Fatwa MUI Tentang “Arah Kiblat”

Juli 18, 2010

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Akhirnya MUI mengeluarkan fatwa Syar’i yang sekian lama ditunggu-tunggu, yaitu soal perubahan arah kiblat. Jika semula arah kiblat kaum Muslimin di Indonesia disebut “menghadap ke Barat”, akhirnya diperbaiki menjadi “ke arah Barat Laut”. Dengan posisi kemiringan sekitar 25 derajat.

Masya Allah, alhamdulillah akhirnya fatwa ini turun juga. Ketika awal kuliah di Brawijaya (tahun 1991), masalah arah kiblat ini sudah menjadi polemik. Seorang dosen agama pernah mengatakan, “Kalau kita shalat menghadap lurus ke Barat, nanti kiblatnya menjadi ke Moskow di Rusia.” Lama saya memikirkan “kiblat ke Moskow” itu, sebab posisi lurus ke Barat dari arah Indonesia bukan ke Rusia, tetapi ke Afrika. Memang benar, kita perlu memperbaiki arah kiblat agar lebih mendekati ke arah Masjidil Haram (Kota Makkah). Tetapi posisi Moskow tidak tepat jika disebut terletak di arah Barat Indonesia. Malah Moskow itu ada di posisi yang lebih utara dari Arab Saudi.

Sejak lama sebagian masyarakat di Jawa Timur secara sendiri-sendiri mengerjakan shalat dengan agak menyerong ke utara (menghadap ke arah Barat Laut). Malah ada yang cukup saklek dalam menerapkan sikap menghadap ke Barat Laut ini. Misalnya, saat menjadi imam, dia shalat dengan agak menyerong ke kanan. Tetapi makmumnya sendiri tetap lurus menghadap ke Barat. Artinya, fatwa MUI tersebut bukan tanpa alasan, tetapi memang ada realitasnya.

Kami sendiri kalau shalat di rumah selalu menghadap ke Barat Laut dengan kemiringan sekitar 20 atau 25 derajat. Ini sudah dilakukan sekian lama, sebelum MUI akhirnya mengeluarkan fatwanya.

Sebagian orang tidak legowo dengan fatwa MUI ini. Mereka menganggap, menghadap kemana saja boleh, dan shalatnya sah. Mereka beranggapan, tidak perlu mempedulikan fatwa MUI. Ini adalah pandangan yang sangat sembrono dan mencerminkan sikap tidak berilmu. Andai mereka tahu, dengan bantuan ilmu yang mudah saja, insya Allah mereka akan sangat menghargai fatwa MUI tersebut, meskipun fatwa itu datang sangat terlambat. [Tak apalah telat, asal ada perbaikan, daripada konsisten dalam kekeliruan].

Berikut pandangan-pandangan yang bisa direnungkan:

[1] Tanpa adanya gempa bumi atau pergeseran lempengan bumi, posisi Indonesia memang berada di arah Timur dan Selatan dari Arab Saudi. Cara termudahnya, Anda lihat peta dunia, dari versi apa saja, lalu lihat posisi Indonesia terhadap Arab Saudi! Kalau arah Barat lurus dari Indonesia, justru akan jatuh ke Afrika. Itu realitas! Coba Anda lihat gambar peta dunia!

[2] Secara geografis Arab Saudi terletak pada posisi 24 derajat Lintang Utara sampai 39 derajat Lintang Utara. Jadi, posisi Saudi itu di belahan bumi Utara. Adapun Indonesia, posisi geografis pada 6 derajat Lintang Utara dan 11 derajat Lintang Selatan. Kalau kita shalat menghadap ke Barat murni, itu sama saja kita menyamakan posisi Indonesia segaris dengan posisi Saudi. Bayangkan, posisi Saudi 24-39 LU, sementara posisi kita 6 LU dan 11 LS. Posisi kedua negara ini jelas-jelas berbeda.

[3] Shalat menghadap ke Kiblat (Masjidil Haram di Makkah), hukumnya WAJIB. Ini bukan Sunnah, tetapi wajib. Dalilnya adalah ayat-ayat berikut ini:

Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (TQS. Al Baqarah: 144).

Dan dari mana saja kamu ke luar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (TQS. Al Baqarah: 149).

Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Ku sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (TQS. Al Baqarah: 150).

Disana ada kalimat, “Wa hai-tsu maa kuntum, fa wallu wujuhakum syat-rah” (dan dimana saja kalian berada, hadapkan wajah-wajah kalian -dalam shalat- ke arahnya). Ini merupakan bentuk PERINTAH, yang bersifat WAJIB dilakukan. Bahkan sampai diulang beberapa kali. Jadi, hukum shalat menghadap ke Masjidil Haram itu WAJIB, tidak ada keraguan lagi.

[4] Dalam pelajaran tentang shalat disebutkan, salah satu SYARAT SAH shalat ialah menghadap Kiblat. Kalau kita secara sengaja shalat tidak menghadap Kiblat, jelas menjadi tidak sah shalat itu. Termasuk shalat yang menghadap ke Afrika, Rusia, Jepang, dan seterusnya. Ini jelas tidak sah.

Posisi Indonesia Menyerong dari Arah Saudi.

[5] Nabi Saw pernah melakukan shalat tidak menghadap ke Kiblat di Masjidil Haram. Itu terjadi dalam dua kondisi -setahu saya-: Pertama, saat kaum Muslimin masih diperintahkan shalat menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, sebelum akhirnya dipindah ke arah Makkah. Kedua, saat beliau shalat witir di atas kendaraan. Beliau mengikuti ke arah mana saja kendaraan (onta) yang membawa beliau.

[6] Seorang Muslim memang boleh mengerjakan shalat dengan tidak secara tepat menghadap ke Kiblat di Makkah (Masjidil Haram), dengan syarat:

a) Dia anak kecil yang masih shalat secara main-main. Atau orang gila yang shalat seenaknya sendiri; b) Dia belum mengetahui ilmunya, mengerjakan shalat sekedar mengikuti apa yang dikerjakan orang lain; c) Dia berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengetahui arah kiblat secara tepat. Misalnya dalam hutan yang gelap, sehingga tidak mengetahui arah mata hari, sembari tidak membawa kompas; d) Dia shalat di atas kendaraan yang sedang berjalan, sehingga menghadap ke arah mana saja kendaraan itu berjalan; e) Dia dalam keadaan darurat, yang membuatnya tidak bisa shalat menghadap ke kiblat. Misalnya, shalat di atas kereta api yang sangat penuh, desak-desakan, sulit untuk mengatur arah shalat; f) Shalat di luar angkasa, ketika seseorang tidak memiliki kesanggupan untuk menghadap ke Kiblat sebagaimana wajarnya.

Dalam kondisi darurat berlaku prinsip, “Laa yukallifullahu nfsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani seseorang, melain sebatas kesanggupannya). Dalam kondisi darurat boleh kita shalat tidak menghadap Kiblat. Namun jika faktar kedaruratan itu sudah lenyap, ya harus kembali menghadap Kiblat.

[7] Sangat tepat himbauan MUI, agar dengan perubahan arah hadap ke Barat Laut ini, Ummat Islam tidak perlu membongkar bangunan, tetapi cukup menyesuaikan arah shaf-nya saja. Alhamdulillah, itu adalah solusi sekaligus arahan yang sangat bijak.

Kita sangat menghimbau agar kaum Muslimin segera memperbaiki arah hadapnya dalam shalat, seperti diserukan oleh Fatwa MUI. Alhamdulillah, ini adalah fatwa yang lurus dan adil. Jangan kita sia-siakan!

Shalat menghadap Kiblat di Masjidil Haram itu merupakan salah satu syi’ar Islam di muka bumi. Orang-orang kafir sangat iri dengan kesatuan Ummat di atas satu kiblat ini. Mereka berpecah-belah di atas berbagai kiblat, sedangkan Ummat ini alhamdulillah memiliki satu kiblat saja. Bahkan semua ini mencerminkan Kesatuan Kaum Muslimin di muka bumi.

Shalat menghadap Kiblat ke Masjidil Haram adalah AMANAT BESAR Syariat Islam. Kaum Muslimin harus komitmen dan sungguh-sungguh melaksanakan amanah ini. Sebab dalam Surat Al Baqarah di atas, ada petikan ayat yang bunyinya, “Li alla yakuna lin naasi ‘alaikum hujjatun illal ladzina zhalamu minhum” (agar tidak ada lagi bagi manusia itu hujjah -untuk membantah-  kalian, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka).

Orang-orang yang membangkang terhadap arahan menghadap Kiblat ini disebut orang zhalim, yang perilakunya seperti Yahudi. Na’udzubillah min dzalik.

Mudah-mudahan, dengan kesungguhan memperbaiki cara kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala ini, bangsa Indonesia akan diberkahi, ditolong dalam kebaikan, serta dilindungi dari berbagai bahaya alam dan makar syaitan. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin.

AMW.


Cemas Soal Kapitalisme Ibadah

April 29, 2010

Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semakin kesini rasanya semakin perih memperhatikan proyek-proyek pembangunan di Saudi saat ini, khususnya di lingkungan Makkah Al Mukarramah.

Belum lama lalu saya membaca tulisan Syaikh Mamduh Farhan Al Buhairi di majalah Qiblati. Beliau menceritakan kesedihan dan tangisannya atas dibongkarnya ribuan gedung, rumah, dan bangunan di sekitar Masjidil Haram, dalam rangka pelebaran area ibadah. Beliau merasa, sebagian sejarahnya di Makkah telah hilang. Ya, beliau dilahirkan di Syuqul Lail, kawasan Makkah. Sejak kecil beliau dibesarkan dalam lingkungan Masjidil Haram, belajar disana, sampai dewasa. Syaikh Mamduh menangis, begitu pula orang lain, saat melihat bangunan-bangunan yang membekaskan kenangan spiritual besar, bertumbangan dihabisi budozer.

Makkah hanya diwariskan kepada orang-orang bersyukur.

Wajah Makkah sekarang berubah. Kenangan besar terhadap masa lalu yang indah, penginapan, hotel, pedagang kaki lima, burung-burung merpati yang berkumpul di jalan-jalan,  burung elang beterbangan, money changer, dan sebagainya, seolah lenyap. Tidak dibayangkan, berapa ribu manusia yang sedih melihat sejarahnya, jerih-payahnya, kebudayaan, serta bisnisnya, ikut dibongkar demi “proyek pelebaran” Masjidil Haram.

Ya Allah, demi Engkau ya Rabbi yang Maha Pemurah, sesungguhnya Masjid-Mu itu tidak butuh dilebarkan lagi. Ia sudah terlampau lebar. Biarlah Masjid-Mu itu seperti itu, tidak perlu dilebarkan lagi. Biarlah jamaah membludak, biarlah Masjid-Mu penuh manusia, biarlah ya Rahmaan. Tidak ada yang salah dengan semua ini.

Toh, selama Ummat beribadah baik-baik saja. Tidak ada masalah. Malah, kalau Anda datang ke Masjidil Haram dari sekitar jam 10 malam sampai menjelang fajar, ruang-ruang masjid mulia ini banyak yang lowong. Kebanyakan manusia terkonsentrasi di sekitar Ka’bah Al Mubarakah. Ya Allah, sungguh Masjid-Mu tidak butuh dilebarkan lagi.

[Kalau Dinasti Ibnu Saud masih merasa punya uang dan kekuatan, silakan mereka perluas wilayah Islam. Taklukkan negara-negara bukan Muslim, terjuni Jihad Fi Sabilillah, tolonglah Ummat Islam yang merana di muka bumi ini. Itu kalau mereka Mukmin sejati, bukan "pedagang" Masjidil Haram].

Dari situs Sabili.co.id saya membaca beberapa informasi berikut:

[o] Baru-baru ini Dewan Syura Saudi Arabia yang di pimpinan Syaikh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh telah menyetujui serta akan mempelajari pentingnya meningkatkan dan mengaktifkan bandara udara internasional di Makkah Al-Mukarromah. Dewan ini setuju dengan rencana pengembangan infrastruktur bandar udara serta peralatan yang diperlukan untuk menyelesaikannya dengan teknologi terbaru.

[o] Selain itu otoritas Pemerintah Saudi juga akan memperluas Bandara Thaif menjadi Bandara Internasional. Nantinya Bandara Thaif akan menjadi pendukung Bandara Internasional King  Abdul Aziz di Jeddah dan Bandara Internasional Pangeran Muhamamd bin Abdul Aziz di Madinah, untuk menunjang kebutuhan penerbangan jemaah Haji dan Umrah. Selama ini Bandara Thaif hanya untuk penerbangan domestik saja.

[o] Proyek infrastruktur lain yang sedang dikerjakan Pemerintah Saudi adalah pembangunan jalur kereta api Jeddah-Makkah-Madinah. Menteri Perhubungan dan Transportasi Kerajaan Arab Saudi, Dr. Jabbarah Ash-Sharaysiri, menyatakan pembangunan jalur kereta api untuk Jeddah-Makkah-Madinah sudah sangat siap dan sudah disepakati Majelis Anggaran Kerajaan Arab Saudi. “Jika menggunakan kereta api, maka Makkah-Jeddah hanya akan ditempuh dalam waktu setengah jam. Sedangkan  Madinah-Makkah atau Madinah-Jeddah akan ditempuh dalam waktu dua jam,” kata Jabbarah.

[o] Selain trayek tersebut, juga akan  dibangun  jalur monorail dan kereta api untuk Makkah-Mina-Muzdalifah-Arafah. Anggaran yang disiapkan untuk proyek ini sekitar 6,78 miliar riyal. Kecepatan kereta api mencapai 300 kilometer per jam. Jabbarah juga mengungkapkan, jalur kereta api akan dibangun pula membelah wilayah Kerajaan Arab Saudi dari selatan ke utara. Dari Pelabuhan Islam di Jeddah mencapai Riyadh hingga pelabuhan Raja Abdul Aziz di Dammam, Teluk Arab yang jaraknya mencapai sekitar 950 kilometer.

[o] Pembangunan berbagai proyek infrastruktur  yang dilakukan Pemerintah Saudi ini  membuktikan bahwa mereka sangat serius dalam menangani ibadah haji yang melibatkan jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Jika proyek-proyek tersebut telah selesai dibangun, maka akan sangat membantu  kelancaran pelaksanaan ibadah haji. Dengan kereta api, Makkah-Jeddah cukup setengah jam, Makkah-Madinah dan Jeddah-Madinah, dua jam.

Sumber artikel: Saudi Akan Dirikan Bandara di Makkah Al Mukarramah.

Kalau kita baca semua kenyataan ini, tampak nyata Pemerintah Saudi seperti sekumpulan para penguasa yang tidak ada rasa syukurnya. Mereka sudah diberi kenikmatan luar biasa dengan dunia yang terhampar di depan mata mereka. Minyak bumi dan berbagai bahan derivatnya adalah anugerah dahsyat. Begitu pula Makkah Al Mukarramah, Arafah, dan Madinah. Semua ini sebenarnya sudah cukup untuk disyukuri, agar Allah Ta’ala tambahkan nikmat-Nya.

Tapi ini tidak, bukannya tambah syukur, tapi ambisi keduniaannya semakin menjadi-jadi. Tidak bisa disangkal lagi, pembangunan berbagai infrastruktur itu adalah demi untuk mempermudah urusan jamaah Haji dan Umrah. Utamanya jamaah Umrah yang setiap hari datang kesana. Sebab kalau jamaah Haji sifatnya hanya sebentar, di seputar bulan Dzul Hijjah saja. Dengan kata lain, Pemerintah Saudi sebenarnya ingin menggenjot pemasukan devisa dari sektor wisata ibadah, yaitu Haji dan Umrah. Jadi syahwat kapitalismenya lebih kuat daripada pelayanan Islam itu sendiri.

Demikian ambisinya Pemerintah Saudi, sampai ribuan bangunan di dekat Masjidil Haram diruntuhkan. Nanti akan dibangun gedung-gedung pencakar langit sebagai gantinya. Itulah yang kita kenal sebagai proyek super ambisius di kawasan sekitar Masjidil Haram saat ini.

Padahal dulu, sebagaimana diceritakan, Gubernur ‘Amr bin Al ‘Ash Ra. di Mesir, beliau tidak berani menggusur rumah seorang Yahudi, dalam rangka perluasan Masjid ‘Amr bin Al ‘Ash. Khalifah Umar bin Khattab Ra. melarang penggusuran itu. Padahal ia rumah orang Yahudi, di Mesir, hanya untuk perluasan masjid biasa, bukan Masjidil Haram lagi. Tetapi saat ini akhlak manusia sudah terlalu jauh.

Di Makkah, tidak boleh ada bangunan yang tingginya melebihi Istana Raja Abdullah, yang lokasinya di samping Masjidil Haram itu. Tetapi saat yang sama, Istana Raja itu tingginya sejajar dengan menara-menara Masjidil Haram. Sejajar menara Akhi, bukan sejajar bangunan utama. Ini kan arogansi yang nyata di hadapan Masjidil Haram. Orang lain tidak boleh membangun gedung melebihi Istana, tapi Istana boleh ditinggikan di atas bangunan Masjidil Haram.

Ya Allah ya Karim, rasanya sangat perih memandang masa depan agama dan Ummat ini. Jangankan di Indonesia, yang di Saudi sana juga seperti itu. Ketika Pemerintah Saudi membongkar ribuan bangunan di sekitar Masjidil Haram, apakah mereka tidak ingat dengan peristiwa perluasan Masjid ‘Amr bin Al ‘Ash di Mesir dulu?

Saya juga pernah mendengar riwayat, ketika Khalifah Umar tidak jadi mengambil talang (pancuran) di dekat Masjid Nabawi, dalam rangka perluasan Masjid. Hanya karena keluarga Nabi menjelaskan, bahwa talang itu dulu Nabi sendiri yang meletakkannya. Lihatlah, hanya demi sebuah talang, Khalifah Umar mengalah. Sampai akhirnya, keluarga Nabi sendiri yang mengambil talang tersebut.

Aku tidak bayangkan, berapa orang yang kecewa dengan proyek perluasan Masjidil Haram itu. Mereka tentu menangis, sedih, atau bahkan merasa dizhalimi keangkuhan “Mega Proyek Perluasan”. Mungkin saja, karena mereka patuh kepada ulama, banyak warga Saudi memilih bersabar. Tetapi siapa bisa mencegah, kalau mereka dalam ratapan doanya mendoakan kecelakaan dan kehancuran Pemerintah Kerajaan Saudi?

Mohon pahami, kita tidak sentimen kepada Pemerintahan manapun, selama ia baik dan menunaikan amanah-amanah Ummat dengan ihsan. Namun kalau terus bersikap buruk terhadap amanah Ummat, ya tidak ada respek kepadanya. Dalam masalah proyek ambisius Pemerintah Saudi saat ini, baik di Makkah, Madinah, maupun Saudi secara umum, mari kita berpikir lebih mendalam. Coba perhatikan beberapa hal di bawah ini:

[a] Masjidil Haram atau Masjid Nabawi tidak perlu diperluas lagi, sebab kedua Masjid Suci itu sudah sangat besar, megah, dengan bentuk bangunan bisa dikatakan, banyak mubadzirnya. Coba lihat Masjid Nabawi, Anda hitung ada berapa tiangnya? Ada ribuan tiang. Masing-masing tiang dibuat dengan biaya besar. Apakah ini yang dinamakan memuliakan Islam, dengan membuat hal-hal mubadzir?

[b] Dua Masjid Suci, tidak selamanya penuh. Malah penuhnya hanya pada momen-momen tertentu, misalnya saat Dzul Hijjah dan Ramadhan. Atau misal saat Shalat Jum’at. Kedua Masjid Suci ini di hari-hari biasa, apalagi di musim-musim panas-dingin, tidak terlalu banyak dikunjungi jamaah. Kalau nanti Masjid ini dibesarkan lagi, siapa kira-kira yang akan menempati tempat yang dilebarkan itu?

[c] Perlu disadari, di saat Pemerintah Saudi belum membongkar ribuan bangunan di sekitar Masjidil Haram, kehidupan di Makkah sendiri sudah cenderung metropolis. Hotel berdiri dimana-mana, transaksi bisnis, mall-mall, pertokoan, termasuk gerai-gerai makanan milik asing (semisal McD dan sejenisnya). Kondisinya sudah menjurus ke arah kehidupan metropolis-industrialis. Nah, kalau misal proyek semisal itu mau dibesar-besarkan lagi, ada gedung-gedung pencakar langit seperti di Dubay, ada monorail, kereta api, dst. lalu wajah Makkah akan menjadi seperti apa nantinya? Saat kemarin saja, situasi spiritualitasnya cenderung merosot karena suasana industrialis, apalagi nanti?

[d] Fakta lain yang jarang diperhatikan adalah masalah tata-lingkungan. Belum lama lalu terjadi banjir besar di Makkah, banjir yang jarang terjadi. Air menggenang sampai lutut orang dewasa. Banjir ini terjadi di sekitar musim Haji tahun lalu. Banyak orang meninggal disana. Terakhir lalu, terjadi badai pasir hebat di Riyadh. Dan saya mendapat informasi, sejak Dubay memiliki gedung pencakar langit tertinggi di dunia, langit di kota itu selalu diselimuti kabut hitam. Ada koneksi yang nyata antara perubahan tata-letak sebuah kota dengan daya dukung lingkungan. Apakah Pemerintah Saudi sudah menghitung sedemikian jauh? Rasanya jauh. Lihat saja, saat mereka membongkar ribuan bangunan itu. Apakah pernah memikirkan unsur hak manusia, hak lingkungan, hak sejarah, hak usaha rakyat, hak estetika, hak kondisi spirital, dll? Halah…

[e] Berbagai proyek ambisius yang dibangun di Makkah, Madinah, dan Saudi saat ini, ia mencerminkan bahwa Pemerintah Kerajaan sedang kebebanan beban yang amat sangat berat. Bisa jadi, kerabat kerajaan meminta lahan-lahan bisnis. Atau beban penyediaan air, listrik, telepon, dll. semakin besar. Belum lagi tekanan “setor minyak” ke dunia Barat sudah mendarah daging. Ya, semua itu merupakan resiko ketika kekuasaan tidak dirawat dengan Kitabullah dan Sunnah. Dalam Al Qur’an dikatakan, “Wa man yata’adda hududallah, faqad zhalama nafsah” (siapa yang melanggar batas-batas aturan Allah, sebenarnya dia hanya menzhalimi dirinya sendiri).

[f] Sebuah negara layak disebut Daarut Tauhid (Negeri Tauhid) kalau dia berani lantang menyeru semua manusia di dunia, “Laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah“. Mereka berani teriak dengan nyaring, “Saksikanlah wahai manusia, tidak ada yang kami takuti, selain Allah belaka. Kami tidak takut dengan senjata-senjata kalian, karena hati kami bertauhid. Kami tidak tunduk pada aturan apapun, selain Syariat Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wa Sallam. Itulah Syariat terbaik yang harus ditempuh.” Tapi ini lain, mengaku Negeri Tauhid, tetapi jerih menghadapi konflik dengan negara-negara non Muslim.

Saudi itu sudah diberi minyak melimpah-ruah, sudah diberi Masjidil Haram, Masjidin Nabawi, diberi Dua Tanah Suci, tetapi masih merasa belum cukup juga. Sekarang mau menjadikan Tanah Suci sebagai obyek wisata ruhani dunia. Allahu Akbar. Jika caranya demikian, lama-lama Manasik Ibrahim ‘alaihissalam akan tersingkir diganti kesenangan wisata. Na’udzubillah wa na’udzubillah.

Allah Ta’ala pasti tidak akan mengijinkan ada manusia yang merusak Syiar-syiar-Nya. Pasti Allah akan menyelamatkan Ummat ini, menolongnya, memberikan jalan keluar terbaik. Ya Allah tolonglah agama ini, tolongan Ummat Muhammad ini, tolonglah orang-orang beriman! Amin Allahumma amin.

Wallahu Waliyyut taufiq wa yahdi ila sabilir rosyad.

AMW.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 131 pengikut lainnya.