Jangan Begitu, Saudara Fahri!

Juni 22, 2010

Ada ungkapan yang mengatakan, “Kalau seseorang sudah terbiasa berbohong, maka dia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya. Sampai akhirnya dia tentram sebagai seorang pembohong.”

Saya membaca artikel bagus di eramuslim.com. Artikelnya berjudul: Segala Cita-cita Berakhir di Ritz Carton. Dalam tulisan itu ada ungkapan menarik yang keluar dari politisi PKS, Fahri Hamzah.

Pernyataannya sebagai berikut:

“Isu ‘Negara Islam‘ dan ‘Piagam Jakarta‘ tak mampu menguatkan identifikasi pemilih Muslim kepada parpol Islam. Perubahan substansial harus dilakukan parpol Islam”, tambah Fahri Hamzah, Wakil Sekjen PKS.

Ini adalah pernyataan bohong dari seorang Fahri Hamzah. Sungguh, bagi yang memperhatikan perkembangan politik Islam di Tanah Air, mereka akan menolak pernyataan ini.

Alasannya sebagai berikut:

[1] Di era Reformasi, sejak tahun 1998, hampir tidak ada satu pun partai Islam yang konsisten dengan Syariat Islam dan Piagam Jakarta, apalagi negara Islam. Jika ada partai yang significant, lalu bersuara verbal tentang Syariat Islam dan Piagam Jakarta, paling PBB. Tetapi partai ini tidak dianggap konsisten memperjuangkan keduanya. Mereka terkooptasi oleh sosok Yuzril Ihza Mahendra, yang sejatinya bukan seorang alim atau ahli Islam. Yuzril itu mantan penulis pidatonya Soeharto di jaman Orde Baru dulu.

[2] Dalam Pemilu tahun 1955, Masyumi lantang memperjuangkan Syariat Islam dan Piagam Jakarta. Terbukti mereka meraup suara pemilih hingga sekitar 30 %. Masyumi waktu itu empat besar partai politik di Indonesia. Adapun setelah Reformasi, tidak ada partai yang sekonsisten Masyumi dalam isu Syariat Islam dan Piagam Jakarta. Terbukti, mereka tidak ada satu pun yang suaranya mencapai 15 %.

[3] Tidak ada data statistik independen yang menjelaskan bahwa rakyat Indonesia mayoritas menolak Syariat Islam dan Piagam Jakarta. Apa yang diutarakan Fahri hanya klaim dia semata, atau mungkin berdasar surve yang mereka buat sendiri.

[4] PKS itu sejak masih PK, mereka tidak berani mengklaim Syariat Islam, tidak berani memperjuangkan Piagam Jakarta, apalagi bicara soal Negara Islam. Jadi Fahri hanya berbohong semata, menjelek-jelekkan Syariat Islam, Piagam Jakarta, dan Negara Islam. Sementara mereka sendiri, tidak pernah memperjuangkan hal itu.

[5] Fakta yang telanjang bahwa PKS menolak Piagam Jakarta. Sejak Pemilu 1999, PKS mengungkapkan ide “Piagam Madinah”. Ini jelas-jelas bahwa PKS tidak pernah bicara soal Piagam Jakarta. Lalu darimana Fahri berargumen, bahwa para pemilih Muslim menolak aplikasi Piagam Jakarta? Wong, diperjuangkan saja belum, kok sudah divonis ‘tidak sukses’?

[6] Konsep “Piagam Madinah” yang diterapkan oleh PKS hanya alih-alih belaka atau kedok. Pada dasarnya mereka tidak pernah melaksanakan konsep itu sama sekali. Buktinya apa? Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini:

“Apakah ketika memperjuangkan politik, PKS pernah membuat kontrak politik dengan dewan-dewan agama non Muslim, seperti Kristen, Katholik, Hindu, Budha? Apakah PKS pernah membuat kontrak politik dengan semua suku-suku yang ada di Indonesia? Apakah setelah “Piagam Madinah” itu diterapkan, PKS memimpin Indonesia seperti Nabi memimpin Madinah? Apakah setelah “Piagam Madinah” itu diterapkan, PKS semakin sukses menguatkan Islam dan menyingkirkan dominasi sistem non Muslim, seperti keberhasilan yang diperoleh Nabi ketika itu? Dan apakah PKS paham bahwa setelah turun Surat Al Maa’idah ayat 3, maka “Piagam Madinah” otomatis terhapus, menjadi peradaban Islam secara sempurna?”

Jadi, semua ini hakikatnya hanya kedok belaka. PKS sangat takut dengan kekuatan non Muslim, kekuatan sekuler, kekuatan Barat. Lalu mereka merasa sangat kecewa dengan warisan pendahulu gerakan Islam di Indonesia, Piagam Jakarta. Mereka mencari cara bagaimanapun untuk menyiasati ketakutan mereka dengan tidak menyinggung gerakan-gerakan Islam di Indonesia yang menghormati Piagam Jakarta.

Lagi-lagi, semua ini hanyalah kelicikan anak kecil belaka. Mereka merasa hebat, pintar, cerdik, dan ahli siyasat. Padahal sejatinya tidak. Mayoritas manuver-manuver politik PKS itu mudah dibaca.

Nah, itulah anehnya. Dilahirkan sebagai Muslim, tapi merasa malu dengan konsep Islam. Padahal dulu, saat masih era gerakan Tarbiyah dulu. Jamaah PKS itu paling hebat dalam men-thaghut-kan NKRI, Pancasila, UUD 1945, P4, dll. Dulu Hilmi Aminuddin sering membanggakan dirinya sebagai mantan “tapol Orde Baru”. Ya begitulah…

Nasehat Nabi Saw: “Qul amantu billahi tsummas taqim” (katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah). Atau dalam Surat Fusshilat dikatakan, “Qaalu Rabbunallahu tsummas taqamuu” (mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka istiqamah). Setelah seorang Muslim mengikrarkan Kalimat Tauhid ini, abaikan saja siapapun, sekalipun langit akan runtuh.

Suatu masa akan terjadi ketika budaya kebohongan elit-elit PKS ini akan diganti dengan budaya istiqamah orang-orang beriman. Kabulkanlah ya Allah. Allahumma amin.

AMW.


Coba Melihat “Piagam Jakarta”

Oktober 21, 2008

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du:

Beberapa waktu lalu, TVOne menayangkan acara Debat Partai antara PBB (Partai Bulan Bintang) dan PDS (Partai Damai Sejahtera). Acara yang tayang 16 Oktober 2008 malam itu menampilkan Sahar L. Hasan dan Anwar Shaleh dari DPP PBB, dan Jos Rahawadan dan Saat Sinaga, keduanya Ketua DPP PDS. Sebagai pendamping adalah Rahma Sarita (untuk PBB) dan Tina Talisa (untuk PDS). Isu utama yang dibahas dalam debat ini adalah penegakan Syariat Islam. PBB mengklaim mendukung penegakan Syariat Islam, sementara PDS bersikap kontra.

Seperti diakui dalam acara di atas, isu Syariat Islam atau Piagam Jakarta dianggap semakin tidak relevan di parlemen, sebab umumnya politisi-politisi Muslim lebih berorientasi ke substansi Syariat, bukan simbol-simbol. Konon, tinggal PBB yang secara formal masih mengangkat isu Syariat Islam. Dalam debat itu, wakil PBB menegaskan bahwa status Piagam Jakarta masih berkekuatan hukum, sesuai Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Ridwan Saidi dalam salah satu bukunya, Status Piagam Jakarta: Tinjauan Hukum dan Sejarah, menyatakan hal itu. Al Ustadz Husein Umar –semoga Allah merahmatinya- sampai meninggalnya, beliau sangat concern dengan agenda legalisasi Piagam Jakarta. Tidak segan beliau mengecam ide “Spirit Piagam Madinah” yang diusulkan politisi tertentu, khususnya dari kalangan PKS dan PAN.

Apa yang ditulis ini sebenarnya masih satu koridor dengan cita-cita senior-senior pejuang Islam di Masyumi dan lainnya yang mendambakan tegaknya Syariat Islam di bumi Indonesia. Hanya saja, untuk mencapai cita-cita itu kita harus berjalan di atas konsep yang benar, kuat, dan Islami, sehingga peluang keberhasilannya diharapkan lebih besar.

Meskipun begitu, apa yang ditulis ini hanya sebatas wacana. Ia bisa benar, bisa juga salah. Saya bersedia berdialog, berdikusi, atau mendengar masukan dan nasehat dari siapapun, jika di dalamnya terdapat kebenaran. Tulisan ini sebatas wacana, jika di dalamnya terdapat kesalahan dan kekurangan, insya Allah saya akan rujuk dengan pendapat yang lebih kuat. Seperti disebutkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa makna Al Jamaah itu adalah sepakat dengan kebenaran, meskipun kita hanya seorang diri. Sekali lagi, kepada guru-guru saya, para senior yang saya hormati, mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang tidak berkenan.

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 160 pengikut lainnya.