Seorang Teman di SMA

Saya sekolah di SMA 3 Malang. Ini SMA paling favorit di Malang. Wah, cerita tentang hal itu mungkin akan berkepanjangan. Pendeka kata, setiap anak SMP memiliki obsesi masuk sekolah ini. Berkali-kali sekolah ini mendapat penghargaan sekolah teladan tingkat nasional.

Tapi, namanya juga sekolah favorit, itu gaya borju-nya masya Allah deh. Borju banget. Kebetulan saya dan sebagian teman termasuk yang “tidak masuk kalkulasi” borjuisme. Tidak dipandang lah dari sisi materi, style, dan segala pernik-perniknya. Alhamdulillah, kami waktu itu secara mandiri membentuk benteng oposisi budaya. (Walah, apa lagi ini?). Maksudnya, kami bersama sebagian teman tidak mau terseret ke arus borjuisme itu. Disini, waktu itu masih kelas I, kami punya dua teman baik anak Katholik. Namanya Bayu dan Taufik. Bayu sudah Katholik sejak awal, tetapi Taufik dia Katholik karena pindah agama dari Islam. Konon, Bayu juga punya kakek yang Muslim.

Kami dulu sering kumpul-kumpul, ngobrol-ngobrol, sambil bercanda. Seingat saya, meskipun sama-sama Katholik, Bayu sering menjadikan Taufik sebagai bahan olok-olok di tengah kumpulan. Sebenarnya saya cukup dekat dengan Taufik dan sering bicara heart to heart, tapi bagaimanapun memang ada kendala psikologis dengan beliau ini. Tetapi seingat saya, dari teman-teman di kelas I, dia itu sangat dekat dengan saya, meskipun Katholik. Ketika kelas II, dia sudah berpisah kelas. Saya di Biologi, dia di Sosial.

Sebuah kenangan manis. Waktu itu saya, Lukman, Bayu, dan lain-lain sedang ngumpul. Kami biasa ngobrol-ngobrol sambil berbagi humor. Ya tertawa-tawa seperti layaknya anak remaja kelas I SMA. Kami tidak keberatan menedengar seseorang yang akan menceritakan suatu humor tertentu. Ya, silakan saja ceritakan, kalau lucu, ya kita tertawa. Pokoknya, mirip suasanya “gak ada loe gak rame” itulah. (Konon katanya, ide iklan ini dibuat dengan melihat kebiasaan anak-anak muda kumpul-kumpul ngobrol. Tapi alhamdulillah, dalam obrolan kami tidak pernah masuk candaan cabul, ngrokok, apalagi minuman keras).

Waktu itu, saat lagi ngumpul, Taufik bermaksud menceritakan sebuah cerita humor. Ya, kami terima dengan senang hati. Kami persilakan dia cerita, mungkin ada sesuatu yang lucu. Taufik mulai cerita, kami diam mendengarkan baik-baik. Sampai akhir cerita, dia tertawa dengan ceritanya sendiri. Sementara kami diam saja, sebab merasa dalam cerita itu tidak ada yang lucu. Kami diam saja, sebab memang apa yang mau ditertawakan? Kalau memang tidak lucu, masak mau tertawa?

Sampai beberapa saat kami tetap diam, cengar-cengir sudah diusahakan, tapi tetap saja merasa tidak lucu. Nyaris hanya Taufik saja yang tertawa menertawakan humornya sendiri. Justru, kata-kata Taufik kemudian yang membuat kami pecah dalam tawa berderai-derai.

Ketika lagi diam, tidak bisa berkomentar apa-apa. Taufik kelihatan bingung, sebab humornya tidak sukses. Suasananya rasanya senyap sesaat. Dalam keadaan seperti itu, dengan memelas Taufik berkata, “Lho, kok tidak ada yang tertawa?”

Seketika kami tertawa justru karena perkataan dia itu. Dia telah berjuang membuat kami gembira, tetapi gagal. Dalam kemelasannya, dia memohon supaya kami tertawa. Nah, inilah yang membuat kami tertawa berderai-derai. Alhamdulillah, sudah dibahagiakan oleh Allah.

Taufik ini orang baik, dia tulus. Pernah saya bertanya kepada dia, “Mengapa kamu tidak masuk Islam lagi?” Dengan jujur dia berkata, “Kalau saya masuk Islam lagi, akan ditaruh dimana muka saya? Masak keluar-masuk agama begitu mudahnya?” Saya tidak bisa berkata apa-apa. Secara materi, sampai lulus kuliah dia juga masih bergantung ke beasiswa dari gereja.

Ya Allah, seandainya doa ini berharga, seandainya perjuangan ini ada nilainya di hadapan-Mu, ajaklah teman lama kami itu masuk ke dalam Islam. Mudahkan langkahnya, selesaikan masalah-masalahnya, lempangkan jalan baginya untuk masuk Islam. Saya ingin suatu ketika nanti akan bertemu dia, memeluknya sebagai seorang saudara Muslim. Ya Rabbi, kabulkanlah permohonan ini, dia orang baik, dia layak menjadi Muslim, berbakti kepada-Mu dengan setulus hati. Allahumma amin ya Rahmaan.

Wa shallallah wa sallim ‘alan Nabiy Muhammad wa alihi wa shahbihi ajma’in. Amin.

Iklan

2 Responses to Seorang Teman di SMA

  1. Ibn berkata:

    Assalamu’alaikum,

    Untuk melepas kepenatan dengan tekanan pekerjaan di kantor akhir-akhir ini saya jadi sering ngelongok blog ustadz, dan sepertinya article dengan categori “Senyum Dulu” sangat membantu.

    Mengenai cerita di atas, sebenarnya hampir mirip-mirip ana. Ana suka membuat kelucuan, sering kali garing banget, bukannya temen-temen tertawa, malah pada gunain jari telunjuk dan letakin menyilang di jidat mereka (ngertikan maksud ana? 🙄 😆 )

    Seringkali ceritanya memang lucu, tapi baru cerita, justru ana sendiri yang nggak tahan dengan cerita ana. Ceritanya belom, ketawa cekikikannya sudah duluan. Yang ada, temen-temen kantor cuma mesam-mesem sambil sunggingin senyum ‘aneh’.

    Kasian ya… :mrgreen:

  2. abisyakir berkata:

    Wa’alaikumsalam Warahmatullah.

    Syukran Akhi wa jazakallah khair.

    Iya nih, ana belum mahir disini, jadi masih trial and error. Maunya ingin berbagi bahagia lebih banyak, tapi masih terkendala soal teknis.

    Masih lumayan Antum bisa berhumor dan tertawa, ketimbang mereka yang “tertawa dan marah” tak ada bedanya. He he he…ada gak yang kayak gitu? Kayaknya gak ada ya yang ketawa + marah, tapi dengan penampilan sama.

    Alhamdulillah untuk melepas penat. Hei, Antum kerja di “kantor” mana? Ini cuma info saja, sebab ana lihat Antum telaten juga kerja sambil jagain blog yang lumayan padat dan warna-warni infonya. Sesekali sharing ilmunya ya.

    Jazakallah khair.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: