Hukum “Menyundul Bola”

Anda suka main bola?

Anda mengikuti even Euro 2008 di Austria-Swiss?

Dalam pertandingan bola pasti ada yang namanya “menyundul bola”.

Istilah kerennya “heading” (dari kata head atau kepala, artinya mengarahkan bola dengan sundulan kepala).

Selama ini, tidak banyak masyarakat atau ulama yang mempermasalahkan permainan bola. Mereka berpandangan baik-baik saja. Bila ada kritik, mungkin soal waktu shalat yang sering dilewat; soal perjudian dengan bola; soal fanatisme tim berlebihan; soal kerusuhan akibat main bola; soal mengagung-agungkan pemain; soal lalai dalam permaian, dsb.

Hampir tidak ada yang mempermasalahkan soal teknik main bola itu sendiri.

Disini saya coba ungkap satu persoalan yang kelihatan remeh, tetapi penting. Ia adalah soal “hukum heading” atau hukum “menyundul bola”. Menurut Anda, atau menurut pengetahuan yang pernah Andas dengar/baca, bagaimana hukum heading itu?

Sejak beberapa tahun terakhir, kami kalau main bola, terutama kalau main bersama anak-anak (sebab sudah lama tidak main bola, sejak SMAn dulu), kami tidak lagi melakukan heading. Kami main bola, menendang, menahan, dribble, dan sebagainya, tetapi tidak dengan heading (menyundul).

Kami berpandangan, menyundul bola tidak boleh dilakukan oleh setiap Muslim yang bermain bola.

Alasannya sebagai berikut:

1. Kepala adalah bagian tubuh yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kepala adalah bagian tubuh yang kita pakai untuk sujud dan ruku’ kepada Allah. Kepala adalah tanda ketundukan diri kepada Ar Rahmaan, dan penghambaan kepada-Nya. Kepala adalah mulia, sebab ia dipakai untuk sujud. Kepala tidak pantas dipakai untuk melakukan sesuatu yang hina/rendah.

2. Bola sebagai wujud benda adalah sesuatu yang hina. Mengapa? Sebab ia digulirkan di atas tanah, ditendang kesana-kemari, diinjak, didesak, dihimpit, diperlakukan seperti apapun yang kita inginkan. Bola adalah benda yang posisinya hina, dan tentu tidak pantas kepala orang-orang beriman yang selalu sujud kepada Ar Rahmaan menyundul benda hina dengan kepalanya. Gunakan kepalamu untuk sesuatu yang berarti, jangan dihinakan di bawah pantulan bola.

3. Kepala juga bagian tubuh yang sensitif. Di dalamnya terdapat otak, mata, telinga, mulut, hidung, wajah, dsb. Benturan terus-menerus dengan bola tentu akan merusak kepala itu sendiri. Pasti dan pasti, benturan kepala dengan bola, apalagi bola dari posisi tendangan yang sangat keras, pasti akan melemahkan kepada itu sendiri. Seperti kasus olahraga tinju yang bisa menyebabkan Parkinson (seperti petinju M. Ali), benturan bola dan kepala pasti ada dampak buruknya.

Karena itu, secara pribadi saya menyaksikan, dari para pemain sepak bola di dunia, rata-rata tidak ada yang pintar. Jika ada yang pintar, bidangnya adalah bola itu sendiri. Adapun di bidang-bidang lain, saya tidak melihat ada yang pandai sampai selevel ilmuwan.

Alhamdulillah, dulu sewaktu bermain bola, saya tidak banyak berurusan dengan soal heading ini sendiri. Dulu berkali-kali mencoba memaksakan diri heading, sebab tadinya ingin juga jadi pemain bola. Dan pengalaman yang saya rasakan, heading itu sakit dan menyakitkan kepala. Kalau kini, saya bermain hanya dengan tendangan-tendangan saja, tidak sampai heading.

Singkat kata, heading tidak boleh dilakukan, dengan alasan ia membawa madharat dan tidak layak bagi seorang mukmin yang mulia menghinakan kepalanya di bawah benda bernama bola.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Silakan dikomentari kalau ada pendapat-pendapat berbeda. [amw].

Iklan

One Response to Hukum “Menyundul Bola”

  1. abisyakir berkata:

    Referensi tambahan:

    “Bola Disundul Otak Pun Rusak”.
    (Hidayatullah.com, 4 Desember 2011).

    Hidayatullah.com–Terlalu sering menyundul bola dapat mengakibatkan kerusakan pada otak. Begitu para dokter memperingatkan.

    Sundulan bola diyakini adalah faktor penyebab kematian bintang sepakbola Inggris tahun 1960-an, Jeff Astle.

    Astle meninggal dunia pada tahun 2002 dalam usia 59 tahun. Ia mengalami masalah kognitif setelah bertahun-tahun bermain untuk kesebelasan Inggris dan West Bromwich Albion.

    Petugas yang memeriksa mayatnya, mengatakan bahwa kematiannya disebabkan oleh penyakit degeneratif otak akibat sering menyundul bola sepak yang terbuat dari kulit yang berat.

    Walaupun bola yang dipakai dalam olahraga sepakbola sekarang ini lebih ringan dibanding tahun 1960-an, namun menurut Dr Michael Lipton dari Montefiore Medical Center, rumah sakit universitas milik Albert Einstein College of Medicine, tidak berarti menyundul bola tidak lagi berbahaya.

    Bola dapat meluncur dengan kecepatan 34 mil/jam saat sesi permainan rekreasional. Kecepatan itu dapat bertambah lebih dari dua kali lipat dalam pertandingan sepakbola profesional.

    Tim peneliti yang dipimpin Dr Lipton memeriksa dampak yang ditimbulkan di kepala, jika sering terjadi kontak dengan bola.

    Para peneliti menggunakan alat khusus pemindai otak, dikenal dengan diffusion tensor imaging, yang dapat memvisualisasikan jaringan syaraf dan otak dengan baik.

    Sebayak 32 pemain sepakbola yang menjalani pemindaian otak, ditanya sesering apa mereka menyundul bola saat berlatih dan bertanding.

    Hasilnya menunjukkan, para pemain yang sering menyundul bola memiliki tanda-tanda cedera ringan pada otaknya.

    Lima bagian otak mengalami kerusakan, yaitu di area otak depan hingga tengkorak belakang, di mana proses kerja otak seperti menyimak, mengingat, fungsi eksekusi dan fungsi visual yang lebih tinggi berlangsung.

    Para peneliti yakin, kerusakan yang terjadi berkembang seiring dengan waktu.

    Menurut penjelasan Dr Lipton yang disampaikan dalam petemuan tahunan Radiological Society of North America, sebagaimana dilansir BBC (29/11/2011), menyundul bola tidak serta-merta mencabik jarigan syaraf pada otak. Kerusakan sel otak terjadi karena benturan dengan bola yang berulang-ulang di bagian kepala.

    Para pesepakbola yang mengalami cedera di otaknya itu, juga menunjukkan hasil buruk dalam tes yang dirancang khusus untuk memeriksa kemampuan berpikir dan ingatan verbal serta kecepatan waktu reaksi.

    Kerusakan terlihat pada para pesebakbola yang mengaku sedikitnya menyundul bola 1.000 kali dalam satu tahun. Kedengarannya memang sangat banyak, tapi jumlah itu biasa bagi pemain sepakbola.

    Namun, peneliti lain masih kurang yakin bahwa menyundul bola bisa merusak otak.

    Dr Andrew Rutherford dari jurusan psikologi di Universita Keele, selama beberapa tahun telah meneliti kerusakan yang mungkin ditimbukan akibal menyundul bola. Ia yakin, sebagian besar cedera yang ditimbulkan terjadi akibat benturan antar kepala pemain sepakbola saat berusaha menyundul bola, bukan karena benturan dengan bola itu sendiri.*

    Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/20042/04/12/2011/bola-disundul-otak-pun-rusak.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: