Kecepatan 200 km/…

Ada banyak hal yang lucu dengan “acara” kebut-kebutan motor di jalan.

Secara teori, saya tidak suka dengan kebut-kebutan, bahkan merasa takut ngebut. Alasannya sederhana, memacu motor dengan kecepatan 40 km/jam, hal itu sudah cukup menjadi sebab kecelakaan fatal. Kalau seseorang dengan kecepatan itu membentur tembok, pohon, truk, batu besar, dan lainnya, dia bisa meninggal. Minimal bisa mengalami luka berat. Padahal itu baru 40 km/jam. Bagaimana kalau 80 km/jam, 100 km/jam, apalagi sampai 120 km/jam?

Saya mengira, orang-orang yang suka ngebut itu telah menunjukkan rahasia pribadinya. Mereka orang gelisah, orang stress, bahkan orang frustasi. Logikanya, kalau mereka normal, pasti akan menyayangi hidupnya sendiri. Sedangkan ngebut itu bisa dianggap sebagai = menantang maut! Terus terang, saya tidak simpati dengan para pengebut. Mereka lebih kelihatan sebagai manusia gelisah!

Anak-anak kami sangat sensitif kalau melihat orang-orang ngebut, apalagi dengan memakai kenalpot sangat melengking. Mereka bisa dianggap brutal, tidak berpikir sehat, arogan, sampai ada ungkapan, “Mereka tidak memiliki telinga.” Sampai kami sering berseloroh, ketika melihat anak-anak muda yang ngebut dengan knalpot melengking, “Oh, dia ketinggalan telinganya di rumah.” Kita saja yang mendengar sangat pekak, apalagi dia sepanjang jalan ditemani suara memekakkan itu.

Pernah, saya dibonceng seorang teman di Yogya. Dia membonceng saya melaju di jalan Ringroad Yogyakarta yang panjang melingkar itu. Dia sejak awal mengingatkan supaya saya memakai jaket, jangan memakai baju biasa. Selama di jalan, wah kencang sekali laju motor teman ini. Mungkin kecepatan rata-ratanya 80 km/jam. Kalau melihat kehandalan dan keberaniannya dalam mengebut, setidaknya dia dua tingkat di bawah Valentino Rossi, jagoan MotoGP itu. (He he he…sok tahu). Pokoknya dia sangat kencang, sampai mata melihat ke depan saja berat oleh tiupan angin. Trus terang, kalau nanti dibonceng seperti itu, saya akan memilih turun.

Saya sering mengantar anak-anak berangkat sekolah. Kadang harus terlambat-terlambat. Saat seperti itu mereka sering mengeluh, “Kenapa sih lambat? Agak cepat dikit dong!” Tapi saya punya jawaban yang bagus atas keluhan semacam itu. Saya sering katakan, “Sekarang kita memilih yang mana, terlambat 10 atau 15 menit, atau kita masuk rumah sakit selama sebulan?” Kalau ditanya balik begitu, biasanya mereka akan diam, dan memilih jalan normal, asal selamat.

Masih di Yogya, dengan teman lain lagi. Sama juga masih di seputar Ringroad. Waktu itu saya sering dibonceng seorang ikhwan. Sama, ini jagoan ngebut juga. Cepat sekali laju motornya. Kalau dengan ikhwan di atas, hanya sekali itu kencang sekali, tetapi dengan ikhwan ini, sering beliau ngebut. Sampai pernah dia ditegur ikhwan lain karena tidak hati-hati naik motor. Saya pernah mengingatkan dia sambil menyindir, “Wah, ini pembalap Ahlus Sunnah!” Dia hanya tertawa mendengar sindiran seperti itu. Jujur lho, dalam kitab-kitab ulama tidak dibahas tentang “keutamaan ngebut” di jalan.

Lho, mana humornya? Kok masih garing…

(Ya, sabar napa. Sabar dikit, ntar juga keluar. Kalau “energi sudah maksimal”, tetapi belum terasa humornya. Wah, mungkin aku nih belum bakat gabung sama Abdel dan Temon. He he he…).

Di Bandung saya pernah beberapa kali menemukan sticker “pesan moral”, agar para pengemudi motor/mobil jangan suka ngebut. Kira-kira tulisan dalam sticker itu begini: “Kalau memang tidak lagi kebelet mau ke WC, mengapa harus ngebut?” Saya kira bagus nih sticker dimasyarakatkan. Bisa juga ditambahkan, misal dengan ungkapan: Ngebut di jalan ? Maklum aja, lagi kebelet! Ya begitulah…

Dan ada sindiran halus yang sungguh santun tapi mengena. Di beberapa mobil terpasang sticker agak besar, tulisannya menarik. Kira-kira begini: Speed 200 km/…

Kalau orang keranjingan ngebut, titik-titik itu akan diisi dengan kata hour (jam). Tetapi tidak, disana ditulis week (minggu). Jadi kecepatan 200 km per minggu. Dengan kecepatan begini, berarti kendaraan itu memang lelet amat, malahan mungkin terlalu sering berhenti. Ya, itu untuk nyindir para ngebuter mania, yang kurang sayang sama dirinya sendiri itu.

Tapi ngomong-ngomong, apa saya pernah ngebut? Pernah sih, sekali sekali saja. Kecepatan maksimal sekitar 80 km/jam. Itu pun di jalan layang yang memang tidak boleh pelan, kecepatan standar 60 km/jam. Berarti, pernah ngebut juga kan? Iya sih, pernah memang, sekedar untuk merasakan gimana rasanya sensasi para pengebut itu. Maklum, untuk “bahan dakwah”. (He he he…cari pembenaran ya!).

Ngoeeeeennng….ngoeeennng…..huuuuuuugggg……. gubraks, crash, klontang-klontang, seeer, hiu-hiu-hiu, dem…. glethak.

Ambulan pun datang, sirine memekakkan telinga. Esok hari berita di koran, “Telah meninggal dunia dengan tidak tenang, seorang pembalap amatir, yang sedang kebelet ke WC…”

Jangan ngebut ya…

Iklan

6 Responses to Kecepatan 200 km/…

  1. Rafie berkata:

    Sama dulu ane pernah ngebut- ngabutan. Bahkan satu saat perna kecepatannya sampai “tak terhingga”, tepatnya saat saya TERMENUNG sebentar menyaksikan balapan falentino fafie di trans 7…heheheee..gak lucu yaa..ya udah saya aja yg tertawa…hueheheheee..
    btw jangan ngebut-ngebutan ya akhi..apalagi antum baru mau menikah.

  2. Ibn berkata:

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ikut senyum ni ustadz,

    Menurut ana yang sensitif itu bukan cuma telinga anak-anak ustadz. Ana juga sangat sensitif dan banyak keselnya kalo denger knalpot butut yang memekakkan telinga.

    Kalo selorohan antum “Oh, dia ketinggalan telinganya di rumah.”

    Selorohan ana, “OH, KUPINGNYA KESUMPEL GEROBAK KALI YA?? :ROLL: “

    Mengenai kecepatan berkendara, rata-rata ana 60 km/jam. Itu standard kok, apa lagi untuk jalan MH Thamrin. Kecuali kalo lagi macet. Tapi kalo hari sabtu/minggu bisa 90 km/jam, itu juga kalo lagi nggak sadar šŸ˜† Pas udah sadar, cepet-cepet langsung kebayang “GDUBRAK!! BRAK!! NGIIK!!” Jadi buru-buru ngurangin kecepatan ke 60 km/ jam aja. Sekalipun menurut ustadz itu cepat, alhamdulillah, ana menghindari kutukan orang lantaran bunyi knalpotnya “NYARIS TAK TERDENGAR” maklum tune up rutin tiap 2 bulan sekali.

    By the way, salam kenal dari ana. Afwan baru tau ustadz punya blog, dan itupun link-an dari Swaramuslim yang kutip article antum.

    Ijin ngelink ya… šŸ˜†

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  3. abisyakir berkata:

    @ Rafie.

    Syukran sudah berkunjung kesini. Silakan dinikmati saja, tapi maaf “menu” yang ada hanya “air putih”. Kalau mau “seru” silakan bawa bekal dari rumah. He he he…

    Jadi ingat Aa Gym kalau ngadakan acara bersama dihadiri ribuan orang. Untuk “menghemat konsumsi” solusinya setiap jamaah bawa bekal makan sendiri-sendiri. Alasannya cukup “elok”, yaitu: “Tolong, kita jangan menjadi beban bagi orang lain.”

    Ini ide menarik bagi setiap panitia yang kehabisan anggaran untuk konsumsi. Serukan saja, “Mari kita mandiri. Jangan jadi beban orang lain (maksudnya, jangan minta konsumsi sama panitia…he he he).”

    Salam kenal dan rahmat selalu buat Anda. Amin.

    – AMW –

  4. abisyakir berkata:

    @ Akhi Ibnu…

    Syukran Antum sudah berkunjung. Silakan dinikmati. Kalau ada salah-salah kata, jangan segan berbagi nasehat atau berbalas pantun (itu kata orang tua; asal jangan kelewatan sepeerti Lenong Bocah…he he he).

    Oh ya, ada ide kreatif. Kalau Antum ingin selalu sadar saat melaju di MH. Thamrin, itu silakan ikat tongkat kayu di stang motor, lalu letakkan sebuah papan pengumuman dari plastik di ujung kayu itu, misal bunyinya: speed max 60 km/hour. Dijamin akan selalu ingat…he he he. Tapi jadi norak ya… Maklum ide dadakan, tidak melalui analisis SWOT dulu.

    Ya salam berjuang dan berusaha di jalan kebajikan. Semoga Ar Rahmaan merahmati kita semua. Amin ya Karim.

    – AMW –

  5. cid berkata:

    cuman buat share aja… sebenernya mau pelan atau kenceng… yang penting hati2… hormati pengguna jalan yang lain… gunakan safety yang memadai.. helm sarung tangan dan sepatu… dan jangan ngantuk atau ngelamun saat berkendara… utamakan penyeberang jalan…jangan buta warna saat di lampu merah… dan yang paling utama jangan lupa berDoa… gimanapun jalan kita pelan atau kenceng tanpa berDoa tak ada yang menjamin…

    keep safety riding….
    helm dan perlengkapan lain tak dapat menyelamatkan, hanya kesabaran, berhati-hati dan berdoa yang bisa menyelamatkan..

  6. abisyakir berkata:

    @ Cid

    Setuju Mas, tanpa berdoa, sehati-hati apapun, bisa celaka. Itu sudah saya alami berkali-kali selama mengendarai motor.

    Doa naik kendaraan:

    Sub-ha-nal-la-dzi sakh-kho-ro la-naa ha-dza
    Wa maa kun-na la-hu muq-rii-na
    Wa in-naa i-laa Rob-bi-na la mun-qo-li-buun
    .

    [Maha Suci (Allah) yang menjinakkan bagi kami (kendaraan) ini.
    Dan kami sebelum ini tidak mampu mengendalikannya.
    Dan kepada Rabb kami, kami benar-benar akan kembali].

    Terimakasih.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: