REKONSTRUKSI SITUS

Maret 23, 2015

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Pembaca Budiman…

Tanpa disadari kami telah terjun di dunia media sekitar 15 tahunan, sejak tahun 2000-an. Untuk mengembangkan blog “Pustaka Langit Biru” ini telah mencapai waktu sekitar 7 tahunan (tepatnya sejak Mei 2008). Alhamdulillah walhamdulillah tsumma alhamdulillah atas setiap karunia Allah terhadap kami dan media “mungil” ini.

Upaya Rekonstruksi Media

Upaya Rekonstruksi Media

NAMUN setelah kami buka-buka kembali arsip lama, membaca postingan-postingan di masa lalu (dalam kurun 7 tahun terakhir), kami rasakan BETAPA PENTING untuk melakukan rekonstruksi atas media ini. Kami bermaksud untuk mensortir kembali tulisan-tulisan, memperbaiki konten, serta melakukan tata-ulang. Prinsip kami sederhana, yaitu REFORMASI dan REKONSTRUKSI. Maksudnya, melakukan perbaikan.

Hal ini perlu kami lakukan, agar publikasi dari media ini bisa jadi referensi, bahan bacaan, atau sekedar komparasi data bagi semua pembaca dan pengguna, insya Allah. Kami berpandangan, edisi TERBARU nanti adalah bentuk publikasi yang dianggap paling resmi dari kami. Publikasi yang saat ini ada, masih memungkinkan adanya perubahan, perbaikan, atau revisi.

Tentu saja, upaya ini akan MEMAKAN WAKTU. Tapi tak mengapa. Hal ini lebih baik daripada tanpa adanya koreksi, revisi, dan perbaikan. Semoga Allah Ta’ala menolong kami menunaikan niatan mulia ini, amin Allahumma amin. Mohon doanya, semoga segalanya berjalan lancar. Amin.

Terimakasih atas semua pengertian, kesadaran, dan semangat melakukan perbaikan. Mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Add-mine.

 


Jangan Takut Badai Politik…

Maret 23, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Badai politik adalah suatu tekanan kuat terhadap sistem perpolitikan di suatu negara. Arahnya bisa menjadi sebuah perubahan skema kekuasaan, bisa terjadi “perimbangan kekuatan” tanpa perubahan kekuasaan, atau bisa juga ia hanya menjadi konsumsi opini politik saja.

Sampai sejauh ini sebagian besar kaum Muslim di negeri kita berada dalam kondisi “tidak siap” dengan gejolak politik, atau “tidak mau”, bahkan “sangat takut”. Padahal kalau mau jujur, sebenarnya kita sebagai bangsa telah melewati banyak sekali “gempa politik”. Hampir setiap periode kekuasaan, bahkan setiap tahun, ada “gempa politik”. Nas’alullah al ‘afiyah.

Sering Terjadi Badai dalam Kehidupan Politik

Sering Terjadi Badai dalam Kehidupan Politik

Melalui pesan sederhana ini kami ingin menyampaikan agar kita, kaum Muslimin, tidak merasa galau, takut, atau panik dengan berbagai kenyataan politik di depan mata, sekalipun ia merupakan “badai politik” yang bisa mengubah skema kekuasaan secara drastis. Maksudnya, kejadian-kejadian semacam itu sangat mungkin terjadi dalam skala kehidupan politik sebuah bangsa.

Karena posisi kita lebih sebagai “obyek politik”, bukan “subyek politik” yang berperan menentukan warna dan konstruksi sebuah sistem kekuasaan; ya kita lebih banyak bersifat MERESPON. Ya bagaimana lagi, itulah kenyataannya.

Terkait upaya merespon ini, nasehat kami: jangan merasa takut dan gentar. Kita jalani kehidupan baik-baik saja, berlandaskan KEIMANAN kepada Allah Rabbul A’la, ketenangan, dan kewaspadaan.

Perubahan sangat mungkin terjadi dalam perpolitikan bangsa. Perhatikan saja, seseorang yang kemarin masih “menjadi walikota” kini sudah menjadi presiden. Bukankah ini adalah perubahan besar? Jika demikian, maka perubahan-perubahan ini memungkinkan terjadi lagi dan seterusnya.

Ada ayat yang sering menjadi nasehat bagi kita semua:

Wa man yakfur bit thaghuti wa yu’min billahi faqad istamsaka bil ‘urwatil wutsqa lan fishama laha wallahu sami’un ‘alim (dan siapa yang mengingkari segala sesembahan selain Allah, lalu dia beriman tauhid kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada tali yang amat teguh, tak akan putus selamanya, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). Surat Al Baqarah 256.

Dalam situasi apapun, kita harus TETAP BERPEGANG kepada Iman Tauhid kepada Allah Azza Wa Jalla. Maka hal ini merupakan pegangan yang sangat kuat dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bisshawaab.

(SilverPencil).


POLITIK Hati Nurani

Maret 20, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Apa itu politik “hati nurani”? Apakah ini semacam nama sebuah partai tertentu? Tidak, tidak sama sekali. Ini tidak terkait dengan partai politik; tapi ini semacam “politik luhur”.

Apa makna politik luhur?

Ya, kita berbicara tentang esensi kehidupan seorang insan di muka bumi. Untuk apa? Ya, untuk ibadah kepada Allah; memurnikan ketaatan kepada-Nya; tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Itulah tujuan esensi hidup manusia.

Menjalankan Politik Nurani

Menjalankan Politik Nurani

Politik luhur berorientasi ke sana. Ia memperjuangkan segala apa saja daya upaya dan rekayasa sosial, sehingga tercipta kultur kehidupan yang sehat, aman, nyaman, damai; bagi setiap insan untuk BERIBADAH kepada Allah Rabbul A’la.

Sejauh niat menuju kemuliaan ibadah insan itu ada, maka partisipasi siapa saja dalam politik, masuk kategori politik luhur. Tidak mesti meninggalkan posisi yang ada; tapi juga jangan larut dalam “lomba kekuasaan” yang kerap membuat insan politisi lalai dari tujuan semula.

Lalu apalagi?

Ya politik ini bermisi perbaikan. Mengupayakan kehidupan yang selalu lebih dan lebih baik. Semangatnya ishlah. Seperti dalam ungkapan: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini.”

Ada riwayat yang berbunyi: “Jaddidu imanakum bi laa ilaha illa Allah” (selalu perbaharui imanmu dengan kalimat dzikir laa ilaha illa Allah). Dalam kerja politik, seolah kita selalu diajak untuk memperbaiki cara, laku, dan strategi untuk membuahkan hasil LEBIH BAIK.

Mungkinkah dengan cara demikian akan lahir perubahan?

Jangan berkecil hati. Harapan baik selalu menjadi visi untuk dicapai. Jangan lelah berusaha, jangan berhenti berkarya. Perubahan akan terjadi, ketika kita sadar dan mengerti akan akar-akar perubahan itu sendiri.

RAHASIA. Selama ini ternyata sebagian besar “obrolan politik” kita hanya di level permukaan. Tidak menyentuh akar-akar perubahan sama sekali. Di level fundamental, kita belum memasukinya, atau bahkan malas memasukinya. Padahal di sana ada harapan menuju perbaikan.

Untuk berubah, kita butuh kesadaran publik. Kita butuh peran serta para pengusaha. Kita butuh para pendidik, para wartawan, serta tenaga-tenaga sosial. Kita butuh para agamawan, kita butuh dukungan pemegang senjata. Bahkan kita harus berbicara dengan petani, pedagang, nelayan, para pekebun. Juga kita harus diskusi dengan kawula ibu-ibu, gadis-gadis, penduduk desa, dan seterusnya.

Sejujurnya, investasi kita di sana sangat sedikit. Padahal di sanalah poin-poin the real change itu akan bergerak. Sebagian besar “energi politik” kita habis di meja obrolan, debat kusir, hingga saling olok-mengolok. Setelah itu semua selesai, beres, pulang kandang sendiri-sendiri. Besok saat bangun, tahu-tahu segala harga kebutuhan sudah pada naik. Stress-lah kita. Lalu solusinya, kita berdebat lagi, dan terus berdebat.

POLITIK nurani, menyambungkan kesadaran insan kepada Allah SWT; memperkuat kebersamaan dan saling tolong-menolong antar sesama Muslim; terus menebarkan kebaikan dengan tulus; sabar dalam mengubah kemunkaran; serta yang sangat penting adalah menanamkan benih-benih kebajikan di sektor-sektor vital (titik-titik perubahan sosial).

Berpolitik nurani? Ya, hayo. Come on. Mari kita lakukan… Semoga Allah Ta’ala membimbing rakyat dan bangsa ini menuju keadaan yang diridhai-Nya. Amin amin ya Rahmaan.

(WeStand).

 

 


Apakah “Wahabi” Sama dengan Syiah ???

Maret 17, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

* Di antara kebodohan orang zaman sekarang; meskipun gelarnya ustadz, kyai, habib, syaikh; adalah menyamakan hal-hal yang sejatinya tidak sama.

* Contoh, sapu dan spatula itu berbeda. Meski skilas bentuknya mirip. Maka sapu tidak boleh digabungkan dengan spatula, centong, sendok, garpu.

* Sebagian orang menyerang WAHABI dengan menyamakan ia dengan SYIAH IMAMIYAH (Rafidhah). “Awas bahaya Syiah, JIL, dan Wahabi,” kata dia. Sementara dia TIDAK MEWANTI-WANTI kebodohannya sendiri.

"Sampai Kapan Terus Membenci ???"

“Sampai Kapan Terus Membenci ???”

* Kalau orang mengerti Islam, berwawasan, tahu sejarah, dan sportif; pasti bisa bedakan antara Wahabi dan Syiah. Kalau tak mampu bedakan, berarti dia TAK MENGERTI realitas Umat Islam. Orang begitu, dalam poin ini, layak disebut JAHIL.

* Secara umum, Wahabi mengikuti MADZHAB FIKIH HANBALI. Secara dakwah, ia tak berbeda dengan gerakan-gerakan dakwah Islam di Mesir, Jazirah, India, Pakistan, bahkan di Nusantara. Hanya saja tidak membentuk ormas atau partai politik.

* Selanjutnya, mari kita jelaskan beda antara Wahabi dan Syiah. Ini sekaligus membantah omongan orang-orang sembrono itu.

[1]. Syiah punya Rukun Islam dan Rukun Iman sendiri (baca buku MUI tentang kesesatan Syiah). Sedang Wahabi konsep Rukun Islam dan Rukun Imannya sama dengan Muslim sedunia.

[2]. Syiah punya kota suci Najaf, Karbala, Qum. Sedang kota suci Wahabi adalah Makkah dan Madinah. Sama spt Muslim sedunia.

[3]. Syiah berkiblat ke makam-makam para imam Ahlul Bait. Sedang Wahabi berkiblat ke Ka’bah. Fakta, Ka’bah itu sndiri ada di negeri Wahabi.

[4]. Syiah meyakini Al Qur’an telah dipalsukan para Shahabat Nabi RA. Sedang Wahabi Al Qur’an-nya sama dengan Muslim sedunia. Fakta, bacaan Al Qur’an imam-imam Saudi sama dengan bacaan kita.

[5]. Syiah mengkafirkan Ahlus Sunnah. Sedang Wahabi tidak mengkafirkan Muslim. Mereka hati-hati dalam vonis takfir. Fakta, Umat Islam sedunia boleh Haji/Umrah secara bebas, tanpa dilarang.

[6]. Syiah mencaci maki Sahabat Nabi RA. Sedang Wahabi melarang caci maki Shahabat, hatta pada Muawiyah RA dan Amru bin Al Ash RA. Fakta, nama-nama masjid bantuan Saudi sering diberi nama Shahabat Nabi RA.

[7]. Syiah menyerang negeri-negeri Sunni. Sedang Wahabi berjihad membela negeri-negeri Sunni. Fakta, para Mujahidin Wahabi tersebar di kancah-kancah perang di mana-mana dalam rangka membela Ummat.

[8]. Syiah menghina, mendistorsi, memalsu hadits Nabi. Sedang ulama-ulama dan pendukung Wahabi giat menjaga dan membela hadits Nabi.

[9]. Syiah bukan bagian dari EMPAT MADZHAB SUNNI. Tapi ikut madzhab Syiah (JA’FARI). Sedang Wahabi kebanyakan mengikuti madzhab Imam Ahmad bin Hanbal (madzhab Hanbali).

[10]. Syiah divonis sesat dalam banyak masalah USHUL (pokok ajaran Islam). Sedang Wahabi dikritik rata-rata hanya pada tataran AKHLAK dan CARA BERDAKWAH saja. Itu bisa diperbaiki dengan nasehat, pembinaan, atau teguran. Beda skali dg kesesatan Syiah.

[11]. Syiah menganggap gerakan-gerakan dakwah seperti Ikhwan, Tabligh, Salafi, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dll sebagai MUSUH karena mereka SUNNI. Sedang Wahabi posisikan semua itu sebagai SAUDARA seiman; hanya berbeda-beda cara dakwahnya. Fakta, dewan ulama Saudi menerima smua itu sebagai bagian Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

[12]. Syiah mengajak smua orang tunduk pada komando imam syiah di Iran. Sering disebut WILAYATUL FAQIH. Sedang Wahabi mengajak smua orang HANYA TUNDUK kepada Allah dan Rasul-Nya.

[13]. Tatkala ada revolusi, Syiah menghancurkan rumah-rumah kaum Muslimin, toko-toko, pasar, rumah sakit, sekolah, dll. Kalau ada revolusi, paling Wahabi hanya akan meratakan kubur-kubur keramat.

[14]. Syiah mengajak manusia mengibadahi imam-imam. Sedang Wahabi mengajak kepada TAUHIDULLAH.

[15]. Dosa-dosa Syiah ada dalam tataran KEKAFIRAN. Sedang kesalahan-kesalahan Wahabi (jika ada demikian) rata-rata dalam perbedaan persepsi atau pendapat fikih saja. Mereka tidak masuk dosa-dosa kekafiran.

* PERHATIAN: Dosa-dosa kalangan Syiah, JIL, Ahmadiyah adalah dosa-dosa KEKAFIRAN. Sedang Wahabi tidak melakukan hal-hal seperti itu. Menyamakan Wahabi dengan Syiah, JIL, Ahmadiyah; sama dengan MENGKAFIRKAN Wahabi. Para pelakunya layak disebut TAKFIRI (tukang mengkafirkan). Mereka itu TAKFIRI tapi tidak sadar dirinya TAKFIRI.

* Demikian beberapa hal yang bisa disampaikan. Kalau seorang penuduh Wahabi tidak mengerti masalah-masalah ini; berarti dia JAHIL. Tak layak bicara di depan Umat.

* INTINYA, hanya orang “parah BGT” yang tidak mampu bedakan Wahabi dan Syiah. Di mata dia, sapu sama dengan spatula. Atau batu bulat sama dengan apel.

Semoga bermanfaat. Amin amin Allahumma amin.

(PointOfReturn).


Karakter Kaum Nusantara

Maret 17, 2015

* Nusa itu pulau. Antara ya antara. Maksudnya negeri yang penduduknya tinggal di gugusan pulau-pulau. Sama seperti Britania, Jepang, Filipina, dan lainnya.

* Setelah puluhan tahun terlibat dalam aktivitas sosial (berhubungan dg masyarakat), sedikit banyak kami dapat MEMBACA KARAKTER masyarakat negeri kita ini.

* Sebenarnya, secara teori kita sudah diberitahu tentang KARAKTER itu. Tapi di lapangan sering tidak cocok dg kenyataan.

* Di sini kami ingin berbagi. Semoga tulisan sederhana ini bisa memberi manfaat. Amin.

Berikut karakter khas ORANG NUSANTARA:

#1 SANGAT RAMAH DAN SOPAN. Ya ini karakter khas. Diakui semua kalangan. Termasuk keunggulan bangsa kita.

#2 HIDUP SECARA EMOSIONAL BUKAN ILMIAH. Emosional maksudnya, menuruti “apa yang enak di hati”. Soal baik atau buruk, itu nanti. Yang penting “enak di gue”. Sulit membangun karakter ilmiah. Beda dg umumnya bangsa Eropa. Kita bisa lama-lama dijajah, karena sikap ini.

Memahami Karakter Nusantara

Memahami Karakter Nusantara

#3 KURANG BERNYALI. Atau penakut menghadapi risiko. Beda dg orang2 Arab yang pemberani dan militan. Coba lihat, kalau ada gerakan perubahan, yang terlibat hanya mahasiswa saja. Itu pun biasanya yang IPK di bawah 2.

#4 LOYALITAS KURANG. Sekalipun ke kawan sendiri, atau kerabat sendiri, kurang loyal. Beda dengan orang China. Mereka loyal ke sesamanya. Kadang antar sesama malah menjatuhkan.

#5 KURANG PERCAYA DIRI. Ini masalah akut. Faktor fisik jadi alasan minder. Padahal orang China, Jepang, Korea, Mongol, Afrika Tengah, dengan kondisi lebih prihatin tetap percaya diri.

#6 BERJIWA RELIJIUS. Ini kelebihan dan keutamaan. Sejahat-jahatnya orang Nusantara, tetap ada insyafnya. Bila sudah nikah, bila sudah sepuh, timbul keinsyafan.

* Ada plus dan minusnya.

* Dari sini kami rekomendasikan beberapa hal:

a. Jangan terlalu menuntut ke masyarakat, nanti kita lelah sendiri; b. Berikan sesuatu yg nyata, bukan hanya teori; c. Jangan biarkan masyarakat ambil sikap sendiri, tapi harus diberi TELADAN BAIK; d. Terus menerus galakkan PEMBERDAYAAN, karena ia bisa perbaiki kelemahan; e. Manfaatkan kelebihan karakter untuk mencapai kemuliaan hidup di AKHIRAT (melalui dakwah).

Demikian, smoga manfaat. Mohon maaf atas smua kesalahan. Terimakasih.


Sudah Putus Asa…

Maret 17, 2015

* Seorang kawan menelpon lama. Dalam pembicaraan dia ngaku sudah skeptis dengan negeri ini. Dia sudah muak bicara karut marut dunia politik. Terus, dia sudah meyakini bahwa Indonesia sudah “tak ada”. Dia sudah siap terima kenyataan “negeri ini tiada”.

* Sambil bercanda, saya tanggapi. “Kalau sedang melihat foto elit politik dari kaum politisi busuk, baca saja: a’udzubillahi minas syaithonir rojiim.” Smoga dia paham apa maksudnya.

Ayo Tetap Semangat

Ayo Tetap Semangat

* Kawan ini background enginer, teknik sipil. Biasa berpikir tentang kalkulasi, analisis, logika proses, dll. Kmudian beliau terapkan dalam lingkup politik SAAT INI. Hasilnya…skeptis atau putus asa.

BEBERAPA SARAN:

1. Ketika melihat kondisi yang sangat prihatin, jangan buru-buru memvonis negeri ini hancur. Tapi BERDOALAH mohon KESELAMATAN kepada Allah. Contoh doa simple: “Ya Allah, selamatkan negeri kaum Muslimin ini. Beri hidayah kepada pemimpin dan rakyatnya untuk memperbaiki diri. Tolaklah makar orang-orang zhalim yang menghendaki kerusakan.” Baca doa seperti ini stiap selesai shalat. Itu sudah KONTRIBUSI POLITIK. Namanya “politik langitan” atau “politik transenden”; maksudnya, minta pertolongan pada ALLAH Jalla Jalla Luhu.

2. HINDARI orang-orang bodoh yang bicara politik. Maksudnya, hindari omongan politik MINUS IMAN. Siapa pun juga yang ngomong politik apakah Ketua MK, anggota DPR, pakar ekonomi, media massa, pengamat politik, pakar akademisi, aktivis twitter, paranormal, pakar hukum, lembaga surve, dll. Kalau dalam omongannya tidak ada kata “Allah dan Rasul-Nya”, maka tinggalkan omongan mereka. Samakan omongan mereka dengan “suara jangkrik”.

“Wa idza khotobal jahiluna qolu salama” (kalau orang-orang jahil berbicara, mereka (orang saleh) cukup bicara yang baik-baik saja).

3. BANYAK-banyaklah berpikir, berbuat, berkontribusi kebaikan; dengan niat amal saleh. Jangan pedulikan kondisi politik karut marut. Kontribusi ini akan MEMPERPANJANG UMUR KEBAIKAN di tengah masyarakat. Tentu kontribusi semampunya saja. Ikhlas. Jangan banyak Selfie (RIYA’).

4. KALAU mau lakukan kontribusi politik, untuk perbaikan. Boleh. Tapi harus “berani syahid”, cerdas bertindak, dan kuat mental. Ancaman maut, dijebak, dan tekanan psikologis jadi risiko. Kalau modal tanggung, jangan. Sebaiknya banyak berdoa saja.

* JADI dalam kondisi seburuk apapun, peluang berbuat baik tetap ada. Tidak pernah tertutup. Peluang tertinggi MERAIH SYAHID, dengan menantang sekian risiko. Peluang moderat, terus menebar kebajikan tanpa lelah. Peluang termudah, BERDOA kepada Allah SWT. Tapi harus sabar dan kontinue.

* HINDARI media-media yang hanya bikin stress saja. Banyak-banyak BACA Al Qur’an, berdzikir, baca fikih, baca Sirah Nabawi dan Sejarah Khulafaur Rasyidin.

* Demikian saran dari kami. Jangan putus asa ya. Kalau Anda putus asa, nah itu yang dituju oleh setan-setan. Setan menggoda ke sana. Na’udzubillah min kulli dzalik. Terimakasih.

(WeAre).


Diskusi Seputar Kitab AL IBANAH Imam Al Asy’ari

Maret 17, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Karya Besar Imam Asy'ari

Karya Besar Imam Asy’ari

Saat menyusun buku “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara” sengaja kami tidak membahas kitab Imam Al Asy’ari, Al Ibanah ‘An Ushulid Diyanah. Dalam pandangan kami waktu itu, kitab ini masih diperselisihkan. Oleh sebagian pendukung Imam Asy’ari, kitab itu dianggap dipalsukan atau terdistorsi. Maka untuk menghindari perselisihan, kami tinggalkan kitab tersebut.

Alhamdulillah, tuduhan distorsi itu menggerakkan sebagian penuntut ilmu untuk melakukan kajian ulang atas kitab Al Ibanah. Hasilnya, mereka buat kesimpulan penting. Kesimpulan itu didukung oleh sebuah disertasi doktoral setelah meneliti manuskrip-manuskrip asli kitab tersebut.

Berikut ini adalah beberapa link kajian ilmiah tentang kitab Al Ibanah tersebut. Sangat baik dan cukup lengkap. Silakan kaji dan baca dengan tekun dan sabar. Semoga Allah Ta’ala memberi kita ilmu, hidayah, dan sifat rahmat dalam kehidupan. Amin.

SIMAK link berikut:

[1]. http://lamurkha.blogspot.com/2015/03/mereka-membenci-kitab-al-ibanah-karya.html

[2]. http://lamurkha.blogspot.com/2015/03/mereka-membenci-kitab-al-ibanah-karya_11.html

[3]. http://lamurkha.blogspot.com/2015/03/al-imam-abul-hasan-al-asyariy-asyaairah.html

Silakan pembaca simpulkan sendiri. Terimakasih.

(WaterFlow).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 198 pengikut lainnya.