Sebuah Kesalahan Sangat Mengganggu

Dalam tradisi Islami kita diajarkan, kalau mau menyampaikan suatu pembicaraan di depan majlis, di depan hadirin atau forum, terlebih dulu membaca kalimat Iftitah (pembukaan) yang isinya berupa tahmid dan shalawat. Bahkan dalam penulisan buku, artikel, atau surat, kalimat pembukaan seperti itu juga sering digunakan. Selain tujuannya mengikuti Sunnah Nabi, juga mengharapkan barakah dalam pembicaraan atau pertemuan yang diadakan. Alhamdulillah, majlis yang dimulai dengan kalimat-kalimat yang baik jarang sekali berakhir dengan kekeruhan, pertikaian, atau pertengkaran.

Kita tentu bersyukur ketika banyak orang mencoba menghidupkan tradisi mengucapkan kalimat pembukaan Islami ini. Para dai, muballigh, penceramah, guru, hingga para MC, sering memulai majlis dengan membaca kalimat hamdalah dan shalawat. Bahkan orang-orang yang ‘nyari sumbangan’ di bis-bis juga sering menggunakan kalimat yang sama.

Tapi disini ada sebuah kekeliruan yang sangat mengganggu. Sebenarnya, kita menghargai kesungguhan mereka untuk mengucapkan kalimat Iftitah Islami, tetapi ketika terjadi kesalahan yang berulang-ulang, kita merasa risih juga. Nah, dalam tulisan sederhana ini, semoga bisa menjadi koreksi bermanfaat. Amin.

Sebagian orang sering memulai pembicaraannya dengan kalimat berikut:

Innal hamda lillah, wa bihi nasta’inuhu ‘ala umurid dunya wad din, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalimat di atas kelihatan benar, padahal tidak. Kalau diterjemahkan kurang lebih artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya pujian adalah untuk Allah, kepada-Nya kami memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama (ad din), dan bagi keluarganya dan shahabatnya semua. Adapun sesudah itu.”

Anda perhatikan letak kesalahannya?

Ya benar, setelah memohon pertolongan kepada Allah dalam urusan dunia dan agama, tiba-tiba muncul kalimat, “wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du” (dan bagi keluarga dan para Shahabatnya semua. Adapun sesudah itu).

Letak kesalahan:

(1) Kalimat tersebut terputus di tengah jalan, sehingga tidak enak didengar dan dipahami. Tiba-tiba saja muncul “wa ‘ala alihi wa shahbihi aj’main”.
(2) Kalau kita memaksakan untuk memahami kalimat tersebut, ia bisa bermakna syirik, sebab kata “hi” dalam kalimat di atas kembalinya kepada Allah. Sedangkan Allah tidak memiliki keluarga dan Shahabat, Dia Maha Satu.

Setidaknya, kalimat di atas tidak enak didengar, maknanya terputus di tengah jalan. Menurut kaidah Bahasa Arab, kalimat demikian bukan termasuk kalimat bahasa Arab yang fasih (benar susunan dan sempurna artinya).

Sebenarnya, kita tahu bahwa disana ada kalimat shalawat yang tidak diucapkan. Hilangnya kalimat shalawat itu membuat urusan menjadi tidak enak. Seharusnya, secara lengkap kalimat itu bunyinya sebagai berikut:

Innal hamda lillah, wa bihi nasta’inuhu ‘ala umurid dunya wad din, was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Jadi disana ada kalimat “was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin” (dan shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad) yang tidak terucapkan, sehingga akibatnya sangat tidak mengenakkan.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Kemungkinan besar, karena kata ad din sangat mirip bunyi akhirnya dengan kata Muhammadin, sehingga para penceramah atau MC tidak memperhatikan hal itu secara seksama. Singkat kata, mereka mengucapkan kalimat Iftitah lebih karena hafalan atau ikut-ikutan. Wallahu a’lam.

Anda jangan merasa heran, kekeliruan seperti ini bukan hanya terjadi pada MC-MC yang baru latihan, tetapi juga bisa terjadi pada ustadz-ustadz, khatib Jum’at, atau penceramah di forum-forum penting. Semoga koreksi ini bisa menjadi pelajaran dan manfaat. Amin. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Bandung, 8 September 2008. [ A.M.W ].

Iklan

10 Responses to Sebuah Kesalahan Sangat Mengganggu

  1. hafmin berkata:

    ass. kesalahan dalam pengucapan kalimat iftitah dan do’a2 arab lain biasanya karena pengucapnya tidak paham apa yang ia ucapkan. Krn itu perlu sekali segenap ustadz selain mengajarkan do’a2 arab juga memahamkan maknanya kpd tholibun.

  2. abisyakir berkata:

    Wa’alaikumsalam warahmatullah.

    Syukran jazakallah sudah berkunjung. Ahlan wa sahlan. Maaf, saya sendiri kurang konsisten untuk terus memperbaharui artikel. Moga yang sudah ada bermanfaat. Amin.

    Oh ya, tentu itu saran yang bagus. Dan sudah seharusnya demikian. Kan kalau berdoa tidak mengerti artinya, kita seperti anak kecil yang ngomong gak karuan, tapi tak ada maknanya.

    Berdoa itu kan kesatuan antara hati seorang hamba, kesadarannya, ucapan yang terucap, dan “nyambung”-nya dengan Ar Rabbul ‘alamin. Nah, kalau tidak tahu artinya, berarti “tidak connect” dong. Iya kan! Maka itu lebih baik doa bahasa Indonesia atau doa apa saja yang dimengerti, daripada doa bahasa Arab tetapi hanya suara “fisik” saja, tanpa maknanya.

    Kecuali untuk doa-doa yang sudah disyariatkan dalam Shalat, dalam berbagai ibadah seperti makan, minum, keluar masuk WC, bercermin, keluar rumah, mulai safar, saat di kendaraan, dll. Nah, untuk doa yang sudah pasti itu, ya kita tinggal ikut saja.

    Untuk kalimat Iftitah, daripada memakai kalimat yang sudah-susah, sudah aja begini:

    “Alhamdulillah Rabbil ‘alamin. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain. Amma ba’du.”

    Nah, itu pun sudah cukup. Masak tidak paham, “Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin”. Wah kebangetan dah… Saya saja masih sering memakai kalimat iftitah ini, dalam tulisan maupun ceramah. Yang penting kan bukan panjang pendeknya, tapi penghayatan atas maknanya.

    Mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    A.M.W.

  3. matengkol berkata:

    LIHATLAH MEREKA DENGFAN SOMBONG MENANCAPKAN SALIB DI-MANA2, ..LIHATLAH BENDERA2 PAGAN (PARTAI2 SEKULER) BER-KIBARAN DI-MANA2….TAPI MANA AR-RAYAH SEBAGAI PANJI TAUHID …KENAPA HENYA BERDEBU MENJADI HIASAN DINDING DAN KENAPA BERDEBU HANYA KETIKA MASIROH…MASI KITA KIBARKAN BENDERA2 TAUHID TERSEBUT…DAN INGAT BAHWA AR-RAHA BUKANLAH MILIK SATU HAROKAH SAJA TAPI MILIK SEMUA UMAT ISLAM

  4. abisyakir berkata:

    @ matengkol

    Ahlan wa sahlan ya Akhi. Selamat berkunjung! Nyamankan diri Anda dengan jamuan seadanya dari saudaramu.

    Lho, kok namanya uniknya, matengkol. Kol mateng atau mat jengkol ya?
    Maaf, cuma bercanda.

    Ma’as salamah.

  5. setiawan berkata:

    afwan kalo mengucapkan salam jangan “ass” dalam bahasa inggris artinya bokong/ jadi klo salam yang lengkap dan jelas. terimakasih.

  6. Abdul Aziz berkata:

    Assalamualaikum warahmatulahiwabarakatuh, . . . .suqron akhi atas tulisan anta…bernanfaat sekali bagi kami para pemula….salam ukhuwah…

  7. aquy berkata:

    Assalamualikum, Kita org indonesia, pakailah bahasa kita dg baik,geli sy baca ana, ente, antum campur ama bahasa ind, kalau mau arab, arab sekalian…. Maaf koreksi

  8. Henri Achrieza berkata:

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..

    InsyaAllah penggunaan kata ana antum afwan dsb tidak masalah, hanya membiasakan menggunakan bahasa Arab.. Karena sebagian dari kami masih belajar bahasa arab, dan bukankah salah satu cara belajar bahasa asing adalah dengan terus menggunakannya?

    Dan lagi, kadang-kadang kita sering mengatakan bro, fren, i love you, boring, handphone, fine, dan sebagainya tapi merasa “fine-fine” aja.. Tapi begitu mendengar kata-kata arab, kita merasa asing bahkan risih (pengalaman pribadi dulu).. Padahal itu bahasa yang kita baca setiap hari, saat shalat, saat bershalawat, dan saat berdoa.. Bangun tidur doa, masuk kamar mandi doa, keluar doa, mengenakan baju doa, sebelum makan doa, setelah makan doa, keluar rumah doa, naik kendaraan doa, bertemu orang doa (salam), sebelum belajar doa, sebelum kerja doa, selesai doa, masuk rumah doa dan salam, sebelum tidur doa, dan masih banyak lagi..

    Dan semua doa tersebut dicontohkan nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menggunakan bahasa arab.. Dan sudah sepantasnya doa tersebut kita pahami artinya, bukan sekedar ucapan berbahasa arab yang kita tidak tahu artinya seolah-olah mantra..

  9. Anonim berkata:

    jangan sok klen we

  10. Anonim berkata:

    sok pintar pintaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: