Apakah Lebah Haram Dimakan?

Sungguh menarik mengikuti acara “Halal” di TransTV, edisi 22 Juni 2008, sekitar pukul 06.30 sampai 07.00 WIB. Tema yang diangkat ketika itu adalah tentang “lebah”. Disana menghadirkan seorang narasumber pakar hadits Indonesia, Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, MA. Beliau guru besar hadits dan sekaligus pimpinan perguruan hadits Daarus Sunnah Jakarta.

Kalau lebah menghasilkan madu, kita sudah sama-sama tahu. Kalau madu lebah halal dikonsumsi, jelas kita sudah memahaminya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri yang meyakinkan akan kehalalan dan kebaikan madu lebah. Bahkan ketika Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam pernah akan mengharamkan madu, turun ayat dalam Surat At Tahrim yang melarang Nabi mengharamkan sesuatu karena hawa nafsu. At Tahrim sendiri artinya pengharaman. Jelas ya, madu lebah tidak ada khilaf lagi.

Tapi, bagaimana hukumnya makan lebah? Maksudnya, makan tubuh lebah, makan badan fisiknya. Atau diperluas lagi, makan larva lebah. (Larva = anak-anak lebah yang masih kecil, tubuhnya berwarna putih, bentuknya seperti belatung, tinggal dalam lokus-lokus rumah lebah). Nah, bagaimana hukumnya makan lebah itu?

Pertimbangan Mengharamkan Lebah

Menurut penelitian laboratorium, seperti ditunjukkan dalam acara di atas, dalam tubuh lebah terdapat banyak zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk stamina maupun tujuan penyembuhan penyakit. Pendek kata, menurut uji laboratorium, tubuh lebah mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh.

Lebah selain diambil madunya, juga bermanfaat untuk penyerbukan tanaman, bahkan sengatan-nya bisa dipakai untuk terapi refleksi. Hal ini semakin menunjukkan Keagungan Allah dengan karunia-Nya yang banyak pada hewan kecil bernama lebah itu. Alhamdulillah.

Menurut Prof. Ali Mustafa Ya’qub, yang juga duduk sebagai anggota Komisi Fatwa MUI itu, memakan tubuh lebah (bukan madunya, rumahnya, atau polen-nya) hukumnya haram. Harus dicatat juga, dalam acara di atas, Prof. Mustafa Ya’qub berpendapat sendirian, tidak disertai pembanding lainnya.

Alasan beliau mengharamkan, kurang-lebih:

(1) Lebah memberi manfaat kepada manusia, yaitu menghasilkan madu. Kata beliau, sesuatu yang memberi manfaat, tidak boleh dibunuh atau haram.

(2) Membunuh hewan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia sama dengan menzhalimi hewan itu sendiri.

(3) Kalau lebah dibunuh, nanti populasinya lama-lama akan habis, sehingga pada gilirannya tidak bisa menghasilkan madu lagi.

Corak Fiqih Ahli Hadits

Sebelum kita mendiskusikan masalah ini, ada baiknya kita ulas sedikit tentang posisi Prof. Mustafa Ya’qub. Sebagaimana telah dimaklumi, beliau adalah seorang pakar hadits di Indonesia. Satu di antara sedikit pakar hadits yang dimiliki Ummat Islam di Indonesia. Beliau lama belajar hadits, sampai telat menikah. Beliau pernah memberi pengakuan, kurang-lebih maknanya, “Kalau seseorang sudah menekuni hadits, dia akan diberikan kenikmatan ruhiyah luar biasa, sehingga bisa melupakan terhadap kesibukan-kesibukan lain.” Bisa jadi, kenyataan seperti itu pula yang dirasakan oleh ahli-ahli hadits seperti Syaikh Al Albani rahimahullah dan lainnya. Imam Nawawi rahimahullah pun, sampai wafatnya beliau belum sempat menikah, karena hatinya telah “tertawan” untuk menekuni hadits Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam.

Di kalangan Salafiyin di Indonesia, Prof. Ali Mustafa Ya’qub dikenal karena sikap kritis beliau kepada metode tashih hadits yang ditempuh oleh Syaikh Al Albani rahimahullah. Hingga ada sebuah buku tentang “Al Albani Dihujat”, yang merupakan bantahan terhadap buku beliau yang mengkritisi metode tashih Syaikh Al Albani. Kalau tidak salah, Prof. Mustafa Ya’qub ketika belajar hadits di Saudi, beliau banyak menimba ilmu dari Syaikh Yasin Al Palembani, seorang ulama hadits asal Indonesia, yang telah menetap lama di Haramain Syarifain. Kebetulan, Syaikh Yasin juga bersikap kritis terhadap metode tashih Syaikh Al Albani. Seperti sebuah ungkapan, “Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.” Atau ungkapan lain, “Satu guru satu ilmu.” Meskipun tentu, secara akademik, Prof. Mustafa Ya’qub lebih berkesempatan mendapatkan wawasan yang lebih luas.

Ada satu hal yang menarik jika berbicara tentang hasil-hasil ijtihad fiqih para ahli hadits, termasuk Prof. Mustafa Ya’qub di dalamnya. Selama ini, banyak keluhan dari para ulama terkait dengan pandangan-pandangan para ahli hadits. Maksudnya, di mata ulama-ulama lain, para ahli hadits sering dianggap “saklek”, yaitu kurang memahami metode ushul fiqih ketika menyimpulkan hukum suatu perkara. Padahal, kata mereka, kalau mengemukakan hukum fiqih, harus ditunjang ushul fiqih.

Kritik paling keras terhadap ijtihad fiqih para ahli hadits dilontarkan oleh Syaikh Muhammad Al Ghazali rahimahullah, tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir. Dalam sebuah bukunya yang dianggap kontroversial, beliau menyerang keras “metode fiqih” para ahli hadits. Buku tersebut kemudian memicu kontroversi yang luas. Muncul bantahan-bantahan kepadanya, dari yang paling lunak sampai paling keras.

Begitu pula dengan berbagai ijtihad fiqih Syaikh Al Albani. Tidak sedikit yang merasa gerah dengan pendapat-pendapat fiqih beliau. Misalnya tentang tata-cara shalat dan hukum emas yang melingkar di tangan.

Termasuk di Indonesia sendiri. Sejak lama pandangan fiqih ulama-ulama dari Persatuan Islam (Persis) dianggap saklek. Seolah, pandangan mereka bisa diungkapkan dengan kalimat, “Dimana mereka bertemu hadits, disanalah mereka berdiri menetapkan hukum.” Ibarat makanan, seperti makanan yang dimasak begitu saja, tanpa disertai bumbu-bumbu.

Intinya, ketika menetapkan suatu hukum fiqih, kita perlu merujuk dua perkara: (1) Meneliti keshahihan hadits yang dijadikan hujjah; (2) Metode ushul fiqih yang telah ditetapkan para ulama Salaf sebagai koridor. Jika hanya bermodal ushul fiqih tanpa keshahihan hadits, kita akan meninggalkan Sunnah Nabawiyah. Namun jika berpedoman kepada hadits saja, tanpa memperhatikan ushul fiqih, kita juga akan menyia-nyiakan metode fiqih yang telah dibangun para ulama Salaf.

Sebagai perbandingan, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Selain beliau dikenal sebagai ahli hadits dengan kitabnya yang terkenal, Musnad Imam Ahmad, beliau juga merintis madzhab fiqih Hanabilah (madzhab Imam Ahmad bin Hanbal). Tidak ada satu pun yang akan mengingkari posisi Imam Ahmad, sebagai ahli hadits dan sekaligus ahli fiqih. Beliau banyak mengambil manfaat dari ilmu gurunya, imamnya ushul fiqih di Dunia Islam, Imam Syafi’i rahimahullah.

Haramkah Memakan Lebah?

Kembali ke persoalan hukum memakan lebah. Prof. Ali Mustafa Ya’qub menyimpulkan, bahwa lebah haram dikonsumsi, sebab ia bermanfaat menghasilkan madu, mengkonsumsi hewan yang bermanfaat berarti menzhalimi dirinya, dan dikhawatirkan nanti populasi lebah akan habis kalau sering-sering dimakan.

Pengharaman lebah di atas bukan karena dalil-dalil Al Qur’an atau Sunnah yang mengharamkan, tetapi karena alasan kemaslahatan. Metode demikian dikenal dalam fiqih Islam, meskipun akurasinya kerap kali debatable, tergantung sejauhmana pendalaman kita terhadap makna maslahat dan madharat itu sendiri.

Tetapi jika alasan-alasan yang dikemukakan oleh Prof. Mustafa Ya’qub di atas diterapkan dalam kehidupan, kita akan menemui banyak kerancuan. Penjelasannya sebagai berikut:

[SATU], lebah haram dimakan karena ia bermanfaat bagi manusia, yaitu dari hal menghasilkan madu.

Jika alasannya seperti di atas, lalu bagaimana dengan ayam yang menghasilkan telur? Bagaimana dengan sapi yang menghasilkan susu? Bagaimana dengan domba yang menghasilkan bulu-bulu wol? Bagaimana dengan burung walet yang menghasilkan sarang walet? Bahkan bagaimana dengan kambing-kambing yang kotorannya bermanfaat untuk pupuk? Bukankah semua hewan-hewan itu bermanfaat dan menghasilkan manfaat untuk manusia?

Sampai disini, satu alasan Prof. Mustafa Ya’qub terpatahkan. Ayam Broiler yang menghasilkan telur, ia tidak haram dimakan, meskipun semula ia telah banyak menghasilkan telur yang berguna bagi manusia.

[DUA], lebah haram dimakan karena ia telah berjasa bagi manusia. Memakan hewan yang telah berjasa sama saja dengan menzhalimi dirinya.

Pemikiran seperti ini sangat keliru, sebab istilah kezhaliman itu berlaku bagi kehidupan manusia. Jika ada istilah zhalim bagi hewan, maka usaha-usaha peternakan harus ditinggalkan. Misalnya, ada yang memaksa binatang ternak tidak bergerak dalam kandang dan terus-menerus diberi makan, sebab akan diambil dagingnya. Ada yang dipaksa terus bertelur, tidak diberi ruang bergerak bebas, ada yang dipercepat pertumbuhannya, ada dipaksa kawin secara, ada yang terus diambil susunya, dan sebagainya. Berarti semua itu zhalim, sebab melanggar “HAH” (hak asasi hewan). Bahkan, menyembelih hewan untuk dimakan adalah puncak kezhaliman. Sebab hewan-hewan itu merasa kesakitan ketika dibunuh.

Alasan di atas sudah salah-kaprah. Hewan, tumbuhan, alam sekitar telah ditundukkan oleh Allah untuk melayani kehidupan manusia. Jadi, tidak relevan kita berbicara tentang kezhaliman. Sama seperti pemikiran Brigit Bardot, seorang selebritis Italia. Sejak lama dia menentang penyembelihan hewan korban, karena dianggap melanggar “HAH” (hak asasi hewan).

[TIGA], jika lebah terus dikonsumsi, maka akan membuat binatang itu punah, sehingga tidak bisa menghasilkan madu lagi.

Ini juga alasan yang –maaf- naif. Lebah adalah hewan yang diternakkan, meskipun banyak juga yang berkoloni secara liar di hutan-hutan atau pohon-pohon. Lebah tidak pernah menjadi hewan yang dilindungi karena alasan khawatir punah. Lebah itu jenis serangga. Rata-rata serangga memiliki tingkat kemampuan regenerasi luar biasa. Mereka bisa berbiak dengan sangat cepat, dalam jumlah besar. Hampir-hampir tidak ada kekhawatiran populasi lebah akan habis.

Jika karena satu dan lain hal kemudian populasi lebah habis, misalnya terjadi demikian, hal itu juga tidak mengapa. Artinya, manusia akan kehilangan salah satu sumber konsumsi terbaik, yaitu madu. Hal itu jelas merupakan kehilangan besar, tetapi ia tidak akan membuat manusia menjadi punah. Eksistensi manusia tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya madu lebah.

Singkat kata, alasan yang digunakan oleh Prof. Mustafa Ya’qub untuk mengharamkan memakan lebah madu semuanya lemah. Ia tidak berdasar satu pijakan yang kuat. Jika alasan seperti itu dituruti, akan muncul kerancuan-kerancuan.

Lalu bagaimana hukum memakan lebah? Apakah memakan lebah menjadi halal?

Tidak Ada Nash Qath’iy

Dalam Al Qur’an maupun Sunnah tidak ada dalil qath’iy yang mengharamkan manusia mengkonsumsi lebah madu. Tidak ada ayat Al Qur’an atau hadits-hadits shahih yang menjelaskan keharamannya. Seandainya ada, maka topik ini tentu akan dibahas ramai dalam berbagai kesempatan. Nyatanya, perkara memakan lebah madu hanya menjadi persoalan minor yang diperdebatkan.

Dalam ushul fiqih ada sebuah kaidah, “Al ‘ash-lu fil asy-ya-i al ibahah” (hukum asal setiap sesuatu adalah boleh atau halal). Jadi, semua sumber-sumber makanan bagi manusia, pada mulanya ia dihalalkan. Kecuali jika Allah Ta’ala menerangkan keharamannya, maka ia pun menjadi haram.

Kaidah ini sangat penting, agar manusia memahami betapa Pemurahnya Allah Ta’ala. Di dunia ini sangat banyak yang dihalalkan oleh Allah, dan sangat sedikit yang diharamkan, misalnya seperti bangkai binatang, darah yang mengalir, daging babi, hewan yang disembelih bukan karena Allah (Al Maa’idah: 3). Begitu pula haram minum khamr, makan binatang bertaring, binatang berkuku tajam, binatang yang hidup di dua alam (amfibi), binatang menjijikkan, makan dari hasil ribawi, makan hasil judi, hasil kriminalitas, dan lainnya.

Jika tidak ada nash qath’iy yang mengharamkan makan lebah, maka ia tidak haram untuk mengkonsumsinya. Ia masuk pada kaidah, hukum asal segala sesuatu halal, selama belum ada yang mengharamkannya.

Larangan Membunuh Lebah

Dalam hadits disebutkan, Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat jenis hewan: (1) Semut yang merayap; (2) Lebah madu; (3) Burung hud-hud; (4) Burung suradi. (HR. Ahmad dan lainnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu).

Dalam hadits di atas, Nabi melarang membunuh lebah madu. Prof. Mustafa Ya’qub berpendapat, sesuatu yang haram dibunuh, ia juga haram dikonsumsi. Jika lebah madu haram dibunuh, maka ia haram dikonsumsi.

Jika kaidahnya dikaitkan dengan soal pembunuhan, maka pendapat di atas akan memiliki konsekuensi, yaitu: (a) Jika suatu binatang boleh dibunuh, maka dia menjadi halal dimakan; (b) Jika suatu binatang sunnah/wajib dibunuh, berarti dia lebih utama untuk dimakan. Begitulah konsekuensinya, jika kaidahnya didasarkan pada soal pembunuhan.

Lalu bagaimana dengan hadits berikut ini, bahwa Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada lima jenis binatang yang jahat, harus dibunuh di Tanah Halal atau Tanah Haram (Madinah dan Makkah) yaitu: ular, gagak, tikus, anjing galak, dan burung elang.” (HR. Muslim).

Jika kaidahnya dikaitkan dengan soal boleh-tidaknya dibunuh, berarti binatang-binatang liar dan jahat di atas lebih utama untuk dimakan, padahal menurut Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam semua binatang itu haram dimakan. Mereka bertaring, berkuku tajam, dan menjijikkan.

Status Hukum Makan Lebah

Ketika hendak memutuskan hukum memakan lebah, disini ada beberapa konsideran (pertimbangan) yang menjadi acuan, yaitu:

(1) Hukum asal segala sesuatu halal/boleh, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.

(2) Lebah tidak boleh secara sengaja dibunuh, sebagaimana semut, burung Hud Hud, dan burung Suradi.

(3) Islam melarang kita memakan bangkai binatang, kecuali bangkai ikan dan belalang. (HR. Ibnu Majah).

(4) Dalam situasi darurat, sesuatu yang semula haram bisa menjadi halal, asalkan mengkonsumsinya tidak berlebihan. (Al Maa’idah: 3).

Pada awalnya, tidak ada ayat Al Qur’an atau hadits shahih yang mengharamkan memakan lebah. Secara sederhana bisa disimpulkan, memakan lebah halal. Tetapi Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam melarang kita membunuh lebah. Bagaimana mungkin akan memakan lebah tanpa membunuhnya? Jelas ketika kita memakan lebah, berarti kita akan membunuhnya. Nah, sesuatu yang semula tampak halal, mulai ada pembatasnya.

Kemudian muncul pemikiran kritis, “Tetapi bukankah kita bisa memakan lebah yang sudah mati, sehingga tidak perlu membunuh lebah terlebih dahulu? Biarkan saja dia mati dulu, baru nanti dikonsumsi setelah mati.” Jika demikian, berarti ada peluang bisa memakan lebah yang telah mati, bukan secara sengaja membunuhnya. Berarti ada celah kehalalan dari lebah-lebah yang mati secara alamiah.

Namun, pemikiran seperti itu akan terbentur ketentuan Al Qur’an dan Sunnah, bahwa kita dilarang memakan bangkai binatang. Hanya ada dua bangkai yang boleh dimakan, yaitu ikan dan belalang. Lebah tidak termasuk di dalamnya.

Jadi intinya, lebah itu memang haram dimakan, meskipun tidak ada dalil qath’iy yang melarang secara tegas memakannya. Dalilnya adalah, hadits Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam yang melarang kita membunuh lebah, sedangkan tidak mungkin akan mengkonsumsinya tanpa terlebih dulu membunuhnya. Dalil lain adalah keharaman memakan bangkai, termasuk bangkai lebah di dalamnya.

Jika ada keperluan-keperluan khusus, misalnya untuk terapi pengobatan, sehingga seseorang harus memakan lebah, maka hal itu masuk hukum darurat, diperbolehkan, asalkan bersifat sementara dan tidak berlebihan.

Lebah, semut, burung Hud Hud, burung Suradi, termasuk di antara binatang-binatang yang dihormati dalam Islam. Lebah sendiri diabadikan dalam Al Qur’an pada Surat ke-16, yaitu Surat An Nahl (Lebah). Ayat di bawah ini menunjukkan keutamaan lebah di hadapan Allah Ta’ala:

Dan Rabb-mu telah mengilhamkan kepada lebah itu: ‘Buatlah olehmu (wahai lebah) sarang di bukit, di pohon, dan pada tempat yang dibuat (oleh manusia). Kemudian makanlah dari setiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah memudahkan.’ Dari perutnya kemudian keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat bagi manusia.” (An Nahl: 68-69).

Dapat disimpulkan, lebah madu adalah hewan yang tidak boleh dimakan. Namun alasannya bukan karena ia hewan bermanfaat, menzhalimi dirinya, atau khawatir populasi lebah akan punah, tetapi Nabi melarang membunuhnya dan Islam melarang kita memakan bangkai binatang.

Demikian yang bisa dikemukakan. Semoga bermanfaat. Amin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Selesai ditulis: Bandung, 2 Juli 2008.

Oleh Abu Muhammad Waskito.

Iklan

36 Responses to Apakah Lebah Haram Dimakan?

  1. eza berkata:

    bagaimana kalau kami memakan telornya(anak2nya)? kan semua jenis telor itu halal karena kami kebetulan sering memakannya, mohon penjelasan beserta dalil kitab wasunah-nya, terima kasih

  2. abisyakir berkata:

    Syukran jazakallah Eza sudah berkunjung.

    Setahu saya, dalil memakan telur sebenarnya juga tidak disebutkan secara qath’iy. Wallahu a’lam. Tetapi bukan berarti telur lalu haram dimakan. Artinya begini, sesuatu yang tidak ada larangan dalam Kitabullah dan Sunnah untuk memakannya, maka ia halal.

    Dalam kaidah fiqih ada suatu ketentuan, “Al ashlu fil asy-ya-i al ibahah” (asal segala sesuatu, dalam muamalah, adalah mubah/boleh). Ia baru menjadi haram kalau ada dalil yang mengharamkannya.

    Jadi telur, sayur, buah-buahan, rempah-rempah, dan sebagainya yang tidak ada dalil pelarangannya, ia halal/boleh dikonsumsi, sebagaimana lazimnya makanan-minuman halal.

    Dalam kasus telur/larva lebah.

    Saya yakin, kalau Anda mengaduk-aduk isi Kitabullah dan Sunnah, tidak akan menjumpai pembahasan tentang hukum memakan telur/larva lebah. Mohon dimaklumi jika tidak dijawab dengan dalil Kitabullah dan Sunnah. Jadi, status hukum telur/larva itu merupakan hasil istinbat/penyimpulan hukum dari berbagai indikasi-indikasi yang ada.

    Kalau menurut saya, wallahu a’lam bisshawaab, memakan telur/larva lebah sama dengan memakan lebahnya. Artinya, lebah tidak boleh dibunuh, dan bangkainya tidak halal dimakan, sebab bukan bangkai ikan atau belalang. Dengan sendirinya, telur/larvanya juga tidak boleh dimakan.

    Hal ini bisa diqiyaskan dengan memakan telur hewan-hewan yang haram dimakan, seperti ular, buaya, katak, kadal, dan semisalnya. Kalau hewannya tidak boleh dimakan, begitu pula telurnya.

    Wallahu a’lam bisshawaab.

    NB.: Saya harap Anda mau bertanya ke ahli-ahli yang lain. Saya merasa kurang yakin dengan jawaban di atas. Anggap saja, ini hanya satu bentuk jawaban. Bisa jadi akan ada bentuk-bentuk jawaban lainnya. Syukran jazakallah khair.

  3. […] Ngga membunuh nyamuk, kecoa, tikus, semut, atau apapun bentuk dan nama makhluk itu. Haram membunuh semut yang merayap, burung hud-hud, burung suradi, kelewar dan… (ada yg tau). Nyamoek gendut (diambil dari sxc.hu by […]

  4. abisyakir berkata:

    IPK Cumlaude….

    Ya membunuh tidak apa-apa, kalau memang halal dan dibutuhkan. Bahkan membunuh kadang wajib dengan situasi tertentu.

    Misalnya, Ryan “Jagal Jombang” sudah membunuh 11 orang (atau lebih kali). Trus dibiarkan saja hidup, atau cuma dipenjara seumur hidup. Wah itu tidak adil. Dia harus dihukum mati. Bagaimana dengan keluarga yang kehilangan saudaranya karena sudah terbunuh? Enak betul si pembunuh, sesuka hati membunuh, lalu tidak boleh dibunuh.

    Begitu pula kalau ada, misalnya seekor anjing galak menggigit adik/anak Anda sampai tangannya hampir putus. Apakah anjing seperti itu harus dikasihani? Kalau saya, ya harus dibunuh.

    Darimana kita akan makan daging, kulit, tulang, jeroan binatang ternak, kalau tidak membunuhnya terlebih dulu?

    Memang ada kelompok anti pembunuhan binatang. Di Perancis ada klub pecinta binatang, Brigitte Bardot sebagai pendukung utamanya. Setiap Idul Adha dia selalu membuat ulah, mengecam kaum Muslimin yang menyembelih binatang. Konon dia vegetarian, tidak makan daging hewan. (Iya vegetarian sekarang, setelah tubuhnya tidak cantik lagi. Dulu gimana? Bom seks kan?).

    Kalau para penganut ideologi “anti pembunuhan” itu konsisten. Seharusnya mereka jangan MEMBUNUH TUMBUHAN juga, sebab ia juga makhluk hidup. Iya kan? Ayolah kalau konsisten, jangan membunuh apapun, termasuk tanaman-tanaman.

    Sebagai solusinya, makan batu, ban, besi, aluminium, dst. Silakan…silakan…nikmati…nikmati.

    Sebagai Muslim dan manusia normal, kami berlindung dari kesesatan pemikiran seperti itu. Wal ‘Izzatu li Rabbil ‘alamin.

  5. Dez berkata:

    Mungkin pertimbangannya tumbuhan tidak merasakan sakit Mas:D. Perlu diingat juga bahwa kita sering banget melihat pemandangan yang keji, ayam2 yang mau dibawa ke penjagalan, diikat sebelah kaki dalam posisi terbalik, ditumpuk2 bersama barang dan puluhan ayam lain, saya yakin itu adalah ikatan yang menyakitkan. Meskipun pada akhirnya disembelih, apa ya pantas diperlakukan seperti itu?

    Binatang senantiasa bertindak dengan insting, berbeda dengan manusia yang berakal. Bagaimanapun tingkah dan kecenderungan binatang, memang dia diciptakan seperti itu. Manusia yang dikaruniai akal ngga boleh melulu menyalahkan binatang^^ JAngan sampai ada anjing buas mendekati adik/anak Anda dong, maksudnya hanya kita punya tanggungjawab lebih menghindari hal yang tidak diinginkan.

    COntoh, para pembalak hutan itu, banyak yang meninggal diterkam harimau. Apakah harimaunya salah? Harimau udah kehabisan tempat, hendak punah, masih juga diusik?

    *Hanya sekedar masukan*

    Wassalamu ‘alaikum

  6. wachid berkata:

    dalam hadist tentang perintah membunuh binatang jahat seperti ular, gagak, tikus, anjing,dll, khan hanya berlaku di tanah Halal atau haram (berdasarkan redaksi hadits), berarti tidak berlaku di tempat selain kedua tempat itu?Apakah hal ini berarti bahwa hewan hewan itu boleh tidak dibunuh di tempat lain, seperti di In donesia?atau bahkan boleh dimakan ?Terima kasih

  7. abisyakir berkata:

    @ Wachid.

    Terimakasih atas responnya.

    Begini Mas, hewan seperti ular, gagak, tikus, anjing hitam, dll. itu mutlak boleh dibunuh dimanapun kita menemukannya. Sebab hewan-hewan itu berbahaya secara lahir bathin bagi manusia (kaum Muslimin). Tidak terkecuali di Tanah Suci Haramain Syarifain. Lazimnya, hewan seperti kelinci, rusa, biawak gurun, burung buruan, dll. lazimnya mereka boleh diburu di muka bumi. Tetapi khusus di Tanah Haram, hewan-hewan itu dilarang diburu. Hewan buruan yang di tanah biasa boleh diburu, di Tanah Haram menjadi haram dibunuh. Tapi khusus untuk hewan-hewan seperti di atas (ular, gagak, elang, tikus, anjing hitam, dll. yang disebutkan dalam hadits), itu boleh dibunuh, sekalipun di Tanah Haram.

    Nah, begitu memahaminya. Terimkasih.

    AMW.

  8. munif berkata:

    menurut keternagn dari Prf.Dr.Ir. Ali musthofa ya’qup mengharamkan,
    Alasannya:
    karena lebah termasuk binatang yang berguna hkususnya bagi manusi dam pada umumnya semua binatang yang ada bi bumi di smaping itu kalo di ambil telur,larvanya sampek punpanya akan menghambat pertumbuhan populasinya

  9. abdus syukur berkata:

    assalamu’alaikum wr wb
    saya mau berbagi sedikit yg saya ketahui ttg hukum telur lebah spt yg ditanyakan sdr Eza tp ini jg bukan dari Al Qur’an maupun assunnah karna memang insya Allah benar yg dikatakan mas Abi Syakir bahwa dlm Al Qur’an/assunnah tdk ada.
    kalau ttg hukum anak lebah, saya setuju dgn jawabn mas Abi Syakir. Tp kalo masalah telur binatang yg tidak halal dimakan spt katak, ular dll para ulama Syafi’iyyah beda pendapat. sebagian menghukumi HARAM, dan sebagian lagi menghukumi HALAL selama tdk ada mudharat/bahaya pada orang yg memakannya (Ibnu Hajar al-Haitami; Tuhfatul Muhtaj) tp menurut pendapat yg ashoh/lebih sohih hukumnya adalah HALAL.
    Zainuddin al-Malaibari; I’anatut Thalibin 1/87
    wallahu a’lamu bisshawab
    terima kasih
    wassalamu’alaikum wr wb

  10. abisyakir berkata:

    @ Abdus Syukur…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Syukran akhi atas masukan dan referensi dari Antum. Semoga makin bermanfaat bagi Ummat. Amin. Kalau menurut informasi Antum itu, berarti telur kodok, ular, buaya, dll itu halal ya. Ini menarik sekali. Tapi aku geli kalau membayangkan makan telur-telur semacam itu. Mungkin Pembaca lain punya persepsi “kegelian” berbeda.

    Sekali lagi, syukran jazakumullah khair.

    AMW.

  11. ABu ABdillah berkata:

    Maaf, Akh Abu Syakir, saya tidak temukan hadits Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat jenis hewan: (1) Semut yang merayap; (2) Lebah madu; (3) Burung hud-hud; (4) Burung suradi. (HR. Ahmad dan lainnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu).

    Saya cek di dua penerbit musnad Ahmad,baik yang muasasah Ar Risalah (tahqiq: Syekh Syu’aib Al Arnauth, dll), maupun musnad Ahmad yang di Mak Syamil.

    yang saya temukan adalah:

    Dari Abu Hurairah:

    نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُد
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang membunuh shurad, kodok, semut, dan hud-hud.” (HR. Ibnu Majah No. 3223, Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6970)

    ini pun tidak menyebutkan lebah.

    Lalu, tentang kaidah; “Hewan yang dilarang dibunuh, maka dia haram dimakan.” ini adalah kaidah jumhur ulama, yang antum harus ketahui, oleh karena itu Jumhur ulama mengharamkan Kodok, kecuali Imam Malik, atau ulama kontemporer adalah Syaikh Shalih fauzan.

    Wajh Istidlalnya, adalah memakan sudah pasti membunuh, oleh karena itu diharamkan memakannya.

    Ada pun sanggahan antum dengan mengutarakan ‘logika’ bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan membunuh ular, tikus, dll, padahal mereka haram dimakan.

    Antum melogikan, jika HARAM DIBUNUH maka HARAM DIMAKAN, maka jika HALAL DIBUNUH jadi HALAL DIMAKAN, ini merupakan pemikiran yang belum pernah dikatakan para ulama. Justru kaidahnya adalah HEWAN YANG DILARANG dan DIPERINTAHKAN untuk DIBUNUH maka HARAM dimakan. Kaidah ini masyhur dalam berbagai kitab para ulama Syafi’iyah, hanafiyah, dan hanabilah.

    Ada pun pengharaman, ular, tikus, gagak, dll, karena adanya dalil lain, yakni Rasulullah melarang hewan yang memeliki Naabun (taring) dan Mikhlab (cakar) untuk mencabik, sebagaimana hadits Muslim, dll. Mereka diharamkan, bukan karena masalah ‘pembunuhan’ tadi.

    Wallahu A’lam

    Akhukum fillah …

  12. abisyakir berkata:

    @ Abu Abdillah…

    Syukran Akhi atas tanggapan Antum. Semoga informasi yang Antum sampaikan bisa lebih membantu menemukan kebenaran.

    Perkataan Antum: “Justru kaidahnya adalah HEWAN YANG DILARANG dan DIPERINTAHKAN untuk DIBUNUH maka HARAM dimakan. Kaidah ini masyhur dalam berbagai kitab para ulama Syafi’iyah, hanafiyah, dan hanabilah.”

    Sejujurnya, saya tidak tahu kalau kaidah ini merupakan kaidah fiqih yang dijadikan patokan para ulama. Waktu itu, Ustadz Prof. Ali Mustafa Ya’qub menyampaikan kaidah tersebut, bahwa setiap yang haram dibunuh otomatis haram dimakan. Beliau tidak menyampaikan bahwa hal itu merupakan kaidah para fuqaha’. Ya, ini khilaf dari saya sendiri. Jika benar demikian adanya, bahwa setiap yang haram dibunuh, otomatis haram dimakan, ya saya rujuk.

    Coba nanti saya coba cari-cari informasi untuk meneguhkan keyakinan. Pada dasarnya, untuk mengharamkan/menghalalkan itu adalah hak Allah Ta’ala. Rasulullah Saw saja pernah akan mengharamkan madu, karena hasutan sebagian isterinya. Lalu turun ayat yang melarang mengharamkan sesuatu yang halal lagi baik dari karunia Allah. Adapun setahu saya, kaidah “mengharamkan” itu lebih ke arah ijtihad para ulama terhadap hukum suatu perkara. Sama seperti kasus fatwa haramnya alkohol, lalu haram pula segala produk turunan alkohol itu, termasuk parfum, sekalipun tidak untuk diminum. Nah, ini berada dalam domain perdebatan fiqih antar para fuqaha’.

    Sekali lagi syukran jazakumullah khair atas masukannya.

    AMW.

  13. abisyakir berkata:

    @ Abu Abdillah…

    Saya ingin memberi tambahan penjelasan dari jawaban saya sebelumnya atas komentar yang Antum sampaikan. Alhamdulillah saya mendapati informasi-informasi berharga seputar masalah yang Antum sampaikan.

    Secara umum sebagai berikut:

    [1] Dari beberapa sumber yang saya baca, ternyata benar, bahwa ungkapan “setiap yang haram dibunuh, juga haram dimakan” itu memang merupakan kaidah yang disampaikan para fuqaha’. Saya mengaku khilaf dan tidak teliti dalam melihat masalah ini. Astaghfirullah al Azhim wa atubu ilaihi.

    [2] Kaidah pada no. 1 di atas, memang dikatakan oleh para fuqaha’, tetapi ia bukan KAIDAH BAKU dalam mengharamkan sesuatu. Artinya, tidak semua ulama memakai kaidah itu. Dalam kitab Mulakhas Fiqhiy dari Syaikh Fauzan Al Fauzan, disebutkan bahwa kaidah itu disimpulkan oleh ba’dhal ulama (sebagian ulama), artinya bukan semua ulama seperti itu. Tetapi secara umum, setiap yang diharamkan dalam Kitabullah dan As Sunnah, kita sepakat mengharamkannya. Malah ada yang ekstrem, mereka hanya mengharamkan makanan/binatang yang jelas-jelas disebutkan haramnya dalam Kitabullah (tanpa As Sunnah). Kalau tidak diharamkan di Al Qur’an, tidak dianggap haram.

    [3] Secara pribadi, saya menghargai kaidah yang disampaikan oleh para fuqaha’, bahwa “yang haram dibunuh otomatis haram dimakan”. Tetapi bagi kaum Muslimin, silakan mengikuti kaidah dasar Syariat Islam, “sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, ia haram dikonsumsi.” Jadi kalau tidak ada pengharaman dari Kitabullah dan Sunnah, dianggap sebagai halal atau boleh dikonsumsi.

    [4] Hadits yang saya sebutkan itu ada dan otentik. Mungkin @ Abu Abdillah belum mencarinya secara detail. Saya temukan hadits itu dalam buku Fiqh Islam dari Ustadz Haji Sulaiman Rasyid. Ini buku fiqih karya ulama lokal yang banyak merujuk ke Nailul Authar. Haditsnya persis seperti yang saya sebut dalam tulisan. Lalu saya temukan juga hadits yang sama di Kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar, dalam Kitab Ath’imah (kitab tentang makanan), yaitu hadits no. 1139. Kitab makanan ada di bab-bab menjelang akhir Kitab Bulughul Maram.

    Lafadz haditsnya sebagai berikut:

    Wa ‘an Ibni Abbas radhiyallahu ‘anhuma qala: naha Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam ‘anil qatli arba’ minad dawa’: an namlah, wan nahlah, wal hud hud, was shurad.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Hibban rahimahullah).

    Jadi hadits itu ada dan nyata. Ia disebut dalam Kitab Bulughul Maram. Dan Prof. Ali Mustafa Ya’qub sendiri juga berdalil dengan hadits yang kurang lebih sama.

    Nah, itulah tanggapan saya. Syukran jazakumullah atas masukan dari @ Abu Abdillah. Semoga jawaban ini memuaskan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  14. Munirul Khusna berkata:

    Lebah madu haram dimakan karena Rasulullah saw. melarang membunuh lebah madu. Bagai mana dengan hukum memakan anak lebah yang tidak memproduksi madu (bukan lebah madu) seperti lebah merah yang suka bersarang di atap-atap rumah maupun pepohonan. Fenomena ini sering nampak di masyarakat. Terima kasih

  15. umar_ali berkata:

    yg kami tau, bhwa semua jenis telur itu suci. Selama belum terdapat didalamnya gumpalan darah/bercak darah (dierami).. Termasuk telur ular semuanya suci dan halal.. Ingat, mengharamkan yg halal lebih dibenci oleh Allah ketimbang menghalalkan yang haram.. Meskipun keduanya termasuk mendahului Allah dlm berhukum.. Allah berfirman: Dan siapakah mereka yg mengharamkan apa yg Allah tdk menurunkan hujjah atasnya.

  16. umar_ali berkata:

    Iabarat kitab ‘
    Jamal “ Halaman
    172 pada Juzu’ I
    menjelaskan anatara
    lain :
    ﺓﺮﻫﺎﻃ ﺽﻮﻴﺒﻟﺍ ﺮﺋﺎﺳﻭ
    ﻥﺇﻭ ﻝﻮﻛﺄﻣ ﺮﻴﻏ ﻮﻟﻭ
    ﻮﻟ ﺚﻴﺤﺑ ﺎﻣﺩ ﺖﻟﺎﺤﺘﺳﺍ
    ﺖﺣﺮﻔﻟ ﺖﻨﻀﺣ , ﻡﺮﺤﻳ ﻦﻜﻟ
    ﺾﻴﺒﻛ ﺮﻀﻳ ﺎﻣ ﻞﻛﺃ
    ﺕﺎﻴﺤﻟﺍ , ﻡﻼﻛ ﺮﻫﺎﻇﻭ ”
    ﻉﻮﻤﺠﻤﻟﺍ ” ﻊﻴﺒﻟﺍ ﺏﺎﺑ ﻲﻓ
    ﺾﻴﺑ ﻊﻴﺑ ﺯﻮﺠﻳ ﻝﺎﻗ ﺚﻴﺣ
    ﺮﻫﺎﻃ ﻪﻧﻷ ﻪﻤﺤﻟ ﻞﻛﺆﻳ ﻻﺎﻣ

  17. LQ berkata:

    @umar_ali

    sebagai pertimbangan… bahwa ular/kadal di IPA SD adalah golongan ovovivipar (bertelur/beranak)..
    http://en.wikipedia.org/wiki/Ovoviviparity
    telur ditahan di tubuh induknya hingga menetas (siap menetas)
    baru dikeluarkan..

  18. winarto, S.ST berkata:

    Aslkm….wr.wb..
    Ilmu yg baik…
    Minta defenisi Bangkai dalam Islam,tQ

  19. Budi berkata:

    ternyata lebah tidak boleh dimakan tidak boleh dibunuh, terimakasih penjelasannya.

  20. rido ferdian pratama berkata:

    subahanallah… trimakasih atas informasinya ,, semoga allah selalu memberkati kita semua, dan umat islam menjadi umat yg menang , amien

  21. Jibril Abu berkata:

    bismillah..untuk lebih selamatnya mending kita hindari memakan sesuatu yang banyak terjadi khilaf.makanan,minuman dan obat yang jelas halalnya sangat buanyak akhi…borrokallahufikum.

  22. dika berkata:

    minum madunya aja mas,,,
    mungkin malah lebih banyak manfaat minum madunya daripada makan larvanya,,,
    klo manfaat madunya lebih banyak kan gak perlu makan larvanya,,,
    🙂

  23. akhukum fillaah berkata:

    aslm,,
    diskusi yg mmbawa pencrahan…jazkmllh

    daripda pusing pada tatarn redaksi..lbh baik lgsng praktek,,,jgn smpai wa tansaw na anfusakum…hehe

    lbih baik langsung beli MADU MUBASYIR DARI PETERNAK MADU
    KAMI SEDIAKAN…
    MADU ODENG,MADU HITAM PAHIT,MADU PUTIH,MADU SARANG WALET,.LNGSUNG DR PETERNAK MADU..MINAT
    HUB.KAMI,ZAM..083811167322
    ..JZKMLLH

  24. joni berkata:

    wow.. Sangat masuk akal sekali.saya takjub dengan hadist rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam. Nyambung dan klop.

  25. Husein Habibie berkata:

    assalamu’alaikum wr wb,
    Subhanallah, pada mulanya saya berpikir akan tergiring untuk menghalalkan memakan larva lebah, namun sekarang saya mengerti dan mantap dengan keyakinan saya. Penjelasan yang luar biasa, terima kasih telah mencerahkan.
    Namun ada sedikit pertanyaan dalam benak saya mengenai “wajib membunuh” dan “lebih diutamakan untuk dimakan” pada penjelasan diatas. Nah, saya mohon pencerahan, apakah “membunuh” dan “menyembelih” bisa disamakan? . Kata “membunuh” bukankah dilakukan dengan serta merta?, sedangkan “menyembelih” lebih bermakna “untuk kemudian dimanfaatkan segala hasil penyembelihannya”?. mohon pencerahannya, terima kasih

    wassalamu’alaikum wr wb

  26. Polan3 berkata:

    Madu asli memang agak sulit mencarinya atau madu yg lokal (bukan yg ternaan/lebah australi)
    jika anda butuh madu asli dari hutan hub:085258776666
    Harganya memang agak mahal karna ini asli madu hutan/lebah lokal,insyaallah anda tidak akan tertipu
    alamat:jl sunan giri no.16 kelurahan sumbertaman probolinggo

  27. abisyakir berkata:

    @ Husein Habibie…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.
    Membunuh dan menyembelih berbeda. Hewan tertentu di-anjurkan dibunuh, seperti tikus, cicak, ular, gagak, dan lainnya. Tapi hewan ternak disembelih karena ia memang dihalalkan dan boleh dikonsumsi. Ya benar apa yang Anda sampaikan; membunuh berarti serta merta, sedangkan disembelih adalah untuk awal menuju proses konsumsi. Sama-sama terimakasih.

    Admin.

  28. Taufiq berkata:

    Assalamu’alaikum wrwb. Sehubungan dengan hewan yg khalal untuk dimakan sy akan menanyakan ttng hewan belalang.yg mana diketahui belalang adalah hewan yg khalal untuk dimakan walaupun sudah jdi bangkai yg dikenai hukum seperti memakan ikan sungai ataupun laut.
    Pertanyannnya bagaimana cara membunuh belalang yg mana semua belalang dapat dimakan apakah dengan cara disembelih? Krn jika disembelih kepala belalang akan putus dan akan sia2 jika tidak dapat dimasak,yg kedua krn banyaknya juga jumlah tidak memungkinkn untuk disembelih satupersatu.apakah boleh membunuhnya dengan cara langsung dimasak? Sekian dan terimakasih untuk jawabannya. Wassalamu’alaikum wr.wr

  29. abisyakir berkata:

    @ Taufiq…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Mungkin bisa ditusuk kepalanya dengan benda tajam (misal jarum) biar mati. Kalau disembelih pakai golok, pasti ancur itu belalang. He he he. Tapi tidak boleh dimatikan dengan langsung dimasak, karena itu sama dengan menyiksa binatang. Kan Nabi Saw melarang menyiksa/membunuh binatang dengan api. Terimakasih.

    Admin.

  30. Galaxi berkata:

    Lebah dewasa haram di konsumsi
    Namun larva atau anak lebah yang sudah terlanjur terangkat dari sarang madunya boleh dikonsumsi sekaligus.
    Gtu ajah.

  31. abisyakir berkata:

    @ Galaxi…

    Ya kalau terpaksa, juga tidak apa-apa. Karena keterpaksaan.

    Admin.

  32. Hendra berkata:

    Jadi pak,kalau lebah tawon kepala yang nyengatnya sakit itu.tidak menghasilkan madu bagaimana hukumnya

  33. abisyakir berkata:

    @ Hendra…

    Ini terkait dengan lebah (an Nahl) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, mereka diberi wahyu oleh Allah untuk membuat sarang, menghasilkan madu, dan sebagainya. Dari konteks ini, yang dimaksud memang LEBAH PENGHASIL MADU, bukan tawon (hewan penyengat yang tidak menghasilkan madu). Wallahu a’lam bisshawaab.

    Admin.

  34. Anonim berkata:

    pak pak pak, bila lebahnya tidak sengaja masuk ke blender jus dan terblender, apakah jusnya haram untuk di minum? soalnya barusan saya beli jus apel ada lebah didalamnya. makasih

  35. KHOERUDIN berkata:

    Aslmkm wr wb…Bagaimana kalau makan lebah/membunuh lebah yang tidak bermadu/menghasilkan madu..apakah itu haram apa tidak.trmksh wslm

  36. samehada berkata:

    hewan yang dalam hadis dilarang dan di perintah untuk di bunuh itu hukumnya haram untuk di makan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: