Kembalinya “The Spirit Of Win”

Even EURO 2008 usai sudah. Capek semua. Bukan hanya pemain, pelatih, offisial, crew, penonton, dst. tetapi juga para pemirsa TV di seantero dunia. Maklum EURO 2008 di Austria-Swiss disaksikan seluruh penjuru dunia. Katanya, “Gimana ya…seru sih!”

Tim Spanyol (Spain) akhirnya tampil sebagai juara, setelah 44 tahun menanti. Spanyol unggul 1-0 lawan Jerman, gol oleh Fernando Torres. Spanyol disebut sebagai tim terbaik, menang dengan sempurna, menampilkan sepak bola indah, tetapi juga efektif nyetak goal.

Di balik “layar” ada sesuatu yang penting dicermati. Maaf ini bukan soal “bola mania” lho, tapi soal mentalitas manusia.

Sejak awal tim Spanyol mainnya bagus, stabil, dan tak terkalahkan. Seri aja tak pernah, selama EURO 2008 ini. Jadi menang terus. Istilah, “Bola itu bundar, kadang muncul hasil tak terduga.” Itu tak berlaku bagi tim berjuluk La Furia Roja itu. Pengamat bola mengatakan, kemenangan Spanyol adalah bukti kemenangan “sepak bola” itu sendiri. (Unik ya, jelas main bola, kok masih dibilang kemenangan “sepak bola”. Kemenangan apa lagi dong? Jelas bukan basket, tenis, renang, atau badminton?).

Dalam pertandingan sepak bola, faktor yang menentukan kemenangan macam-macam, bukan hanya FISIK, TEKNIK, dan STRATEGI. Kadang juga bisa berupa keberuntungan, keberpihakan wasit, bahkan kecurangan pemain. Itu bisa-bisa saja. Tetapi EURO 2008 itu disebut kemenangan murni sepak bola. Hebat kan…

Tapi sejatinya, sejak awal Spanyol diragukan ketika bertemu di final dengan Jerman. Alasannya, mental pemaian Spanyol cepat bobrok, drop, atau lemah. Oleh karena itu, mereka minus mendapatkan kemenangan dalam laga-laga internasional. Pemainnya hebat-hebat, tetapi koleksi kemenangannya sedikit. Why? Sebab mereka didiagnosa, “Tidak punya mental juara!” Cepat bobrok, sebelum pertandingan dilangsungkan.

Anda bisa bayangkan, bagaimana rasanya bermain di tengah lapangan dilihat oleh puluhan ribu penonton, bahkan oleh miliaran mata manusia. Penampilan harus bagus, tak boleh salah atau lemah. Bagi yang bermental bobrok, mereka akan “demam panggung”, ketakutan, atau sudah “kalah” sebelum peluit panjang dibunyikan.

Sejak lama, Spanyol dianggap sebagai bangsa bermental buruk, temperamen, pemarah, mudah konflik, rasialis, tidak menghargai proses, tidak menghargai pemikiran luhur, cenderung hedonis, norak, kampungan, dst. Bayangkan, tradisi mereka saja “Matador”, tradisi primitif seperti Kaisar Romawi yang membangun Colloseum untuk mengadu manusia dengan singa. Itu tradisi primitif.

Tetapi hebatnya, dalam EURO 2008, Spanyol mampu mengalahkan tim Jerman yang dikenal memiliki keunggulan: Kekuatan fisik, postur tubuh tinggi, pengalaman juara, dan mental yang tangguh. Bangsa Aria Jerman bisa dikatakan adalah kualitas “the best” manusia Eropa. Dalam sepak bola, Jerman punya segudang cara untuk memenangkan pertandingan. Kalau tidak menang secara teknis, mereka akan memakai cara “non teknik” (baca: kecurangan).

Sebelum final berlangsung, Spanyol diejek oleh pemain Jerman, “Mereka tidak punya mentalitas jadi juara.”

Kenyataan berbicara, Spanyol benar-benar juara, juara sejati, juara dengan kualitas kemenangan “sepak bola”. Mereka tidak bermain curang, kasar, keras, atau licik seperti tim lain. Padahal postur tubuhnya lebih pendek dan kecil dibandingkan rata-rata pemain Jerman atau Itali.

Pelajaran yang bisa diambil, inilah kemenangan mentalitas tangguh. Bangsa Spanyol belum pernah memiliki tim dengan mentalitas sehebat tim saat ini. Mereka benar-benar kuat dan pekerja keras. Salah satu alasannya, pelatih Spanyol yaitu Luis Aragones, dia seorang motivator, terus memompa motivasi anak-anak asuhnya agar bermain cemerlang.

Tugas Aragones sederhana, yaitu: Mengkondisikan agar bakat pemain-pemain Spanyol keluar, terekspresikan secara maksimal, tidak terhambat oleh masalah-masalah mental, minder, takut, khawatir, dsb. Mereka pemain berbakat kok, hanya karena selalu “kalah oleh dirinya sendiri”, perjalanan mereka sering berakhir dengan kegagalan. Dan Aragones berhasil. Itu pun dicapai setelah dia bekerja selama 4 tahunan.

Para pemain Jerman tertegun ketika menyaksikan betapa tegarnya pemain-pemain Spanyol, padahal mereka sudah diprovokasi sedemikian rupa agar drop mentalnya. Tetapi tetap saja tak mampu, mereka benar-benar bermental kuat.

Ini adalah pertanda baik. Terus terang, saya mendukung tim Spanyol, meskipun sebagian besar mereka adalah Katholik. Dan itu pun setelah Turki dikalahkan Jerman.

Ingat, Spanyol sebenarnya “negeri Islam” yang sedang “dipinjam” orang lain. Mereka itu negeri Islam, sebab dulu disana pernah tegak berdiri Kekhalifahan Andalusia. Bahkan Andalusia dan jejak-jejak sejarah masa lalu, masih ada sampai saat ini. Orang Spanyol itu berbeda dengan orang Barat pada umumnya. Lihatlah bentuk-bentuk fisik mereka! Seperti hasil persilangan antara Arab dan Eropa.

Dan selama ratusan tahun, bangsa Spanyol dibuat buta, dibuat fanatik, tidak berpikir logis, tenggelam dalam kebodohan tradisi primitif (Matador) mereka. Bangsa itu benar-benar dibuat beku, dibuat “mati langkah”, dibuat tidak kreatif, dst.

Maka dengan EURO 2008 itu tampak disana mereka mulai menyadari potensi kekuatannya. Mereka mulai “pakai otak” dan strategi. Mereka mulai kritis. Mulai mau menggunakan metode, pemikiran, filosofi positif, dst. Ini adalah kenyataan positif yang layak kita syukuri.

Mengapa? Sebab jika mereka mulai “memakai otak”, berarti mereka akan mulai memikirkan masa depan dan masa lalunya. Sampai di suatu titik, mereka akan mempertanyakan, “Ada apa dengan Andalusia? Mengapa kita tinggalkan Andalusia? Mengapa kita ada disini?”

Jika demikian, maka ada harapan Islam kembali bersinar di Eropa. Suatu masa, bangsa Eropa akan kembali dipayungi oleh naungan Islam, dengan Spanyol sebagai titik-tumpunya. Inilah tanda-tanda kembalinya “The Spirit of Win”. Bukan hanya dalam soal bola, tetapi kebangkitan peradaban manusia di bawah naungan Islam, insya Allah.

Selamat datang Granada, selamat datang Alhambra, selamat datang Cordova, selamat datang sejarah emas Andalusia. Marhaban wa ahlan!

[amw].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: