SATU: Mempelajari SUNNAH (Syariat)

Agustus 10, 2015

* Mempelajari Sunnah, sama dengan mempelajari Syariat. Atau dengan kata lain, mempelajari agama (Ulumud Din).
* Caranya bermacam-macam, antara lain:

== Menghadiri majelis taklim rutin, atau temporer. Boleh mengkaji kitab, boleh juga kajian tematik.
== Mulazamah (bersimpuh) di depan guru. Boleh guru bersanad, atau guru tak bersanad. Boleh guru berijazah atau tak memberi ijazah.
== Belajar di sekolah agama, dari level ibtidaiyah sampai jaami’ah (universitas). Tingkat sarjana, sampai profesor.
== Belajar di ma’had-ma’had ilmu. Boleh yang tradisional atau modern.
== Ikut halaqah-halaqah pergerakan Islam.
== Menelaah media-media Islam, semisal majalah, internet, radio, TV, rekaman MP3, rekaman video, dll.
== Mengikuti informasi di media-media sosial yang menyebarkan ilmu, hikmah, manfaat ilmiah.
== Menelaah fatwa-fatwa ulama, baik lokal maupun internasional (Timur Tengah).
== Ikut forum diskusi, bedah buku, bahtsul masa’il, dan lainnya.
== Dan lain-lain cara yang halal dan baik.

* Rasulullah SAW bersabda: “Wa man salaka thariqan yaltamisu fihi ‘ilman, sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah” (siapa yang menempuh jalan yang dengan itu dia dapatkan ilmu, maka dia akan dimudahkan jalannya menuju surga).
* Tetapi hindari majelis-majelis yang mengajarkan permusuhan, kedengkian, perpecahan, hajar-menghajar antar sesama Muslim. Majelis seperti itu lebih dekat ke pintu-pintu neraka, daripada membawa ke pintu surga. Jangan ragu untuk meninggalkan majelis para ahlul bid’ah tersebut.
* Kita boleh menghadiri manjelis yang membahas sekte-sekte sesat (terlarang) seperti membahas Syiah, Khawarij, Mu’tazilah, Ahmadiyah, Liberal, Sekuler, dll. Di mana semua itu kesesatannya telah IJMAK (konsensus) di kalangan Ummat, ia tak mengapa.
* Tapi kalau menyerang, mencela, mempermalukan sesama Muslim dalam masalah-masalah yang bersifat DENDAM PRIBADI, pendapatan ekonomi, perselisihan sudut pandang, perkara samar, ada peluang takwil (intepretasi), soal wasilah dakwah, dll. maka semua kekerasan verbal itu haram. Para pelakunya dihitung telah menzhalimi kaum Muslimin.
* Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk menetapi jalan yang diridhai-Nya. Amin ya Rahmaan ya Rahiim.

(BandarCita).


Amanat Kehidupan Muslim Sunni

Agustus 10, 2015

Di bawah ini adalah beberapa amanat kehidupan yang mesti dipikul oleh Muslim Sunni, sekuat kemampuannya:

1. MEMPELAJARI dan MEMAHAMI Sunnah (Syariat Islam).
==
2. MENGAMALKAN atau MELAKSANAKAN Sunnah sekuat kemampuan.
==

Jaga Kehidupan Ummat !

Jaga Kehidupan Ummat !

3. MENYEBARKAN atau MENDAKWAHKAN Sunnah dengan hikmah.
==
4. MEMPERKUAT aspek-aspek kehidupan kaum Ahlus Sunnah.
==
5. MENDAMAIKAN atau MENYATUKAN barisan Ahlus Sunnah. Sumber kehancuran adalah PERSELISIHAN.
==
6. MELINDUNGI ajaran Sunnah dan masyarakat Ahlus Sunnah; dari berbagai gangguan lahir batin.
==
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita taufiq untuk melaksanakan amanat-Nya. Amin.
==
** SUNNAH bukan hanya amal-amal “Sunnat” atau “Hadits” saja; tapi hakikatnya adalah SYARIAT NABI (Syariat Islam), karena selama hidup Nabi Saw melaksanakan semua itu.
** Anda tentu masih ingat ketika Ummul Mukminin Aisyah Ra ditanya tentang Nabi, beliau berkata “khalquhul qur’an”. Jadi Nabi Saw selama hidup laksana “Al Qur’an Berjalan”.

(Mine).


Memahami Konsep Ulil Amri

Agustus 10, 2015

Setiap Muslim wajib memahami konsep Ulil Amri. Karena ia adl konsep POLITIK kita dlm Syariat. Hal ini kelak akan ditanyakan oleh Allah, maka kita harus menyiapkan jawabannya. Ingat, ini penting. Kita wajib tahu!
==
Secara bahasa Ulil Amri atau Ulul Amri, artinya “yang memegang suatu urusan”. Istilahnya serupa seperti “shahibul hajat”. Tetapi dalam konteks Syariat, ia memiliki makna tersendiri.
==
Allah mewajibkan kita taat pada Ulil Amri. Dalam ayat: “Wahai org-org beriman, taatlah kalian kpd Allah, taatlah kepada Rasul(Nya), dan kepada Ulil Amri di antara kalian.” (An Nisaa’: 59).
==
Menurut ulama, Ulil Amri itu bisa dua kemungkinan: Pemimpin negara atau ulama. Tapi yang populer adalah pemimpin negara. Idealnya, ia pemimpin negara sekaligus ulama, seperti sosok Khulafaur Rasyidin Ra.
==
Ada yang berpendapat, semua pemimpin negara adalah Ulil Amri, selagi dia beragama Muslim. Mau sistem sekuler, demokrasi, nasionalisme, diktator, liberal, atau sistem apa saja; kalau si pemimpin Muslim (masih shalat); dia dianggap Ulil Amri. India pernah dipimpin oleh Presiden Prof. Abdul Kalam, seorang Muslim juga. Apakah dia Ulil Amri?
==
TAPI hakikat Ulil Amri bukan seperti itu. Malah ia adalah pemahaman keliru (sesat) yang harus dijauhi. Ulil Amri adalah PEMIMPIN Ummat dalam rangka taat kepada Allah & Rasul-Nya. Dia Muslim dan mengajak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
==
Meskipun Muslim, masih shalat, kalau mengajak TIDAK TAAT kepada Allah & Rasul, dia bukan Ulil Amri kita. Begitu juga, meskipun mengajak taat kepada Allah dan Rasul (sistem Islam), kalau si pemimpin bukan Muslim, dia juga bukan Ulil Amri.
==
DALIL 1: Lihat Surat An Nisaa’ 59. Di sana di awali dengan kalimat “ya aiyuhal ladzina amanu“. Jadi ini adalah ranah URUSAN ORANG BERIMAN. Namanya urusan keimanan, tidak bisa lepas dari hukum Allah dan Rasul.
==
DALIL 2: Dalam Surat An Nisaa’ 59 itu kita diperintah taat kepada Allah, taat kepada Rasul, baru kemudian taat kepada Ulil Amri. Dari ayat ini SUDAH PASTI taat kepada Ulil Amri itu TIDAK BOLEH keluar dari taat kepada Allah & Rasul. SEBAB kalau si Ulil Amri tidak taat kepada Allah dan Rasul (melaksanakan Syariat Islam), maka makna ayat itu jadi rancu. Maknanya: “Taatlah kalian kepada Ulil Amri, meskipun dia tidak taat kepada Allah dan Rasul.” Selain rancu. Ia juga mengajak kita mendahulukan taat kepada penguasa melebihi taat kepada Allah dan Rasul. Itu masalah AKIDAH besar.
==
DALIL 3: Surat An Nisaa’ 59 itu ada lanjutannya sebagai berikut “Dan jika kalian berselisih dlm satu perkara, kembalikanlah kepada (hukum) Allah dan Rasul-Nya, yaitu jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir; yang demikian itu lebih baik dan bermanfaat akibatnya.” JADI pemutus perselisihan kita adalah hukum Allah dan Rasul, bukan hukum Ulil Amri. Itu kalau kita serius BERIMAN.
==
DALIL 4: Kalau kita baca tafsir Ibnu Katsir tentang ayat di atas, maka akan kita temukan kisah unik di zaman Nabi Saw. Waktu itu beliau mengutus satu grup sariyah (patroli bersenjata). Suatu saat mereka bertemu gua yang ada api di dalamnya. Si komandan memerintahkan pasukan masuk ke dalam gua. Tapi mereka tidak mau. Setelah sampai di Madinah mereka cerita kejadian itu. Kata Nabi, kalau mereka turuti perintah itu, mereka akan terbakar dalam api sampai Hari Kiamat. Maksudnya, itu dianggap bunuh diri yang balasannya siksa abadi. Lalu Nabi Saw mengatakan: “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf saja). PERHATIKAN: Komandan itu ditunjuk Nabi; mereka dalam Jihad Fi Sabilillah; di atas sistem Islam; bahkan Nabi Saw sendiri sebagai imam negara. Tetapi tetap saja, PERINTAH BATHIL tidak boleh dituruti. Ingat, kasus ini sangat penting!!!
==
DALIL 5: Para ulama menyebut sebuah kaidah penting, diambil dari hadits Nabi Saw. Kaidahnya: “Laa tha’ata li makhluqin li ma’shiyatil khaliq” (tidak ada ketaatan kepada makhluk, dalam rangka maksiat kepada Allah). Coba tanyakan para ulama, pasti mereka kenal kaidah ini.
==
DALIL 6: Seandainya syarat menjadi Ulil Amri hanyalah beragama Islam, maka Abdullah bin Ubay layak menjadi Ulil Amri di Madinah, sebagaimana Abu Sufyan bin Harb -setelah masuk Islam- layak menjadi Ulil Amri di Makkah; karena mereka berdua beragama Islam dan pemimpin kaumnya. Tapi faktanya, mereka tidak pernah menjadi Ulil Amri.
==
DALIL 7: Para Khulafaur Rasyidin Ra adalah hujjah yang sangat kuat. Mereka terpilih sebagai pemimpin Ummat bukan hanya karena dirinya Muslim; tetapi mereka dibaiat untuk melaksanakan Syariat, menjalankan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dalam pidatonya, Khalifah Abu Bakar dan Umar meminta diluruskan, jika salah dalam memimpin. Andai syarat menjadi Ulil Amri hanya identitas Muslim, maka kaum Badui di pedalaman padang pasir, juga berhak menjadi Khalifah.
==
Hadits-hadits Nabi Saw seputar jangan mencaci penguasa, jangan ghibah, jangan menghina di depan umum, kalau menasehati tertutup, dll. semua itu MASUKNYA ke Ulil Amri yang mengajak taat kepada Allah dan Rasul; bukan pemimpin sekuler, anti Islam, anti Syariat, dll. Jangan salah meletakkan.
==
Apakah dengan demikian, kaum Muslimin harus MEMBERONTAK pada penguasa sekuler/anti Islam? Ya solusinya TIDAK MESTI berontak. Anda kan dianugerahi akal sehat untuk berpikir cara terbaiknya. Gunakan akal itu, jangan “disimpan di kulkas”. Bila ada cara yang lebih efektif, hemat, minim kerugian, pakailah itu! Di sini kita bisa berdakwah, memperbaiki Ummat, amar makruf nahi munkar, dan lainnya.
==
Jika saat ini tidak ada pemimpin yang mengajak taat kepada Allah dan Rasul, berarti kita tidak punya Ulil Amri dong? Ya iya. Itu sih yess. Tapi tidak mengapa. Para Shahabat yang hijrah ke Ethiopia bertahun-tahun hidup di sana tanpa Ulil Amri. Begitu juga Shahabat yang hidup di Makkah, sebelum Makkah jatuh ke tangan Islam, juga tidak bernaung di bawah Ulil Amri. Para dai atau muballigh yang berdakwah ke negeri-negeri non Islam, banyak wafat di negeri tersebut, padahal tidak ada pemimpin Islami di dalamnya. Inilah maksud ayat: “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (tidaklah Allah membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupannya). Al Baqarah 286.
==
Apakah pemahaman seperti ini milik kaum Haraki (pergerakan)? Bukan. Ini paham Syariat. Kalau ada perselisihan, ukurlah dengan Syariat. Bukan dikotomi “Haraki or not Haraki”. Cara berpikir seperti itu tidak sesuai Syariat, bahkan merupakan bid’ah yang diada-adakan. Imam Malik ketika ditanya sesuatu, beliau tak pernah menjawab dengan logika “Haraki atau non Haraki”. Itu corak berpikir bid’ah.
==
Bukankah menentang penguasa itu sama dengan Khawarij? Itu perkataan dusta. Ummat harus paham, bahwa Khawarij itu MELAWAN PEMIMPIN ISLAMI yang sah, seperti mereka dulu mereka menentang Khalifah Ali Ra. Lha kita ini justru PRO PEMIMPIN ISLAMI. Kok bisa dituduh Khawarij? Justru para penuduh itulah Khawarij, karena mereka selalu menentang, melawan, dan menghancurkan usaha-usaha membangun Kepemimpinan Islami.
==
Demikian, semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk dan rahmat kepada kita semua. Amin.

(BlueHeart).


KALAU USTADZ IDRUS ROMLI TIDAK TERPILIH…

Agustus 10, 2015

(Ditulis 3 Agustus 2015).

Kita tahu, Ustadz Idrus terkenal anti Wahabi. Tapi dia juga ANTI SYIAH dan LIBERAL. Dua hal terakhir bagus menurut Syariat Islam.
==
Saat ini beliau masuk bursa pencalonan Ketua PBNU. Bisa terpilih, bisa tidak. Kalau terpilih ITU LEBIH BAIK. Maksudnya, kalangan Wahabi lebih suka figur ANTI SYIAH & LIBERAL. Meskipun dia anti Wahabi. Wahabi sudah “kebal fitnah” sejak ratusan tahun, bi idznillah.
==
TAPI kalau Ustadz Idrus Romli TIDAK TERPILIH, wah konsekuensinya serius. Dia dan para pendukung harus bersiap hadapi gugatan umum.
==
PERTAMA, kalau dia tak terpilih, berarti di tubuh NU banyak tangan-tangan Syiah-Liberal. Merekalah yang diduga telah menghadang Ustadz Idrus. Karena kalau mau menyalahkan Wahabi tidak mungkin. Gak ada Wahabi yang mau masuk NU. Iya gak?
==
KEDUA, Ustadz Idrus dan kawan-kawan harus INTROSPEKSI DIRI. Jangan menyerang Wahabi melulu, sedang urusan dapur NU tidak selamat dari Syiah-Liberal. Lebih baik dia JIHAD bersihkan NU dari Syiah-Liberal.
==
KETIGA, jika Ustadz Idrus tidak terpilih karena diganjal Syiah-Liberal; itu pertanda bahwa dia hanya DIKACANGIN oleh Syiah-Liberal. Dia dipakai jadi “alat pemukul” Wahabi, sementara dia sendiri hendak “to be killed” oleh Syiah-Liberal.
==
KEEMPAT, jika Ustadz Idrus tidak terpilih karena alasan lain, bukan campur tangan Syiah-Liberal; berarti gerakan Kontra Wahabi dia selama ini GAK NGARUH. Atau cuma ramai di internet saja. Jum’iyah NU tidak memandang gerakan dia berharga, maka itu tak didukung.
==
MUKTAMAR NU ini akan jadi ujian besar bagi GERAKAN DAKWAH Ustadz Idrus Romli. Kalau dia gagal, akan banyak air mata berjatuhan. Tentu bukan air mata Wahabi lho.
==
Begitu dech… Selamat berjihad Gus Idrus! Ma’as salamah.

(Hahai).


KRISIS IJAZAH

Agustus 10, 2015

Selain krisis air, krisis ekonomi, krisis wibawa negara. Saat ini kita juga mengalami tragedi ijazah skala nasional.
==
COBA tanya ke anak-anak SMP atau SMA yang baru lulus, apa sudah dapat ijazah? BELUM saudara. Belum. Padahal ini sudah mulai TAHUN AJARAN BARU.
==
Kami berkata begini karena dua anak kami baru lulus SMP dan SMA, keduanya belum terima ijazah. Anakku yang lulus SMP sudah masuk SMA, tapi ijazah belum keluar. Waktu WISUDA, bukan mengambil ijazah, tapi NEM.
==
SEDANG yang SMA, titik terang ijazah lebih buram lagi. Berulang-ulang tanya ke pihak sekolah jawabnya: “Seindonesia belum pada dapat ijazah.” Astaghfirullah…
==
SEMUA ini pasti menyulitkan. Secara psikologis siswa, orangtua, guru-guru sangat tertekan. Secara teknis lebih menyulitkan; bagaimana akan bisa seleksi siswa/mahasiswa baru dengan baik, wong ijazah belum ada? Bagaimana dengan mereka yang amat sangat butuh ijazah untuk kerja, sekolah ke luar negeri, ujian PNS dan lain-lain? Inna lillah tsumma inna lillah…
==
JUJUR kami heran, mengapa bisa begini? Dan mengapa orang-orang pada diam, tidak mempermasalahkan? Ada apa dengan Menteri Diknas, kok bisa begini?
==
Katanya lebih “merakyat”, tapi fakta lapangan “bikin masalah tambah berjubel”. Mungkin karena dikejar target “kejar setoran”, jadi urusan anak negeri diabaikan. Jadi dia gak peduli dengan masalah di bawah.
==
Nas’alullah al ‘afiyah was salamah was sa’adah. Amin ya Rabbuna.

(Ayolah).


Ajaran Islam Memudahkan…

Agustus 10, 2015

SYAIKH Al Qaradhawi pernah mengatakan, tabiat Syariat itu MEMUDAHKAN. Bukan mempersulit.
==
Kata Aisyah Ra, jika Nabi dihadapkan dua pilihan, beliau akan mengambil yang LEBIH RINGAN, selagi keduanya sama-sama halal.
==
Misal, dalam safar. Meskipun boleh saja shalat secara lengkap. Sah. Tidak masalah. Tapi lebih utama qashar. Shalat yang empat rakaat dikerjakan dua rakaat.
==
Khalifah Umar Ra, kurang suka jika ada pelaku dosa-dosa pribadi mesti dihukum HAAD. Kata beliau, andai si pelaku mau, dia sembunyikan dosanya, lalu bertaubat atasnya. Daripada dia mengaku, lalu meminta diberi sanksi hukuman.
==
Para Mujahidin telah lama membuang doktrin TAKFIRI. Mereka tidak lagi semena-mena dalam menetapkan takfir umum kepada siapa pun. Bahkan mereka rela mati demi membela kaum Muslimin yang hidup di negara-negara sekuler (bahkan negara kafir).
==
Syaikh Atiyatullah Al Libi rahimahullah pernah menyebut sebuah kaidah: “Membebaskan 100 orang dari vonis kafir (lalu diakui sebagai Muslim), lebih ringan daripada memvonis 1 orang benar-benar Muslim sebagai kafir.”
==
SALAH dalam memberikan hak kepada orang yang sebenarnya tidak berhak; lebih ringan daripada mencabut hak dari orang yang sebenarnya dia berhak.
==
Hayati prinsip ini, karena ia sangat penting. Billahi taufiq wal huda.

(DeepHeart).


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 228 pengikut lainnya.