Apakah Ali bin Abi Thalib Haus Kekuasaan?

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah tulisan tentang “Kasus Sampang Jilid II” muncul komentar seorang pembaca yang diindikasikan sebagai pengikut sekte Syiah Rafidhah. Dia memberikan pandangan “imajiner” tentang situasi di Saqifah Bani Sa’idah ketika para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum melakukan pembicaraan untuk memilih pemimpin pengganti Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Dalam pandangan pembaca itu, andai saja para Shahabat tidak mendahulukan sikap nasionalisme, tentu mereka akan merujuk Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu untuk menjadi pengganti Nabi.

Berikut komentar pembaca tersebut:

Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme. Bukankah ketika anda dipersaudarakan oleh rosul antara Muhajirin dan Ansor ketika awal hijrah, nasionalisme telah dihapus oleh rosul, hanya Ali yang dipersaudarakan dengan Rosul sendiri (tanda pertama). Anda menyaksikan di Ghodir khum ketika Rosul mengangkat Ali sebagai Maula, menyakiti Ali sama dengan menyakiti Nabi, lihat hadits2nya Mutawatir (tanda kedua). Bubarlah kembali berkabung kepada tubuh baginda ROSUL yang masih terbaring.”

Analisaku, tidak mungkin Rosul Allah tidak memberikan tanda sebagai penerusnya, karena persoalan ummat adalah persoalan besar. Rosul tahu kalau persoalan kepatutan dimusyawarahkan tidak pernah selesai, akhirnya kepatutan akan diselesaikan oleh kekuatan mayoritas. Yang diusung oleh individu. Ali sbg Maula berdasar dipilih Nabi tidak harus tunduk pada musyawarah mendadak yg bersifat nasionalis mengusung tokoh Ansor dengan Muhajirin. Dalam sejarah Ali mengalah demi menghindari perpecahan membai’ah atas hasil musyawarah dadakan. Nasionalisme menang. Wasiat Nabi tersingkir. Seharusnya menurutku hasil musyawarah yang tunduk pada Maula. Sehingga anasir2 nasionalisme tidak ada tempat. Tolong beri komentar dengan fakta sejarah.”

Sebenarnya, komentar ini semula tidak ingin dikomentari. Inginnya dibiarkan saja, karena bagi kita sudah jelas, bahwa pemikiran-pemikirian seperti di atas, termasuk kategori madzhab sesat Syiah Rafidhah. Hidup mereka, sejak awal sampai akhir; sejak kecil sampai tua renta; sejak membuka mata sampai menutup mata lagi (tertidur); dalam kerumunan atau sendirian; di rumah atau di jalan; saat di masjid atau di WC; saat bekerja atau sedang hubungan seksual; maka fokus masalah yang selalu mereka pikirkan adalah Hak Kewalian Ali bin Abi Thalib dan Hak Imamah Anak-anaknya. Agama, Syariat, bumi, langit, dan kehidupan yang luas ini, di tangan Syiah Rafidhah mengerucut ke dua masalah politik di masa lalu itu.

Pemikiran Syiah Rafidhah Membuat Kemuliaan Sejarah Ahlul Bait Menjadi Kebusukan dan Hina

Leonid Brezhnev, mantan Presiden Uni Soviet, pernah melakukan pembicaraan damai dengan Jimmy Carter. Sebelum pembicaraan dilakukan Brezhnev berkata, “Kalau kita gagal dalam mewujudkan perjanjian, Tuhan akan menghukum kita.” Perkataan itu spontan mengejutkan semua yang hadir dalam pertemuan itu. Ternyata, sosok Presiden Komunis Uni Soviet, masih menyimpan keimanan pada Tuhan. Begitu pula, Fir’aun masih menyembunyikan keimanan di hatinya, meskipun ucap keimanan itu dia katakan ketika nyawa sudah di tenggorokan (sehingga tak berguna lagi). Artinya, orang kafir sekafir-kafirnya saja, masih ada sisi-sisi keimanan baiknya. Lha ini orang Syiah Rafidhah, katanya Muslim, tapi otak kanan-kirinya, jiwa-raganya, hidup-matinya, isinya melulu hanya: Wilayah Ali dan Imamah Ahlul Bait.

Baiklah, berikut isi diskusi yang sudah dilakukan, dikutip secara utuh. Diskusi aslinya bisa dilihat pada tulisan: “Kasus Sampang Jilid II”. Semoga bermanfaat, amin ya Rahiim.

__________________________________________________________

@ Fulan…

==> Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme.

RESPON: Anda tidak boleh menyebut para Shahabat Anshar dan Muhajirin dengan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu tuduhan kasar, kalau tidak disebut fitnah atas mereka. Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum SANGAT TERGONCANG atas wafatnya Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, hal itu sangat terlihat dalam kebingungan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang mengancam akan menebas siapa saja yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat. Ini menunjukkan keadaan tekanan psikologis yang sangat berat.

Satu sisi para Shahabat kehilangan sosok manusia teladan, orangtua, guru, kawan seperjuangan, sumber ilmu, penghibur hati, pembela hidup dan jiwa mereka. Di sisi lain, mereka cemas memikirkan masa depan PERADABAN ISLAM yang baru dibangun. Usianya baru 10 tahun; sementara musuh-musuhnya sangat banyak, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin Persia, Romawi, Mesir, kabilah-kabilah Arab yang kafir, dll. Mereka cemas, siapa yang akan mengganti posisi beliau? Saat itu mereka berdebat, bahwa Anshar lebih tepat mengganti, yang lain berpendapat Muhajirin lebih tepat mengganti. Nabi sendiri tidak menunjuk siapa pengganti beliau, maka wajar dong terjadi perselisihan menentukan pemimpin.

Istilah Anshar dan Muhajirin bukan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu istilah SYARIAT MURNI, wong dalilnya banyak dalam Al Qur’an dan terutama Sunnah. Anshar adalah pembela para Muhajirin; Muhajirin adalah orang yang hijrah ke negeri orang Anshar. Ini istilah Syariat yang menunjukkan amal dan prestasi amal mereka dalam perjuangan Islam. Itu bukan istilah fanatik atau nasionalisme.

Kalau Shahabat Anshar dan Muhajirin lebih mendahulukan urusan kepemimpinan, bukan urusan mengurus jenazah Nabi; karena mereka melihat bahwa: (1). Urusan kepemimpinan itu tidak bisa ditunda-tunda, harus cepat dipastikan dan dituntaskan; semakin lama ditunda akan melahirkan KETIDAK-PASTIAN yang sangat berbahaya; (2). Suasana di Saqifah Bani Sa’idah sudah mengarah ke terjadinya konflik dan perselisihan internal kaum Muslimin, hal itu kalau dibiarkan begitu saja, akan membesar menjadi konflik serius di kalangan ummat Islam. Memadamkan api konflik sangat diutamakan sebelum mengurus jenazah Nabi;

(3). Harus dicatat dengan tinta tebal, bahwa para Shahabat SUDAH TAHU kalau Nabi Saw wafat. Abu Bakar, Umar, dan para Shahabat Anshar Muhajirin Radhiyallahu ‘Anhum, mereka semua sudah tahu kalau Nabi wafat; maka itu mereka berselisih soal siapa yang akan menggantikan posisi Nabi dalam memimpin kaum Muslimin. Bahkan Abu Bakar dan Umar telah memeriksa jenazah beliau di kamar Aisyah Radhiyallahu ‘Anha terlebih dulu, sebelum berangkat ke Saqifah. Artinya, adalah DUSTA BELAKA kalau para Shahabat dianggap tidak tahu atau acuh dengan kematian Nabi Saw. Justru mereka amat sangat peduli dan mengalami kegoncangan jiwa. Adapun soal merawat jenazah Nabi, dalam Syariat Islam, hal itu harus diurus oleh keluarga beliau sendiri, untuk memandikan dan mengafani; lalu nantinya para Shahabat menyalati beliau, setelah urusan kepemimpinan beres diselesaikan. Apa mungkin untuk mengurus jenazah Nabi harus melibatkan semua para Shahabat baik laki-laki dan wanita? Mungkin kalau dalam hukum Syiah Rafidhah kayak begitu ya…

Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sangat mencintai Nabi Saw. Hal itu dibuktikan, mereka sampai berselisih dalam rangka memilih pemimpin untuk: MELANJUTKAN, MELESTARIKAN, dan MEMPERTAHANKAN PERADABAN yang telah dibangun oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Melanjutkan peradaban yang Nabi tinggalkan sangat diprioritaskan, sebelum para Shahabat bersama-sama menunaikan hak-hak jenazah Sayyidul Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jadi para Shahabat lebih lebih mencintai Nabi ketimbang orang-orang Syiah Rafidhah yang telah dibutakan mata-hatinya, lalu Allah ombang-ambingkan mereka dalam kesesatan luar biasa.

==> Bukankah ketika anda dipersaudarakan oleh rosul antara Muhajirin dan Ansor ketika awal hijrah, nasionalisme telah dihapus oleh rosul, hanya Ali yang dipersaudarakan dengan Rosul sendiri (tanda pertama). Anda menyaksikan di Ghodir khum ketika Rosul mengangkat Ali sebagai Maula, menyakiti Ali sama dengan menyakiti Nabi, lihat hadits2nya Mutawatir (tanda kedua). Bubarlah kembali berkabung kepada tubuh baginda ROSUL yang masih terbaring.

RESPON: Aneh bin ajaib, Anda itu mencela sikap ta’ashub, mencela sikap nasionalisme. Tapi Anda pada saat yang sama membuat “Nasionalisme” baru dengan cara mengagung-agungkan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu. Kalau cara begitu benar, tentu Syariat Islam akan mengajarkan sikap mengagung-agungkan Ali. Buktinya tidak demikian. Ali bukanlah Nabi, bukanlah masdar syar’i (sumber Syariat). Beliau seorang Shahabat yang utama, benar adanya; tapi beliau bukan Nabi atau Rasul yang kita harus menjadikannya sebagai pemutus urusan Islam dan ummat. Kecuali, saat beliau menjadi Khalifah Rasyidah; maka kebijakan beliau secara legal mewakili Syariat Islam.

Dalam Ghadir Khum itu, Nabi Saw BUKAN MENGANGKAT Ali bin Abi Thalib sebagai wali; tetapi menegaskan kembali bahwa Ali itu seorang wali, seorang mukmin, di antara para shahabat Nabi yang lain. Ketika itu dalam sebuah ekspedisi Ali bin Abi Thalib melakukan perbuatan yang di mata sebagian sahabat lainnya dianggap tercela; lalu Nabi membela Ali dengan mengatakan, bahwa siapa yang menjadikan Nabi sebagai wali-nya, maka mereka akan menjadikan Ali sebagai walinya. Wali disini artinya ya seperti wali yang kita pahami dalam Syariat Islam, yaitu: pelindung, pembela, penolong, wakil, yang dicintai, mitra, sekutu, dan sebagainya. Boleh diartikan pemimpin, tetapi maknanya umum, bukan hak kepemimpinan khusus seperti yang dipahami oleh Syiah Rafidhah yang sesat itu.

Hadits Ghadir Khum itu benar adanya, tapi pemaknaannya tidak membabi-buta seperti kaum Rafidhah. Maknanya itu sama seperti dalam Surat At Taubah: “Innamal mu’minuna wal mu’minati ba’dhuhum auliya’u ba’dhin” (orang-orang mukmin laki-laki dan wanita, sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain). Hal ini seperti makna wali dalam muamalah, wali dalam pernikahan, wali terhadap anak, wali terhadap titipan harta anak yatim, dan sebagainya.

==>Analisaku, tidak mungkin Rosul Allah tidak memberikan tanda sebagai penerusnya, karena persoalan ummat adalah persoalan besar. Rosul tahu kalau persoalan kepatutan dimusyawarahkan tidak pernah selesai, akhirnya kepatutan akan diselesaikan oleh kekuatan mayoritas. Yang diusung oleh individu. Ali sbg Maula berdasar dipilih Nabi tidak harus tunduk pada musyawarah mendadak yg bersifat nasionalis mengusung tokoh Ansor dengan Muhajirin.

RESPON: Anda ini tidak terlalu banyak tahu tentang Islam, tetapi sudah berkomentar macam-macam. Nabi Saw tidak menunjuk seseorang secara pasti untuk mengganti beliau. Itu fakta sejarah. Itu sudah diketahui oleh kaum Muslimin di masa itu secaran mutawatir. Anda tahu apa arti hadits mutawatir? Anda paham tidak apa maknanya? Hadits mutawatir itu diriwayatkan oleh jamaah para Shahabat secara kolektif, sehingga resiko terjadi kebohongan sangat kecil. Mereka tak mungkin akan bersepakat untuk sama-sama berbohong, karena mereka orang-orang yang baik; dan kalau ada yang mengajak berbohong secara kolektif, pasti akan diingkari oleh mereka yang tahu fakta sesungguhnya. Inilah hadits mutawatir.

Begitu pula, Nabi Saw tidak memilih pemimpin pengganti beliau secara jelas, itu juga mutawatir. Apa buktinya? Buktinya ya peristiwa di Saqifah Bani Sa’idah itu. Kalau Nabi sudah menunjuk penggantinya, pasti para Shahabat akan segera rujuk kepada pemimpin tersebut, tanpa harus terjadi perselisihan lagi. Coba bandingkan kenyataan ini dengan kata-kata Anda: …Analisaku, tidak mungkin… Kok gayanya sok tahu banget gitu lho… Apa di kalangan Syiah diajarkan cara-cara sok tahu seperti itu ya…

Anda tidak boleh mengejek, mencela, atau menjelekkan MUSYAWARAH; apalagi sampai berdusta bahwa Nabi tahu bahwa musyawarah tidak menyelesaikan masalah. Masya Allah… Anda itu siapa sih, kok sampai segitunya berani berdusta atas nama Nabi Saw.

Muasyawarah itu bagian dari Syariat Islam, sehingga dalam Al Qur’an ada Surat yang dinamakan As Syura (permusyawaratan). Dalam Al Qur’an jelas-jelas disebutkan: “Wa syawirhum fil amri” (dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu). Juga ayat yang berbunyi: “Wa amruhum syura bainahum” (dan urusan mereka diselesaikan dengan musyawarah di antara mereka). Nabi juga bersabda, bahwa tidak akan merugi siapa yang menyelesaikan urusannya dengan musyawarah dan shalat istikharah. Ini adalah ajaran Islam, ini amanat Allah dan Rasul-Nya. Kok kini tiba-tiba ada orang yang merasa pintar dengan mencela prinsip MUSYAWARAH. Masya Allah.

Para ulama pun kemudian menetapkan prinsip musyawarah dalam sistem tata-negara Islam dalam bentuk Ahlul Halli Wal Aqdi. Ia adalah sebuah dewan yang berisi ulama, para ahli, para politisi yang matang, dan siapa saja yang layak; tugasnya untuk memberi pertimbangan2 kepada sultan/pemimpin, untuk merumuskan kebijakan yang paling baik.

Maaf ya, di kalangan Syiah Rafidhah, prinsip musyawarah juga ditempuh. Disana ada yang dinamakan Dewan Ulama Syiah, konsep Wilayatul Faqih, bahkan di IJABI itu ada unsur yang namanya Dewan Syura IJABI. Mengapa disana orang Syiah butuh pada musyawarah? Ya karena cara-cara musyawarah itu baik dan bermanfaat untuk merumuskan kebijakan-kebijakan.

Tapi ujug-ujug disini muncul seorang “ulama” Syiah yang meremehkan musyawarah para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum, hanya demi memenuhi ambisinya agar dia bisa: puas sepuas-puasnya menyembah Ali bin Abi Thalib, serta menjadikan Ali sebagai sesembahan selain Allah. Demi menyembah Ali, dia membabi-buta melabrak aturan-aturan Syariat. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

==>Dalam sejarah Ali mengalah demi menghindari perpecahan membai’ah atas hasil musyawarah dadakan. Nasionalisme menang. Wasiat Nabi tersingkir. Seharusnya menurutku hasil musyawarah yang tunduk pada Maula. Sehingga anasir2 nasionalisme tidak ada tempat. Tolong beri komentar dengan fakta sejarah.

RESPON: Sering kali orang Syiah kalau dibiarkan bicara terus, semakin kelihatan belang-belangnya. Sengaja komentar tertentu tidak diberi respon karena dianggap tidak penting. Tetapi masih juga ngeyel dan beranggapan bahwa dirinya lebih tahu dan lebih kuat argumentasinya. Ya akhirnya terbongkarlah pemikiran-pemikiran kacau seperti ini.

Menurut saya, kejahatan besar kaum Syiah Rafidhah dalam agamanya ialah karena mereka itu telah MENODAI, MENCACATI, serta MERUNTUHKAN kehormatan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum. Tidak ada serangan yang paling menyedihkan kepada Ali dan keluarganya, selain serangan dari kaum Rafidhah sesat dan menyeleweng itu. Di antara bukti-buktinya sebagai berikut:

[1]. Kaum Rafidhah panas, dengki, marah, kecewa, karena Ali bin Abi Thalib tidak segera menggantikan posisi Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam sebagai pemimpin. Seolah mereka menuduh Ali sebagai manusia haus kekuasaan politik; seolah kehidupan Ali yang dia idam-idamkan hanya soal kekuasaan politik belaka. Masya Allah, apakah Ali seorang politisi busuk yang haus kekuasaan? Orang-orang Rafidhah tahu jawabannya.

[2]. Kaum Rafidhah selalu mencaci, menyerang, antipati kepada Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para Shahabat lainnya. Padahal Ali bin Abi Thalib tidak pernah berbuat seperti itu kepada mereka. Bahkan di antara anak-anak Ali ada yang dinamakan Umar. Ali bin Abi Thalib menikahkan putrinya Ummu Kultsum dengan Khalifah Umar. Ali bin Abi Thalib mengutus Hasan dan Husain, untuk menjaga di kediaman Khalifah Ustman saat terjadi pemberontakan. Saat terjadi perang Jamal, Khalifah Ali sangat menghormati Ummul Mukminin, Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma. Beliau diantarkan pulang dengan segala kehormatan, tanpa direndahkan sedikit pun. Kalau demikian sikap Ali bin Abi Thalib, apakah bisa dikatakan bahwa beliau memendam rasa benci, marah, kecewa kepada para Shahabat, terutama Abu Bakar, Umar, dan Ustman? Jika Ali memendam benci di hatinya, berarti beliau seorang munafik dong? Demi Allah, tidak ada yang menuduh Ali munafik, selain kaum Rafidhah sesat itu. Na’udzubillah wa na’udzbu billah min dzalik.

[3]. Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai Khalifah, menggantikan Khalifah Utsman, setelah kekuasaan Khalifah Rasyidah berlalu sekitar 22 tahun (Khalifah Abu Bakar 2 tahunan, Khalifah Umar 8 tahunan, Khalifah Utsman 12 tahunan). Khalifah Ali sendiri sampai wafatnya telah memimpin sekitar 6 tahunan. Andaikan Khalifah Ali membenci khalifah sebelumnya; atau andaikan istilah Maula yang dimaksud dalam hadits Ghadir Khum maksudnya adalah seperti yang diinginkan orang-orang Syiah; mengapa beliau diam saja selama 22 tahun, tidak melakukan perlawanan apapun, tidak berdakwah menjelaskan kepada ummat, tidak menggalang kekuatan untuk mewujudkan wasiat itu? Mengapa Ali harus diam saja selama 22 tahun? Nah, kaum Syiah Rafidhah beralasan: “Ali sengaja taqiyah, menyembunyikan keyakinan di hati, karena takut mendapat tekanan dari mayoritas Shahabat Nabi.”

Omongan orang-orang Rafidhah itu jelas sangat menodai kehormatan Ali bin Abi Thalib. Beliau dikenal sebagai seorang kesatria dari Bani Hasyim, kabilah paling mulia di Makkah. Bagaimana mungkin beliau punya sifat pengecut, penakut, dan merasa ngeri untuk menampakkan kebenaran? Ini sangat tidak mungkin. Bukan tipikal Ali sifat taqiyah, penakut, dan pengecut itu. Lagi-lagi, tidak ada manusia di dunia yang begitu menodai kehormatan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, selain kaum Syiah Rafidhah.

[4]. Selama hidupnya di zaman para Khalifah Rasyidah Abu Bakar, Umar, Utsman Radhiyallahu ‘Anhum; Ali bersikap baik, taat kepada mereka, mencintai mereka, membela mereka, menolong mereka, mengutamakan mereka atas diri sendiri dan keluarganya. Saat terjadi perselisihan soal tanah wadak antara Khalifah Abu Bakar dan Fathimah binti Rasulillah Radhiyallahu ‘Anha; Ali bin Abi Thalib memilih diam, tidak berpendapat. Beliau mencintai Fathimah sebagai istrinya; tetapi juga menghormati Khalifah sebagai pemimpinnya. Tidak dikenal saat perselisihan itu Ali mengucapkan kata-kata yang mencela Khalifah. Dia buktikan dirinya sangat kuat dalam menahan emosi, sangat bijak dalam bersikap, dan sangat mendalam penghormatannya kepada pemimpin. Namun lagi-lagi, orang Syiah merusuhi, mengotori, dan merusak kehormatan Ali bin Abi Thalib dengan segala prasangka buruk mereka. Ali digambarkan haus kekuasaan, haus diagung-agungkan, munafik, dan seterusnya.

[5]. Andaikan Ali diangap melakukan taqiyah dengan menyembunyikan keyakinan di hatinya yang membenci Abu Bakar, Umar, Utsman, dan lain-lain. Maka lihatlah bagaimana kepemimpinan politik setelah beliau berkuasa sebagai Khalifah ke-4? Apakah Khalifah Ali lalu mencela Abu Bakar, Umar, Utsman? Apakah Khalifah Ali mencaci-maki para isteri Nabi, khususnya Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu ‘Anhuma? Apakah Khalifah Ali lalu meng-qishas Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seterusnya seperti ilusi-ilusi palsu Syiah Rafidhah? Jelas-jelas saat itu Ali sedang berkuasa, sehingga andai 22 tahun beliau taqiyah, maka ketika itu beliau dapat kesempatan untuk mewujudkan ambisinya?

Tetapi Khalifah Ali sangat bijaksana. Beliau sangat luhur hatinya, sangat dermawan, sangat pemaaf, sangat peka hati, sangat zuhud dunia. Beliau perlakukan Shahabat Thalhah dan Zubair dengan lembut dan dialogis; beliau perlakukan Sayyidah Aisyah dengan penuh kehormatan; beliau ajak kaum Khawarij dialog sebelum memerangi mereka; beliau berkali-kali harus menuruti manuver-manuver politik Muawiyah, demi untuk menunjukkan bahwa dirinya sangat cinta damai, cinta persaudaraan, dan tidak berambisi kekuasaan. Semua itu adalah wajah politik Ali bin Abi Thalib yang sebenarnya.

Jadi kesimpulannya, agama kaum Syiah Rafidhah, tiada lain adalah kumpulan ilusi-ilusi palsu yang penuh racun dan menipu; dimana mereka mengklaim memuliakan Ali, Fathimah, Hasan, Husein, dan anak keturunan mereka; padahal sejatinya mereka adalah manusia yang paling keji, paling kotor, paling khianat, paling jahat dalam menyerang dan menodai kehormatan Ahlul Bait Nabi Radhiyallahu ‘Anhum. Menjadi kewajiban para Ahlus Sunnah yang mampu dan memiliki kekuatan, untuk membuktikan bahwa Syiah Rafidhah adalah sekumpulan manusia aneh yang paling menodai kehormatan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum.

Demikian, semoga diskusi kecil ini bermanfaat dan menambah pengetahuan; atas izin dan rahmat Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Admin.

About these ads

31 Balasan ke Apakah Ali bin Abi Thalib Haus Kekuasaan?

  1. bagja.budiman@yahoo.com mengatakan:

    Mohon maaf,kalau boleh saya menganjurkan mulai dengan analisa faktual.berangkat dari kemelut Gaza.Simak dan mapping dengan teliti,baru anda mampu menganalisa kritis tentang sejarah Islam yang orsinil.Anda keluar dari fantasi rekayasa yang meracuni validitas,otensitas sejarah Islam.Terbukti anda salah besar mengindikasikan saya syiah Rafidhoh,tidak ada benang merah sedikitpun bahkan saya tidak mengenal itu.Infiltrasi kaum Munafikin saya tegaskan konspirasi Abu Sofyan sebagai dalang skenario,supaya anda tidak ngaco,untuk menuduh serampangan ttg sahabat2 besar.Ketika peristiwa saqifah Bani Sai’dah Abu Sofyan berada di Syam(syria)untuk kamuflase,Dan ternyata ketika Abu Bakar menjadi kholifah dari proses skenario tsb,dia(Abu Sofyan) datang bersama saidina Abbas menghadap Ali untuk memberontak dengan alasan bani Hasyim lebih berhak dibanding bani Tai’m(suku Abu Bakar),’Ali menolak dengan tegas perangkap adu domba dan perpecahan yang dimainkan Abu Sofyan sebagai jurus yang kedua.

  2. bagja.budiman@yahoo.com mengatakan:

    Tanggalkan fantasi kembali kepada dunia nyata,Abu Sofyan politisi ulung,cerdas dan menghalalkan segala cara.Peristiwa pemboikotan umum terhadap Nabi dan pengikutnya ketika pada fase awal da’wah di Mekkah merupakan bukti piawainya Abu Sofyan untuk melemahkan dan mengisolasi ummat Islam,yaitu;1,Dilarang jual beli dengan Muhammad dan pengikutnya.2.Dilarang menikahkan 3.Dilarang saling berkunjung, inikan embargo ekonomi dan sosial,Orang sekarang mengatakan soft war.

  3. bagja.budiman@yahoo.com mengatakan:

    Jangan meremehkan sesuatu peristiwa.Jangankan masalah ummat,Masalah ekonomi saja ajaran Islam memberi jaminan kepastian dalam investasi.Barang siapa yang wafat masih meninggalkan utang piutang,ia akan tertahan memasuki pintu surga.Kewajiban pelunasan tersebut bukan saja sebatas pada almarhum yang bersangkutan tetapi merupakan bagian kewajiban yang harus ditunaikan oleh keluarganya.Iklim kenyamamanan dalam ekonomi Islam adalah bagian dari akhirat.

  4. abisyakir mengatakan:

    @ Bagja Budiman…

    Dalam Saqifah Bani Saidah itu, peran Abu Sufyan belum ada Pak. Belum ada. Saqifah Bani Saidah di Madinah, Abu Sufyan tinggal di Makkah. Bahkan saat wafatnya Nabi, Abu Sufyan belum dengar itu. Wong, Umar bin Khattab Ra saja belum yakin kalau Nabi Saw sudah wafat. Jadi, dalam saqifah ini, peran Abu Sufyan belum ada. Dia baru berperan di era Khalifah Utsman ketika mulai ada riak-riak perselisihan disana. Itu mesti Anda tahu.

    Admin.

  5. abisyakir mengatakan:

    @ Bagja…

    Tanggalkan fantasi kembali kepada dunia nyata,Abu Sofyan politisi ulung,cerdas dan menghalalkan segala cara.Peristiwa pemboikotan umum terhadap Nabi dan pengikutnya ketika pada fase awal da’wah di Mekkah merupakan bukti piawainya Abu Sofyan untuk melemahkan dan mengisolasi ummat Islam,yaitu;1,Dilarang jual beli dengan Muhammad dan pengikutnya.2.Dilarang menikahkan 3.Dilarang saling berkunjung, inikan embargo ekonomi dan sosial,Orang sekarang mengatakan soft war.

    Komen: Iya di zaman Abu Sufyan kafir memang begitu. Tapi setelah masuk Islam, kan dosa-dosa dan kesalahannya dimaafkan. Jadi kalau sudah Muslim, kita buka lembaran baru, tidak keukeuh dengan catatan-catatan lama. Kalau ngeyel dengan catatan lama, sebenarnya kesalahan Khalid bin Walid saat mengalahkan kaum Muslimin di medan Uhud, itu jauh lebih besar dan menyakitkan. Sekitar 70-an Shahabat wafat di kala itu, salah satunya Hamzah bin Abdul Muthalib Ra. Tapi kan Nabi Saw tidak dendam ke Khalid Ra, setelah beliau masuk Islam. Nah, kaidahnya begitu.

    Jangan meremehkan para Shahabat-lah, mereka lebih tahu cara menghadapi Abu Sufyan, sekalipun dia telah masuk Islam. Contoh, ya sikap Ali bin Abi Thalib Ra yang menolak ide memberontak ke Khalifah Utsman Ra. (Tapi orang Syiah merasa lebih mulia dari Ali Ra, sehingga mereka tidak mau mencontoh sikap kesatria beliau dalam taat kepada pemimpin yang sah).

    Admin.

  6. Idebenone mengatakan:

    Inilah sedikit gambaran sosok Nabi Muhammad SAW. Secara fisik dan ahlak beliau, jika kita baca buku-buku sejarah, maka kita akan menjumpai semuanya penjelasan bagaimana mulianya budi pekerti beliau, digambarkan Beliau adalah sosok seorang yang sempurna, baik secara fisik ataupun perangainya, sebut saja, Beliau adalah seorang yang sangat pemberani, jujur, tegas, pemaaf, berjiwa besar, dermawan, sederhana. Pernah suatu hari Aisyah istri Nabi ditanya; “Bagaimana akhlak atau perangai Nabi?” Aisyah menjawab; “Akhlak Nabi adalah Al-Quran”, maksudnya adalah semua perintah, ajaran Allah yang disampaikan melalui Al-Quran, diaplikasikan Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Dan dari sifat-sifat inilah sebenarnya yang membuat Nabi berhasil dalam dakwahnya, penduduk Arab simpati kepadanya, dan Islam menjadi sebuah agama yang besar. Tak heran semasa kecil Nabi Muhammad SAW dijuluki dengan gelar “al-amiin” atau yang terpercaya.

  7. bagja.budiman@yahoo.com mengatakan:

    @Abi syakir,intinya sekarang saatnya anda mengkaji perkembangan di Gaza supaya anda jadi diri anda sendiri berdasar qura’ny dan Nabimu jangan termakan stigma syiah sesat.Kitab2 yang anda baca adalah kitab 2 yang berbicara kepada dirinya sendiri.Bedah sejarah mhn maaf saya sdh tingkat analisis,anda baru tingkat membaca,Saya katakan Abu Sofyan ketika peristiwa Saqifah Bani Sa’idah berada di Syam(syria) untuk kamuflase tapi gagasannya sdh dirancang dipersiapkan pasca nabi wafat.Anda menganggap saya tidak tahu Saqifah itu di mana,.Saya uraikan pemboikotan umum itu spy anda tahu Abu Sofyan politisi ulung.Dan saya utarakan Abu Sofyan yang mempengaruhi Saidina Abbas untuk berontak kpd Abu Bakar menghadap Ali,ditolak tegas oleh beliau.Informasi ini diambil dari khutbah 5 Ali bin Abu Tholib dan syarah penjelas dalam Nahjul balaghoh halaman 38-40.Mudah2an anda jadi diri sendiri.Mohon maaf,pasti menyinggung anda karena sangat terpaksa,supaya saling memahami kita adalah ummat yang satu,Jangan dihabiskan waktu dan energi oleh stigma .

  8. abisyakir mengatakan:

    @ Bagja…

    Bedah sejarah mhn maaf saya sdh tingkat analisis,anda baru tingkat membaca.

    Komentar: Ya Pak, analisis saya sudah diwujudkan dalam bentuk tulisan/artikel. Sementara Bapak hanya menulis komen sepotong-sepotong begitu. Sebenarnya yang Anda sebut analisis yang bagaimana?

    Saya katakan Abu Sofyan ketika peristiwa Saqifah Bani Sa’idah berada di Syam (syria) untuk kamuflase tapi gagasannya sdh dirancang dipersiapkan pasca nabi wafat.

    Komentar: Anda darimana menyebut Abu Sufyan ada di Syam? Data sejarahnya apa? Wong dia itu tinggal di Makkah, Saqifah Bani Sa’idah ada di Madinah. Abu Sufyan ke Syam itu kalau ada urusan dagang, sebelum dia masuk Islam. Darimana Anda simpulkan Abu Sufyan ketika itu ada di Syam? Mohon sebut data sejarahnya! Anda mau buat analisis apa, kalau data sejarahnya saja tidak ada? Kalau analisis tanpa data sejarah, akhirnya jadi “imajinasi”, jadi seperti film kartun.

    Anda menganggap saya tidak tahu Saqifah itu di mana,.Saya uraikan pemboikotan umum itu spy anda tahu Abu Sofyan politisi ulung.

    Komentar: Masalah utamanya kan Anda menuduh para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum di Saqifah itu telah dihasut oleh Abu Sufyan. Karena Anda sebut Abu Sufyan tokoh munafik, penyusup, dst. Faktanya, secara domisili dia di Makkah, bagaimana bisa berperan di Madinah? Itu satu. Dua, Abu Sufyan baru masuk Islam, setelah peristiwa Fathu Makkah. Bagaimana dia akan mempengaruhi para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum yang senior-senior? Abu Sufyan tidak punya posisi di tengah para Shahabat senior ketika itu. Makanya pernah saya katakan, apa sebodoh itu para Shahabat bisa dikibuli oleh adu domba orang munafik (mengikuti sebutan Anda)? Sampai disini, analisa Anda tidak menemukan pijakannya.

    Dan saya utarakan Abu Sofyan yang mempengaruhi Saidina Abbas untuk berontak kpd Abu Bakar menghadap Ali,ditolak tegas oleh beliau.

    Komentar: Maksudnya berontak kepada Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu setelah beliau terpilih atau sebelum terpilih? Kalau setelah terpilih, maka Abu Sufyan bisa dianggap sebagai pembangkang yang bisa terkena hukum berat, karena tidak patuh kepada Khalifah. Kalau sebelum terpilih, Abu Sufyan tidak dipandang apa-apa oleh para Shahabat senior ketika itu, wong dia baru masuk Islam. Lagi pula dalam proses pemilihan Khalifah Abu Bakar, tidak ada peran Abu Bakar disana.

    Informasi ini diambil dari khutbah 5 Ali bin Abu Tholib dan syarah penjelas dalam Nahjul balaghoh halaman 38-40.

    Komentar: Kitab Najhul Balaghah, kumpulan khutbah2 Ali Radhiyallahu ‘Anhu itu dipertanyakan kredibilitasnya. Kitab itu disebut-sebut sebagai hasil karangan ulama Syiah sendiri, karena menurut para ahli hadits, tidak ada riwayat khutbah-khutbah ‘Ali. Tidak ada itu khutbah Ali. Nah, kalau dasar analisis kita kesana, itu juga tidak ada pijakan yang valid-nya.

    Mudah2an anda jadi diri sendiri.Mohon maaf,pasti menyinggung anda karena sangat terpaksa,supaya saling memahami kita adalah ummat yang satu,Jangan dihabiskan waktu dan energi oleh stigma .

    Komentar: Tidak apa, tidak apa. Saya sempat emosi dengan Bapak karena Bapak begitu mudah bicara ini itu, menuduh ini itu kepada para Shahabat Nabi Saw. Saya tidak terima itu. Adapun kalau kita mau diskusi secara dingin, berbagi pandangan, tukar-menukar pendapat. Tidak apa-apa. Terimakasih.

    Admin.

  9. bagja.budiman@yahoo.com mengatakan:

    Jangan suka memvonis tidak ada,itu bukan dari ‘Ali..Nah itu tadi yang saya katakan baru tahap membaca informasi,cobalah jgn berstigma ,bandingkan dengan informasi yang lain,Baru ada kesimpulan.Karena wajah sejarah tergantung penyusun,tapi kitalah yang menentukan validitas.Mudah2an kita masih mencintai kebenaran bukan stigma.
    Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

  10. bagja.budiman@yahoo.com mengatakan:

    Assalamu’alaikum,w.w.saudaraku kita pantau perkembangan Gaza,Allahumma sholli ‘ala muhammad wa’ala i li muhammad washolli warodhiyallahu ta’ala ‘ala kulli shohabati ajma’in.Amin ya robbal ‘Alamin.

  11. abisyakir mengatakan:

    @ Bagja…

    Jangan suka memvonis tidak ada,itu bukan dari ‘Ali..

    Saya baca Pak buku yang mengkaji masalah kitab Najhul Balaghah itu. Bukunya Ensiklopedi Sunnah-Syiah, karya Prof. Ali Ahmad As Salus, seorang guru besar dari Kuwait. Diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar. Ini bukan vonis, tapi hasil penelitian ilmiah.

    Kalau Anda pernah mengkaji riwayat-riwayat hadits, pasti akan susah menemukan riwayat seputar khutbah yang sepanjang itu. Riwayat khutbah yang terkenal dari Nabi Saw adalah saat Khutbah Haji Wada’. Selebihnya, beliau tidak dikenal memiliki teks khutbah yang lebih panjang dari itu (Khutbah Haji Wada’). Ini untuk selevel Rasulullah Saw; apalagi untuk Ali yang perkataannya tidak otomatis menjadi dalil Syariat? Dan khutbah dalam Najhul Balaghah itu jauh lebih panjang dari isi teks Khutbah Haji Wada’ Rasulullah Saw.

    Maka itu ada ulama yang berkomentar tentang Najhul Balaghah: “Ini adalah kitab yang ada masalah di dalamnya, atau masalah yang ada kitabnya.”

    Nah itu tadi yang saya katakan baru tahap membaca informasi,cobalah jgn berstigma ,bandingkan dengan informasi yang lain,Baru ada kesimpulan.

    Saya membandingkan Najhul Balaghah dengan Khutbah Haji Wada’ dan hasil penelitian ulama terkait kitab itu. Itu sudah perbandingan. Sementara Bapak menilai hanya dari sisi khutbah itu sendiri (Najhul Balaghah).

    Karena wajah sejarah tergantung penyusun,tapi kitalah yang menentukan validitas.Mudah2an kita masih mencintai kebenaran bukan stigma. Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    Yang terkenal itu, wajah sejarah bagaimana para penguasa di zaman tersebut. Bukan kita yang menentukan validitas sejarah, sebab kita bukan hakim dalam hal ini; tetapi ya melalui penelitian sejarah dan metode validasi ilmiahnya, akan didapat kesimpulan itu. Mohon maaf kalau ada yang bersifat stigma, mohon diampunkan. Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Admin.

  12. bagja.budiman@yahoo.com mengatakan:

    Alhamdulillah saudaraku,anda orang yang mau membuka pintu kebenaran.Banyak sekali sejarah sampah dari produk politisasi.Cobalah karya Prof.Philip K Hitti,kita akan mampu merekonstruksi sejarah Islam.Baru saya alami diskusi ini bermanfaat,karena yang saya hadapi seorang ustadz besar bukan kerdil yang menjual dogma dan stigma yang berujung kerendahan Islam tentang arti kemanusiaan.dan pemikiran.Saudaraku perlawanan Hamas telah membuat Israel tidak mendapat apa2 ,secara politis,bahkan membuka blokade di Jalur Gaza serta menyegerakan gencatan senjata.Kita analisis mengapa dan bagaimana Hamas setangguh itu?

  13. abisyakir mengatakan:

    @ Bagja…

    Ya setuju, memang secara politik Hamas mendapat keuntungan besar dengan perjanjian genjatan senjata itu, karena enclave atas Ghaza segera dibuka. Tapi belajar dari sejarah, sejak kapan sih Yahudi Israel bisa dipercaya? Apa hasil genjatan senjata itu akan mengakhiri kebrutalan Israel? Rasanya sulit ya. Tapi pembukaan boikot atas Ghaza patut disyukuri oleh semua Muslim, alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

    Admin.

  14. bagja.budiman@yahoo.com mengatakan:

    @Ya aba syakir,cobalah bandingkan dengan buku ;PUNCAK KEFASIHAN(Nahjul Balaghah,pilihan khotbah,surat dan ucapan ‘ALI BIN ABI THALIB RA, dihimpun oleh SYARIF RADHI,Syarah oleh SYED ALI RAZA, terjemah oleh MUHAMMAD HASYIM ASSAGAF,Penerbit LENTERA. Semoga Allah membuka hati dan pemikiran kita.

  15. ihsan mengatakan:

    Memang betul kalo org syi’ah itu keras kepala,munafik,percaya pd hadits2 palsu utk meligitimate keyakinannya yg didasarkan pd ke bohongan dan rasa dengki ygtidak habis2 dan rela masuk Neraka utk itu.Rujukan mereka adalah kitab2 yg dikarang ulama “BESAR” mereka semisal Al-Kulaini,Al -Qummy ,dll yg isinya banyak hadits2 palsu yg malah menodai diri pribadi Saidina Ali bin Abi Thalib. Me reka tetap menghujat Kekhalifahan Abu Bakar,Umar dan Utsman yg telah berjasa menegakkan dan mengembang agama Islam dlm tempo 20 thn, dan semua itu terjadi atas izin Allah.Kalau mereka tdk senang dgn kemajuan Islam dimasa lalu itu,berarti mereka buk an Islam yg benar,tetapi musuh Islam yg mengatas namakan Syi’ah Ali,yg mana Ali sendiri berlepas diri dari klaim2 mereka itu.

  16. mukhlis mengatakan:

    ohhh ini tohh diskusi yg aku disuruh masuk oleh mr Abusyakir…
    Apakah Ali bin Abi Thalib Haus Kekuasaan?

    repons : klw mmg Imam Ali haus kekuasaan, setelah fardhu kifayah Rasul selesai, darah kaum muslim akan tumpah…
    apa kata dunia? klw kubur Rasul belum kering telah terjadi perebutan kekuasaan.

    ga-lah mgkn sekaliber Imam Ali mau menumpahkan darah sesama Muslim.
    bukankah sesama Muslim itu saling membantu.

    nahhh cara begini yg membuat saya aneh, kenapa Mr Abusyakir dimana-mana condong berputar-putar dalam masalah syiah dan ahlulbayt…. (apa mau jadi capres ya? cari banyak dukungan dengan mejatuhkan pihak lain dan menaikkan harga jual?)

    oalah Mister…. ternyata lebih banyak tulisan mister Abusyakir yg ngaco…

    makasih banyak ya Mister telah menunjukkan kepada saya ttg pola pikir Mister.

    asalamu’alaikum ….
    cling!

  17. abisyakir mengatakan:

    @ Mukhlis…

    repons: klw mmg Imam Ali haus kekuasaan, setelah fardhu kifayah Rasul selesai, darah kaum muslim akan tumpah… apa kata dunia? klw kubur Rasul belum kering telah terjadi perebutan kekuasaan. ga-lah mgkn sekaliber Imam Ali mau menumpahkan darah sesama Muslim. bukankah sesama Muslim itu saling membantu.

    Jawab: Kalau Anda konsisten dengan Imamah, bahwa ia melebihi Tauhidullah, maka pertumpahan darah pun pasti akan ditempuh. Tetapi kan Ali bin Abi Thalib Ra bukan manusia busuk seperti yang Anda sangka. Beliau manusia yang mulia, beliau tidak mendengki kekuasaan, bahwa tidak gila dunia. Hanya orang-orang Syiah yang telah membuat riwayat hidup Ali Ra menjadi buruk dan terkesan gila jabatan (seperti anggota DPR).

    nahhh cara begini yg membuat saya aneh, kenapa Mr Abusyakir dimana-mana condong berputar-putar dalam masalah syiah dan ahlulbayt…. (apa mau jadi capres ya? cari banyak dukungan dengan mejatuhkan pihak lain dan menaikkan harga jual?) oalah Mister…. ternyata lebih banyak tulisan mister Abusyakir yg ngaco… makasih banyak ya Mister telah menunjukkan kepada saya ttg pola pikir Mister.

    Jawab: Tidak ada yang disembunyikan disini. Kami diskusi biasa-biasa saja. Anda akan tahu pemikiran kami, pendapat kami, juga pendirian kami, dengan izin Allah. Kalau Anda menyebut saya “ngaco”, lalu apa yang mesti saya katakan untuk Anda? Tolong beritahu bagaimana saya mesti mengatakan tentang Anda!

    Admin.

  18. mukhlis mengatakan:

    @Abusyakir : Kalau Anda konsisten dengan Imamah, bahwa ia melebihi Tauhidullah, maka pertumpahan darah pun pasti akan ditempuh. Tetapi kan Ali bin Abi Thalib Ra bukan manusia busuk seperti yang Anda sangka. Beliau manusia yang mulia, beliau tidak mendengki kekuasaan, bahwa tidak gila dunia. Hanya orang-orang Syiah yang telah membuat riwayat hidup Ali Ra menjadi buruk dan terkesan gila jabatan (seperti anggota DPR).
    Respon : Anda memang ada kelainan jiwa Abusyakir.
    dimana tulisan saya berkata ” Sy Ali manusia busuk. beliau mendengki kekuasaan dan gila dunia.”

    kalau konsisten ttg imamah… apa ada saya tulis kalau saya konsisten penganut mazhab Imamah?
    .. Abusyakir baca ulang donk tulisan saya

    @Abusyakir: Tidak ada yang disembunyikan disini. Kami diskusi biasa-biasa saja. Anda akan tahu pemikiran kami, pendapat kami, juga pendirian kami, dengan izin Allah. Kalau Anda menyebut saya “ngaco”, lalu apa yang mesti saya katakan untuk Anda?
    Respon : pendapat Anda seolah harus dijadikan pegangan, itu yg saya herankan. di judul Kalau Syiah sesat….dst.
    Anda dengan pongahnya menilai akidah orang lain sesat.
    hingga menyuruh kaum SYiah ga usah ke Ka’ba.
    padahal ulama seluruh dunia juga mengakui kalau syiah itu Islam.
    gini aja dehh… Anda ke Iran sendirian dan cari kumpulan penganut Syiah lalu ABusyakir berteriak dengan lantang bahwasannya Syiah itu sesat, penyembah berhala dan bukan Islam sehingga ga perlu ke Ka’ba lagi.
    itu baru saya salut dengan ke-konsisten-an anda sebagai fanatik Ahlulsunnah.
    ..
    Nah disini pun anda menyepelakan pendapat warga yg menjadi korban di Sampang…

    pikiran Abusyakir terlalu cepat menuduh anggota dpr itu gila jabatan, ingat mister..tidak semua anggota dpr itu gila jabatan.
    anda jgn terlalu cepat menuduh.

    @Abusyakir: Tolong beritahu bagaimana saya mesti mengatakan tentang Anda!
    Respon : saya seorang yg mencari kebenaran Islam melalui beberapa alur sejarah Islam.
    mengapa ada sekte-sekte yg bisa menimbulkan perpecahan hingga bertumpah darah.
    Awalnya Islam itu satu, sepeninggal Rasul SAWW mengapa ada perpecahan.
    (jangan anda berkilah itu sudah takdir)

    nahh kalau menurut abusyakir, apa saya salah?
    wasalam..
    cling!!!!

  19. abisyakir mengatakan:

    @ Mukhlis…

    Respon : Anda memang ada kelainan jiwa Abusyakir.

    Jawab: As’alullah al ‘afiyah. Saya mohon keselamatan kepada Allah dari sebutan seperti itu. Sepertinya Anda sudah sedemikian emosi.

    Anda dengan pongahnya menilai akidah orang lain sesat. hingga menyuruh kaum SYiah ga usah ke Ka’ba.
    padahal ulama seluruh dunia juga mengakui kalau syiah itu Islam. gini aja dehh… Anda ke Iran sendirian dan cari kumpulan penganut Syiah lalu Abusyakir berteriak dengan lantang bahwasannya Syiah itu sesat, penyembah berhala dan bukan Islam sehingga ga perlu ke Ka’ba lagi. itu baru saya salut dengan ke-konsisten-an anda sebagai fanatik Ahlulsunnah.

    Jawab: Jangankan begitu, wong jutaan Muslim Sunni di Iran, sudah dianiaya regim Imamiyah sejak dahulu. Harus diingat awalnya Iran itu negeri Ahlus Sunnah, sebelum jatuh ke pelukan Khomeini dkk. Sama juga, kalau Anda berani menghina kehormatan Aisyah, Abu Bakar, Umar, dst. Ra di depan pemuda Ahlus Sunnah; Anda akan merasakan akibatnya.

    Nah disini pun anda menyepelakan pendapat warga yg menjadi korban di Sampang… pikiran Abusyakir terlalu cepat menuduh anggota dpr itu gila jabatan, ingat mister..tidak semua anggota dpr itu gila jabatan. anda jgn terlalu cepat menuduh.

    Jawab: Ya kita melihat yang rata-rata saja…tidak person to person. Kalau tidak “gila jabatan”, pastinya tak akan betah di lembaga macam begitu.

    Respon : saya seorang yg mencari kebenaran Islam melalui beberapa alur sejarah Islam. mengapa ada sekte-sekte yg bisa menimbulkan perpecahan hingga bertumpah darah. Awalnya Islam itu satu, sepeninggal Rasul SAWW mengapa ada perpecahan. (jangan anda berkilah itu sudah takdir). nahh kalau menurut abusyakir, apa saya salah?

    Jawab: Salah Anda jelas, Anda begitu mudah mengatakan ke orang lain dengan kata-kata sinis dan merendahkan; padahal bisa jadi yang rendah adalah diri Anda sendiri.

    Kemudian salah Anda yang lain, Anda mencari kebenaran kok melalui TAFSIRAN SEJARAH versi Syiah. Itu sama kayak mau menilai Al Qur`an dengan tafsiran hermeneutika Kristen Barat. Sejak awal, Anda sudah apriori dulu; merasa lebih hebat dari Abu Bakar dan Umar, padahal berperang sekali saja Anda tak pernah ikut.

    Begini…saya berikan satu kunci utama kesalahan Syiah Imamiyah. Dalam At Taubah ayat 100 disebutkan, bahwa Allah Ta’ala telah MERIDHAI kaum Muhajirin dan Anshar, dan mereka pun ridha kepada Allah. Sifat keridhaan ini sama seperti dalam Surat Al Maa’idah ayat 3, ketika Allah meridhai Islam sebagai agama kaum Muslimin. Maka kemuliaan Shahabat Nabi (secara umum) adalah sudah FINAL, tidak boleh diutak-atik lagi. Tetapi kaum Syiah menjadikan para Shahabat Nabi sebagai sasaran fitnah, kedengkian, hujatan, laknatan, dst. Kalau mereka melaknati para Shahabat, hal itu sama dengan: mereka melawan RIDHA Allah Ta’ala. Akibatnya, mereka mendapat kutukan dari Allah, dan seluruh makhluk di langit dan bumi.

    Tafsiran sejarah yang Anda lakukan itu, tidak ada artinya, karena ia melawan keridhaan Allah. Sama sekali tidak ada artinya. Sama tidak ada artinya ketika Karl Marx membuat tafsiran sejarah yang mengingkari Kenabian dan Wahyu dari langit. Semua itu hanya sia-sia belaka, dan akibatnya terlaknat.

    Silakan itu Anda renungkan….

    Admin.

  20. mukhlis mengatakan:

    @abusyakir: As’alullah al ‘afiyah. Saya mohon keselamatan kepada Allah dari sebutan seperti itu. Sepertinya Anda sudah sedemikian emosi.
    Respon : Syukur Alhamdulillah.. saya juga ga terpancing emosi koq..
    apa gunanya emosi dalam berdiskusi.
    Saya kuatir dengan kesehatan Abusyakir, kalau anda sakit, siapa yg ngurus blog ini.. sama sapa lagi saya diskusi, itu aja koq,

    @Abusyakir: Jangankan begitu, wong jutaan Muslim Sunni di Iran, sudah dianiaya regim Imamiyah sejak dahulu.
    Respon : hlaa trus mau gimana? mau balas dendam atau harus perang dengan rejim Syiah Iran? dan saya ga ada baca tentang pembasmian kaum Sunni di Iran yg melenyapkan jutaan nyawa.

    @Abusyakir: Harus diingat awalnya Iran itu negeri Ahlus Sunnah, sebelum jatuh ke pelukan Khomeini dkk.
    Respon: apa Iran harus dikembalikan kepada Reza Pahlevi kembali sehingga anda menjadi senang?

    @Abusyakir: Sama juga, kalau Anda berani menghina kehormatan Aisyah, Abu Bakar, Umar, dst. Ra di depan pemuda Ahlus Sunnah; Anda akan merasakan akibatnya.
    Respon : kapan saya menghina kehormatan Aisyah, AbuBakr, Umar dst..?
    saya hanya membaca sejarah, dari riwayat2 penulisan sejarah ada saya baca kisah para sahabat, kan nggak bagus klw ada yg disamarkan atau di tutup-tutupi. Prinsip saya adalah ;
    menimbang suatu masalah adalah dengan mengetahui akar masalah dari kedua pihak. Bukan sepihak.

    @Abusykir: Ya kita melihat yang rata-rata saja…tidak person to person. Kalau tidak “gila jabatan”, pastinya tak akan betah di lembaga macam begitu.
    Respon : terimakasih, ini memperjelas kalau Abusyakir suka menilai dari keseluruhan suatu kelompok atau golongan.

    @Abusyakir : Salah Anda jelas, Anda begitu mudah mengatakan ke orang lain dengan kata-kata sinis dan merendahkan; padahal bisa jadi yang rendah adalah diri Anda sendiri.
    Respon : yup, saya akui kalau diri saya sangat rendah dibanding Abusyakir.

    @Abusyakir : Kemudian salah Anda yang lain, Anda mencari kebenaran kok melalui TAFSIRAN SEJARAH versi Syiah. Itu sama kayak mau menilai Al Qur`an dengan tafsiran hermeneutika Kristen Barat. Sejak awal, Anda sudah apriori dulu; merasa lebih hebat dari Abu Bakar dan Umar, padahal berperang sekali saja Anda tak pernah ikut.
    Respon : Tafsiran Sunni sudah saya coba memahami dari sekolah, pengajian dan kitab sejarah, kalau anda melarang saya membaca Tafsiran sejarah kaum Syiah, sungguh ter-la-lu…
    Saya ga pernah nulis lebih hebat dari Abu Bakar dan Umar, sebaiknya jangan mengada-ada cuyy..

    at Taubah : 100
    “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
    Respon :
    Dan disitu tertulis dengan jelas ada kata-kata “diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”
    Bukan kalimat “seluruh” orang Muhajirin dan “Seluruh” orang Anshar, masih ada kalimat “diantara”.
    Dan saya belum pernah membaca arti atau tafsir dari Kaum Syiah, sehingga saya tidak dapat membuat argumen lebih jauh.

    al-Maidah : 3
    “Hari ini Aku sumpurnakan agamamu dan Kulengkapi nikmatku, dan Aku ridha kepadamu Islam sebagai agama.”

    Respon :
    1. Shahih Bukhari 1: 16: Umar bin Khattab mengatakan ayat ini turun pada hari Arafah, hari Jum’at dalam haji wada’. (juga dalam jilid 5:127 dan jilid 8: 137).
    2. Sunan An-Nasa’i 5: 251: Dari Umar bin Khattab, ayat ini turun pada hari Arafah, hari Kamis, dalam haji wada’.

    nahh bahkan baru saja ini juga saya google bahwa;
    (saya ada kutipkan sedikit ttg info turunnya ayat ini)

    Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.” Kemudian Umar bin Khattab berkata: Selamat, selamat wahai putera Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin semua orang-orang mukmin. Kemudian turunlah ayat: Alyawma akmaltu lakum dînakum…(Al-Maidah: 3)

    Masih Respon : saya baca kalimat pelaknatan kepada para Sahabat apalagi Pelaknatan dari ALLAH SWT atas dua ayat yg Abusyakir maksudkan diatas.

    @Abusyakir : Tafsiran sejarah yang Anda lakukan itu, tidak ada artinya, karena ia melawan keridhaan Allah. Sama sekali tidak ada artinya. Sama tidak ada artinya ketika Karl Marx membuat tafsiran sejarah yang mengingkari Kenabian dan Wahyu dari langit. Semua itu hanya sia-sia belaka, dan akibatnya terlaknat.

    Respon : bagi saya memahami perpecahan Islam itu harus lewat sejarah, karena masalah dimasa lalu akan berdampak ke masa akan datang.

    Saya lihat Abusyakir mmg santun dan berjiwa besar.
    sehingga kerap menulis “akibatnya terlaknat”
    Namun Anusyakit terlalu cepat melaknat saya dan kaum Syiah, padahal saya sampai detik ini (tgl 20maret2013 pukul 23:02)
    belum pernah sekalipun berjumpa apalagi berdiskusi dengan penganut Syiah. saya ulang “demi ALLAH saya belum pernah bertemu tuk berdialog baik melalui email/chatting apalagi ketemu dengan penganut sekte Syiah”

    hehehe
    Yang saya ketahui, Kaum Syiah di Iran sampai sekarang masih eksis peradabannya meski di embargo oleh kaum Musrik.
    trus yg Abusyakir katakan dilaknat ALLAH SWT apanya?

    wahh puaanjang juga diskusi kita ya mister Abusyakit..
    sampe larut malam saya nge-net… hehehehe

    makasih Mister Abusyakir..
    wasalam..

    clingg!!!

  21. abisyakir mengatakan:

    @ mukhlis…

    Respon: hlaa trus mau gimana? mau balas dendam atau harus perang dengan rejim Syiah Iran? dan saya ga ada baca tentang pembasmian kaum Sunni di Iran yg melenyapkan jutaan nyawa.

    Jawab: Kamu sendiri kan mempersoalkan Fathimah Ra dimakamkan sendiri oleh keluarganya. Itu kamu jadikan akidah dan titik-tolak beragama. Terus terhadap nasib jutaan kaum Sunni di Iran dan ulama-ulama mereka yang dianiaya regim Khomeini Cs…masak kamu remehkan? Menurut kamu, lebih besar mana nilainya, tidak menghadiri prosesi pemakaman atau memberangus hak-hak kaum Muslimin di Iran?

    Kalau kamu gak tahu informasi itu, mudah saja caranya. Kamu googling kalimat berikut “nasib ahlus sunnah di Iran” atau “penderitaan ahlus sunnah di iran” atau “penindasan syiah terhadap ahlussunnah di iran”. Ya cari dengan kata kunci sejenis itu.

    Kalau kamu belum tahu ini, jangan merasa sok pintar lah dengan menulis stigma2 murahan begitu. Kamu ini kayak anak kecil yang tidak berharga.

    Respon: apa Iran harus dikembalikan kepada Reza Pahlevi kembali sehingga anda menjadi senang?

    Jawab: Saya tidak ada urusan dengan Reza Pahlevi; tetapi di masa dia nasib Ahlus Sunnah di Iran lebih baik, tidak ditindas oleh kekuasaan Khomeini Cs. Ngomong2 di bagian yang lalu, kamu mengaku bukan bagian dari Syiah, mengaku tidak pernah diskusi dengan orang Syiah satu pun; kok sekarang kamu kelihatan banget membela Syiah Imamiyah di Iran? Ada apa ya… ada dusta disini?

    Respon: kapan saya menghina kehormatan Aisyah, Abu Bakr, Umar dst..? saya hanya membaca sejarah, dari riwayat2 penulisan sejarah ada saya baca kisah para sahabat, kan nggak bagus klw ada yg disamarkan atau di tutup-tutupi. Prinsip saya adalah; menimbang suatu masalah adalah dengan mengetahui akar masalah dari kedua pihak. Bukan sepihak.

    Jawab: Di diskusi kamu sebelumnya, memang tidak menyinggung soal Aisyah Ra. Tapi kamu menyebutkan wasiat Fathimah Ra, bahwa dia tak mau dishalati oleh Abu Bakar dan Umar. Kamu sebutkan bahwa kebijakan Abu Bakar soal tanah fadak keliru, maka itu dikoreksi di zaman Umar Abdul Aziz. Lalu kamu kaitkan dengan “logika standar” kaum Syiah: saat Ahlul Bait sibuk mengurus jenazah Nabi Saw, para Shahabat lain sibuk bicara politik. Penafsiran demikian di mata Ahlus Sunnah yang menjunjung kehormatan para Shahabat Nabi Ra, adalah SENSITIF. Meskipun kalau menurut standar kamu itu “biasa-biasa saja”.

    Tapi sebenarnya konteks masalahnya, kan kamu meminta saya berkoar-koar menyesatkan kaum Syiah di negerinya sono. Saya saya jawab, sama juga kalau kamu berkoar-koar menyesatkan para Shahabat di mata Ahlus Sunnah, ya kurang lebih begitulah akibatnya.

    Dan disitu tertulis dengan jelas ada kata-kata “diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” Bukan kalimat “seluruh” orang Muhajirin dan “Seluruh” orang Anshar, masih ada kalimat “diantara”. Dan saya belum pernah membaca arti atau tafsir dari Kaum Syiah, sehingga saya tidak dapat membuat argumen lebih jauh.

    Jawab: Halah, Anda ini berpura-pura. Tafsiran Anda ini jelas tafsiran Syiah. Ahlus Sunnah tidak akan membuat tafsiran begitu. Fokus Anda kan ke kata “min”, lalu Anda terjemahkan “di antara”. Maksud Anda ialah, yang diridhai dari kalangan Muhajirin dan Anshar itu hanya: Ali, Fathimah, Hasan, Husein, Salman, Abu Dzar Al Ghifari, Aqil, dan beberapa orang selain mereka. Ini jelas tafsiran versi Syiah, bukan Ahlus Sunnah.

    Coba kita jelaskan ayat ini…

    وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100)

    ==> Kata “min” dalam ayat ini bukan bermakna “di antara” tetapi bermakna “dari”. Kata-kata “min” ini adalah untuk menjelaskan siapa sejatinya “as sabiqunal awwalun” tersebut? Assabiqunal awwalun adalah kata-kata yang sifatnya umum, atau belum jelas. Mereka itu bisa ditafsirkan ke arah siapa saja yang pernah menjadi generasi perintis, atau generasi permulaan. Orang-orang Arab jahiliyah yang mendiami negeri-negeri Arab pada kali pertama, bisa juga masuk istilah “as sabiqunal awwalun” itu. Tetapi Allah membatasi makna as sabiquunal awwalun ini dengan kata: Minal muhajirina wal anshar. Jadi bukan assabiqunal awwalun sembarangan, tapi dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

    ==> Lalu tafsiran Muhajirin dan Anshar itu bagaimana? Ya kembali kepada penafsiran Nabi Saw ketika menyebut kaum Muslimin yang hijrah dari Makkah sebagai Muhajirin; dan kaum Muslimin yang menolong Muslim asal Makkah, sebagai Anshar. Hal itu dicatat sejarah ketika Nabi Saw mempersaudarakan dua komunitas tsb.

    ==> Kalau ditafsirkan “min” sebagai “di antara” maka ayat ini akan menjadi masalah. Pertanyaannya, lalu siapa yang masuk dalam barisan “min” itu? Pastinya kaum Syiah sudah punya tafsiran sendiri soal siapa yang layak mereka terima sebagai Shahabat Nabi. Lalu adakah di antara tokoh-tokoh yang disebut Syiah masuk dalam kata “min” itu yang termasuk orang Anshar (asal Madinah)? Abu Dzar dari Ghifar, bukan dari Madinah. Dia masuk Islam ketika masih di Makkah, lalu balik ke kampungnya lagi. Kalau dia dianggap dari Madinah, dia hanya satu; padahal kata Anshar itu maknanya orang banyak; dan Abu Dzar tidak termasuk yang membantu kaum Muslimin di awal hijrah dari Makkah ke Madinah.

    ==> Andaikan benar tafsiran Syiah atas ayat tersebut, mengapa KONSENSUS Para Shahabat Nabi Saw tidak menyatakan hal itu? Siapa sebenarnya yang lebih layak diikuti, imam-imam Syiah atau konsensus para Shahabat Nabi Ra?

    ==> Sepakat para ulama tafsir Ahlus Sunnah untuk menolak tafsiran versi Syiah tersebut. Sebab tafsiran itu sangat diskriminatif dan menafikan kontribusi kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar dalam jumlah besar dan sangat besar jasanya bagi Islam dan kaum Muslimin.

    al-Maidah: 3. “Hari ini Aku sumpurnakan agamamu dan Kulengkapi nikmatku, dan Aku ridha kepadamu Islam sebagai agama.” Respon: 1. Shahih Bukhari 1: 16: Umar bin Khattab mengatakan ayat ini turun pada hari Arafah, hari Jum’at dalam haji wada’. (juga dalam jilid 5:127 dan jilid 8: 137).
    2. Sunan An-Nasa’i 5: 251: Dari Umar bin Khattab, ayat ini turun pada hari Arafah, hari Kamis, dalam haji wada’. nahh bahkan baru saja ini juga saya google bahwa; (saya ada kutipkan sedikit ttg info turunnya ayat ini). Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.” Kemudian Umar bin Khattab berkata: Selamat, selamat wahai putera Abu Thalib, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin semua orang-orang mukmin. Kemudian turunlah ayat: Alyawma akmaltu lakum dînakum…(Al-Maidah: 3). Masih Respon : saya baca kalimat pelaknatan kepada para Sahabat apalagi Pelaknatan dari ALLAH SWT atas dua ayat yg Abusyakir maksudkan diatas.

    Jawab: Sudahlah Anda gak usah berpura-pura, Anda ini orang Syiah; termasuk kalangan dai Syiah. Sudahlah tidak usah menutup-nutupi. Omongan kamu dari awal diskusi sampai sekarang, menjelaskan siapa diri kamu. Meskipun kamu bersumpah 1000 kali bahwa kamu bukan Syiah, saya tidak percaya. Apa yang bisa dipercaya dari orang Syiah yang menghalalkan taqiyah secara mutlak?

    Coba lihat betapa jelas kebodohan kamu itu…

    1. Kata-kata “al yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa radhitu lakum Islama dinan”. Ayat ini memakai kata KUM sampai empat kami. Kata KUM disana maknanya jamak (banyak). Ia tidak bisa ditafsirkan untuk Ali Ra doang. Tidak bisa itu. Wong jelas2 memakai kata KUM, sampai 4 kali lagi. Maka terjemahan versi kamu itu otomatis ditolak.

    2. Disana ada kata “wa radhitu lakum islama dinan”. Ini kamu terjemahkan: Aku ridhai kepadamu (ALI) Islam sebagai agama. Lalu, selain Ali agamanya apa, wahai Rafidhah? Bukankah ketika itu juga sudah ada Fathimah Ra, Hasan Ra, Husein Ra, dan lainnya? Mengapa di ayat itu isinya cuma untuk Ali, wahai Rafidhah?

    3. Kamu sendiri kan menulis di komen bodoh kamu itu, bahwa momen turunnya ayat itu saat HAJI WADA’. Menurut referensi sejarah yang pernah kamu baca, siapa yang ikut Haji Wada’ itu? Cuma Ali doang ya? Untungnya kamu ini tidak menyebutkan identitas kamu secara jelas; kalau kamu sebut, semua ini akan mempermalukan kamu sendiri.

    4. Orang Syiah menyebut Surat Al Maa’idah ayat 3 itu hanya untuk Ali Ra. Ini adalah PELECEHAN BESAR terhadap Allah Ta’ala. Seolah Allah Ta’ala tidak bisa berbahasa Arab, dan Allah tidak bisa membedakan antara komunitas orang banyak dengan sosok individu Ali. Kalau mengikuti tafsiran Syiah, Allah memakai bahasa kolektif untuk memberi ketetapan kepada Ali Ra seorang.

    5. Kacaunya lagi, dalam tafsiran Syiah Rafidhah; mereka sampai melukapan posisi Nabi Saw, padahal ayat itu turun kepada beliau, beliau pula yang membacakannya kepada kaum Muslimin. Kalau begini caranya, bisa gila manusia2 yang mengikuti tafsiran-tafsiran Syiah.

  22. abisyakir mengatakan:

    @ Mukhlis…

    Saya lihat Abusyakir mmg santun dan berjiwa besar. sehingga kerap menulis “akibatnya terlaknat”
    Namun Anusyakit terlalu cepat melaknat saya dan kaum Syiah, padahal saya sampai detik ini (tgl 20maret2013 pukul 23:02). belum pernah sekalipun berjumpa apalagi berdiskusi dengan penganut Syiah. saya ulang “demi ALLAH saya belum pernah bertemu tuk berdialog baik melalui email/chatting apalagi ketemu dengan penganut sekte Syiah”

    hehehe. Yang saya ketahui, Kaum Syiah di Iran sampai sekarang masih eksis peradabannya meski di embargo oleh kaum Musrik. trus yg Abusyakir katakan dilaknat ALLAH SWT apanya? wahh puaanjang juga diskusi kita ya mister Abusyakit.. sampe larut malam saya nge-net… hehehehe

    Jawab: Kamu ini kalau ketahuan bodohnya, begitu mudah melecehkan orang lain. Sungguh, meskipun kamu bersumpah 1000 kali, saya tidak percaya omongan kamu. Kamu bukan tipe manusia yang layak dihargai kata-katanya.

    Kamu sebut saya kerap menulis “akibatnya terlaknat”. Dalam diskusi ini coba sebut berapa kali saya yang kamu sebut “kerap” itu? Saya memohon kepada Allah, agar setiap cacian/pelecehan yang kamu lakukan, hal ini menjadi kaffarat penggugur dosa-dosa saya. amin Allahumma amin. Dan semoga, semakin panjang dan lama, kata-kata melecehkan itu tersebar; semoga akibatnya kembali kepada si pelaku (kamu).

    Admin.

  23. mukhlis mengatakan:

    whahhaha…
    oalah masih lanjut rupanya..
    tp hari dah larut malam pula..saya besok pagi harus bekerja..
    saya akan jawab malam ini semampu saya..
    yg lainnya insyaALLAH akan saya upayakan…

    @Abusyakir: Kamu sendiri kan mempersoalkan Fathimah Ra dimakamkan sendiri oleh keluarganya. Itu kamu jadikan akidah dan titik-tolak beragama. Terus terhadap nasib jutaan kaum Sunni di Iran dan ulama-ulama mereka yang dianiaya regim Khomeini Cs…masak kamu remehkan? Menurut kamu, lebih besar mana nilainya, tidak menghadiri prosesi pemakaman atau memberangus hak-hak kaum Muslimin di Iran?

    Kalau kamu gak tahu informasi itu, mudah saja caranya. Kamu googling kalimat berikut “nasib ahlus sunnah di Iran” atau “penderitaan ahlus sunnah di iran” atau “penindasan syiah terhadap ahlussunnah di iran”. Ya cari dengan kata kunci sejenis itu.

    Kalau kamu belum tahu ini, jangan merasa sok pintar lah dengan menulis stigma2 murahan begitu. Kamu ini kayak anak kecil yang tidak berharga.

    Respon :
    Persoalan Fadak dan tidak diizinkannya AbuBakr menyolati jenazah Sy Fatimah itu sudah jelas di judul sebelah, tp Abusyakir ttp kekeuh menjawab itu masalah pribadi mereka…
    lalu abusyakir katakan itu jadi akidah saya, whahahhaha
    aneh jalan pikiran anda klw kejadian itu jadi akidah buat diri saya, ga segampang itu merubah akidah. :)
    dan ga apa-apa disebut anak kecil ga berharga, daripada suka memecah umat muslim seperti Abusyakir.

    anda sebutkan Rejim Khomeini.. saya belum belajar sampai kepada jaman khomeini, masih sekilah aja yg tau ttg latar belakang beliau.
    mengenai terbunuhnya ‘juta-an’ kaum Sunni, saya masih ragukan itu, yg namanya informasi dari sunni dan syiah belum ada saya ketahui pastinya, nanti saya usahakan cari ya Mister Abusyakir.

    @Abusyakir : Saya tidak ada urusan dengan Reza Pahlevi; tetapi di masa dia nasib Ahlus Sunnah di Iran lebih baik, tidak ditindas oleh kekuasaan Khomeini Cs. Ngomong2 di bagian yang lalu, kamu mengaku bukan bagian dari Syiah, mengaku tidak pernah diskusi dengan orang Syiah satu pun; kok sekarang kamu kelihatan banget membela Syiah Imamiyah di Iran? Ada apa ya… ada dusta disini?

    Respon : baguslah kalau Abusyakir ga berhubungan dengan Reza Pahlevi. namun untuk membela Syiah Imamiyah mmg tulisan saya berkesan membela, saya akui karena sebagai pembanding bagi tulisan Abusyakir yg ketus terhadap negara Iran dan pendapat pengikut mazhab Syiah.
    ga maksud ada dusta koq, istilah medannya -markombur aja- karena blogg Abusyakir dibaca banyak orang.

    @ABusyakir : Sudahlah Anda gak usah berpura-pura, Anda ini orang Syiah; termasuk kalangan dai Syiah. Sudahlah tidak usah menutup-nutupi. Omongan kamu dari awal diskusi sampai sekarang, menjelaskan siapa diri kamu. Meskipun kamu bersumpah 1000 kali bahwa kamu bukan Syiah, saya tidak percaya. Apa yang bisa dipercaya dari orang Syiah yang menghalalkan taqiyah secara mutlak?

    Respon : tuhh kan suka fitnah.. abusyakir ga percaya kalau saya belum pernah sekalipun berjumpa untuk belajar masalah Syiah dengan orang penganut faham Syiah.
    silahkan anda datang ke Medan untuk berjumpa dengan saya, gpp koq saling silaturahim.
    dan ingat saya ikut sholat jum’at dikampung saya sekarang sudah pakai cara Syiah, dan ga ada orang yg bertanya atau melecehkan, saya ga suka sembunyi-sembunyi.

    @Abusyakir : Kata-kata “al yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa radhitu lakum Islama dinan”. Ayat ini memakai kata KUM sampai empat kami. Kata KUM disana maknanya jamak (banyak). Ia tidak bisa ditafsirkan untuk Ali Ra doang. Tidak bisa itu. Wong jelas2 memakai kata KUM, sampai 4 kali lagi. Maka terjemahan versi kamu itu otomatis ditolak.

    Respon : saya gak ada bilang khusus utk Sy Ali, saya hanya menukil asbabun nuzhul ayat tersebut.
    kalau Abusyakir ada terjemahannya, silakan ditulis, biar saya bisa mengerti. santai aja Mister Abusyakir.
    Kalau Abusyakir mau nolak, silakan tolak arti di Qur’an.

    @Abusyakir : Disana ada kata “wa radhitu lakum islama dinan”. Ini kamu terjemahkan: Aku ridhai kepadamu (ALI) Islam sebagai agama. Lalu, selain Ali agamanya apa, wahai Rafidhah? Bukankah ketika itu juga sudah ada Fathimah Ra, Hasan Ra, Husein Ra, dan lainnya? Mengapa di ayat itu isinya cuma untuk Ali, wahai Rafidhah?
    Respos : itu Abusyakir sendiri yg nulis khusus untuk Sy Ali, saya nggak ada tuhh, saya hanya kutip ttg Asbabun Nuzhul-nya. Yg bilang khusus utk Sy Ali itu siapa? bukan saya kan? Bukankah Sy Umar yg mengatakan kata-2 tersebut saat Haji Wada’ , itu pun tertulis di kitab An-Nasa’i…. hehhehe

    @Abusyakir : Kalau kamu belum tahu ini, jangan merasa sok pintar lah dengan menulis stigma2 murahan begitu. Kamu ini kayak anak kecil yang tidak berharga.
    Respon : makasih Mister… hehhehhe

    @Abusyakir : Kalau ditafsirkan “min” sebagai “di antara” maka ayat ini akan menjadi masalah. Pertanyaannya, lalu siapa yang masuk dalam barisan “min” itu? Pastinya kaum Syiah sudah punya tafsiran sendiri soal siapa yang layak mereka terima sebagai Shahabat Nabi. Lalu adakah di antara tokoh-tokoh yang disebut Syiah masuk dalam kata “min” itu yang termasuk orang Anshar (asal Madinah)? Abu Dzar dari Ghifar, bukan dari Madinah. Dia masuk Islam ketika masih di Makkah, lalu balik ke kampungnya lagi. Kalau dia dianggap dari Madinah, dia hanya satu; padahal kata Anshar itu maknanya orang banyak; dan Abu Dzar tidak termasuk yang membantu kaum Muslimin di awal hijrah dari Makkah ke Madinah.

    Respon : saya ga ada nulis tafsir, saya hanya kutip arti dari bahasa Arab ke bhs Indonesia…
    saya juga udah bilang kalau saya belum ketemu tafsir dari kaum syiah…
    yg namanya tafsir itu bisa sesuka perut penafsir, sama dengan pikiran Abusyakir, mau dibawa kemana kalimat itu ditafsirkan.
    cuman saya baca “diantara” bukan ditulis “seluruh”.

    @Abusyakir : Orang Syiah menyebut Surat Al Ma’idah ayat 3 itu hanya untuk Ali Ra. Ini adalah PELECEHAN BESAR terhadap Allah Ta’ala. Seolah Allah Ta’ala tidak bisa berbahasa Arab, dan Allah tidak bisa membedakan antara komunitas orang banyak dengan sosok individu Ali. Kalau mengikuti tafsiran Syiah, Allah memakai bahasa kolektif untuk memberi ketetapan kepada Ali Ra
    seorang.
    Respon : yg saya maksud diatas itu as-babun Nuzhul ayat tersebut, saya ulang ya..as-babun nuzhul dan bukan ditafsir.
    saya ga da melecehkan ALLAH SWT tuhhhh.

    @Abusyakir: Sepakat para ulama tafsir Ahlus Sunnah untuk menolak tafsiran versi Syiah tersebut. Sebab tafsiran itu sangat diskriminatif dan menafikan kontribusi kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar dalam jumlah besar dan sangat besar jasanya bagi Islam dan kaum Muslimin.

    Respon : kalau tafsir ga ada saya kutip, terserah anda mau baca dari Syiah atau Sunni, dan saya ga urus.

    @Abusyakir : Kamu sendiri kan menulis di komen bodoh kamu itu, bahwa momen turunnya ayat itu saat HAJI WADA’. Menurut referensi sejarah yang pernah kamu baca, siapa yang ikut Haji Wada’ itu? Cuma Ali doang ya? Untungnya kamu ini tidak menyebutkan identitas kamu secara jelas; kalau kamu sebut, semua ini akan mempermalukan kamu sendiri.

    Respon : yg ikut haji Wada’ ya banyak, dan dikatakan oleh sang penulis kitab klw ga salah Sunan An’Nas’i dan Bukhari ….disebutkan bahwa disitu ada Sy Umar yg memberi selamat kepada Sy Ali sebagai Maula.
    dan saya sudah menuliskan nama saya, sedangkan Abusyakir sendiri dimana berada-pun saya ga tau. saya asli orang medan.
    (gimana cara masukin foto, biar saya bisa pampang foto saya)

    @Abusyakir : Orang Syiah menyebut Surat Al Maa’idah ayat 3 itu hanya untuk Ali Ra. Ini adalah PELECEHAN BESAR terhadap Allah Ta’ala. Seolah Allah Ta’ala tidak bisa berbahasa Arab, dan Allah tidak bisa membedakan antara komunitas orang banyak dengan sosok individu Ali. Kalau mengikuti tafsiran Syiah, Allah memakai bahasa kolektif untuk memberi ketetapan kepada Ali Ra seorang.
    Respon : lagi-lagi dibilang tafsiran syiah…
    padahal yg saya kutip bukan tafsir, hanya asbabun nuzhul.

    @Abusyakir : Andaikan benar tafsiran Syiah atas ayat tersebut, mengapa KONSENSUS Para Shahabat Nabi Saw tidak menyatakan hal itu? Siapa sebenarnya yang lebih layak diikuti, imam-imam Syiah atau konsensus para Shahabat Nabi Ra?

    Respon : Hanya ALLAH dan Rasulnya yang tahu.

    @Abusyakir : Kacaunya lagi, dalam tafsiran Syiah Rafidhah; mereka sampai melukapan posisi Nabi Saw, padahal ayat itu turun kepada beliau, beliau pula yang membacakannya kepada kaum Muslimin. Kalau begini caranya, bisa gila manusia2 yang mengikuti tafsiran-tafsiran Syiah.
    Respon : saya ga ada menulis melupakan Nabi SAWW.
    cuma disitu ada kisah ttg Sy Umar bucapan ‘selamat’ kepada Sy Ali…
    atau anda ada versi lain ttg kisah turunnya Al-Maidah 3?

    @Abusakir : Kamu ini kalau ketahuan bodohnya, begitu mudah melecehkan orang lain. Sungguh, meskipun kamu bersumpah 1000 kali, saya tidak percaya omongan kamu. Kamu bukan tipe manusia yang layak dihargai kata-katanya.

    Respon : memang saya orang bodoh, dari awal saya udah bilang kan kalau saya bodoh dan tidak sepinter anda. liat tulisan saya di judul kenapa syiah…..dst
    dan saya ga butuh dihargai koq.
    saya hanya butuh kedamaian bagi seluruh Muslimin diseluruh dunia, bukan ada perpecahan…. aminnn.

    @Abusyakir : Kamu sebut saya kerap menulis “akibatnya terlaknat”. Dalam diskusi ini coba sebut berapa kali saya yang kamu sebut “kerap” itu? Saya memohon kepada Allah, agar setiap cacian/pelecehan yang kamu lakukan, hal ini menjadi kaffarat penggugur dosa-dosa saya. amin Allahumma amin. Dan semoga, semakin panjang dan lama, kata-kata melecehkan itu tersebar; semoga akibatnya kembali kepada si pelaku (kamu).

    Respon : di judul blog ini ada satu, sedangkan di blog : kenapa syiah ketanah suci ada juga ditujukan ke saya. makanya saya tulis kerap karena lebih dari satu.
    gpp koq saya dilaknat oleh Abusyakir karena saya mulai jatuh hati kepada mazhab syiah.
    dan perlu abusyakir pahami, saya paling ga suka di takut-takuti dengan ucapan dilaknat.
    dan saya ga berharap berguguran dosa saya gara2 abusyakir memfitnah saya penganut syiah rafidah dan nuduh saya pernah berdialog ttg syiah kepada pemeluk syiah apalagi nuduh saya sebagai seorang da’i syiah.
    karena saya bukan orang “cengeng” minta belas kasih penggugur dosa kepada ALLAH SWT karena kesilapan orang lain.

    dah pagi nihh mister.. thanks yoooo
    saya mohon pamit ..

    wasalam..
    cling!!! (ovj mode.on)

  24. abisyakir mengatakan:

    @ mukhlis…

    aneh jalan pikiran anda klw kejadian itu jadi akidah buat diri saya, ga segampang itu merubah akidah. :)
    dan ga apa-apa disebut anak kecil ga berharga, daripada suka memecah umat muslim seperti Abusyakir.

    Jawab: Lho kamu kan sejak awal mempersoalkan “mengapa Fathimah Ra dimakamkan secara tertutup”. Itu kan masalah yang kamu buka sendiri. Hingga kamu ingin mempersoalkan posisi Khalifah Abu Bakar Ra lantaran ketertutupan urusan jenazah Fathimah Ra itu. Itu kan jelas, akidah kamu tentang Khalifah kaum Muslimin (Khalifah Abu Bakar Ra) berubah lantaran peristiwa pemakaman Fathimah Ra tsb. Kamu harus tahu, tetapnya posisi Khalifah Abu Bakar Ra, itu adalah akidah kaum Muslimin (Ahlus Sunnah).

    mengenai terbunuhnya ‘juta-an’ kaum Sunni, saya masih ragukan itu, yg namanya informasi dari sunni dan syiah belum ada saya ketahui pastinya, nanti saya usahakan cari ya Mister Abusyakir.

    Jawab: Aku kan tidak bilang membunuh jutaan kaum Sunni, tetapi menganiaya atau menindas kaum Sunni. Terus kamu kan katanya tidak pernah baca soal itu, nah saya tunjukin salah satu caranya dengan cari di Google. Saya tambahi data ya… coba kamu cari di google dengan kata berikut: “Muslim Sunni digantung di Iran”. Coba kamu cari saja, semoga kamu makin “isyaf sejarah”.

    namun untuk membela Syiah Imamiyah mmg tulisan saya berkesan membela, saya akui karena sebagai pembanding bagi tulisan Abusyakir yg ketus terhadap negara Iran dan pendapat pengikut mazhab Syiah. ga maksud ada dusta koq, istilah medannya -markombur aja- karena blogg Abusyakir dibaca banyak orang.

    Jawab: Menjaga agama dan kehidupan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) itu bukan soal ketus, tidak ketus; itu kewajiban dalam Islam, sebagaimana Syiah Rafidhah diwajibkan merusak dan menghancurkan kaum Muslimin Ahlus Sunnah oleh ulama-ulama mereka. Dalam urusan seperti ini pengorbanan seperti apa saja mesti ditempuh kaum Muslimin, untuk membela agam dan ummatnya.

    Kami tahu…bahwa tidak ada di dunia ini orang yang membela regim Syiah Imamiyah/Khomeini secara cuma-cuma. Tidak ada itu. Maka kalau kita melihat siapa saja yang membela regim Khomeini/Imamiyah, kemungkinannya: dia warga Iran penganut Syiah, dia dai/aktivis Syiah, dia orang tidak tahu yang cuma ikut-ikutan saja. Kalau Anda termasuk orang tidak tahu, tidak mungkin pembelaan Anda segitunya, sampai berkali-kali men-stigma saya dengan sebutan-sebutan buruk (semoga akibat stigma ini tidak menimpa, kecuali kepada yang membuatnya. amin Allahumma amin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amin).

    dan ingat saya ikut sholat jum’at dikampung saya sekarang sudah pakai cara Syiah, dan ga ada orang yg bertanya atau melecehkan, saya ga suka sembunyi-sembunyi.

    Jawab: Ooo…sudah pakai cara Syiah ya. Berarti di situ ada banyak orang Syiah. Boleh Anda sebut dimana lokasi dan daerah Anda? Siapa tahu ini akan bermanfaat buat saudara-saudara kami Ahlus Sunnah di Medan dan sekitarnya.

    Respon: yg saya maksud diatas itu as-babun Nuzhul ayat tersebut, saya ulang ya..as-babun nuzhul dan bukan ditafsir. saya ga da melecehkan ALLAH SWT tuhhhh.

    Jawab: Saya baca tafsir ayat ini dalam Tafsier Ibnu Katsir. Asbabun Nuzzul-nya ya Haji Wada’ itu sendiri. Ketika ayat itu turun, Rasulullah Saw mengatakan bahwa telah sempurna Syariat Islam dengan turunnya ayat itu. Maka para Shahabat Ra bergembira semua; tetapi ada yang menangis. Ketika ditanya, mengapa Anda menangis? Lalu dijawab: “Jika sesuatu sudah sempurna, berarti akan ada kekurangannya.” Maksudnya, kalau risalah Islam sudah lengkap, berarti tugas Nabi Saw akan berakhir di dunia ini. Jadi Asbabun Nuzul-nya ialah peristiwa Haji Wada’. Dalam hadits Umar Ra juga disebutkan begitu. Hanya orang bodoh yang akan membawa tafsiran ayat itu ke diri person Ali bin Abi Thalib Ra seorang diri.

    Respon : yg ikut haji Wada’ ya banyak, dan dikatakan oleh sang penulis kitab klw ga salah Sunan An’Nas’i dan Bukhari ….disebutkan bahwa disitu ada Sy Umar yg memberi selamat kepada Sy Ali sebagai Maula. dan saya sudah menuliskan nama saya, sedangkan Abusyakir sendiri dimana berada-pun saya ga tau. saya asli orang medan. (gimana cara masukin foto, biar saya bisa pampang foto saya)

    Jawab: Itu beda. Itu adalah peristiwa Ghadir Khum, bukan Haji Wada’. Peristiwa itu tidak disaksikan kaum Muslimin dalam jumlah seperti peristiwa Haji Wada’ (ada yang mengatakan hingga 10.000 manusia). Maksud “maula” disana ialah: Ali itu penolong kamu, kawan kamu, golongan kamu, loyalis kamu. Jadi maknanya, bukan “maula” dalam pengertian Amir/Khalifah. Maula itu sama seperti dalam kata di ayat Surat At Taubah: “innamal mukminina wal mukminati ba’dhuhum auliya’u ba’dhin” (bahwa orang Mukmin laki-laki dan wanita, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain).

    Kata “maula” atau “wali” itu sama seperti dalam kata “waliyullah” artinya sesama loyalis orang-orang beriman yang perlu dibela, dibantu, tidak boleh dimusuhi.

    saya hanya butuh kedamaian bagi seluruh Muslimin diseluruh dunia, bukan ada perpecahan…. aminnn.

    Jawab: Ap buktinya Anda cinta perdamaian? Mengapa Anda mempersoalkan sifat ketertutupan pengurusan jenazah Fathimah Ra? Mengapa Anda mempersoalkan kebijakan tanah fadak Khalifah Abu Bakar? Mengapa Anda mempersoalkan musyawarah para Shahabat Ra di Saqifah Bani Sa’idah? Kalau Anda masuk ke masalah2 itu, berarti Anda TIDAK MAU BERDAMAI. Anda ingin membuka konflik dengan kaum Muslimin Ahlus Sunnah, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Siapa sebenarnya yang layak disebut mencintai perdamaian? Orang yang menghujat posisi para Khalifah dan Shahabat Nabi Saw; sampai menghalalkan laknat atas mereka?

    Anda ini hanya asal bunyi saja… Ngomong kesana kemari, tetapi tidak tahu apa yang diomongkannya.

    di judul blog ini ada satu, sedangkan di blog : kenapa syiah ketanah suci ada juga ditujukan ke saya. makanya saya tulis kerap karena lebih dari satu.
    gpp koq saya dilaknat oleh Abusyakir karena saya mulai jatuh hati kepada mazhab syiah. dan perlu abusyakir pahami, saya paling ga suka di takut-takuti dengan ucapan dilaknat. dan saya ga berharap berguguran dosa saya gara2 abusyakir memfitnah saya penganut syiah rafidah dan nuduh saya pernah berdialog ttg syiah kepada pemeluk syiah apalagi nuduh saya sebagai seorang da’i syiah. karena saya bukan orang “cengeng” minta belas kasih penggugur dosa kepada ALLAH SWT karena kesilapan orang lain.

    Jawab: Mohon ya, kalau Anda akhirnya jadi pemeluk agama paganis, Syiah Rafidhah; lalu Anda mulai menyembah manusia-manusia yang saleh (seperti Ali, Fathimah, Hasan, Husein Radhiyallahu ‘Anhum, dan anak keturunan mereka rahimahumullah) seperti kaum Nabi Nuh menyembah Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr; mohon Anda jangan salahkan saya. Karena pada awalnya saya berdiskusi baik-baik, tidak ada unsur melecehkan. Hanya saja, ketika Anda meminta riwayat, lalu saya sebutkan riwayat, kemudian Anda komentar… “Ha ha ha…” ini bagi saya adalah sikap sangat buruk. Anda arogan dan melecehkan. Maka itu saya pun bersikap tegas… (meskipun tetap mencoba menjaga akhlak). Jadi Anda sendiri, karena sudah terdorong semangat arogansi, yang mengawali sikap tidak simpatik itu.

    Lho, balasan laknat bagi kaum Syiah Rafidhah; itu bukan ancaman atau laknatan dari saya; itu SUDAH SUNNATULLAH begitu. Siapapun yang menyakiti hati Nabi Saw (dengan menghujat isteri-isteri, mertua, serta menantu beliau); mereka mendapat laknat. Siapa yang menghujat para Shahabat Nabi Saw, mereka juga mendapat laknat. Itu bukan dari saya, tapi dari Allah Ta’ala dan Syariat-Nya.

    AJARAN ISLAM membebaskan manusia dari perbudakan antar manusia, tetapi akidah Syiah Rafidhah mengembalikan mereka kepada perbudakan oleh ulama-ulama Syiah. Perbudakan terulang lagi, dengan bentuk berbeda, plus label “mencintai Ahlul Bait”.

    Admin.

  25. mukhlis mengatakan:

    @Abusyakir : Lho kamu kan sejak awal mempersoalkan “mengapa Fathimah Ra dimakamkan secara tertutup”. Itu kan masalah yang kamu buka sendiri. Hingga kamu ingin mempersoalkan posisi Khalifah Abu Bakar Ra lantaran ketertutupan urusan jenazah Fathimah Ra itu. Itu kan jelas, akidah kamu tentang Khalifah kaum Muslimin (Khalifah Abu Bakar Ra) berubah lantaran peristiwa pemakaman Fathimah Ra tsb. Kamu harus tahu, tetapnya posisi Khalifah Abu Bakar Ra, itu adalah akidah kaum Muslimin (Ahlus Sunnah).
    Respon : Persoalannya, sejak dahulu tulisan sejarah selalu ditutup-tutupi seolah umat Muslim tidak boleh mengetahui latar belakang yang mengakibatkan perbedaan Mazhab Sunni dan Syiah.. bukan memberikan riwayat dari berbagai sumber sebagai bahan penilaian. itu bukan masalah lohh abusyakr.
    kalau saya mau buat masalah, saya datangi anda dan saya colek janggut anda… itu baru masalah… hehhehehhe

    @Abusyakir: Aku kan tidak bilang membunuh jutaan kaum Sunni, tetapi menganiaya atau menindas kaum Sunni. Terus kamu kan katanya tidak pernah baca soal itu, nah saya tunjukin salah satu caranya dengan cari di Google. Saya tambahi data ya… coba kamu cari di google dengan kata berikut: “Muslim Sunni digantung di Iran”. Coba kamu cari saja, semoga kamu makin “isyaf sejarah”
    Respon : apa abusakyr pikir kaum syiah nggak pernah di zolimi juga oleh kaum Sunni? mengapa anda berpikiran untuk balas dendam lewat sejarah, seolah abusyakir ini lebih paham ttg sejarah negeri iran. janganlah perpecahan semakin di besar-besarkan hingga anak cucu berkutat dengan dendam kesumat.
    dan perlu Abusyakr ketahui juga latar belakang atau silsilah Khomeini.. silahkan anda google ya mister.
    semoga kebencian anda terhadap Ayatollah Khomeini menjadi padam setelah mengetahui silsilah darahnya.
    biar anda ga sulit ni saya kasi contekan. sila di buka ya.

    http://ms.wikipedia.org/wiki/Ruhollah_Khomeini

    @ABusyakir:Menjaga agama dan kehidupan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) itu bukan soal ketus, tidak ketus; itu kewajiban dalam Islam, sebagaimana Syiah Rafidhah diwajibkan merusak dan menghancurkan kaum Muslimin Ahlus Sunnah oleh ulama-ulama mereka. Dalam urusan seperti ini pengorbanan seperti apa saja mesti ditempuh kaum Muslimin, untuk membela agam dan ummatnya.
    Respon : memangnya apa pengorbanan yg telah anda lakukan?
    sehingga begitu bencinya anda pada Ayatollah Khomeini?
    seyogianya Abusyair bersholawat thd Rasul SAWW berikut keturunannya. begitulah seharusnya anda menghormati kedudukan Ayatolah Khomeini, bukan melecehkan atau memburuk-burukkan Beliau (Khomeini)

    @ABusyakir: Kami tahu…bahwa tidak ada di dunia ini orang yang membela regim Syiah Imamiyah/Khomeini secara cuma-cuma. Tidak ada itu. Maka kalau kita melihat siapa saja yang membela regim Khomeini/Imamiyah, kemungkinannya: dia warga Iran penganut Syiah, dia dai/aktivis Syiah, dia orang tidak tahu yang cuma ikut-ikutan saja. Kalau Anda termasuk orang tidak tahu, tidak mungkin pembelaan Anda segitunya, sampai berkali-kali men-stigma saya dengan sebutan-sebutan buruk (semoga akibat stigma ini tidak menimpa, kecuali kepada yang membuatnya. amin Allahumma amin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amin
    Respon : Anda sangat berapi-api dengan kliam tidak ada didunia yg membela Regim Khomeini…
    baik ni saya kutip ttg siapa yg memberi dukungan pada beliau.

    http://www.merdeka.com/dunia/6-kisah-kontroversi-raja-raja-saudi/raja-khalid.html

    silahkan anda baca secara perlahan kisah tersebut ya Mister.
    InsyaALLAH keburukan akan jelas menuju kepada siapa. Amin.

    @ABusyakir : Ooo…sudah pakai cara Syiah ya. Berarti di situ ada banyak orang Syiah. Boleh Anda sebut dimana lokasi dan daerah Anda? Siapa tahu ini akan bermanfaat buat saudara-saudara kami Ahlus Sunnah di Medan dan sekitarnya.
    Respon : kalau anda mau datang sendiri ga masalah, saya sambut koq.
    Alhamdulillah cuma saya sendiri koq yg begitu.. dari dahulu sampai sekarang cuma saya seorang yg mulai ber-sholat cara Syiah… Nikmatnya ber-sholat ala Syiah… :)

    @Abusyakir : Itu beda. Itu adalah peristiwa Ghadir Khum, bukan Haji Wada’. Peristiwa itu tidak disaksikan kaum Muslimin dalam jumlah seperti peristiwa Haji Wada’ (ada yang mengatakan hingga 10.000 manusia). Maksud “maula” disana ialah: Ali itu penolong kamu, kawan kamu, golongan kamu, loyalis kamu. Jadi maknanya, bukan “maula” dalam pengertian Amir/Khalifah. Maula itu sama seperti dalam kata di ayat Surat At Taubah: “innamal mukminina wal mukminati ba’dhuhum auliya’u ba’dhin” (bahwa orang Mukmin laki-laki dan wanita, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain).
    Respon : riwayat turun ayat beriringan dengan sabda Hadits Rasul SAWW..
    ga usah anda pelintir2 lagi.
    anda bisa melintir karena ketidaksukaan pada sabda Rasul atau kepada tulisan dikitab Sunan An”Nasai atau Bukhari?
    kalau tafsir ‘mawla’ diperdebatkan sampa hari kiamat-pun anda dan kaumSyiah pun ttp berdebat.
    Yang saya pinta saat ini Anda tidak usah terlalu membenci kaum Syiah, ga ada untungnya anda berbuat begitu.

    @Abusyakir: Saya baca tafsir ayat ini dalam Tafsier Ibnu Katsir. Asbabun Nuzzul-nya ya Haji Wada’ itu sendiri. Ketika ayat itu turun, Rasulullah Saw mengatakan bahwa telah sempurna Syariat Islam dengan turunnya ayat itu. Maka para Shahabat Ra bergembira semua; tetapi ada yang menangis. Ketika ditanya, mengapa Anda menangis? Lalu dijawab: “Jika sesuatu sudah sempurna, berarti akan ada kekurangannya.” Maksudnya, kalau risalah Islam sudah lengkap, berarti tugas Nabi Saw akan berakhir di dunia ini. Jadi Asbabun Nuzul-nya ialah peristiwa Haji Wada’. Dalam hadits Umar Ra juga disebutkan begitu. Hanya orang bodoh yang akan membawa tafsiran ayat itu ke diri person Ali bin Abi Thalib Ra seorang diri.
    Respon : silahkan baca di Sunan An’Nasai dong..jgn cuma sepihak yg diambil.
    Ntar saya tulis latar belakang Ibn Katsir dari kacamata Syiah, kan ga bagus dibaca orang.
    bacalah beberapa referensi tafsir dan sejarah biar kita makin menikmati indahnya Agama Rasul akhir Zaman.

    @Abusyakir : Ap buktinya Anda cinta perdamaian? Mengapa Anda mempersoalkan sifat ketertutupan pengurusan jenazah Fathimah Ra? Mengapa Anda mempersoalkan kebijakan tanah fadak Khalifah Abu Bakar? Mengapa Anda mempersoalkan musyawarah para Shahabat Ra di Saqifah Bani Sa’idah? Kalau Anda masuk ke masalah2 itu, berarti Anda TIDAK MAU BERDAMAI. Anda ingin membuka konflik dengan kaum Muslimin Ahlus Sunnah, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Siapa sebenarnya yang layak disebut mencintai perdamaian? Orang yang menghujat posisi para Khalifah dan Shahabat Nabi Saw; sampai menghalalkan laknat atas mereka?
    Respon : Bukti saya adalah dengan mengajak Abusyakir utk tidak terlalu membenci kaum Syiah, karena bagaimanapun Syiah diakui sebagai bagian dari Dunia Islam, hanya beda Mazhab saja.
    Saya juga pernah mendamaikan Nazir mesjid kampung kami yg adu-jotos dengan Kepala Lingkungan (bahasa Jakarte : Pak RT)
    padahal usia saya jauh lebih muda dari mereka, dan mereka berdua menerima saran saya untuk berdamai tidak melanjutkan masalah ke hukum dan kembali bersahabat, padahal wajah pak RT udah benjut krn dipukul ketua Nazir Mesjid. meski sang Nazir seminggu kemudian mundur dari jabatan krn malu.

    Ttg penguburan Sy Fatimah dimalam hari itu adalah sebagai bentuk kejanggalan dari kisah sejarah yg anda sepelekan. Pihak yg mempertanyakan kejadian itu jangan lgsg dihujjat sebagai pembangkang. dan perlu ABusyakir ketahui… jabatan khalifah itu bukan jaminan dan bukan sesuatu yg pantas diperebutkan. Orang yg rakus kedudukan sangat dibenci oleh Rasul SAWW.
    lagian saya ga pernah melaknat Sahabat Rasul SAWW, Abusyakir jangan mengada-ada begitulah. Ora elok tuh mister.

    @Abusyakir: Anda ini hanya asal bunyi saja… Ngomong kesana kemari, tetapi tidak tahu apa yang diomongkannya.
    Respon : Ngakak.. whahahhahahhaaa…

    @Abusyakir : Mohon ya, kalau Anda akhirnya jadi pemeluk agama paganis, Syiah Rafidhah; lalu Anda mulai menyembah manusia-manusia yang saleh (seperti Ali, Fathimah, Hasan, Husein Radhiyallahu ‘Anhum, dan anak keturunan mereka rahimahumullah) seperti kaum Nabi Nuh menyembah Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr; mohon Anda jangan salahkan saya. Karena pada awalnya saya berdiskusi baik-baik, tidak ada unsur melecehkan. Hanya saja, ketika Anda meminta riwayat, lalu saya sebutkan riwayat, kemudian Anda komentar… “Ha ha ha…” ini bagi saya adalah sikap sangat buruk. Anda arogan dan melecehkan. Maka itu saya pun bersikap tegas… (meskipun tetap mencoba menjaga akhlak). Jadi Anda sendiri, karena sudah terdorong semangat arogansi, yang mengawali sikap tidak simpatik itu.

    Respon : koq lgsg merajuk sih wkt saya ketawa saat anda menukilkan sejarah.. saya ketawa koq dibilang arogansi, kalau Abusyakir telah menyebut Syiah itu sesat apa bukan arogansi juga? padahal OKI mengakui kalau Iran dan Mazhab Syiah bagian dari Dunia Islam, koq anda menyepelekan OKI…. dan itu tulisan di blogg anda berjudul “Kalau Syiah sesat mengapa …dst”.
    Simpatik atau tidak simpatik itu urusan perut anda, dikarenakan saya ketawa anda tidak simpatik, sungguh aneh..
    seolah otak abusyakir pantang melihat orang tertawa.

    @Abusyakir : Lho, balasan laknat bagi kaum Syiah Rafidhah; itu bukan ancaman atau laknatan dari saya; itu SUDAH SUNNATULLAH begitu. Siapapun yang menyakiti hati Nabi Saw (dengan menghujat isteri-isteri, mertua, serta menantu beliau); mereka mendapat laknat. Siapa yang menghujat para Shahabat Nabi Saw, mereka juga mendapat laknat. Itu bukan dari saya, tapi dari Allah Ta’ala dan Syariat-Nya.

    Respon : Tolong jelaskan pada saya…. APA SEMUA SYIAH ITU BER-ALIRAN RAFIDHAH? dan APAKAH KHOMEINI itu BERALIRAN SYIAH RAFIDHAH?
    maksudnya saya bertanya ini biar anda jangan banyak cin-cong (istilah medan) Ga usah bilang SUNATULLAH kalau abusyakir sendiri mengingkari SUNNAH RASUL.
    Tolong anda (Abusyakir) .. JAWAB YA…

    @Abusyakir : AJARAN ISLAM membebaskan manusia dari perbudakan antar manusia, tetapi akidah Syiah Rafidhah mengembalikan mereka kepada perbudakan oleh ulama-ulama Syiah. Perbudakan terulang lagi, dengan bentuk berbeda, plus label “mencintai Ahlul Bait”.

    Respon : jangan lgsg menuduh atau membuat fatwa kejadian atau peristiwa seolah Abusyakir boleh membuat fatwa dan merasa diri sendiri yg benar.
    Ulama Syiah kebanyakan mereka bertalian darah dengan AhlulBayt, apa salahnya kalau mereka mencintai nenek-moyang mereka sendiri? dan apa salahnya mereka berbeda paham dari orang2 yg selalu menindas Ahlulbayt. Dan apa urusannya dengan Abusyakir terhadap sikap mereka?
    apa yg membuat saya jadi budak mereka?

    semoga tulisan ini dapat membuka hati dan pandangan Abusyakir untuk menilai ttg saya.

    wassalam :
    clinnnggg!!!! (sule mode.on)

  26. abisyakir mengatakan:

    @ mukhlis…

    Jujur lelah juga berdiskusi dg Anda. Sekian banyak yang Anda tanyakan, sudah saya sampaikan, dengan argumentasinya. Tetapi gaya ngeyel Anda masih terus begitu. Maka ketika komen Anda tidak langsung keluar, saya mikir2, apa perlu dimunculkan atau tidak? Sebab kalo dimunculkan, nanti kita akan melihat lagi untuk keskian kalinya sikap ngeyel yang tidak dibenarkan dalam Islam. Baik, ini saya toleransi. Untuk ke depan, kalau Anda tidak merasa bersyukur atas apa yang telah kami sampaikan, komen2 Anda akan dibuang.

    Respon : Persoalannya, sejak dahulu tulisan sejarah selalu ditutup-tutupi seolah umat Muslim tidak boleh mengetahui latar belakang yang mengakibatkan perbedaan Mazhab Sunni dan Syiah.. bukan memberikan riwayat dari berbagai sumber sebagai bahan penilaian. itu bukan masalah lohh abusyakr.
    kalau saya mau buat masalah, saya datangi anda dan saya colek janggut anda… itu baru masalah… hehhehehhe

    Jawab: Masya Allah, saya sudah jelaskan sebelumnya. Dalam konteks sejarah Shahabat, ada yang bersifat IJMA’ SHAHABAT; ada yang merupakan perbedaan penafsiran; ada yang perselisihan pribadi. Dalam hal-hal pribadi Ahlus Sunnah tidak boleh mencampuri urusan mereka; karena masalah pribadi itu rawan fitnah. Seperti info selebritis, MUI memfatwakan tontonan begitu haram; karena mengungkit2 masalah privasi seseorang. Kalau selebritis zaman sekarang saja dilindungi privasinya, apalagi para Shahabat Ra.

    Bagi kaum Syiah, apa untungnya mencampuri urusan pribadi Fathimah Ra? Bolehkah juga mereka mencampuri urusan pribadi Ali Ra, urusan pribadi Hasan Ra, Husein Ra, termasuk imam-imam Syiah lainnya? Apa Anda tidak malu kalau hal2 begitu diungkap?

    Terus bagaimana wajah sejarah, kalau isinya konflik pribadi antar satu person dengan person lain? Sejarah apa yang akan kita dapat dari masalah2 privasi yang rawan menyebarkan fitnah itu? Tampaknya menu utama agama Syiah ada dalam urusan: makan-memakan fitnah tersebut. Nas’alullah al ‘afiyah.

    Respon : apa abusakyr pikir kaum syiah nggak pernah di zolimi juga oleh kaum Sunni? mengapa anda berpikiran untuk balas dendam lewat sejarah, seolah abusyakir ini lebih paham ttg sejarah negeri iran. janganlah perpecahan semakin di besar-besarkan hingga anak cucu berkutat dengan dendam kesumat.
    dan perlu Abusyakr ketahui juga latar belakang atau silsilah Khomeini.. silahkan anda google ya mister. semoga kebencian anda terhadap Ayatollah Khomeini menjadi padam setelah mengetahui silsilah darahnya. biar anda ga sulit ni saya kasi contekan.

    Jawab: Maaf, kami tidak membolehkan disini ada link media-media (informasi) Syiah. Itu sudah kebijakan kami. Link yang Anda sebut, terpaksa kami hapus. Anda bertanya soal: balas dendam lewat sejarah? Masya Allah… Anda kok menyebutkan hal itu ke kami? Apa bukan kalian (orang Syiah) yang mayoritas ideologinya berisi dendam sejarah? Aneh sekali… Kalian persoalkan pengangkatan Khalifah, kalian persoalkan Ali tidak jadi Khalifah pertama, kalian persoalkan wafatnya Nabi Saw, kalian persoalkan wafatnya Fathimah Ra, kalian persoalkan penguburan Fathimah Ra, dll. Hingga kalian membuat riwayat dusta, bahwa Umar Ra mendorong Fathimah Ra yang sedang hamil, sehingga keguguran. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Soal nasab Khomeini…andaikan itu penting; maka dalam Islam berlaku prinsip “inna akramakum ‘indallahi atqakum” (yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertakwa). Nasab Khomeini itu tak ada artinya dibandingkan Abu Lahab, sebab dia adalah paman langsung dari Rasulullah Saw. Tetapi Al Qur’an memberikan surat tersendiri untuk tokoh satu itu.

    Respon : memangnya apa pengorbanan yg telah anda lakukan? sehingga begitu bencinya anda pada Ayatollah Khomeini? seyogianya Abusyair bersholawat thd Rasul SAWW berikut keturunannya. begitulah seharusnya anda menghormati kedudukan Ayatolah Khomeini, bukan melecehkan atau memburuk-burukkan Beliau (Khomeini)

    Jawab: Ahlus Sunnah tidak boleh memuliakan manusia seperti Khomeini (Khumaini). Dia adalah sosok pemimpin Syiah Rafidhah di zaman modern. Syiah Rafidhah telah menghujat isteri2 Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka menuduh Al Qur’an diselewengkan para Shahabat; mereka menolak hadits2 Nabi dari imam-imam ahlul hadits Ahlus Sunnah; mereka mengkafirkan Ahlus Sunnah, menghalalkan harta dan darahnya; mereka menyembah imam-imam Syiah dan meyakininya mereka memiliki maqom ketuhanan; mereka halalkan yang haram dan haramkan yang halal; mereka membunuhi kaum Muslimin Ahlus Sunnah, menindas, menzhalimi, serta memberantas ajaran-ajaran Ahlus Sunnah; dan lain-lain. Apa untuk manusia macam begitu, perlu dimuliakan?

    Respon : Anda sangat berapi-api dengan kliam tidak ada didunia yg membela Regim Khomeini… baik ni saya kutip ttg siapa yg memberi dukungan pada beliau. http://www.merdeka.com/dunia/6-kisah-kontroversi-raja-raja-saudi/raja-khalid.html. silahkan anda baca secara perlahan kisah tersebut ya Mister. InsyaALLAH keburukan akan jelas menuju kepada siapa. Amin.

    Jawab: Masak Anda sebutkan informasi semacam itu. Yah, andaikan isinya benar; itu terlalu minim untuk menyimpulkan suatu fakta sejarah. Coba masak informasi cuma begini: “Meski terpilihnya Khalid sebab kemurahan para majelis pemerintahan, tapi dia menjadi satu-satunya raja Arab punya banyak kawan di berbagai negara dunia. Dia membantu dalam revolusi Iran dan menjadi sahabat karib almarhum Presiden Suriah Hafiz Assad.”

    Ini informasi apa, siapa yang mengatakan, darimana sumbernya? Yang begini tidak layak jadi acuan, apalagi diambil dari sumber “merdeka”. Mana ada sih media begitu jadi acuan sejarah? Setahu saya, Raja Khalid memerintah cuma sebentar, dia sakit-sakitan; kemudian pemerintahan dikendalikan Fahd.

    Respon: riwayat turun ayat beriringan dengan sabda Hadits Rasul SAWW.. ga usah anda pelintir2 lagi. anda bisa melintir karena ketidaksukaan pada sabda Rasul atau kepada tulisan dikitab Sunan An”Nasai atau Bukhari? kalau tafsir ‘mawla’ diperdebatkan sampa hari kiamat-pun anda dan kaumSyiah pun ttp berdebat. Yang saya pinta saat ini Anda tidak usah terlalu membenci kaum Syiah, ga ada untungnya anda berbuat begitu.

    Jawab: Bukan, momennya berbeda. Dalam Ghadir Khum itu sebelum kaum Muslimin masuk ke Makkah. Sedangkan Haji Wada’ ketika kaum Muslimin di Arafah, sedang menunaikan Haji; ketika itu Makkah sudah jatuh ke tangan kaum Muslimin. Bukan diplintir2, memang begitu.

    Lho, ada untungnya membenci kaum Syiah, karena itu sama dengan membenci suatu kaum yang: menghujat isteri2 Nabi Ra, menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman Ra; menghujat para Shahabat Ra; menuduh Al Qur’an sudah tidak otentik; membuat Syariat sendiri selain Syariat Islam; membuat hadits2 sendiri yang hanya diriwayatkan dari imam-imam Syiah (kata mereka); menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal; menjadikan imam-imam sebagai sesembahan, selain Allah; menghalalkan taqiyah dan muth’ah secara mutlak; dan seterusnya. Kalo kita tidak membenci yang begini, ya hancurlah keimanan seseorang, lalu dia bisa jadi kaum “paganis” seperti penganut Syiah Imamiyah dkk itu.

    Respon: silahkan baca di Sunan An’Nasai dong..jgn cuma sepihak yg diambil. Ntar saya tulis latar belakang Ibn Katsir dari kacamata Syiah, kan ga bagus dibaca orang. bacalah beberapa referensi tafsir dan sejarah biar kita makin menikmati indahnya Agama Rasul akhir Zaman.

    Jawab: Andai riwayat itu dianggap benar, nanti menghasilkan makna ayat yang salah. Dalam ayat itu jelas-jelas Allah memakai kata “kum” dan “tum” yang menunjukkan bentuk jamak; jadi ayat itu untuk kaum Muslimin secara umum; bukan untuk person Ali Ra. Ini sudah mutawatir, konsensus di kalangan Ahlus Sunnah, karena peristiwanya berkenaan dengan Haji Wada’. Tidak mungkin ada peluang berbohong disitu, wong peristiwa tsb disaksikan banyak manusia. Kalo ada hadits yang membelokkan dari pengertian tsb, ia jelas hadits lemah atau palsu. Dalam ilmu hadits, suatu hadits akan ditolak kalau ia bertentangan dengan hadits-hadits lain yang lebih kuat, kolektif, dan jelas.

    Respon : Bukti saya adalah dengan mengajak Abusyakir utk tidak terlalu membenci kaum Syiah, karena bagaimanapun Syiah diakui sebagai bagian dari Dunia Islam, hanya beda Mazhab saja. Saya juga pernah mendamaikan Nazir mesjid kampung kami yg adu-jotos dengan Kepala Lingkungan (bahasa Jakarte : Pak RT)
    padahal usia saya jauh lebih muda dari mereka, dan mereka berdua menerima saran saya untuk berdamai tidak melanjutkan masalah ke hukum dan kembali bersahabat, padahal wajah pak RT udah benjut krn dipukul ketua Nazir Mesjid. meski sang Nazir seminggu kemudian mundur dari jabatan krn malu.

    Jawab: Ya Anda seperti orang hipokrit; satu sisi bilang damai, di sisi lain menyerang para Shahabat Ra; sampai Anda sempat mengatakan “disana ada kata laknat” (untuk para Shahabat). Anda ingat tidak kata2 seperti itu saat bicara tentang Al Maa’idah ayat 3.

    Ttg penguburan Sy Fatimah dimalam hari itu adalah sebagai bentuk kejanggalan dari kisah sejarah yg anda sepelekan. Pihak yg mempertanyakan kejadian itu jangan lgsg dihujjat sebagai pembangkang. dan perlu ABusyakir ketahui… jabatan khalifah itu bukan jaminan dan bukan sesuatu yg pantas diperebutkan. Orang yg rakus kedudukan sangat dibenci oleh Rasul SAWW. lagian saya ga pernah melaknat Sahabat Rasul SAWW, Abusyakir jangan mengada-ada begitulah. Ora elok tuh mister.

    Jawab: Sudah berkali-kali saya bilang, tata-cara penguburan jenazah itu ada di domain (wilayah) hak sebuah keluarga. Mereka mau gimana gimana, itu hak mereka. Dalam Islam disebut sebagai “hak para ahli waris”. Anda mudeng tidak sih? Idealnya, Fathimah Ra dimakamkan secara terbuka, disaksikan kaum Muslimin seluruhnya di kala itu. Tetapi kalau yang bersangkutan meminta yang lain, ya mau gimana lagi?

    Mungkin Anda ingin mengatakan: “Tapi kan menyakiti putri Nabi Saw, sama juga menyakiti Nabi Saw.” Persoalannya bukan niatan menyakiti; Khalifah Abu Bakar Ra ingin konsisten dengan kehati-hatian beliau dalam menjaga harta ummat. Beliau tidak mau disalahkan akibat tanah fadak itu. Hal tersebut ijtihad kepemimpinan beliau; kalau salah dapat 1 pahala, kalau benar dapat 2 pahala. jadi ini murni perbedaan intepretasi. Sebab Khalifah Abu Bakar Ra hidupnya juga tetap miskin (tidak memiliki harta benda). Beliau tidak memperkaya diri, karena keputusan tanah fadak itu dikembalikan ke Baitul Maal. bukan ke kantong pribadinya.

    Fathimah Ra berdiri di satu pendapat; Khalifah Abu Bakar Ra berdiri di pendapat lain. Masing-masing punya dalil argumentasi. Hanya saja, karena Khalifah Abu Bakar Ra yang menjadi pemimpin, pendapat beliau yang diterapkan. Hal itu satu paketan dengan tanggung-jawab beliau di Akhirat nanti. Kalau Fathimah Ra tidak ikut bertanggung-jawab, sebab beliau bukan pemimpin.

    Apa susahnya sih memahami yang begini ini?

    Respon: koq lgsg merajuk sih wkt saya ketawa saat anda menukilkan sejarah.. saya ketawa koq dibilang arogansi, kalau Abusyakir telah menyebut Syiah itu sesat apa bukan arogansi juga? padahal OKI mengakui kalau Iran dan Mazhab Syiah bagian dari Dunia Islam, koq anda menyepelekan OKI…. dan itu tulisan di blogg anda berjudul “Kalau Syiah sesat mengapa …dst”. Simpatik atau tidak simpatik itu urusan perut anda, dikarenakan saya ketawa anda tidak simpatik, sungguh aneh.. seolah otak abusyakir pantang melihat orang tertawa.

    Jawab: Bukan karena pantang tertawa, bukan. Tapi saya tidak suka, saat saya sebutkan riwayat, lalu Anda balas dengan “tertawa”. Ini sikap tidak benar. Itu tanda tidak hormat terhadap riwayat Nabi Saw. Dalam Ahlus Sunnah, kami tidak boleh bersikap begitu. Sejauh mana sih rasa hormat Anda terhadap riwayat-riwayat Kenabian?

    OKI itu bukan standar Islam. Toh negara2 OKI banyak yang sekuler (tidak menerapkan hukum Islam), seperti Indonesia. Malah mayoritas sekuler. Kesatuan negara sekuler begini tidak boleh jadi landasan, lalu menepiskan Syariat Islam.

    Respon : Tolong jelaskan pada saya…. APA SEMUA SYIAH ITU BER-ALIRAN RAFIDHAH? dan APAKAH KHOMEINI itu BERALIRAN SYIAH RAFIDHAH? maksudnya saya bertanya ini biar anda jangan banyak cin-cong (istilah medan) Ga usah bilang SUNATULLAH kalau abusyakir sendiri mengingkari SUNNAH RASUL. Tolong anda (Abusyakir) .. JAWAB YA…

    Jawab: Tidak semua Syiah disebut Rafidhah. Yang Rafidhah itu ialah Syiah Imamiyah yang dibangun Khomeini dkk di Iran, juga Syiah Ismailiyah; lebih ekstrim lagi ialah Syiah Nusairiyah di Suriah. Menurut para ulama, Syiah yang dekat dengan Ahlus Sunnah itu hanya Syiah Zaidiyah saja.

    Respon : jangan lgsg menuduh atau membuat fatwa kejadian atau peristiwa seolah Abusyakir boleh membuat fatwa dan merasa diri sendiri yg benar.
    Ulama Syiah kebanyakan mereka bertalian darah dengan AhlulBayt, apa salahnya kalau mereka mencintai nenek-moyang mereka sendiri? dan apa salahnya mereka berbeda paham dari orang2 yg selalu menindas Ahlulbayt. Dan apa urusannya dengan Abusyakir terhadap sikap mereka? apa yg membuat saya jadi budak mereka? semoga tulisan ini dapat membuka hati dan pandangan Abusyakir untuk menilai ttg saya.

    Jawab: Dulu pendiri Dinasti Fathimiyah di Mesir, juga ngaku2 sebagai keturunan Ahlul Bait. Tetapi Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah kemudian membeberkan kedustaan mereka. Mereka bukan keturunan Ahlul Bait. Tampaknya cara yang sama dipakai lagi oleh ulama-ulama “paganis” itu. Padahal mereka tak lain dari sekumpulan manusia yang ingin mengajak ummat manusia yang lain, untuk menyembah imam-imam Syiah (yang saleh-saleh itu), dengan mengabaikan ibadah kepada Allah Rabbul ‘alamiin; persis seperti perbuatan kaum Nuh yang menyembah: Waad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Sama modusnya, hanya beda cashing dan zamannya saja.

    Sebelum manusia ini senang dengan kemusyrikan, hendaknya mereka bertaubat dan kembali kepada TAUHIDULLAH. Kalau tidak, khawatirnya nanti mereka akan seperti Bani Israil yang akhirnya hati mereka dibuat lengket dengan penyembahan sapi betina (sampai hari ini).

    Admin.

  27. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea mengatakan:

    @..Mukhlis

    Mukhlis :: Clingg…,,

    Komentar :: aduh. asli urangmah kabeda ningali kata-kata maneh nu ieu.. asli, hnteu ngabohong urangmah.. jadi ka’ingetan film Jin dan Jun jeung Filem Tuyul & Mbak Yul.. eta Filem sainget urang ayana pas urang keur leutik keneh.. ayeunamah geus jarang di’tayangkeun..

    Om Mukhlis, gak segitunya juga Kaleeeee… kayak Jin aja pake “Clingg” Segala..

  28. Rembo.. mengatakan:

    hadits Ghadir khum tidak ada hubungannya dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menunjuk Ali ra sebagai pengganti beliau, tetapi untuk menghentikan kritikan orang-orang kepada Ali ra dan himbauan agar mencintainya.

  29. Bagja Budiman mengatakan:

    Abah Abu Syakir,lagi berbicara dg dirinya sendiri,weleh weleh mengigau rupanya,manipulasi utk perpecahan.

  30. ihsan mengatakan:

    Ha..ha…ketahuan kalo orang syi’ah ini memang pinter ber-taqiyyah ngakunya bukan syi’ah atau tak pernah bertemu org syi’ah, tetapi ber-api2 dan mati2an membela syi’ah,dasar PEMBOHONG.kan kata mereka :’TAQIYYAH’ itu adalah 9/10 (90 %) dari agama syi’ah, jadi tak heran mereka marah sekali jika dikatakan ‘SYI’AH’ itu sesat dan sesuai dgn Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW,setiap yg sesat itu tempatnya di NERAKA. Semisal si Mukhlis ini lah.

  31. amif whiteseito mengatakan:

    Assalamu’alaikum.

    Sudahlah kang Waskito, pendapat dab pemahaman manusia macam Bagja The Lib, yang berpendapat tersebut diatas yg sama2 kita ketahui, udahlah ga perlu lah membelok-belokkan opini untuk tidak membuka kedok syiah dengan mengarahkan bahwa semua ini kesalahan abu sufyan, pemikiran sederhana yang terlalu jahil, dan juga Mukhlis The La’in tidak perlu ditanggapi..

    Kami pembaca yang masih bodoh inipun sudah tahu siapa mereka dan betapa angkuhnya mereka. Mereka ini layaknya masuk dalam golongan yang Allah gambarkan dalam surah Al-baqoroh :

    ختم الله على قلوبهم و على سمعهم وعلى ابصارهم غشاوة ولهم عذاب عظيم

    Cukup hapus komentar mereka akhi, hanya buang2 waktu saja. Lebih baik antum membuat artikel yg lebih banyak manfaatnya ketimbang melayani pendapat dan pemahaman manusia- manusia jahil macam mereka.

    Maaf, yg saya salahkan adalah pemahamannya, bukan pribadinya. Semoga mereka mendapat hidayah dan mengakui kekeliruannya di masa yang akan datang.

    Mohon maaf Kang Waskito
    Wallahu Musta’an

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: