Isu Terorisme dan Para “Selebritis”

Maret 12, 2010

“Di setiap musim selalu ada ahlinya.”

Itulah ungkapan yang paling tepat untuk diucapkan. Di Indonesia ini, pada waktu-waktu tertentu ada MUSIM TERORISME. Ini nyata dan benar-benar faktual, sebab hampir setiap tahun sejak 2002, selalu ada MUSIM TERORISME. Saat musim ini tiba, seluruh pikiran masyarakat seperti “dicuci otak” untuk mengikuti berita, opini, peredabatan seputar terorisme. Dan ketika musim ini tiba, muncul pula “pendekar-pendekar” yang merasa paling ahli bicara tentang terorisme, jihad fi sabilillah, ajaran Islam, hak-hak non Muslim, dan sebagainya. Para “selebritis terorisme” ini muncul dengan segala kepakaran, kegagahan, dan penampilannya di layar-layar TV.

Celakanya, yang selalu menjadi “selebritis” itu orangnya ya itu itu saja. Dari sejak dulu sampai sekarang, tidak akan keluar dari nama-nama seperti: Al Chaidar, Umar Abduh, Wawan Prayitno, Abdurrahman Assegaf (namanya “Assegaf” tetapi tidak tampak seperti keturunan Arab), Nur Huda, dan lain-lain. Tentu raja dari segala “selebritis terorisme” ini adalah: NASIR ABBAS!

Coba kita bertanya kepada kaum Muslimin di Indonesia dengan pertanyaan berikut: “Orang-orang itu sebenarnya selama ini berpendapat mewakili kepentingan siapa? Apakah mereka wakil dari MUI, atau wakil dari ormas Islam, wakil dari MMI, wakil dari JI, atau wakil siapa?” Sama sekali, pendapat, ucapan, opini orang-orang itu tidak mewakili pandangan kaum Muslimin di negeri ini. Jika demikian, mengapa mereka selalu menjadi “selebritis” ketika muncul musim terorisme? Apa kapasitas mereka bicara tentang terorisme? Kalau Ansyad Mbay bisa dimaklumi, sebab dia ketua Desk Anti Teror. Atau Hendropriyono, sebagai mantan Ketua BIN. Sedangkan orang-orang di atas, sangat tidak jelas mewakili Ummat Islam yang mana?

Contoh menarik, pandangan Abdurrahman Assegaf (namanya “Assegaf” tetapi wajah seperti orang Muslim lokal). Dia mengklaim bahwa para pelaku terorisme itu memiliki ideologi ekstrim, bahkan disebut menganut aliran sesat. Kemudian dia menegaskan bahwa, “Islam itu rahmatan lil ‘alamiin.”

Persoalannya, banyak orang mengklaim Islam sebagai agama “Rahmatan Lil ‘Alamiin”, lalu menafsirkannya sebagai agama yang hanya berisi etika sopan satun, sikap ramah, menyayangi sesama, toleransi terhadap perbedaan, tidak memaksakan kehendak, patuh pada kebijakan politik, pasrah dengan sistem ekonomi yang berlaku, dan sebagainya. Orang-orang ini tidak mau mengembalikan tafsir Rahmatan Lil ‘Alamiin itu kepada sikap beragama Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Padahal tentu yang paling mengerti tafsiran dan aplikasi Rahmatan Lil ‘Alamiin itu adalah Nabi dan para Shahabat. Sedangkan, di jaman Nabi beliau berjihad menegakkan sistem Islam secara konsisten, berkesinambungan, dan komprehensif. Ya, buktinya adalah negara Islam Madinah Al Munawwarah itu sendiri. Itulah negara Islam pertama yang didirikan kaum Muslimin yang terus dilestarikan selama ribuan tahun.

Jadi konsep Rahmatan Lil ‘Alamiin versi Nabi Saw sangat berbeda dengan konsep Rahmatan Lil ‘Alamiin yang dicetuskan oleh Abdurrahman Assegaf Cs. Di mata Abdurrahman ini, yang namanya ajaran Islam hanya berisi akhlak baik kepada orangtua, akhlak baik kepada guru, menyayangi teman, rajin belajar, rajin olah-raga, makan makanan bergizi, membuang sampah pada tempatnya, memakai helm di jalan raya, dan semacamnya. Ya, itulah tafsiran Rahmatan Lil ‘Alamiin yang mereka ingin paksakan agar diterima oleh Ummat Islam.

Berjihad Melawan Panser Yahudi dengan Batu.

FITNAH TERHADAP JIHAD

Terus terang ada rasa muak ketika mendengar opini-opini busuk yang dikembangkan oleh media-media massa. Dalam berita di Trans7 berkali-kali saya mendengar, mereka menyebut istilah “jaringan terorisme”, “sekolah teror dunia”, para teroris, dan sebagainya. Semua istilah itu ditujukan kepada amal-amal Jihad kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk di Afghanistan, Mindanao, Irak, dan sebagainya. Afghanistan disebut sebagai “sekolah teror dunia”. Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Bila tuduhan Trans7 itu salah, semoga orang-orang yang melontarkan tuduhan keji itu dikutuk oleh Allah, dirusak kehormatannya, dibangkrutkan bisnisnya, dipecah-belahkan keluarganya, disesatkan hidupnya, sampai mati binasa. Amin Allahumma amin].

Harus dipahami perkara ini…

Jihad dalam Islam itu ada dua, Jihad Ofensif dan Jihad Defensif. Jihad ofensif dilakukan oleh negara-negara Islam dalam rangka memukul mundur musuh-musuhnya, mengusir para agressor, serta menaklukkan negara-negara jahiliyyah. Syaratnya, harus memiliki negara Islam yang berdaulat dan dipimpin seorang imam. Adapun jihad defensif, bisa dilakukan Ummat Islam dimanapun dan kapanpun, dalam rangka membela diri, menolak agressi musuh, menolak penjajahan, menolak kezhaliman orang kafir, dsb. Jihad yang terjadi di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Chechnya, Mindanao, Bosnia, dll. semua itu adalah jihad defensif untuk mempertahankan diri.

Kedua jenis Jihad di atas adalah Syar’i, berdasarkan dalil-dalil Syariat Islam. Tidak satu pun ulama Ahlus Sunnah menolak konsep jihad seperti itu, sejak dulu sampai saat ini. Nabi Saw dalam peperangan Badar, Uhud, dan Ahzab, bersifat Jihad Defensif. Tetapi dalam perang Hunain, perang Khaibar, perang Tabuk, Fathu Makkah, dan lainnya bersifat Jihad Ofensif.  Kedua jenis jihad tersebut dilakukan oleh Nabi dan para Shahabat.

AKSI BOM MANUSIA

Adapun soal aksi-aksi pengeboman target sipil di daerah aman seperti Indonesia, dengan sasaran warga sipil, dengan tidak membedakan agama mereka, seperti dalam kasus Bom Bali I, Bom Bali II, bom JW Marriot, bom Kuningan, bom JW Marriot-Ritz Carlton, dengan menggunakan bom manusia atau bom mobil; semua ini adalah perkara baru dalam konteks Jihad Fi Sabilillah. Baru populer sejak tahun 80-an di dunia Islam. Khususnya sejak Usamah bin Ladin menyerukan jihad global melawan Amerika tahun 1996.

Jihad sebelum tahun 80-an tidak pernah menggunakan bom manusia atau bom mobil. Teknik bom manusia dimulai oleh seorang wanita Tamil, ketika meledakkan dirinya untuk membunuh PM India, Rajiv Ghandi. Teknik bom mobil banyak digunakan oleh Mafia, kelompok Abu Nidal dan Hizbullah di Libanon, IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, dan sebagainya. Kedua cara ini benar-benar bukan berasal dari khazanah perjuangan para Mujahidin Islam. Jihad Fi Sabilillah yang dilakukan para Mujahidin Islam sejak lama menggunakan cara-cara kontak militer biasa.

Hanya ketika Hamas memulai menerapkan teknik bom manusia, yang kemudian disebut sebagai bom istisyhad, dan juga menerapkan teknik bom mobil, ia segera diadopsi oleh gerakan-gerakan Jihad kaum Muslimin, khususnya oleh kelompok Al Qa’idah dan Usamah bin Ladin. Padahal dalam perang di Saudi, jihad Syaikh Hasan Al Banna menyerang Israel, jihad Panglima Soedirman di Indonesia, jihad Syaikh Umar Mukhtar As Sanusi di Libya, dan lain-lain semuanya tidak memakai bom manusia atau bom mobil.

Entahlah, mengapa kemudian teknik “bom manusia” dan “bom mobil”, dengan target sasaran-sasaran sipil tak bersenjata menjadi TREND di kalangan gerakan-gerakan perlawanan Islam? Ini sangat mengherankan dan aneh. Satu sisi, “bom manusia” dan “bom mobil” itu metode yang dimulai oleh orang kafir; di sisi lain, para pendahulu Mujahidin Islam di masa sebelumnya tidak mengenal cara-cara seperti itu.

Dan celakanya, cara “bom manusia” yang diadopsi dari cara perjuangan gerakan Macan Tamil Srilangka itu, kemudian didalili dengan seabreg-abreg dalil. Intinya, dalam jihad, seorang Muslim boleh membinasakan dirinya, dalam rangka menimpakan kerugian besar kepada musuh. Tetapi membinasakan diri dengan cara menempelkan bom dalam tubuh seorang pejuang Islam, adalah sangat berbeda. Tubuh itu bisa hancur berkeping-keping, seperti daging tanpa arti sama sekali. Padahal Allah Ta’ala sudah mengatakan, “Wa laqad karamna Bani Adama” (dan sungguh telah Kami muliakan anak-keturunan Adam. Al Isra': 70).

Dalam hati saya meyakini, cara-cara Jihad yang mengadopsi cara orang Tamil Srilangka inilah yang telah membuat ruwet amal-amal Jihad Fi Sabilillah di dunia Islam. Para mujahidin itu dilarang menyerang target sipil, dilarang menyerang rumah ibadah, dilarang menyerang ternak-ternak, menyerang lahan pertanian, bahkan mengejar musuh yang melarikan diri saja tidak perlu. Jihad Fi Sabilillah aslinya sangat luhur, sangat mulia. Tetapi setelah muncul aneka rupa BID’AH yang mencontoh cara wanita Tamil saat menyerang Rajiv Ghandi itu, kehidupan Jihad di Dunia Islam mulai morat-marit. Makanya Allah Ta’ala sudah berpesan, “Wa jahidu fillahi haqqa jihadih” (dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang benar).

Mudah-mudahan ke depan tidak akan ada lagi aksi bom manusia atau bom mobil yang dikendarai manusia itu. Ini adalah cara-cara salah dalam jihad. Memang benar bahwa kita boleh meniru teknik berperang orang kafir, seperti Nabi Saw meniru teknik perang parit bangsa Persia. Tetapi lihatlah bedanya disana dengan teknik “bom manusia” yang meniru cara wanita Tamil itu! Dalam perang parit di masa Nabi, tidak aksi yang merendahkan martabat dan nilai kehidupan seorang Muslim. Tidak ada sama sekali. Sedangkan “bom manusia” itu justru jelas-jelas telah menghancurkan tubuh seorang Muslim, seperti daging cincang yang biasa dipakai membuat baso itu.

Kalau seorang Muslim dalam jihad kejatuhan bom milik musuh, sehingga tubuhnya hancur lebur akibat ledakan bom itu, tidak masalah. Itu resiko perjuangan. Toh, bukan dia penyebabnya. Tetapi kalau menempelkan rompi bom dalam tubuh lalu meledakkan diri sendiri, atau diledakkan dari jauh, ini benar-benar cara SESAT yang harus ditinggalkan. Kaum Muslimin jangan lagi memakai cara-cara seperti itu sebab sangat merendahkan martabat seorang Muslim. Allah telah memuliakan kita dengan firman-Nya, “Wa laa tahinu wa laa tahzanu, wa antumul a’launa in kuntum mu’minin” (janganlah merasa hina dan merasa sedih, kalian adalah yang tertinggi derajatnya, kalau kalian benar-benar beriman). Apa artinya ayat ini diturunkan dari langit, ketika ada serombongan para Mujahidin Islam sangat bernafsu menghinakan dirinya sendiri dengan memakai rompi berisi bom, lalu secara pengecut membidik target-target sasaran sipil yang sangat lemah? Inikah moral Islami?

Saya menghimbau kepada para alim-ulama, para ustadz, para guru, dan sebagainya agar menghapuskan konsep “bom manusia” atau “bom mobil yang dikendarai manusia” dari kamus Jihad Fi Sabilillah. Cara-cara keji, menghinakan diri, dan pengecut itu tidak layak dimasukkan dalam kamus Jihad Fi Sabilillah.

KEMATIAN SAUDARA DUL MATIN

Ketika mendengar terbunuhnya Saudara Dul Matin, tentu sebagai sesama Muslim kita mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.” Kita turut berduka atas wafatnya seorang pemuda Muslim, mendoakan kebaikan baginya, dan memintakan ampunan atas dosa-dosanya. Begitu pula atas terbunuhnya rekan-rekan Dul Matin. Allahummaghfirlahum warhamhum wa ‘afihim wa’fuanhum. Amin Allahumma amin.

Dalam hal ini ada dua kondisi yang harus dilihat:

[1] Keterlibatan Dul Matin dalam aksi-aksi pengeboman sasaran sipil di Indonesia, dengan memakai bom manusia atau bom mobil yang dikendarai manusia. Jelas aksi seperti ini salah, dan tidak bisa diklaim sebagai Jihad Fi Sabilillah. Kesalahan demikian harus dipahami, dihentikan, dan tidak diulangi lagi oleh pemuda-pemuda Islam lainnya. Ingat, Allah memerintahkan kita berjihad dengan cara yang benar, seperti para pendahulu kita para Mujahidin yang lurus, bukan dengan meniru teknik “bunuh diri” wanita Tamil ketika membunuh Rajiv Ghandi. (Saya menantang semua pembela paham “bom istisyhad” untuk menghadirkan bukti-bukti, coba Anda sebutkan siapa orang pertama dari kalangan kaum Muslimin yang memulai teknik bom manusia itu? Pasti tidak ada, sebab bom seperti itu memang dirintis oleh gerakan Tamil Elam di Srilangka).

[2] Keterlibatan Al Akh Dul Matin dan kawan-kawan dalam Jihad Defensif membela kaum Muslimin yang tertindas di negeri-negeri Muslim, seperti di Afghanistan, Mindanao, Pattani, dan lainnya. Maka perbuatannya adalah benar, sah, dan dinilai sebagai Jihad Fi Sabilillah. Peranan Dul Matin di Mindanao dalam rangka membela kepentingan Ummat Islam disana menghadapi militer Filipina yang didukung Amerika Serikat, adalah bagian dari Jihad Defensif yang diakui sah dalam Syariat Islam. Pelaku Jihad Defensif adalah Mujahid, meninggalnya dalam membela kaum Muslimin, adalah Syahid.

Siapapun, pemerintah manapun, kepolisian manapun, tidak akan bisa menghapuskan hukum Jihad Fi Sabilillah ini, sebab ia adalah RISALAH yang TURUN DARI LANGIT. Jihad itu bukan rekayasa Usamah, bukan doktrinasi Mullah Umar, bukan milik Hamas, tetapi milik Islam, milik kaum Muslimin, dan diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Jihad yang lurus -sebelum tersusupi cara-cara dari luar Islam- adalah amal mulia, bukan terorisme.

CATATAN AKHIR

Kepolisian, Densus88, Amerika Serikat, Australia, dan siapapun, mereka sanggup menyerang target-target pelaku terorisme, seperti menyerang sasaran sipil dengan bom manusia, meledakkan bom mobil di tengah-tengah keramaian masyarakat umum (non kombatan). Tetapi mereka tak akan sanggup menghadapi Jihad Fi Sabilillah yang sebenarnya, yaitu Jihad yang sesuai kaidah dan etika Islami. Meskipun mereka hendak menyamakan Jihad dengan terorisme, maka Allah akan tetap menjernihkan agama-Nya dari kotoran-kotoran kesesatan.

Jihad tidak akan sanggup dikalahkan oleh siapapun, sebab ia adalah RISALAH yang turun dari langit. Jihad dalam rangka menyebarkan hidayah Islam dan Jihad dalam membela kaum Muslimin yang teraniaya, akan selalu hidup dan ada di muka bumi, sampai akhir sejarah Ummat Islam. Jihad yang Syar’i ini tidak akan mampu dikalahkan oleh siapapun, dengan cara apapun, sebab Allah-lah backing-nya. Sesuatu yang di-backing-i oleh Allah Ta’ala, tidak akan mampu dikalahkan oleh siapapun.

Dan kita harus mewaspadai adanya konspirasi dari orang-orang durjana untuk merusak ajaran Islam, merusak keimanan Ummat, serta mengacaukan opini dunia dengan aksi-aksi terorisme yang mereka lakukan sendiri, lalu diklaim sebagai perbuatan para Mujahidin Islam. Hal-hal demikian kerap terjadi, demi kepentingan rendah, dengan mengorbankan kemuliaan agama. Islam kerap dijadikan kendaraan oleh orang-orang tertentu untuk menodai Islam itu sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Keberadaan para “selebiritis terorisme” sungguh membuat mual orang-orang yang menyaksikannya. Mereka ini sok tahu dan merasa paling mengerti. Padahal analisis mereka saling berbenturan satu sama lain. Ya, maklumlah, di jaman modern, segala sesuatu bisa dibisniskan. Setiap musim ada ahlinya… Setiap datang musim isu terorisme, para “selebritis terorisme” segera bermunculan dengan segala opininya.

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menjadikan Jihad Fi Sabilillah sebagai pelindung ajaran Islam dan kehidupan kaum Muslimin. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 154 pengikut lainnya.