Saat Nabi Berbicara Tentang Indonesia!

September 18, 2008

Sebuah Renungan Pasca Insiden “Antrian Zakat” di Pasuruan.

Tanggal 15 September 2009 kemarin terjadi insiden yang sangat memilukan di depan rumah H. Syaichon di Pasuruan. Sekitar 6000 orang, kebanyakan ibu-ibu rumah-tangga, berdesak-desak untuk memperoleh pembagian uang zakat yang nilainya sekitar Rp. 30.000 sampai Rp. 40.000,-. Pembagian zakat belum berlangsung, tetapi jatuh korban hingga 21 orang meninggal, dan 16 orang luka-luka. (Pikiran Rakyat, 16 September 2009). Kebanyakan yang meninggal akibat kekurangan oksigen dan terluka karena terinjak-injak manusia.

Pasca kejadian ini, seperti biasa media-media massa sangat cekatan dalam mencari “kambing hitam”. Selain menyalahkan polisi, pihak yang dianggap paling bersalah disini adalah keluarga H. Syaichon sendiri. TVOne dalam siaran berita “Kabar Petang” pada hari itu dan diskusi malam, “Apa Kabar Indonesia”, jelas-jelas menyudutkan H. Syachon. Rahma Sarita dari TVOne dan M. Syafei Antonio yang disebut-sebut sebagai pakar ekonomi Syariah terus menyudutkan H. Syaichon. Bahkan Syafei Antonia sampai menunjukkan “7 keburukan” di balik penyaluran zakat secara langsung, ala H. Syaichon itu.

Memang dunia ini semakin aneh. Ketika sebagian besar orang kaya Muslim di Indonesia bersikap koret dan pelit, lalu ada sebagian pihak yang tulus membagikan zakatnya, untuk menolong warga sekitar, malah disalahkan. Padahal semua itu sudah dilakukan sejak tahun 1975 dengan tidak ada insiden; baru di tahun 2008 ini ketika tekanan kemiskinan sudah mencapai titik nazhir, baru ada insiden. Menyalahkan orang yang berbuat baik dengan tidak mampu memberi solusi kongkret adalah “madzhab agung” yang selama ini paling laku di Indonesia.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sebuah Kesalahan Sangat Mengganggu

September 9, 2008

Dalam tradisi Islami kita diajarkan, kalau mau menyampaikan suatu pembicaraan di depan majlis, di depan hadirin atau forum, terlebih dulu membaca kalimat Iftitah (pembukaan) yang isinya berupa tahmid dan shalawat. Bahkan dalam penulisan buku, artikel, atau surat, kalimat pembukaan seperti itu juga sering digunakan. Selain tujuannya mengikuti Sunnah Nabi, juga mengharapkan barakah dalam pembicaraan atau pertemuan yang diadakan. Alhamdulillah, majlis yang dimulai dengan kalimat-kalimat yang baik jarang sekali berakhir dengan kekeruhan, pertikaian, atau pertengkaran.

Kita tentu bersyukur ketika banyak orang mencoba menghidupkan tradisi mengucapkan kalimat pembukaan Islami ini. Para dai, muballigh, penceramah, guru, hingga para MC, sering memulai majlis dengan membaca kalimat hamdalah dan shalawat. Bahkan orang-orang yang ‘nyari sumbangan’ di bis-bis juga sering menggunakan kalimat yang sama.

Tapi disini ada sebuah kekeliruan yang sangat mengganggu. Sebenarnya, kita menghargai kesungguhan mereka untuk mengucapkan kalimat Iftitah Islami, tetapi ketika terjadi kesalahan yang berulang-ulang, kita merasa risih juga. Nah, dalam tulisan sederhana ini, semoga bisa menjadi koreksi bermanfaat. Amin.

Sebagian orang sering memulai pembicaraannya dengan kalimat berikut:

Innal hamda lillah, wa bihi nasta’inuhu ‘ala umurid dunya wad din, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalimat di atas kelihatan benar, padahal tidak. Kalau diterjemahkan kurang lebih artinya sebagai berikut: “Sesungguhnya pujian adalah untuk Allah, kepada-Nya kami memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama (ad din), dan bagi keluarganya dan shahabatnya semua. Adapun sesudah itu.”

Anda perhatikan letak kesalahannya?

Ya benar, setelah memohon pertolongan kepada Allah dalam urusan dunia dan agama, tiba-tiba muncul kalimat, “wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du” (dan bagi keluarga dan para Shahabatnya semua. Adapun sesudah itu).

Letak kesalahan:

(1) Kalimat tersebut terputus di tengah jalan, sehingga tidak enak didengar dan dipahami. Tiba-tiba saja muncul “wa ‘ala alihi wa shahbihi aj’main”.
(2) Kalau kita memaksakan untuk memahami kalimat tersebut, ia bisa bermakna syirik, sebab kata “hi” dalam kalimat di atas kembalinya kepada Allah. Sedangkan Allah tidak memiliki keluarga dan Shahabat, Dia Maha Satu.

Setidaknya, kalimat di atas tidak enak didengar, maknanya terputus di tengah jalan. Menurut kaidah Bahasa Arab, kalimat demikian bukan termasuk kalimat bahasa Arab yang fasih (benar susunan dan sempurna artinya).

Sebenarnya, kita tahu bahwa disana ada kalimat shalawat yang tidak diucapkan. Hilangnya kalimat shalawat itu membuat urusan menjadi tidak enak. Seharusnya, secara lengkap kalimat itu bunyinya sebagai berikut:

Innal hamda lillah, wa bihi nasta’inuhu ‘ala umurid dunya wad din, was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Jadi disana ada kalimat “was shalatu was salamu ‘ala Muhammadin” (dan shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad) yang tidak terucapkan, sehingga akibatnya sangat tidak mengenakkan.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Kemungkinan besar, karena kata ad din sangat mirip bunyi akhirnya dengan kata Muhammadin, sehingga para penceramah atau MC tidak memperhatikan hal itu secara seksama. Singkat kata, mereka mengucapkan kalimat Iftitah lebih karena hafalan atau ikut-ikutan. Wallahu a’lam.

Anda jangan merasa heran, kekeliruan seperti ini bukan hanya terjadi pada MC-MC yang baru latihan, tetapi juga bisa terjadi pada ustadz-ustadz, khatib Jum’at, atau penceramah di forum-forum penting. Semoga koreksi ini bisa menjadi pelajaran dan manfaat. Amin. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Bandung, 8 September 2008. [ A.M.W ].


Tafsir Tematik ‘Ayat Shaum’

September 9, 2008

Alhamdulillah, kita telah diberi anugerah oleh Allah untuk merasakan, menyaksikan, dan menjalankan Shiyam Ramadhan sejak masih kecil. Hanya karena karunia Allah belaka, semua ini bisa terjadi. Alhamdulillah.

Tentu Anda sekalian telah sangat hafal dan sangat sering mendengar sebuah ayat dalam Surat Al Baqarah yang berisi tentang perintah menjalankan Shiyam Ramadhan. Ayat itu adalah:

Ya aiyuhal ladzina amanu kutiba ‘alaikumus shiyamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum la’allakum tattaquun.

(Terjemah: “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” Surat Al Baqarah: 183).

Ayat di atas adalah primadonanya majlis Ramadhan. Hampir setiap khutbah, ceramah, pelajaran, tulisan, nasehat, taujih, atau apapun yang berkaitan dengan Shiyam Ramadhan, selalu mengangkat ayat di atas. Dan hal ini menjadi salah satu syi’ar besar bagi bulan Ramadhan dan kewajiban Shiyam di dalamnya. Begitu seringnya kita mendengar ayat di atas, sehingga atas ijin Allah, kita hafal ayat itu, meskipun tidak ada kesengajaan untuk menghafalkannya.

Namun yang saya perhatikan, jarang ada yang mau menjelaskan ayat tersebut secara terperinci. Rata-rata hanya dibacakan ayatnya, dikembangkan tafsirnya, atau diberi sedikit-sedikit catatan. Padahal dari apa yang saya pahami, ayat di atas sangat potensial untuk dijelaskan secara terperinci, dan buah penjelasan itu insya Allah sangat bermanfaat bagi Ummat.

Ketika membaca Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Taisir Karimir Rahmaan As Sa’diy, ternyata di kedua rujukan tafsir itu juga tidak ada penjelasan secara terperinci. Dalam Tafsir As Sa’diy malah dianggap sudah jelas, sehingga tidak perlu ditafsirkan lagi. Mungkin, dalam Tafsir Ibnu Jarir At Thabari penjelasan terperinci itu ada. Atau mungkin dalam Al Kasyaf karya Az Zamakhsyari yang terkenal dari sisi gramatika Bahasa Arabnya, penjelasan terperinci itu ada. (Az Zamakhsyari dikenal sebagai ulama tafsir yang ahli gramatika Arab, tetapi berpaham Mu’tazilah/rasionalis). Namun untuk saat ini saya belum bisa mengakses kedua tafsir tersebut.

Ada rasa penasaran yang kuat jika tidak menyampaikan hal ini. Selain karena kandungan ayat tersebut sangat agung, ia sangat sering dibahas di berbagai majlis Ramadhan. Sayang sekali, jika sesuatu yang begitu sering dibahas tidak dijelaskan lebih lengkap. Meskipun tentu, apa yang ditulis ini sifatnya pendapat juga; bisa benar, bisa juga salah. Saran, kritik, dan masukan, tentu sangat dihargai.

Setidaknya, semoga tulisan ini bisa menjadi dorongan kepada para ahli tafsir di Indonesia untuk menyampaikan kajian terperinci terhadap ayat yang menjadi primadona bulan Ramadhan tersebut.

Disini kita akan membahas Surat Al Baqarah 183 secara terperinci, yaitu membahas kata per kata, atau frasa per frasa. Penjelasan didasarkan atas ayat-ayat Al Qur’an, kaidah bahasa Arab, dan riwayat-riwayat tertentu.

Baca entri selengkapnya »


Islam Radikal Mau Kemana?

September 5, 2008

Seputar Today’s Dialogue MetroTV 2 September 2008.

Tanggal 2 September 2008 lalu, sekitar pukul 22.00 WIB, acara Today’s Dialogue di MetroTV mengangkat sebuah topik diskusi menarik, “Islam Radikal Mau Kemana?” Seperti biasa, acara dipandu oleh Meutia Hafizh. Dialog ini menghadirkan Nasir Abbas, orang Malaysia yang disebut-sebut sebagai mantan anggota Jamaah Islamiyyah (JI); Ustadz Ja’far Umar Thalib, mantan Panglima Laskar Jihad (LJ); dan Abdul Moqsith Ghazali, salah seorang aktivis JIL (Jaringan Insan Liberal). Dalam dialog itu juga sempat ditayangkan pernyataan singkat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tentang alasan beliau keluar dari MMI dan membentuk organisasi baru.

Semula pihak MetroTV ingin menghadirkan juga wakil dari Majlis Mujahidin (MMI) dan Forum Ummat Islam (FUI), hanya sayangnya mereka tidak berkenan hadir. Begitu yang dikatakan beberapa kali oleh Meutia Hafizh. Ketidak-hadiran pihak Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, MMI, dan FUI menjadi tanda-tanya tersendiri. Jika dialog itu diadakan untuk merespon perselisihan di tubuh MMI, sejak keluarnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dari MMI, sangat disayangkan jika pihak-pihak yang menjadi “aktor utama” justru tidak hadir. Baik Ja’far Umar, Nashir Abbas, atau Abdul Moqsith Ghazali sejujurnya tidak berkaitan langsung dengan persoalan ini. Mereka adalah orang luar, sekedar pembanding atau komentator saja.

Secara umum, isi dialog di atas cukup menarik. Menurut saya, wallahu a’lam bisshawaab, ada hal-hal yang benar yang bisa diambil, tetapi juga banyak pemikiran-pemikiran keliru yang berhamburan disana. Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengkritisi beberapa pemikiran yang –menurut saya- perlu diluruskan. Semoga Allah Ta’ala menolong kita semua untuk menunaikan apa yang diridhai-Nya. Amin.

Ketidak-hadiran MMI dan FUI

Mohon maaf sebelumnya kepada para Masyaikh atau Asatidzah dari MMI dan FUI. Bukan bermaksud mengkritik atau apalah, tetapi kita sama-sama berbagi, saling nasehat-menasehati di atas kebenaran dan kesabaran.

Ketidak-hadiran MMI dan FUI seperti yang berkali-kali dikatakan oleh Meutia Hafizh menjadi persoalan yang sangat mengganggu. Bukan karena kita sok ingin gagah-gagahan tampil dalam debat terbuka di TV, tetapi ketidak-hadiran wakil MMI dan FUI disana menjadi pertanyaan besar bagi pemirsa Today’s Dialogue. Dan tentu menjadi pertanyaan juga bagi para aktivis dakwah Islam.

Setidaknya, ada tiga poin persoalan yang perlu dipikirkan. Satu, dengan kehadiran wakil MMI dan FUI, hal itu bisa mengklarifikasi berbagai pertanyaan dan isu-isu yang muncul di tengah Ummat Islam, khususnya di kalangan aktivis dakwah. Dua, kehadiran Ustadz atau Syaikh disana bisa meluruskan pandangan-pandangan keliru yang muncul dalam dialog tersebut. Tiga, kehadiran wakil MMI dan FUI akan menjadi bukti bahwa keduanya sangat sungguh-sungguh dalam menyampaikan bayan dan nasehat kepada Ummat tentang pentingnya penegakan Syariat Islam di Indonesia. Dengan wasilah apapun, selama itu halal dan bermanfaat bagi kemajuan penegakan Syariat Islam, hal itu perlu ditempuh.

Kita semua yakin bahwa MMI atau FUI memiliki alasan kuat atas ketidak-hadirannya. Tentu yang bisa kita lakukan disini adalah husnuzhan, berbaik sangka. Hanya saja, kita tidak bisa memaksa bahwa semua pihak akan berbaik sangka juga. Apalagi dalam dialog itu ternyata juga muncul berbagai pemikiran-pemikiran keliru baik dari Nasir Abbas, Ja’far Umar, dan Abdul Moqsith.

Semoga kasus ini menjadi renungan untuk perbaikan di masa nanti. Semoga Allah menolong hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam Syari’at Islam dan upaya-upaya penegakannya. Allahumma amin.

Baca entri selengkapnya »