Nasib Idealisme Seorang Muslim

Idealisme…

Ia berasal dari kata ideal. Ideal berarti sempurna, excellent, bagus banget, mumtaz, dan sebagainya. Pokoknya mengarah pada pengertian sempurna, syamil, kamil. Singkat kata, idealisme adalah semangat untuk menghidupkan nilai-nilai kesempurnaan.

Dalam praktik, idealisme itu diterjemahkan sebagai komitmen kepada kejujuran, ketulusan hati, pembelaan kepada kebenaran, perjuangan, kepeduliaan, ketidakmunafikan, dsb. Slogan yang selalu dipegang, “Rela hidup menderita, menanggung kesulitan, demi membela kebenaran, kejujuran, keadilan, dan menolak kezhaliman.”

Idealisme ada dalam konteks perjuangan Islam maupun di luar perjuangan Islam. Kalangan sosialis, marxis, pencinta lingkungan, LSM, NGO, feminis, dst. mereka juga mengenal istilah idealisme. Bahkan di kalangan sineas perfilman juga dikenal idealisme. Orang seperti Garin Nugroho, Nia Dinata, dll. dikenal sebagai sineas idealis. Begitu pula gerakan Green Peace dikenal juga sangat idealis dalam melawan pencemaran lingkungan.

Dalam Islam, idealisme lebih dekat ke pengertian Mujahadah (totalitas kesungguhan dalam mengupayakan kebaikan atau memperjuangkan kebenaran). Dalam Al Qur’an disebutkan sebuah ayat, “Di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya dalam rangka mencari ridha Allah, dan Allah itu Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya.” (Surat Al Baqarah). Ayat ini bertutur tentang Shuhaib Ar Ruumi yang merelakan harta kekayaannya diambil orang-orang musyrikin Makkah, padahal kekayaan itu dia kumpulkan dengan bekerja dalam waktu yang sangat lama. Beliau merelakan kekayaan itu, hanya dengan meminta jaminan, dirinya diberi kebebasan berhijrah ke Madinah, menyusul Nabi Muhammad Saw.

Idealisme dalam Islam, adalah kesungguhan dan sikap rela berkorban, dalam rangka membela kebenaran, membangun kebajikan, serta menolak kemungkaran. Idealisme itu terkait dengan misi umum ajaran Islam itu sendiri, sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Apa kabar hari ini? Bagaimana dengan idealisme kita? Bagaimana dengan idealisme seorang Muslim? Bagaimana dengan idealisme-ku, idealisme-mu, dan idealisme kita semua?

Mencari orang idealis saat ini adalah sangat sulit sekali.  Sulit dan sulit sekali, sebab saat ini yang sedang berkuasa adalah ideologi materialisme dan kebanggaan sosial. Materi lebih dihargai daripada nilai kemanusiaan; popularitas diuber-uber, meskipun resikonya membuat seseorang -maaf- harus menciumi pantatnya sendiri.  Idealisme adalah berkorban, memberi, menolong, komitmen dengan kejujuran, kepedulian, dsb. Di mata kaum nasionalis, semua itu tidak menarik, semua itu negatif, atau “Gak ada duitnya”.

Dalam hal ini saya bisa sebutkan tiga contoh “tragedi idealisme”, yaitu: (1)  Tragedi Hatta Radjasa; (2) Tragedi Anas Urbaningrum; dan (3), Tragedi Rama Pratama.  Ketiga orang ini mewakili contoh bulat kematian idealisme di tangan tokoh dan pemuda Islam.

Hatta Radjasa itu tadinya adalah seorang anggota dewan dari PAN, di jaman Gus Dur dan Megawati. Dia satu angkatan dengan Alvin Lie. Di jaman Gus Dur dan Mega, ya Allah ya Rabbi, Hatta Radjasa sangat-sangat kritis. Sangat kritis, sehingga kalau ada wartawan tidak kenal komentar Hatta, dia dipertanyakan apakah dirinya layak disebut wartawan. Oh ya, Hatta itu alumni ITB juga.

Ketika masuk era SBY-JK, Hatta ditawari jabatan menteri perhubungan. Dia mau dan jadilah seorang menteri. Pas jadi menteri perhubungan banyak kasus kecelakaan transportasi, seperti  hilangnya Adam Air, terbakarnya kapal Levina I, dll.  Hatta membela diri dengan sekian banyak komentar. Paling tidak, dia tidak mau disalahkan begitu saja.  Setelah sekian banyak kritik, Hatta diganti posisinya, sekarang menjadi Mensekneg (?). Dalam posisi ini, Hatta sudah berubah sama sekali dari sikap kritisnya dulu. Dia sekarang termasuk loyalis pentingnya Kabinet SBY-JK.

Apa Hatta tidak ingat dengan kritik-kritik pedasnya dulu? Bagaimana jika dia saat ini mendapat tekanan kritik sepedas kritik-kritik dia dulu?

Kemudian Anas Urbaningrum, mantan Ketua HMI. Tokoh muda yang banyak berkomentar kritis dan idealis tentang kebobrokan regim Orde Baru, termasuk mengkritisi politisi-politisi busuk. Sampai akhirnya, dia menjadi anggota KPU  mewakili elemen pemuda (kalau tidak salah KPU periode 1999-2001). Setelah menjadi anggota KPU, dia berhubungan dengan uang sliweran miliaran, bahkan triliunan rupiah. (Ho ho…banyak sekali uang ini, berdebar-debar hatiku). Singkat kata, dia hampir tersangkut delik korupsi yang menimpa teman-temannya, seperti Prof. Nasyaruddin Syamsuddin, atau Mulyana W. Kusumah.

Menyadari posisi lemah, Anas mendekat ke Partai Demokrat (partai SBY).  Sejak dikukuhkan menjadi salah satu fungsionaris pusat Partai Demokrat, posisi Anas safety. Anas dan kawan-kawan saat ini sedang giat-giat “menyadarkan masyarakat” tentang perlunya menaikkan harga BBM.

Selanjutnya adalah “pangeran reformasi 1998”, Rama Pratama.  UI punya, seperti umumnya almamater “Mafia Berkeley”.  Saya masih ingat, betapa 10 tahun lalu Rama ini sangat keras komentar-komentarnya terhadap kebobrokan regim Orde Baru. Sewaktu jadi BEM UI, Rama adalah “mahasiswa netral” yang mencerminkan idealisme perjuangan mahasiswa Muslim. Pokoknya, perjuangan pro keadilan itu ada di tangan Rama (dkk.), sementara kezhaliman dan penindasan ada di tangan Orde Baru.

Entah, bagaimana mulanya, Rama tiba-tiba menjadi caleg PKS di pemilu 2004. Singkat kata, Rama terpilih menjadi anggota legislatif dari kubu PKS. Rama termasuk istimewa, sebab selain masih muda, mewakili nafas mahasiswa, juga dia seorang tokoh sentral gerakan reformasi mahasiswa 1998.

Apa yang terjadi setelah Rama jadi anggota legislatif PKS, masuk komisi Ekonomi? Tidak ada yang tahu. Tidak banyak yang tahu. Mengapa? Sebab Rama memang nyaris tidak terdengar suaranya, nyaris tidak terdengar perannya. Belakangan saya sering baca Republika, disana ada juga komentar-komentar Rama Pratama.

Salah satunya, setelah Reformasi berjalan 10 tahun, Rama mencatat sekian banyak keberhasilan di bidang politik, dan kata dia di sektor ekonomi belum ada perkembangan memuaskan.

Naif betul jalan pikiran Rama Pratama itu. Apa artinya politik, kalau tidak ada dampak kesejahteraannya bagi masyarakat? Lagi pula, bukankah dia di komisi bidang ekonomi? Dan tidakkah dia tahu, bahwa ekonomi adalah sasaran serangan kapitalisme pertama (Krisis Moneter) sebelum akhirnya terjadi Krisis Multidimensi?

Tapi susah berbicara masalah itu dengan partai yang sudah koalisi dengan regim. Susah, sebab mereka sendiri (PKS) sudah include bersama regim yang bergulir. Ya, jawabannya akan selalu membela diri, dan tak akan rampung-rampung. Ketika tabloid Suara Islam menyimpulkan bahwa Reformasi Gagal, majalah Tarbawi justru menganggap kesimpulan seperti itu tidak sempurna. Ya begitulah, ketika rumah-rumah sudah diisi banyak aset, jadi kelu untuk mengatakan kebenaran.

Sudahlah…Anda beramal, kami pun beramal. Kita nanti akan melihat hasil dari setiap amal yang kita tanam. Ya Allah ampuni kami, maafkan kami, teguhkan kami di jalan yang lurus. Amien ya Karim.

=== AMW ===

Iklan

One Response to Nasib Idealisme Seorang Muslim

  1. wahyu berkata:

    alhamdulillah, cukup menggugah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: