[13]. Konstruksi Pengetahuan Muslim

Islam adalah agama pengetahuan. Islam memberikan titik-berat yang tinggi terhadap pendalaman ilmu pengetahuan dan aplikasi hasil-hasilnya. Sejak awal Wahyu diturunkan, maka kaum Muslimin sudah diarahkan menjadi kaum terpelajar, melalui firman Allah: “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq!” Para ulama menyimpulkan, ayat ini membawa perintah menulis; sebab bagaimana seseorang akan bisa membaca kalau tidak ada yang ditulis?

Kalau seorang Muslim enggan belajar, enggan membaca, enggan menulis, dan sebagainya; apapun alasannya; jelas dia akan jauh dari karakter agamanya. Mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Isa, Ibrahim, Nuh, dan sebagainya; berbeda dengan mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Beliau diberi mukjizat terbesar, yaitu Al Qur’an. Sedangkan sebagian besar isi Al Qur’an adalah ilmu pengetahuan agama, sejarah, bahasa, tanda-tanda alam, dan seterusnya.

Konstruksi ilmu pengetahuan yang perlu dibangun oleh setiap Muslim adalah sebagai berikut:

[a]. Ilmu Agama (diniyah). Ia adalah ilmu seputar dasar-dasar keimanan, Rukun Iman, Rukun Islam, tata-cara ibadah, hukum halal-haram, akhlak, ilmu Al Qur’an, ilmu Hadits, serta kaidah-kaidah ilmiah. Ilmu ini bagi kaum Muslimin pada umumnya perlu dipahami secara general saja. Tetapi bagi orang-orang tertentu yang menempuh jalan sebagai ulama, ilmu ini harus dipahami secara detail (terperinci), hingga ke cabang-cabangnya.  Untuk memperoleh ilmu ini tentu harus belajar ke ahlinya, seperti ustadz, syaikh, doktor, dan sebagainya.

PELAJARI: (a). Ilmu Agama; (b). Sains Umum; dan (c). Ilmu Spesialis.

PELAJARI: (a). Ilmu Agama; (b). Sains Umum; dan (c). Ilmu Spesialis.

[b]. Ilmu Pengetahuan Umum (sains). Ilmu pengetahuan umum bisa sosial, bisa ilmu alam. Setiap Muslim perlu memiliki ilmu pengetahuan umum ini, karena dua alasan: Pertama, Al Qur’an mengajarkan aneka jenis pengetahuan (baik sosial maupun alam); kalau kita tidak mengenal ilmu-ilmu itu, otomatis kita tidak akan memahami Al Qur’an secara baik. Kedua, otak manusia didesain oleh Allah untuk bisa menerima dan memahami aneka jenis ilmu pengetahuan ini. Jadi sudah fitrah manusia memiliki kemampuan mengenali aneka jenis pengetahuan. Tentu saja, kadar pengetahuan disini tergantung kemampuan dan kesempatan. Kalau mampu memahami secara dalam, silakan; kalau tidak, ya sekadar ilmu yang bisa diserap saja. Pengetahuan umum ini nantinya sangat berguna ketika kita dituntut untuk menghidupkan ilmu-ilmu keislaman dalam kehidupan nyata. Untuk mencapai ilmu ini bisa belajar di sekolah umum, bisa membaca, diskusi, korespondensi, eksperimen, kunjungan lapangan, dll.

[c]. Ilmu Spesialis. Setiap Muslim perlu memiliki spesialisasi ilmu tertentu yang benar-benar dikuasainya. Karena spesialis, tentu cakupannya terbatas dan terperinci. Kadar ilmu spesialis ini sederhana: Pertama, seseorang bisa mendapatkan nafkah (income) dari penerapan ilmu itu; Kedua, dia bisa menerapkan ilmu tersebut sehingga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Misalnya, spesialis ilmu pembibitan tanaman. Seorang spesialis bisa membibitkan tanaman, bisa mencari peluang pasar, dan bisa mendapat hasil income dari bisnis pembibitannya; dia bisa mengajarkan ilmu pembibitan dan menjadi konsultan; lalu dia bisa menghasilkan banyak bibit yang kemudian bibit-bibit itu ditanam di tepi jalan-jalan kota, di tanah di bukit gundul, di halaman-halaman rumah masyarakat, dll. Lebih bagus lagi, kalau si spesialis tersebut bisa membuahkan teori-teori pembibitan baru menurut versi dia sendiri. Untuk mempelajari ilmu spesialis ini, ya perlu belajar ke ahlinya, perlu banyak mencoba dan eksperimen, serta perlu share dengan sesama peminat ilmu tersebut.

Demikianlah konstruksi keilmuan seorang Muslim. Setiap Muslim perlu memiliki ketiga jenis ilmu di atas, baik ilmu agama, pengetahuan umum, dan spesialis. Kalau tidak demikian, kita akan lemah dan tidak bisa memberdayakan diri dan ummat. Ini jalannya sudah ditunjukkan, tinggal dipahami dan dilaksanakan. Jangan selalu mengeluh dan mencari apologi, dalil-dalil sudah ditunjukkan dengan jelas. Ilmu agama dibutuhkan karena hidup ini adalah agama; ilmu umum dibutuhkan karena Al Qur’an mengajak ke arah itu; ilmu spesialis dibutuhkan, karena untuk mencari income dan kontribusi di tengah masyarakat.

Jadi, apalagi yang kamu galaw-kan? []

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 150 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: