi.

    Soal sanad ilmu, tidak mungkin dari era Ibnul Qayyim/Ibnu Taimiyyah, langsung konek ke Imam Ahmad. Eranya juga beda. Sanad ilmu Syaikh Ibnu Abdul Wahhab ya ke guru-guru di atasnya, begitu juga Ibnu Taimiyyah ke guru-guru di atasnya. Baru setelah sekian silsilah, nanti baru nyambung ke Imam Ahmad.

    Perlu semua orang tahu, bahwa Ibnu Abdul Wahhab, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, semua mereka dan orang-orang yang mengikutinya, mereka itu rata-rata pengikut madzhab fikih Imam Ahmad. Jangankan orang alim, para orientalis kafir saja tahu bahwa mereka pengikut madzhab Imam Ahmad. Nah, nanti silsilah ilmunya otomatis mengikuti silsilah ulama-ulama Hambali.

    Ini hanya sedikit contoh, bahwa para penuduh anti Wahabi ini, lebih banyak nafsunya, daripada pintarnya.

    AMW.

  39. abisyakir mengatakan:

    @ Syuaib bin Shalih…

    Intinya begini Pak, boleh kok mengkritik Wahabi, atau siapa saja. Toh mereka, bukan barisan para Malaikat atau para Nabi. Tetapi dalam mengeritik jangan memakai cara Si Ahli Fitnah, Idahram. Ini manusia sudah tidak ada takutnya sama sekali dengan hisab di Akhirat nanti. Dia begitu memuaskan segala nafsu, kebencian, dendam, dan “hedonisme”-nya dalam menulis buku. (Aneh ya…dalam menulis buku ternyata ada “hedonisme” nya… ini istilah saya lho).

    Ya, kalau cara mengkritiknya keluar dari kaidah-kaidah Syariat, jadi akhirnya pecah fitnah dimana-mana. Ya, begitulah. Mohon dimaafkan jika terkesan berpecah-belah. Dan semoga Allah merahmati Bapak/Akhi karena telah secara nyata bekerja membangun Ukhuwwah. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

    AMW.

  40. abisyakir mengatakan:

    @ Daans…

    Ya, masak hanya mengganti judul “ziarah makam Nabi” lalu diubah menjadi “ziarah masjid Nabi”…lalu seketika ia disebut: MEMALSUKAN KITAB ULAMA. Ini tuduhan bathil sekali. Harusnya disebut: “Penerbit fulan telah memalsukan judul yang dibuat Imam Nawawi dalam bukunya Al Adzkar, halaman sekian-sekian.”

    Maaf, saya mau tanya, Anda bisa membedakan tidak antara: “Memalsukan kitab ulama” dengan “mengubah judul fasal dari kitab ulama hal sekian-sekian”.

    Anda bisa membedakan hal itu tidak? Kalau tak bisa, ya sudah…tak ada nilainya bicara seperti ini. Lha wong kita bicara sama orang tak berwawasan. Nafsunya besar, akalnya tidak memenuhi. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum jami’an.

    AMW.

  41. abisyakir mengatakan:

    @ Andre…

    Syukran jazakallah khair atas masukannya. Biasanya, kalau blog telat dipantau, ya begitu… muncul banyak komen-komen kurang baik. Tapi kalau dipantau, alhamdulillah bisa diminimalisir.

    AMW.

  42. aswaja selalu mengatakan:

    kalau mau gentle sih, pemilik blog ini, firanda, abu jauza, semua ustadz-2 wahabi, kalo memang berani ajak para pemuka NU, termasuk juga Habib Munzir yg sering dibantah oleh firanda untuk ketemu, silaturahmi, diskusi tentang faham-2 terutama tauhid, masalahnya para dedengkot wahabiyun berani ga yah? kan beraninya cuma lewat blog, buku-2 aja…..

  43. Daans mengatakan:

    Abi Syakir…

    “Ziarah kubur” dengan “ziarah masjid Nabi” tidak beda?ckckck….
    kenapa diganti denga redaksi ziarah masjid nabawi?ya jelas, karena al-Nawawi membolehkan ziaroh kubur. sementara wahabi membid’ahkan. hadeeeeeuh…

    kapan anda punya waktu untuk diskusi di forum terbuka?wahabiyun emang sukanya cuma ngemeng via blog dan buku2 tidak ilmiah. Contoh kongkret, Ali Mahrus ditantang debat terbuka di IAIN Sunan Ampel aja tidak datang. Kapan2 kita bedah 2 buku (punya idahram sama yang ini) di forum terbuka.
    Saya siap memediasi dengan tokoh2 teras NU dengan kelompok anda untuk mendiskusikan dua buku di atas.

  44. Daans mengatakan:

    genealogi akidah ala wahabi yang mengatakan Allah di atas Arsy, coba sebutkan secara runtut-genealogis dari Abdul Wahab-Ibn Taymiyahnya. Sebutkan aja……..pengen tau aku.

  45. Daans mengatakan:

    kalau gak mau dipanel sama para elit NU, coba pengen tahu kapan buku ini dibedah di Jakarta. Kami siap menghadiri acara bedah buku ini.

  46. aswaja selalu mengatakan:

    @kang Daans,

    sayapun menantikan gentle nya para wahabiyun untuk debat terbuka dg para ulama ASWAJA, karena setahu saya, mereka cuma berani di masjid-2 mereka, di blog-2 & buku-2 mereka saja…kalau mrk berani, saya sangat tertarik ikut serta untuk hadir….gimana nih para wahabiyun????

  47. Lukman Mubarok mengatakan:

    Koment skeptis dari pembaca blog membuktikan ketidak fahaman mereka mengenai akidah Islam. Kalau memang sudah mengkaji tauhid secara mendalam, mengapa esensi ajaran tauhid tidak dibahas tapi malah mendahulukan sentimen anti wahabi

  48. aswaja selalu mengatakan:

    @lukman mubarok,
    berarti ente dan para ustadz wahabi mau dong diskusi terbuka dg para kyai NU perihal tauhid yg dipahami wahabi dan ASWAJA? siap menunggu nih, bukan mencari menang-kalah, tapi meluruskan akidah, gimana ustadz waskito?

  49. juhaiman mengatakan:

    @daans :

    ““Ziarah kubur” dengan “ziarah masjid Nabi” tidak beda?ckckck….
    kenapa diganti denga redaksi ziarah masjid nabawi?ya jelas, karena al-Nawawi membolehkan ziaroh kubur. sementara wahabi membid’ahkan. hadeeeeeuh”

    Komentar anda sangat naif, saya tidak pernah mendengar wahabi bembid’ahkan ziarah kubur .

    Mereka menganjurkan ziarah kubur , karena itu adalah sunnah nabi !!!
    Yang dilarang adalah .. menyembah penghuni kubur , meminta minta pada penghuni kubur , bertawasul pada penghuni kubur .

    Amit Amit ….. dosa besar itu BUNG !!!!!!

  50. juhaiman mengatakan:

    @aswaja ..

    Apa itu aswaja ??… dalam khazanah islam tidak dikenal istilah tersebut.
    Itu hanya buatan atau istilah lokal …. , untuk membedakan dengan Ahlul sunnah lainnya .
    Saya hanya mengenal istilah Ahlul sunnah waljamaah… bukan aswaja ( singkatan ? )

    pimpinan aswaja sekarang aja . condong ke syiah ……, suka mengemis ke kaum kafir …he..he…he….

    Untuk apa berdebat ?? mau cari menang atau kalah ?? atau meluruskan aqidah ??

    Kebenaran hanya milik Allah SWT …….., manusia tempatnya salah ….maaf kalau kata katanya agak kasar….

  51. bambang mengatakan:

    @abusyibr

    tenannggg, gak perlu report2 nanggepi situs itu, ente beli buku ini dulu saja, dibaca yg tenang dan didiskusikan dengan habib yg aktif di situs itu

    mau bantahan yg lebih lengkap lagi ? nih gue kasih

    ANTARA HABIB MUNZIR & ISLAM JAMA’AH (LDII)
    (Pernyataan Habib Munzir : Fatwa Orang Tidak Bersanad Adalah Batil)
    PENIPUAN TERHADAP UMAT ISLAM INDONESIA

    http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/211

    HABIB MUNZIR dan IDAHRAM dibantah lengkap disini, silahkan kasih komen disitus ini.

    http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html

    http://nasihatonline.wordpress.com/2011/06/09/jawaban-ilmiah-terhadap-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/

    http://abisyakir.wordpress.com/2011/11/13/info-buku-baru-bersikap-adil-kepada-wahabi/#comments

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/ahmad-sarwat-al-buuthiy-dan-al-albaaniy.html

  52. aswaja selalu mengatakan:

    @juhaiman,

    aswaja memang singkatan ahlul sunnah waljamaah ( original ), yg palsu = WAHABI mengaku-2 ahlul sunnah, mengaku-2 salafu sholeh, padahal salafus sholeh adalah golongan terdahulu yg bersanad langsung kepada Rosululloh SAW, WAHABI??? mencampur adukkan perkataan-2 syaikh/ulama-2, baik ahlul sunnah maupun bukan, berpedoman kepada Ibnu Taimiyah, Adz Zahabi, padahal beliau-2 ini sudah taubat dari kekeliruan mereka, Ibnu Taimiyah pun sudah bertaubat dan mengakui beliau pengikut Akidah Asy’ariyyah, jadi ??/ siapa yg diikuti oleh WAHABI ??? Maulid ataupun haul di anggap sesat, tapi mereka membuat haul untuk Syaikh Utsmain, ziarah kubur sesat, mebangun kubur sesat, kenapa WAHABI membuat gedung untuk mengenang Syaikh Utsmain????? pimpinan ASWAJA condong ke syiah? buktinya ada ??? kalo WAHABI condong ke AS/Yahudi sudah terbukti, lihatlah kerajaan Saudi yg mesra dg Amerika sbg bapaknya Yahudi….so masih mau mengelak ???

  53. aswaja selalu mengatakan:

    Tak dipungkiri, banyak umat Islam resah dengan keberadaan Wahabi alias Salafy — demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Cara dakwah yang mereka lakukan, membuat umat Islam gerah. Mereka kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Wahabi. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khurafi, penyembah kubur, gerakan sempalan sesat, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya. Anehnya, ketika (ulama) wahabi dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya.

    Sebetulnya, kalau mereka mau menelaah ulang kitab para pendahulunya, seperti Ibnu Taimiyah sebagai tokoh sentral mereka. Mereka akan sadar bahwa Ibnu Taimiyah sendiri tidak se-ekstrem kaum salafi sekarang. Peringatan maulid misalnya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa merayakan maulid dengan dasar cinta Nabi Saw. adalah bernilai pahala. Kaum wahabi berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah, kurafat, dan pengkultusan yang ujung-ujungnya adalah syirik.

    Bagi masyarakat Muslim, jika ada kelompok yang suka menyalahkan, mencaci-maki dan membid’ahkan amalan-amalan ahlussunnah, cukuplah dijawab dengan dalil-dalil imam mereka sendiri, yang akan kita bahas satu persatu. Dijamin, mereka bakal kelabakan dan diam seribu bahasa. Sebab, nyatanya mereka melabrak pendapat-pendapat para imam mereka sendiri.

    Berikut kami tunjukkan beberapa bukti yang shahih.

    PERTAMA, tentang maulid. Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim hal.269 menyatakan bahwa mereka yang mengagungkan maulid mendapat pahala besar karena tujuan baik dan pengagungan mereka kepada Rasulullah Saw..”

    Video berikut akan memperjelas buktinya

    Terjemah narasi:

    Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta. Amma ba’du

    Peringatan maulid Nabi Saw. itu tergolong bid’ah hasanah. Peringatan semacam ini sudah ditradisikan sejak ratusan tahun lalu. Peringatan ini merupakan kesepakatan yang dilakukan oleh raja-raja, para ulama’, masayikh. Termasuk para ahli hadits, pakar fikih, orang-orang zuhud, para ahli ibadah dan berbagai individu dari kalangan awam.

    Di samping itu, peringatan ini punya dasar kuat yang diambil dengan cara istinbath seperti telah dijelaskan Imam al-Hafid Ibnu Hajar dan para ulama ahlussunnah lainnya.

    Diantara bidah dan kesesatan para penentang tawassul, mereka mengharamkan maulid dengan ekstrem. Bahkan seorang tokoh mereka, Abubakar Aljazairi –semoga Allah memberinya petunjuk- menyatakan, sembelihan yang disediakan untuk suguhan maulid lebih haram dari babi. Wal iyadzu billah, semoga Allah melindungi kita dari membenci Rasulillah Saw.

    Begitu antinya mereka terhadap maulid. Namun yang menarik, Ibnu Taimiyah sendiri tidak mengharamkan, bahkan dalam sebagian fatwanya dia katakan, “Jika maulid dilaksanakan dengan niat baik akan membuahkan pahala,” artinya sah-sah saja dilakukan.

    Marilah kita simak kitab Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim karya seorang filosof mujassim Ahmad ibn Taimiyah (meninggal tahun 728 hijriah) cet. Darul Fikr Lebanon th.1421 H. Pada hal.269 Ibnu Taimiyah berkata,

    “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah Saw..”

    Jika semua ini telah jelas, maka bersama siapakah kelompok sempalan wahabi ini? Mereka tidak bersama ahlussunnah wal jamaah. Tidak pula bersama tokohnya, Ibnu Taimiyah. Sepatutnya mereka mencela diri mereka sendiri, dan bertaubat dari kesesatan mereka selama masih ada kesempatan. Cukuplah sebagai kehinaan, penilaian buruk mereka terhadap hal yang telah disepakati kaum muslimin berabad-abad di penjuru timur dan barat bumi.

    Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita taufiq untuk menjelaskan hal ini. Semoga salawat dan rahmat Allah tetap tercurah atas Rasulullah Saw..

    KEDUA, Ibnu Taimiyah meriwayatkan kisah Abdullah bin Umar yang sembuh dari lumpuhnya setelah ia ber-istighasah dengan memanggil nama Rasulullah Saw..

    Simak video berikut:

    Terjemahnya:

    Alhamdulillah Rabbil Alamin. Salawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw.. Amma ba’du, ini adalah kitab “al-Kalimut Toyyib” karya filsuf mujassim Ahmad bin Taimiyah al Harrani (w.728 H) cet. Darul kutub ilmiyah Beirut 1417 H

    “عن الهيثم بن حنش قال كنا عند عبد الله بن عمر رضي الله عنهما فخدرت رجله أي أصابها مثل شلل فقال له رجل اذكر أحب الناس إليك فقال يا محمد فكأنما نشط من عقال -أي تعافى فورا-”.
    Pada halaman 123 Ibnu Taimiyah berkata

    “Dari al-Haitsam bin Hanasy dia berkata, ‘Kami sedang bersama Abdullah bin Umar r.a. tatkala tiba-tiba kakinya mendadak lumpuh, maka seorang menyarankan ’sebut nama orang yang paling kau cintai!’ maka Abdullah bin Umar berseru, ‘Ya Muhammad!’ maka dia pun seakan-akan terlepas dari ikatan, artinya sembuh seketika.”

    Inilah yang diterangkan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “al-Kalimut Toyyib” (perkataan yang baik), yakni dia menilai baik semua isi kitabnya.

    Yang dilakukan Abdullah bin Umar ini adalah istighatsah dengan Rasulullah Saw. dengan ucapan ‘Ya Muhammad’

    Dalam Islam ini diperbolehkan, Ibnu Taimiyah menganggapnya baik, menganjurkannya, dan mencantumkan dalam kitabnya, “al-Kalimut Toyyib”.

    Ini menurut wahabi sudah termasuk kufur dan syirik, artinya istighasah dengan memanggil Nabi Saw. setelah beliau wafat adalah perbuatan kafir dan syirik menurut wahabi.

    Apa yang akan dilakukan kaum wahabi sekarang? Apakah mereka akan mencabut pendapatnya yang mengkafirkan orang yang memanggil ‘Ya Muhammad’ ataukah mereka tidak akan mengikuti Ibnu Taimiyah dalam masalah ini? Padahal dialah yang mereka juluki Syeikhul islam.

    Alangkah malunya mereka, alangkah malunya para imam yang diikuti Ibn Abdil Wahab karena pendapatnya bertentangan dengan pendapat kaum muslimin.

    Dalam hal ini, kaum wahabi, dengan akidah mereka yang rusak, telah mengkafirkan Ibnu Taimiyah, karena ia telah menganggap baik hal yang syirik dan kufur menurut anggapan mereka.

    Ini semua adalah bukti bahwa mereka adalah kelompok mudzabdzab (plin-plan), kontradiksi dan menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah

    Segala puji selamanya bagi Allah, di permulaan dan penghujung.

    KETIGA, dalam Majmu Fatawanya Jilid 4 Hal.379 Ibnu Taimiyah mengakui keberadaan wali qutb, autad dan abdal. Dia juga menegaskan, jika malaikat membagi rejeki dan mengatur alam maka orang-orang saleh bisa berbuat lebih dari para malaikat. Apalagi para wali qutb, Autad, Ghauts, wali abdal dan Nujaba’. (Scan kitab klik di sini)

    وَقَدْ قَالُوا : إنَّ عُلَمَاءَ الْآدَمِيِّينَ مَعَ وُجُودِ الْمُنَافِي وَالْمُضَادِّ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ . ثُمَّ هُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ ؛ وَأَمَّا النَّفْعُ الْمُتَعَدِّي وَالنَّفْعُ لِلْخَلْقِ وَتَدْبِيرُ الْعَالَمِ فَقَدْ قَالُوا هُمْ تَجْرِي أَرْزَاقُ الْعِبَادِ عَلَى أَيْدِيهِمْ وَيَنْزِلُونَ بِالْعُلُومِ وَالْوَحْيِ وَيَحْفَظُونَ وَيُمْسِكُونَ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَفْعَالِ الْمَلَائِكَةِ . وَالْجَوَابُ : أَنَّ صَالِحَ الْبَشَرِ لَهُمْ مِثْلُ ذَلِكَ وَأَكْثَرُ مِنْهُ وَيَكْفِيك مِنْ ذَلِكَ شَفَاعَةُ الشَّافِعِ الْمُشَفَّعُ فِي الْمُذْنِبِينَ وَشَفَاعَتُهُ فِي الْبَشَرِ كَيْ يُحَاسَبُوا وَشَفَاعَتُهُ فِي أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ . ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ تَقَعُ شَفَاعَةُ الْمَلَائِكَةِ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ قَوْلِهِ : { وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } ؟ وَأَيْنَ هُمْ عَنْ الَّذِينَ : { وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ } ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِمَّنْ يَدْعُونَ إلَى الْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ ؛ وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” { إنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَشْفَعُ فِي أَكْثَرَ مِنْ رَبِيعَةَ وَمُضَرَ } ” ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ الْأَقْطَابِ وَالْأَوْتَادِ والأغواث ؛ وَالْأَبْدَالِ وَالنُّجَبَاءِ ؟

    Apakah ini pendapat Ibnu Taimiyah ini tergolong khurafat, takhayul dan bid’ah? Adakah dasarnya dari Qur’an dan Sunnah?

    KEEMPAT, tentang hadiah pahala, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barangsiapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa jilid 24 halaman 306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama Islam, dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah, dan ijma’ (konsensus) ulama’. Barang siapa menentang hal tersebut, maka dia termasuk ahli bid’ah”. (Scan kitab klik di sini)

    Hal senada juga diungkapkannya berulang-ulang di kitabnya, Majmu’ Fatawa, diantaranya pada Jilid 24 hal. 324 (scan kitab klik di sini)

    KELIMA, tentang tasawuf. Dalam kumpulan fatwa jilid 10 hal. 507, Syeikh Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun para imam sufi dan para syeikh yang dulu dikenal luas, seperti Imam Juneid bin Muhammad beserta pengikutnya, Syeikh Abdul Qadir Jaelani serta yang lainnya. Maka, mereka adalah orang-orang yang paling teguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.”

    Selanjutnya, pada jilid. 11 hal. 18 Ibnu Taimiyah berkata,

    والصواب أنهم مجتهدون في طاعة الله
    “Yang benar, para sufi adalah mujtahidin dalam taat kepada Allah.” (scan kitab klik di sini)

    KEENAM, pujian Ibnu Taimiyah terhadap para ulama sufi. Berikut ini kutipan dari surat panjang Ibnu Taimiyah pada jamaah Imam Sufi Syekh Adi bin Musafir Al Umawi, (Majmu’ Fatawa jilid 3 hal. 363-377). Ini sudah cukup menjadi bukti, begitu hormatnya Ibnu Taimiyah pada kaum sufi.

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تيمية إلَى مَنْ يَصِلُ إلَيْهِ هَذَا الْكِتَابُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ الْمُنْتَسِبِينَ إلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ؛ الْمُنْتَمِينَ إلَى جَمَاعَةِ الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ . أَبِي الْبَرَكَاتِ عَدِيِّ بْنِ مُسَافِرٍ الْأُمَوِيِّ ” – رَحِمَهُ اللَّهُ – وَمَنْ نَحَا نَحْوَهُمْ –
    Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada penerima surat ini, kaum muslimin yang tergolong Ahlussunnah wal Jamaah, yang bernisbat pada jamaah Syeikh al-Arif, seorang panutan, Yang penuh berkah, Adi bin Musafir Al Umawi (Scan kitab klik di sini)

    وَلِهَذَا كَثُرَ فِيكُمْ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ وَالدِّينِ..
    Karenanya, banyak diantara kalian orang-orang saleh yang taat beragama.. (scan kitab klik di sini)

    وَفِي أَهْلِ الزَّهَادَةِ وَالْعِبَادَةِ مِنْكُمْ مَنْ لَهُ الْأَحْوَالُ الزَّكِيَّةُ وَالطَّرِيقَةُ الْمَرْضِيَّةُ وَلَهُ الْمُكَاشَفَاتُ وَالتَّصَرُّفَاتُ . وَفِيكُمْ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ الْمُتَّقِينَ مَنْ لَهُ لِسَانُ صِدْقٍ فِي الْعَالَمِينَ
    Diantara orang-orang zuhud dan ahli ibadah dari golongan kalian terdapat mereka yang punya kepribadian bersih, jalan yang diridoi, ahli mukasyafah dan tasarruf. Diantara kalian juga terdapat para wali Allah yang bertakwa dan menjadi buah tutur yang baik di alam raya. (Scan kitab klik di sini)

    Cermati kata-kata yang dipakai Ibnu Taimiyah dalam risalahnya berikut: panutan, Abil barakat, berkepribadian bersih, jalan yang diridoi, ahli mukasyafah dan tasarruf, para wali Allah. Semua itu menyuratkan pengakuan beliau akan kebesaran orang-orang sufi yang bersih hati. Adakah orang-orang wahabi sekarang ini meneladani beliau?

    Surat tersebut selengkapnya juga bisa dibaca di Maktabah Syamilah versi 2 Juz 1 hal. 285-286.

    KETUJUH, Ibnu Taimiyah mengakui khirqah sufiyah dalam kitabnya, Minhajus Sunnah Jilid 4 Hal. 155

    الخرق متعددة أشهرها خرقتان خرقة إلى عمر وخرقة إلى علي فخرقة عمر لها إسنادان إسناد إلى أويس القرني وإسناد إلى أبي مسلم الخولاني وأما الخرقة المنسوبة إلى علي فإسنادها إلى الحسن البصري
    “Khirqah itu ada banyak macamnya. Yang paling masyhur ada dua, yakni khirqah yang bersambung kepada Sayidina Umar dan khirqah yang bersambung kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Khirqah Umar memiliki dua sanad, sanad kepada Uwais Al-Qarniy dan sanad kepada Abu Muslim Al-Khawlaniy. Adapun khirqah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, sanadnya sampai kepada Imam Hasan Al-Bashri.” (Scan kitab klik di sini)

    Jelas sudah, Ibnu Taimiyah menyatakan keberadaan sanad khirqah ini. Lantas, apakah beliau punya sanad khirqah? Dalam kitab yang sama beliau memberi jawab,

    وقد كتبت أسانيد الخرقة لأنه كان لنا فيها أسانيد
    “Aku telah menulis sanad-sanad khirqah, karena kami juga punya beberapa sanad khirqah” (scan kitab klik di sini)

    Kini kita telah paham, Ibnu Taimiyah ternyata memiliki khirqah. Tak hanya satu, tapi beberapa. Lantas apakah Syaikh-syaikh wahabi saat ini juga punya khirqah seperti halnya Ibnu Taimiyah?.

    KEDELAPAN, Pernyataan bahwa seluruh alam takkan diciptakan kalau bukan karena Rasulullah Saw. bisa dibenarkan. (Majmu’ Fatawa jilid 11 hal. 98)

    وَمُحَمَّدٌ إنْسَانُ هَذَا الْعَيْنِ ؛ وَقُطْبُ هَذِهِ الرَّحَى وَأَقْسَامُ هَذَا الْجَمْعِ كَانَ كَأَنَّهَا غَايَةُ الْغَايَاتِ فِي الْمَخْلُوقَاتِ فَمَا يُنْكَرُ أَنْ يُقَالَ : إنَّهُ لِأَجْلِهِ خُلِقَتْ جَمِيعهَا وَإِنَّهُ لَوْلَاهُ لَمَا خُلِقَتْ فَإِذَا فُسِّرَ هَذَا الْكَلَامُ وَنَحْوُهُ بِمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ قُبِلَ ذَلِكَ
    “Nabi Muhammad Saw. adalah esensi kedua mata ini. Beliau adalah poros segala pergerakan alam ini. Ia laksana puncak dari seluruh penciptaan. Maka tak bisa ditepis lagi bahwa untuk beliaulah seluruh alam ini diciptakan. Kalau bukan karena beliau, takkan wujud seluruh semesta ini. Bila ucapan ini dan semisalnya ditafsir sesuai dengan Al-Quran dan Hadis maka hendaknya diterima.” (Scan kitab klik di sini)

    Demikianlah sekelumit data dari hasil penelitian obyektif pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah sebagai rujukan kaum wahabi. Tak ada sentimen pribadi yang melandasi tulisan ini. Kami hanya berharap semua pihak bisa menerima kebenaran secara obyektif, lalu tak ada lagi sikap cela-mencela di antara sesama muslim. Ibnu KhariQ

    sumber : http://www.forsansalaf.com/2011/wahabi-salafi-menentang-syeikh-ibnu-taimiyah/

  54. aswaja selalu mengatakan:

    Syeikhul Islam Imam Al-Hafiz As-Syeikh Ibnu Hajar Al-Asqolany yang hebat dalam ilmu hadith dan merupakan ulama hadith yang siqah dan pakar dalam segala ilmu hadith dan merupakan pengarang kitab syarah kepada Sohih Bukhari berjudul Fathul Bari beliau telah menyatakan kisah taubat Ibnu taimiah ini serta tidak menafikan kesahihannya dan ianya diakui olehnya sendiri dalam kitab beliau berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi ‘ayan Al-Miaah As-Saminah yang disahihkan kewujudan kitabnya oleh ulama-ulama Wahhabi juga termasuk kanak-kanak Wahhabi di Malaysia ( Mohd Asri Zainul Abidin).
    Kenyatan bertaubatnya Ibnu Taimiah dari akidah sesat tersebut juga telah dinyatakan oleh seorang ulama sezaman dengan Ibnu Taimiah iaitu Imam As-Syeikh Syihabud Din An-Nuwairy wafat 733H.
    Ini penjelasannya :
    Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya berjudul :
    Ad-Durar Al-Kaminah Fi “ayan Al-Miaah As-Saminah
    cetakan 1414H Dar Al-Jiel
    juzuk 1 m/s 148
    dan Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H :
    cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah
    juzuk 32 m/s 115-116
    dalam kitab berjudul Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab nasnya:
    أما تقي الدين فإنه استمر في الجب بقلعة الجبل
    إلى أن وصل الأمير حسام الدين مهنا إلى الأبواب السلطانية في شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة ، فسأل السلطان في أمره وشفع فيه ، فأمر بإخراجه ، فأخرج في يوم الجمعة الثالث والعشرين من الشهر وأحضر إلى دار النيابة بقلعة الجبل ، وحصل بحث مع الفقهاء ، ثم اجتمع جماعة من أعيان العلماء ولم تحضره القضاة ، وذلك لمرض قاضي القضاة زين الدين المالكي ، ولم يحضر غيره من القضاة ، وحصل البحث ، وكتب خطه ووقع الإشهاد عليه وكتب بصورة المجلس مكتوب مضمونه : بسم الله الرحمن الرحيم شهد من يضع خطه آخره أنه لما عقد مجلس لتقي الدين أحمد بن تيمية الحراني الحنبلي بحضرة المقر الأشرف العالي المولوي الأميري الكبيري العالمي العادلي السيفي ملك الأمراء سلار الملكي الناصري نائب السلطنة المعظمة أسبغ الله ظله ، وحضر فيه جماعة من السادة العلماء الفضلاء أهل الفتيا بالديار المصرية بسبب ما نقل عنه ووجد بخطه الذي عرف به قبل ذلك من الأمور المتعلقة باعتقاده أن الله تعالى يتكلم بصوت ، وأن الاستواء على حقيقته ، وغير ذلك مما هو مخالف لأهل الحق ، انتهى المجلس بعد أن جرت فيه مباحث معه ليرجع عن اعتقاده في ذلك ، إلى أن قال بحضرة شهود : ( أنا أشعري ) ورفع كتاب الأشعرية على رأسه ، وأشهد عليه بما كتب خطا وصورته : (( الحمد لله ، الذي أعتقده أن القرآن معنى قائم بذات الله ، وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية ، وهو غير مخلوق ، وليس بحرف ولا صوت ، كتبه أحمد بن تيمية . والذي أعتقده من قوله : ( الرحمن على العرش استوى ) أنه على ما قاله الجماعة ، أنه ليس على حقيقته وظاهره ، ولا أعلم كنه المراد منه ، بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، كتبه أحمد بن تيمية . والقول في النزول كالقول في الاستواء ، أقول فيه ما أقول فيه ، ولا أعلم كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، وليس على حقيقته وظاهره ، كتبه أحمد بن تيمية ، وذلك في يوم الأحد خامس عشرين شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة )) هذا صورة ما كتبه بخطه ، وأشهد عليه أيضا أنه تاب إلى الله تعالى مما ينافي هذا الاعتقاد في المسائل الأربع المذكورة بخطه ، وتلفظ بالشهادتين المعظمتين ، وأشهد عليه بالطواعية والاختيار في ذلك كله بقلعة الجبل المحروسة من الديار المصرية حرسها الله تعالى بتاريخ يوم الأحد الخامس والعشرين من شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة ، وشهد عليه في هذا المحضر جماعة من الأعيان المقنتين والعدول ، وأفرج عنه واستقر بالقاهرة
    Saya terjemahkan beberapa yang penting dari nas dan kenyataan tersebut: 1- ووجد بخطه الذي عرف به قبل ذلك من الأمور المتعلقة باعتقاده أن الله تعالى يتكلم بصوت ، وأن الاستواء على حقيقته ، وغير ذلك مما هو مخالف لأهل الحق
    Terjemahannya: “Dan para ulama telah mendapati skrip yang telah ditulis oleh Ibnu Taimiah yang telahpun diakui akannya sebelum itu (akidah salah ibnu taimiah sebelum bertaubat) berkaitan dengan akidahnya bahawa Allah ta’ala berkata-kata dengan suara, dan Allah beristawa dengan erti yang hakiki (iaitu duduk) dan selain itu yang bertentangan dengan Ahl Haq (kebenaran)”.
    Saya mengatakan : Ini adalah bukti dari para ulama islam di zaman Ibnu Taimiah bahawa dia berpegang dengan akidah yang salah sebelum bertaubat daripadanya antaranya Allah beristawa secara hakiki iaitu duduk.
    Golongan Wahhabiyah sehingga ke hari ini masih berakidah dengan akidah yang salah ini iaitu menganggap bahawa Istiwa Allah adalah hakiki termasuk Mohd Asri Zainul Abidin yang mengatakan istawa bermakna duduk cuma bagaimana bentuknya bagi Allah kita tak tahu. lihat dan dengar sendiri Asri sandarkan DUDUK bagi Allah di : http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/06/asri-menghidupkan-akidah-yahudi-allah.html .
    Sedangkan ibnu Taimiah telah bertaubat dari akidah tersebut.
    2- قال بحضرة شهود : ( أنا أشعري ) ورفع كتاب الأشعرية على رأسه
    Terjemahannya: ” Telah berkata Ibnu Taimiah dengan kehadiran saksi para ulama: ‘ Saya golongan Asy’ary’ dan mengangkat kitab Al-Asy’ariyah di atas kepalanya ( mengakuinya)”.
    Saya mengatakan :
    Kepada Wahhabi yang mengkafirkan atau menghukum sesat terhadap Asya’irah, apakah mereka menghukum sesat juga terhadap Syeikhul islam mereka sendiri ini?! Siapa lagi yang tinggal sebagai islam selepas syeikhul islam kamu pun kamu kafirkan dan sesatkan?! Ibnu Taimiah mengaku sebagai golongan Asy’ary malangnya Wahhabi mengkafirkan golongan Asya’ry pula, rujuk bukti Wahhabi kafirkan golongan As’y’ary :http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/hobi-wahhabi-kafirkan-umat-islam.html.
    3- والذي أعتقده من قوله : ( الرحمن على العرش استوى ) أنه على ما قاله الجماعة ، أنه ليس على حقيقته وظاهره ، ولا أعلم كنه المراد منه ، بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، كتبه أحمد بن تيمية
    Terjemahan khot tulisan Ibnu Taimiah dihadapan para ulama islam ketika itu dan mereka semua menjadi saksi kenyataan Ibnu Taimiah : ” Dan yang aku berpegang mengenai firman Allah ‘Ar-Rahman diatas Arasy istawa’ adalah sepertimana berpegangnya jemaah ulama islam, sesungguhnya ayat tersebut bukan bererti hakikatnya(duduk) dan bukan atas zohirnya dan aku tidak mengetahui maksud sebenar-benarnya dari ayat tersebut bahkan tidak diketahui makna sebenr-benarnya dari ayat tersebut kecuali Allah.Telah menulis perkara ini oleh Ahmad Ibnu Taimiah”.
    Saya mengatakan:
    Ibnu Taimiah telah bertaubat dan mengatakan ayat tersebut bukan atas zohirnya dan bukan atas hakikinya iaitu bukan bererti Allah duduk mahupun bertempat atas arash.
    ( Bukti Ibnu Taimiah pernah dahulunya berpegang dengan akidah salah: ‘Allah Duduk’
    sila rujuk: http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/penjelasan1-allah-duduk-atas-arasy.html ).
    Malangnya kesemua tok guru Wahhabi sehingga sekarang termasuk Al-Bani, Soleh Uthaimien, Bin Baz dan kesemuanya berpegang ayat tersebut secara zohirnya dan hakikatnya (duduk dan bertempat atas arasy). Lihat saja buku-buku mereka jelas menyatakan sedemikian. Maka siapakah syeikhul islam sekarang ini disisi Wahhabiyah atau adakah syeikhul islam anda wahai Wahhabi telah kafir disebabkan taubatnya?!
    4- وأشهد عليه أيضا أنه تاب إلى الله تعالى مما ينافي هذا الاعتقاد في المسائل الأربع المذكورة بخطه ، وتلفظ بالشهادتين المعظمتين
    Terjemahannya berkata Imam Nuwairy seperti yang dinyatakan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany : ” Dan aku antara saksi bahawa Ibnu Taimiah telah bertaubat kepada Allah daripada akidah yang salah pada empat masaalah akidah yang telah dinyatakan, dan Ibnu Taimiah telah mengucap dua kalimah syahadah(bertaubat daripada akidah yang salah pernah dia pegangi terdahulu)”.
    Saya mengatakan:
    Ibnu Taimiah telah memeluk islam kembali dengan mengucap dua kalimah syahadah dan mengiktiraf akidahnya sebelum itu adalah salah dan kini akidah yang salahnya itu pula dipegang oleh golongan Wahhabiyah.
    Maka bilakah pula golongan Wahhabiyah yang berpegang dengan akidah yang salah tersebut akan memluk agama islam semula seperti yang dilakukan oleh rujukan utama mereka yang mereka sendiri namakan sebagai Syeikhul Islam?!.
    Jadikan qudwah dan ikutan Ibnu Taimiah dalam hal ini wahai Wahhabiyah!.
    Ayuh! bertaubatlah sesungguhnya kebenaran itu lebih tinggi dari segala kebatilan. Pintu taubat masih terbuka bagi Wahhabi yang belum dicabut nyawa.
    ULAMA-ULAMA YANG MENYATAKAN DAN MENYAKSIKAN KISAH TAUBATNYA IBNU TAIMIAH.
    Selain Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi “ayan Al-Miaah As-Saminah cetakan 1414H Dar Al-Jiel juzuk 1 m/s 148
    dan Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah juzuk 32 m/s 115-116 dalam kitab berjudul Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab yang menyatakan kisah taubat Ibnu Taimiah ramai lagi ulama islam yang menyaksikan dan menceritakan kisah pengakuan tersebut antaranya lagi :
    -As-Syeikh Ibnu Al-Mu’allim wafat tahun 725H dalam kitab Najmul Muhtadi Wa Rojmul Mu’tadi cetakan Paris nom 638.
    -As-Syeikh Ad-Dawadai wafat selepas 736H dalam kitab Kanzu Ad-Durar – Al0Jam’-239.
    -As-Syeikh Taghry Bardy Al-Hanafi bermazhab Hanafiyah wafat 874H dalam Al-Minha As-Sofi m/s576 dan beliau juga menyatakn sepertimana yang dinyatakan nasnya oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya yang lain berjudul An-Nujum Az-Zahirah Al-Jami’ 580.
    Merekalah dan selain mereka telah menyatakan taubat Ibnu Taimiah daripada akidah Allah Duduk dan bertempat di atas arasy.
    Kata-kata akhirku dalam penerangan kajian ringkas berfakta ini..
    Wahai Wahhabiyah yang berakidah Allah Duduk di atas arasy. Itu adalah akidah kristian kafir dan yahudi laknat (Rujuk bukti :http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/penjelasan1-allah-duduk-atas-arasy.html . Berpeganglah dengan akidah salaf sebenar dan khalaf serta akidah ahli hadith yang di namakan sebagai akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah iaitu Allah tidak memerlukan kepada mana-mana makhlukNya termasuk tempat dilangit mahupun tempat di atas arasy. Semoga Allah merahmati hambaNya yang benar-benar mencari kebenaran.

    sumber : http://salafytobat.wordpress.com/2008/10/16/bukti-ibnu-taymiyah-dan-al-bany-taubat-dari-aqidah-sesat/

    KALAU TETAP TIDAK MENGAKUI ARTIKEL YG SAYA TAMPILKAN, ENTE-2 PARA WAHABI KAN DIAJARKAN TABAYYUN, YAITU CROSS CHECK DAHULU…NAH CHECK DAH TUH SUMBER-2 PADA ARTIKEL TSB, KITAB-2 PARA ULAMA YG DITAMPILKAN….SIMPLE KAN???

  55. abisyakir mengatakan:

    @ aswaja selalu…

    Dengan kemurahan Allah dan karunia-Nya, kalau ada surat resmi dari PBNU atau Habib Munzir, lalu mengajak diskusi dalam forum terbuka secara obyektif dan “tidak menghakimi”, insya Allah saya akan mengatakan: Ahlan Wa Sahlan! Kalau Anda serius, sampaikan proposal Anda ke penerbit. Insya Allah mereka akan menyikapi dengan baik.

    AMW.

  56. abisyakir mengatakan:

    @ Si Fulan…

    1. Sayang sekali Anda memakai sebutan anonymous. Padahal apa susahnya memakai suatu sebutan? Seolah, tangan Anda tidak diberi kekuatan untuk bersikap jujur, meski minimal sekali.

    2. Acara haul, pembangunan gedung, benda-benda yang dipakai Syaikh Al Utsaimin. Pertanyaan: “Kapan semua itu dilakukan? Apakah ketika Al Utsaimin masih hidup, atau sesudah wafat?” Beliau itu sangat tawadhu’, sehingga mustahil semasa hidupnya akan mau diagung-agungkan seperti itu.

    3. Acara haul itu untuk apa? Untuk pemujaan kah? Untuk mencari berkah-kah? Untuk tawassul dengan sosok Al Utsaimin kah? Dan seterusnya. Haul itu lebih ke acara ilmiah, untuk sharing, diskusi, atau memikirkan cara-cara melestarikan peninggalan ilmiah Syaikh.

    4. Bagaimana dengan pemujaan kaum Shufi, NU, Habaib, terhadap sosok Gusdur? Apakah pembangunan komplek makam 180 miliar di Jombang itu bersifat ilmiah, sejarah, atau ritual komplek?

    Semoga Anda bisa berpikir jernih, sehingga tidak dikendalikan nafsu kebencian melulu. Amin.

    AMW.

  57. aswaja selalu mengatakan:

    Islam sama sekali tak bisa dilepaskan dari sosok Baginda Nabi SAW. Beliau adalah insan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia dengan agama yang sempurna ini. Tiada sosok yang patut diagungkan di muka bumi melebihi Baginda Nabi SAW. Segenap keindahan fisik dan budi pekerti terdapat dalam figur Baginda Rasulullah SAW. Mencintai Baginda Nabi SAW adalah bagian dari mencintai Allah SWT. Beliau bersaba:

    مَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ وَمَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطاَعَ اللهَ
    “Barangsiapa mencintaiku, maka ia benar-benar telah mencintai Allah SWT. Barangsiapa menaatiku, maka ia benar-benar telah taat kepada Allah SWT.”

    Cinta haruslah disertai dengan penghormatan dan pengagungan. Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan manusia agar mengagungkan sosok Baginda Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

    إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ
    “Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya dan mengagungkan Rasul-Nya.”

    Cinta para sahabat kepada Baginda Rasul SAW adalah cinta yang patut diteladani. Dalam hadits-hadits disebutkan bagaimana para sahabat saling berebut bekas air wudhu Baginda Nabi SAW. Meski hanya tetesan air, namun air itu telah menyentuh jasad makhluk yang paling dekat dengan Sang Pencipta. Karena itulah mereka begitu memuliakannya dan mengharap berkah yang terpendam di dalamnya. Ketika Baginda Nabi SAW mencukur rambut, para sahabat senantiasa mengerumuni beliau. Mereka ingin mendapatkan potongan rambut beliau meski sehelai. Dengan rambut itu mereka hendak mengenang dan mengharap berkah Nabi SAW. Demikianlah rasa cinta para sahabat kepada Baginda Nabi SAW.

    Primitif

    Apa yang berlaku saat ini di Bumi Haramain adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan kaidah cinta. Di sana orang-orang Wahabi mengaku mencintai Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sama sekali tidak menghormati beliau SAW. Mereka bahkan melecehkan beliau dan melakukan perbuatan yang teramat tidak pantas kepada sosok sebesar beliau. Bayangkan saja, rumah yang ditempati beliau selama 28 tahun, yang semestinya dimuliakan, mereka ratakan dengan tanah kemudian mereka bangun di atasnya toilet umum. Sungguh keterlaluan!

    Fakta ini belakangan terkuak lewat video wawancara yang tersebar di Youtube. Adalah Dr. Sami bin Muhsin Angawi, seorang ahli purbakala, yang mengungkapkan fakta itu. Dalam video berdurasi 8:23 menit itu, ia mengungkapkan bahwa ia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk mencari situs rumah Baginda Nabi SAW. Setelah berhasil, ia menyerahkan hasil penelitiannya kepada pihak yang berwenang.

    Respon pihak berwenang Arab Saudi ternyata jauh dari perkiraan pakar yang mengantongi gelar Doktor arsitektur di London itu. Bukannya dijaga untuk dijadikan aset purbakala, situs temuannya malah mereka hancurkan. Ketika ditanya oleh pewawancara mengenai bangunan apa yang didirikan di atas lahan bersejarah itu, Sami Angawi terdiam dan tak mampu berkata-kata. Si pewawancara terus mendesaknya hingga akhirnya ia mengakui bahwa bangunan yang didirikan kelompok Wahabi di atas bekas rumah Baginda Nabi SAW adalah WC umum. Sami Angawi merasakan penyesalan yang sangat mendalam lantaran penelitiannya selama bertahun-tahun berakhir sia-sia. Ia kemudian mengungkapkan harapannya, “Kita berharap toilet itu segera dirobohkan dan dibangun kembali gedung yang layak. Seandainya ada tempat yang lebih utama berkahnya, tentu Allah SWT takkan menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal Rasul SAW dan tempat turunnya wahyu selama 13 tahun.”

    Ulah jahil Wahabi itu tentu saja mengusik perasaan seluruh kaum muslimin. Situs rumah Baginda Nabi SAW adalah cagar budaya milik umat Islam di seluruh penjuru dunia. Mereka sama sekali tidak berhak untuk mengusik tempat terhormat itu. Ulah mereka ini kian mengukuhkan diri mereka sebagai kelompok primitif yang tak pandai menghargai nilai-nilai kebudayaan. Sebelum itu mereka telah merobohkan masjid-masjid bersejarah, di antaranya Masjid Hudaybiyah, tempat Syajarah ar-Ridhwan, Masjid Salman Alfarisi dan masjid di samping makam pamanda Nabi, Hamzah bin Abdal Muttalib. Pada tanggal 13 Agustus 2002 lalu, mereka meluluhkan masjid cucu Nabi, Imam Ali Uraidhi menggunakan dinamit dan membongkar makam beliau.

    Selama ini kelompok Wahabi berdalih bahwa penghancuran tempat-tempat bersejarah itu ditempuh demi menjaga kemurnian Islam. Mereka sekadar mengantisipasi agar tempat-tempat itu tidak dijadikan sebagai ajang pengkultusan dan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kemusyrikan. Akan tetapi dalih mereka agaknya kurang masuk akal, sebab nyatanya mereka berupaya mengabadikan sosok Syekh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, salah seorang tokoh pentolan mereka. Mereka mendirikan sebuah bangunan yang besar dan mentereng untuk menyimpan peninggalan-peninggalan Syekh al-Utsaimin. Bandingkan perlakuan ini dengan perlakuan mereka kepada Baginda Nabi SAW. Mereka merobohkan rumah Baginda Nabi SAW dan menjadikan tempat yang berkah itu sebagai WC umum, kemudian membangun gedung megah untuk Al-Utsaimin. Siapakah sebetulnya yang lebih mulia bagi mereka? Baginda Rasulullah SAW ataukah Syekh al-Utsaimin?

    Bangunan berdesain mirip buku itu dibubuhi tulisan “Yayasan Syeikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.” Di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan Syekh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena. Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi keterangan semisal, “Pena terakhir yang dipakai Syekh al-Utsaimin.”

    Sungguh ironis, mengingat mereka begitu getol memberangus semua peninggalan Baginda Nabi SAW. Ulama mereka bahkan mengharamkan pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi SAW. Beruntung, sebagian benda peninggalan beliau telah dipindahkan ke Turki.

    Haul Wahabi

    Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh al-Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk Syekh al-Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim.” Betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini.

    ‘Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin,” ujarnya.

    Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:

    وَاللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ
    “Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

    Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.)

    Sungguh benar Baginda Nabi SAW. yang dalam salah satu hadits beliau mengisyaratkan bahwa akan ada fitnah (Wahabi) yang bakal muncul dari Najed. Isyarat itu menjadi nyata semenjak munculnya Muhammad bin Abdul Wahab dari Najed yang dengan bantuan kolonial Inggris mencabik-cabik syariat Islam.

    Syekh Utsaimin adalah salah satu penerus Muhammad bin Abdul Wahab. Ia juga gencar menyebarkan fitnah lewat tulisan-tulisannya. Salah satu fitnah itu seperti tertera di dalam karyanya, al-Manahi al-Lafdziyyah hal 161. Di situ ia menulis:

    وَلاَ أَعْلَمُ إِلىَ سَاعَتيِ هَذِهِ اَنَّهُ جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَفْضَلُ اْلخَلْقِ مُطْلَقاً فيِ كُلِّ شَئٍْ
    “Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhammad adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.” Agaknya kalimat inilah yang membuat penganut Wahabi lebih mengagungkan Utsaimin dari pada Baginda Rasulullah SAW….! Ibnu KhariQ

    Sumber :
    Majalah Cahaya Nabawiy edisi 96 Juli 2011/Sya’ban 1432 H

    UNTUK GAMBAR YG TIDAK BISA DITAMPILKAN DI SINI, SILAHKAN KUNJUNGI LINK : http://www.forsansalaf.com/2011/di-balik-pemujaan-wahabi/

  58. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Syibr…

    Ada kecenderungan baru dari kalangan anti Wahabi ini. Mereka sekarang menjadi “kreatif” dengan memutar-balikkan nukilan-nukilan kalimat, yang diklaim dari kitab Ibnu Taimiyyah, dll. Dan kerap kali, mereka mengutip kalimat dari pihak-pihak yang dibantah Ibnu Taimiyyah, lalu diklaim hal itu sebagai pendapat Ibnu Taimiyyah. Orang-orang BEGINIAN cara mainnya makin jauh dari kebenaran dan kejujuran.

    Saya pernah mengecek sebagian kutipan Syaikh Idahram yang diklaim dari Ibnu Taimiyyah di Maktabah Syamilah. Ternyata tidak ada. Nanti mereka klaim lagi, penerbitnya yang memalsukan kitab. Ya, begitu deh. Hidup mereka dijalani untuk membenci sesama Muslim, seperti tabiat kaum Syiah.

    AMW.

  59. abisyakir mengatakan:

    @ Daans…

    “Ziarah kubur” dengan “ziarah masjid Nabi” tidak beda?ckckck….
    kenapa diganti denga redaksi ziarah masjid nabawi?ya jelas, karena al-Nawawi membolehkan ziaroh kubur. sementara wahabi membid’ahkan. hadeeeeeuh…

    Respons: Iya, pasti itu. Ziarah kubur beda dengan Ziarah Masjid Nabi. Itu beda. Tetapi masalahnya, pengubahan kalimat/judul itu apakah layak disebut: MEMALSUKAN KITAB? Anda paham tidak sih, bagaimana yang disebut memalsukan kitab itu?

    kapan anda punya waktu untuk diskusi di forum terbuka?wahabiyun emang sukanya cuma ngemeng via blog dan buku2 tidak ilmiah. Contoh kongkret, Ali Mahrus ditantang debat terbuka di IAIN Sunan Ampel aja tidak datang. Kapan2 kita bedah 2 buku (punya idahram sama yang ini) di forum terbuka. Saya siap memediasi dengan tokoh2 teras NU dengan kelompok anda untuk mendiskusikan dua buku di atas.

    Respons: Thaiyib, saya tunggu mediasi Anda. Silakan buat konsepnya, kirimkan ke email penerbit (biar nanti dikirim ke saya). Jangan lupa hubungi penerbit ya. Saya tunggu mediasi Anda.

    AMW.

  60. Liong mengatakan:

    heleh, yg ngomong disini ngajak2 debat terbuka. Ga usah bawa Ulama2 NU deh utk menyalurkan kedengkian kalian. Mereka ga sesombong kalian. Kalian saja org2 tak berilmu maunya nantang debat mulu. Para Ulama tau bahwa perdebatan itu sia2.

    Sy cerita dikit ya; sy kebetulan org yg tidak melaksanakan pengkhususan doa utk mayit pd hari,3,7,100,dst (wahabikah sy?). kebetulan sy sedang kul di sebuah kota di Jatim. Sy sempat mengaji ilmu waris (syg sy cupu jd blm nyantol ilmunya) & bulughul maram dari seorang ulama NU yg tawadhu (kt teman beliau adalah tngn kanan Ulama Besar NU yg dikatakan moderat oleh Pak AMW). Bahkan kajianny dilaksanakan di masjid yg notabene dipenuhi saudara2 yg berpakaiannya di atas mata kaki (ini wahabi jg ga menurut kalian?) dan di sana sering diadakn kajian berdasarkan kitab2 ulama yg kalian sebut wahabi (Utsaimin,Albani,dll). Saat beliau qunut subuh, ya sebagian ada yg mengikuti sebagian ada yg tidak. Jamaahnya tenang2 saja, damai2 saja tuh. Di masjid lain yg tidak jauh, juga notabene bnyk jamaah (wahabi?), yg jadi Imam sholat shubuh adalah org yg berqunut, knp?Karna beliaulah org yg lbh baik bacaanny & senior di waktu shubuh itu (klo di waktu2 yg lain beliau tdk ada, sibuk). Ga pernah ad ribut2 tuh. Walau memang beliau tdk setiap subuh berqunut.
    Kebetulan skrg sy pindah kontrakan, agk jauh dari 2 masjid tersebut jd tdk sering shlt jamaah & ngaji lg disana..

    Mengenai buku syaikh idahram (atau marhadi ya?) sudah di bedah di kota ini. Bisa di buka di situs gensyiah.com ringkasannya. Dia itu tidak dikenal, ga bisa dijadiin sandaran.
    Trims juga utk Pak AMW utk bukunya. Jazakallahu khoir

    utk Si Fulan and aswaja
    ga usah copy-paste di sini, menuh2in komen. Org2 yg berilmu mah udah tau.

    Btw, utk yg pengen debat terbuka klo kira2 ada yg mau memfasilitasi kalian berdebat di kota ini kalian mau ga kira2? Klo ada yg mau memfasilitasi sih, hehe :)

  61. Liong mengatakan:

    mf sy menjilat ludah sendiri mengatakan tidak akan membalas komen lagi.. gerah jg membaca komen mnjelek2an ulama

  62. aswaja selalu mengatakan:

    @liong…..

    loh kan ente-2 yg membantah , misal Habib Munzir spt di firanda, kyai NU ini itu banyak jeleknya….faham ahlul sunnah NU buruk, menurut wahabi, nah kenapa tidak konfirmasi langsung kepada para habib kalo mereka salah menurut ente para wahabi ???

    copas saya tampilkan terkait dg ini juga dong, misal Ibnu Taimiyah yg jadi sandaran Wahabi, Syaikh Adz Zahabi juga, Syaikh Utsmainin , nah kan tinggal cross cek aja, bener ga artikel-2 tsb membantah akidah ente-2 para wahabi niiihhhh….tinggal BER-TABAYYUN aja kan? tampilkan dimana salahnya menurut ente-2 semua nih….

    makanya dari pada ente-2 pada dikit-2 ini itu bid’ah, kenapa tidak buat diskusi kepada para ulama Ahlul Sunnah? kalo menurut ente mereka keliru, alamat NU sudah jelas, alamat MUI jelas, alamat Habib Munzir jelas, apalagi yg ditunggu?? coba luruskan mereka yg menurut ente banyak berbuat Bid’ah….

  63. abisyakir mengatakan:

    @ Daans…

    Wah, payah nih orang. Dalam Al Qur’an itu disebutkan setidaknya 6 ayat, bahwa Allah ISTIWA’ di atas Arasy. Disini saya sebutkan ya ayatnya…silakan diperhatikan…

    إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ
    (Al A’raaf: 54).

    إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ
    (Yunus: 3).

    اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ
    (Ar Ra’du: 2).

    الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا
    (Al Furqan: 59).

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
    (As Sajadah: 4).

    هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا
    (Al Hadid: 4).

    Ayat-ayat ini AMAT SANGAT JELAS. Ini bukan ajaran Wahabi, tetapi ajaran QUR’ANI. Hanya saja, oleh manusia-manusia yang menuhankan akalnya, mereka tak kuat menerima ayat-ayat ini. Mereka butuh takwil macam-macam, karena mereka MENSYARATKAN AKAL-nya dalam penghambaan kepada Allah. Kalau mereka disuruh ikhlas ibadah, susah sekali. Syaratnya, ayat harus cocok dulu dengan akal.

    Inilah manusia-manusia sesat yang telah membuat SYARAT-SYARAT dalam keimanannya kepada Allah. Ketika ada ulama yang salah dalam hal ini, bukan berlepas diri, malah menjadikan kesalahan itu sebagai dalil.

    AMW.

  64. aswaja selalu mengatakan:

    @liong….awas ntar jadi anjing loh, pake jilat-2an…..

  65. abisyakir mengatakan:

    @ aswaja selalu…

    Dengan memohon karunia Allah dan keadilan dari-Nya…meskipun saya tidak mengklaim sebagai orang Wahabi, dengan memohon karunia Allah: Saya bersedia berdiskusi terbuka terkait buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi” dengan Said Aqil Siradj, Arifin Ilham, Syaikh Idahram, Habib Mundir, Ketua PWNU Jatim, atau yang semisal itu. Asalkan, dialog bersifat obyektif, terbuka, dan adil. Itu saja syarat yang diajukan. Mohon Anda tempuh cara-cara formal, layaknya orang sekolahan. Terimakasih.

    AMW.

  66. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir

    Lafadz ini :

    إن الجنة تحت أقدام الأمهات

    “Sesungguhnya surga itu ada dibawah telapak kaki para ibu”

    Ini adalah dho’if sebagaimana dikatakan oleh Al Albani, akan tetapi maknanya adalah shohih dan tetap di dalam hadits yang lain, yaitu sabda beliau صلى الله عليه وسلم kepada seseorang yang datang untuk meminta izin ikut berperang bersama beliau sedangkan beliau mempunyai seorang ibu :

    الزمها، فإن الجنة عند رجلها

    “Tetaplah bersamanya, sesungguhnya surga itu ada dibawah kakinya”.

    Hadits ini terdapat dalam Al Musnad, Sunan An Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dan hadits ini hasan shohih sebagaimana dikatakan oleh Al Albani dalam “Shohih At Targhib”.

    kan katanya wahabi anti takwil nih, jadi benar ga kalu Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu ? coba tengok deh di bawah kaki ibu ente ada syuga ga ????

  67. Liong mengatakan:

    ada buku “Abu l-Hasan Al-Asy’ari Imam Yang Terdzalimi”, pengantarnya ditulis KH. Cholil Ridwan, Ketua MUI pusat bidang Dakwah. mungkin bisa dibaca utk menambah wawasan daripada membaca buku idahram

  68. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir,

    langsung aja kang undang pihak-2 terkait, misal Pak Said Agil, Ustadz Arifin Ilham yg pernah referensi buku Syaikh Idahram, Habib Munzir dll, saya cuma ummat biasa, gampang kan? alamat mereka sudah jelas kan???? buat dong undangan formal dari ente & para penulis/penerbit buku ini……masa’ saya yg undang, formalnya bukan begitu & cara anak sekolahan pun harusnya dari si pembuat/penerbit buku yg undang kalo mau launching buku, bikin pengumuman di blog ente, kapan dilaunching, dimana, jam berapa, siapa pembicaranya, siapa saja yg diundang ( yg telah dikonfirmasi bisa hadir ), juga forward ke blog-2 sawah lainnya, blog-2 aswaja: forsansalaf.com, ummatipress.com, salafytobat, artikelislami dll, siarkan juga keseluruh radio wahabi & ahlul sunnah…insya Alloh acara sukses, begitu cara anak sekolahan yg baik membuat acara….

  69. abisyakir mengatakan:

    @ aswaja selalu…

    padahal beliau-2 ini sudah taubat dari kekeliruan mereka, Ibnu Taimiyah pun sudah bertaubat dan mengakui beliau pengikut Akidah Asy’ariyyah, jadi ??

    Respons: Yang begini ini hanya omong kosong yang dibuat-buat kaum anti Wahabi. Karena tidak ada bahan lagi, mereka buat-buat cerita “Ibnu Taimiyyah sudah taubat”.

    Untuk membantahnya, argumentasinya sbb.: Ibnu Taimiyyah sering keluar-masuk penjara. Terakhir beliau di Damaskus, mengajarkan ilmu dan metodenya. Seperti biasa, ketika pengaruh Ibnu Taimiyyah semakin besar, para penguasa kalap. Mereka jebloskan lagi Ibnu Taimiyyah ke sebuah penjara di benteng Damaskus. Namun, alhamdulillah. Meskipun dipenjara, beliau tetap konsisten mengajarkan ilmu melalui tulisan-tulisan. Para penguasa melakukan langkah dramatis yang membuat Ibnu Taimiyyah jatuh sakit, lalu tak lama kemudian wafat. Langkah itu ialah: beliau tak boleh bersentuhan dengan buku, kertas, dan pena. Inilah fitnah terakhir untuk membungkam Ibnu Taimiyyah. Beliau jatuh sakit, tak lama kemudian wafat.

    Kalau benar, Ibnu Taimiyyah bertaubat, lalu berakidah Asyariyyah, buat apa beliau sampai dipenjara? Buat apa beliau dilarang memegang kertas dan pena? Buat apa beliau jatuh sakit? Itu semua membuktikan, bahwa Ibnu Taimiyyah wafat dalam keadaan SANGAT TEGUH dengan akidah Tauhid Salafiyyah-nya.

    AMW.

  70. abisyakir mengatakan:

    @ aswaja selalu…

    Perhatikan wahai kaum Muslimin…

    Saat ini seringkali muncul modus-modus kecurangan di dunia ilmiah. Pelakunya, diindikasi orang Syiah, orang Shufi, pengikut Habib-habib, dsb. Fakta demikian sangat banyak, minimal dari buku-buku Syaikh Idahram, dari blog “abu salafy”, “ummati”, “artikel islam”, dan sejenisnya.

    Orang-orang seperti ini menjadi tantangan baru bagi kita. Namun ada satu kaidah yang perlu Anda ketahui, yaitu:

    “Jangan mudah percaya dengan tulisan-tulisan orang seperti ini, sebelum mereka tunjukkan buku karya asli yang dikutip, dan ditunjukkan di depan mata Anda.”

    Sebab orang-orang ini sudah kelihatan cara-cara curangnya. Jangan terkecoh oleh penampilan yang “seolah ilmiah”.

    Ingat pesan di atas.

    AMW.

  71. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir,

    saya bilang gampang kang, cek aja kitab-2 menerangkan ke-taubatan Ibnu Taimiyah, simple kan??? kan disitu dah ditampilkan, kalo ente komen ga pake bukti otentik yaaaahhh omdo aja dooongggg

  72. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir,

    di salafytobat kan ada bukti scan kitab, dari samplu sampe isi, ayo dong cek langsung scan-2 kitab tsb, baru komen panjang lebar……ayo ber TABAYYUN….ayo cross check….

  73. abisyakir mengatakan:

    @ aswaja selalu…

    Thaiyib, nanti saya lihat ya dari referens yang ada disini. Tapi Anda perlu baca juga penjelasan ini:

    Ibnu Taimiyyah sering keluar-masuk penjara. Terakhir beliau di Damaskus, mengajarkan ilmu dan metodenya. Seperti biasa, ketika pengaruh Ibnu Taimiyyah semakin besar, para penguasa kalap. Mereka jebloskan lagi Ibnu Taimiyyah ke sebuah penjara di benteng Damaskus. Namun, alhamdulillah. Meskipun dipenjara, beliau tetap konsisten mengajarkan ilmu melalui tulisan-tulisan. Para penguasa melakukan langkah dramatis yang membuat Ibnu Taimiyyah jatuh sakit, lalu tak lama kemudian wafat. Langkah itu ialah: beliau tak boleh bersentuhan dengan buku, kertas, dan pena. Inilah fitnah terakhir untuk membungkam Ibnu Taimiyyah. Beliau jatuh sakit, tak lama kemudian wafat.

    Kalau benar, Ibnu Taimiyyah bertaubat, lalu berakidah Asyariyyah, buat apa beliau sampai dipenjara? Buat apa beliau dilarang memegang kertas dan pena? Buat apa beliau jatuh sakit? Itu semua membuktikan, bahwa Ibnu Taimiyyah wafat dalam keadaan SANGAT TEGUH dengan akidah Tauhid Salafiyyah-nya.

    AMW.

  74. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir,

    siap kang, sama-2 cek yaaahhh, ayo kita sama-2 sekolaaaahhh…eh ber TABAYYUN…..

  75. Lukman Mubarok mengatakan:

    Syekh Nashiruddin Albani pernah mengeluh bukunya dicetak dengan diedit secara serampangan oleh penerbitnya. Jangan-jangan, koment anti wahabi yang dipoles seakan ilmiah juga berasal dari editan ngawur yang ingin memutarbalikkan fakta. Saya sering lho menjumpai buku kalangan yang mengaku aswaja tapi ternyata isinya editan ngawur terhadap kitab aslinya. Cek aja sendiri di toko buku

  76. aswaja selalu mengatakan:

    @lukman,

    kalo cuma komen begitu sih omdo aja dooong,

    kan saya sudah bilang, di artikel-2 tsb ditampillkan referensi kitab-2, scan-2 kitab-2….nah ente yg dah pernah menjumpai yg katanya editan ngawur, berarti dah ahli cek & ricek nih, sok mangga di cek bukti-2 pada artikel tsb….ayo TABAYYUN, jgn cuma omdo aja…ayo buktikan kalo scan-2 kitab-2 itu editan ngawur, ayo buktikan referensi kitab-2 itu ngawur…. jangan cuma bilang..”jangan-jangan………..

  77. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir

    Lafadz ini :

    إن الجنة تحت أقدام الأمهات

    “Sesungguhnya surga itu ada dibawah telapak kaki para ibu”

    Ini adalah dho’if sebagaimana dikatakan oleh Al Albani, akan tetapi maknanya adalah shohih dan tetap di dalam hadits yang lain, yaitu sabda beliau صلى الله عليه وسلم kepada seseorang yang datang untuk meminta izin ikut berperang bersama beliau sedangkan beliau mempunyai seorang ibu :

    الزمها، فإن الجنة عند رجلها

    “Tetaplah bersamanya, sesungguhnya surga itu ada dibawah kakinya”.

    Hadits ini terdapat dalam Al Musnad, Sunan An Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dan hadits ini hasan shohih sebagaimana dikatakan oleh Al Albani dalam “Shohih At Targhib”.

    kan katanya wahabi anti takwil nih, jadi benar ga kalu Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu ? coba tengok deh di bawah kaki ibu ente ada syuga ga ????

    YG ini bisa dijawab ???

  78. neil mengatakan:

    jd debat panjang yah…

    saya meyakini sepenuhnya manhaj salaf insyaalloh,
    namun saya termasuk yg krg suka klo ust2 salafi/murid2nya..menyebut nama tokoh/ormas tertentu dgn begitu jelasnya secara terbuka..bahwa org2 yg mrk kritik itu tlh menyimpang. Menurutku cukup ajarannya saja yg di kritik tanpa harus menyebutkan tokohnya.
    sy ngaji pada salah satu ust salafi di bandung…& sy melihat dia tdk menyebut tokoh/ormas tertentu…dia mencukupkan diri membantah ajarannya, namun bbrp murid2nya(yg suka nulis blog) kadang tdk berlaku sprt ustnya.
    kadang sy jg melihat kekurangan salafiyin dlm bbbrp hal, yg namanya manusia memang tak luput dari salah.
    manhaj salaf itu yg benar adalah ajarannya,
    yg bnyk kesalahan adalah kita pengikutnya.

    saya berharap ust2 salafi / para ikhwannya yg suka ngenet…berdakwah biasa saja, sebagaiman Rosululloh diawal dakwahnya…mencukupkan diri mengajak manusia mentauhidkan ALLOH tanpa menghajr/mentahzir/menghina/mencela berhala latta-uzza, para pembesar kafirun n musyrikun

    salafi di indonesia tdk kayak disaudi…disini masih al-ghuroba,
    jd dakwahlah sprt seorang al-ghuroba…..
    krn tahdzir itu…menurutku kayak hukum rimba.

    dakwah dgn mengkritik & menyebut secara terbuka tokoh2nya dlm kondisi sprt ini amatlah tdk hikmah & kurang maslahat.
    sy rasakan sendiri para kyai NU n habaib…betapa mrk semakin bencinya dgn salafi…
    kalo dakwah sprt diawal dakwahnya Rosululloh, tentunya kebencian para kyai NU, habaib, atau kelompok manapun yg salafi kritik tak akan separah ini.

    dikeluargaku bnyk yg jd kyai NU & kami cukup dekat dgn para habaib, jd saya bisa merasakan langsung pendapat mrk/perasaan ketersinggungan mrk yg dikritik sama orang salafi.
    tp hal ini justru membuatku berfikir…bagaimanapun setiap org pasti ingin di hargai.
    alangkah indahnya kalo salafiyin dlm mengkritik tokoh yg dianggap menyimpang dgn mendahulukan cara yg lembut(penuh sayang) n secara langsung.
    krn dlm menasehatipun ada cara & tahapannya.

    baru2 ini sy baca tulisan menarik dari ikhwan salafiyin yg ada muslim.or.id(yg menurutku mengharukan)…mengenai akhlaq…mrk mengakui diawal ngaji terlalu semangat n kebablasan
    jd org yg kebablasan/berlebihan sebetulnya adalah yg ilmunya msh sedikit atau dia yg terkena penyakit sombong & ta’asub

    org salafi jg sprt yg lainnya…ada yg baiknya, ada yg jeleknya
    ust2 salafi jg sprt ust/kyai yg lainnya…ada yg berlebihan atau kontradiktif antara ilmu n amalannya, namun ada juga yg penuh hikmah.

    yg penting bagi kita kembalikan segala sesuatunya menurut Qur’an & sunnah.
    hargai setiap orang sbgmn engkau ingin dihargai.
    berilah setiap penilaian dgn adil.
    & nasehatilah hanya kerusakannya saja dgn cara yg terbaik dan jangan sampai nasehat/kritikan itu melebar ke hal2 yg sebetulnya tdk ada kaitannya dgn permasalahan yg dikritisi.

  79. aswaja selalu mengatakan:

    @Neil,

    saya setuju sekali dg anda, dan anda adalah org dari kaum salafy yg paling lembut yg saya temui lewat blog.

    saya setuju kalau para salafy mengkritik dg lembut & hormat, spt hormat kita kepada orang tua kita. saya setuju sekali mengkritik langsung, ajak diskusi tentunya dg bahasa yg lembut, sopan & santun, kalau memang menurut salafy, pemahaman aswaja / kyai-2/ustadz/habib aswaja itu keliru, salah dan jgn dg cepat memberi label sesat, kaji sama-2, buktikan sama-2 dg sanad-2 shahih, dg sumber yg jelas dari Qur’an & Hadist yg bersanad kepada Rosululloh SAW, inilah pentingnya sanad.

    indah sekali pastinya akan ketemu titik temu, di manakah bedanya, yg kemudian bisa diluruskan, bukan mencari pemenang & pihak yg kalah, saya sangat menantikan hal itu terwujud.

    semoga……

  80. Lukman Mubarok mengatakan:

    @aswaja, coba anda buktikan scan kitab itu orisinil dan otentik atau tidak. Jangan sekali-kali menuduh orang lain berdusta dengan rekayasa penuh dusta. Itu dusta diatas dusta karena ulama sekaliber ibnu Taimiyah telah direkayasa dusta hingga akhir hayat beliau. Ayo jangan cuma mengandalkan maraji’ yang bisa diplintir. Bisa jadi sesat menyesatkan. Untung lewat internet, kalo debat terbuka mumkin kelabakan cari maraji’

  81. aswaja selalu mengatakan:

    @Lukman,

    dikasih artikel untuk di cek malah balik suruh cek……ente buktikan dulu….apa ga bisa cari-2 yg bisa dibuktikan????

  82. aswaja selalu mengatakan:

    @Lukman,

    contoh lah Kang Abisyakir, sbg pemilik blog mau akan cek juga kebenaran scan-2 kitab-2 yg ditampilkan…

  83. lukman mubarok mengatakan:

    Sungguh merinding tatkala membaca tulisan-tulisan tentang dimana Allah yang ditulis oleh Abu Salafy dan pemilik blog salafytobat. Karena tulisan-tulisan mereka penuh dengan tuduhan-tuduhan serta manipulasi fakta yang ada. Ternyata mulut-mulut mereka sangatlah kotor. Cercaan dan makian memenuhi tulisan-tulisan kedua orang ini yang pada hakekatnya mereka berdua takut menunjukkan hakekat mereka berdua. Begitulah kalau seseorang merasa berdosa dan bersalah takut ketahuan batang hidungnya. Allahul Musta’aan.

    Sesungguhnya apa yang mereka berdua perjuangkan hanyalah lagu lama yang telah dilantunkan oleh pendahulu-pendahulu mereka yang bingung sendiri dengan aqidah mereka.

    Maka pada kesempatan kali ini penulis mencoba mengungkapkan manipulasi fakta yang telah mereka lakukan dan mengungkap kerancuan cara berpikir kedua orang ini.

    Dan tulisan kali ini terkonsentrasikan pada pengakuan Abu Salafi cs bahwasanya aqidah mereka tentang dimana Allah adalah aqidah yang disuarakan oleh sebagian sahabat seperti Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu dan juga sebagian ulama salaf. Sebagaimana pengakuan mereka ini tercantumkan dalam : http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/ (dalam sebuah artikel yang berjudul : Ternyata Tuhan itu tidak di langit).

    Sebelum membantah pengakuan mereka tersebut maka kami akan menjelaskan tentang 3 point yang sangat penting yang merupakan muqoddimah (pengangtar) untuk membuktikan tipu muslihat mereka. Point-point tersebut adalah :
    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

    Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah di atas langit

    Keberadaan Allah di atas langit merupakan konsensus para ulama Islam. Bahkan telah dinukilkan ijmak mereka oleh banyak para ulama Islam. Diantara mereka:

    Pertama : Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)

    Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu –dan para tabi’in masih banyak-kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsyNya, dan kita beriman dengan sifat-sifatNya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

    Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)

    Beliau berkata :

    هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى

    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103)

    Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :

    “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395)

    Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)

    Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-‘Aniid Hal 25)

    Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)

    Beliau berkata :

    القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”.

    “Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami –dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai- bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
    (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
    Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185)

    Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254

    “Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:
    Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”

    Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :

    “باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”

    أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه

    ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى

    “Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”

    Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
    Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-‘uluw li Adz-Dzahabi 2/1284)

    Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)

    Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul

    ” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”

    وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

    “Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”

    Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-‘Uluw 2/1315)

    Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-‘Uluw 2/1315)

    Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)

    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….
    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-‘Uluw 2/1317)

    Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H)

    Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :

    Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”

    Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-‘Uluw 2/1321

    Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)

    Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod,

    “Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…

    dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-‘Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-‘Uluw 261)

    Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-‘Uluw 2/1306)

    Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)

    Berkata Ibnu Abi Hatim :

    “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:

    Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…

    Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

    Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,

    “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
    Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201

    Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)

    Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),

    “Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)

    Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :

    “Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)

    Beliau juga berkata :

    “Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)

    Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf

    Perkataan salaf dan para ulama mutaqoddimin yang menunjukan bahwa Allah berada di atas langit

    Adapun perkataan para ulama yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit maka sangatlah banyak. Perkataan mereka telah dikumpulkan oleh Al-Imam Al-Muhaddits Ad-Dzahabi As-Syafii dalam kitabnya Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al-‘Adziim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2414 dan http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2413 dua cetakan dengan dua pentahqiq yang berbeda) demikian juga kitab Al-Ijtimaa’ al-Juyuusy Al-islaamiyyah karya Ibnul Qoyyim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2835). Sungguh dua kitab ini telah mengumpulkan banyak sekali perkataan sahabat, para salaf, dan para ulama dari abad yang berbeda-beda dan dari madzhab yang berbeda-beda.

    Oleh karenanya tidak ada seorang ulama salafpun –apalagi para sahabat- yang perkataannya menunjukan bahwasanya Allah tidak berada di atas.

    Perkataan para ulama Asyaa’iroh yang mengakui Allah di atas langit

    Ternyata kita dapati bahwasanya sebagian pembesar madzhab Asyaa’iroh juga mengakui keberadaan Allah di atas langit. Sebagaimana hal ini telah ditegaskan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asmaa’ wa As-Sifaat (2/308)

    Beliau berkata, “Dan atsar dari salaf seperti hal ini (yaitu bahwasanya Allah berisitwa di atas ‘arsy -pent) banyak. Dan madzhab As-Syafii radhiallahu ‘anhu menunjukan di atas jalan ini, dan ini madzhab Ahmad bin Hanbal…Dan Abu Hasan Ali bin Ismaa’iil Al-‘Asy’ari berpendapat bahwasanya Allah melakukan suatu fi’il (perbuatan) di ‘arsy yang Allah namakan istiwaa’… Dan Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Mahdi At-Thobari dan juga para ahli nadzor bahwasanya Allah ta’aalaa di langit di atas segala sesuatu, ber-istiwa di atas ‘arsynya, yaitu maknanya Allah di atas ‘arsy. Dan makna istiwaa’ adalah tinggi di atas sebagaimana jika dikatakan “aku beristiwa’ di atas hewan”, “aku beristiwa di atas atap”, maknanya yaitu aku tinggi di atasnya, “Matahari beristiwa di atas kepalaku”

    Dari penjelasan Al-Imam Al-Baihaqi di atas nampak ;
    – Banyaknya atsar dari salaf tentang Allah di atas.
    – Ini merupakan madzhab As-Syafi’i dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal
    – Ini merupakan madzhab sebagian pembesar Asyaa’iroh seperti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abul Hasan At-Thobari.

    Pertama : Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah

    Merupakan perkara yang mengherankan bahwasanya diantara para ulama yang menyebutkan konsensus salaf tersebut adalah Imam besar kaum Asyaa’iroh yaitu Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari yang hidup di abad ke empat Hijriah. Dialah nenek moyang mereka, guru pertama mereka, sehingga merekapun berintisab (berafiliasi) kepada nama beliau menjadi firqoh Asyaa’iroh.
    Berkata Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:

    Ijmak kesembilan :

    Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ

    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).

    Dan Allah berfirman

    إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

    kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).

    Dan Allah berfirman

    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)

    Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya

    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

    Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4)

    Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234)

    Ini merupakan hikayat kumpulan perkataan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah

    ….

    Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman

    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)

    Dan Allah memiliki dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah memiliki wajah… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345)

    Kedua : Abu Bakr Al-Baaqillaani (wafat 403 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah

    “Jika dikatakan : Apakah kalian mengatakan bahwa Alla berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kepada Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”

    Beliau berkata, “Kalau seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …

    (Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-‘Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-‘Uluw 258))

    Ketiga : Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)

    Beliau berkata dalam kitabnyaAl-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)

    “Dan maksud Allah adalah Allah di atas langit, sebagaimana firmanNya, “Dan sungguh aku akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya adalah di atas muka bumi. Dan setiap yang di atas maka dia adalah samaa’. Dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- adalah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?”

    Oleh karenanya ana meminta Abu Abu Salafy Al-Majhuul dan pemilik bloig salafytobat untuk mendatangkan satu riwayat saja dari para sahabat atau para salaf dengan sanad yang shohih bahwasanya mereka mengingkari Allah berada di atas langit. Kalau mereka berdua tidak mampu mendatangkan satu riwayatpun maka ketahuilah bahwasanya aqidah yang mereka bawa hanyalah aqidah karangan mereka berdua sendiri dan merupakan wahyu dari syaitan.

    Tipu muslihat Abu Salafy

    Dari sini kita akan membongkar kedustaan Abu salafy yang berusaha menggambarkan kepada masa bahwasanya aqidah batilnya tersebut juga diyakini oleh para sahabat.

    Abu Salafi berkata :
    (http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/) ”

    Pegenasan Imam Ali as.

    Tidak seorang pun meragukan kedalaman dan kelurusan akidah dan pemahaman Imam Ali ibn Abi Thalib (karramalahu wajhahu/semoga Alllah senantiasa memuliakan wajag beliau), sehingga beliau digelari Nabi sebagai pintu kota ilmu kebanian dan kerasulan, dan kerenanya para sahabat mempercayakannya untuk menjelaskan berbagai masalah rumit tentang akidah ketuhanan. Imam Ali ra. berkata:

    كان ولا مكان، وهو الان على كان.

    ”Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang tetap seperti semula.”

    Beliau ra. juga berkata:

    إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته.

    ”Sesungguhnya Allah – Maha Tinggi- menciptakan Arsy untuk emnampakkan kekuasaan-Nya bukan sebagai tempat untuk Dzat-Nya.”[ Al Farqu baina al Firaq:333]

    Beliau juga berkata:

    من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود.

    ”Barang siapaa menganggap bahwa Tuhan kita terbatas/mahdûd[2] maka ia telah jahil/tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.”[ Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73, ketika menyebut sejarah Ali ibn Abi Thalib ra.] )) -demikian perkataan Abu Salafy-.

    Ini merupakan kedustaan Abu Salafy terhadap Ali Bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu. Hal ini akan jelas dari beberapa sisi:

    Pertama : Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syi’ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini). Al-Kulaini berkata:

    وَ رُوِيَ أَنَّهُ سُئِلَ ( عليه السلام ) أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ سَمَاءً وَ أَرْضاً فَقَالَ ( عليه السلام ) أَيْنَ سُؤَالٌ عَنْ مَكَانٍ وَ كَانَ اللَّهُ وَ لَا مَكَانَ

    Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam berkata, “Mana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat (Al-Kaafi 1/90 dalam بَابُ الْكَوْنِ وَ الْمَكَانِ)

    Ternyata memang aqidah orang-orang Asyaa’iroh semisal Abu salafy dan pemilik blog salafytobat cocok dengan aqidah orang-orang Syi’ah Rofidhoh dalam masalah dimana Allah. Karena memang orang-orang Rofidhoh beraqidah mu’tazilah, dan Asya’iroh dalam masalah dimana Allah sepakat dengan Mu’tazilah (padahal Mu’tazilah adalah musuh bebuyutan Asya’iroh, sebagaimana nanti akan datang penjelasannya).

    Atsar ini dibawakan oleh Al-Kulaini dengan tanpa sanad, bahkan dengan sighoh “Diriwayatkan” yang menunjukan lemahnya riwayat ini.

    Kedua : Demikian juga yang dinukil oleh Abu Salafy dari kitab Al-Farqu bainal Firoq karya Abdul Qohir Al-Baghdadi adalah riwayat tanpa sanad sama sekali.
    Abdul Qohir Al-Baghdadi berkata :

    “Mereka telah bersepakat bahwasanya Allah tidak diliputi tempat dan tidak berlaku waktu baginya, berbeda dengan perkataan orang-orang yang menyangka bahwasanya Allah menyetuh ‘Arsy-Nya dari kalangan Hasyimiyyah dan Karroomiyyah. Amiirul Mukminin Ali –radhiollahu ‘anhu- berkata : Sesungguhnya Allah telah menciptakan Al-‘Arsy untuk menunjukan kekuasaanNya dan bukan untuk sebagai tempat yang meliputi dzatNya. Beliau berkata juga : Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat, dan Allah sekarang sebagaimana Dia dulu” (Al-Farqu baynal Firoq hal 33)

    Para pembaca yang budiman, ternyata riwayat-riwayat dari Ali bin Abi Tholib yang dibawakan oleh Abdul Qohir Al-baghdadi tanpa ada sanad sama sekali. Dan hal ini tentunya diketahui oleh Abu Salafy cs, akan tetapi mereka tetap saja menampilkan riwayat-riwayat dusta dan tanpa sanad ini demi untuk mendukung aqidah mereka yang bathil

    Ketiga : Selain riwayat-riwayat tersebut tanpa sanad ternyata Abdul Qohir Al-Baghdadi sama sekali tidak dikenal sebagai seorang Muhaddits, namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits

    Keempat : Abdul Qohir Al-Baghadadi tentunya lebih rendah kedudukannya daripada kedudukan super gurunya yaitu Abul Hasan Al-‘Asy’ari

    Kelima : Kalau seandainya riwayat-riwayat di atas shahih maka tidak menunjukan bahwasanya Ali bin Abi Tholib mengingkari adanya Allah di atas langit. Paling banter dalam riwayat-riwayat di atas beliau –radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat, dan pernyataan tersebut adalah pernyataan yang benar.

    Ahlus sunnah tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang meliputi Allah, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya Allah berada di atas, yaitu di arah atas.

    Jangan disamakan antara tempat dan arah

    Adapun penjelasan maksud dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah berada di atas, maka melalui point-point berikut ini:

    1- Ketinggian itu ada dua, ada ketinggian relatif dan ada ketinggian mutlaq. Adapun ketinggan relatif maka sebagaimana bila kita katakana bahwasanya lantai empat lebih tinggi daripada lantai satu, akan tetapi hal ini relatif, karena ternyata lantai empat lebih rendah daripada lantai enam.

    2- Adapun ketinggian mutlak adalah ketinggian kearah atas. Semua manusia di atas muka bumi ini bersepakat bahwasanya semakin sesuatu ke arah atas maka semakin tinggilah sesuatu tersebut. Maka jadilah poros bumi sebagai titik nol pusat kerendahan, dan semakin ke arah atas (yaitu ke arah langit) maka berarti semakin kearah yang tinggi. Oleh karenanya sering juga kita mendengar perkataan para fisikawan “Tinggi gunung ini dari permukaan tanah…. atau dari permukaan air laut..”. Oleh karenanya kita harus paham bahwasanya langit senantiasa letaknya di atas. Taruhlah jika kita sedang berada di bagian bumi bagian selatan, maka langit pada bagian bumi selatan adalah di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi utara juga berada di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi barat dan langit pada bagian bumi timur.

    3- Apa yang ada dalam alam wujud ini hanyalah ada dua, Kholiq (yiatu Allah) dan alam semesta (yaitu seluruh makhluk). Dan bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh, dan Allah berada di atas langit yang ketujuh, yaitu Allah berada di luar alam. Janganlah di bayangkan bahwa setelah langit yang ke tujuh ada ruang hampa tempat Allah berada, karena ruang hampa juga merupakan alam. Intinya kalau dianggap ada yang lebih tinggi dari langit ketujuh dan merupakan penghujung alam semesta dan yang tertinggi maka Allah berada di balik (di luar) hal itu, dan lebih tinggi dari hal itu. Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah) yang meliputi Allah, karena Allah di luar alam semesta.

    4- Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147)

    5- Imam Ahmad pernah menjelaskan sebuah pendekatan pemahaman tentang hal ini.

    Beliau berkata

    “Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya.

    Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

    Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

    6- Perkataan Imam Ahmad أَلَيْسَ اللهُ كَانَ وَلاَ شَيْءَ (Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?) sama dengan perkataan كان الله ولا مكان (Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat.) Perkataan Imam Ahmad ini di dukung oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahihnya

    كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

    “Dahulu Allah (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)

    Dan kalimat disini memberikan faedah keumuman, yaitu tidak sesuatupun selain Allah tatkala itu, termasuk alam dan tempat.

    Meskipun Imam Ahmad mengatakan demikian akan tetapi beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas. Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk.

    Perkataan Imam Ahmad ini mirip dengan perkataan Abdullah bin Sa’iid Al-Qottoon sebagaimana dinukil oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam kitabnya maqoolaat Al-Islamiyiin 1/351

    Abul Hasan Al-Asy’ari berkata, “Dan Abdullah bin Sa’iin menyangka bahwasanya Al-Baari (Allah) di zaman azali tanpa ada tempat dan zaman sebelum penciptaan makhluk, dan Allah senantiasa berada di atas kondisi tersebut, dan bahwasanya Allah beristiwaa’ di atas ‘arsyNya sebagaimana firmanNya, dan bahwasanya Allah berada di atas segala sesuatu”

    Perhatikanlah para pembaca yang budiman, Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat.

    Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs yang menyangka bahwa kalau kita menafikan tempat dari Allah melazimkan Allah tidak di atas. Atau dengan kata lain Abu Salafy cs menyangka kalau Allah berada di arah atas maka melazimkan Allah diliputi oleh tempat.

    Adapun riwayat Abu Nu’aim dalam hilyatul Auliyaa 1/73

    Adapun sanad dari riwayat diatas sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/72 adalah sbb:

    Ana berharap Abu Salafy cs mendatangkan biografi para perawi di atas dan menghukumi keabsahan sanad di atas !!!

    Abu Salafy berkata :

    Penegasan Imam Imam Ali ibn Husain –Zainal Abidin- ra.

    Ali Zainal Abidin adalah putra Imam Husain –cucu terkasih Rasulullah saw.- tentang ketaqwaan, kedalaman ilmu pengatahuannya tentang Islam, dan kearifan Imam Zainal Abidin tidak seorang pun meragukannya. Beliau adalah tempat berujuk para pembesar tabi’in bahkan sehabat-sabahat Nabi saw.

    Telah banyak diriwayatkan untaian kata-kata hikmah tentang ketuhanan dari beliau ra. di antaranya adalah sebagai berikut ini.

    أنت الله الذي لا يحويك مكان.

    ”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dirangkum oleh tempat.”

    Dalam hikmah lainnya beliau ra. berkata:

    أنت الله الذي لا تحد فتكون محدودا

    ”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dibatasi sehingga Engkau menjadi terbatas.”[ Ithâf as Sâdah al Muttaqîn, Syarah Ihyâ’ ‘Ulumuddîn,4/380])) -Demikan perkataan Abu Salafi-

    Firanda berkata:

    Ana katakan kepada Abu Salafy, dari mana riwayat ini? Mana sanadnya?, bagaimana biografi para perawinya? Apakah riwayat ini shahih…??!!

    Para pembaca yang budiman, berikut ini kami akan tunjukan sumber pengambilan Abu Salafy yaitu kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 4/380

    Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya atsar Zainal Abidin ini bersumber dari As-Shohiifah As-Sajjaadiyah, kemudian sanadnya sangatlah panjang, maka kami meminta Al-Ustadz Abu Salafy al-Majhuul dan teman-temannya untuk mentahqiq keabsahan sanad ini dari sumber-sumber yang terpercaya. Jika tidak maka para perawi atsar ini dihukumi majhuul, sebagaimana diri Abu salafy yang majhuul. Maka jadilah periwayatan mereka menjadi riwayat yang lemah.

    Tahukah Al-Ustadz Abu salafy Al-Majhuul bahwasanya As-Shohiifah As-Sajjadiyah adalah buku pegangan kaum Rofidhoh?, bahkan dinamakan oleh Rofidhoh dengan nama Ukhtul Qur’aan (saudarinya Al-Qur’an) karena menurut keyakinan mereka bahwasanya perkataan para imam mereka seperti perkataan Allah.

    Sekali lagi ternyata Abu Salafy cs doyan untuk bersepakat dengan kaum Syi’ah Rofidhoh, doyan dengan aqidah mereka…???!!!

    Ana sarankan ustadz Abu salafy untuk membaca buku yang berjudul Haqiqat As-Shahiifah As-Sajjadiah karya DR Nasir bin Abdillah Al-Qifarii (silahkan didownload di http://www.archive.org/download/hsshss/hss.pdf)

    Abu Salafy berkata :

    Penegasan Imam Ja’far ash Shadiq ra. (W. 148 H)

    Imam Ja’far ash Shadiq adalah putra Imam Muhammad -yang digelaru dengan al Baqir yang artinya si pendekar yang telah membela perut ilmu pengetahuan karena kedalaman dan kejelian analisanya- putra Imam Ali Zainal Abidin. Tentang kedalam ilmu dan kearifan Imam Ja’far ash Shadiq adalah telah menjadi kesepakatan para ulama yang menyebutkan sejarahn hidupnya. Telah banya dikutip dan diriwayatkan darinya berbagai cabang dan disiplin ilmu pengetahuan, khususnya tentang fikih dan akidah.

    Di bawah ini kami sebutkan satu di antara pegesan beliau tentang kemaha sucian Allah dari bertempat seperti yang diyakini kaumm Mujassimah Wahhabiyah. Beliau berkata:

    من زعم أن الله في شىء، أو من شىء، أو على شىء فقد أشرك. إذ لو كان على شىء لكان محمولا، ولو كان في شىء لكان محصورا، ولو كان من شىء لكان محدثا- أي مخلوقا.

    ”Barang siapa menganggap bahwa Allah berada dalam/pada sesuatu, atau di attas sesuatu maka dia benar-benar telah menyekutukan Allah. Sebab jika Dia berada di atas sesuatu pastilah Dia itu dipikul. Dan jika Dia berada pada/ di dalam sesuatu pastilah Dia terbatas. Dan jika Dia terbuat dari sesuatu pastilah Dia itu muhdats/tercipta.”[ Risalah al Qusiariyah:6])) –demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :

    Demikianlah Abu Salafy Al-Majhuul, tatkala tidak mendapatkan seorang salafpun yang mendukung aqidahnya maka diapun segera mencari riwayat-riwayat yang mendukung aqidahnya meskipun riwayat tersebut lemah, bahkan meskipun tanpa sanad. Inilah model pendalilalnnya sebagaiamana telah lalu.

    Berikut ini kami nukilkan langsung riwayat tanpa sanad tersebut dari kita Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah

    Dan nampaknya Abu Salafy tidak membaca buku ini secara langsung sehingga salah dalam menyebutkan nama buku ini. Abu Salafy berkata ” Risalah al Qusiariyah ”

    Dan rupanya Abu Salafy sadar bahwasanya tipu muslihatnya ini akan tercium juga –karena kami yakin Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul adalah ustadz yang mengerti akan ilmu hadits, dan mengerti akan definisi hadits shahih, oleh karenanya berani untuk mengkritik As-Syaikh Al-Albani rahimahullah-. Oleh karenanya agar tidak dituduh dengan tuduhan macam-macam, maka Al-Ustadz Al-Majhuul segera membungkusi tipu muslihatnya ini dengan berkata :

    Peringatan:

    Mungkin kaum Wahhabiyah Mujassimah sangat keberatan dengan penukilan kami dari para tokoh mulia dan agung keluarga Ahlulbait Nabi saw. dan kemudian menuduh kami sebagai Syi’ah! Sebab sementara ini mereka hanya terbiasa menerima informasi agama dari kaum Mujassimah generasi awal seperti ka’ab al Ahbâr, Muqatil dkk.. Jadi wajar saja jika mereka kemudian alergi terhadap mutiara-mutoara hikmah keluarga Nabi saw. karena pikiran mereka telah teracuni oleh virus ganas akidah tajsîm dan tasybîh yang diprogandakan para pendeta Yahudi dan Nasrani yang berpura-pura memeluk Islam!

    Dan sikap mereka itu sekaligus bukti keitdak sukaan mereka terhadap keluarga Nabi Muhammad saw. seperti yang dikeluhkan oleh Ibnu Jauzi al Hanbali bahwa kebanyakan kaum Hanâbilah itu menyimpang dari ajaran Imam Ahmad; imam mereka dan terjebak dalam faham tajsîm dan tasybîh sehingga seakan identik antara bermazhab Hanbali dengan berfaham tajsîm, dan di tengah-tengah mereka terdapat jumlah yang tidak sedikit dari kaum nawâshib yang sangat mendengki dan membenci Ahlulbait Nabi saw. dan membela habis-habisan keluarga tekutuk bani Umayyah; Mu’awiyah, Yazid …. .[ Muqaddimah Daf’u Syubah at Tasybîh; Ibnu Jauzi])) –demikianlah perkataan abu

    Firanda berkata :

    Lihatlah bagaimana buruknya akhlaq Abu Salafy yang hanya bisa menuduh Ahlus Sunnah dengan tuduhan-tuduhan yang kasar namun tanpa bukti. Perkataannya ini mengandung beberapa pengakuannya :

    1. Dia sudah sadar kalau bakalan dituduh mengekor Syia’h namun kenyataannya adalah demikian. Oleh karenanya dengan sangat berani dia mengkutuk Sahabat Mulia Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu. Bukankah ini adalah aqidah Syi’ah Rofidhoh???, bukankah meyakini Allah tidak di atas adalah aqidah Rofidhoh??. Imam Ahlus Sunnah manakah yang mengutuk Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu???!!. Kita Ahlus Sunnah cinta dengan Alu Bait, akan tetapi ternyata semua riwayat Alu Bait yang disebutkan oleh sang Ustadz Abu salafy Al-Majhuul riwayat dusta tanpa sanad.

    2. Dia menuduh bahwa Ahlus Sunnah (yang disebut Wahhabiah olehnya) benci terhadap keluarga Nabi…, manakah buktinya ada seorang Wahhabi yang benci terhadap keluarga Nabi??. Bukankah As-Syaikh Muhammad Bin AbdilWahaab guru besarnya para Wahhabiyyah telah menamakan enam anak-anaknya dengan nama-nama Alul bait???

    3. Menuduh Muqotil dkk sebagai mujassimah. Ana ingin tahu apa maksud dia dengan “dkk”??!!

    Setelah ketahuan kedoknya dan tipu muslihatnya terhadap para Alul Bait, maka Abu Salafy tidak putus asa, maka ia melancarkan tipu muslihat berikutnya. Yaitu berusaha menukil dari para imam madzhab. Namun seperti biasa, ia hanya mampu mendapatkan riwayat-riwayat tanpa sanad. Sungguh aneh tapi nyata, sang ustadz berani mengkritik syaikh Al-bani namun ternyata ilmu hadits yang dimiliki sang ustadz hanya digunakan untuk mengkritik, dan tatkala berbicara tentang aqidah –yang sangat urgen tentunya- ilmu haditsnya dibuang, dan berpegang pada riwayat-riwayat tanpa sanad. Wallahul Musta’aan.

    Abu Salafy berkata :

    Penegasan Imam Abu Hanifah ra.

    Di antara nama yang sering juga dimanfa’atkan untuk mendukung penyimpangan akidah kaum Mujassimah Wahhabiyah adalah nama Imam Abu Hanifah, karenanya penting juga kita sebutkan nukilan yang nenegaskan akidah lurus Abuhanifah tentang konsep ketuhanan. Di antaranya ia berkata:

    ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق

    ”Perjumpaan dengan Allah bagi penghuni surga tanpa bentuk dan penyerupaan adalah haq.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:138]))- demikian perkatan Abu Salafy

    Firanda berkata :

    Para pembaca yang budiman marilah kita mengecek kitab-kitab yang merupakan sumber pengambilan riwayat Abu Hanifah yang dilakukan Abu Salafy

    Berkata Mulla ‘Ali Al-Qoori dalam syarah Al-Fiqh Al-Akbar hal 246 :

    “Dan berkata Al-Imaam Al-A’dzom (maksudnya adalah Abu Hanifah-pent) dalam kitabnya Al-Washiyyah : Dan pertemuan Allah ta’aala dengan penduduk surga tanpa kayf, tanpa tasybiih, dan tanpa jihah merupakan kebenaran”. Selesai” (Minah Ar-Roudh Al-Azhar fi syarh Al-Fiqh Al-Akbar, karya Ali bin Sulthoon Muhammad Al-Qoori, tahqiq Wahbi Sulaimaan Gowjiy hal 246)

    Ternyata riwayat Imam Abu Hanifah di atas berasal dari sebuah kitab yang berujudl “Al-Washiyyah” yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah.

    Sebelum melanjutkan pembahasan ini, saya ingin meningatkan pembaca tentang sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah.

    Riwayat tersebut adalah perkataan beliau rahimahullah :

    مَنْ قال لا أعْرِفُ ربِّي في السماء أم في الأرضِ فقد كفر، لأَنَّ اللهَ يقول: {الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏}، و عرشه فوق سبع سماواته.

    “Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Sebab Alllah telah berfirman:

    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏.

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arsy.” (QS. Thâhâ;5)

    dan Arsy-Nya di atas tujuh lapis langit.”

    Riwayat Abu Hanifah ini termaktub dalam kitab Al-Fiqhu Al-Akbar, dan buku ini telah dinisbahkan oleh Abu Hanifah. Akan tetapi buku ini diriwayatkan oleh Abu Muthii’ Al-Balkhi.

    Al-Ustadz Abu Salafy tidak menerima riwayat ini dengan dalih bahwasanya sanad periwayatan buku Al-Fiqhu Al-Akbar ini tidaklah sah karena diriwayatkan oleh perawi yang tertuduh dusta.

    Abu Salafy berkata :

    ((Pernyataan yang mereka nisbahkan kepada Abu Hanifah di atas adalah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Namun kaum Mujassimah memang gemar memalsu dan junûd, bala tentara mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!

    Pernyataan itu benar-benar telah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu adalah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’ al Balkhi.

    Adz Dzahabi berkata tentangnya, “ia seorang kadzdzâb (pembohong besar) wadhdhâ’ (pemalsu). Baca Mîzân al I’tidâl,1/574.

    Ketika seorang perawi disebut sebagai kadzdzâb atau wadhdhâ’ itu berarti ia berada di atas puncak keburukan kualitas… ia adalah pencacat atas seorang perawi yang paling berat. Demikian diterangkan dalam kajian jarhi wa ta’dîl !

    Imam Ahmad berkata tentangnya:

    لا ينبغي أن يُروى عنه شيئٌ.

    “Tidak sepatutnya diriwayatkan apapun darinya.”

    Yahya ibn Ma’in berkata, “Orang itu tidak berharga sedikitpun.”

    Ibnu Hajar al Asqallani menghimpun sederetan komentar yang mencacat perawi andalan kaum Mujassimah yang satu ini:

    Abu Hatim ar Razi:

    كان مُرجِئا كَذَّابا.

    “Ia adalah seorang murjiah pembohong, kadzdzâb.”

    Adz Dzahabi telah memastikan bahwa ia telah memalsu hadis Nabi, maka untuk itu dapat dilihat pada biografi Utsman ibn Abdullah al-Umawi.” (Lisân al Mîzân,2/335) ))-demikian perkataan Abu Salafy sebagaiamana bisa dilihat di http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/13/kaum-wahhabiyah-mujassimah-memalsu-atas-nama-salaf-1/)

    Demikianlah penjelasan Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul.

    Sekarang saya ingin balik bertanya kepada Pak Ustadz, manakah sanad periwayatan kitab Al-Washiyyah karya Abu Hanifah???

    Dan sungguh aneh tapi nyata, ternyata meskipun Ustadz Abu Salafy telah menyatakan dusta tentang buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi, namun… ternyata Pak Ustadz Abu Salafy masih juga nekat mengambil riwayat dari buku tersebut.

    Abu Salafy berkata :

    Dan telah dinukil pula bahwa ia (yaitu abu hanifah) berkata:

    قلت: أرأيت لو قيل أين الله تعالى؟ فقال- أي أبو حنيفة-: يقال له كان الله تعالى ولا مكان قبل أن يخلق الخلق، وكان الله تعالى ولم يكن أين ولا خلق ولا شىء، وهو خالق كل شىء.

    ”Aku (perawi) berkata, ’Bagaimana pendapat Anda jika aku bertanya, ’Di mana Allah?’ Maka Abu Hanifah berkata, ’Dikatakan untuk-Nya Dia telah ada sementara tempat itu belum ada sebelum Dia menciptakan tempat. Dia Allah sudah ada sementara belum ada dimana dan Dia belum meciptakan sesuatu apapun. Dialah Sang Pencipta segala sesuatu.” [ Al Fiqhul Absath (dicetak bersama kumpulan Rasâil Abu Hanifah, dengan tahqiq Syeikh Allamah al Kautsari): 25])) –demikian perkataan Abu Salafy-

    Para pembaca sekalian tahukah anda apa itu kitab Al-Fiqhu Al-Absath?, dialah kitab Al-Fiqhu Al-Akbar dengan periwayatan Abul Muthii’ yang dikatakan dusta oleh Abu Salafy sendiri.

    Lihatlah perkataan Al-Kautsari :

    “Dan telah dicetak di India dan Mesir syarh Al-Fiqh Al-Akbar dengan riwayat Abu Muthii’, dan dialah yang dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakan dengan Al-Fiqh Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammaad bin Abi Haniifah”

    Al-Kautsari juga berkata di muqoddimah tatkala mentahqiq Al-Fiqh Al-Absath :

    “Dia adalah Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Abu Muthii’, dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakannya dengan Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammad bin Abi Haniifah dari ayahnya. Dan perawi Al-Fiqh Al-Absath yaitu Abu Muthii’ dia adalah Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhi sahabatnya Abu hanifah…”

    Sungguh aneh tapi nyata, ternyata Al-Ustadz Abu Salafy yang telah menyatakan kedustaan kitab Al-Fiqhu Al-Absath ternyata juga menjadikan kitab tersebut sebagai dalil untuk mendukung hawa nafsunya. Maka kita katakan kepada Al-Ustadz Abu Salafy–sebagaimana yang ia katakan sendiri- : Anda wahai Abu Salafy.

    Yang anehnya dalam buku Al-Fiqhu Al-Absath yang ditahqiq oleh ulamanya Abu Salafy yang bernama Al-Kautsari terdapat nukilan yang “mematahkan punggung” kaum jahmiyyah dan Asyaa’iroh muta’akkhirin, dan neo Asya’iroh seperti Abu Salafy cs. Dalam buku tersebut Abu Haniifah berkata :

    Abu Hanifah berkata, “Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Demikian juga orang yang mengatakan “Sesunguhnya Allah di atas ‘arsy (tapi) aku tidak tahu apakah ‘arsy itu di langit atau di bumi”

    …..

    Inilah kitab Al-Fiqh Al-Absath tahqiq Al-Kautsari yang dijadikan pegangan oleh Al-Ustadz Abu Salafy. Ternyata Abu Hanifah mengkafirkan orang yang tidak mengatakan Allah di atas langit dengan berdalil dengan hadits Jaariyah (budak wanita) yang tatkala ditanya oleh Nabi “Dimanakah Allah” maka sanga budak mengisyaratkan tangannya ke langit.

    Penjelasan saya ini juga saya anggap cukup untuk menyingkap kesalahan pemilik blog salafytobat (lihat http://salafytobat.wordpress.com/2008/06/16/hujjah-imam-hanafi-kalahkan-aqidah-sesat-salafy-wahaby/)

    Abu Salafy berkata ((Dalam kesempatan lain dinukil darinya (yaitu dari Abu Hanifah):

    ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا.

    ”Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya. Dialah Tuhan yang memelihara Arsy dan selainnya tanpa ada sedikit pun kebutuhan kepadanya. Jika Dia butuh kepadanya pastilah Dia tidak kuasa mencipta dan mengatur alam semesta, seperti layaknya makhluk ciptaan. Dan jika Dia butuh untuk duduk dan bersemayam, lalu sebelum Dia menciptakan Arsy di mana Dia bertempat. Maha Tinggi Allah dari anggapan itu setinggi-tingginya.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:75]

    Pernyataan Abu Hanifah di atas benar-benar mematahkan punggung kaum Mujassimah yang menamakan dirinya sebagai Salafiyah dan enggan disebut Wahhâbiyah yang mengaku-ngaku tanpa malu mengikuti Salaf Shaleh, sementara Abu Hanifah, demikian pula dengan Imam Ja’far, Imam Zainal Abidin adalah pembesar generasi ulama Salaf Shelah mereka abaikan keterangan dan fatwa-fatwa mereka?! Jika mereka itu bukan Salaf Sheleh yang diandalkan kaum Wahhabiyah, lalu siapakah Salaf menurut mereka? Dan siapakah Salaf mereka? Ka’ab al Ahbâr? Muqatil? Atau siapa?))- demikianlah perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :

    Kami katakan :

    1- Isi dari nukilan tersebut sama sekali tidak berententangan dengan aqidah Ahlus Sunnah, karena Ahlus Sunnah (Wahhabiyah/As-Salafiyah) tatkala menyatakan Allah beristiwa di atas ‘arsy tidaklah melazimkan bahwasanya Allah membutuhkan ‘arsy. Dan tidak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas selalu membutuhkan yang di bawahnya. Jika kita perhatikan langit dan bumi maka kita akan menyadari akan hal ini. Bukankah langit berada di atas bumi?, bukankah langit lebih luas dari bumi?, bukankah langit tidak butuh kepada bumi? Apakah ada tiang yang di tanam di bumi untuk menopang langit?. Jika langit yang notabene adalah sebuah makhluq namun tidak butuh kepada yang di bawahnya bagaimana lagi dengan Kholiq pencipta ‘arsy.

    2- Nukilan dari Abu Hanifah tersebut sesuai dengan aqidah As-Salafiyyah dan justru bertentangan dengan aqidah Abu Salafy cs. Bukankah dalam nukilan ini Abu Hanifah menetapkan adanya sifat istiwaa? Dan tidak mentakwil sifat istiwaa sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Salafy cs??. Abu Hanifah menjelaskan bahwasanya Allah beristiwaa (berada di atas) ‘arsy akan tetapi tanpa ada kebutuhan sedikitpun terhadap ‘arsy tersebut.

    3- Oleh karenanya kita katakan bahwa justru nukilan ini merupakan boomerang bagi Abu Salafy cs yang selalu mentakwil istiwaa’ dengan makna istaulaa (menguasi) –dan inysaa Allah hal ini akan dibahas pada kesempatan lain. Bahkan dalam halaman yang sama yang tidak dinukil oleh Abu Salafy ternyata Mulla ‘Ali Al-Qoori menyebutkan riwayat dari Abu Hanifah yang membungkam Ustadz Abu Salafy cs. Marilah kita melihat langsung lembaran tersebut yaitu dari buku Syarh Al-Fiqh Al-Akbar karya Mulla ‘Ali Al-Qoori (hal 126)

    Dan Abu hanifah rahimahullah ditanya tentang bahwasanya Allah subhaanahu turun dari langit. maka beliau menjawab : Allah turun, tanpa (ditanya) bagaimananya, …

    Bukankah dalam nukilan ini ternyata Abu Hanifah menetapkan sifat nuzuulnya Allah ke langit dunia?, Abu Hanifah menetapkan hal itu tanpa takwil dan tanpa bertanya bagaimananya. Karena memang bagaimana cara turunnya Allah tidak ada yang menetahuinya.

    Berkata Abu Salafy :

    Penegasan Imam Syafi’i (w. 204 H)

    Telah dinukil dari Imam Syafi’i bahwa ia berkata:

    إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير في ذاته ولا التبديل في صفاته.

    ”Sesungguhnya Allah –Ta’ala- tel;ah ada sedangkan belum ada temppat. Lalu Dia menciptakan tempat. Dia tetap atas sifat-Nya sejak azali, seperti sebelum Dia menciptakan tempat. Mustahil atas-Nya perubahan dalam Dzat-Nya dan pergantian pada sifat-Nya.”[ Ithâf as Sâdah,2/24])) –demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :

    Para pembaca yang budiman marilah kita melihat sumber pengambilan Abu Salafy secara langsung dari kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 2/24

    Ana katakan bahwasanya –sebagaimana kebiasaan Abu Salafy- maka demikian juga dalam penukilan ini Abu Salafy menukil perkataan Imam As-Syaafi’i tanpa sanad, maka kami berharap pak Ustadz Abu Salafy cs untuk mendatangkan sanad periwayatan dari Imam As-Syafii ini.

    Abu Salafy berkata :

    Penegasan Imam Ahmad ibn Hanbal (W.241H)

    Imam Ahmad juga menegaskan akidah serupa. Ibnu Hajar al Haitsami menegaskan bahwa Imam Ahmad tergolong ulama yang mensucikan Allah dari jismiah dan tempat. Ia berkata:

    وما اشتهر بين جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه.

    ”Adapun apa yang tersebar di kalangan kaum jahil yang menisbatkan dirinya kepada sang imam mulia dan mujtahid bahwa beliau meyakini tempat/arah atau semisalnya adalah kebohongan dan kepalsuan belaka atas nama beliau.”[ Al Fatâwa al Hadîtsiyah:144.] –demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :

    Pada nukilan di atas sangatlah jelas bahwasanya Abu Salafy tidak sedang menukil perkataan Imam Ahmad, akan tetapi sedang menukil perkataan Ibnu Hajar Al-Haitsami tentang Imam Ahmad. Ini merupakan tadliis dan talbiis. Abu Salafy membawakan perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami ini dibawah sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, namun ternyata yang ia bawakan bukanlah perkataan Imam Ahmad apalagi penegasan. Seharusnya sub judulnya : “Penegasan Ibnu Hajr Al-Haitsami”.

    Abu Salafy berkata:

    Penegasan Imam Ghazzali:

    Imam Ghazzali menegaskan dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn-nya,4/434:

    أن الله تعالى مقدس عن المكان ومنزه عن الاقطار والجهات وأنه ليس داخل العالم ولا خارجه ولا هو متصل به ولا هو منفصل عنه ، قد حير عقول أقوام حتى أنكروه إذ لم يطيقوا سماعه ومعرفته ”

    “Sesungguhnya Allah –Ta’ala- Maha suci dari tempat dan suci dari penjuru dan arah. Dia tidak di dalam alam tidak juga di luarnya. Ia tidak bersentuhan dengannya dn tidak juga berpisah darinya. Telah membuat bingun akal-akal kaum-kaum sehingga mereka mengingkari-Nya, karena mereka tidak sanggunp mendengar dan mengertinya.”

    Dan banyak keterangan serupa beliau utarakan dalam berbagai karya berharga beliau.

    Penegasan Ibnu Jauzi

    Ibnu Jauzi juga menegaskan akidah Isla serupa dalam kitab Daf’u Syubahi at Tasybîh, ia berkata:

    وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.

    “Demikian juga harus dikatakan bahwa Dia tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya. Sebab masuk dan keluar adalah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk.”[ Daf’u Syubah at Tasybîh (dengan tahqiq Sayyid Hasan ibn Ali as Seqqaf):130])) –demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :

    Rupanya tatkala Abu Salafy tidak mampu untuk menemukan satu riwayatpun dari kalangan salaf dengan sanad yang shahih yang mendukung aqidah karangannya maka ia terpaksa mengambil perkataan para ulama mutaakhkhiriin semisal Al-Gozaali yang wafat pada tahun 506 H dan Ibnu Jauzi yang wafat pada tahun 597 H.

    Adapun Al-Gozaali maka Abu Salafy menukil perkataannya dari kitab Ihyaa ‘Uluum Ad-Diin. Sesungguhnya para ulama telah mengingatkan akan kerancuan pemikian aqidah Al-Gozaali dalam kitabnya ini. Diantara kerancuan-kerancuan tersebut perkataan Al-Gozaali :

    “Dihikayatkan bahwasanya Abu Turoob At-Takhsyabi kagum dengan seorang murid, Abu Turob mendekati murid tersebut dan mengurusi kemaslahatan-kemaslahatan sang murid, sedangkan sang murid sibuk dengan ibadahnya dan wajd-wajdnya. Pada suatu hari Abu Turob berkata kepada sang murid, “Kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid”, sang murid berkata, “Aku sibuk”. Tatkala Abu Turob terus menerus dan serius mengulang-ngulangi perkataannya, “Kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid”, akhirnya sang muridpun berkata, “Memangnya apa yang aku lakukan terhadap Abu Yaziid, aku telah melihat Allah yang ini sudah cukup bagiku sehingga aku tidak perlu dengan Abu yaziid”. Abu Turoob berkata, “Maka dirikupun naik pitam dan aku tidak bisa menahan diriku, maka aku berkata kepadanya : “Celaka engkau, janganlah engkau terpedaya dengan Allah Azza wa Jalla, kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid sekali maka lebih bermanfaat bagimu daripada engkau melihat Allah tujuh puluh kali”. Maka sang muridpun tercengang dan mengingkari perkataan Abu Turoob. Iapun berkata, “Bagaimana bisa demikian?”. Abu Turoob berkata, “Celaka engkau, bukankah engkau melihat Allah di sisimu, maka Allahpun nampak untukmu sesuai dengan kadarmu, dan engkau melihat Abu Yaziid di sisi Allah dan Allah telah nampak sesuai dengan kadar abu Yaziid”. Maka sang murid faham dan berkata, “Bawalah aku ke Abu Yaziid”…

    Aku berkata kepada sang murid, “Inilah Abu Yaziid, lihatlah dia”, maka sang pemuda (sang murid)pun melihat Abu Yaziid maka diapun pingsan. Kami lalu menggerak-gerakan tubuhnya, ternyata ia telah meninggal dunia. Maka kamipun saling bantu-membantu untuk menguburkannya. Akupun berkata kepada Abu Yaziid, “Penglihatannya kepadamu telah membunuhnya”. Abu Yaziid berkata, “Bukan demikian, akan tetapi sahabat kalian tersebut benar-benar dan telah menetap dalam hatinya rahasia yang tidak terungkap jika dengan pensifatan saja (sekedar cerita saja). Tatkala ia melihatku maka terungkaplah rahasia hatinya, maka ia tidak mampu untuk memikulnya, karena dia masih pada tingkatan orang-orang yang lemah yaitu para murid, maka hal ini membunuhnya”.

    Al_Gozzaalii mengomentari kisah ini dengan berkata, “Ini merupakan perkara-perkara yang mungkin terjadi. Barangsiapa yang tidak memperoleh sedikitpun dari perkara-perkara ini maka hendaknya jangan sampai dirinya kosong dari pembenaran dan beriman terhadap mungkinnya terjadi perkara-perkara tersebut….”

    Oleh karenanya para ulama memperingatkan akan kerancuan-kerancuan yang terdapat dala kitab Ihyaa’ uluum Ad-Diin.

    Yang anehnya… diantara para ulama yang keras dalam memperingatkan kerancuan kitab ini adalah Ibnu Jauzi sendiri.

    Ibnul Jauzi berkata (dalm kitabnya Talbiis Ibliis, tahqiq DR Ahmad bin Utsmaan Al-Maziid, Daar Al-Wathn, 3/964-965):

    Dan datang Abu haamid Al-Gozzaali lalu iapun menulis kitab “Ihyaa (Uluum Ad-Diin-pent)”… dan dia memenuhi kitab tersebut dengan hadits-hadits yang batil –dan dia tidak mengetahui kebatilan hadits-hadits tersebut-. Dan ia berbicara tentang ilmu Al-Mukaasyafah dan ia keluar dari aturan fiqh. Ia berkata bahwa yang dimaksud dengan bintang-bintang, matahari, dan rembulan yang dilihat oleh Nabi Ibrohim merupkan cahaya-cahaya yang cahaya-cahaya tersebut merupakan hijab-hijabnya Allah. Dan bukanlah maksudnya benda-benda langit yang sudah ma’ruuf.”. Mushonnif (Ibnul Jauzi) berkata, “Perkataan seperti ini sejenis dengan peraktaan firqoh Bathiniyah”. Al-Gozzaali juga berkata di kitabnya “Al-Mufsih bil Ahwaal” : Sesungguhnya orang-orang sufi mereka dalam keadaan terjaga melihat para malaikat, ruh-ruh para nabi, dan mendengar suara-suara dari mereka, dan mengambil faedah-faedah dari mereka. Kemudian kondisi mereka (yaitu orang-orang sufi) pun semakin meningkat dari melihat bentuk menjadi tingkatan derajat-derajat yagn sulit untuk diucapkan”

    Dan masih banyak perkataan para ulama yang mengingatkan akan bahayanya kerancuan-kerancuan pemikiran Al-Gozzaali, diantaranya At-Turtusi, Al-Maaziri, dan Al-Qodhi ‘Iyaadh.

    Maka saya jadi bertanya tentang kitab Ihyaa Uluum Ad-Diin, apakah kita mengikuti pendapat Ustadz Abu Salafy yang majhuul untuk menjadikan kitab tersebut sebagai sumber aqidah?, ataukah kita mengikuti perkataan Ibnu Jauzi??

    Adapun perkataan Ibnul Jauzi maka sesungguhnya Ibnul Jauzi dalam masalah tauhid Al-Asmaa was sifaat mengalami kegoncangan, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rojab Al-Hanbali. Beliau berkata :

    “Dan diantara sebab kritkan orang-orang terhadap Ibnul Jauzi –yang ini merupakan sebab marahnya sekelompok syaikh-syaikh dari para sahabat kami (yaitu syaikh-syaikh dari madzhab hanbali-pent) dan para imam mereka dari Al-Maqoodisah dan Al-‘Altsiyyiin mereka marah terhadap condongnya Ibnul Jauzi terhadap takwiil pada beberapa perkatan Ibnul Jauzi, dan keras pengingkaran mereka terhadap beliau tentang takwil beliau.

    Meskipun Ibnul Jauzi punya wawasan luas tentang hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkaitan dengan pembahasan ini hanya saja beliau tidak mahir dalam menghilangkan dan menjelaskan rusaknya syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh para ahli kalam (filsafat). Beliau mengagungi Abul Wafaa’ Ibnu ‘Aqiil… dan Ibnu ‘Aqiil mahir dalam ilmu kalam akan tetapi tidak memiliki ilmu yang sempurna tentang hadits-hadits dan atsar-atsar. Oleh karenanya perkataan Ibnu ‘Aqiil dalam pembahasan ini mudhthorib (goncang) dan pendapat-pendapatnya beragam (tidak satu pendapat-pent), dan Abul Faroj (ibnul Jauzi) juga mengikuti Ibnu ‘Aqiil dalam keragaman tersebut.” (Adz-Dzail ‘alaa Tobaqootil Hanaabilah, cetakan Daarul Ma’rifah, hal 3/414 atau cetakan Al-‘Ubaikaan, tahqiq Abdurrahman Al-‘Utsaimiin 2/487)

    Para pembaca yang budiman, Ibnu Rojab Al-Hanbali telah menjelaskan bahwasanya aqidah Ibnul Jauzi dalam masalah tauhid Al-Asmaa’ was Sifaat tidaklah stabil, bahkan bergoncang. Dan Ibnul Jauzi –yang bermadzhab Hanbali- telah diingkari dengan keras oleh para ulama madzhab Hanbali yang lain. Sebab ketidakstabilan tersebut karena Ibnul Jauzi banyak mengikuti pendapat Ibnu ‘Aqiil yang tenggelam dalam ilmu kalam (filsafat).

    Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbiis Ibliis mendukung madzhab At-Tafwiidh, sedangkan dalam kitabnya Majaalis Ibni Jauzi fi al-mutasyaabih minal Aayaat Al-Qur’aaniyah menetapkan sifat-sifat khobariyah, dan pada kitabnya Daf’ Syubah At-Tasybiih mendukung madzhab At-Takwiil (lihat penjelasan lebih lebar dalam risalah ‘ilmiyyah (thesis) yang berjudul “Ibnul Jauzi baina At-Takwiil wa At-Tafwiidh” yang ditulis oleh Ahmad ‘Athiyah Az-Zahrooni. Dan bisa didownload di

    http://www.4shared.com/file/246344257/16845e7/_____-__.html

    Adapun perkataan Ibnu Jauzy rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh Abu salafy yaitu :

    وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.

    “Demikian juga harus dikatakan bahwa Dia tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya. Sebab masuk dan keluar adalah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk

    Maka saya katakan :

    Pertama : Abu Salafy kurang tepat tatkala menerjemahkan “Al-Mutahayyizaat” dengan benda berbentuk. Yang lebih tepat adalah jika diterjemahkan dengan “perkara-perkara yang bertempat”

    Kedua : Kalau kita benar-benar merenungkan perkataan Ibnul Jauzy ini maka sesungguhnya perkataan ini bertentangan dengan penjelasan Imam Ahmad sebagaimana telah lalu tatkala Imam Ahmad berkata :”Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya. Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

    Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar Dzat-Nya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

    Jelas di sini perkataan Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa Allah di luar ‘alam, tidak bersatu dengan makhluknya. Hal ini jelas bertentangan dengan peraktaan Ibnu Jauzi yang berafiliasi kepada madzh

  84. Assajjad mengatakan:

    ass..wr..wb..salam kenal dan ikut nimbrung mas AMW

    betul..tul..tul
    biar adil dan fair diskusinya mas….sejatinya diskusi harus menyertakan referensi2 asli dan pendukung2 yg lain ( seperti bukti2) untuk membedah sebuah topik permasalahan. hujah dibantah lagi dengan hujah. dan jikalau ada hujjah yang paling kuat (di sertai bukti2 otentik) seyogyanyalah salah satu pihak harus menerima dengan lapang dada.

    setuju???

    syukron

  85. abisyakir mengatakan:

    @ Lukman Mubarak…

    Syukran jazakallah khair Akhi atas artikelnya. Alhamdulillah, ini “yang diminta” oleh kawan-kawan anti Wahhabi itu. Sebagian tulisan Ustadz Firanda telah saya baca, malah ada yang dijadikan rujukan. Tetapi memang belum semuanya dibaca.

    Untuk menjawab tuduhan-tuduhan berbisa orang-orang itu, memang dibutuhkan muthala’ah yang lumayan dalam. Kita mesti bisa menjangkau referens yang mereka sebutkan, lalu memeriksa penukilannya. Sebab seringkali disini ada pemalsuan-pemalsuan. Setidaknya, memotong-motong kalimat sesuka hati penukilnya.

    Besar harapan, semoga makin banyak ustadz-ustadz yang bekerja seperti Al Ustadz Firanda dalam menjelaskan kebohongan-kebohongan itu. Allahumma amin.

    Sekali lagi jazakumullah khair.

    AMW.

  86. abisyakir mengatakan:

    @ aswaja selalu…

    masa’ saya yg undang, formalnya bukan begitu & cara anak sekolahan pun harusnya dari si pembuat/penerbit buku yg undang kalo mau launching buku, bikin pengumuman di blog ente, kapan dilaunching, dimana, jam berapa, siapa pembicaranya, siapa saja yg diundang (yg telah dikonfirmasi bisa hadir).

    Respons:

    Kan yang nantangain duluan kamu, Pak? Masak sudah lupa sih sama tantangannya? Makanya, kalau beragama jangan modal marah, dendam, nafsu melulu. Harus ikhlas karena Allah Ta’ala. Seperti disebut dalam Surat Al Mumtahanah, “Wa man yu’min billah yahdi qalbah” (siapa yang beriman kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk ke hatinya).

    Kalau Said Aqil Siradj masih panjang umur, dan belum binasa karena fitnah-fitnah yang ditebarkannya, ingin sekali saya berdiskusi terbuka dengannya. Apa yang dilakukan Said pasti akan menemui “dinding baja” pertahanan agama Allah. Allah tak akan diam, wahai Said Aqil. Engkau hanya sedang “menunggu jadwal” saja.

    AMW.

  87. abisyakir mengatakan:

    @ aswaja selalu

    Kan katanya wahabi anti takwil nih, jadi benar ga kalu Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu ? coba tengok deh di bawah kaki ibu ente ada syuga ga ????

    Respons: Maksudnya, anti takwil dalam ayat-ayat/hadits seputar Sifat Allah. Bukan dalam segala hal. Seperti dalam ayat tentang “hatta yatabayyana lahum khaithul abyadhu minal khaithil aswad” (hingga jelas beda bagi mereka antara benang putih dengan benang hitam). Dalam hal begini jelas ada pintu takwil. Sama juga ketika ada ayat “hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna” (mereka adalah pakaian kalian, dan kalian adalah pakaian mereka).

    Dalam hal-hal seperti itu terbuka pintu takwil. Namun tidak dalam ayat-ayat seputar Sifat Allah Ta’ala. Kita jangan membuat gambaran Sifat Allah, tetapi biarkan Allah sendiri yang menjelaskan tentang diri-Nya. Ini sangat bahaya. Orang-orang musyrik banyak tersesat karena mereka mensifati Allah dengan cara-cara mereka sendiri. Makanya disebutkan dalam ayat, “Subhanahu Wa Ta’ala amma yashifuun” (Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka sifatkan).

    Demikian.

    AMW.

  88. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    @abu Syakir,

    kan ente mau launching buku nih, buku itu menjawab buku sebelumnya, kalo launching kan biasanya mengundang nara sumber….nah kenapa ga sekalian mengundang pemberi referensi buku sebelumnya? undang juga khalayak umum, bukan para salafy/wahabi saja, jadi biar menarik untuk mengupas buku & ada pembanding dari sumber lain, kami-2 ini yg masih abu syibr pasti akan senang, kan hal yg umum kalo yg punya gawe itu mengundang khalayak umum untuk mempromosikan bukunya, tujuan utama itu kan?

  89. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    @abisyakir,

    Jadi salafy/wahabi itu tetap mau men-takwil yah???? maaf nih setau ane salafy/wahabi pure anti takwil….

  90. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    @lukman….

    sepertinya yg kemarin saya tampilkan dari : salafytobat….deh…..coba jawab yg itu dulu…..jangan melebar ke yg lain, tapi memang hari ini salafytobat lagi crash …jadi ga bisa diakses…..

  91. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    Firanda Berdusta Atas Nama Konsesnsus Ulama Tentang “Allah Berada di Langit” (Sekelumit Upaya Mengungkap Tipu Muslihat Firanda).

    Oleh: Ahmad Syahid

    Firanda adalah sebuah nama yang sedang tenar di kalangan kaum Salafi Wahabi. Sejakhobby-nya menghujat-hujat Abu Salafy, nama Firanda langsung nanjak danngetop di tengah kaumnya yang dielu-elukan sebagai pahlawan Salafi Wahabi. Bukan itu saja, Firanda oleh kaumnya selalu dibanggakan di mana-mana dan dianggap sebagai reppresentasi kebenaran Salafi Wahabi. Benarkah anggapan yang demikian prestisius itu pantas disandang olehUstadz Firanda?

    Nah, untuk mengungkap siapa sejatinya Ustadz Firanda, mari kita simak presentasi fakta-fakta tersembunyi di balik artikel-artikel Firanda. Tulisan yang diwarnai dengan warna merah di bawah ini adalah cuplikan dari artikel Ustadz Firanda yang penuh dusta dan tipu muslihat yang dapat mengecoh ummat Islam yang masih pemula. Artikel-artikel ini ditulis sedemikian antusias plus dibumbui dengan referensi-referensi sehingga dalam pandangan orang-orang awam artikel ini seakan-akan bernilai ilmiyyah. Padahal jika diteliti ternyata artikel ini adalah artikel tanpa makna yang menyelisihi kebenaran.

    Tulisan warna hitam adalah tanggapan dari Ahmad Syahid, sedangkan yang warna merah adalah tulisan Ustadz Firanda seorang aktifis Wahabi di Indonesia. Silahkan simak dan teliti sendiri bagi anda yang punya ilmunya….

    Bismilahirohmanirohim, Al-hamdulillah wa sholatu wasalmu `ala Sayyidina wa Mawlana Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, wa ala alihi wa shohbihi waman tabi`ahum bi Ihsanin ila yaumiddin, amma ba`du.

    Tulisan ini ditulis semata–mata hanya untuk meluruskan pemahaman atas apa yang diklaim oleh Ustadz Firanda dalam situsnya. Andai tulisan ustadz Firanda ini tidak bisa diakses kecuali hanya oleh orang-orang tertentu , niscaya saya tidak akan capai–capai atau repot membuat bantahan ini.

    Tulisan ini ditujukan untuk mengungkap apakah benar klaim dan dakwa’an (anggapan) Ustadz Firanda soal:
    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

    Apakah klim ini benar atau itu hanya sekedar Klaim kosong yang mengelabui Ummat? Atau sekedar tipu muslihat untuk menyesatkan Ummat? Mari kita lihat, baca dan kaji secermat mungkin agar mendapatkan kesimpulan yang benar, yaitu kesimpulan yang mengedepankan aspek obyektifitas dan sportifitas demi menemukan kebenaran sejati.

    Sebelum membahas lebih lanjut saya ingin menyampaikan beberapa kaidah penting yang digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah Wal-jama’ah ( Asya’irah ) dalam menetapkan Asma dan sifat Allah, sebagai sebuah manhaj atau metodologi dalam memahami kitab dan Sunnah. Hal ini juga untuk memberikan patokan bagi siapa pun yang ingin mengetahui Aqidah Ahlu Sunnah ( asy’ariyah) sehingga tidak menggunakan prasangka dalam memahami pernyataan-pernyataan Ulama asy’ariyah.

    Seperti kita ketahui bersama Agama Islam yang kita anut ini, bersandarkan kepada apa yang diriwayatkan (Al-qur’an dan As-sunnah), sama sekali tidak bersandar kepada akal-akalan, namun tentu saja tanpa membuang pentingnya akal dalam memahami apa yang diriwayatkan.

    Di samping itu Ulama Asy’ariyah memahami bahwa Agama ini terdiri dari tiga hal utama yang tidak bisa dipisahkan :
    1. Masalah pokok/ushul ( Aqidah ) sebagai pondasi dasar.
    2. Masalah Furu’ atau cabang atau yang biasa disebut dengan Mua’amalat baik antara hamba dengan Tuhan atau antara hamba itu sendiri.
    3. Masalah kamaliyat atau kesempurnaan atau yang biasa disebut dengan Akhlak atau prilaku.
    a). Dalam masalah ushul/pokok (Aqidah) Ulama Asy’ariyah hanya menerima riwayat (dalil-dalil) yang bersifat Pasti ( qoth’i) seperti hadist Mutawatir hadits Mustafidh dan Hadits Masyhur.
    b). Dalam masalah Furu’ atau cabang atau Mu’amalat Ulama Asy’ariyah di samping menggunakan Riwayat yang Qoth’i juga menggunakan riwayat yang bersifat Dzonni seperti hadits Ahad.
    c). Dalam masalah Kamaliyat atau kesempurnaan atau Akhlak dan prilaku di samping menggunakan dua jenis Hadits di atas, Ulama Asy’ariyah juga menggunakan Hadits Dha’if sebagai hujjah dan tentu ada syarat-syaratuntuk digunakannya Hadits Dha’if tersebut sebagai Hujjah dalam masalah kamaliyyat.

    Dengan kaidah–kaidah ini Ulama Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) berjalan memahami dan mengamalkan Agama.

    Terkait dengan tulisan Ustadz Firanda tentang ”keberadaan Allah” Ulama Asy’ariyah hanya menerima Riwayat atau hadits – Hadist yang bersifat Qoth`i (pasti ) baik dari sisi periwayatan maupun dari sisi dalalah (petunjuk dari riwayat), sebab tulisan Ustadz Firanda ini berkaitan dengan masalah pokok/ushul, masalah yang sangat esensi sebagai Pondasi yang dibangun di atasnya keyakinan-keyakinan.

    Mungkin standar Ulama Asy’ariyah ini dibawah standar yang ditetapkan oleh Ulama-Ulama Salafi (Wahabi) dalam memahami Kitab dan Sunnah, karena standar mereka adalah: hanya menggunakan Hadits-Hadits Shahih serta membuang jauh Hadits–haditst Dha’if meskipun hanya dalam masalah kamaliyyat. Disamping itu Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) juga berpegang kepada Prinsip ”Al-jam’u wa at-taufiq bainal adillah” menggabungkan dan menselaraskan antar dalil sepanjang masih bisa dilakukan penggabungan dan penselarasan (al-jam`u wa at-taufiq) antar dalil atau antar Riwayat sepanjang itu pulalah kewajiban penggabungan dan penselarasan antar dalil atau riwayat sesuai dengan Syarat-syarat yang tertera dalam kitab-kitab mereka.

    Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bari: ”Dan penggabungan (antar riwayat dalam masalah yang sama) dikedepankan daripada tarjih (pengguguran salah satu riwayat)”, Fathul Bari juz 13 hal 421. Harus dilakukan hal senada juga dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam sarh Muslim : “Tidak ada perbedaan antar ulama bahwa jika dimungkinkan penggabungan antar Hadist maka tidak boleh meninggalkan salah satunya tetapi Wajib penggabungan diantaranya (syarh muslim juz 3 hal. 155)

    Hal ini penting saya sampaikan karena melihat cara atau metode Istidlal atau pendalilan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini tidak berjalan di atas Manhaj atau metodologi yang digariskan dan digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).

    Sebagai contoh Ustadz firanda hanya membawakan perkataan Imam al-Awza’i yang mendukung tujuannya saja, sementara Ucapan Imam Al-Auza’i yang lainnya tidak dia bawakan. Cara pendalilan Ustadz firanda seperti ini bukanlah cara pendalilan yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (asy’ariyah). Ala Kulli Hal itulah metode yang digunakan Ustadz Firanda dalam tulisannya ini beliau hanya menyebutkan riwayat yang hanya mendukung maksud yang ingin dicapainya saja tanpa melihat riwayat-riwayat lain yang lebih Shahih.

    Baiklah, mari kita kaji dan cermati riwayat-riwayat yang disampaikan Ustadz Firanda yang dijadikannya sebagai Hujjah dan Sandaran dalam menetapkan Kosensus atau Ijmak bahwa: ”Allah berada dilangit.”

    [[Catatan:
    1. Ketika saya sebutkan ” Ahlu Sunnah Wal-jama’ah ( Asy’ariyah ) ” maka yang saya maksud adalah (Asy’ariyah, Maturidiyah, Atsariyah dan Sufiyah al-hiqqoh), 4 kelompok inilah yang saya maksud dengan Ahlu Sunnah wal-jama’ah.
    2. Qoul atau perkataan para ulama bukanlah Hujjah Syariyah, Hujjah syar’iyah (sumber hukum) adalah Al-Qur’an al-Karim dan Hadits-hadits yang Shahih]].

    Baik kita mulai dengan mengkaji sandaran-sandaran ustadz Firanda dalam klaim Ijmaknya :

    [A]. Riwayat Pertama yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda untuk klaim adanya Ijmak tentang keberadaan Allah di langit :

    Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H). Al-Auzaa’i berkata: “Ketika kami dahulu – dan para tabi’in masih banyak- kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsy-Nya, dan kita beriman dengan sifat-sifat-Nya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

    Tanggapan: Tidak ada keraguan jika al-Imam al-awza’i adalah Ulama besar panutan Ahlu Sunnah (asy`ariyah) yang wajib diikuti, hanya apakah riwayat ini bersifat Qoth’i (pasti) atau riwayat ini bersifat Dzani ( tidak pasti) yang sama sekali tidak diterima oleh Ulama Ahlu Sunnah? Karena riwayat yang bersifat Dzani tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah aqidah, mari kita kenali rawi-rawi dalam riwayat ini:

    Dalam sanad riwayat ini terdapat rawi yang bernama Muhammad bin katsir al-mashishi (urut 4). al-Mashishi menurut Imam Ahmad hadistnya Mungkar atau meriwayatkan sesuatu yang mungkar hal ini disebutkan oleh ibnu Adi dalam al-Kamil, dan ibnu Adi mengatakan al-mashishi mempunyai riwayat-riwayat dari Ma’mar dan Al-aw-za’i khususnya Hadist-hadist A’dad yang tidak diikuti oleh seorang pun. Demikian juga disebutkan dalam kitab al-jarh wa at-ta’dil juz 8 hal 69, al-mashishi di dha’ifkan oleh Imam ahmad, disifati sangat lemah. Jika para Imam Ahli jarh wa-ta’dil sudah melakukan Jarh seperti ini maka riwayatnya sama sekali tidak bisa diterima apalagi dijadikan Hujjah dalam Aqidah.

    Terlebih Dalam riwayat ini al-Mashishi meriwayatkannya dari Ibrohim bin al-haitsam (urut 3), berkata al-Uqoili dalam kitab ad-Du’afa juz 1 hal 274: dia (Ibrohim al-haitsam) meriwayatkan Hadist yang dianggap Dusta oleh ahli Hadist dan ahlul Hadist menyerangnya dengan periwayatan Hadist yang dianggap dusta itu. Dengan demikian dua orang rawi dalam atsar ini jatuh, al-Mashishi tertuduh meriwayatkan yang Mungkar dan al-Haitsam tertuduh dusta, sehingga hukum atsar ini Maudhu’. Otomatis hal ini menggugurkan Sandaran pertama Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini. Ya, gugur!

    [B]. Riwayat kedua yang dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda
    Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)
    Beliau berkata :
    هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)

    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

    Tanggapan: Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist. Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643, meninggal tahun 351 hijriyah. Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248. Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

    Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

    [C]. Qoul ketiga yang dijadikan sandaran dan Hujjah oleh Ustadz Firanda
    Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H). Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) : “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395).

    Tanggapan: Ibnu Qutaibah seorang Mujassim, lihatlah perkataannya dan perhatikan : “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran”. Perkataan ini sama sekali tidak menunjukkan adanya Ijma’ sebagaimana yang di dakwakan Ustadz firanda. Terlebih Ulama Asy’ariyah hanya menerima Qur`an dan hadist yang bersifat qoth’i sebagai Hujjah dalam Aqidah. Kalaupun ada Ijma’ ia harus bersandar kepada Qur’an dan hadist, bukan bersandar kepada perkataan seluruh Ummat. Ibnu Qutaibah mencoba berdalil dengan omongan semua orang baik Hindu, Atheis, Konghucu dan sebagainya dan ini Bathil. Dengan demikian Status hujjah menjadi Gugur!

    Saya jadi semakin heran terhadap ustadz Firanda sampai-sampai igauan Bathil Ibnu Qutaibah pun dijadikan sandaran dalam Aqidah! Apakah Ibnu Qutaibah menganggap seorang Atheis pun ber-Aqidah-kan “Allah di langit” sehingga berani mengatakan SELURUH UMMAT dst…?” Apakah Ustadz Firanda pun mengigau seperti ini? Ya akhi jangan main-main lho ini Aqidah pondasi dasar keyakinan.

    [D]. Qoul ke empat yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda
    Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)
    Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-’Aniid Hal 25)

    Tanggapan :
    1). Abu said Ustman bin said ad-darimi as-sajzi bermadzhab hanbali, dia seorang mujassim musyabih dari golongan Hasywiyah wafat tahun 282 Hijriyah. Konon wafat tahun 280 hijriyah, Tasybih yang jelas terlihat dari Ucapannya : ”bahwa orang yang berada di puncak gunung lebih dekat kepada Allah ketimbang orang yang berdiri di bawah gunung.” Lihat al- Maqolat il Allamah al-Kautsari hal 282.

    Saya Ahmad Syahid katakan: Sungguh ucapan ini bertentangan dengan Hadist shahih di dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rosulallah SAW bersabda: ” seorang Hamba Lebih dekat kepada Tuhannya ketika ia dalam keadaan Sujud”, dan bahkan bertentangan dengan Al- Qur’an: ”Sujudlah dan mendekatlah. ” (qs. Al-alaq. 19). Dalam ayat ini posisi sujud digandengkan dan diidentikkan dengan kedekatan dengan Allah, ayat ini jelas bertentangan dengan perkataan dan keyakinan Abu said ad-darimi diatas.

    2). Status Hujjah gugur karena dua hal:
    1. Abu said ad-Darimi menyandarkan aqidahnya ini kepada ucapan ummat islam (entah ummat islam yang mana) dan ucapan Ummat Kafir ( yang tantu aqidahnya berbeda dengan muslimin ). Harusnya Abu Said Ustman ad-Darimi menyandarkan Aqidahnya kepada Qur’an dan Hadist yang shahih atau minmal kepada pernyataan Ulama Muslimin (ahlu Sunnah ), bukan kepada Ucapan orang Kafir.
    2. Aqidah abu said ustman ad-darimi bertentangan dengan Qur’an dan Hadist sebagaimana saya sebutkan diatas.
    3. Abu Said Ustman ad-Darimi bukanlah Imam Ahlu sunnah yang terkenal itu, sebab Imam ahlu sunnah adalah : Al-imam Al-hafidz Abu Muhammad abdullah bin Abdurohman bin Fadl bin Bahrom ad-Darimi at-Tamimi as-Samarqondi, beliaulah penulis kitab Sunan ad-darimi wafat tahun 255 hijriyah. Hati-hatilah jangan sampai tercapur aduk antara ad-darimi Imam ahlu sunnah dengan ad-darimi ahlu Bid`ah. Dengan demikian Status hujjah gugur, karena omongan ini keluar dari Ahlul Bid`ah Ustman ad-Darimi yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist diatas.

    [E]. Qoul ke 5 yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda dalam klaim Ijma` nya
    Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)
    Beliau berkata :
    القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”
    “Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami – dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai – bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
    (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
    Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185).

    Tanggapan: Qoul ini diriwayatkan oleh ibn Bathoh al-U’kbari nama lengkapnya : Abu Abdullah Ubaidillah ibn Muhammad ibn Bathoh al- U’kbari, seorang Mujassim bermadzhab Hanbali sekaligus seorang pemalsu hadist (wadho’). Dilahirkan tahun 304 dan wafat pada tahun 387 hijriyah. Konon dialah pencetus Aqidah Pembagian Tauhid.

    Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Astqolani mengatakan dalam kitabnya Lisanul Mizan juz 4 hal 113: “Aku memikirkan Ibnu Bathoh atas sebuah perkara yang sangat besar hingga kulitku merinding darinya. Kemudian aku tetapkan bahwa dia adalah seorang pemalsu hadist (wadho’) , dan dia mempunyai kebiasaan mencungkil nama-nama para imam ahli hadist. Kemudian dia letakkan Namanya ditempat nama Imam yang dicungkilnya. Begitu juga al-Khotib al-Baghdadi menyebutkan sebuah Hadist di mana sanad hadist tersebut terdapat Ibnu Bathoh, kemudian al-khotib al-baghdadi mengatakan Hadist ini palsu dengan jalur sanad ini, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Bathoh. Ibnu Bathoh meriwayatkan atsar ini dari Ahmad ibn as-Saji. Al-Albani dalam Mukhtasor al-uluw hal. 223 mengakui bahwa Ahmad ini tidak dikenal alias majhul, status Hujjah GUGUR. Ustadz Firanda kok seneng yang palsu-palsu ya?

    [F]. Qoul ke enam yang dijadikan Hujjah oleh Ustadz Firanda untuk klaim Ijma’ keberadaan Allah dilangit
    Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)
    Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254
    “Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit: Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”

    Tanggapan : Ibnu Khuzaimah Mujassim terkenal dan sangat sadis.Beliaulah yang berfatwa Kafirnya orang yang tidak mengakui Bahwa Allah berada di atas langit maka orang tersebut harus dibunuh jika tidak mau tobat dan mayatnya dibuang ke tempat sampah. Namun al-hamdulillah akhirnya beliau tobat dari Aqidah tajsim ini seperti yang dinyatakan oleh Imam al-baihaqi dalam asma wa as-sifat hal. 269. Begitu juga dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam fathul bari juz 13 hal 492.

    Jadi rupanya Ustadz firanda belum tahu atau pura-pura tidak tahu jika penulis kitab ” at-Tauhid ” (ibnu khuzaimah) telah tobat dari aqidah yang tertulis dalam kitabnya itu. Sehingga gugur-lah sandaran ke-enam atas klaim Ijmaknya Ustadz Firanda ini, sebab penulisnya pun sudah Tobat.

    [G]. Qoul ke tujuh yang dijadikan Hujjah atas klaim Ijma’ Ulama bahwa Allah di Langit.
    Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)
    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :
    “باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”
    أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه
    ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى
    “Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”

    Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
    Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-’uluw li Adz-Dzahabi 2/1284).

    Tanggapan: Lagi-lagi ustadz firanda ber-hujjah dengan seorang Wadho’ alias pemalsu, status Hujjah gugur lagi. Lihat tanggapan saya atas poin ke 5.

    [H]. Qoul ke 8 yang dijadikan Ustadz firanda sebagai sandaran atas Klaim Ijma’-nya

    Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)
    Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul
    ” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”
    وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

    “Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”

    Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-’Uluw 2/1315)
    Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-’Uluw 2/1315).
    Tanggapan: Tahukah Ustadz firanda jika Adz-Dzahabi juga mengatakan dalam Siar ‘Alam an-Nubala juz 17 hal 567, Adz-Azahabi berkata: ”Saya melihatnya ( at-Tholamanki , pent) menulis kitab yang diberi judul As-Sunnah dua jilid. Secara umum kitab itu baik hanya saja dalam beberapa bab dalam kitab tersebut ada hal yang selamanya tidak akan sejalan (denganku-pent), seperti bab janb (lambung / sisi Allah ) dalam bab itu dia menyitir firman Allah : ”Sungguh rugi atas apa yang aku lalaikan di sisi Allah, hal ini merupakan bentuk keterglinciran seorang Alim. Orang ini Mujassim omongannya tidak perlu dianggap. Sandaran ustadz firanda yang ke 8 pun gugur. Karena Imam Adz-Dzahabi pun tidak sejalan dengannya.

    [I]. Qoul ke sembilan yang dijadikan sandaran klaim Ijma` ustadz firanda
    Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)
    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….

    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)

    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317)

    Tanggapan: Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’ tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!

    [J]. Qoul ke 10 yang dijadikan Hujjah untuk mendukung klaim Ijma’ sang ustadz.

    Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H)
    Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :
    Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”

    Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-’Uluw 2/1321
    Tanggapan: Kenapa Ustadz firanda tidak sekalian menyertakan perkataan Adz-Dzahabi dalam al-uluw ketika berbicara tentang As-sajzi? Berkata adz-dzahabi: bahwa lafadz ”Dzat” bukanlah pernyataan yang masyhur dan terjaga dari para Imam yang disebutkan oleh as-sijzi. Lafadz ”Dzat” itu dari kantongnya As-sijzi bukan dari para Imam. As-Sijzi juga terkenal dengan Tahrif (merubah) hadist sebagai contoh As-Sijzi merubah Hadist ar-rohmah al-musalsal bil awliyah dari jalur Abi Qobus al-Majhul dengan Lafadz ”yarhamkum man fi as-sama” padahal lafadz hadist dari Abu Qobus al-Majhul dalam musnad Ahmad juz 2 hal. 160 ”yarhamkum Ahlu as-sama”. Begitu juga yang dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu hajar dalam Mu’jam al-Syaikhokh Maryam (makhtut) masih berupa manuskrip bahwa Aba Daud juga meriwayatkan dengan Lafadz ”Yarhamkum Ahlu as-sama”.

    Apakah menurut ustadz Firanda riwayat seorang Muharif ( tukang merubah) bisa diterima? Apakah riwayat (berita) yang telah dirubah isinya dapat dijadikan Hujjah? Mengingat riwayat–riwayat palsu pun dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda seperti riwayat-riwayat yang telah lalu, tidak aneh jika riwayat yang telah dirubah pun dijadikan sandaran oleh ustadz firanda. Status Hujjah Gugur bagi orang yang berakal waras.

    Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)
    Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod, “Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…
    dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-’Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-’Uluw 261)

    Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-’Uluw 2/1306)

    Tanggapan: Kitab al-I’tiqod karya Abu Nu`aim Al-ashfahani tidak ada wujudnya, ini merupakan kitab Majhul yang hanya diketahui oleh Imam Adz-dzahabi. Terlebih adz-Dzahabi sendiri telah meninggalkan faham yang dianutnya dalam kitabnya al-Uluw ini. Saya minta Ustadz Firanda untuk menunjukkan wujud asli kitab i’tiqod yang dinisbatkan kepada abu Nu’aim, atau kitab Majhul pun menurut Ustadz Firanda bisa dijadikan referensi? Status Hujjah gugur karena kitab al-I’tiqod Abu Nu’aim adalah kitab Majhul, terlebih dalam tulisan ini Ustadz Firanda banyak menyandarkan Hujjahnya pada para Pembohong dan Pemalsu seperti yang telah lewat diatas.

    Qoul ke 12 yang dijadikan sandaran ustadz Firanda Untuk menguatkan Klaim Ijma’-nya
    Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)
    Berkata Ibnu Abi Hatim :
    “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:

    Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…
    Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

    Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,
    “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
    Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201.

    Tanggapan: Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

    Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

    Saya Ahmad Syahid katakan: Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah! Status Hujjah gugur , karena rawi-rawinya Majhul.

    Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)
    Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),

    “Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)
    Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :

    “Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)

    Beliau juga berkata :
    “Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)

    Tanggapan: Inilah pentingnya menggabungkan antar riwayat sebagaimana saya sebutkan dalam awal Mukadimah, sehingga memberikan pemahaman yang utuh sesuai dangan maksud penulis, sebab Ibnu Abdil Bar dalam dalam At-Tamhid juga mengatakan :
    Pertama: ”Bahwa Khobarul wahid (hadist ahad ) tidak memberikan keyakinan pasti (ilm) hanya mewajibkan untuk diamalkan ( hanya berlaku dalam furu’, pent).” Tentu hal ini bertentangan dengan kaum wahabiyyin, yang menjadikan khobarul wahid (hadist ahad) sebagai Hujjah dalam Aqidah , bahkan dalam tulisan ini Ustadz Firanda membawakan atsar – atsar Mungkar tidak sah bahkan Maudu’ untuk landasan Aqidah, sebagaimana yang telah lewat diatas.

    Kedua: Ibnu Abdil Bar juga mengingkari pernyataan Nu’aim bin Hammad yang menyatakan bahwa ”Allah turun dengan Dzatnya sementara dia diatas kursinya ”, berkata Ibnu Abdil Bar : ” ucapan ini bukanlah sesuatu (yang dapat dipegang- pent.) di kalangan ahli, karena ini merupakan kaifiyah (membagaimanakan-pent) sementara Ahli Ilmu Lari dari pernyataan seperti ini karena pernyataan seperti itu tidak bisa difahami kecuali terhadap sesuatu yang terlingkupi penglihatan ( bersifat fisik-pent).

    Ketiga: Ibnu Abdil Bar juga mengatakan : telah bersepakat Ulama shahabat dan tabi’in yang dari mereka dibawakan takwil dst…, menunjukkan jika takwil itu boleh dan dibenarkan karena datang dari para sahabat dan tabi`in, lalu kenapa Wahabiyyin dalam masalah istiwa pun melarang takwil? Lebih dari itu Wahabiyyin menganggap sesat orang yang melakukan Takwil?

    Ke empat: Ibnu Abdil Bar mengatakan: telah berkata Ahli Atsar (tentang Hadist Nuzul –pent) bahwa yang turun adalah Perintah dan rahmatnya, kemudian beliau menyebutkan riwayat hingga Imam Malik rodiuallahu anhu dan berkata: bisa jadi (pentakwilan ini -pent) seperti perkataan imam malik rohimahullah yang bermakna ”Turunnya Rohmat dan Qodhonya (ketetapan-pent) dengan pengampunan dan penerimaan, At-Tamhid 7/ 144 .

    Ke lima: Dari pernyataan-pernyataan yang digabungkan ini , jelas-lah Aqidah sang Imam bahwa Beliau adalah seorang Mufawwidh, yang salah difahami oleh sang Ustadz Firanda sehingga dijadikan landasan dan Hujjah akan Klaim Ijmaknya. Lihatlah sang Imam mengingkari istiwa dengan ”Dzatnya” dan sang Imam pun membolehkan Takwil. Lalu mengikuti siapakah kawan-kawan wahabiyiin ini? Mereka dan juga Ustadz Firanda menolak Tafwidh dan takwil, padahal keduanya ( Tafwidh dan Takwil) adalah Manhaj atau metodologi yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) sepanjang masa, sehingga status Hujjah Ustadz Firanda Gugur karena Imam Ibnu Abdil Bar adalah seorang Mufawwidh.

    ustadz Firanda mengatakan: “Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf.”

    Jawab: Para pembaca yang budiman ternyata setelah dilakukan pengecekan secara seksama semua riwayat yang ustadz Firanda jadikan sandaran adalah tidak sah , Mungkar bahkan maudu’ sebagaimana tadi kita kupas satu per satu. Bukankah ustadz Firanda dan All wahabiyyin menolak Hadist-hadist dha’if meskipun hanya untuk Fadailul a’mal? Tetapi kenapa justru pada masalahushul/Pokok (Aqidah) sebagai Pondasi Iman seorang Muslim, justru Ustadz Firanda menyuguhkan dan bahkan menggunakan perkataan Ulama yang riwayatnya tidak sah , Mungkar bahkan maudhu’? Diletakkan di mana semboyan: ”hanya menggunakan hadist-hadist shahih-nya?” Ijmak yang Ustadz Firanda klaim itu hanya berdiri di atas ketidak-absahan, kemungkaran dan kepalsuan!

    Demikian kajian atas Klaim ijma tentang ”keberadaan Allah Di langit” telah gugur seiring dengan gugurnya para Rawi yang meriwayatkannya. Dan sebenarnya masih banyak qoul –qoul lainnya yang dinisbatkan kepada para Ulama Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) yang jika diteliti sanadnya akan menghasilkan hal yang sama dengan atsar-atsar yang ditampilkan Ustadz Firanda, statusnya akan sama (gugur) karena riwayat-riwayat itu 95 % adalah Tidak Sah , Mungkar , dan maudhu’.

    Adapun Ijmak yang benar di kalangan Ahlu Sunnah Wal-jama’ah adalah keyakinan bahwa ”Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah ”. Ijmak ini dinukil Oleh Al-imam Al-Hafidz An-Nawawi dalam Syarh Muslim juz 5 hal. 24 cet. Darul Fikr, juga Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-atsqolani Al-Imam Al- Hafidz az-zabidi. Ijmak ini pun dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijmak halaman 167.

    Wallohu a’lam….

  92. lukman mubarok mengatakan:

    @aswaja bukan main hebatnya maraji yang anda cantumkan. boleh saya pinjam nih semua maraji yang anda sebutkan?

  93. lukman mubarok mengatakan:

    @aswaja, apakah anda paham dengan isi semua yang anda copy paste?

  94. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    @lukman,

    saya sudah membaca nya sebanyak kira-2 5x……alhamdulillah

  95. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    @lukman,

    bacalah pelan-2, jgn terburu-2, periksa sumber-2, sanad-2nya dari kitab-2 syaikh yg ditampilkan, apakah ada yg terputus sanadnya? ada yg maudhu???

    sekali lagi, silahkan baca pelaaaaaan – pelaaaaan saja….

  96. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    @lukman,

    alhamdulillah saya bisa memahami setelah baca untuk yg ke-2 kalinya, dg kedangkalan ilmu saya, saya tidak cepat mengerti hanya 1x baca saja…..

  97. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    sebenarnya, ada 4 artikel bantahan kepada Ustadz Firanda, tapi saya hanya save file 2 artikel saja, semoga bermanfaat

  98. Khazia mengatakan:

    @Aswaja
    lho Asy’ariyah ma Maturidiyah itu temenan ya soal akidah? Setau saya mereka bertentangan. Bukannya Maturidiyah condong ke muktazilah?.. Imam Baihaqi pernah meriwayatkan al-Maturidiyah sama dengan muktazilah. Mereka mengatakan bahwa ketika Allah berbicara kepada Nabi Musa, Allah menciptakan kalam di pohon. Jadi Nabi Musa bukan mendengar ucapan Allah tapi ucapan dari pohon. Kata Imam Baihaqi: imam Asyari sangat mengingkari ucapan ini dan menjelekkan sekali serta membantahnya dengan keras.

    CMIIW

    @All
    Hendaklah murid yang baru belajar, waspada agar tidak menggunakan potensinya untuk mengambil pokok-pokok ajaran agamanya dari kitab-kitab yang dipenuhi dengan ucapan para filosof dan yang penulisnya senang mengutip hawa (nafsu).

  99. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    @khazia,

    silahkan tampilkan buktinya, sertakan sanad-2 nya yg jelas….kalo cuma komen spt di atas tanpa bukti yah percuma dong, ayo sertakan bukti-2, kita kaji sama-2

  100. Khazia mengatakan:

    @Aswaja
    kamu ngerti ga CMIIW itu apa?? @_@

  101. aswaja selalu mengatakan:

    @khazian….

    silahkan bicara pakai bukti, bukan bahasa kaskus….

  102. Khazia mengatakan:

    @Asswajan
    mf ya, sy tdk punya kaskus. sy tau istilah ini dari situs pertukaran bahasa.

    CMIIW itu artinya correct me if i’m wrong artinya sy butuh pelurusan dari kmu yg tampaknya berilmu ini..

    mw tanya, menurut km ciri khas akidah ahlussunahwaljamaah itu apa?

  103. aswaja selalu mengatakan:

    @khazia

    i know that, so we have talk with valid source……

    yg paling utama : Alloh SWT ada tanpa tempat, sedangkan salafy wahabi : Alloh SWT ada di atas arsy…..

  104. Lukman Mubarok mengatakan:

    @aswaja, buktinyata ada dalam ayat al Quran sebagaimana disebut oleh ust abisyakir dan ust Firanda. Mana ucapan ulama yang lebih kuat dari kalamullah?

  105. Aswaja Selalu Di Hati mengatakan:

    @lukman, silahkan tampilkan disini…..

  106. Khazia mengatakan:

    @aswaja
    bukan bertauhid kepada Allah dalam ibadahnya, tidak berbuat syirik sedikitpun, dan mengikuti ajaran rasul-Nya ya?
    mmm…
    oh iy, utk riwayat Baihaqi insyaAllah klo tdk salah ada di al-I’tiqad
    CMIIW

    @All
    terbitnya buku syaikh idahram dan juga buku Pak AM Waskito adalah atas kehendak Allah Ta’ala. Semoga dgnnya tersibak mana yg haq & mana yg bathil.
    untuk kita cukuplah “Risalah berasal dari Allah, kewajiban Rasulullah adalah menyampaikannya, dan kewajiban kita adalah taslim”.

    اللهم أرنا الحق حقا وألهمنا اتباعه ، وأرنا الباطل باطلا، وألهمنا اجتنابه

  107. abisyakir mengatakan:

    @ Aswaja Selalu

    “Mengutip Tulisan Ustadz Ahmad Syahid”

    Firanda adalah sebuah nama yang sedang tenar di kalangan kaum Salafi Wahabi. Sejak hobby-nya menghujat-hujat Abu Salafy, nama Firanda langsung nanjak danngetop di tengah kaumnya yang dielu-elukan sebagai pahlawan Salafi Wahabi. Bukan itu saja, Firanda oleh kaumnya selalu dibanggakan di mana-mana dan dianggap sebagai reppresentasi kebenaran Salafi Wahabi. Benarkah anggapan yang demikian prestisius itu pantas disandang olehUstadz Firanda?

    Nah, untuk mengungkap siapa sejatinya Ustadz Firanda, mari kita simak presentasi fakta-fakta tersembunyi di balik artikel-artikel Firanda. Tulisan yang diwarnai dengan warna merah di bawah ini adalah cuplikan dari artikel Ustadz Firanda yang penuh dusta dan tipu muslihat yang dapat mengecoh ummat Islam yang masih pemula. Artikel-artikel ini ditulis sedemikian antusias plus dibumbui dengan referensi-referensi sehingga dalam pandangan orang-orang awam artikel ini seakan-akan bernilai ilmiyyah. Padahal jika diteliti ternyata artikel ini adalah artikel tanpa makna yang menyelisihi kebenaran. Tulisan warna hitam adalah tanggapan dari Ahmad Syahid, sedangkan yang warna merah adalah tulisan Ustadz Firanda seorang aktifis Wahabi di Indonesia. Silahkan simak dan teliti sendiri bagi anda yang punya ilmunya….

    Komentar: Sebenarnya Ustadz Firanda sudah dikenal sebelumnya, terutama setelah menulis buku pembelaan tentang Jum’iyyah Ihya’ut Turats. Kalau Anda baca tulisan dia tentang artikel-artikel Abu Salafy; sebenarnya dia bukan sedang menghujat Abu Salafy, tetapi meluruskan fitnah-fitnah yang disebarkan manusia satu itu. Disini sudah ada kesan “memojokkan orang lain”, padahal dia hanya bereaksi atas tulisan2 Abu Salafy.

    Bismilahirohmanirohim, Al-hamdulillah wa sholatu wasalmu `ala Sayyidina wa Mawlana Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, wa ala alihi wa shohbihi waman tabi`ahum bi Ihsanin ila yaumiddin, amma ba`du.

    Tulisan ini ditulis semata–mata hanya untuk meluruskan pemahaman atas apa yang diklaim oleh Ustadz Firanda dalam situsnya. Andai tulisan ustadz Firanda ini tidak bisa diakses kecuali hanya oleh orang-orang tertentu , niscaya saya tidak akan capai–capai atau repot membuat bantahan ini.

    Tulisan ini ditujukan untuk mengungkap apakah benar klaim dan dakwa’an (anggapan) Ustadz Firanda soal:
    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

    Apakah klim ini benar atau itu hanya sekedar Klaim kosong yang mengelabui Ummat? Atau sekedar tipu muslihat untuk menyesatkan Ummat? Mari kita lihat, baca dan kaji secermat mungkin agar mendapatkan kesimpulan yang benar, yaitu kesimpulan yang mengedepankan aspek obyektifitas dan sportifitas demi menemukan kebenaran sejati.

    Komentar: Hal ini pernah saya tanyakan ke seorang Ustadz. Bagaimana kita akan bersatu, sementara di antara kaum Muslimin sendiri ada yang memahami Sifat Allah seperti manhaj Ibnu Taimiyyah, lalu ada yang seperti manhaj Imam ‘Asyari dan lainnya? Kata beliau, kalau mengharap bersatu secara utuh, tampaknya sulit. Minimal, kata beliau, pengertian Ahlus Sunnah itu adalah: Bukan Syiah. (Anda pasti ingat, ada istilah dikotomi Sunni-Syiah. Nah, itu argumentasinya).


    Sebelum membahas lebih lanjut saya ingin menyampaikan beberapa kaidah penting yang digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah Wal-jama’ah ( Asya’irah ) dalam menetapkan Asma dan sifat Allah, sebagai sebuah manhaj atau metodologi dalam memahami kitab dan Sunnah. Hal ini juga untuk memberikan patokan bagi siapa pun yang ingin mengetahui Aqidah Ahlu Sunnah ( asy’ariyah) sehingga tidak menggunakan prasangka dalam memahami pernyataan-pernyataan Ulama asy’ariyah.

    Seperti kita ketahui bersama Agama Islam yang kita anut ini, bersandarkan kepada apa yang diriwayatkan (Al-qur’an dan As-sunnah), sama sekali tidak bersandar kepada akal-akalan, namun tentu saja tanpa membuang pentingnya akal dalam memahami apa yang diriwayatkan.

    Komentar: Sebenarnya, kalau menurut pencermatan saya, alasan terbesar kaum Asy’ari menolak metode Ibnu Taimiyyah dalam masalah Asma Wa Shifat, ya karena alasan AKAL itu sendiri. Bukanlah sebenarnya, Imam Abu Hasan Al Asy’ari semula adalah pengikut Mu’tazilah yang menomorsatukan akal? Sampai kaum Asy’ari memasukkan model-model takwilan filosof Yunani karena tak kuasa mengimani ayat-ayat seputar Sifat Allah sebagaimana adanya. Wah…sangat hebat penggambaran mereka tentang Sifat Allah. Sampai disana dikatakan, “Allah tidak di dalam ruangan, tidak berada di luar ruangan, bahkan tidak di antara keduanya.”

    Di samping itu Ulama Asy’ariyah memahami bahwa Agama ini terdiri dari tiga hal utama yang tidak bisa dipisahkan :
    1. Masalah pokok/ushul ( Aqidah ) sebagai pondasi dasar.
    2. Masalah Furu’ atau cabang atau yang biasa disebut dengan Mua’amalat baik antara hamba dengan Tuhan atau antara hamba itu sendiri.
    3. Masalah kamaliyat atau kesempurnaan atau yang biasa disebut dengan Akhlak atau prilaku.
    a). Dalam masalah ushul/pokok (Aqidah) Ulama Asy’ariyah hanya menerima riwayat (dalil-dalil) yang bersifat Pasti ( qoth’i) seperti hadist Mutawatir hadits Mustafidh dan Hadits Masyhur.
    b). Dalam masalah Furu’ atau cabang atau Mu’amalat Ulama Asy’ariyah di samping menggunakan Riwayat yang Qoth’i juga menggunakan riwayat yang bersifat Dzonni seperti hadits Ahad.
    c). Dalam masalah Kamaliyat atau kesempurnaan atau Akhlak dan prilaku di samping menggunakan dua jenis Hadits di atas, Ulama Asy’ariyah juga menggunakan Hadits Dha’if sebagai hujjah dan tentu ada syarat-syaratuntuk digunakannya Hadits Dha’if tersebut sebagai Hujjah dalam masalah kamaliyyat.

    Dengan kaidah–kaidah ini Ulama Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) berjalan memahami dan mengamalkan Agama.

    Komentar: Ya, kita perlu memahami konsep yang diyakini kaum Asy’ari ini. Agar lebih tahu dan mafhum.

    Terkait dengan tulisan Ustadz Firanda tentang ”keberadaan Allah” Ulama Asy’ariyah hanya menerima Riwayat atau hadits – Hadist yang bersifat Qoth`i (pasti ) baik dari sisi periwayatan maupun dari sisi dalalah (petunjuk dari riwayat), sebab tulisan Ustadz Firanda ini berkaitan dengan masalah pokok/ushul, masalah yang sangat esensi sebagai Pondasi yang dibangun di atasnya keyakinan-keyakinan.

    Mungkin standar Ulama Asy’ariyah ini dibawah standar yang ditetapkan oleh Ulama-Ulama Salafi (Wahabi) dalam memahami Kitab dan Sunnah, karena standar mereka adalah: hanya menggunakan Hadits-Hadits Shahih serta membuang jauh Hadits–haditst Dha’if meskipun hanya dalam masalah kamaliyyat. Disamping itu Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) juga berpegang kepada Prinsip ”Al-jam’u wa at-taufiq bainal adillah” menggabungkan dan menselaraskan antar dalil sepanjang masih bisa dilakukan penggabungan dan penselarasan (al-jam`u wa at-taufiq) antar dalil atau antar Riwayat sepanjang itu pulalah kewajiban penggabungan dan penselarasan antar dalil atau riwayat sesuai dengan Syarat-syarat yang tertera dalam kitab-kitab mereka.

    Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bari: ”Dan penggabungan (antar riwayat dalam masalah yang sama) dikedepankan daripada tarjih (pengguguran salah satu riwayat)”, Fathul Bari juz 13 hal 421. Harus dilakukan hal senada juga dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam sarh Muslim : “Tidak ada perbedaan antar ulama bahwa jika dimungkinkan penggabungan antar Hadist maka tidak boleh meninggalkan salah satunya tetapi Wajib penggabungan diantaranya (syarh muslim juz 3 hal. 155)

    Hal ini penting saya sampaikan karena melihat cara atau metode Istidlal atau pendalilan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini tidak berjalan di atas Manhaj atau metodologi yang digariskan dan digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).

    Sebagai contoh Ustadz firanda hanya membawakan perkataan Imam al-Awza’i yang mendukung tujuannya saja, sementara Ucapan Imam Al-Auza’i yang lainnya tidak dia bawakan. Cara pendalilan Ustadz firanda seperti ini bukanlah cara pendalilan yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (asy’ariyah). Ala Kulli Hal itulah metode yang digunakan Ustadz Firanda dalam tulisannya ini beliau hanya menyebutkan riwayat yang hanya mendukung maksud yang ingin dicapainya saja tanpa melihat riwayat-riwayat lain yang lebih Shahih.

    Komentar: Metode penggabungan riwayat yang Anda kutip dari Ibnu Hajar Asqalani itu, nanti ia bertabrakan dengan ISI TULISAN ANDA sendiri. Dalam tulisan itu kan Anda melemahkan sekian banyak riwayat perkataan ulama yang dibawakan Ustadz Firanda. Harusnya, Anda terima riwayat-riwayat itu, sebab kalau jumlahnya banyak, dan di dukung riwayat-riwayat lain yang lebih kuat; menurut metode Ibnu Hajar, ya boleh diterima.

    Baiklah, mari kita kaji dan cermati riwayat-riwayat yang disampaikan Ustadz Firanda yang dijadikannya sebagai Hujjah dan Sandaran dalam menetapkan Kosensus atau Ijmak bahwa: ”Allah berada dilangit.”

    [[Catatan:
    1. Ketika saya sebutkan ” Ahlu Sunnah Wal-jama’ah ( Asy’ariyah ) ” maka yang saya maksud adalah (Asy’ariyah, Maturidiyah, Atsariyah dan Sufiyah al-hiqqoh), 4 kelompok inilah yang saya maksud dengan Ahlu Sunnah wal-jama’ah.
    2. Qoul atau perkataan para ulama bukanlah Hujjah Syariyah, Hujjah syar’iyah (sumber hukum) adalah Al-Qur’an al-Karim dan Hadits-hadits yang Shahih]].

    Baik kita mulai dengan mengkaji sandaran-sandaran ustadz Firanda dalam klaim Ijmaknya :

    Komentar: Alhamdulillah disini Anda sportif dengan membatasi diri pada pengertian Ahlus Sunnah sesuai kaidah Asy’ariyyah. Ini bagus. Ada keterbukaan dan kejujuran. Alhamdulillah.

    Kata Anda qaul ulama bukan hujjah. Ya benar. Hujjah Syar’i secara hakiki ialah Kitabullah dan Sunnah shahihah. Tapi nanti dalam tulisan Anda ini, Anda banyak mementahkan argumentasi Ustadz Firanda dengan perkataan ulama. Mayoritas hujjah Anda adalah qaul ulama. Jadi bagaimana mestinya?

    [A]. Riwayat Pertama yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda untuk klaim adanya Ijmak tentang keberadaan Allah di langit :

    Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H). Al-Auzaa’i berkata: “Ketika kami dahulu – dan para tabi’in masih banyak- kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsy-Nya, dan kita beriman dengan sifat-sifat-Nya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

    Tanggapan: Tidak ada keraguan jika al-Imam al-awza’i adalah Ulama besar panutan Ahlu Sunnah (asy`ariyah) yang wajib diikuti, hanya apakah riwayat ini bersifat Qoth’i (pasti) atau riwayat ini bersifat Dzani ( tidak pasti) yang sama sekali tidak diterima oleh Ulama Ahlu Sunnah? Karena riwayat yang bersifat Dzani tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah aqidah, mari kita kenali rawi-rawi dalam riwayat ini:

    Dalam sanad riwayat ini terdapat rawi yang bernama Muhammad bin katsir al-mashishi (urut 4). al-Mashishi menurut Imam Ahmad hadistnya Mungkar atau meriwayatkan sesuatu yang mungkar hal ini disebutkan oleh ibnu Adi dalam al-Kamil, dan ibnu Adi mengatakan al-mashishi mempunyai riwayat-riwayat dari Ma’mar dan Al-aw-za’i khususnya Hadist-hadist A’dad yang tidak diikuti oleh seorang pun. Demikian juga disebutkan dalam kitab al-jarh wa at-ta’dil juz 8 hal 69, al-mashishi di dha’ifkan oleh Imam ahmad, disifati sangat lemah. Jika para Imam Ahli jarh wa-ta’dil sudah melakukan Jarh seperti ini maka riwayatnya sama sekali tidak bisa diterima apalagi dijadikan Hujjah dalam Aqidah.

    Terlebih Dalam riwayat ini al-Mashishi meriwayatkannya dari Ibrohim bin al-haitsam (urut 3), berkata al-Uqoili dalam kitab ad-Du’afa juz 1 hal 274: dia (Ibrohim al-haitsam) meriwayatkan Hadist yang dianggap Dusta oleh ahli Hadist dan ahlul Hadist menyerangnya dengan periwayatan Hadist yang dianggap dusta itu. Dengan demikian dua orang rawi dalam atsar ini jatuh, al-Mashishi tertuduh meriwayatkan yang Mungkar dan al-Haitsam tertuduh dusta, sehingga hukum atsar ini Maudhu’. Otomatis hal ini menggugurkan Sandaran pertama Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini. Ya, gugur!

    Komentar: Anda ini seperti “menelan ludah sendiri”. Anda mengkritik Ust. Firanda karena menukil perkataan Al Auza’i yang selaras dengan pandangannya. Kalau perkataan Al Auza’i tidak selaras, katanya tidak dipakai. Saat yang sama Anda juga melakukan hal seperti itu. Anda berkali-kali memakai perkataan Ibnu Hajar untuk mengkritik riwayat-riwayat yang dibawakan oleh Ust. Firanda. Sementara dalam riwayat ini, Anda mengabaikan pendapat Ibnu Hajar yang menilai riwayat pertama ini Jayyid. Mengapa Anda tidak juga memakai penilaian Ibnu Hajar Asqalani untuk riwayat tersebut? Saat Ibnu Hajar cocok, ia dipakai. Saat tidak cocok, disingkirkan. Ya begitu deh…

    [B]. Riwayat kedua yang dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda
    Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)
    Beliau berkata :
    هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)

    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

    Tanggapan: Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist. Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643, meninggal tahun 351 hijriyah. Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248. Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

    Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

    Komentar: Ya, Anda boleh menolak perawi yang bernama Qutaibah ini. Sebagaimana, Adz Dzahabi juga boleh memujinya. Iya kan. Hal demikian dikenal dalam ilmu Jarah Wa Ta’dil. Bisa jadi, dari jalur ini penilaian Anda benar, tetapi teks perkataan ini bisa diperkuat oleh teks-teks perkataan lain yang senada, dari imam-imam yang lain. Istilahnya thariqul jam’i (metode menggabungkan) seperti yang Anda sebutkan sebagai metode yang dipilih Ibnu Hajar Al Asqalani itu.

    [C]. Qoul ketiga yang dijadikan sandaran dan Hujjah oleh Ustadz Firanda
    Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H). Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) : “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395).

    Tanggapan: Ibnu Qutaibah seorang Mujassim, lihatlah perkataannya dan perhatikan : “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran”. Perkataan ini sama sekali tidak menunjukkan adanya Ijma’ sebagaimana yang di dakwakan Ustadz firanda. Terlebih Ulama Asy’ariyah hanya menerima Qur`an dan hadist yang bersifat qoth’i sebagai Hujjah dalam Aqidah. Kalaupun ada Ijma’ ia harus bersandar kepada Qur’an dan hadist, bukan bersandar kepada perkataan seluruh Ummat. Ibnu Qutaibah mencoba berdalil dengan omongan semua orang baik Hindu, Atheis, Konghucu dan sebagainya dan ini Bathil. Dengan demikian Status hujjah menjadi Gugur!

    Saya jadi semakin heran terhadap ustadz Firanda sampai-sampai igauan Bathil Ibnu Qutaibah pun dijadikan sandaran dalam Aqidah! Apakah Ibnu Qutaibah menganggap seorang Atheis pun ber-Aqidah-kan “Allah di langit” sehingga berani mengatakan SELURUH UMMAT dst…?” Apakah Ustadz Firanda pun mengigau seperti ini? Ya akhi jangan main-main lho ini Aqidah pondasi dasar keyakinan.

    Komentar: Disini Anda bersikap memvonis. Anda sebut Ibnu Qutaibah seorang Mujassim karena dia meyakini bahwa Allah di atas langit seperti disebut dalam ayat-ayat Al Qur’an yang merupakan dalil qath’iy. Ada sekitar 6 ayat yang menunjukkan Allah Istiwa’ di atas Arasy. Hanya karena seorang Muslim meyakini ini, lalu dituduh Mujassim. Aneh sekali. Harusnya -kalau mengikuti nalar Anda- minta saja supaya redaksi ayat-ayat Al Qur’an itu diubah! Misalnya, seperti nalar Anda dkk. ayatnya menjadi begini: “Allah ada dimana-mana, tidak ada tempat-Nya, dan tidak ada arah”. Lalu susupkan ayat-ayat palsu itu di Al Qur’an. Na’udzubillah min dzalik…agar seluruh Ummat manusia pembaca Al Qur’an mengikuti hawa nafsu Anda dkk.

    Pantas kalau ada ulama yang berpendapat, orang-orang yang menolak Allah di atas Arasy, itu kafir. Betapa tidak, mereka jelas-jelas mengkufuri ayat Al Qur’an yang qath’i. Katanya, berhujjah dengan dalil Qath’i, bukan zhanni, tapi ayat-ayat Al Qur’an dilempar ke selokan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    [D]. Qoul ke empat yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda
    Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)
    Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-’Aniid Hal 25)

    Tanggapan :
    1). Abu said Ustman bin said ad-darimi as-sajzi bermadzhab hanbali, dia seorang mujassim musyabih dari golongan Hasywiyah wafat tahun 282 Hijriyah. Konon wafat tahun 280 hijriyah, Tasybih yang jelas terlihat dari Ucapannya : ”bahwa orang yang berada di puncak gunung lebih dekat kepada Allah ketimbang orang yang berdiri di bawah gunung.” Lihat al- Maqolat il Allamah al-Kautsari hal 282.

    Saya Ahmad Syahid katakan: Sungguh ucapan ini bertentangan dengan Hadist shahih di dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rosulallah SAW bersabda: ” seorang Hamba Lebih dekat kepada Tuhannya ketika ia dalam keadaan Sujud”, dan bahkan bertentangan dengan Al- Qur’an: ”Sujudlah dan mendekatlah. ” (qs. Al-alaq. 19). Dalam ayat ini posisi sujud digandengkan dan diidentikkan dengan kedekatan dengan Allah, ayat ini jelas bertentangan dengan perkataan dan keyakinan Abu said ad-darimi diatas.

    2). Status Hujjah gugur karena dua hal:
    1. Abu said ad-Darimi menyandarkan aqidahnya ini kepada ucapan ummat islam (entah ummat islam yang mana) dan ucapan Ummat Kafir ( yang tantu aqidahnya berbeda dengan muslimin ). Harusnya Abu Said Ustman ad-Darimi menyandarkan Aqidahnya kepada Qur’an dan Hadist yang shahih atau minmal kepada pernyataan Ulama Muslimin (ahlu Sunnah ), bukan kepada Ucapan orang Kafir.
    2. Aqidah abu said ustman ad-darimi bertentangan dengan Qur’an dan Hadist sebagaimana saya sebutkan diatas.
    3. Abu Said Ustman ad-Darimi bukanlah Imam Ahlu sunnah yang terkenal itu, sebab Imam ahlu sunnah adalah : Al-imam Al-hafidz Abu Muhammad abdullah bin Abdurohman bin Fadl bin Bahrom ad-Darimi at-Tamimi as-Samarqondi, beliaulah penulis kitab Sunan ad-darimi wafat tahun 255 hijriyah. Hati-hatilah jangan sampai tercapur aduk antara ad-darimi Imam ahlu sunnah dengan ad-darimi ahlu Bid`ah. Dengan demikian Status hujjah gugur, karena omongan ini keluar dari Ahlul Bid`ah Ustman ad-Darimi yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist diatas.

    Komentar:

    Karena Allah memang di atas langit, maka posisi di atas gunung lebih dekat kepada Allah. Posisi di kaki gunung atau pantai lebih jauh dari Allah Ta’ala. Apakah ini bertentangan dengan hadits, “Seorang hamba lebih dekat ke Tuhannya saat sedang sujud”? Tidak bertentangan. Kalau di atas gunung seseorang sujud, maka sujudnya “lebih dekat” kepada Allah daripada yang sujud di pantai. Sama-sama bersujud, tentu yang lebih mendekati langit secara hakiki lebih dekat kepada Allah Ta’ala.

    Maksudnya, bukan Ad Darimi menyandarkan hujjahnya kepada orang kafir. Bukan begitu, Ustadz. Tetapi, beliau ingin menegaskan sebuah kenyataan -menurutnya- bahwa: “Orang kafir pun tahu kalau Tuhan itu di langit. Masak orang Muslim tidak tahu?” Faktanya, kalau Anda lihat Lionel Messi habis mencetak gol, dia selalu mengacungkan tangan kedua tangan ke langit. Itu fakta. (Nanti saya dituduh berdalil dengan Lionel Messi lagi… Ya sudah deh).


    [E]. Qoul ke 5 yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda dalam klaim Ijma` nya
    Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)
    Beliau berkata :
    القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”
    “Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami – dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai – bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
    (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
    Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185).

    Tanggapan: Qoul ini diriwayatkan oleh ibn Bathoh al-U’kbari nama lengkapnya : Abu Abdullah Ubaidillah ibn Muhammad ibn Bathoh al- U’kbari, seorang Mujassim bermadzhab Hanbali sekaligus seorang pemalsu hadist (wadho’). Dilahirkan tahun 304 dan wafat pada tahun 387 hijriyah. Konon dialah pencetus Aqidah Pembagian Tauhid.

    Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Astqolani mengatakan dalam kitabnya Lisanul Mizan juz 4 hal 113: “Aku memikirkan Ibnu Bathoh atas sebuah perkara yang sangat besar hingga kulitku merinding darinya. Kemudian aku tetapkan bahwa dia adalah seorang pemalsu hadist (wadho’) , dan dia mempunyai kebiasaan mencungkil nama-nama para imam ahli hadist. Kemudian dia letakkan Namanya ditempat nama Imam yang dicungkilnya. Begitu juga al-Khotib al-Baghdadi menyebutkan sebuah Hadist di mana sanad hadist tersebut terdapat Ibnu Bathoh, kemudian al-khotib al-baghdadi mengatakan Hadist ini palsu dengan jalur sanad ini, karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Bathoh. Ibnu Bathoh meriwayatkan atsar ini dari Ahmad ibn as-Saji. Al-Albani dalam Mukhtasor al-uluw hal. 223 mengakui bahwa Ahmad ini tidak dikenal alias majhul, status Hujjah GUGUR. Ustadz Firanda kok seneng yang palsu-palsu ya? </strong.

    Komentar: Ya, satu riwayat yang lemah bisa dikuatkan oleh riwayat lain. Sejujurnya, dalam konteks ini, kita menyikapi perkataan ulama dengan metode musthalah hadits, itu sudah hebat. Hebat, hebat sekali. Karena metode musthalah itu umumnya ya diperlukan saat studi hadits. Tetapi disini ucapan ulama bisa diverifikasi dengan cara demikian, ini sudah hebat. Kalau perkataan mereka banyak dan mirip-mirip, meskipun dari sisi riwayat lemah, itu bisa menguatkan.

    [F]. Qoul ke enam yang dijadikan Hujjah oleh Ustadz Firanda untuk klaim Ijma’ keberadaan Allah dilangit
    Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)
    Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254
    “Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit: Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”

    Tanggapan : Ibnu Khuzaimah Mujassim terkenal dan sangat sadis.Beliaulah yang berfatwa Kafirnya orang yang tidak mengakui Bahwa Allah berada di atas langit maka orang tersebut harus dibunuh jika tidak mau tobat dan mayatnya dibuang ke tempat sampah. Namun al-hamdulillah akhirnya beliau tobat dari Aqidah tajsim ini seperti yang dinyatakan oleh Imam al-baihaqi dalam asma wa as-sifat hal. 269. Begitu juga dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam fathul bari juz 13 hal 492.

    Jadi rupanya Ustadz firanda belum tahu atau pura-pura tidak tahu jika penulis kitab ” at-Tauhid ” (ibnu khuzaimah) telah tobat dari aqidah yang tertulis dalam kitabnya itu. Sehingga gugur-lah sandaran ke-enam atas klaim Ijmaknya Ustadz Firanda ini, sebab penulisnya pun sudah Tobat.

    Komentar: Kini giliran Ibnu Khuzaimah yang dimentahkan oleh si penulis. Aneh memang. Belajar hadits sedemikian rupa, tapi menolak Ibnu Khuzaimah. Ya bagi yang belajar hadits, tahulah siapa beliau? Anda banyak menggunakan metode musthalah hadits tapi mementahkan Ibnu Khuzaimah. Masya Allah. Bisa dibayangkan, peranan Ibnu Khuzaimah di-delete dari kancah ilmu hadits.

    [G]. Qoul ke tujuh yang dijadikan Hujjah atas klaim Ijma’ Ulama bahwa Allah di Langit.
    Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)
    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :
    “باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”
    أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه
    ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى
    “Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”

    Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
    Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-’uluw li Adz-Dzahabi 2/1284).

    Tanggapan: Lagi-lagi ustadz firanda ber-hujjah dengan seorang Wadho’ alias pemalsu, status Hujjah gugur lagi. Lihat tanggapan saya atas poin ke 5.

    Komentar: Ya, kalau Adz Dzahabi mengambil riwayat Ibnu Baththah, pastilah beliau punya alasan. Bagaimana bisa dirinya disebut Al Hafizh, kalau tidak punya argumentasi? Intinya, Ust. Firanda hanya menukil dari perkataan Adz Dzahabi. Jadi urusannya ini dengan Adz Dzahabi, bukan diri dia pribadi.

    [H]. Qoul ke 8 yang dijadikan Ustadz firanda sebagai sandaran atas Klaim Ijma’-nya

    Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)
    Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul
    ” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”
    وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

    “Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”

    Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-’Uluw 2/1315)
    Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-’Uluw 2/1315).

    Tanggapan: Tahukah Ustadz firanda jika Adz-Dzahabi juga mengatakan dalam Siar ‘Alam an-Nubala juz 17 hal 567, Adz-Azahabi berkata: ”Saya melihatnya ( at-Tholamanki , pent) menulis kitab yang diberi judul As-Sunnah dua jilid. Secara umum kitab itu baik hanya saja dalam beberapa bab dalam kitab tersebut ada hal yang selamanya tidak akan sejalan (denganku-pent), seperti bab janb (lambung / sisi Allah ) dalam bab itu dia menyitir firman Allah : ”Sungguh rugi atas apa yang aku lalaikan di sisi Allah, hal ini merupakan bentuk keterglinciran seorang Alim.” Orang ini Mujassim omongannya tidak perlu dianggap. Sandaran ustadz firanda yang ke 8 pun gugur. Karena Imam Adz-Dzahabi pun tidak sejalan dengannya.

    Komentar: Adz Dzahabi bisa jadi punya catatan terhadap At Thamalanki, tetapi secara umum beliau menerima. Dan yang paling aneh adalah Saudara Ustadz Ahmad Syahid ini. Aneh sekali. Dia sejak awal membantah ucapan Adz Dzahabi. Tetapi pada riwayat ini, dia memakai penilaian Adz Dzahabi terhadap perawi At Thamalanki itu. Bagaimana bisa begini ya…

    [I]. Qoul ke sembilan yang dijadikan sandaran klaim Ijma` ustadz firanda
    Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)
    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….

    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)

    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317)

    Tanggapan: Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’ tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!

    Komentar: Baiklah, anggap ucapan As Shabuni hanya dalam kalimat, ““Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an).” Kalimat ini saja sudah jadi hujjah yang jelas, bahwa memang para ahli hadits meyakini bahwa Allah di atas langit. Kalimat-kalimat tambahan, bolehlah ditiadakan, kalau tidak mau dibaca.


    [J]. Qoul ke 10 yang dijadikan Hujjah untuk mendukung klaim Ijma’ sang ustadz.

    Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H)
    Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :
    Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”

    Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-’Uluw 2/1321

    Tanggapan: Kenapa Ustadz firanda tidak sekalian menyertakan perkataan Adz-Dzahabi dalam al-uluw ketika berbicara tentang As-sajzi? Berkata adz-dzahabi: bahwa lafadz ”Dzat” bukanlah pernyataan yang masyhur dan terjaga dari para Imam yang disebutkan oleh as-sijzi. Lafadz ”Dzat” itu dari kantongnya As-sijzi bukan dari para Imam. As-Sijzi juga terkenal dengan Tahrif (merubah) hadist sebagai contoh As-Sijzi merubah Hadist ar-rohmah al-musalsal bil awliyah dari jalur Abi Qobus al-Majhul dengan Lafadz ”yarhamkum man fi as-sama” padahal lafadz hadist dari Abu Qobus al-Majhul dalam musnad Ahmad juz 2 hal. 160 ”yarhamkum Ahlu as-sama”. Begitu juga yang dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu hajar dalam Mu’jam al-Syaikhokh Maryam (makhtut) masih berupa manuskrip bahwa Aba Daud juga meriwayatkan dengan Lafadz ”Yarhamkum Ahlu as-sama”.

    Apakah menurut ustadz Firanda riwayat seorang Muharif ( tukang merubah) bisa diterima? Apakah riwayat (berita) yang telah dirubah isinya dapat dijadikan Hujjah? Mengingat riwayat–riwayat palsu pun dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda seperti riwayat-riwayat yang telah lalu, tidak aneh jika riwayat yang telah dirubah pun dijadikan sandaran oleh ustadz firanda. Status Hujjah Gugur bagi orang yang berakal waras.

    Komentar: Anda sangat-sangat berlebihan, karena begitu emosinya. Sampai menyebut orang yang meyakini riwayat itu, sebagai tidak waras. Hanya karena lafadz “Dzat”, maka esensi Ijma’ dalam meyakini “Allah itu di atas langit” hendak dimentahkan. Masya Allah. Padahal, andai tanpa lafadz “Dzat” pun, isi utama dari pernyataan itu sudah terang benderang, bahwa “Allah ada di atas langit”.

    Soal istilah Muharrif. Sekali lagi, kalau ucapan ulama ini sudah banyak, saling dukung-mendukung, dan cenderung seragam; tidak berbeda kecuali dengan Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Nawawi, Az Zabidi; maka perkataan itu menjadi kuat dan bisa menjadi pegangan, bahwa: Allah itu ada di atas langit.

    [K]. Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)
    Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod, “Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah… dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-’Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-’Uluw 261)

    Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-’Uluw 2/1306)

    Tanggapan: Kitab al-I’tiqod karya Abu Nu`aim Al-ashfahani tidak ada wujudnya, ini merupakan kitab Majhul yang hanya diketahui oleh Imam Adz-dzahabi. Terlebih adz-Dzahabi sendiri telah meninggalkan faham yang dianutnya dalam kitabnya al-Uluw ini. Saya minta Ustadz Firanda untuk menunjukkan wujud asli kitab i’tiqod yang dinisbatkan kepada abu Nu’aim, atau kitab Majhul pun menurut Ustadz Firanda bisa dijadikan referensi? Status Hujjah gugur karena kitab al-I’tiqod Abu Nu’aim adalah kitab Majhul, terlebih dalam tulisan ini Ustadz Firanda banyak menyandarkan Hujjahnya pada para Pembohong dan Pemalsu seperti yang telah lewat diatas.

    Komentar: Ya, jangan disebut majhul dulu dong. Kan banyak kitab-kitab ulama yang tidak sampai ke kita. Ya mungkin ia termasuk kitab yang tak sampai itu. Masak Adz Dzahabi disebut salah seorang imam hadits, tetapi ngarang-ngarang ucapan. Tak mungkin itu.

    [L]. Qoul ke 12 yang dijadikan sandaran ustadz Firanda Untuk menguatkan Klaim Ijma’-nya
    Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)
    Berkata Ibnu Abi Hatim :
    “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:

    Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…
    Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

    Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,
    “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
    Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201.

    Tanggapan: Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

    Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

    Saya Ahmad Syahid katakan: Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah! Status Hujjah gugur , karena rawi-rawinya Majhul.

    Komentar: Ucapan Abu Zur’ah dan Ibnu Abi Hatim di atas sangat sesuai dengan perkataan-perkataan imam lainnya. Jadi saling kuat-menguatkan. Namun bagi Ustadz Ahmad Syahid, selalu ada celah untuk mementahkannya. Padahal kalau memakai metode Ibnu Hajar yang memilih penggabungan riwayat-riwayat, hal itu akan klop. Kelemahan satu riwayat ditutupi riwayat-riwayat lain.

    [M]. Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)
    Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),

    “Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)
    Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :

    “Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)

    Beliau juga berkata :
    “Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)

    Tanggapan: Inilah pentingnya menggabungkan antar riwayat sebagaimana saya sebutkan dalam awal Mukadimah, sehingga memberikan pemahaman yang utuh sesuai dangan maksud penulis, sebab Ibnu Abdil Bar dalam dalam At-Tamhid juga mengatakan:

    Pertama: ”Bahwa Khobarul wahid (hadist ahad ) tidak memberikan keyakinan pasti (ilm) hanya mewajibkan untuk diamalkan ( hanya berlaku dalam furu’, pent).” Tentu hal ini bertentangan dengan kaum wahabiyyin, yang menjadikan khobarul wahid (hadist ahad) sebagai Hujjah dalam Aqidah , bahkan dalam tulisan ini Ustadz Firanda membawakan atsar – atsar Mungkar tidak sah bahkan Maudu’ untuk landasan Aqidah, sebagaimana yang telah lewat diatas.

    Kedua: Ibnu Abdil Bar juga mengingkari pernyataan Nu’aim bin Hammad yang menyatakan bahwa ”Allah turun dengan Dzatnya sementara dia diatas kursinya ”, berkata Ibnu Abdil Bar : ” ucapan ini bukanlah sesuatu (yang dapat dipegang- pent.) di kalangan ahli, karena ini merupakan kaifiyah (membagaimanakan-pent) sementara Ahli Ilmu Lari dari pernyataan seperti ini karena pernyataan seperti itu tidak bisa difahami kecuali terhadap sesuatu yang terlingkupi penglihatan ( bersifat fisik-pent).

    Ketiga: Ibnu Abdil Bar juga mengatakan : telah bersepakat Ulama shahabat dan tabi’in yang dari mereka dibawakan takwil dst…, menunjukkan jika takwil itu boleh dan dibenarkan karena datang dari para sahabat dan tabi`in, lalu kenapa Wahabiyyin dalam masalah istiwa pun melarang takwil? Lebih dari itu Wahabiyyin menganggap sesat orang yang melakukan Takwil?

    Ke empat: Ibnu Abdil Bar mengatakan: telah berkata Ahli Atsar (tentang Hadist Nuzul –pent) bahwa yang turun adalah Perintah dan rahmatnya, kemudian beliau menyebutkan riwayat hingga Imam Malik rodiuallahu anhu dan berkata: bisa jadi (pentakwilan ini -pent) seperti perkataan imam malik rohimahullah yang bermakna ”Turunnya Rohmat dan Qodhonya (ketetapan-pent) dengan pengampunan dan penerimaan, At-Tamhid 7/ 144 .

    Ke lima: Dari pernyataan-pernyataan yang digabungkan ini , jelas-lah Aqidah sang Imam bahwa Beliau adalah seorang Mufawwidh, yang salah difahami oleh sang Ustadz Firanda sehingga dijadikan landasan dan Hujjah akan Klaim Ijmaknya. Lihatlah sang Imam mengingkari istiwa dengan ”Dzatnya” dan sang Imam pun membolehkan Takwil. Lalu mengikuti siapakah kawan-kawan wahabiyiin ini? Mereka dan juga Ustadz Firanda menolak Tafwidh dan takwil, padahal keduanya ( Tafwidh dan Takwil) adalah Manhaj atau metodologi yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah) sepanjang masa, sehingga status Hujjah Ustadz Firanda Gugur karena Imam Ibnu Abdil Bar adalah seorang Mufawwidh.

    Komentar: Bagian ini sangat ironi. Sejak awal Ustdz Ahmad Syahid tidak menyebut soal penggabungan matan-matan perkataan ulama itu, baru di riwayat ke-13 ini dia keluarkan metode tersebut. Padahal kalau 12 qaul imam sebelumnya digabungkan, itu sudah cukup untuk menjelaskan, bahwa ada ijma’ para ulama ahli hadits, bahwa “Allah di atas langit”.

    Bahkan sejujurnya, tanpa menunggu Ijma’ itu pun, ayat Al Qur’an berulang-ulang menyebutkan, bahwa Allah ada di atas langit. Jadi mau cari apa lagi? Kecuali, kalau orang-orang (aneh) itu mau mengubah redaksi Al Qur’an dengan istilah-istilah yang cocok dengan KEPUASAN AKAL mereka.


    ustadz Firanda mengatakan: “Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf.”

    Jawab: Para pembaca yang budiman ternyata setelah dilakukan pengecekan secara seksama semua riwayat yang ustadz Firanda jadikan sandaran adalah tidak sah , Mungkar bahkan maudu’ sebagaimana tadi kita kupas satu per satu. Bukankah ustadz Firanda dan All wahabiyyin menolak Hadist-hadist dha’if meskipun hanya untuk Fadailul a’mal? Tetapi kenapa justru pada masalahushul/Pokok (Aqidah) sebagai Pondasi Iman seorang Muslim, justru Ustadz Firanda menyuguhkan dan bahkan menggunakan perkataan Ulama yang riwayatnya tidak sah , Mungkar bahkan maudhu’? Diletakkan di mana semboyan: ”hanya menggunakan hadist-hadist shahih-nya?” Ijmak yang Ustadz Firanda klaim itu hanya berdiri di atas ketidak-absahan, kemungkaran dan kepalsuan!

    Demikian kajian atas Klaim ijma tentang ”keberadaan Allah Di langit” telah gugur seiring dengan gugurnya para Rawi yang meriwayatkannya. Dan sebenarnya masih banyak qoul –qoul lainnya yang dinisbatkan kepada para Ulama Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) yang jika diteliti sanadnya akan menghasilkan hal yang sama dengan atsar-atsar yang ditampilkan Ustadz Firanda, statusnya akan sama (gugur) karena riwayat-riwayat itu 95 % adalah Tidak Sah , Mungkar , dan maudhu’.

    Adapun Ijmak yang benar di kalangan Ahlu Sunnah Wal-jama’ah adalah keyakinan bahwa ”Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah ”. Ijmak ini dinukil Oleh Al-imam Al-Hafidz An-Nawawi dalam Syarh Muslim juz 5 hal. 24 cet. Darul Fikr, juga Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-atsqolani Al-Imam Al- Hafidz az-zabidi. Ijmak ini pun dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijmak halaman 167.

    Wallohu a’lam….

    Komentar:

    Ini sebuah kisah kecil dan unik. Pernah saya katakan kepada anak saya yang masih remaja, perempuan sekolah SMP. Saya katakan pada dia, bahwa ada orang yang menolak bahwa Allah itu ada di langit. Dengan serta merta dia mencemooh dan bermuka masam terhadap keyakinan itu. Mengapa demikian? Karena setiap dia membaca Al Qur’an selalu berulang membaca kalimat, (dengan terjemah) bahwa Allah itu bermayam di atas Arasy.

    Untuk anak remaja seperti dia saja, bisa membedakan mana yang haq mana yang bathil. Lha, ini kok ada orang-orang alim, banyak belajar hadits, malah keyakinan aneh-aneh. Sungguh memilukan!

    Ya begitulah. Semoga ada manfaatnya. Amin ya Rahiim.

    AMW.

  108. nasrul.cemani.toka@gmail.com mengatakan:

    @abisyakir,

    Komentar:

    Ini sebuah kisah kecil dan unik. Pernah saya katakan kepada anak saya yang masih remaja, perempuan sekolah SMP. Saya katakan pada dia, bahwa ada orang yang menolak bahwa Allah itu ada di langit. Dengan serta merta dia mencemooh dan bermuka masam terhadap keyakinan itu. Mengapa demikian? Karena setiap dia membaca Al Qur’an selalu berulang membaca kalimat, (dengan terjemah) bahwa Allah itu bermayam di atas Arasy.

    Untuk anak remaja seperti dia saja, bisa membedakan mana yang haq mana yang bathil. Lha, ini kok ada orang-orang alim, banyak belajar hadits, malah keyakinan aneh-aneh. Sungguh memilukan!

    Ya begitulah. Semoga ada manfaatnya. Amin ya Rahiim.

    AMW.

    apakah anak Bapak mengetahui perihal penjelasan di atas ???

    anak bapak yg SMP apakah bisa jadi sandaran ???

  109. nasrul.cemani.toka@gmail.com mengatakan:

    @abisyakir,

    komentar/tanggapan ente kok cuma tanggapan pribadi yah, tolong jelaskan seperti mas Syahid jelaskan, sebutkan sumber-2nya, rawi-2 nya dari kkitab-2 para syaikh tsb, sehingga bersambung, kalau ada perawi yg pemalsu hadist bukankah menjadi tidak menyambung ??? kalo dijelaskan dg ilmiah, dg ilmu, diurutkan sumber ke sumber sampai dg perkataan para ulamanya, sampai kepada ayat Qur’an & Hadist yg dimaksud, pastinya akan jelas…..

  110. nasrul.cemani.toka@gmail.com mengatakan:

    @abisyakir,

    komentar anda :

    Maksudnya, bukan Ad Darimi menyandarkan hujjahnya kepada orang kafir. Bukan begitu, Ustadz. Tetapi, beliau ingin menegaskan sebuah kenyataan -menurutnya- bahwa: “Orang kafir pun tahu kalau Tuhan itu di langit. Masak orang Muslim tidak tahu?” Faktanya, kalau Anda lihat Lionel Messi habis mencetak gol, dia selalu mengacungkan tangan kedua tangan ke langit. Itu fakta. (Nanti saya dituduh berdalil dengan Lionel Messi lagi… Ya sudah deh).

    andapun sudah berdalil dg messi, hal yg tidak nyambung, apalagi org kafir, apakah or kafir mengerti hal di atas??? tau isi Qur’an & Hadist ? tau sanad-sanad hadist???

    Nauzubillah……mengapa org kafir dijadikan sandaran ????

  111. nasrul.cemani.toka@gmail.com mengatakan:

    @abisyakir,

    pertanyaan selanjutnya juga di jawab:

    @abisyakir,

    Jadi salafy/wahabi itu tetap mau men-takwil yah???? maaf nih setau ane salafy/wahabi pure anti takwil….

    kalo ente perbolehkan takwil, berarti anda berseberangan dg ustadz firanda cs

  112. nasrul.cemani.toka@gmail.com mengatakan:

    @abisyakir,

    bagaimana dg :

    Bangunan berdesain mirip buku itu dibubuhi tulisan “Yayasan Syeikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.” Di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan Syekh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena. Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi keterangan semisal, “Pena terakhir yang dipakai Syekh al-Utsaimin.”

    Sungguh ironis, mengingat mereka begitu getol memberangus semua peninggalan Baginda Nabi SAW. Ulama mereka bahkan mengharamkan pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi SAW. Beruntung, sebagian benda peninggalan beliau telah dipindahkan ke Turki.

    Haul Wahabi

    Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh al-Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk Syekh al-Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim.” Betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini.

    ‘Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin,” ujarnya.

    Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:

    وَاللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ
    “Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

    Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.)

    bukankah perayaan spt di atas diharamkan oleh para wahabi? kok tetap dilakukan HAUL ????

  113. Rainbow mengatakan:

    @abisyakir

    kenapa Anda menilai bahwa komentar saya yang menyudutkan wahabi itu berarti saya mendukung tulisan karya Syaikh Idahram? Anda keliru sekali. Saya belum pernah membaca buku tsb. Perlu saya tekankan, saya alami langsung berada dalam komunitas salafi/wahabi ini. Saya putuskan keluar dari firqoh ini karena ternyata — seperti yang sudah saya jelaskan — sesama asatidz saling menghujat. Anda jangan berapologi, berdalih bahwa dakwah salafi banyak wajah dan rupa. Kalo salafi banyak firqohnya, itu sudah pelanggaran besar. bagi saya, para salafi/wahabis itu tidak sama dengan salafush shaleh

  114. nasrul.cemani.toka@gmail.com mengatakan:

    @Rainbow,

    benar sekali, salafus shaleh adalah golongan terdahulu yg langsung bersanad kepada Rosululloh SAW, salafi/wahabi menurut saya sanadnya muter-2 , kadang mentok kepada peng-hadist palsu, sandaran kepada Ibnu Taimiyah, Syaikh Adz Zahabi, tapi beliau-2 sudah taubat dari faham sesatnya…..

  115. rudi mengatakan:

    @Rainbow….

    Saya jadi mau tanya nih sederhana saja ….

    Saya tidak setuju orang ke kubur meminta pada penghuni kubur …
    Saya tidak mau shalat pada Mesjid yang didalamnya ada kubur …
    Saya tidak merayakan Maulid …….
    Saya tidak selalu melakukan qunut pada saat subuh ….
    Saya tidak pernah ke dukun/paranormal …….
    Insyallah saya shalat berjamah di mesjid pada shalat fardhu ….
    Saya tidak melakukan tahlilan pada malam jumat ……

    Apakah saya juga termasuk wahabi ????

  116. @Rudi,

    tidak juga selama anda tidak belajar pada wahabi, tidak belajar faham wahabi, apalagi mempraktekan spt ajaran wahabi, menurut saya adalah anda belum mau belajar lebih jauh lagi tentang hal-2 ” SAYA TIDAK………”

    kecuali : SAYA TIDAK PERNAH KE DUKUN/PARANORMAL, ini tidak benarkan pengobatan-2 diluar syariat Islam, terkecuali pengobatan dg cara Rosulullah SAW, seperti : bekam, minum madu arab, habattussaudah……

    makanya belajar lagi faham ahlul sunnah waljama’ah dg baik, jelas, belajar Hadist dg sanad sampai ke Rosululloh SAW….

  117. aswaja selalu mengatakan:

    @mas Nasrul…

    benar sekali….

  118. Lukman Mubarok mengatakan:

    Baca bahasan bahwa Allah fauqo l’arsy pada bagian akhir kitab Fathul Majid. Disitu ada syarh mengenai istiwa Allah di atas ‘arsy.

  119. aswaja selalu mengatakan:

    @lukman,

    kitab Fatul Majid karangan MAW yah? isi komennya MAW bersanad sampai kemana saja? kalo ga salah ada isi dalam kitabnya beliau dg bangganya membunuh org yg sepaham sama dia yah?

  120. aswaja selalu mengatakan:

    ralat….yg ga sepaham sama dia…….

  121. Lukman Mubarok mengatakan:

    Silahkan @aswaja mengkoreksi pemahaman Allah di atas ‘arsy yang jelas-jelas disebut dalam al Quran. Silakan cari dalam al Quran. Juga cari bahasannya dalam kitab Fathul Majid. Coba koreksi kitab Fathul Majid dan tampilkan scan rujukan anda

  122. Lukman Mubarok mengatakan:

    @aswaja,
    kitab Fathul Majid adalah karya Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh. Merupakan Syarah dari Kitabuttauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab. Penjelasan mengenai Allah Swt di atas ‘arsy sangatlah jelas. Bacalah syarah bab terakhir dalam kitab tersebut secara perlahan dan penuh khidmat. Bacalah hingga akhir kitab baik matan maupun syarh. Baca bukti fisik yang mungkin anda punya yakni mushaf al Quran, terutama Qs. 7:54, 10:3, 13:2, 20:4-5, 25:58-59, 32:4-5, 57:4.

  123. aswaja selalu mengatakan:

    @Lukman, tahukah sandarannya MAW, syaikh Ibnu Taimiyah & Syaikh Adz Zahabi sudah taubat dari faham Alloh SWT ada di atas Arsy? jadi kepada siapa MAW bersandar ????

    Rontoknya Firanda Atas Klaim Bahwa Para Ulama Berkonsesnsus Allah Berada di Langit
    … Lanjutan Sekelumit Upaya Mengungkap Tipu Muslihat Firanda …
    Oleh: Ahmad Syahid

    Firanda VS Ahmad Syahid – Ummatipress.com
    Di kajian bagian pertama sudah dibahas bagaimana tulisan Ustadz Firanda yang ternyata dibangun di atas hujjah-hujjah dusta dan palsusehingga tulisan tersebut menjadi tanpa arti atau hampa makna. Maka di bagian kedua ini akan disajikan kajian lebih menukik dan lebih mendalam tentang gugur dan rontoknya argument yang dipertunjukkan Firanda. Rontoknya Firanda atas Klaim Bahwa Para Ulama Berkonsesnsus Allah Berada di Langit, ini terbukti dengan sangat telak dan transparan alias jelascetho welo-welo tanpa ragu atasrontoknya argument Ustadz Firanda. Mari kita lihat bersama dan silahkan kaji kembali bagi anda yang sudah memiliki perangkat ilmunya….

    Ustadz Firanda mengatakan :
    Perkataan salaf dan para ulama mutaqoddimin yang menunjukan bahwa Allah berada di atas langit
    Adapun perkataan para ulama yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit maka sangatlah banyak. Perkataan mereka telah dikumpulkan oleh Al-Imam Al-Muhaddits Ad-Dzahabi As-Syafii dalam kitabnya Al-’Uluw li Al-’Aliyyi Al-’Adziim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2414dan http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2413 dua cetakan dengan dua pentahqiq yang berbeda) demikian juga kitab Al-Ijtimaa’ al-Juyuusy Al-islaamiyyah karya Ibnul Qoyyim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2835). Sungguh dua kitab ini telah mengumpulkan banyak sekali perkataan sahabat, para salaf, dan para ulama dari abad yang berbeda-beda dan dari madzhab yang berbeda-beda.
    Oleh karenanya tidak ada seorang ulama salafpun –apalagi para sahabat- yang perkataannya menunjukan bahwasanya Allah tidak berada di atas.
    Jawab: Tahukah Ustadz Firanda jika Penulis kitab Al-Uluw al-Hafidz adzahabi telah tobat dan meninggalkan kitab itu, sehingga beliau menulis sebuah risalah yang diberi nama Zaghlul Ilmi ? Dan dalam risalah itu pulalah Adzahabi mencantumkan nasehatnya untuk Ibnu Taimiyah? Lalu kenapa Ustadz Firanda masih menganjurkan Orang untuk mempelajarinya?Tahukah ustadz Firanda jika 98% sanad dan riwayat atsar yang terdapat dalam kitab al-Uluw adalah tidak sah , Mungkar bahkan PALSU alias MAUDHU`? Begitu juga halnya dengan kitab Ijtimaa al-juyusy al-Islamiyah percis tidak jauh beda dengan riwayat atau sanad yang terdapat dalam kitab al-uluw, 98% tidak Sah, Mungkar bahkan Maudhu’. Kalau tidak percaya silahkan sampaikan atsar dari kedua kitab itu Insya Allah akan saya kasih tahu statusnya, lalu silahkan Ustadz Firanda lakukan cek n recek untuk membuktikan sendiri kebenaran yang coba saya tunjukkan itu. Hal ini saya sampaikan semata–mata hanya untuk mengingatkan fa dzakkir Fa inna dzikro tanfa’ul mu`minin, semoga Allah memberikan Hidayah kepada kita semua untuk mengikuti kebenaran.
    Bukti bahwa Al-Hafidz Adz-Dzhabi telah berlepas diri dari kitab yang dikarangnnya (Al-Uluw) terdapat dalam sampul manuskrip kitab tersebut :
    Inilah bukti scan manuskrip tentang Adz-dzhabi bertaubat dari faham sesat.

    KEMBALINYA (TOBATNYA) ADZ-DZAHABI DARI KITAB INI ( AL-ULUW LIL ALIYYIL GHOFFAR )
    Dalam sampul manuskrip kitab Al-Uluw lil Aliyyil Ghoffar karya Adz-Dzahabi terdapat pernyataan bahwa Imam Adz-dzahabi telah kembali ( tobat) dari Aqidah yang ditulisnya dalam kitab tersebut. Pernyataan ini ditulis langsung oleh pembuat Manuskrip (nasikhul kitab) tahun 804 hijriyah yaitu : Al-hafidz Ibn Nashir ad-din ad-dimasqi Abu Abdullah Muhammad bin Abdillah bin muhammad bin Ahmad al-qoisi al-hamawi as-asyafi’i yang meninggal pada Tahun 842 hijriyah. (1)
    Beliau berkata: berkata penulis (ad-adzahabi-pent) baginya Allah atas apa yang aku dapatkan dari tulisan yang terdapat dalam catatan / pinggir halaman kitab (hamisy) yang sudah tercetak (al-musawwadah) , tahun 798 hijriyah bahwasannya didalamnya terdapat Hadist-hadist yang sangat lemah dan perkataan – perkataan dari firqoh-firqoh yang jauh melebar dalam ibarat-ibarat yang mereka gunakan , maka saya tidak sepakat atas ibarat-ibarat itu dan saya juga tidak menjadi Muqollid kepada mereka , semoga Allah mengampuni mereka , dan saya tidak berpegang (al-tazim) dengannya (ibarat-ibarat itu – pent) atas apa yang aku kumpuylkan selama ini, dengan inilah (keputusan ini-pent) aku ber-agama dan aku tahu bahwasannya Allah tidak ada yang menyerupai-NYA sesuatu pun, Allah maha suci dan maha tinggi.
    1. Bioghrafi beliau terdapat dala kitab Al-dou’ al-lami’ li ahli qorni tasi’ juz 8 halaman 103 karya al-Hafidz As-sakhowi beliau berkata : Adz-Dzahabi adalah salah satu gurunya.
    Perhatikan pernyataan Adz-dzahabi diatas: ”Saya tidak sepakat dengan ibarat (pernyataan-pernyataan) itu, dan saya pun tidak mengikuti mereka (pernyataan-pernataan yang dinukil Adz-Dzahabi dalam Al-uluwyang pernah beliau tulis-pent).
    Lantas siapakah para Imam yang nama-namanya beliau kumpulkan dalam Al-uluw? Jika Adz-Dzahabi sendiri tidak sepakat dan tidak mengikutinya? Segera buang jauh- jauh kitab Al-uluw dan kitab Ijtima Juyusy al-islamiyah.
    Berikut adalah risalah Adz-Dzahabi Untuk Ibnu Taimiyah:
    Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:
    “Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu.Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun.
    Sungguh saya sudah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya ( Ibn Taimiyah ) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.
    Adapun nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:
    “Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.
    Oh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!
    Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!
    Oh… Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!
    Oh… Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!
    Oh… Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.
    Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!

    Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.
    Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)
    Hai Syekh…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur.Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)
    Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.
    Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??
    Hai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.
    Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.
    Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.
    Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.
    Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!
    Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!
    Sampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!
    Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!
    Sampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!
    Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.
    Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankahengkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.
    Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.
    Aku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.
    Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian. Terjemahan ini saya Nukil dari situs “kenapa takut Bid`ah . word Press . com”

    Lanjutan:
    Ustadz Firanda mengatakan :
    Perkataan para ulama Asyaa’iroh yang mengakui Allah di atas langit
    Ternyata kita dapati bahwasanya sebagian pembesar madzhab Asyaa’iroh juga mengakui keberadaan Allah di atas langit. Sebagaimana hal ini telah ditegaskan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asmaa’ wa As-Sifaat (2/308)
    Beliau berkata, “Dan atsar dari salaf seperti hal ini (yaitu bahwasanya Allah berisitwa di atas ‘arsy -pent) banyak. Dan madzhab As-Syafii radhiallahu ‘anhu menunjukan di atas jalan ini, dan ini madzhab Ahmad bin Hanbal…Dan Abu Hasan Ali bin Ismaa’iil Al-’Asy’ari berpendapat bahwasanya Allah melakukan suatu fi’il (perbuatan) di ‘arsy yang Allah namakan istiwaa’… Dan Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Mahdi At-Thobari dan juga para ahli nadzor bahwasanya Allah ta’aalaa di langit di atas segala sesuatu, ber-istiwa di atas ‘arsynya, yaitu maknanya Allah di atas ‘arsy. Dan makna istiwaa’ adalah tinggi di atas sebagaimana jika dikatakan “aku beristiwa’ di atas hewan”, “aku beristiwa di atas atap”, maknanya yaitu aku tinggi di atasnya, “Matahari beristiwa di atas kepalaku”
    Dari penjelasan Al-Imam Al-Baihaqi di atas nampak ;
    – Banyaknya atsar dari salaf tentang Allah di atas.
    – Ini merupakan madzhab As-Syafi’i dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal
    – Ini merupakan madzhab sebagian pembesar Asyaa’iroh seperti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abul Hasan At-Thobari.
    Jawab: sebaiknya Ustadz Firanda juga menyertakan perkataan Al-Imam Al-baihaqi dalam Asma wa sifat halaman 410 , beliau berkata : ” dan Dzat yang Qodim yang maha suci adalah Tinggi diatas Arsy tidak duduk , tidak juga berdiri , tidak menempel tidak juga terpisah ( wala mubayin lil arsy) dari Arsy , jika yang diinginkan dengan mubayanah itu adalah Makna menjauh atau berpisah , karena menempel dan terpisah merupakan kebalikannya , dan berdiri dan duduk adalah sifat Jisim (tubuh-pent) , dan Allah azza wa jalla satu somad yang tidak dilahirkan tidak pula melahirkan , yang tidak ada satupun bandingannya tidak boleh disifati dengan sifat-sifat Jisim (tubuh-pent) , kemudian pensifan akan ketinggian Allah tidak hanya disebutkan oleh Al-baihaqi tetapi juga dikatakan oleh Ibnu mahdi dan Imam At-thobari dimana maksud mereka semuanya adalah ketinggian martabat dan kedudukan sama sekali bukan ketiunggian fisik dan dzat sebagaimana yang diinginkan oleh Ustadz firanda , jadi qoul yang dinukil oleh Ustadz Firanda ini justru mendukung pendapat Ulama Asy’ariyah yang menetapkan ketinggian martabat kedudukan dan kekuasaan.
    Begitu juga jika Ustadz Firanda menyertakan perkataan Imam al- Baihaqi dalam kitabnya al-i`tiqod ” halaman 69 – 73 tepatnya pada halaman 72 beliau katakan : ringkasnya (bil-jumlah) wajib diketahui bahwa ” Istiwa allah ” yang maha suci dan maha tinggi bukanlah Istiwa yang lurus dari yang bengkok bukan pula berdiam dalam tempat , bukan pula menempel / menyatu disalah satu makhluknya , akan tetapi Istiwa diatas Arsy nya sebagaimana diberitakan tanpa Bagaimana dan DIMANA tidak menyatu tidak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya dan bahwasannya kedatangan Allah bukanlah kedatangan dari tempat ke tempat dan tanpa Gerakan dst….. perhatikanlah beliau menafikan kata DIMANA , ” kesimpulan dari atsar yang dibawakan oleh Ustadz Firanda ini beserta isinya menunjukan jika Al-Baihaqi dan Ulama yang disebutkannya menginginkan Istiwa dalam makna: ”ketinggian Martabat , kedudukan dan kekuasaan. Sama sekali bukan ketinggian Fisik (Dzat) sebagaimana yang di inginkan Ustadz Firanda.
    Ustadz Firanda mengatakan:
    Pertama : Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah
    Merupakan perkara yang mengherankan bahwasanya diantara para ulama yang menyebutkan konsensus salaf tersebut adalah Imam besar kaum Asyaa’iroh yaitu Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari yang hidup di abad ke empat Hijriah. Dialah nenek moyang mereka, guru pertama mereka, sehingga merekapun berintisab (berafiliasi) kepada nama beliau menjadi firqoh Asyaa’iroh.
    Berkata Imam Abul Hasan Al-’Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:
    Ijmak kesembilan :
    Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah
    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ
    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).
    Dan Allah berfirman
    إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
    kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).
    Dan Allah berfirman
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya
    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
    Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4)
    Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234)
    Ini merupakan hikayat kumpulan perkataan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah
    ….
    Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏
    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan Allah memiliki dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah memiliki wajah… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345).
    Jawab:
    Kebesaran nama Al- Imam Abul Hasan Al-Asy`ari membuat begitu banyak orang yang ingin mendimpleng / menumpang dalam nama besarnya. Bahkan tidak jarang perkataan-perkataan aneh muncul dalam kitab-kitab yang dinisbatkan kepada beliau, sehingga banyak Ahli dalam lingkungan Ulama Asy’ariyah meragukan keaslian kitab-kitab yang dinisbatkan kepada beliau.Hal ini pulalah yang kemudian mendorong Al-Hafidz Ibnu Asakir untuk menjelaskan kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan kepada Sang Imam , beliau menulis sebuah kitab Tabyinul Kadzib al- Muftari ‘ala al- Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.
    Akidah shahihah yang dianut salaf as-shalih adalah Allah ada tanpa tempat dan arah. Kekeliruan Ustadz Firanda adalah menukil perkataan sang Imam dari kitab-kitab yang oleh kalangan Asy’ariyah sendiri kitab-kitab tersebut tidak digunakan sebagai pegangan Utama seperti kitab Al-ibanah , Maqolat Islamiyyin , risalah ila ahli tsagr dan yang lainnya. Kalangan Asy’ariah hanya menggunakan pernyataan-pernyataan Sang Imam yang betul-betul Tsabit dari sang Imam bukan kitab-kitab Muharraf (yang telah diubah ) oleh tangan–tangan Jail seperti hasyawiyun. Sebab Pemahaman teks Mutasyabihat secara literal bukanlah Manhaj al- Imam Abul Hasan Al- Asy`ari, seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Ibnu ‘Asakir dalam kitab Tabyinul kadzibil muftari, begitu juga ditegaskan oleh al-imam tajuddin al-subki dalam tobaqot syafi`iyah.
    Coba perhatikan pernyataan Imam abul hasan al-asy`ari:
    ”Allah ada tanpa tempat , menciptakan Arsy dan kursi tanpa butuh kepada keduanya sebagai tempat , dan Allah setelah menciptakan tempat , tetap seperti sebelum menciptakan tempat.” ( tabyinul kadzibil muftari hal 150).
    Oleh karena itu bagi siapapun termasuk ustadz Firanda jika ingin mengambil Hujjah Untuk mempelajari ( menyerang ) Asy’ariyyin ambil dan pelajarilah Tabyinul Kadzib karya Al-Hafidz Ibn ‘Asakir. Sehinggaapa yang didakwakan Ustadz firanda bahwa : para Ulama Asy’ariyah pun mengakui Jika Allah berada dilangit, adalah dakwa’an yang tertolakkarena kitab-kitab yang dijadikan sandaran oleh ustadz firanda, dikalangan kalangan Asy’ariyah pun tidak menggunakannya sebagai pegangan Utama, karena kitab-kitab tersebut tidak Tsabit dan tidak lagi murni Asli karangan Sang Imam.

    Bukti kedua yang dijadikan Hujjah oleh ustadz Firanda:
    Kedua : Abu Bakr Al-Baaqillaani (wafat 403 H)
    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah
    “Jika dikatakan : Apakah kalian mengatakan bahwa Alla berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kepada Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”
    Beliau berkata, “Kalau seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …
    (Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-’Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-’Uluw 258)).
    Jawab :
    1. pernyataan beliau bahwa Allah ada di mana–mana adalah jawaban terhadap Jahmiyah dan Mu`tazilah yang menyatakan Allah berada dimana – mana sementara Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) adalah Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah.
    2. pernyataan beliau : Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, adalah Manhaj atau metodologi Tafwidh (salah satu dari dua metodologi yang digunakan Ulama asy’ariyah dalam memahami ayat Mutasyabihat)pernyataan beliau ini merupakan bantahan bagi kaum Mujassimah (wahabiyah) yang mengartikan Istawa dengan arti yang Bathil mereka mengartikan Istawa dengan : Istiqroru Dzat ( berdiamnya Dzat Allah dilangit ).
    3. bukti yang dibawakan Ustadz Firanda ini justru menjadi Bumerang bagi Ustadz Firanda dan golongannnya yang mengartikan Istawa dengan makna Istiqror ( berada / berdiam ) karena Al- Baqilani tidak menentukan arti secara Khusus untuk lafadz Istawa , yang beliau katakan adalah : ” Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, perhatikan: sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, inilah yang disebut Tafwidh yang juga di tolak oleh Ustadz Firanda dan kelompoknya.
    Bukti ke tiga yang dibawakan Ustadz Firanda:
    Ketiga : Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)
    Beliau berkata dalam kitabnyaAl-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)
    “Dan maksud Allah adalah Allah di atas langit, sebagaimana firmanNya, “Dan sungguh aku akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya adalah di atas muka bumi. Dan setiap yang di atas maka dia adalah samaa’. Dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- adalah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?”.
    Jawab : lagi-lagi ustadz Firanda menyebut Nama Al-Hafidz Al- baihaqi untuk mendukung hipotesanya , dan Sangat disayangkan Ustadz firanda hanya mengambil pernyataan Al- Baihaqi yang belum tuntas demi mendukung kesimpulan Bathilnya. Saya minta Ustadz firanda untuk membaca tulisan Al-Baihaqi secara utuh dalam bab Al-qoul fil Istiwa jangan main penggal–penggal begitu karena akan memberikan pemahaman yang salah. Coba baca terus sampai halaman berikutnya yang menunjukkan jika Al-baihaqi ”hanya” sedang menyebutkan ayat dan hadist yang berkaitan dengan istawa belum kepada kesimpulan, sebagaimana potongan bab oleh Ustadz Firanda seakan itu adalah kesimpulan sang Imam al- baihaqi dalam memahami Istawa.

    Sementara kesimpulan yang shahih dari sang Imam adalah : ” ( wa Fil Jumlah ……) kesimpulannya adalah wajib diketahui bahwa Itiwa Allah yang maha suci dan maha tinggi, bukanlah Istiwa tegak dari yang bengkok, bukan pula Ber Diam (berada) pada tempat, tidak pula bersentuhan dengan suatu apapun dari makhluknya, akan tetapi Istiwa diatas Arsynya sebagaimana yang diberitakan tanpa bagaimana dan Dimana, tidak menyatu tidak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya. Dan datangnya Allah bukanlah datang dari tempat ke tempat , dan datangnya Allah tidak dengan Gerakan, dan turunnya pun bukan dengan berpindah, dan nafsnya bukanlah Tubuh (jisim) dan Wajahnya tidak lah gambar (shuroh), dan tangannya Bukanlah Anggota Tubuh, dan matanya bukanlah bola mata, hanya saja sifat-sifat ini telah ditentukan maka kami mengatakannya dengan menafikan bagaimananya. Allah berfirman: ”Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya dan ber Firman: “Tidak ada yang sebanding dengannya dan Allah berfirman : “Apakah engkau tahu nama baginya… “
    Coba bandingkan Aqidah sang Imam (al-Baihaqi) dengan Aqidah Salafiyyin ( Wahabiyyin ) Aqidah sang Ustadz Firanda yang mengatakan Istiwa dengan Istiqror ( berdiam / bertempat ) yang mengatakan Istiwa dengan qu’ud ( jongkok) Julus ( duduk) sebagaimana dinyatakan Imam Imam mereka : mengatakan Allah duduk di kursi, disebutkan dalam kitab ” Fathul Majid ” hal. 356, penulis abdurrahman bin hasan bin muhammad bin abdil Wahhab. Cet. Darusalam riyad. Dan masih banyak lainnya seperti hamud at- tuwajiri , bin baz dll
    Kesimpulan: bukti ketiga yang dibawakan Ustadz Firanda ini Justru menjadi senjata makan tuan , yang membabat habis Aqidah Ustadz firanda dan kelompoknya yang mengartikan Istiwa dengan berdiam bertempat dan duduk dikursi diatas Arsy. Dari tiga bukti yang dibawakan sang Ustadz ini ternyata memiliki pemahaman yang berbeda dengan apa yang dipahami Ustadz Firanda cs , sehingga Klaim Ustadz Firanda lagi-lagi gugur karena sang Ustadz salah dalam memahaminya akibat dari pemahaman yang dipenggal–penggal.
    Terlebih Imam Al- baihaqi dalam kitab inipun, setelah menyebutkan kesimpulan tadi , memberikan kaidah yang tidak digunakan bahkan tidak ditampilkan oleh ustadz firanda yaitu beliau berkata : “Telah mengabarkan kepada kami muhammad bin abdullah al-hafidz memberitakan kepada kami abu bakar bin muhammad bin ahmad bin ba lawih , mengatakan kepada kami muhammad bin bisr bin mator mengatakan al-haitsam bin Khorijah mengatakan kepada kami al-walid bin muslim beliau berkata : telah ditanya Al- Auza’i , Imam malik , sufyan ats-tsauri dan laits bin sa`ad tentang ayat-ayat ini ( ayat mutasyabihat / Istiwa dll-pent) mereka semuanya menjawab: ”Ammiruha kama Jaa’at tanpa bagaimana”. Perhatikanlah para Imam itu menjawab : ”lewati saja sebagaimana dia datang tanpa membagaimanakan”. Kemudian untuk mempertegas ini Al-baihaqi juga menyebutkan dengan sanadnya dari sufyan bin Uyainah bahwa: Setiap sifat yang Allah sifati dirinya dalam KITAB-nya maka penjelasannya (tafsirnya) adalah membacanya lalu diam.
    Bandingkan dengan metodologi kaum salafiyyin wahabiyyin termasuk Ustadz firanda yang mengharuskan ayat-ayat itu difahami dengan Dzahir dan hakekat dari setiap lafadz dalam ayat itu ( lihat risalah at-tadmuriyah – Ibnu taimiyah). Bahkan mereka mensifati Allah dengan Riwayat-riwayat yang tidak sah, isroiliyat , Mungkar dan maudhu’ seperti yang tertera dalam Kitab Tauhid Karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kitab Rodd alal jahmiyah karya Ad-darimi kitab al-Uluw adz-dzahabi, kitab Ijtima’ juyusy Ibnu Qoyyim dan kitab-kitab pegangan mereka lainnya seperti risalah al-hamawiyah dan al-Arsy karya Ibnu Taimiyah, sangat jauh dari petunjuk para Aimmah.
    Sampai disini kiranya tanggapan (bantahan) atas beberapa materi pokok, dalam tulisan Ustadz Firanda dimana Klaim :
    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas. ————— Hanya berdasar kepada Riwayat – riwayat yang Tidak Sah, Mungkar bahkan Palsu ( maudhu’) sebagaimana telah kita kaji bersamaternyata dari 13 riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda itu semuanya GUGUR
    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan Sahabat, para Tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak. —————-—— Klaim ini pun gugur, karena dua kitab yang dijadikan sandaran Oleh Ustadz Firanda ( al-Uluw dan Ijtima` al-juyusy ) hanya bersandarkan kepada riwayat-riwayat yang tidak Sah , Mungkar bahkan Maudhu`
    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit. ——————— klaim ini juga Gugur, karena:
    1. Ustadz Firanda dalam pembuktian perkataan Ulama Asy’ariyah , mengambil sandaran dari kitab-kitab yang tidak digunakan oleh ulama Asy`ariyah.
    2. ustadz Firanda salah dalam memahami perkataan Ulama Asy`ariyah dalam hal ini Al-baqilani yang menggunakan Manhaj Tafwidh, kesalahan pemahaman Ustadz Firanda diakibatkan karena ” membaca ” tidak secara utuh, tidak secara komprehensif sebagaimana telah dibuktikan dalam kajian di atas.
    3. Ustadz Firanda hanya mengambil potongan-potongan (cut paste) pembahasan para Ulama Asy`ariyah, terlebih Sang Ustadz Firanda tidak mengindahkan / memperhatikan Metodologi yang ditetapkan oleh UlamaAhlu Sunnah (Asy’ariyah). Sehingga ustadz Firanda tidak mampu membedakan antara Manhaj Tafwidh dan Manhaj Takwil yang kedua-duanya merupakan metodologi yang digunakan Ulama Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).

    Itulah inti dari tulisan Ustadz firanda yang semunya sudah Gugur. Dan yang berikutnya adalah kajian atau kritisi Ustadz Firanda terhadap tulisan UstadzAbu salafy. Untuk memperjelas persoalan mungkin perlu juga untuk disimak mudah-mudahan ada faidahnya.
    Sumber : ummatipress.com

  124. aswaja selalu mengatakan:

    @Lukman baca pelan-2 yaaaaahhh,

    ingat ayat Qur’an tidak begitu saja diartikan secara dzahir, begitu juga Hadist Rosululloh SAW, contoh simple :

    Lafadz ini :

    إن الجنة تحت أقدام الأمهات

    “Sesungguhnya surga itu ada dibawah telapak kaki para ibu”

    Ini adalah dho’if sebagaimana dikatakan oleh Al Albani, akan tetapi maknanya adalah shohih dan tetap di dalam hadits yang lain, yaitu sabda beliau صلى الله عليه وسلم kepada seseorang yang datang untuk meminta izin ikut berperang bersama beliau sedangkan beliau mempunyai seorang ibu :

    الزمها، فإن الجنة عند رجلها

    “Tetaplah bersamanya, sesungguhnya surga itu ada dibawah kakinya”.

    Hadits ini terdapat dalam Al Musnad, Sunan An Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dan hadits ini hasan shohih sebagaimana dikatakan oleh Al Albani dalam “Shohih At Targhib”.

    kan katanya wahabi anti takwil nih, jadi benar ga kalu Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu ? coba tengok deh di bawah kaki ibu ente ada syurga ga ????

  125. Lukman Mubarok mengatakan:

    Ya gitu deh lari dari bahasan…

  126. aswaja selalu mengatakan:

    @lukman…lari dari bahasan gimana Boss??? ente kan menampilkan kitab Fatul Majid yg isinya katanya Alloh SWT di atas Arsy nya…..ente dah baca artikel ane bantahan ke Firanda jilid-1 ??? disitu kan di bahas mengenai Alloh SWT yg kata Firanda ada di atas Arsy….makanya baca lagi aaaaahhh…

    ane tampilin lagi bantahan ke-2, setau ane nih, MAW kan berpedoman kepada Syaikh Ibnu Taimiyah -> muridnya : Ibnu Qoyyim, Adz Zahabi…..laaaaahhh IBnu Taimiyah & Adz Zahabi sudah tobat dari pemahaman Alloh SWT ada di atas Arsy, telah mengakui Alloh SWT ada tanpa tempat…ada tuh di artikel bantahan ke Firanda 1 & 2….naaaahh MAW sekarang bersandar kepada siapa ?? sementara yg diikuti yaitu Syaikh Ibnu Taimiyah & Syaikh Adz Zahabi sudah tobat……ente pikir dah tuh….MAW sekarang bersanad kepada siapa ??? kepada siapa aja?? siapa ???

    hayoooo siapa yg lari dari bahasan ????? get real dude…..

  127. andika564@yahoo.com mengatakan:

    di gramedia ,dah ada belum ya?Wahabi emang harus di kritik, tapi kritiknya kok isinya fitnah daan data2 manipulatif,makanya muncul buku ini.

  128. aswaja selalu mengatakan:

    @andika bukan pratama….

    lebih bagus lagi kalo bedah bukunya mengundang khalayak umum, baik dari SAWAH maupun bukan…..pasti enak deh buat diikuti….bukan hanya 1 arah saja bedah bukunya kalo cuma org-2 SAWAH saja yg hadir….

    btw fitnahnya yg mana yah?? ayo dong buktikan dg ilmiah, dg ilmu, dg sumber-2 shahih….kalo cuma komen spt itu yaaaaaaahhh OMDO…..

  129. Lukman Mubarok mengatakan:

    @aswaja
    dalam artikel bantahan ente dari salafytobat ternyata tidak ada tuh kalimat shorikh dari ibnu Taimiyah dan Adzdzahabi bahwa keduanya meninggalkan faham bahwa Allah di atas ‘Arsy. Ketika disebut qoul, yang katanya dari ibnu Taimiyyah eh… ternyata yang ada nukilan dari kitab orang yang memusuhi ibnu Taimiyah. Lagian pula kata anaa Asy’ary (saya berfaham Asy’ary), kok kata2nya dikasih kurung. Itu tandanya artikel salafytobat manipulatif. Kisah adz Dzahaby juga tidak jelas. Hanya mengutip kata orang. Lagian pula apa dalil bahwa Allah ada tanpa tempat? Ternyata manipulatif juga data dari salafytobat, abu syafiq, abu salafi, dan Ahmad Syahid

  130. aswaja selalu mengatakan:

    @lukman,

    udah cek sumber-2 kitab periwayat yg ditampilkan???

    ayo jawab dg ilmu ah…..tampilkan bukti-2 kalo memang sumber kitab-2 tsb salah/palsu/ga ada de el el…..

  131. lukman mubarok mengatakan:

    Istiwa’ adalah Perbuatan Tuhan
    ( Qur’an 7:54; 13:2; 20:5; 25:59; 32:4)
    Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
    “Istiwa’ adalah salah satu dari Sifat-sifat Perbuatan (min sifat al-af`al) menurut mayoritas pemahaman.” – Al-Qurtubi.1

    “Penetapan Arsy-Nya di langit telah diketahui, sedang Arsy-Nya di bumi adalah kalbu dari orang-orang yang mengikuti Tauhid (ahl al-tawhid). Dia berkata: “Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka. (QS. 69:17) , dan mengenai singgasana Qalbu, “Kami angkut mereka di daratan dan di lautan” . Sedang mengenai arsy di langit: Yang Maha Rahman menetapkan Dirinya sendiri atasnya (`alayhi istawa); sedang mengenai arsy di hati: Yang Maha Rahman menguasainya (`alayhi istawla). Arsy di langit adalah kiblat bagi doa seluruh makhluk, sedang arsy di hati adalah tempat melihat Al-Haq, Yang Maha Tinggi. Sehingga, ada ada perbedaan besar antara kedua arsy itu” – Al-Qushayri.2

    “Kami percaya bahwa “Ar-Rahman bersemayam atas arsy” (20:5), dan kami tidak tahu hakikat dan apa yang dimaksud (la na`lamu haqiqata mi`na dhalika wa al-murada bihi), pada saat yang sama kami percaya bahwa “tidak ada yang serupa dengan-Nya” (42:11) dan Dia Maha Tinggi di atas semua makhluk yang ditinggikan. Ini adalah jalan Salaf atau paling tidak mayoritasnya, dan inilah jalan paling selamat karena tidak perlu untuk membahas terlalu dalam masalah-masalah semacam ini. – Al-Nawawi.3

    Imam Abu al-Hasan al-Ash`ari berkata: “Penetapan bahwa Allah Maha Tinggi di atas arsy adalah sebuah perbuatan di mana Dia telah memberi nama istiwa sehubungan dengan arsy, persis sebagaimana Dia telah menciptakan sebuah perbuatan bernama ityan (datang) sehubungan dengan orang tertentu, tetapi hal ini tidaklah mengakibatkan baik turun atau gerakan” 4 Al-Bayhaqi menyatakan: “Abu al-Hasan `Ali al-Ash`ari mengatakan Allah Maha Tinggi mengakibatkan sebuah perbuatan sehubungan dengan arsy, dan Dia menamai perbuatan itu istiwa, sebagaimana Dia mengakibatkan perbuatan-perbuatan lain sehubungan dengan hal-hal lain, dan Dia memberi nama perbuatan itu sebagai rizq, ni’mat, atau perbuatan lain dari –Nya. 5 Hal ini juga pemahaman dari Ibn Hazm (d. 456) – meski dia merupakan lawan yang nyata dari Ash`ariyah – yang menjelaskan istiwa’ sebagai “sebuah perbuatan sehubungan Arsy”.6

    Abu al-Fadl al-Tamimi menyebutkan dua sikap dari Imam Ahmad mengenai istiwa’: Satu kelompok meriwayatkan bahwa dia menganggapnya sebagai “sifat dari perbuatan” (min sifat al-fi`l), yang lain, “dari Sifat Zat” (min sifat al-dhat).”7 Ibn Battal menyebut juga bahwa Ahl al-Sunna memegang satu dari dua sikap: “Mereka yang memahami istawa sebagai `Dia meninggikan Diri-Nya Sendiri (`ala) menganggap istiwa sebagai sebuah Sifat Zati, sedang yang lain menganggap sebuah Sifat Perbuatan “8

    Al-Tamimi lebih lanjut sehubungan dengan Ahmad berkata:

    [Istiwa’]: Ini bermakna ketinggian (`uluw) dan terangkat, kenaikan (irtifa`). Allah Maha Tinggi adalah selalu tinggi (`ali) dan terangkat/mulia (rafi`) tanpa permulaan, sebelum Dia menciptakan Arsy. Dia di atas segala sesuatu (huwa fawqa kulli shay’), dan Dia ditinggikan atas segala sesuatu (huwa al-`ali `ala kulli shay’). Dia mengkhususkan Arsy hanya karena maknanya nyata yang membuatnya berbeda dari segala yang lain, yaitu Arsy adalah benda terbaik dan paling tinggi di antara yang lain. Allah Ta’ala dengan demikian memuji Diri-Nya dengan mengatakan bahwa Dia “menetapkan Diri-Nya di atas Arsy”, yaitu bahwa Dia meninggikan Diri-Nya Sendiri atasnya (`alayhi `ala). Adalah boleh untuk mengatakan bahwa Dia menetapkan Diri-Nya Sendiri dengan sebuah perjanjian atau pertemuan dengannya. Allah Maha Tinggi dari semua itu! Allah tidak berkenaan dengan perubahan, penggantian tidak juga batasan, baik sebelum atau sesudah penciptaan Arsy.9

    Seorang ulama Maliki, Ibn Abi Jamra (w. 695H) mengatakan sesuatu pendapat yang serupa dalam komentarnya tentang hadis, “Allah menulis sebuah Al-Kitab sebelum Dia mencipta makhluk, perkataan: Ketahuilah rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku dan itu ditulis-Nya di atas Arsy”.

    Hal ini mungkin dinyatakan dari kenyataan bahwa Al-Kitab disebut sebagai “di atas Arsy” bahwa kebijakan ilahi telah menentukan bagi Arsy untuk membawa apa pun yang Allah inginkan sebagai catatan atas keputusan-Nya, kekuatan-Nya, dan ilmu-Nya atas hal ghaib. Hal itu untuk menunjukkan kekhususan dari Ilmu-Nya yang meliputi segala masalah ini. Hal ini membuat Arsy sebagai salah satu dari tanda-tanda terbesar yang khusus dari Allah atas pengetahuan atas hal ghaib. Hal ini dapat menjelaskan ayat istiwa untuk merujuk kepada apa pun yang Allah inginkan karena kekuasaan-Nya, yaitu Al-Kitab yang Allah telah letakkan di atas Arsy-Nya” 10

    Sufyan al-Thawri (w. 161 H) mengartikan istiwa’ dalam ayat “ Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Ars” sebagai “perintah sehubungan dengan Arsy” (amrun fi al-`arsh), sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-Haramayn al-Juwayni dan dikutip oleh al-Yafi`i bukunya Marham al-`Ilal al-Mu`dila fi Daf` al-Shubah wa al-Radd `ala al-Mu`tazila

    Pengertian istiwa sebagai cara/jalan bagi Allah untuk perintah khusus sehubungan dengan Arsy tidak berhubungan dengan jarak dan ini adalah ta’wil dari Imam Sufyan al-Thawri, yang mengambil bukti pendukung bagi ayat: “Kemudian Dia menuju kepada (thumma istawa) langit dan langit itu masih merupakan asap” (41:11), dengan arti “Dia melanjutkan padanya ” (qasada ilayha).11

    Al-Tabari dalam Tafsirnya, ketika menafsirkan ayat “Kemudian Dia menuju kepada (thumma istawa) langit dan dijadikan-Nya tujuh langit “(2:29), sbb.:

    Arti istiwa pada ayat ini adalah ketinggian (‘uluw) dan ditinggikan… tetapi jika orang mengklain bahwa ini berarti prepindahan untuk Allah, katakana padanya: Dia Maha Tinggi dan Ditinggikan atas langit dengan ketinggian dari kekuasaan dan kekuatan, bukan ketinggian dari perpindahan dan pergerakan ke sana dan ke sini.

    Sikap di atas adalah sikap dari paham Asy’ariah, sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah komentar dari Abu Bakr bin Arabi dan Ibn Hajr mengenai hal ini12 bertentangan dengan penafsiran orang yang mengartikannya dengan ketinggian jarak seperti Ibn Taymiah. Ibn Taymiah mengatakan: “Maha Pencipta SWT adalah di atas dunia dan keadaannya dalam arti literal, bukan dalam arti kekuasaan atau kedudukan”. 13 Doktrin ini dengan menyeluruh dibantah oleh Ibn Jahbal al-Kilabi (w. 733H dalam Radd `ala Man Qala bi al-Jiha (“Bantahan terhadap Ibn Taymiyya Yang Menyifati Allah SWT dengan Arah” “)14 dan Shaykh Yusuf al-Nabahani (1265-1350H) dalam bukunya Raf` al-Ishtibah fi Istihala al-Jiha `ala Allah (“Menghilangkan Keraguan atas Kemustahilan Arah bagi Allah”). 15

    Ibn al-Jawzi (w 597H) pengantar bukunya Daf` Shubah al-Tashbih mengutip pendapat anthropomorphist, “Mereka tidak senang untuk mengatakan, “Sifat perbuatan (sifatu fi`l) sehingga mereka mengakhiri dengan perkataan, “Sifat Zat” (sifatu dhat).Ibn Hazm juga berkata, “Jika penempatan di atas arsy adalah abadi tanpa awal, maka Arsy adalah abadi tanpa awal, dan ini adalah pendapat yang kufur” 16

    Al-Baihaqi mengutip salah satu pengikut Asy’ariah, Abu al-Hasan `Ali ibn Muhammad ibn Mahdi al-Tabari (d. ~380) dalam bukunya Ta’wil al-Ahadith al-Mushkalat al-Waridat fi al-Sifat (“Penafsiran atas Riwayat yang Sulit mengenai Sifat (Allah)”): “Allah di atas segala sesuatu dan menetap di atas Arsy dalam arti bahwa Dia Ditinggikan atasnya, arti dari istiwa’ adalah Pengangakatan-Diri (i`tila’).”17 Ini adalah interpretaasi yang paling diterima di kalangan Salaf; Al-Baghawi mengatakan bahwa ayat, “Ar-Rahman alal arsy istawa” (20:5) menurut Ibn Abbas dan kebanyakan mufasir Quran adalah “Dia mengangkat Diri-Nya Sendiri” ” (irtafa`a).18 Ini adalah penafsiran yang dikutip dari al-Bukhari dalam Sahih dari Tabi’in Rufay` ibn Mahran Abu al-`Aliya (w. 90H). Al-Bukhari juga mengutip dari Mujahid (w. 102H) penafsiran “menaikan” atau “mengangkat Diri-Sendiri ke atas” (`ala). Ibn Battal menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah sikap dan perkataan yang benar dari Ahlu Sunah, karena Allah menyatakan Diri-Nya Sendiri sebagai Al-‘Ali,Yang Maha Ditinggikan” (2:255), dab berfirman: “maka Maha Tinggilah Dia (Ta’ala) dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 23:92)” .19

    Sebaliknya, dalam sikap yang bertentangan dengan di atas adalah Ibn Taimiah dalam Fatawa, “Penempatan di atas Arsy adalah real, dan penempatan hamba di atas kapal adalah real” (lillahi ta`ala istiwa’un `ala `arshihi haqiqatan wa li al-`abdi istiwa’un `ala al-fulki haqiqatan).20 “Allah berserta kita dalam kenyataan dan Dia di atas Arsy dalam kenyataan (Allahu ma`ana haqiqatan wa huwa fawqa al-`arshi haqiqatan).. . .Allah beserta makhluk secara nyata dan Dia di atas Arsy secara nyata (Allahu ma`a khalqihi haqiqatan wa huwa fawqa al-`arshi haqiqatan).”21

    Penafsiran lain yang umum digunakan oleh kalangan Asy’ariah belakangan untuk istiwa adalah istila dan qahr, masing-masing berarti “kekuasaan yang kuat” dan “penguasaan”. Ibn Abdus Salam berkata:

    Istiwa atas Arsy adalah metaphor untuk kekuasaan yang kuat (istila’) atas kerajaan-Nya dan mengaturnya, sebagaimana puisi mengatakan:

    qad istawa Bishrun `ala al-`Iraq min ghayri sayfin wa damin muhraq
    “Bishr menguasai Iraq tanpa pedang dan tanpa pertumpahan darah”22

    Ini adalah metaphor mirip dengan raja, yang mengatur urusan kerajaan-kerajaan mereka sementara dia duduk di antara para punggawa dan pangeran. Singgasana bisa juga dinyatakan sebagai kedudukan, seperti perkataan Umar ra.: 23 “Singgasanaku akan jatuh jika saya tidak mendapat rahmat dari Tuhan”24

    Para antropomorfis (Al-jismiyah) mengatakan: “Artinya adalah penempatan (al-istiqrar).”25 Sebagian Ahl al-Sunna mengatakan: “itu artinya Dia mengangkat Diri-Nya Sendiri (irtafa`a)”, sementara yang lain: “Itu artinya menguasai (`ala),””, dan yang lain mengatakan: “Artinya kerajaan (al-mulk) dan kekuatan (al-qudra).”26

    Penafsiran kaum Sunni yang belakangan serupa dengan istila’ dan qahr. Tetapi, karena kaum Mu’tazilah mengklain bahwa Sifat Ketuhanan itu berawal dalam waktu daripada tanpa ciptaan dan tanpa awal, penafsiran mereka ditolak oleh ulama ahli Sunah. Ibn Battal mengatakan:” Posisi Mu’tazilah adalah kosong dan ditolak, karena Allah itu qahir, ghalib, dan mustawli tanpa awal.”27 Ibn Battal merujuk kepada pendapat Asy’ari di mana Sifat Perbuatan Allah seperti mencipta, meski berhubungan dengan makhluk, adalah tanpa awal sehubungan dengan Allah. 28 Kepada mereka yang keberatan dengan istawla dengan dasar bahwa hal itu necessarily supposed prior opposition,29 Ibn Hajar mencatat bahwa asumsi itu ditolak oleh ayat: “Allah dahulu adalah (kana) Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana” yang tafsirkan oleh ulama dengan arti, “Dia selalu Maha Tahu dan Maha Bijaksana” 30

    Ahli Bahasa dari Ash`ariah al-Raghib al-Asfahani (w. 402H) mengatakan bahwa istawa `ala memiliki arti istawla `ala (“Dia menguasai”) dan dia mengutip ayat istiwa (20:5) sebagai sebuah contoh dari makna ini: “Hal ini berarti bahwa segala sesuatu sama dalam hubungannya dengan Dia, dalam arti bahwa tidak ada hal yang lebih dekat dengan Dia disbanding dengan yang lain, karena Dia tidak seperti badan yang berada secara tertentu di suatu tempat dan bukan di tempat lain” 32 Dalam arti ini, baik pendapat Mu’tazila tentang awal dari Sifat dan Literalis mengenai pendudukan-setelah-perjuangan (conquest -after-struggle) telah tertolak, dan istawla dapat dengan aman diterima di kalangan Ahl Sunah. Sebagaimana Ibn Battal mengatakan, “ pengartian pengaturan dan kekuasaan”, “menguasai” dan “penaklukan” tidak dianggap berlawanan dengan Sang Pencipta (Al-Khalik) sebagaimana “Zahir” (All-Victorious), “Qahhar” (All- Compelling), “ghalib” (Prevailer) atau “Qahir” (Omnipotent) tidak dianggap berlawanan atas bagian zat lainnya. Hal ini diperkuat oleh ayat, “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi (Al-Qahir) atas semua hamba-Nya” (6:18, 6:61) dan “ Allah berkuasa (Al-Ghalib) terhadap urusan-Nya” (12:21). Al-Raghib, berkata:” itu berarti bahwa segala sesuatu adalah seperti itu dalam hubungannya dengan Dia” dan dia tidak mengatakan, “menjadi seperti”.

    Ibn Al-Jauzi menyebutkan alasan lain untuk membolehkan tafsiran ini: “Siapa saja yang mengartikan “Dan Dia beserta kamu” (57:4) dalam arti “Dia beserta kamu dalam pengetahuan”, semestinya membolehkan lawannya untuk menafsirkan istiwa sebagai “al-qahr”, menguasai. 33

    Begitu juga pemberian arti secara bahawa istiwa dengan istawla sebelumnya, diberikan oleh al-Akhtal (w. seb 110H) yang mengatakan: “Bishr menguasai (istawa ‘ala) Iraq tanpa pedang dan tanpa tumpahan darah”. Sebagian “Salafi” menolak penafsiran ini dengan dasar bahwa al-Akhtal adalah seorang Kriten abad ke-2H. Hal ini menunjukkan ketidaktahuan akan criteria yang disepakati bersama atas kekuatan pembuktian puisi bahasa Arab dalam Syariah, yang berkembang hingga abad 150 dan terlepas dari keyakinannya.

    Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buti berkata:

    Konsensus sehubungan dengan nash ini adalah dengan tidak disifatkan/diberikan bagi ayat-ayat itu segala makna yang menjadikan kesamaan atau keserupaan antara Allah dan makhluknya dan menjauhkan dari pemaknaan secara lexical (literal) semata.

    Cara yang wajib dilakukan adalah baik menjelaskan kata-kata ini sesuai dengan makna luar yang sesuai dengan Kesucian Ilahi atas segala keserupaan maupun sekutu, dan itu termasuk tidak mengartikan hal tersebut yang berasosiasi denga tubuh dan keserupaan dengan sifat kemanusiaan. Dengan demikian, hendaklah dikatakan, sebagai contoh: Dia bertahta di atas Arsy sebagaimana yang Dia katakan dengan makna yang sesuai dengan Keagungan dan Keesaannya, dan Dia memiliki Tangan sebagaimana yang Dia katakan, yang sesuai dengan Keagungan dan KetuhananNya, dan sebagainya.

    Atau nash-nash itu dapat juga dijelaskan secara alegoris yang sesuai dengan kaidah bahasa dan sesuai dengan kebiasaan dalam pembicaraan dan konteks sejarahnya. Sebagai contoh: bertahta adalah bertahta dalam arti kekuasaan (istila’) dan kekuatan (tasallut); Tangan Allah adalah KekuatanNya dalam firman-Nya, “Tangan Allah di atas tangan mereka” (48:10) dan Kemurahan-Nya dalam firman-Nya, “(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki (5:64).34

    Adapun penafsiran istiwa sebagai duduk (julus), hal ini dinyatakan dalan buku yang dinisbatkan kepada `Abd Allah ibn Ahmad ibn Hanbal berjudul Kitab al-Sunna (p. 5, 71): “Adakah makna lain dari bersemayam (istiwa’) selain duduk (julus)?” “Allah SWT duduk di atas Kursi dan menetap di sana hanya 4 langkan yang kosong”. Al-Khallal dalam Kitab al-Sunna (p. 215-216), menyatakan baransiapa yang menolak bahwa “Allah duduk di atas kursi dan terdapat jarak langkah yang kosong” adalah kafir. `Uthman al-Darimi bahkan mengatakan lebih jauh, “Jika Dia berkehendak, Dia bahkan bisa duduk di atas kutu ….., apalagi Arsy yang besar”35 Ibn Taymiyya dan Ibn al-Qayyim mendukung pandangan ini.36 Al-Kawthari menulis dalam Maqalat: “Siapa saja yang membayangkan Tuhan kita duduk di atas kursi, dan meninggalkan tempat kosong di sampingnya untuk Rasul-Nya duduk, dia telah mengikuti kaum Nasrani yang percaya bahwa Isa AS diangkat ke langit dan duduk di samping Bapanya – Allah ditinggikan dari persekutuan yang mereka sifatkan kepada-Nya” 37

    Bukti di atas serupa dengan bukti dari pernyataan Imam Malik: “Istiwa adalah diketahui, dan “bagaimana” di luar kemampuan akal, dan bertanya mengenainya adalah bid’ah” 39 Shaykh al-Islam Taqi al-Din al-Subki bahwa sifat istiwa yang di luar kemampuan akal membuktikan tidak dapat diterimanya makna “duduk” 40

    Dalam Tafsir Quran berjudul Lata’if al-Isharat (“Isyarat Halus”), Imam Abu al-Qasim al-Qushayri (d. 465) – bersama dengan Imam al-Haramayn Ibn al-Juwayni dan al-Khatib al-Baghdadi tokoh utama dari generasi ke-4 murid al-Ash`ari’s menyimpulkan posisi Ahl al-Sunna tentang istiwa’:

    “Dia bersemayam atas Arsy” (7:54; 13:2; 20:5; 25:59; 32:4), tetapi Dia yang tanpa awal tidak memiliki batas (al-qadim laysa lahu hadd). Dia “bersamayam atas Arsy”, tetapi Arsy mestinya lebih membutuhkan daripada sebuah iota (makhluk hidup kecil) dalam hubungannya (al-wisal) [dengan Dia] jika dia adalah makhluk hidup. Namun ia adalah suatu benda yang tidak hidup,dan kapan benda pernah memiliki keinginan? Dia “bersamayam atas Arsy”, namun Dia tempat bergantung selamanya tanpa sekutu, Satu tanpa batasan. 41

    Wallahu a’lam.

    Allahumma shali ‘alaa Muhammad wa aali wa shahbihi wa salim.

    NOTES

    1. dalam Tafsir (18:281).

    2 Dalam Lata’if al-Isharat (4:118).

    3 Al-Nawawi, al-Majmu` Sharh al-Muhadhdhab (1:25).

    4 dikutip dari `Abd al-Qahir al-Baghdadi, Usul al-Din (p. 113).

    5 Al-Bayhaqi, al-Asma’ wa al-Sifat (2:308).

    6 dalam al-Fisal fi al-Milal (2:125).

    7 Ibn Abi Ya`la, Tabaqat al-Hanabila (2:296).

    8 dalam Ibn Hajar, Fath al-Bari (1959 ed. 13:406).

    9 Ibn Abi Ya`la, Tabaqat al-Hanabila (2:296-297).

    10 Ibn Hajar, Fath al-Bari, Tawhid ch. 22 (1959 ed. 13:414; 1989 ed. 13:508 #7422).

    11 dalam al-Yafi`i, Marham al-`Ilal (p. 245) dan Abu al-Ma`ali Ibn al-Juwayni, al-Irshad (p. 59-60).

    12 Masing-masinf dalam `Arida al-Ahwadhi (2:234-237) dan Fath al-Bari (3:37-38, 6:136 [Jihad], juga Tawhid ch. 23.).

    13 dalam al-Ta’sis al-Radd `ala Asas al-Taqdis (= Talbis al-Jahmiyya 1:111).

    14 Dikutip penuh dari Ibn al-Subki’s Tabaqat (9:35-91).

    15. Dalam al-Nabahani’s Shawahid al-Haqq (p. 210-240).

    16 Dalam al-Fisal (2:124).

    17 Dalam al-Bayhaqi, al-Asma’ wa al-Sifat (al-Hashidi ed. 2:308).

    18 Diriwayatkan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (1959 ed. 13:409f.), Kitab Tawhid, chapter 22.

    19 Ibid.

    20 Ibn Taymiyya, Majmu` al-Fatawa, Vol. 5 al-Asma’ wa al-Sifat (5:199).

    21 Op. cit. (5:103).

    22 Cf. Mukhtar al-Sihah (p. 136).

    23 Diriwayatkan sebagai sebuah mimpi yang terlihat setelah wafatnya Umar. Lihat berikutnya dalam entri `arsh: Lisan al-`Arab, Ibn al-Athir’s al-Nihaya, al-Raghib’s Mufradat Alfaz al-Qur’an, al-Basa’ir (4:24), and `Umda al-Huffaz.

    24 Ibn `Abd al-Salam, al-Ishara ila al-Ijaz (p. 104-112).

    25 Penafsiran istawa sebagai istaqarra dalam ayat “Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy” (32:4) sebenarnya diriwayatkan dari al-Kalbi dan Muqatil oleh al-Baghawi – dalam tafsirnya berjudul Ma`alim al-Tanzil (al-Manar ed. 3:488) – yang menambahkan bahwa Ahli asal bahasa (Filologis) Abu `Ubayda [Ma`mar ibn al-Muthanna al-Taymi (d. ~210)] mengatakan “Dia menetap (mounted)” (sa`ida). Pickthall mengikuti yang belakangan ini dalam menafsirkan ayat: “Then He mounted the Throne”. Inilah sikap dasar dari “Salafi” sebagaimana dinyatakan oleh Imam Muhammad Abu Zahra: ” Salafis dan Ibn Taymiyya menyatakan bahwa penempatan terjadi atas Arsy …. Ibn Taymiyya dengan semangat menyatakan bahwa Allah turun dan bisa di atas (fawq) dan di bawah (that) ‘tanpa bagaimana”…. dan bahwa manhaj Salaf adalah konfirmasi segala sesuatu yang dinyatakan dalam Al-Quran mengenai ‘atas’ (fauqiyah), “bawah” (tahtiyah) dan “semayam di atas Arsy” (secara leterlek )” Abu Zahra, al-Madhahib al-Islamiyya (p. 320-322).

    26 Ibn Hajar, Fath al-Bari (1959 ed. 13:409).

    27 Dalam Fath al-Bari (1959 ed. 13:409f.).

    28 Lih. Ibn Khafif’s `Aqida §§15-19.

    29 Cf. Ibn al-A`rabi dalam al-Dhahabi’s Mukhtasar al-`Uluw (p. 195 #241) dan Dawud al-Zahiri keduanya dikutip oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari – dan Ibn `Abd al-Barr dalam pembahasan hadis ‘turun’ dalam al-Tamhid: “arti istawla secara bahasa adalah `menguasai, memenan gkan’ dan Allah tidak butuh mengalahkan apa pun”

    30 Fath al-Bari (1959 ed. 13:409f.).

    31 Fath al-Bari (1959 ed. 13:409f.).

    32 al-Zabidi, Taj al-`Arus, entry s-w-y.

    33 Daf` Shubah al-Tashbih (1998 al-Kawthari repr. p. 23).

    Sumber: As-Sunah Foundation of America

  132. lukman mubarok mengatakan:

    Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy

    Kategori: Aqidah

    21 Komentar // 9 May 2008

    Artikel ini adalah merupakan penjelasan terhadap pertanyaan saudara Maharinjaya yang menanyakan perihal “Allah bersemayam di atas ‘Arsy”. Berikut ini adalah pertanyaan saudara Maharinjaya tersebut,

    Assalamu’alaikum
    Kepada Administrator yth, ana tertarik dengan dialog semacam ini. Sebagai mualaf ana terus mencari karena ana ingin menemukan sesuatu, seperti disabdakan Isa As dalam Markus: “Bagi siapa saja yang mencari niscaya ia akan menemukan…”Mohon jawaban selekasnya baik melalui laman siteweb ini maupun melalui email ana iaitu mengenai ayat yang menyebutkan bahwa “…Allah bersemayam di Arsy…”, apakah maksud dari ayat ini karena ana jua berkehendak dapatlah kiranya menjawab soal dari ana punya sahabat yang masih belum berislam. Terimakasih.

    Alhamdulillah pertanyaan tersebut telah dijawab oleh ustadz Anas Burhanuddin (dan sekaligus ada tambahan dari Al-Akh Abu Mushlih pada bagian akhir artikel ini). Mudah-mudahan penjelasan yang ringkas ini dapat memberi manfaat yang besar, khususnya kepada saudara Maharinjaya dengan semakin mempekokoh keislaman beliau di atas islam, sehingga merasa cukup dengan semua yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dan tidak butuh kepada yang selain itu.

    ***

    A. Dalil Sifat Istiwa’

    Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

    ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

    Artinya:

    “Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

    Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    Artinya:

    “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

    Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam juga telah menetapkan sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

    1. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

    لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

    “Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana) – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    2. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

    يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

    “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

    3. Hadits Qatadah bin An-Nu’man rodiallahu’anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

    لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ.

    “Ketika Allah selesai mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dan Adz-Dzahabi berkata: Para perawinya tsiqah)

    B. Arti Istiwa’

    Lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dalam bahasa Arab – yang dengannya Allah menurunkan wahyu – berarti (عَلاَ وَارْتَفَعَ), yaitu berada di atas (tinggi/di ketinggian). Hal ini adalah kesepakatan salaf dan ahli bahasa. Tidak ada yang memahaminya dengan arti lain di kalangan salaf dan ahli bahasa.

    Adapun ‘Arsy, secara bahasa artinya Singgasana kekuasaan. ‘Arsy adalah makhluk tertinggi. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

    فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

    “Maka jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Al-Firdaus, karena sungguh ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya singgasana Sang Maha Pengasih, dan darinya sungai-sungai surga mengalir.” (HR. Al-Bukhari)

    ‘Arsy juga termasuk makhluk paling besar. Allah menyifatinya dengan ‘adhim (besar) dalam Surat An-Nahl: 26. Ibnu Abbas rodiallahu’anhu berkata:

    الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ ، وَالْعَرْشُ لاَ يَقْدِرُ قَدْرَهُ إِلاَّ اللهُ تعالى.

    “Kursi adalah tempat kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy (singgasana) tidak ada yang mengetahui ukurannya selain Allah Ta’ala.” (Hadits mauquf riwayat Al-Hakim dan dishahihkan Adz-Dzahabi dan Al-Albani)

    Allah juga menyifatinya dengan Karim (mulia) dalam Surat Al-Mukminun: 116 dan Majid (agung) dalam Surat Al-Buruj: 15.

    Dalam suatu hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa ‘Arsy memiliki kaki, dan dalam surat Ghafir: 7 dan Al-Haaqqah: 17 disebutkan bahwa ‘Arsy dibawa oleh malaikat-malaikat Allah.

    Ayat dan hadits yang menjelaskan tentang istiwa’ di atas ‘Arsy menunjukkan hal-hal berikut:

    Penetapan sifat istiwa di atas ‘Arsy bagi Allah, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
    Bahwa Dzat Allah berada di atas.

    C. Beberapa Peringatan Penting

    Pertama:

    Istiwa’ adalah hakikat dan bukan majas. Kita bisa memahaminya dengan bahasa Arab yang dengannya wahyu diturunkan. Yang tidak kita ketahui adalah kaifiyyah (cara/bentuk) istiwa’ Allah, karena Dia tidak menjelaskannya. Ketika ditanya tentang ayat 5 Surat Thaha (الرحمن على العرش استوى), Rabi’ah bin Abdurrahman dan Malik bin Anas mengatakan:

    الاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ، وَاْلكَيْفُ مَجْهُوْلٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ.

    “Istiwa’ itu diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib.” (Al-Iqtishad fil I’tiqad, Al-Ghazali)

    Kedua:

    Wajib mengimani dan menetapkan sifat istiwa’ tanpa merubah (ta’wil/tahrif) pengertiannya, juga tanpa menyerupakan (tasybih/tamtsil) sifat ini dengan sifat istiwa’ makhluk.

    Ketiga:

    Menafsirkan istawa (اِسْتَوَى) dengan istawla (اِسْتَوْلَى) yang artinya menguasai adalah salah satu bentuk ta’wil yang bathil. Penafsiran ini tidak dikenal di kalangan generasi awal umat Islam, tidak juga di kalangan ahli bahasa Arab. Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan bahwa penafsiran ini pertama kali dimunculkan oleh orang-orang Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Mereka ingin menafikan sifat keberadaan Allah di atas langit dengan penafsiran ini. Kita tidak menafikan sifat kekuasaan bagi Allah, tapi bukan itu arti istiwa’.

    Keempat:

    Penerjemahan kata istawa (اِسْتَوَى) dengan “bersemayam” perlu di tinjau ulang, karena dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa bersemayam berarti duduk, tinggal, berkediaman. Padahal arti istawa bukanlah ini, sebagaimana telah dijelaskan.

    Kelima:

    Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy tidak berarti bahwa Allah membutuhkannya, tapi justru ‘arsy yang membutuhkan Allah seperti makhluk-makhluk yang lain. Dengan hikmah-Nya Allah menciptakan ‘Arsy untuk istiwa’ diatasnya, dan Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun. Wallahu a’lam.

    D. Faedah Mempelajari Asma dan Sifat Allah

    Semoga Allah merahmati Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi yang berkata: “……Ilmu ushuluddin (pokok-pokok agama) adalah ilmu paling mulia, karena kemulian suatu ilmu tergantung pada apa yang dipelajarinya. Ia adalah Fiqih Akbar dibandingkan dengan Ilmu Fiqih furu’ (cabang-cabang agama). Karenanya Imam Abu Hanifah menamakan apa yang telah beliau ucapkan dan beliau kumpulkan dalam lembaran-lembaran berisi pokok-pokok agama sebagai “Al-Fiqhul Akbar“. Kebutuhan para hamba kepadanya melebihi semua kebutuhan, dan keterdesakan mereka kepadanya di atas semua keterdesakan, karena tiada kehidupan untuk hati, juga tidak ada kesenangan dan ketenangan, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma’, Sifat dan Af’al (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintaiNya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepadaNya tanpa yang lain……”

    ***

    Referensi:

    Al-Mausu’ah Asy-Syamilah, dikeluarkan oleh Divisi Rekaman Masjid Nabawi.
    Syarah ‘Aqidah Thahawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi.
    Mudzakkirah Tauhid, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili.

    Tambahan dari Al-Akh Abu Mushlih:

    Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy. Di dalam ayat disebutkan Ar-Rahmaanu ‘alal ‘arsyistawaa. Secara bahasa istiwa’ itu memiliki empat makna yaitu:

    ‘ala (tinggi)
    Irtafa’a (terangkat)
    Sho’uda (naik)
    Istaqarra (menetap)

    Sehingga makna Allah istiwa’ di atas ‘Arsy ialah menetap tinggi di atas ‘Arsy.

    Sedangkan makna ‘Arsy secara bahasa ialah: Singgasana Raja. Adapun ‘Arsy yang dimaksud oleh ayat ialah sebuah singgasana khusus milik Allah yang memiliki pilar-pilar yang dipikul oleh para malaikat. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang artinya, “Dan pada hari itu delapan malaikat memikul arsy.” Dan Allah sama sekali tidak membutuhkan ‘Arsy, tidak sebagaimana halnya seorang raja yang membutuhkan singgasananya sebagai tempat duduk.

    Demikianlah yang diterangkan oleh para ulama. Satu hal yang perlu diingat pula bahwa bersemayamnya Allah tidak sama dengan bersemayamnya makhluk. Sebab Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa persis dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Oleh sebab itu, tidak sama bersemayamnya seorang raja di atas singgasananya dengan bersemayamnya Allah di atas arsy-Nya. Inilah keyakinan yang senantiasa dipegang oleh para ulama terdahulu yang shalih serta para pengikut mereka yang setia hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bish showaab (silakan baca kitab-kitab Syarah Aqidah Wasithiyah dan kitab-kitab aqidah lainnya).

    ***

    Penulis: Ustadz Abu Bakr Anas Burhanuddin, Lc.
    Artikel http://www.muslim.or.id

  133. abisyakir mengatakan:

    @ Nasrul Cemani…

    apakah anak Bapak mengetahui perihal penjelasan di atas ??? anak bapak yg SMP apakah bisa jadi sandaran ???

    Respon: Lho, ayat itu sangat jelas. Ia diterjemahkan oleh para ulama alim di Indonesia, dalam lajnah penerjemah yang dibentuk Depag RI. Salah satu anggota lajnah adalah KH. Ali Ma’shum, tokoh senior NU di masa lalu. Itu pengertian yang dibaca anak saya dari Al Qur’an dan Terjemah Depag. Jadi, yang menjadi sandaran bukan akal anak saya, tetapi buah ilmu dan pikir lajnah penyusun Terjemah Al Qur’an itu.

    Singkat kata, anak remaja (masih kecil) saja bisa memahami kok bahwa “Allah ada di langit, di atas Arasy”. Kok Anda yang sudah sebegitu alimnya, malam mbulet gak karuan. Mungkin, Anda ini sudah begitu jauh terjerumus dalam fanatisme yang ditularkan guru-guru Anda, sehingga tidak bisa menggunakan akal sehat untuk memahami hal-hal yang bersifat standar dan elementer.

    Jadilah manusia merdeka sebelum belajar ngaji, dan merdeka juga setelah belajar ngaji.”

    AMW.

  134. abisyakir mengatakan:

    @ Nasrul Cemani…

    komentar/tanggapan ente kok cuma tanggapan pribadi yah, tolong jelaskan seperti mas Syahid jelaskan, sebutkan sumber-2nya, rawi-2 nya dari kkitab-2 para syaikh tsb, sehingga bersambung, kalau ada perawi yg pemalsu hadist bukankah menjadi tidak menyambung ??? kalo dijelaskan dg ilmiah, dg ilmu, diurutkan sumber ke sumber sampai dg perkataan para ulamanya, sampai kepada ayat Qur’an & Hadist yg dimaksud, pastinya akan jelas…..

    Respons: Anda ini lucu Pak. Komentar saya itu ilmiah, lho. Ilmiah sekali, menurut Anda, dan khususnya menurut Ahmad Syahid. Lho kok bisa? Iya. Sebab: “Referensi utama saya dalam memberi komentar adalah tulisan Ahmad Syahid itu sendiri.”

    Selagi Anda menganggap tulisan Ahmad Syahid ilmiah…ya mohon Anda ikutkan juga komentar saja ke kualitas ilmiah. Iya tho… Wong, saya pakai tulisan Ahmad Syahid yang Anda junjung tinggi sebagai karya ilmiah itu. Ngerti kan…

    Terimakasih.

    AMW.

  135. abisyakir mengatakan:

    @ Nasrul Cemani…

    andapun sudah berdalil dg messi, hal yg tidak nyambung, apalagi org kafir, apakah or kafir mengerti hal di atas??? tau isi Qur’an & Hadist ? tau sanad-sanad hadist???

    Respons: Tuh kan, apa yang saya bilang? Ketika disebut Messi, akhirnya saya disebut menjadikan dia sebagai sandaran. Ya, begitu deh…

    Maksudnya begini lho Pak. Messi itu kan bukan Muslim (alias kafir). Dia saja, ketika habis membuat gol, selalu mengangkat tangan ke langit, tanda memuji dan mensyukuri gol yang baru tercipta, sebagai bentuk pertolongan Tuhan yang Messi yakini di atas langit sana.

    Kalau Anda kan mungkin setelah “mencetak gol” akan menoleh ke tanah, menoleh ke kanan-kiri, menengok ke kantong baju, menengok ke sepatu, ke gigi-gigi pemain lain, nengok ke ketiak, nengok ke rambut penonton, nengok ke sudut stadion, nengok ke iklan di samping lapangan, dll. Karena Anda meyakini “Allah ada dimana-mana”. Iya kan?

    Jadi, ini masih seputar kaum kafir pun meyakini “Tuhan ada di langit”. Contoh orang kafir, ya Messi itu dan pemain bola semisal dia.

    Ini bukan membuat sandaran Pak. Tapi menjelaskan perkataan Ad Darimi yang Anda mentahkan itu.

    AMW.

  136. abisyakir mengatakan:

    @ Nasrul Cemani…

    Takwil dalam Sifat-sifat Allah tidak diperbolehkan. Tapi takwil dalam kalimat seperti “syurga di bawah telapak kaki ibu” itu boleh. Ya bagaimana lagi kalo tidak ditakwil? Apa Anda bisa lihat ada “sungai-sungai yang mengalir” di bawah tapak kaki ibu?

    Sama juga dalam hadits Nabi Saw “al jannatu tahta zhilalis suyuf” (syurga di bawah kilatan pedang). Ini juga harus ditakwil. Kalau tak begitu kita akan kesulitan. Mana mungkin ia bermakna harfiah seperti susunan huruf-hurufnya.

    Hanya saja, dalam soal Sifat Allah, kita harus bersikap hati-hati. Sebab ini kita bicara tentang Dzat yang Maha Suci yang sangat melarang adanya penafsiran-penafsiran menyimpang tentang diri-Nya.

    Dalam Surat Al Baqarah disebutkan: “Wa laa tattabi’u khutuwathis syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin. Innama ya’murukum bis su’i wal fakhsya’i wa an taqulu ‘ala Allahi ma laa ta’lamuun” (Dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagimu. Bahwasanya syaitan itu menyuruhmu berbuat jahat, keji, dan berkata-kata tentang Allah dengan apa yang engkau tidak mengetahui ilmunya).

    Orang-orang musyrik, Yahudi, Nasrani, sering membuat penyifatan tentang Allah dengan penyifatan-penyifatan bathil yang tidak ada dasarnya dari Allah dan Rasul-Nya. Berkali-kali Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Subhanahu amma yashifuun” (Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan).

    Inilah berbahayanya bicara tentang Allah dengan takwil-takwilan itu, sebab ia berpotensi kita melakukan penyifatan-penyifatan tentang Allah secara bathil, seperti kelakuan kaum kafir. Faktanya, di kalangan Muslim, kemudian berkembang filsafat-filsafat seputar Sifat-sifat Allah yang diadopsi dari akal pikiran filosof Yunani. Ini sangat berbahaya dan mengerikan.

    Disana ada yang mengatakan: “Allah itu ada dimana-mana. Kemanapun mata memandang, disana ada Allah. Allah itu adalah aku, dan aku adalah Allah. Allah tidak di langit, tidak di bumi, dan tidak di antara keduanya. Allah tidak di dalam ruang, tidak di luar ruang, tidak di antara keduanya. Dan lain-lain perkataan kotor yang tidak bisa disandarkan kepada ajaran Islam.”

    Maka para ulama sudah benar untuk menghindari takwil, takyif, tasybih, tamtsil, tajsim, tafwidh, ta’thil. Karena itu -kalau benar-benar diyakini dengan sepenuh hati- bisa menggelincirkan seorang Muslim dalam kekacauan akidah. Nas’alullah al ‘afiyah.

    AMW.

  137. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir n mas nasrul,

    bingung saya, kok furanda cs mengharamkn takwil yah., kemudian hati2 dg kalimat Alloh SWT di atas arsy, Alloh SWT kan Maha Tinggi, Maha Besar, arsy, kursy, langit ke 7 itu mahluknya, kenapa masih harus di atas?????? itu namanya menjassim kan….

    nanti kan artikel dari saya lebih lanjut membahas masalah di atas arsy dll lagi….

  138. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir, kenapa harus org kafir yg menjadi sandaran?

    siapa yg bilang Alloh SWT itu ada di mana2? baca lagi ah yg teliti, pemahaman Alloh SWT ada di mana-mana pemahaman kaum Mu’tazillah….

    yg saya bilang Alloh SWT ada tanpa tempat, karena tempat dan arah itu makhluk Alloh SWT, dan DIA tdk sama dg mahkluknya…coba gunakan otak sehat anda, baca lg pelaaaaan-pelaaaaan saja, kok sama dg para wahabi yg lain, serba kasih komen terburu- buru, terlalu banyak pakai hawa nafsu

  139. abisyakir mengatakan:

    @ Nasrul Cemani…

    Bangunan berdesain mirip buku itu dibubuhi tulisan “Yayasan Syeikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.” Di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan Syekh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena. Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi keterangan semisal, “Pena terakhir yang dipakai Syekh al-Utsaimin.” Sungguh ironis, mengingat mereka begitu getol memberangus semua peninggalan Baginda Nabi SAW. Ulama mereka bahkan mengharamkan pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi SAW. Beruntung, sebagian benda peninggalan beliau telah dipindahkan ke Turki.

    Respons: Ya, secara Islami sebenarnya hal itu tak perlu dilakukan. Karena Nabi, para Shahabat, dan imam-imam kaum Muslimin, tidak pernah melakukan hal itu. Ini bisa disebut juga pengkultusan. Kita yakin, kalau Al Utsaimin masih hidup, beliau akan menolak semua itu. Orangnya sangat sederhana, tawadhu’. Tidak gila hormat. Mungkin yang membuat semua ini Pemerintah Saudi, dalam bentuk membangun MUSEUM, tujuannya untuk melestarikan benda-benda bersejarah yang terkait dengan tokoh ulama yang mereka segani.

    Kalau membuat Museum seputar benda-benda berharga para ulama, sekedar sebagai pelajaran bagi masyarakat atau pelajar, tanpa ada usaha untuk mengkultuskan, mencari berkah, tawasul dengannya, dll. ya tidak mengapa. Itu seperti pembuatan museum seperti di negeri kita. Asal tidak digunakan untuk tujuan-tujuan ritual; hanya untuk edukasi dan belajar sejarah.

    Bukan soal memberangus peninggalan Nabi, tapi kebiasaan orang awam mereka sering menjadikan benda-benda yang diklaim peninggalan Nabi itu sebagai sarana ritual. Ini yang tak benar. Ini bisa menjurus kemusyrikan, karena lebih mengutamakan benda-benda itu, daripada Sunnah Nabi sendiri.

    Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh al-Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk Syekh al-Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim.” Betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini.

    Respons: Lho, memang haul Al Utsaimin itu dilakukan setiap tahun, Pak? Apakah begitu? Kemudian dalam haul itu sendiri acaranya apa? Apakah acara ritual seperti haul wali/ulama yang sering dilakukan kalangan Anda? Atau disana semacam acara seminar, diskusi ilmiah, atau penganugerahan hadiah-hadiah? Beda sekali antara malam haul yang bersifat RITUAL (ibadah) dengan acara seminar, diskusi ilmiah. Ini kalau di Indonesia misalnya ada acara seminar “1 abad KH. Ahmad Dahlan” dan sejenisnya. Anda bisa bedakan tidak ya…

    ‘Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin,” ujarnya.Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi.

    Respons: Nah, ini dia Anda sudah jelaskan sendiri. Acara itu tak ada unsur RITUAL-nya Pak. Acara biasa saja, semisal seminar, diskusi ilmiah, penganugerahan hadiah. Bahkan itu acara di Kairo, bukan di Saudi. Ya, begitu deh… Anda sudah menjelaskan sendiri duduk perkara “haul” itu. Hanya Anda kurang teliti…sebelum menyerang orang lain.

    Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:
    وَاللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ
    “Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

    Respons: Ya, itu syair seseorang. Syair itu mewakili ucapan dirinya. Ia bukan Wahyu dari langit. Terhadap syair demikian, ya perlu ditempuh cara TAKWIL. Disini lebih tepat daripada Anda menakwilkan Sifat-sifat Allah. Kalau kita salah menakwilkan sifat Al Utsaimin masih mendingan, paling urusannya dengan beliau sendiri. Tapi kalau Anda salah menakwilkan Sifat Allah…sampek singitan ndek lenge yuyu, Sampeyan bakal dikejar oleh Allah.

    Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.).

    Respons:

    Mengapa Anda marah ketika ada dosen di Riyadh yang memuji Rasulullah? Bukankah selama ini Anda menuduh Wahabi sangat membenci Rasulullah? Bukanlah selama ini hanya kalangan Anda yang merasa “paling mencintai” Nabi. (Mencintai Nabi kok banyak berbuat bid’ah? Harusnya kalau cinta, buktikan dengan ikut Sunnahnya. In kuntum tuhibbunallah fattabi’uni…kalau kalian benar-benar cinta Allah, maka ikuti Sunnah-ku).

    Disini tampak betapa dengkinya hati Anda. Ada dosen di Riyadh mencintai Nabi, kecintaan dia tak Anda lihat. Malah Anda melihat sikap mahasiswa yang aneh itu. Mahasiswa semacam itu Anda jadikan sandaran untuk mewakili Wahabi. Masya Allah, masya Allah, masya Allah… betapa kotornya hati dan akal kalian. Nanti, kalau di Saudi ada orang Indonesia digigit anjing. Anda akan membuat berita besar di blog Anda: “Lihat, Ini Ada Orang Indonesia Digigit Anjing Wahabi”. Lalu Anda buat komentar, “Ternyata anjing Wahabi galak juga ya. Apa di kalangan anjing Saudi belajar Kitabut Tauhid juga ya?”

    Ya, begitu deh, manusia sengsara, yang hati dan akalnya gelap…karena dibakar amarah, dendam, dan kebencian. Nas’alullah al ‘afiyah, lana wa lakum, wa lil Muslimin. Amin ya Rahiim.

    AMW.

  140. abisyakir mengatakan:

    @ Rainbow…

    Saya putuskan keluar dari firqoh ini karena ternyata — seperti yang sudah saya jelaskan — sesama asatidz saling menghujat. Anda jangan berapologi, berdalih bahwa dakwah salafi banyak wajah dan rupa. Kalo salafi banyak firqohnya, itu sudah pelanggaran besar. bagi saya, para salafi/wahabis itu tidak sama dengan salafush shaleh.

    Respons: Maafkan kalau saya menyebut Anda mendukung Syaikh Idahram. Maafkan saya, sebab saya memang tak tahu banyak tentang Anda. Ya, hal-hal demikian kerap terjadi di dunia diskusi online, sebab kita saling tak bertatap-muka. Maafkan ya…astaghfirullah ‘al azhim min kulli dzanbi wal khathi’ah.

    Ya, yang berpecah-belah menurut Anda apa Wahabi saja? Bagaimana dengan kaum NU, PKB, dan para kyai NU. Apakah mereka bersatu teguh dalam satu pendirian?

    Perpecahan ini kadang terjadi karena hawa nafsu, kadang karena godaan syaitan, kadang karena alasan politik, kadang karena dipecah-belah oleh orang-orang kafir. Itu ada dalam banyak sisi, termasuk di bidang ekonomi, bisnis, pendidikan, ormas, partai politik, klub olah raga, dll. Sebagai catatan, dalam urusan bola saja di Indonesia ada ISL dan IPL. Ini fakta mutkahir nih…

    Apa karena alasan perpecahan itu, lalu kita hilangkan semua kebaikan kaum Wahabi? Kalau dibandingkan perpecahan di kalangan bangsa Indonesia sendiri, masih jauh lebih minim di kalangan Wahabi. Itu fakta!

    AMW.

  141. abisyakir mengatakan:

    @ aswaja selalu…

    Yg saya bilang Alloh SWT ada tanpa tempat, karena tempat dan arah itu makhluk Alloh SWT, dan DIA tdk sama dg mahkluknya…coba gunakan otak sehat anda, baca lg pelaaaaan-pelaaaaan saja, kok sama dg para wahabi yg lain, serba kasih komen terburu- buru, terlalu banyak pakai hawa nafsu.

    Respons: Yang jelas Al Qur’an sudah menjelaskan, Allah istiwa’ di atas Arasy. Arasy ada di atas langit lapisan tertinggi. Ini adalah informasi qath’i dari Al Qur’an dan juga hadits-hadits shahih. Omongan Anda atau guru Anda tidak dianggap sebagai dalil, ketika sudah ada dalil qath’i dari Kitabullah dan As Sunnah.

    Soal apakah di atas Arasy sana itu berupa ruang atau apapun, kita tak disuruh memikirkan hal itu. Terserah Allah saja. Dia mau di dalam ruang atau di luar ruang, terserah Dia. Yang jelas, Dia Kuasa melakukan apapun yang Dia kehendaki.

    Justru orang-orang yang mengaitkan Allah dengan istilah semacam “ruang”, “luar ruang”, “tanpa ruang”, “tanpa arah”, dll. Mereka itu sebenarnya TELAH TERJERUMUS pikiran-pikiran yang bersifat makhluqi (seputar makhluk).

    Harusnya mereka buang logika-logika makhluqiyyah itu, sebab Allah tak pantas kita kotak-kotak dengan istilah-istilah yang sering dipakai di kalangan makhluk-Nya itu. Biarkan saja Allah memiliki eksistensi-Nya dengan segala Sifat Kesempurnaan, Kemuliaan, Kesucian, jauh dari segala kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan.

    Demi Allah, Dia memiliki Kesempurnaan dan Dzat, Perbuatan, dan Sifat-sifat-Nya. Dia bisa membuat seluruh makhluk-Nya menjadi satu, terpecah-belah, atau apapun yang Dia kehendaki. Sifat Qudrah Allah berdampingan dengan Iradah-Nya. Nah, hal-hal yang Agung demikian, oleh manusia-manusia ahlul aqal hendak mereka kotak-kotak dengan kekuatan akalnya yang tentu sangat lemah. Dzat Ilahi hendak dicengkeraman oleh kecerdasan akal insani, ya tentu saja Allah Ta’ala tak akan meridhai hal itu. Subhanahu amma yashifuun.

    Nanti, kalau Allah ijinkan, saya ingin menulis seputar akal-akalan orang seperti itu. Insya Allah.

    AMW.

  142. aswaja selalu mengatakan:

    @ abisyakir

    Respons:

    Mengapa Anda marah ketika ada dosen di Riyadh yang memuji Rasulullah? Bukankah selama ini Anda menuduh Wahabi sangat membenci Rasulullah? Bukanlah selama ini hanya kalangan Anda yang merasa “paling mencintai” Nabi. (Mencintai Nabi kok banyak berbuat bid’ah? Harusnya kalau cinta, buktikan dengan ikut Sunnahnya. In kuntum tuhibbunallah fattabi’uni…kalau kalian benar-benar cinta Allah, maka ikuti Sunnah-ku).

    Disini tampak betapa dengkinya hati Anda. Ada dosen di Riyadh mencintai Nabi, kecintaan dia tak Anda lihat. Malah Anda melihat sikap mahasiswa yang aneh itu. Mahasiswa semacam itu Anda jadikan sandaran untuk mewakili Wahabi. Masya Allah, masya Allah, masya Allah… betapa kotornya hati dan akal kalian. Nanti, kalau di Saudi ada orang Indonesia digigit anjing. Anda akan membuat berita besar di blog Anda: “Lihat, Ini Ada Orang Indonesia Digigit Anjing Wahabi”. Lalu Anda buat komentar, “Ternyata anjing Wahabi galak juga ya. Apa di kalangan anjing Saudi belajar Kitabut Tauhid juga ya?”

    Ya, begitu deh, manusia sengsara, yang hati dan akalnya gelap…karena dibakar amarah, dendam, dan kebencian. Nas’alullah al ‘afiyah, lana wa lakum, wa lil Muslimin. Amin ya Rahiim.

    AMW.

    Pak abisyakir kurang mengerti bahasa indonesia kah ?????? baca lagi, saya sudah bilang pelaaaannn-pelaaaaaan saja :

    Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.).

    saya tidak pernah mengatakan saya marah ada seorang dosen yg mencintai Rosululloh SAW, cerita di atas mengenai seorang mahasisa yg memprotes doesnnya krn memuji Rosululloh SAW, MAHASISWA tsb menjawab : ” bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu”

    di dalam kisah : Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.).-> menceritakan mahasiswa yg berpaham wahabi yg MEMPROTES DOSENNYA KARENA MEMUJI ROSULULLOH SAW……..

    anda ini gimana sih pengertian bahasa di atas ?????? apakah di kisah itu menceritakan saya : ASWAJA SELALU memprotes dosen ?? apakah saya belajar di sana ??? saya di Indonesia & saya bukan mahasiswa sana, apalagi WN Arab Saudi…..

    kalo saya yg dikisahkan pasti saya tidak akan memprotes dosen itu memuji Rosululloh SAW, karena Rosululloh SAW manusia paling sempurna, bukan MAW yg membawa kesesatan….Nauzubillah Mahasiswa itu dan anda yg salah memahaminya….

  143. aswaja selalu mengatakan:

    @ abisyakir :

    Respons: Yang jelas Al Qur’an sudah menjelaskan, Allah istiwa’ di atas Arasy. Arasy ada di atas langit lapisan tertinggi. Ini adalah informasi qath’i dari Al Qur’an dan juga hadits-hadits shahih. Omongan Anda atau guru Anda tidak dianggap sebagai dalil, ketika sudah ada dalil qath’i dari Kitabullah dan As Sunnah.

    Soal apakah di atas Arasy sana itu berupa ruang atau apapun, kita tak disuruh memikirkan hal itu. Terserah Allah saja. Dia mau di dalam ruang atau di luar ruang, terserah Dia. Yang jelas, Dia Kuasa melakukan apapun yang Dia kehendaki.

    Justru orang-orang yang mengaitkan Allah dengan istilah semacam “ruang”, “luar ruang”, “tanpa ruang”, “tanpa arah”, dll. Mereka itu sebenarnya TELAH TERJERUMUS pikiran-pikiran yang bersifat makhluqi (seputar makhluk).

    Harusnya mereka buang logika-logika makhluqiyyah itu, sebab Allah tak pantas kita kotak-kotak dengan istilah-istilah yang sering dipakai di kalangan makhluk-Nya itu. Biarkan saja Allah memiliki eksistensi-Nya dengan segala Sifat Kesempurnaan, Kemuliaan, Kesucian, jauh dari segala kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan.

    Demi Allah, Dia memiliki Kesempurnaan dan Dzat, Perbuatan, dan Sifat-sifat-Nya. Dia bisa membuat seluruh makhluk-Nya menjadi satu, terpecah-belah, atau apapun yang Dia kehendaki. Sifat Qudrah Allah berdampingan dengan Iradah-Nya. Nah, hal-hal yang Agung demikian, oleh manusia-manusia ahlul aqal hendak mereka kotak-kotak dengan kekuatan akalnya yang tentu sangat lemah. Dzat Ilahi hendak dicengkeraman oleh kecerdasan akal insani, ya tentu saja Allah Ta’ala tak akan meridhai hal itu. Subhanahu amma yashifuun.

    Nanti, kalau Allah ijinkan, saya ingin menulis seputar akal-akalan orang seperti itu. Insya Allah.

    AMW.

    ingat !!!!!!! tidak semua ayat Qur’an diartikan dg makna dzahir nya, maka ketinggia itu jgn dianggap sebagai arah, sdangkan arah itu makhluk Alloh SWT, perhatikan ayat di bawah ini :

    : ”Sujudlah dan mendekatlah” (Qs. Al-alaq : 19 ), sujud di identikkan dengan mendekat kepada Allah. Jika ketinggian diartikan secara Fisik / Dzat maka Posisi Sujud tentu akan lebih Jauh ketimbang posisi berdiri, sehingga Sujud adalah menjauh dari Allah.

  144. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir & all wahabiyyun….pelajari artikel saya selanjutnya ini, sekali lagi ( sudah berkali-2 saya bilang sih ), baca pelaaaan-pelaaaan saja, fahami secara seksama, detil, cek sumber-2 kitab yg ditampilkan..yg ini awalnya agak membingungkan, tapi baca lagi berulang-2 kalo 1x saja belum faham :

    Ustadz Firanda mengatakan :
    Oleh karenanya ana meminta Abu Abu Salafy Al-Majhuul dan pemilik bloig salafytobat untuk mendatangkan satu riwayat saja dari para sahabat atau para salaf dengan sanad yang shohih bahwasanya mereka mengingkari Allah berada di atas langit. Kalau mereka berdua tidak mampu mendatangkan satu riwayatpun maka ketahuilah bahwasanya aqidah yang mereka bawa hanyalah aqidah karangan mereka berdua sendiri dan merupakan wahyu dari syaitan.
    Jawaban:
    Justru saya meminta kepada yang terhormat Ustradz Firanda untuk mendatangkan satu Riwayat saja yang Shahih dari para Sahabat atau para Salaf As-shalihin bahwasannya mereka memahami dan mengartikan ” Istawa ” dengan ” Istiqror ” : ” Allah berdiam / berada di atas langit ” dan tolong jangan lagi membawakan Riwayat-riwayat yang tidak Sah , Mungkar bahkan Maudhu’ karena semuanya akan terbongkar sebagaimana riwayat-riwayat di atas tadi ( dikupas tuntas di bagian 1 dan di bagian 2 ). Kalau Ustadz Firanda dan All salafiyyin Wahabiyyin tidak mampu mendatangkan satu riwayat pun maka ketahuilah bahwasanya aqidah yang mereka bawa hanyalah aqidah karangan mereka sendiri dan merupakan “wahyu” dari syaitan.
    Ustadz Firanda mengatakan :
    Tipu muslihat Abu Salafy
    Dari sini kita akan membongkar kedustaan Abu salafy yang berusaha menggambarkan kepada masa bahwasanya aqidah batilnya tersebut juga diyakini oleh para sahabat.
    Jawaban :
    Pembaca yang Budiman mari kita ikuti pembongkaran Tipu Muslihat Abu Salafy yang dilakukan Ustadz Firanda apakah benar-benar terbongkar atau malah Justru tipu Muslihat Firanda yang akan terkuak? Mari kita ikuti bagaimana “lihainya” Ustadz Firanda dalam BERKELIT ketika dicengkram kuat oleh Hujjah Abu Salafy, juga ketika Ustadz Firanda berkelit dari Hujjah yang tidak mampu untuk dijawabnya.
    Abu Salafi berkata :
    (http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/) ”
    Pegenasan Imam Ali AS:
    Tidak seorang pun meragukan kedalaman dan kelurusan akidah dan pemahaman Imam Ali ibn Abi Thalib (karramalahu wajhahu/semoga Alllah senantiasa memuliakan wajag beliau), sehingga beliau digelari Nabi sebagai pintu kota ilmu kenabian dan kerasulan, dan kerenanya para sahabat mempercayakannya untuk menjelaskan berbagai masalah rumit tentang akidah ketuhanan. Imam Ali ra. berkata:
    كان ولا مكان، وهو الان على كان.
    ”Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang tetap seperti semula.”
    Beliau ra. juga berkata:
    إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته.
    ”Sesungguhnya Allah – Maha Tinggi- menciptakan Arsy untuk emnampakkan kekuasaan-Nya bukan sebagai tempat untuk Dzat-Nya.”[ Al Farqu baina al Firaq:333]
    Beliau juga berkata:
    من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود.
    ”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita terbatas/mahdûd [2] maka ia telah jahil/tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.” [ Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73, ketika menyebut sejarah Ali ibn Abi Thalib ra.] )) – demikian perkataan Abu Salafy -.
    Ustadz Firanda berkata :

    Ini merupakan kedustaan Abu Salafy terhadap Ali Bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu. Hal ini akan jelas dari beberapa sisi:
    Pertama: Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syi’ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini). Al-Kulaini berkata:
    وَ رُوِيَ أَنَّهُ سُئِلَ ( عليه السلام ) أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ سَمَاءً وَ أَرْضاً فَقَالَ ( عليه السلام ) أَيْنَ سُؤَالٌ عَنْ مَكَانٍ وَ كَانَ اللَّهُ وَ لَا مَكَانَ
    Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam berkata, “Mana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat (Al-Kaafi 1/90 dalam بَابُ الْكَوْنِ وَ الْمَكَانِ)
    Ternyata memang aqidah orang-orang Asyaa’iroh semisal Abu salafy dan pemilik blog salafytobat cocok dengan aqidah orang-orang Syi’ah Rofidhoh dalam masalah di mana Allah. Karena memang orang-orang Rofidhoh beraqidah mu’tazilah, dan Asya’iroh dalam masalah di mana Allah sepakat dengan Mu’tazilah (padahal Mu’tazilah adalah musuh bebuyutan Asya’iroh, sebagaimana nanti akan datang penjelasannya).
    Atsar ini dibawakan oleh Al-Kulaini dengan tanpa sanad, bahkan dengan sighoh “Diriwayatkan” yang menunjukan lemahnya riwayat ini.
    Jawaban :
    1. Ustadz Abu Salafy mungkin masih lebih baik Dari Ustadz Firanda yang membawakan Riwayat dengan Sanad yang tidak sah , Mungkar bahkan Maudhu’. Berapa banyak orang yang akan terbawa olehtipuan sanad yang Tidak Sah, Mungkar, bahkan Palsu yang dibawakan oleh Ustadz Firanda? sementara riwayat tanpa sanad yang dibawakan Ustadz Abu Salafy tidak akan berpengaruh sehebat pengaruh Riwayat yang ber sanad .
    2. Menyamakan Aqidah Syi’ah Rofidhoh, Mu’tazilah dangan Asy’ariyah adalah menunjukkan jika Ustadz Firanda tidak memahami perbedaan antar Firqoh dalam Islam. Atau Ustadz Firanda ingin menumbuhkan kebencian terhadap Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) kepada orang awam, dan menjauhkan orang awam dari Faham Ahlu Sunnah wal-jama’ah?
    Ustad Firanda mengatakan :
    Kedua : Demikian juga yang dinukil oleh Abu Salafy dari kitab Al-Farqu bainal Firoq karya Abdul Qohir Al-Baghdadi adalah riwayat tanpa sanad sama sekali.
    Abdul Qohir Al-Baghdadi berkata :
    “Mereka telah bersepakat bahwasanya Allah tidak diliputi tempat dan tidak berlaku waktu baginya, berbeda dengan perkataan orang-orang yang menyangka bahwasanya Allah menyetuh ‘Arsy-Nya dari kalangan Hasyimiyyah dan Karroomiyyah. Amiirul Mukminin Ali –radhiollahu ‘anhu- berkata : Sesungguhnya Allah telah menciptakan Al-’Arsy untuk menunjukan kekuasaanNya dan bukan untuk sebagai tempat yang meliputi dzatNya. Beliau berkata juga : Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat, dan Allah sekarang sebagaimana Dia dulu” (Al-Farqu baynal Firoq hal 33)
    Ustadz Firanda berkata :
    Para pembaca yang budiman, ternyata riwayat-riwayat dari Ali bin Abi Tholib yang dibawakan oleh Abdul Qohir Al-baghdadi tanpa ada sanad sama sekali. Dan hal ini tentunya diketahui oleh Abu Salafy cs, akan tetapi mereka tetap saja menampilkan riwayat-riwayat dusta dan tanpa sanad ini demi untuk mendukung aqidah mereka yang bathil.
    Jawaban:
    1. Pembaca yang budiman, tentunya anda masih ingat dalam pembahasan di bagian satu dan dua, di situ ternyata Riwayat-riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda meskipun sebagiannya bersanad ternyata sanadnya Tidak Ada yang Sah, mungkar bahkan Maudhu’. Dan hal ini tentunya diketahui oleh Ustadz Firanda cs, akan tetapi mereka tetap saja menampilkan riwayat-riwayat dusta dengan sanad yang tidak sah , Mungkar dan Palsu , demi untuk mendukung aqidah Ustadz Franda cs yang bathil.
    2. menurut saya riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy yang tanpa sanad itu , masih lebih baik ketimbang riwayat yang bersanadkan Palsu , sebagaimana banyak dibawakan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya. Sebab meskipun Tanpa Sanad, Riwayat yang dibawakan Ustadz Abu salafy itu sesuai dan didukung oleh Hadistyang Shahih yang akan dibawakan nanti dibawah.
    3. Dan dengan tanpa sanad , orang akan mudah untuk menghindarinya , sementara Riwayat dengan sanad yang tidak sah tidak semua orang tahu hukum dari sanad itu. Perlu ilmu yang cukup untuk mengetahui keabsahan sebuah sanad, diperlukan waktu yang tidak sebentar Untuk Mentakhrij sebuah atsar atau riwayat, kemungkinan orang terbawa dan tertipu lebih besar. Terlebih Ustadz Firanda dalam membawakan riwayat-riwayat tidak menyertakan Hukum dari status sanad itu. Ustadz Firanda tidak menyebutkan atsar ini shahih kah , dhaif kah, tidak sah kah atau malah Mungkar dan maudhu’. Disini ustadz Firanda telah Melakukan Tadlis pengkhianatan atas amanah ilmiyah.
    4. Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah) bahwa : ” Allah ada tanpa tempat ”
    atau yang semakna dengan itu seperti yang dicontohkan dalam riwayat tanpa sanad Abu Salafy sebenarnya berlandaskan kepada Hadist Shahih : ” kaa na Allah walam yakun Syaiun Ghoiruhu; Allah telah ada pada saat tidak ada selainnya ” (HR Bukhori ). Jadi meskipun riwayat yang dibawakan oleh Abu Salafy tanpa sanad , maka Makna dari riwayat itu senada dengan Hadist yang Shahih ini.
    Ustadz Firanda berkata :
    Ketiga : Selain riwayat-riwayat tersebut tanpa sanad ternyata Abdul Qohir Al-Baghdadi sama sekali tidak dikenal sebagai seorang Muhaddits, namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits
    Jawaban :
    Perkataan Ustadz Firanda : ” namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits ”, merupakan pembunuhan Karakterterhadap Imam Abdul Qohir Al-Baghdadi. Padahal dimana Imam Abdul Qohir Al-Baghdadi dipuji oleh Amirul Muhadistin Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani sebagai Orang yang paling mengerti : ”perbedaan antar kelompok”. Bandingkan dengan pengambilan Riwayat yang dilakukan Ustadz Firanda yang nekat mengambil riwayat dari para Pemalsu Hadist, seperti Ibn Bathoh Al-’Ukbari dan sejenisnya.
    Ustadz Firanda berkata :
    Keempat : Abdul Qohir Al-Baghadadi tentunya lebih rendah kedudukannya daripada kedudukan super gurunya yaitu Abul Hasan Al-’Asy’ari.
    Jawab Ahmad Syahid:
    Ustadz Firanda tahu dari mana jika Al-Imam Abdul Qohir Al-baghdadi lebih rendah dari Al- Imam Abul Hasan Al-Asy’ari ? Bukankah inna akromakum ‘indallahi at-qookum? Hanya Allah lah yang tahu siapa lebih rendah dari siapa…, siapa lebh mulia dari siapa. Saya mohon Ustadz Firanda untuk tidak mewakili Tuhan “Allah”, hanya karena beliau adalah Muqollid terhadap Imam Al-Asy`ari. Namun demikian beliau jauh lebih terhormat dan jauh lebih Mulia ketimbang para Pemalsu Hadist yang dijadikan sumber rujukan Oleh Ustadz Firanda.
    Ustadz Firanda berkata :
    Kelima : Kalau seandainya riwayat-riwayat di atas shahih maka tidak menunjukan bahwasanya Ali bin Abi Tholib mengingkari adanya Allah di atas langit. Paling banter dalam riwayat-riwayat di atas beliau – radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat, dan pernyataan tersebut adalah pernyataan yang benar.
    Ahlus sunnah tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang meliputi Allah, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya Allah berada di atas, yaitu di arah atas.
    Jangan disamakan antara tempat dan arah.
    Jawaban :
    1. Rupanya Ustadz Firanda pura – pura Tidak tahu akan Landasan dari pernyataan Al-Imam Ali Karromallahu Wajhah, ( hadist yang tadi disebutkan: ” kaa na Allah walam yakun Syaiun Ghoiruhu; Allah telah ada pada saat tidak ada selain-NYA ” -HR Bukhori – ).
    2. Meskipun Ustadz Firanda meragukan keshahihan atsar sayidina Ali Kw, namun karena di hati sang Ustadz mengetahui sandaran perkataan Imam Ali (hadits shohih di atas), akhirnya Ustadz Firanda mengatakan : ”Paling banter dalam riwayat-riwayat di atas beliau –radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat ”. Menarik untuk dicermati kata-kata ” Diliputi ” ini merupakan jurus sang Firanda untuk berkelit dari cengkraman Hujjah Abu Salafy, yang berarti menurut Ustadz firanda ” Allah hanya bertempat saja “, tanpa diliputi oleh tempat. Ustadz Firanda, diliputi atau tidak diliputi selagi dikatakan Allah bertempat adalah SALAH, sebab bertentangan dengan Hadist diatas tadi: bahwa Allah telah ada sebelum selainnya ada.
    3. jurus “cerdik” lainnya sang ustadz mengatakan : Jangan disamakan antara tempat dan arah.
    Apakah menurut Ustadz firanda tempat dan arah itu bukan makhluknya Allah…..? Sehingga harus mengatakan: jangan samakan tempat dan arah! ”Ustadz Firanda, bukankah keduanya sama-sama Makhluknya Allah…? Apakah jika Allah berada pada arah tertentu, tidak berarti Allah bertempat dalam Arah itu…?” (Logika Ustadz Firanda mulai kocar kacir deh?)
    Ustadz firanda mengatakan :
    Adapun penjelasan maksud dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah berada di atas, maka melalui point-point berikut ini:
    1- Ketinggian itu ada dua, ada ketinggian relatif dan ada ketinggian mutlaq. Adapun ketinggan relatif maka sebagaimana bila kita katakana bahwasanya lantai empat lebih tinggi daripada lantai satu, akan tetapi hal ini relatif, karena ternyata lantai empat lebih rendah daripada lantai enam.
    Jawaban:
    Ketinggian Relatif : Lantai empat lebih tinggi dari lantai satu, ( adalah salah , karena ketinggian relatif adalah ketinggian Maknawi yang tidak bersifat Fisik, seperti menteri lebih tinggi dari bupati atau presiden diatas para menteri ). Firanda : tetapi lantai 4 lebih rendah dari lantai 6 , benar tapi juga salah. Sebab yang Ustadz Firanda Bandingkan adalah lantai 4 dengan lantai 1, lantai enam tidak Ustadz bandingkan tetapi tiba-tiba dimunculkan inilah yang disebut dengan perkeliruan. Ketinggian Relatif yang Ustadz Firanda karang-karang ini menunjukkan jika sang Ustadz memahami jika Dzat Allah adalah Jisim sehingga dalam mencontohkan ketinggian relatif pun Ustadz Firanda mencontohkan dengan contok Fisik yaitu bangunan bertingkat, maha suci Allah dari segala percontohan ini.
    Ustadz Firanda mengatakan :
    2- Adapun ketinggian mutlak adalah ketinggian kearah atas. Semua manusia di atas muka bumi ini bersepakat bahwasanya semakin sesuatu ke arah atas maka semakin tinggilah sesuatu tersebut. Maka jadilah poros bumi sebagai titik nol pusat kerendahan, dan semakin ke arah atas (yaitu ke arah langit) maka berarti semakin kearah yang tinggi. Oleh karenanya sering juga kita mendengar perkataan para fisikawan “Tinggi gunung ini dari permukaan tanah…. atau dari permukaan air laut..”. Oleh karenanya kita harus paham bahwasanya langit senantiasa letaknya di atas. Taruhlah jika kita sedang berada di bagian bumi bagian selatan, maka langit pada bagian bumi selatan adalah di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi utara juga berada di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi barat dan langit pada bagian bumi timur.
    Jawaban :
    1. ketinggian Muthlak, disini tampak jelas jika yang diinginkan oleh sang ustadz adalah ketinggian Fisik / Dzat Allah , disini tampak jelas jika sang Ustadz membagaimanakan Istiwanya Allah.Padahal dari awal jelas sekali perkataan semua Ulama tanpa membagaimanakan ( bila Kaif )
    2. falsafat Ustadz Firanda ini meniscayakan bentuk Allah Subhanahu Wata’ala berbentuk Bulat atau Bundar, karena beliau mengatakan ”dimanapun engkau berada Niscaya langit selalu berada diatasmu“. Jika demikian logika Ustadz Firanda berarti : ”karena Allah selalu berada pada Arah atas, dan Bumi itu Bulat berarti Allah itu Bulat? Entah dari mana Ustadz firanda mendapatkan ” filsafat ngawur ” yang bertentangan dengan akal sehat dan Qur’an yang jelas telah mengatakan:Laista kamistlihi syai’, la tudrikuhul Abshar wahuwa yudrikul Abshar… Keyakinan dan Filsafat Ustadz firanda ini bisa menyebabkan Kekefuran, wal-’iadzu Billah. Bagaimana pun kau gambarkan Allah dalam benakmu, maka Allah pasti tidak seperti itu….
    Ustadz firanda mengatakan :
    3- Apa yang ada dalam alam wujud ini hanyalah ada dua, Kholiq (yiatu Allah) dan alam semesta (yaitu seluruh makhluk). Dan bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh, dan Allah berada di atas langit yang ketujuh, yaitu Allah berada di luar alam. Janganlah di bayangkan bahwa setelah langit yang ke tujuh ada ruang hampa tempat Allah berada, karena ruang hampa juga merupakan alam. Intinya kalau dianggap ada yang lebih tinggi dari langit ketujuh dan merupakan penghujung alam semesta dan yang tertinggi maka Allah berada di balik (di luar) hal itu, dan lebih tinggi dari hal itu. Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah) yang meliputi Allah, karena Allah di luar alam semesta.
    Jawaban:
    Pernyataan Ustadz Firanda dalam point 3 ini membatalkan point ke 2 dan juga terdapat banyak kesalahan :
    Kesalahan 1. ”Bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh”. Pernyataan ini salah besar dan bertentangan dengan Qur’an dan hadist Shahih yang menyatakan diatas langit ke 7 ada Arsy dan diatas Arsy masih ada Lauhul Mahfudz….
    Kesalahan 2. “Dan Allah berada di atas langit yang ketujuh” Pernyataan ini salah, karena tidak ada satupun Ayat Qur`an Maupun Hadist yang mengatakan ” Allah berada pada langit ke 7. Pernyataan ini juga salah dan kekufuran, karena jika Allah berada dilangit ke 7 berarti Allah berada dibawah Arsy dan Lauhul Mahfudz, Allah maha tinggi dari ketiga tempat itu.
    Kesalahan 3. yang juga fatal disamping juga meruntuhkan pernyataan pernyataan ustadz Firanda sebelumnya, pernyataan : ” Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah)————————- ”. Falsafat bathil Ustadz Firanda meng – Isyaratkan adanya ”tempat yang bukan makhluknya Allah yang tidak meliputi Allah ” ini adalah Syirik Akbar dan kekufuran, karena sesunguhnya tidak ada pencipta selain Allah , sehingga tidak mungkin ada tempat yang bukan Makhluknya Allah meskipun tempat itu tidak meliputi Allah. Sebagaimana ditegaskan oleh pernyataan Ustadz Firanda, bahwa ada Arah yang tidak ada. Saya minta Ustadz Firanda membawakan dalil yang shahih atas pernyataannya ini.
    Ustadz firanda mengatakan:
    4- Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147)
    Jawaban :
    Point ke 4 ini semakin menjelaskan keyakinan Bathil sang Ustadz disamping juga menunjukkan betapa Goncangnya Aqidah Ustadz Firanda. Keyakinan Bathil: bahwa Allah berada pada arah atas secara Fisik.Keyakinan yang Goncang: ketika ustadz Firanda juga tahu Ulama meng-kafirkan Aqidah Hulul (aqidah yang menyatakan Allah menempati Makhluknya ) akhirnya Ustadz Firanda mengalihkan dan mereka-reka, seakan-akan bahwa diluar alam sana ada Arah yang tidak ber-wujud di situlah Allah berada. Tidak tahukah Ustadz firanda Bahwa Arah khayalannya itu (arah yang tidak ber-wujud ) adalah ADA dalam khayalan sang Ustadz sendiri saja?
    Dan itu berarti melajimkan 2 hal :
    1. Jika dinyatakan Jihah / Arah yang tidak ber-wujud itu bukanlah Makhluknya Allah , maka Ustadz Firanda telah Kafir. Sebab Ummat Islam berkeyakinan (sesuai Qur`an dan Hadist ) tidak ada pencipta selain Allah , sebab jika dinyatakan Jihah / arah yang tidak ada itu , bukan Makhluknya Allah berarti ada pencipta lain selain Allah dan ini adalah Syrik Akbar.
    2. Jika dinyatakan Jihah / Arah yang tidak ber-wujud itu adalah makhluknya Allah , maka Ustadz Firanda pun ( dengan keyakinannya ini ) telah kafir. Karena sudah menyatakan Aqidah Hulul , bahwa Allah menempati / menyatu dengan Makhluknya yang bernama : Jihah yang tidak ber-wujud.
    Ustadz Firanda mengatakan :
    5- Imam Ahmad pernah menjelaskan sebuah pendekatan pemahaman tentang hal ini.
    Beliau berkata
    “Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya.
    Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.
    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.
    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.
    Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)
    Jawaban :
    1. kitab Ar-rod alal jahmiyah adalah kitab yang dinisbatkan secara PALSU kepada Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana dinyatakan oleh Al- Imam adz-dzahabi dalam siar a`lam an-nubala juz 11 hal. 286 ,dan pada halaman berikutnya dalam kitab itu , pada Hasyiah no 1 bahwa kitab Palsu ini ( ar-rod alal jahmiyah) diriwayatkan oleh al-Khollal dari seorang yang Majhul yang bernama al-khodir bin al-mutsanna dari abdullah bin Ahmad bn Hanbal , lantas dari manakah Al-khollal mendapatkan nama yang majhul itu…..! Sebagaimana kita ketahui bersama Al-khollal ini adalah :
    Abu bakar ahmad bin muhammad bin harun al-baghdadi yang terkenal dengan julukan Al-kholal , bermadzhabkan hanbali , dia seorang ahli Bid`ah Mujassim Musyabih , orang ini pulalah yang diikuti Ibnu taimiyah dalam menetapkan Aqidah Julus (Allah duduk) di Arsy , dia ini banyak menggunakan Hadist palsu , wahi dan Isroiliyat dalam bab aqidah makanya banyak sekali hal aneh yang dia kemukakan , dia menulis sebuah kitab yang diberi nama As-sunnah dalam kitab itu pulalah dia terang-terangan mengatakan jika Allah duduk diatas singasana (arsy) dan dia katakan barang siapa yang mengingkarinya dialah Jahmi penolak sifat yang zindiq. Sehingga periwayatan Al-Khollal ini tertolak disamping dalam sanadnya ada Rawi yang MAJHUL.
    Kalaupun kita (Aswaja) “mengalah” kepada Ustadz Firanda, karena sebenarnya ( riwayat kitab tersebut sudah Gugur dan tertolak sehingga sudah tidak perlu dilirik ), namun demi menghargai usaha Ustadz Firanda baiklah mari kita bahas .
    Ustadz firanda berkata :
    6- Perkataan Imam Ahmad أَلَيْسَ اللهُ كَانَ وَلاَ شَيْءَ (Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?) sama dengan perkataan كان الله ولا مكان (Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat.) Perkataan Imam Ahmad ini di dukung oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahihnya
    كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ
    “Dahulu Allah (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
    Dan kalimat disini memberikan faedah keumuman, yaitu tidak sesuatupun selain Allah tatkala itu, termasuk alam dan tempat.
    Meskipun Imam Ahmad mengatakan demikian akan tetapi beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas. Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk.
    Jawaban :
    1. Darimakah Ustadz Firanda tahu jika Imam Ahmad : ” beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas ” …? Apakah Ustadz Firanda mengetahui Hal yang Ghaib….. sehingga tahu maksud Imam Ahmad tanpa riwayat……? Bukankah sudah sangat jelas perkataan Imam ahmad : (Bukankah Allah telah ada (sendirian) tanpa ada sesuatu lainnya ?) yang bertolak belakang dengan keyakinan Ustadz Firanda bahwa Allah berada pada arah yang tidak berwujud…….? Yang berarti Arah yang tidak ber-wujud itu ada berbarengan dengan adanya Allah…….? Terlebih perkataan Imam Ahmad didukung Hadist : ” Allah telah ada (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
    Lantas mengikuti siapakah Ustadz firanda ini……? Bahwa Allah berada pada arah yang tidak Ada ……..? (yang berarti arah yang tidak ada itu ada)……kenapa Ustadz Firanda tidak mengikuti Rosulallah SAW saja…….? : “Allah telah ada (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
    Andai Ustadz Firanda mengikuti Rosulallah SAW sebagaimana Imam Ahmad mengikuti Rosulallah Saw , ustadz Firanda tidak akan mengatakan : ” Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk. ” , yang berarti menurut Ustadz Firanda ” Arah / Jihah yang tidak ada itu ” adalah Bukan makhluk tentu ini adalah kekufuran diatas kekufuran , sebagaimana telah dijelaskan diatas.
    Ustadz firanda mengatakan :
    Perkataan Imam Ahmad ini mirip dengan perkataan Abdullah bin Sa’iid Al-Qottoon sebagaimana dinukil oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam kitabnya maqoolaat Al-Islamiyiin 1/351
    Abul Hasan Al-Asy’ari berkata, “Dan Abdullah bin Sa’iin menyangka bahwasanya Al-Baari (Allah) di zaman azali tanpa ada tempat dan zaman sebelum penciptaan makhluk, dan Allah senantiasa berada di atas kondisi tersebut, dan bahwasanya Allah beristiwaa’ di atas ‘arsyNya sebagaimana firmanNya, dan bahwasanya Allah berada di atas segala sesuatu”
    Perhatikanlah para pembaca yang budiman, Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat.
    Jawaban :
    1. Diatas sudah dikatakan jika kitab al-Ibanah dan Maqolat Islamiyyin adalah kitab-kitab yang oleh kalangan Asy’ariyah pun tidak menggunakannya sebagai pegangan Utama, karena kitab-kitab tersebut tidak lagi murni Asli karangan Sang Imam Asy’ari.
    2. Kembali kita mengalah demi menghormati usaha ustadz firanda , meskipun seakan akan saya berhadapan dengan orang yang tidak bisa menerima keberadaan Allah tanpa Tempat dan Arah. Padahal sudah begitu jelas pernyataan Imam Ahmad yang didukung oleh Hadist Rosulallah SAW:
    “Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada sesuatu di atas-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah, lunaskanlah hutang-hutang kami dan bebaskanlah kami dari kefaqiran’
    [Shahih Muslim no.4888]
    Hadist ini tegas menyatakan Tidak ada sesuatu diatas Allah , dan tidak ada sesuatu dibawah Allah , yang berarti Allah ada tanpa tempat dan Arah. Yang sekaligus membabat habis Aqidah Ustadz Firanda yang menyatakan ” Allah berada diatas Makhluknya ”
    Kenapa sih Ustadz Firanda masih nekat? Ustadz Firanda hanya mengerti bahwa ketinggian itu hanya bersifat Fiskly. Ustadz Firanda tidak mau menerima Ketinggian yang bersifat Maknawi sehingga dari tadi kita lihat betapa Goncangnya Falsafat Ustadz firanda sampai-sampai menabrak Ijmak bahwa Allah Ada tanpa tempat dan Arah sebagaimana dinyatakan dalam hadist diatas. Bahkan keyakinan Ustadz Firanda ini dapat membawa pada kekufuran.

    Tolong perhatikan pernyataan ustadz Firanda:
    ” Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. ”
    Jawaban ;
    1. Ustadz Firanda mengakui jika banyak ulama seperti Abdullah bin said meyakini bahwasannya Allah tidak Bertempat, namun kemudian dia salah memahami ” atas (al-Fawq ) dan ketinggian (al-uluw) yang dimaksud oleh para Ulama.
    2. Yang dimaksud oleh ulama tentang atas (fawq0 ) dan ketinggian ( al-uluw) Allah , adalah ketinggian , derajat ,. martabat , kedudukan dan kekuasaan. Sama sekali bukan ketinggian secara Fisik atau dzat Allah. Sebab Ulama memahaminya dengan menggabungkan seluruh riwayat tentang ”atas dan ketinggian” sehingga ketinggian yang dimaksud oleh Ulama Ahlu Sunnah tidak bertentangan dengan Qur`an dan Hadist. Seperti ayat: ”Sujudlah dan mendekatlah” (Qs. Al-alaq : 19 ), sujud di identikkan dengan mendekat kepada Allah. Jika ketinggian diartikan secara Fisik / Dzat maka Posisi Sujud tentu akan lebih Jauh ketimbang posisi berdiri, sehingga Sujud adalah menjauh dari Allah. Karena Allah secara Fisik dan Dzat berada diatas Langit bahkan jauuuh diatas langit menurut pemahaman Ustadz Firanda, tentu keyakinan seperti aqidah ustadz firanda ini bertentangan dengan ayat al-qur’an tadi.
    3. jika Atas ( Fawq) dan ketinggian ( al-Uluw) difahami secara Fisik dan ber-jarak, sebagaimana yang difahami Ustadz Firanda, niscaya tergambar jika Allah itu Bundar mengikuti bentuk Bumi yang Bulat ini dimana pada tiap sisi bumi ada langit , sehingga Allah itu berbentuk mengikuti bundarnya Bumi , tentu pemahaman seperti ini akan mengakibatkan kesesatan dan kekufuran , wal-I`adzu Billah , ( rupanya ustadz Firanda mengikuti al-albani) atau jika Atas (Fawq) dan ketinggian (al-uluw) dipahami secara Fisik / Dzat , sehingga ditetapkanlah Arah bagi Allah sebagaimana dipahami oleh Ustadz Firanda , maka meniscayakan Jika Allah itu Tidak Ahad (Esa) , sebab manusia itu terlingkupi oleh arah yang enam , sehingga manusia yang Utara Allahnya satu , yang di selatan Allahnya satu , yang ditimur satu yang dibarat satu yang dibawah bumi Allahnya Satu , dan yang dibumi bagian diatas Allahnya satu . Keyakinan dan Aqidah seperti ini hanya cocok bagi orang-orang yang tidak berakal waras. Syeikh Bin Baz Faham betul jika bulatnya bumi akan merusak aqidah wahabi, makanya beliau mengatakan bumi itu tidak bulat.
    Ustadz firanda berkata :
    Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat. ”
    Jawaban:
    Andai kata ”Atas” tidak ditambahkan dalam kata ”Arah” niscaya tidak ada pertentangan dengan Aqidah Ahlu Sunnah wal-jama’ah (Asy’ariyah) bahwa Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah. Andai kata “Atas” yang dimaksud adalah ketinggian secara Maknawi tentu Aqidah Ustadz firanda akan sama dengan Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah), hanya sayang dari awal hingga Akhir, Ustadz Firanda selalu menggandeng ”Atas” dengan Arah, yang difahami secara Fisik dan dzat. Inilah yangmenyebabkan kegoncangan dan Kontradiksi yang parah, dan bertentangan baik dengan Al-qur’an, Hadist maupun akal yang sehat.
    Ustadz Firanda mengatakan ;
    Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs yang menyangka bahwa kalau kita menafikan tempat dari Allah melazimkan Allah tidak di atas. Atau dengan kata lain Abu Salafy cs menyangka kalau Allah berada di arah atas maka melazimkan Allah diliputi oleh tempat.
    Jawaban :
    1. Ustadz Firanda mulai terlihat sempoyongan sehingga mengatakan: ”Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs”, tanpa menjelaskan dimana letak Pertentangannya. Atau jangan-jangan Ustadz Firanda tidak Faham dengan Ucapannya sendiri?
    2. Dan justru yang saya Fahami adalah sebaliknya, yang saya fahami: Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Ustadz Firanda dkk , sebab kedua Imam itu mengatakan : ” Allah telah ada sebelum selainnya ada”, sementara Ustadz Firanda mengatakan : ” Allah ada diatas langit ”, padahal Langit itu diciptakan oleh Allah dari tidak ada menjadi ada. Perbedaan pemahaman antara para Imam dengan Ustadz Firanda sangat jelas. Lalu pertanyaannya sejak kapankah (menurut Ustadz Firanda ) Allah berada diatas langit? Sejak langit itu diciptakan atau setelah langit itu diciptakan? Atau langit itu ada bersamaan dengan adanya Allah? Semua jawabannya akan mengakibatkan kekufuran.
    3. Ternyata Aqidah (keyakinan) Ustadz Firanda juga labil, dimana di awal diskusi Ustadz Firanda berkeyakinan bahwa: ”Allah berada diatas Langit”, namun kemudian berubah menjadi: ”Allah ada diatas Arsy”, kemudian berubah lagi dan ustadz Firanda menegaskan keyakinannya (Aqidahnya) jika sebenarnya: ”Allah ada pada Arah yang tidak ber-Wujud”. Inilah kegoncangan luar biasa aqidah Ustadz firanda yang sekaligus bertentangan dengan pemahaman para Imam di atas. Entah mana tepatnya Aqidah yang Ustadz Firanda yakini. Diatas langit kah ? Atau diatas Arsy? Atau malah Diatas Arah yang tidak ber-wujud? Lalu dari manakah Ustadz firanda Tahu jika Allah berada pada Arah yang tidak ber-Wujud? Sebab ”Arah yang tidak ber-wujud itu” tidak pernah disebutkan dalam Al-qur’an dan Al-Hadist, dan tidak pernah diucapkan seorang Ulama Islam kecuali sekte Mujassimah Karomiyah dan para pengikutnya (Ibnu Taimiyah) . Lho, tanpa disadarinya ternyata Ustadz Firanda ini pengikut sekte Karomiyah toh?
    Ustadz Firanda berkata :
    Adapun riwayat Abu Nu’aim dalam hilyatul Auliyaa 1/73
    Adapun sanad dari riwayat diatas sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/72 adalah sbb:
    Ana berharap Abu Salafy cs mendatangkan biografi para perawi di atas dan menghukumi keabsahan sanad di atas !!!
    Jawaban :
    1. Pertanyaan Ustadz Firanda ini merupakan bentuk ke tidak berdayaan ustadz Firanda dalam menjawab Hujjah Abu Salafy. Dan ini merupakan salah satu contoh berkelitnya sang Ustadz dari cengkraman kuat Hujjah Abu Salafy. Bukannya memberikan jawaban , sang Ustadz malah meminta bioghrafi para Rawi. Jika Ustadz Firanda seorang pencari kebenaran sejati, tentu sebagai orang yang mempunyai pendidikan dan mempunyai kemampuan untuk MenTakhrij , Ustadz Firanda akan Tunjukkan jika Riwayat ini tidak sah, Mungkar , maudhu’ atau hukum sanad lainnya. Bukan malah minta disuapin, kecuali jika Ustadz Firanda ini bukan LC atau bukan sarjana dalam bidang keagamaan. Semoga Ustadz Firanda sadar akan hal itu karena beliau sebagai orang yang berpendidikan mempunyai kewajiban untuk mengawal Aqidah Ummat agar tetap pada Aqidah Yang benar. Bukan malah menyesatkan Ummat dengan riwayat – riwayat yang tidak sah Mungkar bahkan Maudhu’.
    2. Bukankah Ustadz Firanda juga dalam ” Klaim Ijmaknya ” tidak menyertakan Bioghreafi para rawinya…..? Bahkan Ustadz Firanda juga tidak menyertakan status hukum dari atsar yang dibawanya , bahkan nama rawinyapun banyak yang tidak disertakan. Lalu kenapa sekarang ustadz Firanda, bersikap ”pura-pura” kritis terhadap sanad dalam riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy? Subhanallah sebenarnya apa yang dicari Ustadz Firanda ini…?
    3. ketika Ustadz Abu Salafy membawakan Riwayat tanpa sanad , sikap Ustadz Firanda begitu antipati , dan bersikap kasar seolah ingin menelan bulat-bulat Abu Salafy. Namun ketika Ustadz Abu Salafy mebawakan Riwayat yang bersanad, sikap Ustadz Firanda malah berkelit, bak seorang pengecut menghadapai kilauan pedang Lawan.
    Abu Salafy berkata :
    Penegasan Imam Imam Ali ibn Husain –Zainal Abidin- ra.
    Ali Zainal Abidin adalah putra Imam Husain –cucu terkasih Rasulullah saw.- tentang ketaqwaan, kedalaman ilmu pengatahuannya tentang Islam, dan kearifan Imam Zainal Abidin tidak seorang pun meragukannya. Beliau adalah tempat berujuk para pembesar tabi’in bahkan sehabat-sabahat Nabi saw.
    Telah banyak diriwayatkan untaian kata-kata hikmah tentang ketuhanan dari beliau ra. di antaranya adalah sebagai berikut ini.
    أنت الله الذي لا يحويك مكان.
    ”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dirangkum oleh tempat.”
    Dalam hikmah lainnya beliau ra. berkata:
    أنت الله الذي لا تحد فتكون محدودا
    ”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dibatasi sehingga Engkau menjadi terbatas.”[ Ithâf as Sâdah al Muttaqîn, Syarah Ihyâ’ ‘Ulumuddîn,4/380])) – Demikan perkataan Abu Salaf i-

    Ustadz Firanda berkata:
    Ana katakan kepada Abu Salafy, dari mana riwayat ini? Mana sanadnya?, bagaimana biografi para perawinya? Apakah riwayat ini shahih…??!!
    Para pembaca yang budiman, berikut ini kami akan tunjukan sumber pengambilan Abu Salafy yaitu kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 4/380
    Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya atsar Zainal Abidin ini bersumber dari As-Shohiifah As-Sajjaadiyah, kemudian sanadnya sangatlah panjang, maka kami meminta Al-Ustadz Abu Salafy al-Majhuul dan teman-temannya untuk mentahqiq keabsahan sanad ini dari sumber-sumber yang terpercaya. Jika tidak maka para perawi atsar ini dihukumi majhuul, sebagaimana diri Abu salafy yang majhuul. Maka jadilah periwayatan mereka menjadi riwayat yang lemah.
    Jawaban Ahmad Syahid:
    Kembali Ustadz Firanda al—makdhzuul menggunakan gaya ”pengecut” dalam menghadapi kilauan pedang Abu Salafy, bukannya men-Takhrij sendiri malah lempar batu sembunyi tangan.
    Ustadz Firanda berkata :
    Tahukah Al-Ustadz Abu salafy Al-Majhuul bahwasanya As-Shohiifah As-Sajjadiyah adalah buku pegangan kaum Rofidhoh?, bahkan dinamakan oleh Rofidhoh dengan nama Ukhtul Qur’aan (saudarinya Al-Qur’an) karena menurut keyakinan mereka bahwasanya perkataan para imam mereka seperti perkataan Allah.
    Sekali lagi ternyata Abu Salafy cs doyan untuk bersepakat dengan kaum Syi’ah Rofidhoh, doyan dengan aqidah mereka…???!!!
    Ana sarankan ustadz Abu salafy untuk membaca buku yang berjudul Haqiqat As-Shahiifah As-Sajjadiah karya DR Nasir bin Abdillah Al-Qifarii (silahkan didownload di http://www.archive.org/download/hsshss/hss.pdf).
    Jawaban:
    1. Tahukah Al-Ustadz Firanda Al-makhdzuul (yang terhinakan ) , (karena sebenarnya ustadz Firanda sudah menentang Qur`an dan Hadist serta kalah telak oleh Abu Salafy) jika kebenaran itu tidak memandang dari mana kebenaran itu diambil. Di mana pun yang namanya kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun jika ia keluar dari orang yang paling hina. Perkeliruan dan logika konyol Ustadz Firanda ini, melazimkan Ummat Islam ( ahlu Sunnah ) untuk tidak berpegang pada Al-Qur’an karena Al-qur’an juga adalah pegangan sekte-sekte sesat seperti Syi’ah Rofidhoh, Khowarij Juga Karomiyah mujassimah. Inilah logika konyol dan perkeliruan Ustadz Firanda , yang juga melazimkan: ”Sekali lagi ternyata Firanda cs doyan untuk bersepakat dengan kaum Karomiyah mujassimah,doyan dengan aqidah mereka rupanya?
    2. Silahkan Ustadz Firanda kaji dan teliti sanad dari riwayat itu, silahkan ustadz Firanda men-Takhrij sanad dari riwayat yang dibawakan Abu salafy, jangan hanya bisa ngeles. Perlu Ustadz Firanda ketahui jika pernyataan seperti itu (yang terdapat dalam It-Tihaf ) adalah Ijmak Ahlu Sunnah yang berlandaskan hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Amrom bin Hushain dengan dua jalur periwayatan: 1. dari `A`masy dengan lima jalur periwayatan dan 2. dari Mas`udi kholid bin Harist dengan tujuh jalur periwayatan, yang menunjukkan jika Hadist tersebut adalah Hadist yang Mutawatir. Pertanyaannya kenapaUstadz Firanda menolak perkataan Imam Ali (dengan alasan-alasan konyol dan tidak ilmiyah) padahal perkataan itu bersumber dari Hadist yang mutawatir?
    3. Mengenai hadist tersebut berkata Al-hafidz Al-baihaqi : dan perkataannya ” Allah telah ada sebelum sesuatu ada ” menunjukkan tidak ada sesuatu selain Allah ” tidak air tidak Arsy tidak pula selain keduanya (al-asma wa-as-shifat hal 375-376). Dan berkata Al-hafidz Ibn Abdil Bar: dan benar menurut Akal, dan tetap (tsabit) menurut dalil yang jelas bahwasannya Allah ada pada Azal tidak berada pada tempat ( At-tamhid Ibn abdil Bar juz 7 hal 136 ). Tentu masih banyak pernyataan Ulama Ahlu Sunnah lainnya yang senada. Ustadz Firanda, apakah pernyataan-pernyataan Ulama ini juga Aqidah Rofidhoh?

    Abu Salafy berkata :
    Penegasan Imam Ja’far ash Shadiq ra. (W. 148 H)
    Imam Ja’far ash Shadiq adalah putra Imam Muhammad – yang digelari dengan al Baqir yang artinya si pendekar yang telah membela perut ilmu pengetahuan karena kedalaman dan kejelian analisanya- putra Imam Ali Zainal Abidin. Tentang kedalam ilmu dan kearifan Imam Ja’far ash Shadiq adalah telah menjadi kesepakatan para ulama yang menyebutkan sejarahn hidupnya. Telah banyak dikutip dan diriwayatkan darinya berbagai cabang dan disiplin ilmu pengetahuan, khususnya tentang fikih dan akidah.
    Di bawah ini kami sebutkan satu di antara penegasan beliau tentang kemaha-sucian Allah dari bertempat seperti yang diyakini kaumm Mujassimah Wahhabiyah. Beliau berkata:
    من زعم أن الله في شىء، أو من شىء، أو على شىء فقد أشرك. إذ لو كان على شىء لكان محمولا، ولو كان في شىء لكان محصورا، ولو كان من شىء لكان محدثا- أي مخلوقا.
    ”Barang siapa menganggap bahwa Allah berada dalam/pada sesuatu, atau di atas sesuatu maka dia benar-benar telah menyekutukan Allah. Sebab jika Dia berada di atas sesuatu pastilah Dia itu dipikul. Dan jika Dia berada pada/ di dalam sesuatu pastilah Dia terbatas. Dan jika Dia terbuat dari sesuatu pastilah Dia itu muhdats/tercipta.” [ Risalah al Qusiariyah:6] – demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :
    Demikianlah Abu Salafy Al-Majhuul, tatkala tidak mendapatkan seorang salafpun yang mendukung aqidahnya maka dia pun segera mencari riwayat-riwayat yang mendukung aqidahnya meskipun riwayat tersebut lemah, bahkan meskipun tanpa sanad. Inilah model pendalilalnnya sebagaiamana telah lalu.
    Berikut ini kami nukilkan langsung riwayat tanpa sanad tersebut dari kita Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah
    Dan nampaknya Abu Salafy tidak membaca buku ini secara langsung sehingga salah dalam menyebutkan nama buku ini. Abu Salafy berkata ” Risalah al Qusiariyah ”
    Jawaban: Demikianlah Ustadz Firanda Al-Makhdzul, menolak seluruh pernyataan Ulama yang dibawakan Ustadz Abu Salafy, dengan alasan tidak ada sanadnya. Namun ketika pernyataan itu bersanad dengan konyol Ustadz firanda meminta bioghrafi para rawinya. Padahal Ustad Firanda sendiri tatkala tidak mendapatkan seorang salaf pun yang mendukung aqidahnya maka ustadz Firanda pun segera mencari riwayat-riwayat yang mendukung aqidahnya meskipun riwayat tersebut tidak sah , Mungkar bahkan Palsu (lihat riwayat-riwayat klaim Ijmak ustadz Ffiranda, yang semuanya sudah Gugur, dalam pembahasan bagian satu dan bagian dua). Inilah model pendalilalnnya sebagaiamana telah lalu. Dan nampaknya kesalahan pengetikan pun disikapi secara kasar oleh Ustadz Firanda.

  145. aswaja selalu mengatakan:

    @lukman…..waduuuuh terbitan pustaka Imam Syafi’i yah?? maaf kami ga baca buku-2 terbitan mereka, itu kan buku-2 untuk wahabi, lihatlah lambang penerbit nya….ada yg aneh karena mirip dg salah satu lambangnya Yahudi, sayang link-nya lg crash yg membahas lambang penerbit tsb…ada di salafytobat…..juga lainnya : http://agen001.multiply.com/journal/item/4 , Pustaka Imam Asy-Syafi’i – merupakan ular symbolic Masonic. Di tengahnya terdapat segitiga seperti pyramid yang memuat lambang matahari yang merupakan lambang Horus si Dewa Matahari. Di bagian atas segitiga terdapat satu mata. Suatu lambang Iblis yang sudah sangat dikenal. – Gambar lambang/logo Pustaka Asy-Syafi’i, salah satu penerbit buku-buku Salafy. Perhatikan logo yang mirip satu mata itu. Dan perhatikan lagi, bukankah itu juga mirip dengan kepala burung? Perhatikan pena yang menyerupai ular naga. Lihat tetesan air seperti air mata Horus. -Memang agak mengherankan. Salafy yang biasa berkata bahwa memajang foto orang-orang sholih itu haram (karena kultus dan karena larangan memajang gambar makhluq hidup), malah memajang gambar mirip makhluq hidup di buku-bukunya. Mengapa mereka memaksakan diri untuk memasang gambar itu sebagai logo? (sumber : http://www.facebook.com/group.php?gid=76751439011 ) , http://ghuroba.web44.net/popeye-salafy-dan-katholik/, dll

  146. Ahmad mengatakan:

    Ibundanya kaum Mukminin pun menyatakan bahwa Allah Ta’ala berada di atas langit!

    Dari Blog Abul Jauzaa tentang Ketinggian Allah Ta’ala:

    1. Zainab bintu Jahsy radliyallaahu ‘anhaa
    حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا قَالَ: فَكَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ: زَوَّجَكُنَّ أَهْلُكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ “.قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab bintu Jahsy : ‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya’ (Al-Ahzab: 37)”. Anas berkata : “Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3213, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

    Komentar pembaca:

    Subhanallah, menakjubkan bagaimana ibunda Zainab radhiallahu ‘anha berbangga bahwa yang menikahkan beliau dengan nabi adalah Allah yang berada di atas tujuh langit.

    Perhatikanlah bahwa beliau menyatakan hal itu kepada para istri nabi yang lain yg semuanya adalah ummahatul mukminin, ahlul bait nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya.

    Mungkinkah orang-orang yang mencintai ahlul bait akan mengingkari pernyataan beliau ini?

    -Abu ‘Aisyah-

  147. lukman mubarok mengatakan:

    @ aswaja

    1. arsip anda lengkap ya.
    2. tolong tampilkan lagi yang lainnya.
    3. Saya tetap tidak percaya dengan bualan di artikel anda. sekali lagi coba perhatikan logonya. nggak sama tuh dengan interpretasi anda. justru anda harus membuktikan dakwaan yang ada dalam setiap artikel anda.
    4. dilihat dari bahasa yang digunakan juga tidak meyakinkan
    5. kitab yang anda gunakan tidak menyebutkan dakwaan sebagaimana ada di artikel anda

  148. aswaja selalu mengatakan:

    @ahmad…abu jauza yah? nantikan bantahan dari saya ttg abu jauza,

    @lukman, yaaaah susah kalo ga dibaca, ga di cek sumber2 kitab yg meriwayatkan perihal isi pada artikel…dari bahasa ga meyakinkan???? saya sudah bilang hal ini akan membingungkan, makanya pelu baca 1x lagi, pelaaaaan-pelaaaaan saja, gunakan otak anda, bukan hawa nafsu anda, sebenarnya spy anda bisa percaya gampang, cek sanad2 yg ditampilkan, benar ga isinya spt yg ditampilkan?? tp pun kalo benar apakah anda bs gentle menerima?

  149. lukman mubarok mengatakan:

    dari blog Abul Jauza

    Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy, Asyaa’irah (Asy’ariyyah), dan Bahasan Pemalsuan Kitab Al-Ibaanah ‘an Ushuulid-Diyaanah
    Abu Al-Jauzaa’ :, 08 Juni 2009

    Sebagaimana telah diketahui bersama, di akhir usia beliau kembali ke ‘aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah setelah puluhan tahun lamanya beliau tenggelam dalam ‘aqidah Mu’tazillah dan Kullabiyyah [lihat Wifaayatul-A’yaan oleh Ibnu Khalkaan Asy-Syaafi’iy 2/446, Al-Bidaayah wan-Nihaayah oleh Ibnu Katsir 11/187, Thabaqaat Asy-Syaafi’iyyah Al-Kubraa oleh Taajuddin As-Subkiy 2/246, dan yang lainnya]. Adalah keliru jika banyak kaum muslimin mengira beliau masih beraqidah Asy’ariyyah. Seorang imam ahli hadits dan pakar sejarah Islam yang diakui, Abu ‘Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman bin Qaimaz Ad-Dimasyqiy atau yang lebih dikenal dengan Adz-Dzahabiy rahimahullah, telah mengumpulkan beberapa riwayat dan nukilan ‘aqidah seputar sifat Allah menurut Ahlus-Sunnah dalam kitab Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-‘Adhiim[1], diantaranya adalah ‘aqidah Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah telah meringkas kitab tersebut dengan judul : Mukhtashar Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar.
    Pada kesempatan kali ini, saya akan coba tuliskan ‘aqidah Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah sebagaimana tertera dalam kitab Mukhtashar Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar halaman 236-243 (Penerbit Al-Maktab Al-Islamiy, Cet. 1/1401 H) atau Al-‘Ulluw lil-‘Aliyyil-Ghaffaar halaman 159-163 (Penerbit Al-Maktabah As-Salafiyyah, Cet. 2/1388 H) :
    Abul-Hasan Al-Asy’ariy (260 – 324 H)
    1. Telah berkata Al-Imam Abul-Hasan ‘Aliy bin Isma’il bin Abi Bisyr Al-Asy’ariy Al-Bashriy, seorang ahli ilmu kalam, dalam kitabnya yang berjudul Ikhtilaaful-Mushalliin[2] wa Maqaalatul-Islaamiyyin menyebutkan kelompok Khawarij, Rafidlah, Jahmiyyah, dan yang lainnya, hingga kemudian beliau menyebutkan pernyataan Ahlus-Sunah dan Ashhaabul-Hadiits (dalam ‘aqidah) :
    جملة قولهم الإقرار بالله وملائكته وكتبه ورسله وبما جاء عن الله وما رواه الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يردون من ذلك شيئا. وأن الله على عرشه كما قال (الرحمن على العرش استوى) وأنه له يدين بلا كيف كما قال : (لما خلقت بيدي). وأن أسماء الله لا يقال إنها غير الله كما قالت المعتزلة والخوارج. وأقروا أن لله علما كما قال: (أنزله بعلمه) (وما تحمل من أنثى ولا تضع إلا بعلمه). وأثبتوا السمع والبصر ولم ينفوا ذلك عن الله كما نفته المعتزلة. وقالوا : لا يكون في الأرض من خير وشر إلا ما شاء الله وأن الأشياء تكون بمشيئته كما قال تعالى : (وما تشاؤون إلا أن يشاء الله) إلى أن قال : ويقولون : [إن] القرآن كلام الله غير مخلوق.
    ويصدقون بالأحاديث التي جاءت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : (إن الله ينزل إلى السماء الدنيا فيقول هل من مستغفر) كما جاء الحديث. ويقرون أن الله يجيء يوم القيامة كما قال : (وجاء ربك والملك صفا صفا) وأن الله يقرب من خلقه كما يشاء قال : (ونحن أقرب إليه من حبل الوريد) إلى أن قال : فهذا جملة ما يأمرون به ويستعملونه ويرونه وبكل ما ذكرنا من قولهم نقول وإليه نذهب وما توفيقنا إلا بالله.
    “Kesimpulan dari perkataan mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) adalah pengakuan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan apa-apa yang datang dari Allah serta apa yang disampaikan oleh para perawi tsiqaat dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; tanpa menolak sedikitpun dari semua hal itu. Dan bahwasannya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Juga (Allah) mempunyai dua tangan, sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Dan bahwasannya nama-nama Allah tidak dikatakan sebagai selain Allah seperti dikatakan Mu’tazilah dan Khawarij.
    Mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) juga menetapkan bahwa Allah mempunyai ilmu, sebagaimana firman-Nya : ‘Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya’ (QS. An-Nisaa’ : 166). ‘Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya’ (QS. Fathir : 11). Mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) juga menetapkan sifat mendengar serta melihat bagi Allah, dan tidak menafikkannya dari Allah sebagaimana Mu’tazillah telah menafikkannya. Mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) mengatakan : ‘Tidak ada satupun kebaikan dan kejelekan yang terjadi di muka bumi kecuali apa-apa yang telah dikehendaki Allah. Segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya ta’ala : ‘Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah’ (QS. At-Takwir : 29)”.
    Hingga beliau (Al-Imam Asy-ariy rahimahullah) berkata : “Dan mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) berkata : ‘Sesungguhnya Al-Qur’an adalah Kalamullah, bukan makhluk”.
    Dan mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) membenarkan hadits-hadits yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, dan berfirman : Apakah ada orang yang memohon ampun (kepada-Ku) ?’; sebagaimana disebutkan dalam hadits. Mereka pun mengakui bahwa Allah akan datang pada hari kiamat sebagaimana firman-Nya : ‘Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris’ (QS. Al-Fajr : 22). Dan bahwasannya Allah dekat dengan makhluk-Nya seperti yang Dia kehendaki, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16)”.
    Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy rahimahullah) berkata : “Ini semua adalah kesimpulan dari apa yang mereka (Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits) perintahkan dengannya, dan mereka amalkan dan berpendapat. Semua yang kami sebutkan dari perkataan mereka adalah juga yang kami katakan dan bermadzhab dengannya. Dan tidak ada yang memberikan taufiq kepada kita melainkan Allah”.[3]
    2. Al-Imam Al-Asy’ariy rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya di atas (yaitu : Maqaalatul-Islaamiyyiin) pada bab : ‘Apakah Allah berada di suatu tempat tertentu, atau tidak berada di suatu tempat, atau berada di setiap tempat ?’ ; maka beliau berkata :
    إختلفوا في ذلك على سبع عشرة مقالة منها قال أهل السنة وأصحاب الحديث إنه ليس بجسم ولا يشبه الأشياء وإنه على العرش كما قال : (الرحمن على العرش استوى). ولا نتقدم بين يدي الله بالقول، بل نقول استوى بلا كيف وإن له يدين كما قال : (خلقت بيدي) وإنه ينزل إلى سماء الدنيا كما جاء في الحديث.
    ثم قال : وقالت المعتزلة استوى على عرشه بمعنى إستولى وتأولوا اليد بمعنى النعمة وقوله تجري بأعيننا أي بعلمنا
    “Mereka (para ulama) berbeda pendapat tentang permasalahan tersebut menjadi tujuh belas pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits yang mengatakan bahwa Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), dan tidak pula Dia menyerupai sesuatupun (dari makhluk-Nya). Dan bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Kami tidak mendahului Allah dengan satu perkataanpun tentangnya, namun kami mengatakan bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) tanpa menanyakan bagaimananya. Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Dan bahwasannya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang terdapat dalam hadits”.
    Kemudian beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata : “Mu’tazillah berkata : ‘Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya’ ; dengan makna menguasai (istilaa’). Dan mereka menta’wilkan pengertian tangan (Allah) dengan nikmat. (Dan juga menakwilkan) firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar ; 14), yaitu : dengan ilmu Kami”.[4]
    3. Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata dalam kitabnya yang berjudul Jumalul-Maqaalaat :
    رأيته بخط المحدث أبي علي بن شاذان فسرد نحوا من هذا الكلام في مقالة أصحاب الحديث. تركت إيراد ألفاظه خوف الإطالة والمعنى واحد
    “Aku melihat tulisan Muhaddits Abu ‘Aliy bin Syaadzaa – lalu menuangkan perkataan yang semisal dengan di atas dalam (Bab) Maqaalaatu Ashhaabil-Hadiits. Aku tingalkan penyebutan lafadhnya karena khawatir akan menjadi panjang (pembahasannya), padahal maknanya adalah satu (sebagaimana telah disebutkan sebelumnya)”.
    4. Telah berkata Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah dalam kitabnya Al-Ibaanah fii Ushuulid-Diyaanah, pada Baab Al-Istiwaa’ :
    فإن قال قائل : ما تقولون في الإستواء ؟. قيل [له] نقول : نقول إن الله مستو على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى) وقال : (إليه يصعد الكلم الطيب) وقال : (بل رفعه الله إليه) وقال حكاية عن فرعون : (وقال فرعون يا هامان ابن لي صرحا لعلي أبلغ الأسباب أسباب السموات فأطلع إلى إله موسى وإني لأظنه كاذبا). فكذب موسى في قوله : إن الله فوق السموات. وقال عزوجل : (أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض) فالسموات فوقها العرش، فلما كان العرش فوق السموات. وكل ما علا فهو سماء، وليس إذا قال : (أأمنتم من في السماء) يعني جميع السموات، وإنما أراد العرش الذي هو أعلى السموات، ألا ترى أنه ذكر السموات فقال : (وجعل القمر فيهن نورا) ولم يرد أنه يملأهن جميعا، [وأنه فيهن جميعا]. قال : ورأينا المسلمين جميعا يرفعون أيديهم – إذا دعوا – نحو السماء لأن الله مستو على العرش الذي هو فوق السماوات، فلو لا أن الله على العرش لم يرفعوا أيديهم نحو العرش.
    “Apabila seseorang bertanya : ‘Apa yang engkau katakan mengenai istiwaa’ ?’. Maka dikatakan kepadanya : ‘Kami mengatakan sesungguhnya Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik’ (QS. Fathir : 10). ‘Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya’ (QS. An-Nisaa’ : 158). Allah juga berfirman mengenai hikayat/cerita Fir’aun : ‘Dan berkatalah Firaun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” (QS. Al-Mukmin : 36-37). Fir’aun mendustakan Musa yang mengatakan : ‘Sesungguhnya Allah berada di atas langit’. Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Yang berada di atas langit adalah ‘Arsy (dimana Allah bersemayam/ber-istiwaa’ di atasnya). Ketika ‘Arsy berada di atas langit, maka segala sesuatu yang berada di atas disebut langit (as-samaa’). Dan bukanlah yang dimaksud jika dikatakan : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit’ ; yaitu semua langit, namun yang dimaksud adalah ‘Arsy yang berada di puncak semua langit. Tidakkah engkau melihat bahwasannya ketika Allah menyebutkan langit-langit, Dia berfirman : ‘Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya’ (QS.Nuuh : 16) ? Bukanlah yang dimaksud bahwa bulan memenuhi seluruh langit dan berada di seluruh langit”.
    Beliau (Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah) melanjutkan : “Dan kami melihat seluruh kaum muslimin mengangkat tangan mereka – ketika berdoa – ke arah langit, karena (mereka berkeyakinan) bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) di ‘Arsy yang berada di atas semua langit. Jika saja Allah tidak berada di atas ‘Arsy, tentu mereka tidak akan mengarahkan tangan mereka ke arah ‘Arsy”.
    وقد قال قائلون من المعتزلة والجهمية والحرورية : إن معنى استوى إستولى وملك وقهر، وأنه تعالى في كل مكان، وجحدوا أن يكون على عرشه، كما قال أهل الحق، وذهبوا في الإستواء إلى القدرة، فلو كان كما قالوا كان لا فرق بين العرش وبين الأرض السابعة لأنه قادر على كل شيء، والأرض شيء، فالله قادر عليها وعلى الحشوش.
    وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء، لجاز أن يقال : هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول : إن الله مستو على الأخلية والحشوش، فبطل أن يكون الإستواء [على العرش] : الإستيلاء.
    “Dan telah berkata orang-orang dari kalangan Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah (Khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). Jika saja hal itu seperti yang mereka katakan, maka tidak akan ada bedanya antara ‘Arsy dan bumi yang tujuh, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Bumi adalah sesuatu, dimana Allah berkuasa atasnya dan atas rerumputan.
    Begitu juga apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)”.
    Kemudian Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah menyebutkan beberapa dalil dari Al-Kitab (Al-Qur’an), As-Sunnah, dan akal selain yang tersebut di atas.[5]
    5. Al-Imam Abu Bakr bin Faurak menukil perkataan di atas dari para ahli hadits, dari Abul-Hasan Al-Asy’ariy dalam kitab Al-Maqaalaatu wal-Khilaaf Bainal-Asy’ariy wa Baina Abi Muhammad ‘Abdillah bin Sa’iid bin Kullaab Al-Bashriy – tulisan Ibnu Faurak. Beliau (Ibnu Faurak) berkata :
    الفصل الأول في ذكر ما حكى أبو الحسن رضي الله عنه في كتاب المقالات من جمل مذاهب أصحاب الحديث وما أبان في آخره أنه يقول بجميع ذلك.
    “Pasal Pertama : Penyebutan Apa-Apa yang Dihikayatkan Abul-Hasan Radliyallaahu ‘anhu dalam Kitab Al-Maqaalaat dari Kumpulan Pendapat Ashhaabul-Hadiits dan Apa yang Dijelaskan di Akhir Kitab tersebut Bahwa Beliau Mengatakan Keseluruhan Pendapat Tersebut.”
    Ibnu Faurak kemudian menyatakan perkataan tersebut apa adanya, lalu berkata di bagian akhirnya :
    فهذا تحقيق لك من ألفاظه أنه معتقد لهذه الأصول التي هي قواعد أصحاب الحديث وأساس توحيدهم
    “Ini adalah satu penelitian bagi Anda dari perkataan Al-Asy’ariy bahwasannya beliau berkeyakinan dengan prinsip ini dimana hal itu merupakan kaidah yang dipegang oleh Ashhaabul-Hadiits dan pondasi bagi ketauhidan mereka”.
    Telah berkata Al-Haafidh Abul-‘Abbas Ahmad bin Tsaabit Ath-Tharqiy[6] : Aku pernah membaca kitab Abul-Hasan Al-Asy’ariy yang berjudul Al-Ibaanah beberapa dalil yang menetapkan al-istiwaa’ (bersemayam). Beliau berkata dalam kesimpulan atas hal tersebut :
    ومن دعاء أهل الإسلام إذا هم رغبوا إلى الله يقولون : يا ساكن العرش ومن حلفهم : لا والذي إحتجب بسبع.
    “Termasuk salah satu doa orang Islam saat mereka berharap kepada Allah, mereka berkata : ‘Wahai yang penghuni ‘Arsy dan Dzat yang dijadikan sumpah oleh mereka’ ; tidak (dikatakan) : ‘Demi Dzat yang terhijab oleh tujuh langit”.[7]
    6. Telah berkata Al-Ustadz Abul-Qaasim Al-Qusyairiy rahimahullah dalam Syikaayatu Ahlis-Sunnah :
    ما نقموا من أبي الحسن الأشعري إلا أنه قال بإثبات القدر، وإثبات صفات الجلال لله، من قدرته، وعلمه، وحياته، وسمعه، وبصره، ووجهه، ويده، وأن القرآن كلامه غير مخلوق.
    سمعت أبا علي الدقاق يقول : سمعت زاهر بن أحمد الفقيه يقول مات الأشعري رحمه الله ورأسه في حجري فكان يقول شيئا في حال نزعه لعن الله المعتزلة موهوا ومخرقوا
    “Tidaklah mereka membenci Abul-Hasan Al-Asy’ariy kecuali karena ia telah menetapkan adanya qadar, menetapkan sifat keagungan bagi Allah, mulai dari kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, hidup-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, wajah-Nya, tangan-Nya, dan bahwasannya Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk.
    Aku pernah mendengar Abu ‘Aliy Ad-Daqaaq berkata : Aku pernah mendengar Zaahir bin Ahmad Al-Faqiih berkata : ‘Ketika Al-Asy’ariy rahimahullah menjelang wafat, kepalanya berada di pangkuanku, maka beliau mengatakan : ‘Semoga Allah melaknat Mu’tazillah. Mereka telah tertipu dan telah berdusta”.[8]
    7. Telah berkata Al-Haafidh Al-Hujjah Abul-Qaasim bin Al-‘Asaakir dalam kitabnya Tabyiinu Kadzibil-Muftariy fii maa Nusiba ilaa Al-Asy’ariy :
    فإذا كان أبو الحسن رحمه الله كما ذكر عنه من حسن الإعتقاد، مستصوب المذهب عند أهل المعرفة والإنتقاد، يوافقه في أكثر ما يذهب إليه أكابر العباد، ولا يقدح في مذهبه غير أهل الجهل والعناد، فلا بد أن يحكى عنه معتقده على وجهه بالأمانة، ليعلم حاله في صحة عقيدته في الديانة، فاسمع ما ذكره في كتاب الإبانة فإنه قال : ((الحمد لله الواحد العزيز الماجد، المتفرد بالتوحيد، المتمجد بالتمجيد، الذي لا تبلغه صفات العبيد، وليس له مثل ولا نديد….)). فرد في خطبته على المعتزلة والقدرية والجهمية [والرافضة. إلى أن قال : فإن قال قائل : قد أنكر تم قول المعتزلة والقدرية والجهمية] والحرورية والرافضة والمرجئة، فعرفونا ما قولكم الذي تقولون، وديانتكم التي بها تدينون ؟ قيل له : قولنا الذي به نقول، وديانتنا التي بها ندين، التمسك بكتاب الله وسنة نبيه صلى الله عليه وسلم، وما روي عن الصحابة والتابعين وأئمة الحديث، ونحن بذلك معتصمون، وبما كان عليه أحمد بن حنبل نضر الله وجهه قائلون، ولمن خالف قوله مجانبون، لأنه الإمام الفاضل، والرئيس الكامل، الذي أبان الله به الحق عند ظهور الضلال، وأوضح به المنهاج، وقمع به المبتدعين، فرحمه الله من إمام مقدم، وكبير مفهم وعلى جميع أئمة المسلمين.
    “Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah, sebagaimana telah disebutkan dari beliau, adalah seorang yang mempunyai keyakinan (i’tiqad) yang baik, sesuai dengan madzhab yang ditempuh para ulama, dimana sebagian besar perkataannya mencocoki madzhab mereka (para ulama). Tidak ada yang mencela madzhabnya[9] kecuali dari kalangan orang-orang bodoh dan ingkar. Maka, sudah seharusnya bagi seseorang yang ingin menjelaskan i’tiqadnya disertai rasa amanah agar dapat diketahui kebenaran ‘aqidahnya dalam perkara agama. Maka, dengarkanlah apa yang telah ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul Al-Ibaanah : ‘Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa, Maha Agung, dan Maha Terpuji. Yang sendiri dengan keesaan-Nya, yang terpuji dengan pujian, yang tidak sampai kepada-Nya sifat-sifat hamba, dan tidak ada kesamaan maupun tandingan bagi-Nya…”.
    Beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) membantah dalam khutbahnya kepada Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Raafidlah. Hingga kemudian beliau berkata : Apabila ada seseorang mengatakan jika engkau telah mengingkari/membantah secara lengkap perkataan Mu’tazillah, Qadariyyah, Jahmiyyah, Haruriyyah/Khawarij, Raafidlah, dan Murji’ah; maka beritahukanlah kepada kami tentang perkataan yang menjadi pendapat dan agama bagimu ! Maka katakanlah padanya : ‘Perkataan yang kami katakan dan agama yang kami anut adalah berpegang-teguh kepada Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan apa-apa yang diriwayatkan dari shahabat, tabi’in, serta para imam ahli-hadits. Kami berpegang teguh terhadap hal itu. Dan juga, dengan agama (pemahaman) yang Ahmad bin Hanbal berada di atasnya – semoga Allah membaguskan wajahnya. Barangsiapa yang menyelisihi perkataannya (Ahmad bin Hanbal) adalah para pembangkang, karena ia adalah seorang imam yang utama dan pemimpin yang sempurna dimana Allah telah memberikan penjelasan kebenaran melalui perantaraannya di saat muncul kesesatan. Melalui perantaraannya, Allah juga telah menjelaskan manhaj yang benar dan membungkam ahlul-bida’. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada imam yang unggul dan agung, serta kepada seluruh imam-imam kaum muslimin.
    وجملة قولنا : أن نقر بالله وملائكته وكتبه ورسله، وما جاء من عند الله، وما رواه الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، لا نرد من ذلك شيئا، وأن الله إله واحد فرد صمد، لا إله غيره، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن الجنة والنار حق، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور، وأن الله تعالى مستو على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى) وأن له وجها كما قال : (ويبقى وجه ربك) وأنه له يدين كما قال : (بل يداه مبسوطتان) وأن له عينين بلا كيف كما قال : (تجري بأعيننا) وأن من زعم أن اسم الله غيره كان ضالا، وندين أن الله يرى بالأبصار يوم القيامة كما يرى القمر ليلة البدر، يراه المؤمنون – إلى أن قال :
    وندين بأنه يقلب القلوب، وأن القلوب بين إصبعين من أصابعه، وأنه يضع السموات والأرض على إصبع، كما جاء في الحديث، – إلى أن قال : –
    وأنه يقرب من خلقه كيف شاء كما قال : (ونحن أقرب إليه من حبل الوريد) وكما قال : (ثم دنا فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى) ونرى مفارقة كل داعية إلى بدعة، ومجانبة أهل الأهواء، وسنحتج لما ذكرناه من قولنا وما بقي [منه] بابا بابا، وشيئا شيئا.
    Dan kesimpulan perkataan kami adalah : ‘Kami mengakui Allah, para malaikat-Nya. Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan apa-apa yang datang dari sisi Allah, serta apa-apa yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqaat dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak menolak satupun dari hal tersebut sedikitpun. Dan bahwasannya Allah adalah Tuhan yang Esa, tempat bergantung, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dan bahwasannya Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya, surga dan neraka adalah haq (benar), kiamat akan datang tanpa ada keraguan di dalamnya, Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya, Allah ta’ala bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Allah mempunyai wajah, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan tetap kekal wajah Tuhan-Mu’ (QS. Ar-Rahmaan : 27). Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Tetapi kedua tangan Allah terbuka’ (QS. Al-Maaidah : 64). Allah mempunyai dua mata tanpa ditanyakan bagaimananya, sebagaimana firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar : 14). Dan barangsiapa yang berkeyakinan bahwa nama Allah bukanlah Allah, maka ia adalah orang yang sesat. Kami meyakini bahwa Allah kelak akan dilihat dengan penglihatan (mata) pada hari kiamat oleh kaum mukminin sebagaimana dilihatnya bulan di malam purnama”. Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :
    Kami berkeyakinan bahwasannya Allah membolak-balikkan hati, dan hati-hati manusia itu berada di antara dua jari di antara jari-jari Allah. Juga, bahwasannya Allah meletakkan semua langit dan bumi di atas satu jari, sebagaimana tercantum dalam hadits”. Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :
    “Dan bahwasannya Allah itu dekat dengan makhluk-Nya dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat kehernya’ (QS. Qaaf : 16). ‘Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)’ (QS. An-Najm : 8-9). Sedangkan di sisi lain kami melihat jauhnya setiap penyeru bid’ah dan pengikut hawa nafsu (dari agama dan pemahaman yang benar ini). Kami akan berhujjah (berargumentasi) dengan apa yang telah kami sebutkan tadi bab per bab secara rinci”.
    Kemudian Ibnu ‘Asakir berkata :
    فتأملوا رحمكم الله هذا الإعتقاد ما أوضحه وأبينه، واعترفوا بفضل هذا الإمام الذي شرحه وبينه.
    “Maka renungkanlah – semoga Allah memberikan rahmat kepada kalian – i’tiqad/keyakinan ini. Alangkah terang dan jelasnya keyakinan ini. Dan hendaknya kalian mengakui keutamaan imam ini (yaitu Abul-Hasan Al-Asy’ariy) yang telah menjelaskan dan menerangkannya (kepada kalian semua)”.[10]
    8. Telah berkata Al-Haafidh Ibnu ‘Asaakir : “Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy telah berkata dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Imad fir-Ru’yah :
    ألفنا كتابا كبيرا في الصفات تكلمنا فيه على أصناف المعتزلة والجهمية، فيه فنون كثيرة من الصفات في إثبات الوجه واليدين، وفي إستوائه على العرش.
    كان أبو الحسن أولا معتزليا أخذ عن أبي علي الجبائي، ثم نابذه ورد عليه، وصار متكلما للسنة، ووافق أئمة الحديث في جمهور ما يقولونه، وهو ما سقناه عنه من أنه نقل إجماعهم على ذلك وأنه موافقهم. وكان يتوقد ذكاء، أخذ علم الأثر عن الحافظ زكريا الساجي. وتوفي سنة أربع وعشرين وثلاثمائة، وله أربع وستون سنة رحمه الله تعالى.
    “Kami telah menulis satu kitab besar dalam permasalahan sifat-sifat (Allah) dimana kami berbicara dari sudut pandang kelompok Mu’tazillah dan Jahmiyyah. Padanya terdapat berbagai macam pembahasan sifat dalam penetapan wajah dan dua tangan, serta istiwaa’-Nya di atas ‘Arsy”.[11]
    Abul-Hasan Hasan pada mulanya adalah seorang Mu’tazillah yang mengambil pemahaman dari Abu ‘Ali Al-Juba’iy. Kemudian beliau meninggalkannya dan menolaknya serta berpaling menjadi seorang mutakallim (ahli ilmu kalam) Sunah. Para imam ahli hadits menyepakati sebagian besar apa yang dikatakannya. Demikianlah yang kami tuturkan dari beliau, bahwasannya beliau mengutip ijma’ mereka dan setuju dengan pendapat mereka. Beliau adalah orang yang cerdas, mempelajari ilmu atsar (hadits) dari Al-Haafidh Zakariyyah As-Saajiy. Beliau wafat pada tahun 324 H dalam usia 64 tahun. Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau”.
    [selesai]

  150. aswaja selalu mengatakan:

    Tanggapan atas Beberapa Catatan Abul Jauzaa dalam Pembelaannya Terhadap Dusta-dusta Firanda

    oleh: Ahmad Syahid 

    Abul Jauzaa dalam blognya beliau menulis :

    Tulisan kali ini akan sedikit membahas tanggapan seorang mukhaalif atas artikel yang ditulis Ustadz Firanda hafidhahullah di : http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs. Sayang sekali, harapan saya mendapatkan faedah dari tulisan mukhaalif tersebut sia-sia karena apa yang ditulisnya hanyalah daur ulang perkataan ngawur kawan-kawannya terdahulu, yang ia kemas dengan bungkus baru. But,…the content remains the same. Nothing’s new….

    Tanggapan saya:

    Sampah sekalipun ketika didaur ulang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, sayang  Abul Jauzaa tidak dapat mengambil faidah dari tulisan yang konon menurutnya adalah daur ulang dari perkataan ngawur, tanpa mampu menunjukkan perkataan siapa yang didaur ulang? Lalu dimana letak ngawurnya ? Atau malah tulisan abul jauza yang daur ulang dan ngawur? Mari kita lihat….

    Strike to the point, berikut ulasannya :
    1. Qutaibah bin Sa’iid
    Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
    Beliau[1] berkata :
    هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى
    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-’Uluw li Al-’Aliy Al-’Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

    Mukhaalif berkata :
    Qutaibah bin Said syeikh Khurosan tidak diragukan ke-imamannya, hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu Bakar an-Naqosy seorang Pemalsu hadist. Llihat Lisanul Mizan juz 5 hal 149, an-Naqosy juga disebutkan dalam al-Kasyf al-Hatsist tentang rawi-rawi yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643, meninggal tahun 351 hijriyah. Sementara Abu Ahmad al-Hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun, sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj, karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 , dalam usia 93 tahun , sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248. Artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy, terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

    Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh Salafi (wahabi) Indonesia kok ber-Hujah dengan yang dusta alias Palsu? Dengan demikian Status Hujjah ini: gugur!

    ( Abul-Jauzaa ) berkata :
    Atsar Al-Imaam Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah tersebut shahih. Yang disebutkan oleh Adz-Dzahabiy merupakan bagian dari perkataan beliau yang panjang mengenai ketetapan-ketetapan ‘aqiidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim rahimahullah sebagai berikut (saya ringkas matannya) :
    سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ الثَّقَفِيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا رَجَاءٍ قُتَيْبَةَ بْنَ سَعِيدٍ، قَالَ: ” هَذَا قَوْلُ الأَئِمَّةِ الْمَأْخُوذِ فِي الإِسْلامِ وَالسُّنَّةِ: الرِّضَا بِقَضَاءِ اللَّهِ، ………وَيَعْرِفَ اللَّهَ فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ: الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى
    Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy, Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H; sanadnya shahih].
    Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia adalah Abul-‘Abbaas As-Sarraaj; seorang yang haafidh, tsiqah, lagi mutqin. Lahir tahun 218 H, dan wafat pada usia 95/96/97 tahun [lihat : Zawaaid Rijaal Shahiih Ibni Hibbaan oleh Yahyaa bin ‘Abdillah Asy-Syahriy, hal. 1117-1124 no. 520, desertasi Univ. Ummul-Qurra’].

    Catatan penting : Abu Ahmad Al-Haakim, lahir tahun 285 H, dan wafat tahun 378 H. Abul-’Abbaas As-Sarraaj sendiri merupakan syaikh dari Al-Haakim [lihat muqaddimah kitab Syi'aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 11]. Oleh karena itu, tidak benar klaim mukhaalif bahwa Abu Ahmad Al-Haakim tidak meriwayatkan dari As-Sarraaj. Apalagi jelas, Al-Haakim menyampaikan riwayat dengan perkataan : ‘sami’tu’ (aku mendengar) dari As-Sarraaj.
    Adapun Qutaibah bin Sa’iid, maka telah mencukupi apa yang disebutkan di atas. Beliau lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 240 H [At-Taqriib, hal. 799 no. 5557, tahqiq : Abu Asybal Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].
    Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’ ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya.

    Tanggapan saya ( Ahmad Syahid ) :

    1. Bukankah riwayat yang dibawakan Abul Jauzaa ini adalah daur ulang dari riwayat yang telah dibawakan oleh  Ustadz Firanda, yang dinukil dari kitab al-uluw ?

    2. Abul jauzaa menghukumi riwayat ini shahih, tanpa mampu menunjukkan jika an-naqosy yang tertuduh sebagai pemalsu hadist adalah tsiqoh yang dapat diambil riwayatnya. Abu jauza malah menampilkan bioghrafi rawi yang sama sekali tidak tertuduh,  sementara rawi yang tertuduh ”An-Naqosy” tidak dia tampilkan sama sekali.

    3. Abul Jauza mengatakan: ”Konsekuensinya – bagi mukhaalif – perkataan ‘Syaikh Khurasaan yang tidak diragukan keimamannya’  ini harus Anda ambil, karena atsar tersebut shahih dan dikatakan oleh orang yang Anda akui keimamannya ”.  Inilah perkeliruan dan ngawurnya Abul Jauzaa, sebab jangankan perkataan Ulama, sabda Nabi pun jika dalam sanad riwayatnya terdapat Rawi yang tertuduh, maka hukum dari riwayat perkataan Nabi tadi menjadi dhaif bahkan maudhu’  jika dalam sanadnya terdapat seorang pemalsu seperti An-Naqqosy.  Atau Abul Jauza tidak mengerti syarat shahihnya sebuah sanad ?

     

    Daur ulang kedua abul jauzaa:

    2. Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy.

    Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :

    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an)….
    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-’Uluw 2/1317)

    Mukhaalif berkata :
    Yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) …. kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam aDzahabi dapat dari mana? Silahkan rujuk ”Majmu`ah ar-Rosail al-Muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-Shobuni, pernyataan al-imam as-Shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma’ tentang keberadaan Allah di langit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda. Inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh Salafi Wahabi. Status Hujjah salah alamat!.

    Saya ( Abul-Jauzaa ) berkata :
    Nampaknya Anda setengah sadar dalam melakukan bantahan. Kalimat :
    وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف – رحمه الله – لَم يختلفوا في أن الله على عرشه، وعرشه فوق سمواته،……
    “Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya…..”
    adalah kalimat asli Ash-Shaabuuniy dalam kitabnya yang berjudul ‘Aqiidatus-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits, bukan tambahan Adz-Dzahabiy rahimahullah. Perkataan Adz-Dzahabiy rahimahullah yang dinukil hanyalah berkaitan dengan informasi singkat biografi Abu ‘Utsmaan Ash-Shaabuuniy. Tidakkah Anda membaca scan kitabnya yang dinukil Ustadz Firanda[2] ? Atau,… Anda memang tidak pernah membaca kitab ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits-nya Ash-Shaabuuniy ?.
    Saya tambahkan versi cetakan dari lain penerbit dan muhaqqiq :

    [Terbitan : Maktabah Al-Imaam Al-Waadi’iy, Cet. 1/1428, tahqiq : Abu ‘Abdirrahmaan ‘Abdul-Majiid Asy-Syamiiriy, hal. 22-23].
    Bantahan dan tanggapan mukhaalif  itulah yang salah alamat, tidak akurat, dan mengada-ada. Adakah sumber penukilan perkataan seseorang yang lebih valid daripada penukilan kitab tulisannya sendiri ?. Sebagaimana komentar saya sebelumnya, kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

    Tanggapan saya (ahmad Syahid ) : Andai Abu Jauza membaca utuh tulisan Ash-Shobuni , nisacaya Abu Jauza akan malu sebab sesungguhnya Ash-shobuni adalah seorang Mufawwidh. Tolong Abul Jauzaa perhatikan dengan seksama scan kitab yang dibawakannya sendiri diatas , pada baris ketiga dari bawah , dalam scan tersebut terdapat pernyataan Ash-Shobuni yang sangat jelas menunjukkan jika beliau  adalah seorang Mufawwidh

    ويمرو نه علي ظا هره ؤيكلو ن علمه الي الله…. الخ ,,,,,,,,,

    Pernyataan ash-shobuni ini luput dari perhatian Abu Jauzaa, lihatlah jika Ash-Shobuni mewakilkan imunya ( maknanya) kepada Allah.  Inilah Tafwidh yang shorih dari sang Imam, yang sangat berbeda dengan metodologi kaum wahabiyyin di mana mereka (wahabiyyin termasuk Abu Jauzaa ) menolak Tafwidh karena menurut dia dan golongannya, bahwa Tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) adalah penyimpangan, bid’ah dan Ilhad.

    Saya (ahmad Syahid) ucapkan: kali ini Anda juga harus membesarkan jiwa Anda menerima kenyataan perkataan Ash-Shaabuuniy yang – mungkin tidak Anda inginkan – bertentangan dengan apa yang Anda yakini saat ini.

    Abu jauza berkata :

    3. Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Abu Haatim Ar-Raaziy rahimahumallaah.
    Ustadz Firanda hafidhahullah berkata :
    Berkata Ibnu Abi Hatim :
    “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:
    Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…
    Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

    Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,
    “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
    Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201

    Mukhaalif berkata :
    Riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur’ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim. Riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-Dzahzbi dalam Al-Uluw. Dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul, keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami’ , rawi majhul yang satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta’dil yang men-tsiqoh-kannya dan dia adalah Majhul. Sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-Lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Baghdad juz 12 hal 30.

    Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur’ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah persis seperti teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan: “Tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur’ah, beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.”

    Saya Ahmad Syahid katakan:

    Andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy’ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir, Musyrik, dan Ahli Bid’ah!

    Status Hujjah gugur, karena rawi-rawinya Majhul.

    Saya (Abul-Jauzaa’) berkata :
    Katanya, riwayat perkataan dua imam tersebut lemah (dla’iif) dengan sebab adanya para perawi majhuul. Mari kita lihat sanad riwayat yang dibawakan oleh Al-Imaam Al-Laalikaa’iy rahimahullah :
    أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبَشٍ الْمُقْرِئُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبِي وَأَبَا زُرْعَةَ عَنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي أُصُولِ الدِّينِ، وَمَا أَدْرَكَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ، وَمَا يَعْتَقِدَانِ مِنْ ذَلِكَ، فَقَالا: أَدْرَكْنَا الْعُلَمَاءَ فِي جَمِيعِ الأَمْصَارِ حِجَازًا وَعِرَاقًا وَشَامًا وَيَمَنًا فَكَانَ مِنْ مَذْهَبِهِمُ:……
    Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mudhaffar Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Muhammad bin Habsy Al-Muqriy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim, ia berkata : ”Aku pernah bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus-Sunnah dalam ushuuluddiin (pokok-pokok agama) dan apa yang mereka temui dari para ulama di seluruh pelosok negeri dan yang mereka berdua yakini tentang hal itu, maka mereka berdua berkata : ”Kami telah bertemu dengan para ulama di seluruh pelosok negeri, baik di Hijaz, ’Iraq, Mesir, Syaam, dan Yaman, maka yang termasuk madzhab mereka adalah : …….. (kemudian beliau menyebut macam-macam ’aqiidah, sebagaimana telah dituliskan Ustadz Firanda di atas) [Syarh Ushuulil-I’tiqaad, 1/176].

    Keterangan perawi :
    a. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy; seorang syaikh yang shaalih, mempunyai keutamaan, lagi shaduuq. Wafat 415 H [Taariikh Baghdaad, 4/430 no. 1624, tahqiq : Dr. Basyaar ’Awwaad Ma’ruuf; Daarul-Gharb, Cet. 1/1422 H].
    b. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri’; seorang yang tsiqah lagi ma’muun [lihat : Taariikh Islaamiy oleh Adz-Dzahabiy, 26/538-539, tahqiq : Dr. ’Umar bin ’Abdis-Salaam At-Tadmuriy; Daarul-Kitaab Al-’Arabiy, Cet. 1/1409 H].
    c. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim; ia adalah anak dari Abu Haatim Ar-Raaziy, seorang imam yang tidak perlu ditanyakan lagi.
    Kesimpulan : Sanad riwayat ini shahih. Tidak ada rawi majhuul sebagaimana klaim mukhaalif.

    Konsekuensinya, Anda (mukhaalif) juga harus menerima dan membuang jauh-jauh perkataan Anda di atas. Apapun dalihnya. Abu Zur’ah dan Abu Haatim adalah imam yang terpercaya menurut Anda.
    Itulah perkataan empat orang ulama yang disepakati keimamannya antara ’Wahabiy’ dan mukhaalif. Sengaja saya hanya batasi bahasannya untuk empat imam saja. Saya tidak membahas tuduhan ngawur mukhaalif terhadap Ibnu Qutaibah, Ibnu Khuzaimah[3], Ad-Daarimiy, dan Abu ’Umar Ath-Thalamankiy rahimahumullah sebagai mujassim. Begitu juga tuduhan ngawur lainnya terhadap Ibnu Baththah rahimahullah sebagai pemalsu hadits. Begitu juga ulasan ngawur-nya terhadap aqwaal para imam. Mungkin bisa dilakukan lain waktu, lain orang, bahkan – mungkin – oleh Ustadz Firanda sendiri.[4]
    Akhirnya,… sesuatu yang tidak bisa diraih semuanya, tidaklah ditinggalkan semuanya. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi saya dan rekan-rekan.

    Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
    [abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk – next, job from boss must be done tonite].

     

    Tanggapan saya ( ahmad syahid ) :

    Ttiga orang rawi majhul yang saya maksud adalah :

    1. ali bin Ibrahim ,

    2. al-hasan bin muhammad bin hubaisy al-muqri ,

    3 . ibn murdik .

    Sangat disayangkan biografi yang didatangkan oleh Abu Jauza adalah :

    1. Muhammad bin Al-Mudhaffar bin ’Aliy bin Harb, Abu Bakr Al-Muqri’ Ad-Diinawariy;

    2. Al-Husain bin Muhammad bin Habsy, Abu ’Aliy Ad-Diinawariy Al-Muqri,

    3. Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haatim.

    Sangat tidak nyambung, ( yang saya sebut majhul yang mana ? Yang dibawakan Abul Jauzaa yang mana ? ) upaya Abul Jauzaa hanyalah pemaksaan kehendak yang tidak akan tercapai.  Sebab Syeikh kontradiktif pun ( Al-Albani ) mengakui dalam mukhtasor ala-uluw halaman 205,  jika dalam sanad- sanad ini ( riwayat dari abu hatim dan abu zur’ah)  ada beberapa orang yang tidak dia ketahui alias majhul,  kecuali jika Abul Jauzaa merasa lebih hebat dari syaikhnya (Al-Albani)  yang kontradiktif  itu.

     

    Catatan abul jauzaa :

    [1] Maksudnya, Qutaibah bin Sa’iid rahimahullah.
    [2] Kitab yang beliau nukil adalah terbitan Daarul-Minhaaj, Cet. 1/1423 H, dengan tahqiq : Abul-Yamiin Al-Manshuuriy.
    [3] Telah ada artikel yang menyebutkan biografi Ibnu Khuzaimah rahimahullah : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/09/biografi-ibnu-khuzaimah.html
    [4] Sebenarnya, Ustadz Firanda lah yang berhak menjawab apa yang dituliskan dan disebarkan mukhaalif tersebut. Dan saya yakin, tidaklah terlampau sukar bagi beliau untuk menjelaskan kekeliruan argumentasi susunan mukhaalif tersebut.
    Namun, ada perkataan mukhaalif tersebut yang benar tentang atsar Al-Auza’iy rahimahullah, ia adalah atsar lemah (dilemahkan oleh muhaqqiq kitab Al-Asmaa’ wash-Shifaat : ‘Abdullah Al-Haasyidiy, 2/304 dengan sebab Muhammad bin Katsiir). Namun harus juga dikatakan, apa yang dijelaskan Ustadz Firanda dalam artikelnya sudah lebih dari cukup bagi orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu ’asal bantah’ sebagaimana dilakukan mukhaalif.

    Tanggapan saya (Ahmad Syahid) :

    1. Riwayat dari al-auza’i bukanlah atsar.

    2. Riwayat qoul al-auza’i adalah Madhu’  bukan hanya dhaif.

    3. Entah siapa yang lebih layak menyandang:  ”Orang yang fair dan bisa berpikir jernih, tanpa dikotori nafsu  ’ASAL BANTAH’  sebagaimana dituduhkan Abu Jauzaa.

    Demikian tanggapan atas catatan Abul Jauzaa.

     

  151. aswaja selalu mengatakan:

    baik firanda dan abu jauza sering menampilkan Hadist Maudhu ataupun periwayatnya pemalsu hadist….maka cek lah lagi sanad2 hadist nya jgn asal nerima aja…..Nauzubillah…..

  152. Astaghfirulloh wa atubu ilaih -nangu dzubillahi min dzaalik WAHABY. mf.he orang2 wahabi ketahuilah ada permasalahan besar d madimah bahwa orang wahabi mau menggusur /meratakan dg tanah makam ROSUL itu kan perbuatan dzolalah dan di larang, trus jamiyah ter besar d indonesia Ahlussunnah wal jama’ah ( NU) mengirimkan utusan BAHWA TIDAK BOLEH D BONGKAR MAKAM ,ALkhamdulillah sampe sekarang masih utuh Makam ROSUL bisa di ziarohi umat seluruh DUNIA. Ma’af ini fakta n realita faham wahabi kaum penentang kebenaran .dan dh salah ngotot lagi.

  153. ahmad mengatakan:

    1. Zainab bintu Jahsy radliyallaahu ‘anhaa
    حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا قَالَ: فَكَانَتْ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقُولُ: زَوَّجَكُنَّ أَهْلُكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ “.قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab bintu Jahsy : ‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya’ (Al-Ahzab: 37)”. Anas berkata : “Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3213, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

    Subhanallah, menakjubkan bagaimana ibunda Zainab radhiallahu ‘anha berbangga bahwa yang menikahkan beliau dengan nabi adalah Allah yang berada di atas tujuh langit.

    Perhatikanlah bahwa beliau menyatakan hal itu kepada para istri nabi yang lain yg semuanya adalah ummahatul mukminin, ahlul bait nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya.

    Mungkinkah orang-orang yang mencintai ahlul bait akan mengingkari pernyataan beliau ini?

    -Abu ‘Aisyah-

  154. Khazia mengatakan:

    pilih mana, fanatik tanpa ilmu lalu mengamalkan bid’ah atau fanatik dengan ilmu tapi sembrono mentakfirkan/menhajr/mentahdzir?

    cuma ini ko kekurangannya, tinggal diperbaikin sajalah. sisanya pertanggungjawabkan sendiri nanti di depan Allah Ta’ala.

    Wallahu a’lam

  155. aswaja selalu mengatakan:

    haaaaaaah Alloh SWT di atas tujuh langit? ada di dalam Qur’an? masa sih????

  156. ahmad mengatakan:

    ini respon terhadap perkataan ibundanya kaum mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha ya?

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab bintu Jahsy : ‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya’ (Al-Ahzab: 37)”. Anas berkata : “Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata :

    ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3213, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

    Perhatikanlah bahwa beliau menyatakan hal itu kepada para istri nabi yang lain yg semuanya adalah ummahatul mukminin, ahlul bait nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam. Dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengingkarinya.

    Apalagi berkomentar seperti di atas, lancang sekali!
    Apakah engkau lebih paham al Qur’an daripada ummahatul mukminin?

  157. Assajjad mengatakan:

    ass..wr..wb
    pa ahmad

    kalau ayat tentang Allah lebih dekat dari urat leher manusia, bagaimana?

    syukron

  158. aswaja selalu mengatakan:

    sekali lg saya tanya, ada di ayat Qur’an yg mana disebutkan Alloh SWT ada di atas tujuh langit?????? ane lom pernah baca soalnya….

    @abisyakir, pengkultusan syaikh ustmainin bukankah sama dg spt Maulid Nabi SAW??? malah di Maulid Nabi SAW kita membaca shalawat kepada Rosululoh SAW, bukan menghina beliau….

  159. ahmad mengatakan:

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab bintu Jahsy : ‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya’ (Al-Ahzab: 37)”. Anas berkata : “Adalah Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata :

    ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3213, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih”].

    Ini bukan ayat al Qur’an, tapi merupakan perkataan ibundanya kaum mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha kepada ummahatul mukminin yang lainnya, kemudian datang orang lancang yang berkomentar:

    “haaaaaaah Alloh SWT di atas tujuh langit? ada di dalam Qur’an? masa sih????”

    Betul betul lancang!

  160. aswaja selalu mengatakan:

    @ahmad,

    sekali lg saya tanya, ada di ayat Qur’an yg mana disebutkan Alloh SWT ada di atas tujuh langit?????? ane lom pernah baca soalnya….

    supaya lebih afdol, sertakan juga ayat Qur’an yg menerangkan Alloh SWT ada di atas tujuh langit……

    ga salahkan kalo saya minta dalil yg lengkap ???

  161. lukman mubarok mengatakan:

    Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ

    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).

  162. ahmad mengatakan:

    Betul betul lanc…!

    Itu perkataan ibundanya kaum mukminin!!

    Engkau tidak percaya dengan ucapan beliau radhiallaahu ‘anha?

  163. aswaja selalu mengatakan:

    @lukman & ahmad,

    sekali lagi saya tanya : dimana dijelaskan/disebutkan di dalam AL-QUR’AN, ALLOH SWT ADA DI ATAS 7 LANGUT ??????

    jangan mencap org sembarangan lancang….ente bisa jawab ga ????

    Jangan cuma menjalankan sunnah tapi menjauhi silaturhami…..

    ayo di jawab….perihal Hadist tsb akan saya cek…karena ente belajar TABAYYUN kan ???? maka saya pun BER-TABAYYUN, cek lagi sumber-2/sanadnya, benar-2 shahih?

    sambil cek saya tanya spt di atas…..

  164. ahmad mengatakan:

    @assajjad

    Pertama saya tanya dulu apakah anda percaya ataukah anda meragukan ucapan ibundanya kaum mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha diatas?

    Di dalam al Quran sudah jelas Allah menyebutkan :

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ
    “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu” [QS. Al-Mulk : 16].

    dan juga:

    الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ

    “Ar-Rahman (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy” [QS. Thaha : 5].

    Perhatikan ayat diatas dan ucapan ibunda Zainab radhiallaahu ‘anha kepada ummahatul mukimin yang lainnya:

    “Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    Sangat jelas sekali.

    Adapun ayat:

    وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

    “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].

    silahkan lihat penjelasannya di http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2766-salah-paham-dengan-ayat-kami-lebih-dekat-dari-urat-leher.html,
    karena kalo dicopas akan kepanjangan.

    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pun menyatakan:

    “Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh. Sesungguhnya ahli bid’ah atau orang yang menyimpang dari kebenaran berhujjah dengan firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16), atau dengan firman-Nya : ‘Dan Ia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada’ (QS. Al-Hadiid : 4), atau dengan firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabih” [As-Sunnah oleh Ahmad bin Hanbal melalui kitab Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah Al-Ahmadiy, 1/318-319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H].

    Catatan : Penjelasan Al-Imaam Ahmad itu menggugurkan klaim kelompok Asyaa’irah yang mengklaim bahwa lafadh Allaahu ‘alal-‘Arsy atau yang semisalnya itu sifatnya mutasyaabih. Justru mafhum yang terambil dari perkataan beliau, lafadh itu adalah muhkam (jelas); dan yang samar (mutasyaabih) adalah lafadh nash-nash yang menyatakan bahwa Allah ta’ala bersama hamba-Nya.[1]
    (demikian dari http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/ketinggian-allah-taala-di-semua-makhluk.html)

    Selanjutnya, ayat tersebut diatas dan ayat-ayat lainnya yang menyebutkan tentang kedekatan Allah dan kebersamaan Allah ta’ala -yang tentunya akan segra anda tanyakan setelahnya- Insya Allah tidaklah tersembunyi dari Ummahatul Mukminin, karena mereka hidup dimasa turunnya wahyu, di majelis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam, maka simaklah keyakinan mereka yang bersih dan lurus, tidak tercampur ilmu kalam yang ruwet dan membingungkan, simak baik-baik ucapan ummul mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha kepada ummahaatul mukminin yang lainnya:

    ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    Demikianlah keyakinan ahlul bait nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa dan kekeliruan kita.

  165. ahmad mengatakan:

    kpd aswaja selalu mohon ma’af karena saya terlanjur mengatakan anda lancang, tapi itu spontan saya katakan karena ada orang berkomentar: “haaaaaaah Alloh SWT di atas tujuh langit? ada di dalam Qur’an? masa sih????”, ketika disampaikan kepadanya ucapan ummul mukminin.

  166. ahmad mengatakan:

    @assajjad

    Pertama saya tanya dulu apakah anda percaya ataukah anda meragukan ucapan ibundanya kaum mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha diatas?

    Di dalam al Quran sudah jelas Allah menyebutkan :

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ
    “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu” [QS. Al-Mulk : 16].

    dan juga:

    الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ

    “Ar-Rahman (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy” [QS. Thaha : 5].

    Perhatikan ayat diatas dan ucapan ibunda Zainab radhiallaahu ‘anha kepada ummahatul mukimin yang lainnya:

    “Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    Sangat jelas sekali.

    Adapun ayat:

    وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

    “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].

    silahkan lihat penjelasannya di http://rumaysho. com/belajar-islam/aqidah/2766-salah-paham-dengan-ayat-kami-lebih-dekat-dari-urat-leher.html,
    karena kalo dicopas akan kepanjangan.

    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pun menyatakan:

    “Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh. Sesungguhnya ahli bid’ah atau orang yang menyimpang dari kebenaran berhujjah dengan firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16), atau dengan firman-Nya : ‘Dan Ia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada’ (QS. Al-Hadiid : 4), atau dengan firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabih” [As-Sunnah oleh Ahmad bin Hanbal melalui kitab Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah Al-Ahmadiy, 1/318-319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H].

    Catatan : Penjelasan Al-Imaam Ahmad itu menggugurkan klaim kelompok Asyaa’irah yang mengklaim bahwa lafadh Allaahu ‘alal-‘Arsy atau yang semisalnya itu sifatnya mutasyaabih. Justru mafhum yang terambil dari perkataan beliau, lafadh itu adalah muhkam (jelas); dan yang samar (mutasyaabih) adalah lafadh nash-nash yang menyatakan bahwa Allah ta’ala bersama hamba-Nya.[1]
    (demikian dari http://abul-jauzaa.blogspot. com/2011/10/ketinggian-allah-taala-di-semua-makhluk.html)

    Selanjutnya, ayat tersebut diatas dan ayat-ayat lainnya yang menyebutkan tentang kedekatan Allah dan kebersamaan Allah ta’ala -yang tentunya akan segra anda tanyakan setelahnya- Insya Allah tidaklah tersembunyi dari Ummahatul Mukminin, karena mereka hidup dimasa turunnya wahyu, di majelis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam, maka simaklah keyakinan mereka yang bersih dan lurus, tidak tercampur ilmu kalam yang ruwet dan membingungkan, simak baik-baik ucapan ummul mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha kepada ummahaatul mukminin yang lainnya:

    ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    Demikianlah keyakinan ahlul bait nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa dan kekeliruan kita.

  167. ahmad mengatakan:

    @assajjad

    Pertama saya tanya dulu apakah anda percaya ataukah anda meragukan ucapan ibundanya kaum mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha diatas?

    Di dalam al Quran sudah jelas Allah menyebutkan :

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ
    “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu” [QS. Al-Mulk : 16].

    dan juga:

    الرّحْمَـَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىَ

    “Ar-Rahman (Allah) beristiwaa’ di atas ‘Arsy” [QS. Thaha : 5].

    Perhatikan ayat diatas dan ucapan ibunda Zainab radhiallaahu ‘anha kepada ummahatul mukimin yang lainnya:

    “Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    Sangat jelas sekali.

    Adapun ayat:

    وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

    “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16].

    silahkan lihat penjelasannya di http:// rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2766-salah-paham-dengan-ayat-kami-lebih-dekat-dari-urat-leher.html,
    karena kalo dicopas akan kepanjangan.

    Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pun menyatakan:

    “Ia (Allah) berada di atas ‘Arsy, di atas langit ketujuh. Sesungguhnya ahli bid’ah atau orang yang menyimpang dari kebenaran berhujjah dengan firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya’ (QS. Qaaf : 16), atau dengan firman-Nya : ‘Dan Ia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada’ (QS. Al-Hadiid : 4), atau dengan firman-Nya : ‘Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya’ (QS. Al-Mujaadilah : 7), dan yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mutasyaabih” [As-Sunnah oleh Ahmad bin Hanbal melalui kitab Al-Masaail war-Rasaail Al-Marwiyyatu ‘anil-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah oleh ‘Abdullah Al-Ahmadiy, 1/318-319; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1412 H].

    Catatan : Penjelasan Al-Imaam Ahmad itu menggugurkan klaim kelompok Asyaa’irah yang mengklaim bahwa lafadh Allaahu ‘alal-‘Arsy atau yang semisalnya itu sifatnya mutasyaabih. Justru mafhum yang terambil dari perkataan beliau, lafadh itu adalah muhkam (jelas); dan yang samar (mutasyaabih) adalah lafadh nash-nash yang menyatakan bahwa Allah ta’ala bersama hamba-Nya.[1]
    (demikian dari http:// abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/ketinggian-allah-taala-di-semua-makhluk.html)

    Selanjutnya, ayat tersebut diatas dan ayat-ayat lainnya yang menyebutkan tentang kedekatan Allah dan kebersamaan Allah ta’ala -yang tentunya akan segra anda tanyakan setelahnya- Insya Allah tidaklah tersembunyi dari Ummahatul Mukminin, karena mereka hidup dimasa turunnya wahyu, di majelis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam, maka simaklah keyakinan mereka yang bersih dan lurus, tidak tercampur ilmu kalam yang ruwet dan membingungkan, simak baik-baik ucapan ummul mukminin Zainab radhiallaahu ‘anha kepada ummahaatul mukminin yang lainnya:

    ‘Yang menikahkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga-keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada di atas tujuh langit”

    Demikianlah keyakinan ahlul bait nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa dan kekeliruan kita.

  168. abisyakir mengatakan:

    @ Assajajad…

    Ini ada link soal yang Anda tanyakan. Barusan cari di Google. Tapi yang pernah saya dengar, kurang lebih seperti yang disampaikan Ustadz Sigit berikut ini:

    http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/allah-lebih-dekat-dari-urat-leher.htm

    Intinya, yang dekat urat leher kita itu, para Malaikat pencatat amal.

    AMW.

  169. abisyakir mengatakan:

    @ Aswaja Selalu…

    Haaaaaaah… Alloh SWT di atas tujuh langit? ada di dalam Qur’an? masa sih????

    Respons: Iya, Allah ada di atas Arasy. Arasy itu di langit, lebih tinggi dari langit ke-7. Allah di atas Arasy sudah berkali-kali disebut dalam Al Qur’an. Sedang penjelasan, bahwa Arasy ada di atas langit ke-7, itu disebutkan dalam hadits-hadits Nabi Saw.

    AMW.

  170. abisyakir mengatakan:

    @ Ahmad Taufiq…

    Respons: Wah, Anda menyamakan kaum Wahabi dengan setan dong. Masya Allah. Katanya, kaum seperti Anda itu paling santun, paling rahmat, paling toleran, paling cinta damai, paling Indonesia…dll. Kok, menulisnya begitu sih? Apakah ini bukan fakta terbalik? Katanya santun, tapi menulis sambil marah-marah.

    Orang2 wahabi ketahuilah ada permasalahan besar di madimah, bahwa orang wahabi mau menggusur/meratakan dg tanah makam ROSUL. itu kan perbuatan dzolalah dan dilarang. trus jamiyah terbesar d indonesia Ahlussunnah wal jama’ah ( NU) mengirimkan utusan BAHWA TIDAK BOLEH DI BONGKAR MAKAM. Alhamdulillah sampe sekarang masih utuh makam ROSUL, bisa diziarohi umat seluruh DUNIA.

    Respons: Sebenarnya, menurut Sunnah, kalau konsisten dengan Sunnah ya, makam memang tak perlu ditinggikan, alias tak perlu dibangun sesuatu di atasnya. Nah, Nabi Saw pernah memerintahkan Ali agar meratakan permukaan makam, kalau ada yang ditinggikan atau dibangun. Bukan membongkar makam, seperti yang Anda katakan.

    Meratakan permukaan makam yang dibangun, beda dengan membongkar makam. Membongkar makam itu maksudnya, menggali makam, mengeluarkan jenazah atau sisa-sisa jenazah dari dalam makam. Kemudian di pindah ke tempat lain. Perbuatan seperti ini tidak boleh dilakukan ke seorang Muslim, kecuali kalau ada alasan SANGAT DARURAT. Kalau ke seorang Muslim saja tidak boleh, apalagi sampai mau membongkar makam Rasulullah, mengeluarkan jenazah beliau dari makam. Itu jelas kemungkaran akbar.

    Apa yang Anda kemukakan itu bisa dilihat dari 2 sisi:

    (1) Ada kabar burung bahwa kaum Wahabi akan membongkar makam Nabi, lalu banyak orang percaya. Kabar-kabar seperti ini sangat-sangat umum terjadi terkait isu Wahabi. Sudah lama banyak beredar fitnah-fitnah seperti itu.

    (2) Kalau pun ada kehendak itu, pasti tujuannya untuk meratakan permukaan makam, bukan untuk membongkar makam Rasulullah Saw. Hal itu pula yang terjadi dalam makam-makam para Sahabat yang katanya dibongkar oleh Wahabi; padahal hanya diratakan permukaannya, dan dijadikan makam murni, tanpa ritual pemujaan.

    (3) Bukti betapa hormatnya kaum Wahabi kepada Rasulullah Saw, Pemerintah Kota Madinah adalah satu-satunya pemerintahan otonom di wilayah Saudi. Kalau kita mau masuk/keluar Madinah, diperlakukan seperti mau masuk/keluar negeri lain. Karena begitu hormatnya kepada Nabi, sampai Kerajaan Saudi membuat Kota Madinah berada dalam pemerintahan otonom.

    “Dalam isu seperti ini seringkali kita berhadapan dengan orang-orang pendengki, pemarah, gelap mata, senang memfitnah, bahkan mengkafirkan sesama Muslim (Wahabi).”

    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  171. aswaja selalu mengatakan:

    @abisyakir & Kang Ahmad,

    perihal Alloh SWT ada di atas Arsy dan semacamnya, sebenarnya saya sudah saya tampilkan pada artikel dari mas Syahid, bantahan terhadap Ustd. Firanda & Abu Jauza sebelumnya, silahkan baca ulang kembali…..

    Nah mengenai Alloh SWT ada di atas 7 langit, saya masih belum ketemu Ayat Qur’an yg menyebutkan demikian, kalo komentar @abisyakir :

    Respons: Iya, Allah ada di atas Arasy. Arasy itu di langit, lebih tinggi dari langit ke-7. Allah di atas Arasy sudah berkali-kali disebut dalam Al Qur’an. Sedang penjelasan, bahwa Arasy ada di atas langit ke-7, itu disebutkan dalam hadits-hadits Nabi Saw.

    ini sepertinya komentar logika……afwan..

  172. abisyakir mengatakan:

    @ Aswaja Selalu…

    Baik firanda dan abu jauza sering menampilkan Hadist Maudhu ataupun periwayatnya pemalsu hadist….maka cek lah lagi sanad2 hadist nya jgn asal nerima aja…..Nauzubillah…..

    Respons: Wah, Anda ini semakin berlebihan. Sebenarnya yang Anda sebut “hadits” itu, bukanlah hadits-hadits dari Nabi Saw. Ia adalah perkataan ulama yang diriwayatkan. Karena Anda bicara soal riwayat-riwayat, seolah Anda bicara tentang hadits Nabi, padahal intinya itu perkataan ulama-ulama. Tentu saja, cara menyikapi perkataan ulama beda dengan menyikapi hadits Nabi. Cara mudahnya, perkataan ulama dikembalikan kepada Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Dalam Al Qur’an berulang-ulang disebutkan, “Allah istiwa’ di atas Arasy”.

    Tapi ya…karena Anda sudah terhegemoni oleh fanatisme kepada guru-gurunya, maka Anda merasa sangat “perih” untuk keluar dari pendapat-pendapat itu. Kepada sosok Ibnu Khuzaimah dan imam-imam hadits yang lain, Anda berani menolak dan membantah. Tetapi kepada guru-gurunya sendiri, begitu tunduk, tanpa daya. Kasihan sekali memang… “Merdekalah wahai insan, sebelum mengaji; dan setelah mengaji!”

    AMW.

  173. abisyakir mengatakan:

    @ Pembaca Semua…

    Diskusi dalam tulisan ini telah melebar terlalu jauh, maka saya ingin menutup ruang diskusinya. Dari topik dakwah Wahabi, melebar menjadi pembahasan seputar Sifat Allah. Mohon dimaafkan, ruang diskusi saya tutup. Untuk selanjutnya, saya berikan ruang khusus seputar pembahasan Sifat Allah tersebut. Semoga Ar Rabbul ‘alamiin senantiasa memberi hidayah, ilmu yang lurus, dan amal shalih yang diberkahi. Allahumma amin.

    AMW.

  174. Nurjanna hayati husain mengatakan:

    Bismillah ,,semoga diri ini dilindungi oleh ALLOH dari setiap perkataan yang keliru
    Dengan segala kerendahan ilmu saya hanya mencoba mengingatkan..”jangan mudah marah,,jangan mudah mrah,jangan mudah marah,”

    Rasulullah SAW Bersabda kurang lebih seperti ini,, : nanti kalian akan mengikuti mereka sejengkal demi sejengkal,bahakan hingga merek masuk ke lubang biawak sekalipun kalian akan mengikutinya,,bertanya sahabt : apakah mereka itu yahudi dan nashrani??
    Nabi SAW menjawab : siapa lagi kalau mereka???

    Tidakkah yahudi contoh bahwa mereka senang berselisih,congkak,dan senang memecah belah,,??
    tidakkah kalian liat nashrani senang menyebarkan agamanya dengan kebohongan,dan pembantaian pembantaian,,apakah kita tidak meliah sejarah perang salib,,mereka membantai ribuan kaum muslimin,,ini hanya salah satu contoh,,,

    apakah kita akan menjadi bagian dari orang orang yang disebutkan Nabi SAW dalam sabdanya diatas,,yakni suka berdebat berselisih paham,suka menjatuhkan orang lain dan meninggikan kepahaman sendiri??atau suka memahamkan pemahaman dengan cara pembantaian,,kekerasan atau cacian??..kebenaran hnya ALLOH yang tau,,,alangkah mudahnya kita terpropoganda ..jika kita masih terus saja berkutat dengan perselisihan..kapan islam bangkit,,kapan islam bisa jaya,,,masalah intern ini sudah cukup lama..para ulama terdahulu juga berbeda pendapat tapi tidak ada yang seperti ini,,saling menjatuhkan menyalahkan,,,karena mereka menyadari bukan memenagkan kebenaran menurut pendapat masing masing yang harus dipikirkan tapi mereka memikirkan bagaimana memajukan umat,,bagaima agar kehidupannya bermanfaat bagi orang banyak..hentikanlah perdebatan,,,wahai saudaraku…ingatlah islam butuh ukhuwah kita untuk saling membangun..kita dalah salah satu bahan dasar bangunan,,jika kita saja tidak kokoh bagaiman bangunannya bisa berdiri,,,laa hawla wala Quawata illaah billaah,,,

  175. moeslem mengatakan:

    Bukannya salafy yg merasa paling benar.dan membid’ahkan ormas lain.bgmn mau bersikap adil kalau dirinya menjelekan ormas2 yg laen.

  176. sona mengatakan:

    bedah buku pada hari ahad besok 18 maret di islamic bookfair

  177. suroto mengatakan:

    kita saling menghormati………….
    rumah buku

  178. Zaenal S'arDjuna mengatakan:

    astaghfirullah… ampe panjang gini diskusinya nih… kata2 yang bernada baik dan bernada kotorpun bergelantungan… istighfar sodara-sodaraku.. istighfar…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 151 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: