Islam Radikal Mau Kemana?

Seputar Today’s Dialogue MetroTV 2 September 2008.

Tanggal 2 September 2008 lalu, sekitar pukul 22.00 WIB, acara Today’s Dialogue di MetroTV mengangkat sebuah topik diskusi menarik, “Islam Radikal Mau Kemana?” Seperti biasa, acara dipandu oleh Meutia Hafizh. Dialog ini menghadirkan Nasir Abbas, orang Malaysia yang disebut-sebut sebagai mantan anggota Jamaah Islamiyyah (JI); Ustadz Ja’far Umar Thalib, mantan Panglima Laskar Jihad (LJ); dan Abdul Moqsith Ghazali, salah seorang aktivis JIL (Jaringan Insan Liberal). Dalam dialog itu juga sempat ditayangkan pernyataan singkat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tentang alasan beliau keluar dari MMI dan membentuk organisasi baru.

Semula pihak MetroTV ingin menghadirkan juga wakil dari Majlis Mujahidin (MMI) dan Forum Ummat Islam (FUI), hanya sayangnya mereka tidak berkenan hadir. Begitu yang dikatakan beberapa kali oleh Meutia Hafizh. Ketidak-hadiran pihak Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, MMI, dan FUI menjadi tanda-tanya tersendiri. Jika dialog itu diadakan untuk merespon perselisihan di tubuh MMI, sejak keluarnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dari MMI, sangat disayangkan jika pihak-pihak yang menjadi “aktor utama” justru tidak hadir. Baik Ja’far Umar, Nashir Abbas, atau Abdul Moqsith Ghazali sejujurnya tidak berkaitan langsung dengan persoalan ini. Mereka adalah orang luar, sekedar pembanding atau komentator saja.

Secara umum, isi dialog di atas cukup menarik. Menurut saya, wallahu a’lam bisshawaab, ada hal-hal yang benar yang bisa diambil, tetapi juga banyak pemikiran-pemikiran keliru yang berhamburan disana. Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengkritisi beberapa pemikiran yang –menurut saya- perlu diluruskan. Semoga Allah Ta’ala menolong kita semua untuk menunaikan apa yang diridhai-Nya. Amin.

Ketidak-hadiran MMI dan FUI

Mohon maaf sebelumnya kepada para Masyaikh atau Asatidzah dari MMI dan FUI. Bukan bermaksud mengkritik atau apalah, tetapi kita sama-sama berbagi, saling nasehat-menasehati di atas kebenaran dan kesabaran.

Ketidak-hadiran MMI dan FUI seperti yang berkali-kali dikatakan oleh Meutia Hafizh menjadi persoalan yang sangat mengganggu. Bukan karena kita sok ingin gagah-gagahan tampil dalam debat terbuka di TV, tetapi ketidak-hadiran wakil MMI dan FUI disana menjadi pertanyaan besar bagi pemirsa Today’s Dialogue. Dan tentu menjadi pertanyaan juga bagi para aktivis dakwah Islam.

Setidaknya, ada tiga poin persoalan yang perlu dipikirkan. Satu, dengan kehadiran wakil MMI dan FUI, hal itu bisa mengklarifikasi berbagai pertanyaan dan isu-isu yang muncul di tengah Ummat Islam, khususnya di kalangan aktivis dakwah. Dua, kehadiran Ustadz atau Syaikh disana bisa meluruskan pandangan-pandangan keliru yang muncul dalam dialog tersebut. Tiga, kehadiran wakil MMI dan FUI akan menjadi bukti bahwa keduanya sangat sungguh-sungguh dalam menyampaikan bayan dan nasehat kepada Ummat tentang pentingnya penegakan Syariat Islam di Indonesia. Dengan wasilah apapun, selama itu halal dan bermanfaat bagi kemajuan penegakan Syariat Islam, hal itu perlu ditempuh.

Kita semua yakin bahwa MMI atau FUI memiliki alasan kuat atas ketidak-hadirannya. Tentu yang bisa kita lakukan disini adalah husnuzhan, berbaik sangka. Hanya saja, kita tidak bisa memaksa bahwa semua pihak akan berbaik sangka juga. Apalagi dalam dialog itu ternyata juga muncul berbagai pemikiran-pemikiran keliru baik dari Nasir Abbas, Ja’far Umar, dan Abdul Moqsith.

Semoga kasus ini menjadi renungan untuk perbaikan di masa nanti. Semoga Allah menolong hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam Syari’at Islam dan upaya-upaya penegakannya. Allahumma amin.

Pandangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Dalam dialog di atas dikemukakan pandangan singkat dari mantan Amir Mujahidin yang sekarang menjadi Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Al Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Beliau mengemukakan alasan keluarnya dari MMI, kurang lebih karena MMI menerapkan sistem organisasi yang tidak sesuai metode organisasi Nabi. Organisasi Nabi menganut sistem Imamah, yaitu hikmah kepemimpinan berada di tangan seorang Imam. Sedangkan MMI, katanya menganut sistem kepemimpinan kolektif. Ustadz Abu menyebut sistem organisasi yang tidak mencontoh organisasi Nabi berdosa, maka beliau berpindah dari sistem yang ‘berdosa’ ke sistem yang ‘tidak berdosa’. Kurang lebih seperti itu.

Perkataan Ustadz Abu tersebut langsung disambut kritik keras oleh Nasir Abbas. Kata dia, jika seperti itu alasannya mengapa Ustadz Abu baru sekarang mengatakannya? Mengapa tidak sejak awal ketika beliau menjadi Amir MMI? Sepanjang dialog tersebut, Nasir Abbas terlihat sangat tendensius, selalu memojokkan Ustadz Abu dan apa yang dia sebut sebagai Jamaah Islamiyyah.

Perlu juga diingat penjelasan pihak MMI merespon kritik yang diutarakan Ustadz Abu terhadap sistem kepemimpinan di tubuh MMI. Pihak MMI balik mengkritik sistem Imamah yang katanya seperti sistim kepemimpinan orang Syiah. Satu pihak mengatakan, “Sistem organisasi MMI berdosa”; pihak lain mengatakan, “Sistem Imamah seperti orang Syiah.” Lalu siapa yang suka atas perselisihan ini? Ya, orang-orang yang hatinya ngilu saat mendengar kata Syariat Islam.

Secara umum, organisasi itu wasilah saja. Ia bukan perkara ushul, bukan pula tujuan utama. Ia hanya sarana saja. Kita butuh organisasi sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan Syar’i. Jika tujuan Syar’i bisa diraih tanpa model organisasi, hal itu juga tidak mengapa. Jamaah Tabligh (JT) sejak jaman dahulu tidak memiliki organisasi resmi, tetapi mereka menghidupkan tradisi dakwah sesuai rukun-rukun tertentu.

Kalau organisasi dakwah dianggap berdosa karena tidak sesuai sistem Nabi, maka banyak sekali lembaga yang akan “didosakan”. Disana ada yayasan, ormas, partai, LSM, pesantren, jamaah dakwah, dan sebagainya. Semua itu akan disebut berdosa karena tidak sesuai dengan cara Nabi. Di jamannya Nabi tidak membentuk yayasan, ormas, LSM, dan sejenisnya.

Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan sistem operasional dalam suatu organisasi, selama tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah, ia kembali ke hukum semula, yaitu sifatnya mubah karena pada asalnya sistem organisasi hanya sebagai wasilah (sarana) belaka.

Pertanyaan Meutia Hafizh Soal Jilbab

Sepanjang dialog itu tentu Meutia Hafizh sering mengajukan pertanyaan, termasuk yang sifatnya mendebat. Namanya juga presenter, sudah tugasnya demikian. Tapi ada satu pertanyaan menarik dari Meutia tentang jilbab. Dia menanyakan, apakah kalau seseorang seperti dia yang tidak memakai jilbab, akan mendapat sanksi kekerasan ketika tidak memakai jilbab di suatu wilayah yang menerapkan Syariat Islam?

Dalam dialog tersebut, pertanyaan Meutia di atas tidak dijawab tuntas. Ja’far Umar kalau tidak salah mengemukakan jawaban, soal keras atau tidak keras itu menyangkut perasaan manusia, sementara mengikuti Syariat sifatnya kepatuhan kepada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Setahu saya, wallahu a’lam bisshawaab, tindakan tindak memakai jilbab tidak termasuk dalam hukum haad (pidana) yang dikenakan sanksi berat, seperti rajam, potong tangan, qishash, didera, atau diasingkan. Ia masuk kategori kasus seperti pacaran, menyentuh tubuh bukan mahram, menonton VCD porno, memakai pakaian seksi, memakai lipstick tebal, dsb. Semua itu salah dan berdosa, tetapi tidak dihukum keras seperti kasus-kasus pidana (kriminal). Setiap negara Islam menerapkan kebijakan sanksi masing-masing sesuai ijtihad ulama-ulamanya.

Seperti di Arab Saudi, para ulamanya sepakat dengan wajibnya bagi kaum wanita dewasa memakai cadar. Tetapi, kalau ada yang tidak memakai cadar, mereka tidak akan dipukul, dicemeti, atau diasingkan. Dalam kasus Pemerintah Thaliban di Afghanistan, kita mendengar perlakuan keras mereka kepada kaum wanita. Dalam hal ini, kita jangan cepat menyimpulkan bahwa mereka berbuat kekerasan seperti itu, sebab media-media Barat sudah dikenal sangat pendengki; bisa jadi, sanksi keras itu sebagai ijtihad ulama-ulama setempat; atau bisa jadi pula, sanksi itu sebenarnya tidak keras, tetapi oleh aparat-aparat Thaliban di bawah, hukum ditegakkan secara berlebihan. Segala sesuatu munkin terjadi. Kalau mau kebenaran sesungguhnya, lihatlah konsep hukum pidana yang diterapkan oleh Thaliban. Apakah disana ada hukum kekerasan bagi wanita dewasa yang keluar rumah tanpa memakai jilbab tertutup dan cadar? Jadi, jangan menghukumi berdasarkan kasus-kasus di lapangan yang sifatnya sempit.

Saya masih ingat, waktu itu Juru Bicara Thaliban di Pakistan, pernah menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada kaum Muslimin Indonesia yang telah menggelar demo sangat besar, menentang invasi Amerika ke Afghanistan. Demo ini diorganisasi khususnya oleh elemen-elemen Jamaah Tarbiyah. Dalam kesempatan itu, beliau merasa terharu melihat ribuan Muslimah berjilbab putih-putih memenuhi jalan, memprotes rencana invasi Amerika. Padahal ribuan wanita itu rata-rata tidak memakai cadar, sedangkan dalam fiqih Thaliban di Afghanistan, kaum wanita wajib memakai cadar di luar rumah. Begitu pula dalam kasus wartawati Inggris yang pernah ditawan beberapa lama oleh Thaliban. Disana tidak tergambar kebrutalan sikap seperti yang digambarkan media-media massa Barat.

Saya juga ingat ketika dulu rombongan Presiden Soeharto dan Ibu Tien berkunjung ke Iran. Anggap saja disini kita tidak sedang mengaitkan Iran dengan soal Syiah. Waktu itu seluruh kaum wanita yang ikut rombongan Presiden diwajibkan memakai pakaian hitam-hitam dengan cadar tertutup. Hampir-hampir kita tidak menyangka, bahwa di balik pakaian hitam-hitam tertutup itu adalah Ibu Tien dan isteri-isteri para pejabat Indonesia dan KBRI. Penampilan mereka mungkin lebih tertutup dari saudari-saudari kita dari kalangan Muslimah Salafi.

Intinya, soal pemakaian jilbab ini, tergantung kebijakan masing-masing negara. Tidak ada sanksi yang bersifat tegas dari Kitabullah dan Sunnah. Kalau Anda menyaksikan anggota militer wanita di Sudan, selain mereka tidak memakai cadar, jilbabnya hampir seperti yang kita kenal di Indonesia sebagai “jilbab gaul” itu.

Alangkah baiknya, kalau kaum wanita tidak diberi sanksi keras ketika tidak memakai jilbab di suatu wilayah yang menerapkan Syariat Islam. Tetapi mereka diberi pembinaan dan pengarahan, serta dicegah dari berperilaku dan berpenampilan buruk di tengah-tengah masyarakat. Kalau perlu, beri mereka hadiah jilbab agar dipakai, setidaknya selama di wilayah yang menerapkan Syariat Islam. Di Pesantren Gontor Ponorogo misalnya, setiap tamu wanita yang berkunjung diwajibkan memakai jilbab. Tetapi disana tidak ada sanksi “akan dipukulin para santri” kalau sampai ada yang tidak memakai jilbab. Bagi Mbak Meutia sendiri, kerudung yang beliau kenakan di Iraq waktu itu, alhamdulillah menyelamatkan dirinya dari tindak kekerasan perang. Demikian kurang lebih, wallahu a’lam bisshawaab.

Sikap Nasir Abbas

Ada keprihatinan tersendiri kalau mendengar pernyataan-pernyataan Nasir Abbas, warga Malaysia yang konon mantan anggota Jamaah Islamiyyah. Sepanjang dialog itu, dia selalu bersikap negatif dan memojokkan, khususnya kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Kita masih ingat dulu, sewaktu Nasir Abbas memberikan kesaksian melalui teleconference terkait persidangan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Dia sampai menangis-nangis, penuh keharuan. Entahlah, air mata apa itu?

Inti perkataan Nasir Abbas kurang-lebih: Dia dulu mantan anggota Jamaah Islamiyyah yang dipimpin oleh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir; Jamaah Islamiyyah bercita-cita mendirikan negara Islam; dalam tubuh Jamaah Islamiyyah juga menerapkan sistem Imamah; Jamaah Islamiyyah suaranya terpecah, ada yang setuju membentuk MMI dan ada yang tidak; dan lain-lain.

Kita harus sadar, bahwa nama Jamaah Islamiyyah itu sudah masuk list organisasi-organisasi teroris menurut versi PBB dan Amerika. Jika ada seseorang atau sekumpulan orang secara faktual terbukti menjadi anggota JI, mereka bisa ditangkap, dipenjarakan, atau disiksa seperti yang terjadi di Abu Ghraib, Guantanamo, Begram, dan sebagainya. Hukum internasional (versi PBB) saat ini menghalalkan perang terhadap segala yang mereka klaim sebagai terorisme. Itulah yang kerap kita dengar sebagai global war against terrorism.

Sementara kalau melihat eksistensi JI sendiri, ia bisa dikatakan sebagai organisasi Islam paling misterius di Dunia Islam. JI itu sampai saat ini tidak jelas dimana pusatnya, siapa pimpinannya, bagaimana tanzhim-nya, apa saja pemikiran dan doktrinnya, siapa pengikutnya, bagaimana strateginya, apa simbolnya, dan lain-lain. Semua itu tidak jelas. Ia seperti Al Qa’idah, suara dan pemikiran-pemikirannya terdengar, tetapi bentuknya tidak jelas. Jika sebuah organisasi normal memiliki struktur, pemimpin, aturan internal, anggota aktif, dsb. maka kita tidak tahu banyak tentang kiprah JI. Oleh karena itu, jangan mudah-mudah menyebut seseorang sebagai anggota JI, sebab resikonya bisa sangat buruk bagi pihak yang dituduh.

Kemudian, kita juga harus bedakan antara intima’ (masuk dalam sebuah organisasi) dengan isti’bar (mengambil hikmah pemahaman). Intima’ artinya seseorang include secara nyata dalam sebuah organisasi dan menerima segala konsekuensinya; adapun isti’bar hanyalah mengambil manfaat berupa ide, inspirasi, pelajaran, hikmah dan sebagainya, tanpa keterikatan organisasi.

Ada sebuah contoh bagus. Selama hidupnya, Bapak Mohammad Natsir, mantan Ketua Masyumi, sering membaca kitab Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb. Tentu di samping kitab-kitab lain. Apakah karena itu, kemudian beliau bisa disebut sebagai anggota Ikhwanul Muslimin? Nah, cara berpikir simplisit seperti ini harus dihindari sejauh-jauhnya. Jangan sampai kita menimpakan sanksi kepada orang lain di atas dosa yang tidak diperbuatnya. Atau misalnya, saya membaca buku Capita Selecta karya Pak Natsir rahimahullah, apakah lantas saya seorang Masyumi? (Wong, Masyumi juga saat ini sudah tidak ada).

Jamaah Islamiyyah sulit dipetakan, sebab struktur organisasinya tidak jelas. Sistem yang berlaku di JI internasional belum tentu sama dengan JI lokal. Kalaupun ada seseorang atau sekelompok orang yang betul-betul valid menjadi anggota JI, belum tentu juga mereka terlibat kekerasan seperti yang banyak dituduhkan itu. Nasir Abbas sendiri mengatakan, dalam tubuh JI, sering terjadi perselisihan pendapat, misalnya ada yang setuju membentuk organisasi formal dan ada yang tidak setuju.

Pandangan Abdul Moqsith Ghozali

Abdul Moqsith Ghazali termasuk salah satu aktivis penting JIL (Jaringan Insan Liberal), semoga Allah membimbing mereka semua kepada Islam. Amin. Dia termasuk aktivis JIL yang sering terlibat debat terbuka dengan aktivis-aktivis Islam, seperti debat di TVOne pasca Insiden Monas, 1 Juni 2008 lalu.

Dalam Today’s Dialogue malam kemarin, seperti biasa Abdul Moqsith mengemukakan ajaran-ajaran standar JIL. Bagi para pemerhati JIL, pernyataan-pernyataan Abdul Moqsith tidak aneh lagi. Secara relatif, sikap Abdul Moqsith dalam debat-debat terbuka tampak lebih “manusiawi” daripada para Cs-nya.

Dalam kesempatan itu Abdul Moqsith mengemukakan beberapa butir pemikiran, antara lain: Sistim Khilafah seperti Khulafur Rasyidin bukanlah sistem kepemimpinan ideal dengan alasan-alasan tertentu; golongan Islam radikal harus terimakasih kepada demokrasi, sebab karena demokrasi mereka bisa bebas mengemukakan pendapat di ruang publik; istilah Ahlul Halli Wal Aqdi tidak dikenal di jaman Rasulullah dan para Shahabat, ia baru dikenal setelah Al Mawardi menulis Ahkamus Sulthaniyyah; JIL adalah jaringan bukan organisasi massa; arti kata liberal dalam istilah JIL adalah pembebasan kaum minoritas dan kaum tertindas; misi JIL ialah mengawal Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang menerapkan demokrasi; demokrasi di mata JIL tidak najis, tetapi mutanajis (terkena najis); JIL memberi kebebasan kepada setiap orang untuk melakukan penafsiran terhadap teks-teks agama. Itu kurang lebih pandangan penting Abdul Moqsith Ghazali.

Abdul Moqsith menyebut sistem Khilafah seperti dalam Khulafaur Rasyidin bukan sistem ideal, sebab disana pengangkatan Khalifah dan pemberhentiannya tidak melalui mekanisme yang jelas. Begitu pula, 3 dari 4 Khalifah tersebut meninggal terbunuh, bukan wafat secara sewajarnya (seperti Abu Bakar As Shiddiq).

Ya, terlalu simple jika menyebut sistem Khilafah tidak ideal, hanya karena alasan-alasan seperti itu. Lihatlah, selama ribuan tahun raja-raja di dunia diangkat atas dasar tradisi kekuasaan turun-temurun, kemudian mereka berkuasa seumur hidup sampai wafat. Mengapa tidak ada yang mengingkari cara demikian? Begitu pula ketika Presiden AS Abraham Lincoln atau John F. Kennedy tewas terbunuh, apakah bisa dikatakan demokrasi Amerika tidak ideal?

Di dunia setidaknya ada tiga model sistem kekuasaan: Kerajaan, Khilafah, dan Republik demokrasi. Dalam sistem kerajaan, kekuasaan tertinggi di tangan raja; dalam sistem Khilafah kekuasaan tertinggi di tangan Allah dan kepemimpinan dijalankan oleh seorang Khalifah; dalam sistem republik demokrasi kekuasaan di tangan rakyat dan pemimpin dipilih oleh rakyat.

Akidah Islam tidak bisa menerima konsep demokrasi, sebab disini terjadi benturan prinsip yang sangat fundamental. Dalam pandangan Islam, kedaulatan tertinggi di Tangan Allah, sedangkan demokrasi kedaulatan di tangan manusia. Corak kehidupan Islam bersifat life with the God’s rule (hidup sesuai aturan Tuhan), sedangkan demokrasi human create the rule (manusia membuat sendiri aturan hidupnya). Seandainya kemudian ada kaum Muslimin yang menerima demokrasi, hal itu karena keinginan memanfaatkan demokrasi untuk mengeliminir keburukan. Bukan karena setuju dengan prinsip dasarnya yang bertabrakan dengan Tauhid itu.

Khalifah sendiri artinya pengganti, yaitu seseorang yang dipilih untuk menggantikan posisi Rasulullah Saw. dalam memimpin Ummat Islam. Para Khulafaur Rasyidin, seluruhnya adalah pengganti Rasulullah dalam memimpin Ummat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, orang-orang shalih atau ulama-ulama berkumpul, bermusyawarah untuk memilih calon pemimpin yang dianggap bisa mengemban amanah Rasulullah Saw. Pemimpin itu dilihat ketaqwaannya, ilmunya, track perjuangannya, juga pengetahuannya tentang urusan masyarakat. Kalau dalam bahasa kita sekarang disebut proses fit and proper. Hanya saja, ini adalah fit and proper di kalangan internal orang-orang beriman saja. Mengapa demikian? Sebab kepemimpinan Islami itu sifatnya meneruskan kepemimpinan Rasulullah Saw. atas Ummat Islam. Jadi orang-orang yang tercela kualitas Islam dan imannya tidak boleh terlibat disana, apalagi orang-orang non Muslim.

Mungkin, sistem Khilafah dianggap berat oleh Ummat Islam, sebab ia mensyaratkan adanya individu-individu pemimpin Muslim yang shalih dan jamaah kaum Muslimin yang merata pula keshalihannya. Karena itu kemudian selama ribuan tahun Ummat Islam menerima sistem dinasti (kerajaan). Ada Dinasti Umayyah, Dinasti Abbassiyyah, Dinasti Ummayyah Barat, Dinasti Mamluk, Dinasti Turki Utsmani dan sebagainya. Tetapi harus dicatat, dinasti dalam Islam berbeda dengan Dinasti pada umumnya. Dalam sejarah Islam sistem dinasti hanya sebagai operator saja, sedangkan kedaulatan tertinggi tetap di Tangan Allah. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan umumnya, kedaulatan tertinggi di tangan raja. Maka itu istilah yang dipakai dalam sistem dinasti Islam ialah Sultan (Penguasa), bukan Malik (Raja). Sampai akhir Khilafah Utsmaniyyah di Turki, pemimpinnya disebut Sultan.

Jadi poros kekuasaan Islami itu melaksanakan Syariat Islam, terlepas apakah bentuknya Khilafah atau Sulthaniyyah. Bahkan, seandainya ada sebuah Republik yang mampu dan mau menerapkan Syariat Islam, hal itu juga tidak mengapa. Sistem kekuasaan bisa dianggap sebagai cover, sedangkan isinya adalah melaksanakan titah Allah dan Rasul-Nya secara kaaffah.

Biarpun para politisi, pakar politik Amrikiyun, Abdul Moqsith dan kawan-kawan memiliki khazanah teori-teori politik yang mengagumkan, jika hasilnya Syariat Islam tidak bisa dilaksanakan, hal itu tidak bisa disebut kebaikan, tetapi disebut mushibah. Ukurannya adalah pelaksanaan Syariat, dan sistem Khilafah adalah cara terbaik untuk melaksanakan Syariat Islam. Penjelasan ini sekaligus untuk menjawab kritikan-kritikan Syafi’i Ma’arif yang biasanya alergi mendengar kata Khilafah dan keki kalau mendengar Syari’at Islam.

Adapun soal gerakan Islam radikal harus terimakasih kepada demokrasi, karena dengan demokrasi mereka bisa leluasa mengemukakan pendapat. Menurut saya, bukan terimakasih kepada demokrasi, tetapi terimakasih karena nikmat Reformasi. Penggulingan Soeharto kan bukan melalui cara demokrasi, tetapi tekanan gerakan mahasiswa dan media massa. Tanpa ada Reformasi pun, keyakinan terhadap kebenaran manhaj Islam akan selalu ada di hati kaum Muslimin. Keyakinan di hati para aktivis dakwah Islam bisa dinyatakan, bisa juga disembunyikan, tergantung situasi dan kondisinya.

JIL katanya membela aspirasi kelompok minoritas dan kaum tertindas. Kalau benar begitu, seharusnya JIL membantu ribuan aktivis Muslim yang dipenjara di penjara-penjara tertutup seperti Guantanamo, Abu Ghraib, Beghram, dsb. Bantulah mereka, sebab para aktivis itu rata-rata dipenjara tanpa proses persidangan. JIL juga bisa membantu Ummat Islam di Iraq, Afghanistan, Palestina, Chechnya, Kashmir, dsb. yang sampai saat ini terus tertindas. Atau kalau itu masih sulit, tolong bantu Ummat Islam di Indonesia yang pedagang asongan dan kaki lima yang sering dikejar-kejar tramtib; tolong bantu anak-anak jalanan, gepeng, pengemis, dll. yang tertindas oleh kehidupan metropolitan; tolong bantu pedagang-pedagang kecil yang sekarang tertindas oleh mall-mall besar, hypermarker, supermarket, minimarket; atau tolonglah jutaan pengangguran Muslim yang tertindas secara sosial karena tidak bisa mencari penghasilan. Dan masih banyak agenda “ketertindasan” lain.

Tetapi saya yakin Abdul Moqsith dkk. akan mengatakan, “Bukan, bukan ketertindasan macam begitu. Itu beda sama definisi ketertindasan menurut para sponsor kami. Ini spesifik sifatnya. Pokoknya yang nonjok Ummat Islam begitulah.” Ya, kalau begitu jangan disebut membela kaum tertindas, tetapi sebut membela sponsor. Jadi niatnya, amalan lil sponsor wal donatur.

Ja’far Umar Thalib dan Khawarij

Selanjutnya kita singgung tentang pandangan-pandangan Ustadz Ja’far Umar Thalib. Secara umum ada cukup banyak pandangan Ja’far Umar yang patut didukung, misalnya tentang kewajiban taat terhadap Syariat Islam, sikap tegas kepada Ahmadiyyah, posisi demokrasi, posisi JIL, dan pentingnya adab dalam ikhtilaf. Dalam poin-poin itu, insya Allah kita sepakat.

Tetapi ada juga pandangan Ja’far Umar yang sangat berbahaya yang wajib diluruskan dengan penjelasan-penjelasan. Salah satu yang paling krusial dan sensitif adalah pendapat dia tentang gerakan-gerakan Islam yang berjuang ingin menegakkan Negara Islam (atau Syariat Islam). Ketika dia ditanya tentang kelompok-kelompok Islam radikal seperti yang diuraikan oleh Nasir Abbas, Ja’far Umar mengatakan, bahwa kelompok-kelompok itu harus diberangus sampai ke akar-akarnya. Sampai Meutia Hafizh bertanya keheranan, “Harus diberangus?” Bahkan para audiens yang hadir dalam dialog itu seketika tertawa, karena tidak percaya mendengar ucapan (sesat) Ja’far Umar. Ja’far Umar mengklaim bahwa dulu Ali bin Abi Thalib Ra. juga memberantas kaum Khawarij. Ja’far menyebut kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam itu sebagai Ahlul Bughat.

Memang di kalangan Salafiyun semodel Ja’far Umar dan sejenisnya ini, mereka sangat antipati dengan gerakan-gerakan Islam yang berusaha menegakkan Syariat Islam. Hatta, usaha itu dilakukan dengan dakwah dan bayan, mereka tetap tidak merasa lapang dada. Semoga hal itu bukan merupakan tanda-tanda kekafiran yang tidak disadari. Saya tidak ragu, bahwa pandangan seperti yang dilontarkan oleh Ja’far Umar itu adalah kesesatan yang nyata.

Ciri utama Khawarij adalah keluar dari Jamaah kaum Muslimin, keluar dari ketaatan kepada Ulil Amri. Oleh karena itu mereka disebut Khawarij, yaitu orang-orang yang keluar dari Jamaah kaum Muslimin dan pimpinannya. Di jaman Khalifah Ali Ra., mereka keluar dari ketaatan kepada Khalifah, sehingga diperangi, setelah sebelumnya diberi penjelasan-penjelasan oleh Ibnu Abbas Ra.

Satu prinsip yang tidak dipahami oleh Salafiyun semodel Ja’far Umar itu, yaitu kedudukan Kepemimpinan Islami. Harus disadari, posisi Khalifah Ali ketika itu merepresentasikan Kepemimpinan Islami. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk memberontak, sebab Khalifah telah menunaikan hak-hak Allah dengan benar. Seandainya ada perselisihan-perselisihan, ia tidak boleh diselesaikan dengan pemberontakan, tetapi dengan nasehat, dialog, atau musyawarah.

Pihak-pihak yang membangkang atas kepemimpinan Islami itu, jelas mereka telah sesat dan menyimpang dari jalan yang lurus. Oleh karena itu wajar kalau para Shahabat dan ulama Salaf ijma’ akan sesatnya paham Khawarij. Paham semisal itu kalau dibiarkan bisa mencerai-beraikan Kepemimpinan Islam.

Misalnya ada yang mengatakan, “Soal kepemimpinan Islami atau tidak, itu tidak penting. Pokoknya ada kepemimpinan negara. Siapapun yang memberontak kepada kepemimpinan itu, dia Khawarij.”

Pandangan seperti itu jelas sesat dan menyesatkan, sebab yang menjadi patokan bukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi patokannya kedudukan negara itu sendiri. Nah, apakah seorang Muslim itu kaum ‘ibadul wathan atau ‘ibadurrahman? Tanyakan kepada Syaikh Ja’far Umar!

Kalau ukurannya adalah kedudukan negara, seperti yang diyakini Ja’far Umar, maka kita akan kembali ke jaman jahiliyyah. Seharusnya Musa As. tidak perlu berdakwah kepada Fir’aun, Rasulullah Saw. tidak perlu mengirim surat ke raja-raja di sekitar Jazirah Arab, termasuk Kaisar Heraklius, Khalifah Umar juga tidak perlu menyerang Kisra Persi dan membebaskan Palestina dari Romawi. Toh, di masing-masing tempat itu sudah mapan sistem kenegaraan, jadi tidak perlu diajak kepada Islam. Begitukah wahai Syaikh ‘alim?

Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra. merepresentasikan Kepemimpinan Islami dalam segala sisinya. Tidak mungkin kita menuduh beliau sebagai pemimpin sekuler, nasionalis, atau kapitalis. Dasar yang beliau gunakan adalah Syariat Islam, bukan selainnya. Bahkan sudah terkenal suatu ungkapan dari beliau, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”

Jika konsep pemikiran Ja’far Umar itu dibenarkan, maka habislah sistem Kepemimpinan Islami di muka bumi ini. Ya, semua bangsa sudah memiliki negara masing-masing, memiliki pemerintahan dan pemimpinnya. Artinya, dunia ini sudah “Islamiyyah” seluruhnya sebab sistem negaranya sudah kokoh. Adapun Syariat Islam sebagai dasar negara tidak penting, buang saja ke tempat sampah. Na’udzubillah wa na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Ini adalah kesesatan yang nyata, kesesatan telanjang, tidak bisa ditetapkan sedikit pun. Betapa tidak, sesuatu yang tidak menempatkan Syariat Islam pada maqam-nya disebut Islami, sehingga harus ditaati dengan penuh ketundukan. Sementara yang memperjuangkan Syariat Islam disebut Khawarij, harus diberangus sampai ke akar-akarnya. Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun. Inilah corak fiqih Dajjal, membatilkan yang haq dan menghaqkan yang bathil. Na’udzubillah min dzalik.

Dari berita yang beredar Ja’far Umar sudah rujuk dengan manhaj gurunya, Syaikh Rabi’ Al Madkhali. Dia menarik diri dari sekian kesalahan yang semula dilakukannya. Namun sayang, dia saat ini melakukan provokasi lagi. Ucapan dia tentang Khawarij yang salah kaprah itu, bisa menjadi alasan bagi golongan fundamentalis Islam phobia untuk menyerang aktivis-aktivis dakwah Islam. Mereka jelas berbunga-bunga mendapat hadiah fatwa dari “Al Ngalamah” Syaikh Ja’far Thalib. Wallahu Maulana, Nikmal Maula wa Nikman Nashir.

Istilah Islam Radikal

Terakhir, tentang istilah Islam radikal. Saya melihat ada sesuatu yang tidak adil dalam penggunaan term Islam radikal. Ia dikaitkan dengan MMI, FUI, atau FPI. Seolah, ketiga organisasi itu memang dikategorikan Islam radikal. Baik Meutia Hafizh (MetroTV), Abdul Mogsith, Nasir Abbas, maupun Ja’far Umar, mereka seperti aklamasi memberi label radikal bagi gerakan-gerakan Islam tertentu yang ingin menegakkan Syariat Islam. Dalam dialog tersebut tidak ada satu pun yang mengkritisi pemakaian istilah Islam radikal.

Setiap Muslim wajib beriman dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, termasuk menerima kebenaran Syariat Islam. Jika mereka tidak tahu, perlu diberi tahu tentang kemuliaan Syariat Islam; jika mereka ragu, perlu dijelaskan seterang-terangnya sampai keraguan hilang; jika mereka membangkang, perlu diingatkan akan konsekuensi perbuatannya. Semua itu dilakukan dengan dakwah dan bayan. Mengimani Syariat Islam tidak bisa disebut radikal, sebab konotasi radikal itu negatif, yaitu terlibat dalam kekerasan-kekerasan. Mengimani Syariat adalah kebenaran, kewajiban, bahkan cerminan keimanan seseorang. Sedangkan menolak Syariat Islam, setelah dijelaskan dengan penjelasan dan dihilangkan berbagai kendala di dalamnya, bisa membawa konsekuensi batalnya keimanan.

Tidak mungkin, seseorang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya disebut radikal. Justru mereka adalah mulia, utama, dan didukung. Sebutan radikal perlu dihindari, sebab ia bisa menjadi stigmatisasi. Di mata orang awam, pendukung Syariat Islam bisa dituduh sebagai sumber kekerasan.

Dalam Al Qur’an dikatakan:

Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu (terhadap kebenaran itu).” (QS. Al Baqarah: 147).

Dan sungguh Kami telah membangkitkan bagi setiap ummat seorang Rasul (yang menyerukan): Hendaklah kalian menyembah Allah dan meninggalkan seluruh thaghut (semua yang diibadahi selain Allah).” (QS. An Nahl: 36).

Katakanlah: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-nya, maka jika kalian berpaling (dari ketaatan itu), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran: 32).

Dan siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya (termasuk konsep hukumnya), maka tidak akan diterima darinya, dan dia di Akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran: 85).

“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya dari (hukum) Allah, bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maa’idah: 50).

Siapapun yang membaca ayat-ayat di atas dengan keimanan dan memenuhi hak-hak Al Qur’an untuk diyakini dan dibenarkan, pasti bisa mengambil sikap yang benar. Dia tidak perlu ragu sedikit pun tentang kebenaran Syariat Islam. Sedangkan mereka yang menyelisihi Syariat, baik sedikit atau banyak, dia akan menerima konsekuensinya, meskipun hanya dalam soal pemilihan istilah tertentu. Adapun siapa yang menyebarkan kesesatan, konsekuensinya lebih berat lagi.

Wallahu a’lam bisshawaab. Selamat menunaikan ibadah Shiyam Ramadhan 1429 H, semoga Allah membukakan rahmat, maghfirah, dan barakah-Nya untuk kita semua. Allahumma amin.

Bandung, 5 September 2009.

[ AM. Waskito ].

Iklan

8 Responses to Islam Radikal Mau Kemana?

  1. Mohamad Arif Ar Riadh Bin Hamid berkata:

    Subhanallah!!
    Allahuakbar…Allahuakbar
    sangat-sangat realistis aplikatif dalam menerangkan dan menjelaskan yang haq adalah haq..dan yang batil adalah batil..
    Akhi..boleh ana perbanyak dan ana sebarkan kepada umat.?
    mohon balasan ke email ana.
    jzkllah khr ktsrn.

  2. m_wahdah_mks berkata:

    Afwan jiddan Akhi, ana melihat perkataan2 Antum sangat berbahaya, yaitu dalam mengomentari, memahami dan menyimpulkan sesuatu jarang sekali Antum bertumpu pada dalil dengan penjelasan Ulama. Ada beberapa dalil tapi tdk sedikitpun penjelasan para Ulama. Banyak sekali kerancuan Antum, sampe ana bingung dari mana menjelaskan kerancuan Antum.
    Ana jadi teringat ceramah bedah buku saudara M. Ihsan Zainuddin, Lc tentang seorang jahil yang berlagak alim, semua masalah seakan-akan dia tahu, semua masalah ingin dikomentarinya, tapi tidak satupun yang bertumpu pada penjelasan para Ulama. Ini yg disebut dengan jahil kuadrat, yaitu orang yang jahil tapi tidak sadar bahwa dirinya jahil.
    Sementara ini ana belum mengomentari perkataan2 Antum hanya ana nasehatkan belajarlah kembali kitab-kitab aqidah yang ditulis para Ulama, seperti Asy Syari’ah lil Imam Al-Aajuri, I’tiqod Ahlus Sunnah lil Laalikaai, Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits lis Shaabuuni, masalah2 uhsul baik dalam aqidah maupun fiqih juga terlihat Antum sangan lemah, terutama dalam ushul fiqih dan ilmu hadits riwaayatan wa diraayatan, kelihatan sekali Antum tdk ada bekalnya sama sekali dalam ilmu2 ushul.
    Hati2 dalam bicara agama dengan pemahaman sendiri.
    Baca juga buku2 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Al-Allamah Ibnul Qoyyim, niscaya engkau akan dapati bgmn seharusnya akhlaq penyandang ilmu tsb.
    Hadaanillahu wa iyyaaka.

  3. abisyakir berkata:

    @ m_wahdah_mks

    Jazakallah khair atas kunjungan Antum. Semoga bermanfaat.

    Akhi, kalau saya sarankan, Antum memakai nama asli untuk membuat komentar. Itu lebih gentle, tidak licik. Kalau memang Antum adalah pengurus Wahdah, silakan tunjukkan jati dirinya secara formal. Tentu, kalau ada nasehat baik dari saudara-saudara kita disana, insya Allah akan diterima. Saya hanya khawatir, Antum itu syaitan yang ingin mengadu domba. Sebab syaitan-syaitan itu banyak bertebaran di internet. Licik mereka dan pengecut. Na’udzubillah.

    @ mwmkss: “Afwan jiddan Akhi, ana melihat perkataan2 Antum sangat berbahaya, yaitu dalam mengomentari, memahami dan menyimpulkan sesuatu jarang sekali Antum bertumpu pada dalil dengan penjelasan Ulama. Ada beberapa dalil tapi tdk sedikitpun penjelasan para Ulama. Banyak sekali kerancuan Antum, sampe ana bingung dari mana menjelaskan kerancuan Antum.”

    Jawaban:

    – Iya memang sedikit mengambil perkataan ulama-ulama itu. Ini ana akui. Mengapa demikian? Sebab masalah yang kita hadapi sangat aktual, di Indonesia lagi. Coba Antum perhatikan perkataan para ulama itu. Sebagian besar dari khazanah klasik (turats salaf), sementara masalah yang kita hadapi sangat aktual. Kalau ada pandangan ulama yang aktual, rata-rata dari Timur Tengah, dengan konteks masalah yang tidak selalu sama dengan Indonesia.

    – Sebenarnya blog ini memang didedikasikan untuk memperkaya wawasan kaum Muslimin. Blog seperti ini serupa seperti majalah-majalah Islam itu, hanya ini berbentuk blog di internet, dan diurusi sendiri. Lagi pula, ini harus dicatat, apa yang disampaikan bukanlah INDOKTRINASI. Sebagian besarnya berupa wacana, yang boleh diterima, boleh juga tidak. Andai Antum tidak menerima semua tulisan disini, itu tidak dilarang, sebab kita memang seperti berbagi perspektif (wawasan).

    – Tentang kerancuan ana, silakan Antum tunjukkan. Nanti tulis dalam e-mail, lalu kirim ke langitbiru1000@gmail.com. Tentu saya akan menghargai kalau ditunjukkan kesalahan-kesalahan tersebut. Syukran jazakumullah khair.

    @ mwmks: “Ana jadi teringat ceramah bedah buku saudara M. Ihsan Zainuddin, Lc tentang seorang jahil yang berlagak alim, semua masalah seakan-akan dia tahu, semua masalah ingin dikomentarinya, tapi tidak satupun yang bertumpu pada penjelasan para Ulama. Ini yg disebut dengan jahil kuadrat, yaitu orang yang jahil tapi tidak sadar bahwa dirinya jahil.”

    Jawaban:

    – Mengomentari semua masalah? Ya benar, memang itu yang dilakukan. Tetapi ini ada desainnya, yaitu membentuk cakrawala berpikir. Memang ada orang yang “asal komentar”, tetapi insya Allah ana tidak begitu. Apa Antum melihat saya berkomentar asal-asalan, tanpa didukung oleh suatu sistem dalil/hujjah? Ya, apa gunanya kita disebut Muslim kalau tidak membangun pemikiran Islami.

    – Tentang jahil kuadrat, moga-moga kita tidak termasuk yang seperti itu. Allahumma amin. Tapi kalau ini merupakan celaan bagi saya, ya silakan saja. Setiap orang akan bertanggung-jawab atas tindakannya.

    @ mwmks: “Sementara ini ana belum mengomentari perkataan2 Antum hanya ana nasehatkan belajarlah kembali kitab-kitab aqidah yang ditulis para Ulama, seperti Asy Syari’ah lil Imam Al-Aajuri, I’tiqod Ahlus Sunnah lil Laalikaai, Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits lis Shaabuuni, masalah2 uhsul baik dalam aqidah maupun fiqih juga terlihat Antum sangan lemah, terutama dalam ushul fiqih dan ilmu hadits riwaayatan wa diraayatan, kelihatan sekali Antum tdk ada bekalnya sama sekali dalam ilmu2 ushul.
    Hati2 dalam bicara agama dengan pemahaman sendiri.”

    Jawaban:

    – Iya, ana paham, maksud Antum adalah sikap keras kepada ahli bid’ah kan. Ya, ana paham sekali itu. Dari sekian banyak ushul salaf, Antum dan teman-teman ini hanya berkumpul di pasal sikap keras ke ahli bid’ah itu. Kasihan sekali Islam ini, ajarannya luas, tetapi hanya mengerucut ke satu soal saja: “sikap keras ke ahli bid’ah”. Inilah yang dalam Al Qur’an disebut, “Wa laa tattabi’u khutuwatis syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin” (janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan sebab ia adalah musuh yang nyata bagimu). Al Baqarah, 208. Justru bukti kesesatan paham itu ada disana. Seolah Islam diturunkan untuk menghajar ahli bid’ah. Keseluruhan hidup, sejak awal sampai akhir, intinya menyerang ahli bid’ah saja. Padahal, “Wa maa arsalnaka illa Rahmatan lil ‘alamin”. (Al Anbiya’).

    – Itu pun ahli bid’ah dibatasi = sekelompok orang yang tidak ikut majlis pengajiannya. Termasuk disebut ahli bid’ah adalah harakah-harakah Islam. Padahal kalau kembali kepada yang dimaksud para Salaf itu, ahlul bid’ah disana adalah Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah, Qadariyyah, dsb.

    – Oh ya, untuk penilaian tentang saya lemah ushul fiqih, hadits, riwayat, dirayat, silakan tunjukkan. Tulis bagian-bagian mana yang terbukti seperti itu. Jangan lupa kirim ke e-mail saya. Sebab kalau disini, tempatnya terlalu sempit. (langitbiru1000@gmail.com).

    Ya, setiap nasehat yang baik akan diterima. Jazakumullah khairan katsira.

    [AMW].

  4. abu risna berkata:

    Takutlah siksa neraka.. jangan saling menghujat. Jagalah kemurnian agama ini.

  5. abisyakir berkata:

    Saya tidak memahami maksud Anda. Mohon maaf kalau ada yang salah. Silakan ditunjukkan, moga kita bisa berbagi nasehat dalam kebenaran dan kesabaran. Amin. [AMW].

  6. agus widodo berkata:

    baaraqaallohufiqum

  7. agus widodo berkata:

    baarakaallohufikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: