SKETSA: Fenomena Bangsa “Sakit”

Mereka Sengsara Materi. Kita Sengsara Ruhani.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebenarnya berat untuk membahas masalah ini, karena mau tidak mau kita akan mencela bangsa sendiri, mencela masyarakat dimana kita tinggal di dalamnya. Tetapi masalahnya begitu pelik dan rumit; kalau tidak ada yang mengingatkan, kita salah semua. Ibaratnya, melihat tubuh saudara yang penuh dengan luka, koreng, nanah, bahkan kanker…tentu rasanya sangat berat. Tapi kalau tidak berkata jujur bahwa disana ada koreng, nanah, kanker, justru kita telah “membunuh” saudara itu tanpa sadar.

Selama ini, kita hidup di segala belantara kebingungan; rasa gelisah dan cemas, tidak kunjung mendapati jawaban menentramkan; silang selisih, konflik, perdebatan, saling menyerang dan membela diri, menjadi menu kehidupan yang sehari-hari kita konsumsi. Sebagian orang berteriak, “Harapan itu masih ada!” Tetapi dia sendiri sudah kehilangan harapan, karena tidak bisa mengerem laju kehancuran yang bergerak menerjang, bagai arus air bah sangat deras.

Jujur…bangsa kita ini masih muda. Andai tahun 1945 dianggap sebagai kelahiran bangsa ini, ia baru berlalu sekitar 67 tahun lalu. Usia demikian bukan usia panjang dalam sejarah suatu bangsa. Tetapi dalam kemudaannya itu, bangsa kita cepat luruh, cepat layu, cepat berguguran di usia muda. Kata orang, “Masih muda, tapi sudah parah.” Begitulah nyatanya.

Secara mental, intelektual, dan fisik…kita bukan bangsa superior (seperti umumnya bangsa-bangsa Eropa). Kita ini bangsa Asia Tenggara, masuk kategori bangsa “Indo China”; disebut China beneran, bukan; disebut sebangsa Aborigin bukan. Tetapi secara realitas, kita memang kalah bersaing dengan bangsa Eropa. Masa 350 tahun diperkosa oleh VOC dan lalu dijajah Netherland, adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Kemana saja bangsa ini selama ratusan tahun itu? Kalau Jepang tidak datang menghabisi Belanda, mungkin orang-orang Indonesia masih senang bekerja sebagai opsir Belanda, ambtenar, atau pejabat penjajah.

Dalam kondisi lemah, mestinya kita bekerja keras menemukan nilai-nilai kepribadian yang kuat dalam agama ISLAM, karena ia merupakan sumber kekuatan dahsyat yang telah berhasil menaklukkan Eropa, Persia, bahkan bangsa terkejam di dunia, Mongol (Tartar). Mengapa kita tidak mencari saripati ajaran-ajaran Islam, lalu membentuk kepribadian berdasarkan ajaran itu? Celakanya, dalam kondisi lemah dan berstatus “mantan negeri jajahan”; mata, hati, dan kesadaran kita justru sangat silau ke kebudayaan/peradaban bangsa penjajah. (Mau bukti? Banyak pelajar atau santri Indonesia yang merasa bangga kalau bisa sekolah, mendapat beasiswa, atau bekerja di Belanda. Itu fakta lho). Kita abaikan Islam, lalu kita pilih nilai-nilai “kotoran” yang ditinggalkan oleh para penjajah, kemudian “kotoran” itu dihidangkan dimana-mana sebagai “menu spesial” di dunia akademik, seremoni kenegaraan, militer, media massa, kebudayaan, politik, sistem hukum, sistem ekonomi, diplomasi, dll.

Reformasi 1998 menjadi tonggak penting, menuju derasnya pembusukan bangsa, lahir-bathin. Dengan reformasi, bangsa Indonesia memilih demokrasi, liberalisme, kapitalisme, pasar bebas, kebebasan media, dan seterusnya. Jujur, sejak awal saya termasuk tidak setuju dengan Reformasi. Bukan karena Soeharto dan Orde Baru tidak memiliki masalah atau dosa politik, bukan sama sekali. Tetapi waktu itu, sekitar tahun 1990-1997 posisi politik Ummat Islam sedang bagus-bagusnya. Kalau Ummat Islam diberi kesempatan berperan significant di negara 10 tahun lagi, insya Allah kita akan sekuat Muslim di Malaysia. Tetapi harapan itu kandas, karena keburu lahir Reformasi 1998. Tragisnya, pasca Reformasi…bangsa ini mengalami “sakit jiwa” yang sangat parah.

Itulah kondisi bangsa Indonesia saat ini… Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, marah atau benci, mau jujur atau berbohong…itulah realitasnya. Dengan sangat terpaksa semua ini disampaikan, agar menjadi nasehat bagi semua pihak; khususnya Ummat Islam dan diri kami sendiri. “Wa dzakkir fa innad dzikra tanfa’ul mu’minin” (berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang Mukmin). Surat Adz Dzariyat.

Tanda-tanda bangsa “sakit”, antara lain:

[1]. Kebohongan (dusta) marak dimana-mana. Hari ini bohong dianggap sebagai “cara logis” untuk bertahan hidup. Manusia berlomba membuat kebohongan baru, untuk menutup kebohongan lama. Hingga untuk membedakan, mana kata-kata yang baik, dan mana yang bohong; nyaris tidak ada bedanya. Kata Nabi, salah satu tanda orang munafik, “Idza hada-tsa ka-dzaba” (kalau berbicara, suka berbohong).

[2]. Tidak menepati janji dianggap biasa (bahkan mungkin sangat dinikmati). Kalau berjanji sering mengatakan “Insya Allah” sembari tidak ada komitmen. Semudah berjanji, semudah itu pula mengingkari. Padahal Al Qur’an memberikan wasiat: “Aufuu bil ‘uquud” (penuhilah akad-akad kalian). Surat Al Maa’idah.

[3]. Banyak orang merasa malu berbuat baik. Menyingkirkan batu, duri, halangan di jalan, malu dilakukan. Mengucapkan salam, menyapa, berbicara ramah, malu dilakukan. Menolong orang tua, anak kecil, orang lemah, kaum wanita, malu dilakukan. Tetapi kalau berbuat buruk, tidak kenal rasa malu.

[4]. Merasa kesepian, dan selalu mencari perhatian. Hidup terasa sepi, jiwa terasa kosong. Sangat membutuhkan perhatian manusia. Maka itu, dia berusaha sekuat tenaga mencari perhatian, termasuk melakukan hal-hal konyol; agar mendapat perhatian. Ada kalanya memakai pakaian aneh, memotong rambut dengan gaya aneh, memakai anting, tattoo, mengendarai skuter buruk, melakukan aksi-aksi nekad, dll. Semua itu demi “mengisi kekosongan jiwanya”.

Harusnya mereka ingat firman Allah: “Fadz-kuruniy adz-kurkum wasy-kuru liy wa laa takfurun” (ingat-ingatilah Aku, maka Aku akan mengingatimu, bersyukurlah kepada-Ku, janganlah engkau kufur nikmat). Surat Al Baqarah. Kalau mencari perhatian, carilah kepada Allah, maka nanti engkau tak akan lagi membutuhkan perhatian manusia.

[5]. Narsisme marak dimana-mana. Mereka tidak mengisi hidupnya dengan kebaikan, berbagi manfaat, berbagi tenaga dan kontribusi bagi orang lain. Tetapi sepanjang waktu, sejak bangun sampai hendak tidur lagi, yang dipikirkan hanyalah berpose di depan kamera, bertingkah sok cantik atau sok ganteng, bergaya bak model, pragawan, atau pragawati. Tidak orang kecil, anak remaja, hingga ustadz-ustadz, mereka demen pamer penampilan. Di Jakarta, banyak Habib-habib narsis, foto-foto mereka besar-besar menghiasi pinggir-pinggir jalan. Ini corak masyarakat sakit… Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum.

[6]. Hidup diisi hanya demi mencari duit, dengan tidak peduli bagaimanapun caranya. Mereka tidak bisa hidup, kalau tidak punya duit. Maka itu, agama mereka menjadi “mencari duit sepanjang masa”. Slogan mereka bunyinya begini: “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal?” Di mata mereka, duit-duit-duit, yang penting duit, tidak peduli bagaimanapun caranya. Ribawi oke, berjudi oke, menipu oke, melacur gak masalah, korupsi tentu, mark up anggaran cemen… dan seterusnya.

Jika ahli tauhid berkata, “Laa ma’buda illa Allah” (tiada yang kami sembah, selain Allah); maka kalimat ini lalu diganti oleh orang-orang itu, “Laa ma’buda illa fulus” (tiada yang disembah, selain duit).

[7]. Egois, tidak peduli orang lain, cari selamat sendiri-sendiri. Cara membuktikannya gampang! Cobalah Anda buat pengumuman besar-besar: “Hari Ahad semua kumpul di lapangan! Ada pembagian sembako gratis…tis tis tis!” Dijamin saat hari itu tiba, ada ribuan manusia berjubel disana. Bukan hanya orang fakir-miskin, bahkan orang yang mampu dan berkecukupan pun tidak malu-malu ikut antre. Saat antre terjadi, mereka akan injak-injakan, dorong-dorongan, gencet-gencetan; tidak peduli anak-anak, orangtua, ibu-ibu, semuanya saja tumplek blek mencari untung masing-masing; tidak mempedulikan hak-hak orang lain. “Yang penting gue kenyang. Masa bodo orang lain? Lagian, siapa suruh jadi orang lain?”

[8]. Kalau seseorang memegang amanat, atau dipercaya menduduki suatu posisi, 99 % akan melakukan korupsi. Banyak atau sedikit, proyek besar atau kecil, disadari atau tidak, korupsi itu akan dilakukan. Seakan, sangat susah mencari orang baik di negeri ini. Bedanya koruptor dengan aktivis anti korupsi, hanya soal kesempatan saja; tidak ada beda yang significant. Nanti, si aktivis anti korupsi itu kalau sudah jadi pejabat, juga akan korup. Sama saja kok…

Kata Nabi, tanda orang munafik lainnya, “Idza’tumina khana” (jika diberi kepercayaan, selalu berkhianat). Dalam Al Qur’an kita juga dilarang berkhianat: “Laa takhunullaha wa rasula wa takhunu amanatikum” (janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan mengkhianati amanat-amanat kalian). Surat Al Anfaal.

[9]. Nasehat moral, ceramah, taushiyah, semua itu tidak lagi dihargai. Ia hanya dianggap sebagai omongan untuk mengisi waktu saja. Masyarakat sudah bebal untuk menerima nasehat-nasehat, menerima taushiyah, dan bimbingan moral. Mereka cari yang lebih asyik, oke, mantab, geerrrrr. Omongan-omongan ruhani dipandang seperti “dongeng sebelum tidur”. Ibarat orang sakit flu (panas demam), diberi makanan seenak apapun, lidahnya akan menolak.

[10]. Tugas-tugas keagamaan hanya menjadi rutinitas, formalitas, dan seremonial belaka. Seorang ustadz/kyai dibutuhkan hanya untuk mendoakan bayi lahir, mendoakan artis ulang tahun, mendoakan orang nikahan, mengisi ceramah saat Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj, serta mendoakan orang yang wafat. Tidak ada lagi dai, ustadz, kyai yang berani menasehati penguasa; berani melawan mafia; berani menghadang musuh. Semua itu hanya dongeng masa lalu. Para agamawan hari ini punya tim manajemen masing-masing. Setiap detik/menit waktunya memiliki nilai rupiah tinggi. Agama menjadi kendaraan untuk mencari uang, popularitas, dan bisa cipika-cipiki dengan artis-artis.

[11]. Hilangnya sifat kesopanan, kepekaan sosila, keramahan, perkataan lemah-lembut. Berkata-kata kasar, menyerang, memfitnah, personal attacking dianggap sebagai hal biasa. Memaki, mencela, mempermalukan, menghina, memandang rendah; semua itu telah dilakukan, bahkan banyak dilakukan. Jangankan di jalan-jalan, di gang-gang, atau terminal; di gedung DPR saja kelakuan kasar, gelut, dorong-dorongan terjadi kok. Semakin sakit suatu bangsa, semakin kasar perilakunya.

Seperti yang dialami Bani Israil di masa lalu: “Tsumma qassat qulubukum min ba’di dzalika wa hiya kal hijarati au asyaddu qaswah” (lalu hati kalian setelah itu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi dari itu). Surat Al Baqarah.

[12]. Menjadikan hiburan dan konsumsi sebagai ibadah. Karena tidak mampu beribadah dalam bentuk shalat, puasa, sedekah, dzikir, berdoa, haji, umrah, dll. maka ibadahnya diganti dengan nonton lawak, nonton TV, menggumuli dunia bola, setiap hari memakan berita seputar selebritis, main game, sibuk melakukan komunikasi sampah via FB, Twitter, ponsel (SMS), dll. Kalau tidak begitu, mereka bermegah-megah dalam soal makanan, minuman, pakaian, rumah, mobil, aksesoris, dll. Karena tidak mampu ibadah ritual yang lurus, akhirnya “ibadah” dengan cara lain.

[13]. Merasa sok bebas-merdeka dengan dunia seks, lalu hidupnya disiksa justru oleh seks itu sendiri. Senang dengan pornografi, menggumuli dunia mesum, fantasi atau omongan ngeres terus… Kalau melawak, pasti menjurus soal kemaluan, seks, dan istilah-istilah cabul. Otaknya tidak bisa jauh dari simbol-simbol genital. Bahkan ada yang menjadi model pornografi, terjun dunia seks bebas, menjadi pelacur, menjadi gay dan homoseks, dan seterusnya. Ya begitu itu…mereka sok jumawa saat diingatkan nilai-nilai moral dalam perkara seks; mereka merasa “Tuhan terlalu mencampuri privasi”. Akhirnya, mereka disiksa dengan kehilangan orientasi dan kenikmatan seks itu sendiri. Demi Allah, lebih baik manusia menjalani seks ala orang-orang dusun yang tidak melek teknologi dan informasi; daripada mengalami siksaan seksual seperti yang dialami manusia-manusia sakit itu. Seks seperti pedang bermata ganda; kalau salah memakai, ia bisa melukai diri sendiri.

Al Qur’an sudah mengingatkan: “Laa taqrabuz zina innahu fakhisyah wa sa’a sabila” (jangan kalian dekati zina, karena ia perbuatan keji dan jalan yang buruk). Surat Al Israa’. Urusan seks itu sangat pribadi, antara dua orang suami-isteri. Ia bukan urusan kolektif apalagi publik. Apa yang tampak menggiurkan secara publik, sebenarnya ia sangat menyiksa dalam tataran pribadi.

[14]. Hilangnya sikap mandiri, sangat senang ikut-ikutan. Kalau ada seorang bintang, icon, atau super star; maka tindak-tanduknya, akan diikuti, seperti apapun bentuknya. Jangankan soal gaya, penampilan, tata rambut, anting, atau aksesoris; seringkali keyakinan dan ideologi si bintang itu, diikuti juga. Kalau misal bintang itu ternyata memiliki cara BAB yang unik, atau cara ngorok yang khas, mungkin juga akan diikuti.

Kata Nabi Saw kaum Muslimin akan ikut-ikutan orang kafir setapak demi setapak, sejengkal demi sejengkal. Sampai pada perkataan, “Lau dakhalu fi hujri dzabbi la dakhaltumuhu” (andaikan mereka masuk lubang biawak gurun, kalian pun akan ikut masuk ke dalamnya).

[15]. Kebiasaan melanggar hukum dan bangga melanggar hukum. Ini bukan soal hukum Syariat atau bukan, tetapi tentang kepatuhan pada hukum yang sebenarnya dibuat untuk kemaslahatan bersama, misalnya hukum seputar lalu lintas, pengaturan giliran, tata-tertib mengantre, kebersihan lingkungan, ketentuan keamanaan di kendaraan, dan sebagainya. Begitu banyak hukum telah dibuat, tetapi ia telah dilanggar sebelum ia disahkan. Bukan hanya rakyat biasa pelakunya, tetapi juga aparat penegak hukum sendiri. Andaikan diberlakukan hukum Islam, besar kemungkinan mereka akan melanggar hukum juga, karena sudah mentalitas sih.

[16]. Banyak muncul perilaku aneh, akibat rasa galau. Misalnya, tiba-tiba seseorang menangis, tanpa sebab; tiba-tiba teriak-teriak; tiba-tiba menyerang; tak disangka-sangka melakukan bunuh diri; tidak disangka terjerumus narkoba; dan sebagainya. Mengapa banyak kejadian-kejadian aneh itu? Karena keresahan ada dimana-mana, gelisah, merasa terasing, merasa frustrasi, dan sebagainya menjadi warna sehari-hari. Mereka dengan tega/berani memproklamirkan sikap membangkang kepada Allah Ar Rahiim, lalu Allah jadikan mereka lupa terhadap dirinya sendiri (Surat Al Hasyr).

[17]. Tiada lagi rasa kesetia-kawanan, solidaritas kepada teman (kawan). Tanda penting ketika hidup manusia semakin rusak, ialah hilangnya rasa setia kawan dalam kebaikan. Kalau kawan menderita, kesepian, membutuhkan pertolongan, mengalami kesulitan serius; tiada kehendak untuk membantu. Dalam pikirannya selalu muncul sifat kikir, “Kalau dia gue bantu, entar gue sendiri yang rugi. Gimana kalo setelah gue bantu, dia malah menghancurkan gue. Ah mendingan biarin saja dia!” Manusia-manusia bakhil itu terus membuat asumsi untuk membenarkan sikap menerlantarkan kawan-kawannya. Kata orang, mencari teman di meja makan, sangat mudah; tetapi mencari teman saat susah, sangat sulit.

Padahal di antara konsekuensi iman, adalah rasa solidaritas kepada sesama Muslim. Kata Nabi Saw, “Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi maa yuhibbu li nafsih” (tidak beriman salah seorang dari kalian, sampai mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri).

[18]. Perilaku wanita jadi seperti laki-laki, dan perilaku laki-laki jadi seperti wanita. Yang perempuan jadi beringasan dan bedigasan; sementara yang laki-laki jadi kemayu, sok cantik, gemulai (sehingga layak diceburkan ke kandang buaya, agar menjadi konsumsi bergizi bagi aligator dan kawan-kawan). Ini adalah tanda-tanda masyarakat sakit. Imbasnya, ketika sifat gender ini tidak tampak jelas batas-batasnya, akan marak dunia gay, homoseks, dan sejenisnya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik.

[19]. Sikap orang-orang kaya cenderung miskin empati, sedangkan sikap orang miskin cenderung kaya dendam dan amarah. Sangat memuakkan melihat kenyataan, mobil-mobil mewah berseliweran di jalan-jalan kumuh, di sisi rumah-rumah reot, becak butut dan mobil-mobil rongsok. Apakah pemilik mobil-mobil mewah itu tidak punya hati? Sebaliknya, orang-orang miskin hidupnya diisi dengan marah, benci, dendam, permusuhan, sinisme, dan sebagainya. Mereka dendam karena orang-orang kaya dianggap telah merebut hak-hak ekonomi mereka.

[20]. Sifat belas-kasih ke anak-anak semakin lenyap, begitu juga rasa hormat dan penghargaan kepada orang-orang tua semakin krisis. Yang muda merasa jumawa dengan kemudaannya, yang remaja merasa bebas-merdeka dengan keremajaannya, yang dewasa merasa arogan dengan kedewasaannya, yang tua merasa berkuasa karena ketuaannya. Sifat belas kasih kepada yang muda, sifat ihtiram (hormat) kepada yang tua, semakin amblas tak berbekas. Banyak anak-anak muda kurang ajar, sepertimana banyak orang-orang tua gila hormat. Itulah kondisi ketika kehidupan sepi dari berkah, segala urusan menjadi ruwet.

Padahal kata Nabi Saw, “Laisa minna man laa yarhamu shaghirana, wa laa yukrimu kabirana” (bukan bagian dari kami siapa yang tidak mengasihi anak-anak kami, dan tidak menghormati tetua-tetua kami).

[21]. Marak praktik perdukunan, sihir, hipnotis, sulap, dll. Kalau mau dapat jabatan, tinggal mencari becking-an dukun sakti. Kalau dendam ke orang lain, ingin mencelakai, tinggal mengontak tukang sihir. Kalau ingin hiburan dan merusuhi iman, tinggal menggumuli dunia sulap. Kalau mau menipu, tinggal pelajari teknik hipnotis. Begitulah, di mata manusia sakit, berbagai bentuk “jasa setan” laris manis dijual.

Sihir, perdukunan, hipnotis dan sebagainya adalah penyakit-penyakit kekufuran yang harus dijauhi. Malaikat Harut-Marut senantiasa berpesan kepada orang-orang di negeri Babil: “Innama nahnu fitnatun fa laa takfur” (kami ini hanya cobaan bagi kalian, maka janganlah kalian kafir -dengan belajar sihir dan mempraktikkannya). Surat Al Baqarah.

[22]. Panggung dunia politik banyak diisi “badut politik” yang lebih lucu dari badut asli. Mencari politisi yang amanah, jujur, bermoral, membela rakyat, rasanya seperti mencari pecahan gelas yang jatuh ke kolam air; sangat sulit sekali. Politik dulu merupakan wilayah untuk memperbaiki kepemimpinan, kehidupan rakyat, dan martabat negara. Tetapi kini dunia politik sama seperti “bursa tenaga kerja”, esensinya hanya untuk mencari harta, tahta, dan wanita. Kalau dulu, dunia politik jelas maunya. Tetapi kini, dunia harta-tahta-wanita itu diberi label aneh: politik ibadah, jihad politik, partai dakwah, dll. Kok bisa begitu ya? Kenapa mereka tidak jujur saja mengatakan, bahwa tujuan dasar mereka adalah: memenuhi syahwat segelintir elit politik! Ini lebih kesatria.

Ada ungkapan Arab yang mengatakan, Sayyidul qaum khadimuhum (pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka). Di zaman modern ungkapan ini diubah menjadi, “Al qaumu khadimu sayyidihim” (kaum itu adalah pelayan pemimpin mereka). Kalau ungkapan pertama bisa membawa ke surga; sedang ungkapan kedua, jelas amblas ke neraka. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[23]. Dunia ilmu hanya tinggal namanya saja. Dunia ilmu, kajian, mimbar akademik, studi kritis, telaah, dan sebagainya, semua itu hanya tinggal namanya saja. Esensi sudah banyak menguap. Ilmu semakin mahal, sekolah semakin melangit biayanya; tetapi buah dari ilmu itu tidak ada. Ilmu tidak membuat kehidupan lebih baik, moral lebih tangguh, ekonomi semakin handal, atau martabat semakin mulia. Ilmu hanyalah kumpulan kertas, print out setumpuk, buku-buku menggunung, gelar berderet-deret, atau kesakralan seremoni akademik yang dibuat-buat. Ilmu kini ada di puncak menara gading, lepas dari berkah, dan tidak bermanfaat. Bahkan para profesor kini ada yang menjadi penipu, koruptor, dukun, peramal, selebritis media, maniak politik, badut panggung, dll.

[24]. Nyawa manusia sangat murah harganya. Kalau membeli ikan emas 1 kg mungkin harganya Rp. 15.000,- dalam keadaan hidup. Kalau sudah mati, harganya bisa turun misalnya menjadi Rp. 12.000,- per kilogram. Itu artinya, “harga” nyawa ikan sekitar Rp. 3.000,-. Begitulah kenyataan yang ada di negeri ini, nyawa manusia harganya sangat murah. Baik manusia yang sudah jadi manusia, sudah dewasa, sudah menjalani hidup; atau manusia yang masih berbentuk janin. Katanya, ciri negara sengsara, yaitu ketika nyawa manusia tidak lagi dihargai. Manusia mau mati sebanyak apapun, bagaimana pun caranya, para pemimpin tak peduli. Kata mereka, “Kematian itu hanya akan mengubah statistik saja.” Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Padahal pada awalnya, Allah Ta’ala berfirman: “Wa laqad karamna bani adama” (sungguh benar-benar Kami telah memuliakan anak-cucu Adam). Dalam ayat lain disebutkan, “Laqad khalagnal insana fi ahsani taqwim” (sungguh Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk sebaik-baiknya). Tapi sayang, semua kemuliaan itu seolah sia-sia belaka, ketika kehidupan manusia dinilai dengan amat sangat rendah.

[25]. Orang-orang yang baik, shalih, istiqamah justru dimusuhi, dicela, difitnah, diberikan seabrek gelar-gelar buruk; sedangkan para pelawak, penyanyi, bintang film, dan entertainis justru dipuja-puja. Para ustadz, dai, pejuang Islam yang komitmen, mereka tidak diindahkan, tidak diberi kesempatan, tidak dihargai; sementara iklan kondom dengan model iklannya Jupe, atau goyang Trio Macan, atau perincian masalah kehidupan Dewi Persik, Olga Saputra, Komeng, Sule, dan sebagainya begitu lahap dikonsumsi. Ibaratnya, pengikut para Nabi dianggap musuh; sedang pengikut jalan setan, malah dipuja-puja.

[26]. Tidak ada rasa peduli terhadap kelestarian lingkungan. Kalau alam rusak, air tercemar, pohon-pohon mati, sampah berserakan dimana-mana, polusi semakin pekat, dsb. semua itu dianggap “bukan urusan gue”. Padahal peranan kita, meskipun sangat kecil, ada manfaatnya. Bukan demi kita sendiri, tetapi demi anak-cucu nanti. Hingga diceritakan ada seorang kakek di usia tuanya menanam pohon korma, lalu ditanya: “Untuk apa Kek menanam korma? Sebentar lagi Kakek juga meninggal?” Kakek itu menjawab: “Andaikan bukan untuk saya. Pohon ini untuk anak-cucu saya nanti.” Jujur…kami banyak merasakan kebaikan dari hal-hal yang ditinggalkan orangtua atau kakek-nenek, meskipun bentuknya tidak selalu berupa materi. Jika kita peduli lingkungan, harapannya Allah akan memberikan yang lebih baik bagi generasi nanti (anak-cucu kaum Muslimin).

[27]. Semakin sedikitnya manusia yang menangis karena takut kepada Allah. Kalau ada yang menangis, biasanya dibuat-buat (biar mendapat honor besar saat ceramah), atau sengaja diperlihatkan ke manusia agar dia segera dinobatkan sebagai penceramah terkenal (agar lagi-lagi dapat honor besar). Banyak air-mata musang menghiasi mimbar-mimbar agama kini. Seakan, di semua sisi keshalihan, kini tinggal ampasnya saja. Esensinya sudah tercerai-berai…entah kemana. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum.

Fenomena “sakit ruhani” ini sudah lama ada, sejak zaman Orde Baru dan sebelumnya. Tetapi sejak Reformasi 1998, sakitnya semakin parah dan komplek. Hal itu terjadi ketika masyarakat Indonesia berlomba memiliki TV di rumah masing-masing. Kadang dalam satu rumah terdapat sekian TV. Lewat TV-TV ini sosok-sosok manusia yang shalih, adil, jujur, dan membela, semakin diisolasi. Justru yang ditampakkan adalah sosok-sosok manusia sakit, jiwa sampah, pribadi aneh, penghibur, pemuja syahwat, bahkan pelacur (di antara bintang film, sinetron, penyanyi, model, dll. yang biasa nongol di TV ada lho yang bekerja “ganda”; kalau pagi sebagai penghibur TV, kalau malam sebagai pelacur). Sosok-sosok pemimpin yang mengikuti Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam disingkirkan, diganti sosok-sosok manusia sakit itu. Dampaknya, masyarakat berduyun-duyun ikut jadi sakit.

Perusak utama kehidupan bangsa kita adalah TV-TV itu, lalu internet, lalu media-media massa, lalu sarana komunikasi HP (ponsel). Inilah yang mencengkeram kehidupan bangsa selama ini. Reformasi 1998 telah memberikan KEMERDEKAAN mutlak kepada TV dan media-media massa, lalu mereka bebas merusak kehidupan bangsa sesuka hatinya. Para perusak kehidupan itu biasanya dikendalikan oleh tangan-tangan kuat secret organization, yang memang agenda tunggalnya merusak kehidupan di muka bumi. Slogan mereka, “Selama ini kami sudah rusak, maka apakah akan kami biarkan Anda hidup sehat, wajar, dan nyaman? Enak saja…”

SOLUSI: Terus berpegang-teguhlah kepada TAUHID dan abaikan yang lain. “Laa ikraha fid din, qad tabaiyanar rusydu minal ghaiyi. Wa man yakfur bit thaghuti wa yu’min billahi, faqad istamsaka bil urwatil wuts-qa lan fishama laha” (tiada paksaan dalam agama ini, sungguh telah jelas mana petunjuk dan mana kesesatan, maka siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman tauhid kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada simpul tali yang sangat kuat, yang tiada putus selamanya). Surat Al Baqarah.

Kemudian ingat selalu akan Syariat Allah Ta’ala, ketika Dia berfirman kepada Adam As: “Fa imma ya’tiyannakum minni hudan fa man tabi’a hudaya fa laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun” (maka apabila datang kepada kalian dari sisi-Ku berupa petunjuk, siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tiada ketakutan atas mereka dan tiada pula mereka bersedih hati). Surat Al Baqarah. Selalu istiqamah di atas Syariat-Nya dan memeganginya sekuat kesanggupan. Lalu solusi berikutnya: “Wa’tashimuu bi hablillahi jami’an wa laa tafarraquu” (berpegang-teguhlah kalian dengan tali agama Allah secara bersama-sama, janganlah kalian bercerai-berai). Surat Ali Imran.

Akhirnya, kami tutup tulisan panjang ini dengan sebuah doa kepada Allahu Rabbul Izzati:

“Ya Allah ya Rahman, hamdan katsira laka tahmidan mubarakan ‘adada khalqika wa ni’matika. Ya Rabbana shalawatuka wa salamuka ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabih ajma’in. Ya Allah ya Ghafuur, ampunkan kami atas segala dosa-dosa kami, kesalahan kami, serta kedhaifan iman dan kehidupan kami. Ampuni kami, maafkan kami, bentangkan siraman ampunan-Mu untuk mengguyur kejahatan jiwa dan kezhaliman amal-amal kami.

Ya Allah karena nikmat-Mu kami mengetahui keadaan hidup dan bangsa kami; karena dukungan-Mu jua kami menampakkan apa yang mesti ditampakkan; karena izin dan ridha-Mu segala sesuatu terjadi. Maka janganlah Engkau haramkan kami untuk mendapat kebaikan-kebaikan, jangan hukum kami karena kezhaliman dan durhaka yang merajalela, jangan hinakan kami karena berusaha bertahan sekuat daya yang Engkau berikan. Ya Allah, jangan adakan rasa senang di hati kami atas penderitaan, kejahilan, dan hina yang tersebar dimana-mana. Jadikan hati kami istiqamah, lurus, pengasih, senantiasa mencoba berbuat ishlah, sekuat daya kami. Jadikan kami rela dengan-Mu, rela dengan agama-Mu, rela dengan Nabi-Mu; sejak awal, saat kini, hingga kelak kami kembali kepada-Mu. Ya Allah janganlah musibah atas dunia kami menggelincirkan hati kami dari agama-Mu. Jangan jadikan manusia-manusia durhaka dan keji mendapat kesempatan menyoraki dan menghina kami. Ampunkan kami, ampunkan kami, dan senantiasa berikan nikmatnya taubat dan ishlah, bila mana kami berbuat aniaya. Jangan jadikan orang-orang beriman berputus-asa dari rahmat-Mu ya Arhama Rahimiin. Engkaulah Al Wahidul Qahhar, Al Hamidu Al Majid, Ar Ra’uf Ar Rahiim.

Allahummaghfirlana warhamna wahdina wa ‘afina warzuqna. Allahummanshur lana wa yassir umurana wa balligh maqashidana. Allahumma inna na’udzubika min ‘adzabi jahannam, wa na’udzubika min adzabil qabri, wa na’udzubika min fitnatil mahya wal mamaat, wa na’udzubika min syarri fitnatid dajjal. Rabbana laa tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana, wa hablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab. Rabbana ‘atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaban naar. Amin Allahumma amin, wa shallallah ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.”

Bumi Allah, 16 Juni 2012.

Ayah Syakir.

About these ads

22 Balasan ke SKETSA: Fenomena Bangsa “Sakit”

  1. nadianandari mengatakan:

    Pass banget nih om kita harus saling berbagi.. Ada yang mau Gorengan?? Ni ane punya’ ni… hehehe.. Biar semangat!!

  2. abisyakir mengatakan:

    @ Nadia…

    Kirain berbagi apa, ternyata gorengan? …okelah, ada berapa bungkus? Bisa dianter via pos? He he he….

    Admin.

  3. anti semit mengatakan:

    jd +ilmu lg, syukron abi :)

  4. Sopoiki... mengatakan:

    begitu membekas sekali dalam kalbu, okey Kito

  5. Sopoiki... mengatakan:

    wajah yg selalu berpendar pada saat kecil, ternyata benar sampai ke kalbu, mohon maaf lahir dan kalbu

  6. Sopoiki... mengatakan:

    masih ingatkah guyonan armanta

  7. abisyakir mengatakan:

    @ Sopoiki…

    Wah saya gak ingat ya… Boleh diingatkan? Oh ya, Anda ini siapa? Aku durung mudheng…

    Admin.

  8. Sopiki... mengatakan:

    suatu saat aku ingin menjenguk dan ketemu lagi, semoga selalu mendapatkan restu dariNYA, walaupun terasa jauh dari ikatan, ttpi secara kalbu masih tetap dekat, bagaimana khabar keluarga di Bandung.

  9. abisyakir mengatakan:

    Alhamdulillah kabar baik… Saya penasaran sekali. Anda siapa ya? Membuat hati jadi bertanya-tanya…. langitbiru1000[at]gmail.com

  10. Anonymous mengatakan:

    KITO,– apa sampiyan masih senang menikmati tahu campur, saya selalu ingat klu makan tahu campur pasti anti lemak, klu guyonan dgn mendiang ada selipan “ar’amta”, ngapunten klu sampiayan tdk berkenan, nuhun maaf

  11. Anonymous mengatakan:

    maaf Bang KITO, Aku belum punya alamat di dunia maya yg bebas

  12. abisyakir mengatakan:

    Wah, maaf saya tidak ingat kesana. Apa Anda berasal dari Lawang? Kerja di Telkom? Pernah ketemu di gedung pelatihan Telkom di Bandung? Ini hanya nebak-nebak…

    Admin.

  13. Anonymous mengatakan:

    apa betul sampiyan dari malang

  14. Anonymous mengatakan:

    Maaf Bang memang Betul2 Waskito, salam untuk keluarga

  15. abisyakir mengatakan:

    @ Anonymous (Sopoiki)…

    Apa sampiyan masih senang menikmati tahu campur, saya selalu ingat klu makan tahu campur pasti anti lemak, klu guyonan dgn mendiang ada selipan “ar’amta”, ngapunten klu sampiayan tdk berkenan, nuhun maaf. apa betul sampiyan dari malang (Madyopuro). Maaf Bang memang Betul2 Waskito, salam untuk keluarga.

    Respon: Masya Allah, Anda pasti orang yang kami kenal dekat, sebab Anda tahu hal2 kecil seputar kebiasaan kami. Ya alhamdulillah, saya suka dengan makanan dari Mbak Ju itu, tapi itu sudah lama sekali; bagaimana Anda masih ingat hal tersebut? Masya Allah. Kalo guyonan ayah, saya sudah tidak terlalu ingat. Iya betul, saya dari sana. Bahkan tidak ada yang memanggil dengan panggilan itu, kecuali keluarga dan orang-orang di kampung saya. Alhamdulillah, kita diingatkan dengan sesuatu yang terjadi di masa lalu. Alhamdulillah. Semoga Allah memberkahi-mu. Amin.

    Admin.

  16. Fulan mengatakan:

    Ustad yg saya makfumi, nuhun mengenai produk keju dgn bahan dasar yg berkolaborasi dgn Rennet gimana telusur halalnya.

  17. abisyakir mengatakan:

    @ Fulan…

    Mohon maaf sebelumnya, saya kurang paham soal itu. Tadi sempat baca-baca sedikit bahan. Misalnya: Is rennet halal or haram?

    Dari situ dapat beberapa informasi:

    1. Rata-rata keju memakai bahan rennet untuk mengentalkan susu. Rennet dari bahan hewani.

    2. Ada juga keju alternatif yang tidak memakai rennet, ini lebih aman.

    3. Rennet rata-rata dari hewan babi atau non babi. Kalau babi, jelas haram; kalau non babi, misalnya sapi, kambing, onta, apakah hewan-hewan itu disembelih dengan ‘Basmallah’? Jadi dua alternatif bahan rennet ini sama-sama tidak boleh dikonsumsi.

    4. Ada riwayat yang mengatakan, bahwa saat Perang Tabuk, Nabi Saw ditawari keju. Lalu beliau meminta pisau, lalu membelah keju itu dengan baca Bismillah. Maka bacaan ini seperti menghalalkan keju tersebut; dengan asumsi, bahan pengental (rennet) yang dipakai bukanlah babi, tetapi dari hewan lain. Kalau babi, meskipun membaca Basmallah 1000 kali tidak akan menghalalkannya.

    5. Kalau ada keju tanpa rennet, pakailah itu; kalau ada keju dengan rennet, pastikan ia diproduksi oleh sesama Muslim, kalau begitu halal; kalau keju diproduksi oleh non Muslim, pastikan bahan rennet-nya bukan dari babi, tapi hewan lain; kemudian kalau mau memakan, jangan lupa baca dulu ‘Basmalah’.

    Itu kali ya…mohon maaf kalau kurang memuaskan…silakan cari-cari informasi lainnya. Terimakasih.

    Admin.

  18. nadiaananda mengatakan:

    Semangat adalah Kunci keberhasilan baik tulisan maupun ungkapan perasaan.. Ayoo semangat.. :D

  19. nadiaananda mengatakan:

    Hidup ane katanya berantakan om ditambah rambut ane,, tapi kalo udah baca artikel kok berubah jadi rapi yaaa.. Hehehe.. :P

  20. abisyakir mengatakan:

    @ Nadia…

    Ya berarti sering-sering baca artikel, biar rambutnya rapi terussss… He he he…bisa aja.

    Admin.

  21. Anonymous mengatakan:

    Mbak Nadiaananda, salam kenal ya..

  22. anni mengatakan:

    Bleh gabung forum ini

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: