Antara Kita, KPK, dan Fahri Hamzah

Oktober 5, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini anggota DPR Fahri Hamzah, membuat “gebrakan” lagi. Mungkin karena seringnya “gebrak-menggebrak”, mungkin suatu saat dia akan tersandung, jatuh, lalu…gedubraakkk!

Kali ini Fahri membuat usulan mencengangkan, “Bubarkan saja KPK. Ia sudah jadi institusi superbody yang tidak sesuai dengan semangat demokrasi. KPK bisa seenaknya saja menyadap orang lain.” Begitulah logika sederhananya.

Silakan Nak, Hancurkan Korupsi! Babat Habis Ya...

Dalam blog ini kita sudah berikan kritik sangat pedas ke elit-elit KPK, terutama sosok seperti Chandra Hamzah, Bibit Samad, Ade Rahardja, dkk. Kesalahan elit-elit seperti ini terutama Chandra-Bibit, ialah dalam kasus “Kriminalisasi” yang melahirkan gerakan sejuta facebookers tahun lalu.

Kesalahan mereka ialah: Kemana-mana selalu berlindung di balik isu KRIMINALISASI. Tetapi ketika ditantang untuk membuktikan ada atau tidaknya kriminalisasi melalui jalur hukum; mereka tak mau. Nah, ini yang kacau. Penegak hukum kok tak mau dengan solusi jalur hukum. Seolah, sebagai pejabat KPK mereka ingin diperlakukan sebagai “insan suci”. Ini tidak benar.

Tapi meskipun begitu, kita juga tak setuju dengan ide Fahri Hamzah. Inti masalahnya ialah MENTALITAS ketua-ketua KPK yang lemah dan gampang goyang oleh tekanan-tekanan politik. Mental seperti itu harusnya diganti oleh orang yang “berani mati”. Tetapi gimana ya…mereka menjadi pejabat KPK juga dalam rangka “mencari nafkah”, kok bisanya disuruh “berani mati”? Rasanya, harapan kita terlalu muluk ya.

Singkat kata, bangsa Indonesia masih butuh KPK. Kalau mau diperbaiki, ya orang-orangnya itu di-reshuffle. Ganti saja, orang-orang kaya yang berani mati. Kalau tak ada, bolehlah KPK dibubarkan.

Sebagai rakyat biasa, kita tentu tak takut dengan KPK. Wong, memang kita tak berurusan dengan dana-dana negara kok. Bagi anggota DPR, seperti Fahri Hamzah dkk. bisa jadi mereka “ngeri juga” kalau tiba-tiba ditetapkan oleh KPK sebagai “tersangka”. Nanti mereka bersungut-sungut, “Lha wong, saya dipilih oleh puluhan ribu rakyat. Masak gerak-gerik saya dipantau terus oleh KPK? Ini namanya pelecehan. Saya tak terima deh.”

Inilah bedanya kita dengan Fahri Hamzah. Kita lebih menyoroti mentalitas pemimpin-pemimpin KPK yang sangat lemah. Sedang Fahri Hamzah justru menginginkan KPK dibubarkan karena “mengancam” kepentingan para anggota DPR.

Andaikan nanti KPK dibubarkan… Sebaiknya masyarakat mendukung gerakan “Jihad Anti Korupsi” yang sedang digalakkan oleh Habib Rieziq Shihab dan FPI. Siapa tahu, itulah cara yang efektif untuk menumpas para koruptor satu per satu. Allahumma amin.

Intinya: Berantas korupsi, jangan berantas usaha-usaha menumpas korupsi!!! Tahu kan bedanya? Semoga.

AMW.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 152 pengikut lainnya.