Tafsir Tematik ‘Ayat Shaum’

Alhamdulillah, kita telah diberi anugerah oleh Allah untuk merasakan, menyaksikan, dan menjalankan Shiyam Ramadhan sejak masih kecil. Hanya karena karunia Allah belaka, semua ini bisa terjadi. Alhamdulillah.

Tentu Anda sekalian telah sangat hafal dan sangat sering mendengar sebuah ayat dalam Surat Al Baqarah yang berisi tentang perintah menjalankan Shiyam Ramadhan. Ayat itu adalah:

Ya aiyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum la’allakum tattaquun.

(Terjemah: “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” Surat Al Baqarah: 183).

Ayat di atas adalah primadonanya majlis Ramadhan. Hampir setiap khutbah, ceramah, pelajaran, tulisan, nasehat, taujih, atau apapun yang berkaitan dengan Shiyam Ramadhan, selalu mengangkat ayat di atas. Dan hal ini menjadi salah satu syi’ar besar bagi bulan Ramadhan dan kewajiban Shiyam di dalamnya. Begitu seringnya kita mendengar ayat di atas, sehingga atas ijin Allah, kita hafal ayat itu, meskipun tidak ada kesengajaan untuk menghafalkannya.

Namun yang saya perhatikan, jarang ada yang mau menjelaskan ayat tersebut secara terperinci. Rata-rata hanya dibacakan ayatnya, dikembangkan tafsirnya, atau diberi sedikit-sedikit catatan. Padahal dari apa yang saya pahami, ayat di atas sangat potensial untuk dijelaskan secara terperinci, dan buah penjelasan itu insya Allah sangat bermanfaat bagi Ummat.

Ketika membaca Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Taisir Karimir Rahmaan As Sa’diy, ternyata di kedua rujukan tafsir itu juga tidak ada penjelasan secara terperinci. Dalam Tafsir As Sa’diy malah dianggap sudah jelas, sehingga tidak perlu ditafsirkan lagi. Mungkin, dalam Tafsir Ibnu Jarir At Thabari penjelasan terperinci itu ada. Atau mungkin dalam Al Kasyaf karya Az Zamakhsyari yang terkenal dari sisi gramatika Bahasa Arabnya, penjelasan terperinci itu ada. (Az Zamakhsyari dikenal sebagai ulama tafsir yang ahli gramatika Arab, tetapi berpaham Mu’tazilah/rasionalis). Namun untuk saat ini saya belum bisa mengakses kedua tafsir tersebut.

Ada rasa penasaran yang kuat jika tidak menyampaikan hal ini. Selain karena kandungan ayat tersebut sangat agung, ia sangat sering dibahas di berbagai majlis Ramadhan. Sayang sekali, jika sesuatu yang begitu sering dibahas tidak dijelaskan lebih lengkap. Meskipun tentu, apa yang ditulis ini sifatnya pendapat juga; bisa benar, bisa juga salah. Saran, kritik, dan masukan, tentu sangat dihargai.

Setidaknya, semoga tulisan ini bisa menjadi dorongan kepada para ahli tafsir di Indonesia untuk menyampaikan kajian terperinci terhadap ayat yang menjadi primadona bulan Ramadhan tersebut.

Disini kita akan membahas Surat Al Baqarah 183 secara terperinci, yaitu membahas kata per kata, atau frasa per frasa. Penjelasan didasarkan atas ayat-ayat Al Qur’an, kaidah bahasa Arab, dan riwayat-riwayat tertentu.

Secara lengkap bunyi ayat tersebut ialah:

Ya aiyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum la’allakum tattaquun.

Selanjutnya, penjelasannya sebagai berikut:

Ya aiyuha

– Ya aiyuna adalah kata yang digunakan untuk panggilan. Dalam bahasa Arab disebut harfun nida’ (kata panggilan). Ia sama dengan kata “Ya”. Atau dalam bahasa Indonesia, “Hai” atau “Wahai”.
– Dalam Al Qur’an, kita menjumpai penggunaan kata “Ya aiyuha”, seperti pada kata “Ya aiyuhan naas”, “Ya aiyuhal insan”, “Ya aiyuhan Nabiy”, “Ya aiyuhal mudats-tsir”, “Ya aiyuhal muzammil”, dan lainnya. Artinya sama, berupa panggilan kepada pihak-pihak tertentu.
– Biasanya, jika seseorang dipanggil, dia akan bersungguh-sungguh menyambut panggilan itu. Misalnya, dia dipanggil oleh kakak atau adiknya, orangtua, anak dan isterinya, shahabat, tetangga, guru, pak RT, pak RW, dan sebagainya. Semakin terhormat seseorang yang memanggil, semakin besar pula kesungguhannya. Panggilan seorang walikota, bupati, gubernur, menteri, anggota DPR, bahkan seorang presiden, akan disambut dengan penuh kesungguhan.
– Jika terhadap panggilan manusia saja, kita bersungguh-sungguh menyambutnya. Lalu bagaimana jika yang memanggil adalah Allah? Dia Pencipta langit dan bumi, pemilik alam semesta, pengatur alam seluruhnya, pemberi kehidupan, penentu kematian, kerajaan-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, di Tangan-Nya ditentukan nasib setiap walikota, bupati, menteri, gubernur, presiden, jendral-jendral, George Bush, Vladimir Putin, Hitler, Napoleon, Jengis Khan, Kaisar Nero, Kisra Persi, Fir’aun, Hamman, dan sebagainya. Kira-kira, bagaimana respon kita ketika dipanggil oleh Allah?
– Umumnya manusia sangat bersungguh-sungguh menyambut panggilan para pejabat yang mulia. Tetapi mereka tidak serius ketika menyambut panggilan Allah. “Para pejabat kan jelas orangnya, jelas pengaruhnya, dan bisa ngasih kita duit, kalau hatinya suka ke kita. Sementara Allah tidak terlihat, jadi bagaimana akan serius menyambut panggilan-Nya?” begitu alasan di hati mereka, meskipun lisan tidak berani mengucapkannya.
– Para Shahabat radhiyallahu ‘anhu kalau mendengar panggilan Allah, mereka segera berseru, “Labbaik Allahumma labbaik!” (kami sambut panggilan-Mu ya Allah). Begitu pula kalau mereka dipanggil oleh Rasulullah, mereka menjawab, “Labbaik ya Rasulallah!” Mereka meninggikan panggilan Allah dan Rasul-Nya di atas semua panggilan yang lainnya.
– Wallahu a’lam bisshawaab.

Alladzina amanu

– Artinya: “Orang-orang yang beriman.” Sebenarnya lebih tepat disebut: “Orang-orang yang telah mengimani.” Kata ‘amanu’ adalah fi’il madhi, kata kerja yang telah lalu; jadi lebih tepat disebut “telah mengimani”. Kalau subyeknya tunggal, menjadi ‘amana’.
– Dalam Al Qur’an sangat sering dipakai perkataan, “Ya aiyuhal ladzina amanu”. Orang-orang beriman selalu disebut secara jama’ (kolektif). Tidak pernah sekali pun Al Qur’an mengatakan, “Ya aiyuhal mukmin” (wahai seorang Mukmin). Atau tidak pernah dikatakan, “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang mengimani). Selalu dikatakan, “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman). Hal ini mengandung hikmah, bahwa din Islam adalah agama kolektif, agama kebersamaan, bukan agama individu, bukan agama egoisme, bukan agama ta’ashub golongan. Ummat Islam adalah Ummatan Wahidatan (Ummat yang satu), bukan Ummat yang terpecah-belah, atau tersegmentasi menjadi berbagai golongan.
– Banyak sekali ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk bersatu padu, menjalin Ukhuwwah Islamiyyah, tidak berpecah-belah dalam agama. Salah satu yang sering dibahas, adalah wasiat Allah kepada para Nabi-nabi dan juga kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam. Bunyi wasiatnya, “An aqimud din wa laa tatafarraquu fihi” (tegakkanlah agama ini dan janganlah kalian berpecah-belah di dalamnya. As Syuraa: 13).
– Sebagian kaum Muslimin ada yang berdakwah dengan membawakan “hadits 73 golongan”. Ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 golongan masuk neraka, dan 1 golongan selamat. Hadits ini sangat masyhur, tetapi cara memahaminya seringkali salah. Sebenarnya, hadits itu bermakna khabar (berita), bahwa Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam mengabarkan, kelak Ummatnya akan berpecah-belah demikian-demikian. Namun oleh sebagian orang, hadits itu justru dipahami sebagai perintah untuk berpecah-belah, menghancurkan persatuan Islam, mengobarkan pertikaian di antara sesama Muslim, terus kembangkan permusuhan dalam diri Ummat. Cara mereka berdakwah mencerminkan pemahaman mereka. Makna hadits itu adalah khabar tentang perpecahan, tetapi aplikasinya justru membuat perpecahan sebanyak-banyaknya. Padahal agama para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam ditegakkan di atas manhaj persatuan, tetapi mereka malah bersuka ria di atas perpecahan. Dari sisi sudah tampak kesesatan jalan itu. Na’udzubillah wa na’udzubillah.
– Siapapun yang membangun agamanya di atas individualisme, egoisme, fanatik golongan, dan tidak kembali kepada asas semula, yaitu persatuan di antara kaum Muslimin, mereka akan tersesat dan dikalahkan. Lihat saja, dalam Al Qur’an Allah selalu memanggil Ummat Islam dengan “Ya aiyuhal ladzina amanuu” (wahai orang-orang yang beriman), bukan “Ya aiyuhal ladzi amana” (wahai satu orang yang beriman). Pemahaman di atas semangat perpecahan itu pasti tidak akan matching dengan konsep dasar agama ini, selamanya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
– Dalam sebagian literatur disebutkan, bahwa perintah Shiyam Ramadhan pertama kali turun pada tahun 2 Hijriyah. Dalam masa 13 tahun Ummat Islam di Makkah, perintah Shiyam Ramadhan belum diturunkan.
– Pada dasarnya, perintah Shiyam Ramadhan menuntut landasan keimanan, sebab kewajiban ini memang tidak ringan. Dalam Rukun Islam, Shiyam Ramadhan menempati posisi ke-4 setelah Syahadat, Shalat, dan Zakat. Tidak dibenarkan seseorang menjalankan Shiyam Ramadhan secara penuh, tetapi dirinya sendiri meninggalkan Shalat Lima Waktu dan kewajiban Zakat. Kecuali bagi anak-anak yang baru belajar puasa, sekedar berlatih menahan makan dan minum.
– Wallahu a’lam bisshawaab.

Kutiba ‘alaikum

– Artinya: “Telah diwajibkan atas kalian.” Arti asal dari kata ‘kutiba’ sebenarnya: Telah dituliskan! Dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Kutiba adalah bentuk pasif dari kata ka-ta-ba, sehingga maknanya ‘dituliskan’. (Kalau dalam bahasa Indonesia, kutiba = aku datang. Sekedar humor!).
– Para ahli tafsir telah sepakat, bahwa kata ‘kutiba’ artinya adalah diwajibkan atau difardhukan. Sebagai ibadah wajib, sebagaimana rumus umumnya, jika dikerjakan mendapat pahala besar, jika ditinggalkan berdosa. Shiyam Ramadhan adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang mampu mengerjakannya.
– Ada beberapa ayat dalam Surat Al Baqarah yang mirip bentuk kalimatnya dengan ayat Shaum ini. Dalam ayat 178 disebutkan: “Kutiba ‘alaikumul qishash fil qatla” (diwajibkan atas kalian al qishash dalam pembunuhan); dalam ayat 180: “Kutiba ‘alaikum idza hadhara ahadakumul mautu in taraka khaira, al washiyah” [diwajibkan atas kalian jika datang (tanda-tanda) kematian kepada salah satu dari kalian, yaitu menyampaikan washiyat, jika dia meninggalkan suatu kebaikan (harta benda yang banyak)]; dalam ayat 216: “Kutiba ‘alaikumul qitalu wa huwa kurhul lakum” (diwajibkan atas kalian berperang, sedangkan berperang itu tidak kalian sukai). Bahkan sejatinya, dalam ayat-ayat Surat Al Baqarah ini adalah “rangkaian kutiba”, sebab berturut-turut disebutkan ayat-ayat tentang kewajiban, meskipun terpisah oleh beberapa ayat lainnya. Ayat Shaum termasuk di dalamnya (ayat 183). Singkat kata, kutiba itu artinya diwajibkan/difardhukan.
– Adapun kalimat ‘alaikum kembali kepada orang-orang beriman.
– Wallahu a’lam bisshawaab.

As shiyamu

As shiyamu adalah bentuk jama’ (plural) dari kata as shaumu.
– Dalam ayat di atas digunakan kata as shiyamu, bukan shaumu. Memang di bulan Ramadhan terdapat banyak puasa, Ummat Islam berpuasa sebulan penuh, bukan hanya sehari puasa; dan yang berpuasa itu seluruh kaum Muslimin di muka bumi, bukan hanya satu dua orang, atau sekelompok orang saja.
– Kata shaum menurut para ulama maknanya al imsak (menahan diri). Hal ini sama dengan istilah waktu imsak yang sering kita dengar, yaitu waktu 10 atau 15 menit menahan makan-minum sebelum adzan Shubuh. Sama-sama memakai kata al imsak yang berarti menahan diri.
– Kemudian coba perhatikan lagi, ayat tersebut berbunyi, “Kutiba ‘alaikumus shiyamu”, bukan “Kutiba ‘alaikum shiyamun”. Sebelum kata shiyamu terdapat alif-lam. Hal ini disebut ismun ma’rifah, yaitu kata benda yang bersifat tertentu. Kalau disebut “as shiyamu” maka puasa yang dimaksud sudah tertentu, sudah dimaklumi, jelas maksudnya. Tetapi kalau “shiyamun”, maka puasa itu bersifat umum, general, puasa apa saja, baik di bulan Ramadhan atau di luarnya. Maka alif-lam pada “as shiyamu” itu artinya adalah puasa tertentu, sudah pasti maksudnya, sudah nyata diferensiasinya, yaitu: Puasa di bulan Ramadhan. Singkat kata, puasa yang diwajibkan kepada orang-orang beriman ialah puasa di bulan Ramadhan, bukan selainnya.
– Memang, selain puasa Ramadhan ada juga puasa yang diwajibkan, yaitu: Puasa qadha untuk mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan; dan puasa nadzar. Misalnya ada seseorang yang nadzar akan berpuasa 7 hari jika lulus ujian, maka dia wajib menunaikan puasa itu, tidak boleh ditinggalkan.
– Wallahu a’lam bisshawaab.

Kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum

– Artinya, “Seperti yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian.”
– Kewajiban puasa bukan hanya ditetapkan atas kaum Muslimin, tetapi juga atas kaum-kaum terdahulu. Hal ini mengandung makna, bahwa kewajiban puasa bersifat universal terhadap orang-orang beriman di setiap jaman.
– Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan: “Dan telah diriwayatkan bahwa as shiyam ini pada mulanya (pada awal Islam) seperti keadaan pada Ummat-ummat sebelum kita, yaitu tiga hari puasa setiap bulannya. Dari Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Abbas, dari Atha’, Qatadah dan Dhahak, dari Muzahim dan dia menambahkan: ‘Tidak berhenti kewajiban ini (puasa setiap bulan 3 hari) sejak jamannya Nuh ‘alaihissalam sampai Allah menghapuskan hal itu dengan shaum di bulan Ramadhan.”
– Di jaman awal Islam, perintah puasa ialah 3 hari setiap bulan. Kewajiban shiyam Ummat-ummat terdahulu juga seperti itu. Dalam riwayat dikatakan, Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash Ra. telah bersumpah dirinya akan puasa setiap hari dan bangun sepanjang malam. Ketika mendengar hal itu, Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam menasehati Abdullah, “Dan sesungguhnya cukup bagimu untuk berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, karena sesungguhnya bagimu (dan bagi Ummat Islam seluruhnya) setiap kebaikan itu dilipat-gandakan sepuluh kali, maka (jika setiap bulan puasa tiga hari) yang demikian itu sama dengan puasa setahun penuh.” (HR. Bukhari-Muslim). Penjelasannya: 1 kebaikan dilipatgandakan 10 kali; 1 hari puasa sama dengan 10 hari puasa; 3 hari puasa sama dengan puasa 30 hari (sebulan); kalau setiap bulan kontinue puasa 3 hari, otomatis telah puasa setahun penuh.
– Kewajiban puasa bukan hanya bagi Ummat Islam, tetapi juga Ummat-ummat terdahulu. Hal ini mengandung hikmah, bahwa beban yang kita tanggung dalam puasa bersifat universal, dipikulkan kepada semua pundak orang-orang beriman di setiap jaman dan generasi. Bahkan sampai saat ini kaum Nashrani dan Yahudi pun masih menunaikan puasa, terlepas perbedaan tatacara berpuasanya. Hingga di antara mereka ada yang sungguh-sungguh menunaikan puasa.
– Wallahu a’lam bisshawaab.

La’allakum tattaqun

– Artinya, “Agar kalian bertakwa.”
– Kalimat yang digunakan “La’allakum tattaqun” (agar kalian senantiasa berbuat takwa) bukan “La’alla an takunal muttaqun” (agar kalian menjadi orang yang bertakwa). Mungkin maknanya, ketakwaan itu merupakan perbuatan yang ditunaikan secara terus-menerus, tanpa mengenal istilah akhir. Bukan setelah seseorang meraih gelar Muttaqun (orang bertakwa), lalu dia meninggalkan perbuatan takwa. Seperti seseorang yang terus belajar tanpa henti, tidak mengenal istilah tamat dalam belajar. Tetapi ada juga para sarjana yang seketika berhenti belajar, setelah meraih gelar sarjana.
– Takwa menurut pengertian yang populer ialah: “Mengerjakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.” Takwa dengan pengertian seperti ini tidak akan mampu dikerjakan oleh siapapun, selain hanya oleh Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam.
– Kata takwa berasal dari taqa, yang artinya takut. Bahkan kata ‘takut’ dalam bahasa Indonesia sebenarnya adalah serapan dari kata ‘taqa’ ini. Takwallah artinya adalah takut kepada Allah. Seseorang disebut takwa jika mau mengerjakan perintah-perintah Allah karena takut berdosa jika tidak mengerjakannya; dan mau menjauhi larangan-larangan Allah, karena takut berdosa dengan mengerjakannya. Perintah dikerjakan karena takut kepada Allah; larangan dijauhi juga karena takut kepada Allah. Itulah takwa.
– Kata “la’allakum” merupakan jaminan bahwa puasa yang kita tunaikan di bulan Ramadhan benar-benar akan menghasilkan karakter takwa. Pihak yang menjamin kepastian hasil itu adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri. Pertanyaannya, mengapa setelah Ummat Islam banyak berpuasa, mereka tidak kunjung bertakwa? Tentunya, puasa yang berkualitas yang akan menuntun ke arah terbentuknya karakter takwa itu. Ia seperti riwayat yang disebutkan, “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari-Muslim). Puasa yang didasari iman dan kesungguhan itulah yang diharapkan akan membentuk karakter insan bertakwa.
– Takwa sendiri sangat banyak keutamaannya. Dalam Surat At Thalaaq ayat 2-4, disebutkan 3 keutamaan takwa, yaitu: (1) Diberi jalan keluar dari kesulitannya; (2) Diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka; (3) Diberi kemudahan dalam setiap urusan.
– Puasa Rmadhan merupakan wahana yang disediakan oleh Allah untuk memperbaiki keadaan ruhiyah manusia di muka bumi. Seharusnya, setelah shiyam Ramadahan, para sha’imin dan sha’imat meraih karakter takwa, sehingga hidupnya dipenuhi kebaikan-kebaikan. Tetapi jika telah berlalu bulan Ramdahan setiap tahun, namun perubahan baik belum juga terjadi, berarti kualitas shiyam yang kita jalani masih jauh dari harapan. Ia baru shiyam dalam makna sebagai tradisi/kebiasaan, bukan sebuah thariqah (jalan) untuk meraih ridha-Nya.
– Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperbaiki keadaan kaum Muslimin, menolong mereka dalam menunaikan ibadah Ramadhan, memberi kemudahan urusan, memberi kelapangan rizki, dan menganugerahkan perbaikan hidup secara hakiki. Amin Allahumma amin.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab. Was shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajmain.

Bandung, 8 Ramadhan 1429 H.

[ AM. Waskito ].

First publication: At MyQuran.org. 8 September 2009. Pkl. 14.01 WIB. Board “Artikel“.

Iklan

5 Responses to Tafsir Tematik ‘Ayat Shaum’

  1. achfaisol berkata:

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    selamat Berpuasa… semoga segala ibadah kita diterima oleh Allah SWT, amin…

    saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

    Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  2. […] [o] Tafsir Tematik Ayat Shaum. […]

  3. tatang berkata:

    sayang, yang ditunggu kata “la’alla” itu makna kontekstualnya apa, dan makna kontekstual “tattaquun” juga apa, dan bukannya “la’alla” terus dimaknai jaminan! Itu bukankah artinya “agar supaya”?

  4. abisyakir berkata:

    @ Tatang…

    Kalau mengacu Terjemah Depag, pengertiannya ya: agar supaya. Hanya saja bedanya, dalam ayat lain misalnya disebutkan “la’allakum tuflihun” (agar kalian berjaya); disini ditawarkan keuntungan berupa kejayaan. Tetapi dalam ayat Shaum itu disebut “la’allakum tattaquun” agar kalian bertakwa. Lho, apa bertakwa itu merupakan keuntungan?

    Ternyata kalau dikaji, setidaknya ada 7 keuntungan dari takwa, yaitu:
    = Diberi jalan keluar dari kesulitan.
    = Diberi rizki dari arah yang tak disangka-sangka.
    = Diberi kemudahan dalam urusan.
    = Mendapat sebaik-baik bekal kehidupan.
    = Mendapat furqan (petunjuk pembeda antara yang haq dan bathil).
    = Mendapat ampunan atas dosa-dosa.
    = Disediakan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

    Jadi, ternyata TAQWA itu anugerah juga, bahkan anugerah besar.

    Admin.

  5. Fulan berkata:

    Alhamdulillah sangat mengerti penjelasannya…maaf kalau mnrt says itu bukan tematik hehehe…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: