Kontroversi Hukum “Zakat Profesi”

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak lama Ummat Islam di Indonesia mendengar istilah ZAKAT PROFESI. Hal ini menjadi perdebatan seru tentang pihak yang pro dan kontra zakat profesi. Kebetulan saat ini Ramadhan, masyarakat banyak memperbincangkan masalah zakat. Ada baiknya kita kaji masalah ini untuk memperkaya wawasan Ummat Islam, insya Allah.

Sejujurnya, saya termasuk pihak yang kontra zakat profesi. Bukan karena tidak mau membayar zakat tersebut (kalau ada ya), tetapi karena posisi zakat profesi secara syar’i masih dipertanyakan. Sebagai pandangan awal, istilah zakat profesi (zakat kasab) itu tidak populer dalam sejarah Islam sejak jaman dulu. Ia baru muncul akhir-akhir ini, khususnya sejak ijtihad Syaikh Al Qaradhawi dalam Fiqhuz Zakah beliau. Di sisi lain, Az Zakat adalah perkara ibadah mahdhah yang sudah paketan, permanen, dan tidak menerima ijtihad di dalamnya. Ia tinggal dilaksanakan, tanpa banyak bertanya. Kalau membuat aturan baru dalam ibadah, akan menjerumuskan ke arah bid’ah yang tertolak. Ini sebagai awalan.

Di bawah ada sebuah artikel bersumber dari syariahonline.com tentang dalil-dalil yang mendukung posisi zakat profesi. Syariah Online termasuk salah satu yang giat mensosialisasikan pentingnya zakat profesi, sehingga pendapat mereka bisa dipegang dalam topik tersebut. Berikut sebagian alasan yang menguatkan pentingnya zakat profesi, menurut syariahonline.com:

Hanya saja terburu-buru memvonis bahwa zakat profesi adalah bid’ah hanya karena kita tidak menemukan contoh kongkritnya di masa Rasulullah SAW, tentu tidak sesederhana itu masalahnya. Sebab ketika kita mengatakan sebuah perbuatan itu sebagai bid’ah, maka konsekuensinya adalah kita memvonis bahwa pelakunya adalah ahli neraka. [1] Masalahnya adalah apakah bisa disepakati bahwa semua fenomena yang tidak ada di masa Rasulullah SAW itu langsung dengan mudah bisa dijatuhkan ke dalam kategori bid’ah ?

Sebab bila memang demikian, maka mengeluarkan zakat dengan beras pun tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sedangkan kita semua di negeri ini dan di kebanyakan negeri muslim umumnya makan nasi dan zakat fitrahnya beras. Apakah kita ini pasti ahli bid’ah karena tidak berzakat dengan gandum? [2]


Selanjutnya zakat profesi menurut mereka yang mencetuskannya sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan para ulama yang mendukung zakat ini mengatakan bahwa landasan zakat profesi atau penghasilan itu sangat kuat, yaitu langsung dari Al-Quran Al-Kariem sendiri.

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari kasabmu (PENGHASILANMU) yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…. (QS al-baqarah.)

Maka yang mewajibkan zakat profesi atau zakat penghasilan adalah Al-Quran Al-Kariem sendiri. Dan istilah kasab adalah istilah yang digunakan oleh Al-Quran Al-Kariem dan juga bahasa arabnya zakat profesi adalah kasab. [3]

Selain itu mereka juga mengatakan bahwa profesi di masa Rasulullah SAW itu berbeda hakikatnya dengan profesi di masa kini. Sebab sebenarnya yang terkena zakat itu pada hakikatnya bukan karena dia berprofesi apa atau berdagang apa, tetapi apakah seseorang sudah masuk dalam kategori kaya atau tidak. [4]

Dan memang benar bahwa zakat itu pada hakikatnya adalah memungut harta dari orang kaya untuk diserahkan kepada orang miskin. Persis seperti pesan Rasulullah SAW ketika mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman. Rasulullah SAW mengatakan bahwa beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT telah memfaridhahkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada orang miskin di antara mereka. [5]

Masih menurut kalangan pendukung zakat profesi, maka meski di masa Rasulullah SAW ada beberapa jenis profesi, namun mereka tidaklah termasuk orang kaya dan penghasilan mereka tidak besar. Maka oleh Rasulullah SAW mereka pun tidak dipungut zakat.

Sebaliknya, di masa itu yang namanya orang kaya itu identik dengan pedagang, petani atau peternak atau mereka yang memiliki simpanan emas dan perak. Maka kepada mereka inilah zakat itu dikenakan. [6] Meski demikian, jelas tidak semua dari mereka itu pasti kaya, karena itu ada aturan batas minimal kepemilikan atau yang kita kenal dengan nisab. Oleh Rasulullah SAW, nisab itu lalu ditentukan besarnya untuk masing-masing pemilik kekayaan. Dan sudah bisa dipastikan bahwa kalangan pekerja “profesional” dimasa itu tidak akan pernah masuk dalam daftar orang kaya.

Lain halnya dengan masa sekarang ini. Yang kita sebut sebagai profesional di masa kita hidup ini bisa jadi orang yang sangat kaya dan teramat kaya. Jauh melebih kekayaan para petani dan peternak. Bahkan di negeri kita ini, yang namanya petani dan peternak itu sudah bisa dipastikan miskin, sebab mereka tertindas oleh sistem yang sangat tidak berpihak kepada mereka. [7]

Kalau pak tani yang setiap hari mencangkul di sawah membanting tulang memeras keringat dan ketika panen, hasilnya tidak cukup untuk membayat hutang kepada rentenir itu diwajibkan membayar zakat, sementara tetangganya adalah seorang yang berprofesi sebagai pengacara kaya raya itu tidak wajib bayar zakat, dimanakah rasa keadilan kita ? Padahal pak pengacara itu sekali didatangi kliennya bisa langsung mengantungi 100 atau 200 juta. [8]

Di lain tempat ada peternak yang miskin hidup berdampingan dengan tetangganya yang konsultan ahli yang sekali memberi advise bisa mengantongi ratusan juta, tentu sekali rasa keadilan itu terusik. [9]

Benarkah Islam tidak mewajibkan zakat orang kaya yang nyata benar kekayaan berlimpah, hanya karena di masa Rasulullah SAW belum ada fenomena itu ? Dan wajarkah bila kita hanya memakai standar kekayaan dan jenis penghasilan yang ada di masa Rasulullah SAW saja ? Sedangkan pada kenyataannya, sudah banyak fenoimena itu yang sudah berubah ? [10]

Tidakkah kita bisa membedakan esensi dari zakat yang utama yaitu mengambil harta dari ORANG KAYA dan diberikan kepada orang miskin ? Ataukah kita terpaku pada fenomena sosial yang ada di masa Madinah saja ? [11]

Nah, argumentasi seperti itulah yang diajukan oleh para pencetus zakat profesi sekarang ini. Dan bila kita secara tenang memahaminya, argumen itu relatif tidak terlalu salah. Paling tidak kita pun harus sadar bahwa kalau At-Taubah ayat 60 telang menyebutkan dengan detail siapa sajakah yang berhak menerima zakat, maka untuk ketentuan siapa sajakah yang berkewajiban mengeluarkan zakat, Al-Quran Al-Kariem tidak secara spesifik menyebutkannya. Sehingga penentuan siapa sajakah yang wajib mengeluarkan zakat bisa atau mungkin saja berkembang sesuai karakter zamannya. Namun intinya adalah orang kaya. [12]

Sumber asli: http://www.syariahonline.com/kajian.php?lihat=detil&kajian_id=31570

Setelah itu saya ingin memberi catatan terhadap pendapat-pendapat yang menjadi argumentasi syariahonline.com di atas, yaitu sebagai berikut:


[[1]] Syariah online: Sebab ketika kita mengatakan sebuah perbuatan itu sebagai bid’ah, maka konsekuensinya adalah kita memvonis bahwa pelakunya adalah ahli neraka.

Catatan: Tidak setiap pelaku bid’ah langsung otomatis masuk neraka. Siapa tahu dia melakukan bid’ah karena tidak tahu, terpaksa, atau karena niatan lain.

Yang jelas, amalan bid’ah itu mardud (tertolak). Seperti kata Nabi, ”Siapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, amalnya tertolak.”


[[2]] Syariah Online: Sebab bila memang demikian, maka mengeluarkan zakat dengan beras pun tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sedangkan kita semua di negeri ini dan di kebanyakan negeri muslim umumnya makan nasi dan zakat fitrahnya beras. Apakah kita ini pasti ahli bid’ah karena tidak berzakat dengan gandum?

Catatan: Jangan karena kita membayar zakat dengan beras, lalu disebut bid’ah. Itu analogi yang tidak tepat. Para ulama sudah sepakat, zakat fitrah dibayarkan dengan makanan pokok di suatu wilayah. Misal di Papua makanan pokok ubi-ubian. Apa mereka harus dipaksa beli korma atau tanam padi? Ya tentu tidak, sudah saja membayar zakat fitrah dengan ubi. Bagi pemerhati masalah zakat, istilah makanan pokok itu sudah sangat terkenal. Jadi tidak ada khilaf di dalamnya.

[[3]] Syariah Online: Selanjutnya zakat profesi menurut mereka yang mencetuskannya sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan para ulama yang mendukung zakat ini mengatakan bahwa landasan zakat profesi atau penghasilan itu sangat kuat, yaitu langsung dari Al-Quran Al-Kariem sendiri: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari kasabmu (PENGHASILANMU) yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…” (QS al-baqarah.)

Maka yang mewajibkan zakat profesi atau zakat penghasilan adalah Al-Quran Al-Kariem sendiri. Dan istilah kasab adalah istilah yang digunakan oleh Al-Quran Al-Kariem dan juga bahasa arabnya zakat profesi adalah kasab.

Catatan: Ayat di atas sebenarnya umum, memerintahkan kaum Muslimin menunaikan infak (belanja) di berbagai jalan kebaikan, misal untuk keluarga, untuk pendidikan, untuk syiar islam, untuk dakwah, untuk jihad, dll. Itu perintah umum.

Maka jangan ditarik ke arah kewajiban zakat. Zakat itu istilah khusus, sudah paten, sudah jelas kadar, bentuk, dan sasarannya.

[[4]] Syariah Online: Selain itu mereka juga mengatakan bahwa profesi di masa Rasulullah SAW itu berbeda hakikatnya dengan profesi di masa kini. Sebab sebenarnya yang terkena zakat itu pada hakikatnya bukan karena dia berprofesi apa atau berdagang apa, tetapi apakah seseorang sudah masuk dalam kategori kaya atau tidak.

Catatan: Kalau bicara soal Zakat, itu sebentuk ibadah yang sudah pasti, paketan, permanen. Ia tidak bisa diubah-ubah karena waktu dan perubahan sosial. Shalat lima waktu di jaman Nabi tetap sama seperti saat ini, tidak boleh diutak-atik lagi. Bisa saja orang akan berpandangan, “Orang jaman sekarang kan sibuk-sibuk. Jadi shalat dibuat dua waktu saja, Shubuh dan Isya. Biar tidak ganggu kegiatan mereka.” Apa bisa kita beralasan seperti itu? Tidak kan.

Kalau soal zakat sudah jelas bentuknya. Namun jika infak, insya Allah bisa berubah-ubah sesuai situasi.

[[5]] Syariah Online: Dan memang benar bahwa zakat itu pada hakikatnya adalah memungut harta dari orang kaya untuk diserahkan kepada orang miskin. Persis seperti pesan Rasulullah SAW ketika mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman. Rasulullah SAW mengatakan bahwa beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT telah memfaridhahkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada orang miskin di antara mereka.

Catatan: Ya benar. Infak juga dikaitkan dengan kemampuan.

[[6]] Syariah online: Masih menurut kalangan pendukung zakat profesi, maka meski di masa Rasulullah SAW ada beberapa jenis profesi, namun mereka tidaklah termasuk orang kaya dan penghasilan mereka tidak besar. Maka oleh Rasulullah SAW mereka pun tidak dipungut zakat. Sebaliknya, di masa itu yang namanya orang kaya itu identik dengan pedagang, petani atau peternak atau mereka yang memiliki simpanan emas dan perak. Maka kepada mereka inilah zakat itu dikenakan.

Catatan: Sebenarnya Islam sudah melokalisir istilah ini, yaitu “wajib zakat” (itu lho, mirip dengan istilah “wajib pajak). Jangan dibuat rumit dengan identifikasi baru “orang kaya”. Kalau harta sudah sampai nishab, otomatis wajib zakat. Sudah disitu saja batasan berpikirnya, jangan masuk ke standar “orang kaya”. Mengapa harus demikian? Biar kita tetap di koridor syariah, bukan koridor lain. Kita bicara soal Syariat Islam, bukan selainnya.

[[7]] Syariah Online: Lain halnya dengan masa sekarang ini. Yang kita sebut sebagai profesional di masa kita hidup ini bisa jadi orang yang sangat kaya dan teramat kaya. Jauh melebih kekayaan para petani dan peternak. Bahkan di negeri kita ini, yang namanya petani dan peternak itu sudah bisa dipastikan miskin, sebab mereka tertindas oleh sistem yang sangat tidak berpihak kepada mereka.

Catatan: Bagi yang kaya, tidak peduli petani atau bukan, dia wajib mengeluarkan hartanya. Tetapi namanya tidak usah disebut zakat, tetapi bisa infak, sedekah, hibah, hadiah, dll. Harus dikeluarkan untuk membersihkan harta itu, tetapi cara fleksibel, tidak seketat zakat. Bisa jadi, nilai infak itu 10 %, 20 %, atau 25 %. Tidak melulu 2,5 %. Atau bahkan infaknya bisa sangat kecil, karena mampunya baru seperti itu.

Kalau seorang petani susah payah mencari nafkah dengan hasil sedikit, jelas dia tidak termasuk “wajib zakat”, dia malah bisa menjadi mustahik “berhak zakat”. Kalau memang mereka miskin, tidak perlu membayar zakat.

[[8]] Syariah Online: Kalau pak tani yang setiap hari mencangkul di sawah membanting tulang memeras keringat dan ketika panen, hasilnya tidak cukup untuk membayat hutang kepada rentenir itu diwajibkan membayar zakat, sementara tetangganya adalah seorang yang berprofesi sebagai pengacara kaya raya itu tidak wajib bayar zakat, dimanakah rasa keadilan kita ? Padahal pak pengacara itu sekali didatangi kliennya bisa langsung mengantungi 100 atau 200 juta.

Catatan:

– Ya itu tandanya Pak Tani bukan orang wajib zakat, tetapi malah harus dizakati. Orang seperti itu jangan bandingkan dengan kaum jet set.

– Profesi itu bukan tanpa pengorbanan, lho. Untuk dapat profesi mapan seseorang sekolah dulu dari TK sampai PT. Keluar modal, tenaga, pikiran, pengorbanan besar. Itu kan harus dipertimbangkan.

– Lagi pula, jika para profesional diikat dengan ketentuan zakat, siapa tahu zakat mereka sangat kecil? Kalau mereka dikenakan kewajiban infak, insya Allah bisa sepadan. Jangan sampai, penghasilan 100 juta sebulan, cuma infak 2,5 juta sebulan. Dia masih bisa 10-15 juta, jika mampu.

[[9]] Syariah Online: Di lain tempat ada peternak yang miskin hidup berdampingan dengan tetangganya yang konsultan ahli yang sekali memberi advise bisa mengantongi ratusan juta, tentu sekali rasa keadilan itu terusik.

Catatan: Tolong jangan sembarangan mengatakan “keadilan terusik”. Seolah kita tidak yakin bahwa Syariat Islam itu adil. Ia sama saja dengan meragukan keadilan hukum Allah. Lagipula alasan yang menjadi dasar “keadilan terusik” sangat kasuistik. Syariat tidak akan berubah karena kasus-kasus umum, apalagi kasus spesifik. Sebab hukum Allah sudah sempurna (Al Maa’idah ayat 3). Memang akan terus muncul ijtihad, tetapi ia dalam koridor syar’i, bukan membuat koridor baru.

Orang kaya karena gaji atau income, wajib sedekah untuk membersihkan hartanya. Besar kecilnya fleksibel, sesuai keadaan. Kalau “ongkos produksi” untuk mencapai income itu tinggi, sedekahnya secukupnya saja, tapi wajib lho, untuk membersihhkan harta kita. Tapi kalau “ongkos produksi” rendah, ya sedekahnya harus memadai, misal 10-20 % penghasilan. Kalau masih mau berjihad, bisa sampai 50 persen penghasilan. itu sudah luar biasa!

Sengaja profesi tidak ada ketentuan zakatnya, sebab ia fleksibel, sesuai kondisi. Bukan karena ummat Islam tidak boleh berzakat. Cara demikian kan lebih menguntungkan Islam. Dulu di jaman Nabi para Shahabat bisa mengeluarkan infak sangat besar untuk membela Islam. Seperti Abdurrahman bin Auf Ra. yang menyedekahkan seluruh kafilah dagangnya di jalan Allah. Kalau beliau hanya mengeluarkan zakat niaga, tentu sangat sedikit yang dikeluarkan. Hanya 2,5 % aset bergerak bisnis, itupun setelah lewat 1 haul (1 tahun).

[[10]] Syariah online: Benarkah Islam tidak mewajibkan zakat orang kaya yang nyata benar kekayaan berlimpah, hanya karena di masa Rasulullah SAW belum ada fenomena itu ? Dan wajarkah bila kita hanya memakai standar kekayaan dan jenis penghasilan yang ada di masa Rasulullah SAW saja ? Sedangkan pada kenyataannya, sudah banyak fenoimena itu yang sudah berubah ?

Catatan: Lho, Anda sendiri yakin tidak bahwa Az Zakah adalah Rukun Islam, ibadah yang permanen, yang tidak menerima ijtihad di dalamnya? Atau menurut Anda, zakat itu medan ijtihadi? Wah, tentu terlalu jauh. Nanti ada ijtihad shalat, ijtihad shaum, ijtihad haji, dll. Kalau kita ingin menggali dana masyarakat, alangkah baiknya kita dorong masyarakat supaya jauh lebih demawan dengan infak dan sedekah.

Mungkin karena sebagian orang sudah tertalu terikat dengan sebuah postulat, “Zakat adalah cara paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan.” Sebab dari semua jenis zakat, zakat profesi bisa dianggap paling potensial untuk digali.

[[11]] Syariah online: Tidakkah kita bisa membedakan esensi dari zakat yang utama yaitu mengambil harta dari ORANG KAYA dan diberikan kepada orang miskin ? Ataukah kita terpaku pada fenomena sosial yang ada di masa Madinah saja ? [11]

Catatan: Ya kita jangan meremehkan situasi di jaman Nabiyul Huda Muhammad Saw. Ia adalah jaman terbaik, maka segala sesuatunya terbaik. Jangan sampai ada keraguan tentang hal itu, apalagi anggapan bahwa situasi kita saat ini lebih baik daripada di jaman itu.

Seideal-idealnya orang jaman sekarang mengeluarkan zakat profesi, ia tidak akan bisa menyamai infak Khadijah Ra, Abu Bakar Ra., Utsman bin Affan Ra., Shuhaib Ar Rumi Ra., atau Abdurrahman bin Auf Ra.? Dan lainnya yang tak bisa disebut satu per satu.

Kita selama ini bukan lebih baik dari jaman Nabi, tapi tidak mengerti cara menempatkan dalil-dalil sesuai porsinya. Kalau dipahami, insya Allah tidak akan ada kerancuan. Hampir-hampir semua masalah manusia sudah ada solusinya, tinggal kesungguhan untuk menggali.

[[12]] Syariah online; Nah, argumentasi seperti itulah yang diajukan oleh para pencetus zakat profesi sekarang ini. Dan bila kita secara tenang memahaminya, argumen itu relatif tidak terlalu salah. Paling tidak kita pun harus sadar bahwa kalau At-Taubah ayat 60 telang menyebutkan dengan detail siapa sajakah yang berhak menerima zakat, maka untuk ketentuan siapa sajakah yang berkewajiban mengeluarkan zakat, Al-Quran Al-Kariem tidak secara spesifik menyebutkannya. Sehingga penentuan siapa sajakah yang wajib mengeluarkan zakat bisa atau mungkin saja berkembang sesuai karakter zamannya. Namun intinya adalah orang kaya.

Catatan;

Wah, jangan terlalu “kritis” berpikirnya! Nanti malah disebut “tidak rela” dengan ketentuan yang telah Allah buat. Bahkan “tidak rela” dengan ayat-ayat Al Qur’an. Dalam Al Qur’an memang disebut 8 asnaf penerima zakat, tetapi tidak disebut siapa saja profesi yang wajib zakat. Ini hikmahnya sangat besar.

Begini Ustadz, wajib zakat itu mengikuti jenis-jenis zakatnya, plus diikat oleh nishab masing-masing. Meskipun tidak disebut profesi apa saja, kita tahu bahwa yang dimaksud adalah para pemilik harta-benda itu. Ini jauh lebih baik ketimbang Al Qur’aan menyebut masing-masing profesi yang wajib zakat. Sebab di masyarakat banyak orang bekerja di satu tempat, tapi menjalankan bisnis juga. Bisa jadi profesinya sebagai sopir angkot, tapi punya lahan tebu yang luas. Banyak contoh seperti itu. Jadi, siapa saja yang memiliki dzat suatu maal yang telah cukup nishab, tidak peduli apapun profesinya, dia wajib mengeluarkan zakatnya.

Kalau mau jujur, pihak pendukung zakat profesi juga tidak sportif. Untuk masalah nishab zakat disamakan dengan nishab hasil pertanian; tetapi untuk nilai zakat disamakan dengan zakat emas-perak. Artinya ada dua standar disana, standar zakat pertanian dan standar zakat emas. Kok bisa begini ya, padahal dalam Syariat masing-masing memiliki domain sendiri-sendiri.

Kemudian, zakat profesi dikeluarkan setiap bulan, setelah mendapat gaji. Padahal kalau mengikuti standar zakat emas, ia dikeluarkan setelah 1 tahun kemudian (1 haul). Nah, ini kan tidak sportif namanya.

KESIMPULAN

Zakat itu ibadah yang sudah permanen, tidak menerima ijtihad dari pintu manapun. Dengan demikian, zakat profesi adalah sesuatu yang tidak dikenal dalam Islam, sebab di masa Nabi Saw hal itu tidak ada. Dalam kitab-kitab fiqih para ulama mu’tabar juga tidak ada.

Namun keharusan membersihkan harta bagi orang kaya, itu wajib. Bentuknya fleksibel, bisa infak, sedekah, hibah, waqaf, hadiah, dst. Itu wajib sebagai amanah Al Qur’an dan Sunnah. Namun namanya jangan Zakat, sebab zakat itu sudah permanen tidak bisa diutak-atik lagi.

Hikmahnya, nilai infak/sedekah yang dikeluarkan bisa jauh lebih tinggi dari ketentuan zakat biasa, seperti yang terjadi di jaman Nabi dulu. Tetapi bagi pihak tertentu yang memang pas-pasan, atau sedang menghadapi situasi keuangan sulit, dia bisa diringankan dengan mengeluarkan infak kecil, bahkan tidak mengeluarkan sekalipun.

Jadi, soal zakat sudah jelas posisinya. Tetapi untuk dana pembangunan Ummat, ia bisa ditarik dari infak, sedekah, dst. Orang kaya, bahkan orang beriman, wajib membersihkan hartanya, meskipun bentuknya tidak selalu berupa zakat. Ketentuan infak jauh lebih hikmah, fleksibel, dan membantu. Alhamdulillah.

Wallahu a’lam bisshawab.

AMW. 19 September 2008.

NB.: Last edited at night 19 Sept. 2008. I am sorry for bad sentences at before!

Iklan

11 Responses to Kontroversi Hukum “Zakat Profesi”

  1. syauqiridhorobbani berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Terima kasih atas artikelnya, sebelumnya saya pernah membayar zakat profesi, yang saya keluarkan 2,5% dari gaji saya tiap bulannya, karena saya tidak tahu apa sebenarnya zakat profesi itu, hanya sekedar ingin membersihkan harta. Sekarang saya jadi tahu, jadi niatnya saya gati dengan infaq 🙂

    Wassalam.

  2. abisyakir berkata:

    Iya benar. Kalau bicara zakat, itu sudah ada koridornya. Ia Rukun Islam, masalah ibadah, tidak menerima ijtihad di dalamnya. Kecuali dalam hal-hal teknis opreasional untuk memudahkan urusan. Itu lain lagi.

    Tetapi harta kita memang harus dibersihkan, sebab harta dalam Islam dipandang tidak sebagai hasil individu semata, tetapi ada unsur musyarakah (kebersamaan) dengan tangan-tangan lain. Siapa saja tangan-tangan itu, tidak penting untuk dicari secara detail. Tetapi ia harus dihargai dengan membayar “tebusannya”, yaitu mengeluarkan harta kita untuk orang-orang yang tidak mampu.

    Malah hebatnya infak ini. Untuk menyerahkan infak tidak dibatasi oleh “8 asnaf” saja, tetapi untuk siapa pun yang membutuhkan dan penting dibantu. Kita bisa mengeluarkan infak untuk membangun sumur bagi kaum Muslimin, untuk menanam pohon penghijauan, untuk membebaskan tanah kuburan bagi Ummat Islam, untuk menyelamatkan hewan-hewan hampir punah (dengan niatan, memelihara makhluk ciptaan Allah), dan sebagainya.

    Laa jadida fiz zakah…tidak ada yang baru dalam Zakat.

    Wallahu a’lam bisshawaab.

  3. chanan muhammad berkata:

    “Namun keharusan membersihkan harta bagi orang kaya, itu wajib. Bentuknya fleksibel, bisa infak, sedekah, hibah, waqaf, hadiah, dst. Itu wajib sebagai amanah Al Qur’an dan Sunnah. Namun namanya jangan Zakat, sebab zakat itu sudah permanen tidak bisa diutak-atik lagi.”
    PERTANY6AAN:”Apakah yang wajib bisa diganti dengan sunnah? Anda juga nggak masuk akal. Kalau tidak ada ijtihad tentang bagaimana seorang kaya membayar zakat seperti “zakat penghasilan itu” ya orang kaya itu sama dengan belum membayar kewajibannya sabagai rukun Islam yakni Zakat.Kewajiban zakat bukan besarnya nominal. Walaupun infaq sepuluh juta, dan penggunaannya semau kita (baca: fleksibel) tetapi ia terkatagorikan belum mbayar zakat. Anda hanya memahami perintah zakat secara tekstual, tetapi tidak memahami secara konseptual. Justeru dengan uraian di atas, dengan mudahnya anda mau mengganti kewajiban zakat dengan infak atau sedekah, yang diantara keduanya ( antara zakat dengan sedekah ) mempunyai kedudukan yang berfbeda dalam syariah. Anda merasa lebih pandai dengan Allah. Naudzubillahi mindzalik. Adapun zakat penghasilan itu diambil dengan ijtihad, maka siapakah yang akan berani mengharamkan ijtihad, sedangkan rosul saja mengijinkan. Apa anda lebih pandai dari Nabi Muhammad Utusan Allahyang telah mengizinkan Muadz bin Jabal melakukannya??

  4. syuaibbinsholeh berkata:

    Pak ustadz, saya jadi tambah pusing nih ama masalah zakat profesi ini,,. Bukankah kita ambil kesimpulan yang mudah saja nggak usah muter2, g peduli profesinya apa, asal dalam waktu satu tahun harta sisa(simpanan) yang dia miliki dari semua profesi yang dikerjakannya sudah mencapai nishab, maka wajib zakat 2,5 persen, kecuali untuk pertanian dan peternakan yang punya aturan main sendiri yaitu 10 persen. Kalau masih merasa kelebihan harta dan ingin beramal lagi maka silakan berinfaq yang besarnya bisa lebih atau kurang dari 2,5 persen. Kalau dalam waktu setahun itu hartanya belum sampai nishab, maka kalau ingin membersihkan harta cukup dengan niat infaq atau shodaqoh saja, dan besarnya nggak usah 2,5 persen/fleksibel. Kalau dalam masa penantian setahun itu ingin berinfaq untuk membersihkan harta ya silakan, tapi namanya bukan zakat, Karena zakat tidak dipungut setiap bulan tapi tiap tahun/haul.

    Cuma masalahnya, seandainya Daulah Islam sudah tegak, mekanisme pemungutan zakatnya akan lebih sulit, karena zakat itu wajib, maka negara Islam juga wajib memungutnya seperti masa Nabi, petugas amil harus tau harta yang sudah mencapai haul atau belum, dan lain2. Intinya Negara tidak bisa mengandalkan kejujuran para wajib zakat semata. Diperlukan mekanisme yang kuat untuk memaksa pungutan zakat. Wallahu a’lam.

    Wassalamualaikum

  5. […] [o] Kontroversi Hukum “Zakat Profesi”. […]

  6. chanan muhammad berkata:

    Ya begitulah ikhtilaf kita.”Bukankah kita ambil kesimpulan yang mudah saja nggak usah muter2, g peduli profesinya apa, asal dalam waktu satu tahun harta sisa(simpanan) yang dia miliki dari semua profesi yang dikerjakannya sudah mencapai nishab, maka wajib zakat 2,5 persen, kecuali untuk pertanian dan peternakan yang punya aturan main sendiri yaitu 10 persen”
    Tadz, Persoalannya begini: Gaji saya 15 juta per bulan. malah bisa lebih dari itu.Tapi nggak pernah lebih, maksud saya, uang saya selalu habis tiap bulan dan saya nggak pernah bisa nabung.. Jadi saya nggak wajib bayar zakat ya tadz. Ya mobil saya tiga, memang, tapi betul, uang penghasilan saya tiap bulan habis untuk “kebutuhan saya sehari-hari.” Padahal pak tani depan rumah saya, begitu panen langsung membayar zakat 5%. Ya, panennya kira-kira dua belas kwintal gabah lebih sedikit.Jadi sudah cukup nishob.Ya berbahagialah orang-orang kaya yang gajinya selalu habis tiap bulan,yang tidak terkena dosa karena tidak bayar zakat. Memang nasib malang pak tani …..Tapi pak tani menasihati saya dengan arif. “Bersihkan dulu hartamu baru kau mamfaatkan.” Katanya, sebelum gajiku dipotong kebutuhan sehari-hari, bersihkan dulu dengan zakat.” Saya tanya, dari mana Bapak tau hukum itu.Jawabnya.”Itu lebih dekat dengan rasa keadilan.” Saya kaget ternyata Pak Tani ini santrinya DR.Yusuf Qordowi, dosen Al Azhar itu.

  7. abisyakir berkata:

    @ Chanan…

    Tadz, Persoalannya begini: Gaji saya 15 juta per bulan. malah bisa lebih dari itu.Tapi nggak pernah lebih, maksud saya, uang saya selalu habis tiap bulan dan saya nggak pernah bisa nabung.. Jadi saya nggak wajib bayar zakat ya tadz. Ya mobil saya tiga, memang, tapi betul, uang penghasilan saya tiap bulan habis untuk “kebutuhan saya sehari-hari.” Padahal pak tani depan rumah saya, begitu panen langsung membayar zakat 5%. Ya, panennya kira-kira dua belas kwintal gabah lebih sedikit.Jadi sudah cukup nishob.Ya berbahagialah orang-orang kaya yang gajinya selalu habis tiap bulan,yang tidak terkena dosa karena tidak bayar zakat. Memang nasib malang pak tani …..Tapi pak tani menasihati saya dengan arif. “Bersihkan dulu hartamu baru kau mamfaatkan.” Katanya, sebelum gajiku dipotong kebutuhan sehari-hari, bersihkan dulu dengan zakat.” Saya tanya, dari mana Bapak tau hukum itu.Jawabnya.”Itu lebih dekat dengan rasa keadilan.” Saya kaget ternyata Pak Tani ini santrinya DR.Yusuf Qordowi, dosen Al Azhar itu.

    Respon:

    a. Perdebatan soal zakat profesi ini sudah dari dulu. Jauh sebelum saya tulis di blog. Jadi mohon agak “lapang dada”.
    b. Ya, konsep pandangan Dr. Al Qaradhawi terkait soal “Zakat Profesi” memang seperti logika Anda itu. Persis, hanya ia Anda gambarkan dengan diri Anda sendiri secara berlebihan. (Kalau membahas soal Fiqih begini, tidak boleh memakai unsur-unsur DRAMATISASI, sebab kita sedang bicara soal agama).
    c. Meskipun Anda berpenghasilan 15 juta per bulan, itu tetap harus dikeluarkan, apakah dalam bentuk infak, sedekah, atau lainnya. Besarnya bisa 2,5 %, atau 5 %, atau bahkan 10 % kalau Anda termasuk bermurah hati. Jangan seperti kebanyakan orang, mereka baru mau sedekah, kalau “benar-benar diwajibkan”. Padahal, kewajiban membersihkan harta dengan sedekah, infaq, dll. itu sangat jelas. Hanya saja, dalam soal profesi ini jumlah infak/sedekah kita fleksibel. Bisa 2,5 %, bisa lebih dari itu. Bahkan kalau memang ada, bisa 20 % atau 30 %.
    d. Kalau orang punya penghasilan 15 juta, tapi gak bisa nabung, dan gak ada sisanya, itu kebangetan sekali… Orang seperti itu seharusnya PUNYA AKAL untuk mengurus kehidupannya lebih realistik lagi.

    Semoga bermanfaat, amin.

    AMW.

  8. Mas Aqil berkata:

    sak karepe dewe.,.,!!!! mas respon .,,,,.,la mulakno, di bagi iku kabeh ono ukurane kang!!!!! zakat kok terserah..2 ya 5 ya 10,% dan smpek 30 % itu dalilnya dari mana.,.,.,.,hah aha ha.,.,.,., gawe agama sendiri ajah.,.,!!!
    ,

  9. abisyakir berkata:

    @ Mas Aqil…

    Ya benar, kalau Zakat sudah ada ukuran-ukurannya. Tapi kalau shadaqah kan tidak ada ukuran pastinya Pak. Boleh berapa saja yang memungkinkan diberikan. Maksudnya “shadaqah wajib” disini, sedekahnya wajib bagi yang punya harta; tetapi nilainya silakan saja tentukan sendiri sesuai kelapangan hati. Kan begitu kaidah dasar sedekah. Hingga Nabi Saw memberi batasan paling minimal: Wa lau bi syiqqi tamrah (meskipun hanya dengan sekerat kurma kering).

    Admin.

  10. Sugi Yanto berkata:

    profesi itu kan termasuk jasa. sedangkan zakat ada kaitanya dengan barang. masalah zakat dah ada ketentuan dari nabi. mengapa harus mengada ada.

  11. cakra siti atmadja berkata:

    aku sepakat dengan artikel ini..harus sesuai dengan jaman nabi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: