Seperti banyak diberitakan di media, terutama melalui media-media TV, Anis Matta baru-baru ini melontarkan ancaman. Katanya, PKS akan mundur dari koalisi dengan Partai Demokrat (SBY) jika partai ini menerima kembali Golkar (Jusuf Kalla) sebagai mitra koalisinya. Pandangan sama kerasnya disampaikan Fahri Hamzah, dan pandangan yang “lumayan cerdas” disampaikan oleh Mahfuzh Shiddiq.
Inti pandangan dari politisi-politisi PKS ini antara lain:
[1]. Golkar sudah declare akan mencalonkan presiden sendiri, dengan JK sebagai capresnya. Mengapa tiba-tiba Golkar banting setir mau koalisi lagi dengan Demokrat?
[2]. Jika Golkar masuk lagi menjadi mitra koalisi Demokrat (SBY) maka pijakannya adalah PRAGMATISME. Golkar mau berkoalisi karena suaranya lebih kecil dari Demokrat. Kepemimpinan berdasarkan pragmatisme seperti ini tidak akan kuat.
[3]. Belajar dari pengalaman Kabinet koalisi 2004-2009, ada dualisme kepemimpinan antara SBY dan JK. Hal itu menyebabkan banyak ketimpangan koordinasi. PKS tidak mau menyaksikan kondisi seperti itu terulang lagi.
[4]. Konsep kepemimpinan yang sedang diperjuangkan adalah memperkuat sistem Presidensial. Oleh karena itu dibutuhkan satu partai yang suaranya paling dominan, yaitu Demokrat. Kalau Golkar ikut lagi dengan selisih suara yang tidak terpaut jauh (antara 5 atau 6 % suara), konsep Presidensial yang kuat itu sulit akan terwujud.
PANDANGAN DEMOKRAT
Di mata Demokrat, berkoalisi dengan Golkar adalah pilihan satu-satunya yang sulit ditolak. Biarpun sebelumnya Golkar bersikap sok gagah dengan mengecam pernyataan Ahmad Mubarak dan merencanakan konsep koalisi “golden three angle” dengan PDIP dan PPP. Sesakit apapun hati Demokrat, mereka saat ini sangat membutuhkan Golkar.
Mengapa demikian?
Demokrat termakan oleh pandangan banyak pengamat politik. Kata pengamat politik, kalau Demokrat hanya berkoalisi dengan PKS, PKB, PAN, dan PPP, maka seolah dia dikelilingi oleh partai Islam (atau partai basis massa Islam). Kondisi itu dipandang tidak menguntungkan Demokrat dalam Pilpres nanti dan tidak mengenakkan juga dalam masa koalisi 2009-2014. Justru ketakutan terakhir itu yang menjadi alasan utamanya. “Kalau selama 5 tahun kami dikelilingi partai-partai Islam. Oh, tak terbayangkan. Apa kata dunia?” begitu logika politisi Demokrat.
Sementara kalau mau koalisi dengan PDIP, Gerindra, dan Hanura juga sangat tidak mungkin. PDIP tahu sendiri betapa kerasnya konfrontasi politik mereka kepada Demokrat (SBY). Sementara Gerindra dan Hanura, juga tidak kalah gemasnya dalam mengusung ide PERUBAHAN. Maka pilihannya hanya satu: Gandeng Golkar! “Biarin deh, hati sempat remuk redam, asal tetap bersatu dengan ‘yayang’,” logika politisi Demokrat.
Jadi, kalau PKS melontarkan “talak tiga” kepada Golkar, sedangkan yang berhak menentukan “talak” itu sebenarnya Demokrat. Hal ini justru sangat aneh. Demokrat sendiri sudah gemes ingin “rujuk” dengan Golkar, kok temannya Demokrat “sensi” ke Golkar.
REALITAS POLITIK
Dari sisi realitas politik adalah biasa terjadi perubahan haluan atau manuver politik. Sekarang kawan, besok bisa jadi lawan; kemarin lawan, sekarang bisa menjadi kawan. Hal ini sudah menjadi hal biasa dalam politik. Meskipun di mata masyarakat moralis, hal seperti itu tampak sangat tidak etis. PDIP pun bukan mustahil suatu saat nanti akan bermesraan dengan Demokrat, jika situasinya memungkinkan. Bisa saja kan.
Sudah sangat terkenal di mata para politisi sebuah ungkapan: “Dalam politik tidak ada lawan abadi, juga tidak ada kawan abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi.”
Sebagai contoh, elit PKS sangat menentang masuknya Golkar dalam koalisi dengan SBY pasca Pemilu April 2009. Padahal dua bulan lalu, PKS sangat bersemangat ingin gandengan dengan Golkar. Masyarakat seindonesia tahu, betapa ngeyelnya elit-elit PKS mendesak supaya Golkar cepat mengumumkan capresnya. Alasan mereka, kalau Golkar sudah “nyapres”, mereka akan melontarkan gagasan pasangan tokoh Golkar dan Hidayat Nur Wahid. Ya, semua masyarakat sudah tahu betapa indahnya pantun Tifatul Sembiring saat menyambut JK di Mampang.
KALKULASI POLITIK
Namanya juga manuver politik, pasti tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi politik. Partai politik manapun bebas melakukan kalkulasi politik, demi kebaikan partainya. Seperti Golkar, dia mau nyungsep, mau jumpalitan, mau salto, mau berguling-guling, itu semua terserah mereka. Kalau menurut hemat Golkar itu baik, ya orang lain tidak bisa mencegah. Soal resiko dan lain-lain, itu tentu sudah mereka perhitungkan.
Sekarang ini, Golkar meraih suara 14 atau 15 % dalam Pemilu April 2009. Nah, meskipun hasil ini turun dari Pemilu 2004 lalu, tapi ia tergolong besar untuk kategori parpol di Indonesia. Artinya, Golkar mau ini dan itu, dengan perhitungan modal 14 atau 15 % itu. Jadi mereka ada modal, wajar saja mau bersikap bagaimanapun terhadap modal yang dimilikinya.
Kalau dikaitkan dengan PKS, modal Golkar bisa dua kali lipatnya. Maka partai ini sebenarnya lebih leluasa memaksakan agendanya, daripada partai lain yang memperoleh suara di bawah 10 %. Dan secara politik semua orang memahami hal itu.
SOAL PRAGMATISME
Ya, tak usah bertele-tele: semua partai politik itu cenderung pragmatis, termasuk PKS di dalamnya. PKS tadinya mau menjajaki koalisi dengan PDIP dan Golkar, pasti itu karena pragmatisme. Lalu mereka berbalik arah merapat ke Demokrat, sampai muncul spanduk-spanduk, “SBY Idolaku, PKS Pilihanku”. Semua ini adalah pragmatisme juga, dan dalam politik hal itu dimaklumi.
Bahkan, pernyataan politik “ancaman akan mundur dari koalisi”, sebenarnya hal itu pragamatis juga. Ada nilai-nilai keuntungan tertentu yang diharapkan di baliknya.
KABINET PRESIDENSIAL
Kalau misalnya bangsa Indonesia komitmen dengan demokrasi (misalnya seperti ini), yang tepat itu bukan menguatkan sistem presidensial, sebab ia beresiko menghasilkan pemimpin-pemimpin otoriter seperti era Orde Baru. Kalau komitmen demokrasi, harusnya dipilih sistem Parlementer. Itu lebih mendekati tujuan-tujuan ideal praktik demokrasi. Dalam konsep itu sebaiknya dipilih seorang Perdana Menteri (PM), lalu Presiden sebagai simbol kenegaraan.
Kalau komitmen dengan suara rakyat, ya Parlementer itu pilihannya. Kecuali, kalau yang dituju adalah terbentuknya pemimpin otoriter, atau semi otoriter, ya Presidensial pilihannya.
Itu kalau diukur dari demokrasi lho ya. Sementara dari sisi pertimbangan mashlahat dan madharat, saya belum memahami mana yang lebih baik, apakah Presidensial atau Parlementer. Sebagai catatan, di Indonesia sejak tahun 1955 lalu pernah berlaku sistem Parlementer dengan mengangkat PM sebagai kepala kabinet.
Demikian sekilas catatan tentang beberapa pemikiran politik elit-elit politik. Ini sekedar catatan saja. Sengaja disebut judul “Logika Politik Anis Matta” sekedar untuk menarik perhatian. Walahamdulillah Rabbil ‘alamiin.
AMW.
Ditulis oleh abisyakir
Ditulis oleh abisyakir