Bisnis Muslim

Inspirasi bisnis yang bisa Anda renungkan. Semoga bermanfaat! Allahumma amin.

[04] Anda berbisnis dengan MANUSIA

Ini adalah prinsip besar yang sering dilupakan oleh para pebisnis amatiran. Jika Anda benar-benar memahami dunia bisnis dalam masa yang lama, Anda akan memahami: betapa berharga hati konsumen Anda! Para pebisnis pun tidak ragu untuk memakai sebuah slogan, “Pembeli adalah raja!”

Maksudnya begini. Dalam berbisnis dengan manusia, Anda harus menghindari cara pelayanan yang bisa membuat para pembeli/konsumen marah, kecewa, atau sakit hati kepada Anda. Bahkan, suasana tempat bisnis Anda yang bisa membuat orang lain merasa TIDAK NYAMAN, harus dihindari.

Misalnya, dalam bisnis sebagian pedagang selalu menanti pembeli di depan tokonya. Dia selalu “siap siaga” menjemput pembeli. Kalau ada pembeli, dia segera bertanya, “Mau beli apa?” Cara-cara seperti ini membuat orang merasa tidak nyaman untuk mampir ke tokonya. Seharusnya, para pembeli itu biarkan saja melihat-lihat barang apapun yang ada di tokonya. Dia mau bertanya apapun, biarkan saja. Dan jangan paksa mereka untuk membeli barang kita. Kalau mereka mengatakan, “Maaf, saya cuma bertanya saja!” Jawab perkataan itu dengan sikap yang sangat simpatik, “Oh, tidak apa-apa. Silakan bertanya! Terimakasih sudah berkunjung.” Lalu tersenyumlah yang manis kepada orang yang tidak jadi membeli itu. Kalau perlu antarkan pembeli itu sampai ke pintu toko.

Lho, kok gitu-gitu amat sih?

Iya, memang seperti itu caranya. Disini ada tinjauan luar biasa yang harus dipahami oleh setiap pebisnis Muslim, yaitu:

[o] Jangan memandang, bahwa setiap orang yang datang ke toko/outlet/stand Anda itu selalu akan membeli. Tidak demikian. Mereka harus dipandang sebagai: konsumen bebas! Terserah mereka, akan membeli atau tidak. Yang jelas, kita tidak menyandarkan rizki kita kepada orang itu, namun kita sandarkan rizki kepada Allah. Kalau Allah kehendaki orang itu akan membeli, dia pasti membeli. Kalau Dia kehendaki tidak membeli, pasti dia tidak akan membeli.

Kalau ada seseorang datang ke toko/warung/outlet Anda, hati Anda jangan fokuskan ke diri orang itu, tetapi kepada Allah Ta’ala. Dia-lah sumber rizki kita. Tugas kita adalah melayani orang yang datang itu sebaik-baiknya, nanti Allah yang akan menentukan besaran nilai rizki yang akan kita terima. Berikan pelayanan terbaik kepada setiap calon konsumen, lalu fokuskan hati Anda kepada Allah Ar Razzaq.

[o] Saat Anda telah memberikan pelayanan terbaik, sampai para pembeli merasa SANGAT TENTRAM berada di toko/outlet/warung Anda, maka sejak itu tempat yang Anda buat untuk bisnis itu akan menjadi tempat yang berkah. Ia akan menjadi tempat yang tumbuh, berkembang, dan menjadi “tambang profit” bagi keluarga. Berbeda, kalau Anda menjaga toko/warung/outlet seperti seorang SATPAM menjaga istana. Dapat diduga, tempat usaha Anda akan selalu diingat-ingat sebagai tempat yang “menyeramkan”.

Bahkan sebenarnya, di supermarket-supermarket saya sering lihat mereka menempel peringatan di rak-rak barang: “Segala macam tindakan pencurian, akan dilaporkan ke polisi.” Ini adalah peringatan bodoh, tidak perlu dilakukan sama sekali. Ini sebuah kebodohan, membuat konsumen merasa terawasi secara ketat. Tindakan sekuriti itu cukuplah dilakukan dengan cara-cara yang arif. Misalnya, buat satu pengumuman cukup besar yang bisa dilihat oleh konsumen dengan kata-kata lembut, misalnya: “Kami sangat menghargai kejujuran dan sportifitas dalam segala bentuk transaksi”. Atau misalnya: “Anda jujur, kami sangat menghargai”.

[o] Harus selalu diingat EFEK BERANTAI dari kesan yang dirasakan oleh setiap konsumen. Seorang pembeli yang merasa tentram, nyaman, dan diperlakukan secara lembut, dia akan menceritakan kesan-kesan yang dialaminya kepada keluarga, teman, dan kenalannya. Toko/outlet/warung yang memberi pelayanan SIMPATIK akan selalu dikenang, diingat, direkomendasikan, bahkan dipromosikan secara gratis. Inilah efek ketika kita bisa memperlakukan para konsumen/calon konsumen secara manusiawi dan simpatik.

[o] Sungguh, seorang pemilik/penjaga toko tidak akan rugi ketika memberi informasi gratis kepada setiap calon konsumen, memperlakukan konsumen itu dengan sikap lembut, meskipun akhirnya dia tidak jadi membeli barang. Tidak akan rugi, meskipun kita sudah “capek” memberi informasi. Mengapa demikian? Sebab secara materi, memang kita tidak merugi. Tidak ada uang/keuntungan yang hilang. Mungkin waktu kita hilang, atau lidah kita agak kelu dengan memberi macam-macam informasi. Tetapi secara materi, memang tidak ada yang hilang.

Dan harus diingat, bahwa setiap pengorbanan manusia itu tidak ada yang sia-sia. Segala perbuatan yang kita lakukan secara IKHLAS dalam rangka IKHTIAR mencari rizki Allah, semua itu akan menjadi tabungan bagi kita. Selain tabungan amal, juga tabungan rizki. Semua perbuatan itu sebenarnya akan menjadi POINT PROFIT yang tersimpan rapi dalam catatan Allah Ta’ala. Nanti ketika point itu sudah penuh, ia akan diberikan kepada kita dalam bentuk: rizki besar yang tidak disangka-sangka. Hal ini sering terjadi dalam perdagangan.

Wahai saudaraku, ingatlah para pembeli atau calon pembeli yang engkau hadapi itu, pada hakikatnya adalah manusia. Siapakah manusia? Manusia itu adalah seperti dirimu. Kalau engkau suka diperlakukan secara simpatik, maka para calon pembelimu juga ingin diperlakukan seperti itu. Kalau engkau benci dilecehkan, diabaikan, disia-siakan, bahkan dihina; maka para pembelimu juga benci diperlakukan seperti itu.

Bodohnya cara bisnis kita selama ini -maaf saya memakai kata ‘bodoh’-, ketika bisnis mulai ramai, banyak pembeli, pertumbuhan berkembang terus; saat itu begitu mudah kita meremehkan para pembeli. Terutama pembeli dengan uang ribuan, uangnya lecek-lecek, dan sebagian uang logam. Kita inginnya melayani para pembeli yang keluar dari sedan, penampilan rapi, aroma tubuhnya wangi, dompetnya tebal, kalau mengeluarkan uang pecahannya hanya satu saja (pecahan 100 ribuan). Sementara para calon pembeli dekil, dengan uang ribuan lecek-lecek, kita sumpek melihatnya, merasa mau muntah, pingin cepat-cepat mengusir pembeli itu agar “tidak merusak pemandangan toko”. Betapa bodohnya, kalau ada Muslim yang berbisnis -maaf sekali lagi maaf- tolol seperti itu. Dia adalah pebisnis amatiran, arogan, dan tidak layak berbisnis.

Pembeli dalam segala macam keadaannya, adalah amanah Allah yang harus kita terima dengan syukur, kita layani sebaik mungkin. Prinsipnya: “Jangan menyandarkan bisnis Anda kepada kunjungan orang-orang berkantong tebal, sebagaimana jangan pernah meremehkan datangnya orang-orang berkantong tipis. Sandarkan bisnis Anda kepada pelayanan prima, kepada siapapun. Dan sikap tawakkal kepada Allah.”

Jika Anda lakukan semua ini, yakinlah bisnismu akan berkibar-kibar. Dengan ijin dan pertolongan Allah. Allahumma amin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.

Note: Saya sudah belajar bisnis sejak SD. Mulai dari membantu nenek berjualan di pasar tradisional, dekat SD tempatku sekolah.

==================================================================================

[03] Rahasia tempat strategis di pinggir jalan

Merupakan kiat yang sudah diketahui secara luas, bahwa membuka toko/outlet/counter dipinggir jalan merupakan salah satu cara untuk mencapai sukses bisnis. Para pebisnis sudah paham soal kiat yang sangat general ini. Sejak dulu sampai saat ini, masyarakat masih rebutan tempat “di pinggir jalan” agar bisnisnya laku keras.

Dulu, ibuku menyampaikan sebuah filosofi sederhana. Maklum, selama puluhan tahun beliau pernah berdagang untuk membantu keuangan keluarga kami. Ibu pernah mengatakan, kurang-lebih, “Sudah buka saja toko di pinggir jalan, lalu isi dengan barang apapun yang bisa dijual. Nanti, lama-lama, akan datang juga pembeli menghampiri.” Saya sungguh terkesan dengan filosofi tersebut. Dan ia memang banyak dipakai juga.

Tetapi di kemudian hari saya mendapatkan koreksi dari seorang teman yang telah malang-melintang di bisnis perdagangan kecil. Bagi dia, tempat di pinggir jalan belum sepenuhnya menjadi jaminan. Kalau saya lihat kenyataan, memang benar apa yang dia katakan. Di pinggir jalan banyak sekali toko/warung yang buka, bahkan sekelas minimarket, tetapi tidak dijamin disana banyak pembelinya.

Lalu dimana kunci masalahnya?

Saudaraku, tempat di pinggir jalan itu sungguh menguntungkan, dibandingkan tempat di tengah pemukiman atau di dalam gang. Tetapi ia belum optimal. Kalau mau optimal, perhatikan kiat berikut:

[a] Oke, carilah tempat tertentu di pinggir jalan untuk membuka toko/warung/outlet.

[b] Tetapi jangan mencari asal “pinggir jalan”, namun Anda harus memastikan bahwa di jalan itu banyak orang yang berlalu-lalang jalan kaki. Anda hitung seberapa banyak potensi pejalan kaki di jalan tersebut. Kalau banyak, silakan Anda cari tempat disana. Kalau sedikit, Anda harus memindahkan target Anda ke tempat lain. (Sejatinya, potensi pembeli toko/warung Anda adalah para pejalan kaki itu. Bukan pengendara motor atau mobil yang lewat disana).

[c] Andai Anda tetap memaksakan mencari tempat “pinggir jalan”, meskipun sedikit pejalan kaki yang lewat disana, maka Anda harus memastikan bahwa halaman toko/warung Anda itu cukup luas untuk memudahkan motor atau mobil masuk dan parkir disana. Dan Anda harus mencari cara sebaik mungkin, untuk menarik perhatian mereka agar datang ke toko/warung Anda. Tanpa stimulus-stimulus menarik, sulit bagi Anda untuk memperoleh  potensi pembeli.

Tetapi bagaimanapun, semua ini hanya ikhtiar kita ya. Kita hanya mampu berusaha, sedangkan Allah penentu hasilnya. Semakin banyak usaha spiritual untuk mengundang keridhaan Allah, itu lebih baik.

Terimakasih. Semoga bermanfaat. [AMW].

[02] Cara Kreatif “Menjual Keringat”

“Menjual Keringat” itu maksudnya mencari kerja. Kita bekerja dengan tenaga, pikiran, dll. lalu mendapatkan kompensasi dari pekerjaan itu. Inilah “jual-beli” keringat.

Dulu saya berpandangan bahwa seorang Muslim tidak boleh mencari kerja, sebab Nabi Saw melarang kita meminta jabatan. Saya kira jabatan = pekerjaan. Ternyata, keduanya berbeda nyata. Jabatan memiliki konsekuensi dengan: Kepemimpinan, wewenang membuat keputusan, dan kompensasi yang lebih besar. Sedangkan pekerjaan identik dengan “barter tenaga” dengan sejumlah uang tertentu sebagai “ongkos lelah”. Pekerjaan sifatnya lebih universal, sedangkan jabatan membutuhkan kecakapan tertentu.

Kalau mau jujur, banyak orang tidak bekerja alias menganggur, sebenarnya bukan karena mereka tidak mendapat pekerjaan, atau disana tidak ada pekerjaan yang tersedia. Tetapi karena KURANG TERAMPIL dalam menyiasati keadaan, sehingga potensi besar yang dimiliki menjadi terbuang percuma. Disini akan saya tunjukkan sebuah LAUTAN PELUANG yang ada di depan mata Anda. Jika Anda mampu mengelola peluang-peluang itu sebaik mungkin, insya Allah tidak akan gelisah lagi soal pekerjaan.

Mari kita mulai melangkah mengejar pekerjaan:

PERTAMA, mula-mula Anda harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa Anda itu MAMPU BEKERJA. Tolong Anda buang segala pikiran-pikiran buruk yang bersifat menghakimi dan memojokkan diri Anda sendiri.

Kalimat-kalimat seperti: “Ahh, saya hanya lulusan SMA. Mencari pekerjaan di jaman ini susah. Bagaimana bisa kerja, kami tidak memiliki skill, ya ijazah juga seadanya. Maklum, kami ini orang bodoh, tidak bisa kerja apa-apa. Kami ini hanya pengangguran.” Hal-hal seperti itu harus dibuang jauh-jauh.

Sebuah test sederhana tentang kemampuan Anda dalam bekerja:

a. Apakah Anda mampu mengangkat ember berisi air? Jika mampu, maka di pabrik-pabrik itu banyak orang yang kerjanya hanya memindahkan cairan bahan kimia dari satu tempat ke tempat lain.

b. Apakah Anda mampu menyapu lantai? Jika mampu, maka banyak sekali manusia yang terlibat dalam pekerjaan cleaning service. Padahal pekerjaannya tidak jauh dari menyapu, mengepel, dan mengelap debu.

c. Apakah Anda mampu memarahi anak bandel? Jika mampu, maka banyak dosen, guru, bahkan profesor yang kerja utamanya marah-marah kepada murid/mahasiswa, lalu mereka digaji besar dengan marahnya itu.

Jika Anda mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan di atas, berarti Anda memiliki kemampuan. Hanya saja, Anda tidak menyadarinya. Atau tidak mampu mengelolanya untuk mendulang rupiah.

KEDUA, coba Anda catat kemampuan kerja apa saja yang saat ini Anda miliki. Misalnya, Anda bisa naik sepeda, bisa merapikan buku-buku berserakan, bisa menyapu dan mengepel lantai, bisa masak beberapa macam menu, bisa mengajar, bisa komunikasi asing, bisa membaca dan berhitung, bisa menanam tanaman, bisa nyeboki adik kecil, bisa naik motor, bisa nyopir mobil, bisa ini itu, dan sebagainya.

Jangan malu-malu untuk menggali kemampuan Anda sendiri. Kemampuan itu tidak harus berupa bisa mereparasi motor, mereparasi TV/radio, bisa ahli 5 bahasa asing, ahli teknik komputer, pandai aplikasi grafis, dan sebagainya. Tidak harus yang seideal itu. Bahkan Andai Anda tidak memiliki kemampuan apapun, selain hanya pintar nonton TV. Hal itu juga bisa menghasilkan uang, kalau tahu caranya.

Coba Anda catat semua kemampuan teknik/bekerja yang Anda mampu lakukan, mulai dari kemampuan yang sangat elementer sampai yang membutuhkan piranti alat-alat high tech (teknologi tinggi).

Mohon Anda jangan malu untuk mencatat semua kemampuan kerja Anda. Satu sisi yang tahu persoalan ini hanya Anda (dan Allah Ta’ala); di sisi lain, rasa malu mengukur diri itu adalah salah satu hambatan besar untuk mendapat kemajuan. Kalau terhadap diri sendiri saja malu, apalagi akan bergaul dengan orang lain?

KETIGA, setelah terkumpul sekian banyak keahlian yang Anda miliki, kemudian pilihlah sebagian keahlian saja. Lakukan seleksi terhadap semua keahlian itu, sampai Anda dapatkan beberapa bidang keahlian yang akan Anda dalami sedalam-dalamnya. Jika sudah diperoleh poin-poin keahlian itu, lakukan penggalian teknik sedalam-dalamnya.

Misalnya, Anda memiliki keahlian membuat “telor ceplok”. Dari ribuan menu makanan yang dikenal manusia, katakanlah Anda hanya mampu membuat “telor ceplok” saja. Kemampuan ini pun bisa menghasilkan uang banyak, jika Anda mau mendalami teknik pembuatan telor ceplok itu sedalam-dalamnya.

Cobalah Anda gali informasi sebanyak-banyaknya tentang “dunia telor ceplok”, kalau perlu bacalah 100 buku seputar masalah itu. Lakukan surfing data seluas-luasnya di internet seputar telor ceplok. Lakukan perjalanan ke luar kota untuk mengamati bermacam produk telor ceplok. Dan tentu lakukan eksperimen membuat telor ceplok berulang-ulang, sampai Anda sendiri BOSAN.

Ketika Anda merasa bosan, paksakan dan paksakan untuk terus berlatih, sampai Anda akhirnya MENCINTAI dunia telor ceplok. Jika sudah sampai di titik ini, berarti Anda sudah Master di bidang “telor ceplok”. Anda bisa mengenali jenis-jenis telur, kondisi-kondisi telur, karakter minyak, perapian, wajan tempat menggoreng, dll. Bahkan Anda tahu secara detail harga barang-barang seputar telor ceplok itu dan tahu pemasok-pemasoknya.

Dalam konteks ini, Anda sudah READY untuk mendulang rupiah dengan keahlian Anda, membuat “telor ceplok”. Patut diingat ya, dalam bisnis itu yang penting bukan sederhana atau rumitnya suatu pekerjaan, tetapi tingkat kepuasan yang bisa diperoleh konsumen. Sebagai contoh, KFC, McD, dan lainnya, mereka itu hanya menjual “ayam goreng” saja, tetapi produknya memiliki kelebihan dan gengsi lebih tinggi. Padahal basic-nya hanya membuat “ayam goreng”.

KEEMPAT, kalau Anda sudah sampai ke taraf memiliki keahlian, maka saatnya Anda mulai menjalin komunikasi dengan pihak-pihak lain yang membutuhkan kemampuan Anda.

Misalnya, Anda ahli di bidang pembuatan “telor ceplok”. Anda bisa menawarkan kemampuan Anda ke perusahaan peternakan, sebagai konsultan telur; atau Anda bisa menawarkan diri ke restauran-restauran berkelas sebagai ahli spesialis telur; atau Anda bisa menawarkan diri ke hotel-hotel, perusahaan catering, biro perjalanan, rumah-rumah sakit, dan lainnya. Disini sangat dibutuhkan sikap aktif dalam komunikasi. Kalau bola tidak datang menghampiri, maka Anda yang harus menjemput bola.

Banyak orang memiliki keahlian, tetapi kurang pandai dalam komunikasi, sehingga akibatnya kemampuannya tidak terekspresikan dalam pekerjaan yang produktif. Sayang sekali, padahal waktu yang dipakai untuk melakukan pendalaman sampai ahli, tidaklah sebentar.

Prinsipnya: “Lebih baik kita menahan malu saat berkomunikasi dan berkali-kali ditolak, daripada kita menahan malu bertahun-tahun sebagai seorang pengangguran.

KELIMA, andai Anda sudah mencoba melakukan komunikasi dan gagal sampai hitungan 50 kali, lalu Anda merasa letih untuk meneruskan. Anda perlu mencoba kiat berikutnya, yaitu: membuat produk sesuai keahlian Anda tersebut, lalu menjualnya sendiri. Kalau gagal bekerja kepada orang lain, ya cobalah bekerja sendiri. Toh, bekerja bersama orang atau bekerja sendiri, keduanya sama-sama butuh KEAHLIAN, sedangkan dalam tahap ini Anda sudah memiliki keahlian.

Anda bisa membuat inovasi-inovasi produk yang mencengangkan. Misalnya, Anda membuat “telor dadar richa-richa”, “spagheti telor merah”, “martabak ala Madinah”, dan apa saja yang tampak kreatif. Saya yakin, dengan pertolongan Allah, bisnis Anda akan sukses. Padahal modalnya adalah sesuatu yang semula diremehkan, yaitu kemampuan membuat “telor ceplok”.

KEENAM, jika Anda sudah mendapat pekerjaan dengan modal keahlian Anda, masalah tidak lantas berakhir. Bisa saja, meskipun sudah bekerja, Anda merasa tidak nyaman bekerja di suatu tempat.

Misalnya disana Anda tidak boleh shalat, disana godaan wanitanya sangat kuat, disana banyak orang-orang tidak bermoral, dll. Jika demikian, Anda harus sabar mencari pekerjaan lain, sambil Anda tetap bekerja di tempat tersebut. Jika nanti sudah diterima di tempat baru, Anda silakan keluar dari tempat kerja lama.

Dimanapun Anda bekerja, jangan tanggung-tanggung. Jadikan diri Anda sebagai pekerja yang DIANDALKAN di tempat kerja Anda. Dengan demikian perusahaan membutuhkan Anda, bukan sebaliknya. Dalam kondisi demikian, Anda memiliki posisi tawar yang kuat. Biasanya orang akan nyaman bekerja kalau posisi tawarnya kuat. Kalau terus-menerus menjadi “kuli”, biasanya banyak kecewanya di hati.

Demikian sahabat-sahabat budiman beberapa ide untuk memecah kebuntuan pemikiran dalam soal pekerjaan. Semoga bermanfaat. Semoga Anda segera diberi pekerjaan yang barakah, dan doakan agar Allah melancarkan rizki untuk kami agar tetap bisa mengawal media edukasi Ummat ini secara berkesinambungan. Allahumma amin.

Selamat bekerja!!! [AMW].

=====================================================

[01] “Semua Bisa Dijual”

Saya pernah duduk-duduk dengan seorang sahabat, Muslim keturunan Tionghoa, di depan rumah. Waktu itu kami masih ada kontak yang dekat dengannya. Kami duduk di atas kursi rotan yang sudah riyek, sudah lapuk, kondisi kursi sudah hampir “dipensiunkan”. Dalam salah satu obrolan itu terungkap sebuah prinsip berdagang yang bagus.

Teman tadi mengatakan, “Semua barang, termasuk kursi rotan ini, bisa dijual. Kalau ia tidak bisa dijual, berarti yang salah adalah penjualnya.

Kata-kata seperti itu terasa begitu kuat, seakan masing terngiang-ngiang di telinga, meskipun sudah bertahun-tahun disampaikan. Benar adanya, segala sesuatu bisa dijual, jika ia tidak bisa dijual, berarti yang salah adalah penjualnya. Prinsip ini kalau benar-benar Anda camkan, bisa membangun semangat yang kuat untuk menjual dan TAHAN BANTING dalam menghadapi berbagai situasi penjualan.

Di rumah Anda sendiri sebenarnya banyak barang bisa dijual, misalnya:

- Kertas bekas, baik buku tulis, koran, majalah bekas, kertas pembungkus, dll.

- Barang-barang plastik yang sudah tidak berfungsi, apakah perabot dapur, mainan anak, wadah-wadah, ember, dll.

- Besi-besi bekas, apakah dari sepeda, spare part motor, mesin rusak, paku, baut, lempengan logam, dll.

- Barang layak pakai, tetapi tidak produktif. Misalnya, Anda memiliki sepeda yang tidak terpakai. Kondisi masih baik, bisa dipakai dengan baik, tetapi sepeda itu nganggur di gudang atau rumah. Semakin hari dibiarkan, ia akan rusak. Andai Anda mau menjualnya, tentu akan diperoleh nilai nominal tertentu.

- Koleksi barang-barang hiasan, seperti lukisan, benda seni, batu unik, perangko, dll.

- Dan Anda masih bisa mencari apa saja yang memiliki nilai nominal, tidak produkti di rumah, tetapi potensial dijual kepada orang lain.

Pertanyaannya, bagaimana cara menjual semua itu? Bisakah Anda menjualnya? Mungkinkah ia bisa berpindah tangan, berganti nominal uang seperti yang diharapkan?

Nah, kembali ke prinsip di atas, “Segala sesuatu bisa dijual. Jika ia tidak bisa dijual, berarti yang salah penjualnya.”

Barang-barang itu bisa dijual dan Anda mendapat uang sebagai gantinya. Jika ia tidak bisa dijual, berarti Anda yang tidak bisa menjualnya. Bukan karena barang-barang itu tidak laku.

“Tapi bagaimana Mas caranya? Jangan muter-muter dong! Dari tadi saya juga mau tahu bagaimana cara menjualnya! Tolong dong agak cepat dikit gitu!” keluh Anda dalam hati karena sudah merasa tidak sabar. Padahal salah satu jalan meniti keberhasilan itu adalah: SABAR. Sampai dalam Al Qur’am dikatakan “Shabran jamilan” (kesabaran itu sagat indah). Oke oke, kita lanjutkan lagi.

Caranya begini brother…

[1] Anda harus mencari orang yang kira-kira membutuhkan barang itu. Misal kertas bekas, banyak pengumpul yang membutuhkannya. Misal besi tua, juga banyak yang membutuhkannya. Kalau barang koleksi, misalnya lukisan dinding, Anda bisa cari teman-teman yang kira-kira secara ekonomis cukup mampu. Tawarkan kepadanya. Sambil memelas juga tidak apa-apa, asalkan tidak berbohong. Jadi, harus dicari orang yang membutuhkan.

[2] Ketika menetapkan harga, jangan memberi harga yang terlalu mahal. Kalau harga mahal, para pembeli sudah buru-buru kabur duluan. Tidak masalah Anda memberi kisaran harga 25 % sampai 30 % dari harga normal atau barang baru. Ya, daripada barang terus menyusut, sedangkan Anda tidak memperoleh nominal apapun, harga murah pun tidak masalah.

[3] Kalau bisa perhatikan momentum. Misal Anda punya banyak kayu-kayu bekas di rumah, baik papan, triplek, atau kayu-kayu panjang. Nah, coba tawarkan barang-barang itu ketika banyak orang sedang membangun kios-kios petak di pinggir jalan. Atau bisa juga ditawarkan ketika ada orang sedang membangun rumah, atau merenovasi rumahnya. Seperti bambu-bambu, ia laku ketika tiba momentum Agustusan.

[4] Jangan berat menerima harga kecil di awal penjualan. Kalau Anda baru mulai menjual, mungkin akan mendapat harga kecil. Ya, karena belum pengalaman. Namun jangan lemah, berkecil hati, atau mati semangat. Jangan wahai akhunal karim. Ini adalah langkah awal, jangan berhenti disana! Masih banyak langkah-langkah keberhasilan yang akan Anda temui di masa-masa berikutnya. Justru saat berhasil melakukan first selling itu, Anda harus meneguhkan hati, “Alhamdulillah. Ternyata aku bisa juga menjual! Nanti akan dicoba lagi biar semakin mahir, insya Allah!”

Terus Anda pun masih mengeluh, “Tapi mohon jelaskan kepada kami. Ya, saya ingin cara yag cepat, mudah, dan tidak capek, tapi dapat duit banyak. Kalau masih harus cari pembeli, tawar-menawar, mencari momentum, sudah deh ampun deh, saya tak mau! Saya mau cara yang gampang-gampang ajalah!”

Ya, kalau begitu cara berpikirnya, saya sarankan Anda tidur saja di rumah. Buatlah jadwal tidur 23 jam sehari. Sisanya 1 jam untuk berbagai keperluan: Makan, minum, ke WC, shalat super cepat, bertemu orang, say hi kepada orangtua, dan lainnya. Sudah saja, Anda jalani hidup Anda sebagai the real sleeper (tukang tidur kebluk sejati). Bahkan Anda tidak perlu masuk warnet, membuka blog ini, bahkan tidak perlu membaca dan menulis apapun. Isi saja hidupmu dengan tidur, tidur, tidur, dan tidur lagi!

Ya, daripada bekerja capek, lebih baik tidur ngebluk seumur hidup. Lalu menjadi orang yang HINA, tidak mendapat bagian dari kemuliaan dunia, dan tidak berhak atas jaminan Syurga Allah di Akhirat nanti.

Siapapun juga, tidak peduli orang kafir, kalau mereka mau berhasil, mau memiliki uang cash melimpah di tangan. Mereka jelas bekerja keras! Orang Jepang, Korea, China, dan lain-lain terkenal sebagai pekerja keras, meskipun mereka adalah kafir.

Nah, sementara itu dulu. Insya Allah, nanti kita sambung lagi. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin.

By AMW.

3 Tanggapan ke “Bisnis Muslim”

  1. wahyudi Berkata:

    Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuhu.
    Iya kita dukung pa. Alhamdulillah saat ini sudah dibuka Toko Buku dan Kitab Al-Madinah yang menjual kitab2 berbahasa Arab dan buku buku keislaman. Spesial, kami termasuk agen utama Kitab Al-’Arabiyah Baina Yadaik, Maktabah Syamilah, Program CD Arabindo.
    InsyaAllah dalam waktu dekat akan dibuka layanan kesehatan islam berbasis hijamah/bekam-herbal-pijat dan pelatihannya. Bagi yang ingin share bisa langsung menghubungi lewat email:ayudi@belajarislam.com. Info terkini:bisnismuslim.com. Mudah-mudahan dengan ini dapat membantu dakwah islam.

  2. abahguru Berkata:

    termasuk keahlian bikin blog juga bisa dijual ustadz. Saya sudah membuktikannya.
    Jadi para bloger… jangan cuma buat senang-senang… tapi bisa jadi profesi

  3. IMAM SUPRIYADI . Berkata:

    Dalam media metafisika eksakta yang dipelopori oleh wartawan kondang bpk. ADINEGORO mengomentari tentang kejadian Revolusi serta Evolusi pada penetapan P4 (Eka Pras setia Pancakarsa) akan melalui segmentasi pemahaman Pancasila yang di Rumuskan Oleh M. Yamin sebagai keberadaan pada ayat Al Qur’an S, Ad dzaryat 56 tentang Tidak aku ciptakan Jin Dan manusia kecuali Untuk Mengabdi Pada KU.
    PANCASILA yang dirumuskan Oleh Mohammad Yamin di perdiksi oleh Wartawan ADINEGORO mempunyai tatanan Filsafat da Aristoteles pada Cosmos Alam Homo Economicus. Su’udin : GURU Senior SD.

Tinggalkan Balasan