REKONSTRUKSI SITUS

Maret 23, 2015

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Pembaca Budiman…

Tanpa disadari kami telah terjun di dunia media sekitar 15 tahunan, sejak tahun 2000-an. Untuk mengembangkan blog “Pustaka Langit Biru” ini telah mencapai waktu sekitar 7 tahunan (tepatnya sejak Mei 2008). Alhamdulillah walhamdulillah tsumma alhamdulillah atas setiap karunia Allah terhadap kami dan media “mungil” ini.

Upaya Rekonstruksi Media

Upaya Rekonstruksi Media

NAMUN setelah kami buka-buka kembali arsip lama, membaca postingan-postingan di masa lalu (dalam kurun 7 tahun terakhir), kami rasakan BETAPA PENTING untuk melakukan rekonstruksi atas media ini. Kami bermaksud untuk mensortir kembali tulisan-tulisan, memperbaiki konten, serta melakukan tata-ulang. Prinsip kami sederhana, yaitu REFORMASI dan REKONSTRUKSI. Maksudnya, melakukan perbaikan.

Hal ini perlu kami lakukan, agar publikasi dari media ini bisa jadi referensi, bahan bacaan, atau sekedar komparasi data bagi semua pembaca dan pengguna, insya Allah. Kami berpandangan, edisi TERBARU nanti adalah bentuk publikasi yang dianggap paling resmi dari kami. Publikasi yang saat ini ada, masih memungkinkan adanya perubahan, perbaikan, atau revisi.

Tentu saja, upaya ini akan MEMAKAN WAKTU. Tapi tak mengapa. Hal ini lebih baik daripada tanpa adanya koreksi, revisi, dan perbaikan. Semoga Allah Ta’ala menolong kami menunaikan niatan mulia ini, amin Allahumma amin. Mohon doanya, semoga segalanya berjalan lancar. Amin.

Terimakasih atas semua pengertian, kesadaran, dan semangat melakukan perbaikan. Mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Add-mine.

 


Setelah 15 Tahun Aktif di Media

April 17, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada imam kaum Muslimin, Rasulullah Muhammad SAW, keluarga dan para Shahabatnya semua.

Bukan waktu yang pendek bagi kami dalam kiprah di media. Sekitar 15 tahunan. Tentu ia waktu yang sangat cukup untuk merasakan suka-duka, manis-pahit, pasang-surut dunia media.

15 Tahun Jadi Jurnalis Tanpa "Blue Card"

15 Tahun Jadi Jurnalis Tanpa “Blue Card”

Tambahan lagi, dari pengalaman ini banyak POIN penting yang bisa disimpulkan terkait karakter masyarakat dan bangsa kita, khususnya dilihat dari sisi kebudayaan media. Di sini kami ingin berbagi. Terlepas soal setuju atau tidak, namun inilah sebagian yang kami ketahui –lewat pengalaman-.

Kami mulai aktif di media, sekitar tahun 2000-an. Pada tahun 1996 atau empat tahun sebelumnya, saya memutuskan mundur kuliah di Faperta Unpad. Tahun 1998, isteri lulus sebagai sarjana pendidikan dari IKIP Bandung.

Media yang saya terjuni beragam. Mulai dari forum diskusi online di Myquran.com; menulis di majalah-majalah Islam (seperti Sabili dan Saksi); menulis di media online Muslim; menulis di koran Republika, Pikiran Rakyat, Galamedia; aktif di media sosial (Facebook); aktif di media blog; menjadi narasumber siaran radio, dan lainnya.

Tahun 2000-an itu saya ikut merintis siaran kajian Islam oleh Ustadz Abu Yahya Purwanto, di Radio Ummat, milik Pesantren Daarut Tauhiid Bandung; bersama teman-teman di Nurul Ilmi Geger Kalong. Juga sempat membantu menerbitkan buletin “Jalur Sutra” yang diterbitkan Yayasan Lautze II Bandung, di Jalan Tamblong (dekat monumen Persib), sampai beberapa edisi. Mencetak buletin TK Khas Daarut Tauhiid, juga sempat mengedarkan buletin milik sendiri.

Tahun 2008 ketika merebak isu “Insiden Monas”, saat itu para aktivis FPI melakukan aksi kekerasan kepada komunitas AKKBB di Monas. Kami menurunkan tulisan berjudul “Bersikap Adil Kepada FPI”. Nantinya, judul tulisan ini menjadi inspirasi penulisan buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi”; meskipun kalau melihat tulisan-tulisan Ustadz Rizieq Shihab, cenderung antipati kepada Wahabi. Entahlah, mengapa untuk seorang faqih seperti tak bisa membedakan antara Wahabi dan Syiah; kedua entitas dianggap sama. Nas’alullah al ‘afiyah.

Tahun 2002-an, perusahaan MQ menjalin kerjasama publikasi dengan Republika, mengelola dua halaman penuh, sepekan sekali. Sebagai manajer redaksi MQ Publikasi waktu itu saya rutin menulis di media ini. Kalau dihitung mungkin lebih dari 30 artikel yang saya tulis di sana. Salah satu dampak dari sebagian tulisan itu, kami diminta mundur dari MQ. Permintaan mundur disampaikan oleh Bos Inter Milan saat ini, ya Anda tahulah.

Boleh percaya boleh tidak, ketika merebak gerakan reformasi di Malaysia, kami menulis suatu tulisan berjudul “Setangkai Nasehat untuk Muslim Malaysia” (Belajar dari Kegagalan Reformasi di Indonesia). Kalau tidak salah begitu judulnya. Tulisan itu mendapat perhatian serius di negeri jiran, karena isinya berlawanan dengan ide reformasi yang diserukan oleh Datuk Anwar Ibrahim. Inti tulisan tersebut adalah: mengajak kaum Muslimin Malaysia untuk tidak terburu-buru menanggapi isu reformasi, khawatirnya mereka akan mengalami kondisi seperti yang terjadi di Indonesia; setelah reformasi, ternyata kondisi yang muncul jauh lebih buruk dari sebelum reformasi.

Masih terkait Malaysia. Kami pernah menyusun beberapa artikel bertema “ESQ Memang Bermasalah”. Artikel ini dimuat di Voa-islam.com secara berturut-turut. Dan artikel ini mendapat perhatian serius dari Mufti Persekutuan Malaysia, yang kemudian mendakwahkan bahwa ajaran ESQ melanggar prinsip-prinsip Syariat. Bahkan kami waktu itu sempat terjadi komunikasi via email dengan Sang Mufti –semoga Allah meneguhkannya di atas Syariat-.

Jauh sebelumnya, kami pernah menulis tulisan kritis terkait “Tragedi Pembunuhan Kyai di Banyuwangi”. Kejadiannya sekitar tahun 1996. Tulisan itu menanggapi liputan RCTI dari Banyuwangi; presenternya kami masih ingat namanya, Dian Islamiati. Tulisan ini meskipun tidak terpublikasikan, tapi merupakan sebuah track ketertarikan pada “teori konspirasi”. Seringkali, kejadian kekerasan yang massif di tengah masyarakat, tidak terjadi secara kebetulan, tapi by design. Tapi nanti seiring waktu, kejadian-kejadian begitu akan dilupakan, pelakunya pun “dilupakan” juga. Seolah begitu murah harga nyawa dan kehidupan di negeri kita.

Semua ini sekedar catatan tentang kiprah media yang pernah kami jalani. Meskipun tidak pernah memegang “blue card”, tapi berbagai macam pekerjaan media telah pernah kami lakukan. Misalnya, menulis artikel, wawancara, memuat image, feature, makalah, dan lain-lain.

Alhamdulillah cita-cita menjadi “journalist” tercapai, dengan caranya sendiri. Ini benar-benar jurnalis independen, lebih “khusushon” dari anggota AJI, karena tak pernah memegang “press card”. Bahkan sifatnya lintas media. Tidak dibatasi formalitas satu media saja.

Selanjutnya, mari masuk pesan utama tulisan ini, tentang kesan-kesan atau kesimpulan seputar karakter masyarakat kita terkait kebudayaan media. Apa yang disampaikan di atas adalah semacam “preambule” sebelum masuk pesan inti.

Tapi sebelumnya perlu kami jelaskan, posisi kami selama ini adalah aktivis media Muslim; dan tulisan ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan personal. Sangat mungkin ada subyektivitas atau penilaian yang mengandung unsur keterbatasan pribadi. Untuk memverifikasinya, silakan merujuk kepada hasil-hasil penilaian pihak lain.

Berikut beberapa kesimpulan yang kami dapatkan setelah berkecimpung di dunia media, sekitar 15 tahunan:

[1]. Masyarakat bawah di negara kita (grass root) cenderung kurang menghargai ide-ide, gagasan, atau informasi berharga. Mereka lebih cenderung menyukai hiburan dan santunan sosial. Jika mereka terlibat aktivitas ilmiah, umumnya karena tuntutan akademik (sekolah) dan atas dasar “keterpaksaan”.

[2]. Masyarakat lapis menengah di negara kita cenderung menyukai isu-isu, opini, perdebatan; tapi kurang memiliki daya untuk merealisasikan gagasan-gagasan positif dalam kehidupan nyata. Akhirnya lebih suka “ngobrol dan debat” daripada “ingin berubah”.

[3]. Sangat sulit melahirkan perubahan sosial di negara kita, bila tidak memiliki pengaruh kuat di tiga sektor: media mainstream, aparat hukum, dan pejabat birokrasi. Siapa yang memiliki power kuat di ketiga sektor tersebut, lebih berpeluang merealisasikan perubahan yang dia inginkan.

[4]. Secara umum, kaum Muslimin di negeri kita saat ini –dengan berbagai entitasnya- menempati posisi sebagai konsumen media, atau reaktor media. Maksudnya, lebih banyak “bereaksi” atas isu-isu media yang muncul. Kurang memiliki kemampuan membuat opini atau mengarahkan; tidak berdaya menjadi trend setter; apalagi sampai membuat kultur baru.

[5]. Banyak di antara kaum Muslimin lebih suka “isu konflik” dan mengabaikan “misi pemberdayaan”. Ini kami rasakan sangat memprihatinkan. Entahlah bagaimana cara memperbaikinya. Yang jelas, kecenderungan seperti itu sangat buruk. Seandainya kita benar-benar suka konflik, suka perang, tetap saja di sana dibutuhkan aneka jenis kekuatan. Malahan kebutuhan untuk perang itu melebihi kebutuhan untuk sektor-sektor perdamaian. Kalau hanya hobi “isu konflik” tanpa mau mempersiapkan diri atas konflik itu, ya sama saja dengan karakter Bani Israil. Mereka banyak bicara, tapi tak punya nyali berperang.

Demikianlah beberapa poin penting yang kami dapati setelah aktif sekian lama di media. Sengaja kami menulis singkat-singkat, tidak dijelaskan panjang lebar; agar pembaca menelaah sendiri kesimpulan tersebut. Betul atau salahnya, silakan dikaji atau didiskusikan.

Kami tulis hal ini sebagai NASEHAT bagi kaum Muslimin semuanya. Setidaknya menjadi INTROSPEKSI bagi kami sendiri. Apakah akan mempertahankan cara-cara demikian atau coba melakukan langkah perubahan? Di sini ada tantangan sangat serius.

Kami tidak mau berdebat. Siapa yang setuju, silakan diambil; siapa yang tidak setuju, silakan abaikan. Cukuplah pengalaman panjang ini sebagai nasehat berharga bagi kami, dan sekaligus dorongan melakukan perbaikan, dengan izin Allah Ta’ala.

Dari hal ini juga kami bermaksud untuk melakukan rekonstruksi terhadap situs blog ini, dengan niatan melakukan perubahan-perubahan, serta meminimalisir hal-hal yang bisa merugikan.

‘Ala kulli haal, terimakasih atas perhatian dan kesediaan menelaah tulisan ini. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan. “In uridu illal ish-laha masta-tho’tu” (tiadalah yang aku inginkan, melainkan melakukan perbaikan, sekuat kemampuanku). Billahi hidayah wat taufiq, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Tatar Pasundan, 17 April 2015.

AM. Waskito.


Perih dalam Bertahan…

April 15, 2015

* Banyak org salah mengerti. Mereka menuduh dari kejauhan. Mereka menetapkan gelar ekstrem, radikal, garis keras; sambil tidak paham.

 * Sejujurnya… Lelah skali dengan perselisihan. Debat. Balas-balasan. Serang-serangan. 

* Fithrah kita merindukan damai, tenang, bersaudara, harga-menghargai, saling bantu & kerjasama.

* Coba renungkan kehidupan SURGAWI… Apa di sana penuh dengan amarah, dendam, kebencian; debat, serang-serangan, bom-boman? Jawabnya adalah: “laa yasma’una fiha laghwa wa laa ta’tsima, illa qilan salama salama.” (Al Waqi’ah 25-26).

* Sejatinya kita lebih suka suasana damai, tenang, sentosa. Spt doa yang sering kita baca unt Rasulullah Saw: “Ya Allah limpahkan salam, damai sentosa…baginya.”

* TAPI betapa banyak orang menyerang. Betapa lebat panah dusta & fitnah. Betapa kejam permusuhan pada Syariat. Betapa banyak darah dan tulang UMMAT berhamburan di bawah laras-laras kezhaliman. Betapa perih agenda konspirasi, ekstra konspirasi, serta ultra konspirasi…demi melumpuhkan nafas agama.

* Posisi kami lebih banyak BERTAHAN, membelai, menjaga hak-hak khusus & umum. Mereka slalu memulai, kembali & kembali memulai. Kami sebatas bertahan…

* Ya Allah, kami rindukan damai & tenang bagi Ummat ini. Tapi mereka terus MENGOBAR API. Ya Allah, pada-Mu kami pasrah & berlindung.

* Mungkin inilah yang disebut Nabi Saw sebagai “qabdhi ‘alal jamri” (menggenggam bara api). Kalau bara dilepas, api padam; kalau terus digenggam, tangan hangus.

* Kita tak suka berselisih. Tapi DIPAKSA TERUS berselisih. Bila tidak angkat bicara, agama kan ditikam; bila angkat bicara kita babak belur. Wallahul Musta’an.

* Biarlah…manusia tahu, bahwa kami hanya bertahan, melindung diri, menjaga hak-hak.

* Pahamkan hati-hati mereka ya Rabbi ya Rahmaan ya Malik; agar mencintai KEDAMAIAN ISLAM lebih dari lainnya. Amin amin ya Allah.

(WaterFlow).  


Akhlak Mencari Rezeki

April 15, 2015

Jibril As pernah berpesan pada Nabiyullah Saw:

Lan tamuta nafsun hatta tastakmila rizqaha, fattaqullah fa’ajmiluu fit thalab. Wa laa yahmilannakum istibtha’ar rizki an tath-lubuhu bi ma’shiyatillah, fa inna maa ‘indallahi laa yunalu illa bi tha’atihi.”

ARTINYA: Tidaklah seseorang meninggal, kecuali disempurnakan rizkinya. Maka itu takwalah kpd Allah dan indahkan caramu mencari rizki. Jangan karena lambatnya rizki membuatmu mencarinya dg maksiat kpd Allah; karena apa yang di sisi Allah tidak akan dicapai, selain dg taat kpd-Nya.

(Disebut Ibnul Qayyim dalam Za’adul Ma’ad, tanpa nama imam perawinya).

Nabi Zakariya cari rizki dg menjadi tukang kayu. Nabi Dawud, cari rizki dg tangannya sendiri. Habil menjadi penggembala ternak. Rasulullah Saw sbg pedagang. Nabi Musa menggembala ternak. Dan lain-lain. 

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.


Wahabi dan Tuduhan “Tanduk Setan”

April 15, 2015

Bismillahi laa haula wa laa quwwata illa billah. Bi nashrika ya Arhama Rahimin.

* Sangat sedih ketika sampai saat ini masih berseliweran tuduhan bahwa Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahab adalah “tanduk setan” seperti yg disebut dlm hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu tuduhan itu diarahkan ke pengikut dan simpatisan dakwahnya.

* Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa akan muncul tanduk setan dari “arah timur madinah”. Ada juga disebut kata “dari Najd”. Karena Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab berasal dari Najd, maka dakwah beliau dituduh sbg “qarnus syaithon” (tanduk setan).

* Ya kita tahulah siapa-siapa yang terus menyebarkan tuduhan itu. Tapi demi keutuhan MUSLIMIN, mereka tak perlu disebut. Cukup dibantah kebathilan tuduhan mereka.

* Ada ulama-ulama yg membantah dg dalih NAJD = IRAK. Kami tidak memakai metode itu. Biarlah kita maklumi Najd ya wilayah pedalaman Saudi, atau arah timurnya Madinah. Biar begitu saja, lebih mudah diskusinya. 

BANTAHAN…

 (1). Ketika Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebut hadits “tanduk setan”, apa beliau sebut siapa TOKOH/PERSON yang dimaksud sebagai “tanduk setan” itu? Apa beliau sebut jika “tanduk setan” itu adalah Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab? Tidak ada kan bukti-bukti bahwa Nabi tunjuk hidung ke Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahhab?  Lha kenapa kok banyak orang lancang menuduh Syaikh sebagai “tanduk setan”? Apa mereka lebih tahu dari Nabi dan lebih mulia dari beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam?

(2). Tuduhan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sbg “tanduk setan” adalah fitnah dan su’uzhon. Mengapa? Karena beliau Muslim, tidak pernah murtad dari agama. Si penuduh tak punya dalil Kitabullah dan Sunnah yg menunjukkan bahwa “tanduk setan” itu adalah beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab). Ini hanya prasangka busuk. “Innaz zhanna laa yughni minal haqqi syai’an” (prasangka itu tak ada gunanya bagi kebenaran sedikit pun).

(3). Person “si tanduk setan” pastilah orang jahat, sesat, kafir. Tidak ada kebaikan Islam padanya. Para ulama sebutkan, mereka adalah oknum-oknum NABI PALSU seperti Musailamah, Sarjah (Nabi palsu wanita), dll. Memang mereka muncul di pedalaman Najd. Tapi ingat eranya era Salaf (zaman Khalifah Rasyidah). Sdgkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab muncul dakwahnya abad 18 M. Jauh skali jarak waktunya. Meski sama-sama di Najd.

(4). Tuduhan “tanduk setan” itu sifatnya PERSONAL, KOMUNITAS, atau SEBUAH BANGSA? Kalau ia bersifat personal, mengapa para pendukung atau simpatisan dakwah Wahabi terkena buruknya tuduhan itu juga? Kalau sifatnya komunitas atau bangsa, apa DALILNYA? “Haatuu burhanakum in kuntum shadiqin” (tunjukkan bukti kalian, kalau kalian benar!).

 (5). Tidakkah para penuduh “tanduk setan” itu sadar bahwa tuduhan tersebut adalah TAKFIR? Apa Anda tidak sadar? Ketika tuduhan “tanduk setan” diarahkan ke sesama Muslim, itu jelas TAKFIR. (Anda bisa dicap radikal, tukang mengkafirkan, teroris). Kecuali kalau tuduhan itu diarahkan ke orang-orang yg nyata-nyata murtad/kafir; itu bisa jadi cocok. TERNYATA, mereka hobi TAKFIR juga ya. Katanya Sunni, kok hobi mengkafirkan? 

(6). Andaikan sebutan “tanduk setan” itu berlaku bagi bangsa NAJD secara mutlak, dari dulu sampai kini; apakah ia berarti Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam telah memvonis kafir orang Najd secara mutlak? Jika demikian, tunjukkan dalil kalian bahwa Nabi telah memvonis kafir smua penduduk Najd? Jika tidak ada dalil, TAKUTLAH kalian dari menyelewengkan hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam untuk membuat fitnah. Lihatlah Nabimu bersikap lembut pada Arab Badui (kaum Najd), beliau nasehati, doakan, diajari, serta dilembuti. Itu akhlak Nabimu! Bukan hobi mengkafirkan kaum Muslimin.

(7). Kalau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dituduh sebagai “tanduk setan”, padahal sebelum dakwah beliau BERGURU ke Irak, Makkah, Madinah, Syam. Berarti ulama-ulama di kota-kota tersebut adalah “gurunya tanduk setan”? Jika demikian, di mana lagi masih ada Islam kalau para ulama dituduh “inspirator tanduk setan”? Tuduhan ke murid, pasti mengena ke guru; sdikit atau banyak.

(8). Secara jelas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memilih madzhab fikih HANBALI. Ia merujuk pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Itu yang dipakai Saudi SAMPAI HARI INI. Tidak ada yang mengingkari ini, kecuali jahil. Nah, apa tuduhan “tanduk setan” tersebut ujungnya mengenai Imam Ahmad? Bagaimana jawabmu wahai penuduh? Apa masih tersisa rasa malu di sana, ya ikhwah?

(9). Secara pemikiran, dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah ORIGINAL. Beliau banyak merujuk pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Ibnu Rajab, Ibnu Qudamah, Adz Dzahabi, Asy Syathibi, Ibnu Hazm; imam-imam madzhab, imam-imam hadits. Apa mereka semua TEGA KALIAN TUDUH sebagai “tanduk setan”? Astaghfirullah, smoga mereka lekas taubat. Lalu membersihkan lisan & tulisannya.

(10). Bantahan paling kuat: Tunjukkan bukti-bukti, dalil, atau argumen bahwa dakwah Wahabi telah MELANGGAR SYARIAT, MENYIMPANG DARI KITABULLAH & SUNNAH, serta TELAH LAYAK DISEBUT KAFIR/SESAT. Tunjukkan bukti-bukti Syariat atas kesesatan kaum yang dituduh Wahabi saudara!

(11). Pilar dakwah Wahabi adalah TAUHID dan SUNNAH. Tauhid berarti tidak kafir dan syirik. Sunnah berarti tidak bid’ah. Apa ini salah? Bukankan Syahadat “laa ilaha illa Allah” maknanya TAUHID? Dan Syahadat “Muhammad Rasulullah” maknanya SUNNAH? Apa yang salah agamu sendiri? Apa engkau BERSYAHADAT tapi tidak mengerti maksudnya?

(12). Terakhir, kaum Wahabi telah menjadi penyelenggara Haji/Umrah sejak tahun 1920-an. Sudah ratusan juta manusia melaksanakan ibadah itu. Bagaimana status ibadah ini kalau penyelenggaranya “si tanduk setan”? Sah atau batal Pak? Mengapa para penuduh tidak menghentikan lalu lintas manusia ke sana?

* Nah, di sini dapati kesimpulan, tuduhan “tanduk setan” pada Muslimin NAJD itu: sangat ngawur, emosional, dan dosa sangat besar. Itu fitnah, tidak sesuai arah hadits Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Itu TAKFIR, sangat berbahaya. Dan orang yang menunggangi tuduhan itu sama dengan hendak MENGHAPUSKAN ISLAM di bumi Najd. Mereka lebih ekstrem dari Khawarij. Khawarij hanya mengkafirkan pelaku dosa besar; sedang mereka mengkafirkan semua yang lahir di Najd. Kalau Anda lahir di Najd, kebetulan Anda istimewa dan punya pandangan berbeda dengan mereka; Anda dapat divonis: Si Tanduk Setan. Astaghfirullah al ‘azhim. 

* Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sangat lembut pada orang-orang Arab Badui, tapi para penuduh ingin MENGKAFIRKAN SMUA YANG LAHIR DI NAJD.

Akhirul kalam: Subhanallah, wastaghfiruhu, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sumber: dikopi dari akun facebook saudara Heru R, asal Surabaya. 


Raja Saudi dan Perang

April 15, 2015

Bismillahir rahmanir rahiim. 

>> Dr. Musa Alu Nashr mengungkapkan rasa suka citanya melihat Saudi memimpin pasukan koalisi ke Yaman.

>> Apa yg beliau rasakan, tidaklah berlebihan. Itu sesuai hikmah sejarah yg panjang.

>> Sejatinya, raja Saudi yg mahir perang adalah Raja Abdul Aziz, pendiri Saudi modern. Tapi perang beliau lokal, seputar Najd dan Hijaz.

>> Raja Faisal pun tidak trlibat perang. Tapi mendukung lewat tekanan-tekanan politik.

>> Yang pertama kali terlibat perang secara terbuka adalah Raja Salman, raja saat ini.

>> Tapi perlu dicatat, dalam 10 TAHUN terakhir, Saudi sangat aktif dalam belanja militer/senjata. Itu trjadi di era Raja Abdullah kmarin.

>> Saudi memutuskan belanja senjata dan memperkuat angkatan perang, belajar dari PERANG TELUK 1990-1991. Mereka waktu itu meminta perlindungan militer AS; hasilnya nombok sangat besar; sampai mengguncang ekonomi bangsa.

>> Persiapan perang itu sudah lama. Mengantisipasi gejolak politik regional. Bayangkan, sebelum musim Arab Springs, Saudi sudah bersiap-siap. Sampai ketika itu para pemerhati merasa heran. Kenapa belanja militer besar-besaran? Ternyata skarang ia digunakan.

>> Tapi unt perang itu sendiri tidak mudah. Hanya pemimpin bernyali yang mampu melakukannya. Raja Salman lah tokoh itu.

>> Salah seorang perwira AL Indonesia pernah berkata: “Kami siap berperang, unt mencapai perdamaian.” Kontras ya. Tapi begitulah, sebenar-benar damai sering dihasilkan lewat perang.

>> Maka, pernyataan ulama hadits asal Yordan, skaligus murid Al Albani rahimahullah di atas; bisa dipahami dg JELAS.

>> Adapun tentang kritik orang (kaum haters) terhadap perang ini…BIARKAN SAJA. Toh kalau Saudi diam saja, mereka juga akan mengkritik. Bahkan andai Saudi bersikap “antara diam dan bergerak”, mereka tetap mengkritik. Di mata mereka: “Saudi selalu salah, Iran selalu benar!” Iya tho… 

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.


Islam Rasa Nusantara

April 15, 2015

JIN: Bray, apa sih Islam Nusantara?

JUN: Itu, mau menutupi rasa rendah diri. 

JIN: Katanya, ini Islam corak orisinil negeri kita?

JUN: Ya, menurut si pembuat istilah.

JIN: Katanya, ini Islam gak pake radikal, Bray?

JUN: Ya radikal juga, terutama dalam MENGKLAIM sebagai kelompok “paling orisinil”.

JIN: Gimana sih Bray corak Islam Nusantara?

JUN: Intinya gini, blangkon tak usah diganti kopiah. Sarung tak usah diganti gamis. Saya-Anda tak usah diganti Ana-Ente. Saudara-saudari, tak usah diganti ikhwan-akhwat.

JIN: Berarti pejabat Muslim harus pake blangkon ya. Wanita Muslim mesti pake sewek/jarik. Mobil diganti kuda. Musik diganti gending. Hape diganti kentongan. Gudang-gudang dibongkar jadi lumbung. Apa begitu? 

JUN: Malah istilah ISLAM harus diganti NRIMO atau PASRAH. Jadi NRIMO NUSANTARA.

JIN: Lha, Wali Songo kan pakai sorban, pelihara jenggot, pake gamis, Bray?

JUN: Mungkin, teladan mereka para dalang wayang ‘kali. 

JIN: Jujur Bray, sebagai awam ana bingung. Ada aja hal kayak begini? Bikin pusing. 

JUN: Biarin aja. Diemin. Nanti mereka akan diem juga. Ini cuma soal marketing saja. Biasa rame-rame sbentar. Nanti juga ngilang.

‪#‎satudunia_satuislam_sajah‬


Ga Suka Arab…

April 15, 2015

+ Korma Bang? Enak, manis, masih baru.

= Gak, gak. Sana. Aku gak suka.

+ Mau air Zam Zam? Segar, berkah, boleh sambil doa.

= Sana, sana. Aku gak mau. Alergi tahu minum begituan.

+ Atau mau nasi kebuli? Resep Arab, tapi penampilan lokal. Bergizi Bang.

= Sudah sana. Bawa pergi. Aku ra ngurus yang ginian.

+ Mau distelin kaset pengajian Bang? Biar adem. Kayaknya lagi gak mau makan minum ya?

= Haduh, pengajian lagi. Bisa panas ne kepalaku.

+ Atau ini Bang. Radio pengajian. Enak dengernye. Adem, tentrem. Daripada ngomong politik.

= Hush hush, sana. Aku gak demen, tahu. Bukan seleraku ya!

+ Atau ini Bang. Gratis. Tinggal pake. Gak usah beli. Ini kopiah putih, kafiyeh, gamis. Mau?

= Haduh! Gak mau! Bisa stress nih aku.

(Stelah berulang-ulang ditawari, emoh melulu).

+ Ssttt…Bang ada yang spesial. Cewek-cewek Arab. Ampun Bang. Seksi banget.

= Hah, maksudmu apa? Aku gak jelas.

+ Cakep cakep Bang. Hidung mancung. Kulit bersih. Body-nya itu lho. Ampun dah.

= Apa maksudmu? Gak jelas. Tolong jangan bikin penasaran.

+ Cewek Libanon, Bang. Aduh…bohay abisss.

= Mana, mana? Jangan ngomong aja! Mana?

+ Tanpa sehelai benang, Bang…

= Sialan! Dari tadi ngomong melulu. Kalau punya barang, keluarin! Berapa situ punya harga? Jangan ngomong aja.

+ Abang mau?

= Sini, aku bayar kontan. Boleh short time. Boleh long time.

ENDING: Si laki-laki “alergi arab” itu ditangkap. Ternyata, yang nanya-nanya dia adalah polisi. Lagi nyamar. Mau nangkepin para politisi busuk. Sok agamis, padahal hawa nafsu. 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya.