[16]. Syaikh Hasan Al Bana dan Kitab Al Ma’tsurat

Februari 28, 2013

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.

Tulisan ini disusun bukan untuk maksud politis, bukan untuk membentuk opini dan sensasi. Ia disusun dalam rangka menghormati ilmu dan ulama. Siapa yang diberi karunia ilmu, memiliki sumbangsih dalam perjuangan Islam, istiqamah dalam hidupnya; layak mendapatkan pujian universal dari kaum Muslimin, serta doa-doa kebaikan baginya.

Seperti dimaklumi, Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah, berasal dari Mahmudiyah, Bahirah Mesir. Beliau dilahirkan pada Oktober 1906 M. Ayahnya bernama Ahmad Abdurrahman Al Bana, penyusun kitab hadits,  Al Fathur Rabbany li Tartib Musnad Al Imam Ahmad. Ayah beliau ahli dalam memperbaiki jam sehingga sering dijuluki As Sa’ati (tukang jam).  Bagi kalangan tertentu yang alergi dengan Ikhwanul Muslimin; biasanya akan menyebut Syaikh Ahmad Al Bana dengan julukannya, As Sa’ati.

Kitab Populer Karya Syaikh Al Bana

Kitab Populer Karya Syaikh Al Bana

Selama hidupnya, Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah memiliki beberapa karya ilmiah. Karya-karya itu rata-rata bersifat praktis dan mencerminkan manhaj dakwah Jamaah Ikhwanul Muslimin. Tetapi ada juga karya yang berupa memoar.

Selain itu, ada satu karya yang sangat menarik, yaitu Al Ma’tsurat.  Kitab ini berbentuk buku saku dan isinya sangat praktis. Ia sangat populer sebagai buah karya Syaikh Al Bana; dibaca dan diamalkan banyak kalangan, baik pendukung Ikhwanul Muslimin maupun orang-orang selain mereka. Di pesantren Daarut Tauhiid Bandung, Aa Gym pernah membiasakan santri-santrinya, setiap pagi dan sore, melafadzkan dzikir-dzikir dalam kitab tersebut.

Kitab Al Ma’tsurat karya Syaikh Al Bana ini memiliki beberapa keunikan. Pertama, kitab itu sangat praktis dan ringkas, berisi bacaan-bacaan dzikir yang perlu dibaca setiap pagi dan petang. Kedua, rata-rata dzikir yang disebutkan disana bersumber dari dalil-dalil hadits Nabi. Ketiga, dari sisi nama sangat menarik, Al Ma’tsurat. Kalau diartikan kurang lebih: Bacaan-bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallah ‘Alaihi wa Sallam. Istilah Al Ma’tsurat itu kira-kira senada dengan istilah-istilah seperti Al Musnad, Ar Riwayat, Al Hikayat, dan lain-lain.

Kitab Al Ma’tsurat ini pertama kali beredar di Indonesia dalam bentuk buku saku, versi cetakan Malaysia. Diterbitkan oleh Pustaka Tadabbur, Dewan Pustaka Fajar, Shah Alam, Selangor. Cetakan pertama, Mei 1983. Ia dicetak dalam versi Al Wazhifah Al Kubra (format lengkap) dan Al Wazhifah As Sughra (format praktis). Penerbit Mizan juga menerbitkan Al Ma’tsurat ini dalam format cetakan lebih besar (tetapi untuk ukuran buku standar, ia tetap terlihat kecil dan tipis).

Kita perlu bersyukur kepada Allah Ta’ala, lalu memuji penulisnya, dengan tersebarnya kitab Al Ma’tsurat itu. Sebab, di balik tersebarnya kitab praktis ini, ia bermanfaat untuk menghidupkan salah satu Sunnah Nabi yang sangat penting, yaitu: Dzikir pagi dan petang. Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah bisa dikatakan sebagai ulama dakwah zaman modern yang berjasa menghidupkan kembali Sunnah ini. Jauh sebelum Syaikh Al Bana menyusun Al Ma’tsurat, Imam Nawawi telah menulis kitab Riyadhus Shalihin dan Al Adzkaar. Dalam kedua kitab ini juga disebutkan dzikir-dzikir yang Sunnah dibaca pada saat pagi dan petang. Namun dalam format yang praktis dan mudah diamalkan, kitab Al Ma’tsurat tetap memiliki kelebihan.

Di kemudian hari bermunculan risalah-risalah dzikir serupa. Seperti risalah dzikir pagi dan petang yang ditulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Kitab ini disyarah oleh salah seorang penuntut ilmu di Saudi. Bentuknya sangat praktis seperti Al Ma’tsurat. Juga ada kitab doa populer, dalam format buku saku, Hisnul Muslim, karya Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani. Di dalamnya juga ada dzikir pagi dan petang.

Di zaman Imam Malik rahimahullah, terdapat banyak versi kitab Al Muwattha’. Tetapi kitab yang paling populer ialah Al Muwattha’ karya Imam Malik bin Anas, yang dikenal sebagai Imam Daarul Hijrah (Imam Kota Madinah). Pendapat-pendapat fikih beliau memiliki banyak pengikut, yang kemudian menjadi madzhab tersendiri, Madzhab Malikiyah. Mengapa kitab Al Muwattha’ karya Imam Malik lebih populer? Sebagian ulama menjelaskan, rahasianya ialah keikhlasan. Keikhlasan Imam Malik dalam ilmu, ‘amal, dan kehidupan, membuat karyanya lebih berkah dan diterima umat manusia.

Situasinya tidak jauh berbeda. Di antara kitab-kitab dzikir, Al Ma’tsurat hanyalah satu di antaranya. Tetapi pengaruh kitab ini sangat meluas, di kalangan Al Ikhwan maupun di luarnya. Mungkin, semua itu kembali kepada keikhlasan penyusunnya, perjuangannya, serta sumbangsihnya bagi Islam dan kaum Muslimin. Mujahadah beliau menjadi wasilah diterimanya kitab tersebut di hati-hati manusia.

Bukan berarti kitab Al Ma’tsurat bebas dari kritik. Tetap ada saja kritik yang disampaikan, sebagai buah nasehat dan perbaikan. Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, bahwa Allah tidak rela menjadikan kitab lain lebih sempurna dari Kitab-Nya (maksudnya Al Qur`an). Jadi jika kitab-kitab karya ulama (manusia) ada kurang dan cacatnya, hal itu lumrah belaka.    Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 131 pengikut lainnya.