Kecepatan 200 km/…

Oktober 5, 2008

Ada banyak hal yang lucu dengan “acara” kebut-kebutan motor di jalan.

Secara teori, saya tidak suka dengan kebut-kebutan, bahkan merasa takut ngebut. Alasannya sederhana, memacu motor dengan kecepatan 40 km/jam, hal itu sudah cukup menjadi sebab kecelakaan fatal. Kalau seseorang dengan kecepatan itu membentur tembok, pohon, truk, batu besar, dan lainnya, dia bisa meninggal. Minimal bisa mengalami luka berat. Padahal itu baru 40 km/jam. Bagaimana kalau 80 km/jam, 100 km/jam, apalagi sampai 120 km/jam?

Saya mengira, orang-orang yang suka ngebut itu telah menunjukkan rahasia pribadinya. Mereka orang gelisah, orang stress, bahkan orang frustasi. Logikanya, kalau mereka normal, pasti akan menyayangi hidupnya sendiri. Sedangkan ngebut itu bisa dianggap sebagai = menantang maut! Terus terang, saya tidak simpati dengan para pengebut. Mereka lebih kelihatan sebagai manusia gelisah!

Anak-anak kami sangat sensitif kalau melihat orang-orang ngebut, apalagi dengan memakai kenalpot sangat melengking. Mereka bisa dianggap brutal, tidak berpikir sehat, arogan, sampai ada ungkapan, “Mereka tidak memiliki telinga.” Sampai kami sering berseloroh, ketika melihat anak-anak muda yang ngebut dengan knalpot melengking, “Oh, dia ketinggalan telinganya di rumah.” Kita saja yang mendengar sangat pekak, apalagi dia sepanjang jalan ditemani suara memekakkan itu.

Pernah, saya dibonceng seorang teman di Yogya. Dia membonceng saya melaju di jalan Ringroad Yogyakarta yang panjang melingkar itu. Dia sejak awal mengingatkan supaya saya memakai jaket, jangan memakai baju biasa. Selama di jalan, wah kencang sekali laju motor teman ini. Mungkin kecepatan rata-ratanya 80 km/jam. Kalau melihat kehandalan dan keberaniannya dalam mengebut, setidaknya dia dua tingkat di bawah Valentino Rossi, jagoan MotoGP itu. (He he he…sok tahu). Pokoknya dia sangat kencang, sampai mata melihat ke depan saja berat oleh tiupan angin. Trus terang, kalau nanti dibonceng seperti itu, saya akan memilih turun.

Saya sering mengantar anak-anak berangkat sekolah. Kadang harus terlambat-terlambat. Saat seperti itu mereka sering mengeluh, “Kenapa sih lambat? Agak cepat dikit dong!” Tapi saya punya jawaban yang bagus atas keluhan semacam itu. Saya sering katakan, “Sekarang kita memilih yang mana, terlambat 10 atau 15 menit, atau kita masuk rumah sakit selama sebulan?” Kalau ditanya balik begitu, biasanya mereka akan diam, dan memilih jalan normal, asal selamat.

Masih di Yogya, dengan teman lain lagi. Sama juga masih di seputar Ringroad. Waktu itu saya sering dibonceng seorang ikhwan. Sama, ini jagoan ngebut juga. Cepat sekali laju motornya. Kalau dengan ikhwan di atas, hanya sekali itu kencang sekali, tetapi dengan ikhwan ini, sering beliau ngebut. Sampai pernah dia ditegur ikhwan lain karena tidak hati-hati naik motor. Saya pernah mengingatkan dia sambil menyindir, “Wah, ini pembalap Ahlus Sunnah!” Dia hanya tertawa mendengar sindiran seperti itu. Jujur lho, dalam kitab-kitab ulama tidak dibahas tentang “keutamaan ngebut” di jalan.

Lho, mana humornya? Kok masih garing…

(Ya, sabar napa. Sabar dikit, ntar juga keluar. Kalau “energi sudah maksimal”, tetapi belum terasa humornya. Wah, mungkin aku nih belum bakat gabung sama Abdel dan Temon. He he he…).

Di Bandung saya pernah beberapa kali menemukan sticker “pesan moral”, agar para pengemudi motor/mobil jangan suka ngebut. Kira-kira tulisan dalam sticker itu begini: “Kalau memang tidak lagi kebelet mau ke WC, mengapa harus ngebut?” Saya kira bagus nih sticker dimasyarakatkan. Bisa juga ditambahkan, misal dengan ungkapan: Ngebut di jalan ? Maklum aja, lagi kebelet! Ya begitulah…

Dan ada sindiran halus yang sungguh santun tapi mengena. Di beberapa mobil terpasang sticker agak besar, tulisannya menarik. Kira-kira begini: Speed 200 km/…

Kalau orang keranjingan ngebut, titik-titik itu akan diisi dengan kata hour (jam). Tetapi tidak, disana ditulis week (minggu). Jadi kecepatan 200 km per minggu. Dengan kecepatan begini, berarti kendaraan itu memang lelet amat, malahan mungkin terlalu sering berhenti. Ya, itu untuk nyindir para ngebuter mania, yang kurang sayang sama dirinya sendiri itu.

Tapi ngomong-ngomong, apa saya pernah ngebut? Pernah sih, sekali sekali saja. Kecepatan maksimal sekitar 80 km/jam. Itu pun di jalan layang yang memang tidak boleh pelan, kecepatan standar 60 km/jam. Berarti, pernah ngebut juga kan? Iya sih, pernah memang, sekedar untuk merasakan gimana rasanya sensasi para pengebut itu. Maklum, untuk “bahan dakwah”. (He he he…cari pembenaran ya!).

Ngoeeeeennng….ngoeeennng…..huuuuuuugggg……. gubraks, crash, klontang-klontang, seeer, hiu-hiu-hiu, dem…. glethak.

Ambulan pun datang, sirine memekakkan telinga. Esok hari berita di koran, “Telah meninggal dunia dengan tidak tenang, seorang pembalap amatir, yang sedang kebelet ke WC…”

Jangan ngebut ya…