Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada saja cara manusia untuk menerima, memberi toleransi, atau mengakui keberadaan paham Syiah. Caranya bermacam-macam, termasuk dengan membuat dalih-dalih yang kurang tepat. Salah satu bentuk blunder besar, ialah yang dilakukan oleh Prof. Dr. KH. Ali Yafie, seorang ulama pakar fiqih dan sekaligus mantan anggota MUI Pusat. Mengapa disebut blunder? Sebab usia KH. Ali Yafie sudah sepuh. Secara pandangan manusiawi, beliau sudah berada di area “ambang kehidupan”. Mestinya, dalam usia demikian, KH. Ali Yafie mewariskan hal-hal yang kuat, kokoh, barakah, dan maslahat bagi Ummat. Namun, beliau justru ingin mengklaim keislaman penganut sekte Syiah (khususnya Imamiyah Itsna Asyari).

"Wariskan Kebaikan untuk Generasi Nanti" (Jangan Meninggalkan Fitnah).

Situs voa-islam.com menerbitkan artikel menarik, berjudul: “Anggapan Syiah Bagian dari Islam Sangat Tidak Beralasan.”  Dalam artikel ini KH. Ali Yafie menegaskan bahwa Syiah bagian dari Islam. Alasannya, karena negara Iran yang menganut paham Syiah Imamiyyah, diterima sebagai bagian dari OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang anggotanya sekitar 60 negara Islam. Berikut pernyataan KH. Ali Yafie:

Dengan tergabungnya Iran sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Kalau anda tanya apakah Syiah sesat, lebih baik tanyakan pada MUI saja. Jangan tanya saya. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.

Sebenarnya, untuk memahami kesesatan Syiah, sangatlah mudah. Termasuk untuk memahami bahwa Syiah ekstrem yang menjadi madzhab utama di Iran saat ini, bukan bagian dari Islam, juga mudah. Alasannya, kaum Syiah itu telah mengutuk, mencaci-maki, melaknati, mendoakan keburukan, memberikan gelar-gelar sangat kotor, serta merendahkan para Shahabat Nabi yang mulia Ridhwanallah ‘Alaihim Ajma’in. Mereka menggelari isteri-isteri Nabi serta para Shahabat terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiyallahu ‘Anhum, dengan gelar-gelar sangat kotor (na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik). Dengan satu alasan ini saja, telah cukup kalam untuk mengeluarkan sekte Syiah Imamiyyah dari Islam.

Dalilnya adalah Surat At Taubah, sebagai berikut: “Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan; Allah ridha atas mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dia (Allah) telah menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100).

Singkat kata, orang Syiah Rafidhah telah melaknati para Shahabat yang mulia, Radhiyallahu ‘Anhum; maka itu sama artinya mereka telah MELAKNATI kaum yang DIRIDHAI oleh Allah Ta’ala. Ini adalah kekufuran yang nyata dan sangat nyata. Maka, mengeluarkan kaum Syiah dari jalan Islam, atas alasan seperti itu, adalah benar semata.

Lalu bagaimana kalau ada 60 negara di dunia telah menerima keislaman kaum Syiah (meskipun mereka telah mengekalkan laknat dan permusuhan kepada para Shahabat yang mulia)? Bagaimana kalau Prof. Dr. KH. Ali Yafie, seorang guru besar fikih, mantan Ketua MUI, mantan anggota PBNU, dan lain-lain; beliau mengklaim bahwa Syiah adalah bagian Islam? Maka jawabnya sangat sederhana: “Jangankan kebijakan politik 60 negara di dunia, jangankan pendapat KH. Ali Yafie; andaikan seluruh manusia sejak awal sampai akhir menerima Syiah sebagai Islam, sedangkan mereka dalam ideologinya melawan RIDHA Allah, maka semua pendapat itu dianggap tidak ada, atau tidak penting. Sebab, kalau kita mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam, sedangkan mereka telah melazimkan melaknat dan mengutuki para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum, maka kita akan menjadi kafir.”

Lalu bagaimana dengan keputusan politik 60 negara Muslim dalam organisasi OKI yang mengakui posisi Iran? Bukankah ini sudah cukup sebagai dalil bahwa Syiah adalah bagian dari Islam?

Mari kita nikmati pemikiran ini, lalu memberikan jawaban yang baik dan secukupnya; sekaligus sebagai upaya memberi nasehat kepada orangtua kita, KH. Ali Yafie, yang telah menyampaikan pendapat tidak tepat. Kepada Allah Ta’ala semata kita memohon ilmu, petunjuk, dan taufiq. Allahumma amin.

[1]. Dalam studi Syariat Islam, dalil yang dipakai untuk menghukumi masalah-masalah Syariat (termasuk di dalamnya perkara akidah) adalah Kitabullah dan Sunnah Shahihah, serta istinbat hukum yang adil. Hal ini ditegaskan secara jelas dalam Surat An Nisa’ ayat 59. Kalau terjadi perselisihan dalam apapun persoalan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jadi, berdalil dengan “kebijakan politik 60 negara Islam” bukan termasuk koridor Syariat.

[2]. Kita harus paham, bahwa keputusan politik 60 negara Muslim dalam OKI, bukanlah keputusan berdasarkan Syariat Islam. Ia adalah keputusan atau kebijakan yang dibangun di atas hukum internasional, konvensi dunia, kesepakatan bilateral atau multilateral antara negara-negara anggota, serta berdasarkan hukum masing-masing negara yang umumnya SEKULER. Jadi negara-negara anggota OKI ini bisa disebut sebagai “negara yang mayoritas penduduknya Muslim”, bukan negara Islam. Sebab, kalau benar-benar 60 negara itu berdasarkan Islam, mereka pasti akan bersatu-padu membentuk Khilafah Islamiyyah, bukan ngeyel dengan konsep negara nasionalis masing-masing. Singkat kata, keputusan atau kebijakan negara-negara OKI, tidak otomatis mewakili keputusan/kebijakan Islami.

[3]. Kesatuan negara-negara dalam suatu organisasi internasional adalah langkah atau kebijakan politik berdasarkan prinsip kerjasama dan kepentingan. Maksudnya, mereka bergabung karena melihat keuntungan di balik langkah kerjasama dengan negara lain. Di sisi lain, mereka bergabung juga dalam rangka mencari keuntungan tertentu. Jadi, titik-tolaknya bukan persoalan KESAMAAN AKIDAH & MANHAJ. Tetapi lebih ke aspek kerjasama dan kepentingan saja. Buktinya apa? Mudah sekali. Lihat saja konsep organisasi seperti PBB atau ASEAN. Dalam organisasi seperti ini semua jenis negara, tidak peduli apapun akidahnya, bisa bergabung dan bekerjasama. Baik negara Nashrani, Yahudi, Sekuler, Kapitalis, Paganis, Komunis, dll. bisa bergabung disana. Dalam organisasi OKI sendiri tidak ada ketentuan seperti: “Semua negara dalam OKI harus bermadzhab Ahlus Sunnah atau Sunni.” Adakah ketentuan seperti itu dalam piagam organisasi OKI?

[4]. Kesamaran posisi politik Iran, karena sejak awal mereka mengklaim istilah-istilah Islam. Nama resmi negara itu Jumhuriyyah Al Islamiyyah Al Iraniyyah (Republik Islam Iran). Mereka tidak menyebut diri sebagai Jumhuriyyah Asy Syiah Al Imamiyyah Al Itsna Asyariyyah. Revolusi mereka juga diklaim sebagai Ats Tsaurah Al Islamiyyah (Revolusi Islam). Ketika Salman Rushdie menghujat Al Qur’an, Khomeini menampakkan diri membela Al Qur’an. Hal-hal demikian menimbulkan syubhat yang mestinya bisa dijernihkan oleh ulama seperti KH. Ali Yafie itu, bukannya malah diabu-abukan kembali.

[5]. Kalau kita melihat sejarah Khilafah Islamiyyah, sejak era Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbassiyyah, Dinasti Ayyubiyyah, Dinasti Saljuk, Dinasti Turki Utsmani (berakhir tahun 1924 M). Disana kaum Muslimin tidak pernah mengakui negara yang berbasis ajaran Syiah (Rafidhah). Bahkan bukan rahasia lagi, bahwa salah satu musuh bebuyutan Khilafah Turki Utsmani, adalah sekte Syiah di Iran, Irak, dan sekitarnya.

Demikianlah, kita tidka boleh gegabah mengklaim Syiah (Rafidhah) sebagai bagian dari Islam. Alasan penerimaan 60 negara anggota OKI terhadap Iran, bukanlah refleksi dari kebijakan atau keputusan politik Islami, sebab organisasi OKI itu memang tidak berdasarkan Syariat Islam. Mereka semacam organisasi “kumpulan arisan” negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Sangat disayangkan, jika seorang alim dikenal sebagai guru besar fikih Islam, tetapi tidak cermat dalam membedakan antara “Syariat OKI” dengan Syariat Islam. Hal ini sangat disayangkan, dan sepatutnya tidak terjadi hal seperti itu. Namanya Syariat Islam pastilah berdasarkan tinjauan Kitabullah dan As Sunnah, bukan selainnya.

Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Mohon dimaafkan atas segala salah dan kekurangan. Semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita (kaum Muslimin) semuanya. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Cimahi, 5 Februari 2012.

AMW.

About these ads

26 Balasan ke Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran

  1. fathiiiii mengatakan:

    Salam.

    Menurut saya cara memandang Syiah yang digunakan oleh berbagai Ulama (Sunni) di dunia ini terbagi ke dalam dua sudut pandang.
    1. Sudut pandang hubungan antar manusia.
    2. Sudut pandang kajian aqidah.

    Sudut pandang yang pertama cenderung memasukkan Syiah (apapun sektenya) ke dalam himpunan semesta Islam (seperti dalam diagram Venn). Ini mengacu kepada banyaknya kemiripan antara Islam dengan Syiah ketimbang perbedaannya (terlepas dari fakta bahwa perbedaannya itu ada pada urusan ushul).

    Sudut pandang ini dalam pandangan saya adalah usaha untuk mempertemukan Syiah dan Sunni, baik dalam kerangka aqidah maupun dalam urusan muamalah dan harus dilihat sebagai “koma” bukan “titik” (maksudnya, mereka punya intensi tersendiri terkait keputusan menggunakan cara ini). Cara memandang seperti ini cenderung lebih digunakan oleh para ulama Sunni yang kalibernya cenderung menginternasional, terutama ketika dalam kapasitasnya menjalin hubungan dengan Syiah (bukan dalam rangka membahas pokok aqidahnya).

    Sudut pandang ini membuat banyak Ulama nampak terlalu moderat pandangannya tentang Syiah (bahkan sebagian kalangan cenderung menilai para Ulama ini sudah keliru) padahal sebetulnya mereka tidak sedang membahas poin-poin aqidahnya. Puncaknya adalah adanya Risalah Amman yang tidak sekedar memasukkan sekte-sekte Syiah ke dalam “keluarga besar” Islam, namun juga memasukkan sekte Ibadi sebagai salah satu madzhab dalam Islam. Namun jika kita teliti, sebetulnya Risalah Amman ini sama sekali tidak berbicara tentang benar-tidaknya aqidah, namun lebih condong mengurusi masalah hubungan internasional antarbangsa dan antarnegara.

    Sudut pandang kedua saya rasa cukup jelas. Ranah kajiannya jelas dan metodologi yang digunakan juga mengikut kaidah yang disepakati oleh jumhur Ulama.

    Berdasarkan pandangan saya tentang dua sudut pandang ini, saya melihat bahwa KH Ali Yafie sedang menggunakan sudut pandang pertama. Beliau tidak sedang berbicara betul atau tidaknya aqidah Syiah, namun sedang berbicara tentang relasi antara manusia, Muslim dan Syiah.

    Wallahu a’lam.
    Salam.

  2. Ardi mengatakan:

    Salaam Fathiii,

    Menurut saya, sangat berbahaya pendekatan KH Ali Yafie, kalau betul beliau sedang menggunakan sudut pandang pertama. Cara yang lebih tepat adalah:

    1. Menerangkan penyelewengan Syi’ah, sama halnya ketika menerangkan penyelewengan aqidah Kristen kepada umat Islam. Tujuannya adalah untuk memperkuat pondasi aqidah.

    2. Setelah itu baru dijelaskan bagaimana tata cara berhubungan dengan mereka. Bagaimana cara berhubungan dengan penganut aliran Syiah, bagaimana hidup dengan umat Kristen, Budha,dll.

    Tapi kalau sedari awal sudah dikatakan bahwa Syiah Imamiyah sama saja dengan Islam sunni, maka yang terjadi adalah pertukaran aqidah dari aqidah sunni ke aqidah syiah. Dari aqidah memuliakan para sahabat dan istri Nabi saw kepada aqidah mencaci maki para shabat dan istri Nabi saw.

    Bisakah kita saling hidup dengan cara seperti ini?

    Wassalam,

  3. fathiiiii mengatakan:

    Salaam Ardi,

    Anda betul sekali. Itu sebabnya dalam komentar sebelumnya saya menyisipkan kata-kata “harus dilihat sebagai “koma” bukan “titik””. Artinya yang dilihat jangan hanya pada kalimat itu saja. Perlu dilihat juga usaha-usaha mereka yang lain di tempat lain.

    Lagi pula KH Ali Yafie dalam kalimat yang dikutip di artikel ini tidak mengatakan bahwa Syiah sama dengan Sunni. Beliau hanya mengatakan bahwa Iran bagian dari OKI. Itu saja. Diplomatis sekali bukan? Dari kalimatnya ini saya bisa merasakan bahwa beliau punya maksud lain dengan pemilihan kata-kata ini. Dan “maksud lain” inilah yang perlu diperjelas. Dengan menafsirkan kata-kata tersebut sebagai penyamaan Syiah dan Sunni rasanya kita sudah melanggar hak beliau untuk tabayyun.

    Wallahu a’lam.

    Salam.

  4. abisyakir mengatakan:

    @ Mas Ardhi…

    Benar, benar Akhi. Spt itu yang kita harapkan. Jazakumullah atas sumbang pemikiran Antum.

    AMW.

  5. Ardi mengatakan:

    Akhi Fathi,

    Secara eksplisit KH Ali Yafie “tidak mengatakan bahwa Syiah sama dengan Sunni”.

    Kalau begitu, apa maksud perkataan beliau di bawah ini. Bisa tolong dielaborasi lagi? Mungkin ada “maksud lain” yang tidak bisa saya tangkap.

    “Dengan tergabungnya Iran sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam.”

    Abisyakir telah berusaha menafsirkan “maksud lain” KH Ali Yafie, menurut pemahamannya.

    Saya hanya khawatir dengan tafsiran berbagai macam dari masyarakat awam terkait dengan “maksud lain” KH Ali Yafie. Apalagi kalau “maksud lain” ini akan membawa konsekuensi aqidah yang berat bagi masyarakat.

    Kalau ditanya masyarakat awam mengenai kalimat KH Ali Yafie tersebut, apa kira-kira jawaban mereka ya? Perlu diadakah penelitian kecil-kecilan nih.

    Kalau dari golongan Syiah, saya yakin mereka akan memasukkan kata-kata KH Ali Yafie dalam sillabus pelajaran agama mereka dalam rangka untuk menolak tuduhan kesesatan Syiah Rafidah.

    Ulah ulama-ulama yang mencoba bersifat moderat dengan melakukan taqrib inilah yang merupakan salah satu penyebab sulitnya penyebaran ajaran Syiah dalam masyarakat umum.

    Kalau mau diplomatispun, pakailah pendekatan Syeikh Yusuf al-Qharadawi.

    Wassalam

  6. fathiiiii mengatakan:

    Salam Akhina Ardi.

    Saya paham dengan kerisauan antum. Saya pun seringkali berpendapat sama dengan antum, meskipun hanya disimpan di hati saja.

    Dalam kasus ini sebetulnya saya berusaha memandang dengan husnudzan terhadap para ulama tersebut. Tidak setiap ulama memiliki cara pandang, cara komunikasi, dan pola pikir yang sama, sekalipun mereka menggunakan metodologi yang sama. Syaikh Yusuf Qardhawi misalnya, jangan diharapkan metodenya akan digunakan sama persis oleh ulama-ulama yang lain.

    Menurut hemat saya, penafsiran bahwa pernyataan “Iran bagian dari OKI” adalah ekivalen dengan pernyataan “Syiah sama dengan Sunni” adalah terlalu jauh. Jika bertemu dengan orang yang menggunakan argumen seperti ini, membantahnya juga sangat mudah. Cukup dengan menyampaikan logika yang ditulis oleh akhuna AMW di atas saja sudah cukup (misalnya fakta bahwa OKI bukanlah perkumpulan Sunni, dsb). Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa KH Ali Yafie mengatakan Syiah sama dengan Sunni, sehingga membantahnya juga sangatlah mudah.

    Tidak perlu risau jika kaum Syiah dan pembelanya terus bersilat lidah tentang pernyataan KH Ali Yafie ini. Mereka memang kerjaannya hanya itu (berdebat). Kalau kita khawatir ada saudara kita yang salah paham dengan kalimat ini cukup kita luruskan saja. Toh pada akhirnya hidayah adalah milik Allah, kita hanya berusaha menjadi wasilahnya saja.

    Akan halnya menafsirkan terlalu jauh seperti ini, saya khawatir kita malah akan terjerumus ke dalam dzan yang buruk. Padahal kata Rasulullah suudzan itu adalah seburuk-buruknya perkataan (na’udzubillah). Saya juga tidak bisa memastikan apa maksud KH Ali Yafie berkata seperti itu. Saya hanya bisa melihat yang dzahir saja. Kalau memang ingin tahu pastinya, silakan tabayyun secara langsung ke beliau.

    Mengenai “bagian dari Islam” saya rasa sudah cukup saya elaborasi di komentar sebelumnya. Atau kalau mau ilustrasi yang lebih lengkapnya silakan baca postingan di blog saya yang berjudul “Memandang “Syiah””. Di situ saya lengkapi dengan ilustrasi sederhana diagram venn yang dimaksud.

    Wallahu a’lam.
    Salam

  7. Ardi mengatakan:

    Masalahnya tidak semua orang awam mampu menganalisa seperti yg dilakukan oleh akhi AMW dan akhi Fathi. Saya sudah mengunjungi blog anda dan sebagian besar menyetujui tulisan akhi mengenai Syiah.

  8. anti syiah mengatakan:

    Jadi ingat, saya pernah baca di Majalah Panjimas (mungkin sudah gak terbit lagi) bahwa ada rombongan Tokoh2 Islam Indonesia sedang menghadiri acara konferensi di Iran, berkumpul dan sholat bersama dengan orang2 syiah,
    DAN salah satu tokoh dari Indonesia yang hadir adalah KH Ali Yafie.

  9. abisyakir mengatakan:

    @ Anti Syiah…

    Intinya, siapa yang tidak berani mengingkari kesesatan Rafidhah, keislamannya dipertanyakan. Mengapa begitu? Karena salah satu kesesatan Rafidhah yang tidak dimaafkan adalah MENCACI, MENGUTUK, MENGHINA para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum.

    Upaya menyayangi Syiah Rafidhah, dengan mengorbankan para Shahabat Nabi, ini adalah KEKUFURAN yang nyata. Tidak mungkin ada sayang, damai, toleransi, pendekatan, dengan harga: kita harus melecehkan para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum. Tidak mungkin itu.

    Sosok KH. Ali Yafie adalah mulia di mata bangsa Indonesia. Tetapi sosok Shahabat Nabi tidak mungkin bisa dijangkau oleh amalan2 shalih KH. Ali Yafie. Itu intinya.

    AMW.

  10. dodo mengatakan:

    Memang benar … kalau diperhatikan betapa “ganasnya ” syiah terhadap sahabat sahabat nabi ….
    Mungkin yang kalangan yang bersifat moderat terhadap syiah manganggap hal ini sangat sepele …, hanya urusan “politis”

    Tetapi lihatlah dalam keterpojokan pemerintah saudi …… mereka sangat khawatir dengan kekuatan Iran yang “mempunyai” persenjataan canggih termasuk nuklir … sehingga harus bersekutu dengan DAJAAL ……., mengorbankan tanah Haramain di duduki pasukan DAJJAL dan lainnya
    Disinilah kita melihat bahwa rafidhah tersebut persoalan besar bagi umat islam

  11. tadlo mengatakan:

    jika menilai galah yang tinggi, tapi alat kita hanya pendek, maka kita hanya dapat melihat bagian bawahnya saja. terkadang manusia menganggap alat yang pendek dapat melampaui galah yang tinggi. sehingga galah yang tinggi itu harus dipotong agar sesuai dengan alat yang pendek.

  12. [...] [e]. Syiah, KH. Ali Yafie, dan Iran. [...]

  13. Apapun yang terbaik bukan membenci Syiahnya tapi bencilah oknumnya yg salh jalan, apapun agama atau sekteh kita pasti punya oknum yg salah jalan??? Kalau KH. ali yafie aku kenal beliau sangat bijaksana karena ilmunya, beliau tdk mau berdebat panjang cukup satu alasan yg logis mewakili jawabanya yg benar menurut ilmiah, tapi kalo berdebat panjang tdk ada salah atau benar??? kita Realitas aja memusuhi negara Islam Iran sama saja berkualisi dgn Sionis Kafir laknatullah…

  14. muchliz mengatakan:

    islamku masih dangkal tidak patut untuk coment.

  15. A Nizami mengatakan:

    Insya Allah KH Ali Yafie itu sunni dan dalam ilmunya karena sudah puluhan tahun belajar dan mengajar Islam.
    Mekkah itu tanah Haram. Tanah suci. Orang2 kafir adalah Najis yang tidak boleh masuk ke situ.
    Jika Syi’ah bukan Islam/kafir, kenapa jumhur ulama dari dulu hingga sekarang membolehkan mereka ke Mekkah? Thawaf dan sholat di depan Ka’bah. Syi’ah memang beda dgn Sunni. Namun Islam itu memang terdiri dari 3 bagian: Sunni, Syi’ah, dan Khawarij. Kedua kelompok pertama insya Allah mayoritasnya lurus meski ada yg sesat/kafir seperti kaum rafidhah yg mengutuk sahabat.

    Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

    Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
    Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

    Banyak ulama Sunni seperti Yusuf Qaradhawi, Mufti Mesir Ali Jum’ah, Syekh Al Azhar Tonthowi, dan banyak ulama Sunni ternama lainnya yg mengakui Syi’ah itu masih lurus:
    http://ammanmessage.com

    Apa mereka semua sesat/kafir?
    Celakalah anak2 muda yang berpendapat seperti itu…

  16. hery mengatakan:

    ANAK MUDA SOK PINTER, MEMVONIS VONIS KAFIR SESAMA.

  17. M.A.Najib mengatakan:

    Asskum,,,saya jdi pngin tahu latar belakang pendidikan penulis AMW ini,,baik pendidikan formal maupun keagamaannya,,ini bagi saya penting, karena yang namanya tulisan/pendapat/statement sseorang baik mengenai agama maupun ilmu umum, pasti dipengaruhi latar pendidikannya,,
    Setahu saya, memang dari dulu sampai sekarang, sikap ulama terhadap syiah ada yang sangat anti bahkan mengkafirkan, dan ada yang menerima syiah itsna asyariah dan zaidiyah (yg sekarang ini masih eksis dan cukup banyak penganutnya) sebagai mazhab resmi bagian dari keluarga besar Islam,,,melihat kenyataan ini, patutlah mereka yg menolak syiah tetap menghargai kelompok yang meyakini bahwa syiah adalah bagian keluarganya (jangan diperolok-olok ya,!,,apalagi dipertanyakan keislamannya atau bahkan dikafirkan,:)),,,
    Saya sebagai pelajar Islam di UIN melihat bahwa banyak dosen kami yang toleran terhadap syiah dan mengakuinya sebagai bagian dari Islam! Dan saya lihat, mereka yang pernah belajar fiqh Islam lintas mazhab, lintas aliran,,baik di UIN/IAIN/STAIN atau di pesantren akan lebih toleran trhadap syiah
    untuk itu, saya rekomendasikan agar dalam belajar Islam, cobalah untuk lintas mazhab/aliran, cobalah untuk juga belajar kpd kelompok lain yang paham keagamaannya mungkin berbeda dari yang selama ini kita yakini kebenarannya,!,,,Jangan eksklusif! Jangan yang NU hanya mau dari kiai NU saja, muhammadiyyah dari muhammadiyyah saja, salafi dari salafi saja, LDII dari LDII saja, HTI dari HTI saja, sunni (mayoritas kita di Indonesia) dari sunni saja, dll,,
    cobalah jangan segan pelajari juga paham-paham syiah, mu’tazilah, khawarij, ahmadiyah, dll yang selama ini asing bagi kita,,
    supaya luas pengetahuan kita, supaya jangan taqlid ikut-ikutan sikap/pandangan guru-guru kita saja! Supaya kita tahu mana yang salah dari kelompok ini,,mana yang benar dari kelompok itu? dll,,,setelah begitu, kita pilih sendiri pandangan mana, pada bagian apa dari beragam mazhab aliran itu yang lebih pas dengan Islam, dan kalau mau atau sudah mantap/yakin, silahkan saja ikuti pandangan itu pada bagian itu,,,,saya tidak mengajak Anda mengikuti seluruh pendapat kelompok itu,,tapi cobalah bersikap terbuka, menerima suatu pendapat kelompok lain yang mungkin lebih pas dan benar dari pendapat kelompok kita,,
    bukankah ibnu Rusyd mengatakan bahwa pendapat kami benar (menurut kami), tapi mungkin juga salah, dan pendapatmu salah (bagi kami), tapi mungkin benar (di sisi Allah),,bukankah para ulama pengarang kitab, di akhir pernyataannya sering mengucap Wallahu a’lam bish-showab, artinya Allah sendiri yang tahu mana yang benar, kami ini hanya manusia biasa, tempatnya salah, kami tidak mau memonopoli kebenaran,!!
    Demikian dari saya, bagi saya memang ada kelompok/sekte2 syiah yang sesat dan menjadi kafir, seperti syiah ghulat, dll, ada yang sampai menuhankan sayyidina Ali RA, dll tapi mereka itu sudah lama punah! Syiah yang eksis saat ini (itsna asyariah, zaidiyah) bagiku tidak sesat, demikian juga bagi kyai2 Ali Yafie, Umar Syihab, Habib Rizieq, dan pentolan2 ormas Islam lainnya,,,
    apakah benar semua syiah saat ini mencemooh para sahabat Nabi?? Cobalah cek sendiri secara obyektif dan dari buku yang sebanyak-banyaknya,,,untuk ‘mengkafirkan’ orang itu perlu pengetahuan mendalam mas, tentang orang itu!,,perlu ngaji dari banyak guru, banyak kelompok, atau banyak bahkan ribuan buku!,,,jangan mudah mengkafirkan, itu dosa!
    Untuk mengetahui aliran2 fiqh, cobalah baca buku dekan pertama fakultas syariah di Indonesia, Prof, T.M. Hasbi ash-shiddiqie,,berjudul ‘pokok-pokok pegangan imam2 mazhab dalam membina hukum Islam’, di situ malah didahulukan mazhab2 syiah imamiyah dan zaidiyah, dari mazhab2 sunni lainnya!
    Sekian Wallahu a’lam bish-showab!

  18. fauzin sukaraja mengatakan:

    semakin panjang tulisan penulis diatas yg ditujukan utk mengkritik prof. ali yafi, maka semakin nampak sempitnya wawasan penulis. sangat jelas terlihat bgmn penulis melakukan kesalahan besar dlm memahami statement prof. ali yafi.
    tak usah jauh2 mengkritisi profesor, coba penulis suruh membedakan antara 2 org warga negara saudi dan RI. kedunya sama2 beragama islam, tapi bisa jadi dlm praktek menjalankan islam berbeda antara 2 warga negara tsb

  19. abisyakir mengatakan:

    @ Fauzin Sukaraja…

    Anda tahu Prof. KH. Ali Yafie? Beliau kan ahli fikih. Dalam kaidah fiqih, keputusan organisasi seperti OKI, bukanlah konsideran untuk memutuskan pendapat-pendapat fikih. Bahkan keputusan semacam itu bernilai politik semata. Justru karena OKI menerima Iran sebagai anggota; maka hal ini membuka peluang bagi Iran untuk merusuhi kehidupan negara-negara Timur-Tengah, seperti: Irak, Yaman, Bahrain, Saudi, Mesir, Libanon, Suriah, dan seterusnya. Tahukah Anda, bahwa Iran sedang ingin membuat poros Syiah Rafidhah yang menghubungkan Iran-Irak-Libanon-Suriah?

    Admin.

  20. aneh ya menyesatkan seorang imam ja`far yang jelas2 itu turunan nabi muhammad.
    kalau boleh dirunut silsilahnya ya lebih jelas imam ja`far dari pada sahabat2 yang belum jelas.

    selain itu, jika anda percaya imam mahdi akan muncul di bumi jangan2 anda ikut menyesatkan imam mahdi alias imam keduabelas yang merupakan keturunan dari imam ja`far yang anda sesatkan mahzabnya. aneh.

    jangan menyesatkan sesuatu sebelum anda pelajari

  21. Wahyudi Wibowo mengatakan:

    Kadar keilmuan KH Ali Yafie mumpuni, fatwanya dapat diikuti.

  22. ginting mengatakan:

    udah mas bro, jangan pada ribut sesama muslim, kita kembalikan saja semuanya pada yang maha mengetahui., yaitu ALLAH swt.

  23. abisyakir mengatakan:

    @ Mohammad Idham Baihaqi…

    Bukan, bukan kami menyesatkan Ja’far As Shadiq rahimahullah, karena beliau juga dikenal sebagai salah satu imam Ahlus Sunnah. Kami hanya MENYESATKAN sikap orang Syiah Rafidhah yang SERING MEMBUAT HADITS2 PALSU DENGAN MENGATASNAMAKAN IMAM JA’FAR AS SHADIQ. Secara pribadi Ahlus Sunnah menghormati Ja’far As Shadiq rahimahullah.

    Admin.

  24. Telitilah kembali setiap hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Jangan asal riwayat Bukhari, lalu dikatakan sahih.
    itu yang sederhananya. coba di cari lagi hadist tentang kehadiran 12 orang imam dari keturunan Rasulullah yang kemudian disamarkan atau bahkan ditutupi. berarti masalah hadits palsu tidak bisa di jadikan patokan. dan jangan lupakan tragedi pembantaian keluarga rasulullah di karbala. layakkan keluarga nabi di bantai kemudian pengikutnya yang tersisa difitnah sesat?
    kemudian seberapa dalam pengetahuan anda tentang apa yang anda yakini tentang agama anda dengan KH. ali yafie hingga menyebut pendapatnya salah?
    intinya jangan mau diadu domba oleh yahudi dengan tujuan memecah belah islam. setiap mahzab pasti memiliki perbedaan. silahkan yakini dan jalankan keyakinan anda sesuai mahzab atau keyakinan anda.
    perang yang terjadi sekarang kan gara2 adu domba, yang rugi siapa?islam itu sendiri

  25. را في mengatakan:

    Kembali pada Al Qur’an dan Hadis. Bukan pada mazhab, aliran, titel manusia walaupun prof.

  26. hamba allah mengatakan:

    berpegangan pada al qur’an dan hadist,melaksanakan perintah nya dan menjauhi larangan nya agar memiliki kehidupan yang baik,semoga allah selalu memberkahi dan merahmati kita semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 145 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: