Pengamen di Bus Cirebon

Kemarin saya pulang kampung dengan angkutan Idul Fithri kelas ekonomi. Ya Allah, betapa butuhnya kesabaran saat masuk dalam pusaran angkutan “Lebaran” ini, baik ketika ke Jawa Timur, maupun ketika kembali ke Jawa Barat.

Saat kembali ke Bandung, saya pakai KA ekonomi tujuan Jakarta, turun di Cirebon. Dari Cirebon ke Bandung naik bis ekonomi juga, ongkos 25 ribu rupiah (sekilas info nih…).

Sejak dari Cirebon sampai Palimanan, banyak pengamen masuk bus. Kalau tidak salah ada 6-7 gelombang pengamen masuk. Uniknya sebagian besar pengamen itu cuma “jualan orasi”, tidak bernyanyi atau main musik. Mereka berorasi dengan gaya anak-anak aktivis Sosialis, kekiri-kirian. Padahal dari paras dan penampilan, mereka tampak bisa “ngurus diri” (pinjam istilah kaum wanita). Mereka tidak tampak kumal, tidak “burket”, khas aktivis Sosialis. Sayangnya, mereka agak meneror perasaan penumpang bis. Kalau tidak diberi recehan, mereka agak marah-marah.

Ketika mulai masuk wilayah Kab. Sumedang, muncul lagi pengamen-pengamen. Ada beberapa orang pengamen, masuk bergantian. Belum dihitung para asongan penjual aqua, tisue, makanan kecil, permen, buah-buahan, dan tukang “tahu Sumedang”. Wih, banyak benar orang-orang itu. Bahkan dalam satu waktu masuk 3 orang penjual “tahu Sumedang” sekaligus. Promosinya macem-macem, ada yang bilang “tahu murah pake cabe”, ada yang bilang “tahu garing masih panas”, ada juga yang bilang “tahu gede-gede”. Untung tidak ada yang bilang “tahu asli plus formalin, melamin, dan alkohol 70 %”.

Disana ada dua orang pengamen yang unik. Dia masuk setelah pengamen “mbah dukun” keluar. Keduanya pemuda, salah satunya pakai kopiah haji putih. Mereka menyanyikan lagu-lagu “religi” dengan bahasa Arab, lalu bahasa Indonesia. Sepertinya yang pakai kopiah itu jebolan pesantren. Suaranya lebih fasih, panjang, dan agak melengking. Biasanya orang pesantren diajari olah vokal (qira’ah) juga.

Dua pengamen ini unik. Dia menyanyi dengan lagu-lagu bahasa Arab. Tetapi saat mengucapkan kalimat tertentu mereka salah, sehingga jadi lucu mendengarnya. Tetapi karena mungkin sebagian besar penumpang tidak peduli bahasa Arab, mereka tidak menyadari kesalahan itu. Bagi siapapun yang tahu, pasti akan tersenyum geli mendengarnya.

Selama ini, dalam doa kita mengenal doa untuk diri sendiri (aku) dan doa untuk banyak orang (kami). Doa seperti Rabbigh-firli warhamni wahdini wa ‘afini wa’fu ‘anni itu sifatnya pribadi. Artinya, “Ya Rabbi ampuni aku, kasihi aku, tunjuki aki, sehatkan aku, dan maafkan aku). Maka para ustadz menyarankan, doa itu kalau dibaca di depan orang banyak diubah menjadi: Rabbanagh-firlana warhamna wahdina wa ‘afina wa’fu ‘anna (artinya, “Ya Rabb kami, ampuni kami, kasihi kami, tunjuki kami, sehatkan kami, maafkan kami). Semua yang semula “aku” menjadi “kami”, dengan mengubah bunyi ni menjadi na.

Begitu pula dalam doa, Rabbighdfirli wa li walidaiya warhamhuma kama rabbayani shaghira. Kalau dibaca untuk banyak orang menjadi, Rabbanaghfirlana wa li walidaina warhamhum kama rabbayana shighara. Artinya, “Ya Rabb kami, ampuni kami dan kedua ibu bapak kami, dan kasihi mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sewaktu kecil.”

Pokoknya, doa yang semula untuk pribadi diluaskan agar bermanfaat bagi orang banyak. Dan hal itu merupakan kebajikan, kecuali untuk doa-doa tertentu yang memang dicontohkan oleh Nabi tetap dibaca untuk kebaikan pribadi. Nah, kalau orang sudah sadar dengan kenyataan seperti ini, ia menunjukkan suatu kebajikan, alhamdulillah.

Lalu bagaimana dengan dua pengamen di bis Cirebon itu?

Nah, ini dia. Mereka menyanyikan lagu-lagu berbahasa Arab. Mereka sudah bagus karena sadar bahwa doa untuk pribadi saat tertentu perlu diluaskan bagi kebaikan orang banyak. Dari sisi ini sudah bagus. Namun ketika mereka keliru dalam mengubah bunyi ni menjadi na, akibatnya justru lucu.

Dalam lagunya itu, pengamen Cirebon tersebut membaca sebuah kalimat yang bunyinya begini: Bi barakati Syaikh Abdul Qadir Jailani (dengan barakah Syaikh Abdul Qadir Jailani). Ini kalimat khas kaum tradisionalis Nahdhiyyin.

Entah bagaimana mulanya, mereka baca kalimat itu dengan ucapan: Bi barakati Syaikh Abdul Qadir JAILANA. Berulang-kali mereka mengucapkan “Jailana” bukan “Jailani”. Iya sih, memang doa yang ni itu bagus diganti menjadi na, tetapi Jailani nama orang. Kalau nama orang jelas tidak bisa diubah-ubah. Suara mereka tinggi, agak melengking, tetapi tetap saja mengucap Jailana. Saya sesekali berharap mereka salah ucap, sehingga menjadi Jailani. Tetapi tidak, mereka konsisten dengan: J-A-I-L-A-N-A.

Untung para penumpang lagi disibukkan oleh tukang “tahu Sumedang”, atau oleh penumpang baru yang terus naik sehingga di atas bis semakin berjubel. Jadi, tidak sampai “ngeh”. Tapi sungguh, saya risih sekali mendengarnya. “Jailani Mas, bukan Jailana,” kata saya dalam hati.

Tidak setiap akhiran ni harus diubah menjadi na. Nanti kita bisa dimarahi orang-orang. Misal yang namanya Ramadhani diubah jadi Ramadhana; Hamdani menjadi Hamdana; Burhani menjadi Burhana; atau misal Dona Doni menjadi Dona Dona. Yo wis lah, ini hanya selingan saja. Jangan dianggap serius. But it’s from true experience.

Salam hormat dan rahmat dari saudaramu!

Iklan

2 Responses to Pengamen di Bus Cirebon

  1. mulachelaa berkata:

    ehmmm kritis banget yaaa tapi klo lain kali ada saudara sesama muslim yg salah dikasih tau klo didlm hati aja sih lumayan tapi lebih baik lagikan langsung ditegur atau gimana suasana/ keadaannya ehhhh uya ada baiknya juga lhoo klo mengingat hadis rosululloh siapa yg menutupi aib saudaranya maka akan Alloh tutupi aib orang itu kelak dihari kiamat he3 kurang lebih gitu intinya .>>><<<<

  2. abisyakir berkata:

    @ mulachelaa.

    Ketemu lagi disini. Jangan bosan-bosan ya singgah kesini. Syukran atas masukannya.

    Ya sejujurnya, situasi itu unik memang. Kalau mau memberi masukan/saran, toh yang beliau utarakan hanya sekedar lagu. “Apa sih artinya lagu?” kata para pujangga. He he he, ini “pujangga” buatan sendiri. Mungkin kalau urusannya prinsip, kita bisa memberikan nasehat. Itu pun kalau saya ada keberanian memberi nasehat.

    Kalau tentang menutup aib saudara. Ini sebenarnya tidak membuka aib, toh saya tidak sebutkan siapa namanya, bagaimana wajahnya, hanya disebutkan sedikit data saja. Kalau Anda cari-cari orangnya, belum tentu akan menemukan. Kecuali, kalau kita sebut nama orang, fotonya, posisi GPS-nya, dan detail data-datanya. Nah, itu lain lagi. Ya, semoga Allah kelak menutupi aib-aib kita di Hari Kiamat. Amin. [AMW].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: