Dialektika Syariat Islam

November 2, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Tema Syariat Islam adalah perkara yang sangat penting diketahui oleh kaum Muslimin, khususnya mereka yang telah menjalankan nilai-nilai Islam dan telah sampai ilmu kepadanya. Pemahaman yang jelas dan istiqamah dalam hal ini akan membawa maslahat besar bagi kehidupan Ummat Islam di negeri ini.

Disini saya akan menulis sejumlah poin-poin penting seputar tema Syariat Islam. Termasuk di dalamnya materi-materi perdebatan yang selama ini sering diangkat. Poin-poin itu disusun sepraktis mungkin dan runut sehingga mudah dipahami. Tujuan intinya, ingin menegaskan kembali betapa pentingnya penegakan Syariat Islam dalam kehidupan masyarakat. Semoga yang sederhana ini bermanfaat bagi Ummat dan bernilai di hadapan Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin.

[01] Apa urusannya bicara Syariat Islam di masa sekarang? Apakah kita tidak dikatakan set back ke belakang, bernostalgia dengan masa lalu?

Hakikat Syariat Islam adalah ajaran Islam itu sendiri. Bicara tentang Syariat Islam sama dengan bicara tentang agama Allah. Sebaik-baik pembicaraan adalah tentang agama-Nya. Dalam Al Qur’an: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya, selain orang yang menyeru kepada Allah, beramal shalih, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku ini adalah orang Muslim.’” (Fushshilat: 33). Tidak ada istilah set back untuk berbicara tentang perkara-perkara yang diridhai Allah (tentang agama-Nya). Semakin banyak kita bicara tentang agama-Nya, semakin dekat kita dengan kemuliaan. Semakin kikir kita bicara tentang agama-Nya, semakin dekat kita dengan kehinaan. Tidak mengherankan jika Allah hendak memuliakan manusia, Dia mengutus Nabi atau Rasul untuk menegakkan agama-Nya di tengah-tengah manusia. Setelah Rasulullah Saw wafat tidak ada lagi Nabi yang diturunkan, maka Allah memperbaiki kehidupan manusia dengan mendatangkan ulama-ulama Waratsatul Anbiya’ (Pewaris Nabi). Mereka mengambil peranan, melanjutkan missi Kenabian, meskipun sifatnya bukan manusia yang ma’shum dari kesalahan.

[02] Tidak semua orang menginginkan Syariat Islam. Di tengah kita ada orang-orang yang beragama selain Islam. Apakah kita akan memaksakan Syariat Islam kepada mereka? Bukankah itu suatu pemaksaan, padahal dalam Islam tidak ada paksaan?

Pada dasarnya, siapapun boleh bicara tentang Syariat Islam. Hal itu tidak terbatas bagi kaum Muslimin saja. Syariat Islam adalah agama yang diserukan secara universal kepada seluruh manusia. Dalam Al Qur’an, “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Saba’: 28). Orang non Muslim boleh bicara Syariat Islam, selama niatnya baik. Pembicaraan itu akan menjadi dakwah bagi mereka. Namun mereka tidak dipaksa untuk menerima Syariat Islam, sebab mereka adalah non Muslim. Kecuali dalam suatu negara yang telah ditegakkan Sistem Islam, mereka harus mematuhi Syariat Islam dalam batas-batas tertentu (khususnya terkait hukum-hukum sosial). Tetapi bagi orang Muslim, wajib hukumnya membicarakan Syariat Islam, baik sedikit atau banyak. Bahkan kita akan merugi kalau tidak membicarakan tentang Syariat Islam. Dalilnya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman, yang beramal shalih, dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (Al ‘Ashr). Amanah Syariat Islam secara khusus ditujukan kepada orang-orang Muslim. Namun kalau kalangan di luar Islam tertarik mempelajari Syariat Islam dengan hati yang tulus, ya alhamdulillah.

[03] Bukankah kita di Indonesia sudah sepakat, bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah final? Tidak ada konsep hukum lain, selain itu.

Siapa mengatakan Pancasila dan UUD 1945 sudah final? Adakah orang-orang beriman yang mengklaim seperti itu? Tidak ada yang FINAL dalam kehidupan ini, selain WAHYU Allah. Hanya Wahyu Allah dan sabda Rasulullah yang bersifat final dan mutlak. Selain keduanya, bersifat optional (pilihan). Hingga para filosof sering mengatakan, “Tidak ada kebenaran mutlak dalam ilmu pengetahuan, selain kebenaran Wahyu.” Kalau Pancasila dan UUD 1945 dianggap final, berarti kita telah menempatkannya seperti Wahyu Allah. Keyakinan seperti itu justru sangat kontradiksi dengan Pancasila sendiri. Pada Sila pertama dikatakan: “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Kalau bangsa kita mengaku bertuhan, pasti tidak akan mengatakan bahwa Pancasila dan UUD 1945 yang dirumuskan oleh manusia itu sebagai kebenaran mutlak yang bersifat final. Tidak ada yang final dalam kehidupan ini, selain Kitabullah dan As Sunnah. Mengatakan Pancasila dan UUD 1945 bersifat final, sementara Al Qur’an dan As Sunnah dianggap relatif, berarti kita telah menjadikan Pancasila dan UUD 1945 lebih tinggi dari Al Qur’an dan As Sunnah. Ini adalah kesesatan besar yang bisa membatalkan keimanan manusia.

[04] Kalau kita memaksakan penegakan Syariat Islam, maka akibatnya NKRI akan terpecah-belah. Wilayah Indonesia Timur akan memerdekakan diri. Alasan itu pula yang dulu membuat Hatta menolak Piagam Djakarta. Daripada NKRI terpecah-belah, lebih baik kita jangan memaksakan berlakunya Syariat Islam di bumi Indonesia.

Disini ada KESALAH-PAHAMAN besar yang sejak dulu telah mengacaukan akal-akal manusia. Kesalah-pahaman itu terus dilestarikan, diperindah, dihias-hias, diberi dalil-dalil, dipatenkan, bahkan dimuseumkan. Lho, sisi mana kesalah-pahamannya? Jelas sekali masalahnya. Allah tidak pernah memaksakan bangsa ini agar menjadi bangsa ini dan itu. Kita mau menjadi bangsa apapun, silakan saja. Mau menjadi bangsa tempe, bangsa jengkol, bangsa batu, bangsa berlian, atau bangsa apapun, itu terserah kita. Jangan “GR” dengan menyangka bahwa Allah membutuhkan bangsa ini. Tidak sama sekali. Allah Maha Kaya, tidak butuh apapun dari makhluk-Nya. Allah tidak pernah memaksa bangsa Indonesia menjadi Negara Islam. Allah hanya mengingatkan dalam Al Qur’an, kalau kita mau beriman dan bertakwa kepada-Nya, kita akan dicurahi barakah-barakah dari langit dan bumi. Kalau kita mendustakan agama-Nya, kita akan mendapat siksaan (Al A’raaf: 96). Dia juga mengingatkan, kalau kita bersyukur, akan ditambah nikmat-Nya. Kalau kita kufur nikmat, pasti akan terkena siksa-Nya yang pedih (Ibrahim: 7). Jadi, bangsa Indonesia mau jadi bangsa apapun, silakan saja. Tetapi kalau kita ingin hidup berkah, dimudahkan oleh Allah, dicurahi pertolongan dan kemuliaan, dibela atas musuh-musuh, maka tegakkan agama-Nya dalam kehidupan kita. Sekuat-kuatnya bangsa ini ingin menjaga NKRI, kalau hati-hati rakyat Indonesia jauh dari iman dan takwa, lambat atau cepat NKRI itu pasti akan tercerai-berai. Ingatlah saudaraku, tidak ada yang lebih kuat untuk menyatukan suatu bangsa, selain iman dan takwa. Begitu pula, tidak ada faktor yang paling berbahaya bagi hancurnya suatu bangsa, selain merosotnya iman dan takwa. Seharusnya, kalau kita komitmen dengan NKRI, kita harus komitmen dengan Syariat Islam. Segala masalah yang ditakutkan bangsa ini, misalnya ancaman disintegrasi, itu semua ada solusinya dalam Islam.

[05] Sebagian orang begitu meyakini kehebatan Syariat Islam. Apa sih manfaat fundamental dari penegakan Syariat Islam?

Pertama, menegakkan Syariat Islam sama dengan menghidupkan Wahyu Allah di muka bumi. Hal ini jika dilakukan dengan baik dan konsisten, akan mendatangkan Keridhaan Allah. Jika Allah ridha, maka Dia akan mencurahkan berbagai anugerah besar dalam kehidupan kita, dan sekaligus melindungi kehidupan itu sendiri dari segala petaka dan bencana. Dalilnya, “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), pasti akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari labgit dan bumi.” (Al A’raaf: 96). Kedua, Syariat Islam itu akan menyelesaikan sebagian besar perselisihan di antara manusia. Dalam Syariat ini tidak ada pihak-pihak yang diagungkan, selain Allah saja. Tidak ada kepentingan raja, bangsawan, pengusaha, kapitalis, politisi, jendral, ustadz, syaikh, dll. yang diistimewakan. Semuanya dicurahkan untuk Allah. Hingga dalam hadits, Nabi Saw bersabda: “Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Lihatlah, Syariat Islam tidak memberi keistimewaan kepada siapapun, bahkan kepada keluarga Nabi sekalipun. Ketiga, Syariat Islam akan melindungi orang-orang lemah dari penindasan orang-orang kuat. Sistem apapun selain Islam, pasti akan melahirkan penindasan. Itu pasti! Nah, Syariat Islam menghapuskan penindasan orang-orang kuat terhadap orang-orang lemah. Keempat, Syariat Islam lebih menjamin tercapainya keadilan. Sejak manusia mengenal sistem sekuler, sejak itu impian tercapainya keadilan hanya omong kosong belaka. Dalam Syariat Islam, jangankan seorang Muslim, orang Yahudi-Nashrani pun tidak boleh dizhalimi (Al Maa’idah: 8). Kelima, Syariat Islam adalah satu-satunya sistem/tatanan yang akan membuat manusia mencapai tujuan Fid Dunya Hasanah, Wa Fil Akhirati Hasanah (mendapat kebaikan di dunia Akhirat). Jika ada manusia yang memaksakan diri ingin mencari yang lebih hebat dari kebaikan-kebaikan di atas, pada dasarnya mereka hanya menganiaya diri sendiri.

Baca entri selengkapnya »


Risalah Ramadhan: “Islam dan Negara”

September 11, 2009

Alhamdulillahil A’la laa haula wa laa quwwata illa billah. Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh. Shalatan wa salaman ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau kita menyaksikan kondisi kaum Muslimin saat ini, maka disana kita jumpai begitu banyak masalah-masalah berat yang menimpa Ummat ini. Permasalahan itu seperti “benang kusut” yang sangat rumit, komplek, dan tidak jelas ujung-pangkalnya. Banyak orang membuat sintesa tentang solusi semua persoalan ini. Ada yang menyerukan, “Kita kembali kepada majelis ilmu dan kajian akidah.” Ada yang menyerukan, “Kita terjun ke dunia politik praktis.” Ada yang menyerukan, “Mari kita membangun ekonomi berbasis Syariah.” Ada pula yang menyeru, “Ummat membutuhkan media massa cerdas.” Begitu banyak seruan-seruan itu, sehingga Ummat seperti berada di persimpangan jalan. Dan setiap penyeru itu mengklaim jalan yang dipilihnya adalah cara terbaik yang harus ditempuh. Tidak lupa, mereka mengejek jalan yang lain, mengkritisi, atau menghinanya.

Disini kita akan mencoba merunut masalahnya, memahami pemikiran-pemikiran, memperhatikan realitas, melakukan diskusi, sampai menemukan kesimpulan akhir yang diharapkan. Insya Allah.

<>MASALAH KOMPLEK <>

Masalah yang dihadapi Ummat Islam saat ini, dalam skala Indonesia maupun dunia, amat sangat komplek, rumit, dan sulit menemukan ujung-pangkalnya. Di antara masalah-masalah itu adalah sebagai berikut:

Masalah Eksternal: Budaya Barat merajalela. Media massa Barat mendominasi. Tekanan politik negara-negara Barat membelenggu negara Muslim. Dominasi ekonomi negara atau lembaga kapitalis dunia. Merajalelanya sistem ekonomi ribawi. Penyusupan agen-agen asing. Provokasi agen asing untuk menciptakan perpecahan di Dunia Islam. Gerakan Kristenisasi. Gerakan Zionisme dan kekejaman Israel di Palestina. Invasi negara-negara Barat ke dunia Islam. Peredaran narkoba, miras, perjudian, pelacuran skala internasional. Penyebaran wabah-wabah penyakit berbahaya. Sistem pendidikan Barat yang menerapkan metode “cuci otak” terhadap pelajar-pelajar Muslim. Stigma terorisme dan penghancuran aset-aset Ummat karena tuduhan terorisme. Dan lain-lain.

Masalah Ineternal: Kebodohan Ummat dalam segala sisinya. Kemiskinan dan lemahnya ekonomi. Perpecahan antar jamaah, komunitas, organisasi, dan lembaga Islam. Perselisihan pendapat dalam berbagai macam masalah. Kerusakan moral, khususnya di kalangan generasi muda. Fenomena korupsi di lembaga-lembaga pemerintahan dan bisnis swasta. Aneka macam kasus kriminal dengan segala modusnya. Perasaan inferior (minder) sebagai Muslim. Pertentangan antara gerakan Islam dengan pemerintah-pemerintah berkuasa. Konflik politik internal. Bercokolnya ideologi-ideologi sekuler. Berkembangnya aliran-aliran sesat yang membahayakan agama. Lemahnya kualitas SDM. Minimnya perhatian terhadap kebutuhan informasi. Sikap materialisme masyarakat. Sikap phobia terhadap dakwah. Dan lain-lain.

Banyak sekali masalah yang kita hadapi, baik dari dalam maupun luar. Begitu banyaknya, sampai kita hampir putus-asa, “Bagaimana cara memperbaiki semua ini? Bisakah semua ini diperbaiki? Atau memang jaman sudah dekat Hari Kiamat, sehingga kita lebih baik menanti Imam Mahdi saja?” Padahal yang disampaikan di atas masih sebagian masalah, belum seluruhnya.

Kalau mencermati satu demi satu masalah itu, pasti kita akan keletihan. Waktu kita pasti habis untuk memikirkan semua masalah ini, sebelum ia berhasil diperbaiki. Akibatnya, kita akan putus-asa. Tetapi kalau kita mampu melihat INTI MASALAH-nya, insya Allah akan tumbuh optimisme dalam hati.

Lalu dimana inti masalah itu?

Saudaraku rahimakumullah jami’an. Apa yang Anda saksikan berupa beribu-ribu masalah yang menimpa Ummat ini, pada dasarnya semua itu adalah “MASALAH HILIR” belaka. Ia adalah masalah akibat, bukan pemicu dari semua masalah itu. Jadi, sejak semula telah ada “MASALAH HULU”, kemudian ia terus berkembang menimbulkan beribu-ribu “masalah hilir”. Ibarat aliran sungai, ketika di hulu sudah kotor, maka sampai ke hilir airnya semakin kotor.

Jadi, beribu-ribu masalah yang kita hadapai saat ini pada hakikatnya adalah AKIBAT dari suatu persoalan tertentu. Kalau Anda ingin menghabiskan waktu untuk memperbaiki satu demi satu masalah itu, sampai Hari Kiamat pun Anda tidak akan sanggup melakukannya. Jika air di hilir kotor, jangan habiskan energi Anda untuk menjernihkan air itu. Tetapi segeralah berangkat ke hulu, lalu perbaiki sumber masalah yang mengotori air disana.

Masalah ekonomi, media, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, pergaulan, budaya, keilmuwan, perselisihan pendapat, ibadah, syiar, dakwah, perjuangan, kepemimpinan, politik, keamanan, dan seterusnya; jika semua itu diselesaikan satu per satu, yakinlah sampai Hari Kiamat pun tidak akan selesai-selesai. Solusinya harus menyeluruh, integral, dan menukik ke inti masalahnya.

<> KUNCI SEGALA MASALAH<>

Dalam Islam ada sebuah urusan yang sangat besar pengaruhnya. Jika urusan itu baik, seluruh urusan lainnya akan baik. Jika urusan itu buruk, maka seluruh urusan akan ikut buruk. Ia adalah urusan PEMERINTAHAN.

Baik buruknya keadaan suatu negeri, tergantung SISTEM PEMERINTAHAN yang berlaku di negeri itu. Sistem pemerintahan meliputi: Kepemimpinan, UU, sistem manajemen, kinerja aparat (SDM), penegakan hukum, dan kebijakan politik. Jika di semua sisi urusan itu berlaku tata-nilai Islami, maka hasilnya adalah maslahat besar. Sebaliknya, jika di semua sisi urusan itu diterapkan tata nilai jahiliyyah (non Islami), maka akibatnya adalah kekacauan, penderitaan, dan kesengsaraan hidup yang meluas.

Jika suatu negeri menganut sistem Islami, itu berarti mereka telah menjernihkan air di hulu. Sehingga hasilnya mereka bisa berharap akan mendapati air jernih di hilir. Dengan menerapkan sistem jahiliyyah, maka sampai Hari Kiamat pun, jangan pernah berharap negeri itu akan hidup adil, makmur, damai, dan sentosa. Semua itu hanyalah omong kosong yang tidak ada wujudnya.

Lalu apa dalilnya, bahwa sistem Islami mutlak dibutuhkan suatu negara jika mereka menginginkan meraih kejayaan lahir-batin, dunia Akhirat?

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang bisa menjelaskan hal itu. Di antaranya adalah ayat berikut ini: “Maka jika datang kepada kalian dari sisi-Ku berupa petunjuk, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (Al Baqarah: 38). Dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala (sistem Islami) secara konsisten, dijamin suatu negeri akan dibebaskan dari rasa takut dan kesedihan.

Maka ibadahilah Rabb (Pemilik) Rumah ini (Ka’bah), yaitu (Rabb) yang telah memberi makan mereka untuk menghilangkan kelaparan, dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Al Quraisy: 3-4). Dengan menyembah Allah, Dia akan menyempurnakan nikmat-Nya, dengan memberi manusia kecukupan pangan dan memberi mereka rasa aman dari marabahaya.

Dan siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, maka tidak diterima (amal-amal) darinya, dan kelak di Akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85). Ayat ini tidak hanya bicara tentang pilihan agama seseorang, tetapi juga tentang pilihan sistem kehidupan yang dianut suatu bangsa. Bangsa yang memilih sistem non Islami, maka amal-amal penduduk negeri itu akan diangkat berakahnya. Akibatnya, setiap nikmat yang mereka peroleh tidak memberi kepuasan; sementara musibah dan bencana terus-menerus menimpa mereka.

Nabi Saw sendiri amat sangat menekankan, agar kaum Muslimin komitmen dengan sistem Islami seperti yang beliau contohkan, dan dicontohkan pula oleh para Khulafaur Rasyidin Ra. Dalam hadits yang terkenal dari ‘Irbath bin Sariyyah Ra, Nabi Saw bersabda: “Dan siapa yang masih hidup (dalam usia panjang) dari kalian, dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka cukuplah bagi kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat pimpinan (dari Allah Ta’ala). Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dari segala urusan yang diada-adakan (bid’ah), sebab setiap bid’ah itu adalah kesesatan. “ (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Sistem kehidupan yang dicontohkan Nabi adalah sistem Islami. Begitu pula dengan sistem yang dianut para Khulafaur Rasyidin Ra. Maka seharusnya Ummat Islam konsisten dan istiqamah dengan sistem ini. Bukan sebagaimana yang kita saksikan saat ini, ketika Ummat Islam menempuh sistem jahiliyyah, demokrasi, parlementer, nasionalisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, dan sebagainya. Semua sistem semacam itu hanya membuat manusia SAKIT saja.

Selama ribuan tahun, sejak jaman Nabi Saw sampai tahun 1924 saat Khilafah Utsmaniyyah di Turki runtuh, kaum Muslimin tidak pernah sekali pun mengambil sistem jahiliyyah. Ummat berada di atas jalan Islam, meskipun kondisi mereka mengalami masa pasang-surut. Justru setelah era nasionalisme berlaku di dunia Islam, dan lenyapnya sistem Islami, kaum Muslimin hidup terlunta-lunta. Mereka seperti anak-anak ayam yang kehilangan induk. Bahkan ada yang menyebut, kondisi Ummat Islam seperti gelandangan yang tidak karuan nasibnya.

Baca entri selengkapnya »


Sentimen Anti Jawa

September 11, 2009

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala man laa nabiya ba’dahu, Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam rangka memanfaatkan momen-momen berharga selama Ramadhan 1430 H ini dengan wawasan-wawasan penting, saya sengaja menurunkan beberapa artikel. Salah satunya adalah “Sentimen Anti Jawa” ini. Tidak berarti saya keluar dari komitmen semula. Tidak, hanya memanfaatkan momen Ramadhan dengan wawasan-wawasan yang mudah-mudahan bermanfaat, insya Allah. Niatnya, ingin merealisasikan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah.

Tulisan “Sentimen Anti Jawa” ini terinspirasi dari seorang teman. Katanya, akhir-akhir ini berkembang sentimen anti Jawa di forum-forum diskusi internet. Hal itu terjadi sejak meluasnya sikap anti Malaysia di masyarakat. Ya, kasus pencurian budaya, klaim pulau, penghinaan lagu kebangsaan, sampai video penyiksaan TKI oleh manusia-manusia berhati syaitan di Malaysia sana. Katanya, pelecehan martabat bangsa secara kasar oleh Malaysia tidak lepas dari para pemimpin Indonesia yang rata-rata dipegang oleh orang Jawa. Singkat kata, karena para pejabatnya orang Jawa, maka martabat Indonesia bisa dilecehkan oleh Malaysia.

Sebenarnya bukan saat ini saja saya mendengar sikap anti Jawa. Sebagian teman saya di Bandung pernah mengartikan kata Jawa dengan kata: “Jajah wilayah.” Seorang profesor di Bandung juga pernah mengusulkan, agar Bandung menjadi kota tertutup dari pendatang luar (termasuk etnis Jawa). Namun ide itu kemudian mendapat kecaman keras. Di masjid di komplek kami, ada mantan Ketua DKM yang anti terhadap para pendatang non Sundanese. Sepertinya, di mata orang itu, para pendatang menjadi sebab kesengsaraan warga pribumi.

Sejak lama saya juga mendengar, sebagian warga Aceh sangat anti orang Jawa. Hal itu terutama ketika belum ada perjanjian damai antara RI dan GAM. Mereka menyebut Jawa sebagai “penjajah”, bahkan dianggap “orang kafir”. Konon, waktu itu di Aceh, jika mereka mendapati seseorang ber-KTP Jawa, bernama Jawa, atau berlogat Jawa, darah pun akan ditumpahkan. Karena kesalahan kebijakan politik Soeharto Cs, kaum Muslimin berlatar-belakang Jawa memikul akibatnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Karena masalah ini sangat penting, disini saya coba membahasnya. Semua ini menjadi renungan bagi semua pihak.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai manusia, sesungguhkan Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13).

Ayat di atas merupakan prinsip besar yang melandasi kehidupan setiap Muslim. Perbedaan suku atau etnis adalah masalah kodrati (sudah ditentukan oleh Allah). Ia merupakan Sunnatullah yang pasti terjadi dalam kehidupan ini. Sebagaimana pula Allah telah menciptakan hewan dan tumbuh-tumbuhan bermacam-macam, tidak hanya satu jenis saja. Maka Islam memberi panduan yang lurus; perbedaan tidak masalah, sebab hal itu sudah Sunnatullah. Sebaik-baik manusia, bukan dilihat dari aspek kesukuannya, tetapi TAQWA-nya.

Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa orang Arab tidak lebih baik dari orang ‘Ajam (non Arab), melainkan karena takwanya. Begitu pula sebaliknya, orang ‘Ajam tidak lebih baik dari orang Arab, melainkan karena takwanya juga.

KASUS PELECEHAN MALAYSIA

Ya, semua pihak prihatin dengan sikap melecehkan yang dilakukan warga atau Pemerintah Malaysia terhadap martabat bangsa Indonesia. Hal itu tidak mencerminkan sikap negara jiran (tetangga) yang baik. Nabi Saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” Sikap buruk Malaysia tidak lepas dari kehidupan materialisme yang membuat mereka semakin sejahtera, semakin konsumtif, dan semakin rakus.

Indonesia pun, kalau memiliki kondisi ekonomi sebaik Malaysia saat ini, mungkin kita juga akan menerkam satu demi satu negara kecil di sekitarnya. Hanya karena Indonesia ini lemah, maka tidak mau mengganggu tetangga-tetangganya. Kehidupan sejahtera menjadi cita-cita perjuangan politik setiap bangsa. Tetapi kerap kali, kesejahteraan itu bukan membuat manusia makin mawas diri, tetapi semakin rakus materi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tetapi menjadi sangat mengherankan, ketika sikap lemah Pemerintah RI kepada Malaysia, hal itu dikaitkan dengan etnis Jawa. Lho, apa hubungannya? Apakah ada korelasi rasional antara keduanya?

Kalau mau jujur, Permadi yang berbicara meledak-ledak di TV mengecam sikap lembek Pemerintah dan mendorong agar Indonesia memutuskan hubungan dengan Malaysia. Dia orang Jawa. Soekarno yang dulu menyerukan gerakan Ganyang Malaysia juga orang Jawa. Perwira TNI yang bersuara keras ketika Malaysia mengklaim blok Ambalat, juga dari Jawa. Bahkan prajurit TNI yang diturunkan untuk operasi-operasi menjaga teritorial nasional, kebanyakan juga dari Jawa. Kok bisa etnis Jawa disalahkan dalam perkara seperti ini?

Kalau karakter SBY memang lembek, ya jangan menyalahkan orang Jawa. Itu salah Anda sendiri yang telah memilih SBY dalam Pilpres kemarin. Jujur saja, kami sekeluarga kemarin memilih JK-Wiranto. Bagi kami, mau orang Bugis, orang Aceh, Padang, Lombok, atau apapun, kalau memang qualified, kami akan mendukung. Sebaliknya, meskipun orang Jawa, kalau pro Amerika, ya harus ditolak. Anda lihat di TV, bagaimana seorang Sudjiwo Tedjo sangat mendukung Jusuf Kalla. Konon, dia selama ini selalu golput. Tapi saat ada pilihan Pak JK, dia mendukungnya. Sudjiwo Tedjo sampai bersumpah atas nama bundanya, Ibu Sulastri. (Meskipun, bersumpah atas nama selain Allah, itu termasuk sikap yang keliru). Dan menariknya, di luar Jawa, suara SBY menang mutlak. Hingga di Aceh saja, perolehan JK-Wiranto hanya sekitar 8 %. Padahal orang Aceh tahu jasa JK dalam perdamaian Aceh.

Kalau kemudian SBY bersikap begini dan begitu, ya itu sudah konsekuensi dari pilihan rakyat Indonesia sendiri, sejak Aceh sampai Papua. Hal ini tidak bisa dikaitkan dengan etnis Jawa. Cara berpikir seperti itu sangat picik. Lihatlah dengan mata jujur! Disana ada Prabowo Subianto yang bersuara keras tentang ekonomi Neolib. Beliau dari Jawa. Ada Pak Wiranto dan Hanura yang juga mengkritisi ekonomi liberal selama ini. Beliau juga orang Jawa.

Kalau ingin melihat etnis Jawa, jangan hanya melihat para koruptor. Tetapi lihat juga sosok Panglima Besar Jendral Soedirman dan Bung Tomo rahimahumallah yang sangat komitmen terhadap negara ini. Atau lihat juga sosok SM. Kartosoewiryo rahimahullah, seorang pemimpin Islam yang berani menyuarakan gerakan Negara Islam secara gentleman. Atau lihat sosok Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah, tokoh senior Muhammadiyyah. Beliau sampai akhir hayatnya selalu merindukan tegaknya Piagam Djakarta.

Dulu di jaman Orde Lama, beberapa pemimpin Masyumi mendapatkan teror dari PKI. Mereka lalu menyeberang ke Sumatera Barat untuk menyelamatkan diri. Kemudian mereka terlibat dengan PRRI. Keterlibatan elit-elit Masyumi itu, terutama Muhammad Natsir dan Syafruddin Prawiranegara, oleh Soekarno dianggap sebagai pengkhianatan besar. Akibatnya, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.

Waktu itu pimpinan Masyumi berada di tangan Bapak Prawoto Mangkoesasmito rahimahullah. Beliau menolak pembubaran Masyumi karena alasan PRRI. Secara resmi waktu itu Masyumi mengecam gerakan PRRI di Bukit Tinggi. Tetapi Soekarno meminta supaya Masyumi mengutuk pemimpin-pemimpinnya yang terlibat PRRI. Maka jawaban Bapak Prawoto kepada Soekarno sangat tegas, “Sebelum kami mengutuk mereka, kami terlebih dulu akan mengutuk Bapak (Soekarno)!” Nah, ini salah satu tipikal pemimpin santri Jawa yang layak dikenang. Padahal waktu itu, nama besar Soekarno sangat disegani semua orang.

Almarhum KH. AR. Fachruddin, tokoh Muhammadiyyah Yogya. Tahun 80-an Soeharto memaksakan agar semua organisasi, termasuk ormas Islam, menjadikan Pancasila sebagai Azas Tunggal. Pak AR. Fachruddin sebagai Ketua Umum Muhammadiyyah dipanggil oleh Soeharto untuk diajak bicara. Soeharto mengancam akan membubarkan organisasi apa saja yang tidak mau menjadikan Pancasila sebagai azasnya. Maka Pak AR tidak kalah sengit dalam merespon tekanan Soeharto. Beliau mengecam Soeharto, “Tetapi Bapak tidak bermaksud membubarkan Islam kan?” Setelah itu beliau pamitan meninggalkan Soeharto. Mana ada di jaman itu orang yang berani bersikap tegas kepada seorang Soeharto?

Adalah sangat tidak adil mengukur sesuatu dengan parameter keetnisan. Sama seperti Ruhut Sitompul ketika beberapa waktu lalu melecehkan etnis Arab. Atau ekstremnya, seperti Yahudi yang menganggap manusia selain Yahudi sebagai Ghayim (Gentiles). Semua orang Ghayim di mata Yahudi dihalalkan segala-galanya. Dan tidak adil pula, ketika menilai etnis itu hanya dari sisi buruknya, tidak dilihat sisi baiknya. Sebab di dunia ini, setiap etnis pasti ada sisi baik dan buruknya. Tidak ada satu pun etnis yang merasa suci dari kesalahan, melainkan ia pasti SESAT.

Baca entri selengkapnya »


FIQIH KEMUDAHAN dalam IBADAH RAMADHAN

Agustus 21, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Atas karunia Allah dan rahmat-Nya, kita kembali bertemu Ramadhan Karim. Orang-orang beriman menyambut bulan yang penuh berkah ini dengan bahagia dan suka-cita. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah bi nikmatihi. Segala puji hanya untuk Allah atas segala Kemurahan-Nya kepada Ummat ini.

Ramadhan bukan hanya bulan yang di dalamnya disyariatkan kewajiban puasa dan berbagai amal ibadah lainnya. Tetapi Ramadhan juga merupakan anugerah besar bagi ummat manusia. Bulan ini menjadi penjaga eksistensi kehidupan manusia di muka bumi. Di dunia ini tidak ada satu pun ummat beragama yang diampuni dosanya, selain kaum Muslimin. Sementara kaum Muslimin tidak akan mampu menggugurkan dosa-dosanya, jika Allah tidak menolongnya dengan ibadah Ramadhan. Dengan ibadah Ramadhan, dosa-dosa Ummat Islam diampuni sampai bersih. Tanpa Ramadhan, dosa-dosa Ummat akan bertumpuk, dan semakin besar dari tahun ke tahun. Ramadhan adalah anugerah Ilahiyyah yang sangat efektif untuk mentralkan dosa-dosa Ummat Muhammad Saw. Nah, andai dosa-dosa manusia di dunia sudah bertumpuk, termasuk dosa kaum Muslimin di dalamnya, maka dunia ini pasti akan dihancurkan oleh Allah dengan adzab-Nya.

Salah satu prinsip yang perlu dipahami ketika kita bicara tentang IBADAH, adalah prinsip kemudahan (al ushulut taisir). Allah Ta’ala tidak zhalim dalam menetapkan kewajiban ibadah kepada manusia. Dia menetapkan kewajiban ibadah selaras dengan kesanggupan hamba-Nya. Pada dasarnya, ibadah itu bukan untuk Allah, sebab Dia Maha Kaya. Ibadah adalah demi kebaikan manusia sendiri. Dalam Al Qur’an: “Dan siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka hal itu lebih baik bagi dirinya (sendiri).” (Al Baqarah: 184).

Tentang prinsip KEMUDAHAN ini dalilnya disebutkan dalam Al Qur’an: “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menginginkan kesulitan bagi kalian.” (Al Baqarah: 185). Menariknya, ayat ini latar-belakangnya berbicara tentang ibadah Puasa di bulan Ramadhan.

Singkat kata, ibadah di bulan Ramadhan seharusnya penuh dengan kemudahan-kemudahan, bukan kesulitan-kesulitan. Sayangnya, selama ini FIQIH TAISIR (kemudahan) dalam ibadah Ramadhan kurang dipahami oleh masyarakat. Mereka beribadah dengan mengikuti tradisi, lalu secara fanatik bertahan dengan tradisi tersebut. Alangkah baik jika Ummat ini memahami Kemurahan Allah Ta’ala yang telah melapangkan Syariat-Nya.

Sekedar sebagai catatan. Hari dalam Islam tidak dimulai dari jam 00.00 pada dini hari. Hari dalam Islam dimulai sejak adzan Maghrib pada petang hari. Itulah “jam 00.00” menurut versi Islam. Jika sudah masuk waktu Maghrib, berarti kita telah masuk hari yang baru. Jadi hari dalam Islam dimulai dengan malam, baru kemudian siang. Waktu malam adalah sejak Maghrib sampai fajar Shubuh. Waktu siang muncul setelahnya, membentang sejak Shubuh sampai saat Maghrib. (Kalau dalam kalender Masehi hari dimulai dari jam 00.00 tengah malam, kemudian pagi, lalu siang, dan berakhir di jam 24.00 malam lagi). Ketika masuk tanggal 1 Ramadhan, itu artinya pada malam harinya kita tidak berpuasa, tetapi sudah mulai menjalankan Shalat Tarawih. Baru keesokan harinya kita berpuasa, sejak Shubuh sampai Maghrib.

Berikut ini kemudahan-kemudahan Syariat Islam dalam ibadah Ramadhan. Silakan disimak baik-baik. Semoga bermanfaat bagi Anda, saya, keluarga kami, dan kaum Muslimin seluruhnya. Allahumma amin.

[1] Ibadah Shaum Ramadhan dimulai dengan niat. Seseorang yang menjalankan shaum tanpa niat terlebih dulu di malam harinya, puasanya tidak sah. “Siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, tidak ada puasa baginya.” (HR. An Nasa’i, Baihaqi, Ibnu Hazm). Dan niat ini adalah kehendak di hati untuk menyengaja melakukan suatu ibadah. Disini tidak perlu melafadzkan kalimat “nawaitu shauma ghadin”, sebab Nabi tidak mencontohkan hal itu. Ketentuan niat ini maksudnya untuk membedakan dengan shaum sunnah. Nabi Saw pernah berniat puasa di siang hari ketika beliau belum makan-minum, dan di rumahnya tidak didapati makanan. (HR. Muslim). Dalam Shaum Ramadhan tidak boleh niat pada siang hari, tetapi harus sejak malam hari sebelum fajar. Namun perlu dicatat, seseorang yang sejak awal telah berniat menyelesaikan shaum Ramadhan sebulan penuh, sebenarnya dia telah berniat puasa setiap malamnya. Allah Maha Tahu niat di hati-hati kita.

[2] Orang-orang yang lemah, atau sedang berada dalam kesulitan, boleh meninggalkan shaum. Bagi orang lanjut usia (manula), yang menderita sakit menahun, ibu-ibu hamil atau menyusui, mereka boleh meninggalkan shaum secara mutlak. Kompensasinya, mereka membayar fidyah (memberi makan orang miskin) sejumlah hari-hari ketika mereka tidak berpuasa. Jika sebulan penuh tidak puasa, maka sebulan pula mereka memberi makan orang miskin. (Ketentuannya: Satu hari tidak puasa, pada hari itu seseorang memberi makan satu orang miskin senilai makanan sehari yang biasa dia makan. Boleh memberi makanan matang, atau bahan makanan mentah. Kalau bahan mentah, sebaiknya dihitung untuk beberapa hari sekaligus, agar tidak merepotkan yang diberi makan). Bagi yang sakit temporer, sedang dalam safar, sedang bekerja menguras tenaga, sedang berjuang membela agama, atau kondisi semisal itu, mereka boleh tidak puasa. Tetapi kompensasinya, mereka harus mengganti puasa yang dia tinggalkan, dikerjakan pada hari-hari lain di luar Ramadhan. Itulah shaum qadha’. (Shaum qadha’ ini puasa wajib, maka niatnya juga sejak malam hari, bukan “terpaksa” setelah siang hari). Dalil tentang masalah ini adalah Surat Al Baqarah ayat 184.

[3] Musafir yang berada dalam perjalanan (safar), boleh meninggalkan shaum dan boleh juga tetap mengerjakannya. Nabi Saw pernah melakukan kedua cara itu. Tinggal dilihat urusan yang sedang dihadapi. Jika perjalanan itu ringan dan tidak memberatkan, silakan teruskan puasa sampai Maghrib. Jika perjalanan itu berat atau dalam rangka Jihad Fi Sabilillah, lebih utama tidak puasa. Saat penaklukan Makkah, Nabi Saw pernah membatalkan puasa ketika perjalanan, saat beliau dan para Shahabat sampai di Kura’ Al Ghamim (HR. Muslim). Hamzah bin Amru Al Aslami Ra. pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku mendapati diriku mampu berpuasa dalam safar. Apakah aku berdosa?” Nabi menjawab, “Ia adalah keringanan dari Allah. Siapa yang mengambil keringanan itu (tidak puasa), itu baik. Dan siapa yang suka berpuasa, dia tidak berdosa.” (HR. Muslim).

[4] Boleh melakukan perbuatan-perbuatan mubah di siang hari Ramadhan, yang dimaksudkan untuk menuntaskan puasa sampai Maghrib. Misalnya, tidur di luar waktu-waktu shalat, melakukan permainan-permainan untuk melupakan diri dari rasa lapar, jalan-jalan sambil menanti datangnya adzan Maghrib, dll. Syaratnya, semua perbuatan-perbuatan itu bukan yang diharamkan. Namun jika waktu-waktu tersebut bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat, tentu lebih baik. Pada dasarnya Allah Ta’ala itu Syakirun ‘Alim (Maha Mensyukuri amal-amal hamba-Nya dan Maha Mengetahui).

[5] Wanita yang sedang masak di dapur, dia boleh mencicipi makanan yang dimasaknya, sekedar untuk mengetahui apakah rasa makanan itu sudah cocok atau belum. Hal ini bukan termasuk definisi makan (akala) sebagaimana yang dilarang dilakukan orang-orang yang sedang berpuasa. Melakukan test rasa bukanlah makan-minum yang membatalkan puasa. Dalil penguatnya adalah atsar dari Ibnu Abbas Ra., “Tidak masalah seseorang mencicipi cuka atau sesuatu yang lain, selama ia tidak masuk ke kerongkongannya, sedangkan dia sedang shaum.” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari’).

[6] Boleh berkumur-kumur ketika sedang shaum. Kumur-kumur bisa dilakukan saat wudhu atau di luar wudhu. Berkumur-kumur ini ditujukan untuk membuang bau busuk di mulut, untuk membuang rasa pahit di mulut, atau agar mulut terasa lebih segar. Dalilnya, kumur-kumur bukan termasuk definisi minum (syariba) sebagaimana yang membatalkan puasa. Dalam hadits diceritakan, Umar bin Khattab Ra. saat berpuasa menciumi isterinya, lalu dia bertanya ke Nabi Saw, apakah perbuatan seperti itu boleh? Nabi Saw menjawab: “Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur-kumur dengan air, sementara engkau sedang shaum?” Umar menjawab: “Tidak masalah.” Lalu Nabi berkata lagi: “Lalu mengapa masih ditanyakan juga.” (HR. Ahmad dan Baihaqi). Namun harus berhati-hati saat kumur-kumur agar air tidak tertelan ke perut. Sebagian ulama menyebut kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu sebagai perbuatan makruh (tidak disukai). Kumur-kumur ini dilakukan seperlunya saja, kalau memang membutuhkan. Saya sarankan, kalau Anda selesai kumur-kumur, cobalah membuang sisa-sisa air yang masih di mulut. Tetapi lakukan hal itu biasa-biasa saja, jangan berlebihan. Sejauh di hati kita tidak ada niat untuk memasukkan tetes-tetes air ke dalam perut, Allah Maha Tahu apa yang kita niatkan.

[7] Selama berpuasa, kita boleh bersiwak. Bersiwak caranya dengan menggosokkan kayu siwak ke gigi, baik untuk membersihkan gigi atau mengusir bau busuk di mulut. Dalilnya, Nabi Saw pernah bersabda: “Sekiranya tidak memberatkan Ummat-ku, tentu akan aku perintahkan mereka bersiwak di setiap shalat.” (HR. Bukhari-Muslim). Yang dimaksud shalat disana tentu mencakup shalat di setiap waktu, termasuk dalam bulan Ramadhan. Dalam praktik modern, bersiwak diganti dengan gosok gigi memakai pasta gigi. Kayu siwak bukanlah barang yang mudah didapat di negari kita. Gosok gigi boleh dilakukan selama sedang shaum; baik ditujukan untuk membersihkan gigi, menghilangkan bau busuk di mulut, atau melakukan terapi pengobatan. Dalam gosok gigi ini kita memakai pasta gigi. Pasta gigi rata-rata berasa manis dan mengandung mint. Alangkah baik kalau dalam puasa, mulut kita berpuasa juga dari aneka rasa (kecuali ibu-ibu yang mencicipi rasa makanan saat memasak). Disarankan, kalau Anda gosok gigi, cukuplah Anda mengambil sedikit pasta gigi, jangan berlebihan. Setelah gosok gigi, cobalah berkumur-kumur yang bersih, sehingga sisa-sisa “deterjen” di mulut jadi bersih. (He he he… Maaf, jadi menyisipkan “kritik produk” disini). Jika gosok gigi bisa dilakukan saat berbuka (saat halal makan-minum), itu lebih baik. Jika gosok gigi di siang hari, sebaiknya dilakukan sekali saja, misalnya ketika Zhuhur.

Baca entri selengkapnya »


Prospek Konflik Palestina

Agustus 21, 2009

Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma shalliy wa sallim wa baarik ‘ala Rasulil mubin Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam memandang konflik Palestina, setidaknya ada 3 garis pandangan utama yang mengemuka. Masing-masing didukung oleh suara kaum Muslimin.

Pertama, Palestina harus merdeka secara penuh dan Israel harus angkat kaki dari seluruh Tanah Palestina yang didudukinya. Konsekuensi pandangan ini, Israel harus dibubarkan atau dihapuskan dari peta dunia. Pandangan ini dimotori oleh Hamas dan kelompok-kelompok Jihad Islam.

Kedua, Palestina berdiri sebagai negara mandiri yang diakui dunia internasional, sebagai hasil pembicaraan damai dengan Israel, dengan wilayah teritorial yang disepakati kedua belah pihak. Paling tidak wilayah Tepi Barat dan Ghaza seperti saat ini. Pandangan demikian diyakini oleh Yasser Arafat, Mahmud Abbas, dan PLO. Negara-negara Arab kebanyakan juga setuju dengan pandangan ini.

Ketiga, Palestina berdiri sebagai negara yang berdaulat, menentang pendudukan Israel atas tanah Palestina, tetapi pada saat yang sama setuju dengan perjanjian damai antara Palestina-Israel. Jadi pandangan ini merupakan kompromi dari dua pandangan di atas. Pandangan seperti ini diyakini oleh Indonesia dan negara-negara Muslim semisalnya.

Dalam praktiknya, pandangan pertama berbenturan keras dengan pandangan kedua, sedangkan pandangan ketiga “menjadi penonton” atau sekedar berperan dalam tataran moral saja. Hamas dan PLO terlibat perselisihan keras, sementara negara seperti Indonesia, Mesir, atau Saudi, pura-pura peduli sambil tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan.

Berani Mengambil Resiko

Konflik Palestina bukanlah konflik yang tiada membuka peluang solusi. Solusi itu tetap ada. Hanya masalahnya, maukah kita menempuh solusi tersebut? Meskipun kita telah mengerahkan seluruh daya dan kekuatan untuk menghasilkan formula terbaik, kalau hasilnya tidak dipakai, percuma saja.

Dalam konflik ini setidaknya ada dua pilihan utama: (1) Berdamai dengan Israel, mendapatkan kemerdekaan, tetapi resikonya harus menerima Israel sebagai negara tetangga; (2) Terus konflik dengan Israel, menolak perundingan damai, dan tidak mau mengakui eksistensi Israel.

Kedua pilihan itu ada resikonya. Kalau memilih berdamai, konflik di Palestina akan jauh mereda, korban-korban penindasan akan berkurang, Palestina mendapat kedaulatannya. Hanya saja resikonya, wilayah Palestina kecil, dipisahkan oleh wilayah Israel, dan mereka harus mengakui eksistensi Israel. Belum lagi kemungkinan Israel akan mengingkari janji-janjinya, sebab hal itu memang telah menjadi tabiat dasar mereka.

Kalau memilih berkonflik secara frontal, bangsa Palestina akan terus terseok-seok dalam konflik berkepanjangan. Mereka akan menjadi sasaran penyerangan Israel, sebagaimana hal itu sudah sering terjadi. Tetapi konsekuensinya, rakyat Palestina akan tetap memiliki harapan untuk mencapai kemerdekaan secara penuh, dan Israel akan bubar. Hanya masalahnya, kapan hal itu akan terjadi?

Tidak ada pilihan mudah bagi bangsa Palestina. Memilih A atau B, sama-sama berat dan beresiko. Kalau tidak memilih, juga beresiko. Semakin bangsa Palestina tidak memiliki kejelasan sikap, Israel semakin senang. Mereka bisa kapan saja mengobok-obok wilayah Palestina sesuka hatinya.

Bagaimanapun, kaum Muslimin Palestina harus berani memilih. Memilih pilihan yang tidak beresiko sama sekali adalah mustahil. Selalu ada resikonya, dan semua itu tidak mudah untuk dipikul.

Dulu Nabi Saw juga berhadapan dengan pilihan yang sulit ketika memutuskan menanda-tangani perjanjian Hudaibiyyah dengan musyrikin Makkah. Hanya dengan pertolongan Allah, perjanjian yang sepintas lalu sangat merugikan Islam itu, ternyata akhirnya justru menguntungkan.

Pilihan Berdamai

Di mata para pejuang Islam adalah sangat sulit untuk berdamai dengan Israel. Kamus perdamaian nyaris mustahil. Apalagi sudah bukan rahasia lagi, Israel sangat sering menciderai perjanjian-perjanjian perdamaian selama ini.

Tetapi pada saat yang sama, bangsa Palestina membutuhkan kesempatan untuk membangun kekuatan dirinya. Untuk melakukan konsolidasi, memperkuat kekuatan internal, dan mempersiapkan masyarakatnya dari segala sisi. Tanpa semua itu, mereka akan tetap terancam oleh posisi Israel yang semakin kuat dari waktu ke waktu.

Kalau dalam peperangan, istilahnya mundur ke belakang untuk membangun kekuatan, sebelum maju bertempur kembali. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al Anfaal: 15-16).

Menghadapi Israel dalam kondisi sangat lemah, adalah sangat MUSTAHIL. Apalah artinya perlawanan kalau tidak sebanding? Bangsa Palestina hanya akan menjadi bulan-bulanan Yahudi Israel, seperti dalam Tragedi Ghaza kemarin.

Kadang kita harus menerima tawaran damai, bukan karena kita tunduk kepada orang-orang kafir Yahudi itu. Tetapi kita membutuhkan kesempatan untuk memperkuat diri sampai benar-benar mantap untuk menghadapi kaum laknatullah itu.

Seperti Nabi Saw yang bersedia menandatangani Piagam Madinah dengan Yahudi Madinah serta kabilah-kabilah di Madinah. Saat Islam masih lemah, Nabi berdamai dengan Yahudi. Namun saat Islam telah kuat, Yahudi dikejar-kejar sampai di benteng terakhirnya, Benteng Khaibar.

Di mata para aktivis Islam atau mujahidin, langkah Nabi Saw terhadap Yahudi itu mungkin dianggap “banci” atau “kurang paham situasi”. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Mustahil Nabi bersikap seperti itu.

Perdamaian yang memungkinkan bangsa Palestina memperkuat diri, melakukan konsolidasi internal, serta membangun strategi, adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan. Daripada berperang secara sporadis dengan kekuatan lemah, lalu rakyat Palestina menjadi bulan-bulanan pasukan Israel. Bahkan langkah damai sementara itu, lebih baik daripada seruan hijrah keluar dari Palestina.

Upaya damai ini sementara belaka, sampai kaum Muslimin memiliki kekuatan cukup untuk menerjuni konflik terbuka dengan Yahudi Israel laknatullah itu. Sebuah ibrah berharga, ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau sengaja membiarkan pasukan Tar Tar bermabuk-mabukan di Baghdad. Saat itu beliau belum memilih menyerukan Jihad, sebab kaum Muslimin perlu konsolidasi dulu. Ketika momentumnya telah tiba, Tar Tar pun diperangi sampai ke akar-akarnya. Hal semacam ini tidak berlebihan, jika kita mau berpikir bahwa jihad seringkali membutuhkan waktu untuk menyempurnakannya.

Baca entri selengkapnya »


Keanehan Fenomena TERORISME di Indonesia

Agustus 15, 2009

Peristiwa teror bom di JW Marriott dan Ritz Carlton terus bergulir seperti “bola api” yang meluncur tak terkendali. Bukan hanya pengelola 2 hotel itu yang dirugikan, atau para korban yang mati dan terluka. Islam dan kaum Muslimin juga PANEN FITNAH akibat aksi teror yang didalangi manusia-manusia “sakit” itu.

Akal ratusan juta masyarakat Indonesia selama berminggu-minggu dicekoki secara intensif oleh isu teror dan kekacauan opini. Tanpa disadari, isu teror itu telah menciptakan ketakutan publik yang sangat massif. Berita perburuan, penangkapan, penahanan, interogasi, penyerbuan, penembakan, pengepungan, pengrusakan, razia di jalan, kampanye keamanan, dll. menjadi makanan sehari-hari. Belum lagi munculnya sikap curiga, prasangka buruk, fitnah, serta tindakan-tindakan boikot sosial kepada orang-orang tertentu yang tampak memiliki “ciri teroris”. Satu bukti nyata ialah penggerebekan di Temanggung beberapa waktu lalu. Ia benar-benar menimbulkan kecemasan besar di hati masyarakat. Alih-alih menimbulkan efek jera bagi teroris, masyarakat justru semakin ciut hatinya melihat sikap berlebihan aparat keamanan dalam operasi di Temanggung itu. Mereka berpikir, “Bagaimana kalau kami yang diperlakukan seperti itu?”

Selain itu, ajaran Islam sendiri menjadi olok-olok banyak orang. Konsep negara Islam (Daulah Islamiyyah), sistem Kekhalifahan Nabi, Jihad Fi Sabilillah, pedoman Al Qur’an dan Sunnah, ideologi Islam, Syariat Islam, dll. hari ini menjadi bulan-bulanan manusia-manusia BERLIDAH API. Mereka manfaatkan isu terorisme untuk menyerang Allah dan Rasul-Nya, melecehkan ajaran Islam, menghina warisan sejarah Islam, dan menebarkan fitnah-fitnah luar biasa.

Betapa keji perbuatan manusia-manusia nista itu. Mereka sudah tahu, bahwa selama itu berbagai kalangan Islam telah susah-payah menjelaskan, bahwa ISLAM TIDAK MENGAJARKAN TERORISME. Terorisme itu cara pengecut, bukan sikap kesatria. Islam mengajarkan sikap adil, bukan menjadi pengecut. Tetapi manusia-manusia nista itu tetap saja menyerang Islam, menyerang Daulah Islamiyyah, menyerang para Mujahidin, menyerang ideologi Islam, menyerang ajaran Nabi Saw, menyerang Allah dan Rasul-Nya. Padahal semua simbol-simbol kesucian Islam itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan TERORISME.

Bagaimana mungkin, agama ALLAH yang MAHA SUCI dipaksa bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan teror hina? Sungguh, andai kita mendiamkan masalah ini, tanpa memberi peringatan, mungkin bangsa ini akan dihujani batu dari langit karena kebejatan moral elit-elit tertentu yang gemar menistakan agama Allah. (Termasuk karena aksi “diam 1000 bahasa” para politisi yang selama ini mendapat jabatan dan kepuasan syahwat setelah menjual agama dengan harga murah).

Maka para dai harus berbuat sesuatu, sekuat kesanggupannya, untuk menghindari adzab Allah yang akan ditimpakan kepada bangsa yang durhaka. Kita harus menegakkan IZZAH ISLAM, ketika manusia-manusia berhati syaitan berlomba ingin merobohkan izzah itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

OFENSIF KEPADA ISLAM

Kita semua mengutuk keras perbuatan teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton. Saya yakin, meskipun ada 1000 aksi peledakan semacam itu di 1000 hotel milik Amerika atau Inggris. Ia tidak akan menolong Islam dan juga tidak akan berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Malah, bisa jadi setelah itu Islam akan didefinisikan secara mutlak sebagai terorisme. Aksi-aksi teror tidak banyak gunanya. Namun kenyataan yang sangat menyakitkan, lewat aksi-aksi teror itu, Islam dan kaum Muslimin sering sekali menjadi sasaran FITNAH.

Para pakar, pengamat, ahli intelijen, mantan anggota JI, pejabat kepolisian, politisi, dan lainnya, mereka sering mengakui bahwa aksi terorisme tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam (agama). Hal itu mereka katakan berulang-ulang di banyak kesempatan. Tetapi setelah itu, mereka akan mulai menyerang ajaran-ajaran Islam, seperti Jihad Fi Sabilillah, Daulah Islamiyyah, Khilafah Nubuwwah, Syariat Islam, para Mujahidin, dan lain-lain. Sebagian mulut mereka mengakui bahwa Islam tidak ada kaitannya dengan terorisme, tetapi sebagian yang lain tidak henti-hentinya menyerang agama Allah. Ini merupakan bukti KEMUNAFIKAN telanjang.

Media-media massa (terutama media TV), tidak kalah brutalnya dalam menciptakan kekacauan opini. Salah satunya adalah TVOne. Dalam berita-berita yang terkait penemuan bahan peledak di Jatiasih Bekasi, TVOne selalu mengakhiri pembacaan skrip beritanya dengan mengatakan bahwa bom itu akan diledakkan di rumah kediaman SBY di Cikeas. Tetapi mereka tidak menyebutkan bukti apapun atas klaim itu. Begitu pula, mereka secara bombastis membuat liputan tentang penyerangan Densus 88 di Temanggung. Ternyata, banyak data-data mereka yang salah. Sungguh sangat memalukan. Selama puluhan jam mereka mendoktrin pikiran ratusan juta masyarakat dengan info-info palsu seputar penggerebekan Temanggung. Termasuk disini, TVOne kerap mendatangkan mantan-mantan anggota JI sebagai narasumber. Andai organisasi yang disebut JI itu memang ada, yang didatangkan rata-rata orang aneh. Mereka tidak tampak sikap cemburunya ketika Islam disudutkan secara sistematik melalui pernyataan-pernyataan tendensius.

Untuk kesekian kalinya, kita mendapati kenyataan yang sama. Setiap pasca peledakan bom, Islam selalu diserang. Menariknya, Islam diserang setelah para ahli atau pakar mengakui bahwa aksi-aksi teror itu tidak ada kaitannya dengan agama (Islam). Seakan, pengakuan mereka itu merupakan ucapan “permisi” sebelum menyerang Islam sepuas-puasnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Baca entri selengkapnya »


Mengapa Ada Al Qa’idah?

Juli 26, 2009

Istilah Al Qa’idah itu memiliki arti yang unik. Ia adalah kata yang berubah pengertian sesuai proses-proses yang dialami kelompok yang menyandang nama itu.

Al Qa’idah bisa ditulis dengan huruf ‘ain. Ia berarti tempat duduk, tempat duduk-duduk bersama, atau fondasi bangunan. Inilah arti mula-mula Al Qa’idah sesuai asal-usul kemunculannya. Waktu itu tahun 80-an, ketika sedang maraknya JIHAD di Afghanistan menentang Uni Soviet. Para mujahidin memiliki suatu tempat berkumpul-kumpul, semacam base camp, atau kamp latihan. Di dalamnya segala simpul-simpul bantuan untuk JIHAD di Afghanistan berkumpul. Ada yang datang dari Saudi dan Timur Tengah, ada yang dari Pakistan, dari Asia Tenggara (seperti Indonesia), bahkan bantuan dari agen-agen CIA. Para mujahidin menyebut tempat mereka kumpul-kumpul itu sebagai Al Qa’idah. Maksudnya, tempat kumpul-kumpul, duduk bersama, berbagi, maskas, dan lain-lain.

Namun kemudian pengertian Al Qa’idah berubah. Ia lebih tepat ditulis dengan hamzah, bukan dengan ‘ain. Al Qa’idah yang ditulis dengan hamzah, pengertiannya adalah pemimpin, pengarah, komando. Seorang qa’id itu sama dengan komando. Hal ini merujuk kepada gerakan kekerasan menyerang sasaran-sasaran kepentingan Amerika dan sekutunya di seluruh dunia, khususnya melalui serangan-serangan bom. Gerakan ini merujuk kepada Fatwa Global Usamah bin Ladin untuk menyerang segala bentuk simbol-simbol kepentingan Amerika di dunia.

Fatwa global Usamah itu bukan fatwa jihad, sebab secara metodologi memang tidak layak disebut sebagai fatwa jihad (apalagi jika dipandang sebagai fatwa jihad ofensif). Sampai saat ini, Usamah bin Ladin didampingi Dr. Aiman Al Zhawahiri, mantan pemimpin Jamaah Islamiyyah Mesir terus mengeluarkan pernyataan atau fatwa dukungan atas serangan-serangan sporadis yang dilakukan oleh anggota milisi Al Qa’idah di seluruh dunia. Termasuk atas serangan-serangan yang terjadi di Indonesia melalui bom-bom manusia itu. Ketundukan para anggota milisi Al Qa’idah kepada seruan “jihad global” Usamah bin Ladin ini memposisikan Usamah sebagai pemimpin atau komando gerakan ini. Inilah pengertian Al Qa’idah sesungguhnya, yaitu gerakan serangan sporadis terhadap kepentingan-kepentingan Amerika dan sekutunya, yang merujuk kepada fatwa dan arahan Usamah bin Ladin.

FATWA ULAMA SAUDI

Seorang ulama Saudi, saat beliau masih hidup, fatwanya disebut-sebut sebagai salah satu rujukan gerakan Al Qa’idah. Dalam salah satu fatwanya, beliau memuji serangan ke Double Tower WTC, 11 September 2001.

Beliau membenarkan serangan ke WTC itu dan memujinya. Alasan beliau, serangan ke kalangan musuh tidak harus didahului pemberitahuan. Tanpa pemberitahuan pun boleh. Beliau berhujjah, Nabi Saw pernah mengirim ekspedisi penyerangan di bawah komando Usamah bin Zaid Ra. untuk menyerang posisi orang musyrikin. Serangan dilakukan saat musuh lengah. Hal ini kemudian merupakan alasan pembenar bagi serangan ke obyek-obyek milik kaum kafir, tanpa memberi mereka kesempatan untuk bersiap-siap.

Menurut saya, cara pengambilan dalil seperti itu tidak tepat. Begitu pula kalau dikaitkan dengan serangan-serangan terorisme selama ini, juga tidak benar. Meskipun secara pribadi, kita menghormati Syaikh rahimahullah yang disegani para mujahidin dari seluruh dunia itu. Beliau disebut-sebut sebagai ayahnya para mujahidin, sangat peduli dengan jihad, dan selalu concern menanyakan perkembangan jihad di negeri-negeri Islam. Kita memuliakannya dan mendoakan rahmat baginya.

Beberapa catatan perlu disampaikan disini, antara lain:

[o] Terorisme berbeda dengan pengiriman ekspedisi jihad untuk menyerang musuh. Kedua-duanya sama offensive (menyerang musuh), tetapi legalitasnya berbeda. Ekspedisi jihad bergerak atas perintah, ijin, dan restu seorang pemimpin Islam. Para Shahabat Ra. tidak berani melakukan serangan sendiri, tanpa ijin Nabi Saw. Sementara terorisme tidak jelas siapa yang memerintahkan aksi seperti itu dan landasan legalitasnya juga tidak jelas.

[o] Ekspedisi untuk menyerang musuh, sekalipun tanpa pemberitaan, seperti terjadi di jaman Nabi Saw dilakukan di atas kondisi konflik yang sudah sama-sama dimaklumi, oleh kawan dan lawan. Nabi Saw memimpin kaum Muslimin mengamankan Madinah, melindungi kepentingan Islam, serta melemahkan posisi orang-orang kafir. Orang kafir sendiri sudah maklum dengan sikap Nabi Saw dan para Shahabat ketika menyatakan perang kepada mereka. Sedangkan terorisme, ia adalah serangan sporadis tanpa didahului kepastian konflik di antara pihak-pihak yang bertikai. Adakah satu saja negara Muslim di dunia yang menyatakan perang kepada Amerika dan sekutunya? Selama belum ada keputusan itu, maka aksi-aksi serangan sporadis tidak dianggap sebagai jihad, melainkan terorisme.

[o] Ekspedisi jihad di jaman Nabi Saw jelas manfaat dan pengaruhnya. Sementara serangan-serangan terorisme itu sudah mengacaukan pemikiran, membuat Ummat bingung, juga mengundang serangan balik dari orang-orang kafir dalam segala bentuknya ke Ummat Islam sedunia.

Andaikan aksi serangan ke WTC 11 September 2001, benar-benar dilakukan oleh Al Qa’idah dan kawan-kawan, sehingga menghasilkan aksi paling monumental dalam sejarah manusia modern, ia tetap saja tidak bisa dipuji. Serangan itu tetap dihitung sebagai serangan haram, sebab tidak dilakukan dengan metodologi JIHAD Islami.

Masyarakat dunia mungkin masih bisa memaklumi serangan ke WTC, andai ia dilakukan oleh elemen-elemen dari bangsa Irak, Palestina, atau Afghanistan yang sedang mengalami penindasan oleh Amerika, Israel, dkk. Mereka bisa beralasan dengan situasi kekejaman yang mereka alami di negeri masing-masing dan melakukan serangan untuk menghentikan kezhaliman Amerika Cs. Kemudian, sebelum menyerang mereka menyampaikan maklumat terlebih dulu, atau semacam manifesto politik yang berisi alasan dan tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan. Hal ini perlu ditempuh agar tidak memfitnah Ummat. Dan setelah aksi dilakukan, ada pernyataan bertanggung-jawab secara kesatria dari elemen-elemen yang menyerang itu.

Sebuah contoh adalah aksi pembajakan pesawat yang dilakukan oleh beberapa elemen pemuda Palestina terhadap pesawat tujuan Siprus. Pembajakan ini pernah dibuat film dokumenternya dengan sangat informatif. Pesawat itu lalu landing di salah satu negara Afrika Utara, kemudian disergap oleh pasukan khusus Mesir. Namun anehnya, kebanyakan penumpang yang meninggal justru karena serangan pasukan Mesir itu, bukan karena pembajakan. Dalam aksi ini, meskipun sasarannya sipil, setidaknya masyarakat bisa paham bahwa yang dituju oleh pelakunya adalah membela bangsanya yang tertindas di Palestina.

Namun dalam Tragedi WTC, lihatlah dengan jelas. Betapa jauhnya harapan dan kenyataan. Para pelakunya orang-orang Saudi, melakukan aksi tanpa pemberitahuan dan pemakluman terlebih dulu, serta setelah aksi para pelakunya pada kabur tidak karuan. Itu pun dengan asumsi, bahwa pemuda-pemuda Islam yang melakukan aksi itu. Sebab dari banyak analisa kritis, didapat kesimpulan bahwa peledakan WTC 911 dilakukan oleh konspirator Amerika dan Yahudi sendiri.

ISU DAULAH ISLAMIYYAH

Mantan Komandan Densus 88, Jendral Suryadarma Salim Nasution. Dalam dialog dengan TVOne dia mengklaim bahwa pelaku teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton adalah bagian dari Al Qa’idah internasional. Ia bukan aksi oleh tangan-tangan teroris lokal. Ketika ditanya, apa tujuan semua aksi teror itu, Suryadarma mengatakan dengan tegas, bahwa tujuannya adalah untuk mendirikan Daulah Islamiyyah, yaitu sistem negara Islam seperti di jaman Nabi dan para Khalifah setelahnya. Dia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu guna mencegah gerakan pendirian Daulah Islamiyyah itu.

Menurut saya, ucapkan Jendral Suryadarma ini hanya OMONG BESAR. Al Qa’idah sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan perjuangan Daulah Islamiyyah. Daulah Islamiyyah tidak bisa didirikan dengan cara teror, menjadikan warga sipil sebagai bulan-bulanan serangan, merasa arogan seolah paling berhak bicara tentang jihad, dan terus-menerus menjelek-jelekkan citra Islam di mata manusia. Sangat jauh jarak antara tujuan mendirikan Daulah Islamiyyah dengan cara-cara teror pengecut itu. Nabi Saw dalam sirahnya, beliau tidak pernah memberi contoh mendirikan Daulah dengan cara-cara teror. Begitu pula para Khalifah Rasyidah. Mendirikan Daulah Islamiyyah haruslah dengan dakwah, tarbiyah, ukhuwwah di antara kaum Muslimin, dan siyasah. Bukan dengan cara-cara teror seperti Nordin M. Top dan kawan-kawan. Bahkan andai mereka meyakini kebenaran cara teror itu, mengapa tidak vis a vis dengan sistem militer sekalian?

Inti masalahnya, orang-orang ini ingin menegakkan urusan yang besar (mendirikan Daulah Islamiyyah), tetapi tidak mau membayar syarat-syaratnya. Ibarat ingin menunaikan Haji, tetapi kerjanya tidur melulu. Jangankan Daulah Islamiyyah, seluruh kelompok teror di dunia ini (termasuk kelompok orang-orang kafir) nyaris tidak ada yang pernah berhasil membangun negara melalui cara-cara teror. Yahudi saja, yang dikenal sebagai mbah-nya segala teror, mereka mendirikan Israel dengan pertempuran vis a vis menghadapi koalisi pasukan Arab. Ingat lho, itu Yahudi yang agama mereka melegalisasi segala bentuk aksi teror terhadap non Yahudi (Ghayim).

Baca entri selengkapnya »


Antara Pemimpin Politik dan Bencana Alam

Juli 2, 2009

Dalam 5 tahun terakhir (2004-2009), kita semua mengalami keprihatinan besar. Hal ini berkaitan dengan bencana alam yang susul-menyusul melanda negeri ini. Dimulai dari bencana Tsunami di Aceh (menelan korban lebih dari 100 ribu jiwa), lalu gempa bumi besar di Yogya (menelan korban sekitar 5000 jiwa), lalu Tsunami II di Pangandaran Ciamis, lalu bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo yang menenggelamkan desa-desa di sekitarnya, termasuk bencana banjir karena meluapnya Bengawan Solo di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu pula dengan banjir di Sulawesi, tanah longsor di Papua, sampai banjir “Tsunami kecil” di Situ Gintung, Tangerang Banten.


Belum termasuk ancaman bencana gunung meletus yang terus-menerus mengancam dari Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Kelud, dan lainnya. Praktis selama 5 tahun terakhir ini kita disuguhi “bencana alam” yang seolah tidak putus-putusnya. Padahal ini baru bencana alam, belum masuk di dalamnya soal kecelakaan transportasi, wabah flu burung, wabah demam berdarah, kelaparan dan gizi buruk, konflik pasca Pilkada, dekadensi moral, fenomena kemiskinan (50 % penduduk menurut standar Bank Dunia), dll.

Sebagian orang percaya, bahwa datangnya bencana-bencana alam itu ada kaitannya dengan kepemimpinan politik. Namun ada juga yang membantah. Pihak yang membantah beralasan, “Kalau bencana, ya bencana saja. Tidak usah dihubung-hubungkan dengan pemimpin.” Yang lain lagi mengatakan, “Bencana alam terjadi karena faktor alam saja, tidak ada kaitannya dengan politik.” Pihak lain mengatakan, “Jangan selalu memahami masalah bencana dengan tafsiran-tafsiran mistis. Ini sudah jaman modern. Berpikirlah lebih rasional!” Banyak sekali pandangan seperti ini, baik di tingkat rakyat biasa, mahasiswa, akademisi, intelektual, kaum santri, termasuk para pemimpin politik dan ormas.

Puncaknya adalah ketika seorang partai politik tertentu mendapat dukungan luas dalam Pemilu Legislatif beberapa waktu lalu. Hasil Pemilu itu menggambarkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia tidak peduli dengan banyaknya bencana-bencana yang terjadi dalam masa 5 tahun terakhir. Mereka percaya, bahwa bencana alam tidak ada kaitannya dengan pemimpin politik. Demikian kesimpulan yang bisa diambil, dengan catatan, andai masalah kecurangan dalam Pemilu dan indoktrinasi pencitraan melalui iklan-iklan di TV sengaja diabaikan.

Terus-terang kita merasa prihatin dengan bencana-bencana alam itu, dan lebih prihatin dengan fenomena buruknya persepsi Ummat dalam memahami masalah bencana. Nabi Saw pernah mengatakan, “Seorang Mukmin itu tidak akan terperosok dalam lubang yang sama, sampai dua kali.” (HR. Muslim). Ini menandakan bahwa orang Mukmin itu pandai mengambil pelajaran dan tidak akan celaka untuk kedua kalinya. Berkali-kali Al Qur’an menjelaskan prinsip seperti ini: “Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang bergelimang dosa!” (An Naml: 69).

Hayo yang pintar mengambil pelajaran! Jangan seperti batu yang bisu dan tidak berdaya! Sampai ada yang mengatakan, “Kambing congek saja tidak akan menanduk batu untuk kedua kalinya.” Belajar dari pengalaman adalah kemestian dari tradisi hidup orang-orang berakal.

Secara umum, kita harus meyakini bahwa bencana-bencana alam itu ada kaitannya dengan dosa-dosa suatu bangsa, dan ada kaitannya dengan pemimpin politik yang berkuasa. Melalui tulisan ini saya ingin menjelaskan kaitan antara bencana alam, dosa masyarakat, dan posisi pemimpin politik. Semoga Allah menolong dan memudahkan untuk menetapi perkara-perkara yang diridhai-Nya. Amin.

Antara Dosa dan Bencana

Sudah menjadi keyakinan dasar seorang Muslim untuk meyakini bahwa perbuatan dosa itu bisa mendatangkan bencana (adzab). Perbuatan dosa dalam kadar kecil masih memungkinkan dimaafkan (An Nisaa’: 31). Begitu pula perbuatan dosa yang diikuti taubat atau istighfar, ia juga diampunkan (Az Zumar: 53). Namun dosa-dosa yang telah bertumpuk, kekafiran besar, kedurhakaan, perbuatan keji, arogansi, dan lain-lain semisal itu, ia akan mendatangkan adzab Allah. Adzab bukan hanya di Akhirat, bahkan ia ada yang diperlihatkan di dunia.

Nasib kaum-kaum di masa lalu, seperti kaum Nabi Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, negeri Sodom, negeri Madyan, negeris Saba’, dll. mereka dibinasakan karena dosa-dosanya yang telah memuncak. Bukti-bukti arkheologis dengan sangat baik menampakkan bekas-bekas kaum yang dimusnahkan itu. Harun Yahya membuat publikasi berharga tentang kaum-kaum yang dimusnahkan di masa lalu itu. Stasiun TV Malaysia juga pernah membuat serial dokumentasi “Jejak Rasul” yang memotret sisa-sisa kehancuran kaum-kaum itu. Sisa-sisa kehancuran kota Pompei, Atlantis, Inca, dan lainnya semakin membuktikan hal itu. Atlantis selama ini dipercaya sebagai kota yang hilang di tengah laut, karena tenggelam.

Nabi Nuh As. pernah berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Janganlah kalian menyembah, melainkan hanya kepada Allah saja. Sesungguhnya aku takut kalian akan tertimpa adzab pada hari yang sangat pedih.” (Huud: 25-26). Adzab bagi kaum Nuh bukan hanya terjadi di Akhirat nanti, tetapi juga terjadi saat di dunia.

Saya menyangka, banjir di jaman Nabi Nuh waktu itu sangat dahsyat dan luas. Hal itu terlihat dari efek banjir yang berakibat menghancurkan struktur tanah, vegetasi, dan binatang-binatang. Tidak berlebihan jika Nabi Nuh diperintahkan membawa setiap pasangan binatang-binatang. Bahkan, akibat banjir itu, Jazirah Arab yang semula hijau dengan tumbuhan, terangkat permukaannya, sehingga menjadi gersang. Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa dulunya jazirah Arab itu hijau. Sedangkan di masa Ibrahim As., wilayah di Makkah sudah gersang. Dan kita tahu bahwa Ibrahim datang setelah berlalu masa Nuh As.

Beberapa ayat Al Qur’an menjelaskan hubungan antara dosa dan bencana yang dialami manusia, antara lain:

(Keadaan mereka) adalah seperti keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (Ali Imran: 11).

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (Al An’aam: 6).

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf: 96).

Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum Hari Kiamat atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (Al Israa’: 58).

Dan sebuah ayat yang menggambarkan keadaan negeri Saba’. “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (An Nahl: 112).

Negeri Saba’ diceritakan memiliki kesuburan tanah luar biasa. Tanaman tumbuh dimana-mana, dengan hasil melimpah. Mereka memiliki bendungan besar untuk mengelola irigasi. Namun setelah penduduk negeri itu durhaka, mereka tertimpa banjir besar yang menghancurkan negerinya. Setelah banjir, kesuburan tanah di negeri itu lenyap. Dimana-mana tumbuh tanaman berbuah pahit.

Kalau orang materialis, atheis, atau freemasonris, tidak percaya hubungan antara dosa dan bencana. Itu wajar saja. Sebab nenek moyang mereka telah mendahului dalam kekafiran dan kedurhakaan. Kaum-kaum yang binasa di masa lalu tidak kalah kafirnya dengan kaum materialis, atheis, freemasonris di masa kini.

Namun kalau ada Muslim yang tidak percaya kaitan antara dosa dengan bencana. Ini sungguh sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin ajaran seterang itu tidak mereka percayai? Jangan-jangan mereka sudah tidak percaya dengan kisah Nabi-nabi di masa lalu. Apakah hati mereka sudah membatu karena keracunan pemikiran-pemikiran materialis? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Baca entri selengkapnya »


Menyikapi Kepemimpinan SEKULER

Juni 25, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala man laa nabiya ba’dahu Muhammad wa alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Selama ini ada kerancuan pemahaman di kalangan Ummat Islam. Sebagian orang memandang, bahwa setiap pemimpin yang beragama Islam, KTP-nya tertulis Islam, atau ia dikenal publik sebagai Muslim; dia diposisikan sebagai ulil amri yang ditaati setelah Allah dan Rasul-Nya. Adab-adab perlakuan terhadap Khalifah Islam wajib diterapkan kepada pemimpin seperti itu. Meskipun yang bersangkutan jelas-jelas menganut idelogi sekularisme.

Jika ada pihak-pihak yang mengkritik pemimpin seperti itu, seketika akan disemprot dengan tuduhan seperti: Keluar dari manhaj Ahlus Sunnah, memberontak kepada penguasa, memecah-belah masyarakat, menyebarkan fitnah, terjerumus fitnah Khawarij, disebut takfiri, dan sebagainya.

Bukan sekali dua kali kita berhadapan dengan orang-orang yang penuh kebingungan itu. Sudah sering terjadi silang pendapat dan adu argumentasi antara kami dengan mereka. Namun mereka selalu muncul dan tidak henti-hentinya mengulang-ulang alasan yang sudah sering dibahas.

Disini saya coba sampaikan kajian ringkas tentang menyikapi kepemimpinan sekuler. Seharusnya, topik ini dibahas secara mendalam. Namun mengingat kebutuhan mendesak yang sifatnya praktis, jadi sengaja dibahas secara ringkas. Sebagai sebuah wacana, tulisan ini tidak menutup diri terhadap bantahan, kritik, koreksi, nasehat, dan lainnya dari pada pembaca budiman. Semoga Allah Ta’ala meridhai amal-amal kita, mengampuni kesalahan-kesalahan kita, dan meluruskan kekeliruan langkah kita. Allahumma amin, ya Rahmaan ya Rahiim.

Berikut ini kajian ringkas tentang menyikapi kepemimpinan sekuler:

[[1]] Menurut Kamus Oxford, secular artinya: (1) Tidak terhubung dengan spiritual atau urusan keagamaan; (2) Hidup di tengah masyarakat biasa daripada dalam sebuah komunitas keagamaan. Adapun kata secularism, artinya: Suatu keyakinan, bahwa agama tidak boleh ikut campur dalam urusan organisasi kemasyarakatan. Sebagai istilah politik, sekularisme bisa didefinisikan sebagai: sistem pemerintahan yang tidak berdasarkan nilai-nilai agama tertentu. Dalam sejarah Eropa, sekularisme muncul dalam bentuk pemisahan tegas antara kekuasaan Kaisar dengan kekuasaan Gereja. Slogannya, “Berikan untuk Kaisar hak Kaisar, dan berikan untuk Tuhan hak Tuhan.” Di dunia Islam, sekularisme terwujud dalam bentuk penghapusan pemerintahan Islam, Kekhalifahan Islam, dan mengganti dengan pemerintahan nasionalis, berdasarkan UU hasil buatan manusia.

[[2]] Adalah salah besar anggapan banyak orang, bahwa masalah sekularisme ini sesuatu yang kabur, samar, atau meragukan kedudukannya. Anggapan seperti ini adalah pelecehan besar terhadap ajaran Islam. Mereka menganggap, ajaran Islam tidak memiliki sikap tegas terhadap fenomena sekularisme. Padahal Nabi Saw dalam salah satu sabdanya pernah mengatakan, “Aku tinggalkan untuk kalian al baidha’ (cahaya terang benderang), malamnya bagaikan siangnya, tidaklah seseorang meninggalkan cahaya itu, melainkan pasti binasa.”

[[3]] Dr. Salman Al ‘Audah, dalam bukunya Islam and Secularism, beliau menyamakan sekularisme sebagai: Jahiliyah dan kemusyrikan. Beliau mengatakan, “Perbedaan antara Islam dan sekularisme adalah substansial. Isu ini tak lain dari perbedaan antara tauhid dengan kemusyrikan…. Oleh karena itu, sekularisme adalah kemusyrikan. Ia menegaskan bahwa masjid adalah untuk Allah, sementara urusan selainnya adalah untuk selain Allah; atau menurut istilah orang Kristen: untuk Kaisar.” Saya pun meyakini dengan pasti, sekularisme adalah kekafiran yang nyata. Disini manusia mengamputasi hak-hak penghambaan kepada Allah hanya dalam batasan ritual yang bersifat pribadi. Sementara dalam urusan selain ritual pribadi, sepenuhnya untuk selain Allah (atau diri manusia itu sendiri). Padahal Al Qur’an telah menjelaskan: “Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam agama ini secara kaffah, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 208).

[[4]] Prinsip sekularisme sangat bertentangan dengan tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi, yaitu untuk ibadah kepada-Nya (Adz Dzariyaat: 56). Manusia sekuler jelas tidak mengibadahi Allah seperti yang diperintahkan. Mereka malah mengibadahi perkara-perkara lain, termasuk hawa nafsunya sendiri. Jumhur kaum Muslimin, sejak jaman Nabi Saw. sampai hari ini, mereka sepakat tentang wajibnya menegakkan negara berdasarkan UU Islami (Al Qur’an dan As Sunnah). Tidak ada manusia yang mengingkari kedaulatan hukum Allah dan Rasul-Nya, selain orang kafir atau orang yang sesat pemikirannya. Dr. Shalih Fauzan dalam Mulakhas Fiqhi, bagian Kitab Hudud wa Ta’zirat, bab Fi Ahkamir Riddah, beliau mengatakan: “Siapa yang berhukum dengan undang-undang yang hina sebagai ganti Syariat Islam, dia memandang hukum itu lebih baik bagi manusia daripada Syariat Islam, atau siapa yang memeluk pemikiran Syi’ah atau nasionalisme Arab, sebagai ganti ajaran Islam, maka tidak diragukan lagi akan kemurtadannya.”

Baca entri selengkapnya »


Memahami Karakter PARTAI ISLAMI

Mei 21, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Sebagaimana yang telah sama-sama kita saksikan, kondisi perpolitikan Islam di Indonesia saat ini (khususnya pasca Pemilu Legislatif April 2009) berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Nilai-nilai idealisme perjuangan politik Islam, seperti telah sirna, berganti dominasi sifat pragmatisme. Partai-partai Islam atau partai basis Muslim yang seharusnya bisa mengarahkan jalannya perjuangan perpolitikan, malah menjadi partisan politik praktis yang sangat terpengaruh oleh cara-cera berpolitik sekuler.

Fakta paling sederhana yang sama-sama kita saksikan adalah, ketika partai-partai Islam dan basis Muslim enggan bersatu dengan sesamanya lalu membentuk sebuah poros politik Islam. Kalau mereka bersatu, setidaknya total suara bisa mencapai 28 %. Suara ini lebih besar dari jumlah suara pemenang Pemilu Legislatif 2009. Lantaran sikap egoisme, pragmatisme kekuasaan, dan lunturnya komitmen terhadap nilai-nilai Islami, maka kesatuan poros Islam itu tidak terbentuk. Bahkan yang lebih memprihatinkan, partai-partai Islam membutuhkan peranan partai nasionalis sekuler untuk menyatukan diri mereka dalam satu ikatan koalisi.

Banyak sudah kritik, nasehat, bahkan kecaman dilontarkan untuk meluruskan sikap partai-partai Islam itu. Namun semua masukan tersebut tak ubahnya seperti angin yang membentur batu-batu karang. Ia dianggap angin lalu, tidak bernilai, bahkan diacuhkan saja. Para elit politik Muslim telah menjadi “politik sebagai panglima”, suatu kenyataan yang dulu mereka cela habis-habisan. Seharusnya, mereka berpolitik secara Islami, mencukupkan diri dalam batas-batas panduan agama Allah, dan tidak melompati pagar-pagar-Nya. Sebab pada hakikatnya, berpolitik adalah beribadah juga; ia terikat hukum-hukum Syar’i yang harus dipatuhi.

Sebuah pertanyaan besar: “Jika langkah-langkah partai Islam selama ini dianggap buruk, tidak layak, menyimpang dari kebenaran, bahkan merugikan masa depan Ummat. Lalu bagaimana bentuk dan cara berpolitik yang Islami, yang sesuai dengan nilai-nilai Syariat Islam itu sendiri? Mohon tunjukkan penjelasannya, sehingga kita tidak disebut sebagai kaum yang hanya pintar mengkritik, tetapi miskin solusi!”

Dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang sifat-sifat (karakter) sebuah partai Islam yang Islami. Tujuan penulisan ini selain untuk menjawab pertanyaan seputar konsep partai Islam yang diharapkan Ummat, juga sebagai dorongan bagi kaum Muslimin untuk lebih bersungguh-sungguh mempersiapkan kerja politik Islami di masa ke depan.Insya Allah, konsep partai Islami ada dan sangat realistik, asalkan kita ada kesungguhan untuk mencari, membangun, dan mengembangkannya.

Apa yang disampaikan disini bukanlah sesuatu yang ideal. Tetapi semoga ia bisa menjadi arah untuk menemukan konsep partai Islam yang lebih tangguh, taat Syariat Islam, dan efektif dalam mencapai kemajua-kemajuan perjuangan politik. Maka, segala kebaikan itu semata merupakan nikmat Allah, adapun kesalahan-kesalahan datang dari diri saya sendiri atau bisikan syaitan. Walhamdu lillahi fil awwali wal akhir.

Baca entri selengkapnya »