Manhaj Pemahaman

Di halaman ini ingin saya sampaikan beberapa prinsip-prinsip pemahaman yang selama ini saya yakini. Ini perlu dijelaskan apa adanya, sehingga semua pihak bisa mengetahui, baik kalangan yang dekat maupun yang jauh, kalangan yang dikenal atau tidak dikenal. Insya Allah, tidak ada niatan untuk menyembunyikan diri, mengelabui orang lain, apalagi menyebarkan kesesatan. Na’udzubillah wa na’udzubillah. Semoga dengan tulisan ini bisa membantu para pembaca memahami pemikiran pengelola blog ini, Abu Muhammad Waskito. Jazakumullah khairan katsira. Amin.

Secara umum, saya dibesarkan dalam kultur keagamaan Nahdhatul Ulama’ (NU) di Jawa Timur. Namun dengan nikmat Allah, sejak remaja saya membaca bacaan-bacaan keislaman heterogen dari berbagai sumber. Saat SMA saya tertarik dengan pemikiran keagamaan yang bercorak modern perkotaan (seperti Muhammadiyyah). Ketika muncul gelombang dakwah era 80-an, saya termasuk yang terpengaruh oleh gelombang tersebut. Ketika itu muncul Dakwah Salafiyah dari Saudi, Ikhwanul Muslimin dari Mesir, Hizbut Tahrir dari Yordania, Jamaah Tabligh dari India, dan Darul Arqam dari Malaysia.[1] Namun eksistensi kelompok-kelompok pergerakan lokal juga ada, seperti Pesantren Hidayatullah, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Masjid Salman ITB, NII, dll. Baik dari luar negeri atau lokal, semuanya memperkaya khazanah dakwah dan pemikiran Islam di Indonesia.

Ketika kuliah di Malang kemudian pindah ke Bandung, saya ikut dalam kajian-kajian yang diadakan Jamaah Tarbiyah (dikenal luas sebagai Ikhwanul Muslimin atau IM). Meskipun begitu, saya membuka komunikasi dengan ikhwan-ikhwan Salafi, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, Darul Arqam, bahkan ikhwan Pesantren Hidayatullah. Saya terus terlibat dalam Jamaah Tarbiyah dan ikut aktivitas politik ketika Partai Keadilan (PK) berdiri tahun 1998. Pasca Pemilu 1999, saya mundur dari PK dan Jamaah Tarbiyah secara umum. Ketika PKS muncul, saya sudah tidak terlibat disana. Selanjutnya, saya lebih banyak mengkaji risalah-risalah ilmiah dari kalangan Dakwah Salafiyah. Saya tertarik dan sangat mengambil manfaat dari kajian-kajian itu, alhamdulillah, namun tidak secara tegas menceburkan diri dalam satu majlis taklim Salafi tertentu.

Dari sisi kajian ilmiah, ilmu-ilmu yang berkembang di majlis-majlis Salafi insya Allah sangat bermanfaat, disertai dengan metode kehujjahan yang bagus. Namun dari sisi kepedulian terhadap masalah-masalah riil yang dihadapi Ummat Islam, Salafi sangat kurang. Bahkan mungkin mereka tidak peduli dengan persoalan-persoalan itu. Dari sisi lain, kualitas hujjah ilmiah yang dimiliki seringkali menjadi sebab munculnya sikap angkuh dan mencela orang lain. Bahkan yang membuat saya sangat heran, banyak ustadz-ustadz atau pemuda Salafi yang memindahkan begitu saja setiap masalah yang ada di Timur Tengah, lalu disebarkan dengan penuh semangat di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Atas alasan-alasan itu, saya tidak ingin terlibat secara langsung dalam majlis-majlis taklim Salafi. Di kemudian hari, alhamdulillah ada juga komunitas Dakwah Salafiyah yang bersikap hikmah dalam dakwah, samhah (toleran) dalam menyikapi perbedaan, dan peduli dengan persoalan-persoalan Ummat. Alhamdulillah.

Secara umum, ada tiga unsur pemikiran yang sangat kuat berpengaruh, yaitu: Metode kajian ilmiah Salafiyah; kepedulian Harakah Islam dalam merespon persoalan-persoalan riil yang dihadapi kaum Muslimin; dan kesadaran terhadap sejarah pergerakan Islam di Indonesia. Kajian Salafiyah sebenarnya sudah dikenal sejak lama di Indonesia, hanya dalam dekade-dekade terakhir, ia mengalami penyegaran luar biasa dari sisi metode dakwah. Sedangkan posisi gerakan Islam lokal sangat penting, sebab mereka lebih memahami situasi masyarakat.

Dari sekian panjang pertumbuhan pemikiran dan pengalaman interaksi dengan elemen-elemen dakwah Islam, alhamdulillah Allah mengajarkan berbagai hikmah pemahaman berharga. Semoga hikmah-hikmah tersebut lurus, sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan Sunnah, dan mendapat keridhaan-Nya. Amin.

Hikmah-hikmah pemahaman itu, antara lain sebagai berikut:

[1] Membangun kehidupan beragama secara ilmiah, yaitu mengikut panduan Al Qur’an dan Sunnah yang shahih. Setiap amalan yang dikerjakan, berlandaskan tuntunan ilmu (wahyu Allah). Dalam Al Qur’an, “Janganlah engkau mengikuti apa-apa yang dirimu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, kesemua itu nanti akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (Al Israa’: 36).

[2] Beribadah kepada Allah dengan memurnikan tauhid kepada-Nya, dan menghindari segala bentuk kemusyrikan. Dalam Al Qur’an, “Dia berseru: Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada bagi kalian sesembahan yang lain, selain hanya Dia!” (Huud: 50, 61, 84).

[3] Mencintai Sunnah Nabi, menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan membelanya dari upaya-upaya penodaan. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Maka siapa yang beriman kepadanya (Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam), memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Al A’raaf: 157).

[4] Meyakini ajaran Islam sebagai panduan hidup yang sesuai dengan fithrah manusia, realistik untuk dilaksanakan, dan telah terbukti dalam sejarah selama ribuan tahun. Dalam Al Qur’an, “Dan siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, maka tidak akan pernah diterima amal-amalnya, dan dia kelak di Akhirat akan masuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85).

[5] Mendukung terbinanya Al Ukhuwwah Al Islamiyyah, mendekatkan hati-hati kaum Muslimin, serta menghindari perpecahan. Dalam Al Qur’an, “Dia (Allah) telah mensyariatkan bagimu agama ini, sebagaimana yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan yang telah Kami wasiatkan dengannya kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, (yaitu agar) kalian menegakkan agama ini dan tidak berpecah-belah di dalamnya.” (Asy Syu’ra: 13).

[6] Menunaikan dakwah Islam secara hikmah, melalui pelajaran yang baik, dan berdialog secara ihsan. Dalam Al Qur’an, “Maka disebabkan rahmat dari Allah, engkau bersikap lembut kepada mereka. Jika engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh darimu. Maka maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159).

[7] Mendukung penegakan Syariat Islam sebagai upaya perlindungan terhadap kehidupan kaum Muslimin. Dalam Al Qur’an, “Katakanlah: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jika kalian berpaling (dari ketaatan itu), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32).

[8] Mendukung usaha-usaha pemberdayaan kualitas hidup Ummat Islam. Dalam Al Qur’an, “Siapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun wanita, sedangkan dirinya beriman, maka benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan benar-benar Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari amal yang mereka perbuat.” (An Nahl: 97).

[9] Mendukung partisipasi politik Islami dalam rangka menunaikan amanah amar makruf nahi munkar. Dalam Al Qur’an, “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan orang yang menyeru ke arah kebaikan, mengajak kepada amal baik, dan mencegah kemungkaran. Maka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Ali Imran: 104).

[10] Berjihad fi Sabilillah dengan cara melakukan pelayanan Islam di berbagai bidang-bidang kebajikan. Dalam Al Qur’an, “Dan benar-benar Allah akan menolong siapa yang menolong (agama)-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Hajj: 40).

Butir-butir pemahaman seperti di atas, tidak harus dipahami sebagai manhaj pemikiran sebuah kelompok pergerakan tertentu. Bisa saja ia bersifat individu atau spesifik bagi seseorang. Tetapi perlu diingat, butir-butir pemahaman seperti itu juga bukan perkara baru lagi. Ia sudah berulang kali disampaikan di berbagai kesempatan, oleh berbagai kalangan. Posisi saya seolah hanya mengamati berbagai corak pemikiran keislaman yang berkembang, lalu memilih sebagian butir-butir yang dianggap paling berkilau. Singkat kata, semua ini bukan “penemuan baru”, hanya mengumpulkan yang sudah ada.

Jadi siapapun tidak perlu bersusah-payah mencari kecocokan pemahaman di atas dengan gerakan-gerakan Islam yang ada saat ini, lalu membuat labelisasi. Itu tidak perlu, dan lebih mencerminkan kesempitan jiwa. Perlu saya ingatkan kembali, pembahasan ini sebenarnya lebih untuk merespon keinginan sebagian orang yang ingin melakukan “bedah manhaj”. Nah, ini sudah dikemukakan pemahaman-pemahaman yang dicari. Silakan dinilai sebaik-baiknya, silakan diperiksa secermat-cermatnya. Kalau perlu, mari kita buktikan dengan diskusi terbuka.[2]

Namun dalam konteks amaliyah, jangan pula berkesimpulan, bahwa saya telah melaksanakan butir-butir itu dengan baik. Apa yang diutarakan di atas adalah manhaj pemahaman yang diyakini dan disetujui, bukan sebagai klaim atas kesempurnaan keimanan dan amal. Akhirnya, hanya kepada Allah Ar Rahman kita memohon hidayah, taufik, dan istiqamah. Amin.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 13 Januari 2009.

AM. Waskito.

40 Tanggapan ke “Manhaj Pemahaman”

  1. musthafa Berkata:

    assalamualaikum wr wb
    salam kenal AMW… banyak pencerahan saya dapat. belajarnya gimanasih dulu sampean kok bisa sedemikian pintar (jujur). INSYA ALLAH saya akan sering mengunjungi tempat ini.

  2. ahmad Berkata:

    sepertinya ana sependapat dengan antum

  3. Azhari Berkata:

    Assalamu’alaikum pak,
    Saya salut pd Bapak…
    semoga pemikiran-pemikiran seperti bapak ini banyak lahir saat ini…
    Amien ya rabbal’alamin…

  4. abisyakir Berkata:

    @ Musthafa

    Iya Pak, salam kenal juga. Terimakasih jika Bapak mau menyempatkan diri kesini. Semoga bermanfaat ya. Amin.

    Oh ya, jangan terlalu memuji, nanti jadi GR kita-kita disini. Alhamdulillah atas segala nikmat Allah.

    Saya teringat ucapan Said Ramadhan Al Buthi. Beliau pernah mengatakan, bahwa kepandaian itu hanyalah karunia Allah saja. Adapun seseorang hanya berperan “menyediakan wadah”, lalu Allah yang mengisi wadah itu dengan karunia ilmu dari-Nya. Ya, kurang lebih pandangan saya tidak jauh dari itu.

    Alhamdulillah ala kulli ni’matillah.

    AMW.

  5. abisyakir Berkata:

    @ Ahmad

    Syukran Akhi, jazakumullah khair. AMW.

  6. abisyakir Berkata:

    @ Abdul

    Jazakallah sudah berkunjung. Tapi mohon maaf jangan “ofensif”, sebab nanti biasanya akan menjadi “ekstrem” yang lain. Menyikapi satu titik “ekstrem” jangan dengan membuat “esktrem” yang lain. Terimakasih. Insya Allah kalau ada kesempatan berkunjung.

    AMW.

  7. Yenni Berkata:

    Subahanallah…
    perjalanan yang luar biasa…

  8. karqun Berkata:

    Assalamualaykum Pak,
    MasyaAllah, saya salut sama antum bisa sempatkan diri untuk sharing hal yg positip, semoga selalu Allah jaga,
    BTW, Bapak belum coba untuk keluar 4 bulan / 40 hari yaa, dg sodara2 dari masjid jami kebon jeruk, klo melihat ghiroh bapak dlm agama ini, tentunya tidak sulit untuk mencobanya dengan niat ishlah diri,
    oh ya insyaAllah tgl 17-19 2009 july di BSD akan diadakan ijtima umat islam seindonesia, sunggu sengan sekali jika bapak bisa hadir, InsyaAllah

  9. wildan hasan Berkata:

    kita hampir mirip, cuma beda kualitas. Abdi mah nembe ngorondang….

  10. Abu Nabila As Sundawy Berkata:

    berawal dari kejawen menuju salafiyin
    berawal dari mujarobat menuju syari’at
    hanya untuk mencari hakikat kebenaran
    Al hamdulillah akhirnya kutemukan kebenaran itu
    kebenaran yang menenangkan hati dan memuaskan akal.
    salafiyah pintu gerbang kesuksesan hakiki dunia akhirat

    akhukum fillah

    Abu Nabila

    • abisyakir Berkata:

      @ Abu Nabila

      Alhamdulillah, semoga Allah merahmati Antum dengan segala perjalanan hidup yang dilalui, lalu mengumpulkan Antum, ana, dan kita semua dengan kaum Mukminin di muka bumi dalam barisan hamba-hamba yang berbakti kepada-Nya. Allahumma amin.

      AMW.

  11. Ahmad Berkata:

    Apa pendapat antum tentang PKS…

    Saya sudah lama ikut Trabiyah…tapi ingin sekali pandangan lain dari semisal antum, kalau dari salafi sudah biasa..

    Jazakallah.

  12. karqun Berkata:

    adakah teman2 dari pergerakan2 lain menyaksikan kawannya sendiri mati dalam keadaan husnul hotimah ( bisa ucapkan kalimat toyibah ) boleh dong saling sharing, sebagai penyemangant, atau mungkin tuan AbiSyakir bisa buat postingan nya :) saya tunggu yaa

    Jazakallah khair

  13. abuabyan Berkata:

    Assalamualaikum, ana setuju sama antum, jangan sampai kita ingin menghindari satu kutub ekstrim, dg menciptakan kutub ekstrim yg lain, yg penting kita memiliki hujjah, perjalanan ilmiah ana pun hampir sama dg antum, doakan saja semoga kita selalu berada dalam shirotol mustaqim

  14. sumeleh Berkata:

    alhamdulillah..
    ana bisa menemukan perjalanan batin yang mirip dg saudara abusyakir.

    Kebingungan dengan banyaknya manhaj/pemahaman Islam sedikit banyak tercerahkan dengan tulisan antum.

    jazakalloh atas pencerahannya, tulisan ini semakin menyemarakkan dakwah Islam yang lebih kafah. Tidak berangkat dari ekstrim ke ekstrim yang lain

    semoga.

    • abisyakir Berkata:

      @ Sumeleh.

      Sama-sama Akhi, wa jazakumullah aidhan khaira jaza’. Semoga Allah senantiasa menaungi kita dengan rahmat-Nya, hidayah-Nya, taufiq-Nya, pertolongan, ampunan, dan barakah-Nya. Allahumma amin.

      AMW.

  15. Abdullah Berkata:

    Assalamu Aalaikum Ustadz….
    Saya selalu mengunjungi blog antum ini meski jarang berkoemntar. Semoga antum tetap istiqamah di jalan Allah.
    Kunujungi blog saya ya…
    http://www.abdillahsyafei.com

    Wassalamu Alaikum

  16. Haji Muhammad Abdullah Berkata:

    Assalamualaikum

    Kaum Syi’ah memiliki AlQuran yang sama 100% dengan AlQuran yang dimiliki oleh Kaum Sunni. Mayoritas Ulama Kaum Sunni adalah orang yang jujur dan bijaksana; tetapi minoritas Ulama Kaum Sunni adalah orang2 yang sombong (takabur & ujub).

    Ulama Sunni yang sombong rajin menyebarkan kebohongan2 tentang madhab Ahlul Bait (Syi’ah) untuk membodohi ummat Islam dan untuk menghancurkan persatuan ummat Islam.

    Ulama Sunni yang sombong mengatakan bahwa Kaum Syi’ah memilik AlQuran yang berbeda dengan AlQuran yang dimiliki oleh Kaum Sunni.

    Pemerintah Iran telah mengadakan Musabaqoh Tilawatil AlQuran International sejak tahun 1979 sampai sekarang ini. Semua negara yang bergabung pada organisasi OKI mengirimkan wakil-wakilnya ke Teheran Iran setiap tahun untuk berpartisipasi pada Musabaqoh Tilawatil AlQuran International.

    Tidak ada satu negara muslim yang melakukan protes kepada AlQuran yang dicetak di Iran; karena Kaum Syiah memiliki AlQuran yang sama 100% dengan AlQuran yang dimiliki oleh Kaum Sunni.

    AlQuran yang berbeda adalah AlQuran yang dicetak oleh ummat Nasrani dan ummat Yahudi.

    ALQURAN 2:120
    Orang2 Yahudi dan orang2 Nasrani tidak akan pernah senang kepada muslim & muslimah sebelum muslim & muslimah mengikuti agama mereka (agama Kristen atau agama Judaica).

  17. AbdurRahman Berkata:

    Klu Antum benar-benar mengerti dgn Sunnah dan Salafiyyah kenapa Antum loloskan dan diamkan kebatilan Syi’ah di komentarnya HM. Abdullah?
    Di manakah kecemburuan Antum kepada Sunnah dan Ulamanya?

    Utk bantahannya, silahkan baca: haulasyiah.wordpress.com

    • abisyakir Berkata:

      @ Abdur Rahman.

      Saya mau tanya ke Anda: “Apa ukuran Ahlus Sunnah itu ditentukan karena seseorang mencantumkan komentar-komentar dari orang yang tidak disetujuinya di blog dia?” Apakah itu ukuran Ahlus Sunnah? Kalau begitu, Anda ini perlu belajar lebih jauh lagi.

      Saya ingatkan satu hal: Di Saudi itu sangat banyak ulama-ulama Ahlus Sunnah. Tapi apakah mereka melarang orang Syiah datang ke Madinah untuk berziarah, atau melarang orang Syiah datang ke Makkah untuk Haji?

      Tolong Anda jawab pertanyaan di atas dengan tegas dan jelas, tidak usah mbulet, tidak usah “pukul lalu lari”. Jangan kayak perempuan, beraninya nembak dari jauh, lalu kabur tak karuan rimbanya. Anda kan laki-laki. Jangan kayak perempuan deh.

      Itu saja. Terimakasih.

      AMW.

      NB: Tambahan dalam artikel tentang “Eramuslim dan Wahhabi” itu sudah disinggung soal Syi’ah. Baca disana!

  18. AbdurRahman Berkata:

    “Apa ukuran Ahlus Sunnah itu ditentukan karena seseorang mencantumkan komentar-komentar dari orang yang tidak disetujuinya di blog dia?”
    Jawab: Mas pergunakan fiqih dan pemahaman, bukan sekedar perasaan dan emosi.
    Ini bukan soal komentar yang disetujui atau tidak, tetapi soal komentar yang mengandung kebatilan di dalamnya.
    Coba pahami ini: Komentar yang Anda cantumkan apabila berupa kebatilan itu bisa menjadikan blog Antum:
    1. Sebagai sarana menyebar kebatilan
    2. Orang yang membaca mungkin saja terpengaruh dengan kebatilan atau kesesatan tersebut.
    Apakah Antum tidak khawatir menjadi penolong kebatilan -sadar maupun tidak?
    (Semoga Allah Ta’ala memberikan kepahaman kepadaku dan kepadamu).

    • abisyakir Berkata:

      @ AbdurRahman

      Hai, Abdurrahman, semoga Allah memuliakanmu dan kami dalam kebaikan.

      Perhatikan kalimat di bawah ini:

      1. Saya mencantumkan pandangan orang-orang yang tidak setuju dengan saya, agar blog ini tidak dianggap SEPIHAK atau satu arah saja. Kalau mau, komentar-komentar seperti kamu ini sudah saya buang sejak dulu. You know man?

      2. Blog ini memang untuk berbagi wawasan, untuk melatih kemampuan berpikir, berdiskusi, dan berargumentasi. Blog ini bukan untuk pemula, tetapi untuk yang telah cukup memahami wawasan Islam. Coba baca lagi tentang “Seputar Blog Ini”.

      3. Di Saudi itu orang-orang Syiah diperbolehkan berkunjung/ziarah secara bebas. Itu sebenarnya jauh lebih berbahaya ketimbang mencantumkan sebuah komentar orang Syiah di blog. Disana bukan hanya soal komentar, tapi orang-orang Syiah itu sendiri datang langsung ke Tanah Suci, membawa pemahaman, mendakwahkan ajarannya, setidaknya dengan penampilan dan amal-amal mereka.

      Terimakasih.

      AMW.

      • AbdurRahman Berkata:

        Abdurrahman: “Sungguh mengherankan, hanya demi agar tidak dituduh SEPIHAK Antum loloskan komentar menyebarkan kesesatan Syi’ah, manhaj yang aneh. Berdirilah di pihak Ahlus Sunnah saja. Kedua, klupun harus memuat sertailah dengan bantahan, mana bantahan kepada komen syi’ah di atas?

        Jawab: Komentar @ Muhammad Abdullah disini tidak sehebat komentar-komentar dia di MyQuran. Coba deh, sesekali lihat ke MyQuran, biar Anda bisa membandingkan. Lagi pula, tolong baca ulang tulisan “Antara Eramuslim dan Wahhabi”. Disitu saya sertakan pandangan kritis tentang Syi’ah.

        Abdurrahman: “Masya Allah, bijak sekali kata-katanya.”

        Jawab: Saya sudah berkali-kali menghadapi orang seperti Anda ini. Ya, dari dulu gayanya selalu begitu, copy paste gaya standar kaumnya.

        Kalimat itu untuk menunjukkan kepada Anda, kalau komentar Anda saja tidak dihapus, mengapa Anda menyuruh saya menghapus komentar orang lain? Anda ini sudah tidak adil, komentarnya sekian banyak saya diamkan, malah saya layani. Tetapi orang lain baru berkomentar satu saja sudah “sesak nafas” berkepanjangan.

        Abdurrahman: “Ini lebih mengherankan; berbagi wawasan cukupkanlah dengan ilmu yang haq, jangan masukkan wawasan yang menyimpang, ingat hati itu lemah. Sama sekali tidak ada jaminan bahwa pengunjung blog ini semuanya “telah cukup memahami wawasan Islam”, bahkan pemilik blognya sendiri pada kenyataannya masih sangat awam dgn permasalahan manhaj.”

        Jawab: Ya, kalau Anda temukan ilmu yang bathil di blog ini, silakan tunjukkan. Nanti akan saya koreksi, kalau memang Anda benar! Apakah mengijinkan satu komentar dari seseorang tertentu, lalu blog ini diklaim memuat kebahilan? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

        Anda mengatakan: “Bahkan pemilik blognya sendiri pada kenyataannya masih sangat awam dgn permasalahan manhaj.”

        Jawab: Ya, saya baru memahami, bahwa maksud kata “manhaj” dalam pikiran orang-orang seperti Anda ini adalah tunduk patuh kepada ajaran syaikh/ustadz dan simbol-simbol fanatisme kelompok Anda. Jadi, istilah “manhaj” yang dimaksud disana tidak ada kaitannya dengan Islam, tetapi dengan hizbiyyah kelompok.

        Abdurrahman: Lagi-lagi mengangkat Saudi, berdalil tanpa sadar.

        Jawab: Lho, masalah yang Anda maksudkan itu kan soal “saya mencantumkan komentar @ Haji Muhammad Abdullah” kan? Itu kan masalah teknik, terkait kebijakan sebuah blog. Nah, sikap ulama-ulama Saudi itu bisa menjadi perbandingan sikap teknik mereka.

        Kalau dalil saya sederhana saja, “Wa jaadilhum billati hiya ahsan” (dan bantahlah mereka dengan bantahan yang lebih baik). Katakanlah, saya sudah membantah pandangan @ Muhammad Abdullah dalam tulisan “Eramuslim dan Wahhabi”.

        Hanya masalahnya, orang seperti Anda ini kan inginnya disetujui terus pandangannya, tidak boleh dikritik atau dibantah. Kalau dibantah, terus ngeyel, sampai orang lain “kecapekan” sendiri.

        AMW.

  19. AbdurRahman Berkata:

    Di Saudi itu sangat banyak ulama-ulama Ahlus Sunnah. Tapi apakah mereka melarang orang Syiah datang ke Madinah untuk berziarah, atau melarang orang Syiah datang ke Makkah untuk Haji?
    Jawab: Saya sdh menduga, memang Antum masih sangat awam yaa akhi. Dalam manhaj Ahlus Sunnah tidak pernah diajarkan berdalil dengan Saudi, tetapi dalil itu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah, ini yang pertama.
    Kedua: Ini bukan soal orang Syi’ah berhaji ke Baitullah atau berziarah ke Madinah, tetapi soal kebatilan mereka yang Antum loloskan penyebarannya -sadar maupun tidak.
    Ketiga: Justru mereka dibiarkan datang agar bisa melihat dakwah Ahlus Sunnah dan mendapatkan bimbingan darinya
    Keempat: Para Ulama tentu tidak pernah membiarkan mereka jika melakukan penyimpangan ataupun menyebarkan kesesatan mereka, jadi sangat berbeda dengan yang Antum lakukan di blog ini.
    Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepadaku dan kepadamu.

    • abisyakir Berkata:

      @ AbdurRahman

      Ya Allah, Anta tidak pantas memakai nama Abdur Rahman. Nama Ar Rahmaan terlalu luhur untuk sifat-sifat Antum ini.

      Ya, tentu saya tidak berdalil dengan Saudi. Maksud saya, ini coba kamu perhatikan kalimat “Di Saudi banyak ulama-ulama Ahlus Sunnah“. Keberadaan ulama-ulama di Saudi yang sedemikian banyak, masak kita abaikan ketika mereka tidak mendesak penguasa setempat untuk melarang datangnya orang-orang Syiah itu.

      Maksudnya begini, di Saudi saja yang banyak ulama-ulamanya, mereka bisa toleran dengan datangnya ribuan orang-orang Syiah setiap tahun ke Saudi. Lalu saya disini, status bukan ulama, lalu mencantumkan satu komentar orang Syi’ah, masak kamu keberatan? Tidakkah lebih layak kamu keberatan dengan perbuatan para ulama Saudi itu?

      Soal orang Syi’ah ini, saya sudah katakan, lihat tuh pada artikel “Eramuslim dan Wahhabi”. Itu kan sudah disebut disana.

      Trus, satu lagi, nama Antum sebenarnya ini siapa? Abdur Rahman itu nama asli atau bukan? Lalu mengapa alamat e-mail Antum cuma ditulis: abu…@yahoo.co.id. Apakah ini bentuk dari kejujuran Antum?

      Tolong dijawab ya. Kalau tidak, semua pesan Antum akan saya hapus, sebab kita tidak mau gaul sama -maaf- manusia-manusia bermental sampah. Kecuali kalau mereka mau dididik untuk diluruskan pemahaman dan pemikirannya dari kesesatan.

      AMW.

      • AbdurRahman Berkata:

        Trus, satu lagi, nama Antum sebenarnya ini siapa? Abdur Rahman itu nama asli atau bukan? Lalu mengapa alamat e-mail Antum cuma ditulis: abu…@yahoo.co.id. Apakah ini bentuk dari kejujuran Antum?

        Tolong dijawab ya. Kalau tidak, semua pesan Antum akan saya hapus, sebab kita tidak mau gaul sama -maaf- manusia-manusia bermental sampah. Kecuali kalau mereka mau dididik untuk diluruskan pemahaman dan pemikirannya dari kesesatan.

        Masya Allah, kata-kata yang bijak kepada seorang Muslim.

  20. AbdurRahman Berkata:

    Tolong Anda jawab pertanyaan di atas dengan tegas dan jelas, tidak usah mbulet, tidak usah “pukul lalu lari”. Jangan kayak perempuan, beraninya nembak dari jauh, lalu kabur tak karuan rimbanya. Anda kan laki-laki. Jangan kayak perempuan deh.
    Jawab: Janganlah emosi begitu, santai saja, bukankah manhaj Ahlus Sunnah mengajarkan untuk bersikap lembut, oleh karenanya maafkan saya jika ada kata yang menyinggung Antum.
    Semoga Allah Ta’ala menjadikan Antum dan Ana sebagai orang-orang yang bersaudara di atas manhaj yang haq.

    • abisyakir Berkata:

      @ AbdurRahman.

      Sejujurnya, Antum tidak menjawab pertanyaan saya dengan tegas.

      Antum katakan: “Ketiga: Justru mereka dibiarkan datang agar bisa melihat dakwah Ahlus Sunnah dan mendapatkan bimbingan darinya“.

      Jawab saya: Dari ribuan orang Syi’ah yang datang ke Saudi setiap tahun, berapa banyak dari mereka yang kembali ke Ahlus Sunnah? Dan mengapa bangsa Iran tidak semakin Ahlus Sunnah, tetapi semakin menjadi-jadi ke-syiah-annya? Apakah itu yang disebut “hasil pengaruh bimbingan”?

      Antum katakan: “Keempat: Para Ulama tentu tidak pernah membiarkan mereka jika melakukan penyimpangan ataupun menyebarkan kesesatan mereka, jadi sangat berbeda dengan yang Antum lakukan di blog ini.”

      Jawab saya: Apakah para ulama itu mengikuti gerak-gerak orang Syiah selama di Tanah Suci? Apakah para ulama itu berhasil mencegah semua bentuk penyimpangan dan ajaran kesesatan Syi’ah? Kalau orang Syi’ah mendapat tentangan dalam segala macam kesesatan mereka selama di Saudi, pasti mereka tidak akan mau datang ke Tanah Suci lagi, karena kapok. Itu pasti!

      AMW.

  21. iben Berkata:

    shobar ya ustadz ..masya Allah, astghfirullah , “begitukah sikap seorang yang mengaku- ngaku bermanhaj salaf ?, sungguh jauh warna putih dengan warna hitam..,dengan percaya diri berteriak benarlah kamu !, Namun diri sendiri kacau balau tak karuan.
    Mengungkap nama diri saja tak berani , secara sadar akhlaq yahudi sedang kau konsumsi WAHAI NAMA YANG INDAH ABDURRAHMAN ? … dan ingatlah sabar dan sholat adalah penolong kaum muslimin !

  22. iyan Berkata:

    setuju dengan antm. ana dukung tetapi kenapa antm mau merobohkan blog ini. keep on dakwah, dakwah via net. please

    • abisyakir Berkata:

      @ Iyan:

      Hai, gimana kabar? Lame kite tak besue…
      Awak dimana pule sekarang ini?

      Pak Iyan gimana kabar? Moga baik-baik selalu. Gimana isteri dan anak-anak? Moga baik-baik selalu ya. Allahumma amin. Salam untuk keluarga Antum.

      Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

      AMW.

  23. dezel h. Berkata:

    assalaamu’alaikum.

    Pa, bukannya smua yang bapak paparkan itu sudah ada di dalam risalah pergerakan IKHWANUL MUSLIMIN (bukan PKS loh..). Mungkin smua orang yg keluar dari jamaah tarbiyah itu pada ga kuat dengan proses yang SERBA BERTAHAP tapi BERKESINAMBUNGAN.
    Pengen milih yang serba cepat & instan & ga mau pusing soal politik, negara, & masalah internasional, …ya pas pilihan bapak sekarang..

    • abisyakir Berkata:

      @ Dezel H.

      Wa’alaikumsalam warahmatullah.

      Oh begitu Dezel… Wah, kalau begitu, ini bukan “penemuan” baru deh. He he he…becanda Akhi. Mungkin itu karena dulu saya pernah terlibat aktiv dalam dakwah Jamaah Tarbiyah. Jangan-jangan, nanti saya disebut “alumni”. He he he…

      Ya Akhi, segala sesuatu itu ada timbangannya. Ya, Kitabullah dan Sunnah. Inilah manhaj yang kita yakini. Masak sih, orang yang sedemikian banyak keluar dari komunitas tertentu, mereka disebut “ga kuat” semua? Atau mereka dianggap “tidak tahan” dengan proses berkesinambungan?

      Mau bukti, cara yang disebut “manuver berkesinambungan”?

      Saat tahun 1999 PK kalah dalam Pemilu, DPP PK telah menerbitkan maklumat, bahwa PK hanya akan bermain di tingkat Parlemen, bukan masuk Pemerintahan. Belum juga semua DPD/DPW menerima maklumat itu, pihak DPP PK sudah mengingkari maklumat yang dibuatnya sendiri. Mereka membuat keputusan INSTAN, memperbolehkan Nurmahmudi Ismail masuk Kabinet, menjadi Menteri Kehutanan.

      Menurut saya, justru sikap seperti itu yang INSTAN, tidak tahan menderita dengan kebijakan yang telah diambilnya sendiri. Padahal itu dulu lho ya, sewaktu masih PK. Apalagi saat ini? Wah, wah, wah… au ah gelap.

      Elit-elit PKS itu justru tidak menunjukkan sikapnya yang KONSISTEN dengan manhaj perjuangan. Manhaj mereka adalah pragmatisme. Misalnya, sekarang ingin menjalin koalisi dengan Golkar, lalu beberapa bulan kemudian mengkritik Golkar sebagai “partai Orde Baru”. Ini cara berpikir INSTAN, bukan MANHAJI.

      Ala kulli haal, syukran atas masukannya.

      AMW.

  24. eyang k4kung Berkata:

    yang benar dia yang merasa belum benar…yang salah yang merasa dirinya paling benar,maaf aku ikutan nimbrung,kita saat sekarang bukankah baru tahap perlombaan?di uji siapa yang terbaik dan hasilnya baru akan kita ketahui saat pemberian catatan amal?aku yakin anda berdua paham banget,silakan pakai “taktik” sendiri sendiri yang paling diyakini,dan hormati kebebasan orang lain.perjalanan pengalaman ilmu masing masing orang tak ada yang sama dan outputnya bisa jadi tak sama.maaf sekali lagi..

  25. Afzal a.k.a metallurgistguy Berkata:

    Salam kenal pak Abu Syakir. Banyak artikel-artikel menarik yg saya dapat di sini :)

  26. rusydi Berkata:

    Walah2 diskusi yg panjang ustz. Saya memang pernah nemuin blog yg banyak komentarnya, kayak blog ustz.

    Tapi kok jadi panas gini ya. Kalo saya mah hapus aja komen yg gak edukatif, biar pembaca lain gak terkontaminasi. He3. Afwan. Just saran doang

  27. sangkot Berkata:

    Assalamua alaikum

    Sabarlah yang membentuk kebijaksanaan. Istoqomah dalam keyakinan tetapi lembutlah dalam penyampaian. Sabar, sabar, sabarlah

  28. atim sugiono Berkata:

    saudara joko waskito ini saya mau tanya penpapat anda tentang syiah.mengapa dunia islam terjadi dua kelompok antara syiah dan ahlul sunnah waljamaah.apakah mereka bersebrangan.dan bagaiman ini sejarahnya bisa terjadi.yang mereka selisihkan itu apa sebenarnya.kalau dilihat keduanya juga muslim.keduanya merasa pihaknya yang paling benar.mohon penjelasannya

  29. abisyakir Berkata:

    @ Abdurrahman.

    Hei, kamu jawab dulu. Mengapa e-mail kamu ditulis cuma abu…@yahoo.com? Apa ada alamat email seperti itu.

    Kamu meminta saya bersikap bijak. Sementara kamu sendiri sudah bersikap curang, dengan memakai nama samaran dan alamat e-mail seperti itu. Nah, yang seperti ini yang disebut “mental sampah”. Dan terbukti, kamu tidak mau menjawab pertanyaan saya.

    Kamu berkali-kali menyebut kata “bijak”. Padahal tujuanmu ingin memprovokasi saya biar emosi, lalu emosi itu kamu syiar-syiarkan seluas-luasnya, agar orang tahu kalau saya “tidak bijak”.

Tinggalkan Balasan