Mengapa Mereka Sadis Ke Pemuda Islam?

Mei 19, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sangat menarik membaca sebuah analisis dari seorang wartawan eramuslim.com. Beliau menulis artikel berikut ini: Makna Keamanan yang Terasingkan: Diskriminasi Antara Tragedi Sukoharjo dan Pengibaran Bendera Zionis.

Tulisan di atas disusun oleh Muhammad Pizaro. Analisisnya simple, praktis, tetapi “kena ke jantung”. Tulisan itu bagus, merupakan kombinasi fakta-fakta lapangan dan telaah Dustur Nabawi (hadits Nabi Saw). Kalau ada kekurangan, judul tulisannya kurang “gemana getoh”. He he he, becanda.

Mereka Telah Mematahkan Prinsip Keadilan. Sunnatullah Akan Berjalan, Ada Sanksi Berat Atas Setiap Kezhaliman.

Mohon pembaca berkenan membaca artikel di atas dulu. Baca baik-baik, resapi maknanya, hayati substansinya. Kalau sudah, silakan wajah Anda dipalingkan kesini. Hayo, sini dong! Kan Anda sudah masuk sini duluan. Jadi jangan keenakan disono. He he he, maaf ya eramuslim. Cuman becanda.

Oke, sudah kembali kesini kan… Woi, itu yang masih baca-baca disono. Tolong U noleh kesini lagi ya…

Sebuah pertanyaan yang selalu berulang, seperti repetitive history, sejarah yang selalu berulang; mengapa aparat kemanan, khususnya polisi sangat galak dan kejam kepada pemuda-pemuda Islam? Terbunuhnya Sigit dan Hendra di Solo itu bisa jadi contoh terbaru. Sementara kalau ke orang-orang non Muslim, mereka selalu SOPAN, TOLERAN, dan MENGAYOMI.

Katanya, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”; katanya “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”; katanya, “Persatuan Indonesia”; apalagi katanya, “Ketuhanan yang Maha Esa”? Tapi kok kelakuan jauh sekali yak dari Pancasila itu? Aneh kan.

Mengapa aparat selalu bersikap kejam HANYA kepada pemuda-pemuda Islam yang -katanya menurut versi polisi- terlibat terorisme? Kalau kepada Ziokindo, OPM, RMS, kaum Neolib, JIL, Ahmadiyyah, Misionaris Nasrani, dan lain-lain; mereka kalem-kalem saja.

Mengapa oh mengapa?

Alasannya itu ada dalam Al Qur’an, pada ayat berikut:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ

Artinya, “Sungguh kamu benar-benar akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman, (yaitu mereka adalah) kaum Yahudi dan orang-orang musyrikin.” (Al Maa’idah: 82).

Nah, intinya ada disini. Orang-orang yang berlaku kejam itu kalau bukan Yahudi, pasti musyrikin. (Orang-orang Nashrani yang tidak mengikuti ajaran Isa As yang lurus, juga ikut-ikutan kejam, seperti disebutkan dalam fakta-fakta sejarah).

Orang Yahudi telah menyetir kebijakan keamanan di negara kita. Atau jangan-jangan para perwira tinggi aparat itu memang berakidah Yahudi? Bisa jadi, identitasnya Muslim, tetapi hatinya sudah menjadi Yahudi. Minimal mereka adalah penganut paham-paham paganisme (kemusyrikan). Misalnya menganut ajaran Kejawen, menjalankan ritual mistik, atau mengikuti ajaran kaum kahin (tukang sihir).

Posisi para perwira itu yang sangat penting, sebab kalau hanya prajurit atau petugas keamanan di bawah, mereka biasanya “ikut kata komandan”. Orang-orang elit inilah yang telah membaktikan hidupnya untuk menjalankan missi keyahudian atau paganisme, secara konsisten. Kalau masih ada benih-benih iman di hati, mereka pasti akan punya rasa SANTUN.

Kekejaman oleh aparat keamanan, khususnya Densus 88, tidak serta-merta muncul. Ia bermula dari AKIDAH di hati yang jauh dari Tauhid, jauh dari As Sunnah, jauh dari Syariat Islam.

Dulu di tahun 80-an, Ummat Islam menjadi bulan-bulanan aparat TNI yang berlatar-belakang Nashrani, yaitu LB. Moerdani Cs. Ternyata kini, Ummat Islam menghadapi horor serupa. Hanya pelakunya, yang tampak di permukaan, ialah polisi-polisi Muslim. (Siapa tahu kalau petugas Densus itu dibuka maskernya, akan kelihatan latar-belakang agama mereka).

Jadi intinya, ini adalah cerminan dari konflik ideologis yang sangat lama, antara kekuatan Islam, dengan Yahudi, musyrikin, dan kaum Nashrani. Ini sebenarnya bagian dari konflik ideologis yang sangat dalam. Hanya tidak tampak di permukaan. Di sisi lain, kelihatan sekali Ummat Islam tidak siap menghadapi badai fitnah seperti ini.

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa lil Muslimin, fid dunya wal akhirah. Allahumma amin.

AM. Waskito.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 154 pengikut lainnya.