SOLUSI PERSELISIHAN Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal

Juni 21, 2015

Bismillahir rahmaanir rahiim.
* FAKTA… Sejak zaman reformasi, kaum Muslimin di negara kita sering berselisih tentang awal Ramadhan & Idul Fithri; juga momen Idul Adha.
* Mengapa terjadi hal ini? Ia merupakan dampak langsung fenomena “kebebasan ekspresi”. Termasuk dalam amaliah keagamaan. Mau tak mau, suka tak suka, itu terjadi.
* Kita tak bisa hanya cela sana-sini, karena perbedaan ini. Yg paling memungkinkan kita brsikap BIJAK, mengeliminir dampak buruk perselisihan.

Boleh Berbeda Tapi Kita Tetap BERSATU

Boleh Berbeda Tapi Kita Tetap BERSATU

* Berikut SOLUSI yang bisa ditempuh…


[1]. Mengikuti pengumuman yang disampaikan Departemen Agama RI. Dengan alasan:
>> a. Ia mewakili bagian terbesar Ummat Islam di negara kita;
>> b. Ia didukung penuh oleh MUI;
>> c. Bahwa Nabi Saw mengutamakan jumlah komunitas Muslim yang lebih besar.

Baca entri selengkapnya »


Selamat Idul Fithri 1436 H…

Juli 15, 2015

>>> Alhamdulillah kita telah melalui bulan suci ini hingga di hari-hari pamungkasnya.

>>> Alhamdulillah walhamdulillah tsumma alhamdulillah. Semua ini semata karena nikmat Allah jua. Tanpa nikmat-Nya, kita tak akan mendapat karunia agung sampai penghujung Ramadhan. Selagi masih dikarunia sehat ‘afiyat, mari kita bersyukur.

Mohon Maaf Lahir Bathin. Taqabbalallah Minna wa Minkum.

Mohon Maaf Lahir Bathin. Taqabbalallah Minna wa Minkum.

>>> Di hari-hari menjelang berpisah dengan bulan agung ini, izinkan kami untuk menyampaikan beberapa hal:

+++ Pertama, mohon maaf lahir bathin kepada semua kawan di ranah Fesbuk ini, baik yang pro, kritis, maupun berbeda paham. Sekali lagi, mohon maaf lahir batin atas salah posting, salah komen, salah canda, dan sebagainya.

+++ Kedua, kami sama-sama berdoa agar Allah SWT menerima amal-amal baik kita, baik amal yang kita lakukan sebelum Ramadhan, maupun khususnya selama bulan Ramadhan, dan amal-amal setelahnya nanti. Amin Allahumma amin.

+++ Ketiga, selamat menyempurnakan ibadah SHAUM RAMADHAN 1436 H dengan segala rincian amal di dalamnya (semisal Zakat, I’tikaf, Takbir, Shilaturahim, dan sebagainya).

+++ Keempat, dengan setulus hati kami ucapkan: SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITHRI 1436 H. Taqabbalallahu Minna wa Minkum. Mohon Maaf Lahir Batin. Kullu ‘aamin wa antum bi khair (semoga setiap tahun Anda selalu baik-baik).

Akhukum Fi Mahabbatillah:

AM. Waskito.


Keistimewaan Surat Az Zumar

Juli 15, 2015

>> Surat ke-39. Jumlah ayat 75. Turun di Makkah. Posisi akhir juz 23 dan awal juz 24.
>> Makna Az Zumar: rombongan-rombongan. Bentuk plural dari “zumrotun” (rombongan). Sebagai perbandingan, khatib Jum’at sering berkata: “Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mukminin.”
>> Kata Az Zumar diambil dari ayat-ayat menjelang akhir, ketika manusia dihalau ke neraka dan surga rombongan demi rombongan. Saat hisab satu per satu; saat masuk surga/neraka bersama-sama.
>> Ini termasuk SURAT MENAKJUBKAN. Di dalamnya terdapat banyak PRINSIP-PRINSIP Islam. Dibandingkan kandungan Surat Yaasin, surat ini lebih LENGKAP cakupan makna-maknanya.
>> Surat ini termasuk SATU DARI DUA SURAT dalam Al Qur’an yang diakhiri dengan kalimat ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘ALAMIIN. Surat satunya lagi adalah ASH-SHAFFAT (surat ke-37).
>> FAIDAH: Mari kita hafal Surat ini dan sering-sering dibaca saat SHALAT.
>> DEMIKIAN sekilas, semoga bermanfaat.

(Mine).


SEBUAH PERSPEKTIF: WAHABI & TURKI UTSMANI

Juli 15, 2015

>> Sebenarnya tidak relevan membahas relasi konflik dakwah Salafiyah (Wahabi) dengan sejarah Turki Utsmani (Ottoman).
>> Mengapa tidak relevan? Ya karena bangsa TURKI MODERN (pewaris historis Khilafah Turki), memiliki HUBUNGAN BAIK dengan Kerajaan Saudi. Mereka saling sinergi dalam membangun negara dan diplomasi.
>> Kedua negara, KSA dan Turki, sepakat berdamai, melupakan masa lalu, dan menatap masa depan.
>> Kalau datang musim semi atau panas, ada beribu-ribu Muslim Turki datang Umrah ke Tanah Suci, dan ziarah (mengucap salam) kepada Nabi Saw di Madinah. Para jamaah itu merasa khusyuk, tenang, hikmat.

Saudi dan Turki Dua Negera Muslim Bersaudara

Saudi dan Turki Dua Negera Muslim Bersaudara

>> Tapi ya namanya manusia, ada saja yang terus “mengail di air keruh”. Tidak suka dengan damai. Maunya, damai menjadi konflik. Astaghfirullah… Teringat pesan Nabi Saw: “Amarah itu dari setan.”
>> Kami singgung sedikit setting sejarah di balik bangkitnya dakwah “Wahabi”. Banyak potongan sejarah yang tidak dipahami dengan benar. Berikut runutannya:

=> Dakwah itu muncul dan bergulir sekitar era 1750-an Masehi, di Najd. Tokoh utamanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Emir Muhammad bin Saud (penguasa wilayah Dir’iyah).
=> PERLU diketahui, saat itu wilayah Najd dan umumnya Jazirah Arab, muncul penguasa-penguasa otonom. Semacam bupati-bupati begitu. Sebutannya Amir atau Emir. Bukan Malik atau Sultan.
=> Khilafah Turki Utsmani sendiri tak mampu mengatur atau mengendalikan Emir-emir ini. Saat terjadi konflik dengan keluarga Emir Al Saud, Turki Utsmani meminjam tangan Gubernur Mesir, Muhammad Ali Pasya. Itu membuktikan daya Turki Utsmani semakin melemah.
=> Perlu diketahui, Emir-emir ini jumlahnya banyak. Tidak hanya Emir Dir’iyah saja. Ada Emir Ibnu Rasyid, Emir Kuwait, Bahrain, Oman, dan lain-lain. Ia adalah sejenis KEKUASAAN INDEPENDEN bupati-bupati Arab, yang berbasis suku-suku dan kabilah.
=> FAKTA mudah. Anda mengerti apa maksud nama negara UNI EMIRAT ARAB? Nah itulah. Negara sekecil itu saja punya beberapa kekuasaan EMIR.
=> Mengapa Emir-emir ini mau independen dari Turki Utsmani? KARENA: a. Keadaan Khilafah semakin lemah karena faktor usia; b. Mereka merasa posisi Khilafah tidak membantu apapun bagi hidup mereka (begal berkeliaran di mana-mana, kehidupan agama seperti membeku); c. Mereka punya ego kesukuan Arab. Nah, ego ini masih kuat lho. Bukan hanya kala itu, sekarang juga masih.
=> Konflik antar Emir itu sudah jadi hal biasa. Perebutan kuasa, pengaruh, kehormatan. Ya sama seperti cerita konflik “antar kerajaan” di mana-mana, di seluruh dunia, termasuk di Nusantara.
=> Bila terjadi konflik antara Turki Utsmani dan kekuasaan Al Saud, seperti di atas petanya. Jadi sebenarnya, itu tidak terlalu aneh.
=> Bahkan kalau dibandingkan konflik antar Sultan, Raja, Khalifah dalam sejarah Islam; konflik Al Saud dengan Turki Utsmani itu tak ada apa-apanya.
=> SEJUJURNYA dalam diri negara-negara Arab juga ada niatan lepas dari Turki Utsmani, dengan asumsi, di tengah mereka ada kaum elit politik yang “doyan kekuasaan” juga.
=> CONTOH di Mesir, mantan pendukung top Turki Utsmani. Pasca runtuhnya Khilafah, mereka buat KERAJAAN MESIR. Nantinya ketika Syaikh Hasan Al Banna membina kekuatan jamaah untuk mengembalikan kedaulatan Khilafah Islamiyah; beliau dibunuh dengan kejam oleh kaki tangan RAJA FAROUK. Sampai shalat jenazah buat beliau secara berjamaah pun dilarang. Nah, ini fakta besar yang harus direnungkan.
=> Dalam diri penguasa-penguasa Arab ada keinginan lepas dari Turki Utsmani, tapi SIALNYA mereka tidak gentle. Mereka jadikan Kerajaan Saudi & dakwah Salafiyah sebagai “kambing hitam”. Sangat menyedihkan.
>> DEMIKIAN sekilas perspektif dari kami. Semoga bermanfaat. Amin.
>> PESAN NABI Saw: Kalau kita marah, berlindunglah dari godaan setan; atau berwudhulah; atau pindah posisi. Marah adalah godaan SETAN; maka orang/penulis yang SELALU PROVOKASI KEMARAHAN adalah….. (isi dengan jawaban yang pintar dan tepat).
>> Tulisan ini bisa jadi BANTAHAN SINGKAT untuk buku terbaru “Syaikh Idahram”. Bi idznillah wa nashrihi. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
(AM. Waskito).


Dialog Ulama tentang Madzhab…

Juli 15, 2015

Bismillahirrahmaanirrahiim.

* Mendiang ulama asal Suriah pernah cerita tentang pengalamannya dialog dengan seorang ulama hadits yang kerap dituduh “anti madzhab”.
* Menurut cerita, sang ulama Suriah menang, sedang ulama “anti madzhab” tak berkutik. Dari mana kita tahu? Ya dari penuturan ulama Suriah itu dalam bukunya.

Kaligrafi Legenda Sudah Ada Sejak Dulu

Kaligrafi Legenda Sudah Ada Sejak Dulu

* KUNCI debat ini adalah sebuah pertanyaan: “Kalau kita mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah, apakah itu artinya orang awam harus memutuskan hukum langsung dari Al Qur’an dan As Sunnah?”
* Hanya saja, atas takdir Allah, pertanyaan ini belum terjawab dalam debat madzhab itu. Tugas kita di sini menjelaskan yang samar jadi terang, bi idznillah.
* Kata para pendukung “wajib madzhab” hanya para Mujtahid yang berhak mengambil hukum; selain mereka, apakah awam atau penuntut ilmu tak berhak.
* JAWABAN 1: Masalah agama itu beragam, dari yang sederhana sampai yang rumit. Nah, setiap Muslim berperan dalam agama sesuai kapasitasnya. Misal, untuk MENGAJAR IQRA’ Anda tak perlu nunggu jadi Mujtahid dulu.
* JAWABAN 2: Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menyebutkan kaidah tafsir. Kata beliau, ada ayat-ayat yang tidak diketahui maknanya selain oleh Allah saja; ada ayat yang hanya diketahui maknanya oleh ulama; ada ayat yang hanya diketahui oleh orang Arab asli yang paham aspek bahasanya; ada ayat yang MANUSIA TIDAK DIMAAFKAN kalau sampai dia tidak paham. Kaidah ini berlaku dalam tafsir, dan bisa jadi dalam ilmu-ilmu Islam lainnya.
* JAWABAN 3: Contoh ilmu yang mudah dipahami, dalam ayat: “Aqimus shalata wa atuz zakata.” Atau dalam ayat: “Ya aiyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyam.” Atau dalam ayat: “Innad dina ‘indallahil Islam.” Atau dalam ayat: “Lakum dinukum wa liya din.” Tidak perlu jadi Mujtahid untuk paham ayat-ayat ini.
* JAWABAN 4: Untuk menjelaskan Rukun Islam ada 5, Rukun Iman ada 6, bacaan salam, bacaan adzan, bacaan iqamat, tata cara wudhu, rukun-rukun shalat, pembatal shaum, rukun nikah, tata cara merawat jenazah, dll. tak perlu jadi Mujtahid dulu. Juga untuk jelaskan teori-teori dasar Nahwu Shorof, juga tak perlu menunggu fasih seperti Ibnu Aqil, Ibnu Mandzur, Syibawaih, dll.
* JAWABAN 5: Allah menurunkan ayat-ayat dan Sunnah adalah agar menjadi “HUDAN LIN NAAS” (petunjuk bagi semua manusia); bukan “hudan lil mujtahidin”. Kita mengambil agama ini sesuai kapasitas masing-masing. Sekali lagi, agama ini untuk rahmat alam semesta, bukan “monopoli segelintir orang”.
* JAWABAN 6: Anda ingat kisah ketika Khalifah Umar dan putranya -radhiyallahu ‘anhuma- menguji seorang penggembala, agar dia menjual dombanya atau berbohong kepada pemilik domda. Si gembala itu menolak sambil berkata “fa ainallah” (kalau begitu, dimana dong Allah?). Mengapa Khalifah tidak bertanya begini: “Mana ijazahmu sebagai Mujtahidin? Mana sanad ilmumu?” Ya karena memang agama ini universal, menjadi rahmat bagi sekalian alam. Manusia mengambil agama ini sesuai kapasitas masing-masing.
* JAWABAN 7: Ketika di tengah Ummat tersebar ilmu seputar Kitabullah dan Sunnah, lalu marak amal-amal shalih. Ternyata ada yang keberatan, karena tersebarnya ilmu itu tidak berlabel madzhab-madzhab. Seolah kondisi “kembali kepada Kitabullah dan Sunnah” dianggap bencana. Padahal aslinya, sebelum muncul madzhab-madzhab, Syariat Islam awalnya TIDAK BERMADZHAB. Islam “tidak bermadzhab” lebih tua usianya, karena itulah CORAK KEISLAMAN ERA NABI SAW DAN PARA SHAHABAT RA. Coba jawab: madzhab apa yang dianut Nabi dan para Shahabat?
* JAWABAN 8: Partisipasi Umat ini dalam beragama, misalnya menuntut ilmu, membaca buku, membaca media, mendengar ceramah, diskusi, bertanya ke ulama, mengamalkan fatwa, belajar agama formal, jadi santri, berdakwah, mengajar ilmu, dll. Semua ini adalah bagian dari MENGIKUTI IMAM MADZHAB. Mengapa dikatakan begitu? Karena perbuatan-perbuatan itu dulu DICONTOHKAN OLEH IMAM MADZHAB. Aneh jika hal-hal demikian dianggap menentang madzhab.
* JAWABAN 9: Sungguh Ummat ini masih punya etika. Tidak mungkin mereka NEKAD BERKATA untuk hal-hal rumit yang bukan kapasitasnya. Sebagai contoh, kami berkali-kali ditanya tentang BPJS, dan kami tidak tahu duduk masalah itu. Maka kami pun tidak memberi jawaban tegas. Lha kalau memang tidak tahu, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin kita akan MENEROBOS lorong-lorong yang kita tak mengetahuinya. Seperti dalam ayat: “Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilmun” (jangan ikuti apa-apa yang engkau tak tahu ilmunya).
* JAWABAN 10: Sangat terkenal kisah Imam Syafi’i, setelah pindah ke Mesir, beliau banyak mengubah pendapatnya. Padahal itu hanya pindah dari Irak ke Mesir. Bagaimana jika agama ini telah melintasi semua benua dan samudra, melalui masa ribuan tahun? Apa kira-kira tidak memungkinkan pendapat-pendapat ini akan berubah? Kita sebut 10 contoh yang tidak ada di zaman imam madzhab: negara Muslim nasionalis sekuler, pemilu demokrasi, bank, transportasi udara, mata uang kertas, komunikasi telepon, pendidikan formal SD-sarjana, internet, media massa, transaksi mesin, dll. Hal-hal yang baru ini sangat mungkin akan mengubah pendapat imam-imam madzhab itu; seperti halnya pendapat Imam Syafi’i berubah hanya karena beliau berpindah domisili dari Irak ke Mesir.
* JAWABAN 11: Seandainya yang boleh berpendapat tentang agama adalah para Imam Mujtahidin saja; lalu siapa yang pantas menjadi Imam Mujtahidin di era kita sekarang ini? Adakah seorang ulama sekelas imam-imam besar masa lalu yang pendapatnya diakui semua kelompok? Jika tidak ada, apakah berarti riwayat agama ini sudah berakhir? Subhanallah wa subhanallah…
* JAWABAN 12: Dulu ada imam-imam Mujtahidin, dan sekarang peran mereka sudah digantikan oleh dewan-dewan ulama di setiap negara Muslim. Maka sejauh kita patuh dengan sebagian besar fatwa-fatwa ulama tersebut (kalau di Indonesia disebut MUI, kalau di Mesir Darul Ifta’, kalau di Saudi Hai’ah Kibaril Ulama); maka kita telah mengikuti imam-imam madzhab Mujtahidin.
* JAWABAN 13: Para imam madzhab telah menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwa DASAR HUKUM SYARIAT adalah: Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan ada yang menambahkan Qiyas Shahih (analogi). Jadi kalau kita beragama dengan berdasar dalil-dalil ini, kita sudah benar dan sudah selaras dengan teladan para imam madzhab tersebut. Seperti prinsip yang diajarkan oleh seorang ulama: “Kita beragama mengikuti dalil-dalil.” Kalau sudah berjuang mengikuti dalil, nah itulah yang diharapkan.
* JAWABAN 14: Para ulama madzhab sendiri menjelaskan prinsip-prinsip yang hebat, agar kita konsisten mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah. Imam Abu Hanifah berfatwa dengan dasar Al Qur’an dan As Sunnah; kalau tidak menemukan jalan keluar, beliau menerapkan Qiyas (analogi); dengan ini beliau dikenal sebagai “ahlur ra’yi”. Imam Malik sangat terkenal dengan ucapannya: “Semua perkataan boleh diambil atau ditolak, kecuali perkataan penghuni kubur ini (sambil menunjuk pusara Rasulullah SAW).” Imam Syafi’i terkenal dengan kata-katanya: “Kalau sudah sah sebuah hadits, maka itulah madzhabku.” Dan Imam Ahmad terkenal dengan sikapnya, menghukumi suatu perkara dengan hadits Nabi SAW, daripada dengan logika, meskipun itu adalah hadits dhaif. Para imam ini mengarahkan kita konsisten dengan Al Qur’an dan As Sunnah, karena keduanya bersifat pasti, tidak diragukan, dan akan mengangkat khilaf di antara Ummat (insya Allah).
* JAWABAN 15: Menjawab pertanyaan pokok di atas: “Apakah orang awam atau penuntut ilmu boleh mengambil hukum sendiri langsung dari Al Qur’an dan As Sunnah?” Jawabnya ternyata sangat mengejutkan, yaitu: TIDAK PERLU!!! Mengapa dikatakan tidak perlu? Karena ilmu agama telah tersebar, pengetahuan Islam sudah ada dimana-mana, ribuan para ulama sudah berjihad dan berijtihad memudahkan kita dalam belajar agama. Produk-produk ilmu agama sudah sangat mudah diperoleh, dipahami, disebarkan. Ini adalah RAHMAT ALLAH yang besar bagi Ummat ini. Anda bisa memahami kerumitan hukum-hukum agama semudah membaca buku-buku cerita. Kita tak perlu lagi susah payah menggali hukum sendiri, tapi sudah banyak ulama, guru, ustadz, kyai, dai, penulis, murabbi, dan sebagainya yang mengajarkan ilmu-ilmu itu. BAHKAN sangat tidak mungkin kita akan mengambil hukum-hukum agama langsung dari Kitabullah dan As Sunnah; karena kita bukan ORANG PERTAMA yang menerima ayat-ayat Al Qur’an dan As Sunnah. Kita adalah generasi sekian ratus setelah generasi Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Tidak ada manusia di zaman sekarang yang bisa mengambil hukum langsung ke Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau ada yang mengklaim itu, dia pasti seorang PENDUSTA atau “dajjal”.
* Sebagai contoh mudah. Misalnya di sebuah Madrasah Ibtidaiyah atau TPA diajarkan bahwa rukun shalat itu begini dan begitu, rukun wudhu begini dan begitu, rukun puasa begini dan begitu. Ketika ada anak TPA bisa menyebutkan rukun shalat dengan benar, jangan Anda berkata kepadanya: “Wah kamu hebat ya, kamu sekelas Mujtahidin, seperti Imam Syafi’i.” Jangan dikatakan begitu. Karena dia cuma seorang pelajar yang menerima ajaran agama dari guru-gurunya; gurunya dari gurunya lagi; dan seterusnya sampai nanti muara ilmu itu kembali ke zaman Salafus Shalih. Kembalinya ilmu ini ada yang rapi dalam bentuk sanad, ada juga yang tidak rapi (random).
* Mari tugas kita kini di zaman seperti ini adalah MENSYUKURI KARUNIA ALLAH dalam bentuk tersebarnya ilmu yang mudah, meluas, dan dapat dipraktikkan dengan segera. Kehidupan ilmu yang sudah maju dan berkembang ini, jangan mau DIKEMBALIKAN KE ZAMAN SULIT di masa lalu. Terimalah kemudahan dari Allah Ar Rahiim dengan penuh syukur kepada-Nya. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
* Wallahu a’lam bisshawaab.

(WeAre).


Sudut Pandang Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah

Juli 15, 2015

* Kami tidak tahu pasti alasan di balik penyusunan kitab fiqih ibadah berjudul “Bulughul Maram min Adillatil Ahkam” karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani tersebut.
* Tapi kami tahu bahwa kitab itu menjadi rujukan kaum Muslimin di Al Irsyad, Persis, Pesantren Gontor, dan tentu saja kalangan Salafi. Untuk kalangan NU, kitab ini tampaknya kurang dipakai. Wallahu a’lam.
* Kami hanya mampu membuat analisa berdasar asumsi-asumsi umum saja. Smoga tidak meleset dari kebenaran, amin.
* ASUMSI 1: Ibnu Hajar sangat paham bahwa kaum Muslimin pemahaman fiqihnya tersegmen dalam beberapa madzhab. Jika madzhab Zhahiri dimasukkan, jadi ada LIMA MADZHAB Ahlus Sunnah.
* ASUMSI 2: Ibnu Hajar mengetahui buruknya pengaruh fanatisme madzhab yang kemudian mengoyak KESATUAN UMMAT. Beliau pasti tahu itu. Fanatisme madzhab memunculkan sikap saling mencela, mentahdzir, menyesatkan, melarang nikah dan muamalah, membakar kitab, tidak mau mengambil ilmu, sampai kekerasan lewat tangan-tangan kekuasaan. Pasti Ibnu Hajar tahu realita itu.
* ASUMSI 3: Ibnu Hajar mengetahui bahwa fanatisme madzhab telah membuat ilmu tersebar hanya bagi kelompok terbatas saja. Kaum di luar madzhab tak mau mengambil ilmu dari selain madzhabnya. Padahal asal mula ILMU KENABIAN ITU UNIVERSAL. Seuniversal riwayat Nabi Saw ini: “Balighu ‘anni wa lau ayah” (sampaikan dariku meski sekadar satu ayat saja).
* ASUMSI 4: Ibnu Hajar pasti tahu riwayat shahih, ketika Nabi Saw membedakan tabiat manusia dalam menerima ilmu; ada yang seperti tanah subur (pintar menerima ilmu dan memahami); ada yang seperti tanah kapur (pintar menerima ilmu tapi sulit memahami); dan ada pula seperti tanah pasir (sulit menerima ilmu & gagal faham jua). Bukankah hadits itu menegaskan UNIVERSALITAS ILMU dalam Islam???
* ASUMSI 5: Ibnu Hajar pasti tahu kitab SHAHIH BUKHARI, SHAHIH MUSLIM, SUNAN ABU DAWUD, SUNAN AT TIRMIDZI, dan lain-lain. Bukankah kitab-kitab Sunnah ini diklaim sebagai MILIK UMMAT dan netral madzhab??? Apakah Imam-imam Sunnah itu menampakkan madzhabnya dalam kitab-kitab Shahih/Sunan mereka?
* ASUMSI 6: Ibnu Hajar pasti tahu salah satu perkataan Imam Syafi’i, bahwa: “ILMU ITU ADALAH QALALLAH WA QALA RASUL, selain keduanya adalah zhan (sangkaan).” Hal ini menegaskan bahwa rujukan ilmu para Imam adalah Kitabullah dan Sunnah. Dengan itu pula kita bertanggung-jawab kepada Allah SWT di akhirat nanti.
* Mungkin, dengan pertimbangan-pertimbangan begitu, Ibnu Hajar rahimahullah menyusun KARYA LINTAS MADZHAB, yang bisa digunakan oleh semua kaum Muslimin, tanpa membedakan madzhabnya.
* Seorang alim tentu menginginkan ilmunya TERSEBAR LUAS, menjadi amal jariyah ilmiah di tengah Ummat. Mereka pasti tidak akan rela jika ilmunya HANYA BEREDAR di kalangannya saja. Kita yakin itu.
* Nabi Saw pernah mengatakan: “Al Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaih.” Hadits ini tidak pernah berubah menjadi “al madzhabu fulan ya’lu wa laa yu’la ‘alaih“.
* Nah itulah, kitab monumental BULUGHUL MAROM MIN ADILLATIL AHKAM lahir dalam kesadaran penyusunnya, tentang pentingnya KEUTUHAN JAMAAH UMMAT. Di atas madzhab masih ada yang lebih utama, yaitu KESATUAN JAMAAH KAUM MUSLIMIN.
* Wallahu a’lam bis shawaab.

(OnCritic).


Entitas Tak Bermadzhab

Juli 15, 2015

>> Kami sepakat untuk menghormati madzhab-madzhab fiqih Ahlus Sunnah. Kami juga sepakat tentang perlunya bermadzhab.
>> Ada yang mengatakan: “Bermadzhab merupakan jalan paling rasional untuk menyatukan Ummat.” Wallahu a’lam.
>> TAPI sangat sedih jika karena alasan madzhab orang bermudah-mudah menuduh saudaranya sesat, menyimpang, ikut jalan setan.
>> REALITAS kaum Muslimin di Nusantara, sangat banyak yang tidak bermadzhab. Begitu juga gerakan-gerakan dakwah Islam, rata-rata tidak menganut madzhab tertentu. Termasuk juga partai-partai Islam/Muslim.
>> Meskipun tidak dipungkiri, NU dan eksponen tradisional, memilih madzhab Syafi’i.
>> Ormas-ormas Islam banyak tidak bermadzhab. Bahkan MUI pun tidak membatasi diri dalam ruang madzhab khusus.
>> Jika tidak bermadzhab dipandang sesat, duh betapa banyak yang akan jadi sesat. Astaghfirullah al ‘azhiim.
>> Syaikh Al Albani rahimahullah sering jadi sasaran caci maki; konon, beliau dianggap ulama musuhnya madzhab-madzhab. Padahal selain beliau, banyak yang tidak bermadzhab.
>> Pendukung madzhab hanya memberi sedikit pilihan: “Anda mujtahid sekelas Ibnu Rusyd? Kalau bukan, wajib ikut madzhab.”
>> JADI seolah, rahmat agama ini hanya untuk segelintir para Mujtahid saja. Selainnya, tak berhak.
>> PADAHAL para ulama Mujtahid itu sendiri TAK ADA yang mewajibkan Ummat mengikuti pendapatnya. Tidak ada yang menetapkan: “Ummat wajib ikut pendapat saya.”
>> Kita ingat kisah, ketika pendapat Imam Malik rahimahullah tersebar luas; beliau malah menangis sedih.
>> Bahkan kami kira Syaikh Al Buthi pun tidak mewajibkan manusia ikut pendapatnya. Adakah bukti beliau wajibkan manusia ikut pendapatnya?
>> PENDAPAT para ulama bisa macam-macam, sesuai keragaman telaahnya. Tapi kita yakin, ADA YANG BISA MENYATUKAN Umat Ahlus Sunnah ini, yaitu: Rahmat Allah. Seperti kata Nabi Saw: “Laa tajma’u ummati ‘ala dhalalah” (ummatku tak akan berkumpul di atas kesesatan).
>> Seasing-asingnya pendapat Ahlus Sunnah, pasti akan selalu ada jalan untuk bisa bersatu. Apa dasarnya? Yaitu rahmat Allah melalui Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. Bukankah Nabi Saw pernah berkata: “Ma in tamasaktum bi hima lan tadhillu abada” (selagi kalian berpegang pada keduanya, kalian tak akan sesat selamanya). Adakah yang meragukan janji ini?
>> SECARA fakta, banyak dari Ummat ini tidak terikat madzhab. Di Nusantara maupun dunia. Dan mereka itu bukan sekelas Ibnu Rusyd, Ibnu Hazm, atau Ibnu Taimiyah. Jadi mau kita apakan Ummat yang banyak itu? Mau dipaksa? Silakan coba…
>> Dalam pandangan kami, janganlah menuduh sesama Muslim sesat, menyimpang, bukan ahlul iman; karena alasan madzhab. SELAGI MEREKA MASIH DALAM LINGKUP METODE AHLUS SUNNAH, mari kita welas asih kepada mereka. Jangan gampangan menuduh orang sesat tanpa dasar.
>> Nabi Saw bersabda: “Innad dina yusrun, wa maa yusyaadad dina illa ghalabah” (agama ini mudah, tidak ada yang menyulit-nyulitkan dalam agama, pasti akan terkalahkan).
>> Wallahu a’lam bis shawaab.

(WeAre).


Rahasia Kemunafikan Kaum Gay (Homo)

Juli 15, 2015

++ Kalau kita berbisik kepada laki-laki gay: “Kenapa kamu tidak mau dengan wanita? Mereka cantik-cantik lho.”
++ Seketika si gay akan menjawab dengan agak emosi: “Ciuuh, sorry ya. Cewek? Gak level ya buat gue. Gue anti cewek. Biar tahu saja.”
++ Beda omongan, beda lagi kelakuan…
++ COBA LIHAT… Perhatikan dan cermati baik-baik.
++ Gay kan tipe laki-laki suka dandan, besolek, bahkan pakai make up. Laki-laki sejati tidak begitu. (Make up laki-laki sejati adalah debu dan air saja. Tidak memakai bedak, tidak lotion). Kebiasaan besolek adalah MILIK KAUM WANITA.
++ Dari bahasa dan gaya, kaum gay juga KAYAK CEWEK. Sekalipun dia jago fitness atau pemain futsal, tetap saja lenggak-lenggoknya dimirip-miripkan cewek. Bahkan cara ngrokoknya pun, bergaya cewek. Katanya anti cewek, tapi bergaya seperti mereka.
++ Parahnya, para gay sering berdandan ala perempuan. Pakai lipstick, eye shadow, pakai busana perempuan, bahkan bikin KONTES KECANTIKAN.
++ Kalau ditanya: “Kenapa kalian berbuat begitu?” Mereka jawab: “Pacar kami kan laki-laki. Kami harus tampil cantik, agar pacar kami betah.”
++ KATANYA mereka “anti cewek” tapi kelakuan CEWEK BANGET. Malah mereka juga meyakini, bahwa BAGAIMANAPUN LAKI-LAKI TETAP MENYUKAI KECANTIKAN.
++ Kesimpulan: …lihat lagi judul tulisan ini!
++ Terimakasih. Semoga manfaat.

(WatchU).

Pembawa Bencana Bangsa AMERIKA

Pembawa Bencana Bangsa AMERIKA


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 224 pengikut lainnya.