Metode Rusak dalam Menggali Berita (Sebagian Isi Buku “Salafi Ekstrem”)

April 27, 2009

Mula-mula harus disadari, bahwa cara yang dipakai oleh para pemuda ekstrem itu adalah: Tajassus! Ia adalah metode mencari-cari kesalahan manusia, sampai sekecil-kecilnya. Cara demikian tidak boleh ditempuh di antara sesama Muslim, sebab hukumnya haram. Dalam Al Qur’an, “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan (sesama Mukmin), dan janganlah kalian satu sama lain saling menggunjing.” (Al Hujuraat: 12).

Tajassus sangat berbahaya, karena bisa mematahkan persatuan kaum Muslimin, mengobarkan permusuhan di antara mereka, dan menyebarkan kerusakan meluas di muka bumi. Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya engkau, jika selalu menyelidiki aurat (kesalahan) kaum Muslimin, maka engkau telah merusak mereka. Atau hampir saja engkau merusak mereka.” (HR. Abu Dawud dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu).

Seandainya tajassus itu halal dilakukan (misalnya karena dibutuhkan oleh penguasa Muslim), maka cara-cara yang ditempuh haruslah Islami. Ia harus dilakukan secara adil, sehingga diperoleh informasi-informasi yang benar, sehingga akhirnya tidak merugikan kepentingan pihak-pihak tertentu. Hal itu ditempuh dengan memanfaatkan informasi dari orang-orang beriman yang dikenal baik reputasinya. Dalam ilmu hadits, ia termasuk metode periwayatan hadits. Hadits tidak diterima, melainkan dari para rawi (pembawa riwayat) yang dikenal tsiqah dan dhabith.

Namun yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Salafi ekstrem itu, mereka bersandar pada metode Googling (mengumpulkan berita melalui search engine Google). Cara demikian jelas sangat keliru, tidak bisa diterima. Untuk mengetahui keadaan seseorang atau suatu organisasi, harus merujuk kepada orang-orang beriman yang mengetahui informasi tersebut. Sedangkan Googling tidak bisa menjamin, bahwa informasi yang diperoleh akan benar, lurus, dan adil. Apalagi di dunia internet sudah dikenal luas, banyak pengguna internet melakukan pemalsuan data. Dalam chatting atau friendster banyak pengguna internet memoles data-data pribadinya, sehingga tampak mengesankan dan penuh daya-tarik.

Lagi pula, jika Google menjadi andalan, maka informasi yang diperoleh tidak akan lengkap, sebab yang tersebar disana hanyalah menyangkut sebagian data-data seseorang atau lembaga. Sebagian lain yang tidak termuat di internet, tidak bisa diketahui keadaannya. Bisa jadi, informasi yang tidak termuat di internet itu justru merupakan inti informasi yang seharusnya diketahui.

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.