Belajar dari Kasus Thamrin City Tanah Abang

Juni 13, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Beberapa waktu lalu, situas voa-islam.com memuat beberapa artikel tentang persengketaan bisnis antara para pedagang Muslim di Thamrin City, Lantai 1 Waduk Melatik, Kebon Kacang, Tanah Abang; dengan pengelola pasar itu, PT. Mitra Khatulistiwa (PT. MK). Beritanya dapat dibaca di beberapa tulisan ini: 20 Pedagang Muslim Tanah Abang Dijahar Preman BayaranKH. Fikri Bareno: Jangan Sampai Memunculkan Kerusuhan SARA; Pedagang Muslim Dizhalimi Kaum Bermata Sipit.

Masalah seperti ini sangat penting dipahami kaum Muslimin, sebab ia bisa menuntun ke arah pemahaman tentang sebab-sebab kekalahan kaum Muslimin dalam pertaruang ekonomi-bisnis selama ini, di Indonesia. Apa yang dialami para pedagang Muslim di Thamrin City, Tanah Abang itu, bukan kenyataan baru. Ia terulang berkali-kali, bertahun-tahun, bahkan seperti menjadi “tradisi kekalahan” kita dalam bisnis.

Harta Adalah Amanah ALLAH Ta'ala. Jagalah Ia dengan Jiwa Ragamu.

Jika selama ini Anda bertanya: “Mengapa sih kaum Muslimin miskin? Mengapa sih aset ekonomi lebih banyak dikuasai oleh negara, etnis China, non Muslim, dan asing? Mengapa sih kita tak berdaya dalam mengembangkan pilar ekonomi? Mengapa Ummat Islam lebih sibuk rebutan zakat, infak, sedekah, daripada sibuk membangun kekuatan bisnis? Mengapa adanya bank-bank Syariah, seperti tidak mengubah keadaan sama sekali? Mengapa sejak merdeka tahun 1945 kaum Muslimin tidak memiliki aset ekonomi yang berarti?” Dan lain-lain pertanyaan serupa itu.

Nah, dengan melihat kasus BENTURAN BISNIS antara pedagang Muslim Tanah Abang dan PT. Mitra Khatulistiwa (PT. MK) di atas; insya Allah kita akan bisa memahami pertanyaan-pertanyaan di atas. Tentunya, setelah kita menelaahnya secara dalam, obyektif, dan berdasarkan fakta-fakta.

Dalam kasus di atas, banyak fakta-fakta yang sifatnya menjadi pengulangan atas apa yang selama ini terus menimpa kaum Muslimin di bidang bisnis. Hal itu bisa dianggap sebagai realitas DESTRUKSI bisnis kaum Muslimin. Karena salah satu tujuan Syariat Islam ialah “Hifzhul Maal” (menjaga harta), maka kasus ini layak disimak dengan sangat jeli.

Coba perhatikan uraikan berikut ini…

[1]. Di mata kaum Muslimin Indonesia, harta dianggap sebagai fitnah kehidupan, sehingga harus dijauhi, dieliminasi, diremehkan sedemikian rupa. Padahal harta itu seperti pisau, siapa yang memegangnya sangat berkesempatan memanfaatkan pisau itu untuk kepentingan-kepentingannya. Kalau harta di tangan orang Mukmin, akan dimanfaatkan untuk kebajikan; kalau harta di tangan orang kafir, sangat mungkin dimanfaatkan untuk hal-hal yang merusak kehidupan Islam. Maka itu tak heran jika Nabi Saw mengusir Yahudi dari Madinah, sebab Yahudi menguasi aset ekonomi yang kuat. Kalau tidak diusir, kehidupan Islam di Madinah akan terus terancam.

[2]. Banyak pedagang/pebisnis Muslim menjalankan usaha dengan pemikiran yang ultra tradisional. Ini adalah corak pemikiran tradisional yang sangat ekstrem. Di mata para pedagang/pebisnis Muslim itu, berbisnis semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Singkat kata, hanya untuk: “Mencari makan demi anak-isteri.” Pikiran bisnis kita baru sebatas urusan “makan anak-isteri”. Orang lain sudah berpikiran untuk membuat wisata luar angkasa ke Mars, kita masih berkutat soal urusan “makan anak-isteri”. Mungkin, sampai menjelang Hari Kiamat nanti, masyarakat kita masih berpikiran seperti itu. Na’udzubillah min dzalik. SEHARUSNYA: Saat berbicara tentang bisnis, kita juga bicara tentang eksistensi Islam dan Ummat di masa 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun ke depan. Ya, kalau otak kita hanya berhenti di urusan “makan-minum”, ya derajat hidup kita tak jauh dari sifat hewaniyah.

[3]. Dalam urusan bisnis, Ummat Islam seringkali hanya berpikir untuk MENCARI, MENCARI, dan MENCARI harta belaka. Kita jarang berpikir untuk MENGEMBANGKAN dan MENJAGA harta tersebut. Terutama faktor MENJAGA, kaum Muslimin sangat lemah. Kalau diibaratkan seperti orang yang susah-payah mencari binatang buruan. Dengan segala cara mengejar buruan itu, hingga nyaris tewas. Tetapi setelah mendapat buruan, dengan seenaknya binatang-binatang itu dibiarkan lepas pergi, atau dibiarkan diambil orang lain. Jadi selama ini kita lebih banyak SEEKING harta-benda, dan lupa melakukan PROTECTING terhadap harta itu. Hal serupa terjadi dalam masalah barang-barang tambang, sungai, danau, gunung, hasil lautan, hutan, perkebunan, dll. Kita hanya mencari dan terus mencari, dan sangat lalai untuk melindungi harta itu. Padahal Rasul Saw pernah bersabda, “Wa man qutila duna maalihi wa huwa syahid” (siapa yang terbunuh karena membela hartanya, dia mati syahid).

[4]. Dalam banyak hal orang non Muslim lebih tampak “pandai bersyukur” atas harta-benda yang Allah berikan kepada mereka. Tanda “kesyukuran” itu, mereka amat sangat ketat dalam menjaga harta-benda yang mereka dapatkan. Berikut ini adalah cara-cara yang biasa dilakukan non Muslim untuk menjaga harta mereka: Menggunakan kunci berlapis-lapis pada toko atau outlet mereka; menyewa preman untuk menjaga keamanan harta mereka; membayar polisi, perwira militer, atau menyewa anggota militer desertir, untuk melindungi aset-aset mereka; menyewa pengacara top untuk menghadapi tuntutan-tuntutan hukum; menyimpan senjata api secara ilegal; membayar media massa untuk menurunkan berita yang menguntungkan mereka; membuat rumah dengan pagar sangat tinggi, pagar dialiri listrik, menempatkan satpam untuk menjaga rumah, memelihara anjing sejenis buldog untuk menjaga rumah; membuat rumah yang kuat dengan pintu berlapis-lapis; membuat brankas kekayaan yang sangat kuat dan aman; dll. Lihatlah, betapa “amat sangat bersyukurnya” mereka dalam soal menjaga harta. Tentu saja, kita sebagai Muslim tidak perlu paranoid seperti itu, tetapi mencontoh sikap orang non Muslim dalam “sikap syukur” mereka atas harta titipan Allah, adalah sangat penting. Kita tahu, orang non Muslim sedemikian paranoid, karena mereka memang memuja harta-benda. Tetapi kita juga perlu menjaga harta yang kita miliki, sebagai wujud SYUKUR kepada Rabbul ‘Alamiin. Allah kan sudah berfirman, “La in syakartum la-azidannakum wa la in kafartum, inna adzabi la syadiid.”

[5]. Jika kita mengalami kezhaliman, penindasan, atau penghancuran aset ekonomi, kita selalu bersikap pasrah, menyerah, bicara kekeluargaan, atau berlindung ke aparat hukum yang tak bisa melindungi. Itu cara umum yang biasa dilakukan para pebisnis Muslim, sejak dahulu. Ya, akhirnya sikap lembek ini ketahuan semua orang. Maka kemudian titik kelemahan itu benar-benar mereka eksploitasi. Para pebisnis hitam merasa memiliki senjata pamungkas kalau menghadapi para pebisnis Muslim. “Gampang. Ini masalah gampang. Kita tekan saja mereka, kita sewa preman, atau kita bawa anggota polisi. Nanti mereka juga akan ketakutan. Atau kalau mau, kita bawa masalah ini ke pengadilan, lalu kita sogok hakimnya. Kita minta supaya kasus ini dibuat berlarut-larut, sampai para pedagang Muslim itu bosan sendiri. Halah orang Indonesia inilah, gampang banget ditipu. Gampang banget. Hi hi hi…” Begitu logika berpikir para pebisnis hitam itu. Mereka amat sangat tahu kelemahan mental kita, dan sifat kita yang memang penakut.

[6]. Dimanapun juga, orang yang berhati lemah, bermental buruk, dan penakut, tidak akan memiliki WIBAWA. Karena tidak punya wibawa, ya terima saja nasib terus dikadali oleh orang-orang berhati jahat. Bagaimana tidak akan dikadali, wong sikap kita lebih buruk dari kadal-kadal di selokan itu? Identitas kita memang Muslim, sebagai kaum “Khairu Ummah”, tetapi mental kita seperti kadal yang sangat penakut. Kita tidak pernah memberikan corak perlawanan yang berarti setiap berhadapan dengan kaum zhalim. Kita justru sangat menikmati retorika seperti ini: “Sudahlah, sabar saja. Orang sabar disayangi Tuhan. Biarlah mereka zhalim, nanti mereka sendiri yang akan kena batunya. Sudahlah kita pasrah saja, rizki itu tak tertukar kok. Tuhan tidak salah memberi rizki.” Ketika Nabi Saw memberi petunjuk agar kita sangat menjaga harta-benda yang dimiliki, karena semua itu kelak akan ditanyakan oleh Allah di Akhirat; kita malah menghambur-hamburkan harta agar menjadi makanan empuk orang-orang zhalim. Ya begitulah…

[7]. Celakanya, ketika kita sangat sembrono dalam membiarkan harta-benda milik kita dikuasai orang lain; pada saat yang sama kita AMAT SANGAT PELIT (BAKHIL) kepada saudara sendiri, sesama Muslim. Ada saudaranya butuh bantuan, butuh dukungan, butuh perhatian; kita selalu memiliki alasan untuk menolak memberi bantuan. Seakan otak kita penuh dengan ide-ide KEBAKHILAN tingkat tinggi. Orang Yahudi saja mungkin tidak seekstrem itu. Inilah ironisnya, kepada kaum non Muslim kita berikan apa saja yang kita miliki; namun kepada sesama Muslim, yang jelas-jelas sangat membutuhkan, kita justru amat sangat KORET bin PELIT. Masya Allah.

Demikian tulisan sederhana ini disusun. Sejujurnya, kesengsaraan kita dalam soal bisnis-ekonomi, bukan karena kebuasan Soeharto, bukan karena kebuasan Chinese overseas, bukan karena kebuasan Aburizal Bakrie dan lainnya, bukan karena kebuasan Yahudi, Freeport, Exxon, Chevron, Carefour, Netsle, Danone, Unilever, dll. Bukan karena itu, tetapi karena kelemahan mental kita sendiri sebagai Muslim. Kalau mental kita kuat, tangguh, dan pemberani; mana mungkin orang lain akan berani berbuat macam-macam.

Kita selama ini berbangga sebagai Muslim yang disebut “Khairu Ummah”, tetapi mental kita sendiri seperti kadal, sehingga selalu dikadali oleh orang lain. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Pesan terakhir: “Bila engkau sungguh-sungguh mencari harta-benda, maka engkau juga harus sungguh-sungguh melindungi harta-bendamu; kalau perlu engkau korbankan jiwamu demi menjaga hartamu, agar tidak jatuh ke tangan orang-orang anti Islam; semua itu engkau lakukan, sebagai bentuk rasa syukurmu kepada Allah Ar Rahiim.”

Berbenahlah saudaraku. Disini ada nasib kita, nasib anak-cucu kita, dan nasib agama kita. Kepada siapa lagi Ummat ini hendak mengadukan duka-citanya, kalau bukan kepadamu dan kepada Rabbul A’la Dzul Jalali Wal Ikram?

Wallahu A’lam bisshawaab.

[Abinya Syakir].


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 154 pengikut lainnya.