Seorang Munarman…

Ada rasa sedih, prihatin, bercampur bangga, jika berbicara tentang Pak Munarman. Prihatin dan sedih, beliau masuk DPO (Daftar Pencarian Orang), atau bahasa “gaulnya” menjadi buronan, seperti Noordin M. Top dan dr. Azahari dulu. Sedih, sedih sekali… Piye tho Mas, perjalanan kok sampai disini?

Tapi, ada rasa bangga juga… Masya Allah, seorang Munarman sedemikian rupa pengorbanannya dalam membela Islam dan kepentingan kaum Muslimin. Ya Rabbi, kalau ingat siapa dia dulu, rasanya mustahil Pak Munarman akan menjadi seperti ini. Tapi itulah, ketika Allah telah menakdirkan, segala sesuatu yang tampak mustahil akan terjadi juga.

Bicara soal Munarman, tidak lepas dari background YLBHI atau disingkat LBH saja. Bagi siapa saja yang sering mengikuti berita-berita di jaman Orde Baru, pasti tahu siapa LBH. LBH bisa dikatakan sebagai LSM musuh bebuyutan Orde Baru di masa lalu. Tokohnya yang paling terkenal adalah Adnan Buyung Nasution, sosok Tapanuli dengan rambut nyaris sudah putih semua. Entah, apa karena Buyung “salah pakai minyak rambut” atau apa, tapi jejak konflik legal antara Buyung dengang penguasa Orde Baru, tidak diragukan lagi. Buyung telah menjadi oposan, sebelum lainnya bangkit.

Tapi ya…itulah, sekuat-kuatnya seorang oposan, jika sudah mendekat ke kekuasaan, sudah bermain-main company, tender, proyek, dst. pasti akan luruh juga. Tidak terkecuali Si Buyung ini. Komitmennya luruh juga. Tapi sangat bisa dimaklumi, seseorang yang sehari-hari memang kerjanya …MELAKUKAN PENGGALIAN MATERI, SISTEM, & STRATEGI HUKUM…untuk memenangkan klien, suatu saat dia pasti akan melakukan pembelaan dalam spirit “for money only”. Tidak peduli, siapapun yang meminta pembelaan, akan dilayani, asal “punya duit”. Soal pelanggaran hukum seberat apapun, gampang, tinggal dicari “upaya-upaya hukum” yang cantik. Jika klien tidak bebas, minimal sanksi yang dia terima akan menjadi seminimal mungkin. Demikianlah, dan begitulah the real live of the lawyers.

Disini, Pak Munarman memiliki jalan berbeda dengan seniornya, Adnan Buyung Nasution. Pak Munarman masih memiliki idealisme, seperti seorang Munir yang kini terbaring dalam kubur karena pembelaannya terhadap korban-korban kekerasan. Munir dan Munarman, meskipun bukan bersaudara, memiliki karakter yang mirip. Hanya domain aktivitasnya berbeda, Pak Munarman berani berpihak ke salah satu gerakan Islam, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Saya merasa, kesamaan concern dan interest itulah yang bisa mempertemukan seorang Munarman dengan HTI. Sebagaimana kita tahu, HTI (atau HT secara umum) paling sensitif kalau sudah membahas soal Kapitalisme. Dan realitas di Indonesia memang tidak jauh dari itu. Negeri ini seperti menjadi syurganya kaum Kapitalis. Na’udzubillah.

Kembali ke sosok Munarman…

Beliau itu kurus, tidak bertubuh perkasa, atau lemak menimbun dimana-mana. Bukan seorang ustadz, hanya aktivis Islam. Tetapi perhatiannya terhadap persoalan Ummat Islam sedemikian kuatnya. Dia rela meninggalkan YLBHI, padahal kalau dia mau menjadi “pangeran hukum”, jalan kesana terbuka sangat lebar. Ya bayangkan, jika mendapat satu kasus korupsi senilai 100 miliar misalnya, bisa lho dapat 10 atau 15 persen dari total angka korupsi dari klien itu (tentu dengan lobi-lobi tertentu). Tapi semua itu ditinggalkan, bahwa dia berani membuka front pemikiran dengan seniornya, Si Buyung.

Di hari ini Munarman tak ketahuan dimana rimbanya. Banyak isu-isu yang beredar, tapi setiap Muslim yakin, bahwa Allah Ta’ala Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Para penyiar TV tak henti-hentinya menyebut Munarman sebagai “buron polisi”. Entahlah, beliau saat ini dimana.

Sikapnya sangat teguh, dia tak akan muncul, sebelum Ahmadiyyah dibubarkan. Wah, luar biasa, sikap rebellion… Jarang ada orang Indonesia yang berani mengambil langkah ini. Jika Noordin M. Top dan dr. Azahari, semua orang sudah maklum, mereka terlibat dalam aksi-aksi terrorism, atau dituduh seperti itu. Tapi Pak Munarman kan berbeda, beliau orang “legal”, mantan jawara LBH, menjadi aktivis HTI, dan kerap tampil di permukaan dalam rangka advokasi Ummat.

Saya juga membaca tentang upaya Anton Medan untuk menjadi mediator Munarman dengan pihak kepolisian. Disana sempat terjadi kucing-kucingan dengan “4 terrano” yang mengikuti dari belakang. Artinya, masalah beliau ini telah sedemikian kritis. Jika Pak Munarman tetap bersikap rebellion (membangkang), khawatirnya pihak kepolisian akan bersikap keras kepadanya. Bisa saja, nanti turun instruksi “tembak di tempat”. Nah, serius kan…

Sebagai seorang Muslim, seseorang yang tidak berdaya apa-apa, jika Allah Ta’ala tidak menolongnya, saya menghimbau Ummat Islam:

“Tolonglah Pak Munarman ini! Tolonglah dia, jangan biarkan dia memikul sendiri masalahnya. Toh, dia tersudut dalam posisi paling sulit seperti ini juga karena membela Ummat Islam dalam kaitan dengan Ahmadiyyah. Tolonglah, tolonglah, jangan sampai kepedihan hati kita bertambah-tambah, dengan derita berat yang menimpa seorang pemuda Islam, yaitu Pak Munarman. Janganlah lihat dia sebagai apa atau apa, tapi lihatlah sebagai seorang Muslim, mujahid yang membela Islam dalam soal pembubaran Ahmadiyyah.”

Pak Munarman punya prinsip yang kuat, kita tahu itu, alhamdulillah. Tapi menghadapi regim hanya seorang diri, kita juga tahu akibatnya. Sebab sudah banyak contohnya. Sekuat-kuatnya kita, tak akan sanggup menghadapi power of the nation. Dalam kasus ini, lebih baik melihat Pak Munarman pulang, meskipun resikonya nanti masuk “terali besi”, daripada kehilangan dirinya secara keseluruhan. Kan ada kaidah fiqih, mengambil madharat paling kecil.

Seolah berpacu dengan waktu, Ummat Islam harus menyiapkan “landasan” sebelum Pak Munarman keluar dari persembunyian. Bentuknya:

(1) Kita bisa meminta polisi agar tidak berlaku kasar kepadanya.

(2) Kita bisa meminta rekan-rekan sejawat Pak Munarman, kalau tidak salah “Tim Palembang”, untuk mengawal kasus beliau dari awal sampai akhir. Tetapi harus ada komitmen serius. Paling tidak, TPM bisa mendampingi beliau.

(3) Kita meminta dalam kasus Munarman ini, agar opininya difokuskan pada kejadian insidental di Monas itu, bukan dikembangkan kemana-mana. Jangan karena satu pintu, lalu terbuka banyak pintu-pintu lain, yang sebenarnya tidak relevan.

(4) Jika Pak Munarman akhirnya dibawa ke meja hijau, kita memohon agar para koordinator AKKBB juga diseret kesana, sebab mereka itu provokator insiden Monas.

(5) Adapun soal Ahmadiyyah, biarlah ia menjadi agenda Ummat Islam, khususnya ormas-ormas Islam. Jangan menjadi beban pribadi Pak Munarman sendiri. Soal dibubarkan atau tidaknya Ahmadiyyah, janganlah menjadi kendala bagi Pak Munarman untuk menjalani hidup secara normal.

Tapi, semua ini hanya usulan yang bisa saya sampaikan. Adapun diterima tidaknya, terserah kaum Muslimin, khususnya Pak Munarman. Apapun keputusannya, kita semua berharap kepada Allah agar keadaan Pak Munarman baik-baik selalu. Jika beliau akhirnya “turun gunung”, semoga hari-harinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika beliau bersikeras tetap “bersembunyi”, semoga Allah memberikan hasil kebajikan bagi Ummat Islam, atas keteguhan hatinya. …dan aku memohon kepada Rabbul ‘Izzati amma yashifun, agar masih bisa bersua seorang rijalul Islam, Munarman, di kesempatan nanti.

Ya Rabbi ya Rahmaan, tolonglah para syababul Islam, dimanapun mereka berada. Allahummanshurna wa ikhwana, innaka khairun Nashirin, innaka Anta Maulana wa Niimal Maula. Amin Allahumma amin.

Bandung, 9 Juni 2008.

AM. Waskito.

Iklan

4 Responses to Seorang Munarman…

  1. Moris Priyandono berkata:

    Bubarkan Ahmadiyah..!! It should be banned.

  2. abisyakir berkata:

    @ Moris.

    Terimakasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat. Amin. [AMW].

  3. Public Speaking berkata:

    Hey I just did find your blog. Good Stuff! Dont have time now to read trough all the topics but I will come back later to read more.

  4. MUNIR berkata:

    gitu dong….dukung terus orang-orng yang membela islam dan menyelamatkan umat.Bubarkan Ahmadiyah!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: