Mengenang Profesor Deliar Noer…

Pertengahan bulan Juni, tepatnya tanggal 18 Juni 2008, umat Islam Indonesia kehilangan seorang tokoh ilmuwan Muslim yang disegani. Beliau adalah Prof. Dr. Deliar Noer, lelaki Muslim asal Tapanuli yang dikenal luas sebagai tokoh sejarawan dan pakar politik Islam di Indonesia. Profesor Deliar meninggal di RSCM, pukul 13.40 WIB, dalam usia 82 tahun.

Di balik kehidupan Profesor Deliar Noer ada beberapa pelajaran berharga yang saya dapatkan…

Beliau itu background-nya HMI, dan pernah menjadi Rektor IKIP Jakarta. Di masanya, beliau pernah bersikap kritis kepada Orde Baru dan hal itu tidak disukai oleh mendiang Pak Harto, sehingga beliau dicopot dari jabatannya. Bisa dikatakan, sejak itu “nasib” Profesor Deliar tidak terlalu “cemerlang” karena dikenali sebagai “orang kritis”.

Beliau seorang sejarawan, wajar saja kalau bersikap kritis, sebab mau membandingkan satu kondisi dengan kondisi lain. Orang Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang “memorinya pendek”, cepat lupa terhadap kenyataan-kenyataan yang belum lama berlalu; selain itu, orang Indonesia juga sangat “melankolik”, mudah bersimpati pada orang lemah/tertindas, meskipun diri mereka salah. Meskipun salah, kalau tertindas, orang Indonesia akan cepat merasa iba kepadanya. (Contoh, kasus Ahmadiyah. Berapa banyak masyarakat bersimpati kepada para pengikut nabi palsu itu, setelah mereka “dipukuli” oleh pemuda-pemuda Laskar Komando Islam (LKI)).

Jadi tidak benar anggapan bahwa Amien Rais adalah satu-satunya tokoh kritis di Indonesia selama Orde Baru. Profesor Deliar Noer telah mendahului dia dalam soal kekritisan. Begitu juga disana ada Sri Bintang Pamungkas, AM. Saefuddin, Adi Sasono, dll. yang juga sama-sama kritis. Bahkan lebih dulu dari mereka adalah Buya Muhammad Natsir, Dr. Anwar Haryono, KH. Husein Umar, KH. Misbach, dan lain-lain tokoh Dewan Dakwah yang ikut mendukung Petisi 50. Termasuk juga almarhum Pak Hoegeng. Bahkan lebih awal lagi adalah Bapak Prawoto Mangkoesasmito, peminpin terakhir Masyumi. Beliau-lah yang pertama kali mendebat pemimpin Orde Baru atas keputusannya mendukung pembubaran Masyumi.

Sekali lagi, Amien Rais bukan yang “paling kritis”. Profesor Deliar Noer paling tidak contoh kritis tokoh Muslim di era Orde Baru. Bahkan sebenarnya, kehebatan Amien Rais tak lebih dari hasil kerja media-media massa untuk mengangkat namanya.

Profesor Deliar menulis sebuah buku berbobot, judulnya “Aku Bagian Ummat Aku Bagian Bangsa” (ABUABB). Buku ini bisa dikatakan seperti otobiografi, tetapi di dalamnya banyak dimuat fakta-fakta sejarah dari “tangan pertama”. Bukan hasil referensi dari buku, media, apalagi internet, tetapi langsung dari sumber berita. Buku itu cukup tebal, banyak data, banyak catatan. Sebuah karya yang menyusunnya tentu dengan proses melelahkan. Setidaknya ia benar-benar buku sejarah ilmiah.

Kalau saya disuruh menulis buku seperti di atas, tentu akan memakan waktu bertahun-tahun, mengumpulkan referensi yang banyak, dan harus didukung dana yang memadai. Jika tidak demikian, tentu sulit melakukannya. Kecuali, jika Allah menghendaki lain.

Sampai batas tertentu, saya merasa, buku seperti ABUABB itu termasuk salah satu karya ilmuwan terbaik di Indonesia.

Jika mengenang Profesor Deliar, saya teringat kejadian yang terjadi sekitar tahun 2003 lalu. Waktunya saya tidak ingat benar, tetapi sekitar itulah. Waktu itu saya dalam perjalanan ke Jakarta mencari alamat penerbit Pustaka Al Kautsar. Saya ditemani saudara istri yang sedang tinggal di Depok. Kami sama-sama belum tahu tempat yang dituju tersebut. Saya berbekal alamat penerbit yang diperoleh dari buku “Sirah Nabawiyyah” karya Al Mubarakfury. Disana tertera alamat Al Kautsar di “Kebun Nanas” Jakarta Timur.

Ketika di kawasan jalan layang Cawang, saya bertanya ke office Al Kautsar tentang posisi kantior penerbit tersebut. Saya diberi arahan demikian-demikian, termasuk rute perjalanan angkotnya. Ternyata, saya salah duga. Secara “de jure” office Al Kautsar mengarahkan agar saya berjalan ke daerah Cipinang, tetapi secara “de facto” saya justru mengikuti alamat di buku. Nah, disini saya muter-muter gak karuan, kesana kemari, berada dalam kebingungan, antara menuju Cipinang atau mencari Kebon Nanas.

Kemudian tahulah saya, bahwa alamat di Kebon Nanas sudah berpindah ke Cipinang. Ya Ilahi, sudah muter-muter, kaki capek sekali, tubuh lemas, ongkos sudah keluar sekian-sekian, ternyata alamat yang di buku sudah berstatus “alamat lama”. Tapi tak apa, ini pengalaman ngider-ngider di gang-gang sempit Jakarta Timur, kawasan Cawang Cipinang.

Di satu titik, secara tak sengaja saya berjumpa dengan Profesor Deliar Noer. Saya lupa tepatnya di jalan apa, tetapi jelas waktu itu saya bertemu dengan beliau. Disinilah persoalannya muncul. Waktu itu Profesor Deliar saya lihat kondisinya sangat sangat sederhana, untuk kapasitas seorang guru besar sejarah, mantan rektor IKIP Jakarta, dan mantan Ketua Umum Partai Umat Islam (PUI). Beliau sangat-sangat sederhana, sendirian, tidak ada yang mengawalnya.

Waktu itu saya lihat beliau sedang berdiri di tepi jalan menanti Metromini. Setelah Metromini berhenti tepat di depannya, beliau naik sambil membawa sebuah “tas pak guru”. Kalau tidak salah warna tas beliau coklat tua. Beliau naik ke angkot, duduk di salah satu bangku, lalu pergi. Angkot itu kosong melompong, terlihat hanya beliau yang naik sambil memangku “tas pak guru”-nya. Sambil kendaraan pergi, saya menatap beliau, dan beliau pun terus memperhatikan saya, sampai bis itu pergi.

Saya malu mau menegur, sebab tidak tahu harus bagaimana? Beliau tidak kenal saya, dan saya juga tidak pernah kenalan dengan beliau. Lagi pula dalam situasi seperti itu sangat sulit untuk ngobrol-ngobrol. Saya sendiri masih terus cari-cari alamat penerbit ditemani famili isteri dari Depok.

Disini saya merasa, betapa Profesor Deliar Noer itu orangnya sangat sederhana. Biasa saja, tidak menampakkan kesombongan atau rasa angkuh. Ya, tipe seorang ilmuwan sejati, insya Allah.

Ironinya, bangsa kita tidak peduli dengan para ilmuwan seperti Profesor Deliar Noer itu. Kalau tinggal di Amerika atau Eropa, beliau bisa dimuliakan oleh akademi-akademi disana. Tetapi di Indonesia, ilmuwan seperti beliau tidak mendapat tempat sama sekali.

Berbeda dengan Tukul Arwana, Tora Sudiro, Aming, Mulan Jamila, Peterpen, Dewi Persik, Luna Maya, GIGI, Slank, Iwan Fals, dsb. orang-orang macam “begituan” malah dipuja-puja habis. Sampai di negeri ini dibuat even-even semacam AFI, Indonesian Idol, Idola Cilik, KD, dsb. untuk menjaring manusia-manusia “berbakat”. Untuk para ilmuwan, cendekiawan, pemikir, penulis, dst. tidak ada tempat layak di negeri ini, tetapi untuk para entertainist seperti Krisdayanti dkk. selalu tergelar “karfet merah” untuk menyambut mereka, dimanapun, kapanpun.

Bangsa ini memang bangsa sakit. Para ilmuwan cuma diberi “metromini”, sementara komedian seperti Tukul Arwana (yang bilang lap top saja = lap top (dibaca dengan huruf ‘a’), setiap malam dia diberi tempat terhormat di Trans7, tayang 1 jam, live.

Hal ini sekaligus memberi pelajaran, bahwa bangsa Indonesia memang tidak disiapkan untuk maju, bangkit, dan mandiri, tetapi selalu dikurung dengan lautan hiburan biar terus terlena. “Terus-terus goyang mereka sama hiburan. Jangan sampai akalnya jalan. Ayo terus tarik Mas, bikin mereka sibuk ama hiburan-hiburan. Kalau gak begitu, ntar kita susah menguras kekayaan negeri ini. Ayo sibukin terus mereka, jangan bikin sadar,” begitu logika para perusak itu.

Maka itu saudaraku, setiap ada kejadian kecil dengan artis/selebritis, dunia seolah guncang. Bermacam-macam acara entertainment ada, sejak pagi sampai tengah malam. Tapi lihatlah, bagaimana ketika seorang Profesor Deliar Noer meninggal? Apa mereka berduka?

Oh tidak, justru semakin berkurang jumlah ilmuwan Islam, itu yang mereka inginkan.

Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Allahummaghfirlahu warhamu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Amin.

A.M.W

Bandung, 30 Juni 2008.

Iklan

2 Responses to Mengenang Profesor Deliar Noer…

  1. mochamad handani berkata:

    Assalamu’ alaikum .
    Setelah membaca artikel ini, saya jadi trenyuh terhadap kenyataan yang dialami bangsa kita ini. Kenapa semua hal hanya diukur dengan urusan perut dan dibawah perut, mana ada kepedulian kepada orang di sekitar kita dan para pemikir bangsa ini yang (nyata-nyata memberikan tauladan kepada anak-anak kita di kemudian hari) tidak dianggap sama sekali. Padahal bangsa-bangsa diluar sangat memuji tingginya budaya bangsa Indonesia yang diberikan oleh Founding Father ( maaf kalau nulisnya keliru) kita.
    Wassalam.

  2. abisyakir berkata:

    Wa’alaikumsalam Warahmatullah wabarakaatuh.

    Syukran Akhi atas kunjungannya.

    Ya, begitulah keadaan negerimu ini. Ini negeri serba ironi, serba aneh. Arah yang membimbing negara ini bukan KEIMANAN, tetapi KEMUNAFIKAN. Nama Allah hanya indah di lisan, tetapi hatinya mengingkari.

    Kemarin saya baca di majalah suara hidayatullah, disana dikatakan banyak manuskrip asli ulama-ulama nusantara yang dijarah oleh para kolonial, melalui tangan para orientalis. Dengan hal itu, bangsa Muslim Indonesia seperti tidak memiliki “sejarah atau karya ilmiah”. Seolah bangsa ini blank, ujug-ujug muncul indonesia seperti sekarang.

    Bandingkan dengan usaha melestarikan benda-benda seperti candi, prasasti, kitab sangsekerta, pusaka, dll. Soal arca-arca kuno saja, hampir menyeret keluarga Hasyim Djojohadikoesoemo, anak Prof. Soemitro begawan ekonomi, ke penjara.

    Bangsa ini sangat peduli dengan peninggalan-peninggalan syirik, sementara peninggalan Islam mau dihapus dari sejarah. Kalau bukan karena akidah rusak pada diri elit-elit negara, tentu tidak mungkin terjadi kekacauan pikir seperti ini.

    jazakallah khair atas komentarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: