Teruskan Bersikap Kritis…

Agustus 30, 2015

Empowerment

Bismillahirrahmaanirrahiim. Saudara-saudari Muslim yang kami cintai. Mungkin setelah membaca blog ini sejak pasca Pilpres 2014 sampai saat ini, Anda akan mendapati sikap kami seperti berubah. Dengan kata lain, seperti tidak kritis lagi kepada rezim berkuasa.

Sejujurnya kami memang berubah. Tapi maksudnya, kami telah sepakat untuk lebih fokus kepada pemberdayaan internal kaum Muslimin. Pilihan ini kami ambil setelah bertahun-tahun mengelola blog ini, melaksanakan kegiatan-kegiatan di lapangan, membaca secara kritis situasi sosial, dan berdiskusi dengan banyak pihak. Jadi tidak serta merta.

Selama ini kami melihat kekurangan kita dalam usaha pemberdayaan ini. Sedangkan untuk masalah isu media atau debat medsos, kita tidak kurang-kurang. Ya mungkin kata-kata seperti ini klise ya, tapi itulah kenyataan yang ada di depan mata. Coba pikirkan kalimat ini: “Andaikan kaum Muslimin kuat berdaya, mustahil akan selalu kagetan dengan isu-isu baru. Bahkan seharusnya kita bisa memperkirakan akan datangnya masalah-masalah di masa depan.” Coba pikirkan kalimat ini.

Kalau kami dianggap takut, alhamdulillah tidak. Sejak tahun 2008 lalu kami terus mengkritisi pemerintah SBY Cs. Ya itu sebagai alasan, bahwa kami sudah berbuat semampunya.

Kalau kini muncul rezim yang LEBIH PARAH dari SBY Cs tersebut, ya menjadi kewajiban yang lain untuk turun meluruskan. Di balik rezim tersebut berkumpul banyak orang yang memiliki jiwa Islamophobia. Di mata mereka, kaum Muslimin tidak ada benarnya. Bukan sekedar Islamophobia, bahkan ada semangat kolonialisme.

Ya silakan, Anda teruskan amanat Ummat untuk terus meluruskan arah yang salah dan bengkok. Kami telah memilih langkah untuk melakukan pemberdayaan Ummat. Itu pun ditempuh setelah sekian lama mencoba menyampaikan amanat amar makruf nahi munkar semampunya…

Malahan saat ini kita jauh lebih membutuhkan sikap kritis lebih dari kebutuhan saat SBY Cs kemarin. Maka kami mendukung sepenuhnya gerakan Ummat untuk menunaikan amar makruf nahi munkar, dengan sebaik mungkin. Adapun tentang kebijakan kami pribadi, atau terkait media ini, ya Anda semua telah memahami.

Demikian. Semoga dimaklumi. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Admin Blog).

 


Sedikit Analisa Ekonomi…

Agustus 30, 2015

** Kami sudah komitmen untuk tidak terlalu banyak bicara teoritik, analisis, dan semacamnya. Bukan karena kami tidak paham, tapi ada sisi kepedulian kongkret yang -menurut kami- lebih dibutuhkan. Tidak sekedar masalah isu media atau isu medsos saja.

** Kami sampaikan ini, sekedar sebagai informasi bagi Ummat, agar lebih pintar membaca situasi, lebih jeli, dan yang lebih penting: selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi the worst scenario.

** Seperti telah kami sampaikan di masa-masa sebelum, mungkin dalam media ini atau di media berbeda (printing media), bahwa pertumbuhan ekonomi China yang melesat, bergolak dahsyat, membumbung tinggi; itu bukan pertumbuhan yang alamiah. Sama seperti gegap gempita pembangunan gedung-gedung pencakar langit di Dubay, juga tidak alamiah.

** Lazimnya ekonomi manusia, di mana saja berkembang berdasar hukum “keseimbangan supplay and demand”. Setiap permintaan naik, akan diikuti peningkatan jumlah penawaran. Hukum demikian akan berlaku terus, dalam berbagai situasi ekonomi.

** Naiknya kekuatan ekonomi China tidaklah dibangun berdasarkan kualitas produk yang mereka buat; kehandalan inovasi; atau semacam menawarkan solusi kreatif bagi hidup manusia modern. Kekuatannya hanya bertumpu pada aspek: Produk mirip dan harga dibanting. Hal seperti ini hanya akan menimbulkan euphoria sesaat, sampai manusia sadar akan kelemahan dari produk itu sendiri.

** Bandingkan dengan penerapan mata uang tunggal Euro. Untuk menuju kesepakatan penerapan mata uang itu, melalui proses yang sangat panjang. Tapi masyarakat ekonomi Eropa sudah memperhitungkan berbagai variabel kebijakan mereka dengan ketat dan rapi. Maka kebijakan itu berdaya manfaat besar bagi ekonomi mereka.

** Lalu di masa posisi kita sebagai bangsa Indonesia ini?

** Indonesia kan termasuk negara lemah. Negara ini punya segala macam potensi baik, tapi rakyatnya gampang di-ninabobo-kan. Negara ini selalu dalam kendali pemimpin-pemimpin (atau struktur kepemimpinan) lebay dan penakut. Mereka tidak punya jiwa patriotisme seperti yang sering dibangga-banggakan dalam pidato itu. Maka peluang negara kita jadi “korban dikerjain” para pemain ekonomi China sangat besar.

** Dalam situasinya yang semakin terdesak, dan mulai terlihat kerapuhan ekonominya, China cepat mencari sumber-sumber potensi ekonomi yang bisa memperpanjang usia “euphoria pertumbuhan ekonomi” mereka. Tentu saja mereka melihat semua itu ada di Indonesia. Indonesia punya: Sumber energi, kekayaan hayati, barang tambang, pasar domestik, dan lain-lain.

** Rakyat Indonesia dinilai letoy oleh semua bangsa-bangsa asing, termasuk China. Tidak mesti dari masalah power fisik ya, tapi lebih ke KARAKTER yang sulit diandalkan.

** JADI singkat kata, China butuh tempat bersandar untuk ekonominya yang mulai goyang-goyang. Sementara Amerika juga butuh negara kita dan ASEAN, untuk mem-back up pengaruh Krisis 2008 yang belum pulih sepenuhnya. Ya begitulah. Orang lain bertempur di arena persaingan ekonomi; sementara kita hanya jadi penonton.

** Seperti dua gajah sedang berkelahi, seekor kelinci tergencet di antara keduanya…

** Kita memohon keselamatan kepada Allah dalam urusan agama, dunia, dan akhirat. Amin.

(Mine).

 


Sedekah Kucing…

Agustus 30, 2015
Sedekah Mengasihi Makhluk Allah...

Sedekah Mengasihi Makhluk Allah…

Dulu sy mengira “kucing makan ikan asin”. Ternyata itu salah. Hakikinya, kucing makan daging, ikan, atau tulang. Kalau makan ikan asin, bulunya mudah rontok.
==
Unik juga, ternyata kucing mau makan nasi. Asal nasinya dicampur ikan. Misal ikan tongkol. Dengan begini kucing jadi gemuk-gemuk. Pernah terjadi, saat ikan lagi habis, di mangkok ada nasi, ee ternyata dimakan juga sama dia. Sudah “sugesti” kali ya…
==
Kalau punya kucing, kita setiap hari harus menyediakan makan. Misal beli ikan tongkol, atau makanan khusus kucing. Tentu harus ada duitnya. Bahkan nyengaja belanja.
==
Belum lagi kalau kucing eek di rumah atau pipis. Kita juga yang harus membereskan.
==
Kadang si kucing kotor banget. Kita harus bersihkan. Cuci badannya. Nantinya harus dikeringkan dg handuk/lap.
==
Capek juga ya…
Kita dapat tugas tambahan…
Tidak komersil lagi…
Belum lagi baunya…
==
TAPI ada kiatnya untuk mengatasi semua itu. Caranya: NIATKAN SEDEKAH UNTUK MAKHLUK ALLAH SWT. Kalau berasa berat sedekah ke manusia; moga tidak berat sedekah ke kucing atau binatang piaraan lain.
==
Kata Nabi Saw: “Kullu ma’rufin shadaqah” (stiap kebaikan dinilai sedekah). Berbuat baik kepada siapa pun, akan mendatangkan pahala di sisi Allah.

(SupervisorEmpus).


Lebih Baik Jadi Muslim Awam, Jika…

Agustus 30, 2015

Lebih baik menjadi Muslim awam, tetapi hatinya ada cinta (mawaddah) dan sayang (rahmah) ke sesama Muslim. Lalu dia membawa cinta itu sampai saat wafatnya.

Daripada Anda punya banyak ilmu, hafal kitab-kitab, hafal qaul ulama, mahir dalam segala medan perdebatan; tetapi di hati tersimpan BENCI dan DENDAM ke sesama Muslim.

Bila Anda wafat sambil membawa dendam ke sesama Muslim, duh sangat berat hisab yang akan Anda dapatkan nanti. Bisa-bisa amal Anda hancur lebur karena BENCI dan DENDAM itu.

Wafatlah Sambil Membawa CINTA ke Sesama Muslim

Jangan Engkau Wafat Melainkan Membawa CINTA ke Sesama Muslim

 

INILAH karakter Nabi kita Saw terhadap Ummatnya: “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri; terasa berat baginya penderitaan kalian; sangat mengharapkan keselamatan kalian; dan terhadap orang-orang Mukmin sangat santun dan penyayang.” (At Taubah: 128). Maka tidak heran jika sampai akhir hayatnya, Nabi Saw terus gelisah, “Ummati ummati.

Dalam ayat lain: “Muhammad Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya -para Shahabat Ra- sangat tegas kepada kaum kafir dan sangat pengasih kepada sesamanya -Muslim-.” (Al Fath: 29).

Bahkan disebutkan doa khas para Shahabat Ra: “Rabbana ampuni kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam keimanan. Dan jangan adakan dalam diri kami kedengkian kepada orang-orang Mukmin. Rabbana sesungguhnya Engkau Maha Santun lagi Maha Pengasih.” (Al Hasyr: 10).

Mengapa setelah kita mengenal ilmu, mengenal Sunnah, mengenal Tauhid; justru malah tumbuh dengki dan permusuhan ke sesama Muslim? Ini sangat aneh. Pasti ada yang salah di sini.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengucapkan kaidah agung. Kata beliau: “Ahlus Sunnah hum a’lamu bis shawab wa arhamu lil khalqi” (Ahlus Sunnah itu lebih tahu tentang kebenaran, dan lebih pengasih kepada makhluk).

BUKAN berarti kita harus jadi awam terus. Tidak. Karena para ahli ilmu punya keutamaan besar. Hanya saja, hiasi pemahaman ilmumu dengan akhlakul karimah. Inilah jalan Ahlus Sunnah sejati. Ingat, kaum Khawarij disesatkan karena mereka KRISIS KASIH SAYANG ke sesama Muslim. Ingat itu ya.

INGAT juga, bila seseorang telah biasa mendengki dan memusuhi sesama Muslim; seringkali dihiaskan dalam hatinya kegemaran pada permusuhan itu. Na’udzubillah min dzalik.

Wal akhiru, Rasulullah Saw bersabda: “Irhamuu man fil ardhi, yarhamakum man fis sama’” (kasihi siapa yang di bumi, akan mengasihimu siapa yang di langit -Allah dan para Malaikat-).

Semoga manfaat. Wallahu a’lam bis shawaab.

(GreenLeaf).


Memahami Karakter Generasi Salaf

Agustus 30, 2015

Bismillah. Allah SWT memberikan kita panduan: “Wahai org-org beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah; dan janganlah mengikuti jalan-jalan setan, karena dia musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 208). Di sini dijelaskan bahwa konsep “Islam tidak kaffah” adalah jalan setan yang harus kita jauhi.

Dalam ayat lain: “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah, hingga agama ini seluruhnya murni untuk Allah.” (Al Anfaal: 39). Ternyata, kita diperintah menegakkan agama Allah, sampai tidak ada fitnah, sampai segala penghambaan hanya untuk Allah saja.

Dalam ayat lain, Allah berbicara tentang karakter Bani Israil: “Pergilah engkau Musa dan Tuhanmu, berperanglah kalian berdua, cukup kami duduk-duduk saja di sini.” (Al Maa’idah: 24). Bani Israil meskipun ilmunya banyak, tapi menolak Jihad.

MOMEN Jihad pertama dalam Islam adalah di lembah Badar. Saat itu Nabi Saw dihinggapi keraguan tentang komitmen para Shahabatnya. Lalu Ibnu Mas’ud Ra menegaskan, “Wahai Rasulullah, kami akan menyertai Anda dalam perang ini, dan kami bukan Bani Israil yang menolak berjihad.” Jawaban ini amat sangat menggembirakan hati Nabi Saw.

CIRI paling menonjol dari generasi Shahabat Ra adalah: a. Mereka mencari ilmu; b. Mereka bercepat-cepat melaksanakan ilmu; c. Mereka membangun ukhuwah antar sesama Muslim yang kuat; d. Dan mereka tidak memisahkan ilmu dari JIHAD. Hingga agenda Jihad itu menjadi obrolan sehari-hari. Sampai anak kecil pun ikut peduli. Itulah generasi SALAFUS SALEH.

Kemudian di era kekinian kita mendapati paham-paham yang aneh. Antara lain: “Gambaran Islam tanpa wibawa. Toleransi besar terhadap sekularisme. Menentang usaha-usaha penegakan Syariat. Memusuhi gerakan-gerakan Islam. Gemar sekali perselisihan dan keributan. Muncul phobia Jihad. Dan lain-lain.”

Sampai-sampai di antara mereka memusuhi PARA AKTIVIS ISLAM (Harakiyun) sebagai agenda utama; dengan tidak sedikit pun pernah merugikan kaum kufar. Intinya: memerangi saudara sendiri, dan membiarkan kaum kufar. Sifat kaum apa itu?

Karakter generasi Salafus Saleh telah terzhalimi sedemikian rupa.

Wallahul Musta’an wa ilaihi Mustaka.

(Willing).


Nasehat untuk Penuntut Ilmu…

Agustus 30, 2015

Bismillah. Ada suatu ungkapan dalam riwayat. Kira-kira maknanya: “Al Qur’an hujjatun lakum au ‘alaikum” (Al Qur’an bisa menjadi hujjah bagimu, atau menjadi hujjah untuk mengalahkanmu). Maksudnya, kita bisa berdalil dengan ayat-ayat Al Qur’an untuk membela pendapat kita. TAPI bisa juga kelak Al Qur’an akan menjadi lawan kita, karena kita tahu isinya, tapi TIDAK DIAMALKAN.

Banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita beramal. “Kullu ya’malu ‘ala syakilatih” (setiap orang hendaknya beramal sesuai keadaan masing-masing). Al Isra: 84. Yang semisal ini banyak.

Ilmu Tak Sebatas Info. Tapi Panduan Amal

Ilmu Tak Sebatas Info. Tapi Panduan Amal

Dalam Surat Al Jumu’ah, Allah SWT mencela kaum Bani Israil yang menyia-nyiakan ilmu dengan celaan keras. Mereka disebut sebagai “ka matsalil himari yahmilu asfara” (seperti keledai yang membawa kitab-kitab).

Rasulullah Saw sendiri memaknakan kata “al maghdhub ‘alaihim” dalam Surat Al Fatihah sebagai kaum Yahudi. Mereka cirinya, banyak ilmu tapi tidak diamalkan.

Juga ada peringatan tentang “kabura maqtan ‘indallah” (amat besar murka di sisi Allah); yaitu orang-orang yang mendakwahkan ini itu, tapi perbuatannya menyelisihi dakwahnya.

Ibnu Mas’ud Ra pernah menyebut salah satu keutamaan GENERASI SHAHABAT, yaitu mereka “paling ringan bebannya”. Maksudnya, mereka kelak di akhirat ringan hisabnya, karena beban keduniaan mereka lebih ringan.

Begitu juga BEBAN ILMU mereka ringan. Hanya sejumlah kecil Shahabat diberi karunia ilmu melimpah. Seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Aisyah, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin ‘Amru, dan lain-lain Radhiyallahu ‘Anhum. Itu di antara puluhan ribu Shahabat Nabi Ra. Umumnya Shahabat lebih menonjol pada perlombaan amal-amal saleh. Coba perhatikan kisah-kisah pribadi Shahabat, rata-rata berkisah tentang amal-amal kebajikan mereka.

Ada sebuah kisah tentang majelis taklim yang dibuka Ibnu Mas’ud Ra setiap hari Kamis. Suatu ketika murid-muridnya minta supaya hari belajar ditambah lebih banyak. Beliau menjawab kira-kira: “Wallahi, tidak ada masalah bagiku untuk memenuhi permintaan kalian. Tapi aku khawatir kalian akan bosan.” Hal ini menunjukkan makna kesederhanaan proses ilmu di kalangan Shahabat Ra.

MAKSUDNYA, ilmu yang kita kaji, pelajari, dalami; ia menuntut pengamalan. Tidak sekedar dimiliki, dipahami, lalu jadi sarana perdebatan. Apalagi jadi alat menzhalimi sesama Muslim.

BELAJARLAH pada sosok Shahabat Ra, meski ilmu terbatas, tapi tanggung-jawab amal mereka sangat besar. Itulah SALAF teladan kita yang terbaik.

Dan jangan sampai kita masuk “pusaran fitnah”. Ilmu yang kita peroleh tidak membuat kita berakhlak lebih baik. Itulah tanda “ilmu fitnah”. Karena kata Nabi Saw, tidak ada sesuatu yang paling mendekatkan seseorang ke surga, selain HUSNUL KHULUQ (budi pekerti yang baik).

Majelis di mana saja yang tidak membawa perubahan baik dalam akhlak; antum hindari. Tidak ada yang bisa diharapkan di sana.

Wallahu a’lam bis shawaab.

(Light).


Di Balik Wafatnya Ulama…

Agustus 30, 2015

Bismillah. Sejatinya, sosok seorang ulama TIDAK MELULU bisa dilihat dari karya-karyanya. Mereka bisa jadi punya “banyak kehebatan” yang tidak tampak dalam karya-karyanya.

Perspektif 1. Banyak ulama tidak mau mengungkap sisi kehidupan pribadi dalam karya-karyanya.

Perspektif 2. Dalam menulis, para ulama akan fokus di MATERI/ISI bukunya. Nah, di situ sering tidak terungkap karakter pribadinya. Hawanya “tampak serius aja”. Padahal bisa jadi dalam keseharian supel, hangat, senang humor, dll. Kita umumnya hanya menilai berdasar karya yang ada.

Duka di Balik Wafatnya Ulama

Duka di Balik Wafatnya Ulama

Perspektif 3. Sebagian besar ulama berkarya KARENA PERTOLONGAN ALLAH, bukan semata kemampuan pribadi. Kalau tak percaya… Mereka kalau disuruh membuat karya yang sama, tanpa melihat TEKS yang sudah ada, belum tentu mampu.

Perspektif 4. Hebat tidaknya karya ulama, tergantung AKHLAK yang bersangkutan di hadapan Allah Al A’la. Dari akhlak itu mereka diberi karunia DERAJAT ILMU sesuai rahmat-Nya.

Perspektif 5. Di luar karya-karyanya, ulama punya “dunia lain” yang tidak kalah indahnya. Itu biasanya akan diketahui oleh orang-orang terdekat, atau yang mengenalnya. Itu juga bentuk rahmat Allah dalam wujud berbeda. Seolah, Allah berbeda ketika membagikan rahmat dalam “karya” dan “kehidupan nyata”.

Wafatnya para komandan Ahrar Syam bisa dengan cepat diganti para komandan lain. Wafatnya Mulah Umar, cepat juga diganti Mulah Akhtar. Tapi wafatnya ulama dunia Islam…tidak secepat itu ada gantinya.

Wa maa kanallahu liyu’adz-dzibahum wa anta fihim” (tidaklah Allah akan menyiksa mereka, sementara engkau -Muhammad Saw- ada di tengah mereka). Al Anfaal: 33.

Rasul Saw: “Al ulama waratsatul anbiya‘” (ulama itu pewaris para Nabi). Kehadiran ulama, seperti kehadiran para Nabi. Menjadi sebab rahmat bagi kaumnya.

Wallahu a’lam bis shawaab.

(Rain).


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 228 pengikut lainnya.